📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenSINTESIS, KARAKTERISASI, DAN EVALUASI AKTIVITAS FOTOKATALITIK MMT/PANI/CEO2 TERDOPING LOGAM CU DAN CO TERHADAP DEGRADASI METILEN BIRU
Pencemaran air akibat limbah zat warna sintetis, khususnya metilen biru, menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Metilen biru memiliki toksisitas yang dapat mengganggu kesehatan manusia, sehingga diperlukan teknologi yang efektif untuk menghilangkan zat warna tersebut. Metode fotokatalisis dapat menjadi alternatif yang menguntungkan karena bersifat destruktif. Fotokatalis berbasis semikonduktor CeO? telah banyak dikembangkan untuk aplikasi fotodegradasi polutan organik, namun penggunaannya masih terbatas akibat energi celah pita yang lebar dan laju rekombinasi elektron–hole yang tinggi. Strategi doping logam Cu dan Co pada CeO? dapat mempersempit celah pita dan menekan laju rekombinasi, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Selain itu, pembentukan nanokomposit dengan montmorilonit (MMT) sebagai matriks pendukung dan polianilin (PANI) sebagai konduktor diharapkan dapat mempercepat transfer muatan dan mencegah aglomerasi partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh doping Cu, Co, dan CuCo (co-doping) pada nanokomposit MMT/PANI/CeO? terhadap aktivitas fotodegradasi metilen biru. CeO? terdoping logam disintesis menggunakan metode sol-gel, kemudian dikompositkan dengan MMT/PANI untuk membentuk nanokomposit fotokatalis. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Fluorescence (XRF), Transmission Electron Microscopy (TEM), Zeta Potential Analyzer, dan UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV- Vis DRS). Aktivitas fotokatalitik dievaluasi melalui degradasi larutan metilen biru di bawah iradiasi cahaya UV (? = 366 nm). Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa puncak difraktogram CeO? terdoping logam sesuai dengan standar CeO? (COD-7217887) tanpa terbentuknya senyawa lain. Hasil FTIR menunjukkan adanya vibrasi Ce–O pada bilangan gelombang 505 cm?¹, vibrasi N–H khas PANI pada 1303 cm?¹, serta vibrasi Si– O–Al khas MMT pada 526 cm?¹. Hasil UV-Vis DRS menunjukkan nilai energi celah pita CeO?-Co sebesar 2,00 eV, yang mengalami penurunan dari CeO? murni hasil sintesis sebesar 3,17 eV. Analisis XRF menunjukkan bahwa keberadaan dopan Co dan Cu dalam nanokomposit berhasil tervalidasi berdasarkan nilai dari %at (atomic percent) dan %wt (weight percent). Analisis SEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO? terdoping logam telah terdispersi pada permukaan komposit MMT/PANI. Hasil karakterisasi TEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO?-Co memiliki ukuran paling kecil, yaitu sebesar 37,5 nm, partikel CeO2 berbentuk sferis, komposit MMT/PANI menunjukkan bentuk seperti lembaran yang bertumpuk. Material nanokomposit terdoping Co menunjukkan aktivitas fotokatalitik yang lebih tinggi (27,65%) dibandingkan doping Cu dan CuCo dalam mendegradasi metilen biru. Efisiensi degradasi yang diperoleh pada kondisi optimum sebesar 37,83% dengan massa fotokatalis 0,02 gram, konsentrasi metilen biru 10 ppm, pH 5, dan waktu iradiasi selama 60 menit. Berdasarkan studi kinetika, fotodegradasi menggunakan nanokomposit mengikuti model kinetika orde dua, sedangkan adsorpsi nanokomposit mengikuti model kinetika orde satu semu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nanokomposit MMT/PANI/CeO? terdoping Cu, Co, dan CuCo berpotensi dikembangkan sebagai material fotokatalis untuk aplikasi pengolahan limbah zat warna dalam lingkungan perairan.
ABU TERBANG TERAKTIVASI KOH BERBANTUAN GELOMBANG MIKRO UNTUK ADSORPSI ION CU2+
Pencemaran ion Cu2+ dalam air menjadi permasalahan lingkungan serius yang berpotensi mengganggu kesehatan dan ekosistem. Adsorpsi dipilih sebagai metode remediasi air karena sederhana dan ekonomis, dengan abu terbang sebagai adsorben yang potensial karena memiliki luas permukaan besar dan struktur berpori. Penelitian ini mengembangkan adsorben berbasis abu terbang yang diaktivasi KOH dengan bantuan iradiasi gelombang mikro untuk adsorpsi ion Cu2+. Aktivasi dilakukan menggunakan KOH 2,5 M dengan rasio abu terbang-basa pengaktivasi 1:5 (b/v) disertai iradiasi gelombang mikro (100 ?, 700 W) pada variasi waktu 10, 20 dan 30 menit (MFA10, MFA20, MFA30), dengan MFA20 menunjukkan kinerja terbaik. Karakterisasi MFA20 dilakukan menggunakan XRF, XRD, FTIR, dan SEM-EDS. Karakterisasi XRF menunjukkan komposisi abu terbang didominasi oleh SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Pola XRD identik pada seluruh tahap menunjukkan aktivasi dan adsorpsi tidak mengubah fasa kristal abu terbang. Analisis FTIR mengindikasikan perubahan lingkungan gugus fungsi setelah proses aktivasi dan adsorpsi, dilihat dari pergeseran puncak serapan pada gugus aluminosilikat dan hidroksil. Citra SEM memperlihatkan permukaan yang lebih kasar dan berpori pada MFA20 akibat aktivasi KOH. Pemetaan EDS mengonfirmasi peningkatan kadar Cu pada permukaan adsorben dari 0,08% atom menjadi 2,36% atom setelah adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada pH 5, massa adsorben 0,3 g, dan waktu kontak 240 menit. Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde dua semu yang mengindikasikan laju adsorpsi dikendalikan oleh interaksi antara adsorbat dan situs aktif pada permukaan adsorben. Studi isoterm adsorpsi menunjukkan proses adsorpsi mengikuti isoterm Freundlich yang menjelaskan permukaan adsorben bersifat heterogen. Studi termodinamika menunjukkan proses adsorpsi berlangsung spontan, endotermik, dan ketidakteraturan sistem meningkat (?H° = 44,46 kJ mol?¹; ?S° = 196,08 J mol?¹ K?¹; ?G° = -20,83 hingga -14,95 kJ mol?¹). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MFA20 berpotensi sebagai adsorben yang ekonomis untuk pengolahan limbah cair yang mengandung ion Cu2+ sekaligus pemanfaatan kembali limbah industri.
