📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPUSAT REINTEGRASI DAN PEMULIHAN ANAK RENTAN PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERBASIS PERILAKU
Arsitektur memiliki peran penting dalam menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Dalam pembangunan kota yang resilien dan membina generasi mudanya, arsitektur dapat menjadi katalis melalui perancangan fasilitas yang mampu mendukung proses pemulihan, pembinaan, dan reintegrasi sosial sebagai penyediaan ruang yang aman bagi anak-anak rentan di kawasan perkotaan. Sayangnya, permasalahan anak rentan, khususnya anak jalanan yang terdorong menjadi pekerja informal akibat kemiskinan, disfungsi keluarga, maupun keterbatasan akses pendidikan, masih menjadi fenomena yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial (2022), terdapat sekitar 16.290 anak jalanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menjadi salah satu daerah perkotaan dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Sosial (2024), terdapat 1.645 anak jalanan di Kota Bandung dengan tren peningkatan sekitar 400 anak setiap tahunnya. Pada tahun 2023, Dinas Sosial juga menyebutkan bahwa Jalan Pajajaran menjadi salah satu dari sembilan kawasan rawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kerentanan anak di kawasan perkotaan, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun perkembangan perilaku. Perancangan Pusat Reintegrasi dan Pemulihan Anak Rentan Perkotaan di Jalan Pajajaran, Kota Bandung mengintegrasikan fungsi hunian transisi, pendidikan nonformal, konseling psikososial, pengembangan keterampilan, serta ruang interaksi komunitas sebagai wadah yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat. Pendekatan arsitektur berbasis perilaku diterapkan melalui perancangan lingkungan binaan yang mempertimbangkan hubungan antara perilaku pengguna dengan elemen ruang, kualitas visual, serta materialitas yang mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan interaksi sosial yang positif, membangun kemandirian, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Metode perancangan meliputi studi literatur mengenai anak rentan perkotaan, pusat reintegrasi, dan arsitektur berbasis perilaku; observasi lapangan pada fasilitas pemberdayaan anak di Bandung; analisis kebutuhan pengguna; serta eksplorasi desain melalui zoning, simulasi pencahayaan, analisis perilaku pengguna, dan pemilihan material yang mendukung kenyamanan serta pembentukan perilaku adaptif. Dengan demikian, proyek berfungsi sebagai fasilitas pemulihan, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang membantu anak rentan membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kesiapan untuk kembali berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga mendukung terwujudnya SDG 11 melalui peningkatan kualitas hidup anak dan keberlanjutan komunitas perkotaan.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
KOMPOSISI DAN POTENSI SOIL SEED BANK PADA BERBAGAI FASE SUKSESI PASCAGANGGUAN DI HUTAN CAGAR ALAM GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Soil seed bank merupakan cadangan benih yang tersimpan di dalam tanah dan berperan penting dalam proses regenerasi vegetasi serta pemulihan ekosistem setelah terjadi gangguan. Komposisi dan struktur soil seed bank dapat berubah sepanjang proses suksesi dan memengaruhi potensi regenerasi alami suatu ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan struktur komunitas soil seed bank komunitas soil seed bank serta hubungan antara soil seed bank dan vegetasi di atas tanah pada berbagai fase suksesi di Cagar Alam Papandayan. Penelitian dilakukan pada tiga tahap suksesi, yaitu belukar muda, belukar tua, dan hutan. Analisis soil seed bank dilakukan menggunakan metode ekstraksi dan germinasi, sedangkan vegetasi di atas tanah dianalisis berdasarkan inventarisasi spesies pada masing-masing zona. Struktur komunitas dianalisis menggunakan densitas biji, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), dan indeks dominansi, sedangkan hubungan antara vegetasi dan soil seed bank dianalisis menggunakan indeks kesamaan Sørensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soil seed bank terdiri atas 22 spesies, yang didominasi oleh spesies pionir (19 spesies). Kelompok herba-perdu mendominasi soil seed bank baik berdasarkan jumlah spesies maupun densitas biji pada seluruh tahap suksesi. Densitas biji tertinggi ditemukan pada zona belukar muda dan belukar tua, sedangkan zona hutan memiliki densitas biji yang lebih rendah. Komposisi densitas biji didominasi oleh famili Asteraceae pada seluruh tahap suksesi. Nilai indeks keanekaragaman meningkat seiring bertambahnya tahapan suksesi. Dari total 34 spesies vegetasi yang ditemukan, Sebanyak 11 dari total 34 spesies vegetasi juga ditemukan dalam soil seed bank. Nilai indeks Sørensen menunjukkan kesamaan vegetasi dan soil seed bank yang rendah hingga sedang serta cenderung menurun dari belukar muda menuju hutan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa soil seed bank di Cagar Alam Papandayan masih didominasi oleh spesies pionir dan hanya merepresentasikan sebagian kecil komunitas vegetasi di atas tanah.
