📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGEMBANGAN ALAT PENDETEKSI FERTILITAS TELUR BERBASIS KAMERA DAN MACHINE LEARNING
Industri peternakan ayam di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan naiknya kebutuhan protein hewani. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah proses pendeteksian telur fertil dan infertil yang umumnya dilakukan secara manual, sehingga kurang efisien dan rentan terhadap kesalahan identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah alat pendeteksi fertilitas telur berbasis sistem kotak tertutup berkapasitas 36 telur yang dilengkapi kamera Arducam IMX477 dan model machine learning YOLOv11. Proses pendeteksian dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan intensitas cahaya yang menembus telur, di mana telur fertil tampak gelap dan telur infertil tampak terang, kemudian dideteksi secara real-time melalui web dashboard . Hasil pelatihan model menunjukkan performa yang sangat baik dengan nilai mAP50 sebesar 0,9950, precision sebesar 0,9076, dan recall sebesar 0,9230. Pengujian sistem secara real-time menunjukkan bahwa alat mampu mendeteksi fertilitas telur secara otomatis dengan tingkat akurasi yang tinggi. Selain itu, pengujian terhadap 216 butir telur serta evaluasi 55 kombinasi parameter citra menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara konsisten dan optimal pada berbagai pengaturan kamera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendeteksi berbasis kamera dan machine learning yang dikembangkan memiliki potensi sebagai solusi pendeteksian fertilitas telur yang lebih objektif, cepat, dan efisien dibandingkan metode candling manual.
PERANCANGAN PUSAT DAY CARE LANSIA UNTUK PENUAAN AKTIF DENGAN PENDEKATAN DESAIN EKSPERENSIAL DI CIHAPIT, BANDUNG
Tugas Akhir ini merespons fenomena ageing population di Indonesia, di mana populasi lansia telah mencapai 12% (34 juta jiwa) namun belum diimbangi oleh penambahan ruang publik yang ramah lansia, khususnya di Kota Bandung. Kondisi ini diperberat oleh keterbatasan dukungan keluarga yang dapat memicu rasa kesepian pada lansia. Sebagai solusi, proyek ini mengusung tipologi Day Care Lansia sebagai fasilitas aktivitas harian yang aman dan inklusif. Proyek ini menerapkan program Active Ageing untuk mendukung kemandirian fisik, kesehatan, dan interaksi sosial lansia demi mencapai kualitas hidup yang prima. Untuk mengoptimalkan program tersebut, pendekatan desain eksperensial dipilih sebagai konsep utama perancangan yang diwujudkan melalui pengolahan sirkulasi yang kontinu dan transisi spasial yang mengalir untuk menstimulasi aktivitas fisik secara mandiri. Melalui integrasi stimulus multi-sensori, seluruh elemen ruang bersinergi menciptakan lingkungan yang tenang dan stimulatif guna menurunkan rasa kesepian sekaligus meningkatkan kesehatan mental para lansia.
KONSTRUKSI VISUALITAS BARONG KET SEBAGAI ARTEFAK BUDAYA BALI: KAJIAN ETNOGRAFIS PADA MAKNA DAN IDENTITAS
Barong Ket sebagai warisan budaya takbenda masyarakat Bali memiliki fungsi utama sebagai simbol religius yang merepresentasikan relasi spiritual antara manusia dan Dewa dalam tradisi Hindu Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji visualitas Barong Ket melalui tiga aspek utama: ide, tindakan, dan artefak. Kajian ini menempatkan visualitas Barong Ket dalam konteks komunikasi simbolik serta proses keberlanjutan identitas budaya lokal. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya mengisi kekosongan konseptual yang terdapat dalam studi sebelumnya yang umumnya hanya mendeskripsikan fungsi dan simbol topeng secara umum, tanpa membedah makna visual secara teoretis sebagai medium ekspresi dan negosiasi identitas. Fokus penelitian ini terletak pada visualitas Barong Ket sebagai praktik budaya, dengan menelaah bagaimana relasi bentuk dan warna berfungsi dalam komunikasi visual yang membangun dan memediasi makna simbolik serta identitas budaya masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi visual, metodologi penelitian kualitatif dengan metode etnografis milik Spradley. Penelitian ini menyoroti peran warna dan bentuk sebagai titik kunci dalam pembentukan makna simbolik Barong Ket. Warna merah yang dominan direpresentasikan sebagai simbol pelindung dan kekuatan sakral yang berakar dari ajaran lontar dan mitos. Perbedaan warna dan bentuk di tiap daerah tidak semata-mata menunjukkan variasi artistik, tetapi menggambarkan proses negosiasi nilai budaya dan spiritual masyarakat yang hidup dinamis dan kontekstual. Elemen visual tersebut tidak hanya merujuk pada aspek estetika, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang ditransmisikan melalui praktik budaya lintas generasi. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, visualitas Barong Ket merupakan konstruksi budaya berbasis ide, praktik, dan artefak. Bentuk dan warna berfungsi sebagai medium kehadiran dan komunikasi energi niskala. Bentuk tapel tidak hanya berfungsi estetis, tetapi bersama warna membentuk rasa dan energi simbolik yang berakar pada kosmologi Hindu Bali. Kedua, Barong Ket berfungsi sebagai simbol visual dan spiritual yang mengalami transformasi makna melalui negosiasi antara ranah sakral dan profan, tanpa menghilangkan daya sakralnya. Transformasi ini mencerminkan mekanisme adaptif budaya, termasuk perubahan identitas simbolik dari artefak budaya menjadi subjek spiritual hidup melalui proses ritualisasi. Ketiga, keberlanjutan identitas visual Barong Ket berlangsung secara dinamis melalui regenerasi partisipatif, khususnya dalam komunitas seni dan perlombaan, yang menegaskan Barong Ket sebagai entitas budaya hidup yang terus menegosiasikan makna, fungsi, dan visualitasnya dalam konteks sosial dan spiritual kontemporer. Kontribusi teoritis mengklarifikasi bahwa kontruksi visualitas dapat dilihat jauh melebihi itu karena ada arena metafisis dan ritualnya. pada pendekatan simbolik visual yang membuka ruang interpretasi baru tentang kedudukan objek budaya dalam relasi antara estetika, fungsi, dan makna. Dengan demikian, Barong Ket dipahami bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai entitas visual hidup yang mereproduksi dan menegosiasikan identitas budaya dalam konteks sosial dan spiritual yang dinamis.
