📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPROYEKSI KONSENTRASI KLOROFIL-A PERMUKAAN LAUT BERDASARKAN MODEL IKLIM CMIP6 SSP1-2.6 DAN SSP5-8.5 TAHUN 2015-2050 DI PERAIRAN SELATAN JAWA
Perairan Selatan Jawa memiliki variabilitas klorofil-a tinggi akibat pengaruh sistem angin monsun dan interaksi laut dan atmosfer, sehingga perubahan iklim berpotensi memengaruhi produktivitas primer di masa depan. Kajian mengenai proyeksi klorofil-a di wilayah ini menggunakan model CMIP6 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi spasial-temporal klorofil-a serta responsnya terhadap fenomena upwelling menggunakan tujuh model CMIP6 (SSP1-2.6 dan SSP5-8.5) pada periode 2015–2050, yang divalidasi dengan data ERA5, ESA OC- CCI, WOA23, CMEMS (2015–2024), dan CTD in situ (2018, 2019, 2022). Metode analisis data meliputi analisis bias, tren, TSS, dan EPV. Hasil menunjukkan GFDL- ESM4 memiliki kinerja terbaik dengan nilai TSS 0,686 pada SSP1-2.6 dan 0,767 pada SSP5-8.5, sedangkan CMCC-ESM2, CanESM5, CanESM5-1, dan KIOST- ESM terendah dengan TSS < 0,1. Proyeksi jangka panjang data MME menunjukkan adanya tren penurunan konsentrasi klorofil-a sebesar ?0,0002 mg/m3/tahun pada skenario SSP1-2.6 dan ?0,0003 mg/m3/tahun pada SSP5-8.5 selama periode 2015– 2050. Berbeda dengan hasil tren data MME periode 2015-2024 yang menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil-a permukaan laut pada kedua skenario. Hal ini mengindikasikan adanya potensi penurunan konsentrasi klorofil-a di masa depan pada kedua skenario emisi akibat perubahan iklim. Variabilitas klorofil-a akibat upwelling di Perairan Selatan Jawa belum direpresentasikan secara optimal oleh model CMIP6, yang ditunjukkan oleh kecenderungan underestimasi konsentrasi klorofil-a selama musim timur. Kondisi ini berkaitan dengan bias angin timur ekuatorial yang menyebabkan pemompaan ekman tersimulasi lebih kuat di wilayah lepas pantai dan lebih lemah di daerah pesisir.
PREDIKSI JACKING FORCE MICROTUNNELING DENGAN ANALISIS NUMERIK PADA TANAH DI INDONESIA
Pada konstruksi microtunneling pipe jacking, salah satu parameter yang penting adalah jacking force. Parameter jacking force ini menentukan efisiensi konstruksi. Pada umumnya, nilai jacking force ini ditentukan berdasarkan model prediksi jacking force. Namun, sering kali model jacking force ini memberi nilai yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi aktualnya. Tanah yang ditinjau berupa tanah lempung kepasiran sedang. Diameter luar pipa yang ditinjau sebesar 1.74 meter dengan kedalaman pipa sedalam 5 meter diukur dari bagian bawah pipa. Dalam penelitian ini akan dievaluasi besar jacking force dengan metode elemen hingga. Pemodelan dengan metode elemen hingga digunakan untuk mengkalibrasi nilai koefisien friksi dari data lapangan. Nilai koefisien friksi hasil kalibrasi sebesar ? = 0.24 Kemudian, model-model teoritis dihitung berdasarkan persamaan-persamaan beserta parameter koefisien friksi rekomendasi. Hasilnya menunjukkan bahwa semua model memberi prediksi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan data lapangan. Lalu model-model teoritis tersebut dihitung kembali menggunakan koefisien friksi hasil kalibrasi. Hasil prediksi menunjukkan bahwa model Bennet dan Staheli memberi prediksi yang mendekati dengan data lapangan. Sedangkan model JSTT, Chapman, Pellet, dan PJA masih memberikan prediksi yang besar. Maka dari penelitian ini untuk tanah medium sandy clay, nilai koefisien friksi yang direkomendasikan sebesar ? = 0.24 atau setara dengan ? = tan(?/2). Model Bennet dan Staheli merupakan model yang dapat memprediksi jacking force lebih akurat.
