📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenDARI DAUN KE EKSTRAK: ANALISIS COST-BENEFIT DAN INPUT-OUTPUT ATAS HILIRISASI KRATOM DI INDONESIA
Indonesia memproduksi sebagian besar kratom (Mitragyna speciosa) dunia, tetapi hanya menangkap sebagian kecil nilai yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai kratom global, karena mengekspor daun mentah sementara pengolahan bernilai tinggi terjadi di luar negeri. Pemberlakuan Permendag 20/2024 yang melarang ekspor daun kratom mentah dan olahan kasar, serta Permendag 21/2024 yang mengatur ekspor kratom olahan melalui instrumen eksportir terdaftar, persetujuan ekspor, dan laporan surveyor, telah menciptakan sekaligus kewajiban dan peluang bagi perusahaan domestik untuk bergerak ke hilir menuju ekstraksi berkemurnian tinggi. Penelitian ini mengkaji apakah hilirisasi tersebut layak dilakukan, dengan mengambil kasus PT MIT, produsen ekstrak mitragynine 50% (Mit50) berskala pilot, sebagai unit analisisnya. Permasalahan utama yang dikaji adalah apakah transisi dari perdagangan daun mentah menuju ekstraksi domestik menciptakan nilai baik bagi perusahaan yang berinvestasi maupun bagi perekonomian nasional, serta implikasi strategis dan kebijakan apa yang menyertainya. Penelitian ini mengintegrasikan dua metode yang saling melengkapi. Analisis Biaya-Manfaat pada tingkat perusahaan mengevaluasi kelayakan finansial dari peningkatan kapasitas produksi Mit50 menjadi 100 kilogram per bulan, dan Analisis Input-Output mengukur dampak makroekonomi dari investasi tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Model finansial disusun berdasarkan data operasional pilot yang telah tervalidasi, mencakup struktur biaya produksi aktual, catatan belanja modal, dan harga transaksi komersial, bukan berdasarkan asumsi sintetis. Tiga skenario yang dibedakan menurut tingkat utilisasi kapasitas steady state sebesar 75%, 85%, dan 93% dievaluasi pada tingkat diskonto 15% yang diperoleh melalui pendekatan build-up biaya modal. Analisis makroekonomi memetakan ekstraksi kratom ke dalam sektor produk farmasi pada Tabel Input Output Indonesia tahun 2020 dan menghitung pengganda Tipe I untuk output, pendapatan, dan nilai tambah, beserta indeks keterkaitan ke belakang dan ke depan. Hasil finansial menunjukkan bahwa investasi ini layak pada ketiga skenario. Pada skenario dasar, proyek menghasilkan nilai sekarang bersih sekitar Rp 11,80 miliar, tingkat pengembalian internal sebesar 37,59% terhadap tingkat acuan 15%, indeks profitabilitas sebesar 2,31, dan periode pengembalian terdiskonto selama 4,88 tahun. Analisis sensitivitas sembilan parameter mengidentifikasi harga jual sebagai pemicu nilai paling material, diikuti oleh biaya variabel dan volume produksi; meski demikian proyek tetap layak hingga tingkat utilisasi kapasitas 44,74% dan harga jual USD 1.410 per kilogram, yang menunjukkan margin keamanan yang lebar. Hasil makroekonomi menunjukkan bahwa sektor farmasi tempat ekstraksi kratom dipetakan berfungsi sebagai sektor penarik permintaan yang kuat, dengan pengganda output sebesar 1,7433 dan indeks keterkaitan ke belakang sebesar 1,0731. Pada skenario dasar steady-state, investasi ini menghasilkan dampak output perekonomian secara keseluruhan sekitar Rp 48,37 miliar, mendukung sekitar sembilan puluh tiga lapangan kerja, dan menyumbang devisa sekitar USD 1,53 juta per tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hilirisasi kratom menjadi ekstrak berkemurnian tinggi bersifat menguntungkan secara privat sekaligus bermanfaat secara ekonomi, sehingga menyelaraskan insentif tingkat perusahaan dengan agenda hilirisasi nasional. Kontribusi utamanya terletak pada upaya menunjukkan, melalui kerangka analitis terintegrasi yang berbasis bukti empiris, bagaimana pergeseran regulasi menuju persyaratan ekspor olahan dapat diterjemahkan menjadi pengembalian privat dan sosial yang terukur. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan yang berinvestasi, basis bukti bagi pembuat kebijakan dalam menyusun agenda hilirisasi, serta metodologi yang dapat
