📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenANALISIS PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GRAVITASI BULAN TERHADAP GEMPA BUMI SEPANJANG SIKLUS MATAHARI 24 (2008–2019)
Gempa bumi merupakan manifestasi pelepasan energi dari dalam litosfer Bumi. Keterkaitan antara aktivitas Matahari, Bulan, dan aktivitas seismik telah lama menjadi topik penelitian, namun mekanisme fisis yang mendasarinya masih belum dipahami secara pasti. Penelitian ini mengkaji keterkaitan efek nongravitasional Matahari dan efek gravitasional Bulan terhadap magnitudo dan kedalaman hiposentrum gempa bumi selama Siklus Matahari ke-24 pada lempeng-lempeng tektonik Pasifik, Eurasia, Indo-Australia, Filipina, dan Amerika Selatan–Nazca. Data gempa diperoleh dari USGS, parameter Matahari dari OMNIWeb NASA, dan parameter Bulan dihitung menggunakan pustaka Astropy. Metode partial least squares (PLS) digunakan untuk mengidentifikasi parameter dominan, sedangkan multiple linear regression (MLR) digunakan untuk membangun model linier berbasis parameter dominan terpilih. Hasil menunjukkan bahwa parameter heliogeofisika, terutama indeks geomagnetik, plasma angin Matahari, dan orientasi medan magnet antarplanet (IMF), secara konsisten menjadi parameter dominan dengan pola yang berbeda pada setiap lempeng. Seluruh model menghasilkan signifikansi statistik (p < 0,001), tetapi memiliki kemampuan penjelasan yang sangat rendah, dengan nilai R² sekitar 0,06–0,52% dan R² prediktif kurang dari 0,0001 hingga 0,45%. Secara umum, hubungan tersebut lebih terdeteksi pada model magnitudo dibandingkan model kedalaman. Parameter Bulan yang digunakan, yaitu jarak dan iluminasi, tidak menunjukkan kontribusi yang berarti. Hasil ini mendukung interpretasi bahwa aktivitas Matahari dan pasang surut Bulan lebih mungkin berperan sebagai faktor modulasi atau pemicu eksternal pada sistem tektonik yang telah berada dalam kondisi kritis, bukan sebagai penyebab utama gempa bumi.
PERANCANGAN INTERIOR KAPAL PENUMPANG RO-RO MERAK–BAKAUHENI: DESAIN ADAPTASI RUANG PENUMPANG SAAT LONJAKAN ARUS MUDIK.
Pelabuhan Merak merupakan salah satu pelabuhan penyeberangan tersibuk di Indonesia yang berperan sebagai penghubung utama antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Setiap tahunnya pelabuhan ini melayani jutaan penumpang, baik yang melakukan perjalanan dengan kendaraan maupun tanpa kendaraan. Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak juga memiliki pola lonjakan penumpang yang relatif dapat diprediksi, terutama pada periode peak season seperti libur Lebaran dan Tahun Baru. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan fasilitas pelabuhan yang mampu mengakomodasi pergerakan penumpang secara efektif, aman, dan nyaman. Namun pada kondisi eksisting, khususnya pada terminal eksekutif Pelabuhan Merak, ditemukan permasalahan terkait pengelolaan ruang dan alur sirkulasi penumpang. Area terminal yang bercampur dengan fungsi komersial seperti pusat perbelanjaan menyebabkan alur perjalanan penumpang dari kedatangan hingga proses keberangkatan menjadi kurang jelas dan terfragmentasi. Padahal, proses naik kapal ferry memiliki tahapan yang cukup kompleks sehingga membutuhkan alur ruang yang jelas agar penumpang dapat bergerak dengan mudah, terutama pada saat terjadi lonjakan jumlah pengguna. Berdasarkan permasalahan tersebut, perancangan ini bertujuan untuk merancang Pelabuhan Ferry Eksekutif Merak yang lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan pola lonjakan penumpang yang terjadi secara berkala setiap tahun. Pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini menitikberatkan pada pengalaman pengguna serta kemampuan ruang untuk beradaptasi terhadap peningkatan kapasitas pada periode peak season. Dengan demikian, perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas fasilitas serta kenyamanan pengguna dalam melakukan perjalanan melalui Pelabuhan Merak.
