📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

FAKTOR DETERMINAN PERUBAHAN SURFACE URBAN HEAT ISLAND INTENSITY EKSTREM SIANG-MALAM SEBAGAI DASAR EVALUASI KETENTUAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG RDTR JAKARTA

Perkembangan wilayah perkotaan secara masif pada dasarnya telah mengubah lanskap alam sehingga kota menciptakan kondisi iklimnya sendiri (urban climate). Kondisi ini memicu fenomena Surface Urban Heat Island (SUHI) yang menyebabkan peningkatan suhu di wilayah perkotaan dan dapat diperparah oleh kejadian Local Extreme Heat (LEH). Selama ini, sebagian besar upaya mitigasi suhu ekstrem dalam perencanaan tata ruang di Indonesia masih menerapkan pendekatan yang seragam, tanpa mempertimbangkan dinamika karakteristik iklim mikro yang sangat berbeda antara kondisi siang dan malam hari. Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor determinan perubahan Surface Urban Heat Island Intensity (SUHII) siang dan malam hari pada kondisi LEH di Kota Jakarta menggunakan machine learning, serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap ketentuan intensitas Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan spasial eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine dengan resolusi grid berukuran 1 km². Pemisahan kawasan perkotaan dan perdesaan sebagai dasar nilai referensi suhu menggunakan sistem klasifikasi Local Climate Zone (LCZ). Analisis faktor determinan dilakukan menggunakan algoritma machine learning Random Forest untuk melihat tingkat kontribusi variabel secara global untuk seluruh wilayah studi, yang kemudian dipadukan dengan metode SHapley Additive exPlanations (SHAP) untuk mengukur arah kontribusi variabel secara lokal di setiap luasan grid. Melalui grafik SHAP dependence plot, nilai ambang batas empiris (threshold) dari variabel morfologi perkotaan dapat ditentukan dan dibandingkan dengan aturan zonasi RDTR. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan perbedaan pola distribusi kerentanan spasial yang saling bertolak belakang. Pada kondisi siang hari, lonjakan panas ekstrem cenderung menyebar secara sporadis di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan sebagian Jakarta Barat. Sebaliknya pada malam hari, pusat lonjakan pemanasan bergerak secara intensif mengelompok di kawasan pesisir (Jakarta Utara) dan menjalar hingga ke pusat kota, sementara kawasan selatan justru menunjukkan peredaman suhu. Hal ini menunjukkan bahwa kerentanan suhu suatu wilayah dapatvi berbeda tergantung waktu kejadiannya. Faktor determinan tingkat global yang paling besar pengaruhnya pada kondisi siang hari yaitu elevasi sebesar 17,60% dan kecepatan angin sebesar 16,63%. Pada kondisi malam hari, pendorong utamanya beralih menjadi curah hujan (20,98%), radiasi matahari (11,54%), dan aktivitas ekonomi melalui proksi cahaya malam (6,79%). Dari seluruh variabel yang diuji, variabel Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan rasio lahan berpori (sebagai proksi Koefisien Dasar Hijau atau KDH) terbukti memberikan arah pengaruh yang paling linier dan konsisten. Berdasarkan hasil ekstraksi model, batas toleransi maksimal KDB agar tidak memicu panas ekstrem berada pada rentang 37,38% hingga 39,35%, sedangkan batas minimal KDH yang diperlukan untuk menstabilkan suhu berada pada rentang 12,8% hingga 23,5% untuk berbagai kelas LCZ. Hasil evaluasi terhadap dokumen RDTR menemukan ketidaksesuaian yang sangat krusial. Mayoritas aturan batas maksimal KDB pada RDTR terbukti melampaui batas toleransi aman dari daya dukung lingkungan hasil pemodelan. Di saat bersamaan, target kewajiban penyediaan KDH minimal pada RDTR berada jauh di bawah standar kebutuhan pendinginan kawasan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa apabila pembangunan dimaksimalkan menyentuh kelonggaran aturan RDTR saat ini, lingkungan perkotaan akan mengalami peningkatan suhu ketika terjadi kejadian panas ekstrem. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peninjauan kembali terhadap peraturan zonasi pada RDTR agar kedepannya bisa berbasis tipologi iklim lokal sehingga kota menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman kondisi panas ekstrem.

