📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenMETODE EKSTRAKSI TOPIK DENGAN KOMBINASI KEYWORD EXTRACTION DAN GRAF PADA KUMPULAN ARTIKEL ILMIAH
Peningkatan jumlah publikasi ilmiah menimbulkan tantangan dalam proses analisis literatur, khususnya dalam mengidentifikasi topik utama. Berbagai metode ekstraksi topik yang telah dikembangkan umumnya mengandalkan analisis statistik kemunculan kata, dengan fokus pada distribusi probabilistik kata dalam dokumen untuk merepresentasikan topik. Penelitian ini mengusulkan ekstraksi topik yang mengombinasikan ekstraksi kata kunci menggunakan YAKE, yaitu metode ekstraksi kata kunci yang menilai tingkat kepentingan kata berdasarkan karakteristik isi dokumen, dengan representasi graf untuk memodelkan hubungan antar kata kunci. Metode yang diusulkan, disebut YAKE-Graf, dibandingkan dengan pendekatan YAKE-Direct, yaitu pendekatan yang membentuk topik langsung dari hasil ekstraksi kata kunci YAKE tanpa representasi graf, menggunakan kumpulan abstrak artikel ilmiah. Eksperimen dilakukan pada variasi n-gram (unigram, bigram, trigram, dan mixed) dan dievaluasi menggunakan metrik topic coherence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YAKE-Graf secara konsisten menghasilkan nilai coherence yang lebih tinggi dibandingkan YAKE-Direct pada seluruh variasi n-gram, dengan peningkatan rata-rata 82%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa representasi graf mampu memperkuat keterkaitan antar kata kunci dalam pengidentifikasian topik, meskipun memerlukan waktu komputasi tambahan dengan rata-rata sebesar 4,83%. Secara keseluruhan, terdapat trade-off di mana YAKE-Graf lebih unggul dalam menghasilkan topik yang koheren, sementara YAKE-Direct lebih efisien dari segi waktu komputasi.
ANALISIS ZAMS DARI BINTANG VERY LOW-MASS WISE J085510.83-071442.5 DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SIMULASI MESA
Bintang WISE J085510.83-071442.5 merupakan bintang sub-brown dwarf yang paling dekat dengan Matahari, serta memiliki temperatur 285 K. Bintang WISE J085510.83-071442.5 termasuk ke dalam kategori planetary body dengan massa kurang dari 13 massa Jupiter, dengan perkiraan jangkauan massa antara 3 sampai 10 massa Jupiter, sehingga tidak memenuhi syarat batas adanya fusi deuterium. Karena kondisi seperti ini, jejak evolusi dari bintang tersebut masih menyimpan banyak pertanyaan bagi para astronom, dan penelitian mengenai apakah bintang tersebut bisa memasuki fase zero age main sequence (ZAMS) atau tidak masih belum dilakukan sejauh ini. Riset ini akan membahas tentang bagaimana proses pembakaran inti bintang WISE J085510.83-071442.5 akan menentukan apakah bintang tersebut berhasil mencapai ZAMS atau tidak, dan faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Selama riset ini, dilakukan simulasi pemrograman Modules for Experiments in Stellar Astrophysics (MESA) terhadap bintang WISE J085510.83-071442.5 dengan mengacu pada data-data yang tercantum di atas. Output dari simulasi tersebut terbagi menjadi 3 grafik: grafik Hertzsprung-Russell, grafik profil T-?, dan grafik kelimpahan unsur. Simulasi untuk Tugas Akhir ini bertujuan untuk menentukan jejak evolusi bintang dari WISE J085510.83-071442.5 (apakah melintasi garis ZAMS atau tidak), evolusi kondisi internal (T-?) dari WISE J085510.83-071442.5, serta melihat implikasi kelimpahan inti bintang agar WISE J085510.83-071442.5 bisa mencapai titik ZAMS.