PENGUKURAN LAJU ALIRAN FLUIDA DUA-FASA DALAM PIPA MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK DAN TOMOGRAFI RESISTANSI ELEKTRIKAL
Pengukuran laju aliran fluida multi-fasa tetap menjadi kebutuhan krusial di berbagai sektor industri, seperti farmasi, petrokimia, serta minyak dan gas. Namun, proses pengukuran ini masih menghadapi berbagai tantangan akibat kompleksitas karakteristik aliran, seperti interaksi antar fasa, distribusi kecepatan yang tidak merata, serta fluktuasi tekanan yang dinamis. Selain itu, pola aliran seperti slug flow, churn flow, anular flow, stratified flow dan bubble flow dapat menimbulkan fluktuasi hidrodinamik yang berpotensi menyebabkan degradasi pada dinding pipa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan kombinasi metode ultrasonik refleksi (UR) dan tomografi resistansi elektrikal (TRE) untuk pengukuran aliran fluida dua-fasa. Pendekatan ini bertujuan mengukur laju aliran sekaligus merekonstruksi distribusi fluida dua-fasa cairan dan udara (water and air) di dalam pipa, serta mengidentifikasi struktur aliran, khususnya pada fasa cair dan gas. Metode TRE bekerja dengan menginjeksikan arus lemah melalui elektroda dan mengukur perubahan resistansi untuk merekonstruksi profil aliran, sedangkan konfigurasi dual-plane TRE digunakan untuk meningkatkan resolusi temporal dan spasial melalui analisis korelasi silang. Metode UR memanfaatkan pantulan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi perbedaan sifat akustik antar fasa, sehingga efektif dalam mengidentifikasi struktur aliran. Sensitivitas metode UR ditingkatkan melalui analisis sinyal pantulan (echo) dan variasi frekuensi. Untuk mendukung akuisisi data berkecepatan tinggi, sistem diimplementasikan menggunakan field programmable gate array (FPGA) yang memungkinkan sampling rate tinggi sesuai dengan karakteristik transduser ultrasonik berfrekuensi tinggi. Validasi eksperimen dilakukan menggunakan pipa akrilik transparan dengan konfigurasi aliran horizontal agar observasi visual dapat dilakukan secara langsung. Selain itu, pendekatan komputasional dinamika fluida (KDF) diterapkan untuk memodelkan dinamika aliran dua-fasa, mengamati mekanisme pembentukan slug flow, serta membandingkan distribusi pola aliran hasil simulasi dengan hasil eksperimen. Dengan demikian, simulasi KDF berperan sebagai pendukung analisis fisis terhadap fenomena aliran dan sebagai pembanding terhadap hasil pengukuran berbasis UR dan TRE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu membedakan karakter sinyal antara aliran slug dan aliran stratifikasi (stratified) yang menjadi objek utama pengamatan, serta mengidentifikasi pola aliran slug yang pada kondisi eksperimen dikategorikan sebagai low-aerated slug flow. Pengukuran menggunakan metode UR menunjukkan bahwa ketebalan aliran slug berada pada kisaran 0,330 hingga 0,355 cm, dengan kecenderungan meningkat seiring bertambahnya kecepatan UR pada rentang 0,6 hingga 1,3 m/s. Hubungan antara kedua parameter menunjukkan kecenderungan nonlinier. Pada tahap kalibrasi, sistem UR menunjukkan kesalahan pengukuran kurang dari 1% terhadap referensi. Hasil simulasi KDF menunjukkan kesesuaian dengan tren eksperimen dalam merepresentasikan pembentukan dan distribusi aliran, walaupun masih terdapat perbedaan akibat penyederhanaan model numerik dan kompleksitas dinamika aliran dua-fasa. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan metode UR, TRE, dan KDF untuk meningkatkan kemampuan pengukuran laju aliran, identifikasi karakteristik aliran, serta analisis perilaku slug flow secara lebih representatif. Pendekatan ini memberikan dasar yang lebih komprehensif bagi pengembangan sistem pemantauan aliran dua-fasa pada aplikasi industri.