2026
👤 Penulis: Fajar Nur Adnan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS AKSESIBILITAS KEGIATAN PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN TRADE-OFF WAKTU DAN BIAYA TRANSPORTASI RIDE-HAILING DAN TRANSIT

Kota Bandung merupakan kota inti di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang memiliki konsentrasi kegiatan perkotaan tinggi, tekanan mobilitas besar, serta persoalan kemacetan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas perkotaan. Di sisi lain, layanan ride-hailing berkembang sebagai alternatif mobilitas yang fleksibel karena mampu melayani perjalanan secara point-to-point tanpa bergantung pada rute dan halte tetap. Namun, fleksibilitas tersebut diikuti oleh konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan transit. Oleh karena itu, aksesibilitas kegiatan perkotaan tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan waktu tempuh, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai hambatan akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung berdasarkan trade-off antara waktu tempuh dan biaya perjalanan pada moda ride-hailing dan transit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan metode accessibility-based planning. Unit analisis yang digunakan adalah grid heksagonal H3 resolusi 9 yang mencakup wilayah Kota Bandung. Opportunity kegiatan perkotaan direpresentasikan melalui Point of interest yang diklasifikasikan dan diagregasikan ke dalam setiap grid. Moda transit dalam penelitian ini dibatasi pada layanan TMP, TMB, dan DAMRI, sedangkan ride-hailing dimodelkan sebagai layanan sepeda motor berbasis aplikasi dengan estimasi biaya mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 untuk Zona I. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis trade-off waktu-biaya menggunakan distribusi perjalanan dan Pareto Surface, analisis ketercapaian opportunity berdasarkan skenario waktu-biaya, serta analisis ketimpangan spasial antar moda menggunakan Modal Accessibility Gap dan tipologi ketimpangan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ride-hailing memiliki waktu tempuh yang lebih rendah dibandingkan transit. Rata-rata waktu tempuh ride-hailing adalah 31iv menit dengan median 32 menit, sedangkan transit memiliki rata-rata waktu tempuh 60 menit dengan median 64 menit. Namun, keunggulan waktu ride-hailing diikuti oleh biaya yang jauh lebih tinggi. Biaya transit dalam model bersifat tetap sebesar Rp9.000, sedangkan rata-rata biaya ride-hailing mencapai Rp38.493. Hasil Pareto Surface menunjukkan bahwa transit lebih dipengaruhi oleh batas waktu, sedangkan ride-hailing lebih responsif terhadap kombinasi batas waktu dan biaya. Pada skenario perjalanan menengah, yaitu 60 menit dan Rp40.000, aksesibilitas transit mencapai 12,30%, sedangkan ride-hailing mencapai 38,25%. Pada skenario perjalanan jauh dalam batas maksimum analisis, yaitu 90 menit dan Rp60.000, aksesibilitas transit meningkat menjadi 26,29%, sedangkan ride-hailing mencapai 68,23%. Secara spasial, ketercapaian opportunity tertinggi terkonsentrasi di kawasan pusat dan barat-tengah Kota Bandung, seperti Bandung Wetan, Sumur Bandung, Coblong, Sukajadi, Lengkong, dan Cibeunying Kaler. Sebaliknya, wilayah timur dan tenggara seperti Cibiru, Ujungberung, Panyileukan, Cinambo, Gedebage, Rancasari, dan Arcamanik menunjukkan ketercapaian opportunity yang rendah pada kedua moda. Analisis keterjangkauan berbasis UMK menunjukkan bahwa transit lebih terjangkau secara biaya karena seluruh perjalanan berada di bawah threshold 10% UMK, sedangkan ride-hailing baru menjadi lebih terjangkau pada threshold 30% hingga 40% UMK. Analisis Modal Accessibility Gap menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki nilai positif, yang berarti aksesibilitas ride-hailing lebih tinggi dibandingkan transit. Namun, tipologi ketimpangan menunjukkan bahwa dominasi ride-hailing tidak selalu berarti aksesibilitas absolut yang tinggi, karena beberapa wilayah pinggiran tetap masuk kategori aksesibilitas rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung dibentuk oleh interaksi antara distribusi opportunity, struktur jaringan transit, fleksibilitas ride-hailing, waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kemampuan membayar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan analisis aksesibilitas berbasis opportunity yang secara simultan mempertimbangkan waktu dan biaya perjalanan dalam membandingkan ride-hailing dan transit. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perencanaan transportasi yang lebih berorientasi pada aksesibilitas, keterjangkauan, dan pengurangan ketimpangan spasial.

