📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenJARUM MIKRO TERLARUT BERBASIS POLIMER TERINTEGRASI NANOEMULSI KURKUMIN TERLAPISI KITOSAN YANG BERPOTENSI SEBAGAI SISTEM PENGHANTARAN TRANSDERMAL UNTUK TERAPI KANKER
Jarum Mikro terlarut (JMt) merupakan salah satu sistem penghantaran obat transdermal yang bersifat minimal invasif, biokompatibel, dan mampu menghantarkan obat secara terkontrol melalui pembentukan mikrokanal pada kulit. Sistem ini berpotensi meningkatkan efisiensi penghantaran obat dibandingkan dengan rute konvensional. Integrasi JMt dengan sistem nano menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas zat aktif yang memiliki keterbatasan fisikokimia. Salah satu senyawa yang memerlukan strategi penghantaran inovatif adalah kurkumin, yaitu senyawa polifenol alami yang memiliki aktivitas antikanker yang kuat melalui mekanisme induksi apoptosis dan penghambatan proliferasi sel. Meskipun demikian, pemanfaatan kurkumin dalam terapi kanker masih terhambat oleh kelarutan air yang sangat rendah, stabilitas yang terbatas, serta bioavailabilitas yang rendah ketika diberikan secara oral. Oleh karena itu, pengembangan sistem penghantaran berbasis nano yang dikombinasikan dengan JMt menjadi alternatif yang rasional untuk meningkatkan efektivitas terapeutik kurkumin dalam terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan JMt berbasis asam hialuronat (AH), polivinil alkohol (PVA), dan karboksimetil selulosa (CMC) sebagai sistem penghantaran transdermal untuk terapi kanker. Sistem JMt tersebut kemudian diintegrasikan dengan nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan (NE-Kur-Kit) yang dirancang sebagai sistem penghantaran obat responsif terhadap pH untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas kurkumin. Selanjutnya, aktivitas antikanker dari NE-Kur-Kit dievaluasi melalui pengujian sitotoksisitas terhadap sel kanker MCF-7. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan formulasi, karakterisasi fisikokimia, uji pelepasan obat dan stabilitas, evaluasi sitotoksisitas secara in vitro, serta pengujian karakteristik dan permeasi JMt secara ex vivo. Nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan diformulasikan dengan variasi konsentrasi kitosan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap stabilitas dan profil pelepasan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem NE-Kur-Kit memiliki sifat pelepasan obat yang sangat responsif terhadap pH, dengan pelepasan kurkumin jauh lebih tinggi pada kondisi asam (pH 5,4) dibandingkan dengan kondisi fisiologis normal (pH 7,4). Pada pH 5,4, pelepasan kurkumin mencapai 93,57% (1 mg/mL kitosan), 50,60% (2 mg/mL), dan 31,16% (4 mg/mL), sedangkan pada pH 7,4 pelepasan obat sangat rendah, yaitu 3,20%, 3,06%, dan 0,34%. Berdasarkan uji stabilitas, konsentrasi kitosan 2 mg/mL merupakan kondisi optimum yang memiliki stabilitas dan responsivitas pH yang baik. Evaluasi aktivitas sitotoksik terhadap sel MCF-7 menggunakan metode MTT menunjukkan bahwa formulasi NE-Kur-Kit secara signifikan meningkatkan potensi antikanker kurkumin. Kurkumin bebas memiliki nilai IC50 sebesar 6,997 µg/mL, sedangkan setelah diformulasikan dalam bentuk NE-Kur-Kit, nilai IC50 menurun drastis menjadi 1,638 µg/mL, yang menunjukkan peningkatan efikasi sitotoksik lebih dari empat kali lipat. Integrasi NE-Kur-Kit ke dalam sistem JMt berbasis AH, PVA, dan CMC menghasilkan JMt dengan karakteristik fisik yang baik, namun JMt berbasis CMC menunjukkan sifat mekanik paling rendah dibandingkan dengan AH dan PVA, sehingga berpotensi membatasi kemampuan penetrasinya. Uji permeasi ex vivo menunjukkan bahwa JMt berbasis AH memberikan kinerja paling optimal, dengan permeasi kurkumin sebesar 59,74% pada pH 7,4 dan meningkat menjadi 86,11% pada pH 5,4 dalam waktu 7 jam, sedangkan JMt berbasis PVA menunjukkan permeasi yang lebih rendah, yaitu 17,71% (pH 7,4) dan 34,58% (pH 5,4). Perbedaan ini berhubungan dengan sifat AH yang lebih higroskopis dan amorf yang mempercepat disolusi JMt dan difusi obat, sementara struktur semi-kristalin PVA lebih resisten terhadap penetrasi air sehingga pelepasan dan permeasi berlangsung lebih lambat dan terkontrol. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi sistem nanoemulsi kurkumin berlapis kitosan yang responsif terhadap pH dengan JMt berbasis polimer, serta evaluasi sistematis aktivitas sitotoksiknya terhadap sel MCF-7. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah penting dalam pengembangan sistem penghantaran obat transdermal yang cerdas, terarah, dan noninvasif untuk terapi kanker serta membuka peluang pengembangan lanjutan menuju aplikasi praklinik dan klinis. Kata kunci: kurkumin, nanoemulsi, jarum mikro terlarut, penghantaran transdermal, sel MCF-7, kitosan, sistem pH responsif
PEMANFAATAN BIOKARBON ARANG KAYU CAMPURAN PADA PROSES REDUKSI SUHU TINGGI RESIDU BAUKSIT UNTUK PRODUKSI LOGAM BESI PADA TEMPERATUR 800 HINGGA 1200 °C
Tingkat permintaan aluminium terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor transportasi, konstruksi, dan kemasan, yang mendorong peningkatan produksi alumina sebagai bahan baku utama aluminium. Produksi alumina melalui Proses Bayer menghasilkan limbah padat berupa residu bauksit (red mud) dalam jumlah besar, dimana setiap 1 ton alumina dapat menghasilkan sekitar 0,8-1,5 ton residu bauksit. Limbah ini berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan karena sifatnya yang sangat basa. Namun, residu bauksit masih mengandung unsur berharga, terutama besi sehingga berpotensi dimanfaatkan kembali melalui proses reduksi suhu tinggi. Pemanfaatan biokarbon dari arang kayu campuran sebagai reduktor diharapkan dapat menjadi alternatif reduktor serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan batubara. Serangkaian percobaan reduksi temperatur tinggi telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh jenis reduktor dan