📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenPERANCANGAN SISTEM AKUISISI DAN PEMROSESAN SINYAL FASE GAIT BERBASIS SMART INSOLE KAPASITIF DAN IMU
Analisis gait kuantitatif diperlukan untuk mendukung evaluasi rehabilitasi yang objektif. Penelitian ini mengembangkan sistem smart insole pair berbasis sensor kapasitif dan IMU untuk akuisisi tekanan plantar, preprocessing, dan evaluasi awal klasifikasi fase gait. Setiap insole terdiri atas delapan sensing pad kapasitif, front- end LC-tank FDC2212, multiplexer, ESP32-S3, dan BNO055. Evaluasi akuisisi dilakukan pada lima subjek dengan 90 file kiri dan 90 file kanan; preprocessing pada 753 file dari 20 folder subjek; dan klasifikasi pada tiga subjek berlabel dengan 45 file Excel. Akuisisi menggunakan UDP host-polling dengan tare calibration, sinkronisasi, visualisasi, dan ekspor data. Data raw offset-adjusted diproses melalui estimasi frekuensi sampling, resampling, perbaikan channel bermasalah, target pseudo-clean, denoising autoencoder, stabilisasi regional, dan filtering gyroscope. Sistem mencapai effective rate steady-state 40,187 Hz kiri dan 40,171 Hz kanan; R² sensor 0,9971 pada heel dan 0,9651 pada toes/forefoot. Preprocessing menurunkan kekasaran Average 56,2% dan channel S1–S8 80,7%, dengan korelasi heel–toes 0,9008. Klasifikasi MultiRocket-Hydra–DrCIF menghasilkan macro-F1 raw 38,47%/40,23% dan filtered 35,40%/43,27% untuk kiri/kanan, sehingga sistem layak sebagai platform akuisisi dan preprocessing gait, sementara klasifikasi masih perlu pengembangan.
ANALISIS MODEL SEMANTIK IFC UNTUK MEMBANGUN SISTEM INFORMASI ASET IRIGASI, STUDI KASUS BENDUNG PATARUMAN
Perkembangan teknologi Building Information Modeling (BIM) dan standar data terbuka Industry Foundation Classes (IFC) memungkinkan representasi aset infrastruktur tidak hanya dalam bentuk geometrik, tetapi juga sebagai basis informasi teknis dan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode pengayaan semantik secara massal pada model IFC bangunan pembagi dalam sistem irigasi Bendung Pataruman dengan memanfaatkan IfcOpenShell untuk menambahkan property set berbasis domain irigasi. Data yang digunakan meliputi model geometrik dalam format IFC hasil pemodelan Scan-to-BIM dari point cloud multi-source, yaitu TLS, GeoSLAM, dan iPad LiDAR, serta data nongeometrik berupa parameter hidrolik yang telah diolah. Metode pengayaan semantik dilakukan secara bertahap melalui penerapan property set yang meliputi IRG_IdentitasAset, IRG_KlasifikasiFungsi, IRG_MetadataEnrichment, IRG_Operasional, dan IRG_Hidrolik. Property set tersebut diterapkan sesuai fungsi dan relevansi operasional masing-masing elemen. Evaluasi kuantitatif menunjukkan peningkatan kandungan informasi nongeometrik pada model IFC bangunan pembagi. Jumlah IfcRoot meningkat sebesar 198,42%, IfcRelDefinesByProperties dan IfcPropertySet meningkat sebesar 331,05%, total properti meningkat sebesar 178,07%, property ratio per objek meningkat dari 11,94 menjadi 33,19, serta coverage objek dengan property set mencapai 100%. Struktur hierarki spasial dan jumlah objek fisik tetap terjaga, sehingga pengayaan semantik berhasil meningkatkan kandungan informasi tanpa mengubah geometri model. Validasi terbatas pada model IFC bangunan sifon dan bangunan utama Bendung Pataruman menunjukkan bahwa alur pengayaan semantik dapat diterapkan kembali pada model dengan jumlah objek fisik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengayaan semantik massal berbasis IfcOpenShell mampu meningkatkan konsistensi, ketercakupan, dan kepadatan informasi nongeometrik pada model IFC. Pendekatan ini mendukung interoperabilitas OpenBIM dan berpotensi memperkuat pengelolaan aset irigasi berbasis data secara lebih terstruktur dan informatif.
POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN KELAYAKAN EKONOMI IMPLEMENTASI WAVE ENERGY CONVERTER (WEC) DI PERAIRAN BALI DAN SEKITARNYA
Konsumsi listrik Indonesia meningkat hampir sembilan kali lipat dalam tiga dekade terakhir dan masih didominasi energi fosil yang merupakan penghasil emisi karbon tinggi, sehingga diperlukan identifikasi lokasi tepat serta kajian kelayakan ekonomi pengembangan energi gelombang laut untuk mendukung Bali yang menargetkan Net Zero Emission (NZE) 2045. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi lokasi rekomendasi pengembangan energi gelombang laut di perairan Bali dan sekitarnya, serta mengevaluasi kelayakan ekonomi implementasi dua jenis Wave Energy Converter (WEC), yaitu Wave Roller dan Wave Dragon, berdasarkan karakteristik gelombang laut. Metodologi penelitian meliputi simulasi gelombang laut menggunakan model Simulating WAves Nearshore (SWAN) resolusi tinggi hingga 50 m selama periode Januari–Desember 2024, diikuti perhitungan rapat daya gelombang, estimasi produksi energi berdasarkan power matrix WEC, dan analisis Levelized Cost of Energy (LCoE) dengan beberapa skenario. Hasil penelitian menunjukkan enam lokasi potensial dengan puncak energi pada Juni–Agustus. T1 di selatan Nusa Penida merupakan lokasi paling unggul untuk Wave Roller dengan rata-rata rapat daya gelombang setahun sebesar 28,97 kW/m, produksi energi 2.158,3 MWh per unit, dan capacity factor 24,62%, sementara T4 unggul untuk Wave Dragon dengan produksi 16.341,1 MWh per unit dan capacity factor 31,60%. Nilai LCoE Wave Roller berkisar 2.488,00–9.604,00 IDR/kWh dan Wave Dragon 1.944,00–6.573,00 IDR/kWh. Perairan Bali dan sekitarnya merupakan kawasan prioritas pengembangan energi gelombang laut yang berpotensi tinggi serta secara ekonomi layak, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung target NZE Bali 2045.
EVALUASI KOMPARATIF KINERJA SEL SURYA PEROVSKIT \MATHRM{FASNI_{3}} DAN SILIKON KOMERSIAL DI IKLIM TROPIS BANDUNG MELALUI SIMULASI SCAPS-1D DAN PVSYST
FASnI? merupakan kandidat material fotovoltaik ramah lingkungan dengan celah pita langsung sekitar 1,42 eV yang secara teoretis optimal untuk konversi energi surya. Namun, ion Sn²? pada FASnI? sangat rentan teroksidasi menjadi Sn?? saat terpapar oksigen atau uap air, sehingga memicu pembentukan cacat vakansi yang berperan sebagai pusat rekombinasi non-radiatif dan menurunkan kinerja sel. Studi-studi komputasional sebelumnya telah mengevaluasi sel surya FASnI? pada kondisi laboratorium ideal, sedangkan kelayakan operasionalnya pada iklim tropis dengan dominasi iradiasi difus belum pernah dikuantifikasi. Penelitian ini merupakan studi simulasi numerik yang dilakukan dalam dua tahap untuk membandingkan kinerja sistem PLTS berbasis FASnI? terhadap Silikon (Si) komersial di bawah kondisi meteorologi riil Bandung yang memiliki fraksi iradiasi difus tahunan 43,5%. Tahap pertama menggunakan SCAPS-1D untuk mengarakterisasi degradasi kelistrikan sel surya perovskit FASnI? pada delapan variasi densitas cacat (Nt) dari 10¹¹ hingga 10¹? cm?