KREATIVITAS DALAM DUNIA DIGITAL: STUDI KASUS FANART DALAM FANDOM “MOUTHWASHING”
Dunia digital dalam tiga dekade terakhir telah melalui banyak perubahan, terutama pada bagaimana masyarakat merespons dan berinteraksi dengan media hiburan. Media hiburan sudah banyak beralih ke bentuk digital, membuatnya menjadi jauh lebih mudah diakses oleh banyak orang. Kemudahan akses ini memudahkan pengenalan sebuah media hiburan kepada orang awam. Pengenalan ini kemudian dapat menciptakan rasa kegemaran pada seseorang. Budaya kegemaran sendiri sudah ada dari sejak lama, namun perkembangan teknologi membuat aktivitas dalam komunitas penggemar (fandom) menjadi lebih beragam. Salah satu aktivitasnya adalah penciptaan karya visual yang mengapropriasi media sebagai bentuk kekaguman, karya tersebut disebut dengan fanart. Fanart sendiri telah menjadi bagian dari fenomena budaya yang berkembang di dunia digital namun belum banyak yang mencoba untuk meneliti kreativitas yang digunakan dalam fanart. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini akan menanyakan bagaimana wujud kreativitas dalam dunia digital khususnya dalam fanart, serta apakah paradigma mengenai kreativitas yang ada saat ini cukup untuk menganalisis karya yang terdapat di dunia digital, khususnya fanart. Studi kasus intrinsik kemudian digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan akhir dari penelitian adalah untuk memahami kreativitas yang terdapat dalam dunia digital melalui fanart sebagai studi kasus. Tujuan lainnya adalah untuk membuktikan bahwa teori kreativitas yang ada saat ini belum cukup untuk membahas objek visual yang ada dalam dunia digital. Studi kasus dibatasi pada satu fandom dalam satu media sosial. Pembatasan ini mempertimbangkan banyaknya jenis media sosial dan media hiburan serta komunitas penggemar yang terbentuk karenanya. Studi kasus akan berfokus pada fandom yang terbentuk dari video game “Mouthwashing” karena ketenarannya dari Oktober 2024 sampai Februari 2025 dan keberhasilannya meraih empat belas nominasi dari enam acara penghargaan dan memenangkan tiga di antaranya. Metode penelitian dimulai dari pemilihan sampel berupa tiga pencipta fanart (fanartist) dan fanartnya sendiri. Data yang diambil berupa data hasil wawancara dengan fanartist mengikuti metode yang ditawarkan oleh Rose mengenai digital methods dan audiencing. Sementara data visual didapatkan dari pengaplikasian metode kritik seni Feldman yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Data wawancara akan dianalisis menggunakan teori motivasi kreatif oleh Unsworth, dan teori proses kreatif Sadler Smith. Secara motivasi, ketiga fanartist memiliki ketertarikan dengan aspek dari “Mouthwashing” yang berbeda satu sama lainnya dan ketertarikan ini ditambahkan dengan dorongan internal dan eksternal untuk mulai menciptakan fanart. Sementara untuk menganalisis proses kreatif dari masing-masing fanartist, data dari wawancara ditambahkan dengan waktu sketsa karya dan ilustrasi diunggah. Tahap persiapan dan inkubasi diasumsikan dari waktu mereka pertama mendengar mengenai “Mouthwashing” sampai sebelum mengunggah karya sketsa. Tahap intimasi diasumsikan berdasarkan tanggal sketsa pertama diunggah sampai karya ilustrasi diunggah. Tahap pencerahan dan evaluasi menggunakan tanggal yang sama dengan tangga karya ilustrasi fanart diunggah. Data visual yang didapatkan selanjutnya dianalisis melalui teori delapan kontribusi kreatif oleh Sternberg, dkk. Sampel fanart menunjukkan adanya dukungan dan penentangan terhadap ide asal dari “Mouthwashing”. Tahap analisis terakhir adalah memahami fanart sebagai bentuk ekspresi kreativitas. Teori tingkatan kreativitas oleh Kaufman dan Beghetto digunakan sehingga didapatkan kesimpulan bahwa fanart dapat menjadi bentuk ekspresi kreativitas yang kecil (little-C) namun dengan nuansanya masing-masing, tergantung dengan bagaimana fanart dan fanartist berinteraksi dengan fandom dan komunitas sekitarnya. Dengan adanya aplikasi teori kepada fanart, maka dapat disimpulkan bahwa wujud kreativitas dalam fanart sudah ada sebelum awal proses penciptaan, hingga ketika karya diunggah. Meskipun begitu, ditemukan juga kekurangan-kekurangan dari teori kreativitas yang digunakan dalam penelitian ini. Umumnya kekurangan ini dikarenakan cakupannya yang masih terbatas dan belum mempertimbangkan dinamika dalam dunia digital.