USULAN KORELASI PENENTUAN RECOVERY FAKTOR PADA AKHIR PERIODELAJU ALIR PLATEAU SUMUR GAS
Estimation of flow rate and time needed of plateau is the main requirement in the process of gas field business influenced by the results of economic evaluation. From engineering aspect, acquisition factor has become the optimization target. It is to maximize recovery factor. On the other hand, water production has always become a real problem in the field inhibiting the production of gas. The purpose of this study is to identify the new proposed correlation to estimate recovery factor at the end of plateau flow rate production of gas reservoir in the water thrust force. The correlations is obtained by constructing 2-D reservoir model for two phase flow (water-gas) and perform sensitivity analysis for rock properties such as absolute permeability (k) and comparison of vertical permeability with horizontal permeability (kv / kh) and the aquifer properties-aquifer thickness and aquifer radius. By using sensitivity data, recovery factor correlation at the end of the plateau of gas production flow rate of for the polynomial degree three and five is identified. From validation results, the maximum error of 12.72% and the minimum error of 0.31% of three degrees as well as the maximum error of 11.5% and the minimum error of 0.19% for degree five have also been revealed.
ESTIMASI LEAF AREA INDEX BERBASIS DATA SPEKTRAL DAN KARAKTERISTIK TEGAKAN PADA PLOT PERMANEN DI CA/TWA GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Leaf Area Index (LAI) merupakan parameter biofisik penting yang menggambarkan kondisi dan produktivitas kanopi hutan, namun variasinya pada ekosistem hutan pegunungan tropis masih kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola distribusi LAI dan keterkaitannya dengan karakteristik tegakan, serta menyusun model terbaik untuk mengestimasi LAI berbasis data spektral dan variabel vegetasi di CA/TWA Gunung Papandayan, Garut. Penelitian dilakukan pada plot permanen seluas 1 ha, terbagi menjadi 100 subplot berukuran 10 m × 10 m. Nilai LAI diperoleh menggunakan metode Canopy Hemispherical Photography (CHP), sedangkan data spektral diperoleh dari citra Sentinel-2A. Variabel yang dianalisis meliputi indeks vegetasi (NDVI, SAVI, EVI, FCD, dan NDMI), karakteristik struktur tegakan, komposisi floristik, jumlah individu, dan densitas kayu spesifik. Analisis data mencakup autokorelasi spasial, korelasi Pearson, Principal Component Analysis (PCA), uji multikolinearitas, serta regresi linear yang dievaluasi menggunakan R², RMSE, dan Corrected Akaike Information Criterion (AICc). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LAI berkisar antara 1,32–4,06 dengan rerata 2,45 ± 0,51 dan berpola mengelompok berdasarkan Moran’s Index sebesar 0,36. NDVI menunjukkan hubungan terkuat dengan LAI (r = 0,64), diikuti oleh FCD, SAVI, EVI, dan NDMI. Model terbaik pada kelompok indeks tunggal diperoleh dari NDVI dengan nilai R² sebesar 0,46 dan RMSE 0,36. Sementara itu, model multivariat yang mengombinasikan NDVI dan rata-rata DBH menghasilkan model paling efisien (R² = 0,52; RMSE = 0,34; AICc = 53,99), sedangkan penambahan indeks keanekaragaman spesies memberikan akurasi tertinggi (R² = 0,53; RMSE = 0,33). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi informasi spektral dan karakteristik tegakan meningkatkan performa estimasi LAI pada hutan tropis pegunungan serta berpotensi mendukung pemantauan kondisi kanopi dan pengelolaan kawasan konservasi.