MIND THE GAP: MENUTUP KESENJANGAN STRATEGI DAN EKSEKUSI, PERANCANGAN KERANGKA KOMPETENSI UNTUK TIM OPERASIONAL PENJUALAN DI PT. LTI
Organisasi sering kali menghadapi tantangan bukan dalam perencanaan strategi, melainkan dalam menerjemahkannya ke dalam eksekusi operasional yang konsisten. Dalam departemen Operasional Penjualan PT LTI, kinerja yang tidak merata, ekspektasi peran yang ambigu, dan penilaian manajerial yang inkonsisten mencerminkan adanya kesenjangan strategi-eksekusi yang persisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan tersebut melalui pengembangan kerangka kompetensi yang mendefinisikan standar perilaku dan kapabilitas yang diperlukan untuk eksekusi yang efektif, disertai pendekatan penilaian dan pengembangan kompetensi yang lebih objektif. Penelitian menggunakan desain kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pimpinan, karyawan aktif, dan mantan anggota tim. Perancangan kerangka mengintegrasikan pendekatan identifikasi kompetensi top-down berdasarkan McClelland (1973), Lucia dan Lepsinger (1999), serta Dessler (2012), dengan prinsip penambatan perilaku dari Spencer dan Spencer (1993), menghasilkan metodologi hibrida yang sesuai dengan konteks organisasi. Melalui analisis tematik, penelitian ini mengidentifikasi sebelas kompetensi kritis dan menerjemahkannya ke dalam indikator perilaku yang terukur melalui Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS) Development Matrix. Kerangka ini diujicobakan kepada 116 karyawan Operasional Penjualan (99 Store Manager dan 17 District Manager) dan divalidasi oleh pimpinan senior, yang mengonfirmasi kesesuaiannya dengan observasi lapangan serta mendukung urutan implementasi yang dimulai dari tingkat Operations Manager. Rencana Pelatihan dan Pengembangan satu tahun, mencakup Rencana Pengembangan Individual untuk Operations Manager dan Rencana Pelatihan Umum untuk seluruh tim, mengoperasionalisasikan temuan ke dalam peta jalan peningkatan kapabilitas yang terstruktur.
