📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO-TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA
Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.
PARADOKS ADOPSI AI AGENTIK: HAMBATAN TERHADAP PENERAPAN PERUSAHAAN UNTUK ADOPSI YANG BERTANGGUNG JAWAB DI INDUSTRI PERANGKAT LUNAK
Munculnya AI Agentik menjanjikan akan adanya kelepasan potensi penuh yang tadinya diharapkan perusahaan dapat realisasikan dengan Generatif AI. Namun, adopsinya masih terbatas dengan tingkat keberhasilan penerapan produksi dan realisasi nilai yang rendah meskipun mendapatkan dukungan eksekutif yang kuat dan investasi yang substansial. Studi ini mengeksplorasi mengapa kesenjangan ini ada di dalam industri perangkat lunak Indonesia. Kami menggabungkan wawancara dari 16 peserta, fokus diskusi kelompok, dan survei terhadap 100 praktisi industri. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun peserta umumnya percaya AI Agentik bermanfaat, mereka memiliki kepercayaan yang sangat rendah dalam mendelegasikan tugas atau membiarkan AI Agentik beroperasi secara otonom tanpa pengawasan manusia. Empat hambatan utama diidentifikasi: Kesenjangan Nilai-Skalabilitas, Perangkap Otoritas, Kesenjangan Pengembalian Investasi (ROI), dan Spiral Kapabilitas-Risiko. Untuk mengatasi tantangan ini, studi ini mengusulkan AegisOps AI, platform tata kelola perusahaan yang dirancang untuk membantu organisasi menggunakan Agentic AI dengan aman dan efektif. Platform ini berfokus pada memastikan bahwa sistem AI tersebut mampu, dapat dipercaya, dan dapat dipertahankan, untuk membantu organisasi untuk menutup paradoks adopsi AI Agentik.
MODEL EVALUASI TRANSFORMASI DIGITAL PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUCTURE – CONDUCT – PERFORMANCE (SCP)
Transformasi digital pada sektor pemerintahan menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, kualitas pelayanan publik, efisiensi organisasi, serta kualitas pengambilan keputusan. Namun, evaluasi transformasi digital pada pemerintah daerah masih didominasi oleh pengukuran tingkat kematangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang belum sepenuhnya mampu menjelaskan hubungan antara kesiapan organisasi, implementasi transformasi digital, dan kinerja organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Evaluasi Transformasi Digital Pemerintah Daerah dengan menggunakan paradigma Structure–Conduct–Performance (SCP) sebagai kerangka evaluasi untuk menganalisis keterkaitan antara kesiapan organisasi (Structure), implementasi transformasi digital (Conduct), dan kinerja organisasi (Performance) pada perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma post-positivisme. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, serta penilaian menggunakan rubrik evaluasi terhadap sembilan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Kesehatan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Badan Penghubung. Dimensi Structure dievaluasi melalui tata kelola SPBE, proses bisnis layanan, mindset dan budaya digital, serta kapasitas organisasi digital. Dimensi Conduct dievaluasi melalui pemanfaatan sistem digital, pemanfaatan data dan informasi, serta manajemen pengetahuan. Sementara itu, dimensi Performance dievaluasi melalui efisiensi operasional, keterpaduan proses lintas unit, produktivitas kerja, kualitas pengambilan keputusan, dan kualitas layanan. Hasil evaluasi dianalisis menggunakan paradigma SCP sebagai kerangka analisis, kemudian dipetakan ke dalam kuadran hubungan Structure–Conduct dan Conduct–Performance untuk mengidentifikasi karakteristik implementasi transformasi digital pada masing-masing perangkat daerah. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan organisasi yang lebih baik cenderung diikuti oleh implementasi transformasi digital yang lebih tinggi, sedangkan implementasi transformasi digital yang lebih baik cenderung menghasilkan peningkatan kinerja organisasi. Meskipun demikian, hubungan tersebut tidak selalu berlangsung secara linier. Beberapa perangkat daerah mampu mencapai implementasi transformasi digital yang tinggi meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek kesiapan organisasi, sedangkan perangkat daerah lain menunjukkan bahwa implementasi transformasi digital yang telah berkembang belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan kinerja yang optimal. Hasil pemetaan kuadran menunjukkan bahwa DPMPTSP, Dinas Kesehatan, dan Diskominfo berada pada kategori Stable Digital–High Impact Digital, Dinas Perhubungan dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil berada pada pola Active Transformation–High Impact Digital, Bappeda berada pada pola Active Transformation–Transition Phase, sedangkan Dinas Sosial, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Badan Penghubung berada pada pola Structural Gap–Low Utilization. Penelitian ini menghasilkan Model Evaluasi Transformasi Digital Pemerintah Daerah yang mengintegrasikan dimensi Structure, Conduct, dan Performance sebagai kerangka evaluasi implementasi transformasi digital. Model evaluasi yang dihasilkan tidak hanya memberikan gambaran mengenai tingkat kesiapan organisasi, implementasi transformasi digital, dan kinerja organisasi secara terpisah, tetapi juga mampu menjelaskan hubungan antardimensi serta menjadi dasar dalam penyusunan prioritas intervensi kebijakan sesuai karakteristik masing-masing perangkat daerah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan evaluasi transformasi digital pada sektor publik yang lebih komprehensif dibandingkan pengukuran yang hanya berfokus pada tingkat kematangan SPBE. Selain memberikan kontribusi akademis dalam pengembangan kerangka evaluasi transformasi digital berbasis paradigma Structure–Conduct–Performance (SCP), hasil penelitian ini juga memberikan kontribusi praktis sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi implementasi transformasi digital secara lebih menyeluruh serta menyusun strategi peningkatan transformasi digital yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing perangkat daerah.
KEADILAN SPASIAL AKSES BUS BAGI PEREMPUAN DI KOTA BANDUNG BERBASIS ANALISIS PENYEDIAAN, PERMINTAAN, DAN PELUANG
Transportasi umum merupakan salah satu infrastruktur dasar perkotaan yang berperan penting dalam menghubungkan penduduk dengan berbagai peluang sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kota. Namun, perempuan sering kali tidak terakomodasi secara memadai dalam perencanaan transportasi karena kebijakan transportasi yang bersifat umum dan tidak menangkap ketimpangan akses yang dialami kelompok pengguna tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keadilan akses transportasi umum bus terhadap perempuan di Kota Bandung melalui pendekatan analisis penyediaan, permintaan, dan peluang. Digunakan pendekatan kuantitatif berbasis keadilan spasial dengan mengembangkan analisis bivariat dengan mengintegrasikan tiga komponen aksesibilitas bagi perempuan. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak QGIS dengan unit spasial sebanyak 19.806 grid heksagonal di seluruh Kota Bandung yang diintegrasikan ke dalam kelurahan. Hasil menunjukkan bahwa layanan bus di Kota Bandung belum terdistribusi secara spasial yang adil, dengan 9,10% wilayah Kota Bandung masuk dalam kategori prioritas intervensi tinggi dalam analisis tipologi kawasan bivariat melalui agregasi komponen permintaan, peluang, dan penyediaan. Kawasan dengan intervensi tinggi sebagian besar terletak di sebagian pinggiran bagian selatan, barat dan timur Kota Bandung. Distribusi nilai indeks aksesibilitas mengindikasikan bahwa ketimpangan di Kota Bandung tidak bersifat ekstrem, namun memerlukan pendekatan kebijakan yang menyeluruh dan merata. Penemuan atas penelitian ini mempertegas bahwa perencanaan transportasi umum massal di Kota Bandung belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan spesifik perempuan dan diharapkan menjadi pertimbangan kebijakan pengembangan sistem bus yang berkeadilan di Kota Bandung.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22×0,78×0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
PERANCANGAN VIDEO MAPPING BERBASIS STORYTELLING INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PENGENALAN NILAI MORAL UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN
Korupsi merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aspek integritas individu. Pembentukan integritas tidak terjadi secara instan pada masa dewasa, melainkan berkembang melalui internalisasi nilai moral sejak usia dini. Usia 4–6 tahun merupakan periode penting dalam perkembangan moral anak, namun karakteristik belajar mereka menuntut pendekatan yang konkret, visual, dan partisipatif. Perancangan ini bertujuan merancang media video mapping berbasis storytelling interaktif sebagai sarana pengenalan nilai moral bagi anak usia 4–6 tahun. Nilai moral yang dikenalkan meliputi empati, kejujuran, dan tanggung jawab yang diposisikan sebagai fondasi pembentukan integritas individu. Metode perancangan yang digunakan adalah Double Diamond yang meliputi tahap discover, define, develop, dan deliver. Hasil perancangan berupa media video mapping berdurasi 4 menit 28 detik yang memadukan animasi dua dimensi, storytelling interaktif, serta pendamping sebagai fasilitator melalui pendekatan read aloud. Media ini dirancang sesuai dengan karakteristik kognitif dan moral anak usia dini melalui pengalaman visual, naratif, dan partisipatif. Perancangan ini menunjukkan bahwa video mapping berbasis storytelling interaktif memiliki potensi sebagai media pengenalan nilai moral yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
