📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenCOST ANALYSIS IN PT. HI (A CAR ASSEMBLING COMPANY)
Makanan adalah salah satu kebutuhan primer manusia yang paling venting karena tanpa makan, manusia tidak akan bisa hidup. Kebutuhan akan akan atau Pangan adalah salah satu dari tiga kebutuhan primer disamping Sandang dan Papan. Dalam kebutuhan Pangan, terdapat berbagai variasi untuk memenuhi keinginan atas selera makanan dari kebutuhan pokok manusia ter but, diantaranya adalah makanan khas Jawa. Berdasarkan hasil interview dan observasi, penulis memilih makanan Jawa karena di Bandung belum ada cafe yang menjual makanan Jawa dan memiliki tempat nyaman yang berkonsep modern Jawa. Berdasarkan interview terhadap 20 mahasiswa UNPAD Ekstensi Fikom, 18 orang menyukai menu yang telah ditawarkan Java Blend dan dari 20 orang mahasiswa ITB yang diinterview, 17 orang menyukai menu yang ditawarkan Java Blend. Estimasi terhadap jumlah mahasiswa yang tinggal di Tubagus Ismail adalah 700 orang, berarti 90%nya adalah 630 orang yang akan suka dan memberi tanggapan positif terhadap Java Blend Cafe. Manusia selain mencari makanan yang enak, mereka juga mencari tempat yang nyaman dalam menikmati hidangan yang mereka makan. Di era sekarang ini, manusia gemar untuk mengunjungi cafe-cafe yang selain bisa untuk makan enak, juga bisa digunakan untuk tempat bersantai dan saling mengobrol dengan kerabat mereka atau biasa disebut "nongkrong", dan banyak cafe-cafe yang bersaing untuk menarik kepercayaan dan mencari pembeli sebanyak-banyaknya. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Java Blend akan hadir di Jalan Raya Tubagus Ismail Raya No 2G sebagai cafe yang menyuguhkan berbagai makanan khas Jawa dan memiliki tempat yang nyaman dan dan berkonsep Jawa Modern. Mayarakat yang tinggal di Bandung, terutama daerah sekitar Tubagus Ismail dan Jalan Raya Dago akan bisa menikmati suguhan-suguhan ala Jawa dari Java Blend Cafe. Makanan spesial yang dijual oleh cafe cafe yang bernama Java Blend ini adalah Es Podeng, Es Dingin-dingin Empuk, Java Blend Sandwich, Sate Ponorogo, dan Angsle. Selain dapat menikmati suguhan hidangan, masyarakat juga akan bisa menikmati suasana dan kenyamanan tempat yang disuguhkan Java Blend. Dengan diiringi musik dari komputer dan juga sofa yang empuk dan nyaman, masyarakat dijamin akan nyaman dan merasa puas untuk selalu datang ke Java Blend Cafe. Dengan modal investasi awal Rp 143,282,400.00, Java Blend memiliki Market Size sebesar Rp 1,915,100 yang berasal dari Menu Siang sebesar Rp 783,200 dan Menu Malam sebesar Rp 1,131,900. Java Blend Cafe menawarkan IRR sebesar 37.59%, payback period delapan bukan dan NPV sebesar Rp 153,989,083 pada tahun ke 2.
SERVICESCAPE MANAGEMENT ANALYSIS OF AUTO CARE CENTER 2
Dengan banyaknya pertumbuhan bisnis jasa salon mobil di kota Bandung salah satu penyebabnya adalah bertambahnya jumlah kendaraan yang ada di kota ini, dalam radius 5 km diperkirakan telah terdapat tempat salon mobil sebanyak 10-20 tempat, dengan berkembangnya bisnis ini maka timbullah persaingan. Salah satu hal yang ikut mempengaruhi ketahanan hidup sebuah industri jasa cuci mobil adalah bagaimana pelayanan di tempat salon mobil tersebut mampu memuaskan pelanggannya. Begitu pula dengan industri jasa salon mobil Auto Care Center 2 memiliki tujuan tercapainya kualitas pelayanan yang menjadi kebutuhan dan harapan pelanggan. Masalah-masalah penelitian adalah lokasi salon mobil Auto Car Centre 2 Bandung berada di tempat yang tidak banyak dilalui oleh kendaraan dibanding lokasi jalan Tubagus Ismail Raya dan jalan Dago; masih terbatasnya pengetahuan konsumen akibat periklanan yang dilakukan oleh manajemen salon mobil Auto Car Centre 2 Bandung masih terbatas; dan masih belum maksimalnya pengelolaan, desain dan lengkapnya dari servicescape/servicescape management pada car salon Auto Care Centre 2 Bandung. Berdasarkan hal tersebut maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana servicescape yang dilaksanakan oleh salon mobil Auto Care Center 2 Bandung mampu memenuhi harapan para pelanggannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: upaya meningkatkan jumlah pemilik kendaraan mobil untuk mengunjungi car salon Auto Care Center 2 Bandung melalui servicescape/servicescape management; pelayanan car salon Auto Care Center 2 Bandung berupa servicescape yang diinginkan oleh konsumen sehingga dapat memberikan kepuasan, dan konsep dan desain servicescape / servicescape management yang memiliki keunikan atau karakteristik seperti apa yang diinginkan oleh konsumen dari car salon Auto Care Center 2 Bandung agar dapat memberikan kepuasan. Proses penelitian menggunakan metode penelitian empiris, yang dibagi menjadi dua kategori: Metode Eksplorasi (penelitian ini dilakukan karena masalah belum jelas), dan Metode Deskriptif. Berdasarkan rekomendasi bahwa penulis memberikan konsep dan desain servicescape / servicescape manajemen yang telah disesuaikan dengan keinginan konsumen, diharapkan memberikan kepuasan kepada konsumen, dan diharapkan memiliki keunikan yang mudah diingat dan membedakan dengan salon mobil yang lain, dan dapat meningkatkan jumlah pelanggan, baik yang tinggal di daerah ddekat dengan salon mobil Auto Care Center Bandung 2 pada khususnya, dan di daerah kota Bandung pada umumnya. Interior masa depan dari car salon Auto Care Center 2 mobil yang penulis disarankan, tentu saja, berdasarkan analisis penulis ya telah disesuaikan dengan servicescape tambahan di masa depan sesuai dengan Mirapan konsumen, seperti adanya lounge internet, kafe, spa, dan ruang tunggu nyaman, dan sesuai dengan konsep atau keunikan yang diinginkan konsumen terhadap konsep "one stop shopping yang akan dimiliki oleh car salon Auto Care Center 2 di masa depan. Kata Kunci-Servicescape, Manajemen tata ruang usaha, Salon Mobil