PENGARUH STRUKTUR PELINDUNG PANTAI TERHADAP KARAKTERISTIK GELOMBANG
Wilayah pesisir di Indonesia semakin rentan terhadap abrasi akibat peningkatan energi gelombang dan kenaikan muka air laut, sehingga diperlukan upaya mitigasi melalui penggunaan struktur pelindung pantai yang efektivitasnya dipengaruhi oleh parameter fisik seperti tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman. Penelitian ini mengkaji pengaruh parameter tersebut terhadap karakteristik transmisi gelombang menggunakan model Persamaan Air Dangkal satu dimensi. Solusi analitik diperoleh dari Linear Shallow Water Equations (LSWE) untuk struktur berbentuk persegi dengan menerapkan syarat kontinuitas pada antarmuka domain, sedangkan solusi numerik dihitung menggunakan metode volume hingga pada grid setengah dengan skema upwind dan limiter Koren. Selain itu, model Nonlinear Shallow Water Equations (NSWE) dengan suku redaman digunakan untuk mensimulasikan transformasi gelombang serta melakukan validasi terhadap hasil eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tinggi struktur, lebar struktur, dan koefisien redaman menyebabkan penurunan koefisien transmisi gelombang (Kt), yang menunjukkan peningkatan efektivitas struktur dalam meredam gelombang. Skema Koren mampu memberikan hasil propagasi gelombang yang lebih akurat dibandingkan skema upwind karena menghasilkan difusi numerik yang lebih kecil. Secara keseluruhan, model Persamaan Air Dangkal mampu merepresentasikan fenomena transmisi dan peredaman gelombang pada struktur terendam dengan baik.
PERBANDINGAN KINERJA LABEL INDIKATOR KESEGARAN BERBASIS PIGMEN ALAMI PADA MATRIKS BIOPOLIMER CHITOSAN-POLYVINYL ALCOHOL, METHYLCELLULOSE-SOY PROTEIN ISOLATE, DAN PEKTIN-SODIUM ALGINATE
Smart packaging merupakan inovasi teknologi di bidang pengemasan pangan yang mampu memberikan informasi kesegaran produk secara real-time. Salah satu penerapannya adalah label indikator pH berbasis pigmen alami yang dapat mendeteksi perubahan mutu produk secara visual melalui perubahan warna. Antosianin merupakan pigmen alami yang bersifat sensitif terhadap perubahan pH, namun kestabilannya sangat dipengaruhi oleh jenis matriks biopolimer yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan matriks Chitosan-Polyvinyl Alcohol (Kitosan-PVA), Methylcellulose-Soy Protein Isolate (SPI-MC), dan Pektin-Sodium Alginate terhadap karakteristik label indikator kesegaran serta menentukan matriks dengan kinerja paling stabil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan jenis biopolimer. Parameter yang diamati meliputi stabilitas warna selama penyimpanan pada suhu ruang (25°C), reversibilitas warna berdasarkan nilai ?E*ab pada kondisi asam dan basa, sensitivitas warna terhadap pH (2-11), dan daya serap air. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan matriks biopolimer berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap seluruh parameter yang diamati. Matriks dengan kombinasi Kitosan-PVA menunjukkan respons perubahan warna paling jelas pada kondisi basa kuat dengan nilai ?E*ab pH 11 sebesar 39,93 ± 0,13 serta memiliki daya serap air sebesar 4,42 ± 1,17%. Selama penyimpanan, seluruh perlakuan mengalami peningkatan nilai ?E*ab seiring dengan waktu penelitian, namun matriks Kitosan-PVA menunjukkan perubahan yang relatif lebih terkendali pada beberapa periode waktu pengamatan. Secara keseluruhan, matriks Kitosan- PVA menunjukkan kinerja paling seimbang antara sensitivitas warna dan kestabilan selama penyimpanan, serta ketahanan terhadap air, sehingga berpotensi menjadi matriks terbaik untuk aplikasi label indikator kesegaran berbasis pigmen alami.