ESTIMASI RISIKO BANJIR AKIBAT DAMPAK EKSPANSI KAWASAN TERBANGUN BERBASIS EXPECTED ANNUAL DAMAGE (EAD) DI KAWASAN BANJIR BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG
Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang dominan di Kabupaten Bandung, sementara Kecamatan Baleendah berada pada zona cekungan terendah Citarum Hulu sehingga rentan terhadap genangan berkepanjangan. Dalam dua dekade terakhir, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu mengalami ekspansi kawasan terbangun yang berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, keterpaparan aset, dan kerugian ekonomi akibat banjir. Pekerjaan ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap risiko banjir di kawasan banjir Baleendah menggunakan pendekatan Expected Annual Damage (EAD). Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi tata guna lahan tahun 2000 dan 2020 menggunakan kerangka hazard – exposure – vulnerability – risk. Data tata guna lahan hasil asimilasi GLAD UMD dan RBI memiliki overall accuracy sebesar 83%, sedangkan model HEC-HMS yang digunakan menunjukkan kinerja baik dengan NSE 0,676, RMSE 0,6 m3/s, dan PBIAS 11,81%. Kemudian, debit hasil simulasi digunakan pada model HEC-RAS 2D untuk menghasilkan karakteristik genangan yang kemudian diintegrasikan dengan data bangunan dan valuasi aset untuk menghitung EAD. Hasil pekerjaan menunjukkan bahwa luas kawasan terbangun meningkat sebesar 12,69%, menyebabkan kenaikan nilai Curve Number (CN) dari 65,54 menjadi 67,67 (+3%) dan debit maksimum tahunan sebesar 12,4%. Jumlah bangunan yang terpapar banjir periode ulang 1 tahun meningkat dari 18.531 menjadi 34.924 unit, sedangkan nilai EAD meningkat dari Rp233,88 miliar menjadi Rp465,25 miliar per tahun atau naik 98,92%. Di sisi lain, curah hujan ekstrem menurun sekitar 6,3% pada periode 2011–2020 dibandingkan dengan periode 2001–2010. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko banjir di Baleendah lebih dipengaruhi oleh ekspansi kawasan terbangun dibandingkan dengan perubahan curah hujan, sehingga perubahan tata guna lahan menjadi faktor dominan dalam peningkatan kerugian ekonomi akibat banjir.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PLATFORM PERMINTAAN LAYANAN GENERAL AFFAIRS MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DI PT HUADIAN BUKIT ASAM POWER
Penelitian ini mengembangkan kerangka pengambilan keputusan praktis untuk membantu manajemen memilih platform permintaan layanan General Affairs (GA) di PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). HBAP mulai beroperasi komersial pada Oktober 2023 dengan fokus awal pada stabilisasi pembangkitan listrik, sementara digitalisasi fungsi pendukung internal masih berjalan. Di dalam General Affairs, banyak permintaan layanan masih bergantung pada formulir kertas, spreadsheet, email, dan aplikasi pesan yang terpisah di site maupun kantor Jakarta. Fragmentasi ini menyulitkan pencapaian target layanan, pemantauan status permintaan, dan pemeliharaan jejak audit yang lengkap. Dengan keterbatasan sumber daya dan fungsi TI yang ramping, organisasi memerlukan pilihan platform yang berkelanjutan dan hemat biaya khusus untuk manajemen permintaan layanan GA. Kerangka ini mengevaluasi tiga alternatif platform dalam horizon lima tahun untuk sekitar enam puluh delapan karyawan: solusi low-code internal di dalam ekosistem Microsoft 365 yang sudah ada (A1), aplikasi khusus (bespoke) yang dikembangkan konsultan eksternal (A2), dan paket perangkat lunak komersial siap pakai/COTS (A3). Analisis akar masalah menggunakan Five Whys dan diagram Fishbone (Ishikawa) menunjukkan bahwa perbaikan administratif bertahap tidak cukup, sehingga diperlukan satu platform permintaan layanan GA. Kriteria evaluasi dibangun dari lensa yang sudah mapan: Total Cost of Ownership (Ellram, 1995); Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean (DeLone & McLean, 1992, 2003); Technology Acceptance Model (Davis, 1989); dan Diffusion of Innovations (Rogers, 2003). Alat pengambilan keputusan utama adalah Analytic Hierarchy Process (Saaty, 1980, 1990), yang dijalankan pada AHP Online System AHP-OS (Goepel, 2018). Panel pemangku kepentingan terstruktur berjumlah tiga belas responden memberikan perbandingan berpasangan terhadap lima kriteria utama dan tiga alternatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden, disertai lembar pengarahan (briefing sheet) satu halaman; penilaian individual diagregasi dengan rata-rata geometrik (AIJ), dan konsistensi diverifikasi pada tingkat kelompok (CR keseluruhan 0,3% untuk matriks kriteria; seluruh matriks alternatif di bawah ambang 0,10). Hasil menunjukkan bahwa, berbeda dari anggapan umum bahwa biaya mendominasi keputusan semacam ini, para pemangku kepentingan memberi bobot tertinggi pada kualitas layanan dan penerimaan pengguna (28,0%), diikuti tata kelola dan risiko (24,0%), kesesuaian strategis dan kompatibilitas teknis (23,6%), kecepatan dan adaptabilitas (17,6%), serta biaya lima tahun yang justru terendah (6,8%). Setelah disintesiskan, platform low-code internal A1 memperoleh prioritas global tertinggi sebesar 64,4%, di atas langganan COTS A3 (19,9%) dan opsi bespoke A2 (15,7%). Peringkat A1 > A3 > A2 tetap stabil pada seluruh skenario sensitivitas, termasuk pada kasus ekstrem bobot kriteria yang setara. Studi ini menyusun peta jalan implementasi tiga fase selama dua belas bulan yang mengaitkan platform terpilih dengan quick wins – katalog layanan GA, alur persetujuan terintegrasi, notifikasi, dan dasbor – serta enabler tata kelola dasar berupa pemisahan lingkungan pengembangan–pengujian–produksi, pengendalian akses berbasis peran, dan pencatatan perubahan. Kontribusi manajerialnya adalah keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan; kontribusi ilmiahnya adalah kerangka keputusan terapan yang mengintegrasikan AHP dengan konstruk sistem informasi dan ekonomi yang mapan serta alat analisis akar masalah dasar.
IKLAN AMBIENT MEDIA PADA RUANG DIGITAL DALAM PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA
Ambient media mengalami transformasi mendasar dari media berbasis ruang fisik menjadi praktik komunikasi dalam ekosistem digital yang berbasis jaringan. Perubahan ini tidak hanya menggeser cara penyampaian pesan, tetapi juga mengubah relasi antara produsen, media, dan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi tersebut serta mengkaji bagaimana karakteristik, proses produksi, dan konstruksi makna ambient media berkembang dalam ruang digital. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi ke lingkungan digital telah menggeser paradigma komunikasi dari spatial experience ke networked experience, di mana nilai iklan tidak lagi terletak pada lokasi, melainkan pada kemampuan sirkulasi dan reproduksi pesan dalam jaringan digital. Dalam konteks ini, audiens mengalami rekonfigurasi peran menjadi aktif memproduksi, mendistribusikan, dan menginterpretasikan ulang pesan. Selain itu, viralitas muncul bukan sekadar sebagai efek komunikasi, tetapi sebagai mekanisme utama yang menentukan keberhasilan penyebaran pesan melalui logika partisipasi dan replikasi sosial. Lebih lanjut, media sosial berfungsi sebagai arena negosiasi makna yang terbuka, di mana pesan iklan tidak lagi bersifat tunggal, melainkan mengalami afirmasi, resistensi, dan reinterpretasi oleh audiens. Temuan ini juga mengungkap bahwa praktik ambient media di ruang digital mengandung dimensi ideologis yang mencerminkan relasi kuasa serta berperan dalam membentuk identitas sosial. Dengan demikian, ambient media tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai praktik wacana yang berkontribusi dalam produksi makna dan konstruksi budaya digital.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.
