📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenANALISIS KANDUNGAN KLOROFIL-A PADA LAMUN ENHALUS ACOROIDES DI PERAIRAN SANUR, BALI
Klorofil-a pada lamun Enhalus acoroides merupakan indikator sensitif terhadap kesehatan perairan. Perairan Sanur memiliki karakteristik lingkungan beragam, yang diwakili oleh Pantai Sindhu (wisata padat, subtrat berpasir), Pantai Karang (wisata tinggi, subtrat berbatu), dan Pantai Semawang (tenang). Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan klorofil-a dan pengaruh parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, DO). Penelitian dilakukan pada 14 – 17 Oktober 2025 saat surut terendah. Sampel daun diambil dengan metode transek garis sepanjang 120 m (interval 20 m) dan kuadrat 50×50 cm. Analisis klorofil-a menggunakan ekstraksi DMSO (70°C selama 24 jam) dan uji spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata klorofil-a sebesar 0,5851 mg/g. Kandungan tertinggi ditemukan di Pantai Semawang (0,5851 mg/g), diikuti Pantai Karang (0,5648 mg/g), dan terendah di Pantai Sindhu (0,5547 mg/g). Pola spasial menunjukkan kandungan klorofil-a tertinggi pada jarak 20 – 40 m dari garis pantai (0,60 mg/g) dan menurun pada 60 – 100 m (0,55 mg/g). Parameter kualitas air secara umum berada pada batas aman (suhu 31,1 – 31,6°C, salinitas 30 – 30,4 ppt, pH 8,22 – 8,25), namun kadar DO tergolong rendah (4,58 – 4,86 mg/L) terutama pada Pantai Sindhu. Dapat disimpulkan bahwa kandungan klorofil-a di Perairan Sanur berada pada kategori sedang-rendah, dengan Pantai Semawang sebagai lokasi terbaik, sedangkan Pantai Sindhu mengalami tekanan lingkungan akibat aktivitas wisata yang padat dan rendahnya kadar DO berkontribusi pada stres lamun.
PERANCANGAN SISTEM BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS RULE-BASED CHATBOT DENGAN TIME SERIES FORECASTING DAN TEKNOLOGI BAHASA ALAMI UNTUK ANALISIS DAN PREDIKSI KINERJA BISNIS
Sistem Business Intelligence di lingkungan internal perusahaan umumnya masih bergantung pada pelaporan manual dan kemampuan teknis dalam menggunakan bahasa kueri untuk memperoleh insight dari data. Ketergantungan tersebut menyulitkan pengguna nonteknis, seperti manajer dan analis bisnis, dalam mengakses informasi secara mandiri dan tepat waktu. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, dilakukan perancangan dan implementasi sistem Business Intelligence berbasis chatbot yang memungkinkan pengguna internal melakukan analisis dan prediksi kinerja bisnis melalui antarmuka percakapan berbahasa Indonesia. Sistem ini menggunakan pendekatan rule-based untuk memahami pertanyaan pengguna, kemudian menghasilkan keluaran analitik dalam bentuk narasi bahasa Indonesia melalui modul Natural Language Generation berbasis templat. Selain kemampuan analitik, sistem juga dilengkapi dengan model peramalan deret waktu untuk mendukung prediksi kinerja bisnis pada periode berikutnya. Dengan menggunakan data dari Enterprise Data Warehouse internal perusahaan serta beberapa variasi model peramalan, dilakukan implementasi sistem yang mencakup proses klasifikasi maksud, eksekusi aturan analitik, pembangkitan narasi, dan peramalan deret waktu. Setelah implementasi, dilakukan evaluasi terhadap kemampuan analitik dan prediktif sistem. Evaluasi analitik menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan narasi dengan akurasi faktual 100% berdasarkan aturan yang telah didefinisikan. Sementara itu, evaluasi prediktif dilakukan dengan membandingkan model GRU (Gated Recurrent Unit) dan LSTM (Long Short-Term Memory) terhadap model statistik ARIMA dan Prophet menggunakan metode walk-forward validation pada enam tingkat wilayah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model GRU memberikan kinerja paling stabil, dengan lima wilayah berstatus lulus berdasarkan nilai sMAPE di bawah 30% dan satu wilayah berstatus lulus dengan catatan. Sementara itu, Prophet menunjukkan kinerja paling rendah dengan nilai sMAPE di atas 100% pada seluruh wilayah akibat ketidaksesuaian asumsi model terhadap karakteristik data operasional. Secara keseluruhan, sistem yang dikembangkan mampu membantu pengguna nonteknis memperoleh informasi analitik dan prediktif secara lebih cepat, mandiri, dan terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis internal.