PENGEMBANGAN PRODUK WEARABLE PADA KONDISI KRITIS DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: DEMONSTRASI)
Penelitian ini membahas pengembangan produk wearable ergonomis dan kompartemen modular untuk kebutuhan paramedis pada kondisi demonstrasi urban diBandung. Tas konvensional yang ada saat ini menghambat mobilitas dan aksesibilitas akibat desain yang besar, kaku, dan minim kompartemen, sehingga memperlambat penanganan korban dan meningkatkan risiko cedera muskuloskeletal (MSI) pada paramedis. Metode yang digunakan adalah pendekatan co-design, mencakup studi literatur, observasi lapangan di PMI Kota Bandung, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi permasalahan utama seperti distribusi beban tidak ideal dan akses kompartemen yang lambat. Analisis terhadap produk existing seperti Trauma Bag menunjukkan kelemahan pada sistem strap, bantalan panel belakang, dan kompartemen resleting. Rekomendasi desain mencakup material high-density polyester waterproof, sistem kompartemen modular, dan strap adjustable berbahan memory foam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi paramedis, mempercepat penanganan korban, serta menjadi acuan standar nasional peralatan darurat dan referensi akademis desain ergonomis.
PENGEMBANGAN PRODUK WEARABLE PADA KONDISI KRITIS DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: DEMONSTRASI)
Penelitian ini membahas pengembangan produk wearable ergonomis dan kompartemen modular untuk kebutuhan paramedis pada kondisi demonstrasi urban diBandung. Tas konvensional yang ada saat ini menghambat mobilitas dan aksesibilitas akibat desain yang besar, kaku, dan minim kompartemen, sehingga memperlambat penanganan korban dan meningkatkan risiko cedera muskuloskeletal (MSI) pada paramedis. Metode yang digunakan adalah pendekatan co-design, mencakup studi literatur, observasi lapangan di PMI Kota Bandung, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi permasalahan utama seperti distribusi beban tidak ideal dan akses kompartemen yang lambat. Analisis terhadap produk existing seperti Trauma Bag menunjukkan kelemahan pada sistem strap, bantalan panel belakang, dan kompartemen resleting. Rekomendasi desain mencakup material high-density polyester waterproof, sistem kompartemen modular, dan strap adjustable berbahan memory foam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi paramedis, mempercepat penanganan korban, serta menjadi acuan standar nasional peralatan darurat dan referensi akademis desain ergonomis.
PENGEMBANGAN MODEL KESIAPAN ADOPSI TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SUSU PADA PETERNAK SAPI PERAH SKALA KECIL DI PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat adopsi teknologi peternakan pada peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat, yang berdampak pada belum optimalnya produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian sebelumnya masih terbatas dalam mengintegrasikan kesiapan individu, persepsi teknologi, dan faktor kontekstual dalam analisis adopsi teknologi peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan model konseptual adopsi teknologi peternakan yang digunakan untuk mendukung perumusan implikasi manajerial dalam meningkatkan produktivitas susu dan pengelolaan limbah ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada peternak sapi perah skala kecil. Variabel penelitian dikembangkan melalui integrasi Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan variabel kontekstual berupa government support dan pro-environmental behavior (PEB-Waste). Data penelitian sebanyak 160 responden dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimism dan innovation berpengaruh positif terhadap performance expectancy dan effort expectancy, sedangkan insecurity berpengaruh negatif terhadap performance expectancy. Kemudian, performance expectancy, social influence, dan government support berpengaruh positif terhadap intention to adopt teknologi. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak dalam mengadopsi teknologi. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bagi para pembuat kebijakan untuk menyusun implementasi teknologi peternakan yang disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat kesiapan peternak sapi perah skala kecil di Jawa Barat.