HIBRIDISASI MATERIAL EMAS MESOPORI DENGAN METAL ORGANIC FRAMEWORKS PADA DETEKSI SURFACE-ENHANCED RAMAN SCATTERING TERHADAP KONTAMINAN CHLORINATED AROMATIC HYDROCARBONS
Deteksi selektif hidrokarbon aromatik terklorinasi (chlorinated aromatic hydrocarbons/CAHs) dalam sampel lingkungan tetap menjadi tantangan besar akibat interferensi matriks yang kompleks. Disertasi ini menyajikan pengembangan sebuah sensor surface-enhanced Raman spectroscopy/SERS yang mengintegrasikan film emas mesopori (mAu) dengan lapisan selektif metal-organic framework/MOF UiO-66-I untuk mendeteksi CAHs secara sangat sensitif dan selektif. Substrat plasmonik dibentuk melalui elektrodeposisi prekursor emas (HAuCl?) bersama misel blok kopolimer polystyrene-block-poly(ethylene oxide) (PS18,000-b-PEO7,500) pada elektroda Au/Si. Analisis statistik spasial terhadap morfologi film menggunakan pair-correlation function, g(r), dan number variance, ?2(R) mengungkap bahwa susunan pori-pori pada film mAu bersifat hiperuniform tipe III yang tak-teratur (disordered hyperuniform). Sistem ini menampilkan korelasi jarak-jauh yang meningkatkan kopling cahaya datang dengan plasmon permukaan, sementara ketakteraturan jarak-dekat menghasilkan lokalisasi medan elektromagnetik (EM) yang intens, yang dikenal sebagai "hotspot". Simulasi elektromagnetik dan analisis distribusi Weibull mengonfirmasi bahwa morfologi hiperuniform ini menempati "zona Goldilocks", menghasilkan kerapatan hotspot yang tinggi dan reproduksibilitas yang lebih baik dibandingkan susunan acak (random non-overlapping/RNO) maupun yang teratur sempurna (square array/SQ). Fungsi selektifitas dicapai dengan melapisi film mAu menggunakan MOF UiO-66-I yang mengandung ligan tereftalat dan 2-iodotereftalat melalui metode vapor-assisted conversion/VAC. Lapisan MOF ini memainkan peran ganda yang krusial: 1. Perekrutan molekul target secara selektif: Gugus iodin pada ligan MOF membentuk ikatan halogen (HaB) yang reversibel dan spesifik dengan atom klorin pada CAHs. Hal ini memungkinkan perekrutan dan pelekatan molekul target (seperti 1,4-diklorobenzena/DCB dan 4-klorobifenil/BiCl) dari lingkungan yang kompleks langsung ke dalam hotspot SERS, sekaligus menolak interferen umum seperti protein (BSA), hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAHs), dan ion-ion anorganik. 2. Peningkatan kopling cahaya: Lapisan UiO-66-I memiliki indeks refraksi yang relatif tinggi (n ~ 1.468 pada ? = 785 nm). Lapisan ini berfungsi sebagai lapisan pemerangkap optik yang meningkatkan kopling cahaya dengan struktur mAu di bawahnya, mengurangi reflektansi secara signifikan (~82% dibandingkan film Au datar). Simulasi EM lebih lanjut menunjukkan bahwa lapisan MOF dengan ketebalan optimal memfasilitasi pembentukan vorteks energi (aliran vektor Poynting) yang mengangkat dan memusatkan medan EM ke dalam lapisan MOF, tepat di lokasi molekul target teradsorpsi. Ketebalan lapisan MOF (tMOF) dioptimasi secara eksperimental dan teoretis. Hasil menunjukkan bahwa lapisan dengan ketebalan 77 nm menghasilkan sinyal SERS tertinggi, memberikan peningkatan intensitas 6 kali lipat dibandingkan film mAu yang tidak dilapisi. Sensor hibrida mAu@UiO-66-I ini menunjukkan kinerja deteksi yang luar biasa dengan performa: • Sensitifitas tinggi: Batas deteksi (limit of detection/LoD) untuk DCB dan BiCl mencapai di bawah 1 × 10-10 M, dimana beberapa orde magnitudo lebih rendah dari batas ambang kesehatan US EPA untuk DCB dalam air minum (5 × 10-7 M). • Selektifitas unggul: Sensor mempertahankan sinyal CAHs yang kuat dan jelas dalam matriks kompleks, termasuk campuran dengan BSA, naftalena, serta sampel referensi air tanah (ERM-CA616) dan air laut (G0154), tanpa adanya puncak interferensi yang signifikan. • Kemampuan penggunaan ulang: Berkat sifat reversibel dari ikatan halogen, sensor dapat diregenerasi melalui pencucian dengan etanol dan mempertahankan kinerjanya hingga beberapa siklus adsorpsi-desorpsi. • Reproduktibilitas baik: Analisis statistik pada peta Raman konfokal menunjukkan deviasi standar relatif (RSD) point-to-point sebesar 13,4%, sample-to-sample sebesar 15,2% dan substrate-to-substrate sebesar 17,8%, mengindikasikan uniformitas sinyal yang sangat baik untuk substrat SERS selektif. Keseluruhan hasil penelitian membuktikan bahwa strategi hibridisasi antara material plasmonik hiperuniform dan kimia retikular MOF berhasil menciptakan platform deteksi yang kuat. Pendekatan ini secara simultan mengonsentrasikan baik molekul target (melalui HaB) maupun energi cahaya (melalui pemerangkapan optik dan formasi hotspot) pada lokasi yang sama, sehingga mencapai sensitivitas dan selektifitas tertinggi untuk deteksi polutan lingkungan yang spesifik dalam matriks sesungguhnya. Disertasi ini tidak hanya menyajikan sebuah sensor yang efektif tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan platform SERS generasi berikutnya untuk berbagai aplikasi diagnostik dan lingkungan.