DESIGNING KEY SUCCESSION PLANNING PRIORITIES FOR A FAMILY-OWNED FACILITY SERVICE COMPANY WITH REFERENCE TO PT EI
PT EI merupakan perusahaan jasa fasilitas milik keluarga yang di Indonesia yang saat ini sedang mengalami proses transisi kepemimpinan dari pendiri kepada generasi penerus. Tanpa adanya perencanaan suksesi yang baik, perusahaan berisiko menghadapi tantangan terkait keberlanjutan jangka panjang, kesinambungan bisnis, serta pelestarian nilai-nilai organisasi yang telah menjadi dasar perusahaan sejak didirikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan utama yang memengaruhi kesiapan perencanaan suksesi di PT EI serta mengubah hambatan tersebut menjadi prioritas strategis dalam penyusunan roadmap perencanaan suksesi yang praktis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tujuh informan penting yang berasal dari pihak kepemilikan keluarga dan manajemen operasional. Hasil wawancara dianalisis menggunakan Metodologi Gioia melalui proses pengkodean tiga tahap, di mana dimensi agregat dihubungkan dengan empat premis dalam kerangka Parallel Planning Process (PPP) yang dikembangkan oleh Carlock dan Ward (2001). Selanjutnya, temuan penelitian diprioritaskan menggunakan Impact–Effort Matrix untuk menentukan urutan implementasi strategi. Hasil penelitian ini adalah sembilan hambatan kritis dalam keempat premis PPP, terutama yang berkaitan dengan budaya perusahaan yang belum terformalkan, transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung, ketergantungan yang kuat pada pendiri, visi dan strategi yang belum selaras, serta belum adanya sistem formal untuk tata kelola, logistik, dan sumber daya manusia. Hambatan-hambatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sembilan usulan strategi dan dikelompokkan ke dalam enam prioritas strategis, yaitu institusionalisasi budaya perusahaan, formalisasi struktur organisasi, penyelarasan visi bersama, pengembangan tata kelola keluarga, perancangan ulang prosedur operasional, serta pembentukan jalur pengembangan kepemimpinan. Berdasarkan Impact–Effort Matrix, tiga prioritas pertama dikategorikan sebagai Quick Wins, sedangkan tiga prioritas lainnya termasuk Major Projects, sehingga membentuk prioritas roadmap untuk meningkatkan kesiapan suksesi dan keberlanjutan jangka panjang PT EI.
COLLABORATIVE ANALYSIS OF TOURIST SENTIMENT AND SPATIAL FEATURES BASED ON THE 5D FRAMEWORK IN THE BRAGA AREA
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara wisatawan memperoleh informasi, mengevaluasi destinasi, serta membagikan pengalaman perjalanan melalui berbagai platform digital. Salah satu bentuk data digital yang berkembang pesat adalah ulasan pada Google Maps yang memuat pengalaman, persepsi, dan penilaian wisatawan terhadap suatu destinasi. Dalam konteks pariwisata, ulasan digital tidak hanya berfungsi sebagai media berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi sumber informasi yang memengaruhi citra destinasi dan keputusan kunjungan wisatawan lainnya. Di sisi lain, perkembangan data digital tersebut membuka peluang baru bagi penelitian untuk memanfaatkan informasi yang dihasilkan secara sukarela oleh wisatawan (user-generated content) dalam memahami karakteristik suatu kawasan. Namun demikian, kajian mengenai karakteristik spasial kawasan wisata hingga saat ini masih didominasi oleh pendekatan objektif berbasis built environment, seperti pengukuran kepadatan, penggunaan lahan, kualitas desain kawasan, dan aksesibilitas menggunakan data spasial maupun Geographic Information System (GIS). Pendekatan tersebut mampu menggambarkan kondisi fisik kawasan secara objektif, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana karakteristik tersebut dipersepsikan dan dialami oleh wisatawan sebagai pengguna ruang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga berdasarkan persepsi wisatawan yang direpresentasikan melalui ulasan digital Google Maps menggunakan pendekatan Perceived 5D. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis berbasis teks (text-based analysis). Data penelitian berupa 7.858 ulasan wisatawan yang diperoleh melalui proses web scraping pada platform Google Maps. Tahapan penelitian meliputi data cleaning dan text preprocessing, klasifikasi ulasan ke dalam lima dimensi Perceived 5D yang terdiri atas Density, Diversity, Design, Destination Accessibility, dan Distance to Transit menggunakan Large Language Model (LLM), dilanjutkan dengan analisis sentimen pada setiap dimensi serta sintesis hasil untuk menginterpretasikan karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga berdasarkan persepsi wisatawan. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi karakteristik spasial kawasan berdasarkan pengalaman aktual yang diungkapkan secara langsung oleh wisatawan melalui ulasan digital, sehingga melengkapi pendekatan konvensional yang selama ini lebih berfokus pada atribut fisik kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulasan wisatawan mampu merepresentasikan berbagai dimensi karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga. Dimensi Design menjadi aspek yang paling dominan dalam ulasan dengan proporsi 35,92% dari seluruh ulasan wisatawan, diikuti oleh Diversity (30,60%), Density (25,77%), Destination Accessibility (6,15%), dan Distance to Transit (1,55%). Dominasi dimensi Design menunjukkan bahwa kualitas visual kawasan, karakter arsitektur heritage, kondisi ruang publik, serta elemen fisik kawasan merupakan aspek yang paling banyak diperhatikan dan dievaluasi oleh wisatawan. Sementara itu, tingginya proporsi dimensi Diversity menunjukkan bahwa keberagaman fungsi kawasan, seperti aktivitas kuliner, perdagangan, hiburan, dan ruang publik, menjadi daya tarik penting yang membentuk pengalaman wisatawan selama berada di Kawasan Jalan Braga. Kemudian Secara keseluruhan, 87,30% ulasan menunjukkan sentimen positif, 9,45% sentimen negatif, dan 3,25% sentimen netral. Dimensi Design juga memperoleh apresiasi tertinggi dengan 94,37% sentimen positif, diikuti oleh Diversity sebesar 93,95%, yang menunjukkan bahwa kualitas visual kawasan, karakter heritage, dan keberagaman aktivitas merupakan faktor utama yang membentuk persepsi wisatawan terhadap Kawasan Braga. Sebaliknya, dimensi Density menunjukkan persepsi yang lebih beragam dengan proporsi sentimen negatif tertinggi (23,29%), terutama berkaitan dengan kepadatan pengunjung, lalu lintas, dan keterbatasan parkir. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik spasial kawasan secara objektif, tetapi juga oleh bagaimana karakteristik tersebut dipersepsikan, dialami, dan dimaknai oleh wisatawan selama berkunjung. Penelitian ini menunjukkan bahwa ulasan digital tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi sentimen wisatawan, tetapi juga mampu merepresentasikan karakteristik spasial kawasan berdasarkan pengalaman pengguna ruang.Dengan demikian, ulasan digital dapat dimanfaatkan sebagai sumber data alternatif untuk memahami karakteristik spasial kawasan dari perspektif pengguna ruang. Integrasi pendekatan Perceived 5D dengan Large Language Model memberikan pendekatan baru dalam mengidentifikasi karakteristik spasial berdasarkan pengalaman wisatawan sekaligus melengkapi pendekatan objektif yang selama ini lebih banyak digunakan dalam kajian perencanaan wilayah dan kota. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola dan Pemerintah Kota Bandung dalam merumuskan strategi pengelolaan dan pengembangan Kawasan Jalan Braga yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas fisik kawasan, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman, persepsi, serta kebutuhan wisatawan sebagai pengguna utama ruang kawasan wisata perkotaan.
MENDEFINISIKAN KEMBALI ARSITEKTUR UNTUK KOMUNITAS FESYEN LAMBAT: REVITALISASI PASAR SUNAN GIRI JAKARTA TIMUR
Tren fesyen cepat yang semakin berkembang sebagai pola konsumsi dominan di masyarakat perkotaan telah mengancam keberlangsungan pasar-pasar fesyen tradisional di Jakarta. Salah satu contohnya adalah Pasar Sunan Giri yang saat ini mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Dalam lima tahun terakhir, pasar ini kehilangan pengunjung sekaligus vitalitas komersialnya di tengah pesatnya pertumbuhan ritel fesyen dengan sistem produksi massal. Di sisi lain, komunitas penjahit dan pengrajin pakaian lokal yang hidup di dalamnya memiliki potensi besar untuk menjadi sumber fesyen berkelanjutan di Jakarta. Ketika nilai-nilai utama dalam gerakan fesyen lambat dibandingkan dengan praktik yang mereka lakukan sehari-hari, terlihat bahwa komunitas tersebut sebenarnya telah menerapkan prinsip fesyen lambat dalam aktivitasnya. Kondisi ini mendorong arsitektur untuk mengambil peran dalam mendefinisikan kembali ruang pasar. Intervensi arsitektural pada proyek revitalisasi ini berfokus pada: (1) penerapan transprogramming pada ruang komersial perkotaan; (2) integrasi strategi desain pasif; dan (3) penciptaan ruang yang mendukung pengembangan komunitas. Melalui revitalisasi ini, pasar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang komersial, melainkan juga sebagai ruang produksi yang manusiawi serta ruang pertama bagi konsumen untuk memahami nilai di balik produk yang mereka konsumsi.
