📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

STUDI EVALUASI DESAIN BUKAAN DAN RUANG DALAM TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DAN VISUAL WELL-BEING PENGHUNI UNIT APARTEMEN

Unit vertikal seperti apartemen semakin berkembang di lingkungan perkotaan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akan tetapi, desain apartemen sebagai unit vertikal tentunya berbeda dengan desain unit tapak. Tata letak ruang dalam tidak sepenuhnya mendapatkan pencahayaan alami optimal yang merata akibat dari bukaan fasad tunggal. Apartemen sebagai lingkungan fisik menjadi faktor eksternal yang menciptakan lingkungan cahaya yang dapat memengaruhi well-being penghuni. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan menjadi stimulus persepsi visual dan respon biologis melaui jalur image forming (IF) dan non-image forming (NIF). Tidak optimalnya pencahayaan alami di dalam ruang dapat disebabkan oleh proporsi jendela yang kurang tepat atau orientasi ruang yang kurang optimal sehingga dapat memengaruhi well-being penghuni. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap 32 unit dan 37 responden pengukuran lapangan iluminansi horizontal (Eh), iluminansi vertikal (Ev), dan equivalent melanopic lux (EML), simulasi data pencahayaan tahunan (sDA dan ASE), serta survei kesejahteraan (SPANE-B) dan persepsi kenyamanan visual. Hasil menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami di dalam ruang merupakan kombinasi simultan dari posisi terhadap obstruksi, desain selubung bangunan, orientasi dan layout ruang. EML berhubungan positif dengan keseimbangan SPANE-B, dengan 200 melanopic lux sebagai ambang minimum. Kontribusi penelitian ini adalah pada hubungan stimulus cahaya dengan kesejahteraan penghuni di dalam konteks hunian serta pada perumusan kombinasi parameter desain.

2026
👤 Penulis: Zakia Haura L F I
🏷️ Kehutanan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS KARAKTERISTIK FOTOMETRIK DAN KUALITAS DAYA LAMPU LED 30 WATT PADA VARIASI TINGKAT PEMBEBANAN MENGGUNAKAN DUA SUMBER TEGANGAN

Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED 30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9% terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111– 115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar 1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN. Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan nilai rata-ratanya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Daffanuur
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KARAKTERISASI FOTOMETRIK DAN ANALISIS ARUS HARMONIK LAMPU LED 20W UNTUK PENGGUNAAN SEKTOR DOMESTIK DENGAN DUA SUMBER TEGANGAN (PLN DAN AC POWER SUPPLY)

Program Sustainable Development Goals (SDG) 7 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan akses energi bersih dan terjangkau secara universal pada tahun 2030. Di Indonesia, sektor rumah tangga mendominasi konsumsi listrik dengan 134.563,85 GWh atau 42,36% dari total 317.691,86 GWh menurut Statistik PLN 2025. Lampu LED telah mendominasi sektor penerangan domestik Indonesia karena efikasi tinggi dan masa pakai panjang. Namun, driver LED tanpa Power Factor Correction (PFC) menghasilkan arus harmonik yang signifikan akibat karakteristik non-linear penyearah gelombang penuh dengan kapasitor filter. Penelitian ini menganalisis arus harmonik 12 unit lampu LED Verdant 20W secara komprehensif melalui tiga tahap: (1) karakterisasi fotometrik dan kolorimetri menggunakan sistem Lisun LPCE-3 Integrating Sphere; (2) pengukuran parameter kualitas daya pada konfigurasi paralel 1–12 lampu dengan dua sumber tegangan, yaitu jaringan PLN (strong grid, ~222 V) dan AC Power Supply 500 VA (weak grid, ~219 V); serta (3) pemodelan regresi per orde harmonik H1–H25 dengan evaluasi tiga model (linear, polinomial derajat-2, dan polinomial derajat-3) menggunakan metrik R², Adjusted R², RMSE, dan NRMSE-M. Hasil karakterisasi fotometrik menunjukkan bahwa fluks cahaya rata-rata 12 unit sebesar 1913,7 lm hanya mencapai 87,1% dari nilai pengenal yang diklaim produsen (2196 lm), tidak memenuhi ambang minimum 90% yang disyaratkan SNI IEC 62612:2020. CRI Ra rata-rata 79,4 juga berada di bawah batas minimum Ra ? 80 yang ditetapkan SNI 6197-2020. Pada Tahap 2, THDi kedua sumber jauh melampaui batas IEC 61000-3-2 Kelas C (30%), dengan rata-rata PLN 108,74% dan ACPS 107,61%. Analisis framework daya IEEE 1459-2010 mengungkapkan bahwa penyebab utama True Power Factor rendah (PLN: 0,526; ACPS: 0,637) adalah daya distorsi D, bukan daya reaktif Q (rasio D/Q PLN = 1,8; ACPS = 3,3), sehingga kapasitor kompensasi tidak efektif. THDv ACPS meningkat linear dari 1,21% menjadi 7,65% seiring penambahan beban, mendekati batas IEC 8%. Novelty utama penelitian ini adalah pembuktian kuantitatif bahwa regresi linear tidak memadai untuk orde harmonik menengah pada sumber berimpedansi tinggi. Pada H9 sumber ACPS, R² model linear hanya 0,121 (NRMSE-M = 19,78%, kategori Buruk), sedangkan model Poly-2 memberikan R² = 0,875 (NRMSE-M = 7,45%). Orde H11 ACPS memerlukan model Poly-3 (R² = 0,912, NRMSE-M = 8,08%) karena baik model linear maupun Poly-2 gagal. Sementara itu, seluruh orde H1–H25 pada sumber PLN dapat dimodelkan dengan regresi linear (R² > 0,94). NRMSE-M dikembangkan sebagai metrik validasi baru yang memungkinkan perbandingan akurasi lintas orde dengan skala berbeda. Forecasting hingga n = 36 lampu mengindikasikan THDi PLN ~115,9% dan ACPS ~94,5%, dengan THDv ACPS mencapai ~22%, jauh melampaui batas IEC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Nur Tastaftyan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH KOMBINASI INSECT FRASS DENGAN MEDIA TANAM VERMICOMPOST TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEA)