FROM SAFETY TO EMPOWERMENT: FASILITAS PEMBERDAYAAN WANITA PENYINTAS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Berdasarkan laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan sebagian besar dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan formal rentan mengalami kekerasan akibat ketergantungan ekonomi serta norma sosial yang menghalangi perempuan untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Studi menunjukkan bahwa angka kasus KDRT pada kenyataannya lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang dilaporkan akibat keterbatasan sistem pengumpulan data yang bergantung pada pelaporan sukarela serta stigma sosial terhadap perempuan yang bersuara mengenai kekerasan yang dialaminya. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tertinggi di Indonesia. Saat ini, intervensi pemerintah masih berfokus pada pendampingan hukum, sementara fasilitas yang mendukung pemulihan emosional, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial masih terbatas. Beberapa rumah aman yang tersedia masih berupa bangunan sewaan yang tidak secara khusus dirancang untuk memberikan keamanan, privasi, maupun ruang pemulihan. Kabupaten Bandung Barat bahkan belum memiliki rumah aman khusus meskipun memiliki wilayah yang luas. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan fasilitas khusus yang menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga serta mendukung proses pemulihan mereka. Tipologi proyek ini adalah pusat edukasi perempuan yang dikombinasikan dengan hunian sementara yang berlokasi di Jalan Ciloa, Kabupaten Bandung Barat. Pusat edukasi ini bertujuan untuk membantu perempuan mencapai kemandirian ekonomi dan memperoleh skills yang dibutuhkan melalui pelatihan vokasional, terutama dalam bidang kuliner, hortikultura, serta beauty and fashion. Hunian sementara menyediakan tempat tinggal yang aman bagi perempuan yang melindungi diri dari pasangan yang melakukan kekerasan. Proyek ini dirancang untuk memprioritaskan kenyamanan, privasi, dan otonomi pengguna melalui strategi healing environment. Strategi tersebut meliputi sirkulasi yang jelas untuk mengurangi stres, akses terhadap alam untuk mendukung pemulihan emosional, pemisahan zona untuk menjaga privasi dan keamanan, serta penggunaan elemen dengan tepian halus dan material alami untuk menciptakan suasana domestik. Respons kontekstual terhadap kondisi kemiringan lahan diwujudkan melalui massa bangunan bertingkat yang mempertahankan kontur alami. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan transisi yang aman bagi penyintas untuk memulihkan diri, mengembangkan potensi diri, serta membantu proses reintegrasi ke masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas KDRT.
EVALUASI KESTABILAN LERENG WASTE DUMP PIT XY DAN OPTIMALISASI JARAK AMAN SETTLING POND TERHADAP STABILITAS PIT ZW MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA TAMBANG NIKEL SITE POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Penambangan terbuka nikel di Site Pomalaa menghasilkan lereng waste dump dan settling pond yang berpotensi mengalami ketidakstabilan, terutama pada kondisi jenuh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng Waste Dump Pit XY serta menentukan jarak aman settling pond terhadap lereng Pit ZW. Analisis dilakukan menggunakan Limit Equilibrium Method (LEM) dengan pendekatan Morgenstern–Price pada perangkat lunak Rocscience Slide2 untuk kondisi statis dan dinamis berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Data yang digunakan meliputi geometri lereng, parameter geoteknik, data borehole, kondisi muka air tanah, dan geometri settling pond. Evaluasi dilakukan melalui analisis Faktor Keamanan (FK), Probability of Failure (PF), simulasi sequence benching, redesain lereng, dan variasi jarak settling pond. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng aktual Waste Dump Pit XY memiliki FK statis 1,606 (PF 0,305%) dan FK dinamis 1,253 (PF 13,549%) pada kondisi jenuh. Redesain menggunakan sequence benching tiga jenjang menghasilkan FK statis 1,350 (PF 0,2%) dan FK dinamis 1,186 (PF 4,7%), serta meningkatkan kapasitas waste dump dari 199.375 m³ menjadi 291.159 m³. Redesain lereng Pit ZW menggunakan sequence bench empat jenjang menghasilkan FK deterministik 1,741 (PF 0,500%) pada kondisi statis dan FK deterministik 1,451 (PF 3,200%) pada kondisi dinamis sehingga memenuhi kriteria Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Simulasi variasi jarak settling pond menunjukkan jarak aman minimum 10 m dari kaki lereng dengan FK deterministik 1,592, FK mean 1,603, dan PF 4,954%, sedangkan pada jarak 5 m PF meningkat menjadi 5,500%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sequence benching, redesain lereng Pit ZW, dan optimasi jarak settling pond menghasilkan desain lereng yang memenuhi kriteria kestabilan berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK PRODUKSI GASOLINE RENDAH SULFUR DI RU III PLAJU MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA AHP–TOPSIS TERINTEGRASI PADA GERBANG PRA-STUDI KELAYAKAN GUNA MENDUKUNG NET ZERO EMISSIONS INDONESIA TAHUN 2060
PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju (RU III Plaju), kilang dengan kompleksitas rendah (Nelson Complexity Index ? 3,0), memproduksi gasoline dengan kandungan sulfur 170–230 ppm sekitar empat kali lipat dari batas maksimum 50 ppm yang diwajibkan untuk pemenuhan standar Euro IV/V berdasarkan Keputusan Dirjen Migas No. 110.K/MG.01/DJM/2022 sehingga menempatkan aset pada risiko ketidakpatuhan dan menjadi aset terdampar (stranded asset). Penutupan kesenjangan ini merupakan keputusan investasi strategis yang bersifat multidimensional, namun gerbang pra-studi kelayakan (Pre FS) kilang saat ini menyaring investasi hanya berdasarkan satu kriteria finansial (benefit–cost ratio lebih dari satu) yang tidak mampu menimbang pertimbangan regulasi, strategis, teknis, dan keberlanjutan. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja multi-criteria decision-making (MCDM) terintegrasi untuk disematkan pada gerbang Pre-FS dan mendemonstrasikannya pada keputusan pemenuhan gasoline rendah sulfur. Analisis SWOT kualitatif, yang disusun dari tujuh wawancara pakar dan divalidasi melalui focus group discussion, dikuantifikasi melalui matriks IFE (2,2983) dan EFE (2,5133) — dengan bobot faktor yang dielisitasi pada tingkat industri dari panel enam pakar melalui alokasi 100 poin — menempatkan kilang pada Sel V matriks IE dan Kuadran I SWOT serta mengidentifikasi kesenjangan desulfurisasi sebagai masalah prioritas. Pencocokan TOWS menghasilkan empat alternatif strategis yang dievaluasi melalui AHP (delapan sub-kriteria, consistency ratio 0,0028) dan diperingkat menggunakan TOPSIS. Pembangunan unit HDS/GSH (A4) menempati peringkat pertama (closeness coefficient 0,8481), hasil yang terbukti robust pada enam belas skenario perturbasi bobot ±20%. Gerbang MCDM menghasilkan rekomendasi yang transparan, dapat diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan yang tidak dapat dihasilkan oleh gerbang finansial sebelumnya sekaligus tetap mempertahankan kelayakan ekonomi sebagai salah satu kriterianya.
SISTEM REKOMENDASI BUKU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN DAN KETERLIBATAN PEMUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN PUBLIK (STUDI KASUS: JAWA BARAT)
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat memiliki tantangan dalam membantu pemustaka menemukan buku yang relevan di tengah jumlah koleksi yang besar dan kebutuhan bacaan yang beragam. Katalog berbasis kata kunci belum sepenuhnya memberikan pencarian yang personal, terutama ketika pemustaka belum mengetahui judul, penulis, atau subjek secara spesifik. Data peminjaman perpustakaan memiliki tingkat data sparsity yang tinggi, sehingga pendekatan rekomendasi tunggal kurang optimal. Penelitian ini mengembangkan Advanced Hybrid Book Recommender System yang mengintegrasikan Collaborative Filtering berbasis ALS, Content-Based Filtering berbasis TF-IDF, Knowledge Graph Semantic Boost, Hybrid Scoring, dan Multi-Objective Re-ranking. Data yang digunakan mencakup 173.510 transaksi peminjaman bersih, 82.833 metadata eksemplar, dan 31.598 judul unik. Model dikembangkan dalam dua skenario, yaitu tanpa sinopsis dan dengan sinopsis. Evaluasi dilakukan secara offline menggunakan metrik relevance/ranking, seperti Precision@K, Recall@K, HitRate@K, NDCG@K, dan MAP@K, serta metrik beyond-accuracy, seperti Diversity@K, Novelty@K, Catalog Coverage, Synopsis Coverage, Explainability, Unexpectedness@K, Relevant Serendipity@K, dan Serendipity@K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik pada skenario tanpa sinopsis adalah CF = 0,05, CBF = 0,65, KG = 0,25, dan Novelty = 0,05, dengan objective score 0,898882, lalu skenario dengan sinopsis adalah CF = 0,60, CBF = 0,10, KG = 0,20, dan Novelty = 0,10, dengan objective score 0,965614. Temuan menunjukkan model tanpa sinopsis lebih stabil untuk implementasi awal karena metadata lebih merata, sedangkan model dengan sinopsis berpotensi dikembangkan lebih lanjut apabila cakupan sinopsis ditingkatkan. Penelitian ini menegaskan bahwa sistem rekomendasi perlu menyeimbangkan relevance/ranking dan beyond-accuracy agar mampu mendukung personalisasi layanan, eksplorasi koleksi, dan penemuan buku yang tidak terduga namun tetap relevan.