PANDUAN PERANCANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI RW 004 KELURAHAN KAMPUNG MELAYU, KECAMATAN JATINEGARA, KOTA JAKARTA TIMUR DENGAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN (WSUD)
Kawasan permukiman di RW 004 Kelurahan Kampung Melayu merupakan salah satu wilayah di Jakarta Timur yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana banjir akibat kedekatannya dengan Sungai Ciliwung, tingginya kepadatan penduduk, serta terbatasnya ruang terbuka hijau. Kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya daya resap tanah dan belum optimalnya sistem pengelolaan air perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan panduan perancangan kawasan permukiman berbasis konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD) sebagai pendekatan adaptif dalam mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang didukung oleh observasi lapangan, survei persepsi dan preferensi masyarakat, studi literatur, serta metode benchmarking terhadap preseden penerapan WSUD. Analisis dilakukan melalui identifikasi kondisi eksisting, analisis persepsi dan preferensi masyarakat, serta gap analysis untuk membandingkan kondisi aktual dengan kondisi ideal berbasis prinsip WSUD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan WSUD di kawasan studi dapat diarahkan melalui pengembangan komponen perancangan yang mencakup bangunan adaptif terhadap banjir, sistem jaringan jalan dengan perkerasan berpori, optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai elemen resapan dan retensi, serta penguatan fungsi sempadan sungai sebagai koridor biru-hijau yang multifungsi. Selain itu, integrasi sistem drainase alami, pemanfaatan air hujan, serta peningkatan konektivitas jalur evakuasi menjadi aspek penting dalam mendukung ketahanan kawasan terhadap banjir. Penelitian ini menghasilkan panduan perancangan yang bersifat kontekstual dan aplikatif pada skala permukiman padat di kawasan rawan banjir perkotaan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan konsep perancangan berbasis siklus air serta menjadi referensi bagi perencanaan kawasan yang lebih berkelanjutan, resilien, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
PEMODELAN RISIKO POLUSI UDARA TERHADAP KESEHATAN SECARA SPASIAL DENGAN PENYESUAIAN KURVA KERENTANAN
Polusi udara dapat membahayakan kesehatan manusia dan menyebabkan sekitar 4,2 juta kematian setiap tahunnya. Untuk meminimalisir dampaknya, sangat penting untuk melakukan pemodelan risiko polusi udara secara spasial. Studi ini bertujuan untuk memodelkan risiko polusi udara secara spasial menggunakan kurva kerentanan. Penelitian ini mempertimbangkan tiga parameter utama: bahaya, kerentanan, dan paparan, sesuai dengan standar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Bahaya polusi udara dihitung dengan mengintegrasikan data dari stasiun lapangan global dan pengamatan satelit, dengan mempertimbangkan sumber polutan, kondisi meteorologi, dan faktor lingkungan. Parameter kerentanan dianalisis menggunakan kurva kerentanan yang memperhitungkan intensitas bahaya dan dampak polusi udara, khususnya tingkat kematian yang disebabkan oleh polusi udara. Parameter paparan melibatkan distribusi populasi manusia di berbagai wilayah. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola dan karakteristik distribusi risiko polusi udara secara global dengan lebih akurat. Wawasan ini penting untuk mengembangkan sistem mitigasi multi-polutan udara yang efektif. Studi ini menunjukkan bahwa Asia dan Afrika memiliki risiko polusi udara tertinggi, dengan distribusi polusi udara tertinggi berada di Bangladesh, India, Pakistan, Rwanda, dan China, dengan indeks polusi masing-masing 0,554, 0,422, 0,415, 0,322, dan 0,303. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan publik terhadap risiko polusi udara, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
DEVISING A MARKETING STRATEGY BY MEASURING SHOPPINGMOTIVATION, CHANNEL ANALYSIS, AND EXTERNAL INFLUENCES, ACASE OF KEBAYA FOR YOUNG WOMEN
Kebaya is a traditional blouse-dress combination that becomes the national costume of Indonesian women. Until 1990, Indonesian kebaya was made only by cotton and silk which has monotone and unattractive design for women in that era. Until the huge turn over point happened. In the middle of 1990s, Edward Hutabarat and Ghes Panggabean launched the innovation of kebays with more modern design, and contained the value of immediacy and luxury. It is called Kebaya Modification, Since that time, kebaya became popular again and the trend is upgrading mory and more. One of company that provides kebaya is Jaka Hong. Established in 1983, they sell kebayas through their store in Tanah Abang. The majority of their customer came from middle aged women and adult women. However, a circulation of customer is needed by every company to gain sales growth is the long term. If Jaka Hong could attract more youth customer, they could grab customer's loyalty since their youth age. So in the future, these women will trust Jaka Hong as their kebaya provider. Therefore, the goal of this final project is to collect the understanding of young women market segment for Jaka Hong. The understanding covers: knowing the young women's shopping motivation and their desired total consumption experience, the analysis of effective channel for them, their external influence factors in buying kebaya, and their favorite type of kebaya. Hopefully, the results will lead to the creation of effective marketing strategies in approaching this market segment. This research measures similar 24 statements of shopping motivation with Kim studies (2006). These statements include Arnold and Reynolds's (2003) 18 hedonic shopping degrees and Babin et al's 6 utilitarian shopping degrees. At the end, factor analysis is used to find young women's desired sotal consumption experience. Based on Yous-Kyung Kim