2026
👤 Penulis: Andre Otniel Panggabean
🏷️ Mobilitas Kota Bandung 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL DALAM UPAYA MEMPERKENALKAN RISOGRAPH SEBAGAI TEKNIK CETAK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MAHASISWA DKV DI KOTA BANDUNG

Risograph merupakan teknik cetak yang dikenal lebih ramah lingkungan dibandingkan metode cetak konvensional karena menggunakan tinta berbahan dasar minyak kedelai dan memiliki konsumsi energi yang relatif rendah. Namun, tingkat pengetahuan mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Kota Bandung terhadap teknik ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan merancang kampanye sosial untuk memperkenalkan risograph sebagai alternatif teknik cetak yang lebih berkelanjutan bagi mahasiswa DKV. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi nonpartisipatif, kuesioner, dan wawancara dengan target audiens serta praktisi kampanye. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil analisis menjadi dasar penyusunan creative brief dan panduan visual kampanye. Berdasarkan creative brief tersebut, dirancang konsep kreatif, visual, dan media kampanye yang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, ketertarikan, serta kesadaran mahasiswa DKV terhadap risograph sebagai teknik cetak yang lebih ramah lingkungan.

2026
👤 Penulis: Heni Yunar Larasati
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Kampanye Sosial 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SISTEM GRAFIS DAN SPASIAL INSTALASI PENERJEMAHAN AROMA PARFUM BERBASIS TEORI CROSS-MODAL CORRESPONDENCES SEBAGAI BRAND ACTIVATION EARTHORA

Generasi Z pada era digital memiliki pola konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media daring, sehingga proses interaksi terhadap produk semakin didominasi oleh pengalaman visual pasif, terutama pada produk berbasis sensori seperti parfum. Kondisi ini menimbulkan tantangan signifikan bagi industri parfum karena hilangnya pengalaman penciuman sebagai elemen utama dalam pengambilan keputusan konsumen pada platform daring. Dengan mengambil studi kasus pada brand Earthora, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem visual dan spasial dalam bentuk instalasi fisik multisensori yang mampu menjembatani kesenjangan antara persepsi maya dan pengalaman aroma secara nyata. Pendekatan yang digunakan adalah cross-modal correspondences, yaitu metode penerjemahan stimulus aroma ke dalam elemen visual, material, cahaya, serta tata ruang, yang dikombinasikan dengan prinsip pemasaran eksperiental dan sensorik. Melalui pendekatan ini, perancangan diharapkan dapat mentransformasi pengalaman konsumen dari sekadar konsumsi pasif menjadi interaksi yang lebih aktif, imersif, dan bermakna. Hasil akhir dari perancangan ini diharapkan mampu menghadirkan representasi fisik yang akurat terhadap narasi aroma Earthora, sehingga pengunjung dapat membangun koneksi emosional yang autentik serta memperoleh pemahaman produk dan identitas brand secara lebih mendalam.

2026
👤 Penulis: Chelsea Andrea Rakian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ESTIMATION OF JOINT ANGLES OF THE UPPER EXTREMITY USING MACHINE LEARNING AND EMG SIGNALS

Musculoskeletal disorders are among the leading causes of disability worldwide and often affect the functionality of the upper extremity. Monitoring joint angles is important for understanding human movement, rehabilitation, and biomechanical analysis. Conventional measurement methods such as optical motion capture systems provide accurate results but require expensive equipment and controlled laboratory environments. Surface electromyography (sEMG) offers a more accessible alternative because muscle activation signals contain information related to joint movement. Therefore, this study aims to estimate the joint angles of the upper extremity using sEMG signals combined with machine learning techniques. The research methodology involves collecting sEMG and motion capture data from approximately ten participants performing several upper extremity movements, including elbow flexion–extension, shoulder flexion–extension, shoulder hyperextension, and composite movements. sEMG signals are processed through filtering, rectification, and envelope extraction, while joint angle data are obtained from optical motion capture recordings processed using OpenSim inverse kinematics. The processed data are then used to train a Long Short- Term Memory (LSTM) machine learning model to learn the relationship between muscle activation patterns and joint angles. The results show that the machine learning model can estimate upper extremity joint angles from sEMG signals, particularly when the predicted joint is actively involved in the movement. Composite movements produce better prediction performance due to stronger and more consistent muscle activation patterns. However, the model performance decreases when predicting joints not directly involved in the movement and when tested on participants outside the training dataset. These findings indicate that sEMG-based joint angle estimation using machine learning is feasible but requires further improvements in data diversity and model generalization.