PENENTUAN PENYESUAIAN RISIKO IFRS 17 BERDASARKAN BEST ESTIMATE LIABILITY (BEL) PADA DUA LINI BISNIS MENGGUNAKAN METODE PAIDINCURRED CHAIN MODEL
Perusahaan asuransi dituntut untuk mengestimasi besar pembayaran klaim dan lonjakan tak terduga dari berbagai lini bisnis agar tidak terjadinya gagal bayar. Antisipasi ini dapat dilakukan melalui perhitungan penyesuaian risiko berbasis segitiga run-off. Dalam pembayaran klaim, perusahaan tidak membayarkan secara langsung hingga lunas sehingga dapat dibentuknya segitiga run-off dengan informasi besar klaim yang dibayar dan besar klaim yang harus dibayarkan dengan tahun kejadian dan tahun perkembangan tertentu. Dalam memprediksi besar liabilitas terbaik dapat diterapkan metode paid-incurred chain (PIC) model. Prediksi besar liabilitas untuk lini bisnis properti dan motor vehicle (MV) diterapkan metode bootstrap pada data untuk menghasilkan berbagai skenario data observasi baru dan simulasi monte-carlo pada segitiga run-off baru tersebut sehingga diperoleh banyakanya bangkitan nilai best estimate liability (BEL). Penyesuaian risiko dihitung menggunakan dua metode kuantitatif, yaitu value at risk (VaR) dan condition tail expectation (CTE). Pada tingkat kepercayaan 95% penyesuaian risiko kumulatif dari dua lini bisnis tersebut adalah sebesar Rp 2,11 triliun dan Rp 2,90 triliun dengan metode VaR dan CTE secara berturut-turut. Penyesuaian risiko yang besar sebagian besar disebabkan lini bisnis properti.
ANALISIS DAMPAK BANJIR TERHADAP JARINGAN JALAN DAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (STUDI KASUS: KABUPATEN ACEH UTARA)
Distribusi bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi jaringan jalan, sehingga rentan terhadap gangguan bencana yang mendegradasi kinerja jaringan jalan meskipun stok BBM berada pada level yang aman. Penelitian ini mengembangkan kerangka analisis terintegrasi berbasis jaringan yang menghubungkan estimasi cepat kedalaman genangan dengan evaluasi kinerja jaringan jalan dan sistem distribusi BBM, dengan studi kasus Kabupaten Aceh Utara pada kejadian banjir Sumatera November 2025. Kedalaman genangan diestimasi secara statis dari observasi aktual genangan hasil citra Synthetic Aperture Radar Sentinel-1 dengan data Digital Elevation Model, kemudian dikembangkan menjadi lima skenario kedalaman. Dampak genangan diterjemahkan ke dalam degradasi fungsional setiap ruas jalan menggunakan pendekatan berbasis graf, yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktur dan aksesibilitas jaringan serta pengaruhnya terhadap redistribusi permintaan BBM yang dimodelkan berdasarkan kapasitas penyaluran dan hambatan waktu tempuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi terparah, connectivity index antar kecamatan turun hingga hanya sekitar seperenambelas kondisi normalnya, disertai fragmentasi spasial yang terdefinisi jelas antara kelompok kecamatan di wilayah barat dan timur. Fragmentasi ini memicu konsolidasi permintaan yang menghasilkan shortage di SPBU-SPBU tertentu, sementara terputusnya akses dari sejumlah kecamatan menuju seluruh SPBU menyebabkan terjadinya permintaan yang tidak tersalurkan sama sekali. Perbedaan ambang batas toleransi genangan antar jenis kendaraan menghasilkan kondisi di mana masyarakat lebih kesulitan mengakses SPBU dibandingkan kemampuan armada mobil tangki dalam menyalurkan pasokan. Dari sisi operasional, peningkatan waktu tempuh yang terjadi mengurangi kemampuan penyelesaian ritase harian setiap armada sehingga dibutuhkan lebih banyak armada pada kondisi banjir, meskipun seluruh SPBU tetap dapat dijangkau di semua skenario.
EVALUASI DAN OPTIMASI PENGELOLAAN AIRTANAH PADA AREA OPERASIONAL PT XYZ
Peningkatan pengambilan airtanah dikhawatirkan memicu penurunan muka airtanah yang signifikan dan risiko degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pemompaan serta mengoptimalkan debit pengambilan airtanah agar tetap mematuhi kriteria zonasi konservasi airtanah yang ditetapkan pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan pemodelan numerik aliran airtanah pada skala lokal dengan perangkat lunak MODFLOW-NWT. Untuk mencapai solusi ekstraksi yang paling efisien, dilakukan analisis optimasi otomatis menggunakan perangkat lunak GWM-VI (Groundwater Management – Version Independent) yang mengintegrasikan simulasi aliran ke dalam kerangka kerja optimasi berbasis fungsi tujuan dan batas teknis (constraints). Model dikonstruksi dengan mengintegrasikan data geologi, log pemboran, dan survei geofisika untuk merepresentasikan sistem akuifer multilapisan. Proses kalibrasi dilakukan pada kondisi tunak dan transien untuk memastikan akurasi model sebelum digunakan dalam simulasi skenario hingga tahun 2031. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit pemompaan maksimal berpotensi menyebabkan penurunan muka airtanah (MAT) melampaui ambang batas 40% pada tahun 2026, yang mengubah status menjadi zona rawan. Melalui pendekatan optimasi matematis berbasis matriks respons pada GWM-VI, didapatkan kombinasi debit optimal yang mampu menjaga seluruh titik pengamatan tetap berada dalam zona aman hingga akhir periode proyeksi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa evaluasi kuantitatif respons sistem akuifer untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di area industri.