temperatur terhadap karakteristik fasa logam dan terak yang terbentuk dari reduksi residu bauksit. Proses reduksi dilakukan menggunakan briket komposit residu bauksit dengan reduktor biokarbon atau batubara dalam horizontal tube furnace pada temperatur 800, 900, 1000, 1100, dan 1200°C dengan waktu penahanan 120 menit serta aliran gas argon sebesar 2 L/menit untuk menciptakan kondisi inert. Selama percobaan, massa awal dan massa akhir sampel dicatat sehingga perubahan massa dapat ditentukan secara kuantitatif sebagai indikasi berlangsungnya reaksi reduksi. Selanjutnya, produk hasil reduksi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui morfologi dan komposisi unsur, serta X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi fasa yang terbentuk. Persentase perubahan massa meningkat seiring kenaikan temperatur pada penggunaan kedua reduktor. Berdasarkan perbandingan perubahan massa aktual dan teoritis, reduksi residu bauksit menggunakan reduktor biokarbon menunjukkan persen konversi lebih tinggi yaitu maksimal 113%, sedangkan batubara sebesar maksimal 87,17%. Hasil pemetaan unsur menunjukkan pemisahan logam dan terak yang lebih baik pada penggunaan biokarbon. Kadar Fe tertinggi dari penggunaan biokarbon diperoleh pada temperatur 1000°C sebesar 99,24%, sedangkan batubara diperoleh pada 900°C sebesar 99,26%. Pada temperatur yang lebih tinggi, kadar Fe menurun akibat peningkatan kandungan silikon yang paling signifikan pada 1200°C, yaitu 5,61% pada biokarbon dan 3,90% pada batubara. Ukuran logam maksimum terbentuk pada 1200°C dengan nilai 77,15 ?m pada biokarbon dan 81,53 ?m pada batubara. Persentase area logam terbesar penggunaan reduktor biokarbon adalah sebesar 11,63% dan batubara sebesar 9,58%. Selain itu, fasa oksida dominan yang terbentuk pada kedua reduktor adalah fasa aluminosilikat.
PENINGKATAN KINERJA PREDIKSI LINK BERBASIS EMBEDDING DENGAN PENGELOMPOKAN VEKTOR
Knowledge graph digunakan untuk menyimpan sekumpulan fakta dalam bentuk triple SPO (subjek, predikat, objek) atau (entitas, relasi, entitas). Salah satu masalah yang umum terjadi pada KG adalah KG tidak lengkap yaitu terdapat salah satu bagian entitas atau relasi yang hilang. Penggunaan KG tidak lengkap dapat menurunkan akurasi suatu task. Relasi yang hilang merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada KG tidak lengkap. Untuk melengkapi link atau relasi yang hilang dapat menggunakan prediksi link. Seiring bertambahnya fakta yang perlu disimpan, ukuran KG juga bertambah besar, terdiri dari jutaan entitas dan relasi. Semakin besar KG, maka semakin besar juga peluang KG tersebut tidak lengkap dan waktu yang dibutuhkan untuk memprediksi relasi yang hilang juga semakin meningkat. Oleh karena itu, akurasi hasil prediksi dan efisiensi waktu prediksi pada metode prediksi link perlu ditingkatkan. Embedding merupakan salah satu pendekatan yang digunakan pada prediksi link. Embedding mengubah representasi entitas dan relasi sebagai vektor dalam ruang dimensi tertentu. Proses utama prediksi link berbasis embedding terdiri atas tiga tahap yaitu embedding, scoring, dan pemeringkatan. Embedding mengubah entitas dan relasi menjadi nilai vektor. Scoring menghitung skor setiap triple menggunakan scoring function tertentu dan pemeringkatan mengurutkan triple berdasarkan skor dari yang tertinggi hingga terendah. Hasil prediksi ditentukan dari skor setiap triple. Semakin tinggi skor, semakin besar kemungkinan triple tersebut valid. Clustering digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan kesamaan tertentu. Teknik ini dapat diterapkan pada prediksi link berbasis embedding untuk mengelompokkan vektor sehingga prediksi link dilakukan pada cluster tertentu. Dengan membatasi jumlah vektor yang perlu diproses pada proses scoring dan pemeringkatan triple, waktu yang dibutuhkan untuk proses prediksi menjadi lebih efisien dan meningkatkan peluang hasil prediksi yang lebih akurat. Eksperimen penelitian dilakukan pada tiga dataset: WN18RR, WN11 dan FB13. Teknik prediksi link berbasis embedding yang digunakan sebagai metode baseline adalah TransE dan eksperimen menggunakan beberapa dimensi embedding rentang 50 hingga 200. Pengelompokan vektor menggunakan dua skema yaitu Balanced Iterative Reducing and Clustering Using Hierarchies (BIRCH) dan pengelompokan berdasarkan kesamaan relasi. Kualitas cluster dievaluasi menggunakan Silhouette Coefficient (SC) dan akurasi prediksi link menggunakan Hits@N, Mean Rank (MR), Mean Reciprocal Rank (MRR). Pengukuran efisiensi waktu berdasarkan waktu yang digunakan untuk memprediksi seluruh data uji pada setiap dataset. Metode prediksi link berbasis embedding dengan pengelompokan vektor diberi nama Link Prediction Clustering (LPC). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kualitas cluster memiliki nilai rentang 0,86 hingga 0,93. Nilai ini mengindikasikan bahwa pengelompokan vektor mendekati nilai 1, yang berarti kualitas cluster yang dihasilkan bagus. Oleh karena itu pengelompokan vektor dapat digunakan untuk membatasi area prediksi link. Pemilihan kelompok vektor menggunakan pengukuran jarak terdekat antara triple yang akan diprediksi dengan cluster yang ada, menggunakan Euclidean dan Mahalanobis. Berdasarkan hasil perhitungan relatif terhadap metode baseline, penerapan kelompok vektor terbukti dapat meningkatkan akurasi hasil prediksi Hits@1 rentang 10% – 98% dan mempersingkat waktu prediksi rentang 62% - 99,96%. Berdasarkan hasil penelitian, LPC terbukti berhasil meningkatkan akurasi hasil prediksi link sekaligus mengurangi waktu prediksi link pada KG tidak lengkap dan berukuran besar. Kebaharuan dan orisinalitas penelitian ini terletak pada penerapan pengelompokan vektor hasil embedding. Kontribusi utama disertasi ini adalah menghasilkan metode prediksi link berbasis embedding yang lebih akurat dan waktu prediksi lebih efisien dengan pengelompokan vektor hasil embedding.