³; tahap kedua menggunakan PVsyst 8.1.1 dengan data Meteonorm 9.0 Bandung untuk mengevaluasi performance ratio (PR) dan specific yield (SY) sistem. Hasil simulasi SCAPS-1D menunjukkan bahwa kenaikan Nt mendegradasi efisiensi konversi sel surya dari 27,59% menjadi 9,81%, Voc dari 1,065 V menjadi 0,768 V, serta fill factor (FF) dari 88,43% menjadi 68,26%. Pada skala sistem, PR sistem PLTS FASnI? menurun dari 83,4% menjadi 69,13% terhadap Si sebesar 76,78%, sedangkan SY turun dari 1.615 menjadi 1.338 kWh/kWp/tahun di bawah referensi Si 1.486 kWh/kWp/tahun. Berbeda dari studi sejenis yang hanya melaporkan efisiensi sel, penelitian ini mengungkap bahwa sel surya perovskit FASnI? memiliki rugi termal lebih rendah daripada sel surya Si pada kondisi densitas cacat rendah (Nt ? 1015 cm-3), namun keunggulan hilang setelah Nt melampaui 10¹? cm?³. Batas toleransi kritis tersebut merupakan kontribusi kuantitatif berupa ambang densitas cacat oksidasi maksimum yang dapat ditoleransi sebelum performa operasional FASnI? menjadi setara atau lebih rendah dibandingkan silikon pada iklim tropis.
ANALISIS PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP IMPLEMENTASI NILAI EKONOMI KARBON BIRU BERBASIS SILVOFISHERY DI DESA PEGAT BETUMBUK, KECAMATAN PULAU DERAWAN, KABUPATEN BERAU
Nilai Ekonomi Karbon Biru merupakan topik yang sedang berkembang sejak ditetapkan nya peraturan terbaru mengenai Nilai Ekonomi Karbon yakni Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025. Desa Pegat Betumbuk memiliki potensi karbon biru yang cukup besar dengan luasan hutan desa sebesar 11.000 hektar. Namun, hutan mangrove Desa Pegat Betumbuk mengalami degradasi sejak dua puluh tahun ke belakang karena pembukaan lahan untuk kegiatan akuakultur. Untuk menengahi persoalan ini, konsep silvofishery hadir mengintegrasikan tambak dengan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman, perspektif, dan penerimaan masyarakat terhadap implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru di Pegat Betumbuk. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis perspektif lembaga pada tingkat tapak. Metode penelitian ini adalah penelitian campuran (mixed method) dengan pengambilan data kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemahaman masyarakat berada dalam kategori sangat rendah terkait mangrove dan karbon. Temuan lainnya berupa dinamika antaraktor dalam implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru.
