📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI SUHU MODUL FOTOVOLTAIK DENGAN KOREKSI KOEFISIEN BERBASIS DATA UNTUK KONDISI DARAT DAN PERAIRAN PADA IKLIM TROPIS
Suhu modul merup?kan faktor utama yang mempengaruhi efisiensi dan ketahanan sistem fotovoltaik, khususnya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung yang diharapkan memberik?n keuntungan dari sisi pendinginan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi suhu modul dengan koreksi koefisien berbasis data untuk kondisi darat dan perairan pada iklim tropis. Karakterisasi iklim dilakukan menggun?kan data primer instalasi PV darat di Gedung CAS ITB, sementara pemilihan dan kalibrasi model menggun?kan data suhu modul terukur dari dataset PV perairan Florida. Tiga model prediksi suhu, yaitu Faiman, NOCT, dan Sandia, dibandingkan. Model Faiman terpilih karena memiliki bias terkecil serta struktur koefisien yang dapat dikalibrasi secara fisik. Kalibrasi dilakukan melalui mekanisme umpan balik proporsional yang mengoreksi koefisien kehilangan panas (U0) secara iteratif. Hasil kalibrasi memperoleh U0 sebesar 25,00 W/m²K untuk kondisi darat dan 29,87 W/m²K untuk kondisi perairan dengan nilai U1 ditetapkan sebesar 2,00 W·s/m³K. Pengujian data independen menunjukkan penurunan RMSE dari 5,80°C menjadi 3,45°C dan peningkatan R² dari 0,304 menjadi 0,753. Penerapan pada enam danau di Bali sebagai analisis sensitivitas orde pertama menghasilkan selisih suhu modul 1,76°C antara kondisi darat dan perairan, setara dengan uplift energi 0,94%. Besaran uplift yang marginal ini mengindikasikan bahwa keuntungan termal instalasi terapung di iklim tropis lebih kecil dibanding asumsi literatur iklim sedang, akibat kelembaban tinggi dan kecepatan angin yang rendah.
PENGEMBANGAN SISTEM LOKALISASI FIDUCIAL UNTUK NAVIGASI BEDAH TULANG BELAKANG WAKTU NYATA DENGAN INTEGRASI PERANCANGAN BEDAH BERBASIS VISUALISASI CT SCAN 3D DAN NAVIGASI OPTIK
ntegrasi teknologi navigasi dalam prosedur bedah tulang belakang saat ini esensial untuk meminimalisasi risiko komplikasi klinis. Namun, prosedur registrasi spasial yang umumnya masih bergantung pada lokalisasi fiducial marker secara manual sering kali memakan waktu yang lama. Penelitian ini mengembangkan sistem navigasi yang mengintegrasikan data citra CT bertipe O-arm dengan kamera pelacak optik menggunakan algoritma lokalisasi fiducial otomatis. Dalam mengevaluasi sistem navigasi yang telah dikembangkan, algoritma lokalisasi fiducial diuji menggunakan 4 data CT scan berbeda untuk melihat rata-rata Fiducial Localization Error (FLE) dari pengaruh dari jarak kamera pelacak optik, pengaruh orientasi instrumen bedah, serta pengaruh konfigurasi fiducial sebagai referensi dalam proses registrasi spasial. Hasil dari evaluasi menujukkan bahwa sistem navigasi bedah yang dikembangkan mampu mendeteksi lokasi fiducial dari data CT scan dengan akurasi sub-milimeter, yaitu dengan galat sekitar 0.36-0.38 mm. Pada integrasi perangkat keras, sistem mencapai Target Registrastion Error (TRE) minimum sebesar 2.11 mm pada jarak fokus optimal kamera sejauh 1.6 meter. Orientasi alat bedah memengaruhi presisi secara signifikan, dengan lonjakan galat tertinggi (TRE > 5.0 mm) terjadi pada sudut pitch -45° akibat terhalangnya marker infrared instrument dari garis pandang sensor kamera pelacak optik. Lebih lanjut, penggunaan konfigurasi 7 fiducial dengan sebaran spasial yang luas terbukti paling superior dalam meminimalisasi nilai TRE dalam sistem navigasi.
