📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL BIM INTERAKTIF UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT GEDUNG
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
TUBUH ANTROPOSEN: POETIC DYSTOPIA KEKARYAAN DENGAN METODE OTONOMI-HETERONOMI
Penelitian penciptaan ini berangkat dari persoalan pluralitas paradigma dalam seni rupa kontemporer yang tidak lagi dapat dipahami melalui satu pendekatan estetik maupun metodologis yang tunggal. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada tubuh manusia sebagai metafor paradoksal dalam era Antroposen: manusia sebagai pelaku sekaligus korban krisis ekologis global. Antroposen dipahami bukan sekadar sebagai isu lingkungan, melainkan sebagai kondisi yang mengubah relasi manusia dengan dunia, serta memengaruhi cara manusia merasakan, mempersepsi, dan membayangkan masa depan ekologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan practice-based research melalui metode otonomi–heteronomi, yaitu pendekatan yang mempertahankan ketegangan antara kebebasan eksplorasi estetik dengan keterhubungan karya terhadap konteks sosial ekologis. Metode tersebut dioperasikan melalui dua pendekatan yang saling berkaitan, yaitu research-led practice dan practice-led research. Tahap pertama dilakukan melalui kajian terhadap seni rupa kontemporer, Antroposen, teori afek, pengalaman estetik, serta representasi tubuh. Tahap kedua diwujudkan melalui praktik penciptaan karya yang mengeksplorasi tubuh, materialitas, ruang, cahaya, dan atmosfer visual melalui medium patung, instalasi, expanded painting, dan light box. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan otonomi–heteronomi memungkinkan karya menghadirkan pengalaman estetik yang bekerja melalui afek, persepsi, dan sensibilitas tubuh, alih-alih melalui penyampaian pesan ekologis yang bersifat langsung atau didaktik. Tubuh-tubuh yang rusak, ambigu, dan paradoksal dihadirkan melalui strategi puitik distopis yang membangun ketegangan antara daya tarik visual dan rasa genting, melahirkan pengalaman horror sublime dan uncanny yang bersifat reflektif namun tidak sepenuhnya stabil. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengalaman seni rupa kontemporer tidak dapat dijamin menghasilkan kesadaran ekologis publik secara linear maupun terukur, karena pengalaman pemirsa selalu dipengaruhi oleh kondisi persepsi, habitus visual, dan konteks sosial yang melingkupinya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan metode otonomi–heteronomi sebagai kerangka praktik penciptaan seni rupa kontemporer berbasis Antroposen, sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai ruang pengalaman estetik yang mempertahankan kompleksitas, ambiguitas, dan kerentanan krisis ekologis tanpa harus direduksi menjadi instrumen komunikasi moral maupun solusi sosial yang bersifat langsung.
EVALUASI ADOPSI TEKNOLOGI OTOMASI UNTUK OPTIMASI PRODUKSI: KERANGKA KEPUTUSAN STRATEGIS MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
Di tengah persaingan global yang ketat, sektor manufaktur di Indonesia mengadapi tekanan ketat dalam upaya meningkatkan produktivitas dan meminimalisir pemborosan operasional. PT Sepatu Kanan, perusahaan manufactur alas kaki di Indonesia dengan jumlah karyawan 28,000 dan kapasitas produksi 3.000 pasang sepatu per hari, mengahadapi tantangan tersebut secara nyata pada proses calendaring mixing, tahapan penting dalam pembuatan komponen outsole yang bertujuan untuk menjaga ketebalan pada komponen karet lembaran, secara persisten gagal dalam memenuhi standar target kinerja internal. Target internal dari tingkat pemborosan material dibawah 