STUDI PERENCANAAN SISTEM POLDER TERINTEGRASI UNTUK PENGENDALIAN BANJIR KAWASAN CILINCING, JAKARTA UTARA
Jakarta Utara memiliki risiko banjir tinggi akibat topografi rendah, pasang surut air laut, dan land subsidence masif. Penelitian ini bertujuan merencanakan sistem pengendalian banjir terintegrasi di DTA Pompa Bulak Cabe seluas 61,05 Km2 (wilayah Cilincing) melalui optimalisasi sistem polder pada Kali Cakung Drain dan Kali Blencong menggunakan pemodelan hidrodinamika dua dimensi (2D) HEC-RAS. Analisis hidrologi dengan hujan rencana periode ulang 25 tahun sebesar 270,87 mm menunjukkan volume limpasan tinggi akibat nilai Curve Number yang besar, dipicu oleh padatnya pemukiman dan buruknya daya serap tanah. Evaluasi hidraulika eksisting melalui simulasi 2D mengonfirmasi bahwa kapasitas Kali Cakung Drain tidak mampu menampung akumulasi debit banjir dari seluruh sub-catchment dan memicu genangan yang meluas di bantaran sungai. Sebagai solusi visioner dan berkelanjutan, direncanakan kombinasi polder terintegrasi berupa normalisasi, tanggul dengan faktor keamanan tinggi, rumah pompa, dan kolam detensi yang dirancang ramah lingkungan berdasarkan batas kecepatan izin material. Infrastruktur ini terbukti mampu mereduksi volume banjir hingga 91,73% serta menyusutkan area genangan berdasarkan hasil simulasi numerik 2D, dengan spesifikasi kolam detensi minimal 1.400.000 m³ dan kapasitas pompa pengeluaran 30 m³/s. Proyek ini membutuhkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp288.575.498.892,80 dan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) terbesar senilai Rp816 Miliar, sehingga dinilai optimal secara teknis dan finansial untuk jangka panjang.
PENERAPAN GABUNGAN MODEL CONVOLUTIONAL LSTM-CNN DALAM ESTIMASI RISIKO KEBAKARAN UNTUK PENENTUAN PREMI MURNI ASURANSI PADALAHAN GAMBUT DI PULAU KALIMANTAN
Lahan gambut di Pulau Kalimantan memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi Indonesia karena 48% dari seluruh area lahan gambut ini termasuk dalam konsensi bisnis (Pantau Gambut, 2023). Namun, alih fungsi lahan membuat area ini rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rimbawan dan Nur (2021) di Kota Banjarbaru, nilai kerugian akibat kebakaran lahan gambut per 100 Ha mencapai kurang lebih 1 miliar Rupiah. Dengan generalisasi, kerugian pada tahun 2019 akibat kebakaran lahan gambut mencapai 11,611 triliun Rupiah. Oleh karena potensi ekonomi yang tinggi dan adanya risiko kerugian yang tinggi pula, perlu dibuat upaya mitigasi kerugian finansial akibat kebakaran pada lahan gambut ini. Penelitian ini ditujukan untuk memitigasi risiko kerugian finansial tersebut melalui formulasi perhitungan premi murni asuransi. Sejalan dengan tujuan tersebut, dikembangkan sebuah model prediktif berbasis Convolutional Long Short-Term Memory (ConvLSTM) dan Convolutional Neural Network (CNN) untuk mengestimasi peluang terjadinya kebakaran pada lahan gambut. ConvLSTM diimplementasikan sebagai arsitektur dasar karena kemampuannya dalam mengolah data spasial dan temporal secara simultan. Sementara itu, CNN digunakan untuk mengoptimalkan prediksi peluang melalui kemampuannya dalam menganalisis representasi fitur spasial. Model yang dibangun berhasil mendapatkan nilai presisi sebesar 0,1698 dan recall sebesar 0,0264 dengan nilai ROC AUC dan PR AUC sebesar 0,7 dan 0,1191. Hasil ini sudah cukup baik mengingat kemampuan model memprediksi titik api mencapai dua kali lebih baik daripada tebakan acak. Hasil dari model ini juga dapat memprediksi peluang kebakaran pada satu minggu ke depan. Dengan memasukkan nilai severitas kebakaran, diperoleh distribusi kebakaran pada 4 kelas risiko, yaitu rendah, menengah bawah, menengah atas, dan tinggi yang masing-masing memberikan premi murni senilai 9,04; 43,37; 245,76; dan 775,24 juta IDR.
