📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

PENGARUH NOISE DALAM BUžEK-HILLERY QUANTUM CLONING MACHINE MENGGUNAKAN OPERATOR KRAUS

Proses duplikasi merupakan sebuah proses melakukan penggandaan informasi dari sebuah sistem kepada sistem yang lain. Namun untuk melakukan duplikasi keadaan kuantum sembarang tak dapat dilakukan sebagaimana tertera pada No-Cloning Theorem. Akan tetapi, No-Cloning Theorem tak membatasi duplikasi tak sempurna sehingga muncul Quantum Cloning Machine yang memungkinkan untuk mendapatkan hasil duplikasi yang mendekati keadaan yang diinginkan diantaranya adalah Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine. Dalam keadaan riil, sistem kuantum dapat berinteraksi dengan lingkungan yang menyebabkan adanya gangguan (noise) yang dapat dimodelkan dengan operator Kraus. Penelitian ini akan mengamati pengaruh beberapa tipe noise pada Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine meliputi bit flip, phase flip, noise depolarizing dan amplitude damping. Penelitian ini dilakukan secara analitik untuk mendapatkan persamaan untuk tiap noise serta komputasi untuk kasus-kasus input tertentu, yaitu keadaan basis dan keadaan superposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, noise akan menurunkan nilai fidelitas dan amplitude overlap untuk masing-masing qubit namun dalam beberapa kasus nilai fidelitas dan amplitude overlap dapat membesar bahkan melebihi nilai ketika tak ada gangguan sama sekali.

2026
👤 Penulis: Nashwan Chakap Nanggala
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Quantum Computing

PENGEMBANGAN ALGORITMA EMPIRIS BERBASIS CITRA SENTINEL-2 UNTUK PEMANTAUAN KLOROFIL-A DI PERAIRAN CIREBON

Perairan Cirebon merupakan wilayah pesisir dengan aktivitas antropogenik tinggi yang meningkatkan masukan nutrien dan sedimen, sehingga menyebabkan kondisi optik perairan menjadi lebih kompleks. Hal ini membuat algoritma estimasi klorofil-a dari wilayah lain kurang representatif jika diterapkan secara langsung. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi algoritma empiris berbasis citra Sentinel-2 untuk estimasi klorofil-a serta menganalisis distribusi spasial-temporalnya di Perairan Cirebon. Data yang digunakan berupa klorofil-a in situ dari 17 stasiun pengamatan (April 2025–April 2026) dan citra Sentinel-2 MSI Level-2A. Pengembangan algoritma dilakukan menggunakan metode Empirical Multivariate Regression Model (EMRM) dengan tiga skema kombinasi band (VNIR, RE, dan VRE) dengan beberapa bentuk model yaitu multivariat linear regresi, log-log, eksponensial, dan polinomial. Hasil menunjukkan model terbaik diperoleh pada skema Multiband VRE dengan model eksponensial menggunakan band B2, B4, B5, dan B7, dengan nilai R2 = 0,803, RMSE = 1,111 mg/m3, MAPE = 31,196%, dan bias = -0,201. Algoritma direkomendasikan untuk konsentrasi klorofil-a 0–30 mg/m3, sedangkan nilai >30 mg/m3 dikategorikan sebagai out of range karena tidak terwakili dalam data in-situ dan menunjukkan penurunan akurasi. Pada wilayah sangat dekat pesisir (<1 km), algoritma masih berpotensi mengalami overestimate akibat kondisi optically complex. Distribusi klorofil-a hasil estimasi Sentinel-2 konsisten dengan data in-situ, baik secara spasial maupun temporal, dengan konsentrasi lebih tinggi di nearshore dibanding offshore. Konsentrasi tertinggi terjadi pada Musim Barat (DJF) sebesar 5,882 mg/m3 dan terendah pada Musim Timur (JJA) sebesar 2,115 mg/m3. Pola ini dipengaruhi oleh peningkatan limpasan sungai pada Musim Barat yang membawa nutrien ke perairan pesisir. Secara umum, berdasarkan rata-rata klorofil-a in-situ (5,300 mg/m3) dan estimasi (4,081 mg/m3), Perairan Cirebon diklasifikasikan sebagai meso-oligotrofik hingga mesotrofik dengan produktivitas primer rendah hingga sedang.