OPTIMASI PRODUKSI ASAM LAKTAT OLEH LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS PADA MEDIUM M9 TERMODIFIKASI GLISEROL
Asam laktat merupakan senyawa karboksilat dengan aplikasi yang beragam pada berbagai sektor industri, khususnya industri polimer dan pangan. Senyawa ini utamanya dihasilkan melalui proses fermentasi dengan bakteri asam laktat (BAL), salah satunya Lactobacillus acidophilus. Salah satu tantangan terbesar fermentasi asam laktat pada skala industri dengan L. acidophilus adalah biaya medium fermentasi yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan medium alternatif dengan biaya lebih rendah yang tetap mencukupi kebutuhan nutrisi mikroba. Medium M9 merupakan medium minimal terdefinisi yang terdiri dari garam- garam mineral esensial untuk pertumbuhan mikroba dengan biaya yang relatif rendah. Namun, karena komposisinya yang sederhana, medium ini umumnya ditambahkan sumber karbon dan nitrogen untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme fastidious. Salah satu alternatif sumber karbon yang berpotensi digunakan adalah gliserol, yang merupakan limbah dari industri biodiesel. Berdasarkan penelitian sebelumnya, L. acidophilus dibuktikan mampu mengkonversi gliserol menjadi asam laktat dalam medium kaya nutrisi. Pada penelitian ini, dilakukan produksi asam laktat dengan L. acidophilus pada medium minimal M9 termodifikasi gliserol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan: 1) laju & parameter kinetika kenaikan berat kering sel, 2) laju & kinetika pembentukan produk, 3) laju & kinetika konsumsi substrat, dan 4) rentang konsentrasi gliserol optimum dalam medium M9 termodifikasi pada proses fermentasi oleh L. acidophilus. Penelitian ini menggunakan pendekatan OVAT (one variable at a time) untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi gliserol dalam medium terhadap pertumbuhan L. acidophilus dengan konsentrasi yeast extract dibuat tetap. Adapun komposisi dari medium M9 termodifikasi adalah Na2HPO4 6 g/L; KH2PO4 3 g/L; NH4Cl 1 g/L; NaCl 0,5 g/L; MgSO4 1 mL/L; Thiamin . HCl 1 mL/L; CaCl2 . 2 H2O 1 mL/L; yeast extract 11,52 g/L. Konsentrasi gliserol pada medium divariasikan yaitu 8,5 ; 17 ; 34 ; dan 68 g/L. Fermentasi dilakukan pada suhu 37 °C selama 150 jam tanpa agitasi. Konsentrasi inokulum awal 105 CFU/mL dengan volume 2% (v/v). Berdasarkan penelitian ini, laju pembentukan berat kering terbesar diperoleh pada variasi P2 dengan nilai 2 mg/L jam dengan parameter kinetika Ks = 1,23 g/L, Ki = 279,79 g/L, dan rXmax = 2,27 g/L jam. Laju pembentukan produk tertinggi diperoleh pada variasi P2 dengan nilai 0,047 mM/jam dengan parameter kinetika Ks = 5,4 g/L, Ki = 72,2 g/L, dan rPmax = 0,067 mM/jam. Laju konsumsi substrat tertinggi diperoleh pada variasi P4 dengan nilai 0,447 mM/jam dengan parameter kinetika Ks = 8,4 g/L dan rSmax = 0,38 mM/jam. Rentang konsentrasi gliserol optimum dalam medium M9 termodifikasi pada penelitian ini adalah pada 18,55 - 19,75 g/L. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa produksi asam dan pertumbuhan biomassa dari L. acidophilus optimum didapatkan pada konsentrasi gliserol yang relatif rendah dalam medium M9 termodifikasi.
