📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PERANCANGAN ULANG PROGRAM LOYALITAS HANDAI COFFEE

Industri kopi grab-and-go di Indonesia berkembang pesat seiring meningkatnya konsumsi kopi dan menjamurnya kedai kopi lokal. Di tengah pertumbuhan tersebut, Handai Coffee meluncurkan program Handai Loyalty Card berbasis kartu stamp fisik untuk mendorong pembelian berulang, namun program ini belum berjalan optimal, ditunjukkan oleh redemption rate yang hanya mencapai 13% (25 dari 190 kartu yang dibagikan). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas program loyalitas eksisting, merancang program loyalitas yang lebih sesuai preferensi pelanggan, serta menguji efektivitas rancangan yang diusulkan. Akar permasalahan diidentifikasi menggunakan metode 5 Whys, sedangkan perancangan program dilakukan melalui pendekatan Choice-Based Conjoint (CBC) untuk mengidentifikasi kombinasi atribut program loyalitas yang paling disukai pelanggan, dengan lima atribut dan tiga level pada masing-masing atribut. Model CBC divalidasi menggunakan root likelihood (RLH) dan holdout set. Rancangan yang dihasilkan kemudian dievaluasi melalui validasi kepada 15 pelanggan aktual dan A/B Testing within-subject terhadap 151 calon pelanggan, dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test dan Binomial Test. Hasil penelitian menunjukkan akar permasalahan terletak pada desain program loyalitas yang belum mampu mendorong pelanggan menyelesaikan siklus pembelian dan menukarkan reward. Kombinasi atribut terbaik terdiri atas partisipasi melalui kode QR, frekuensi pembelian sepuluh kali, diskon 20%, hadiah produk 250 ml, dan voucher belanja Rp5.000, dengan atribut reward sebagai faktor paling diprioritaskan pelanggan. Model CBC menunjukkan performa prediktif baik (RLH = 0,537) dengan validasi holdout yang kuat. Hasil A/B Testing membuktikan program usulan meningkatkan minat beli secara signifikan, dengan Program B dipilih oleh 68% responden sebagai alternatif yang paling disukai. Estimasi probabilitas pembelian mengindikasikan potensi peningkatan jumlah pelanggan yang menyelesaikan siklus pembelian dari 25 menjadi sekitar 77 pelanggan, melampaui target redemption rate 10–15% yang ditetapkan manajemen. Dari sisi finansial, program usulan meningkatkan profit menjadi Rp71.000 per kartu dan menghasilkan expected profit Rp30.860–Rp33.090 per kartu, atau naik 11,0%–19,0% dibandingkan program eksisting. Dengan demikian, program loyalitas yang diusulkan terbukti valid secara metodologis, efektif dalam meningkatkan loyalitas pelanggan, serta layak diterapkan pada Handai Coffee.

2026
👤 Penulis: Patrick Daniel R. Tambunan
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data

SIMULASI PERTUMBUHAN AWAL DEPOSISI LAPISAN ATOM LOGAM MOLIBDENUM MENGGUNAKAN MOO2CL2 PADA PERMUKAAN MON DENGAN TEORI FUNGSIONAL KERAPATAN DAN MIKROKINETIKA

Perkembangan di bidang sirkuit terpadu telah memperkecil ukuran interkoneksi logam. Miniaturisasi meningkatkan resistivitas bahan sehingga memunculkan waktu tunda yang signifikan. Maka dari itu, bahan interkoneksi baru diajukan untuk mengurangi kenaikan resistivitas. Molibdenum (Mo) unggul karena nilai jarak rerata bebasnya yang lebih pendek dari Tembaga (Cu). Sifat ini membuat logam Mo tidak mengalami kenaikan resistivitas yang sebanding dengan Cu. Pengecilan ukuran interkoneksi juga menuntut penggunaan teknik penumbuhan material yang mutakhir. Deposisi lapisan atom (atomic layer deposition, ALD) dianggap sebagai metode yang dapat digunakan karena keunggulannya dalam kontrol pertumbuhan presisi serta kemampuan pelapisan konformal. Eksperimen penumbuhan lapisan tipis Mo menggunakan ALD telah dilakukan menggunakan prekursor MoO2Cl2. Prekursor ini berhasil mendeposisikan Mo murni, tetapi membutuhkan suhu yang tinggi. Pada penelitian ini, mekanisme reaksi deposisi dari prekursor MoO2Cl2 pada MoN diinvestigasi menggunakan teori fungsional kerapatan (density functional theory, DFT). Simulasi mengindikasikan adanya kemungkinan penyingkiran pengotor melalui mode disosiasi serta mode hidrogenasi prekursor secara langsung. Energetika reaksi menunjukkan bahwa hidrogenasi oksigen (O) ke H2O memiliki energi penghalang 0,75-2,31 eV, lebih besar dibanding klorin (Cl) ke HCl dengan rentang energi 0,75-1,99 eV. Perbedaan energetika membuat pengotor O lebih sulit dihilangkan. Pemodelan mikrokinetika juga dilaksanakan untuk menguak jaringan reaksi yang terlibat. Mikrokinetika menunjukkan bagaimana kedua mode yang ada dapat bekerjasama secara sinergis dalam menghilangkan pengotor. Pemodelan ini juga digunakan untuk menarik hubungan antara kandungan lapisan dengan parameter deposisi. Tekanan gas MoO2Cl2 yang berlaku sebagai koreaktan diidentifikasi sebagai salah satu parameter yang dapat dioptimasi untuk meningkatkan kualitas lapisan terdeposisi.