PENGARUH VARIASI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L.) MENGGUNAKAN METODE INHIBISI DENATURASI PROTEIN
Inflamasi adalah respon biologis tubuh terhadap infeksi atau kerusakan jaringan, yang salah satu mekanismenya ditandai oleh denaturasi protein sehingga memicu pembentukan autoantigen dan dapat memperparah respon inflamasi. Daun kersen (Muntingia calabura L.) diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas inhibisi denaturasi protein ekstrak daun kersen, mengidentifikasi dan menetapkan kadar senyawa marker, serta menganalisis profil metabolit menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan kemometrika. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan nheksana, etil asetat, etanol 96%, etanol 70%, dan air. Aktivitas ekstrak diuji dengan metode inhibisi denaturasi protein BSA. Ekstrak etanol 70% menunjukkan aktivitas inhibisi denaturasi protein terkuat (IC50 77,84 ± 0,36 ????g/mL). Asam klorogenat teridentifikasi sebagai senyawa marker pada ekstrak etanol 70% dan air, dengan kadar berturut-turut 12,23% ± 0,48 dan 17,45% ± 0,79 (b/b), serta IC50 119,69 ????g/mL ± 1,37. Analisis FTIR menunjukkan dominasi gugus O-H, C=C aromatik, C-O, dan C-H alifatik yang mengindikasikan keberadaan senyawa fenolik dan flavonoid. Analisis kemometrika menunjukkan kedekatan antara ekstrak n-heksana dan etil asetat secara metabolit sekunder berdasarkan variasi absorbansi spektrum inframerah. Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan polaritas pelarut meengaruhi profil metabolit dan aktivitas inhibisi denaturasi protein dari ekstrak daun kersen. Ekstrak etanol 70% memberikan aktivitas inhibisi denaturasi protein terbaik, sedangkan analisis kemometrika menunjukkan kemiripan profil metabolit antara ekstrak n-heksana dan etil asetat serta perbedaan paling nyata pada ekstrak air.
PENGEMBANGAN MODEL PENGELOLAAN KINERJA APARATUR SIPIL NEGARA: STUDI KASUS PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
Pengelolaan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan bagian penting dari reformasi birokrasi yang bertujuan meningkatkan kualitas kinerja organisasi dan pelayanan publik. Seiring dengan perubahan struktur organisasi, sistem kerja, dan penerapan PermenpanRB No. 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja Pegawai ASN, instansi pemerintah dituntut melaksanakan pengelolaan kinerja secara menyeluruh dan berkelanjutan. Namun, evaluasi kinerja ASN selama ini cenderung hanya melihat dari capaian kinerja maupun indikator organisasi, sehingga belum mampu menjelaskan dinamika pengelolaan kinerja secara komprehensif. Kondisi ini menjadi keterbatasan organisasi dalam mengidentifikasi masalah dan menentukan prioritas perbaikan pengelolaan kinerja secara efisien. Oleh karena itu diperlukan suatu model yang dapat menggambarkan pengelolaan kinerja ASN secara holistik. Model Context, Input, Process, Product (CIPP) adalah kerangka utama yang memastikan adanya 4 komponen pembentuk model. Komponen ini kemudian diisi dengan variabel yang berasal dari Systematic Literatur Review (SLR), divalidasi relevansinya oleh pakar melalui metode Delphi dan diuji secara empiris dengan Structural Equation Modeling (SEM). Pada tahap terakhir dilakukan analisis topik masukan responden dengan menggunakan BERTopic untuk memperkaya hasil penelitian. Hasil dari SLR menghasilkan 12 variabel utama yang kemudian dikelompokkan menjadi 6 konstruk utama, yaitu governance, performance management, work support system, human capital, work attitude, dan performance outcome. Jumlah data yang diolah dalam penelitian ini sebanyak 575 data berasal dari ASN Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hasil yang diperoleh, governance berpengaruh signifikan pada work support system, work support system mempengaruhi human capital dan performance management, keduanya kemudian mempengaruhi performance outcome dimediasi oleh work attitude. Temuan ini menunjukkan pengelolaan kinerja ASN adalah proses yang saling terkait antara organisasi, lingkungan kerja, kompetensi, kepemimpinan dan juga engagement serta motivasi pegawai. Penelitian ini menghasilkan model pengelolaan kinerja ASN yang tervalidasi secara konseptual dan empiris serta dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas kinerja ASN secara berkelanjutan