PENGARUH SCAFFOLDING DAN NUDGING PADA UJI VISUO-SPATIAL PUZZLE “FALLING LEAVES” TERHADAP PERFORMA KOGNITIF PELAJAR RENTANG USIA 19 – 21 TAHUN
Hasil PISA 2022 menempatkan posisi Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara dengan skor 1.108 yang menunjukkan kelemahan siswa Indonesia terkait kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Hasil ini menjadi tantangan utama bagi siswa untuk bersaing di era global dan mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh (1) scaffolding, yaitu metoda pembelajaran dengan memberikan dukungan terstruktur dan sementara untuk membantu siswa memahami teks kompleks sehingga mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, dan (2) Nudging yaitu perubahan kecil pada instruksi yang mendorong siswa dalam pengambilan keputusan yang lebih baik saat menyelesaikan tugas. Penelitian ini diujikan untuk melihat performa kognitif pelajar usia 19 – 21 tahun dalam menyelesaikan tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Desain penelitian ini menggunakan tiga kelompok perlakuan, yaitu G1 (baseline/no nudging), G2 (soft nudge), dan G3 (strong nudge); masing-masing terdiri dari 64 partisipan (N = 192) untuk menyelesaikan 10 Soal (S) pada tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Soal (S) terbagi menjadi tiga kriteria yakni soal S1 – S5 untuk menjawab urutan daun yang jatuh ke-n, soal S6 – S8 mengurutkan daun jatuh pertama hingga terakhir, dan soal S9 – S10 untuk menjawab urutan daun yang jatuh lebih dari satu. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk melihat normalitas data, dan jika data tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan (1) uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan signifikansi dari tiga kelompok berbeda, (2) uji Two proportion Z-test untuk melihat perbedaan signifikansi dari dua kelompok near transfer, serta (3) uji Epsilon-Squared dan Rank-Biserial untuk melihat besarnya pengaruh antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nudging secara signifikan meningkatkan performa kognitif. Kelompok G3 mencapai rata-rata skor tertinggi (6.91 ± 3.18), diikuti G2 (6.42 ± 3.38) dan G1 (4.5 ± 3.33). Pada soal S9 dan S10, skor nudging pada G2 dan G3 berhasil meningkatkan tingkat keberhasilan secara signifikan. Selain itu, soft dan strong nudge berhasil memfasilitasi near transfer dari S9 ke S10 dengan skor Z-test G2 (4.266457) dan G3 (9.7168). Terlihat bahwa perbedaan usia dan jenis kelamin tidak berbeda nyata terkait dengan performa kognitif. Penelitian ini memperlihatkan bahwa performa pada tugas complex problem solving sangat sensitif terhadap desain tugas dan nudging, bukan karena perbedaan usia dan jenis kelamin. Dapat disimpulkan bahwa strong nudge terbukti paling efektif dalam mengurangi beban kognitif dan meningkatkan kemampuan near transfer. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan empiris dalam menyusun kebijakan pendidikan yang mendukung peningkatan kemampuan problem solving pelajar di Indonesia.
TRANSISI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI PENDEKATAN MULTI-LEVEL PERSPECTIVE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SERAPAN TENAGA KERJA LULUSAN SMK: STUDI KASUS SMKN 9 DAN SMKN 2 BANDUNG
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai satuan pendidikan vokasi jenjang menengah di Indonesia, berhadapan dengan persoalan yang terus berulang. Lulusannya kerap belum menguasai kompetensi yang diminta industri. Menjawab hal itu, pemerintah menggulirkan kebijakan Link and Match 8+i lewat Program SMK Pusat Keunggulan sejak 2021. Penelitian ini menelaah bagaimana kebijakan tersebut dijalankan di Kota Bandung, sekaligus menggali faktor-faktor yang menghambatnya, melalui pendekatan studi kasus di SMKN 6 Bandung dan SMK Igasar Pindad. Data dihimpun dari kajian literatur, observasi lapangan, serta wawancara mendalam. Hasilnya memperlihatkan pelaksanaan yang kedalamannya jauh berbeda, baik antar sekolah maupun antar mitra industri. Kemitraan yang betul-betul substantif ternyata tidak lahir dari instrumen kebijakan. Ia berakar pada keterkaitan historis yang sudah terbentuk jauh sebelum program ini ada. Link and Match 8+i justru bekerja paling optimal sebagai kerangka formal yang mengesahkan kerja sama yang telanjur hidup, alih-alih menjadi mesin pencipta kemitraan baru. Adapun hambatannya berlapis dan saling mengunci: mutu kompetensi guru, kualitas PKL, perbedaan kapasitas dan komitmen tiap industri mitra, fragmentasi antar lembaga pemerintah, sampai persoalan non teknis di luar sistem vokasi. Selama simpul-simpul ini belum dibenahi bersamaan, pembenahan yang hanya menyasar satu titik akan terus melahirkan hasil yang jomplang dengan besarnya program yang digulirkan. Penelitian ini menegaskan satu hal, keberhasilan Link and Match 8+i tidak ditentukan hanya oleh lengkapnya instrumen formal, melainkan oleh kondisi relasional dan kapasitas kelembagaan yang tumbuh dari interaksi berulang antara sekolah dan industri. Maka penguatan kemitraan SMK dengan dunia industri sepatutnya diarahkan pada pembangunan fondasi relasional jangka panjang, bukan sekadar memperluas jangkauan administratif kebijakan. Sebagai tindak lanjut, delapan dimensi temuan dirumuskan menjadi instrumen pemetaan terukur, yang bisa dipakai menilai apakah sebuah kemitraan berjalan substantif atau sebatas terpenuhi di atas kertas, sekaligus membuka jalan bagi pengujian pada populasi SMK yang lebih luas.