and Pauline Sullivan's book, Experiential Retailing (2007), hedonic and utilitarian shopping motivation are not mutually exclusive. So, customer's desired total consumption experience could come from the varied shopping motivation degrees. As the theoretical foundation, Kevin McCornak's theory about Channel Analysis (2007) and Paul Christ's theory about External Influence Factors (2008) are used. The history and information about kebaya this research came from several sources such as interview, internet, and magazine. This research quantitative method. Two types of questionnaire spread to young women aged 20-29 years old in Jakarta and Bandung. The first one contains shopping motivations questions while the second one contaim questions of channel analysis, external influence factors, and favorite type of kebaya The result of this research identifies seven variations of shopping motivation degrees: "Adventure and Gratification Shopping", "Value Shopping", "Role Shopping", "Social Shopping", "Idca Shopping", "Achievement", and "Efficiency". With the mapping scoring method, "Role Shopping and "Achievement" got the highest score. However, there are no significant differences with the other variations. From the channel analysis, it is found that young women choose internet, magazine, and malls for their information source. For the purchase channel, they usually use internet, traditional store, and malls. Their kebaya purchase decision was influenced by family, friends, magazine, and imeret, and direct experience in Malis and kebaya Boutiques. Kebaya with brocade material, ribbon embroidery ornament, and songket sarong become young women's favorite. The insignificant difference between variations of degrees lead to a conclusion that all of the shopping motivation have to be served. Channel analysis result also states that several channels are effective to approach young women. In buying kebaya they also influenced in several external factors. Therefore, the recommended marketing strategy for Jaka Hong is divided into short term, mid-term, and long term. Key Words: Kebaya, Marketing. Total Consumption Experience, Shopping Afativation, Channel Analysis
PERANCANGAN USULAN INTERVENSI PERILAKU MENGEMUDI DI ATAS BATAS KECEPATAN JALAN TOL MELALUI PENDEKATAN PEMODELAN DAN SIMULASI MENGEMUDI
Pengembangan infrastruktur jalan tol di Indonesia mengalami peningkatan pesat sejak tahun 2015. Namun, pertumbuhan tersebut diiringi dengan tingginya angka kecelakaan dan fatalitas, di mana sekitar 42,9% kecelakaan di jalan tol dikaitkan dengan perilaku mengemudi di atas batas kecepatan. Secara umum, kecelakaan lalu lintas di jalan tol dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu faktor lingkungan, kendaraan, dan pengemudi—di mana faktor pengemudi menyumbang sekitar 85% dari keseluruhan kasus. Meski penelitian mengenai perilaku mengemudi telah banyak dilakukan, studi yang mengintegrasikan pemodelan perilaku dan pengujian eksperimental untuk memahami perilaku mengemudi di atas batas kecepatan, khususnya melalui simulator mengemudi dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan di jalan tol Indonesia dengan menekankan peran faktor psikologis individual, serta mengevaluasi peran perspektif waktu masa depan dalam memengaruhi perilaku tersebut secara eksperimental, sebagai dasar perancangan intervensi perilaku yang berbasis bukti empiris. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap pertama berfokus pada pengembangan model perilaku berdasarkan integrasi Theory of Planned Behavior (TPB), Theory of Normative Social Behavior (TNSB), Zimbardo Time Perspective Inventory (ZTPI-18), dan Big Five Inventory (BFI-10). Model ini diuji melalui survei kepada pengemudi yang memiliki pengalaman berkendara di jalan tol. Hasil analisis tahap pertama berhasil mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan yang mempengaruhi kecenderungan melanggar batas kecepatan, dengan perspektif waktu masa depan (Future Time Perspective/FTP) menunjukkan peran prediktif yang menonjol. Tahap kedua dilakukan melalui eksperimen menggunakan simulator mengemudi berbasis komputer untuk menguji secara kausal perbedaan perilaku mengemudi antara pengemudi dengan FTP tinggi dan FTP rendah dalam lingkungan jalan tol virtual. Data yang dikumpulkan mencakup kecepatan rata-rata, frekuensi, dan durasi mengemudi di atas batas kecepatan, aktivitas gelombang otak beta dan gamma, variabilitas denyut jantung (Heart Rate Variability/HRV), serta persepsi beban kerja mental menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa partisipan dengan FTP rendah cenderung mengemudi lebih cepat, lebih sering mengemudi di atas batas kecepatan, dan melaporkan beban kerja mental yang lebih tinggi dibandingkan partisipan dengan FTP tinggi, disertai perbedaan respons fisiologis dan kognitif yang konsisten. Temuan dari Penelitian Tahap I dan Tahap II tersebut selanjutnya diintegrasikan untuk merumuskan rancangan intervensi perilaku yang menargetkan determinan perilaku utama yang teridentifikasi secara empiris. Rancangan intervensi disusun menggunakan kerangka Behaviour Change Wheel (BCW) dengan memetakan determinan perilaku ke fungsi intervensi dan Behavior Change Techniques (BCT), yang kemudian ditranslasikan ke dalam elemen pesan dan media intervensi yang sesuai dengan konteks mengemudi. Secara keseluruhan, penelitian ini telah menghasilkan model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan yang terintegrasi secara teoretis dan tervalidasi secara eksperimental, serta mengembangkan rancangan intervensi perilaku yang diturunkan secara sistematis dari temuan empiris tersebut. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkuat peran perspektif waktu dalam perilaku mengemudi berisiko, serta kontribusi praktis sebagai dasar pengembangan intervensi keselamatan jalan tol yang lebih terarah dan kontekstual di Indonesia.