5%, sedangkan saat ini masih tercatatat sebesar 11,53%. Dengan target konsistensi kualitas diatas 90%, situasi saat ini konsistensis kualitas berada dikisaran antara 73% hingga 82%. Kesenjangan terhadap target kinerja tetap signifikan, meskipun uji coba otomasi percontohan pada Q1-Q2 2025 berhasil memperkecil variasi ketebalan dari +- 0,24mm menjadi +- 0,09mm. Permasalahan utama yang ditemukan dalam studi ini adalah tidak adanya kerangka pengambilan keputusan untuk mengevaluasi alternatif secara sistematis Pendekatan studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga kerangka analitik secara berurutan, dimulai dengan mengidetifikasi akar masalah menggunakan Kepner-Tregoe Problem Analysis, Value-Focused Thinking untuk menghasilkan solusi alternatif, dan mengevaluasi semua alternative dengan Analytical Hierarchy Process (AHP). Departemen Produksi, Quality Control, Automation, dan Top Level Management sebagai Subject Matter Expert memberikan Pairwise Comparison terhadap 6 kriteria sukses sudah disepakati sebelumnya. Hasil AHP menunjukan System Optimization (Alternatif 2) sebagai Solusi terbaik dengan skor 38,4%, unggul atas Advanced Automation (38%) dan Enhanced Manual Process (23,6%). Integrasi dari ketiga kerangka KT-VFT-AHP merupakan kontribusi utama dalam penelitian ini dan dapat diimplementasikan sebagai alat pengambilan keputusan untuk strategi adopsi teknologi di manufaktur, khususnya bagi perusahaan yang sedang menjalani transisi Industri 4.0 dengan sumber daya yang terbatas.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
DAMPAK SUHU DAN KELEMBAPAN RELATIF UDARA SERTA CURAH HUJAN PADA LUAS SERANGAN PENGGEREK BATANG PADI DI KABUPATEN LOMBOK BARAT, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas) merupakan salah satu hama utama yang dapat menurunkan produktivitas padi dan dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama suhu udara, kelembapan relatif, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh parameter iklim terhadap luas serangan penggerek batang padi di Kabupaten Lombok Barat, mengidentifikasi hubungan linear dan non-linear, pola temporal dan musiman, serta mengevaluasi kinerja model prediksi. Penelitian menggunakan data bulanan periode Januari 2023–Juli 2025 yang meliputi suhu udara, kelembapan relatif, curah hujan, dan luas serangan penggerek batang padi. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda (Ordinary Least Squares/OLS), Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average (SARIMA), Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average with Exogenous Variables (SARIMAX), dan Generalized Additive Model (GAM). Evaluasi model dilakukan melalui perbandingan hasil prediksi dengan data observasi menggunakan indikator Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan berpengaruh signifikan terhadap luas serangan penggerek batang padi dengan hubungan negatif, sedangkan suhu udara dan kelembapan relatif tidak berpengaruh signifikan pada regresi linear berganda. Analisis SARIMA menunjukkan adanya pola musiman tahunan, sementara GAM mengidentifikasi hubungan non-linear yang signifikan antara parameter iklim dan luas serangan. Berdasarkan evaluasi model, SARIMA memberikan performa prediksi terbaik dengan nilai RMSE 3,106 ha, MAE 3,870 ha, dan MAPE 56,850%, diikuti GAM (RMSE 3,626 ha; MAE 3,929 ha; MAPE 86,544%), sedangkan SARIMAX memiliki tingkat kesalahan tertinggi (RMSE 10,940 ha; MAE 14,673 ha; MAPE 278,188%). Dengan demikian, model SARIMA merupakan model yang paling sesuai untuk memprediksi luas serangan penggerek batang padi di Kabupaten Lombok Barat pada periode penelitian.