SELEKSI EQUIVALENT CIRCUIT MODEL BATERAI LITHIUM COBALT OXIDE PADA DATA ELECTROCHEMICAL IMPEDANCE SPECTROSCOPY MENGGUNAKAN BAYESIAN INFORMATION CRITERION UNTUK ESTIMASI STATE OF CHARGE PADA SISTEM EMBEDDE
Ketepatan pemodelan baterai lithium-ion memiliki peranan penting dalam pengembangan Battery Management System (BMS), khususnya untuk estimasi kondisi baterai secara real-time. Equivalent Circuit Model (ECM) banyak digunakan karena mampu memberikan keseimbangan antara akurasi dan efisiensi komputasi. Namun, penentuan struktur ECM yang optimal masih menjadi tantangan akibat peningkatan kompleksitas model yang dapat menyebabkan overfitting dan beban komputasi yang lebih tinggi. Penelitian ini mengusulkan seleksi model ECM berbasis data Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) menggunakan Akaike Information Criterion (AIC) dan Bayesian Information Criterion (BIC). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model Orde-2 dengan elemen fase konstan dan impedansi Warburg memberikan performa terbaik dengan rentang nilai AIC sebesar ?544 hingga ?489 dan nilai BIC sebesar ?528 hingga ?474. Model tersebut kemudian ditransformasikan ke bentuk state-space diskrit dan diterapkan pada algoritma Extended Kalman Filter (EKF) serta Unscented Kalman Filter (UKF) untuk estimasi State of Charge (SOC). Hasil simulasi menunjukkan bahwa EKF menghasilkan RMSE sebesar 0,0175–0,0235, sedangkan UKF memberikan performa yang lebih baik dengan RMSE sebesar 0,0161–0,0205. Temuan ini menunjukkan bahwa model 2CPE + W mampu mempertahankan akurasi estimasi dengan kompleksitas komputasi yang lebih efisien, sehingga sesuai untuk implementasi BMS berbasis mikrokontroler.
EVALUASI SISTEM PEMANTAUAN KUALITAS AIR ONLINE (SPKA/ONLIMO) DI JAWA BARAT UNTUK INTEGRASI SENSOR LOGAM BERAT
Sistem Pemantauan Kualitas Air (SPKA) atau Onlimo merupakan sistem pemantauan kualitas air otomatis, kontinu, dan online yang telah dikembangkan di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2015. Sistem ini berperan penting dalam mendukung pengelolaan kualitas air melalui penyediaan data secara real-time. Namun, parameter yang dipantau masih terbatas pada pH, dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), total dissolved solids (TDS), total suspended solids (TSS), amonia, dan nitrat, sehingga belum mampu mendeteksi pencemaran logam berat yang merupakan salah satu isu penting pada berbagai badan air. Di sisi lain, kajian mengenai integrasi sensor logam berat ke dalam sistem pemantauan kualitas air online masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting sistem Onlimo di Provinsi Jawa Barat, mengidentifikasi karakteristik logam berat pada berbagai tekanan antropogenik, serta mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat ke dalam sistem Onlimo. Evaluasi sistem dilakukan melalui penapisan kondisi operasional stasiun dan pengujian kualitas data menggunakan Gap Test, Null Test, Flatline Test, Extreme Value Test, serta uji konsistensi hubungan BOD–COD pada data periode 2024–2025. Evaluasi juga dilakukan terhadap aspek non-teknis yang meliputi regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, pendanaan, dan tata kelola data. Analisis logam berat dilakukan pada media air dan sedimen melalui pengambilan sampel di tiga wilayah yang merepresentasikan sumber tekanan antropogenik berbeda, yaitu Babelan (aktivitas pembangkit listrik tenaga uap), Cikarang (aktivitas industri), dan Cisarua (aktivitas pertambangan emas). Karakteristik logam berat dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 stasiun Onlimo yang terpasang di Provinsi Jawa Barat, hanya 10 stasiun (35,7%) yang beroperasi secara andal dan menghasilkan data. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem masih menghadapi berbagai permasalahan teknis, seperti kerusakan sensor, gangguan sistem pengambilan sampel, kehilangan data, serta berbagai anomali kualitas data berupa data gap, null value, flatline, extreme value, dan ketidakkonsistenan hubungan teoritis BOD–COD. Selain itu, evaluasi aspek non-teknis menunjukkan bahwa keberlanjutan sistem juga dipengaruhi oleh tantangan pada aspek pemeliharaan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Analisis logam berat menunjukkan adanya heterogenitas spasial yang tinggi sesuai dengan karakteristik sumber pencemar pada masing-masing lokasi penelitian. Hasil korelasi menunjukkan bahwa parameter fisika-kimia yang tersedia pada sistem Onlimo hanya memiliki hubungan yang terbatas dengan sebagian besar logam berat, sehingga belum mampu merepresentasikan kondisi pencemaran logam berat secara komprehensif. Analisis korelasi dan PCA juga menunjukkan bahwa karakteristik logam berat pada media air dan sedimen berbeda, dengan hubungan yang relatif lemah antara kedua media tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengambilan sampel sesaat (grab sampling) pada media air belum tentu mampu merepresentasikan akumulasi logam berat pada sedimen maupun dinamika pencemaran dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat yang mengadaptasi framework pemantauan kualitas air yang telah dikemukakan dalam berbagai pedoman dan literatur internasional. Strategi yang diusulkan mencakup identifikasi kebutuhan data, penentuan lokasi prioritas, penentuan logam target, pemilihan teknologi sensor, instalasi dan integrasi sistem, penerapan quality assurance/quality control (QA/QC) dan pemeliharaan, serta pengelolaan data dan sistem peringatan dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sensor logam berat pada sistem Onlimo layak untuk dikembangkan, namun implementasinya perlu didahului oleh penguatan keandalan sistem melalui peningkatan kualitas data, pemeliharaan infrastruktur, serta penguatan aspek nonteknis yang meliputi tata kelola, sumber daya manusia, pendanaan, dan kelembagaan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan strategi integrasi sensor logam berat, tetapi juga memberikan dasar ilmiah melalui evaluasi komprehensif sistem Onlimo, karakterisasi logam berat pada media air dan sedimen, serta penyusunan strategi integrasi sensor logam berat yang mendukung pengembangan sistem pemantauan kualitas air yang lebih andal, adaptif, dan berkelanjutan.
FORMULASI SEDIAAN KRIM NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER EKSTRAK DAUN KETUL (BIDENS PILOSA L.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI IN VIVO UNTUK MENGOBATI DERMATITIS
Dermatitis adalah kondisi inflamasi kulit yang menyebabkan kemerahan, rasa gatal, dan rasa tidak nyaman. Namun, terapi topikal yang umum digunakan masih memiliki berbagai potensi efek samping untuk penggunaan jangka panjang. Tanaman ketul (Bidens pilosa L.) adalah tanaman yang berasal dari Amerika Selatan yang diketahui dapat digunakan untuk pengobatan inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah membuat krim Nanostructured Lipid Carrier (NLC) yang memuat ekstrak Bidens pilosa (krim NLCBP), mengevaluasi keamanan penggunaan secara topikal, dan mengevaluasi aktivitas antiinflamasinya secara in vivo. NLC-BP dibuat dengan metode high shear homogenization dan ultrasonication yang dioptimasi menggunakan Box-Behnken Design (BBD) berdasarkan variabel konsentrasi ekstrak, konsentrasi total lipid, dan konsentrasi total surfaktan. Pengujian keamanan penggunaan secara topikal dilakukan melalui uji iritasi dermal pada kelinci. Aktivitas antiinflamasi secara in vivo dilakukan pada model hewan dermatitis yang diinduksi 2,4-dinitrofluorobenzene (DNFB). Komposisi formula NLC-BP optimum yaitu ekstrak Bidens pilosa 0,9737% (b/v), kombinasi stearil alkohol dan rice bran oil (6:4) 3% (b/v) konsentrasi TegoâCare dan Tweenâ20 (2:1) 8% (b/v), melalui proses homogenisasi dengan kecepatan 8.000 rpm selama 4 menit dan ultrasonikasi probe 60% selama 6 menit. Basis krim dibuat dengan komposisi fase minyak berupa stearil alkohol 8% (b/b), setomakrogol 