ANALISIS RISIKO BANJIR SKALA BANGUNAN DAN ARAHAN PRIORITAS PENERAPAN SMALL-SCALE NATURE-BASED SOLUTIONS DI KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Kecamatan Lembang merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara dan hulu sistem drainase Cekungan Bandung yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air, tetapi mengalami tekanan pembangunan akibat pertumbuhan kawasan terbangun, aktivitas pariwisata, permukiman, dan perubahan penggunaan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir berulang terjadi pada kawasan perkotaan, permukiman padat, koridor ekonomi, serta area yang dipengaruhi sistem sungai dan drainase. Namun, pemetaan risiko banjir yang tersedia umumnya masih berskala makro sehingga belum mampu menjelaskan variasi risiko pada tingkat bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir skala bangunan dan merumuskan arahan prioritas implementasi small-scale Nature-Based Solutions untuk pengurangan risiko banjir di Kecamatan Lembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan dukungan analisis kualitatif melalui studi literatur, telaah dokumen, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis dilakukan melalui empat tahap, yaitu pemetaan kerawanan banjir berbasis machine learning dengan membandingkan Random Forest dan Gradient Boosting; identifikasi karakteristik bangunan dan penduduk melalui konflasi building footprint, klasifikasi fungsi bangunan, pemetaan populasi dasimetrik, serta estimasi sebaran MBR berbasis proksi spasial; analisis kerentanan dan risiko banjir skala bangunan berdasarkan komponen sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan; serta analisis potensi dan prioritas small-scale Nature-Based Solutions menggunakan kesesuaian spasial berbasis boolean overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Random Forest menjadi model terbaik dengan nilai AUC-ROC sebesar 0,9658, lebih tinggi dibandingkan Gradient Boosting sebesar 0,9478. Hasil konflasi menghasilkan 88.630 unit bangunan, dengan 13.348 bangunan permukiman atau 20,68% dari total bangunan permukiman teridentifikasi memiliki indikasi informalitas morfologi tinggi. Analisis risiko menunjukkan 11.998 bangunan berada pada kelas risiko tinggi dan sangat tinggi, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang. Pada analisis small-scale Nature-Based Solutions, green roof dan rain barrel berpotensi diterapkan pada 73.987 bangunan dengan luas atap potensial 5.336.613,83 m² atau 79,75% dari total luas atap yang dianalisis. Untuk tipologi skala lingkungan, potensi terbesar terdapat pada rain garden seluas 195,55 ha danviii infiltration trench seluas 168,47 ha. Hasil prioritas menunjukkan 118,48 ha area prioritas NbS skala lingkungan dari 180,06 ha area potensial, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang dan Kayuambon. Kawasan Perkotaan Lembang, khususnya Pasar Panorama, Jl. Grand Hotel, sekitar Situ PPI, serta koridor Kayuambon–Maribaya–Pangragajian–Pusdikajen, menjadi lokasi awal yang relevan untuk kombinasi detention basin, rain garden, infiltration trench, dan permeable pavement. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi machine learning, data bangunan, populasi dasimetrik, informalitas morfologi, dan analisis kesesuaian NbS dapat menghasilkan informasi risiko banjir yang lebih rinci untuk mendukung perencanaan pengurangan risiko banjir berbasis skala bangunan.
ANALISIS ZONASI DI KAWASAN KECAMATAN KEMBANGAN, JAKARTA BARAT AKIBAT PERKEMBANGAN KORIDOR JL. PURI INDAH RAYA DENGAN MARKET APPROACH
Koridor Jl. Puri Indah Raya, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat ditetapkan dalam RDTR Provinsi DKI Jakarta (Pergub No. 31 Tahun 2022) sebagai kawasan perumahan kepadatan tinggi dan sangat tinggi (sub-zona R-1 dan R-2). Namun, dinamika sosial-ekonomi perkotaan yang pesat mendorong pergeseran fungsi lahan yang signifikan, di mana kawasan yang semestinya didominasi hunian kini banyak ditempati kegiatan perdagangan dan jasa seperti kafe, restoran, klinik, kantor, dan ruko. Kesenjangan ini sejalan dengan teori location and land use Alonso (1964) yang menyatakan bahwa lahan perkotaan cenderung beradaptasi menuju fungsi dengan kemampuan membayar sewa tertinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketidaksesuaian zonasi di RDTR dengan penggunaan lahan eksisting, sekaligus mengkaji nilai lahan menggunakan Market Approach sebagai dasar penilaian arah perubahan fungsi kawasan. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial overlay dengan ArcGIS, identifikasi transformasi fungsi bangunan, analisis pola aktivitas dan volume lalu lintas, serta penilaian nilai tanah melalui Market Approach dengan perbandingan subject property dan tiga comparable properties yang dilengkapi sequential adjustment berdasarkan karakteristik lahan, lingkungan, prospek pasar, dan harga penawaran. Data harga lahan turut diekstrapolasi hingga tahun 2026 untuk mengukur tren perubahan nilai lahan secara kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan ketidaksesuaian nyata antara RDTR dan kondisi eksisting, di mana sebagian besar kegiatan yang berkembang merupakan perdagangan dan jasa yang tidak sesuai peruntukan perumahan. Penilaian Market Approach mengindikasikan nilai lahan telah melampaui kisaran harga pasar permukiman, mencerminkan tekanan mekanisme pasar yang kuat ke arah fungsi komersial, yang diperparah oleh celah regulasi dan lemahnya sanksi pengendalian tata ruang. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan penyesuaian zonasi menjadi zona perdagangan dan jasa atau mixed-use, disertai penyesuaian intensitas pemanfaatan ruang (KDB, KLB, KDH) yang proporsional guna mendukung pembangunan kawasan secara terencana dan berkelanjutan.