STUDI JARINGAN KOMUNIKASI SMART GRID BERBASIS QOS (QUALITY OF SERVICES) PADA TRANSFORMASI CONTROL CENTER SISTEM KETENAGALISTRIKAN JAWA-MADURA-BALI
Transformasi Transformasi pusat kendali sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura– Bali dari skema enam Control Centre menuju dua pusat kendali utama, yaitu Main Control Centre (MCC) dan Disaster Recovery Centre (DRC), menyebabkan perubahan pola komunikasi jaringan dari terdistribusi menjadi lebih terpusat. Perubahan ini menuntut kesiapan infrastruktur telekomunikasi yang andal untuk mendukung layanan operasional Smart Grid seperti SCADA, Defense Scheme, Voice, Metering, dan Monitoring. Di sisi lain, digitalisasi layanan seperti migrasi SCADA dari IEC 101 ke IEC 104, implementasi IEC 61850 GOOSE pada sistem proteksi, serta peningkatan kebutuhan monitoring aset berbasis IP menyebabkan peningkatan kebutuhan trafik dan kualitas layanan komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa jaringan komunikasi eksisting, menganalisis kebutuhan trafik layanan, serta merancang dan mensimulasikan arsitektur jaringan backbone MCC–DRC pada sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali. Metode penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pengukuran kualitas jaringan eksisting berbasis SDH/PDH dan Industrial Ethernet Switch menggunakan metode Bit Error Rate Test (BERT) Ethernet/EtherSAM dengan perangkat ukur EXFO, untuk memperoleh parameter QoS berupa latency, jitter, throughput, dan reliability. Tahap kedua adalah monitoring trafik aktual layanan Smart Grid menggunakan PRTG berbasis SNMP selama 30 hari untuk memperoleh profil kebutuhan bandwidth layanan. Tahap ketiga adalah perancangan topologi backbone MCC–DRC berdasarkan data jalur Fiber Optic eksisting dan hasil perhitungan kebutuhan trafik, kemudian disimulasikan menggunakan OMNeT++ pada beberapa skenario, yaitu kondisi normal, jalur atas, jalur bawah, dan switching/failover. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jaringan eksisting masih mampu mendukung kebutuhan layanan Smart Grid. Jaringan Industrial Ethernet Switch memiliki performa latency lebih rendah, umumnya berada di bawah 1,5 ms, sedangkan jaringan SDH berada pada kisaran sekitar 2,5 ms hingga lebih dari 11 ms. Dari sisi throughput, kedua jaringan mampu mencapai nilai yang mendekati bandwidth acuan hingga sekitar 19,99–20 Mbps, sedangkan reliability pada kedua jaringan sangat tinggi, yaitu mendekati 100%. Hasil monitoring trafik menunjukkan bahwa kebutuhan trafik aktual layanan mencapai 362,7 Mbps, sedangkan kebutuhan berdasarkan roadmap mencapai 9.500 Mbps, sehingga total kebutuhan trafik backbone diperkirakan sebesar 9.862,7 Mbps atau sekitar 10 Gbps. Hasil simulasi MCC–DRC menunjukkan nilai latency tertinggi sebesar 10,1 ms, availability terendah sebesar 99,9050%, dan jitter tertinggi sebesar 0,00338 ms. Berdasarkan hasil tersebut, rancangan backbone MCC–DRC dapat digunakan sebagai dasar pengembangan jaringan komunikasi Smart Grid yang lebih terpusat, andal, dan sesuai dengan kebutuhan transformasi Control Centre sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali.
PENGARUH GOVERNMENT SUPPORT PADA KEUNGGULAN BERSAING INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PERAN MEDIASI DARI ENTREPRENEURIAL ORIENTATION
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Government Support terhadap Competitive Advantage melalui peran mediasi Entrepreneurial Orientation pada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Government Support dalam penelitian ini dibedakan menjadi dukungan finansial dan non-finansial, sementara Entrepreneurial Orientation diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu innovativeness, proactiveness, dan risk-taking. Competitive Advantage diukur melalui dua pendekatan, yaitu cost-based dan differentiation-based. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 176 pelaku IKM Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pemerintah yang bersifat non-finansial memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh dimensi Entrepreneurial Orientation, sedangkan dukungan finansial tidak berpengaruh signifikan. Entrepreneurial Orientation terbukti berperan penting dalam menciptakan Competitive Advantage, meskipun pengaruhnya berbeda pada setiap dimensi. Dimensi Innovativeness ditemukan berpengaruh hanya pada dimensi Differentiation-based, dimensi Proactiveness berpengaruh pada kedua dimensi Competitive Advantage, dan dimensi Cost-based Competitive Advantage. Selain itu, tidak ditemukan pengaruh langsung Government Support terhadap Competitive Advantage. Namun, ditemukan adanya pengaruh tidak langsung melalui Entrepreneurial Orientation pada dukungan non-finansial, yang menunjukkan pola mediasi penuh. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperkuat peran Entrepreneurial Orientation sebagai mekanisme kunci dalam mentransformasikan dukungan pemerintah menjadi keunggulan kompetitif. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa kebijakan pengembangan IKM perlu difokuskan pada penguatan kapasitas dan kapabilitas kewirausahaan, bukan hanya pada pemberian bantuan finansial.
PENGEMBANGAN KATALIS DENGAN MODIFIKASI FOSFOR UNTUK KONVERSI MINYAK NABATI MENJADI BAHAN BAKAR OKTAN TINGGI
Konsumsi bahan bakar minyak terus mengalami peningkatan, berbanding terbalik dengan cadangan minyak bumi yang terus berkurang setiap tahunnya. Bahan bakar minyak nabati dari sawit adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dapat dijadikan bahan bakar oktan tinggi. Katalis yang biasa digunakan untuk perengkahan minyak nabati yaitu HZSM-5 zeolite dikarenakan ukuran porinya yang bersifat selektif (bertindak sebagai penyaring molekul) dan keasaman intrinsiknya yang kuat sehingga dapat mengarahkan produk menjadi fraksi bensin yang berkualitas tinggi. Namun, keasaman yang tinggi juga membuat katalis HZSM-5 dikenal memiliki stabilitas yang rendah dan umur pakai yang pendek. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan katalis HZSM-5 yang berfokus pada peningkatan stabilitas hidrotermal tanpa mengurangi kualitas bahan bakar oktan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan katalis HZSM-5 dengan variasi rasio mol Si/Al (30–80) lalu di modifikasi silikalit-1 dengan variasi rasio mol TPABr/SiO2 (0,2–0,8) metode inti-cangkang dan fosfor dengan variasi rasio mol P/Al (0–1) metode impregnasi basah. Hasil menunjukkan bahwa katalis HZ-30 memiliki perolehan OLP (43,43%) tertinggi, kandungan bensin (90,13%) dan nilai RON (113) yang tinggi. Katalis HZ@Si-0,2 yang memiliki rasio TPABr/SiO2 terendah berhasil membentuk lapisan silikalit-1 yang terbaik dengan perolehan OLP (34,89%), kandungan bensin (84,59%) yang turun signifikan dengan sedikit penurunan RON (108) dan peningkatan pembentukan kokas (10,33%) yang tinggi. Impregnasi fosfor mampu mempertahankan kinerja katalitik katalis dan meningkatkan umur pakai katalis. Katalis HZP-0,5 yang memiliki rasio mol P/Al sebesar 0,5 menunjukkan kinerja katalitik yang terbaik dengan berhasil mempertahankan perolehan OLP (42,06%), kandungan bensin (91,80%), dan nilai RON (112) yang tinggi serta secara signifikan mampu menurunkan pembentukan kokas (2,55%). Selain itu juga, mampu meningkatkan umur pakai katalis dari 8 jam (HZ-30) menjadi 14 jam.