EVALUASI DAN OPTIMASI KINERJA STEAM WASHING BERBASIS PEMODELAN PADA PLTP DARAJAT UNIT 1
Kualitas uap merupakan faktor penting yang memengaruhi keandalan jangka panjang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), terutama pada lapangan bertipe steam-dominated, dimana terbawanya kontaminan bersama aliran uap dapat menyebabkan deposisi, scaling, korosi, serta penurunan kinerja turbin. Penelitian ini mengevaluasi dan mengoptimasi kinerja sistim steam washing yang dipasang sebelum separator pada PLTP Darajat Unit 1 menggunakan pendekatan berbasis pemodelan. Analisis dilakukan dengan menggabungkan karakterisasi droplet secara hidraulik, perhitungan termodinamika pencampuran uap-air, serta mekanisme penangkapan partikel melalui difusi, intersepsi, dan impaksi inersia. Pengaruh distribusi ukuran partikel diperhitungkan menggunakan model Rosin–Rammler. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi nozzle MP343 yang digunakan saat ini memiliki efisiensi penangkapan partikel sebesar 44,54%, yang menghasilkan efisiensi penurunan kontaminan keseluruhan sebesar 40,1% setelah proses pemisahan, serta menurunkan konsentrasi klorida dari 0,2167 mg/L menjadi 0,1298 mg/L. Pada tahap optimasi pertama, nozzle MP375 teridentifikasi sebagai konfigurasi terbaik pada kondisi operasi eksisting dengan peningkatan efisiensi penangkapan menjadi 51,73% dan efisiensi penurunan keseluruhan menjadi 46,6%. Namun demikian, konsentrasi klorida yang dihasilkan masih berada di atas batas yang direkomendasikan MHI, yaitu sebesar 0,1158 mg/L. Tahap optimasi kedua dilakukan dengan mengevaluasi seluruh konfigurasi nozzle pada tekanan injeksi 20 bar. Hasilnya menunjukkan bahwa nozzle MP375 kembali memberikan kinerja terbaik dengan efisiensi penangkapan sebesar 79,89% dan efisiensi penurunan keseluruhan sebesar 71,9%. Pada kondisi tersebut, konsentrasi klorida, besi, silika, dan TDS berhasil diturunkan menjadi masing-masing 0,061; 0,003; 0,003; dan 0,149 mg/L. Validasi lapangan lebih lanjut direkomendasikan untuk mengonfirmasi hasil prediksi model sebelum implementasi pada skala operasional.
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA LAHAN GAMBUT TROPIS DI KALIMANTAN TENGAH BERDASARKAN CITRA LANDSAT 8/9
Ekosistem rawa gambut tropis memiliki peran esensial dalam regulasi siklus hidrologi, namun sangat rentan terhadap degradasi akibat intervensi tata guna lahan yang eksploitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika struktur vegetasi, tren nilai evapotranspirasi (ET), serta mengidentifikasi interaksi ekofisiologis antara tingkat kerapatan kanopi (Forest Canopy Density/FCD) dengan fluks hidrologi di Taman Nasional Sebangau (TNS) sebagai kawasan pelestarian alam dan Ex-Mega Rice Project (EMRP) sebagai kawasan terdegradasi, selama rentang periode 2013–2025. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui analisis data spasial citra satelit dan diuji menggunakan statistik inferensial parametrik (Korelasi Pearson, Paired Sample T-Test, One-Way ANOVA, dan Post-Hoc Tukey HSD) pada taraf signifikansi 5% (? = 0,05). Hasil penelitian memperlihatkan divergensi trayektori ekologis yang ekstrem. TNS menunjukkan stabilitas dan daya lenting lanskap yang tinggi, didominasi oleh Hutan Rawa Gambut (>80%) dengan FCD tinggi (77–82%) yang menghasilkan fluks ET superior dan stabil (4,149–4,494 mm/hari). Sebaliknya, EMRP terfragmentasi parah akibat kegagalan suksesi alami yang didominasi oleh Semak Belukar (32%) dan Perkebunan Sawit (31%), menghasilkan FCD moderat (63–72%) dan fluks ET yang lebih rendah (3,374–4,114 mm/hari). Hasil uji beda menyatakan bahwa perubahan tutupan lahan mendikte nilai neraca air secara signifikan (p < 0,05), di mana Lahan Terbuka mengalami defisit transpirasi paling kritis. Analisis korelasi membuktikan adanya hubungan linear positif yang sangat kuat (r = 0,880) antara kerapatan tajuk dan nilai ET. Disimpulkan bahwa arsitektur tajuk di atas permukaan tanah bertindak sebagai regulator mutlak sirkulasi tata air gambut. Temuan ini merekomendasikan bahwa rekayasa restorasi hidrologi di lanskap terdegradasi wajib diintegrasikan dengan revegetasi struktural masif guna memulihkan mesin pompa biologis ekosistem.
PENGARUH PAPARAN CAHAYA TAMPAK TERHADAP METABOLIT SEKUNDER, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, DAN AKTIVITAS ENZIMATIK PHENYLALANINE AMMONIA-LYASE PADA PASCAPANEN DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.)
Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung metabolit sekunder, seperti fenolik, flavonoid, dan asetogenin, yang berperan dalam aktivitas biologis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh paparan cahaya tampak terhadap profil metabolit, aktivitas enzim phenylalanine ammonia-lyase (PAL), kandungan fenolik total, flavonoid total, asetogenin, dan aktivitas antioksidan daun sirsak pascapanen. Daun segar hasil pemanenan dipaparkan cahaya biru, putih, merah atau gelap selama 24 jam. Daun segar yang langsung dikeringkan digunakan sebagai kontrol. Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasound-assisted extraction dengan pelarut etanol Pro Analisis (PA). Terhadap ekstrak dari masing-masing kelompok dilakukan pengukuran total fenol, total flavonoid, asetogenin, serta aktivitas antioksidan. Adapun pengujian aktivitas PAL dan profil metabolit dilakukan terhadap sampel daun segar dan daun kering pasca perlakuan. Hasil pengukuran FTIR dianalisis lebih lanjut melalui analisis multivariat. Aktivitas PAL pada daun yang dipaparkan cahaya biru menunjukkan respons tinggi (35,98 U/mg protein) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil pengukuran total fenolik dan total flavonoid sebesar 7,06±1,05 mg GAE/g dan 4,98±0,71 mg QE/g simplisia, secara berurutan. Paparan terhadap cahaya biru serta putih juga meningkatkan aktivitas antioksidan terhadap DPPH (7,13±0,67 mg AAE/g simplisia dan 6,48±0,65 mg AAE/g simplisia) dibandingkan kelompok kontrol tanpa perlakuan dan paparan gelap. Namun demikian, pengukuran terhadap asetogenin tidak menunjukkan pola yang serupa. Analisis kemometrika terhadap hasil FTIR menunjukkan perbedaan profil metabolit antar perlakuan. Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA) memperlihatkan kecenderungan pengelompokkan sampel berdasarkan perlakuan cahaya, dengan profil cahaya biru dan putih yang relatif berdekatan. Dengan demikian, paparan cahaya biru pada masa pascapanen dapat mempengaruhi aktivitas biosintesis jalur fenilpropanoid pada daun sirsak.
REDESAIN PLAZA STASIUN BANDUNG DAN PERANCANGAN ELEVATED PUBLIC SPACE YANG MENGHUBUNGKAN UTARA-SELATAN
Redesain Plaza Stasiun Bandung dan perancangan elevated public space yang inklusif dan terintegrasi, bukan hanya berfungsi sebagai simpul transportasi utama, namun juga sebagai infrastruktur ruang publik yang menghubungkan kawasan utara dan selatan stasiun untuk mendukung mobilitas dan interaksi sosial masyarakat kota. Sejalan dengan SDG's ke-11 "Sustainable Cities & Communities" dan ke-9 "Industry, Innovation and Infrastructure", rancangan ini diharapkan mampu menyediakan ruang publik yang aman, memfasilitasi integrasi antarmoda, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal di sekitar kawasan stasiun. Topik ini untuk menjawab tantangan keterisolasian antara kawasan utara dan selatan Stasiun Bandung akibat teroutusnya akses oleh jalur rel kereta api yang merupakan masalah tata ruang yang dihadapi di kawasan tersebut. Masalah ini sering menjadi penghambat pergerakan pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan karena kurangnya konektivitas ruang yang memadai, di sisi lain, kondisi plaza stasiun saat ini belum optimal dalam menampung pergerakan penumpang yang terus meningkat serta minimnya kualitas ruang tunggu publik. Bahkan, tingginya volume kendaraan dan pejalan kaki yang tidak terfasilitasi dengan baik di area tapak sering kali menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi para pengguna stasiun maupun warga sekitar. Objek studi ini merupakan area plaza stasiun dan ruang layang penghubung yang berkonsep elevated public space yang berlokasi di Stasiun Bandung. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan Stasiun Bandung sebagai pusat pergerakan transportasi terbesar dan berkarakter kuat di Kota Bandung. Sedangkan untuk penentuan besaran ruang dan kapasitas sirkulasi didasarkan pada studi literatur dan observasi jumlah pergerakan penumpang pada jam sibuk di stasiun. Pendekatan akan fokus pada konektivitas dan efisiensi ruang melalui metode perancangan Transit-Oriented Development (TOD), struktur jembatan layang pejalan kaki yang ramah disabilitas, integrasi ruang terbuka hijau, dan sirkulasi penumpang yang efisien supaya mengurai kepadatan di titik masuk stasiun. Selain itu, desain elevated public space yang multi-aktivitas memungkinkan pemanfaatan ruang layang untuk kegiatan sosial dan komersial yang diharapkan membantu menambah vitalitas kawasan. Proses perancangan ini berbasis pada studi literatur dengan melihat best-practice ruang publik layang stasiun internasional, analisis komparatif simpul transportasi, observasi kebutuhan penumpang dan masyarakat lokal, serta simulasi sirkulasi pergerakan untuk konsep elevated public space. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan desain ruang publik dan plaza stasiun yang terintegrasi, aman, dan nyaman, yang dapat menjadi solusi atas masalah keterbelahan kawasan utara dan selatan. Dengan demikian, rancangan ini bukan hanya memberikan solusi arsitektural dan sirkulasi, namun juga menjadi percontohan infrastruktur transportasi yang humanis, konektif, dan dekat dengan komunitas lokal yang dapat diterapkan di berbagai simpul transportasi di Indonesia.