KAJIAN EMPIRIS LIDAR BAWAH AIR UNTUK PEMETAAN OBJEK: PERBANDINGAN DENGAN AWAN TITIK TERRESTRIAL LASER SCANNING (TLS) DAN FOTOGRAMETRI
Perkembangan infrastruktur bawah air yang pesat meningkatkan kebutuhan akan metode pemetaan objek bawah air yang semakin presisi. Meskipun lidar telah banyak digunakan dalam aplikasi terestrial, evaluasi empiris terhadap awan titik lidar bawah air (ULi) menggunakan dataset referensi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai konsistensi geometrik awan titik ULi di lingkungan perairan dangkal dengan membandingkannya terhadap awan titik terrestrial laser scanning (TLS) dan fotogrametri dari objek yang sama, dengan studi dilakukan di Kabupaten Kepulauan Seribu, Indonesia, menggunakan rangka acoustic Doppler current profiler (ADCP) sebagai objek target. Perbedaan geometrik dikuantifikasi menggunakan algoritma multiscale model-to-model cloud comparison (M3C2), dengan nilai kesalahan dilaporkan sebagai median dan median absolute deviation (MAD) pada tingkat kepercayaan 95%. ULi memiliki kesalahan sebesar 0,008 ± 0,012 m terhadap TLS dan 0,006 ± 0,013 m terhadap fotogrametri. Perbandingan dimensional rangka ADCP menunjukkan deviasi sebesar 0–0,015 m, dengan kesalahan yang lebih besar terkonsentrasi pada segmen yang dipengaruhi oleh efek tepi. Secara khusus, rangka ADCP (0,40 × 0,75 × 0,60 m) berhasil dideteksi oleh ULi, memenuhi kriteria deteksi fitur IHO S-44 Exclusive Order, yang mensyaratkan deteksi objek berbentuk kubus dengan ukuran lebih besar dari 0,5 m. Secara keseluruhan, awan titik ULi menunjukkan konsistensi geometrik pada tingkat milimeter hingga sentimeter terhadap semua dataset referensi, mengindikasikan kesesuaiannya untuk pemetaan objek bawah air secara detail dalam kondisi perairan dangkal yang jernih.
PENGARUH PAPARAN RADIASI ULTRAVIOLET C (UV-C) TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH ACACIA MANGIUM WILLD.
Acacia mangiumWilld. atau dikenal sebagai mangium termasuk salah satu spesies pohon yang dikategorikan sebagai spesies pohon multifungsi (Multipurpose Tree Species/ MPTS). Umumnya perkembangbiakan A mangium dilakukan secara generatif menggunakan benih. Namun benih Acacia mangium mengalami dormansi fisik yang disebabkan oleh adanya lapisan makrosklereid (sel yang mengalami lignifikasi) pada testa yang bersifat kedap air sehingga perlu diberikan perlakuan pendahuluan/skarifikasi untuk mematahkan dormansi fisik benih untuk memicu proses perkecambahan. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengeksplorasi aplikasi metode skarifikasi menggunakan paparan radiasi UV-C 250 nm pada benih Acacia mangium terhadap kondisi fisik dan perkecambahan benih serta menganalisis periode waktu optimal paparan radiasi UV-C terhadap perkecambahan benih. Penelitian dilakukan di Gedung Labtek VA, dimana pemberian paparan UV-C dilakukan di laboratorium silvikultur dan perkecambahan benih dilakukan pada ruang modifikasi berupa lemari yang dilapisi oleh plastik UV greenhouse dengan tebal 250 mikron. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu kontrol (AMC), paparan benih 6 jam (AM6), 4 jam (AM4), dan 2 jam (AM2). Masing-masing perlakuan akan memiliki 3 replikasi berisi 100 benih sebagai unit pengamatan. Terdapat 2 jenis parameter yang akan diamati yaitu parameter fisik dan fisiologis. Dalam parameter fisik akan diukur dimensi benih, berat 1.000 butir, kadar air, dan mikroskopi SEM sementara variabel fisiologis yang diamati berupa persentase perkecambahan (GP), laju perkecambahan (GR), rata-rata perkecambahan harian (MDG), nilai puncak (PV), dan nilai germinasi (GV). Semua variabel fisik benih sesuai dengan penelitian Krisnawati, et al (2011) kecuali kadar air dimana kadar air A. mangium didapatkan 2.19%. Kadar air benih yang terlalu rendah dapat menurunkan viabilitas benih. Sementara variabel pengamatan SEM menunjukkan retakan pada permukaan kulit benih yang diasumsikan akibat paparan UV-C. Pada variabel fisiologis, didapatkan GP tertinggi pada perlakuan AMC lalu AM4. Data menunjukkan bahwa durasi pemaparan pada perlakuan AM2 terlalu pendek untuk efektif dan AM6 cenderung berlebih. GR memiliki rata-rata 13 hari dengan paling cepat AM4. Berdasarkan nilai GV, AMC dan AM4 menunjukkan vigor atau potensi perkecambahan tertinggi. Analisis ANOVA satu arah menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada parameter fisiologis yang diukur. Saat dilakukan uji konfirmasi, didapatkan kemungkinan faktor yang menyebabkan GP lebih rendah dari penelitian lainnya adalah faktor kualitas benih yang diasumsi rendah karena kadar air yang di bawah ambang batas. Secara keseluruhan, penelitian menemukan bahwa perlakuan AM4 memiliki potensi sebagai perlakuan yang paling efektif namun diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan benih bermutu baik dan berasal dari spesies lain.