2026
👤 Penulis: Indrawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Optik Perairan 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air

PENANGANAN SEDIMENTASI DI AREA PELABUHAN BATU BARA, SUNGAI BERAU, KALIMANTAN TIMUR

Pelabuhan Batu Bara di Sungai Berau, Kalimantan Timur, mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang menurunkan kapasitas barging dari 7.000–7.200 ton (2024) menjadi 6.000–6.400 ton (2025) dan kedalaman efektif jetty dari 5,5–6 m menjadi ±4 m. Penelitian ini menganalisis karakteristik hidrologi-hidraulika penyebab sedimentasi serta merumuskan solusi penanganannya. DAS Berau memiliki luas 14.368 km² dengan CN 70,69 dan debit normal 821–1.111 m³/s. Pemodelan HEC-RAS menunjukkan kecepatan aliran di sekitar jetty 0,5 m/s (Q2) hingga 0,7 m/s (Q25); meski Q25 melampaui kecepatan kritis erosi lanau halus, probabilitas kejadiannya rendah (±4%/tahun) sehingga flushing alami tidak berlangsung berkelanjutan. Pada debit andalan 50%, laju sedimentasi tahunan mencapai 10–15 cm/tahun. Solusi yang dirumuskan adalah pengerukan menggunakan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD), sesuai karakteristik material clayey silt, dengan luas area 12.150 m², kedalaman 2 m, dan volume keruk 24.300 m³. Hasil kerukan dibuang ke dumping area >12 mil laut sesuai Permenhub No. PM 125 Tahun 2018, dengan estimasi biaya ±Rp 6,74 miliar (±Rp 277.346/m³) dan pengerukan pemeliharaan setiap 4–6 tahun. Selain itu, teridentifikasi lahan kritis berpotensi erosi sangat berat di dekat badan sungai, sehingga direkomendasikan rehabilitasi vegetasi, pemulihan riparian buffer zone, dan pengaturan tata guna lahan untuk mendukung penanganan sedimentasi secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Abiyyu Hafiansyah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENYUSUNAN KERANGKA KERJA ANALISIS EMBODIED CARBON BERBASIS BIM PADA INFRASTRUKTUR JALAN TOL

Sektor konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO? global, dan sebagian besar berasal dari embodied carbon material struktural yang hampir tidak pernah dihitung pada tahap perencanaan. Di Indonesia, pembangunan jalan tol terus berlangsung dalam skala besar tanpa mekanisme kuantifikasi jejak karbon yang terstandar, sementara target dekarbonisasi nasional membutuhkan data emisi yang dapat diukur dan diverifikasi. Penelitian ini menyusun dan mengevaluasi kerangka kerja analisis embodied carbon berbasis Building Information Modeling (BIM) untuk infrastruktur jalan tol, sebagai panduan bagi praktisi dalam mengintegrasikan analisis jejak karbon sejak tahap perencanaan awal. Studi kasus dilakukan pada Ramp 1 Junction Palembang, sebuah struktur jalan tol layang penuh sepanjang 2,796 km dengan komposisi pileslab 71,21% dan jembatan 28,79% di Provinsi Sumatera Selatan. Analisis embodied carbon dilakukan dalam lingkup A1–A3 (cradle-to-gate) menggunakan dua metode: perhitungan manual berbasis faktor emisi EPD sebagai metode referensi, dan perhitungan semi-otomatis menggunakan plugin Tally pada Autodesk Revit sebagai metode yang diuji. Perbandingan dilakukan melalui pengecekan konsistensi massa material dan uji statistik deskriptif (ME, MAE, RMSE, NRMSE, MAPE), serta penilaian kelayakan operasional berdasarkan lima parameter oleh tiga narasumber eksternal. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, pengecekan konsistensi massa membuktikan bahwa Tally membaca volume material dari model BIM dengan tepat, sehingga seluruh perbedaan hasil emisi antar metode bersumber dari perbedaan faktor emisi antar database, bukan dari kesalahan pembacaan geometri. Kedua, selisih total sebesar 5,55% dengan NRMSE 2,27% menunjukkan konsistensi yang kuat antara kedua metode pada skala proyek secara keseluruhan, meskipun MAPE admixture mencapai 72,87% akibat perbedaan definisi material antar database. Intensitas emisi yang dihasilkan sebesar 8.193 tCO?e/km/lane yang sudah melampaui seluruh studi referensi internasional, yang menunjukkan bahwa jalan tol layang di Indonesia memiliki intensitas karbon yang tinggi namun belum pernah diukur secara sistematis. Ketiga, penilaian kelayakan operasional menunjukkan bahwa metode semi-otomatis lebih unggul dalam efisiensi dan kemudahan estimasi, sementara metode manual lebih unggul dalam transparansi data, fleksibilitas database, dan aksesibilitas. Berdasarkan temuan tersebut, disusun kerangka kerja empat tahap yang terdiri dari persiapan model BIM, analisis dan optimasi desain awal, penyusunan database faktor emisi proyek, serta perhitungan akhir dan pelaporan. Kerangka ini menempatkan kedua metode secara strategis sesuai fase proyek. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metodologi analisis embodied carbon berbasis BIM yang sesuai dengan konteks infrastruktur Indonesia, sekaligus mendorong pentingnya pembangunan database inventori siklus hidup nasional dan kewajiban EPD dalam dokumen tender.