OPTIMALISASI MANAJEMEN PERSEDIAAN PEMELIHARAAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL, KEANDALAN ASET DAN KINERJA KEUANGAN
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan akar penyebab akumulasi persediaan lambat dan tidak bergerak, mengembangkan strategi peningkatan TOR yang memperhatikan keandalan aset, serta merancang kerangka optimasi persediaan pemeliharaan yang terintegrasi bagi PT PPN. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan analisis kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan 40 narasumber lintas fungsi dan analisis kuantitatif menggunakan klasifikasi ABC-VED-FSN terhadap data pergerakan material tahun 2025. Hasil penelitian mengidentifikasi lima akar penyebab utama yang saling terkait: ketiadaan segmentasi persediaan berbasis kritikalitas (RC1), ketidakakuratan master data dan rekaman keterlacakan material (RC2), absennya mekanisme tinjauan periodik yang terstandarisasi (RC3), hambatan disposal akibat regulasi BUMN (RC4), serta perencanaan yang terlalu konservatif dengan penambahan kontigensi 15-20% tanpa verifikasi stok sebelumnya (RC5). Analisis ABC-VED-FSN terhadap 41.003 item senilai IDR 1,57 triliun mengungkap bahwa kategori ADS dan ADN menyumbang IDR 673,38 miliar (42,9% dari total nilai persediaan) meski hanya mencakup 5,84% dari jumlah item, menjadikannya target prioritas utama peningkatan modal kerja. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan lima solusi bisnis yang dipetakan langsung ke akar penyebab RC1 hingga RC5, mencakup Program Konsumsi Prioritas Material Lambat, Penguatan Program RCSP, implementasi Vendor-Managed Inventory, Program Peningkatan TOR Berbasis Unit Kilang, serta Penguatan Tata Kelola Keuangan melalui Transparansi Provisi. Implementasi penuh kerangka ini diproyeksikan meningkatkan TOR dari 0,67 menjadi 0,95 pada tahun 2030, mengurangi paparan provisi kumulatif sebesar IDR 247,19 miliar, dan melepas sekitar IDR 740 miliar modal kerja yang sebelumnya terikat dalam persediaan tidak produktif.
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN PADA KAWASAN SENTRA PRODUKSI PANGAN SUMATERA SELATAN
Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Sumatera Selatan merupakan salah satu kawasan strategis nasional dalam mendukung ketahanan pangan, dengan padi sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang dibudidayakan. Aktivitas budidaya padi menghasilkan limbah jerami yang pada beberapa wilayah masih ditangani melalui pembakaran terbuka sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran udara serta hilangnya bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur pengolahan limbah pertanian berupa fasilitas komposter jerami padi pada KSPP Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui identifikasi lahan sawah berdasarkan tiga skenario, meliputi (1) skenario kebutuhan energi pangan, (2) Business as Usual (BAU), dan (3) Protecting Paddy Fields Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PPF-KP2B); estimasi potensi limbah jerami; perhitungan kebutuhan komposter; serta penentuan arahan lokasi komposter melalui analisis kesesuaian lahan dan location-allocation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan sawah berdasarkan skenario kebutuhan energi pangan lebih rendah dibandingkan luas sawah hasil skenario lainnya hingga tahun 2044. Skenario PPFKP2B mempertahankan luas sawah lebih besar dibandingkan BAU sehingga menghasilkan potensi limbah jerami dan kebutuhan komposter yang lebih tinggi. Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa ketersediaan ruang yang memenuhi kriteria pengembangan masih mampu mendukung kebutuhan fasilitas komposter yang dihasilkan pada seluruh skenario. Analisis location-allocation menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas komposter cenderung teralokasi pada wilayah dengan konsentrasi produksi padi dan potensi jerami yang tinggi, terutama di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian ini menghasilkan pendekatan perhitungan kebutuhan dan pengalokasian fasilitas komposter secara spasial berdasarkan potensi jerami, kesesuaian lahan, kapasitas fasilitas, dan jangkauan pelayanan yang dapat menjadi masukan dalam perencanaan pengolahan limbah pertanian di KSPP Sumatera Selatan.