EVALUASI EFEK FITUR HAPTIC FEEDBACK PADA EXERGAMES BERBASIS VIRTUAL REALITY UNTUK ANGGOTA GERAK ATAS
Exergames berbasis virtual reality (VR) telah banyak diadopsi dalam rehabilitasi stroke. Namun, exergames dengan latihan kekuatan berbasis VR serta pengaruh haptic feedback masih jarang diteliti. Studi ini membandingkan aktivitas otot dan persepsi usaha antara latihan kekuatan konvensional menggunakan dumbbell fisik dan latihan exergames berbasis VR, serta mengevaluasi pengaruh tiga jenis tingkat getaran (haptic) terhadap aktivitas otot, persepsi usaha, dan rasa kehadiran. Penelitian ini menggunakan desain within-subject dengan sembilan partisipan perempuan sehat. Setiap partisipan menjalani enam perlakuan, yang terdiri dari: (1) latihan kekuatan konvensional menggunakan dumbbell fisik seberat 1, 2, dan 3 kg, serta (2) latihan exergames berbasis VR dengan tiga level haptic feedback (250 Hz, 240 Hz, 230 Hz). Surface electromyography (sEMG) digunakan untuk menilai aktivitas otot pada lengan dan pergelangan tangan. Persepsi usaha dinilai menggunakan skala Borg CR-10, sedangkan rasa kehadiran diukur menggunakan Barfield presence questionnaire. Data dianalisis menggunakan repeated-measures ANOVA dan uji nonparametrik. Hasil menunjukkan bahwa latihan kekuatan konvensional menghasilkan aktivitas otot dan persepsi usaha yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan latihan exergames berbasis VR pada beban ekuivalen (p ? 0.003). Selisih aktivitas otot latihan exergames berbasis VR dan dumbbell juga cenderung semakin besar pada beban yang lebih tinggi. Pada latihan exergames berbasis VR, peningkatan intensitas getaran (haptic) secara signifikan meningkatkan aktivitas otot pergelangan tangan dan lengan (p < 0.01). Sementara itu, persepsi usaha berbeda signifikan antara tingkat haptic (?² = 9.31; p < 0.01), tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang konsisten antar tingkat haptic. Rasa kehadiran tidak berubah signifikan antar tingkat haptic (p ? 0.438). Hasil analisis menunjukkan bahwa haptic feedback dapat mengaktifkan otot pada latihan kekuatan berbasis VR, tetapi belum sepenuhnya mereplikasi tuntutan fisik dari latihan kekuatan konvensional. Oleh karena itu, latihan kekuatan berbasis VR dan haptic lebih tepat diposisikan sebagai alat aktivasi motorik beban rendah untuk rehabilitasi tahap awal dan belum dapat menggantikan latihan kekuatan konvensional
ANALISIS KORELASI KESALAHAN KELURUSAN DENGAN LASER INTERFEROMETER DAN MACHINING TEST BERDASARKAN ISO 10791-7
Kualitas produk melalui proses pemesinan sangat dipengaruhi oleh kualitas mesin perkakas yang digunakan. Kualitas ketelitian mesin perkakas dapat diukur melalui pengujian untuk memastikan ada atau tidaknya kesalahan geometri yang terjadi. Proses pengujian dapat dilakukan dengan berbagai metode salah satunya dengan menggunakan laser interferometer. Pengujian jenis ini dinilai memiliki keakuratan tingkat tinggi karena menggunakan prinsip interferensi cahaya yang dapat mengukur tingkat kepresisian yang sangat tinggi. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan menguji ketelitian mesin perkakas dengan menggunakan laser interferometer pada mesin CNC Vertical Machining Center Doosan Mynx 6500/50 II. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mesin CNC melalui pengukuran ketelitian geometrik pada mesin CNC tersebut. Pengukuran akan dilakukan pada sumbu-Y untuk diukur profil kelurusan horizontalnya. Hasil pengukuran tersebut kemudian divisualisasikan untuk dibandingkan kesalahan kelurusannya berdasarkan garis referensi. Langkah selanjutnya, pada mesin ini juga dilakukan uji potong (machining test) berdasarkan ISO 10791-7 dan pengukuran CMM untuk memvalidasi pengukuran kesalahan pengukuran melalui output hasil pemesinan pada mesin terkait. Hasil kelurusan mesin dan benda uji kemudian dibandingkan dan dianalisis perbandingan kesalahan kelurusannya. Hasil kesalahan kelurusan mesin didapatkan dengan nilai 0,30 – 0,55 ?m yang diukur pada tiga lintasan yang berbeda. Untuk kesalahan kelurusan benda uji, menunjukkan nilai 10,11 – 10,44 ?m untuk downmilling, sedangkan untuk upmilling sebesar 17,29 – 20,24 ?m. Harapannya penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam menggunakan mesin tersebut sesuai dengan model hasil pengukuran untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Selain itu, prosedur yang digunakan dalam penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk pengukuran ketelitian terkait dengan mesin CNC machining center.