2026
👤 Penulis: Kristofer Febrianto Marpaung
🏷️ Analisis Embodied Carbon 🏷️ Infrastruktur Jalan Tol 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN PUSAT KEBUDAYAAN POP KOREA SEBAGAI TEMPAT HIBURAN DAN BELAJAR DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN TEORI TEMPAT KETIGA

Perkembangan budaya populer Korea (K-pop) di Indonesia memicu terbentuknya berbagai komunitas penggemar yang aktif menyelenggarakan kegiatan seperti acara kumpul sesama penggemar (fans gathering), dance cover, nonton dan nyanyi bersama, hingga K-market di berbagai daerah di Indonesia terutama kota-kota besar, termasuk Bandung. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua komunitas penggemar K-pop yang khusus menyelenggarakan acara mengatakan bahwa minimnya ruang yang dikhususkan untuk penggemar K-pop berkumpul mengadakan acara. Hasil survei lapangan yang dilakukan pada acara komunitas penggemar K-pop yaitu Dopamin Market dengan kuesioner secara acak pada pengunjung yang datang (114 responden) menunjukkan alasan terbanyak menyukai K-pop untuk hiburan pelarian dari stress sekaligus sumber motivasi belajar. Namun, masih beredar di kalangan masyarakat Indonesia tentang stereotip negatif terhadap penggemar K-pop. Oleh karena itu, perancangan pusat kebudayaan pop Korea diperlukan sebagai sarana hiburan, berkumpul, dan belajar yang ditujukan tidak hanya untuk penggemar tetapi juga masyarakat awam. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman (safe space) khusus untuk orang yang menggemari dan yang tertarik dengan K-pop sebagai tempat hiburan dan belajar di Bandung dengan pendekatan teori tempat ketiga (third place theory) yang mana ruang komunitas sebagai “ruang ketiga” di luar rumah dan sekolah/kerja. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi fasilitas sejenis, serta survei dan wawancara pada komunitas Extraverse, Dopamin Market, dan T-Space.

2026
👤 Penulis: Audita Nurrafa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Mitzu Lintang Saputra
🏷️ Infrastruktur Pesisir 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rayhan Syahrir
🏷️ Infrastruktur Pesisir 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan

INVESTIGASI EMISI KARBON MATERIAL BIOMASSA PADA BANGUNAN KAYU REKAYASA PRODUK INDUSTRI DI INDONESIA

Sektor bangunan dan konstruksi merupakan salah satu kontributor terbesar emisi karbon global, menyumbang sekitar 37% emisi CO? dunia pada tahun 2022. Di Indonesia, industri manufaktur dan konstruksi menyumbang sekitar 21,46% emisi sektor energi nasional, sebagian besar berasal dari penggunaan material konvensional beremisi tinggi seperti beton dan baja. Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030 melalui kerangka Nationally Determined Contributions (NDC). Pencapaian target tersebut membutuhkan transisi menuju material konstruksi rendah karbon. Kayu rekayasa produk industri muncul sebagai alternatif yang menjanjikan karena bersifat terbarukan, efisien dalam pemanfaatan bahan baku, serta mampu menyimpan karbon biogenik dalam jangka panjang. Namun, data emisi karbon kayu rekayasa di Indonesia masih sangat terbatas, belum terdokumentasi secara sistematis, dan belum terdapat Environmental Product Declaration (EPD) terverifikasi dari produsen lokal. Kondisi ini menyulitkan perencana dan pengambil kebijakan dalam menilai potensi material kayu rekayasa untuk mengurangi emisi karbon secara objektif. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi besaran emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia pada tahap sebelum bangunan digunakan, yaitu modul A1 hingga A5 yang mencakup pasokan bahan baku, transportasi bahan baku, manufaktur, transportasi produk ke lokasi konstruksi, dan proses konstruksi. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) mengacu pada ISO 14040/14044, dan EN 15978:2011, dengan perhitungan karbon biogenik mengikuti EN 16449:2014. Tiga studi kasus dianalisis, yaitu Glulam pada Rumah Pluit Samudra di Jakarta, CLT pada Show Unit Modular di Pejaten, dan Blockwood pada Rumah Pascabencana Gasol di Cianjur, dengan unit fungsional 1 m³ produk terpasang. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, wawancara produsen, dan dokumen produksi, sedangkan data sekunder dilengkapi dari basis data emisi internasional dan EPD terverifikasi. Perhitungan Life Cycle Inventory (LCI) dilakukan secara manual berbasis Microsoft Excel agar setiap titik data dapat ditelusuri secara transparan. Hasil penelitian menunjukkan total emisi Global Warming Potential (GWP)-fosil pada modul A1-A5 sebesar 987,26 kg CO?e/m³ untuk Glulam, 904,29 kg CO?e/m³ untuk CLT, dan 840,55 kg CO?e/m³ untuk Blockwood. Modul A3 (manufaktur) menjadi penyumbang emisi terbesar pada seluruh studi kasus akibat konsumsi listrik selama proses produksi dan penggunaan perekat. Modul A1 menjadi kontributor terbesar kedua, tetapi perhitungannya menggunakan data asumsi dari literatur dan EPD terverifikasi. Penyimpanan karbon biogenik tertinggi ditemukan pada CLT sebesar 1.047,60 kg CO?e/m³, sedangkan Glulam dan Blockwood masing-masing 654,76 kg CO?e/m³. Setelah memperhitungkan karbon biogenik, CLT menghasilkan emisi neto -143,33 kg CO?e/m³ atau berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink), sementara Glulam dan Blockwood tetap memiliki emisi neto positif namun jauh lebih rendah dibandingkan material konvensional setara seperti beton struktural. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan basis data emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia yang disusun berdasarkan data primer dari produsen lokal pada tiga jenis produk dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa penyediaan nilai acuan awal yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan basis data emisi material bangunan nasional, penyusunan informasi lingkungan produk kayu rekayasa lokal, serta sebagai referensi bagi pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pemilihan material bangunan berdasarkan kinerja emisi karbon di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Inten Persa Rosalia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN PRINSIP ADAPTIVE REUSE DALAM PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA STUDI KASUS: KANTOR POS BESAR BANDUNG