KESESUAIAN PRODUK-PASAR DAN NIAT ADOPSI UNTUK LAYANAN BERLANGGANAN: STUDI KASUS GOJEK PLUS DI INDONESIA
Gojek PLUS adalah layanan berlangganan lintas layanan dalam ekosistem super-app Gojek di Indonesia yang menunjukkan tingkat product-market fit rendah dan tingginya angka pelanggan yang berhenti berlangganan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat adopsi dan ketergantungan produk pada Gojek PLUS, serta menilai apakah layanan ini telah mencapai product-market fit di kalangan pengguna Indonesia. Kerangka hibrid yang menggabungkan Value-Based Adoption Model (VAM), Expectation-Confirmation Theory (ECT), Teori Biaya Peralihan, dan Teori Hambatan Kognitif diuji menggunakan PLS-SEM terhadap 110 responden yang memenuhi syarat, dengan tolok ukur 'Sangat Kecewa' dari Sean Ellis sebagai variabel dependen terminal sebagai pengganti niat perilaku yang umum digunakan. Enam dari delapan hipotesis terdukung. Persepsi Pengalaman adalah pendorong utama Persepsi Nilai (? = 0,762), Niat Adopsi (? = 0,613), dan Kecenderungan Retensi (? = 0,654), dengan PEOU ? PE ? RT ? DEP sebagai jalur dominan menuju ketergantungan. Persepsi Nilai tidak memprediksi Niat Adopsi (? = 0,035, p = 0,811), menantang prediksi VAM dalam konteks berlangganan terbundel, dan Niat Adopsi tidak memprediksi Ketergantungan (? = 0,030, p = 0,808), mengonfirmasi adanya kesenjangan niat-perilaku. Skor PMF sebesar 15,4% menempatkan Gojek PLUS di bawah ambang batas product-market fit yang kuat, yaitu 40%. Penelitian ini merekomendasikan perancangan ulang orientasi pengguna dan penumpukan manfaat loyalitas berbasis durasi berlangganan untuk membangun kecenderungan retensi dan menutup kesenjangan PMF, dengan re-engagement berbasis pengalaman bagi pelanggan yang berhenti berlangganan sebagai inisiatif sekunder.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK
Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 ± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 ± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC50 terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI SUBSTRAT PADAT DENGAN BACILLUS STEAROTHERMOPHILUS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN DARI LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK
Larva lalat tentara hitam (LLTH, Hermetia illucens) merupakan salah satu sumber protein alternatif yang menjanjikan, namun efisiensi ekstraksi protein serta peningkatan bioaktivitas hidrolisatnya masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi padat menggunakan Bacillus stearothermophilus terhadap perolehan protein dan sifat bioaktif hidrolisat protein LLTH. Tepung LLTH difermentasi selama 0–4 hari pada suhu 45°C, kemudian dilakukan ekstraksi protein secara alkali, hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain, dan pengeringan beku. Parameter yang dianalisis meliputi protein recovery, derajat hidrolisis, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan, aktivitas antibakteri, serta distribusi bobot molekul protein menggunakan sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi meningkatkan kadar protein kasar dan protein recovery, dengan nilai tertinggi sebesar 59,64 ± 8,85%. Peningkatan perolehan kembali protein yang dihasilkan oleh B. stearothermophilus tidak berbeda signifikan pada variasi waktu fermentasi. Derajat hidrolisis mencapai 42,21 ± 1,0% pada hari kedua fermentasi, kemudian menurun seiring bertambahnya waktu fermentasi, yang menunjukkan bahwa aktivitas proteolitik maksimum terjadi pada fase pertumbuhan eksponensial bakteri. Aktivitas antioksidan juga meningkat, ditunjukkan oleh nilai IC?? terendah sebesar 261,78 + 57 ppm pada hari ketiga fermentasi, meskipun aktivitas tersebut menurun pada hari keempat. Analisis asam amino menunjukkan peningkatan konsentrasi beberapa asam amino bebas setelah fermentasi, yang mengindikasikan terjadinya degradasi matriks protein oleh aktivitas protease. Sebaliknya, hidrolisat protein tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun Escherichia coli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan B. stearothermophilus berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi protein dan aktivitas antioksidan hidrolisat protein LLTH, meskipun optimasi kondisi fermentasi masih diperlukan untuk memaksimalkan potensi proteolitiknya.