Dalam beberapa tahun terakhir, microgreens berkembang sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi karena kandungan nutrisi melimpah dan siklus produksi singkat. Namun, produksinya masih bergantung pada media tanam konvensional yang kurang berkelanjutan. Insect frass, hasil biokonversi limbah organik oleh larva Black Soldier Fly (BSF), berpotensi menjadi pupuk organik alternatif karena kaya unsur hara serta mengandung kitin yang merangsang pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan frass secara tunggal berisiko menimbulkan variasi kualitas dan fitotoksisitas, sehingga diperlukan kombinasi dengan media organik lain seperti vermicompost untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi insect frass dan dengan kombinasi media tanam berbasis vermicompost terhadap performa perkecambahan, pertumbuhan, produktivitas, kualitas fisiologis dan nutrisi, serta karakteristik media dan respon air pada microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL) dengan perbedaan media tanam sebagai perlakuan. Terdapat 4 perlakuan yaitu P1 (Tanah 100%), P2 (Tanah + NPK), P3 (Tanah + Insect frass 1,2%), P4 (50% Tanah + 50% Vermicompost + Insect frass 1,2%). Parameter yang diamati meliputi daya dan potensi berkecambah, kecepatan serta keserempakan tumbuh, tinggi tanaman, panjang akar, bobot tajuk dan akar, kadar air, rasio tajuk-akar, serta kandungan vitamin C dan klorofil. Suhu dan kelembapan ruangan dicatat selama penelitian, sedangkan analisis nutrisi media dilakukan sebelum tanam dan setelah panen. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Growth performance terbaik diperoleh dari perlakuan P4 dengan media tanam yaitu 50% tanah + 50% vermicompost + insect frass 1,2% dengan daya berkecambah, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah dan kering tajuk, kadar air, kadar klorofil, kadar vitamin c masing-masing sebesar 91,33±0.67, 93.33±1.76, 81.23±1.93, 8,26 ± 0.32 cm, 7.70±0.31 cm, 5.17±0.35 gr, 1.78±0.22 gr, 0.26±0.03 gr, 0.17±0.01 gr, 94.82±1.00 %, 24.70±1.01 SPAD, 23.10±2.01 mgl/L dan 17.63 mg/100gr. Sementara itu, keserempakan berkecambah terbaik diperoleh pada perlakuan P1 dengan perlakuan media tanam 100% sebesar 92±0.63 Sedangkan untuk nilai shoot root ratio tertinggi diperoleh pada P2 dengan media tanam tanah sebesar 1.59 ± 0.23 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap parameter perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot total, kadar air, kandungan vitamin. Namun, media tanam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada shoot root ratio dan kandungan klorofil pada microgreens kale (Brassica oleracea). Secara umum, aplikasi kombinasi insect frass & vermicompost dapat meningkatkan performa perkecambahan, pertumbuhan vegetative, akumulasi biomassa serta kandungan nutrisi pada microgreens kale (Brassica oleracea).