Sejumlah bangunan cagar budaya di Indonesia saat ini mengalami penurunan fungsi pemanfaatan yang menyebabkan keterbengkalaian serta mengancam keberlanjutan dari nilai historis dan arsitekturalnya. Adaptive reuse menjadi salah satu upaya pelestarian dengan penggunaan kembali bangunan cagar budaya dengan mengadaptasi fungsi baru tanpa menghilangkan signifikansi budayanya. Namun, penerapan adaptive reuse di Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pelestarian nilai historis dengan kebutuhan kontemporer. Kantor Pos Besar Bandung merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang telah menerapkan adaptive reuse dengan tetap mempertahankan fungsi pelayanan kantor pos, sehingga fungsi baru hasil adaptasi dapat berjalan berdampingan dengan fungsi utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai historis Kantor Pos Besar Bandung sebagai landasan pelestarian, menganalisis penerapan adaptive reuse pada revitalisasi bangunan tersebut, serta memahami peran arsitek dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi evaluatif melalui studi kasus tunggal, yaitu Kantor Pos Besar Bandung. Data penelitian diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, studi dokumen, dan wawancara dengan narasumber yang terdiri atas arsitek, pengelola gedung, dan komunitas filatelis. Sedangkan evaluasi terhadap penerapan adaptive reuse pada proses revitalisasi bangunan cagar budaya, dilakukan berdasarkan sintesis literatur, analisis tematik, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse pada Kantor Pos Besar Bandung diwujudkan melalui lima prinsip utama yaitu nilai historis dan arsitektural, adaptasi spasial dan integrasi fisik, standardisasi teknis dan regulasi, aktivasi dan keterlibatan sosial, serta viabilitas ekonomi dan lingkungan. Kelima prinsip tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan adaptive reuse ditentukan oleh kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara nilai historis, kebutuhan fungsi baru, pemenuhan standar teknis, keterlibatan berbagai aktor, serta keberlanjutan pengelolaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa arsitek berperan sebagai pengambil keputusan sekaligus mediator dalam menyeimbangkan kepentingan pelestarian, kebutuhan operasional, aspek teknis, serta keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, penelitian ini memberikan pemahaman mengenai penerapan adaptive reuse pada bangunan cagar budaya yang tetap mempertahankan fungsi utamanya melalui integrasi fungsi pendamping tanpa menghilangkan identitas bangunan.

2026
👤 Penulis: Egalita Nur Al-Fitriani D
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBANGUNAN PERANGKAT LUNAK UNTUK PREDIKSI RISIKO KEKERINGAN-KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DENGAN PEMBELAJARAN MESIN

Kebakaran lahan gambut berdampak masif secara ekologis maupun ekonomi. Pendekatan pemadaman reaktif seringkali tidak efektif karena sifat api yang menjalar di bawah permukaan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk membangun perangkat lunak sistem peringatan dini berbasis pembelajaran mesin untuk memprediksi risiko kekeringan dan kebakaran lahan gambut secara deret waktu dan spasial-temporal. Pengembangan sistem ini dibagi menjadi dua modul utama. Modul pertama difokuskan pada prediksi deret waktu menggunakan arsitektur Long Short-Term Memory (LSTM) dan Gated Recurrent Unit (GRU). Hasil prediksi dikonversi ke dalam indeks kekeringan meliputi KBDI, Adjusted KBDI, mKBDI, dan PFVI. Modul kedua difokuskan pada prediksi spasial-temporal dari data raster satelit menggunakan arsitektur Convolutional LSTM (ConvLSTM). Pemodelan ini menerapkan Weighted Binary Cross-Entropy dan Focal Loss untuk mengatasi ketidakseimbangan kelas pada observasi titik api. Hasil evaluasi pada prediksi deret waktu menunjukkan bahwa model GRU secara konsisten lebih unggul dibandingkan LSTM dengan tingkat galat komputasi yang lebih rendah. Berdasarkan validasi lapangan, indeks PFVI dan mKBDI terbukti memiliki akurasi baik untuk lahan gambut tropis karena mampu mendeteksi status risiko ekstrem yang selaras dengan kemunculan titik api aktual. Indeks KBDI dan adjusted KBDI masih gagal dalam mendeteksi status risiko kemunculan titik api. Pada pemodelan spasial-temporal, arsitektur ConvLSTM terbukti efektif dalam memetakan probabilitas kerawanan lahan. Secara keseluruhan, perangkat lunak yang dibangun terbukti andal sebagai instrumen mitigasi peringatan dini untuk memetakan potensi bahaya secara presisi sebelum kebakaran benar-benar terjadi.