SURVEI NIRAWAK BAWAH AIR : PERANCANGAN PROSEDUR PENJAGAAN JALUR SECARA AUTONOM DAN TERKENDALI DALAM PROSES AKUSISI DATA SPASIAL DENGAN TEKNOLOGI ROBOT BAWAH AIR DI LINGKUNGAN PERAIRAN DANGKAL
Survei bawah air pada perairan dangkal memerlukan sistem navigasi yang mampu menyediakan informasi posisi secara kontinu dan akurat. Sistem navigasi akustik konvensional seperti Long Baseline (LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short Baseline (USBL) memiliki keterbatasan pada lingkungan perairan dangkal akibat kebutuhan infrastruktur tambahan dan biaya operasional yang tinggi. Sebagai alternatif, teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) memungkinkan estimasi posisi menggunakan integrasi sensor visual dan inersial. Capstone Design Project ini mendukung pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM melalui penyusunan Dokumen Prosedural Navigasi Survei Nirawak Bawah Air Berbasis SLAM dan Dokumen Teknis Laporan Pilot Project. Sistem dikembangkan menggunakan kamera monokular GoPro HERO10 Black dan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang diintegrasikan dengan algoritma ORB-SLAM3 berbasis Visual-Inersial SLAM. Tahapan pekerjaan meliputi kalibrasi kamera, kalibrasi IMU, kalibrasi ekstrinsik kamera-IMU, akuisisi data, pemrosesan trajektori, transformasi koordinat, dan analisis hasil. Hasil proyek berupa dokumen prosedural dan teknis yang dapat digunakan sebagai acuan implementasi, evaluasi, dan pengembangan sistem navigasi survei nirawak bawah air berbasis SLAM untuk pemetaan perairan dangkal.
PERANCANGAN ULANG PROGRAM LOYALITAS HANDAI COFFEE
Industri kopi grab-and-go di Indonesia berkembang pesat seiring meningkatnya konsumsi kopi dan menjamurnya kedai kopi lokal. Di tengah pertumbuhan tersebut, Handai Coffee meluncurkan program Handai Loyalty Card berbasis kartu stamp fisik untuk mendorong pembelian berulang, namun program ini belum berjalan optimal, ditunjukkan oleh redemption rate yang hanya mencapai 13% (25 dari 190 kartu yang dibagikan). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas program loyalitas eksisting, merancang program loyalitas yang lebih sesuai preferensi pelanggan, serta menguji efektivitas rancangan yang diusulkan. Akar permasalahan diidentifikasi menggunakan metode 5 Whys, sedangkan perancangan program dilakukan melalui pendekatan Choice-Based Conjoint (CBC) untuk mengidentifikasi kombinasi atribut program loyalitas yang paling disukai pelanggan, dengan lima atribut dan tiga level pada masing-masing atribut. Model CBC divalidasi menggunakan root likelihood (RLH) dan holdout set. Rancangan yang dihasilkan kemudian dievaluasi melalui validasi kepada 15 pelanggan aktual dan A/B Testing within-subject terhadap 151 calon pelanggan, dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test dan Binomial Test. Hasil penelitian menunjukkan akar permasalahan terletak pada desain program loyalitas yang belum mampu mendorong pelanggan menyelesaikan siklus pembelian dan menukarkan reward. Kombinasi atribut terbaik terdiri atas partisipasi melalui kode QR, frekuensi pembelian sepuluh kali, diskon 20%, hadiah produk 250 ml, dan voucher belanja Rp5.000, dengan atribut reward sebagai faktor paling diprioritaskan pelanggan. Model CBC menunjukkan performa prediktif baik (RLH = 0,537) dengan validasi holdout yang kuat. Hasil A/B Testing membuktikan program usulan meningkatkan minat beli secara signifikan, dengan Program B dipilih oleh 68% responden sebagai alternatif yang paling disukai. Estimasi probabilitas pembelian mengindikasikan potensi peningkatan jumlah pelanggan yang menyelesaikan siklus pembelian dari 25 menjadi sekitar 77 pelanggan, melampaui target redemption rate 10–15% yang ditetapkan manajemen. Dari sisi finansial, program usulan meningkatkan profit menjadi Rp71.000 per kartu dan menghasilkan expected profit Rp30.860–Rp33.090 per kartu, atau naik 11,0%–19,0% dibandingkan program eksisting. Dengan demikian, program loyalitas yang diusulkan terbukti valid secara metodologis, efektif dalam meningkatkan loyalitas pelanggan, serta layak diterapkan pada Handai Coffee.