2026
👤 Penulis: Salomo Romulus C.Sihombing
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Eksperimental 🏷️ Hidrologi

PENILAIAN KUALITAS VEGETASI RIPARIAN MENGGUNAKAN INTEGRASI INDEKS QBR DAN ANALISIS SPASIAL SUNGAI CIKERUH KABUPATEN SUMEDANG DAN BANDUNG, JAWA BARAT

Kabupaten Bandung telah beberapa kali terjadi bencana banjir, yang disebabkan sungai sudah tidak mampu menampung air yang datang. Kondisi ini mendorong untuk melihat kondisi ekologi di area Sungai Cikeruh. Sungai Cikeruh mengalir di dua daerah yaitu Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang berperan dalam mendukung fungsi ekologi dan hidrologinya. Tujuan penelitian untuk menilai kualitas vegetasi riparian Sungai Cikeruh berdasarkan indeks QBR (Qualitat del Bosc de Ribera) dengan indikator total cover, cover structure, cover quality vegetasi dan channel alteration pada zona riparian. Penilaian dilakukan dengan mengobservasi zona riparian Sungai Cikeruh. Metode QBR-GIS digunakan dengan menggunakan parameter penginderaan jauh Normalized Difference Vegetation Index, Soil Adjusted Vegetation Index, Canopy Height Model, slope, dan Normalized Difference Built-up Index. Pemilihan lokasi dilakukan menggunakan metode stratified random sampling untuk menggambarkan variasi kondisi lingkungan sepanjang aliran sungai. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kondisi kualitas vegetasi riparian yang jelas antara bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Cikeruh, baik berdasarkan analisis lapangan maupun spasial. Pada bagian hulu nilai QBR lapangan sebesar 100, 100, dan 55 yang termasuk dalam kategori natural hingga fair. Pada bagian tengah Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian menunjukkan variasi yang lebih tinggi dengan nilai QBR lapangan sebesar 55 (fair), 75 (good), dan 23.32 (bad). Sementara itu, pada bagian hilir Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian mengalami degradasi yang signifikan dengan nilai QBR lapangan sebesar 30, 35, dan 30 yang seluruhnya berada dalam kategori poor. Secara hidrologi, kondisi ini berdampak pada meningkatnya kekeruhan air, fluktuasi debit yang lebih tinggi, serta peningkatan frekuensi banjir, terutama pada hilir Sungai Cikeruh yang berada pada Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas vegetasi riparian di Sungai Cikeruh mengalami gradasi yang sistematis dari hulu ke hilir sebagai respons terhadap intensitas tekanan antropogenik. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya tekanan aktivitas manusia. Hasil analisis QBR berbasis GIS konsisten dengan data lapangan, menunjukkan bahwa parameter spasial (NDVI, SAVI, CHM, slope, NDBI) efektif dalam merepresentasikan kondisi biotik riparian secara cepat dalam skala luas. Terdapat hubungan yang kuat antara nilai QBR dengan kondisi hidrologi, dimana QBR dengan nilai tinggi memiliki kondisi hidrologi lebih baik, sedangkan QBR dengan nilai rendah memiliki kondisi hidrologi kurang baik.

2026
👤 Penulis: Nada Salma Nabila
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERANCANGAN WEBTOON MENGENAI SELF ACCEPTANCE MELALUI KISAH TRAUMA BODY SHAMING UNTUK WANITA EMERGING ADULTHOOD

Perancangan ini bertujuan mengembangkan Webtoon yang mengangkat isu self acceptance melalui representasi pengalaman trauma body shaming pada perempuan emerging adulthood. Fenomena body shaming masih menjadi masalah yang berdampak pada citra tubuh, harga diri, dan kesehatan mental perempuan usia 18–25 tahun yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan rentan terhadap tekanan standar kecantikan. Metode penelitian menggunakan metode Double Diamond (Design Council, 2005) meliputi studi pustaka, wawancara dengan psikolog dan kreator Webtoon profesional, serta penyebaran kuesioner kepada perempuan emerging adulthood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body shaming dapat muncul dalam bentuk ejekan maupun sindiran halus yang memengaruhi kepercayaan diri dan penerimaan diri, sementara media sosial berperan dalam memperkuat tekanan terhadap penampilan fisik. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang Webtoon berjudul My Perfect Frame yang terdiri atas empat episode dengan strategi komunikasi Narrative Persuasion melalui pendekatan emosional dan dukungan sosial. Visual Webtoon menggunakan gaya ilustrasi semi-realis dengan penekanan pada ekspresi karakter dan suasana emosional untuk mendukung penyampaian pesan. Setelah dipublikasikan pada platform Webtoon, karya memperoleh tanggapan positif dari pembaca yang menunjukkan relevansi tema dan keterhubungan terhadap pengalaman yang disajikan. Perancangan ini diharapkan menjadi media edukatif yang reflektif dan empatik dalam mendorong penerimaan diri serta meningkatkan kesadaran terhadap dampak body shaming.