PENGEMBANGAN IN-KERNEL FAST PATH BERBASIS EXTENDED BERKELEY PACKET FILTER / EXPRESS DATA PATH (EBPF/XDP) DENGAN ANTARMUKA MANAJEMEN TERPUSAT
Perkembangan infrastruktur jaringan modern memicu lonjakan volume lalu lintas data yang masif, sehingga menuntut sistem pemrosesan paket memiliki kinerja tinggi yang mampu menangani penerimaan paket data bervolume besar secara simultan. Pada arsitektur konvensional berbasis Linux, pemrosesan paket pada perangkat jaringan bergantung pada tumpukan protokol standar (standard kernel network stack). Jalur ini memiliki keterbatasan skalabilitas saat menerima paket dalam jumlah jutaan per detik akibat tingginya beban interupsi perangkat lunak (softirq) dan alokasi memori sk_buff yang kompleks. Kondisi tersebut memicu bottleneck yang menyebabkan degradasi throughput karena banyak paket gagal diterima akibat ketidakmampuan kernel standar mengimbangi laju trafik. Di sisi lain, solusi kernel bypass tradisional seperti DPDK atau VPP mampu mengeliminasi kendali kernel untuk mendongkrak performa, namun memiliki kelemahan fatal pada aspek keamanan dan efisiensi. Arsitektur pure bypass pada DPDK atau VPP menyebabkan hilangnya kendali fungsi keamanan native kernel sehingga tidak dapat melakukan inspeksi isi paket secara langsung, di samping adanya masalah konsumsi daya akibat alokasi CPU core sebesar 100% secara konstan untuk mekanisme busy-polling. Guna mengatasi dilema arsitektur tersebut, Tugas Akhir ini mengusulkan implementasi jalur data cepat di dalam kernel jaringan (in-kernel fast path data plane) pada node pengujian menggunakan integrasi teknologi extended Berkeley Packet Filter (eBPF) dan eXpress Data Path (XDP) yang menggabungkan performansi tinggi dengan kapabilitas stateless firewall yang tertanam langsung pada level terendah kernel. Tujuan penelitian ini adalah merancang, mengimplementasikan, dan memvalidasi sistem pada node pemroses paket yang mampu memaksimalkan volume paket data yang diterima hingga menyamai solusi kernel bypass, namun tetap mempertahankan fungsi inspeksi keamanan paket (firewalling) serta efisiensi CPU secara proporsional tanpa mekanisme busy-polling. Metodologi penelitian dibagi ke dalam tiga subsistem terintegrasi: subsistem eksperimen permrosesan eBPF/XDP menggunakan library cillium/ebpf berbasis Go, subsistem orkestrasi testbed multi-node menggunakan playbook Ansible, serta subsistem dashboard interaktif berbasis React.js. Pengujian eksperimen dieksekusi menggunakan perangkat general-purpose server pada Testbed ITB dengan network interface card 25Gbps untuk mengukur secara komparatif kemampuan throughput utilisasi CPU, dan fungsionalitas sistem XDP dibandingkan dengan linux kernel dan VPP. ii Berdasarkan hasil pengujian melalui berbagai skenario eksperimen otomatis pada lingkungan testbed, node pemroses paket berbasis eBPF/XDP menunjukkan peningkatan volume paket yang diterima secara superior. Pada skenario Single Traffic, performa rata-rata XDP mencapai laju penerimaan paket puncak sebesar 32,349 Mpps, setara dengan rasion efisiensi 103,7% dari capaian framework VPP, sekaligus melampaui target minimal keberhasilan sebesar 55%. Jika dibandingkan dengan standard kernel stack yang mengalami saturasi pada 8,429 Mpps, teknologi XDP memberikan peningkatan throughput sebesar kurang lebih 383%. Melalui log mpstat, utilisasi CPU terbukti berjalan proporsional terhadap volume trafik tanpa memaksa core bekerja penuh saat kondisi idle. Karakteristik pertumbuhan kurva menunjukkan XDP mampu menyamai VPP sejak konfigurasi 4 port pada single traffic dan 2 port pada skenario Multi Traffic dua arah. Implementasi otomatisasi terpusat juga berhasil mereduksi waktu operasional (Deployment Time Reduction Rate) hingga 78% dibandingkan konfigurasi manual. Sumbangan ilmiah penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam mendemonstrasikan bahwa optimasi arsitektur in-kernel fast path berbasis eBPF mampu melampaui performansi teknologi userspace bypass tradisional dalam menangani penerimaan paket skala besar, serta membuktikan bahwa sistem jaringan dapat beroperasi secara aman dan efisien.