2026
👤 Penulis: Salwa Salsadila
🏷️ Microgreens 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

INTEGRASI MANAJEMEN LEAN, AGILE/SCRUMDAN PMBOK DALAM MENINGKATKAN PROSES USERACCEPTANCE TESTING (UAT) (STUDI KASUS PERUSAHAAN PERBANKAN)

Percepatan transformasi digital di industri perbankan Indonesia telah mencip-takan tekanan besar pada proses pengujian perangkat lunak. Di Banking Co., sebuah bank swasta terkemuka, volume fitur yang diuji meningkat 295 persen antara 2022 dan 2024 dari 5.840 menjadi 43.595 fitur, sementara prosedur kerja UAT tidak mengalami perubahan yang sebanding. Kesenjangan ini mengakibat-kan akumulasi pemborosan sistemis, siklus pengerjaan ulang, dan risiko kele-lahan kerja yang merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan modal manusia dan pilar People dalam agenda keberlanjutan organisasi. Penelitian ini mengidentifikasi jenis pemborosan yang mendominasi proses UAT, merumuskan solusi integrasi Lean–Agile/Scrum–PMBOK, dan menganalisis po-tensi dampaknya terhadap efisiensi dan keberlanjutan kapasitas tim. Pendekatan mixed methods diterapkan melalui survei 65 item Likert kepada 371 Testing Ana-lyst (52 responden) dan wawancara mendalam dengan tiga narasumber expert judgment dari level jabatan berbeda. Pemborosan diprioritaskan menggunakan Relative Importance Index (RII), dan opsi perbaikan diurutkan berdasarkan Composite RII. Tujuh kategori pemborosan teridentifikasi pada 12 aktivitas UAT yang dipetakan ke PMBOK Knowledge Area. Defects menempati prioritas tertinggi (RII 0,756), diikuti Movement (0,735), Waiting (0,725), Overproduction (0,718), Excess In-ventory (0,705), Transport (0,688), dan Overprocessing (0,681). Rentang RII 0,075 mengonfirmasi ketujuh kategori memerlukan intervensi sistemis. Dua temuan metodologis penting muncul: pemborosan Movement berada di prioritas kedua menurut survei pelaksana namun keenam menurut manajemen, gap empat posisi yang hanya terdeteksi melalui triangulasi dan Overprocessing mencatat RII terendah namun mendapat suara tertinggi dalam pertanyaan refleksi terbuka, mengindikasikan kondisi di mana pemborosan telah diterima sebagai rutinitas normal. Delapan opsi perbaikan dirumuskan dan diprioritaskan: Tanggung Jawab Ber-sama BA–IT–Testing (0,919), Stabilisasi Sistem dan Platform UAT Terintegrasi (0,912), Penyederhanaan UI/UX (0,885), WIP Limit dan Manajemen Kapasitas (0,881), Definition of Ready beserta Wewenang Eskalasi (0,879), Instruksi Kerja UAT Lean Edition (0,829), Saluran Umpan Balik Kaizen Terstruktur, dan Oto-masi AI Selektif. Kedelapan opsi diintegrasikan ke dalam peta jalan bertahap pada 12 aktivitas UAT dengan memanfaatkan mekanisme Agile/Scrum yang su-dah berjalan. Sebanyak 76,9 persen responden meyakini eliminasi pemborosan sistemis akan secara signifikan mengurangi risiko kelelahan kerja, memosisikan penelitian ini sebagai upaya mempertahankan kapasitas manusia untuk ber-kontribusi secara bermakna dalam jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Dedi Yusuf Hernanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pengujian Perangkat Lunak

HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN CENTRAL BUSINESS DISTRICT DENGAN URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT.

Kawasan Pusat Kota atau yang disebut juga Central Business District merupakan kawasan pusat aktivitas manusia. Pembangunan kawasan ini harus selalu dimonitoring agar tidak terjadi kesemrawutan. Pembangunan Central Business District yang tidak terarah dapat menyebabkan suatu fenomena yang disebut Urban Heat Island (UHI). Urban Heat Island dapat berdampak buruk bagi segala sisi kehidupan manusia antara lain yaitu kenaikan permintaan energi, kenaikan permintaan sumber daya air, yang dapat mengganggu kestabilitasan ekonomi sampai juga berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Metode yang dipakai adalah metode penginderaan jauh dengan dua satelit yang berbeda. Data utama yang dipakai dalam studi ini adalah data citra satelit SPOT 5 yang beresolusi 2,5 M dan data citra satelit Landsat 7 ETM+ yang dapat digunakan untuk mengukur temperatur permukaan. Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi Urban Heat Island dengan ekstraksi temperatur dan teknik penghitungan NDVI, sedangkan untuk menidentifikasi Central Business Distrit dengan interpretaasi manual ditambah dengan data sekunder dari survey lapangan.Penelitian ini difokuskan kepada analisis hubungan antara perkembangan Central Business District dengan Urban Heat Island yang terjadi di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Urban Heat Island tidak dapat diidentifikasi dengan satelit Landsat 7 ETM+ karena waktu perekamannya adalah pagi hari sedangkan efek Urban Heat Island dapat terlihat jelas pada saat malam hari. Urban Heat Island dapat menjadi salah satu indikator untuk mengidentifikasi perkembangan Central Business district dengan ditunjang data pendukung lain. Selain itu UHI juga dapat menjadi indicator tercipta atau tidaknya sustainable development berdasarkan rencana tata ruang yang telah dibuat pemerintah.