MODEL KOLABORASI DESAIN UNTUK KRIYA BERKELANJUTAN: HARMONISASI PAGUYUBAN DAN PATEMBAYAN DI KAMPUNG WISATA YOGYAKARTA
Disertasi ini meneliti dan merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta, dengan nilai kebudayaan Jawa sebagai landasan utama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu krisis lingkungan (Jogja Darurat Sampah) di kawasan perkotaan, problematika sosiokultural dalam kolaborasi, serta tuntutan keberlanjutan ekonomi di sektor kriya. Yogyakarta juga merepresentasikan relasi yang kuat antara kriya, kebudayaan Jawa, dan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menggunakan paradigma sosiologis, penelitian ini mengangkat dinamika dialektis dan ketegangan ideologis dalam praktik kolaborasi antarkelompok artisan kriya di antara komunitas/paguyuban (Gemeinschaft) yang mengutamakan nilai kebersamaan (guyub) dengan industri/patembayan (Gesellschaft) yang berorientasi pada nilai keuntungan ekonomi. Kolaborasi dalam paguyuban dibangun melalui relasi sosial dan ikatan emosional dalam struktur informal. Sementara itu, kolaborasi dalam konsep patembayan mengembangkan pola kerja sama yang lebih rasional, profesional, dan terstruktur secara formal. Secara konseptual, perbedaan orientasi antara kedua kelompok sosial ini berpotensi menimbulkan konflik, sehingga kolaborasi desain menjadi tidak strategis dan menghambat pengembangan berkelanjutan bagi kelompok artisan kriya. Oleh karena itu, perbedaan orientasi kelompok artisan perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristiknya agar dapat menentukan posisi dalam spektrum paradigma paguyuban dan patembayan, sehingga tercipta harmonisasi dalam kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan. Namun demikian, kerangka analisis untuk mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan, pola kolaborasi, dan karya kriya dalam kedua paradigma ini masih perlu dikembangkan. Secara kontekstual, paguyuban dan patembayan dalam kebudayaan Jawa di kampung wisata Yogyakarta juga memiliki kearifan lokal yang memperkaya diskursus akademik global dalam kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (a) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan kriya di Yogyakarta berdasarkan tiga aspek, meliputi ideologi kelompok (people), proses kolaborasi (process), dan hasil karya (product), dalam paradigma paguyuban dan i patembayan; serta (b) merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan sebagai strategi harmonisasi pengembangan kelompok artisan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta (place). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi etnografi dan Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data penelitian melibatkan 38 partisipan dari 18 kelompok artisan kriya di Yogyakarta melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, dokumentasi karya, serta diskusi kelompok terarah. Secara sistematis, kelompok artisan kriya sebagai partisipan penelitian juga dikategorikan ke dalam empat dimensi keberlanjutan yang mencakup budaya, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, analisis data etnografis dilakukan secara berjenjang menggunakan teknik kodifikasi dengan tiga wujud kebudayaan sebagai kerangka konseptual, yaitu nilai ideologis kelompok (mentifact) sebagai aspek makro, praktik sosial (sociofact) sebagai aspek meso, dan karya (artifact) sebagai aspek mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kelompok, kolaborasi dan karya artisan kriya di Yogyakarta tidak bersifat dikotomis, melainkan memiliki spektrum yang dinamis di antara domain paguyuban dan domain patembayan. Berdasarkan analisis data etnografi, penelitian ini memetakan 12 komponen indikator klasifikasi untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok, kolaborasi, dan karya kriya. Model klasifikasi ini memposisikan kelompok artisan pada spektrum paguyuban kriya dan patembayan kriya. Secara mikro (artifact), klasifikasi ini juga memetakan elemen elemen dalam identifikasi karakteristik karya, yakni: Identitas, Material, Produk, Estetika, Konsep, dan Teknik yang disingkat menjadi IMPEKT. Berdasarkan temuan etnografis dan proses PAR sebagai uji model, disertasi ini merumuskan panduan klasifikasi kelompok artisan dan model Loka Desain untuk kriya berkelanjutan yang terdiri dari enam tahapan, yakni: menemukan bersama (co finding), mendefinisikan bersama (co-defining), mengembangkan ide bersama (co ideation), berkarya bersama (co-crafting), mengevaluasi bersama (co-evaluation), dan merencanakan bersama (co-planning). Melalui refleksi dinamika antara domain paguyuban kriya dan patembayan kriya, sintesis penelitian ini merekomendasikan pembentukan pakaryan kriya (studio kolektif) sebagai entitas baru yang mengharmoniskan jiwa gotong royong dan nilai kebersamaan (guyub) dengan kepentingan ekonomi melalui komersialisasi hasil karya kolaboratif. Sebagai strategi desain, pembentukan pakaryan kriya merupakan proses transformasi sosial yang tidak menghilangkan karakteristik paguyuban kriya maupun patembayan kriya. Dengan demikian, disertasi ini berkontribusi secara teoretis dalam memperluas diskursus kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan dalam konteks kampung wisata berbasis nilai-nilai kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Secara praktis, disertasi ini menghasilkan panduan klasifikasi kelompok artisan kriya serta model kolaborasi desain sebagai strategi pengembangan kelompok artisan kriya yang berkelanjutan di kampung wisata.
ANALISIS PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GRAVITASI BULAN TERHADAP GEMPA BUMI SEPANJANG SIKLUS MATAHARI 24 (2008–2019)
Gempa bumi merupakan manifestasi pelepasan energi dari dalam litosfer Bumi. Keterkaitan antara aktivitas Matahari, Bulan, dan aktivitas seismik telah lama menjadi topik penelitian, namun mekanisme fisis yang mendasarinya masih belum dipahami secara pasti. Penelitian ini mengkaji keterkaitan efek nongravitasional Matahari dan efek gravitasional Bulan terhadap magnitudo dan kedalaman hiposentrum gempa bumi selama Siklus Matahari ke-24 pada lempeng-lempeng tektonik Pasifik, Eurasia, Indo-Australia, Filipina, dan Amerika Selatan–Nazca. Data gempa diperoleh dari USGS, parameter Matahari dari OMNIWeb NASA, dan parameter Bulan dihitung menggunakan pustaka Astropy. Metode partial least squares (PLS) digunakan untuk mengidentifikasi parameter dominan, sedangkan multiple linear regression (MLR) digunakan untuk membangun model linier berbasis parameter dominan terpilih. Hasil menunjukkan bahwa parameter heliogeofisika, terutama indeks geomagnetik, plasma angin Matahari, dan orientasi medan magnet antarplanet (IMF), secara konsisten menjadi parameter dominan dengan pola yang berbeda pada setiap lempeng. Seluruh model menghasilkan signifikansi statistik (p < 0,001), tetapi memiliki kemampuan penjelasan yang sangat rendah, dengan nilai R² sekitar 0,06–0,52% dan R² prediktif kurang dari 0,0001 hingga 0,45%. Secara umum, hubungan tersebut lebih terdeteksi pada model magnitudo dibandingkan model kedalaman. Parameter Bulan yang digunakan, yaitu jarak dan iluminasi, tidak menunjukkan kontribusi yang berarti. Hasil ini mendukung interpretasi bahwa aktivitas Matahari dan pasang surut Bulan lebih mungkin berperan sebagai faktor modulasi atau pemicu eksternal pada sistem tektonik yang telah berada dalam kondisi kritis, bukan sebagai penyebab utama gempa bumi.