PENDEKATAN REVERSE VACCINOLOGY DAN IMUNOINFORMATIKA DALAM PENGEMBANGAN KANDIDAT VAKSIN MRNA PENGODE MULTIEPITOP HBC DAN HBX VIRUS HEPATITIS B
Infeksi hepatitis B kronis (HBK) masih menjadi masalah kesehatan global meskipun vaksin profilaksis telah tersedia. Masalah utama pada penderita HBK adalah keberadaan covalently closed circular DNA (cccDNA) virus hepatitis B (VHB) secara persisten dan kelelahan pada sel T. Vaksin terapeutik berbasis protein inti (HBc) dan protein X (HBx) VHB berpotensi mengatasi masalah tersebut, namun dalam pengembangannya belum mempertimbangkan keragaman genotipe VHB dan masih menggunakan platform konvensional. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kandidat vaksin mRNA terapeutik multiepitop berbasis HBc dan HBx lintas genotipe VHB dengan adjuvan flagelin (FliC) melalui pendekatan integratif reverse vaccinology (RV) dan imunoinformatika. Penelitian diawali dengan desain komputasional menggunakan pendekatan RV dan imunoinformatika. Epitop Cytotoxic T Lymphocyte (CTL), Helper T Lymphocyte (HTL), dan sel B diprediksi serta diseleksi berdasarkan antigenisitas, imunogenisitas dan profil keamanan. Analisis kemudian dilanjutkan dengan evaluasi cakupan populasi, perancangan konstruksi multiepitop terintegrasi adjuvan, serta validasi in silico melalui pemodelan struktur tiga dimensi, molecular docking, dinamika molekuler, dan simulasi respon imun. Selanjutnya, dilakukan rekayasa molekuler dan sintesis mRNA yang mencakup desain mRNA fungsional, optimasi kodon, analisis struktur sekunder, serta integrasi elemen regulator translasi. Konstruksi dikloning ke dalam plasmid pcDNA3.1(+) sebagai cetakan transkripsi in vitro dengan promotor T7, dimodifikasi menggunakan 5? cap Anti-Reverse Cap Analog (ARCA) dan ekor poli(A), kemudian dimurnikan dan dikarakterisasi. Kandidat vaksin yang dihasilkan kemudian dievaluasi secara in vitro menggunakan sel Human Embryonic Kidney 293T (HEK293T) melalui pembentukan kompleks lipid–mRNA, transfeksi, serta analisis ekspresi secara kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian ini berhasil dikumpulkan 13.610 sekuens HBc dan 12.333 sekuens HBx dari sepuluh genotipe VHB global (1963–2023). Pada HBc teridentifikasi empat epitop CTL, tiga HTL, dan tiga sel B, sedangkan pada HBx diperoleh tiga epitop CTL, dua HTL, dan dua sel B yang memenuhi kriteria inklusi. Epitop terpilih diprediksi memiliki cakupan populasi global sebesar 99,43%. Beberapa epitop juga dikenali oleh alel HLA-DP yang berasosiasi dengan kerentanan terhadap HBK. Penelusuran pada Immune Epitope Database menunjukkan sembilan dari 14 epitop merupakan temuan baru, menegaskan kontribusi orisinal penelitian ini. Kandidat vaksin K16 yang mengombinasikan adjuvan FliC dan Pan HLA DR-Binding Epitope terpilih sebagai kandidat terbaik. Pemodelan molekuler menunjukkan potensi K16 berinteraksi dengan kompleks TLR4-MD2, B Cell Receptor (BCR), dan T Cell Receptor (TCR). Simulasi dinamika molekuler selama 100 ns menunjukkan kestabilan kompleks dengan energi bebas ?40,3 kcal/mol (TLR4–MD2), ?5,6 kcal/mol (BCR), dan ?17 kcal/mol (TCR). Simulasi respon imun in silico memprediksi bahwa K16 berpotensi meningkatkan proliferasi sel T sitotoksik, sel T helper, dan sel B, serta produksi IFN-?, IL-2, dan IgG1. Optimasi kodon pada sekuens pengode K16 menghasilkan nilai Codon Adaptation Index sebesar 0,94 yang menunjukkan bahwa distribusi kodon sekuens K16 telah selaras dengan preferensi kodon sel mamalia. Prediksi struktur sekunder mRNA menunjukkan minimum free energy sebesar ?742,40 kcal/mol, dengan stabilitas memadai pada wilayah 5’UTR–Kozak (?38,10 kcal/mol) dan sinyal poli(A) bGH (?90,30 kcal/mol), sehingga mendukung translasi. Transkripsi in vitro menghasilkan mRNA sepanjang 2.590 basa (yield 36 ± 0,22 ?g, kemurnian 2,21, dan integritas baik), yang berhasil dimodifikasi dengan 5’cap ARCA dan ekor poli(A). mRNA dapat membentuk kompleks dengan Lipofectamine MessengerMAX (efisiensi 75,38%) serta membentuk partikel sferis berukuran ±200 nm. Transfeksi mRNA ke dalam sel HEK293T menghasilkan ekspresi protein yang terdeteksi melalui fluoresensi Green Fluorescent Protein (GFP) yang terfusi pada ujung C-terminal K16. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa intensitas fluoresensi K16-GFP (414,50 ± 10,53 RFU) lebih tinggi signifikan (p< 0,0001) dibandingkan dengan kontrol negatif (107,48 ± 6,08 RFU). Nilai tersebut mengindikasikan bahwa mRNA pengode K16-GFP berhasil ditranslasikan dan menghasilkan protein yang mengandung domain GFP fungsional. Residual DNA plasmid sebesar 0,0023 ± 0,00001 ng/?l terdeteksi, namun jumlah tersebut tidak memengaruhi interpretasi hasil ekspresi protein. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin mRNA terapeutik berbasis multiepitop HBc dan HBx lintas genotipe VHB dengan adjuvan FliC berhasil dirancang secara rasional, disintesis, dan diekspresikan pada sel mamalia. Hasil ini memberikan proof of concept bahwa desain molekuler dan elemen regulator mRNA mendukung proses translasi intraseluler. Temuan tersebut menjadi landasan untuk pengujian lanjutan pada model praklinis guna mengevaluasi respon imun dan potensi terapeutik terhadap infeksi HBK.
SPASIAL DATA CURAH HUJAN GLOBAL DARI CLIMATIC RESEARCH UNIT PERAPATAN
Kebutuhan data curah hujan dengan resolusi tinggi bagi berbagai peneliti yang bergerak di bidang lingkungan semakin meningkat. Salah satu lembaga penelitian yang hingga saat ini menyediakan data curah hujan dengan resolusi tinggi adalah Climatic Research Unit (CRU). CRU menyediakan data curah hujan klimatologi dengan resolusi 10” dan data curah hujan time series dengan resolusi 30”. Penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan data time series dengan resolusi 10” melalui proses perapatan spasial. Proses perapatan spasial dilakukan dengan menggunakan interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW), metode interpolasi yang nilai bobotnya berbanding terbalik dengan jarak. Data klimatologi dengan resolusi 10” digunakan sebagai validasi hasil proses perapatan spasial dan menghasilkan korelasi sebesar 0.931. Data dari lapangan turut digunakan untuk menambah keyakinan hasil proses perapatan spasial, diperoleh nilai korelasi sebesar 0.5 dan RMS sebesar ±9.5mm.
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KOTA BIMA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Kota Bima sebagai kota paling besar di Pulau Sumbawa merupakan sebuah wilayah yang sering mengalami banjir. Kerentanan pada banjir wilayah ini disebabkan oleh beberapa sebab seperti curah hujan tinggi, kondisi topografi, kondisi sungai, dan sedimentasi yang terjadi pada sungai ini. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut menyebabkan bencana banjir yang merugikan dan mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Selain itu bencana banjir ini juga mengakibatkan penurunan kesehatan dan kondisi lingkungan wilayah ini. Untuk mengatasi permasalahan banjir tersebut, direncanakan pengendalian banjir didasarkan pada curah hujan 98 - 163 mm, debit periode ulang 2 – 50 tahun untuk inflow sungai. Penelitian ini dimaksudkan untuk merencanakan sistem pengendalian banjir yang dapat diterapkan pada Sub-DAS Melayu dan Sub-DAS Pedolo, Kota Bima. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sistem pengendalian banjir yang akan diterapkan dalam penelitian adalah normalisasi, dan parapet. Pemodelan yang digunakan dalam menopang penelitian ini adalah pemodelan hidraulika melalui perangkat lunak HEC-RAS yang dilakukan 2D (dua dimensi). Pemodelan dilakukan dalam 2D untuk meninjau genangan dan muka air yang terjadi. Alternatif solusi yang dipilih adalah solusi gabungan dari setiap alternatif solusi yang menunjukan persentase reduksi luas genangan sebesar pada Q10 sebesar 88% dan Q20 sebesar 87% dan reduksi kerugian reduksi pada Q10 sebesar 29% dan Q20 sebesar 42% dari kondisi eksisting da. Berdasarkan analisis rencana anggaran biaya (RAB), total RAB yang diperlukan untuk pembangunan sistem pengendalian banjir adalah Rp. Rp 120.484.093.957
KEPUTUSAN STRATEGIS PT KPI UNIT VI BALONGAN DALAM MEMENUHI KEBIJAKAN BAHAN BAKAR ULTRA RENDAH SULFUR DI WILAYAH JAKARTA DAN JAWA BARAT