TERMINAL DI TENGAH ARUS: TRANSFORMASI TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI RUANG ADAPTIF TERHADAP ARUS MANUSIA, AIR, DAN POLUSI KOTA
Perkembangan pesat wilayah metropolitan Bandung menempatkan mobilitas dan konektivitas regional menjadi sebuah isu yang krusial. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya transmigrasi membuat kapasitas infrastruktur transportasi perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu terminal bus yang menampung moda transportasi yang penting bagi Kota Bandung. Keberadaan terminal menjadi pendukung dan berperan vital sebagai simpul transportasi baik antar provinsi, kota, maupun desa. Salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung adalah Terminal Leuwipanjang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi pintu masuk bus dari arah barat. Terminal in melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan dalam kota, dan angkutan pedesaan. Sebagai infrastruktur vital, terminal bus masih menghadapi beberapa persoalan seperti fenomena banjir yang menggangu operasional, kurangnya perkembangan fasilitas dan persepsi masyarakat terhadap terminal yang cenderung negatif. Terminal Leuwipanjang berlokasi di Kelurahan Situsaeur, Kecamatan Bojongloa Kidul yang termasuk kecamatan dengan kerentanan banjir sekitar 7.35% total lahan termasuk daerah bahaya bnjir. Permasalahan banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi, kurangnya resapan air, drainase kurang baik, ataupun dominasinya perkerasan pada tipologi terminal. Kondisi ini pula yang dapat mengakibatkan pada persoalan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap terminal sebagai tempat yang kurang baik, kumuh, tidak sehat, dan penuh asap. Persepsi masyarakat dapat berujung pada menurunnya pengguna terminal. Untuk menanggapi tantangan terkait Terminal Leuwipanjang, perancangan ulang terminal dilakukan dengan menempatkan terminal bukan hanya sekedar tempat bus datang dan pergi tetapi terminal memiliki makna dan fungsi yang lebih besar. Penerapan konsep dengan menghubungkan tiga konsep besar terminal sebagai simpul kota, resapan kota, dan ruang ketiga. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi preseden terminal. Hasil dari proses ini yaitu konsep perancangan yang berfokus pada integrasi fungsi transportasi yang efisien dalam meningkatkan konektivitas sesuai dengan fungsi utamanya sekaligus membawa unsur keberlanjutan lingkungan dan membawa funsi baru yang meningkatan persepsi posifitif masyarakat terhadap terminal. Perancangan bertukuan untuk mentransformasikan terminal sebagai hub transportasi multimoda yang efisien, mengembangkan funsi terminal sebagai ruang publik inklusif (ruang ketiga) yangn mampu mewadahi kehidupan sosial masyarakat, dan infrastruktur yang berorientasi pada mitigasi banjir yang sering terjadi melalui strategi water sensitive urban design.
THE INFLUENCE OF INFORMATION CHARACTERISTICS OF ONLINE REVIEWS ON PURCHASE INTENTION: A CASE STUDY IN TRAVELOKA
Berdasarkan data dari Jurnal Perencanaan Pembangunan Indonesia tahun 2020, industri perhotelan mengalami tekanan besar yang terlihat dari tingginya penurunan wisatawan dengan jumlah pembatalan dan penurunan pemesanan hotel. Menyikapi permasalahan tersebut, hotel harus mencari cara untuk mempertahankan usahanya, salah satunya dengan meningkatkan minat beli pelanggan. Traveloka, sebagai booking hotel online akomodasi nomor satu di Indonesia, menyediakan platform review hotel untuk berbagi pengalaman dan informasi dan rekomendasi melalui platform tersebut. Review online adalah sumber informasi tertinggi yang digunakan oleh orang-orang untuk mencari informasi untuk industri perhotelan. Penelitian sebelumnya menemukan ada beberapa faktor, seperti Kualitas Informasi, Kredibilitas Informasi, Kegunaan Informasi, yang dapat mempengaruhi niat beli. Dengan mempelajari karakteristik informasi di dalam platform review online sebagai salah satu bentuk eWOM, diharapkan industri perhotelan dapat mengkaji faktor-faktor signifikan eWOM dari platform review Traveloka yang dapat mempengaruhi niat beli pelanggan, kemudian mereka dapat mengimplementasikannya untuk strategi pemasaran dengan eWOM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli dengan menggunakan Model Penerimaan Informasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan melakukan kuesioner online yang diperoleh 245 responden yang pernah membaca review platform Traveloka, pernah memesan hotel secara online di Traveloka, dan berusia 18-35 tahun. SmartPLS digunakan untuk menganalisis data dan mengkonfirmasi bahwa Kredibilitas Informasi, Sikap terhadap Informasi, Kegunaan Informasi, dan Adopsi Informasi merupakan faktor penentu eWOM yang dapat mempengaruhi niat beli. Temuan penelitian ini tidak menemukan kebutuhan akan informatio dan kualitas informasi merupakan faktor determinan dari minat beli. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi praktis bagi industri perhotelan untuk memaksimalkan strategi menggunakan obbline untuk meningkatkan penjualan mereka berdasarkan temuan tersebut.