SPATIAL EQUITY PENYEDIAAN TAMAN PUBLIK BERBASIS ANALISIS SUPPLY-DEMAND DAN AKSESIBILITAS DI KOTA BANDUNG
Ketersediaan dan aksesibilitas ruang terbuka hijau (RTH), khususnya taman sebagai ruang publik, merupakan aspek penting dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, distribusi taman di kawasan perkotaan masih sering tidak sesuai dengan distribusi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat spatial equity layanan taman di Kota Bandung melalui integrasi analisis ketersediaan taman (supply), distribusi penduduk (demand), dan aksesibilitas berbasis jaringan (accessibility). Penelitian menggunakan pendekatan urban analytics berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data taman diperoleh melalui kurasi RDTR Kota Bandung dengan fokus pada taman kota, taman kecamatan, dan taman kelurahan. Analisis demand dilakukan menggunakan pendekatan dasymetric mapping berbasis bangunan pada grid heksagonal, sedangkan analisis aksesibilitas dilakukan menggunakan metode service area berbasis jaringan jalan dengan skenario waktu tempuh 5, 10, dan 15 menit. Tingkat spatial equity dianalisis menggunakan indikator green space service coverage rate (C), green space recreation opportunity index (R), dan regional evenness (Skor G). Metode location-allocation digunakan dalam menentukan lokasi prioritas pengembangan taman. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa distribusi taman di Kota Bandung masih menunjukkan ketimpangan, terutama pada kawasan permukiman padat di luar pusat kota. Sebagian besar wilayah berada pada kategori kemerataan rendah hingga sangat rendah, khususnya skenario 5 menit berjalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan konvensional berbasis jumlah penduduk administratif seperti SNI dan Permen PU belum mampu merepresentasikan kebutuhan layanan taman secara aktual. Dengan demikian, pendekatan berbasis spatial equity dan real demand lebih efektif dalam mendukung perencanaan taman yang lebih adil dan berbasis kebutuhan masyarakat.
TINGKAT KENYAMANAN BERLARI KORIDOR JALAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN INDIKATOR RUNNABILITY
Tren pertumbuhan pelari terus meningkat di Indonesia dan populer di area perkotaan, salah satunya di Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa koridor jalan bukan hanya sebagai jalur mobilitas, tetapi juga sebagai elemen ruang publik yang berperan sebagai wadah aktivitas fisik dan rekreasi. Namun, tren pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan kualitas koridor yang memadai untuk berlari. Kebutuhan pelari berbeda dengan pejalan kaki sehingga tingkat kenyamanan berlari atau runnability menjadi lebih rinci daripada walkability. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas koridor jalan di Kota Bandung berdasarkan indikator runnability yang divalidasi dengan persepsi pelari Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan jenis eksploratif pada lokasi penelitian Kota Bandung, yang dilakukan dengan pendekatan spasial dengan skala segmen jalan 50 m. Penelitian ini diawali dengan menentukan indikator runnability melalui tinjauan literatur. Kandidat indikator tersebut dinilai signifikansinya melalui kuesioner persepsi yang diberikan kepada 111 pelari Kota Bandung sehingga didapatkan 10 indikator paling signifikan menurut persepsi pelari di Kota Bandung. Selanjutnya untuk menentukan tingkat kenyamanan tiap segmen jalan akan diidentifikasi berdasarkan indikator runnability persepsi pelari secara spasial. Penelitian ini menggunakan data sekunder untuk menganalisis setiap indikator, termasuk penggunaan data street view imagery (SVI) untuk melihat perspektif objektif dan subjektif. Juga dilakukan evaluasi perbandingan terhadap intensitas penggunaan koridor dari strava run heatmap. Rekomendasi intervensi didapatkan dari matriks perbandingan runnability dengan run heatmap, yang terbagi menjadi lima intervensi, yakni prioritas peningkatan, peningkatan kualitas, dipertahankan, ditingkatkan bertahap, dan tidak diintervensi. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 56% segmen jalan yang perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan kualitas koridor lari di Kota Bandung. Diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran runnability di Kota Bandung serta menjadi landasan peningkatan kualitas koridor jalan untuk mewujudkan kota yang lebih ramah pelari
ANALISIS KEADILAN SPASIAL PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA BANDUNG BERBASIS INDEKS AKSESIBILITAS DAN DETEKSI CITRA SATELIT