2026
👤 Penulis: Ilham Abdulhakim
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBOBOTAN TINGKAT KEPENTINGAN BERBASIS AHP UNTUK PENENTUAN OBJEKTIF PRIORITAS PADA CUSTOMER SATISFACTION INDEX PERUSAHAAN KONSTRUKSI SWASTA INDONESIA

Suara pelanggan dikumpulkan melalui CSI (Indeks Kepuasan Pelanggan) oleh Departemen Customer Care. Saat ini, setiap pertanyaan diasumsikan memiliki tingkat kepentingan yang sama. Mengingat pelanggan berulang merupakan pasar sasaran bagi sebuah perusahaan konstruksi swasta di Indonesia, CSI menjadi alat yang sangat menentukan. Hasil CSI digunakan sebagai dasar perencanaan korporat, mulai dari pengambilan keputusan strategis hingga penyusunan balanced scorecard. Studi Kasus Akhir ini menerapkan faktor bobot pada setiap obyek utama guna menyempurnakan CSI. Dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process, nilai strategis dan obyek dapat diurutkan berdasarkan prioritas. Hasil yang lebih akurat akan menjadi landasan yang lebih baik dalam mengarahkan jalur strategi korporat. Dengan memanfaatkan skor yang ada dari hasil CSI sebelumnya, dapat dilanjutkan dan dibentuk matriks Importance Performance Analysis. Matriks tersebut akan mengidentifikasi obyek strategis mana yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan, dan mana yang sudah tercapai atau bahkan melebihi ekspektasi.

2026
👤 Penulis: William Suhardjo
🏷️ Kepuasan Pelanggan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Prioritas Strategis

ANALISIS STRUKTUR VERTIKAL KLOROFIL-A DAN DEEP CHLOROPHYLL MAXIMUM DI SELATAN SELAT LOMBOK PADA BULAN MARET TAHUN 2021

Selat Lombok memiliki dinamika oseanografi yang kompleks, dengan pencampuran vertikal yang sangat intensif akibat interaksi antara Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), pasang surut, dan topografi selat. Penelitian ini mengkaji variasi struktur vertikal klorofil-a dan karakteristik Deep Chlorophyll Maximum (DCM) di perairan Selatan Selat Lombok menggunakan 94 profil CTD beresolusi temporal 3 jam yang direkam pada 13–25 Maret 2021. Identifikasi DCM dilakukan berdasarkan kriteria Baldry dkk. (2024) yang disesuaikan dengan status kesuburan perairan. Dari 94 profil CTD, sebanyak 73 profil (78%) berhasil mengidentifikasi DCM yang valid. DCM ditemukan secara konsisten pada rentang kedalaman 19 66 m (rata-rata 37,5 m) dengan konsentrasi puncak 0,506–1,013 mg/m³. Analisis posisi vertikal DCM terhadap struktur kolom air menunjukkan distribusi vertikal yang sangat spesifik dan berhimpit: 10% profil berada di dalam Lapisan Pencampuran (Mixed Layer Depth/MLD), mayoritas sebesar 85% terperangkap di zona transisi (antara batas bawah MLD dan batas atas termoklin), dan 5% DCM berada di dalam lapisan termoklin. DCM selalu berada di atas pusat piknoklin dengan jarak rata-rata 62,0 m, dan korelasi Pearson antara keduanya sangat lemah (r = ?0,14). Hal ini menegaskan bahwa variabilitas vertikal DCM dominan diatur oleh kondisi fisis-optik: MLD bertindak sebagai penghalang pergerakan ke lapisan permukaan akibat turbulensi lapisan atas, sementara zona eufotik (1% PAR pada kedalaman 38–43 m) menjadi batas bawah pergerakan vertikal DCM. Analisis spektral Lomb-Scargle menunjukkan ketiadaan sinyal periodik yang signifikan pada deret waktu kedalaman DCM (daya puncak tertinggi 0,15, berada di bawah ambang batas signifikansi FAP 5% sebesar 0,24). Ketiadaan dominasi ini mengindikasikan bahwa pergerakan vertikal DCM tidak diatur oleh periodisitas pasang surut secara tunggal, melainkan akibat dari kompleksitas interaksi hidrodinamika lokal yang terus-menerus menekan batas ruang spasialnya. Perbandingan dengan data model CMEMS sepanjang tahun 2021 menghasilkan Z score sebesar 0,458, mengonfirmasi bahwa kondisi struktural DCM ini adalah representasi tipikal dari dinamika transisi monsun di perairan tersebut.