2026
👤 Penulis: Muhammad Zakkiy
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Temporal-Spatial 🏷️ Manajemen Risiko Kebakaran

EX-ANTE EVALUATION OF THE UPSTREAM-DOWNSTREAM INTEGRATION POLICY PLAN OF ANTIMONY MINERALS FOR THE INDEPENDENCE OF THE NATIONAL MUNITIONS INDUSTRY :COST-BENEFIT ANALYSIS (CASE STUDY OF PT PINDAD, BOMBANA, AND PERMINAS)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi dan relevansi strategis pengembangan tambang antimon dalam negeri di Bombana dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional, khususnya kebutuhan bahan baku antimon sulfida untuk produksi amunisi PT Pindad. Latar belakang penelitian didasarkan pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor antimon, dominasi pasar global oleh negara-negara tertentu, dan meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik dan kebijakan pengendalian ekspor. Kondisi ini menempatkan industri pertahanan nasional pada posisi rentan dari perspektif keamanan pasokan. Penelitian ini menggunakan evaluasi kebijakan ex-ante dengan pendekatan Analisis Biaya-Manfaat (CBA) yang diperkaya dengan kerangka Teori Berlian dari Sam Kaner 1996 dan perspektif ekonomi pertahanan. Analisis dilakukan untuk menilai kelayakan keuangan, efisiensi ekonomi, dan manfaat strategis dari kebijakan integrasi hulu-hilir antimon. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa proyek tambang antimon Bombana layak secara ekonomi dengan nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 136,98 juta, Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 4,42, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,46 persen yang melebihi tingkat diskonto sosial, dan masa pengembaliansekitar enam tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa proyek ini tetap layak dalam skenario kenaikan biaya dan penurunan harga moderat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan antimon dalam negeri memiliki nilai strategis yang signifikan karena mampu mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan ketahanan rantai pasok industri pertahanan, dan memperkuat otonomi strategis negara. Evaluasi kebijakan alternatif menekankan bahwa model integrasi vertikal penuh dari tambang, smelter, dan bahan baku amunisi yang dikoordinasikan oleh negara adalah pilihan kebijakan yang paling optimal. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan integrasi hulu-hilir antimon yang dievaluasi melalui PKB ex-ante tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga krusial sebagai instrumen pengembangan industri strategis dan pertahanan nasional jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Cosmas Manukallo Danga
🏷️ Evaluasi Kebijakan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN INVERSI 3D ANOMALI TIME-LAPSE MICROGRAVITY MENGGUNAKAN METODE STOKASTIK PADA LAPANGAN “ARUNIKA

Aktivitas produksi hidrokarbon menyebabkan perubahan distribusi fluida reservoir yang berdampak pada perubahan massa bawah permukaan, yang dapat dipantau menggunakan metode time-lapse microgravity (TLM) karena metode ini sensitif terhadap perubahan densitas. Penelitian ini bertujuan memodelkan distribusi perubahan densitas fluida reservoir pada Lapangan Arunika menggunakan inversi stokastik tiga dimensi, dengan tahap awal berupa pemodelan sintetik untuk tiga skenario mekanisme produksi, yaitu solution gas drive (???????? = ?0,015 ????/ ????????³), gas cap drive (???????? = ?0,0075 ????/????????³), dan water drive (???????? = +0,005 ????/????????³), yang selanjutnya diikuti oleh pengolahan dan inversi data anomali TLM lapangan. Hasil pemodelan sintetik menunjukkan bahwa perubahan densitas negatif menghasilkan anomali gravitasi negatif, sedangkan perubahan densitas positif menghasilkan anomali gravitasi positif. Pada data lapangan, peta anomali TLM menunjukkan nilai sekitar ?0,0030 hingga +0,0009 mGal dan didominasi oleh anomali negatif. Hasil inversi stokastik menunjukkan perubahan densitas minimum sebesar ?0,063036 g/cm³, maksimum sebesar +0,047953 g/cm³, rata-rata sebesar ?0,001463 g/cm³, dan simpangan baku sebesar 0,006996 g/cm³, dengan nilai rata-rata negatif yang mengindikasikan dominasi penurunan densitas bawah permukaan, sejalan dengan pola anomali gravitasi negatif pada data lapangan. Nilai misfit menurun dari sekitar 0,045 mGal menjadi 0,018–0,021 mGal dan relatif stabil hingga akhir iterasi. Distribusi perubahan densitas negatif terutama terlihat pada kedalaman 450 m dan 550 m, dan overlay dengan data sumur produksi menunjukkan bahwa beberapa sumur berproduksi tinggi berada dekat dengan zona densitas negatif, yang mengindikasikan bahwa zona perubahan densitas negatif berkaitan dengan deplesi fluida reservoir akibat aktivitas produksi hidrokarbon.