PENGARUH PANJANG RENTANG DATA DAN FITUR SIKLUS MATAHARI TERHADAP PERFORMA PREDIKSI BADAI GEOMAGNETIK MENGGUNAKAN METODE LONG SHORT TERM MEMORY (LSTM)
Badai Matahari dapat memicu Badai geomagnetik yang dapat mengganggu teknologi. Prediksi Badai geomagnetik dapat dilakukan dengan cara memprediksi kenaikan ekstrem indeks Kp atau penurunan ekstrem indeks Dst. Prediksi dilakukan menggunakan model Long Short Term Memory (LSTM). Namun, performa model ini dipengaruhi oleh beberapa paramater, beberapa yang dihipotesiskan adalah panjang rentang data, fitur siklus matahari, dan fitur fase siklus matahari. Penelitian ini memiliki tujuan mencari hubungan ketiga parameter tersebut terhadap performa model LSTM untuk prediksi indeks Kp dan indeks Dst dan mencari dampak hubungan tersebut terhadap banyaknya nilai anomali pada plot indeks Kp vs Indeks Dst untuk data tes dan data prediksi masa depan. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan hasil berupa adanya hubungan atas panjang rentang data (dengan timestep jam), dari sekitar 50000 hingga 270000 titik data, terhadap performa model LSTM, terutama pada data tes, yaitu kenaikan performa nonlinier hingga 0.234 pada R2, 0.5153 pada MAE, dan 0.8388 pada RMSE untuk model indeks Kp. Sementara untuk indeks Dst, kenaikan terjadi lebih linear dengan peningkatan performa hingga 0.0066 pada R2, 0.5326 pada RMSE, 0.3126 pada MAE. Terdapat pula hubungan fitur siklus terhadap prediksi indeks Kp dan indeks Dst, yaitu hubungan kebalikan, dimana pemasukan fitur siklus menyebabkan penurunan performa baik pada indeks Kp (rata-rata penurunan R2 sebesar 0.0018) dan indeks Dst (rata-rata penurunan R2 sebesar 0.0003). Terdapat pula hubungan fitur fase terhadap indeks Kp, yaitu hubungan kebalikan, dimana pemasukan fitur fase menyebabkan penurunan performa (dengan rata-rata sebesar 0.0013), tetapi pada indeks Dst, hubungan ini tidak cukup signifikan karena perbandingannya acak. Sementara itu, terdapat hasil yang berbeda untuk data prediksi depan, model mengalami model collapse yang cukup cepat sehingga hasil yang dihasilkan pada tiap variasi kasus panjang rentang data, fase matahari, dan siklus matahari memiliki hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh faktor amplifikasi galat, pergeseran distribusi, dan galat individu pada tiap variabel kontrol.
PROVISION OF OCEAN WEATHER-INFORMED MARINE TOURISM ACTIVITY IN KEPULAUAN SERIBU TO MAINTAIN SAFETY STANDARDS AND QUALITY OF USER EXPERIENCE
Kepulauan Seribu is a marine tourism destination with high dependence on oceanographic and meteorological conditions, yet no single platform has previously provided integrated tidal, weather, and activity safety information accessible to tourists and tourism operators. This study addresses that gap by developing Searibu, a WebGIS-based marine information system that delivers harmonic tidal predictions using the TPXO10-atlas model, marine weather and ocean condition forecasts from the ECMWF IFS, MFWAM, and SMOC models accessed through the Open-Meteo API, an automated activity safety assessment classifying eleven marine tourism activities as Safe, Caution, or Avoid based on current and forecast metocean conditions, and a water-level data export module producing IHO S-104 Edition 2.0.0-compliant HDF5 files. The system was developed using the Iterative and Incremental Development methodology on a three-tier architecture comprising a PostgreSQL and SQLite data layer, a Flask and Python application logic layer, and a React and TypeScript presentation layer. Quality evaluation against ISO/IEC 25010 assessed seven of eight quality characteristics as Fulfilled. These results confirm that Searibu provides an accessible, interpretable, and standards-compliant approach to supporting safer and better-informed marine tourism activities in Kepulauan Seribu.