PREDIKSI RETURN SAHAM DAN PEMBENTUKAN PORTOFOLIO INDEKS LQ45 MENGGUNAKAN MODEL LSTM DAN BILSTM BERBASIS INDIKATOR TEKNIKAL DAN SENTIMEN BERITA
Pasar saham yang dinamis memberikan tantangan signifikan dalam memprediksi harga return saham untuk mendukung pembentukan portofolio. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi berbasis deep learning, yaitu Long Short-Term Memory (LSTM) dan Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM) yang mampu menangkap pola kompleks data deret waktu. Data yang digunakan mencakup harga penutupan harian 44 saham indeks LQ45 periode sebelum, saat, dan pasca-pandemi, di mana saham AADI diekslusi karena keterbatasan data historis. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa model univariat tidak dapat bekerja dengan baik karena menghasilkan prediksi serupa dengan ratarata. Perbaikan dilakukan melalui skenario multivariat dengan mengintegrasikan indikator teknikal, serta dilanjutkan dengan integrasi analisis sentimen berita untuk mengatasi ketidaklengkapan informasi pada saham-saham volatil seperti AMMN dan BREN. Model BiLSTM dengan integrasi sentimen terbukti menjadi model terbaik dengan rata-rata ???? 2 sebesar 0.9133 dan directional accuracy sebesar 96.43%. Hasil prediksi dari model terbaik ini berhasil diimplementasikan untuk membentuk rekomendasi portofolio masa depan, di mana diversifikasi terbukti mampu mereduksi volatilitas portofolio seiring dengan peningkatan jumlah aset (????), yaitu dari 0.02951 pada portofolio dengan 2 aset (???? = 2) menjadi 0.01532 pada portofolio dengan 10 aset (???? = 10). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membangun model prediksi berbasis LSTM dan BiLSTM yang mampu meningkatkan akurasi dalam kondisi pasar yang fluktuatif pasca-pandemi.
CIRCUIT BREAKER DENGAN ENFORCEMENT DI DATA PATH KERNEL PADA SERVICE MESH MENGGUNAKAN EBPF
Arsitektur microservice rentan terhadap partial failure dan amplifikasi antrean saat beban memuncak. Pada service mesh, pola circuit breaker (CB) lazim dipakai sebagai mekanisme fail-fast, namun sebagian besar pendekatan menempatkan deteksi dan enforcement CB di user space, sehingga keputusan CB baru berdampak setelah traffic menempuh seluruh lintasan pemrosesan proxy dan menambah latency serta overhead. Penelitian ini mengusulkan Kernel-Assisted Circuit Breaker (KA-CB), yaitu filter berbasis extended Berkeley Packet Filter (eBPF) yang memisahkan policy di user space dari enforcement yang dipindahkan ke tingkat kernel melalui hook XDP dan TC, sehingga memproses permintaan lebih dini dan bersifat melengkapi, bukan menggantikan, CB user space. Prototype dievaluasi pada service mesh berbasis Istio mengikuti Design Science Research Methodology (DSRM) melalui controlled experiment yang membandingkan Istio, Linkerd, dan Cilium sebagai baseline dengan Istio yang dipadukan KA-CB, pada skenario transient overload dan noisy neighbors dengan workload Online Boutique di Google Kubernetes Engine, masing-masing sepuluh run dan diuji secara non-parametrik disertai ukuran efek. Istio-kacb-hybrid mencatat latency terendah pada seluruh sel, dengan penurunan p95 sekitar 65-70% terhadap istio-baseline yang signifikan dan berukuran efek besar serta setidaknya setara dengan linkerd-baseline. Penggunaan CPU sidecar dan laju context switch turun sekitar 13-24% secara neto, dengan peningkatan memori kecil sekitar 4-5%. Keunggulan tersebut menyertai satu trade-off, yaitu success rate istio-kacb-hybrid merupakan yang terendah, sekitar 50-51% dibandingkan 65-82% pada ketiga baseline, sehingga perbaikan latency dibaca sebagai pertukaran antara latency dan ketersediaan layanan dan bukan perbaikan tanpa syarat. Kebaruan penelitian terletak pada relokasi enforcement CB ke data path kernel sementara policy tetap di user space, yang memperluas pola eBPF network function ke ranah operasi resiliensi.