MODEL PENILAIAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI LIFE CYCLE ASSESSMENT DI KOTA BUKITTINGGI
Sektor pariwisata berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan akibat aktivitas akomodasi, transportasi, dan rekreasi yang menyertai pergerakan wisatawan. Kota Bukittinggi, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata, memiliki keterbatasan daya dukung lingkungan. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan intensitas pariwisata tanpa perencanaan yang memadai berisiko menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan aktivitas pariwisata di Kota Bukittinggi secara komprehensif menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), mulai dari tahap inventori hingga analisis dampak dan perumusan strategi pengelolaan berkelanjutan. Unit fungsional yang digunakan adalah satu wisatawan yang melakukan aktivitas selama satu hari di Kota Bukittinggi, dengan cakupan sistem meliputi subsistem akomodasi, transportasi, wisata rekreasi, wisata kuliner, dan wisata belanja. Hasil analisis dampak midpoint menunjukkan bahwa kategori dampak yang paling dominan adalah Global Warming Potential (GWP) pada setiap unit fungsional, yang terutama berasal dari penggunaan listrik di akomodasi (1,34 kg CO2-eq), transportasi—khususnya kendaraan MPV (0,64 kg CO2-eq), penggunaan energi pada aktivitas wisata rekreasi (0,148 kg CO2-eq), penggunaan kayu bakar pada wisata kuliner (0,976 kg CO2-eq), serta aktivitas wisata belanja yang berkaitan dengan produk suvenir berbasis olahan pertanian (1,058 kg CO2-eq). Dampak lanjutan pada tingkat endpoint untuk setiap unit fungsional mencakup penurunan kesehatan manusia yang direpresentasikan oleh hilangnya hari sehat akibat disabilitas sebesar 0,007 DALY, degradasi kualitas dan keberlanjutan ekosistem yang ditunjukkan oleh potensi kehilangan ekosistem terestrial sebesar 1,029 × 10-5 species·year, kehilangan ekosistem air tawar sebesar 1,16 × 10-5 species·year, serta kehilangan ekosistem air laut sebesar 4,7 × 10-8 species·year, dan meningkatnya biaya pemulihan sumber daya alam sebesar 0,36 USD. Proyeksi tekanan lingkungan hingga tahun 2040 mengindikasikan peningkatan beban lingkungan yang semakin besar seiring pertumbuhan jumlah wisatawan dan penduduk, apabila tidak dilakukan intervensi kebijakan dan teknologi yang memadai. Pengembangan skenario wisata ramah lingkungan dilakukan untuk mengevaluasi potensi penurunan dampak lingkungan melalui penerapan teknologi dan perubahan praktik pengelolaan. Skenario optimis menunjukkan bahwa implementasi panel surya sebesar 60–70% pada fasilitas akomodasi, penerapan rain water harvesting sebesar 60%, minimisasi dan pengelolaan sampah sebesar 50–74,5%, penyediaan layanan transportasi listrik sebesar 52,3%, penggunaan bahan pangan beras organik sebesar 20%, penggantian kayu bakar dengan sumber energi yang lebih bersih sebesar 100%, serta peningkatan pembelian suvenir ramah lingkungan sebesar 72% mampu menurunkan berbagai kategori dampak lingkungan secara signifikan per wisatawan per hari. Penurunan tersebut mencakup dampak perubahan iklim, konsumsi energi fosil, penggunaan air, serta toksisitas terhadap manusia dan ekosistem. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini menyusun roadmap pariwisata berkelanjutan Kota Bukittinggi periode 2026–2035 dengan pendekatan Three Horizons, yang mencakup tahapan stabilisasi, transformasi, serta integrasi. Roadmap ini menunjukkan bahwa penerapan skenario optimis secara bertahap berpotensi menurunkan dampak lingkungan per wisatawan per hari sekaligus menjaga daya saing destinasi wisata. Secara keseluruhan, hasil penelitian menyatakan bahwa integrasi pendekatan LCA ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan pariwisata daerah merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pariwisata Kota Bukittinggi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan berdaya dukung jangka panjang.