AQUATIC HOSPITAL: AIR SEBAGAI ELEMEN PENYEMBUH PADA FASILITAS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Kelahiran merupakan transisi emosional yang mendalam bagi seorang ibu, namun lingkungan rumah sakit konvensional seringkali dirancang dengan prioritas efisiensi klinis yang mengabaikan pengalaman sensori, sehingga menciptakan ruang yang kaku dan intimidatif. Kondisi ini memperburuk fenomena tokophobia (ketakutan terhadap persalinan) yang, menurut studi, dialami oleh 20-30% ibu hamil. Hal ini menjadi sebuah tantangan kesehatan mendesak di Jawa Barat yang menyumbang 17% angka kematian ibu dan bayi nasional dengan beban tertinggi di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut. Tugas Akhir ini merancang "Aquatic Hospital" di Kota Baru Parahyangan sebagai fasilitas kesehatan Tipe C yang mengintegrasikan air sebagai mediator penyembuhan multisensori untuk menyeimbangkan standar medis ketat sesuai Permenkes No. 24 Tahun 2016 dengan keamanan emosional pasien. Strategi perancangan diwujudkan melalui empat pilar sensori terintegrasi: (1) Visual Fluidity, menggunakan bentuk massa organik dengan palet warna biru (aquatic) dan earth tones untuk mereduksi beban kognitif, serta sistem double-skin facade selektif yang dirancang untuk menjaga privasi pada area privat namun tetap terbuka di area publik guna memaksimalkan koneksi visual ke danau; (2) Auditory Rhythm, memanfaatkan fitur air sebagai soundscape untuk memitigasi kebisingan urban dari Jl. Parahyangan Raya; (3) Haptic Ripple, menghadirkan elevated garden sebagai area tunggu organik bagi pendamping yang dilengkapi sistem gelang getar (vibrating wristbands) untuk meminimalisir gangguan suara (noise) dari sistem paging, serta taman mikro-terapeutik khusus pasien rawat inap untuk memfasilitasi pemulihan; dan (4) Environmental Flow, di mana organisasi ruang secara aktif merespons perbedaan kontur tapak guna menciptakan Sense of Extent yang menyatu dengan lanskap luar, sekaligus mengintegrasikan Rainwater Harvesting Columns menuju Eco-Retention Pond sebagai sistem utilitas berkelanjutan. Desain ini berkontribusi pada pencapaian SDG 3 dalam menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan ibu-anak, serta SDG 10 dalam mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan berkualitas.
PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN BALADEWA: PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL ANAK MELALUI PENDEKATAN DESAIN PARTISIPATIF
Eksistensi kampung kota merupakan salah satu karakteristik kota-kota besar di Indonesia. Kampung kota identik dengan karakter sosial yang begitu melekat dengan masyarakatnya. Struktur sosial yang kuat dan intensitas interaksi masyarakat yang tinggi mampu menciptakan ikatan dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap kampung huniannya. Hal ini juga banyak tercermin melalui interaksi anak-anak di dalamnya yang menghidupkan suasana kampung. Namun, seiring laju urbanisasi, densitas penduduk kampung kota meningkat, memicu tumbuhnya permukiman informal yang abai terhadap ruang sosial. Kontradiksi antara ruang sosial dan tekanan urbanisasi tersebut pun juga terjadi di Kampung Baladewa yang berlokasi di RW 08, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Kawasan tersebut merupakan zona perumahan berkepadatan tinggi dengan demografi yang beragam, ditinggali oleh kelompok lanjut usia, kelompok usia produktif dengan mayoritas mata pencaharian sebagai buruh, pedagang, dan jasa konveksi, serta kelompok anak-anak dengan jumlah yang cukup tinggi. Terdapat banyak potensi terjadinya interaksi intergenerasi dari setiap kelompok tersebut. Namun, keterbatasan ruang sosial menghambat perwujudannya. Anak-anak pun hidup dalam keterbatasan akses ruang bermain dan berinteraksi, tempat mereka berkembang secara sosial dan emosional. Hal ini semakin mendorong masyarakat kampung kota kehilangan karakternya. Oleh karena itu, perancangan Kampung Susun Baladewa menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan kualitas hunian, baik dari aspek fisik maupun aspek sosial yang dilakukan dengan pendekatan arsitektur partisipatoris. Pendekatan ini melibatkan masyarakat melalui workshop arsitektur partisipatoris sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Workshop ini utamanya ditujukan untuk anak-anak dalam merancang ruang publik untuk berinteraksi dan ruang bermain yang diharapkan mampu meningkatkan kehidupan sosial kampungnya. Anak-anak dipilih sebagai partisipan utama karena merupakan salah satu kelompok yang paling membutuhkan ruang inklusif serta masa perkembangannya banyak terpengaruhi atas kehadiran ruang sosial di kampungnya sehingga desain ramah anak menjadi salah satu pertimbangan utama. Hasil perancangan berupa transformasi kampung kota menjadi hunian vertikal dengan konsep tumbuh-kembang yang diwujudkan melalui desain learning space tematik, yakni kreativitas, alam, sosial, hingga motorik. Selain itu, konsep ini juga tercermin dari ruang ekonomi komunitas dan unit hunian yang adaptif. Perancangan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatoris pada anak dapat ditranslasikan dalam desain hunian vertikal yang menyediakan ruang sosial inklusif sebagai upaya penjagaan karakter sosial kampung kota, terutama anak-anak sebagai masyarakat masa depan.