PENGEMBANGAN WEARABLE BERBASIS FUSI SENSORINERSIA KARDIA UNTUK ANALISIS PERFORMA LARI
Pemantauan performa lari pada pelari rekreasional idealnya mengintegrasikan beban eksternal (external load), yang merepresentasikan usaha mekanik, dan beban internal (internal load), yang mencerminkan respons fisiologis, namun perangkat wearable komersial yang tersedia umumnya terfragmentasi dan bersifat tertutup (black box). Tugas Akhir ini merancang dan mengimplementasikan prototipe wearable berbasis dada (chest-mounted) terbuka yang memfusikan sensor inersia dan elektrokardiografi (EKG) untuk analisis performa dan kelelahan lari. Sistem dibangun pada mikrokontroler XIAO ESP32-C3 dengan sensor inersia LSM6DSO, barometer BMP388, dan modul EKG satu sadapan MAX30003, serta telemetri nirkabel berbasis MQTT menuju dashboard web. Parameter gait diekstraksi dari sinyal IMU, sedangkan running power diestimasi menggunakan model analitik berbasis fisika dengan kalibrasi empiris berbasis komponen aerodinamik, percepatan horizontal, elevasi, dan osilasi vertikal, kemudian difusikan dengan heart rate untuk menghitung efficiency index (EI) dan mengidentifikasi fenomena cardiac drift sebagai indikator relatif penurunan efisiensi fisiologis selama aktivitas lari berkepanjangan. Pengujian melibatkan enam subjek pada skenario indoor (treadmill 6, 8, dan 10 km/jam), outdoor, dan endurance, dengan acuan Stryd, Garmin Forerunner, dan sistem akuisisi BIOPAC. Heart rate dan cadence merupakan parameter paling andal dengan MAPE masing-masing sekitar 5% dan 6%, sedangkan estimasi kecepatan dan running power absolut masih bersifat moderat dengan MAPE masing-masing sekitar 15% dan 17%; validasi terhadap BIOPAC menunjukkan heart rate dan mean RR yang sangat mendekati acuan kelas laboratorium dengan MAPE sekitar 2%. Komponen daya elevasi (Pclimb) bekerja sesuai prinsip fisika, dan cardiac drift terdeteksi pada lima dari enam subjek serta selaras dengan persepsi kelelahan subjektif. Karena validasi terhadap BIOPAC dan Pclimb dilakukan pada satu subjek, kontribusi utama penelitian ini adalah demonstrasi feasibility kerangka sistem pemantauan performa lari yang terintegrasi dan bersifat white box, dengan akurasi parameter biomekanik absolut dan perluasan jumlah subjek validasi sebagai area pengembangan selanjutnya.
PENGARUH JENIS KEMASAN SEKUNDER PADA TRANSPORTASI DARAT TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN MUTU TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) SELAMA PENYIMPANAN
Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang mudah mengalami kerusakan selama proses transportasi dan penyimpanan akibat sifatnya yang mudah rusak dan sensitif terhadap tekanan mekanis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis kemasan sekunder pada transportasi darat terhadap karakteristik fisik dan mutu tomat selama penyimpanan suhu ruang, serta menentukan jenis kemasan yang paling efektif dalam mempertahankan kualitas tomat. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan empat perlakuan jenis kemasan, yaitu cardboard single wall, cardboard double wall, styrofoam, dan keranjang plastik, dengan enam ulangan. Tomat disimulasikan mengalami transportasi darat, kemudian disimpan pada suhu ruang selama delapan hari. Parameter yang diamati meliputi kekerasan, total padatan terlarut, total asam tertitrasi, rasio gula asam, susut bobot, warna (L* dan Hue°), kerusakan fisik, serta uji organoleptik (warna, tekstur, aroma, dan rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan sekunder berpengaruh terhadap perubahan karakteristik fisik dan mutu tomat selama penyimpanan. Kemasan styrofoam dan cardboard double wall mampu mempertahankan kekerasan buah, menekan susut bobot, serta menurunkan tingkat kerusakan fisik dibandingkan kemasan lainnya. Secara organoleptik, seluruh perlakuan masih berada pada kategori cukup disukai hingga disukai panelis, namun perbedaan kemasan mempengaruhi pola penerimaan panelis selama penyimpanan. Berdasarkan hasil tersebut, kemasan styrofoam dan cardboard double wall direkomendasikan sebagai kemasan sekunder yang paling efektif untuk mempertahankan mutu tomat selama transportasi darat dan penyimpanan suhu ruang.