1000 2% (b/b), setil alkohol 3% (b/b), white petrolatum 10% (b/b), tokoferol asetat 0,002% (b/b) dan fase air berupa metil paraben 0,18% (b/b) propil paraben 0,2% (b/b), propilen glikol 5% (b/b). Karakteristik formula NLC-BP optimum menunjukkan morfologi sferis dengan ukuran partikel 274,03 ± 13,12 nm, indeks polidispersitas 0,350 ± 0,045, zeta potensial ?10,2 ± 0,153 mV, efisiensi enkapsulasi 82,88 ± 0,75%, dan stabil selama 28 hari pada suhu 4 dan 25°C. Krim NLC-BP memiliki pH 5,31 ± 0,08, viskositas 3172,09 ± 485,61 cPs, daya sebar 5,625 ± 0,25 cm, dan stabil terhadap sentrifugasi serta 3 siklus freeze-thaw. Hasil uji iritasi dermal krim NLC-BP menunjukkan nilai indeks iritasi primer (PII) sebesar 0. Uji aktivitas antiinflamasi krim NLC-BP menunjukkan skor eritema dan ketebalan telinga masing-masing sebesar 0,67 ± 0,82 dan 0,37 ± 0,05 mm. Nilai tersebut lebih rendah secara signifikan (????<0,05) dibandingkan dengan kontrol negatif pada hari ke-4 setelah pemberian obat. Secara keseluruhan, formulasi krim NLCBP berhasil dikembangkan dengan karakteristik yang baik. Krim NLC-BP menunjukkan aktivitas antiinflamasi pada model mencit yang diinduksi DNFB.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA UNTUK PEMILIHAN STRATEGI PENINGKATAN KEANDALAN AUXILIARY BOILER PADA SISTEM UTILITAS KILANG: STUDI KASUS DI PT PERTAMINA PATRA NIAGA RU IV CILACAP
Permasalahan keandalan auxiliary boiler 151B501 pada sistem utilitas PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap merupakan persoalan pengambilan keputusan strategis, bukan semata-mata persoalan teknis. Sebagai peralatan utilitas kritikal pendukung RFCC, gangguan pada boiler ini dapat memengaruhi stabilitas suplai steam, kontinuitas operasi, risiko keselamatan, dan keandalan kilang. Beberapa strategi penanganan telah tersedia, namun masing-masing memiliki trade-off dari sisi keandalan, keselamatan, implementasi, fleksibilitas operasi, biaya, dan risiko. Penelitian ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengevaluasi empat alternatif strategi berdasarkan lima kriteria utama: Operational Reliability, Safety, Operational Flexibility, Ease of Implementation, serta Cost and Risk Implications. Penilaian diperoleh dari stakeholder internal yang mewakili fungsi Engineering, Operation, Maintenance, dan Management, kemudian diolah melalui pairwise comparison, uji konsistensi, agregasi penilaian, dan perhitungan prioritas global. Hasil group AHP menunjukkan bahwa Safety dan Operational Reliability menjadi kriteria paling dominan, dengan kontribusi gabungan sekitar 68,9% dari total bobot. Comprehensive Physical Intervention muncul sebagai strategi yang paling diprioritaskan, diikuti oleh Partial Repair Strategy, Enhanced Monitoring and Decision Support, dan Operational Control and Discipline Strategy. Analisis sensitivitas terhadap perubahan bobot Safety sebesar ±10% menunjukkan ranking tetap stabil dalam skenario pengujian tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa AHP dapat menjadi kerangka pengambilan keputusan yang terstruktur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung pemilihan strategi peningkatan keandalan peralatan kritikal.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
MODEL DINAMIKA MUKA AIR TANAH BERBASIS DATA MINING UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA BARAT (STUDI KASUS CEKUNGAN AIR TANAH BANDUNG-SOREANG)