SENSE+ (SPATIAL ENVIRONMENT FOR NEURO-SENSORY EXPERIENCE) : TRANSFORMING BANDUNG’S URBAN STRESS INTO CREATIVE ENERGY
Kota Bandung memiliki dua sisi yang berkontradiksi. Di satu sisi, Bandung memiliki potensi sebagai kota kreatif ditunjukkan dengan adanya 120 komunitas kreatif, tergabungnya Bandung pada UCCN, dan 56% aktivitas ekonomi Bandung berkaitan dengan kreatif. Namun, di sisi lain, Bandung mengalami peningkatan isu stres perkotaan, ditunjukkan oleh kenaikan jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental sebesar 38,14% pada tahun 2022, sekitar 60% mahasiswa mengalami stres, kecemasan, atau depresi pada tingkat tertentu, serta 48,6% mahasiswa baru mengalami gejala gangguan mental emosional dengan 21,2% di antaranya merasa tidak bahagia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan sebuah ruang yang dapat mentransformasi kondisi stres menjadi kreativitas. Isu perancangan utama yang diangkat adalah bagaimana arsitektur dapat mengubah eustress dan distress menjadi energi kreatif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, analisis tapak, analisis pengguna dan aktivitas, serta sintesis teori menjadi strategi perancangan arsitektur. SENSE+ mengusulkan perancangan creative hub yang dipadukan dengan contemplative center sebagai tipologi arsitektur yang mentransformasikan stres menjadi energi kreatif melalui pendekatan neuroarchitecture dan programmatic disjunction. Pendekatan perancangan diturunkan lebih lanjut menjadi konsep transprogramming, biophilic design & healing environment, dan Attention Restoration Theory (ART) untuk membentuk sekuens ruang being away, fascination, extent, dan compatibility yang mendukung transformasi kondisi psikologis pengguna dari keadaan stres menuju kondisi yang lebih tenang, fokus, dan kreatif. Hasil perancangan berupa kompleks creative hub dan contemplative center yang dirancang untuk mengubah gelombang otak beta (15–20 Hz), yang berkaitan dengan kondisi stres, menuju gelombang alfa (8–12 Hz), yang berkaitan dengan kondisi relaks dan kreativitas. Perubahan kondisi tersebut dicapai melalui strategi perancangan yang memanfaatkan elemen biofilik, konfigurasi ruang, geometri, pencahayaan alami, material, lanskap, dan pengalaman multisensori sesuai dengan pendekatan perancangan yang dipilih. Luaran tugas akhir ini diharapkan mampu mentransformasi stres perkotaan di Kota Bandung menjadi energi kreatif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup serta perekonomian kota.