PEMODELAN SPASIO-TEMPORAL DEFORESTASI DAN STOK KARBON HUTAN BERDASARKAN SKENARIO KEBIJAKAN PERLINDUNGAN GAMBUT-HUTAN DAN PENGEMBANGAN KAWASAN PANGAN DI KALIMATAN TENGAH (1990-2040)
Provinsi Kalimantan Tengah memiliki ekosistem gambut terluas di Indonesia sekaligus menghadapi tekanan deforestasi yang tinggi, dipengaruhi oleh sejarah Pengembangan Lahan Gambut (PLG) satu juta hektar serta kebijakan baru berupa program ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan dan laju deforestasi secara spasio-temporal; (2) mengestimasi simpanan karbon dan kehilangan karbon (carbon loss) historis periode 1990–2020 berdasarkan variasi kerapatan vegetasi; serta (3) mengevaluasi carbon loss antar skenario kebijakan pada proyeksi tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 serta implikasinya terhadap kebijakan pengelolaan hutan. Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan teknik overlay secara wall-to-wall data KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020 untuk memperoleh matriks perubahan, neraca lahan (land account), dan laju deforestasi. Estimasi simpanan karbon menggunakan metode look-up table dengan nilai referensi studi terdahulu, yang dipadukan dengan klasifikasi kerapatan vegetasi berbasis ambang batas NDVI (>0,4 kategori rapat dan <0,4 kategori jarang) pada tutupan hutan, sedangkan carbon loss dihitung dengan pendekatan stock-change. Pemodelan tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 dilakukan menggunakan Land Change Modeler dengan pendekatan Multi-Layer Perceptron dan CA-Markov, seleksi variabel pendorong berdasarkan nilai Cramer’s V (?0,15). Empat skenario kebijakan dikembangkan, yaitu Business as Usual (BAU), Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP), Peatland Protection (PLP), dan Protected Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 1990–2020 Provinsi Kalimantan Tengah kehilangan hutan alam seluas 3,87 juta hektar dengan penurunan terbesar pada hutan rawa sekunder. Laju deforestasi menurun dari 2,08%/tahun (1990–2000) menjadi 1,01%/tahun (2010–2020). Perubahan tersebut menurunkan simpanan karbon dari 2,30 Gt C (1990) menjadi 1,95 Gt C (2020), dengan total carbon loss mencapai 674,29 juta ton C atau setara 2,47 Gt ????????2????. Validasi model menunjukkan nilai Kappa sebesar 0,7574 (kategori kesepakatan kuat). Proyeksi menunjukkan bahwa skenario PFA menghasilkan carbon loss terendah (41% lebih rendah dibandingkan BAU), sedangkan skenario KSPP menghasilkan carbon loss lebih tinggi dibandingkan PFA dan PLP, mengindikasikan potensi konflik antara target ketahanan pangan dan komitmen mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencapaian FOLU Net Sink 2030 di Kalimantan Tengah memerlukan pendekatan kebijakan terpadu yang mengintegrasikan perlindungan hutan, restorasi gambut, dan perencanaan tata ruang berbasis jasa ekosistem karbon.