EMPOWERING THE ELDERLY: PERANCANGAN LONG-TERM CARE FACILITY DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING & HEALING ENVIRONMENT
Tugas akhir ini mengangkat topik Active Living dan healing environment dalam arsitektur melalui perancangan Long-Term Care Facility (LTCF) bagi lansia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-Being), poin 11 (Sustainable Cities and Communities), dan poin 13 (Climate Action) yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan hidup yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat lanjut usia. Permasalahan yang melatarbelakangi perancangan ini adalah meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan angka usia produktifnya, banyak dari penduduk lansia ini yang kemudian tinggal tanpa pendamping yang mampu membantu aktivitas sehari-hari, sementara fasilitas hunian dan perawatan jangka panjang yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, psikologis, medis, dan sosial lansia masih terbatas. Tetapi tentunya banyak kendala dalam perancangan fasilitas ini seperti, lansia yang berpindah dari rumah dan lingkungan komunitas yang telah lama mereka tempati sering kali mengalami penurunan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan baru sehingga muncul perasaan ‘terasing’ dan berkurangnya kenyamanan psikologis. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena pergeseran pola hunian, di mana generasi muda cenderung meninggalkan kawasan perumahan horizontal dan berpindah ke hunian vertikal, menyebabkan berkurangnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lansia. Di sisi lain, lingkungan fasilitas perawatan yang bersifat institusional dan memiliki tata ruang kompleks sering kali menyulitkan lansia dalam memahami orientasi ruang dan bernavigasi secara mandiri. Keterbatasan akses terhadap ruang terbuka dan elemen alam juga mengurangi kesempatan lansia untuk berinteraksi dengan lingkungan natural yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, perancangan menerapkan konsep Sense of Belonging, Spatial Orientation, dan Connection to Nature sebagai landasan utama pembentukan healing environment. Konsep Sense of Belonging diwujudkan melalui lingkungan hunian yang menyerupai suasana rumah dan perumahan dengan penyediaan ruang komunal, teras, dan area interaksi yang mendukung hubungan sosial serta kenyamanan emosional lansia. Konsep Spatial Orientation diterapkan melalui pengaturan zonasi, sirkulasi, dan sistem wayfinding yang jelas sehingga memudahkan penghuni memahami lingkungan dan beraktivitas secara mandiri. Sementara itu, konsep Connection to Nature diwujudkan melalui pendekatan biofilik yang menghadirkan vegetasi, pencahayaan dan ventilasi alami, elemen air, material alami, serta hubungan visual yang kuat dengan ruang terbuka hijau. Ketiga konsep tersebut didukung oleh pendekatan Active Living bagi lansia rentan dan Therapeutic Design bagi lansia rawat untuk mendukung aktivitas, pemulihan, dan perawatan secara optimal. Perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis komparatif guna menghasilkan rancangan konseptual Long-Term Care Facility yang mampu meningkatkan kualitas hidup lansia melalui lingkungan yang mendukung kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi sosial, dan kedekatan dengan alam.
ANALISIS JARINGAN KOMPLEKS MULTILAYER PADA SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN INDONESIA MENGGUNAKAN RANDOM MATRIX THEORY DAN MINIMUM SPANNING TREE
Sistem ekonomi dan keuangan merupakan sistem kompleks yang terbentuk dari interaksi berbagai faktor global, regional, domestik, dan komoditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur keterkaitan antar variabel ekonomi dan keuangan Indonesia menggunakan pendekatan Ekonofisika melalui metode Random Matrix Theory (RMT), Minimum Spanning Tree (MST), dan Multilayer Complex Network. Data yang digunakan terdiri atas indikator pasar global, regional, domestik, dan komoditas pada periode 2016–2026 yang dibagi menjadi periode prapandemi, pandemi COVID-19, dan pasca-pandemi. Metode RMT digunakan untuk menyaring korelasi antar variabel dengan memisahkan informasi ekonomi yang signifikan dari noise acak. Hasil analisis MST menunjukkan bahwa struktur jaringan mengalami perubahan antar periode. Pada periode pra-pandemi, jaringan didominasi oleh variabel regional seperti SGD/USD, sedangkan pada periode pandemi S&P 500 menjadi simpul pusat akibat meningkatnya pengaruh faktor global. Pada periode pasca-pandemi, jaringan kembali mengalami reorganisasi dengan meningkatnya peran komoditas energi dan variabel regional sebagai penghubung antar sistem. Analisis multilayer menunjukkan bahwa hubungan antar layer tidak bersifat konstan, melainkan berubah mengikuti kondisi ekonomi global. Variabel dengan nilai centrality tinggi berperan sebagai hub dan bridge dalam transmisi keterkaitan antar pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan jaringan kompleks multilayer mampu menggambarkan pola hubungan dan transmisi risiko dalam sistem ekonomi dan keuangan Indonesia secara lebih komprehensif.