PENGOLAHAN DATA MAGNETOTELURIK MENGGUNAKAN METODE ROBUST HUBER DAN IMPLEMENTASINYA PADA DATA LAPANGAN
Metode magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang memanfaatkan variasi alami medan elektromagnetik untuk mengestimasi distribusi resistivitas listrik bawah permukaan bumi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kode program pengolahan data magnetotelurik menggunakan Python yang mampu diaplikasikan pada data lapangan, mengevaluasi pengaruh tahapan pre-processing dan robust processing, serta memvalidasi hasil pengolahannya terhadap software referensi. Program yang dikembangkan mengimplementasikan tahapan pre-processing yang meliputi kalibrasi, detrending, penghapusan DC offset, dan notch filter, dilanjutkan dengan decimation, transformasi Fourier (Fourier Transform), estimasi cross-power spectral density, robust processing menggunakan metode Huber, serta perhitungan impedansi, resistivitas semu, dan fasa. Data yang digunakan merupakan hasil akuisisi lapangan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dengan durasi perekaman selama 17 ???????????? 7 ????????????????????. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pre-processing memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas data, sedangkan robust processing mampu meminimalkan pengaruh beberapa data outlier sehingga menghasilkan estimasi parameter yang lebih stabil. Hasil validasi terhadap software referensi menunjukkan kesesuaian yang baik pada rentang frekuensi tinggi (???????? = 24 ????????????), dengan nilai ???????????????? log10(????) resistivitas semu sebesar 0,0649 untuk komponen ???????? dan 0,0571 untuk komponen ????????. Sedangkan pada frekuensi rendah ( ???????? = 150 ????????) menghasilkan nilai RMSE log10(????) resistivitas semu sebesar 1.8380 untuk komponen ???????? dan 1.1831 untuk komponen ????????.
PERANCANGAN ALL-IN-ONE COFFEE MAKER UNTUK TRAVELING
Bagi banyak orang, kopi bukan sekadar minuman, ia adalah ritual harian yang sulit ditinggalkan bahkan saat bepergian. Namun kenyataannya, traveler yang terbiasa menyeduh kopi sendiri kerap dihadapkan pada pilihan yang tidak memuaskan: bergantung pada fasilitas hotel yang tidak selalu tersedia, membeli kopi di luar dengan kualitas yang tidak terjamin, atau membawa beberapa peralatan sekaligus yang justru memberatkan perjalanan. Produk coffee maker portabel yang ada di pasaran pun belum menjawab masalah ini secara tuntas — sebagian besar hanya mendukung satu metode seduhan dan tidak dilengkapi pemanas air, sehingga pengguna tetap membutuhkan sumber panas eksternal. Penelitian ini berangkat dari pengalaman nyata tersebut, dengan tujuan merancang sebuah coffee maker kompak yang mampu memanaskan air, menyeduh espresso, dan menyeduh pour over, semuanya dalam satu produk yang cukup kecil untuk masuk ke dalam tas ransel. Proses perancangan menggunakan pendekatan human-centered design, didukung oleh auto-etnografi, wawancara mendalam dengan pengguna dan pakar, konsultasi teknis bersama rekan dari bidang teknik elektro, serta studi terhadap produk-produk sejenis yang sudah ada. Hasil dari penelitian ini adalah Kofiekum, sebuah sistem coffee maker berbentuk silinder nesting dengan dimensi ?90 mm × tinggi ? 350 mm. Produk ini menggunakan material stainless steel 304 dan polipropilena food grade, serta dirancang untuk bekerja dengan dua sumber daya listrik: AC 220V/80W untuk penggunaan di penginapan, dan DC 12V/50W melalui USB-C sebagai opsi darurat. Kofiekum diharapkan menjadi jawaban atas kekosongan kategori produk yang selama ini belum terjawab coffee maker portabel yang benar-benar lengkap, mandiri, dan siap digunakan di mana saja.