PERANCANGAN HOSPICE ANAK DAN RUANG MEMORIAL DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK
Kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan. Meskipun demikian, kehadiran kematian justru penuh ketidakpastian. Kematian juga tidak mengenal usia maupun urutan hidup. Ada kalanya kematian merenggut mereka yang masih belia, menimbulkan kedukaan mendalam bagi orang tua yang ditinggalkan. Tidak jarang, anak mengalami penyakit terminal, yaitu kondisi yang tidak lagi dapat disembuhkan dan berpotensi mengancam kehidupan. Di Indonesia, anak dengan penyakit terminal masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perawatan paliatif yang komprehensif, sehingga kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual mereka beserta keluarganya belum sepenuhnya terpenuhi. Kematian hampir selalu meninggalkan kedukaan, sebagai jejak terakhir dari yang pergi kepada mereka yang ditinggalkan. Kematian anak sebelum orang tua bukan lagi menjadi suatu fenomena yang asing. Kehilangan anak, apapun penyebabnya, selalu menjadi salah satu bentuk kedukaan paling berat bagi orang tua. Kedukaan adalah reaksi emosional terhadap suatu kehilangan yang signifikan. Pengalaman yang dialami bersifat sangat unik dan berbeda-beda bagi setiap individu. Manifestasi dari duka juga sangat beragam, dapat berupa reaksi emosional, kognitif, fisik, dan spiritual. Sedangkan penanganan rasa duka dapat bersifat konstruktif, namun juga destruktif. Sehingga pada proses ini, faktor pemulihan eksternal sangatlah dibutuhkan. Menurut ahli, proses kedukaan yang efektif dan sehat berjalan tidak secara linear, justru seringkali melibatkan osilasi, antara coping terhadap pengalaman kehilangan dengan coping yang bersifat pemulihan. Merespon isu tersebut, perancangan Children Hospice and Memorial Space ini diharapkan menjadi tempat yang dapat merayakan kehidupan bagi anak yang mengalami penyakit terminal serta mewadahi penghormatan terakhir bagi individu yang telah meninggal, tetapi juga sebagai ruang aman untuk bertumbuh bagi orang tua, keluarga, dan orang-orang yang ditinggalkan. Perancangan hospice anak, fasilitas kedukaan, dan pemulihan ini menjadi upaya untuk mewujudkan proses berduka yang sehat, yaitu Growing with Grief, dengan hidup berdampingan bersama duka alih-alih menaklukkannya. Perancangan project ini menggunakan pendekatan arsitektur terapeutik dengan fokus pada merayakan kehidupan anak serta bagaimana proses kedukaan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk bertumbuh, baik secara emosional maupun kualitas hidup. Hal ini menjadi bahasan yang sejalan dengan SDGs, khususnya Design for Inclusivity, sebab perancangan ditujukan pada kelompok termarjinalkan dalam lingkungan binaan. Dalam perancangan ini, digunakan metode studi literatur untuk mempelajari topik bahasan, observasi dan wawancara untuk lebih mengenal dan mendalami topik bahasan dalam dunia nyata, serta studi preseden dan benchmarking untuk melengkapi kebutuhan perancangan secara arsitektural. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk dapat lebih mengerti apa itu kedukaan dan peran arsitektur dalam proses penanganannya, khususnya pada relasi orangtua dan anak.
REVITALISASI KAWASAN PASAR ASTANA ANYAR: MODEL MIXED-USE SEBAGAI PENGUNGKIT AKTIVITAS SOSIAL-EKONOMI DAN RESTORASI LINGKUNGAN SUNGAI
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Kota Bandung memicu keterbatasan lahan, yang berdampak pada munculnya permukiman informal atau kawasan kumuh, salah satunya di bantaran Sungai Citepus dekat Pasar Astana Anyar. Fenomena ini menimbulkan berbagai masalah multidimensi, mulai dari degradasi lingkungan fisik seperti pencemaran dan penyempitan sungai yang memicu banjir, hingga kerentanan sosial dan ekonomi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Selain itu, kawasan Pasar Astana Anyar juga mengalami penurunan fungsi akibat ketidakteraturan pedagang kaki lima (PKL) dan hilangnya ruang terbuka hijau. Upaya relokasi pemerintah sering kali gagal karena memutus akses warga terhadap sumber penghidupan utama mereka di pusat kota. Untuk merespons permasalahan tersebut, perancangan ini menggunakan pendekatan behaviour mapping dan behaviour setting guna memahami pola aktivitas komunal dan pergerakan keseharian warga permukiman informal. Pendekatan ini dipadukan dengan desain partisipatif yang menempatkan pengguna sebagai subjek aktif, sehingga rancangan ruang dapat menjembatani transisi perilaku warga dari hunian tapak ke hunian vertikal tanpa menghilangkan akar kebiasaan sosial mereka. Proses perancangan ini berlandaskan pada tiga nilai utama kawasan, yaitu inklusif, berdaya, dan pulih. Solusi yang ditawarkan adalah sebuah model bangunan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi hunian vertikal (Rusunawa) bagi MBR dan area komersial berupa revitalisasi Pasar Astana Anyar. Dengan mengusung konsep "One Stop Everyday Living", kawasan ini dirancang agar masyarakat dapat tinggal, bekerja, berkumpul, dan bergerak secara efisien di satu lokasi yang sama. Penggabungan ini memungkinkan warga yang direlokasi tetap memiliki akses langsung terhadap mata pencaharian mereka di pasar, sekaligus menata ulang sistem perdagangan lokal yang sebelumnya tidak teratur menjadi kawasan yang inklusif. Selain aspek sosial-ekonomi, proyek ini juga berfokus pada restorasi lingkungan melalui penerapan infrastruktur hijau pada sempadan Sungai Citepus. Lahan hasil relokasi dialihfungsikan menjadi area resapan air, wetlan, taman, dan kolam detensi untuk memitigasi risiko banjir dan memulihkan fungsi ekologi sungai. Secara keseluruhan, revitalisasi terpadu ini diharapkan mampu menghadirkan hunian yang layak, mengembalikan daya saing ekonomi pasar rakyat, serta menciptakan ruang publik perkotaan yang sehat dan berkelanjutan.