PEMODELANMULTISKALAPENYAKITALZHEIMERAKIBAT AKUMULASIPROTEINPATOLOGISDENGANPENDEKATANMODELWILSON-COWANDANMODELKURAMOTO
Penyakit Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia paling umum. Patogenesis dari penyakit ini disebabkan oleh akumulasi progresif protein Amiloid-???? dan Tau pada jaringan otak, menyebar melalui mekanisme prion-like sesuai dengan pola Stadium Braak. Perubahan patologis ini berlangsung bertahun-tahun sebelum gejala kognitif muncul, sehingga pemahaman kuantitatif mengenai dinamika penyebaran menjadi penting untuk deteksi dini penyakit. Penelitian ini membangun model matematika multiskala tiga lapis untuk mensimulasikan progresi penyakit Alzheimer pada jaringan enam regio otak awal yang terdampak sesuai pola Stadium Braak. Lapisan pertama memformulasikan model kinetika protein makroskopik yang diturunkan dari sistem heterodimer empat variabel menjadi sistem dua variabel logistik, disertai mekanisme cross-seeding Amiloid-???? dan Tau, serta umpan balik aktivitas saraf terhadap laju proliferasi protein. Lapisan kedua menggunakan model Wilson-Cowan yang dimodifikasi dengan suku hiperaktivasi berbasis konsentrasi protein Tau untuk menangkap ketidakseimbangan eksitasi-inhibisi. Lapisan ketiga mengintegrasikan model Kuramoto dengan pergeseran frekuensi berbasis aktivitas saraf dan mekanisme penalti kopling berbasis akumulasi protein untuk mengukur degradasi sinkronisasi fungsional antar-regio. Sistem tiga lapis ini didiskretisasi pada jaringan enam simpul berbasis matriks Laplacian dengan titik infeksi awal di regio Transentorhinal, dan diselesaikan secara numerik menggunakan metode Runge-Kutta orde empat terhadap 30 persamaan diferensial biasa secara simultan. Analisis titik tetap pada lapisan protein menghasilkan tiga kesetimbangan: kondisi sehat yang tidak stabil ????1(0, 0), titik pelana ????2(0, 1), dan kondisi neurodegeneratif total yang stabil asimtotik ????3 (1, 1), yang secara matematis mengkonfirmasi sifat progesi dan ireversibel penyakit. Analisis bifurkasi Hopf pada modelWilson-Cowan menunjukkan bahwa peningkatan faktor sensitivitas hiperaktivasi ???? menggeser titik kritis menuju konsentrasi protein yang lebih rendah, mengkonfirmasi adanya umpan balik positif destruktif antara eksitasi saraf dan proliferasi protein. Simulasi sistem penuh menunjukkan fenomena coherence window, yaitu periode ketika jaringan otak masih mempertahankan sinkronisasi meskipun protein patologis sudah berkembang, yang berkorelasi secara kualitatif dengan fase Mild Cognitive Impairment (MCI) pada Stadium Braak III-IV. Penurunan sinkronisasi yang bermakna secara klinis (R < 0.5) hanya terjadi melalui gabungan antara kerusakan struktural kopling dan gangguan fungsional hiperaktivasi, sementara hiperaktivasi berperan sebagai akselerator temporal yang menyempitkan jendela koherensi tersebut. Model multiskala yang dibangun berhasil menghasilkan karakteristik biologis progresi penyakit Alzheimer secara kualitatif dan menunjukkan bahwa lebar coherence window dapat berperan sebagai penanda kuantitatif potensial untuk deteksi dini sebelum transisi menuju fase demensia akut. Intervensi yang memperlebar jendela koherensi tersebut, baik melalui penguatan kopling struktural maupun penekanan hiperaktivasi neural, secara teoritis paling efektif dalam memperlambat laju progresi penyakit.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA HIDROKARBON PADA LAPANGAN SSONNE, CEKUNGAN SARAWAK, MALAYSIA