PENENTUAN KEDALAMAN PANETRASI DAN LAJU PELEMAHAN INTENSITAS OPTIK UNTUK DETEKSI BATIMETRI DARI CITRA SATELIT SPOT. (STUDI KASUS : PULAU SEMAK DAUN, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA
Tujuan penelitian ini adalah menentukan kedalaman penetrasi (Depth of Penetration, DOP) sinar melalui kolom air dan laju pelemahan intensitas optik (k) menggunakan citra SPOT (Satellite Pour I’Observation de la Terre) pada Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Metodologi yang diterapkan pada penelitian ini diawali dengan klasifikasi citra menjadi 10 kelas tutupan dasar perairan yang mempunyai jenis tutupan dasar perairan yang homogen, kemudian dilanjutkan dengan penentuan DOP dan k untuk setiap kelas yang terbentuk. Metodologi ini telah mereduksi kesalahan akibat perbedaan jenis tutupan dasar perairan. Penentuan DOP dan k dilakukan dengan dua metode yaitu metode grafis (interpretasi visual) dan metode Jupp. Hasil menunjukkan bahwa hanya band 1 yang dapat digunakan untuk mewakili nilai DOP dan k karena nilai k yang diperoleh tidak sesuai dengan teori. Metode grafis menghasilkan DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0670 m-1 untuk kelas 1, DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0575 m-1 untuk kelas 2, DOP sebesar 4,5 m dan k sebesar 0,0339 m-1 untuk kelas 3, dan DOP sebesar 5,5 m dan k sebesar 0,0453 m-1 untuk kelas 4. Metode Jupp menghasilkan DOP sebesar 14,2 m dan k sebesar 0,0703 m-1 untuk kelas 1, DOP sebesar 18,4 m dan k sebesar 0,0544 m-1 untuk kelas 2, DOP sebesar 16,4 m dan k sebesar 0,0611 m-1 untuk kelas 3, dan DOP sebesar 14,3 m dan k sebesar 0,0698 m-1 untuk kelas 4. Nilai DOP yang diperoleh untuk setiap kelas tutupan dasar perairan mempunyai akurasi yang bervariasi yaitu pada selang R2=7,7% sampai R2=68,1%.
FAKTOR EMISI PM10 DARI PEMBAKARAN TERBUKA SAMPAH DOMESTIK KOTA BANDUNG
Pembakaran sampah secara terbuka berpotensi memberikan kontribusi sebagai sumber partikulat di atmosfer. Pembakaran sampah secara terbuka terjadi pada temperatur rendah dan akan menghasilkan bermacam-macam polutan, salah satunya adalah partikulat yang berupa asap dan jelaga. Diketahui dari penelitian sebelumnya, 28,84 % dari penduduk kota Bandung melakukan pembakaran sampah secara terbuka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi dan karakteristik sampah yang dibakar, konsentrasi partikulat [PM10] dan kontribusi faktor-faktor pendukung lainnya terhadap konsentrasi [PM10] yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka, mendapatkan faktor emisidan identifikasi awal logam yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka. Sembilan puluh sampel sampah diambil dari tipe rumah berbeda sesuai dengan golongan sosial ekonomi. Pembagian sampel sampah dilakukan dengan menggunakan teknik probabilitas (random sampling dan stratified random sampling). Berdasarkan metode tersebut diperoleh pembagian jumlah sampel yang dibagi atas 23 sampel rumah mewah,32 sampel rumah menengah dan 35 sampel rumah