INVESTIGASI EFISIENSI PENYISIHAN PROSES OKSIDASI LANJUTAN (AOP) TERHADAP ZAT WARNA DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) PADA AIR LIMBAH TEKSTIL SINTETIS
Limbah cair tekstil mengandung pewarna sintetis yang sangat persisten dan polutan organik yang sulit dihilangkan menggunakan metode pengolahan konvensional. Penelitian ini menyelidiki dua Proses Oksidasi Lanjutan Fotokimia (AOPs), i.e., yaitu proses UV/H2O2 menggunakan katalis TiO2 dan proses foto- Fenton menggunakan katalis oksida besi yang dimodifikasi Cu, untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam mendegradasi pewarna Direct Yellow 12 dan mengurangi Chemical Oxygen Demand (COD). Serangkaian percobaan batch dilakukan untuk mengoptimalkan parameter operasi utama, termasuk pH, dosis katalis, konsentrasi H2O2, dan daya lampu UV. Karakterisasi katalis menggunakan XRD, SEM, dan UV-DRS mengkonfirmasi fase Kristal, morfologi, dan sifat optik katalis, dengan oksida besi yang dimodifikasi Cu menunjukkan penyerapan cahaya tampak yang kuat dan celah pita yang lebih kecil dibandingkan dengan TiO2. Hasil optimasi menunjukkan bahwa proses UV/H2O2 menggunakan TiO2 mencapai kinerja pengolahan keseluruhan tertinggi pada kondisi optimum pH 3, 0,5 g/L TiO2, 0,005% H2O2, dan daya UV 300 W, menghasilkan penghilangan zat warna 90,7%, penghilangan COD 98,0%, dan dengan konstanta laju reaksi (k) untuk penghilangan zat warna dan penghilangan COD secara berturut-turut adalah 0,0158 min?¹ dan 0,0205 min?¹. Sebaliknya, proses photo-Fenton berkinerja terbaik pada pH 3, 0,5 g/L oksida besi yang dimodifikasi Cu, 0,01% H2O2, dan daya UV 500 W, mencapai penghilangan zat warna 86,2%, pengurangan COD 94,2%, dan konstanta laju reaksi (k) untuk penghilangan zat warna dan penghilangan COD secara berturut-turut adalah 0,0178 min?¹ dan 0,0204 min?¹. Meskipun katalis yang dimodifikasi Cu menunjukkan penyerapan cahaya tampak yang lebih luas, TiO2 menunjukkan efisiensi degradasi yang lebih unggul, kemungkinan karena stabilitas pembawa muatan yang lebih baik, pemanfaatan sinar UV yang lebih kuat, dan pengurangan kehilangan rekombinasi muatan di bawah iradiasi UV. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa proses UV/H2O2 dengan TiO2 pada 300 W menawarkan jalur oksidasi lanjutan yang paling efektif dan ekonomis untuk mengolah air limbah yang tercemar pewarna, sementara proses foto-Fenton oksida besi yang dimodifikasi Cu tetap menjadi alternatif yang kuat dalam kondisi 3 iradiasi tinggi. Hasil ini memberikan panduan praktis untuk memilih dan
PRODUKSI SENYAWA FENOLIK DAN FLAVONOID DARI COFFEE SILVERSKIN HASIL FERMENTASI PLEUROTUS OSTREATUS MENGGUNAKAN METODE NATURAL DEEP EUTECTIC SOLVENT-ULTRASOUND-MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (UMAE)
Coffee silverskin (CS) mengandung senyawa bioaktif bernilai tinggi berupa fenolik dan flavonoid, tetapi pemanfaatannya terhambat oleh struktur matriks lignoselulosa penyusun dinding sel yang kaku. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perlakuan fermentasi Pleurotus ostreatus, variasi durasi kavitasi ultrasonik pada sistem hibrida Ultrasound-Microwave Assisted Extraction (UMAE), dan rasio sampel terhadap pelarut terhadap Total Phenolic Content (TPC), Total Flavonoid Content (TFC), serta aktivitas antioksidan ekstrak CS. Pra-perlakuan dilakukan melalui fermentasi terendam menggunakan jamur Pleurotus ostreatus untuk mendegradasi komponen matriks lignoselulosa. Proses ekstraksi kemudian dilakukan secara sekuensial menggunakan instrumen UMAE (tahap ultrasonik dilanjutkan dengan gelombang mikro konstan selama 1 menit) dengan pelarut hijau Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) berbasis asam laktat, glisin, dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara biomassa terfermentasi selama 9 hari dan cairan kaldu hasil pemisahan yang mengandung metabolit jamur serta senyawa terlarut secara nyata meningkatkan TPC hingga mencapai 25,348 mg GAE/g CS serta meningkatkan aktivitas antioksidan menjadi 598,396 µmol TE/g CS. Sebaliknya, proses biologis memicu penurunan nilai TFC menjadi 2,060 mg QE/g CS akibat terjadinya polimerisasi oksidatif oleh enzim lakase. Pada evaluasi sistem UMAE, variasi waktu fase ultrasonik (30–90 menit) terbukti tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter pengujian. Hal ini membuktikan bahwa sinergi kavitasi dan pemanasan volumetrik UMAE mampu mempercepat kesetimbangan transfer massa, sehingga penetapan durasi 30 menit ultrasonik yang dipadukan dengan 1 menit gelombang mikro direkomendasikan sebagai titik operasi yang paling efisien energi. Sementara itu, peningkatan rasio pelarut hingga mencapai 1:50 g/mL terbukti mampu meningkatkan perolehan TFC (2,917 mg QE/g CS) dan aktivitas antioksidan (612,878 µmol TE/g CS) secara signifikan, tanpa memberikan perbedaan yang nyata pada nilai TPC secara keseluruhan. Analisis statistik mengonfirmasi tidak ada pengaruh interaksi dua arah maupun tiga arah yang signifikan antar perlakuan yang membuktikan bahwa setiap parameter beroperasi secara independen. Secara keseluruhan, pra-perlakuan fermentasi secara efektif melonggarkan struktur matriks dan memaksimalkan kinerja ekstraksi hibrida UMAE, sehingga rekomendasi kondisi operasi dapat diaplikasikan secara independen menyesuaikan target senyawa yang spesifik.