SIMULASI PERTUMBUHAN AWAL DEPOSISI LAPISAN ATOM LOGAM MOLIBDENUM MENGGUNAKAN MOO2CL2 PADA PERMUKAAN MON DENGAN TEORI FUNGSIONAL KERAPATAN DAN MIKROKINETIKA
Perkembangan di bidang sirkuit terpadu telah memperkecil ukuran interkoneksi logam. Miniaturisasi meningkatkan resistivitas bahan sehingga memunculkan waktu tunda yang signifikan. Maka dari itu, bahan interkoneksi baru diajukan untuk mengurangi kenaikan resistivitas. Molibdenum (Mo) unggul karena nilai jarak rerata bebasnya yang lebih pendek dari Tembaga (Cu). Sifat ini membuat logam Mo tidak mengalami kenaikan resistivitas yang sebanding dengan Cu. Pengecilan ukuran interkoneksi juga menuntut penggunaan teknik penumbuhan material yang mutakhir. Deposisi lapisan atom (atomic layer deposition, ALD) dianggap sebagai metode yang dapat digunakan karena keunggulannya dalam kontrol pertumbuhan presisi serta kemampuan pelapisan konformal. Eksperimen penumbuhan lapisan tipis Mo menggunakan ALD telah dilakukan menggunakan prekursor MoO2Cl2. Prekursor ini berhasil mendeposisikan Mo murni, tetapi membutuhkan suhu yang tinggi. Pada penelitian ini, mekanisme reaksi deposisi dari prekursor MoO2Cl2 pada MoN diinvestigasi menggunakan teori fungsional kerapatan (density functional theory, DFT). Simulasi mengindikasikan adanya kemungkinan penyingkiran pengotor melalui mode disosiasi serta mode hidrogenasi prekursor secara langsung. Energetika reaksi menunjukkan bahwa hidrogenasi oksigen (O) ke H2O memiliki energi penghalang 0,75-2,31 eV, lebih besar dibanding klorin (Cl) ke HCl dengan rentang energi 0,75-1,99 eV. Perbedaan energetika membuat pengotor O lebih sulit dihilangkan. Pemodelan mikrokinetika juga dilaksanakan untuk menguak jaringan reaksi yang terlibat. Mikrokinetika menunjukkan bagaimana kedua mode yang ada dapat bekerjasama secara sinergis dalam menghilangkan pengotor. Pemodelan ini juga digunakan untuk menarik hubungan antara kandungan lapisan dengan parameter deposisi. Tekanan gas MoO2Cl2 yang berlaku sebagai koreaktan diidentifikasi sebagai salah satu parameter yang dapat dioptimasi untuk meningkatkan kualitas lapisan terdeposisi.
ANALISIS STRUKTUR VERTIKAL KLOROFIL-A DAN DEEP CHLOROPHYLL MAXIMUM DI SELATAN SELAT LOMBOK PADA BULAN MARET TAHUN 2021
Selat Lombok memiliki dinamika oseanografi yang kompleks, dengan pencampuran vertikal yang sangat intensif akibat interaksi antara Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), pasang surut, dan topografi selat. Penelitian ini mengkaji variasi struktur vertikal klorofil-a dan karakteristik Deep Chlorophyll Maximum (DCM) di perairan Selatan Selat Lombok menggunakan 94 profil CTD beresolusi temporal 3 jam yang direkam pada 13–25 Maret 2021. Identifikasi DCM dilakukan berdasarkan kriteria Baldry dkk. (2024) yang disesuaikan dengan status kesuburan perairan. Dari 94 profil CTD, sebanyak 73 profil (78%) berhasil mengidentifikasi DCM yang valid. DCM ditemukan secara konsisten pada rentang kedalaman 19 66 m (rata-rata 37,5 m) dengan konsentrasi puncak 0,506–1,013 mg/m³. Analisis posisi vertikal DCM terhadap struktur kolom air menunjukkan distribusi vertikal yang sangat spesifik dan berhimpit: 10% profil berada di dalam Lapisan Pencampuran (Mixed Layer Depth/MLD), mayoritas sebesar 85% terperangkap di zona transisi (antara batas bawah MLD dan batas atas termoklin), dan 5% DCM berada di dalam lapisan termoklin. DCM selalu berada di atas pusat piknoklin dengan jarak rata-rata 62,0 m, dan korelasi Pearson antara keduanya sangat lemah (r = ?0,14). Hal ini menegaskan bahwa variabilitas vertikal DCM dominan diatur oleh kondisi fisis-optik: MLD bertindak sebagai penghalang pergerakan ke lapisan permukaan akibat turbulensi lapisan atas, sementara zona eufotik (1% PAR pada kedalaman 38–43 m) menjadi batas bawah pergerakan vertikal DCM. Analisis spektral Lomb-Scargle menunjukkan ketiadaan sinyal periodik yang signifikan pada deret waktu kedalaman DCM (daya puncak tertinggi 0,15, berada di bawah ambang batas signifikansi FAP 5% sebesar 0,24). Ketiadaan dominasi ini mengindikasikan bahwa pergerakan vertikal DCM tidak diatur oleh periodisitas pasang surut secara tunggal, melainkan akibat dari kompleksitas interaksi hidrodinamika lokal yang terus-menerus menekan batas ruang spasialnya. Perbandingan dengan data model CMEMS sepanjang tahun 2021 menghasilkan Z score sebesar 0,458, mengonfirmasi bahwa kondisi struktural DCM ini adalah representasi tipikal dari dinamika transisi monsun di perairan tersebut.