PENGEMBANGAN KIT DETEKSI RISIKO DINI STUNTING DENGAN PENDEKATAN BIOMARKER BERBASIS MIKROBIOMA PADA SAMPEL FESES
Indonesia memiliki tingkat stunting yang masih tinggi yaitu sebesar 19,8% pada tahun 2024. Stunting disebabkan oleh malnutrisi kronis serta berdampak permanen apabila tidak ditangani pada periode 1000 hari pertama kehidupan. Namun, diagnosis stunting saat ini masih bergantung pada pengukuran antropometri yang mendeteksi ketika telah muncul manifestasi fisik. Berbagai studi menunjukkan bahwa disbiosis pada mikrobioma usus berperan dalam gangguan penyerapan nutrisi dan inflamasi kronis yang berkontribusi terhadap risiko malnutrisi kronis. Perubahan komposisi mikrobioma ini dapat terdeteksi sebelum gejala fisik muncul, sehingga berpotensi sebagai pendekatan strategis deteksi dini risiko stunting pada baduta. Dalam penelitian ini, dilakukan identifikasi bakteri kunci potensial yang berasosiasi dengan prevalensi stunting dari sampel feses dan mengembangkan metode prediksi risiko stunting berbasis mikrobioma saluran cerna dengan pendekatan machine learning. Penelitian ini melibatkan 117 sampel feses bayi berusia 0-24 bulan yang terdiri atas 33 sampel sehat dan 84 sampel prevalensi stunting dari Kabupaten Tasikmalaya. Komunitas mikrobioma dianalisis melalui metode Shotgun Metagenomic dengan Illumina NovaSeq 6000. Profil taksonomi diidentifikasi dan dikuantifikasi menggunakan database dan algoritma MetaPhlAn4. Perhitungan jumlah total bakteri dilakukan dengan menggunakan Quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) dengan primer gen 16s rRNA. Selanjutnya dilakukan analisis diversitas alfa, beta dan uji signifikansi PERMANOVA dan Mann-Whitney dengan menggunakan paket Vegan pada R. Identifikasi mikrobioma penanda dilakukan dengan analisis diferensial MaAslin2 menggunakan program R. Model prediksi risiko stunting dilatih menggunakan pendekatan regresi logistik dengan aplikasi GraphPad, kemudian dilakukan evaluasi terhadap model. Pengambilan informasi kuesioner juga dilakukan untuk eksplorasi hubungan kesehatan saluran cerna dan nutrisi terhadap kondisi kesehatan maupun profil mikrobioma. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mikrobioma pada populasi dipengaruhi oleh dominasi filum Firmicutes dan Bacteroidetes, serta kelompok usia secara signifikan (p-value = 0.004). Pemetaan gizi menunjukkan adanya pemisahan distribusi antara anak dengan prevalensi sehat dan stunting berdasarkan status pemberian ASI (komposisi asupan ASI). Hasil kuantifikasi gen 16S rRNA pada kelompok sehat terdeteksi log 10.83 kopi DNA/g dan stunting sebesar log 10.45 kopi DNA/g. Analisis indeks keanekaragaman alfa (indeks Shannon, indeks dominasi Simpson dan kemerataan Pielou) dan beta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Rasio Firmicutes terhadap Bacteroidetes pada kelompok sehat (~0.91) ditemukan lebih tinggi dibandingkan kelompok stunting (~0.76) namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (p-value = 0.38).Perbedaan yang signifikan ditemukan pada nilai kekayaan spesies pada kelompok stunting. Analisis diferensial menunjukkan prevalensi stunting berasosiasi signifikan (p-val < 0.05 ; q-val < 0.1) dengan peningkatan spesies bakteri Bacteroides fragilis, Veillonella dispar, Peptostreptococcus stomatis, dan Oliverpabstia intestinalis serta berkurangnya spesies Ruminococcus bromii, Lachnospira pectinoschiza, dan Vescimonas coprocola. Ketujuh spesies tersebut selanjutnya digunakan sebagai fitur prediktif bersama variabel usia dalam pembentukan model regresi logistik untuk mengestimasi probabilitas risiko stunting pada tingkat individu. Model yang dihasilkan menunjukkan performa prediksi yang baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,86, sensitivitas 0,8, dan spesifisitas 0,81 pada data pengujian. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi stunting berhubungan dengan peningkatan spesies bakteri oportunistik serta penurunan spesies komensl. Model prediksi dengan mengintegrasikan tujuh spesies penanda dan variabel usia melalui pendekatan regresi logistik menghasilkan model dengan nilai AUC, sensitivitas dan spesifisitas yang sangat baik, sehingga berpotensi sebagai metode deteksi dini risiko stunting. Penelitian lanjutan dengan validasi model pada populasi yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengurangi overfitting pada model.