sederhana.Pada penelitian ini dilakukan simulasi pembakaran sampah secara terbuka dengan menggunakan insinerator modular mini. Pembakaran dilakukan dengan dua kondisi temperatur berbeda, yaitu 250°C dan 850°C. Pengukuran emisi [PM10] menggunakan sampling probe. Dari hasil pengukuran, diperoleh konsentrasi [PM10] pada tipe rumah mewah (T250°C = 47,78 mg/m3 dan T850°C =76,87 mg/m3 ), rumah menengah (T250°C = 65,78 mg/m3 dan T850°C 89,62 mg/m3 ), dan rumah sederhana (T250°C = 81,34 mg/m3 dan T850°C = 151,00 mg/m3 ). Konsentrasi [PM10]850°C dari semua tipe rumah lebih besar dari konsentrasi [PM10]250°C karena pembakaran pada temperatur 850°C cenderung menghasilkan ukuran partikel halus (PM10) dibandingkan dengan partikel kasar (TSP). Dari hasil analisis diperoleh bahwa 37,7% [PM10] pada pembakaran sampah terbuka dipengaruhi oleh tipe rumah, temperatur, volume udara dan sampah organik .Faktor emisi yang dihasilkan dari rumah mewah adalah adalah (FE[PM10] 250°C =17,1 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =26,5 mg/kg), rumah menengah (FE[PM10] 250°C =26,8 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =36,4mg/kg),dan rumah sederhana (FE[PM10] 250°C =47,3 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =65 mg/kg). Pada studi ini juga dilakukan identifikasi awal terhadap logam dari pembakaran sampah domestik Kota Bandung. Logam tersebut adalah Mg, Zn, K, Na, Fe,Ca, Al, Cr, Ni, Sb, Co, Pb, As, Cu, Cd, Mn, Hg dan Sn
PEMODELAN DINAMIKA HIPERAKTIVASI OTAK PADA OBSESSIVE-COMPULSIVE DISORDER MENGGUNAKAN MODEL KURAMOTO DAN MODEL WILSON–COWAN
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan gangguan mental yang ditandai oleh obsesi (pikiran intrusif berulang) dan kompulsi (perilaku repetitif yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan). Berdasarkan studi neuroimaging, pasien penderita OCD mengalami aktivitas berlebih (hiperaktivasi) dan hipersinkronisasi pada sirkuit Cortico-Striatal-Thalamic-Cortical (CSTC). Tugas Akhir ini memodelkan dinamika patologis tersebut menggunakan dua pendekatan matematis: Model Wilson- Cowan untuk merepresentasikan aktivitas populasi neuron eksitatori dan inhibitori secara lokal, serta Model Kuramoto untuk merepresentasikan sinkronisasi fase antararea otak secara global. Dengan menggabungkan kedua model melalui mekanisme plastisitas sinaptik berbasis aturan Hebbian, diperoleh dua model integrasi, yaitu model efek tidak langsung, di mana perubahan bobot konektivitas memengaruhi kedua model secara terpisah, dan model efek langsung, di mana dinamika aktivitas dan fase saling memengaruhi secara eksplisit melalui siklus umpan balik tertutup. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model efek langsung memberikan representasi yang paling akurat dan relevan secara biologis, karena mampu menghasilkan siklus umpan balik antara hiperaktivasi dan hipersinkronisasi sekaligus mempertahankan osilasi latar belakang yang merepresentasikan aktivitas resting-state pada otak sehat.
Karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun tidak berwarna dan tidak berbau yang sulit dideteksi secara cepat dan akurat, sehingga berisiko tinggi terhadap kesehatan makhluk hidup. Sensor CO konvensional berbasis semikonduktor logam oksida (MOS) memiliki keterbatasan, seperti temperatur operasional yang tinggi serta selektivitas yang rendah. Penelitian ini menerapkan metode teori fungsional kerapatan (DFT) dan pemodelan mikrokinetika untuk menginvestigasi mekanisme deteksi CO pada permukaan tungsten diselenida (WSe?) pristine serta yang memiliki cacat titik (Se-vacancy dan W-vacancy). Fokus utama ditujukan pada pengaruh gas latar terhadap respons sensor dalam kondisi lingkungan nyata. Hasil komputasi DFT menunjukkan bahwa mekanisme deteksi CO pada WSe? tidak mengikuti jalur ionosorpsi konvensional, melainkan melalui mekanisme adsorpsi-desorpsi langsung. Fenomena ini terjadi karena rendahnya nilai energi adsorpsi O? pada permukaan WSe? di temperatur ruang. Lebih lanjut, permukaan WSe? pristine dan W-vacancy menunjukkan interaksi CO yang lemah dengan transfer muatan yang tidak signifikan, sehingga tidak menghasilkan respons sensor yang dapat diobservasi. Sebaliknya, Se-vacancy mengikat CO secara kuat dengan transfer muatan yang signifikan, namun tetap mempertahankan interaksi minimal terhadap gas latar (N?, O?, CO?, dan H?O). Simulasi mikrokinetika pada 300 K mengonfirmasi bahwa Se-vacancy memiliki profil surface coverage yang responsif terhadap perubahan tekanan parsial CO, sementara varian permukaan lainnya bersifat inert. Selektivitas tinggi pada WSe?-Se vacancy tetap terjaga dengan respons sensor yang tidak terpengaruh banyak meskipun dengan kehadiran gas latar. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dan menetapkan Se-vacancy sebagai situs aktif utama untuk pengembangan sensor gas CO yang sensitif dan akurat pada temperatur ruang. ?
PENGUKURAN HIDRO-AKUSTIK UNTUK DETEKSI ARUS DI TERUMBU KARANG PULAU GOSONGONGKAK KEPULAUAN SERIBU
Tugas akhir ini melakukan kajian terhadap hasil pengukuran arus di perairan Pulau Gosongcongkak selama satu siklus pasut pada saat pasang purnama. Pengukuran arus tersebut menggunakan instrumen hidro-akustik, yaitu Aquadopp profiler berfrekuensi 1000 kHz secara stasioner dari wahana apung. Berdasarkan hasil kajian, pola arah arus yang terjadi selama pengukuran cenderung konsisten ke arah tenggara dengan kecepatan sebesar 0.2 – 0.4 m/s. Keseragaman arus diukur berdasarkan perbandingan data arus tiap lapisan menggunakan data arus lapisan atas sebagai data pembanding. Tingkat keseragaman arus semakin rendah jika mendekati dasar perairan. Dominasi arus ke arah tenggara berhubungan erat dengan paparan morfologi terumbu karang yang membentuk saluran yang mengarah ke barat laut dan tenggara. Hasil rekonstruksi sinyal arus menggunakan Fast Fourier Transform menunjukkan bahwa pergerakan arus di stasiun pengamatan pada saat pengukuran didominasi oleh faktor non-pasut.
PEMANFAATAN FILTER GAUSS UNTUK STUDI SPASIO TEMPORAL GEOID DARI DATA SATELIT GRACE
Satelit GRACE dapat mengamati variasi spasio temporal (bulanan) geoid, meskipun demikian data dari satelit GRACE tersebut masih mengandung kesalahan sehingga perlu dilakukan pereduksian noise atau gangguan sinyal. Pada tugas akhir ini, pereduksian noise tersebut dilakukan melalui proses filtering dalam domain spasial menggunakan Gaussian filter. Setelah dilakukan proses filtering menggunakan Gaussian filter, didapatkan bahwa fenomena variasi spasio-temporal geoid yang akan terungkap dari pemanfaatan Gaussian filter adalah akibat siklus hidrologi. Perubahan efek curah hujan terhadap perubahan undulasi geoid salah satunya dapat terlihat jelas pada wilayah Amazon.