PENGEMBANGAN BALANCED SCORECARD UNTUK PENILAIAN KINERJA KESELAMATAN BERKELANJUTAN YANG STRATEGIS PADA INDUSTRI PUSAT PERBELANJAAN
Pusat perbelanjaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas komersial, tetapi juga sebagai ruang publik yang memiliki tanggung jawab ekonomi, sosial, dan keselamatan yang besar. Di Indonesia, pertumbuhan industri pusat perbelanjaan menuntut adanya sistem manajemen keselamatan yang lebih terstruktur, proaktif, dan dapat diterapkan secara konsisten, khususnya bagi operator mal berskala besar dengan kondisi bangunan dan tingkat kematangan operasional yang beragam. Lippo Malls Indonesia (LMI), sebagai pengelola jaringan mal di berbagai wilayah, menghadapi tantangan dalam menjaga standar keselamatan yang seragam di tengah perbedaan ukuran mal, usia bangunan, karakter tenant, jumlah pengunjung, dan kesiapan infrastruktur. Praktik keselamatan yang berjalan selama ini masih cenderung reaktif dan terfragmentasi, sementara pengukuran kinerja keselamatan masih banyak bertumpu pada indikator lagging dan aktivitas kepatuhan. Penelitian ini mengembangkan Strategic Sustainable Safety Balanced Scorecard (SSSBSC) sebagai kerangka pengukuran kinerja keselamatan yang praktis untuk operasional pusat perbelanjaan. Model ini memperluas Balanced Scorecard tradisional dengan menambahkan perspektif kelima, yaitu Safety and Sustainability, agar aspek keselamatan publik, kesiapsiagaan darurat, keandalan sistem, dan ketahanan keselamatan jangka panjang memperoleh perhatian strategis yang lebih jelas. Dalam penelitian ini, keberlanjutan dimaknai terutama sebagai keberlanjutan sosial, yaitu kemampuan operasional mal dalam melindungi pengunjung, tenant, pekerja, kontraktor, dan aset secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods. Tahap pertama dilakukan melalui validasi KPI Dictionary oleh delapan responden Head Office dari fungsi operasional, facility management, engineering, HSE, legal, business process, dan sustainability. Hasil validasi menunjukkan bahwa 20 KPI yang diusulkan dapat diterima secara umum, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,275 dan tingkat kesepakatan sebesar 87,08 persen. Aspek relevansi dan kejelasan memperoleh penilaian yang kuat, sedangkan aspek keterukuran masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada indikator keluhan keselamatan pelanggan, biaya kerugian akibat insiden, pelaporan near-miss, klasifikasi severity, dan pengujian fungsi sistem keselamatan kritis. Tahap kedua menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot setiap perspektif dan KPI. Hasil AHP menunjukkan bahwa perspektif Safety and Sustainability memiliki bobot tertinggi sebesar 40,32 persen, diikuti oleh Internal Process sebesar 21,94 persen, Customer sebesar 13,45 persen, Learning and Growth sebesar 13,11 persen, dan Financial sebesar 11,18 persen. KPI dengan peringkat tertinggi adalah Emergency Readiness Index, TRIR / Recordable Incident Rate, Critical Safety System Function Test Pass Rate, Incident Severity Index, dan Safety Inspection Plan Completion Rate. Selanjutnya, metode Objective Matrix (OMAX) digunakan untuk menunjukkan bagaimana KPI berbobot tersebut dapat dikonversi menjadi Safety Performance Index yang terstandardisasi. Pilot pada Lippo Mall Kemang (LMK) menggunakan data aktual internal HSE audit dan follow-up progress, dengan hasil Safety Performance Index sebesar 8,155 atau kategori Green. Hasil ini menunjukkan bahwa fondasi keselamatan LMK relatif kuat, namun masih terdapat area yang tetap perlu diperkuat, khususnya pelaporan near-miss/hazard, sertifikasi peran kunci, preventive maintenance, dan tindak lanjut fire and life safety. Penelitian ini menyimpulkan bahwa SSSBSC dapat membantu LMI mengubah pengelolaan keselamatan dari fungsi kepatuhan yang reaktif menjadi sistem manajemen yang strategis, terukur, dan berbasis portofolio. Kerangka ini memungkinkan benchmarking antar-mal secara lebih konsisten, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, memperkuat akuntabilitas, serta membantu manajemen menentukan prioritas investasi keselamatan berdasarkan tingkat risiko dan kesenjangan kinerja.