2026
👤 Penulis: Annisa Fingka Maranti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data Citra Satelit

PENYUSUNAN KONSEP PENGEMBANGAN TATA KELOLA TAMBANG EMAS RAKYAT BERKELANJUTAN MELALUI KELEMBAGAAN KOPERASI DI KABUPATEN GUNUNG MAS, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Tambang emas rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, merepresentasikan paradoks pembangunan yang khas: sekitar 3.300 penambang aktif menghidupi diri dari endapan aluvial sepanjang Sungai Kahayan, namun seluruh aktivitas tersebut berlangsung di luar kerangka hukum formal menyusul kekosongan Wilayah Pertambangan Rakyat sejak Kepmen ESDM Nomor 109.K/MB.01/MEM.B/2022. Informalitas ini bukan semata-mata persoalan ketidakpatuhan, melainkan akibat dari kekosongan boundary rules yang memutus seluruh rantai pembinaan teknis negara, sehingga menghasilkan eksternalitas lingkungan berupa pencemaran merkuri Sungai Kahayan dan kerusakan lahan, serta eksternalitas sosial berupa ketiadaan perlindungan kerja dan kerentanan posisi tawar penambang dalam rantai niaga. Disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 beserta peraturan turunannya yaitu PP Nomor 39 Tahun 2025, Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2025, dan Permenkop Nomor 12 Tahun 2025 membuka jendela kebijakan (policy window) bagi formalisasi tambang emas rakyat melalui kelembagaan koperasi. Namun, rangkaian regulasi tersebut masih bersifat normatif dan belum disertai konsep operasional yang menjembatani mandat top-down dengan kapasitas kelembagaan penambang di tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan tata kelola tambang emas rakyat berkelanjutan melalui kelembagaan koperasi di Kabupaten Gunung Mas sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kebijakan (policy case study) yang diposisikan pada arena kebijakan formal. Data primer diperoleh dari tiga forum koordinasi lintas-instansi yang melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas pada Juli–September 2025, serta observasi lapangan di lokasi tambang dan koperasi. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka teori yang saling melengkapi: Institutional Analysis and Development (IAD) dari Ostrom (2005) untuk membedah arena tindakan kelembagaan, analisisiv pemangku kepentingan dari Reed et al. (2009) untuk memetakan relasi antar-aktor, dan model Triple Bottom Line yang dimodifikasi oleh Que et al. (2018) sebagai kerangka perumusan konsep. Penelitian menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, stabilitas arena PETI selama lebih dari tiga tahun tanpa legitimasi formal bukan disebabkan keengganan penambang untuk berformalisasi, melainkan oleh dua kelemahan IAD yang saling mengunci: ketiadaan boundary rules akibat kekosongan WPR, dan ketiadaan aggregation rules pada dua level sekaligus — level komunitas penambang dan level koordinasi antar-instansi. Kedua, kesenjangan antara kondisi eksisting dan prinsip tata kelola berkelanjutan sangat dalam pada empat dari lima dimensi (legalitas, prosperity, people, planet), sementara dimensi community menunjukkan kesenjangan lebih moderat karena kelembagaan adat Dayak Ngaju sudah memiliki basis hukum eksplisit dan kapasitas substantif yang belum terintegrasi. Ketiga, konsep model kelembagaan koperasi yang dirumuskan mengintegrasikan struktur tiga lapis: prasyarat legalitas (WPR/IPR), unit operasional koperasi primer– sekunder dengan mekanisme distribusi manfaat berbasis partisipasi anggota, dan operasionalisasi empat pilar TBL termodifikasi. Kontribusi khas penelitian ini dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota adalah dua inovasi lokal yang tidak ditemukan padanannya pada praktik baik komparatif: mekanisme integrasi kelembagaan adat Dayak dalam struktur koperasi melalui tiga fungsi substantif (legitimator, mediator konflik, dan pengawas berbasis norma adat), serta kerangka pertimbangan keruangan dengan empat unit analisis spasial yang harus diintegrasikan sebelum operasionalisasi koperasi pada wilayah dengan 77,28% kawasan hutan dan minimnya data spasial terintegrasi.

2026
👤 Penulis: Rizky Ayu Embunningtyas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS SPEKTRUM AKUSTIK MAKHARIJUL HURUF SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA AKUSTIK UNTUK PENGUATAN SAINS DI PONDOK PESANTREN