2026
👤 Penulis: Risa Rismawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS :STUDI KASUS PROGRAM KAMPUNG IKLIM (PROKLIM) DI KAMPUNG CIBUNUTDAN KAMPUNG TAKAKURA SUKAMISKIN, KOTA BANDUNG

Program Kampung Iklim (ProKlim) kerap dihadapkan pada ancaman ketergantungan proyek (project dependency) pasca-pendampingan eksternal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan model keberlanjutan ProKlim pasca-predikat Lestari di kawasan perkotaan yang dibedakan oleh fondasi sosialnya, yakni Kampung Cibunut (stabil-homogen) dan Kampung Takakura (dinamis-heterogen) di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus komparatif. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Community-Based Environmental Management (CBEM), tipologi sosiologi (Gemeinschaft-Gesellschaft), serta konsep modal sosial (bonding, bridging, linking). Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, yang didukung oleh data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan capaian administratif tertinggi belum menjamin ketangguhan substantif yang seragam akibat perbedaan tipologi sosial. Di Kampung Cibunut, keberlanjutan berakar pada ikatan paguyuban dan bonding capital yang melahirkan "gotong royong emosional" serta inovasi subsisten, namun rentan akibat minimnya linking capital. Sebaliknya, Kampung Takakura merepresentasikan masyarakat patembayan yang digerakkan "profesionalitas rasional" purnatugas. Mereka sukses meretas pendanaan CSR skala besar lewat bridging dan linking capital, namun dibayangi ancaman krisis regenerasi kultural dan mentalitas transaksional warga. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada model tunggal (one-size-fits-all) untuk keberlanjutan iklim perkotaan. Resiliensi sejati menuntut keseimbangan kapasitas struktural dan kohesi sosial. Sebagai solusi, direkomendasikan "Model Keberlanjutan Iklim Urban Berbasis Adaptasi Karakter" yang mencakup reorientasi penilaian kontekstual, peran pemerintah sebagai broker modal sosial, dan sistematisasi regenerasi.

2026
👤 Penulis: Edit Rahmadhita Anas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SPESIFIKASI TEKNIS BANTAL PREMIUM BERDASARKAN FAKTOR PENILAIAN KONSUMEN PADA ULASAN DARING

Pasar bantal premium di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas tidur. Dalam mengembangkan produk bantal premium, perusahaan perlu memahami kebutuhan konsumen secara akurat agar spesifikasi produk yang dirancang mampu memenuhi ekspektasi pasar. Namun, proses identifikasi kebutuhan konsumen umumnya dilakukan melalui survei atau wawancara yang memerlukan waktu dan biaya yang relatif besar. Penelitian ini bertujuan merancang spesifikasi teknis bantal premium bagi KWALA berdasarkan faktor penilaian konsumen yang diperoleh dari ulasan daring. Penelitian menggunakan pendekatan data mining dan pengembangan produk. Data berupa ulasan daring produk bantal premium dikumpulkan dari media e-commerce dan diolah melalui tahapan CRISP-DM. Identifikasi kebutuhan konsumen dilakukan menggunakan pemodelan topik latent Dirichlet allocation (LDA), sedangkan tingkat kepentingan kebutuhan dihitung menggunakan metode TF-MONO. Selanjutnya, kebutuhan konsumen diterjemahkan menjadi spesifikasi teknis melalui quality function deployment (QFD) fase I atau house of quality (HoQ). QFD fase II dan TRIZ digunakan untuk menghasilkan alternatif konsep produk yang kemudian dievaluasi menggunakan Pugh chart. Konsep terpilih divalidasi melalui analisis implementasi dan pengukuran intensi pembelian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling memengaruhi penilaian konsumen terhadap bantal premium adalah kenyamanan, keempukan, ukuran, kelembutan, dan ketebalan. Faktor kenyamanan memiliki bobot kepentingan tertinggi sebesar 1,52, diikuti keempukan sebesar 0,75. Proses QFD menghasilkan 13 engineering characteristics yang menjadi dasar penyusunan spesifikasi teknis produk. Spesifikasi utama yang diusulkan meliputi rata-rata tekanan 1185,58 Pa, kedalaman indentasi 14,10 cm, kenaikan temperatur maksimum 1,70°C, indentation force deflection 7,60 N, denier 0,8 den, dimensi 70 cm × 50 cm, permukaan 300 thread count, koefisien gesek statis 0,55, ketebalan 22,20 cm, berat isi 1800 gram, dan loft retention 92%. Evaluasi konsep menghasilkan dua alternatif yang layak diimplementasikan. Konsep utama menggunakan cover Tencel Lyocell bermotif strip horizontal dan filling gel-coated microfiber, dengan 75% responden memiliki intensi membeli. Konsep alternatif juga dirancang menggunakan cover cotton 300TC strip horizontal untuk meminimalisir kenaikan biaya material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ulasan daring dapat digunakan secara efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan menghasilkan spesifikasi teknis lebih sesuai dengan preferensi pasar