Meningkatnya tingkat polusi udara di Jakarta dan Jawa Barat telah mempercepat kebutuhan akan bahan bakar transportasi yang lebih bersih di Indonesia. Meskipun PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit VI Balongan saat ini telah mematuhi standar kualitas produk yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kilang tersebut menghadapi tekanan regulasi mendatang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk meningkatkan standar kualitas setara Euro IV dan V. Mulai awal tahun 2027, seluruh produk bensin dan diesel wajib memiliki kandungan sulfur maksimal 50 ppm wt sesuai dengan mandat nasional untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Sebagai kilang utama yang memasok kebutuhan kedua wilayah tersebut, RU VI memiliki Nelson Complexity Index (NCI) tertinggi (11,9) di Indonesia; namun, konfigurasi saat ini belum memiliki kapasitas desulfurisasi yang cukup untuk memenuhi ambang batas yang lebih ketat tersebut pada seluruh lini produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi optimal bagi RU VI Balongan guna mencapai kepatuhan Ultra-Low Sulfur Fuel (ULSF). Pendekatan metode campuran (mixed-method) digunakan dalam studi ini, yang mencakup analisis SWOT dan PESTLE, penilaian celah kapabilitas (gap capability assessment), serta Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP dipilih secara khusus untuk memberikan kerangka kerja yang kuat bagi penilaian profesional (professional/wisdom judgment), yang memungkinkan integrasi pengalaman ahli dan intuisi teknis dari para praktisi industri senior ke dalam model matematika terstruktur. Hal ini memastikan bahwa justifikasi untuk strategi yang dipilih tidak hanya berdasarkan titik data semata, tetapi juga mencerminkan realitas operasional kilang yang ada. Penelitian ini mengevaluasi beberapa jalur strategis, termasuk optimasi crude slate, peningkatan proses, dan kemajuan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Optimasi Operasi, Revamp dan sumber eksternal dari RU lain merupakan alternatif strategi yang paling efektif, karena menawarkan biaya pemrosesan terendah dengan tetap menjaga ketangkasan operasional. Temuan ini menegaskan bahwa penyelarasan antara KLHK, ESDM, BUMN, Danantara, dan Pertamina Holding sangat penting untuk keberhasilan transisi ini. Peta jalan strategis yang terintegrasi ini memastikan RU VI Balongan tidak hanya mencapai kepatuhan regulasi, tetapi juga memperkuat perannya dalam transisi bahan bakar bersih nasional melalui peningkatan kualitas produk, keandalan operasional, dan kinerja lingkungan.
PENGEMBANGAN KNOWLEDGE – BASED SYSTEM MENGGUNAKAN REPRESENTASI PENGETAHUAN KNOWLEDGE GRAPH DALAM MENDIAGNOSIS PENYAKIT PARU – PARU
Penyakit paru–paru merupakan penyakit yang berada di peringkat 10 besar penyakit paling mematikan di Indonesia berdasarkan data dari Hello Sehat (Kemenkes) di tahun 2023. Penerapan AI dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendeteksian penyakit paru–paru. Salah satu jenis AI yang paling sering digunakan di bidang kesehatan adalah Knowledge – Based System, yang juga termasuk Expert System. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah prototipe Knowledge – Based System dengan representasi pengetahuan menggunakan Knowledge Graph untuk memastikan bahwa pengetahuan yang menjadi bagian utama dari Knowledge – Based System dapat terpetakan dengan baik, terutama dengan aspek skalabilitas untuk penelitian kedepannya, di mana Knowledge Graph itu sendiri sangat mudah untuk scalable. Knowledge Based System juga dibantu menggunakan model Multinomial Logistic Regression untuk dapat memprediksi intent / tujuan dari pengguna menanyakan hal tersebut. Hasil evaluasi yang melibatkan pakar untuk proses validasi menunjukkan bahwa prototipe Knowledge – Based System dengan representasi pengetahuan Knowledge Graph dengan model Multinomial Logistic Regression yang diimplementasikan mendapatkan akurasi sebesar 96% dari 25 pertanyaan. Selain itu, untuk blind testing hasil pengetesan intent yang dilakukan menggunakan 100 contoh kalimat yang belum pernah menjadi data latih model, didapatkan akurasi sebesar 83%. Kesimpulannya, implementasi Knowledge – Based System dengan menggunakan representasi pengetahuan Knowledge Graph, yang juga dibantu menggunakan model Multinomial Logistic Regression terbukti dapat berhasil diimplementasikan sebagai prototipe chatbot yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan seputar penyakit paru–paru dengan akurasi yang baik. Selain fungsionalitas dari sistem, prototipe chatbot yang menggunakan Knowledge – Based System dapat diterima dengan baik oleh pakar, serta berpotensi untuk digunakan bagi daerah yang tidak memiliki dokter spesialis paru-paru.