2026
👤 Penulis: Fasya Rachmi Diani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERBANDINGAN STOK KARBON PADA BERBAGAI TUTUPAN LAHAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI MIKROKLIMAT SERTA TOPOGRAFI DI TAMAN BURU MASIGIT KAREUMBI, SUMEDANG, JAWA BARAT

Stok karbon hutan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa vegetasi dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan stok karbon pada berbagai tutupan lahan serta mengkaji hubungan stok karbon dengan faktor mikroklimat dan topografi di Taman Buru Masigit Kareumbi. Penelitian dilakukan pada tiga tipe tutupan lahan, yaitu hutan alam, hutan sekunder, dan zona penyangga (buffer). Variabel mikroklimat yang diamati meliputi suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan pH tanah, sedangkan faktor topografi meliputi elevasi dan kemiringan lereng (slope). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stok karbon berbeda nyata antar tutupan lahan (p < 0,05), dengan nilai tertinggi pada hutan sekunder sebesar 400,36 ton/ha, diikuti hutan alam sebesar 268,12 ton/ha, dan zona penyangga (buffer) sebesar 153,64 ton/ha. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa struktur tegakan dan komposisi vegetasi berperan penting dalam menentukan kapasitas penyimpanan karbon. Karakteristik mikroklimat bervariasi antar tutupan lahan, sedangkan variasi topografi relatif kecil. Analisis hubungan menunjukkan bahwa suhu udara memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap stok karbon (r = -0,45; p < 0,05; R² = 0,20), yang menunjukkan bahwa peningkatan suhu cenderung diikuti oleh penurunan stok karbon. Sebaliknya, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, pH tanah, elevasi, dan kemiringan lereng (slope) menunjukkan hubungan yang lemah dan umumnya tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi stok karbon lebih dipengaruhi oleh karakteristik vegetasi dibandingkan faktor mikroklimat dan topografi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fahmi Pasha
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Hutan 🏷️ Analisis Mikroklimat

MR-FLOWS: SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI UNTUK MITIGASI LUAPAN BANJIR DI DAS MAJALAYA

Banjir merupakan bencana tahunan yang kerap melanda wilayah Majalaya, Jawa Barat. Saat ini, informasi curah hujan dan tinggi muka air (TMA) masih disampaikan melalui grup WhatsApp, sehingga sulit dipahami masyarakat. Purwarupa ini bertujuan mengembangkan MR-FLOWS (Majalaya River Flood Warning System), sebuah sistem informasi terintegrasi berbasis website untuk mitigasi luapan banjir di DAS Majalaya yang dapat diakses publik melalui https://mrflows.my.id. Sistem dibangun menggunakan kerangka kerja FastAPI (backend) dan React (frontend) dengan basis data PostgreSQL. Data observasi curah hujan dari enam stasiun dan TMA dari stasiun Majalaya periode Januari 2023–Mei 2026 diproses melalui kontrol kualitas dan imputasi nilai hilang. Eksperimen pemodelan membandingkan Linear Regression, Ridge, Lasso, dan XGBoost untuk prediksi TMA. Interval waktu optimal adalah 10 menit (R²=0,935). Strategi rekayasa fitur terbaik (Lag kemudian Rolling) menghasilkan fitur yang mencakup lag spesifik tiap stasiun (120–190 menit) serta fitur autoregresif (tma_lag1) dan interaksi antar stasiun. Model XGBoost mencapai kinerja terbaik (R² Uji=0,9531, RMSE=0,0825 m, MAE=0,0209 m) dengan fitur paling dominan adalah tma_lag1 serta akumulasi curah hujan dari stasiun Cikitu dan Ibun. Sistem menyajikan peta interaktif, status siaga dengan indikator warna, prediksi TMA hingga 12 jam, serta notifikasi Telegram otomatis. Pengujian fungsional menunjukkan seluruh fitur berjalan baik. Kegiatan diseminasi pada 3 Mei 2026 di Majalaya memperoleh umpan balik positif dari masyarakat. Purwarupa ini berhasil menyediakan platform informasi terstruktur yang membantu kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi banjir.