Keadilan merupakan salah satu prinsip yang secara ideal mendasari praktik pembangunan perkotaan. Permukiman kumuh dengan karakteristik yang heterogen menjadi salah satu komponen kota yang relatif menerima ketidakadilan spasial secara masif, seperti keterbatasan akses masyarakat terhadap hunian layak, fasilitas dasar, hingga sumber daya perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keadilan spasial permukiman kumuh di Kota Bandung melalui Indeks Aksesibilitas Kumuh (IAK) dan deteksi citra satelit. Penelitian yang menggunakan pendekatan spasial-kuantitatif ini terdiri dari empat tahapan utama, yaitu identifikasi karakteristik permukiman kumuh, deteksi sebaran dan dinamika permukiman kumuh menggunakan object-based image analysis (OBIA), pengukuran tingkat keadilan spasial melalui Indeks Aksesibilitas Kumuh (IAK), dan penentuan prioritas penanganan melalui eksplorasi kawasan. Hasil komparasi citra Landsat 9, Sentinel-2A, dan Airbus Image menunjukan bahwa Sentinel-2A menjadi citra dengan performa terbaik, yaitu overall accuracy sebesar 81%, producer’s accuracy sebesar 73%, dan user’s accuracy sebesar 86,9%. Berdasarkan hasil deteksi, luas permukiman kumuh Kota Bandung menurun dari 516,91 hektare di 2017 menjadi 381,63 hektare pada 2023, dan diproyeksikan menjadi 110,63 hektare di 2042. Namun, penurunan ini tidak serta merta menunjukan bahwa masyarakat permukiman kumuh memiliki hidup yang lebih adil dan sejahtera. Nilai IAK permukiman kumuh Kota Bandung sebagai representasi tingkat keadilan spasial berada pada rentang 0,009 hingga 0,371 dengan rata-rata 0,198. Dibandingkan dengan permukiman formal, hanya 12 dari 140 permukiman kumuh yang memiliki nilai aksesibilitas lebih tinggi dibandingkan rata-rata sampel permukiman formal. Secara sebaran spasial, permukiman kumuh di bagian tengah kota cenderung memiliki nilai aksesibilitas yang lebih baik dibandingkan permukiman kumuh di pinggiran kota yang tidak hanya lebih rendah tetapi juga lebih resisten dalam hasil proyeksi. Pemahaman atas temuan kondisi keadilan spasial tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan penanganan permukiman kumuh yang berorientasi pada keadilan.
PERANCANGAN KAWASAN RIVERFRONT TOURISM VILLAGE DI DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Desa Cijambu di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi akibat keterbatasan infrastruktur dan minimnya lapangan pekerjaan. Padahal, desa ini memiliki potensi sumber daya alam strategis berupa aliran Sungai Cijambu yang belum teroptimalisasi secara fungsional maupun ekonomi. Sejalan dengan program prioritas nasional mengenai pengembangan desa wisata, penelitian ini bertujuan untuk merancang kawasan Riverfront Tourism Village di RW 07 Desa Cijambu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi eksploratif dan preskriptif. Pendekatan perancangan dilakukan secara fragmental dengan teknik division by aspect yang merujuk pada elemen perancangan perkotaan Shirvani (1985). Penelitian ini melakukan sintesis teori untuk merumuskan kriteria dan prinsip normatif yang diambil dari pedoman perancangan perkotaan, perancangan pedesaan, perancangan waterfront, dan perancangan kawasan pariwisata. Hasil sintesis menetapkan tujuh kriteria utama perancangan Riverfront Tourism Village, yaitu: connected, ecologically sustainable, heritage-based, accessible, socially inclusive, economically empowering, dan disaster-resilient. Hasil analisis kesenjangan (gap analysis) menunjukkan bahwa kondisi eksisting kawasan belum memenuhi kriteria Riverfront Tourism Village secara optimal. Sebagai respons, dirumuskan prinsip perancangan spesifik yang kontekstual terhadap potensi dan persoalan yang ada di kawasan, yang kemudian ditransformasikan ke dalam program ruang dan konsep desain. Hasil akhir perancangan ini menyajikan sebuah solusi yang mengintegrasikan penataan hunian, penyediaan infrastruktur pendukung, dan ruang-ruang aktivitas ekonomi. Desain ini diharapkan dapat menjadi landasan fisik dalam mengupayakan pelestarian budaya serta keberlanjutan lingkungan di Desa Cijambu.
SINTESIS SENSOR GLUKOSA BERBASIS POLIANILINA DENGAN METODE ONE-POT ELECTROPOLYMERISATION DALAM FLOW CELL
Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia, dengan lebih dari 20 juta penderita saat ini. Kebutuhan akan perangkat diagnostik yang cepat dan terjangkau mendorong pengembangan biosensor elektrokimia berbasis polimer konduktif sebagai solusi Point-of-Care Testing (POCT). Penelitian ini mengembangkan biosensor glukosa berbasis polianilina (PANI) pada screen-printed carbon electrode (SPCE) menggunakan pendekatan one-pot Electropolymerisation dalam sistem flow cell. Parameter elektropolimerisasi dioptimasi melalui metode chronoamperometry (CA), diikuti evaluasi tiga strategi imobilisasi enzim glukosa oksidase (GOx): PANI+GA+GOx, PANI/GA/GOx, dan PANI+GOx. Karakterisasi dilakukan menggunakan FTIR-ATR, SEM-EDX, cyclic voltammetry (CV), differential pulse voltammetry (DPV), dan chronoamperometry (CA). Kondisi optimum elektropolimerisasi dicapai pada konsentrasi anilin 10 mM dalam 0,1 M H?SO?, potensial +0,6 V, selama 10 menit. Sistem imobilisasi PANI+GA+GOx memiliki morfologi permukaan granular yang tersebar secara merata, serta terkonfirmasi terjadi peningkatan kandungan oksigen dari 14,63% menjadi 18,32% berdasarkan analisis EDX. Kondisi optimum flow cell diperoleh pada laju alir 20 ml/hr dan pH 4. Sistem PANI+GA+GOx dalam konfigurasi flow cell menghasilkan sensitivitas tertinggi sebesar 58,96 ?A·mM?¹·cm?² (DPV, 1–10 mM, R² = 0,921) dan LOD terendah 15,47 ?M (CA, 10–100 ?M, R² = 0,950). Selektivitas terhadap dopamin, asam askorbat, dan asam laktat dikonfirmasi dengan respons interferan yang sangat minimal. Penelitian ini membuktikan bahwa biosensor PANI melalui one-pot electropolymerisation dalam flow cell merupakan pendekatan yang efektif dan reprodusibel, berpotensi dikembangkan sebagai perangkat POCT ekonomis untuk pemantauan diabetes di fasilitas kesehatan primer.