PEMETAAN PERUBAHAN MANGROVE DI KAWASAN PESISIR KECAMATANTANJUNG PALAS TENGAH KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA
Hutan mangrove sebagai vegetasi yang berada di daerah peralihan darat dan laut, telah diketahui memiliki berbagai fungsi, diantaranya mangrove dapat menyerap karbondioksida dengan baik, mencegah adanya abrasi pantai, intrusi pantai, tsunami, dan merupakan nursery ground bagi berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu konservasi terhadap hutan mngrove perlu dilakukan agar meminimalisasi kerusakan alam baik secara global maupun lokal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sebaran dan perubahan dari hutan mangrove itu sendiri dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, Kecamatan Tanjung Palas Tengah diambil sebagai daerah studi karena kecamatan tersebut merupakan salah satu kecamatan yang berada di pesisir yang memiliki potensi besar akan sumber daya mangrovenya. Penelitiaan ini menggunakan citra SPOT tahun 2008 dan 2010 sebagai data utama untuk mengidentifikasi perubahan luas dan kerapatan hutan mangrove. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi mangrove dan mengetahui luasannya adalah metode klasifikasi tak terawasi dan delineasi, sedangkan kerapatannya menggunakan NDVI (Normalized Differentiation Vegetation Index). Dari penelitian ini didapatkan perubahan luas hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah dari tahun 2008 hingga 2010, yaitu berkurang seluas 136,6 Ha. Untuk tingkat kerapatannya dibagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas jarang, sedang, dan rapat. Secara umum, perubahan kerapatan terjadi signifikan di kelas “sedang”, yang bertambah luasannya dari 0,00124 Ha menjadi 4334,84 Ha. Sedangkan kelas yang mendominasi di tahun 2008 hingga 2010, yaitu kelas “jarang”. Dapat disimpulkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah mengalami pengurangan luas namun terjadi pertumbuhan kerapatan tajuknya.
PROYEKSI VARIABILITAS KEDALAMAN TERMOKLIN DI PERAIRAN BARAT SUMATRA MENGGUNAKAN DATA MODEL CMIP6 TAHUN 2015-2045
Termoklin merupakan lapisan dilautan yang memiliki gradien suhu vertikal yang tajam dan berperan penting dalam dinamika laut-atmosfer serta ekosistem laut. Variabilitas kedalaman termoklin dipengaruhi oleh faktor musiman, pola angin, dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas tahunan kedalaman termoklin di perairan barat Sumatra pada periode 2015-2045 serta mengkaji perubahannya sebagai indikator dampak perubahan iklim berdasarkan data model CMIP6 pada skenario SSP1 dan SSP5, dengan ORAS5 sebagai data referensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh model CMIP6 mampu merepresentasikan pola spasial kedalaman termoklin. Pada skenario SSP1, kedalaman termoklin berkisar antara 120-146 m di lintang 3° LS-3° LU dan 75-120 m di laut lepas. Pada skenario SSP5, kedalaman termoklin meningkat menjadi sekitar 121-148 m di lintang 3° LS-3° LU dan 74-121 m di laut lepas, yang mengindikasikan adanya pendalaman sekitar 5 m pada skenario emisi tinggi. Secara temporal, ORAS5 menunjukkan kedalaman termoklin yang relatif stabil pada kisaran 95-120 m dengan kecenderungan pendangkalan. Sebaliknya, sebagian besar model CMIP6 menyimulasikan kedalaman termoklin yang lebih dalam dan menunjukkan tren pendalaman, terutama pada skenario SSP5. Perubahan skenario emisi lebih mempengaruhi nilai kedalaman dan bias termoklin, sedangkan pola penyebaran spasialnya relatif tidak banyak berubah. Di antara seluruh model yang dianalisis, TaiESM1 menunjukkan kinerja yang paling konsisten dalam merepresentasikan variabilitas kedalaman termoklin pada kedua skenario, dengan tingkat ke
ESTIMASI VARIASI NILAI SALINITAS PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT SENTINEL-2 DI PERAIRAN TELUK CIREBON
Salinitas merupakan salah satu parameter fisis oseanografi yang penting. Namun, pengukuran salinitas permukaan laut secara in-situ masih terbatas sehingga pemantauan secara spasial dan kontinu pada wilayah yang luas sulit dilakukan. Oleh karena itu, penginderaan jauh menggunakan citra satelit dapat menjadi alternatif untuk memperoleh informasi salinitas permukaan laut secara lebih luas dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi salinitas permukaan laut serta mengidentifikasi pola variasinya di perairan Teluk Cirebon menggunakan citra satelit Sentinel-2 pada periode 2023–2024.Estimasi salinitas dilakukan secara tidak langsung melalui pendekatan proxy dengan memanfaatkan indeks Colored Dissolved Organic Matter (CDOM), mengingat sensor optik pada Sentinel-2 tidak mampu mendeteksi garam terlarut secara langsung. Pada wilayah pesisir, salinitas umumnya berkorelasi terbalik dengan konsentrasi CDOM sehingga perubahan reflektansi spektral dapat digunakan untuk mengindikasikan variasi salinitas. Proses pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak Sentinel Application Platform (SNAP) dengan menguji beberapa persamaan empiris.Validasi model dilakukan dengan membandingkan hasil estimasi dengan data salinitas in-situ pada musim JJA 2023 menggunakan parameter RMSE (Root Mean Square Error), koefisien korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan III.3 merupakan model paling optimal dengan nilai RMSE sebesar 0,0983, koefisien determinasi sebesar 0,8484, dan koefisien korelasi sebesar 0,9211.Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya variasi salinitas permukaan laut di Teluk Cirebon selama periode 2023–2024 dengan pola musiman yang relatif konsisten. Nilai salinitas tertinggi terjadi pada musim JJA, diikuti musim SON dan MAM, sedangkan nilai terendah terjadi pada musim DJF. Variasi tersebut dipengaruhi oleh curah hujan yang menunjukkan hubungan terbalik dengan salinitas, di mana salinitas meningkat saat curah hujan menurun dan sebaliknya. Selain itu, dinamika arus permukaan yang berubah secara musiman juga turut memengaruhi distribusi salinitas di Teluk Cirebon.