2026
👤 Penulis: Muammar Irza Choirruzzat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENENTUAN SUKU BUNGA OPTIMALUNTUK STABILITAS KEUANGAN INDONESIA BERBASIS SISTEM KONTROL FUZZY

Suku bunga optimal merupakan instrumen utama bank sentral dalam menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung stabilitas keuangan secara keseluruhan. Tugas Akhir ini mengusulkan pendekatan penentuan suku bunga optimal yang mengintegrasikan sistem inferensi fuzzy Tsukamoto, kerangka kebijakan moneter New Keynesian, serta metode kontrol optimal Linear Quadratic Regulator (LQR) dalam sistem ruang keadaan dinamis untuk periode Januari 2022 hingga Desember 2024. Tugas Akhir ini membahas tiga permasalahan utama yaitu pembangunan model fuzzy Tsukamoto untuk prediksi inflasi yang memanfaatkan hubungan antara pertumbuhan kredit dan inflasi inti, pemilihan aturan kebijakan moneter New Keynesian untuk merekomendasikan suku bunga dengan fungsi kerugian bank sentral terendah, serta perancangan sistem kontrol optimal yang mampu mengarahkan variabel makroekonomi menuju target secara efisien dan stabil. Selanjutnya, akan dievaluasi ketiga aturan kebijakan moneter, yaitu Aturan Taylor, Aturan Fisherian, dan Aturan Lean-Against-the-Wind, yang menghasilkan suku bunga rekomendasi pada berbagai skenario perekonomian Indonesia. Aturan kebijakan terpilih dijadikan target dalam perancangan sistem ruang keadaan dinamis yang dikendalikan menggunakan LQR. Performa sistem loop tertutup dengan kontrol LQR kemudian dibandingkan dengan sistem tanpa kontrol menggunakan fungsi biaya sebagai metrik utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerangka kebijakan moneter yang adaptif terhadap ketidakpastian memberikan rekomendasi suku bunga optimal bagi Bank Indonesia yang mendukung pencapaian stabilitas harga dan keuangan di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks.

2026
👤 Penulis: Elisabeth Irene
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PEMANFAATAN GELEMBUNG MIKRO DAN NANO SEBAGAI ADITIF DEXLITE (B35) TERHADAP PRESTASI KERJA MESIN DIESEL

Proyeksi peningkatan produksi dan konsumsi biodiesel di Indonesia pada 2030–2050 mencerminkan peran strategisnya dalam mencapai target emisi nol bersih. Di sisi penawaran, kebijakan pembangunan infrastruktur dan penerapan campuran B40–B50 mendukung proyeksi peningkatan produksi biodiesel. Sementara itu, konsumsi biodiesel pada sektor transportasi terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Namun, biodiesel memiliki kelemahan utama: nilai kalornya lebih rendah daripada nilai kalor diesel. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai kalor Dexlite dan prestasi kerja mesin diesel yang mengonsumsinya melalui penambahan gelembung mikro dan nano (GMN). Pendekatan ini didasarkan pada Nakatake et al. (2013) dan Oh et al. (2013) yang melaporkan peningkatan prestasi kerja mesin diesel dan bensin melalui penambahan GMN. Selain itu, penelitian ini merupakan salah satu studi awal yang mengoptimasi parameter pembangkitan GMN dalam Dexlite dan menentukan pengaruh penambahannya terhadap nilai kalor Dexlite. Berdasarkan penelitian ini, durasi pembangkitan GMN dan kecepatan aliran Dexlite optimal untuk GMN oksigen adalah 10 menit dan 30 liter per menit, sedangkan untuk GMN hidrogen adalah 8,73 menit dan 29,95 liter per menit. Penambahan GMN oksigen dan GMN hidrogen pada parameter pembangkitan optimal meningkatkan nilai kalor Dexlite sebesar 2,74% dan 4,77%. Sementara itu, efisiensi termal mesin diesel yang mengonsumsi Dexlite dengan GMN menunjukkan peningkatan rata-rata 0,60% dan 4,77% untuk oksigen dan hidrogen secara berturut-turut. Pengujian prestasi kerja mesin diesel dilakukan tanpa replikasi karena keterbatasan jumlah sampel sehingga pengaruh pendekatan ini belum dapat dikonfirmasi secara statistik. Namun, kecenderungan yang diamati menunjukkan potensi pendekatan ini sehingga layak untuk dikembangkan, khususnya melalui pengendalian gas terlarut dalam bahan bakar.