PENINGKATAN STRATEGI GO-TO-MARKET (GTM) KEAMANAN SIBER: STUDI KASUS SQURA CYBERSEC PADA PT APLIKANUSA LINTASARTA
Sektor keamanan siber di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat seiring dengan transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor serta meningkatnya adopsi teknologi cloud oleh perusahaan. Meningkatnya jumlah ancaman siber juga mendorong perhatian yang lebih besar terhadap keamanan siber dan kepatuhan terhadap regulasi. Namun, tren yang mendorong pertumbuhan tersebut pada saat yang sama juga menciptakan hambatan struktural bagi perusahaan keamanan siber lokal dalam membangun diferensiasi yang berkelanjutan dan mengembangkan bisnis berbasis pendapatan berulang (recurring revenue). Dalam konteks ini, SQURA Cybersec sebagai Strategic Business Unit (SBU) keamanan siber milik PT Aplikanusa Lintasarta memiliki peluang strategis untuk mempercepat adopsi layanan Managed Security Service Provider (MSSP). Meskipun demikian, perusahaan perlu mengurangi ketergantungannya terhadap proyek keamanan siber yang bersifat transaksional dan hanya menghasilkan pendapatan satu kali. SQURA Cybersec telah memiliki kapabilitas operasional yang kuat, akses terhadap pelanggan enterprise melalui hubungan bisnis yang telah terjalin, infrastruktur Security Operations Center (SOC), serta dukungan kemitraan strategis dalam ekosistemnya. Namun demikian, terlepas dari berbagai keunggulan tersebut, SQURA masih menghadapi sejumlah tantangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi adopsi MSSP di SQURA Cybersec serta merumuskan rekomendasi strategis untuk meningkatkan strategi Go-To-Market (GTM) keamanan siber perusahaan. Secara lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara proposisi nilai MSSP yang ditawarkan SQURA dengan kriteria pembelian pelanggan enterprise, mengevaluasi kondisi struktural yang menghambat adopsi MSSP di pasar keamanan siber Indonesia, serta merumuskan alternatif strategi bisnis yang dapat mendukung transformasi SQURA dari perusahaan keamanan siber yang berorientasi pada transaksi menjadi penyedia layanan MSSP berbasis langganan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan internal dan eksternal yang terlibat secara langsung dalam ekosistem keamanan siber SQURA. Responden internal terdiri atas Chief Cybersecurity Officer (CCSO), perwakilan tim Go-To-Market (GTM) yang bertanggung jawab terhadap penjualan solusi keamanan siber SQURA, serta Account Manager yang mengelola hubungan pelanggan dan aktivitas penjualan. Sementara itu, responden eksternal terdiri atas pelanggan enterprise dan perwakilan principal dari industri teknologi keamanan siber. Data sekunder diperoleh melalui dokumen perusahaan, laporan industri keamanan siber, jurnal akademik, materi presentasi strategis, serta berbagai catatan operasional yang berkaitan dengan aktivitas GTM SQURA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik Thematic Coding dan selanjutnya dievaluasi melalui penerapan berbagai kerangka manajemen strategis, yaitu Analisis PESTEL, Porter’s Five Forces, Analisis VRIO, Analisis SWOT, Matriks TOWS, Segmentation–Targeting–Positioning (STP), serta model bauran pemasaran 7P. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat strategi terintegrasi yang direkomendasikan bagi SQURA. Pertama, SQURA perlu membangun kemampuan untuk memberikan visibilitas menyeluruh kepada pelanggan terhadap seluruh aktivitas operasional layanan keamanan siber melalui pengembangan SQURA Orchestrated Platform. Platform ini berfungsi sebagai pusat visibilitas terpadu atas seluruh aktivitas operasional keamanan siber yang dikelola oleh SQURA. Kedua, SQURA perlu mentransformasikan model komersialnya dari pendekatan yang berorientasi pada transaksi menjadi pendekatan berbasis komitmen hasil (outcome-based commitments), yang berfokus pada empat nilai utama bagi pelanggan, yaitu Resilience, Compliance Readiness, Business Continuity, dan Cybersecurity Foresight. Ketiga, SQURA perlu mengembangkan kapabilitas keamanan siber lokal melalui pengembangan produk operasional keamanan siber yang dikontekstualisasikan dengan kebutuhan dan regulasi Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap principal global sebagai penyedia teknologi. Keempat, SQURA perlu membangun integrated operating model yang memungkinkan adanya standardisasi proses tata kelola, koordinasi alur kerja antar fungsi, pengembangan proposal yang lebih terstruktur, serta konsistensi dalam penyampaian layanan di seluruh fungsi yang berinteraksi dengan pelanggan. Apabila keempat arah strategis tersebut dapat diimplementasikan secara efektif, SQURA diharapkan mampu bertransformasi dari penyedia layanan keamanan siber yang didominasi oleh model bisnis transaksional menjadi penyedia layanan berbasis langganan dengan keberlanjutan pendapatan yang lebih baik. Pada akhirnya, strategi yang direkomendasikan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkuat posisi kompetitif SQURA di tengah pertumbuhan pasar keamanan siber Indonesia, meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap SQURA, memperluas skala operasional perusahaan, serta mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan di masa depan.