PENGENDALIAN STRUKTUR DAN MORFOLOGI PADA KATODE LINI0,5MN1,5O4 UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA ELEKTROKIMIA BATERAI ION LITIUM
Baterai ion litium merupakan salah satu teknologi penyimpanan energi yang penting dalam mendukung kebutuhan energi modern, khususnya untuk aplikasi perangkat elektronik portabel dan kendaraan listrik. Peningkatan kebutuhan akan densitas energi yang lebih tinggi mendorong pengembangan material katode dengan performa lebih baik. Namun, katode komersial berbasis Li[NixCoyMn1?x?y]O2 (NCM) dan Li[NixCoyAl1?x?y]O2 (NCA) masih bergantung pada unsur kobalt yang mahal dan terbatas. LiNi0,5Mn1,5O4 (LNMO) merupakan salah satu kandidat katode bebas kobalt yang menjanjikan karena memiliki tegangan kerja tinggi sekitar 4,7 V (vs. Li/Li+), kapasitas teoritis sekitar 147 mAh g-1, dan jalur difusi ion Li+ tiga dimensi yang mendukung kinerja fast charging. Namun, implementasi katode LNMO dalam aplikasi komersial masih menghadapi tantangan, terutama terkait stabilitas siklus yang rendah akibat efek Jahn-Teller yang berasal dari keberadaan Mn3+, pelarutan logam transisi, dan reaksi antarmuka elektrode-elektrolit pada tegangan tinggi. Kinerja elektrokimia sangat bergantung pada morfologi dan struktur kristalnya. Partikel berukuran nano dapat memperpendek jalur difusi ion litium sehingga meningkatkan performa laju, tetapi cenderung mempercepat reaksi samping dengan elektrolit. Sedangkan partikel berukuran mikrometer dapat meningkatkan stabilitas antarmuka, namun memiliki keterbatasan pada transport ion. Pendekatan morfologi hierarkis menjadi strategi efektif karena partikel primer yang berukuran nano dapat mempercepat difusi ion Li,sementara agregasi partikel sekunder meningkatkan densitas volumetrik dan stabilitas struktur. Di sisi lain, struktur kristal LNMO terdiri dari fasa ordered (teratur, P4332) dan fasa disordered (tidak teratur, Fd-3m). Fasa disordered umumnya lebih menguntungkan karena dapat meningkatkan konduktivitas elektronik dan difusi ion litium. Namun, peningkatan Mn3+ dapat menyebabkan reaksi disproporsionasi dan efek Jahn-Teller yang menurunkan stabilitas struktur. Pengendalian fasa ordered-disordered menjadi penting dalam optimasi kinerja LNMO. Dalam penelitian ini, peningkatan performa elektrokimia katode LNMO untuk aplikasi baterai ion litium dilakukan melalui modifikasi morfologi bulat hierarkis menggunakan metode kopresipitasi serta pengendalian fasa melalui variasi laju pendinginan selama proses perlakuan panas. Hasil karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) melaporkan bahwa seluruh sampel didominasi oleh struktur ii spinel LNMO dengan grup ruang Fd-3m. Terdapat impuritas rock-salt fasa LixNi1-xO yang berada pada puncak 2? = 37,83° dan 43,61° serta impuritas fasa Na0,7MnO2,05 pada 2? = 15,82°. Hasil Rietveld refinement mengonfirmasi bahwa seluruh sampel memiliki dominasi fasa disordered, dengan derajat disordered yang meningkat seiring peningkatan laju pendinginan. Analisis rasio intensitas puncak bidang (111)/(311) dan (311)/(400) LNMO-5 memiliki nilai tertinggi yang mengindikasikan struktur spinel semakin ideal dan stabilitas yang lebih baik. Hasil Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bahwa material LNMO yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki morfologi bulat hierarkis mikro-nano dengan ukuran partikel sekitar 1,4-2,8 ?m. Semakin lambat laju pendinginan menghasilkan ukuran partikel yang lebih besar. Hasil pengujian Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) menunjukkan bahwa LNMO-5 memiliki resistansi transfer muatan (RCT) terendah yang mengindikasikan kinetika elektrokimia yang paling baik. Pengujian charge-discharge pada densitas arus 0,1 C menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki struktur Fd-3m yang ditandai dengan adanya redoks Mn3+/Mn4+ dan pemisahan plateau redoks Ni2+/Ni3+ dan Ni3+/Ni4+. Kontribusi aktif redoks Mn menunjukkan peningkatan seiring meningkatnya laju pendinginan. Peningkatan ini mengindikasikan bertambahnya kandungan Mn3+ dalam struktur yang berkorelasi dengan meningkatnya derajat struktur disordered. LNMO-5 memiliki kapasitas spesifik (117,99 mAh g-1) dan efisiensi Coulombic (94,66%) tertinggi daripada LNMO-3 dan LNMO-7. Selain itu, LNMO-5 performa rate capability tertinggi, serta stabilitas terbaik yang mampu mempertahankan 98,20% kapasitas setelah 200 siklus. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi optimal antara derajat fasa disordered yang terkontrol dan morfologi hierarkis yang mampu mendukung transportasi ion, menurunkan resistansi dan meningkatkan stabilitas siklus LNMO.