2026
👤 Penulis: Rafli Yudha Asdana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI PENERAPAN ADAPTASI BERBASIS KOMUNITAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN IKLIM PERKOTAAN PADA PROGRAM KAMPUNG IKLIM DI KOTA CIREBON

Perubahan iklim menjadi salah satu isu global yang telah memengaruhi kehidupan di bumi terutama perkotaan seperti halnya di Kota Cirebon sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Pesisir Utara Jawa Barat. Kota ini tengah mengupayakan penguatan ketahanan iklim perkotaan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Meskipun begitu, ProKlim menghadapi isu terhambatnya keberlanjutan program akibat arahan yang bersifat top-down dibandingkan bottom-up. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi adaptasi berbasis komunitas (Community Based Adaptation/CBA) pada ProKlim di Kota Cirebon dalam mendukung ketahanan iklim perkotaan secara berkelanjutan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pengambilan data sekunder kemudian dianalisis dengan metode analisis konten dan analisis deskriptif kualitatif untuk menilai tiga proses adaptasi, yaitu perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi (monev) berdasarkan enam indikator faktor pendukung dari hasil telaahan literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa ProKlim Lestari Kelurahan Larangan telah merepresentasikan implementasi adaptasi berbasis komunitas dengan baik melalui penggerakan faktor pendukung di tiap proses adaptasinya, meskipun masih terdapat beberapa tantangan dalam pengelolaannya. Tingkat implementasi adaptasi berbasis komunitas mencapai penilaian kategori sedang hingga tinggi dengan skor rata-rata sebesar 2,61 dari 3,00. Proses perencanaan mendapatkan rata-rata skor tertinggi (2,83), diikuti oleh implementasi (2,60), dan terakhir monev (2,33). Temuan ini menunjukkan perlunya strategi optimalisasi pada tahap monev melalui peningkatan transparansi dan pertukaran informasi, penguatan koordinasi lintas aktor, integrasi mekanisme kelembagaan, serta penguatan kapasitas dan pembelajaran komunitas berbasis praktik sosial yang telah berkembang di tingkat lokal. Penelitian ini memberikan perspektif menyeluruh melalui kerangka evaluasi terstruktur mengenai pengembangan dan penyelenggaraan ProKlim berbasis komunitas dalam mendukung ketahanan iklim perkotaan, terutama di Kota Cirebon.

2026
👤 Penulis: Zeba Liqueiza Shakira Kudus
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Program Lingkungan

MODEL REGENERASI KOLABORATIF SEBAGAI STRATEGI KEBERLANJUTAN DI KAMPUNG BATIK CIWARINGIN

Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural, sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik tersebut. Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022), Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk. (2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis, ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi. Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl (2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua, integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan kontekstual.