Penelitian ini bertujuan menganalisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis konteks pesantren. Penelitian difokuskan pada huruf makhraj al-halq, yaitu hamzah (?), ha’ (??), ‘ain (?), ha (?), ghain (?), dan kho’ (?), melalui analisis frekuensi forman pertama (F1) dan frekuensi forman kedua (F2). Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi model ADDIE hingga tahap Development. Data suara direkam dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Praat untuk menghasilkan spektrogram dan mengekstraksi nilai frekuensi forman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap huruf makhraj al-halq memiliki karakteristik akustik yang berbeda, dengan rentang nilai F1 sebesar 601,72– 1251,68 Hz dan F2 sebesar 1457,20–2195,46 Hz. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok pembaca Al-Qur'an bersertifikat memiliki distribusi nilai forman yang lebih konsisten dibandingkan kelompok pembaca pemula. Hasil uji Mann– Whitney U menunjukkan bahwa sebagian besar perbedaan distribusi nilai F1 dan F2 belum signifikan pada taraf signifikansi ? = 0,05, meskipun beberapa huruf menunjukkan effect size kecil hingga sedang. Temuan tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik yang mengintegrasikan konsep gelombang bunyi, resonansi rongga vokal, dan frekuensi forman dengan fenomena pelafalan huruf hijaiyah di lingkungan pesantren. Hasil validasi memperoleh skor rata-rata 3,50 dari ahli materi dan 3,70 dari ahli pembelajaran, sehingga modul termasuk kategori sangat layak. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai konteks pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis pesantren.

2026
👤 Penulis: Yiyin Ema Amalia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KERANGKA UJI TUNTAS ESG UNTUK ALOKASI MODAL BERKELANJUTAN DALAM MERGER DAN AKUISISI (STUDI KASUS: PT ASTRA INTERNATIONAL TBK)

Mengintegrasikan faktor Environmental, Social, and Governance ke dalam aktivitas merger dan akuisisi korporasi semakin menjadi faktor kunci yang membentuk nilai jangka panjang sebuah transaksi. Namun, banyak konglomerasi Indonesia yang aktif dalam program akuisisi masih bergantung pada alur kerja M&A yang memprioritaskan uji tuntas finansial, perpajakan, dan hukum, sementara penilaian ESG diperlakukan lebih sebagai sebagai pelengkap yang tidak terstruktur. PT Astra International Tbk, sebuah konglomerasi Indonesia yang terdiversifikasi dan beroperasi di tujuh pilar bisnis dan berkomitmen terhadap Astra 2030 Sustainability Aspirations, mencerminkan pola yang sama. Proses yang berjalan saat ini tidak memiliki mekanisme terstruktur untuk memunculkan risiko ESG sebelum penandatanganan Non-Disclosure Agreement, juga tidak memprioritaskan topik ESG secara sistematis selama Detailed Due Diligence, dan juga tidak membawa pengawasan ESG hingga periode integrasi pasca-akuisisi. Karena mekanisme ini tidak ada, perusahaan menjadi rentan pada risiko yang dapat menggagalkan kesepakatan yang sebenarnya dapat diidentifikasi lebih awal dan pada kewajiban pasca-akuisisi yang mengurangi sinergi yang diharapkan akan diperoleh. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan merancang sebuah Integrated ESG Due Diligence Framework yang menyematkan pertimbangan ESG ke dalam alur kerja alokasi modal Astra. Penelitian ini disusun berdasarkan tiga pertanyaan penelitian yang mencakup pemetaan diagnostik proses yang berjalan, prioritisasi materialitas, dan implementasi kerangka kerja. Siklus Business Process Management digunakan sebagai lensa analitis utama, dan didukung oleh metode Multi-Criteria Decision Making. Studi ini menggunakan pendekatan pengembangan proses kualitatif dan kuantitatif, yang disusun sebagai penyelidikan berbasis kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan beberapa pemimpin fungsional di Astra, dan ini didukung oleh analisis dokumen dan observasi lapangan. Untuk tahap materialitas, digunakan pendekatan analitis empat tahap. Enam puluh topik ESG, yang dikumpulkan dari Standar SASB di tiga belas industri yang relevan dengan Astra dan dari Standar Kinerja IFC, kemudian dikonsolidasikan menjadi tiga belas aspek strategis melalui analisis konten terarah bersama dengan validasi ahli. Aspek-aspek ini selanjutnya divalidasi menggunakan analisis prevalensi lintas sektoral dan dengan menyelaraskannya dengan Aspirasi Keberlanjutan Astra 2030. Analytic Hierarchy Process kemudian diterapkan dengan dua belas responden yang distratifikasi menjadi enam perwakilan internal dan enam pemangku kepentingan eksternal yang berasal dari pemegang saham utama, investor institusional, dan business development subsidiari. Penilaian individu diagregasi menggunakan geometric mean dan divalidasi terhadap ambang batas Consistency Ratio 0,10 sebagaimana direkomendasikan Saaty. Penelitian ini menghasilkan Integrated ESG Due Diligence Framework yang terdiri dari dua lapisan yang saling terkait. Lapisan pertama adalah peta proses M&A yang didesain ulang dan disajikan dalam bentuk diagram swimlane To-Be. Lapisan kedua adalah operational toolkit berupa empat instrumen sekuensial yang beroperasi pada tahap Initiation and Strategy, Detailed Due Diligence, Negotiation, dan Integration pasca-akuisisi. Keempat instrumen ini disusun secara berurutan, sehingga keluaran dari satu instrumen menjadi masukan bagi instrumen berikutnya. Dengan cara ini, wawasan ESG tetap terhubung saat proses berpindah dari satu fase ke fase lainnya. Kerangka kerja ini juga diperkuat oleh matriks RACI yang menetapkan kepemilikan proses diseluruh unit fungsional. Dari sisi metodologis, studi ini menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk memprioritaskan dan memeringkat aspek ESG material yang relevan dengan due diligence M&A di Astra. Dari sisi praktis, kerangka kerja yang di rancang ulang ini ditujukan agar pertimbangan ESG dapat lebih berperan dalam penciptaan nilai pada kegiatan M&A Astra di masa mendatang, sementara struktur analitis empat tahap yang dapat diperluas ke konglomerasi Indonesia lainnya yang menghadapi tantangan serupa.