PERANCANGAN VERTIKAL MIXED-USE BUILDING SEBAGAI SOLUSI GENERASI Z PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN KEBERLANJUTAN
Perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia menunjukkan peningkatan kepadatan yang signifikan, sehingga mendorong kebutuhan akan hunian vertikal dan bangunan multifungsi (mixed-use building) sebagai solusi keterbatasan lahan. Generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadi pengguna potensial yang membutuhkan hunian dengan karakter fleksibel, produktif, dan terintegrasi dengan gaya hidup modern perkotaan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang tidak hanya efisien secara ruang, tetapi juga berkelanjutan, sehat, serta mampu mendorong interaksi sosial dan kesejahteraan penggunanya. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang bangunan vertikal mixed-use yang inklusif dan berkelanjutan sebagai solusi terhadap kebutuhan generasi muda perkotaan. Pendekatan keberlanjutan digunakan sebagai dasar dalam merancang agar bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar. Studi kasus yang dijadikan acuan adalah Dago Suites Bandung & HQuarters Bandung, sebagai contoh bangunan vertikal yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas umum di kawasan perkotaan padat. Melalui metode tersebut, diperoleh pemahaman terhadap pola aktivitas pengguna, sirkulasi, serta integrasi antar fungsi ruang yang mendukung kehidupan urban yang dinamis. Konsep desain yang diterapkan menekankan pada keterhubungan antar-zona melalui sirkulasi vertikal dan horizontal yang efisien serta ruang komunal yang mendorong interaksi sosial. Desain interior difokuskan pada efisiensi ruang, fleksibilitas fungsi, serta penciptaan suasana yang nyaman dan mendukung produktivitas generasi muda. Prinsip keberlanjutan diwujudkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan pengolahan ruang hijau vertikal yang meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan Implementasi desain ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi bagi pengembangan hunian vertikal di kawasan perkotaan, yang tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan penggunanya, sejalan dengan tujuan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
PENGARUH APLIKASI KOMBINASI MEDIA TANAM INSECT FRASS DAN BIOCHAR TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA, DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEAE)
Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah degradasi kualitas tanah dan ketergantungan terhadap pupuk anorganik. Pemanfaatan sumber nutrisi alternatif berbasis limbah organik menjadi pendekatan yang relevan dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Insect frass dari Black Soldier Fly (Hermetia illucens) mengandung unsur hara makro, bahan organik, dan senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik, namun efektivitasnya dipengaruhi oleh stabilitas pelepasan nutrien dalam media tanam. Biochar sebagai bahan amelioran diketahui mampu meningkatkan kapasitas tukar kation, retensi air, dan stabilitas nutrisi sehingga berpotensi bersinergi dengan frass. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi Insect Frass dan biochar terhadap perkecambahan, pertumbuhan, konsumsi air, biomassa, dan kualitas nutrisi Microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan media tanam, yaitu P1 (100% tanah/kontrol), P2 (tanah + NPK 300 kg/ha), P3 (tanah + Insect Frass 1,2%), dan P4 (tanah + Insect Frass 1,2% + biochar 30%), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi kondisi mikroklimat ruang budidaya, sifat edafik media, kandungan nutrisi media sebelum dan sesudah tanam, persentase perkecambahan, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, konsumsi air, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah total, kadar air, shoot-root ratio, klorofil SPAD, klorofil total, dan vitamin C. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, ANOVA satu arah, dan uji lanjut Tukey HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan kualitas tanaman. Perlakuan P4 memberikan hasil terbaik pada sebagian besar parameter, dengan persentase perkecambahan tertinggi sebesar 97,02%, tinggi tanaman tertinggi pada 14 HSS sebesar 11,37 cm, bobot basah tajuk tertinggi sebesar 5,84 g, dan bobot basah total tertinggi sebesar 6,20 g. Pada parameter nutrisi, P4 juga menghasilkan kandungan klorofil total tertinggi sebesar 22,00 mg/L dan vitamin C tertinggi sebesar 12,45 mg/100 g. Selain itu, perlakuan berbasis Insect Frass, terutama P3 dan P4, cenderung meningkatkan konsumsi air tanaman selama fase pertumbuhan. Sementara itu, potensi berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar, bobot kering tajuk, kadar air, shoot-root ratio, dan klorofil SPAD tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan. Secara keseluruhan, kombinasi Insect Frass dan biochar (P4) menunjukkan performa paling konsisten dalam meningkatkan perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, akumulasi biomassa segar, dan kualitas nutrisi Microgreens kale. Formulasi media ini berpotensi menjadi alternatif media tanam berkelanjutan untuk produksi Microgreens bernilai gizi tinggi.
PROYEKSI LAND USE LAND COVER (LULC), DEFORESTASI, DAN CARBON LOSS DALAM MENDUKUNG PELESTARIAN HEART OF BORNEO DI KALIMANTAN UTARA (1990-2040)
Kalimantan Utara merupakan bagian inti kawasan Heart of Borneo (HoB) yang memiliki peran ekologis strategis. Ekspansi perkebunan dan pertanian terus mendorong deforestasi, sehingga mengancam integritas kawasan HoB sekaligus menurunkan simpanan karbon yang penting bagi pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika deforestasi dan driving factors-nya selama periode 1990– 2020, mengestimasi simpanan karbon dan carbon loss, memproyeksikan perubahan tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 melalui tiga skenario, serta mengevaluasi implikasinya terhadap pelestarian kawasan HoB. Penelitian dilakukan di Provinsi Kalimantan Utara dengan pendekatan analisis perubahan Land Use Land Cover, estimasi karbon berbasis look-up table, dan pemodelan Land Change Modeler pada perangkat lunak TerrSet. Seleksi driving factors dilakukan menggunakan Uji Pearson, sedangkan validasi model menggunakan Kappa. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan tutupan hutan sebesar 701.917 ha selama 1990–2020, dengan laju tertinggi terjadi pada periode 2000–2011. Simpanan karbon menurun dari 1,369 GtC pada 1990 menjadi 1,234 GtC pada 2020, dengan carbon loss sebesar 136,89 juta ton C. Pemodelan LULC tahun 2020 memperoleh nilai Kappa sebesar 0,88 dan accuracy rate rata-rata 89,17%, sehingga dinilai layak untuk proyeksi masa depan. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa skenario Forest Conservation menghasilkan simpanan karbon tertinggi dan carbon loss terendah, sedangkan skenario Plantation Expansion menunjukkan dampak paling negatif. Skenario Forest Conservation menghasilkan penyerapan karbon tertinggi dan kehilangan terendah, menjadikannya strategi paling efektif yang sesuai dengan tujuan konservasi HoB dan target NDC Indonesia.