DEPOSISI SELEKTIF TRIMETILALUMINIUM (TMA) PADA PERMUKAAN LAPISAN TUNGGAL MOS2 DAN MOSE2
Atomic Layer Deposition (ALD) merupakan metode deposisi lapisan tipis yang memiliki kontrol ketebalan hingga skala atom. Selektivitas deposisi pada material dua dimensi seperti MoS? dan MoSe? dipengaruhi oleh mekanisme adsorpsi dan dekomposisi prekursor. Penelitian ini bertujuan menghitung adsorpsi selektif trimetilaluminium (TMA) pada monolayer MoS? dan MoSe?, membandingkan kebolehjadian dekomposisi TMA, serta menganalisis pengaruh cacat vakansi terhadap proses tersebut menggunakan metode Density Functional Theory (DFT). Optimasi struktur dilakukan menggunakan fungsional vdW-DF-ob86 dengan kpoint 16×16×1. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi adsorpsi paling stabil adalah orientasi Lay, dengan energi interaksi sebesar ?0,665 eV pada MoS? dan ?0,652 eV pada MoSe?. Keberadaan cacat vakansi menurunkan kekuatan adsorpsi awal menjadi ?0,495 eV pada MoS? dan ?0,491 eV pada MoSe?. Analisis diagram tingkat energi menunjukkan bahwa mekanisme dekomposisi kedua lebih menguntungkan secara termodinamika dibandingkan mekanisme pertama. Pada permukaan pristine, energi akhir MoS? lebih rendah dibandingkan MoSe?, sedangkan pada permukaan cacat energi akhir MoSe? menjadi lebih rendah daripada MoS?. Hasil ini menunjukkan bahwa cacat vakansi memodifikasi jalur reaksi dan meningkatkan stabilisasi produk akhir, khususnya pada MoSe?, sehingga berpotensi meningkatkan selektivitas deposisi TMA pada proses ALD.
EVALUASI SIMULASI MULTISKALA KEJADIAN WIND GUST DI BANDARA SOEKARNO-HATTA DENGAN MODEL WRF-ARW
Pada tanggal 22 September 2025 pukul 22.00 WIB, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami cuaca ekstrem berupa angin kencang dengan kecepatan maksimum mencapai 49 knot (25,2 m/s) yang terindikasi sebagai kejadian wind gust. Fenomena ini bersifat lokal dan berlangsung singkat sehingga sulit direpresentasikan secara langsung oleh model cuaca numerik konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan simulasi multiskala WRF- ARW yang memanfaatkan Large-Eddy Simulation (WRF-LES) dalam merepresentasikan kejadian wind gust di wilayah Bandara Soekarno-Hatta, baik secara temporal maupun spasial. Simulasi dilakukan menggunakan data inisialisasi National Centers for Environmental Prediction Final (NCEP-FNL) dan data topografi Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dengan empat skema multiskala yang memiliki ukuran domain dan resolusi yang berbeda (A, B, C1, dan C2) yang mencakup resolusi dari skala meso hingga skala mikro (30 – 40 m). Keluaran model diverifikasi terhadap data observasi AWS, citra satelit Himawari-9, dan data radiosonde. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian wind gust terjadi sekitar pukul 15.00 UTC yang ditandai oleh lonjakan kecepatan angin maksimum hingga sekitar 14 m/s, penurunan temperatur mendadak dari 28 – 29°C menjadi 22°C, dan perubahan tekanan udara yang signifikan, yang mengindikasikan adanya outflow dari sistem konvektif aktif di wilayah Jawa bagian barat. Seluruh skema model memerlukan koreksi lag waktu antara 40 hingga 120 menit untuk mendekati pola observasi. Dari keempat skema LES yang diuji, Skema A domain 5 (resolusi 30 m) menunjukkan performa terbaik dalam merepresentasikan kecepatan angin yang mirip dengan observasi dengan korelasi tertinggi (r = 0,76), bias terendah (0,10), dan RMSE terendah (2,12 m/s). Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa hasil model cukup merepresentasikan kejadian wind gust, meskipun nilai kecepatan angin absolut pada seluruh skema masih belum sepenuhnya mendekati observasi.