PERANCANGAN MICRO-STADIUM TEMPORER UNTUK MENANGGAPI FENOMENA BANGUNAN TERBENGKALAI PASCA EVENT
Penyelenggaraan event berskala besar telah menjadi salah satu strategi pembangunan yang banyak diterapkan oleh berbagai kota untuk meningkatkan citra daerah, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur baru. Dalam konteks tersebut, fasilitas olahraga, ruang pertunjukan, maupun bangunan pendukung lainnya umumnya dirancang sebagai bangunan permanen yang mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan selama event berlangsung. Namun, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan perbedaan mendasar antara karakter event yang bersifat sementara dengan umur layanan bangunan yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Akibatnya, setelah event selesai, berbagai fasilitas mengalami penurunan intensitas penggunaan karena fungsi, kapasitas, maupun konfigurasi ruang yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya operasional dan pemeliharaan yang harus ditanggung meskipun tingkat pemanfaatan bangunan terus menurun. Dalam jangka panjang, bangunan-bangunan tersebut berpotensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, maupun fungsional hingga akhirnya menjadi aset terbengkalai yang membebani pengelolaan kota. Fenomena ini bukan merupakan kasus yang bersifat insidental, melainkan pola yang terus berulang pada berbagai penyelenggaraan event olahraga maupun kegiatan berskala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berorientasi pada permanensi belum mampu menjawab kebutuhan ruang yang pada dasarnya bersifat temporal. Dengan kata lain, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengelolaan bangunan setelah event berakhir, tetapi juga pada paradigma perancangan yang belum mempertimbangkan dimensi waktu sebagai bagian integral dari proses desain. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan micro-stadium temporer sebagai alternatif pendekatan arsitektur yang menempatkan hubungan antara durasi penyelenggaraan kegiatan dan siklus hidup bangunan sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Melalui penerapan konsep time-based architecture dan prinsip design for disassembly, bangunan dirancang agar dapat dibangun, digunakan, dibongkar, dipindahkan, maupun dirakit kembali sesuai kebutuhan penyelenggaraan event tanpa meninggalkan infrastruktur permanen yang berpotensi kehilangan fungsi di masa mendatang. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan ruang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mengurangi potensi limbah konstruksi, serta meminimalkan risiko terbentuknya bangunan pasca-event yang tidak lagi produktif. Dengan demikian, proyek ini menawarkan paradigma alternatif dalam perancangan fasilitas event, yaitu pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada permanensi menuju arsitektur yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan mampu merespons hubungan antara waktu, penggunaan ruang, serta keberlanjutan infrastruktur secara lebih kontekstual.
PERANCANGAN HUNIAN LANSIA BERBASIS KEHIDUPAN BERMAKNA DENGAN PENGUATAN INTERAKSI ANTARGENERASI DI CISAUK
Indonesia sedang memasuki era aging society, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia setiap tahunnya. Perubahan demografis ini menghadirkan tantangan dalam penyediaan lingkungan hunian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik lansia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan psikologis dan sosial mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup pada usia lanjut dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi kesehatan, tetapi juga oleh rasa memiliki tujuan hidup (ikigai), hubungan sosial yang bermakna, serta keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Di sisi lain, masih berkembang stigma yang memandang lansia sebagai kelompok yang bergantung, sementara berbagai kebijakan mulai mendorong lansia untuk tetap aktif dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya lingkungan hunian yang memungkinkan lansia tetap mandiri, terhubung, dan memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Tugas akhir ini mengusulkan perancangan hunian lansia berbasis kehidupan bermakna dengan penguatan interaksi antargenerasi di Cisauk. Tipologi yang dipilih adalah community-oriented senior living village bagi lansia ekonomi menengah yang mengintegrasikan area hunian, fasilitas kesehatan dan wellness, ruang komunal, fungsi komersial, serta ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan perancangan menggunakan konsep meaningful aging yang diterjemahkan melalui empat bentuk keterhubungan, yaitu keterhubungan dengan orang lain, alam, diri sendiri, dan aktivitas sehari-hari. Interaksi antargenerasi menjadi strategi utama untuk memperkuat hubungan sosial melalui aktivitas keseharian yang berlangsung secara alami antara lansia dan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, analisis tapak, dan studi preseden untuk merumuskan konsep, program ruang, serta strategi perancangan. Hasil perancangan berupa kawasan hunian yang tersusun dalam cluster-cluster residensial dengan courtyard bersama, didukung jaringan ruang publik yang mudah diakses, fasilitas kesehatan dan wellness, fungsi komersial, serta sistem lanskap yang mendorong aktivitas fisik, interaksi sosial, dan hubungan dengan alam. Organisasi ruang dirancang untuk menyeimbangkan privasi penghuni dengan keterbukaan terhadap komunitas sekitar melalui lingkungan yang ramah pejalan kaki dan mudah dinavigasi. Perancangan ini bertujuan menghasilkan prototipe hunian lansia berbasis komunitas yang mendukung kemandirian, rasa memiliki, serta kehidupan yang bermakna di usia lanjut. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan hunian lansia di Indonesia sekaligus menunjukkan peran arsitektur dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat yang menua.