MODEL TERPADU PERENCANAAN PRODUKSI DAN PETI KEMAS SERTA OPERASI PELABUHAN DAN GUDANG UNTUK PENGENDALIAN INVENTORI DI PERUSAHAAN PULP AND PAPER DENGAN MENGGUNAKAN DINAMIKA SISTEM
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya inventori pada perusahaan pulp and paper yang dipengaruhi oleh hubungan dinamis antara perencanaan produksi, perencanaan peti kemas, serta operasi pelabuhan, gudang, dan transportasi dalam sistem logistik terintegrasi. Kompleksitas masalah meningkat akibat karakteristik sistem produksi make-to-order dalam lingkungan business-to-business. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model terpadu untuk pengendalian inventori dan merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan kinerja sistem. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model dinamika sistem dengan mengintegrasikan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas sebagai bagian endogen dalam struktur model, serta mengembangkan formulasi matematis berbasis observasi empiris yang merepresentasikan interaksi dinamis antar subsektor logistik. Pemilihan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas didasarkan pada analisis sistem terkait masalah penelitian. Metodologi yang digunakan adalah dinamika sistem dengan pengembangan stock and flow diagram yang diimplementasikan dalam Vensim DSS. Model divalidasi menggunakan Theil’s Inequality Statistics Test dan kemudian dianalisis melalui uji sensitivitas terhadap ketidakpastian parameter. Setelah model valid dan robust, luaran simulasi model dioptimisasi menggunakan algoritma Powell untuk memperoleh kebijakan optimal dalam ruang solusi. Pendekatan optimisasi dilakukan untuk menghasilkan kebijakan optimal dengan mensimulasikan seluruh ruang solusi secara simultan, berbeda dengan pendekatan tradisional dinamika sistem yang umumnya mengembangkan skenario parsial dalam mengubah variabel keputusan secara bertahap. Berdasarkan hasil proses optimisasi, dilakukan analisis sensitivitas simultan terhadap variabel keputusan untuk mengetahui dampak perubahan terhadap variabel ukuran kinerja. Hasil menunjukkan rancangan kebijakan optimal bersifat robust sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun rencana implementasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu merepresentasikan perilaku sistem secara memadai. Temuan utama menunjukkan ii bahwa akumulasi inventori tidak disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi, tetapi oleh ketidaksinkronan antar subsektor, khususnya antara operasi gudang dan ketersediaan peti kemas. Variabel-variabel tersebut diidentifikasi sebagai leverage points utama dalam sistem. Kapasitas pelabuhan bukan bottleneck utama, namun pelabuhan berperan mendukung efektivitas perencanaan peti kemas. Variabel efisiensi peralatan juga perlu dipertahankan kinerjanya karena parameter tersebut bersifat sensitif. Simulasi menunjukkan bahwa perbaikan koordinasi antar subsektor melalui penyesuaian kapasitas produksi, peningkatan efisiensi gudang, dan pengelolaan peti kemas yang lebih baik dapat mengurangi penumpukan inventori dan meningkatkan kinerja sistem. Kebijakan yang dihasilkan, dengan implementasi bertahap, mampu menurunkan rata-rata inventori gudang dengan kebijakan optimal sebesar 25,74% per tahun dibandingkan dengan kondisi dasar, serta memberikan efek positif terhadap efisiensi operasional dan finansial perusahaan.
ELEKTROKATALIS HIBRIDA LEMBARAN NANO MXENE (NB2C(OH)2) DAN CUO NANOPORI UNTUK REAKSI EVOLUSI HIDROGEN
Pertumbuhan penduduk, kemajuan industri dan teknologi telah menjadi alasan utama kenaikan permintaan energi secara global. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih digunakan energi fosil yang pada penggunaanya dapat menyebabkan peningkatan emisi CO2. Hal ini, dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan, sehingga diperlukan pengembangan energi bersih seperti hidrogen (H2). Hidrogen dapat diproduksi melalui proses Reaksi Evolusi Hidrogen (Hydrogen Evolution Reaction/HER). Pada proses tersebut, diperlukan elektrokatalis yang bekerja secara optimal dalam menfasilitasi proses transfer muatan selama proses HER. salah satu elektrokatalis yang menjanjikan adalah lembaran nano MXene (Nb2CTx). Material ini memiliki konduktivits tinggi (2400 S/cm), struktur dan kestabilan kimia yang baik. Permukaan MXene juga dapat dimodifikasi melalui terminasi gugus -OH (Nb2C(OH)2) untuk meningkatkan hidrofilisitas dan kontak dengan elektrolit. Selain MXene, CuO nanopori (nCuO) menawarkan struktur pori unik yang memungkinkan peningkatan situs aktif dan penetrasi elektron yang lebih optimal selama proses HER. Oleh karena itu, dikembangkan elektrokatalis berbasis MXene dan nCuO untuk proses HER. Tujun penelitian ini adalah melakukan sintesis Nb2CTx, Nb2C(OH)2, nCuO, dan hibrida Nb2C(OH)2/nCuO serta melakukan uji kinerja elektrokatalis secara elektrokimia. Sintesis MXene dilakukan melalui proses etching lapisan Al dari MAX phase (Nb2AlC), dengan terminasi permukaan dilakukan menggunakan NaOH. CuO nanopori disintesis menggunakan Silika KIT-6 sebagai template. Berdasarkan karakterisasi FT-IR, Nb2CTx MXene hasil sintesis menunjukan adanya pita serapan khas Material MXene seperti Nb-OH (915 cm-1), Nb-O (689 cm-1), dan Nb-C (542 cm-1), adapun Nb2C(OH)2 menunjukan adanya pergerseran pita serapan Nb-OH ke bilangan 882 cm-1 sebagai indikasi dari terminasi permukaan dengan -OH. Karakterisasi XRD juga mempertegas keberhasilan sintesis ditandai dengan pergeseran puncak (002) ke 2? 