JEJAK ALAMI (JELAMI) PUSPA MELATI PADA TENUN SUTERA SEBAGAI PAKAIAN UPACARA KENEGARAAN
Pakaian Nasional merupakan busana yang dikenakan oleh para tamu undangan, khususnya tamu perempuan, pada Upacara Kenegaraan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara Jakarta. Penggunaan Pakaian Nasional ini telah diatur dalam Tata pakaian Acara Kenegaraan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2010 dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2018. Merujuk undang-undang tersebut memungkinkan upaya dalam merancang alternatif Pakaian Nasional, berupa kain yang secara khusus menggunakan kain sutera ATBM dengan teknik Jejak Alami yang selanjutnya disebut teknik Jelami, yang secara umum dikenal sebagai teknik ecoprint (pada prosesnya terdapat pembedaan teknik ecoprint dengan teknik Jelami). Urgensi penelitian ini terletak pada eksplorasi perancangan berbasis eksperimen terapan teknik Jelami dengan objek identitas bangsa, yaitu puspa melati (Jasminum sambac) sebagai Bunga Nasional atau Puspa Bangsa, sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Metode penelitian yang digunakan meliputi eksperimen, kajian estetik, dan eksplorasi perancangan kualitatif. Inspirasi estetik diambil dari ronce melati serta warna sogan khas batik klasik, yang menghadirkan makna sakral, ritual, anggun, dan agung, selaras dengan filosofi Jawa, serta diperuntukkan bagi perempuan Indonesia, khususnya perempuan Jawa. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengeksplorasi teknik Jelami puspa melati pada kain sutera ATBM sebagai alternatif kain untuk Pakaian Nasional dalam Upacara Kenegaraan; dan (b) merumuskan konsep estetik Jelami puspa melati yang meliputi bentuk, warna, komposisi, dan penamaan yang mencerminkan karakter perempuan Indonesia, dengan rujukan pada karakter perempuan Jawa. Hasil penelitian menunjukan terciptanya kain bermotif puspa melati dengan teknik Jelami sebagai alternatif kain untuk Pakaian Nasional dalam Upacara Kenegaraan.
PERENCANAAN LANSKAP ENERGI: PENDEKATAN EKOLOGI LANSKAP DALAM MENDESAIN LANSKAP ENERGI BERKELANJUTAN
Indonesia, sebagai tuan rumah bagi beragam ekosistem, kini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim global. Pemanasan global telah merenggut keanekaragaman hayati, memberikan sinyal darurat bagi kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Dampak perubahan iklim global telah menjadi perhatian masyarakat negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki berbagai sumber daya alam dan keanekaragaman yang tinggi. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terkena dampak negatif perubahan iklim, dan sekaligus berpotensi besar untuk turut andil dalam melakukan mitigasi maupun adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim.. Target emisi nol bersih Indonesia perlu dilihat sebagai bagian dari transformasi yang diperlukan dalam upaya menjadi negara dengan ekonomi maju tahun 2045. Potensi besar PLTS di seluruh wilayah Indonesia juga tidak dapat termanfaatkan secara maksimal untuk menyediakan energi listrik yang berkualitas dan handal bagi masyarakat. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar menerima radiasi matahari. Pesisir Pantai Pangandaran selain memiliki potensi sumber daya matahari, wilayah ini memiliki potensi angin dan gelombang air laut yang cukup besar. Penelitian ini menggunakan metode campuran antara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif melibatkan analisis mendalam terhadap literatur yang berkaitan dengan perencanaan lanskap dan energi, sedangkan secara kuantitatif, dilakukan dengan menganalisis praktik perencanaan lanskap menggunakan pendekatan yang luas, seperti pemetaan area potensial, multikriteria dan perangkat GIS. Inventarisasi data dibagi ke dalam 3 kategori, fisik, biologi, dan budaya. Analisis kesesuaian dilakukan pada tahap pertama untuk dapat menentukan lokasi strategis yang dapat menampung pengembangan energi solar dan energi bayu dengan kriteria dan batasannya masing-masing. Lokasi yang paling strategis berada di Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, dikarenakan lokasi secara garis besar dari segi fisik memiliki area yang sangat landai, elevasi antara -3 sampai 22 meter di atas permukaan laut serta potensi solar dan angin yang tinggi. Analisis mitigasi bencana, analisis tapak, analisis dampak visual adalah analisis yang selanjutnya dilakukan untuk mengetahui penempatan setiap komponen lanskap energi tidak membuat penurunan nilai lanskap, selain itu hal ini dimaksudkan karena area perencanaan berada di daerah pesisir yang memiliki potensi tsunami. Perencanaan lanskap energi menghasilkan produk masterplan dengan konsep ”Ngadeuheus ka Niskala” yang mempertahankan ekosistem mosaik, yaitu tipe habitat air, vegetasi darat, lahan transisi, dan area buatan, dengan energi terbarukan yang menjadi bagian dari sistem lanskap.