2026
👤 Penulis: Mohammad Taufan
🏷️ Merger Dan Akuisisi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN SIMULASI BERBASIS AGEN UNTUK STUDI KOMPARASI ALGORITMA DISPATCHER LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT DENGAN POLA LALU LINTAS DINAMIS

Pesatnya pembangunan gedung bertingkat menuntut sistem transportasi vertikal yang optimal, seperti lift. Evaluasi kinerja lift umumnya menggunakan Discrete Event Simulation (DES), namun pendekatan ini memiliki kekurangan akibat waktu yang diskrit dan faktor spasial yang diabaikan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan instrumen simulasi berbasis Agent-Based Modeling (ABM) yang memodelkan penumpang dan lift sebagai agen otonom. Instrumen ini dirancang untuk mengintegrasikan Lift Performance Metrics (LPM) dan Quality of Service (QoS) dengan estimasi konsumsi energi listrik. Hasil pengujian komparasi pada arsitektur skala 15 lantai menunjukkan bahwa nilai-nilai metrik yang dihasilkan oleh DES terlalu ideal, sehingga dapat membuat rancangan sistem lift tidak sesuai. Hal ini diperkuat dengan hasil Average Waiting Time (AWT) dan Round Trip Time (RTT) pada ABM, yang membesar akibat hambatan spasial hingga 62,12% dan 200,73% masing-masing. Lingkungan ABM lalu difungsikan untuk membandingkan kinerja sistem Konvensional (KON) dan Destination Dispatch System (DDS) pada empat skenario puncak lalu lintas untuk arsitektur 15, 25, dan 35 lantai. Hasil komparasi menunjukkan bahwa efisiensi algoritma sangat sensitif terhadap elevasi bangunan dan tata letak fasilitas. Sistem DDS mengungguli KON pada skenario pagi hari dengan menekan AWT sebesar 78,26% di gedung 15 lantai. Pada skala menengah 25 lantai pada lalu lintas dua arah, algoritma KON yang lebih adaptif dan fleksibel dapat melayani penumpang 35,24% lebih cepat. Pada skenario bangunan 35 lantai, DDS menunjukkan keunggulan signifikan hingga 72,39% dari KON pada skenario malam hari. Pengelompokan destinasi DDS di tingkat tinggi juga menghemat energi listrik hingga 180 kWh dalam sehari. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan DDS merupakan solusi teknis yang optimal untuk bangunan skala tinggi. Kata

2026
👤 Penulis: Rahmatullah Abimanyu P
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS EKSPERIMENTAL POTENSI PANAS PANEL SURYA SEBAGAI SUMBER TERMAL SISTEM PENDINGINAN ABSORPSI DI KOTA BANDUNG

Modul fotovoltaik hanya mengonversi sebagian kecil radiasi matahari menjadi listrik, sementara sebagian besar terdisipasi menjadi panas yang menurunkan efisiensi panel. Panas terbuang ini berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi termal, baik untuk menggerakkan sistem pendinginan berbasis penyerapan maupun untuk keperluan termal lain seperti pemanasan air domestik, preheating, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi temperatur aktual panel surya secara eksperimental dan mengevaluasi potensi panasnya sebagai sumber termal untuk sistem pendinginan maupun pemanfaatan termal lainnya di iklim tropis Kota Bandung. Pengukuran temperatur dilakukan secara kontinu selama tujuh hari pada instalasi PLTS Laboratorium Manajemen Energi Institut Teknologi Bandung menggunakan tujuh sensor termokopel tipe-K dengan modul MAX6675 dan sistem akuisisi data berbasis ESP32, pada interval satu menit. Data intensitas radiasi matahari, temperatur ambien, dan kecepatan angin diperoleh dari dataset reanalisis ERA5-Land. Potensi panas dihitung melalui pendekatan neraca energi serta analisis perpindahan panas konveksi dan radiasi. Hasil pengukuran menunjukkan temperatur panel rata-rata siang 40,7 °???? dengan puncak lokal mencapai sekitar 73,5 °???? pada titik terpanas. Intensitas radiasi merupakan penggerak termal dominan (r = 0,68). Total potensi panas selama enam hari pengukuran mencapai sekitar 855 kWh, atau sekitar 19 kali energi listrik yang dihasilkan. Sebaran temperatur panel memenuhi kebutuhan termal berbagai aplikasi suhu rendah mencakup preheating, pendinginan adsorpsi, dan absorpsi suhu rendah, sementara kebutuhan sistem absorpsi konvensional (? 70 °????) hanya tercapai secara sporadis pada titik-titik terpanas. Penentuan teknologi pemanfaatan termal yang paling sesuai menjadi arah penelitian lanjutan.