2026
👤 Penulis: Nadia Arfan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PREDIKSI JACKING FORCE MICROTUNNELING DENGAN ANALISIS NUMERIK PADA TANAH DI INDONESIA

Pada konstruksi microtunneling pipe jacking, salah satu parameter yang penting adalah jacking force. Parameter jacking force ini menentukan efisiensi konstruksi. Pada umumnya, nilai jacking force ini ditentukan berdasarkan model prediksi jacking force. Namun, sering kali model jacking force ini memberi nilai yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi aktualnya. Tanah yang ditinjau berupa tanah lempung kepasiran sedang. Diameter luar pipa yang ditinjau sebesar 1.74 meter dengan kedalaman pipa sedalam 5 meter diukur dari bagian bawah pipa. Dalam penelitian ini akan dievaluasi besar jacking force dengan metode elemen hingga. Pemodelan dengan metode elemen hingga digunakan untuk mengkalibrasi nilai koefisien friksi dari data lapangan. Nilai koefisien friksi hasil kalibrasi sebesar ? = 0.24 Kemudian, model-model teoritis dihitung berdasarkan persamaan-persamaan beserta parameter koefisien friksi rekomendasi. Hasilnya menunjukkan bahwa semua model memberi prediksi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan data lapangan. Lalu model-model teoritis tersebut dihitung kembali menggunakan koefisien friksi hasil kalibrasi. Hasil prediksi menunjukkan bahwa model Bennet dan Staheli memberi prediksi yang mendekati dengan data lapangan. Sedangkan model JSTT, Chapman, Pellet, dan PJA masih memberikan prediksi yang besar. Maka dari penelitian ini untuk tanah medium sandy clay, nilai koefisien friksi yang direkomendasikan sebesar ? = 0.24 atau setara dengan ? = tan(?/2). Model Bennet dan Staheli merupakan model yang dapat memprediksi jacking force lebih akurat.

2026
👤 Penulis: Airlangga Aufar Sain
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Numerik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KREATIVITAS DALAM DUNIA DIGITAL: STUDI KASUS FANART DALAM FANDOM “MOUTHWASHING”

Dunia digital dalam tiga dekade terakhir telah melalui banyak perubahan, terutama pada bagaimana masyarakat merespons dan berinteraksi dengan media hiburan. Media hiburan sudah banyak beralih ke bentuk digital, membuatnya menjadi jauh lebih mudah diakses oleh banyak orang. Kemudahan akses ini memudahkan pengenalan sebuah media hiburan kepada orang awam. Pengenalan ini kemudian dapat menciptakan rasa kegemaran pada seseorang. Budaya kegemaran sendiri sudah ada dari sejak lama, namun perkembangan teknologi membuat aktivitas dalam komunitas penggemar (fandom) menjadi lebih beragam. Salah satu aktivitasnya adalah penciptaan karya visual yang mengapropriasi media sebagai bentuk kekaguman, karya tersebut disebut dengan fanart. Fanart sendiri telah menjadi bagian dari fenomena budaya yang berkembang di dunia digital namun belum banyak yang mencoba untuk meneliti kreativitas yang digunakan dalam fanart. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini akan menanyakan bagaimana wujud kreativitas dalam dunia digital khususnya dalam fanart, serta apakah paradigma mengenai kreativitas yang ada saat ini cukup untuk menganalisis karya yang terdapat di dunia digital, khususnya fanart. Studi kasus intrinsik kemudian digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan akhir dari penelitian adalah untuk memahami kreativitas yang terdapat dalam dunia digital melalui fanart sebagai studi kasus. Tujuan lainnya adalah untuk membuktikan bahwa teori kreativitas yang ada saat ini belum cukup untuk membahas objek visual yang ada dalam dunia digital. Studi kasus dibatasi pada satu fandom dalam satu media sosial. Pembatasan ini mempertimbangkan banyaknya jenis media sosial dan media hiburan serta komunitas penggemar yang terbentuk karenanya. Studi kasus akan berfokus pada fandom yang terbentuk dari video game “Mouthwashing” karena ketenarannya dari Oktober 2024 sampai Februari 2025 dan keberhasilannya meraih empat belas nominasi dari enam acara penghargaan dan memenangkan tiga di antaranya. Metode penelitian dimulai dari pemilihan sampel berupa tiga pencipta fanart (fanartist) dan fanartnya sendiri. Data yang diambil berupa data hasil wawancara dengan fanartist mengikuti metode yang ditawarkan oleh Rose mengenai digital methods dan audiencing. Sementara data visual didapatkan dari pengaplikasian metode kritik seni Feldman yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Data wawancara akan dianalisis menggunakan teori motivasi kreatif oleh Unsworth, dan teori proses kreatif Sadler Smith. Secara motivasi, ketiga fanartist memiliki ketertarikan dengan aspek dari “Mouthwashing” yang berbeda satu sama lainnya dan ketertarikan ini ditambahkan dengan dorongan internal dan eksternal untuk mulai menciptakan fanart. Sementara untuk menganalisis proses kreatif dari masing-masing fanartist, data dari wawancara ditambahkan dengan waktu sketsa karya dan ilustrasi diunggah. Tahap persiapan dan inkubasi diasumsikan dari waktu mereka pertama mendengar mengenai “Mouthwashing” sampai sebelum mengunggah karya sketsa. Tahap intimasi diasumsikan berdasarkan tanggal sketsa pertama diunggah sampai karya ilustrasi diunggah. Tahap pencerahan dan evaluasi menggunakan tanggal yang sama dengan tangga karya ilustrasi fanart diunggah. Data visual yang didapatkan selanjutnya dianalisis melalui teori delapan kontribusi kreatif oleh Sternberg, dkk. Sampel fanart menunjukkan adanya dukungan dan penentangan terhadap ide asal dari “Mouthwashing”. Tahap analisis terakhir adalah memahami fanart sebagai bentuk ekspresi kreativitas. Teori tingkatan kreativitas oleh Kaufman dan Beghetto digunakan sehingga didapatkan kesimpulan bahwa fanart dapat menjadi bentuk ekspresi kreativitas yang kecil (little-C) namun dengan nuansanya masing-masing, tergantung dengan bagaimana fanart dan fanartist berinteraksi dengan fandom dan komunitas sekitarnya. Dengan adanya aplikasi teori kepada fanart, maka dapat disimpulkan bahwa wujud kreativitas dalam fanart sudah ada sebelum awal proses penciptaan, hingga ketika karya diunggah. Meskipun begitu, ditemukan juga kekurangan-kekurangan dari teori kreativitas yang digunakan dalam penelitian ini. Umumnya kekurangan ini dikarenakan cakupannya yang masih terbatas dan belum mempertimbangkan dinamika dalam dunia digital.