EFEKTIVITAS FILTER BERBASIS BIOMASSA SEBAGAI PENGENDALI KUALITAS UDARA
Pemanfaatan berkelanjutan limbah pertanian menjadi material filtrasi udara berkinerja tinggi menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi pencemaran udara sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian ini menyajikan kerangka biomassa berbasis serabut kelapa sebagai bahan baku terbarukan yang mencakup proses delignifikasi dengan menggunakan katalis soda–antrakuinon (SAQ) yang digunakan untuk mengisolasi ?-selulosa. Proses delignifikasi dengan metode SAQ terbukti mampu meningkatkan efisiensi penghilangan lignin sekaligus meningkatkan kadar selulosa sehingga menghasilkan pulp berkualitas tinggi yang sesuai untuk dilakukan sintesis material lanjut. Aerogel selulosa terkarbonisasi (CCAs) kemudian disintesis melalui proses sol–gel dan karbonisasi dengan variasi kadar ?-selulosa (61–81%) setelah itu dilakukan karakterisasi kimia fisika seperti kerapatan jaringan, porositas, dan konduktivitas listrik. CCAs teroptimasi menunjukkan arsitektur konduktif terstruktur sebagian grafitik yang mendukung mekanisme penangkapan elektrostatik ganda, yaitu transport muatan tunneling– percolation dan gaya tarik Coulomb, sehingga mencapai efisiensi penghilangan partikulat mendekati ?98,6% PM2.5 dan ?99,0% PM10. Secara paralel, selulosa murni dikonversi menjadi selulosa asetat (DS ? 2,5) dan diproses menjadi membran nanoserat melalui elektrospinning yang memiliki karakteristik diameter serat ?70– 220 nm, sifat material mesoporositas, dan luas permukaan yang presisi. Membran yang disintesis menunjukkan efisiensi penangkapan tinggi >95% untuk partikel <50 nm, ukuran partikel yang dapat menembus dengan ukuran ?90–120 nm, serta faktor kualitas filtrasi yang menguntungkan. Penelitian ini berhasil mendesain membran berbasis biomassa yang skalabel dengan mengintegrasikan proses pemurnian kimia, rekayasa mikrostruktur, dan fungsionalitas elektrostatik untuk pengembangan teknologi filtrasi udara generasi lanjut yang berkelanjutan.
REVITALISASI PASAR KOSAMBI DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE UNTUK MEWUJUDKAN BANGUNAN MULTIFUNGSI YANG MENDORONG VITALITAS URBAN
Sebagai makhluk sosial dengan beragam kebutuhan, manusia telah menjadikan pasar sebagai tempat pemenuhan kebutuhan sekaligus pusat kehidupan bersama sejak ribuan tahun lalu. Selain berfungsi sebagai ruang vital bagi aktivitas ekonomi, pasar juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial karena menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Namun, dalam perkembangannya, pasar tradisional mengalami degradasi secara spasial dan fungsional. Citra negatif akibat kondisi pasar yang beraroma tidak sedap, kurang higienis, panas, dan kumuh, diperburuk oleh hadirnya disrupsi platform e-commerce yang semakin diminati masyarakat. Kondisi ini mengikis peran pasar secara signifikan sehingga vitalitas urban yang dahulu ditopang olehnya semakin menurun. Meskipun demikian, pasar tetap memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi rakyat yang menawarkan harga terjangkau dan ragam komoditas yang luas. Oleh karena itu, revitalisasi pasar sangat diperlukan untuk menciptakan ruang komersial yang kontekstual. Pasar tidak hanya diposisikan sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang ketiga yang mampu mengintegrasikan aktivitas sosial dan ekonomi guna memperkuat resiliensi komunitas urban serta ekonomi lokal. Revitalisasi pasar diarahkan pada perancangan bangunan multifungsi yang merespons kebutuhan masyarakat urban. Konsep ini diwujudkan dengan menyediakan ruang yang tidak hanya mewadahi aktivitas jual beli, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan akan hunian, ruang produksi, dan ruang publik yang inklusif, adaptif, serta berkelanjutan. Pasar Kosambi di Kota Bandung dipilih sebagai lokasi revitalisasi karena telah lama menghadapi permasalahan degradasi di atas, meskipun berada di pusat kota yang strategis. Dalam proses revitalisasi, pendekatan adaptive reuse dipilih sebagai strategi utama karena bangunan eksisting memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini memungkinkan optimalisasi struktur lama, pengurangan limbah konstruksi, serta pemanfaatan sumber daya secara lebih berkelanjutan. Melalui strategi tersebut, bangunan pasar dikembangkan menjadi wadah multifungsi yang mengintegrasikan area perdagangan, hunian, area kreatif, dan ruang publik. Integrasi ini bertujuan meningkatkan intensitas penggunaan bangunan sekaligus memperkuat vitalitas urban. Metode dalam proses perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan iterasi desain untuk mendapatkan kualitas ruang yang optimal. Dengan demikian, diharapkan tercipta wajah baru Pasar Kosambi sebagai bangunan multifungsi yang sehat, nyaman, berdaya guna, serta inklusif, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat urban secara berkelanjutan.