Air tanah merupakan sumber daya vital yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan domestik dan industri. Pengelolaan air tanah di Provinsi Jawa Barat menghadapi tantangan kompleksnya kondisi hidrogeologi dan pemanfaatan yang cukup intensif oleh pengguna air tanah. Pemodelan konvensional berbasis fisik sulit menangkap dinamika air tanah akibat faktor eksternal seperti perubahan iklim dan aktivitas manusia secara real time. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan air tanah dengan menerapkan pendekatan data-driven melalui teknik data mining khususnya pada Cekungan Air Tanah (CAT) Bandung-Soreang. Data yang digunakan mencakup periode Januari 2022 hingga Desember 2025, terdiri atas data Muka Air Tanah (MAT), volume pengambilan air tanah, curah hujan, cuaca/meteorologi dan sungai/runoff. Metode yang digunakan meliputi featurebased clustering dengan Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) untuk mengelompokkan pola dinamika MAT dan Long Short-Term Memory (LSTM) untuk memprediksi dinamika MAT pada masing-masing cluster. Clustering menghasilkan enam cluster dengan karakteristik dinamika air tanah yang berbeda. Evaluasi model prediksi menunjukkan bahwa model LSTM berbasis cluster memiliki performa lebih baik dibandingkan model keseluruhan, ditunjukkan oleh nilai Root Mean Square Error (RMSE) yang lebih kecil serta nilai Nash- Sutcliffe Efficiency Coefficient (NSE) dan Pearson Correlation Coefficient (PR) yang lebih besar. Rekomendasi tindak lanjut pada Cluster 1 diarahkan pada recovery air tanah dan pembatasan ketat, Cluster 2 pada pengendalian transisi, Cluster 3 pada pengelolaan banjir dan limpasan, Cluster 4 pada pencegahan penurunan MAT wilayah urban, Cluster 5 pada perlindungan daerah resapan dan Cluster 6 pada evaluasi efektivitas intervensi kebijakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data mining dapat digunakan sebagai instrumen pendukung keputusan untuk melengkapi pendekatan hidrogeologi konvensional oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
PENGEMBANGAN KERANGKA KERJA LABOR MARKET ANALYTICS BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL (LLM) UNTUK TRANSFORMASI TRAINING NEEDS ANALYSIS (STUDI KASUS: BALAI LATIHAN KERJA PROVINSI JAWA BARAT)
Akselerasi teknologi di era Industri 4.0 memicu kesenjangan kompetensi (skill mismatch) yang signifikan khususnya pada sektor industri manufaktur. Ditinjau dari perspektif Socio-Technical System, fenomena ini merupakan wujud asinkronisasi antara subsistem sosial dan subsistem teknis, di mana laju adaptasi kurikulum pendidikan atau pelatihan kerap tertinggal oleh pesatnya evolusi teknologi industri. Dampak dari ketidakselarasan struktural ini melandasi tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jawa Barat, yang secara ironis justru didominasi oleh lulusan pendidikan vokasi (SMK) di tengah masifnya konsentrasi kawasan industri. Kondisi tersebut mengonfirmasi adanya ketidakefektifan pada program pendidikan atau pelatihan berjalan. Mengangkat Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Jawa Barat sebagai studi kasus, ketidakseimbangan ini berakar pada implementasi metode Training Needs Analysis (TNA) konvensional yang kurang optimal karena keterbatasan ukuran sampel, inefisiensi waktu operasional, risiko bias informasi akibat responden non-teknis, serta tingginya beban anggaran dalam pelaksanaanya. Guna memutus siklus tersebut, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja Labor Market Analytics otomatis berbasis data pipeline Large Language Model (LLM) untuk mentransformasi metodologi TNA menjadi sistem pengambilan keputusan yang objektif, efisien, dinamis, dan berbasis data. Metodologi penelitian ini mengoperasikan sebuah kerangka kerja analitik yang dirancang untuk memetakan kesenjangan kompetensi dua arah dan berskala besar dengan menyandingkan parameter kebutuhan (skill demand) dan pasokan (skill supply). Parameter demand diekstraksi melalui proses web scraping iklan lowongan kerja daring (JobStreet Indonesia) yang diintegrasikan dengan direktori Perusahaan Manufaktur Indonesia, menghasilkan 1.188 dataset terstruktur di bawah standardisasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kategori C (Industri Pengolahan). Fokus analisis dibatasi pada profil pekerjaan operator dan teknisi di 6 sektor industri manufaktur yang menjadi prioritas. Parameter supply diekstraksi dari dokumen kurikulum pelatihan kejuruan manufaktur di BLK Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menawarkan tiga kebaruan untuk ii mengatasi