ANALISIS PROFIL VERTIKAL KLOROFIL-A DI PERAIRAN SELATAN JAWA PADA KONDISI INDIAN OCEAN DIPOLE TAHUN 2018, 2019, DAN 2022
Perairan Selatan Jawa memiliki dinamika oseanografi yang kompleks akibat pengaruh angin monsun, Arus Lintas Indonesia (Arlindo), dan Indian Ocean Dipole (IOD), yang secara langsung memengaruhi intensitas upwelling dan distribusi vertikal klorofil-a. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan karakteristik profil vertikal klorofil-a di Perairan Selatan Jawa pada kondisi IOD menggunakan data in-situ CTD dan membandingkannya dengan model CMEMS. Data observasi yang digunakan meliputi 37 profil CTD in-situ yang dikumpulkan pada Oktober 2018 (13 stasiun, IOD positif), November 2019 (13 stasiun, IOD positif), dan Juli 2022 (11 stasiun, IOD cenderung negatif) di perairan Selatan Jawa Barat (Region I), Selatan Jawa Tengah (Region II), hingga Jawa Timur–Bali (Region III). Parameter suhu, salinitas, dan klorofil-a dianalisis dalam bentuk profil vertikal, penentuan parameter termoklin, serta korelasi Pearson terhadap data CMEMS pada kedalaman 5, 10, dan 15 m. Hasil menunjukkan bahwa IOD positif pada tahun 2019 menghasilkan termoklin paling dangkal dengan batas atas 7–40 m dan konsentrasi klorofil-a tertinggi mencapai 3,18 mg/m³ di Region I, sementara IOD positif tahun 2018 menghasilkan produktivitas tertinggi di Region III dengan konsentrasi klorofil-a mencapai 4,04 mg/m³ pada kedalaman 10 m. Sebaliknya, IOD cenderung negatif (2022) menyebabkan stratifikasi kuat dengan batas atas termoklin terdalam dan terpanas (38–65 m; 28–29°C), salinitas permukaan sangat rendah (33,1–34,2 PSU), serta konsentrasi klorofil-a terendah (<0,4 mg/m³), kecuali di Region III yang masih menunjukkan produktivitas lokal akibat pengaruh Selat Lombok. Perbandingan dengan model CMEMS menghasilkan korelasi sedang hingga lemah yang menurun seiring bertambahnya kedalaman (r = 0,595 pada 5 m; r = 0,396 pada 10 m; r = 0,301 pada 15 m), mengindikasikan model tidak mampu merepresentasikan struktur vertikal klorofil-a secara memadai, khususnya lapisan puncak klorofil subpermukaan.
STUDI SIFAT MEKANIK DAN EVOLUSI MIKROSTRUKTUR DARI PERLAKUAN PANAS AUSTENISASI SINGKAT DAN PENEMPERAN SINGKAT BERBASIS PEMANASAN INDUKSI PADA BAJA PERKAKAS TAHAN KARAT X38CRMO16
Baja perkakas X38CrMo16 telah digunakan sebagai material cetakan injeksi plastik yang digunakan untuk komponen plastik yang membutuhkan surface finish yang baik serta memiliki ketahanan korosif dan abrasif. Selain itu, X38CrMo16 memiliki kadar karbon di kisaran 0,30% - 0,40% yang serupa dengan baja performa tinggi seperti AISI 4130 dan 32CrMoV12-10 yang digunakan untuk komponen performa tinggi seperti laras senjata, bejana bertekanan, dan komponen struktural yang membutuhkan kekuatan tinggi lainnya. Baja X38CrMo16 umumnya digunakan pada kekerasan 30 HRC yang mampu diperkeras hingga 49 HRC menggunakan perlakuan panas konvensional seperti austenitisasi dan penemperan dengan mengorbankan ketangguhan. Belakangan ini, telah muncul metode perlakuan panas yang mampu meningkatkan kekuatan dan ketangguhan secara simultan. Perlakuan panas singkat yang meliputi austenitisasi singkat dan penemperan singkat diketahui mampu menghasilkan baja dengan mikrostruktur halus yang disertai peningkatan simultan dari kekuatan dan ketangguhan secara simultan, suatu kualitas langka untuk perlakuan panas. Hingga kini, baru ada satu penelitian yang meneliti pengaruh pemaparan panas singkat kepada baja yang serupa (AISI 420) terkait pemaparan panas akibat pengelasan pada turbin uap. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menginvestigasi transformasi fasa pada mikrostruktur X38CrMo16 terhadap pengaruh austenitisasi singkat dan penemperan singkat. Serta, menginvestigasi respons perubahan sifat mekanik kekerasan dan ketangguhan dari aplikasi perlakuan panas tersebut. Studi literatur menunjukkan bahwa austenitisasi singkat dan penemperan singkat secara konsisten menghasilkan peningkatan kekuatan dan ketangguhan secara simultan. Hal ini umumnya disebabkan oleh mikrostruktur yang diperhalus, kompleks, dan heterogen. Tinjauan fundamental dari radius inti kritis, driving force termodinamis, dan pertumbuhan butiran menunjukkan bahwa penghalusan fitur mikrostruktural itu memungkinkan dari segi faktor suhu perlakuan tinggi dan waktu perlakuan yang rendah. Mekanisme peningkatan simultan dari ketangguhan dan kekuatan ditemukan berkaitan erat dengan penghalusan butiran dari persamaan Hall-Petch dan Cotrell-Petch. Selebihnya, penghalusan karbida dapat memberikan efek yang sama melalui turunnya jarak antar partikel berdasarkan penguatan Orowan dan menurunnya ukuran crack-like defect melalui linear elastic fracture mechanics. Penelitian dilakukan menggunakan baja X38CrMo16 yang didapatkan secara komersial yang dipotong menjadi sampel subsized-Charpy 5 mm x 10 mm yang kemudian akan dipanaskan pada tanur induksi dengan lilitan 12 mm x 8 mm. Perlakuan panas austenitisasi singkat dilakukan dengan variasi daya: 4, 6, dan 7,38 kW; variasi waktu pemanasan: 10, 22, dan 30 detik. Perlakuan panas penemperan singkat dilakukan secara ganda dengan daya 2 kW pada variasi waktu pemanasan: 4, 8, dan 12 detik. Pendinginan cepat dilakukan menggunakan air kecuali pada satu variasi 30 detik di 6 kW yang menggunakan pendinginan udara. Variasi yang dilakukan meliputi kondisi as quenched, as quenched tempered, dan as cyclic quenched tempered. Pengujian sifat mekanik dilakukan dengan pengujian kekerasan Vickers dan impak Charpy pada kondisi unnotched dan notched. Preparasi untuk pengamatan metalografi dilakukan dengan pengamplasan dan pemolesan hingga didapatkan mirror-like finish yang kemudian dietsa dengan dua larutan, yaitu etsa A: 1 g asam pikrat, 5 mL HCl, dan 95 mL alkohol; dan etsa B 2,3 g asam pikrat, 17 mL HCl, dan 83 mL alkohol. Pengamatan metalografi meliputi penggunan mikroskop optik dan mikroskop elektron JEOL JCM-7000 untuk pengamatan resolusi sedang, analisis komposisi kimia, dan pemetaan unsur. Serta, Field emission scanning electron microscope Thermo Fisher Apreo 2C digunakan untuk pengamatan resolusi tinggi (10.000-20.000x). Pengamatan fraktografi dilakukan hanya menggunakan JEOL JCM-7000 di perbesaran kecil 27-30x dan perbesaran sedang 100-3.000x. Penelitian menemukan bahwa austenitisasi singkat dapat memperhalus ukuran butiran dari 25 ± 4 ?m pada variasi as received menjadi 9 ± 2 ?m pada variasi waktu pemanasan 10 detik di 7,38 kW. Ditemukan bahwa batas bawah dari austenitisasi singkat adalah kurangnya pelarutan karbida sebagai akibat dari rendahnya daya dan waktu pemanasan. Batas atas dari austenitisasi singkat berupa munculnya fasa delta ferit sebagai akibat dari efek pemerkayaan kromium lokal dari proses pelarutan karbida primer akibat terlalu tingginya daya dan waktu pemanasan. Penemperan singkat ditemukan mempresipitasi berbagai jenis karbida hingga karbida nano dan secara progresif melarutkan substruktur blok martensit rounded. Kombinasi dari austenitisasi singkat dan penememperan singkat ditemukan mampu menghasilkan dua variasi unggul: 10 detik di 7,38 kW dan di temper dua kali pada 8 detik di 2 kW yang menghasilkan kekerasan 523 HV dengan ketangguhan impak 8,5 J/cm2, dan 22 detik di 6 kW dan di temper dua kali pada 12 detik di 2 kW yang menghasilkan kekerasan 474 HV dan ketangguhan impak 53,3 J/cm2. Ketangguhan tinggi dari variasi kedua ditemukan diakibatkan oleh mekanisme patahan campuran yang disertai retakan sekunder divider-type yang berjumlah banyak. Baja X38CrMo16 menunjukkan respons berupa peningkatan sifat mekanik yang positif dan mikrostruktur yang bervariasi terhadap aplikasi perlakuan panas singkat.
MODEL REGENERASI KOLABORATIF SEBAGAI STRATEGI KEBERLANJUTAN DI KAMPUNG BATIK CIWARINGIN
Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural, sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik tersebut. Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022), Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk. (2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis, ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi. Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl (2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua, integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan kontekstual.