PERANCANGAN CIRCULAR MAKERSPACE LIBRARY BERBASIS KONSTRUKTIVISME:STUDI KASUS DI BANDUNG MELALUI KASUS ADAPTIVE REUSE
Bandung dikenal luas akan ekonomi kreatifnya, akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara keterampilan yang dikuasai anak muda dengan kebutuhan dari industri kreatif itu. Pada saat yang sama, digitalisasi telah menyebabkan penurunan kunjungan pada perpustakaan tradisional, sekaligus dengan masalah sampah kota, terutama sampah plastik dan serat yang masih sangat kurang dimanfaatkan. Projek final yang berjudul “Circular Makerspace Library” ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang saling terhubung ini melalui penggabungan fungsi antara lingkungan pembelajaran modern dengan fasilitas fabrikasi. Desain ini memperlengkapi penggunanya dengan keterampilan industri yang dibutuhkan, menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang ketiga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana material daur ulang dapat diintegrasikan kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan konsep adaptive reuse pada hangar heritage existing, serta konsep arsitektur modular dan ekspresionisme struktural, Bangunan tersebut sendiri menjadi suatu pengalaman belajar. Tata ruang yang mengutamakan visibilitas dan zonasi spasial melalui warna untuk memfasilitasi pembelajaran secara pasif. Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk dapat terlibat dalam proses kerajinan melalui observasi dan praktik langsung berdasarkan konsep konstruktivisme. Secara keseluruhan, projek ini memberikan solusi arsitektural berkelanjutan yang menjembatani kesenjangan keterampilan lokal, mengembalikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang dinamis, sekaligus mengurangi sampah perkotaan.
FA-BRICK: RUANG INKLUSIF, ADAPTIF, DAN PRODUKTIF BAGI UMKM FASHION LOKAL BANDUNG DALAM MENGHADAPI DISPARITAS PERSAINGAN INDUSTRI,DI JALAN BANDA
Kota Bandung mulai mendapatkan julukan sebagai “Paris Van Java” berkat kemunculan Factory Outlet (FO) dan Distribution Store (Distro) di akhir tahun 1990-an. Seiring berjalannya waktu, Distro menunjukkan kemampuan yang lebih baik untuk bertahan, bahkan terus bertumbuh berkat produk-produk eksklusif yang lahir dari kreativitas dan identitas. Jumlah UMKM fashion lokal di Bandung pun terus mengalami peningkatan hingga industri ini tumbuh besar. Namun, permasalahan mulai muncul ketika permintaan akan kebutuhan ruang kerja dan usaha ikut meningkat tanpa disertai dengan adanya wadah, baik berupa tempat maupun komunitas. Akibatnya, persaingan yang cenderung tidak sehat mulai tumbuh dalam industri fashion lokal Bandung hingga menimbulkan disparitas dari berbagai aspek (modal, eksposur, koneksi). Sebagai upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, dibutuhkan sebuah pusat inkubasi fashion yang bisa menyatukan para pelaku UMKM fashion lokal Bandung. Fa-Brick hadir sebagai ruang aglomerasi berbasis ekosistem koperasi dengan tujuan untuk menghadirkan persaingan yang lebih inklusif, produktif, dan sehat. Nilai adaptive, catalyze, dan clarity diambil sebagai landasan perancangan. Nilai adaptive diwujudkan dengan konsep arsitektur industrial - temporer, dimulai dari penggunaan struktur baja dan raw material yang memudahkan proses konstruksi. Hal ini memungkinkan bangunan untuk terus beradaptasi dengan perubahan tren yang cepat, terlebih dalam dunia fashion. Selanjutnya, nilai catalyze diwujudkan dengan konsep social-condenser dan sociopetal, di mana pengorganisasian ruang serta fungsinya akan berperan penting dalam menciptakan arus pengunjung yang maksimal. Area rooftop garden tribune dan multi-purpose hall menjadi hasil nyata, dengan ragam aktivitas yang bisa dilaksanakan dalam waktu maupun tempat yang sama. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas penjualan, yang selanjutnya juga akan meningkatkan aktivitas RnD dan produksi dari para UMKM fashion lokal. Terakhir, nilai clarity diwujudkan dengan artikulasi sirkulasi dalam bangunan yang jelas untuk membawa arus aktivitas secara sistematis dan inklusif bagi semua pihak. Atrium utama di tengah bangunan menjadi pemegang peran penting yang menghasilkan konektivitas yang baik hingga mampu mewujudkan inklusivitas bagi seluruh pengguna. Fa-Brick diharapkan dapat menjadi wadah yang terbuka dan ramah bagi seluruh UMKM fashion yang terlibat sehingga arah pengembangan industri ini bisa lebih jelas serta nyata.