ANALISIS VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) SELAMA HOLOSEN DI PERAIRAN INDONESIA BERDASARKAN KOMPILASI DATA EKSISTING RASIO MG/CA DAN ?¹?O PADA INTI SEDIMEN LAUT
Perairan Indonesia merupakan wilayah tropis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui sistem Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), sehingga berperan penting dalam pertukaran panas dan massa air dalam sistem iklim global. Variabilitas suhu permukaan laut (SPL) selama Holosen mencerminkan dinamika iklim pascadeglasiasi serta respons oseanografi regional terhadap pengaruh iklim global dan regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas SPL selama periode Holosen (0–12.000 cal BP) serta membandingkan pola perubahan SPL antara wilayah perairan Indonesia bagian barat dan timur. Data yang digunakan berupa rasio Mg/Ca dan isotop oksigen (?¹?O) dari foraminifera planktonik Globigerinoides ruber yang berasal dari 12 inti sedimen laut di perairan Indonesia dan diperoleh dari basis data Paleoclimatology NOAA. Rasio Mg/Ca digunakan untuk merekonstruksi suhu permukaan laut, sedangkan kombinasi Mg/Ca dan ?¹?O digunakan untuk menghitung isotop oksigen air laut (?¹?Osw). Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa SPL di perairan Indonesia selama Holosen berada pada kisaran 26,0–30,3 °C dengan tren peningkatan dari Holosen awal hingga Holosen akhir. Rata-rata SPL meningkat dari sekitar 27,7 °C pada Holosen awal menjadi 28,8 °C pada Holosen tengah dan mencapai sekitar 29,2 °C pada Holosen akhir, dengan rata-rata keseluruhan sekitar 28,6 °C. Secara spasial, perairan Indonesia bagian barat menunjukkan variasi SPL yang lebih besar (sekitar 26,0–29,4 °C), sedangkan perairan Indonesia bagian timur menunjukkan variasi yang relatif lebih stabil (sekitar 26,9–29,5 °C). Berdasarkan rata-rata wilayah selama Holosen, suhu di perairan Indonesia bagian barat sekitar 0,6 °C lebih rendah dari rata-rata SPL Indonesia, sedangkan perairan Indonesia bagian timur sekitar 0,1 °C lebih rendah. Nilai ?¹?Osw yang berkisar ?0,18 hingga 0,82‰ menunjukkan bahwa selain suhu, dinamika hidrologi juga mempengaruhi rekaman paleoklimat di perairan Indonesia selama Holosen.
INTEGRATED HYDRODYNAMIC AND THERMAL MODELING TO ANALYZE THE INFLUENCE OF JETTY STRUCTURES AND POWER PLANT DISCHARGE AT THE JAVA 7 COAL-FIRED POWER PLANT, SERANG, BANTEN, INDONESIA
Wilayah pesisir yang menjadi lokasi infrastruktur pembangkit listrik skala besar dicirikan oleh interaksi kompleks antara dinamika laut alami dan struktur rekayasa. Operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara di wilayah pesisir menghasilkan pembuangan panas secara kontinu melalui sistem air pendingin, sementara infrastruktur pendukung seperti jetty memberikan batasan fisik terhadap sirkulasi perairan. Kombinasi pengaruh tersebut berpotensi mengubah kondisi hidrodinamika lokal, memengaruhi distribusi suhu dan salinitas, serta memodifikasi proses pencampuran di perairan sekitarnya. Oleh karena itu, analisis yang komprehensif dan terintegrasi terhadap proses-proses tersebut menjadi penting untuk mendukung pengelolaan operasi pembangkit listrik pesisir yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. PLTU Java 7 yang berlokasi di perairan pesisir Serang, Banten, Indonesia, memiliki peran strategis dalam memasok energi listrik untuk Pulau Jawa. Pembangkit ini menggunakan air laut sebagai media pendingin yang kemudian dibuang kembali ke lingkungan laut dengan suhu yang lebih tinggi. Selain itu, struktur jetty dibangun untuk mendukung kegiatan transportasi bahan bakar dan operasional pembangkit. Meskipun infrastruktur tersebut sangat penting bagi operasional pembangkit, keberadaannya dapat memengaruhi pola arus serta penyebaran plume suhu dan salinitas yang dihasilkan dari pembuangan air pendingin. Pemahaman terhadap interaksi ini sangat krusial dalam mengevaluasi potensi dampak lingkungan dan sosial di wilayah pesisir sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh struktur jetty dan pembuangan air pendingin terhadap karakteristik hidrodinamika, suhu, dan salinitas di perairan pesisir sekitar PLTU Java 7 menggunakan pendekatan pemodelan numerik terintegrasi. Pemodelan hidrodinamika dua dimensi dilakukan menggunakan MIKE 21 untuk mensimulasikan elevasi muka air, tinggi gelombang signifikan, serta kecepatan arus horizontal rata-rata kedalaman. Model dikembangkan, dikalibrasi, dan diverifikasi menggunakan data observasi yang tersedia untuk memastikan bahwa hasil simulasi merepresentasikan kondisi hidrodinamika wilayah studi secara realistis. Untuk menangkap proses hidrodinamika multiskala secara memadai, diterapkan pendekatan pemodelan bersarang (nested modeling). Model skala regional terlebih dahulu dibangun untuk merepresentasikan dinamika pasang surut, gelombang, dan arus dalam skala besar. Hasil dari model regional ini kemudian digunakan sebagai kondisi batas bagi model lokal dengan resolusi lebih tinggi yang berfokus pada area sekitar pembangkit dan struktur jetty. Pendekatan ini memungkinkan transfer gaya hidrodinamika regional ke dalam domain lokal secara konsisten, di mana pengaruh struktur dan proses pembuangan panas menjadi lebih dominan. Berdasarkan hasil pemodelan hidrodinamika dua dimensi bersarang, model tiga dimensi dikembangkan menggunakan MIKE 3 untuk mensimulasikan distribusi suhu dan salinitas akibat pembuangan air pendingin. Kerangka pemodelan tiga dimensi ini dirancang untuk merepresentasikan stratifikasi vertikal, proses pencampuran, serta perilaku plume dalam kolom air. Kalibrasi dan verifikasi model suhu dan salinitas dilakukan menggunakan data observasi yang tersedia guna mengevaluasi keandalan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur jetty secara