MEMANFAATKAN AI DAN DATA ANALITIK DI INDUSTRI KEAMANAN UNTUK MENGURANGI PEMICU BIAYA DAN MEAN TIME TO RESPOND (MTTR) DI PT ARA DELVIN
Studi ini meneliti kinerja operasional PT ARA DELVIN di pasar yang semakin menuntut layanan keamanan yang lebih cepat, transparan, dan berbasis teknologi. Penelitian berfokus pada dua isu bisnis yang saling terkait: pemicu biaya (cost drivers) utama perusahaan dan Mean Time to Respond (MTTR). Meskipun PT ARA DELVIN memiliki posisi pasar yang kuat, operasinya masih sangat bergantung pada tenaga kerja, dan berbagai sistem pemantauan – alarm, CCTV, kontrol akses, dan sensor IoT – bersifat terfragmentasi dan tidak saling terhubung. Akibatnya, biaya operasional tinggi dan respons terhadap insiden lambat. MTTR saat ini rata-rata 32 hingga 37 menit, sedangkan target internal adalah 17 menit. Pemicu biaya utama yang teridentifikasi meliputi ketergantungan pada tenaga kerja, sistem multi-vendor yang terfragmentasi, koordinasi manual antara SROC dan tim lapangan, serta minimnya penggunaan analitik prediktif. Penelitian ini mengkaji bagaimana AI, IoT, dan analitik data dapat mengatasi pemicu biaya tersebut dan mengurangi MTTR. Studi ini merupakan studi kasus kualitatif eksploratif, dilengkapi lapisan kuantitatif menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menilai kesiapan pengguna, karena setiap implementasi sistem di organisasi padat tenaga kerja akan gagal tanpa kesiapan internal. Kerangka DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) digunakan untuk mendiagnosis secara sistematis pemicu biaya dan gap MTTR. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan manajemen dan staf operasional, focus group discussion, observasi lapangan, dan kuesioner terstruktur. Secara paralel, catatan insiden, laporan alarm, catatan MTTR, dan catatan pemeliharaan ditinjau untuk mengidentifikasi inefisiensi biaya. Empat isu utama muncul dari analisis: ketergantungan tinggi pada tenaga kerja yang menjadi pemicu biaya terbesar; sistem multi-vendor yang terfragmentasi sehingga sulit diintegrasikan; koordinasi manual antara SROC dan tim lapangan yang memperpanjang MTTR; dan minimnya penggunaan analitik prediktif sehingga operasi tetap reaktif. Solusi yang diusulkan berpusat pada satu platform terintegrasi yang menghubungkan sistem alarm, CCTV, sensor IoT, dan kontrol akses dalam satu dasbor, dengan pengiriman otomatis, peringatan real-time, dan pelaporan terintegrasi. Analitik prediktif memungkinkan perusahaan bertindak sebelum insiden meningkat. Dampak yang diharapkan bersifat ganda: penurunan pemicu biaya operasional utama (ketergantungan tenaga kerja yang lebih rendah, biaya pemeliharaan sistem terfragmentasi yang berkurang, serta penurunan rework) dan perbaikan signifikan MTTR menuju target internal 17 menit.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENGAMANKAN PASOKAN SAF BERBASIS UCO UNTUK KEPATUHAN MANDAT NASIONAL DI PT PERTAMINA PATRA NIAGA