TINGKAT KEMUDAHAN TAMBANG BERDASARKAN TIPE BONGKAH, RQD DAN SILIKA BEBAS PADA BLOK A, DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
Dalam pertambangan nikel laterit, tipe bongkah, nilai Rock Quality Designation (RQD), dan kandungan silika bebas merupakan parameter penting dalam kajian geologi teknik untuk menilai kualitas massa batuan, tingkat rekahan, serta kekerasan batuan. Ketiga parameter tersebut berpengaruh terhadap kemudahan penggalian, fragmentasi material, produktivitas alat gali, dan tingkat kemudahan tambang (mineability level). Penelitian ini dilakukan di daerah Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan tujuan menganalisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas untuk menentukan tingkat kemudahan tambang pada area penelitian. Data yang digunakan meliputi pengamatan geomorfologi lapangan, pengukuran panjang bongkah dan RQD, data assay geokimia dari 408 titik bor, dua sampel petrografi, serta data DEMNAS. Secara umum, profil laterit pada area penelitian terdiri atas zona top soil, limonit, saprolit, dan bedrock. Litologi penyusun daerah penelitian didominasi oleh dunit dan peridotit. Analisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas pada zona saprolit dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW), sedangkan distribusi kedalaman sumur bor menuju bedrock dianalisis menggunakan metode Triangulated Irregular Network (TIN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh tipe bongkah WT3 sebesar 65,7% dan nilai RQD buruk hingga sangat buruk (<50%). Kondisi tersebut mengindikasikan intensitas rekahan yang cukup tinggi. Distribusi silika bebas pada zona saprolit didominasi kandungan SiO? sebesar 35-45%, sehingga tidak menunjukkan adanya pengayaan silika bebas >50%. Secara umum, Blok A masih berpotensi untuk dilakukan penambangan nikel dengan tingkat kemudahan tambang yang baik, meskipun tetap diperlukan kajian lanjutan terkait aspek teknis penambangan lainnya.
REE DOWNSTREAM FINANCING STRATEGY THROUGH FUTURE FLOW ASSET SECURITIZATION: A CASE STUDY OF REFINERY AND NDFEB MAGNET FACILITY FINANCING
Indonesia memiliki cadangan Rare Earth Elements (REE) yang signifikan secara global di Bangka-Belitung, namun belum mewujudkan kilang pengolahan terpadu di hilir. Pembiayaan proyek konvensional tidak mampu memperhitungkan tiga risiko yang saling berkaitan — volatilitas harga keranjang REE, kendala sovereign ceiling yang membatasi peringkat kredit BUMN pada batas peringkat kedaulatan Indonesia, dan ketidakpastian tingkat pemulihan pemisahan kimia REE — sehingga menciptakan kesenjangan pembiayaan struktural yang menghalangi kebijakan hilirisasi untuk mengubah pasir mineral berat kaya monasit menjadi rantai pasokan Separated Rare Earth Oxides yang berbasis domestik. Dengan rancangan metode campuran pragmatis (Analisis Tekno-Ekonomi, pemodelan arus kas terdiskonto, analisis sensitivitas dan pengujian stres; serta wawancara ahli semi-terstruktur dengan OJK, BAPETEN, BAPPENAS, praktisi keuangan terstruktur, praktisi hukum, dan manajemen senior Perminas), penelitian ini mengkaji Future Flow Asset Securitization (SA) melalui tiga lini pertanyaan: pengukuran kumpulan aset yang dapat disekuritisasi, perancangan struktur SA yang sesuai regulasi Indonesia, serta pembandingan SA dengan pembiayaan proyek konvensional pada dimensi keuangan dan