signifikan memengaruhi kondisi hidrodinamika lokal dengan mengubah arah dan kecepatan arus di sekitar area pembangkit. Perubahan hidrodinamika ini berdampak pada jalur dispersi serta sebaran spasial plume suhu dan salinitas. Simulasi tiga dimensi menunjukkan bahwa pembuangan panas dapat menyebabkan stratifikasi lokal pada kondisi tertentu, sementara gaya hidrodinamika dan pengaruh struktur mendorong proses pencampuran serta pemisahan plume di area lain. Interaksi antara hidrodinamika, pembuangan panas, variasi salinitas, dan struktur jetty memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku plume termal, yang berimplikasi pada pengelolaan sistem pendingin dan mitigasi dampak lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemodelan terintegrasi menggunakan MIKE 21 dan MIKE 3 merupakan kerangka yang andal untuk menganalisis proses hidrodinamika dan termal yang saling berinteraksi di lingkungan pembangkit listrik pesisir. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung kajian dampak lingkungan dan sosial, pengelolaan wilayah pesisir, serta operasi pembangkit listrik yang berkelanjutan, dan dapat menjadi referensi bagi studi serupa di wilayah pesisir lainnya.
BERADAPTASI DENGAN PERUBAHAN: PERAN PRAKTIK PEMASARAN INTERAKTIF DALAM EVOLUSI INDUSTRI PENERBITAN BUKU
Penelitian ini mengkaji salah satu tantangan utama yang dihadapi industri penerbitan buku di Indonesia, yaitu bagaimana beradaptasi dengan disrupsi digital dan perubahan perilaku konsumen di tengah penurunan penjualan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola yang berulang dalam perilaku pembaca. Meskipun banyak pembaca masih menyatakan preferensi terhadap buku fisik, preferensi tersebut tidak selalu tercermin dalam keputusan pembelian, sehingga terlihat adanya kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa yang benar-benar dibeli. Untuk memahami kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan mixedmethod dengan mengombinasikan survei kuantitatif terhadap 1.000 responden dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan praktisi industri terpilih, yaitu Gramedia, Mizan, Transmedia Pustaka, Unpad Press, Indscript, dan Bitread Publishing. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa permasalahan utama tidak terletak pada format buku itu sendiri, melainkan pada bagaimana buku diposisikan, diperkenalkan, dan dihadirkan dalam konteks keseharian pembaca. Dengan mengacu pada perspektif network society dari Castells, pendekatan adaptive marketing dari McKinsey, serta kerangka STP dan interactive marketing, penelitian ini menunjukkan pendekatan segmentasi demografis konvensional saja tidak lagi memadai. Sebaliknya, strategi yang lebih adaptif seperti persona, komunikasi dua arah, dan pembangunan komunitas tampak berperan dalam memperkuat nilai yang dirasakan oleh pembaca. Selain itu, praktik co-creation dan keterlibatan aktif penulis juga berpotensi mendorong keterikatan pembaca yang lebih mendalam. Penelitian ini tidak bermaksud menawarkan solusi yang bersifat final, melainkan mengusulkan sebuah kerangka strategis yang membantu menjelaskan bagaimana penerbit dapat merespons perubahan perilaku pembaca. Temuan ini memberikan implikasi praktis yang dapat ditransfer ke berbagai jenis penerbit, baik penerbit komersial besar maupun penerbit independen dan akademik, sekaligus berkontribusi pada diskusi mengenai adaptasi industri penerbitan dalam menghadapi transformasi digital.
PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DI AREA PELABUHAN
Patimban menghadapi peningkatan permintaan daya listrik akibat besarnya skala aktivitas operasional, dengan kebutuhan listrik tahunan yang diproyeksikan mencapai 38,86 GWh pada tahap pengembangan akhir. Walaupun pemerintah Indonesia berkomitmen pada konsep "Green Port", yang mana memprioritaskan energi berkelanjutan untuk mengurangi emisi, pasokan listrik saat ini masih sangat bergantung pada sumber bahan bakar fosil. Situasi ini menciptakan konflik manajemen energi bagi kegiatan operasional Pelabuhan Patimban. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, studi ini mengusulkan pembangkit listrik tenaga surya terapung (Floating Photovoltaic/FPV) berkapasitas 78,6 MWp. Tata letak yang diusulkan terdiri dari 20 pulau terapung yang dikategorikan ke dalam tiga tipe berbeda: enam pulau masing-masing berkapasitas 3,09 MWp, tujuh pulau berkapasitas 3,64 MWp, dan tujuh pulau berkapasitas 4,93 MWp. Penempatan pulau-pulau ini secara khusus mempertimbangkan alur navigasi maintenance boat untuk memastikan akses operasional yang efisien. Kelayakan desain ini dievaluasi menggunakan simulasi numerik, di mana setiap pulau PV terapung dimodelkan sebagai rigid body yang dirangkai dari beberapa jenis modul floater yang tersedia. Pertama, karakteristik hidrodinamika struktur dimodelkan menggunakan OrcaWave, sebuah perangkat lunak berbasis boundary element method (BEM). Setiap pulau kemudian dikenakan beban lingkungan yang berasal dari angin, arus, serta gelombang air laut, baik first-order maupun second-order wave. Gaya ini dihitung secara analitis dan diaplikasikan sebagai beban titik (point load) selama simulasi dinamis di OrcaFlex. Sistem penambatan (station-keeping) menggunakan material polyester berdiameter 18 mm untuk mengamankan struktur. Analisis difokuskan pada faktor-faktor kritis seperti offset pulau dan tegangan tali tambat (mooring tension) untuk memastikan struktur tetap stabil dan mematuhi standar yang relevan. Terakhir, gaya reaksi yang dihasilkan pada dasar laut akibat mooring dianalisis untuk merancang angkur pemberat (deadweight anchors) dengan mempertimbangkan kriteria spesifik untuk stabilitas vertikal, lateral, guling (overturning), dan daya dukung tanah (bearing capacity).