SURVEY HIDRO-OSEANOGRAFI UNTUK ANALISIS KERUSAKAN WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT)
Wilayah pesisir Kabupaten Indramayu merupakan wilayah dengan potensi sumber daya wilayah pesisir yang tinggi, mulai sumber daya hayati hingga non-hayatinya. Wilayah pesisir juga merupakan daerah pertemuan antara daratan dan lautan yang sangat dinamik. Dinamika yang terjadi di wilayah pesisir dibedakan oleh penyebabnya yaitu faktor alami dan faktor manusia. Faktor alami yang mempengaruhi wilayah laut di sekitar pesisir dijabarkan dalam paramaterparameter oseanografi. Pasang surut laut dan arus laut merupakan sekian dari parameter oesanografi yang mempengaruhi kerusakan pantai di wilayah pesisir. Tugas akhir ini mencoba untuk mengkaji karakteristik dua parameter oseanografi tersebut di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan, perhitungan-perhitungan untuk mengkuantifikasi kedua paramater tersebut, dan konfirmasi hasil terhadap data-data sekunder yang di dapat. Hasil yang didapat dari penelitian memberikan informasi pola pasang surut laut di sepanjang garis pantai Kabupaten Indramayu tidaklah seragam. Pola arus laut di daerah Kabupaten Indramayu sangat di pengaruhi oleh faktor non-pasut (angin) selama selang waktu pengamatan. Pola dari dua parameter oseanografi ini dikaitkan pula dengan kerusakan wilayah pesisir di daerah penelitian.
STUDI INTRUSI AIR LAUT PADA PESISIR KOTA CIREBON DENGAN PENDEKATAN HIDROGEOKIMIA-ISOTOP DAN PEMODELAN HIDROGEOLOGI
Akuifer di wilayah pesisir Kota Cirebon memiliki kerentanan tinggi terhadap intrusi air laut akibat karakter material aluvial yang permeabel, tekanan pemanfaatan air tanah, serta pengaruh perubahan iklim berupa kenaikan muka air laut dan penurunan recharge. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan sumber daya air tanah pesisir sehingga perlu dikaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrogeokimia dan isotop akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon serta mengevaluasi dinamika intrusi air laut akibat pengaruh kenaikan muka air laut (sea level rise) dan perubahan recharge. Pendekatan yang digunakan meliputi analisis hidrogeokimia dan isotop stabil (?¹?O dan ?²H) berdasarkan data sampling air tanah, air sungai, dan air laut, serta pemodelan numerik intrusi air laut menggunakan MODFLOW–SEAWAT. Pemodelan dilakukan dalam kerangka aliran air tanah bergantung densitas dengan klorida (Cl?) sebagai zat terlarut konservatif, melalui simulasi kondisi eksisting, skenario kenaikan muka air laut, pengurangan recharge, dan kombinasi keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air tanah akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon didominasi oleh fasies Mg–HCO?, dengan sebagian sampel menunjukkan fasies Na–Cl atau tipe campuran. Analisis isotop stabil mengindikasikan sumber air meteoritik dengan indikasi pencampuran air laut pada beberapa sampel, yang ditunjukkan oleh fraksi air laut sebesar 1,06–47,16%. Pemodelan numerik berhasil merepresentasikan kondisi intrusi air laut dengan baik (r = 0,992; R² = 0,976), menunjukkan jarak maksimum intrusi mencapai 1,1 km di permukaan dan 1,2 km pada kedalaman 150 m dengan pola saltwater wedge. Simulasi tahun 2050 menunjukkan bahwa penurunan recharge dan kenaikan muka air laut sebesar 0,55 m mendorong perluasan intrusi air laut hingga 402–452 m di permukaan dan mencapai 650 m pada kedalaman 150 m. Luas area terdampak intrusi meningkat dari 5,66 km² menjadi 6,65–6,72 km² (17,53–18,77%), yang menunjukkan meningkatnya kerentanan akuifer pesisir Kota Cirebon terhadap penurunan recharge dan kenaikan muka air laut.