non-keuangan. Proyek terpadu tiga provinsi (Bangka-Belitung, Sulawesi Barat, Aceh; CAPEX USD 1.048 juta; NPV USD 192,5 juta; IRR 15,6%) layak pada baseline namun tidak memadai secara struktural di bawah pembiayaan konvensional; piutang ko mineral di Blok Tami'ang memberikan peningkat kredit alami pada empat kategori aset yang dapat disekuritisasi (RQ1). SPV luar negeri yang terlindungi dari kebangkrutan dengan True Sale melalui empat jalur regulasi (ESDM, KIK-EBA, DBH, perizinan subnasional) dapat diimplementasikan dalam kerangka POJK (RQ2). SA berpotensi menghasilkan pengurangan Biaya Modal 200–600 basis poin di atas sovereign ceiling, tenor sesuai Life of Mine, DSCR terjaga dalam kondisi stres, dan kapasitas CAPEX penuh melalui tranching — mengungguli pada tiga dari empat dimensi non-keuangan (RQ3). Studi ini membawa Sekuritisasi Aliran Kas Masa Depan ke ranah kumpulan multi aset ko-mineral dalam arsitektur KIK-EBA. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan cetak biru struktural bagi Perminas, jalur operasionalisasi KIK-EBA bagi OJK, serta referensi koordinasi bagi BAPPENAS dalam kerangka RPJMN.
EFEKTIVITAS MULTIMEDIA INTERAKTIF FLAZZLE “YUK SHALAT” BERBASIS AUGMENTED REALITY TERHADAP RETENSI MEMORI ANAK
Rendahnya retensi memori anak terhadap tata cara salat disebabkan oleh metode konvensional yang kurang interaktif dan tidak sesuai dengan karakteristik kognitif anak fase operasional konkret. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas media interaktif komersial Flazzle "Yuk Shalat" berbasis Augmented Reality (AR) dalam meningkatkan retensi memori serta menganalisis hubungan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental pretest- posttest control group design dan delayed test (7 hari). Subjek penelitian terdiri dari 60 siswa kelas 2 Madrasah Ibtidaiyyah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (menggunakan media Flazzle AR) dan kelompok kontrol (menggunakan buku modul konvensional). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test, Mann-Whitney U, dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Flazzle AR secara signifikan efektif dalam meningkatkan pemahaman langsung siswa (p= 0,000, p<0,05), dimana pemahaman pada aspek visualisasi gerakan dan bacaan memiliki proporsi yang seimbang. Namun, efektivitasnya dalam mempertahankan retensi memori tidak lebih unggul dibandingkan metode konvensional karena adanya faktor pengulangan aktif melalui program pembiasaan keagamaan di sekolah. Lebih lanjut, tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori (r= 0,081, p= 0,675), yang mengindikasikan bahwa aspek kesenangan dan kemudahan dalam desain media tidak cukup untuk menjamin informasi dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Kesimpulannya, media AR efektif untuk pemahaman awal, namun untuk memperkuat retensi memori, desain interaktif perlu mengintegrasikan elemen retrieval practice dan pengulangan terjadwal dalam bentuk fitur notifikasi yang mengingatkan anak mengulang materi, kuis mengingat dengan tingkatan level, integrasi fitur dengan praktik nyata seperti “Praktikkan aku” yang nantinya akan mendorong anak mempelajari kembali materi yang sudah didapatkan. Kontribusi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi antara prinsip pedagogis dan psikologi kognitif dalam perancangan media interaktif berbasis AR untuk anak.