2026
👤 Penulis: Pande Nyoman D.S.
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

VARIABILITAS MIXED LAYER DEPTH DAN OKSIGEN TERLARUT DI TELUK TOMINI

Pemanasan global menyebabkan kenaikan suhu permukaan laut yang berdampak pada penguatan stratifikasi termal dan perubahan Mixed Layer Depth (MLD), yang secara langsung dapat memengaruhi distribusi Dissolved Oxygen (DO) di kolom air. Teluk Tomini sebagai perairan semi-tertutup di bagian timur Indonesia dipengaruhi oleh sistem monsun dan pertukaran massa air dengan Laut Maluku, namun kajian komprehensif mengenai variabilitas MLD dan DO di wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variasi spasial dan temporal MLD serta DO, sekaligus menganalisis hubungan dinamika MLD terhadap distribusi DO di Teluk Tomini selama periode 1993–2024. Data MLD diperoleh dari perhitungan menggunakan ambang batas suhu ?T ? 0,2°C dari suhu di kedalaman referensi 10 meter. Analisis temporal MLD dan DO mencakup perhitungan tren, FFT, dan Cross-Correlation Function (CCF) terhadap indeks ENSO. Hasil menunjukkan MLD berfluktuasi antara 15–50 meter dengan tren penipisan -0,1832 m/tahun seiring kenaikan suhu permukaan laut +0,0198°C/tahun. MLD terdalam dijumpai pada musim barat (hingga 36 meter) akibat penguatan wind-driven mixing, sedangkan MLD terdangkal (<20 meter) terjadi pada musim peralihan II. Monsun mendominasi variabilitas MLD pada periode 0,25 dan 0,5 tahun, sementara ENSO memengaruhi MLD dengan lag waktu sekitar 1 bulan (r = -0,44). Variabilitas DO di kedalaman MLD relatif homogen sepanjang tahun (6,42– 6,58 mg/L). Analisis tren menunjukkan adanya peningkatan DO sebesar 0,0007 mg/L per tahun, namun besarnya peningkatan tersebut sangat kecil sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan secara ekologis. Pengaruh ENSO terhadap DO lebih lemah (r = -0,23) dibanding terhadap MLD, karena DO juga dikontrol oleh proses biologis dan kimiawi yang memiliki dinamikanya sendiri. Dinamika MLD berpengaruh signifikan terhadap distribusi vertikal DO, namun kondisi DO di lapisan campuran tetap stabil dan berkualitas baik sepanjang tiga dekade pengamatan. Tren penipisan MLD jangka panjang akibat pemanasan global perlu terus dipantau karena berpotensi dalam membatasi distribusi oksigen ke lapisan lebih dalam sehingga dapat berdampak pada produktivitas dan kesehatan ekosistem Teluk Tomini di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Yani Sawitri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KONSEP ZERO DELTA Q MELALUI ANALISIS KESESUAIAN INFRASTRUKTUR PENGENDALI RISIKO BANJIR : STUDI KASUS JAKARTA

Banjir pluvial di Jakarta mendominasi kejadian banjir akibat peningkatan koefisien limpasan (C) seiring perkembangan kawasan terbangun. Hal ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem, perubahan tata guna lahan, dan kapasitas sistem drainase yang belum memadai. Selain itu, penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan dan ketergantungan pada sumber air baku dari luar wilayah memperburuk situasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika guna memahami pola debit banjir, mengevaluasi efektivitas penerapan prinsip zero delta Q (ZDQ) berbasis Sustainable Urban Drainage Systems (SuDS), serta merumuskan rekomendasi integrasi tata guna lahan dengan kapasitas sistem tata air untuk mengurangi risiko banjir pada kawasan strategis terpilih sekaligus mendukung penerapan Nature-based Solutions (NbS). Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif berbasis data spasial, hidrologi, dan hidraulika dengan menggunakan perangkat lunak QGIS dan model HEC-RAS 2D. Pemodelan dilakukan dengan lima skenario, yaitu: (1) kondisi eksisting, (2) normalisasi saluran penghubung (PHB), (3) normalisasi saluran dan penerapan ZDQ, (4) peningkatan kapasitas saluran, penerapan ZDQ, dan penyediaan tampungan berbasis SuDS, serta (5) integrasi skenario 4 dan sistem pompa. Evaluasi berdasarkan luas genangan, kedalaman genangan, durasi genangan, serta klasifikasi tingkat ancaman banjir mengacu peraturan yang berlaku. Hasil analisis skenario 1 menunjukkan bahwa sistem drainase belum mampu menampung debit Q10, dengan luas genangan mencapai 91,87 ha, kedalaman genangan rata-rata sebesar 0,55 m, dan durasi surut rata-rata selama 4 jam. Pelaksanaan intervensi skenario 2 sampai dengan 5 mampu menurunkan dampak banjir secara signifikan, terutama pada skenario 5 memberikan kinerja terbaik melalui penurunan luas genangan menjadi 0,01 ha (99,9%), kedalaman genangan rata-rata menjadi 0,10 m, serta percepatan durasi surut menjadi rata-rata 2 jam. Selain itu, penyediaan tampungan rekayasa sebesar 588 m³ pada skenario 4 dan 5 berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku alternatif. Penelitian ini juga merekomendasikan penerapan terintegrasi infrastruktur pengendalian banjir sebagai pendekatan yang dapat direplikasi pada kawasan lain untuk meningkatkan ketahanan terhadap banjir dan mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Sisca Veronica
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMANAFAATAN INFORMASI BATIMETRI UNTUK KEPERLUAN PELETAKAN PIPA BAWAH LAUT