7,2? (Nb2CTx) dan 6,75? (Nb2C(OH)2) serta hilangnya puncak 39,08? (103). Selain MXene, CuO nanoprori juga berhasil disintesis menggunakan silika KIT-6 sebagai tamplate. Keberhasilan sintesis nCuO dikonfrimasi melalui FT-IR, ditandai dengan keberadaan pita khas Cu-O (551 cm- 1) dan dari karakteriasai XRD yang menunjukan adanya difraksi 2?= 32?, 35?, dan 38? untuk bidang (110), (?111), dan (111) khas CuO. Keberhasilan dari sintesis hibrida Nb2C(OH)2/nCuO dikonfirmasi melalui adanya integrasi nCuO pada permukaan MXene yang teramati dengan jelas dari analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Trasmission Electron Microscopy (TEM). Integrasi nCuO pada permukaan MXene berkontribusi terhadap peningkatan SBET dari 6,5 m2/g menjadi 21,6 m2/g. Uji kinerja elektrokatalis yang dilakukan secara elektrokimia menunjukkan kinerja hibrida Nb2C(OH)2/nCuO yang paling optimal dengan nilai overpotensial 300 mV pada densitas arus 10 mA/cm2,dan gradien Tafel 43 mV/dec. Jauh lebih unggul dibandingkan Nb2C(OH)2 (470 mV;62 mV/dec), Nb2CTx (554 mV;91 mV/dec) dan nCuO (702 mV;127 mV/dec). Selain menunjukan kinerja yang unggul, elektrokatalis hibrida Nb2C(OH)2/nCuO juga menunjukan stabilitas elektrokimia yang baik untuk pengujian selama 12 jam.
PENGEMBANGAN BIOSILIKA DIATOM LAUT TROPIS SEBAGAI MATRIKS PENGAYAAN PROTEIN PENANDA PENYAKIT UNTUK DIAGNOSTIK BERBASIS PROTEOMIK
Diagnosis suatu penyakit umumnya dilakukan setelah pasien mencapai fase simtomatik. Sementara itu, perubahan pada level protein penanda penyakit (biomarker) terjadi jauh lebih dini, yaitu pada fase pra-simtomatik. Oleh karena itu, diagnosis berbasis proteomik memungkinkan deteksi dini penyakit seperti infeksi, kanker, atau autoimunitas. Namun demikian, sinyal albumin serum manusia (human serum albumin) yang merupakan protein paling dominan dalam plasma darah sering kali menutupi sinyal protein penanda penyakit yang terdapat dalam jumlah yang jauh lebih rendah. Salah satu matriks berbasis material alam yang dapat digunakan untuk mengurangi (deplesi) albumin dalam suatu sampel plasma adalah biosilika dari mikroalga jenis diatom. Biosilika diatom memiliki struktur berpori hierarkis dengan permukaan yang kaya gugus silanol, sehingga dapat dimodifikasi melalui proses silanisasi dan berpotensi untuk memekatkan protein-protein penanda penyakit tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biosilika dari dua spesies diatom laut tropis Indonesia, yaitu Cyclotella striata TBI dan Navicula salinicola NLA sebagai matriks pengayaan protein dengan optimasi afinitas biosilika terhadap protein melalui modifikasi gugus bermuatan positif (APTES) dan hidrofobik (OTS). Kultivasi diatom C. striata TBI menghasilkan biomassa sebesar 916,7127 g dengan produktivitas sebesar 509,28 mg.L–1.hari–1. Isolasi biosilika C. striata TBI berhasil dilakukan dan diperoleh padatan biosilika sebanyak 5,82 gram dengan produktivitas sebesar 0,73 mg.g–1 biomassa. Karakterisasi biosilika, biosilika-APTES, dan biosilika-OTS dari kedua diatom dilakukan dengan instrumen Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengamati morfologi biosilika, Fourier Transform Infra-Red (FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi, X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menganalisis komposisi SiO2, dan analisis unsur CHNS untuk menentukan komposisi unsur C, H, N, dan S dalam sampel biosilika dan biosilika termodifikasi APTES atau OTS. Analisis proteomik dengan instrumen UPLC-HRMS mengidentifikasi 143 jenis protein plasma darah yang berinteraksi dengan permukaan biosilika. Selanjutnya, analisis menggunakan heatmap, principal component analysis (PCA), ANOVA, dan PLS-DA menunjukkan 8 protein signifikan (FDR ANOVA <0,05; VIP Score >1,2; kelimpahan relatif >1%), yaitu ApoA-I, ApoA-II, serotransferin, transmembran serin protease, antitrombin-III, inter-?-trypsin inhibitor heavy chain H4, ?-2-HS-glikoprotein, dan immunoglobulin heavy constant gamma. Fenomena deplesi albumin terjadi pada semua sampel biosilika dan biosilika termodifikasi APTES atau OTS. ApoA-I dan ApoA-II mengalami pengayaan pada biosilika kedua spesies diatom tanpa modifikasi maupun termodifikasi APTES, ?-2-HS-glikoprotein pada biosilika Navicula tanpa modifikasi, serta imunoglobulin heavy constant gamma pada biosilika Navicula termodifikasi OTS. Keempat protein tersebut memiliki relevansi klinis sebagai penanda penyakit kardiovaskular, agammaglobulinemia (hilangnya kemampuan tubuh untuk memproduksi imunoglobulin), dan hipogammaglobulinemia (rendahnya kemampuan produksi imunoglobulin).