2026
👤 Penulis: Rahyanninta Ilma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH STRUKTUR PELINDUNG PANTAI TERHADAP KARAKTERISTIK GELOMBANG

Wilayah pesisir di Indonesia semakin rentan terhadap abrasi akibat peningkatan energi gelombang dan kenaikan muka air laut, sehingga diperlukan upaya mitigasi melalui penggunaan struktur pelindung pantai yang efektivitasnya dipengaruhi oleh parameter fisik seperti tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman. Penelitian ini mengkaji pengaruh parameter tersebut terhadap karakteristik transmisi gelombang menggunakan model Persamaan Air Dangkal satu dimensi. Solusi analitik diperoleh dari Linear Shallow Water Equations (LSWE) untuk struktur berbentuk persegi dengan menerapkan syarat kontinuitas pada antarmuka domain, sedangkan solusi numerik dihitung menggunakan metode volume hingga pada grid setengah dengan skema upwind dan limiter Koren. Selain itu, model Nonlinear Shallow Water Equations (NSWE) dengan suku redaman digunakan untuk mensimulasikan transformasi gelombang serta melakukan validasi terhadap hasil eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman menyebabkan penurunan koefisien transmisi gelombang (Kt), yang menunjukkan peningkatan efektivitas struktur dalam meredam gelombang. Skema Koren mampu memberikan hasil propagasi gelombang yang lebih akurat dibandingkan skema upwind karena menghasilkan difusi numerik yang lebih kecil. Secara keseluruhan, model Persamaan Air Dangkal mampu merepresentasikan fenomena transmisi dan peredaman gelombang pada struktur terendam dengan baik.

2026
👤 Penulis: Khaznaya Shafaa Kaylasani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERBANDINGAN KINERJA LABEL INDIKATOR KESEGARAN BERBASIS PIGMEN ALAMI PADA MATRIKS BIOPOLIMER CHITOSAN-POLYVINYL ALCOHOL, METHYLCELLULOSE-SOY PROTEIN ISOLATE, DAN PEKTIN-SODIUM ALGINATE