KLASIFIKASI CITRA MEDIS DENGAN PENDEKATAN KERNEL BASED GAUSSIAN COPULA PROCESS : STUDI KASUS KLASIFIKASI CITRA MRI TUMOR DAN NON-TUMOR
Klasifikasi gambar merupakan permasalahan penting dalam Machine Learning (ML) yang bertujuan untuk memetakan citra ke dalam kelas tertentu berdasarkan pola visual. Namun, karakteristik data gambar yang berdimensi tinggi, memiliki distribusi marginal non-Gaussian, serta hubungan non-linear antar fitur menyebabkan metode klasik sering kali kurang optimal. Penelitian ini mengusulkan penggunaan Kernel Based Gaussian Copula Process (KCP) untuk klasifikasi gambar. Metode ini memisahkan pemodelan distribusi marginal dan struktur dependensi, di mana distribusi marginal dimodelkan secara fleksibel, sedangkan dependensi antar data direpresentasikan melalui kernel dalam ruang laten Gaussian. Transformasi copula digunakan untuk memetakan data ke ruang Gaussian sehingga dapat dimodelkan menggunakan Gaussian Process. Data gambar direpresentasikan dalam bentuk fitur numerik, kemudian dilakukan proses pelatihan dan pengujian model. Kinerja model dibandingkan dengan metode klasik, yaitu Logistic Regression, Gaussian Process Classification, dan Mixture of Gaussian. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap variasi jumlah data latih serta terhadap gangguan noise pada citra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model KCP memberikan performa klasifikasi yang lebih baik dibandingkan metode klasik, serta memiliki stabilitas yang tinggi terhadap perubahan data dan noise. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis copula mampu meningkatkan fleksibilitas dan akurasi dalam klasifikasi data gambar.
ANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA PIT 302 PANEL 3 PT JEMBAYAN MUARABARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Pit 302 Panel 3 milik PT Jembayan Muarabara merupakan area penambangan batubara terbuka yang menunjukkan indikasi ketidakstabilan lereng berdasarkan pengamatan lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng tambang pada sisi highwall dan lowwall menggunakan metode kesetimbangan batas Morgenstern-Price melalui perangkat lunak Rocscience Slide2. Analisis dilakukan pada tiga penampang lereng (A-A', B-B', dan C-C') dalam kondisi statis dan dinamis dengan skenario muka air tanah (MAT) aktual dan jenuh sepenuhnya. Properti material diperoleh dari kombinasi data primer survei talipindai dan data sekunder hasil pengeboran geoteknik, sehingga analisis turut dilakukan pada dua skenario, yaitu skenario tanpa data primer dan skenario dengan data primer dan sekunder. Analisis probabilistik simulasi Monte-Carlo diterapkan untuk menghitung Probabilitas Keruntuhan (PK). Hasil analisis menunjukkan bahwa kestabilan lereng sangat dipengaruhi oleh kejenuhan MAT dan kondisi pembebanan seismik. Pada skenario tanpa data primer pada kondisi MAT aktual, seluruh lereng highwall berada dalam kondisi stabil sementara seluruh lereng lowwall dalam kondisi tidak stabil. Pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya, seluruh lereng highwall dan lowwall berada dalam kondisi tidak stabil dengan PK mencapai 100%, menunjukkan tingginya sensitivitas lereng terhadap kejenuhan muka air tanah. Pada skenario dengan data primer dan sekunder dengan MAT aktual, FK lereng highwall mengalami penurunan signifikan sehingga seluruh lereng berada dalam kondisi tidak stabil kecuali highwall B-B' pada kondisi dinamis, sedangkan pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya seluruh penampang berada dalam kondisi tidak stabil. Rekayasa geometri direkomendasikan berupa pelebaran jenjang pada highwall dan pembuatan jenjang baru yang memotong lapisan batulempung karbonatan pada lowwall, dikombinasikan dengan sistem drainase. Setelah penerapan rekomendasi, FK meningkat menjadi 1,217–1,458 (statis) dan 1,103–1,238 (dinamis) dengan PK 0% memenuhi standar Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
PERANCANGAN DAN OPTIMASI TURBIN HIDROKINETIK JENIS H-DARRIEUS PADA TAILRACE OPEN CHANNEL PLTA JATIGEDE