2026
👤 Penulis: Carissa Hana Rafathya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

CLIMATE CHANGE SCIENCE CENTER: PERANCANGAN SARANA EDUKASI PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU DI KOTA BANDUNG

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata pada daerah tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan pada iklim dapat terjadi secara alamiah karena perubahan aktivitas matahari dan kejadian luar biasa pada alam, seperti bencana. Sejak 1800-an, aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan iklim. Kegiatan ini menghasilkan gas-gas yang membuat lapisan seperti penahan yang menghalau sinar matahari untuk terpantul keluar bumi. Akibatnya, sinar matahari terperangkap dan suhu bumi meningkat. Perubahan suhu rata-rata ini memicu perubahan lain pada bumi, termasuk iklim. Konsekuensi dari perubahan iklim sudah cukup terlihat saat ini, tidak hanya pada keadaan lingkungan, tapi juga pada kualitas kehidupan manusia. Berdasarkan survei oleh Peoples’ Climate Vote 2024 oleh University of Oxford dan GeoPoll, 60% responden merasa lebih khawatir terhadap perubahan iklim daripada tahun sebelumnya dan 54% merasa membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai perubahan iklim. Pengetahuan masyarakat terhadap perubahan iklim adalah hal yang baik. Namun, masih banyak lapisan masyarakat yang tidak mengetahui usaha apa yang harus diambil untuk menghadapi perubahan iklim. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengambil tindakan demi menjaga kestabilan iklim. Untuk menjawab permasalahan ini, dibutuhkan edukasi mengenai perubahan iklim yang terbuka untuk semua orang sebagai salah satu langkah menghadapi ancaman iklim global. Selain itu, sebagai upaya mengatasi perubahan iklim, perlu ada usaha dalam menerapkan sistem ramah lingkungan dalam perancangan bangunan. Proyek ini merupakan desain dari sarana edukasi informal berbasis ekshibisi sebagai upaya peningkatan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bangunan melalui penerapan arsitektur hijau. Ekshibisi utama pada bangunan didesain untuk menyampaikan penyebab dan akibat dari perubahan iklim pada setiap elemen yang ada di bumi. Alur ekshibisi menggunakan konsep ‘Freedom-to-Wonder’. Dengan konsep ini, pengunjung bebas untuk mengunjungi setiap bagian ekshibisi. Setiap bagian ekshibisi terhubung untuk menciptakan aliran sirkulasi yang mengalir secara alami. Sebagai upaya menghadapi perubahan iklim, proyek ini menggunakan pendekatan arsitektur hijau, seperti integrasi solar panel, daur ulang air hujan, penggunaan sistem penghawaan ramah lingkungan, pemilihan material, roof garden, dan rain garden untuk menyerap air hujan di kawasan proyek. Design framework yang digunakan dalam merancang proyek ini adalah concept-based design. Proyek ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan luas tanah ±10.000 m2. Metode yang digunakan untuk mendukung perancangan bangunan ini adalah studi literatur, studi preseden, dan analisis perilaku pengguna. Proyek ini menjawab SDGs No. 4: Quality Education, No. 7: Affordable and Clean Energi, dan No. 13: Climate Action. Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai iklim saat ini melalui ekshibisi interaktif dan terlibat secara langsung dalam upaya mengurangi dampak buruk pemanasan global dan perubahan iklim.

2026
👤 Penulis: Aliza Syifana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 31 dari 418
💬