INTEGRASI ANALISIS PROTEOMIK DAN PEMODELAN IN-SILICO ISOFORM LEKTIN PISANG UNTUK IDENTIFIKASI PENANDA N-GLIKAN TINGGI MANOSA PADA KANKER PAYUDARA
Perkembangan kanker payudara juga disertai peningkatan N-glikan tipe tinggi manosa pada glikoprotein permukaan sel. Hal ini membuka peluang pemanfaatan molekul pengikat glikan untuk deteksi kanker, salah satunya BanLec. BanLec merujuk pada lektin pisang famili jacalin-related (JRL) yang memiliki afinitas terhadap manosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi lektin Musa balbisiana dan Musa troglodytarum, serta mensimulasikan BanLec sebagai molekul pengenal glikan melalui pemodelan komputasional. Identifikasi lektin dilakukan melalui analisis proteom LCHRMS/ MS terhadap daging buah pisang Musa balbisiana dan Musa troglodytarum pada tingkat kematangan Peel Color Index (PCI) 6. Hasil analisis proteomik terhadap pisang M. troglodytarum dan M. balbisiana secara berturut-turut menunjukkan sebanyak 1093 dan 322 kelompok protein yang teridentifikasi. Pada M. troglodytarum dan M. balbisiana secara berturut-turut, sebanyak 3.8% dan 12.4% dari total proteom merupakan kelompok lektin serta 7 dan 8 lektin di antaranya merupakan BanLec. Selanjutnya urutan asam amino BanLec diseleksi berdasarkan motif pengikat karbohidrat, dimodelkan 3D dengan SWISS-MODEL, dievaluasi dengan MolProbity, dan dilakukan studi penambatan molekuler terhadap Man?–Man?GlcNAc? yang dilaporkan meningkat pada kanker payudara menggunakan HADDOCK 2.4. Kompleks terbaik disimulasikan selama 100 ns dalam GROMACS dengan parameter CHARMM36m, diikuti perhitungan energi bebas ikatan dan dekomposisi energi MM/PBSA. BanLec B dan T membentuk kompleks paling stabil dengan Man?GlcNAc? dan Man7GlcNAc? (?G mencapai ?33.44±6.68 dan ?31.32±7.24 kkal mol?¹). Hal ini didorong oleh kontribusi van der Waals dan elektrostatik yang tinggi, sementara seluruh BanLec berinteraksi lemah dengan Man6GlcNAc? (?G hingga ?1,6 kkal mol?¹). Semua kompleks tetap stabil secara konformasional dengan RMSD backbone sekitar 1,25–1,75 Å dan radius girasi yang kompak selama 100 ns. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa BanLec B dan T teridentifikasi melalui analisis proteomik; mamp mengenali N-glikan tinggi manosa secara stabil; dan dapat diaplikasikan sebagai platform diagnostik berbasis lektin, seperti antibody-lectin sandwich assay.
ANALISIS STRATEGI KEBIJAKAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI CITARUM HULU DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Sungai Citarum Hulu merupakan sungai strategis yang berperan dalam memenuhi kebutuhan air baku di pulau Jawa dan Bali. Namun, Sungai Citarum mengalami tantangan dalam degradasi sungai dan menyebabkan Sungai Citarum masuk ke dalam satus cemar berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kebijakan pengelolaan kualitas air sungai dengan menggunakan sistem dinamis. Sistem dinamis digunakan untuk menangkap proses umpan balik dan interaksi antara kualitas air sungai dan dampak dari kegiatan sosial ekonomi di wilayah sungai, terutama Sungai Citarum Hulu. Pengukuran kualitas air sungai citarum dilakukan dengan metode Sanitation Foundation Water Quality Index (NSFWQI). Berdasarkan hasil uji validitas, model dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam simulasi model pengelolaan kualitas air sungai. Hasil uji sensitivitas didapatkan faktor PDRB industri sensitif terhadap kualitas air sungai dengan nilai deviasi sebesar 2,48% untuk peningkatan 10% dan 1,14% untuk penurunan 10%. Model dinyatakan robust terhadap perubahan parameter. Dengan menggunakan SD, empat skenario optimal disimulasikan untuk menganalisis strategi kebijakan pengelolaan kualitas air sungai. Kondisi Sungai Citarum Hulu tanpa adanya perubahan pada intervensi terus mengalami penurunan hingga mencapai -16% di tahun 2035. Hasil simulasi intervensi dalam penanganan beban pencemar industri, air limbah domestik, limbah padat, dan limbah pertanian dapat meningkatkan kualitas air Sungai Citarum Hulu hingga mencapai 17% di tahun 2035. Selain itu, intervensi pada aspek sosial, edukasi, penegakan hukum dan pemantauan kualitas air sungai juga penting dalam pengelolaan kulitas air sungai. Peningkatan kualitas air sungai dapat dicapai melalui strategi kolaboratif dari aspek teknis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.