Dalam studi ini, isu bisnis yang dipertimbangkan melibatkan masalah pengambilan keputusan strategis yang dihadapi PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dalam memperoleh pasokan Minyak Jelantah (Used Cooking Oil/UCO) berkualitas yang memadai dan memenuhi persyaratan untuk produksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Pemerintah Indonesia memberlakukan aturan campuran SAF 1% pada tahun 2027 dan meningkatkannya menjadi 5% pada tahun 2029 sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 113.K/EK.05/MEM.E/2026. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) harus merumuskan strategi yang sesuai dengan aspek komersial dan hukum terkait rantai pasokan. Oleh karena itu, studi ini meneliti empat strategi alternatif: strategi 100% "Make" UCO, strategi 100% "Buy" UCO, strategi 100% "Make" SAF Domestik, dan strategi "Partially Buy” SAF. Penelitian ini menggunakan teknik multi-kriteria yang dikenal sebagai Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mengumpulkan data utama melalui interview semi-tersetruktur dan kuesioner AHP di antara anggota Dewan Direksi Subholding Downstream PPN. Hasil analisis AHP mengungkapkan bahwa prioritas eksekutif menekankan pada Objektif Bisnis (59.1%) khususnya menyeimbangkan kelayakan Komersial dengan Objective Kepatuhan (40.9%). Sehingga, 100% "Make" SAF Domestik menjadi strategi yang dipilih dalam studi ini (36,2%), didukung dengan strategi 100% "Beli" UCO (31,3%) untuk pengadaan bahan baku. Untuk mencegah potensi inefisiensi rantai pasokan, seperti kekurangan bahan baku atau bahan baku yang tidak tersertifikasi, penelitian ini mengusulkan pendekatan dalam menyediakan bahan baku yang dapat dilacak secara digital: membeli pasokan UCO dalam jumlah besar dari pihak ketiga dengan berkolaborasi dengan jaringan masyarakat dan melibatkan Badan Gizi Nasional dalam kerangka program MBG. Pada akhirnya, studi ini menyediakan alat bantu pengambilan keputusan berbasis AHP yang komprehensif, menghasilkan rekomendasi berbasis fakta untuk menciptakan rantai pasokan UCO yang sesuai dan layak secara biaya dan kepatuhan guna mendukung mandat SAF nasional Indonesia.
KAJIAN METODE EKSTRAKSI DAN POLARITAS PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA (TEN.) STEENIS)
Binahong merupakan tumbuhan yang banyak digunakan di Indonesia sebagai obat tradisional dan kaya akan kandungan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode ekstraksi dan polaritas pelarut terhadap kapasitas antioksidan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia). Metode ekstraksi yang digunakan adalah refluks dan maserasi dengan tiga jenis pelarut yang memiliki tingkat polaritas berbeda, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%. Kapasitas antioksidan dievaluasi melalui uji penangkapan radikal bebas (DPPH), ferric reducing antioxidant power (FRAP), dan cupric ion reducing antioxidant capacity (CUPRAC), dengan hasil dinyatakan sebagai mg ascorbic acid equivalent antioxidant capacity per gram ekstrak (mg AEAC/g). Penetapan kapasitas antioksidan, kadar fenol total, dan kadar flavonoid total dilakukan menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak. Secara umum, metode refluks meningkatkan ekstraksi senyawa fenolik dan flavonoid dibandingkan dengan metode maserasi. Ekstrak etil asetat dengan metode refluks menunjukkan kadar fenol dan flavonoid tertinggi. Ekstrak etil asetat dan etanol memberikan performa yang lebih baik pada seluruh metode pengujian. Ekstrak etil asetat paling efektif dalam mereduksi ion Cu2+, sedangkan ekstrak etanol menunjukkan aktivitas penangkapan radikal bebas dan kemampuan reduksi besi (FRAP) yang signifikan. Senyawa golongan fenol dan flavonoid berkontribusi terhadap potensi antioksidan daun binahong. Teknik ekstraksi dan polaritas pelarut berperan penting dalam mengoptimalkan kapasitas antioksidan ekstrak daun Anredera cordifolia.