Smart packaging merupakan inovasi teknologi di bidang pengemasan pangan yang mampu memberikan informasi kesegaran produk secara real-time. Salah satu penerapannya adalah label indikator pH berbasis pigmen alami yang dapat mendeteksi perubahan mutu produk secara visual melalui perubahan warna. Antosianin merupakan pigmen alami yang bersifat sensitif terhadap perubahan pH, namun kestabilannya sangat dipengaruhi oleh jenis matriks biopolimer yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan matriks Chitosan-Polyvinyl Alcohol (Kitosan-PVA), Methylcellulose-Soy Protein Isolate (SPI-MC), dan Pektin-Sodium Alginate terhadap karakteristik label indikator kesegaran serta menentukan matriks dengan kinerja paling stabil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan jenis biopolimer. Parameter yang diamati meliputi stabilitas warna selama penyimpanan pada suhu ruang (25°C), reversibilitas warna berdasarkan nilai ?E*ab pada kondisi asam dan basa, sensitivitas warna terhadap pH (2-11), dan daya serap air. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan matriks biopolimer berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap seluruh parameter yang diamati. Matriks dengan kombinasi Kitosan-PVA menunjukkan respons perubahan warna paling jelas pada kondisi basa kuat dengan nilai ?E*ab pH 11 sebesar 39,93 ± 0,13 serta memiliki daya serap air sebesar 4,42 ± 1,17%. Selama penyimpanan, seluruh perlakuan mengalami peningkatan nilai ?E*ab seiring dengan waktu penelitian, namun matriks Kitosan-PVA menunjukkan perubahan yang relatif lebih terkendali pada beberapa periode waktu pengamatan. Secara keseluruhan, matriks Kitosan- PVA menunjukkan kinerja paling seimbang antara sensitivitas warna dan kestabilan selama penyimpanan, serta ketahanan terhadap air, sehingga berpotensi menjadi matriks terbaik untuk aplikasi label indikator kesegaran berbasis pigmen alami.

2026
👤 Penulis: Zahra Putri Aliffah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN PRODUK WEARABLE PADA KONDISI KRITIS DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: DEMONSTRASI)

Penelitian ini membahas pengembangan produk wearable ergonomis dan kompartemen modular untuk kebutuhan paramedis pada kondisi demonstrasi urban diBandung. Tas konvensional yang ada saat ini menghambat mobilitas dan aksesibilitas akibat desain yang besar, kaku, dan minim kompartemen, sehingga memperlambat penanganan korban dan meningkatkan risiko cedera muskuloskeletal (MSI) pada paramedis. Metode yang digunakan adalah pendekatan co-design, mencakup studi literatur, observasi lapangan di PMI Kota Bandung, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi permasalahan utama seperti distribusi beban tidak ideal dan akses kompartemen yang lambat. Analisis terhadap produk existing seperti Trauma Bag menunjukkan kelemahan pada sistem strap, bantalan panel belakang, dan kompartemen resleting. Rekomendasi desain mencakup material high-density polyester waterproof, sistem kompartemen modular, dan strap adjustable berbahan memory foam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi paramedis, mempercepat penanganan korban, serta menjadi acuan standar nasional peralatan darurat dan referensi akademis desain ergonomis.

2026
👤 Penulis: Made Pavitra Sedana Adiyasa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Produk Ergonomis

PENGEMBANGAN PRODUK WEARABLE PADA KONDISI KRITIS DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: DEMONSTRASI)

Penelitian ini membahas pengembangan produk wearable ergonomis dan kompartemen modular untuk kebutuhan paramedis pada kondisi demonstrasi urban diBandung. Tas konvensional yang ada saat ini menghambat mobilitas dan aksesibilitas akibat desain yang besar, kaku, dan minim kompartemen, sehingga memperlambat penanganan korban dan meningkatkan risiko cedera muskuloskeletal (MSI) pada paramedis. Metode yang digunakan adalah pendekatan co-design, mencakup studi literatur, observasi lapangan di PMI Kota Bandung, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi permasalahan utama seperti distribusi beban tidak ideal dan akses kompartemen yang lambat. Analisis terhadap produk existing seperti Trauma Bag menunjukkan kelemahan pada sistem strap, bantalan panel belakang, dan kompartemen resleting. Rekomendasi desain mencakup material high-density polyester waterproof, sistem kompartemen modular, dan strap adjustable berbahan memory foam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi paramedis, mempercepat penanganan korban, serta menjadi acuan standar nasional peralatan darurat dan referensi akademis desain ergonomis.