Survei batimetri merupakan bagian dari survei hidrografi dimana dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, salah satu manfaat survei batimetri adalah untuk peletakan pipa bawah laut. Untuk melakukan survei batimetri dalam keperluan peletakan pipa sangat dibutuhkan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kesalahan pemberian informasi pada pengguna. Studi kasus dalam tugas akhir ini dilakukan di Perairan Tanjung Priok. Dalam survei ini data yang diperoleh meliputi data kedalaman dan posisi titik fiks perum serta data pengamatan pasut Pulau Damar. Kualitas dari survei ini memenuhi ketelitian yang disyaratkan dimana dari data pengecekan kedalaman pada jalur utama dan jalur silang memenuhi kesalahan maksimum (?) = . Jalur pipa yang akan ditentukan sedapat mungkin aman, memudahkan proses pemasangan pipanya, dan mempunyai jarak terpendek. Jalur pipa yang ditentukan pada survei ini merupakan jalur pipa yang dianalisis dari data batimetri dimana diperoleh jalur pipa yang melewati tengah-tengah koridor survei yang sesuai dengan yang direncanakan.

2026
👤 Penulis: Hendri Yanto
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Batimetri 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN KELAYAKAN EKONOMI PEMASANGAN WAVE ENERGY CONVERTER (WEC) DI PERAIRAN TULUNGAGUNG

Pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat mendorong peningkatan konsumsi energi global, termasuk kebutuhan energi listrik di Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil sehingga dibutuhkan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT). Sebagai upaya mendukung optimalisasi potensi tersebut, penelitian ini bertujuan menentukan lokasi potensial pemasangan Wave Energy Converter (WEC), menghitung produksi energi, serta menilai kelayakan ekonomi menggunakan metode Levelized Cost of Energy (LCoE) di perairan Tulungagung. Simulasi numerik dilakukan menggunakan model Simulating WAve Nearshore (SWAN) tahun 2024 dengan resolusi spasial mencapai 50 m di pesisir. Lokasi potensial ditentukan berdasarkan enam parameter, yakni daya gelombang rata-rata ( ), optimum hotspot identifier (OHI), coefficient of variance (CoV), wave energy development index (WEDI), batimetri, dan jarak dari pantai. Jenis WEC yang digunakan adalah Wave Dragon dan Wave Roller. Analisis kelayakan ekonomi mempertimbangkan tiga skenario capital expenditure (CAPEX), yakni optimis, realistis, dan pesimis. Hasil verifikasi model menunjukkan kesesuaian yang baik antara simulasi dengan data observasi dan reanalisis ERA5. Karakteristik medan gelombang dipengaruhi oleh angin musiman dan swell dari Samudra Hindia, dengan potensi energi tertinggi pada musim JJA dan terendah pada musim DJF. Terdapat (4) empat lokasi rekomendasi pemasangan WEC, yakni T1, T2, T3, dan T4. Produksi energi tahunan tertinggi dicapai oleh T2 sebesar 11.529,72 MWh (Wave Dragon) dan T4 sebesar 2.806,48 MWh (Wave Roller), namun jika ditinjau dari capacity factor (Cf) sebagai indikator efisiensi, T4 memiliki performa terbaik sebesar 31,95%, diikuti T1 (25,53%), T2 (22,25%), dan T3 (9,50%). Hasil perhitungan LCoE menunjukkan bahwa T4 memiliki nilai termurah pada seluruh skenario CAPEX, yakni 1.911–6.392 IDR/kWh, sedangkan T3 memiliki nilai LCoE termahal sebesar 6.441–21.482 IDR/kWh. Dengan demikian, T4 direkomendasikan sebagai lokasi prioritas pemasangan WEC di perairan Tulungagung berdasarkan efisiensi penyerapan energi dan kelayakan ekonomi terbaik.

2026
👤 Penulis: Yosefha Br Sebayang
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Hidrologi
Halaman 31 dari 267
💬