Pemanfaatan energi hidrokinetik pada aliran keluaran PLTA merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan tanpa memerlukan pembangunan infrastruktur utama yang signifikan. PLTA Jatigede memiliki saluran tailrace open channel yang merupakan saluran keluaran air yang berpotensi dimanfaatkan sebagai lokasi pemasangan turbin hidrokinetik karena masih memiliki energi kinetik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perancangan dan optimasi turbin hidrokinetik tipe H-Darrieus yang sesuai dengan karakteristik aliran pada tailrace open channel PLTA Jatigede. Perancangan dilakukan dengan menentukan beberapa parameter tetap berdasarkan literatur dan tiga parameter yang divariasikan yaitu solidity (?), blade pitch angle (?), dan tip speed ratio (TSR) untuk mencari nilai koefisien daya (CP) yang optimum. Data perancangan diperoleh dari karakteristik aliran tailrace PLTA Jatigede. Debit perancangan ditentukan berdasarkan debit andalan Q40 sebesar 60 m3/s. Hasil pengukuran menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) menunjukkan debit rata-rata terukur sebesar 59,7 m3/s, kecepatan rata-rata aliran sebesar 0,868 m/s, dan kedalaman maksimum sebesar 2,28 m. Berdasarkan kondisi tersebut, turbin H-Darrieus dirancang dengan tinggi 2 m, diameter 1,33 m, dan aspect ratio 1,5 dengan profil hydrofoil S-1046 sebanyak tiga buah sudu. Dengan dimensi tersebut, daya turbin hidrokinetik teoretis maksimum adalah sebesar 870,39 W untuk satu unit turbin. Penelitian dilakukan menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) 2D transien dengan model turbulensi k-? SST. Simulasi CFD digunakan untuk mendapatkan nilai respons koefisien daya (CP) pada setiap kombinasi parameter input. Titik awal simulasi disusun menggunakan metode maximin Latin Hypercube Design untuk memperoleh sebaran titik yang merata pada ruang desain. Kemudian data hasil simulasi CFD digunakan untuk membangun surrogate model berbasis Gaussian Process Regression (GPR). Proses optimasi dilakukan menggunakan Bayesian optimization dengan acquisition function berupa Expected Improvement (EI). Model GPR digunakan untuk memprediksi respons CP optimum dan menentukan kandidat titik simulasi tambahan yang memiliki potensi peningkatan performa. Proses ini dilakukan secara iteratif hingga tercapai konvergensi pada desain optimum. Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi optimum diperoleh pada ? = 0,1821, ? = ?6,3077o, dan TSR = 1,7628 dengan nilai koefisien daya (CP) sebesar 0,4370 yang menghasilkan daya turbin sebesar 380,34 W untuk satu unit turbin. Model GPR akhir mampu menggambarkan hubungan antara parameter input dan respons CP dengan tingkat kesesuaian yang cukup baik dengan evaluasi nilai R2 = 0,9998, RMSE = 0,0017, dan MAE = 0,00103. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi simulasi CFD, model GPR, dan proses Bayesian optimization cukup baik digunakan untuk mendukung proses optimasi turbin hidrokinetik dengan jumlah simulasi yang terbatas. Analisis terkait pengaruh parameter menunjukkan bahwa solidity, blade pitch angle, dan TSR berpengaruh signifikan terhadap performa turbin. Parameter solidity yang terlalu tinggi menyebabkan pembentukan daerah wake yang lebih luas, vortex yang lebih kuat, dan efek blockage yang menyebabkan munculnya torsi negatif pada beberapa posisi azimuth angle. Parameter blade pitch angle yang terlalu negatif menurunkan torsi maksimum akibat sudut serang efektif yang kurang optimum, sedangkan blade pitch angle 0o dan positif memicu separasi aliran, vortex, dan potensi terjadinya dynamic stall. TSR yang terlalu rendah menghasilkan daya turbin rendah akibat kecepatan sudut turbin yang kecil, sedangkan TSR yang terlalu tinggi meningkatkan wake interaction dan vortex sehingga torsi maksimum menurun dan menyebabkan torsi negatif muncul pada beberapa posisi azimuth angle. Konfigurasi optimum menghasilkan keseimbangan terbaik antara torsi maksimum, torsi minimum yang tetap positif, serta karakteristik aliran yang lebih stabil dibandingkan konfigurasi lainnya. Evaluasi juga dilakukan pada variasi kecepatan aliran tailrace 0,5 – 1,5 m/s dengan konfigurasi turbin optimum dan pada kecepatan putar turbin yang konstan. Perubahan kecepatan aliran memengaruhi TSR operasi turbin dan daya yang dihasilkan, namun nilai koefisien daya cenderung terjaga ketika turbin dioperasikan pada TSR yang mendekati nilai optimum. Hasil ini menunjukkan bahwa pola pengaturan operasi turbin agar tetap berada pada rentang TSR optimum menjadi faktor penting untuk memaksimalkan pemanfaatan energi hidrokinetik pada tailrace PLTA Jatigede dengan kondisi kecepatan aliran yang bervariasi.