keterbatasan literatur terdahulu yaitu analisis kesenjangan dua arah (supply vs demand), pemetaan kompetensi subsektor manufaktur terintegrasi KBLI, dan efisiensi komputasi lokal (on-premise). Berbasis pendekatan Unsupervised Semantic menggunakan Google Gemma-3-4b dan Sentence Transformer, kerangka kerja ini mengatasi kelemahan NLP tradisional (belum memahami makna kata secara semantik) sekaligus beroperasi sepenuhnya tanpa API berbayar, sehingga sangat adaptif diimplementasikan pada instansi publik Hasil pengujian menunjukkan pipeline analitik ini efektif dijalankan pada infrastruktur standar dengan performa di atas ambang batas kelayakan 80%, mencatatkan F1-Score ekstraksi demand 87,05%, supply 81,76%, akurasi normalisasi semantik 80,18%, serta F1-Score klasifikasi 92,8%. Kerangka kerja ini berhasil menjaring data dari 751 entitas perusahaan unik yang terklasifikasi sektoral nasional KBLI dan mengekstraksi 3.099 entitas kompetensi unik. Skill gap analysis mengindentifikasi 179 kesenjangan kompetensi unik, dimana kurikulum eksisting baru mengakomodasi 19,4% kebutuhan industri. Melalui Analisis Pareto, diisolasi 47 kompetensi utama (vital few) pada kategori hard skills yang didominasi kebutuhan operasional, troubleshooting, dan pemahaman sistem mutu. Pada kategori soft skills, teridentifikasi 14 atribut kesenjangan unik yang didominasi aspek teamwork dan adaptability. Sementara pada pilar software skills, ditemukan kesenjangan mutlak pada penguasaan perangkat lunak administrasi dasar (Microsoft Office) dan rekayasa manufaktur (CAD/CAM). Berdasarkan temuan ini, dirumuskan tiga pilar rekomendasi strategis yakni adopsi pipeline LLM lokal sebagai instrumen utama TNA berkala; intervensi kurikulum terstruktur mencakup modul troubleshooting praktikum, pembelajaran berbasis project (Project-Based Learning), integrasi literasi computer khususnya CAD/CAM; serta tata kelola aspek surplus skills menjadi regulasi SOP dan job sheet wajib bengkel pelatihan.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI
Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.
RERAILING THE HEART OF THE METROPOLIS: TRANSFORMASI STASIUN GAMBIR MENGHADAPI RESTRUKTURISASI OPERASI KERETA API
Daerah Metropolitan Jakarta memiliki jaringan transportasi berbasis rel paling ekstensif di Indonesia. Sistem ini mencakup layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek, serta kereta api jarak jauh (KAJJ). Untuk menghadapi pertumbuhan mobilitas perkotaan, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong restrukturisasi jaringan kereta api dan pengembangan konsep Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah simpul transportasi. Salah satu langkah strategis dalam perkembangan ini adalah mempersiapkan Stasiun Manggarai sebagai pusat operasi utama KAJJ. Dampaknya, fungsi Stasiun Gambir selaku stasiun utama KAJJ kelas eksekutif dan campuran di Jakarta akan dialihkan. Layanan KRL Commuter Line yang terakhir beroperasi di Stasiun Gambir pada tahun 2012, diisukan akan direaktivasi sehingga Gambir kembali melayani KRL sekaligus beberapa perjalanan KAJJ. Pengembalian layanan KRL membuka peluang dan tantangan baru bagi stasiun ini. Peluang untuk menjadi simpul transportasi strategis berpotensi terhambat oleh risiko lonjakan pengguna (crowd surge) musiman akibat kegiatan di kawasan Medan Merdeka, sementara tata ruang dan integrasi moda eksisting saat ini dinilai belum optimal. Sehingga, diperlukan intervensi spasial untuk memitigasi gangguan operasional akibat konflik sirkulasi dan kepadatan pengguna yang tinggi. Proyek ini mengajukan perancangan ulang Stasiun Gambir guna merespons perluasan fungsi transit sekaligus mempertahankan fungsi ruang publik. Melalui pendekatan kajian regulasi, pemetaan kebutuhan spasial pengguna, dan sinkronisasi dengan rencana pengembangan Medan Merdeka, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan integrasi antarmoda dan mewujudkan ruang kota yang adaptif terhadap dinamika mobilitas.