EVALUASI DAMPAK LINGKUNGAN DARI REFRIGERAN BER-GWP TINGGI DAN EKSPLORASI ALTERNATIF BERKELANJUTAN UNTUK REFRIGERASI KOMERSIAL DI INDONESIA
Indonesia's commercial refrigeration sector relies heavily on R-404A, a refrigerant with a high Global Warming Potential (GWP) targeted for phase-down under the Kigali Amendment. This study evaluates the thermodynamic performance, technical feasibility, and environmental impact of replacing R-404A with low-GWP alternatives R-407F and R-454C in a 15.00 kW commercial system. Thermodynamic metrics, primarily Coefficient of Performance (COP) and Volumetric Cooling Capacity (VCC), were obtained using Aspen HYSYS simulations. A feasibility assessment compared drop-in versus retrofit scenarios to ensure cooling loads were maintained. Additionally, the study forecasted nationwide direct emissions from 2025 to 2045 and conducted a Total Equivalent Warming Impact (TEWI) analysis to quantify the comprehensive lifecycle carbon footprint. Results indicate that R-407F offers the highest efficiency (COP 1,52) as a viable drop-in replacement. Conversely, R-454C provides a 96% reduction in GWP but operates at a lower efficiency (COP 1,41), requiring a 16,09% compressor capacity upscale (retrofit) to prevent excessive duty cycles. Emission forecasts show that transitioning to R-454C would reduce national direct emissions by 96,41% by 2045. TEWI analysis reveals that while R-407F currently yields the lowest overall lifecycle footprint, R-454C offers superior long-term climate benefits by minimizing the environmental impact of refrigerant leaks. Ultimately, this research provides essential engineering and policy data for Indonesia's transition to sustainable refrigeration.
ANALISIS UMUR SUDU TURBIN BERDASARKAN PARAMETER CREEP DENGAN METODE ELEMEN HINGGA PADA PLTP LAHENDONG UNIT 1
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional serta menyediakan suplai listrik yang stabil sebagai sumber energi baseload. Dalam sistem pembangkit ini, turbin uap merupakan komponen utama yang berfungsi mengubah energi termal dari uap panas bumi menjadi energi mekanik yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik melalui generator. Keandalan dan efisiensi operasi turbin sangat bergantung pada kondisi komponen sudu turbin yang bekerja pada kondisi operasi yang ekstrem, yaitu temperatur tinggi, tekanan tinggi, serta lingkungan kimia yang agresif. Pada sistem pembangkit panas bumi, uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin sering kali mengandung gas non-kondensabel seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), yang berpotensi menciptakan lingkungan korosif dan mempercepat proses degradasi material. PLTP Lahendong Unit 1 di Sulawesi Utara merupakan salah satu pembangkit panas bumi yang memiliki peran penting dalam sistem kelistrikan regional dengan kapasitas terpasang sebesar 20 MW. Unit pembangkit ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2001 dan telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Seiring dengan meningkatnya akumulasi jam operasi, komponen-komponen kritis pada turbin mengalami proses penuaan material yang dapat memengaruhi integritas struktural dan keandalannya. Sudu turbin merupakan salah satu komponen yang paling rentan terhadap kerusakan karena secara langsung terpapar aliran uap berkecepatan tinggi serta berbagai kontaminan kimia yang terkandung di dalam fluida panas bumi. Kondisi ini menyebabkan sudu turbin berpotensi mengalami berbagai mekanisme kerusakan seperti creep, korosi, erosi, fatigue, dan stress corrosion cracking (SCC), yang dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya kegagalan struktural komponen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi pada sudu turbin PLTP Lahendong Unit 1 serta mengevaluasi umur sisa komponen berdasarkan mekanisme degradasi material yang terjadi selama operasi. Pendekatan penelitian dilakukan melalui analisis kerusakan menggunakan data inspeksi Non- Destructive Test (NDT), evaluasi perubahan mikrostruktur material menggunakan metode in-situ metallography, serta analisis numerik menggunakan simulasi metode elemen hingga (finite element method). Analisis tersebut mempertimbangkan parameter operasi aktual pembangkit seperti temperatur uap, ii tekanan operasi, serta durasi operasi yang diperoleh dari data log sheet operasional pembangkit. Metode inspeksi material yang digunakan dalam penelitian ini meliputi berbagai teknik pengujian non-destruktif seperti ultrasonic test (UT), magnetic particle test (MPT), dan penetrant inspection untuk mendeteksi adanya cacat permukaan maupun cacat internal pada material sudu turbin. Selain itu, pengujian metalografi in-situ dilakukan untuk mengamati perubahan mikrostruktur material yang terjadi akibat paparan temperatur tinggi dan tegangan jangka panjang selama masa operasi turbin. Melalui pengamatan mikrostruktur, indikasi kerusakan akibat creep dapat diidentifikasi melalui keberadaan microvoids, cavities, oriented cavities, maupun microcracks yang terbentuk pada batas butir material. Perubahan mikrostruktur tersebut menjadi indikator