2026
👤 Penulis: Alpha Novrigian
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

SINTESIS DAN FABRIKASI ELEKTRODA BERBASIS NANOKOMPOSIT AGNP/CU-BTC UNTUK PENENTUAN KADAR GLUKOSA SECARA VOLTAMMETRI

Diabetes mellitus adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi fungsi organ manusia akibat penumpukan glukosa dalam sistem peredaran darah. Penelitian mengenai sensor glukosa semakin berkembang agar diabetes bisa diidentifikasi sejak dini secara noninvasif. MOFs (Metal-Organic Frameworks) adalah material dengan sifat berpori yang mampu mengadsorpsi analit. Salah satu MOF yang paling menjanjikan dalam hal ini adalah MOF Cu- BTC yang terdiri dari ion pusat Cu(II) dan penghubung benzen trikarboksilat (BTC). Sensitivitas elektroda juga dapat ditingkatkan melalui inkorporasi AgNP (nanopartikel perak) di dalam matriks elektroda. Namun, kinerja kedua material ini dalam deteksi glukosa belum dibandingkan dengan detail. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja elektroda nanokomposit AgNP/Cu-BTC sebagai sensor glukosa secara voltammetri. MOF Cu-BTC disintesis melalui metode solvotermal dari prekursor Cu(NO3)2·3H2O dan H3BTC. AgNP disintesis dari prekursor AgNO3 yang direduksi dengan natrium sitrat. Elektroda difabrikasi dengan campuran grafit/PVDF pada permukaan pelat tembaga. MOF Cu-BTC berhasil disintesis dengan orientasi pertumbuhan kristal dominan pada bidang (222). Spektrum FTIR MOF Cu-BTC menunjukkan serapan karakteristik ulur Cu-O pada 727 cm-1. AgNP memiliki puncak serapan UV-Vis pada 413 nm, dengan rata-rata ukuran partikel sebesar 41,5 nm berdasarkan karakterisasi DLS. Elektroda dengan rasio MOF Cu-BTC : AgNP = 1:3 menunjukkan kinerja yang terbaik sebagai sensor glukosa, dengan batas deteksi sebesar 0,01007 mM; sensitivitas sebesar 307,7 ?A mM-1 cm-2 , serta rentang linear pada 0,05 mM– 20 mM.

2026
👤 Penulis: Rasyad Dermawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ADSORPSI KRISTAL VIOLET MENGGUNAKAN ADSORBEN GELATIN TERMODIFIKASI GLIOKSAL

Kristal violet merupakan zat warna kationik yang banyak: digunak:an dalam industri, namun bersifat toksik, karsinogenik, dan mutagenik sehingga berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Adsorpsi menjadi metode yang banyak: dikembangkan untuk mengbilangkan kristal violet dari limbah arr karena ekonomis, efektif, efisien, dan sederhana. Pada penelitian ini dibuat adsorben gelatin termodifikasi glioksal dengan komposisi optimum pada konsentrasi gelatin 15% (m/v) dan perbandingan mo!gelatin:glioksal 8:4, dengan derajat penggembungan sebesar 261,83%. Komposisi ini dipilib karena memiliki kapasitas dan persen adsorpsi terbesar. Karak:terisasi menggunak:an uji derajat penggembungan, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM­ EDS). Spektrum FTIR menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang pada gugus fungsi 0-H/N-H yang menandakan keberhasilan modifikasi gelatin dengan glioksal serta pada gugus fungsi 0-H dan C=O yang menandakan adanya interak:si antara adsorben dan kristal violet. Citra SEM menunjukkan perubahan morfologi permukaan dari permukaan adsorben yang kasar danberpori sebelum adsorpsi menjadi permukaan yang halus dan tertutup setelah adsorpsi dan distribusi kristal violet yang merata pada permukaan adsorben yang menandakan keberhasilan proses adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada pH 8, massa adsorben 0,09 gram, dan wak:tu kontak 120 menit. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu dan isoterm Langmuir dengan qmm sebesar 82,27 mg/g pada 333 K. Studi termodinarnika menunjukkan bahwa proses adsorpsi berlangsung secara spontan dengan AG0 sebesar -35,44 kJ/mol pada 303 K, -36,84 kJ/mol pada 318 K, dan -38,25 kJ/mol pada 333 K, bersifat eksotermik dengan .6.H0 -7,01 kJ/mol, dan disertai peningkatan ketidakteraturan sistem dengan AS0 sebesar 93,82 J/mol.K. Larutan KC!0,25 M merupak:an pendesorpsi optimum dengan persen desorpsi sebesar 44,43%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adsorben gelatin termodifikasi glioksal memiliki performa adsorpsi yang baik dengan sintesis yang lebib sederhana serta penggunaan agen pengikat silang yang lebib ramah lingkungan dibandingkan adsorben yang telah dikembangkan sebelumnya.