2026
👤 Penulis: Made Pavitra Sedana Adiyasa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Teknologi Kesehatan

PENGEMBANGAN MODEL KESIAPAN ADOPSI TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SUSU PADA PETERNAK SAPI PERAH SKALA KECIL DI PROVINSI JAWA BARAT

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat adopsi teknologi peternakan pada peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat, yang berdampak pada belum optimalnya produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian sebelumnya masih terbatas dalam mengintegrasikan kesiapan individu, persepsi teknologi, dan faktor kontekstual dalam analisis adopsi teknologi peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan model konseptual adopsi teknologi peternakan yang digunakan untuk mendukung perumusan implikasi manajerial dalam meningkatkan produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada peternak sapi perah skala kecil. Variabel penelitian dikembangkan melalui integrasi Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan variabel kontekstual berupa government support dan pro-environmental behavior (PEB-Waste). Data penelitian sebanyak 160 responden dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimism dan innovation berpengaruh positif terhadap performance expectancy dan effort expectancy, sedangkan insecurity berpengaruh negatif terhadap performance expectancy. Kemudian, performance expectancy, social influence, dan government support berpengaruh positif terhadap intention to adopt teknologi. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak dalam mengadopsi teknologi. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bagi para pembuat kebijakan untuk menyusun implementasi teknologi peternakan yang disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat.

2026
👤 Penulis: R Agi Supriyadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS BIOEKONOMI GREEN PRODUCT BERBASIS LEBAH TANPA SENGAT (TRIGONA SP.) UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI PANGAN BERKELANJUTAN

Perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat mendorong kebutuhan akan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan. Bioekonomi menjadi salah satu pendekatan yang relevan karena mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya hayati dengan penciptaan nilai ekonomi secara bertanggung jawab. Lebah tanpa sengat (Trigona sp.) merupakan sumber daya hayati yang berpotensi menghasilkan madu, propolis, dan bee bread dengan kandungan bioaktif tinggi, sekaligus memberikan manfaat ekologis melalui jasa penyerbukan. Namun, pemanfaatan lebah tanpa sengat di Indonesia masih belum optimal, dan kajian yang mengintegrasikan konsep green product, Life Cycle Assessment (LCA), serta bioekonomi pada produk lebah tanpa sengat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik green product pada usaha lebah tanpa sengat, (2) menganalisis dampak lingkungan produk menggunakan pendekatan LCA, dan (3) menilai kinerja bioekonomi usaha perlebahan tanpa sengat. Penelitian dilakukan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, melalui survei kuantitatif, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis lingkungan dilakukan berdasarkan standar ISO 14040/44, sedangkan analisis bioekonomi dilakukan dengan mengintegrasikan nilai tambah ekonomi dan dampak Global Warming Potential (GWP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem perlebahan tanpa sengat telah memenuhi karakteristik green product dari aspek input, proses, dan output. Pada aspek lingkungan, produksi madu menghasilkan jejak karbon sebesar 0,357 kg CO?-eq per kg, sedangkan propolis sebesar 3,675 kg CO?-eq per kg. Kontribusi emisi terbesar berasal dari tahap pengolahan dan pengemasan, sementara fase budidaya memiliki dampak yang sangat kecil. Dari sisi bioekonomi, nilai rasio indikator ekonomi terhadap lingkungan madu sebesar Rp42.297 per kg CO?-eq dan propolis sebesar Rp86.394 per kg CO?-eq menunjukkan menunjukkan bahwa meskipun propolis memiliki emisi lebih tinggi, nilai ekonomi yang dihasilkan per satuan emisi juga lebih besar. Temuan ini menegaskan adanya trade-off antara dampak lingkungan dan nilai ekonomi, dimana keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh rendahnya emisi, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam menghasilkan nilai tambah yang optimal terhadap tekanan lingkungan.

2026
👤 Penulis: Annisa Jati Pascalis
🏷️ Bioekonomi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL KOLABORASI DESAIN UNTUK KRIYA BERKELANJUTAN: HARMONISASI PAGUYUBAN DAN PATEMBAYAN DI KAMPUNG WISATA YOGYAKARTA