PERANCANGAN TAMAN KOTA DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN CONTEMPLATIVE LANDSCAPE MODEL (CLM) STUDI KASUS : TAMAN SUROPATI, JAKARTA PUSAT
Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di kawasan perkotaan akibat tingginya tingkat stress masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam nmendukung kesehatan mental. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menilai kualitas lanskap yang mendukung kesehatan mental adalah Contemplative Landscape Model (Olszewska, 2023). Model ini mengevaluasi kualitas kontemplatif lanskap berdasarkan tujuh elemen utama yaitu : layers of the landscape (1), landform (2), biodiversity (3), color & light (4), compatibility (5), archetypal elements (6), serta character of peace & silence (7). Jakarta sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia dipilih sebagai konteks penelitian. Melalui kuesioner analisis pra-asesmen pada beberapa kota, Taman Suropati di Jakarta Pusat ditetapkan sebagai lokasi studi. Evaluasi CLM dilakukan pada 31 titik pengamatan yang tersebar di dalam taman. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Taman Suropati berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa taman memiliki potensi kontemplatif namun belum optimal dalam mendukung kesehatan mental pengunjung. Validasi eksploratif melalui kuesioner juga dilakukan untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap kualitas ruang taman. Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan utama Taman Suropati terletak pada elemen archetypal elements, sementara beberapa elemen lain masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Sebagai taman kota yang berada di kawasan cagar budaya, pengembangan Taman Suropati memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait elemen bentuk lahan (landform) dan struktur lanskap eksisting. Oleh karena itu, intervensi desain difokuskan pada elemen CLM yang masih dapat dikembangkan tanpa mengubah karakter utama taman. Proses perancangan menggunakan scene-based method, yaitu pendekatan yang berangkat dari persepsi visual pengguna pada berbagai titik pandang dan kemudian ditransformasikan ke dalam rencana tapak. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan anchor point sebagai titik awal perancangan. Titik-titik dengan potensi skor CLM tinggi dikembangkan sebagai main contemplative nodes, sedangkan titik dengan potensi sedang hingga tinggi dikembangkan sebagai secondary contemplative nodes. Selanjutnya, seluruh node dihubungkan melalui rangkaian contemplative sequence untuk menciptakan pengalaman ruang yang mendukung refleksi, relaksasi, dan keterhubungan dengan alam. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan CLM dapat diterapkan sebagai kerangka desain dalam pengembangan taman kota untuk meningkatkan kualitas kontemplatif ruang dan mendukung kesehatan mental masyarakat tanpa mengubah struktur utama taman yang telah ada.
ANALISIS GAYA UJUNG DAN DEFLEKSI STRUKTUR PADA CONTOH KASUS STRUKTUR DOLPHIN TUBULAR MENGGUNAKAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG BERBASIS MATLAB
Struktur dolphin tubular merupakan salah satu struktur lepas pantai yang berfungsi sebagai fasilitas tambat dan sandar kapal serta menerima beban lingkungan secara langsung, seperti beban gelombang dan arus. Beban tersebut dapat menyebabkan timbulnya gaya dalam dan defleksi yang harus diperhitungkan secara akurat agar struktur tetap memenuhi persyaratan keamanan. Analisis menggunakan metode kekakuan langsung banyak diterapkan dalam analisis struktur karena mampu merepresentasikan perilaku struktur melalui pendekatan matriks, namun perhitungan secara manual menjadi tidak efisien untuk struktur dengan jumlah elemen yang besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan program berbasis MATLAB yang mampu menghitung gaya ujung elemen dan defleksi struktur dolphin tubular menggunakan metode kekakuan langsung. Metode yang digunakan meliputi penyusunan matriks kekakuan elemen, matriks transformasi, matriks insiden, pembentukan matriks kekakuan global, perhitungan beban lingkungan akibat gelombang dan arus menggunakan Persamaan Morison, serta penyelesaian perpindahan nodal untuk memperoleh gaya ujung elemen dan defleksi struktur. Program yang dikembangkan divalidasi melalui beberapa kasus pembebanan dan dibandingkan dengan hasil analisis menggunakan perangkat lunak SACS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program MATLAB mampu memodelkan struktur ruang tiga dimensi, menghitung gaya ujung elemen akibat beban lingkungan, serta menentukan defleksi pada setiap joint yang memiliki derajat kebebasan. Perbandingan hasil dengan SACS menunjukkan adanya perbedaan nilai gaya ujung elemen akibat perbedaan pendekatan perhitungan beban gelombang, di mana SACS menggunakan integrasi sepanjang elemen dengan distribusi hiperbolik, sedangkan program MATLAB menggunakan penyederhanaan distribusi beban berbentuk trapesium. Meskipun demikian, pola distribusi gaya dan besaran hasil yang diperoleh masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga program MATLAB yang dikembangkan dapat dinyatakan tervalidasi secara numerik dan layak digunakan sebagai alat analisis struktur dolphin tubular berbasis metode kekakuan langsung.