2026
👤 Penulis: Aulia Rizkiya Al Fadila
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN PRODUK ERGONOMIS UNTUK MEMBANTU TOILETING ANAK CEREBRAL PALSY GMFCS III USIA 12-18 TAHUN

Anak dengan Cerebral Palsy (CP) mengalami keterbatasan mobilitas dan kontrol postural yang berdampak pada rendahnya kemandirian dalam aktivitas mandi dan toileting. Di Indonesia, permasalahan ini semakin kompleks karena mayoritas rumah tangga masih menggunakan kloset jongkok yang kurang sesuai dengan kebutuhan fungsional anak CP, khususnya pada tingkat Gross Motor Function Classification System (GMFCS) III. Kondisi tersebut meningkatkan ketergantungan terhadap caregiver dan menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan pengguna dengan fasilitas sanitasi yang tersedia. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas sanitasi yang mendukung aktivitas mandi dan toileting anak CP secara lebih aman, nyaman, dan mandiri dalam konteks kamar mandi rumah tinggal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan desain berpusat pada pengguna melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna dan caregiver, analisis aktivitas, serta analisis ergonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan utama pengguna meliputi stabilitas postural, kemudahan perpindahan posisi, aksesibilitas fasilitas sanitasi, serta efisiensi penggunaan ruang kamar mandi. Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan tiga alternatif desain dan dipilih satu rancangan terintegrasi yang terdiri atas penopang kloset, bak air, dudukan tambahan, pegangan, dan struktur pendukung. Konfigurasi horizontal antara penopang kloset dan bak air mendukung perpindahan yang lebih aman, sementara sistem pegangan membantu pengguna saat duduk, berdiri, dan berpindah posisi. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan fasilitas sanitasi yang mengintegrasikan aktivitas mandi dan toileting dengan mempertimbangkan kondisi kamar mandi rumah tangga Indonesia yang masih didominasi penggunaan kloset jongkok. Hasil penelitian ini berkontribusi sebagai acuan perancangan fasilitas sanitasi yang lebih inklusif bagi pengguna dengan keterbatasan motorik dan caregiver.

2026
👤 Penulis: Farahal Adibah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN PENGONTROL FINITE CONTROL SET MODEL PREDICTIVE CONTROL DENGAN DISTURBANCE OBSERVER UNTUK MENGATASI INTERMITENSI PADA SISTEM PANEL SURYA MANDIRI DI BAWAH KONDISI NAUNGAN SEBAGIAN

Pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu solusi yang dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Namun terdapat berbagai tantangan teknis yang dapat menurunkan efisiensi sistem, sehingga sistem PV tidak bekerja di titik daya optimumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pengontrol Finite Control Set Model Predictive Control untuk meningkatkan performa dan kerobasan dari sistem fotovoltaik yang terintegrasi dengan boost converter. Dalam perancangan algoritma pengontrol, efek gangguan itu akan diestimasi menggunakan Disturbance Observer untuk meningkatkan kerobasan sistem terhadap gangguan. Namun tantangan selanjutnya pada sistem PV terletak pada perubahan kondisi naungan modul fotovoltaik yang diakibatkan oleh pergerakan awan dan bayangan benda-benda sekitar, sehingga sistem PV akan memiliki beberapa puncak daya keluaran. Situasi ini dikenal sebagai kondisi naungan sebagian (PSC). Oleh karena itu pada penelitian ini digunakan metode Incremental Conductance-Modified Particle Swarm Optimization yang dapat melacak puncak global yang kemudian dijadikan arus referensi bagi mekanisme pengontrol. Hasil simulasi MATLAB/Simulink menunjukkan bahwa sistem mampu bekerja baik pada kondisi standar ataupun PSC. Pada kondisi standar dengan iradiasi seragam, sistem mencapai waktu tunak 0,42 detik, efisiensi 94,572%, dan akurasi daya 99,97%. Pada kondisi standar dengan variasi iradiasi dan beban, sistem menghasilkan waktu tunak rata-rata 0,330 detik, akurasi daya 99,904%, dan efisiensi rata-rata 93,933%. Pada kondisi PSC, sistem mampu mencapai waktu tunak 0,352 detik, akurasi daya 99,699%, dan efisiensi rata-rata 94,31%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi Hybrid IC–MPSO dan FCS–MPC dengan Disturbance Observer mampu meningkatkan performa pelacakan titik maksimum daya dan menjaga efisiensi sistem PV mandiri di bawah kondisi naungan sebagian.

2026
👤 Penulis: Clara Gracia Roulina Parapat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 36 dari 349
💬