Disertasi ini meneliti dan merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta, dengan nilai kebudayaan Jawa sebagai landasan utama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu krisis lingkungan (Jogja Darurat Sampah) di kawasan perkotaan, problematika sosiokultural dalam kolaborasi, serta tuntutan keberlanjutan ekonomi di sektor kriya. Yogyakarta juga merepresentasikan relasi yang kuat antara kriya, kebudayaan Jawa, dan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menggunakan paradigma sosiologis, penelitian ini mengangkat dinamika dialektis dan ketegangan ideologis dalam praktik kolaborasi antarkelompok artisan kriya di antara komunitas/paguyuban (Gemeinschaft) yang mengutamakan nilai kebersamaan (guyub) dengan industri/patembayan (Gesellschaft) yang berorientasi pada nilai keuntungan ekonomi. Kolaborasi dalam paguyuban dibangun melalui relasi sosial dan ikatan emosional dalam struktur informal. Sementara itu, kolaborasi dalam konsep patembayan mengembangkan pola kerja sama yang lebih rasional, profesional, dan terstruktur secara formal. Secara konseptual, perbedaan orientasi antara kedua kelompok sosial ini berpotensi menimbulkan konflik, sehingga kolaborasi desain menjadi tidak strategis dan menghambat pengembangan berkelanjutan bagi kelompok artisan kriya. Oleh karena itu, perbedaan orientasi kelompok artisan perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristiknya agar dapat menentukan posisi dalam spektrum paradigma paguyuban dan patembayan, sehingga tercipta harmonisasi dalam kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan. Namun demikian, kerangka analisis untuk mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan, pola kolaborasi, dan karya kriya dalam kedua paradigma ini masih perlu dikembangkan. Secara kontekstual, paguyuban dan patembayan dalam kebudayaan Jawa di kampung wisata Yogyakarta juga memiliki kearifan lokal yang memperkaya diskursus akademik global dalam kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (a) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan kriya di Yogyakarta berdasarkan tiga aspek, meliputi ideologi kelompok (people), proses kolaborasi (process), dan hasil karya (product), dalam paradigma paguyuban dan i patembayan; serta (b) merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan sebagai strategi harmonisasi pengembangan kelompok artisan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta (place). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi etnografi dan Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data penelitian melibatkan 38 partisipan dari 18 kelompok artisan kriya di Yogyakarta melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, dokumentasi karya, serta diskusi kelompok terarah. Secara sistematis, kelompok artisan kriya sebagai partisipan penelitian juga dikategorikan ke dalam empat dimensi keberlanjutan yang mencakup budaya, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, analisis data etnografis dilakukan secara berjenjang menggunakan teknik kodifikasi dengan tiga wujud kebudayaan sebagai kerangka konseptual, yaitu nilai ideologis kelompok (mentifact) sebagai aspek makro, praktik sosial (sociofact) sebagai aspek meso, dan karya (artifact) sebagai aspek mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kelompok, kolaborasi dan karya artisan kriya di Yogyakarta tidak bersifat dikotomis, melainkan memiliki spektrum yang dinamis di antara domain paguyuban dan domain patembayan. Berdasarkan analisis data etnografi, penelitian ini memetakan 12 komponen indikator klasifikasi untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok, kolaborasi, dan karya kriya. Model klasifikasi ini memposisikan kelompok artisan pada spektrum paguyuban kriya dan patembayan kriya. Secara mikro (artifact), klasifikasi ini juga memetakan elemen elemen dalam identifikasi karakteristik karya, yakni: Identitas, Material, Produk, Estetika, Konsep, dan Teknik yang disingkat menjadi IMPEKT. Berdasarkan temuan etnografis dan proses PAR sebagai uji model, disertasi ini merumuskan panduan klasifikasi kelompok artisan dan model Loka Desain untuk kriya berkelanjutan yang terdiri dari enam tahapan, yakni: menemukan bersama (co finding), mendefinisikan bersama (co-defining), mengembangkan ide bersama (co ideation), berkarya bersama (co-crafting), mengevaluasi bersama (co-evaluation), dan merencanakan bersama (co-planning). Melalui refleksi dinamika antara domain paguyuban kriya dan patembayan kriya, sintesis penelitian ini merekomendasikan pembentukan pakaryan kriya (studio kolektif) sebagai entitas baru yang mengharmoniskan jiwa gotong royong dan nilai kebersamaan (guyub) dengan kepentingan ekonomi melalui komersialisasi hasil karya kolaboratif. Sebagai strategi desain, pembentukan pakaryan kriya merupakan proses transformasi sosial yang tidak menghilangkan karakteristik paguyuban kriya maupun patembayan kriya. Dengan demikian, disertasi ini berkontribusi secara teoretis dalam memperluas diskursus kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata berbasis nilai-nilai kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Secara praktis, disertasi ini menghasilkan panduan klasifikasi kelompok artisan kriya serta model kolaborasi desain sebagai strategi pengembangan kelompok artisan kriya yang berkelanjutan di kampung wisata.

2026
👤 Penulis: Kristian Oentoro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 30 dari 349
💬