penting dalam mengevaluasi tingkat kerusakan material dan memperkirakan sisa umur pakai komponen. Hasil analisis menunjukkan bahwa degradasi material pada sudu turbin dipengaruhi oleh kombinasi faktor termal, mekanis, dan kimia dari lingkungan operasi panas bumi. Interaksi antara temperatur tinggi, tegangan jangka panjang akibat gaya sentrifugal turbin, serta lingkungan korosif dari gas-gas non-kondensabel dapat mempercepat proses degradasi material pada sudu turbin yang terbuat dari Martensitic Stainless Steel (SS 410). Dalam kondisi operasi jangka panjang, proses creep dapat menyebabkan pembentukan rongga mikro (microcavities) yang kemudian berkembang menjadi retakan mikro dan retakan makro yang berpotensi menyebabkan kegagalan struktural komponen apabila tidak terdeteksi secara dini. Melalui pendekatan analisis terpadu yang menggabungkan inspeksi material, evaluasi mikrostruktur, serta simulasi numerik, penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi degradasi aktual pada sudu turbin serta estimasi sisa umur operasionalnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penerapan strategi pemeliharaan berbasis kondisi (condition-based maintenance) serta perencanaan pemeliharaan turbin yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, keandalan operasi PLTP Lahendong Unit 1 dapat tetap terjaga sekaligus meminimalkan risiko kegagalan komponen yang tidak terprediksi serta meningkatkan umur pakai aset pembangkit secara keseluruhan.
PEMODELAN PELUANG GOL PADA FUTSAL SATU-LAWAN-SATU MENGGUNAKAN SIMULASI KINEMATIKA DAN GEOMETRI SHOOTING
Penelitian ini memperluas metrik Expected Goals (xG) pada skenario futsal satu- lawan-satu menjadi fungsi probabilitas gabungan spasio-temporal menggunakan Agent-Based Modeling. Melalui metode Monte Carlo berbasis komputasi JavaScript, probabilitas gol dievaluasi dengan mengonfrontasikan kecepatan proyektil (15, 25, dan 35 m/s) terhadap latensi motorik biologis penjaga gawang (200 ms). Perhitungan ruang lintasan diekstraksi secara dinamis menggunakan algoritma bisektor sudut bukaan gawang (open angle) dan terintegrasi dengan Continuous Collision Detection (CCD). Hasil regresi fungsi Sigmoid terhadap data simulasi membuktikan bahwa peningkatan energi kinetik memicu pergeseran drastis pada titik ekuilibrium (peluang gol 50%). Jarak kritis (x0) terdorong mundur dari 9,23 meter pada kecepatan 15 m/s menjadi 19,24 meter pada 35 m/s, sementara ambang batas sudut ( ?0 ) menyusut ketat dari 0,21 menjadi 0,09 radian. Disimpulkan bahwa momentum proyektil ekstrem memicu kelumpuhan reaksi (reaction paralysis) yang secara efektif menetralkan parameter jarak tembak. Peluang gol terbukti merupakan hasil irisan mutlak antara ketersediaan celah geometri dan keunggulan waktu kinematika, di mana sisa probabilitas kegagalan asimtotik murni diakibatkan oleh inakurasi biomekanik penendang (angular noise).
PERANCANGAN KATALOG KOMODITAS TERINTEGRASI TKDN DAN MEKANISME MONITORING DALAM PROSES PENGADAAN DI PT BUMI ENERGI
PT Bumi Energi merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi dan berkontribusi dalam mendukung kebijakan industri nasional melalui praktik pengadaannya. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2022, BUMN diwajibkan memprioritaskan pengadaan produk dalam negeri, dengan pengawasan oleh Kementerian ESDM serta BPKP. Meskipun demikian, banyak BUMN, termasuk PT Bumi Energi, masih menghadapi tantangan dalam penerapannya, seperti vendor yang belum memahami cara melakukan selfassessment nilai TKDN, sementara pelaporan perusahaan masih mengandalkan data TKDN yang dideklarasikan sendiri oleh vendor. Selain itu, belum terdapat pedoman teknis yang jelas mengenai penerapan mekanisme monitoring dan sanksi TKDN, padahal hal ini sangat krusial terutama untuk pengadaan strategis. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan PT Bumi Energi sebagai unit analisis. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, telaah dokumen internal dan pedoman kebijakan. Untuk memperoleh wawasan praktik terbaik, dilakukan benchmarking dengan perusahaan hulu migas yang telah menerapkan kebijakan TKDN secara efektif. Analisis difokuskan pada identifikasi kesenjangan dan hambatan implementasi, yang kemudian menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi strategi perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum optimalnya implementasi TKDN dipengaruhi oleh ketiadaan regulasi sektoral yang secara rinci mengatur pelaksanaan TKDN di sektor pertambangan dan minerba, berbeda dengan sektor migas yang telah memiliki ketentuan komprehensif termasuk penerapan sanksi. Perbandingan dengan perusahaan serumpun mengindikasikan tantangan serupa, terutama pada aspek monitoring dan verifikasi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan kemampuan pengguna dalam proses monitoring melalui pendampingan oleh tim P3DN perusahaan. Penelitian ini juga menyarankan pemanfaatan dokumentasi capaian TKDN dari proyek sejenis sebagai referensi penetapan nilai minimum TKDN pada pengadaan berikutnya, dengan catatan spesifikasi dan kondisi pasar tetap relevan.