Minyak dan gas bumi merupakan salah satu energi utama bagi kehidupan manusia. Lapangan SSONNE merupakan lapangan hidrokarbon yang terletak di Cekungan Sarawak, Malaysia dengan luas 10.05 km2. Lapangan SSONNE memiliki potensi hidrokarbon yang cukup menjanjikan sehingga diperlukan kajian mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi Lapangan SSONNE secara komprehensif, meliputi fasies dan lingkungan pengendapan, properti petrofisika, serta estimasi sumber daya hidrokarbon (OGIP). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sumur yang mencakup rangkuman deskripsi keratan bor, log tali kawat, dan data seismik. Penelitian ini dilakukan melalui analisis stratigrafi sikuen, analisis fasies dan lingkungan pengendapan, analisis petrofisika, serta estimasi sumber daya hidrokaron secara terintegrasi dan berurutan. Hasil analisis stratigrafi sikuen menunjukkan interval penelitian yang terletak pada NBC 2 – NBC 3 merupakan endapan LST/TST dan HST. Interval NBC 2 – NBC 3 dibagi menjadi dua reservoir berdasarkan parasikuennya, yaitu Reservoir 1 (NBC 3 – SB 2) dan Reservoir 2 (FS 6 – SB 1). Secara stratigrafi, sikuen terbagi menjadi dua batas sikuen. Hasil analisis fasies berdasarkan deskripsi keratan bor dan log tali kawat serta deskripsi batuan inti sumur lainnya (SSW-001) pada interval NBC 3 – NBC 2, menunjukkan empat litofasies yaitu Smf, Sfvf, Fsm, dan C serta tiga asosiasi fasies yaitu tidal bar, tidal flat, dan salt marsh. Ketiga asosiasi fasies menyusun lingkungan pengendapan berupa tide-dominated estuary. Hasil analisis petrofisika menunjukkan interval penelitian memiliki nilai rata-rata volume serpih, porositas efektif, dan saturasi air masing-masing pada Reservoir 1 sebesar 0.3112, 0.1367, dan 0.5173 serta Reservoir 2 sebesar 0.2229, 0.1529, dan 0.5804. Hasil interpretasi seismik menunjukkan antiklin dan sesar normal pada interval penelitian. Hasil estimasi sumber daya hidrokarbon menghasilkan sumber daya OGIP masing-masing pada Reservoir 1 sebesar 4.52 BSCF dan Reservoir 2 sebesar 12.79 BSCF.
KONSTRUKSI IDENTITAS BUDAYA SUNDA: ANALISIS REPRESENTASI OLEH KREATOR KONTEN TIKTOK
Perkembangan media digital telah menggeser kendali representasi budaya dari institusi media konvensional ke tangan individu. TikTok, sebagai platform video pendek dengan pengguna terbesar di Indonesia, menjadi ruang representasi budaya lokal, termasuk budaya Sunda, namun logika algoritma dan viralitasnya membuka kemungkinan reinterpretasi nilai kesundaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi budaya Sunda dalam konten TikTok dan memahami bagaimana identitas budaya tersebut dikonstruksi, mencakup bentuk representasi, unsur budaya yang muncul, pola representasi lintas kategori konten, serta indikasi pergeseran pemaknaan nilai kesundaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan metode analisis representasi berbasis kerangka encoding-decoding Stuart Hall (1980; 1997), diperkaya Circuit of Culture (du Gay dkk., 1997). Data dikumpulkan melalui pengamatan digital non-partisipan dan purposive sampling terhadap dua belas video dari sebelas kreator, dikelompokkan ke dalam empat kategori konten: persona, hiburan, kesenian, dan edukasi. Hasil menunjukkan bahasa Sunda hadir konsisten lintas seluruh kreator sebagai infrastruktur representasi identitas. Dari delapan nilai kesundaan yang dianalisis, distribusi kemunculannya tidak merata dan umumnya hadir melalui tindakan, bukan deklarasi eksplisit. Keempat kategori konten menunjukkan mekanisme representasi yang berbeda tanpa satu kategori yang lebih “Sunda” dari yang lain, dan posisi encoding kreator tersebar dari dominan-afirmatif hingga oposisional. Terkait reinterpretasi, yang dominan terjadi adalah mediasi, bukan mutasi: substansi nilai tidak berubah, yang berubah adalah medium, jangkauan audiens, dan format kemasannya. Ditemukan pula tiga kemunculan baru: morfologi linguistik baru, medium transmisi berbasis video pendek, dan perluasan komposisi penutur otoritatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi budaya Sunda di TikTok adalah proses identitas yang becoming, perluasan ruang ekspresi nilai, bukan perubahan substansinya. Penelitian ini menyumbangkan perluasan kerangka encoding-decoding dan Circuit of Culture ke konteks platform digital, serta menjadi referensi bagi kreator, akademisi, dan pihak pelestarian budaya lokal.