DWELLING BEYOND FORGETTING : PERANCANGAN HUNIAN RAMAH DEMENSIA BERBASIS PENDEKATAN MULTISENSORI
Proyek ini berfokus pada arsitektur multisensori dengan perhatian khusus pada isu demensia. Fokus utama adalah penerapan pendekatan multisensori sebagai strategi desain untuk mendukung stimulasi kognitif, memori, serta keseharian penderita. Pendekatan ini dipadukan dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta yang ditandai dengan gaya hidup, interaksi sosial, serta aktivitas komunitas. Tema ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 10 (Reduced Inequalities), serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tercatat lebih dari 1,2 juta orang hidup dengan demensia pada tahun 2022, dan akan melonjak hingga 3,8 juta pada tahun 2050. Namun, kondisi di Jakarta menunjukkan fasilitas ramah demensia masih sangat terbatas. Mayoritas penderita dirawat di rumah, yang menimbulkan isolasi sosial, beban fisik dan mental bagi caregiver, serta berkurangnya kualitas hidup karena minimnya ruang stimulasi kognitif. Sementara itu, Jakarta dikenal sebagai episentrum gaya hidup urban. Kehidupan perkotaan yang cepat, dinamis, dan cenderung eksklusif justru memperlebar kesenjangan antara lansia penderita demensia dengan masyarakat urban. Akibatnya, mereka terpinggirkan dari dinamika kota, padahal kebutuhan interaksi sosial dan keterhubungan dengan komunitas merupakan elemen penting dalam menjaga kualitas hidup lansia. Tipologi yang dipilih adalah hunian ramah demensia dengan pendekatan skala rumah sesuai regulasi site. Program ruang meliputi: hunian lansia dengan unit-unit sederhana dan familiar; daycare dan ruang komunitas sebagai wadah interaksi intergenerasi antara penghuni, keluarga, caregiver, dan komunitas sekitar; therapeutic & sensory garden sebagai ruang terbuka hijau yang mendukung stimulasi multisensori; serta fasilitas kesehatan ringan untuk kebutuhan harian yang tetap sesuai dengan tipologi hunian. Pendekatan utama adalah multisensory design, yaitu strategi arsitektur yang mengoptimalkan pancaindra untuk mendukung fungsi kognitif penderita demensia. Pendekatan ini dilapisi dengan reinterpretasi kultur urban Jakarta berupa aktivitas sosial, kebersamaan, dan komunitas, sehingga tercipta hunian yang tidak terisolasi. Selain itu, digunakan force-based approach untuk menganalisis faktor pendorong isu (demensia, urban culture, regulasi site), serta pattern-based approach dalam pengembangan ruang sehari-hari (sirkulasi melingkar, jalur multisensori, transisi privat–publik). Metode yang digunakan meliputi: studi literatur mengenai dementia-friendly design, arsitektur multisensori; studi preseden dan analisis komparatif; observasi lapangan di sekitar site Jl. Taman Bibit Jeruk; serta analisis site (SWOT, regulasi KDB–KLB–KDH, akses, RTH). Proyek ini bertujuan menghasilkan konsep hunian ramah demensia yang memadukan prinsip multisensory design dengan kultur urban Jakarta. Luaran yang diharapkan adalah konsep hunian yang aman, suportif, dan familiar bagi penderita demensia, lingkungan yang mendorong interaksi sosial ruang kota, serta model percontohan bagi integrasi dementia-friendly living di kawasan urban. Dengan demikian, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita demensia sekaligus stakeholder lain yang berhubungan dengan penderita demensia.
EVALUASI HINDCAST VARIABEL HIDROMETEOROLOGI MENGGUNAKAN MODEL WRF DENGAN KOPLING HIDROLOGI SATU ARAH DAN DUA ARAH DI CEKUNGAN BANDUNG
Penelitian ini mengevaluasi performa simulasi hindcast model WRF dan WRF/WRF-Hydro dalam merepresentasikan hujan ekstrem di Cekungan Bandung. Evaluasi dilakukan pada empat kasus tahun 2025 yang mewakili musim MAM, JJA, SON, dan DJF. Curah hujan digunakan sebagai variabel utama, sedangkan kelembapan tanah dan debit sungai digunakan sebagai variabel pendukung untuk menilai pengaruh representasi hidrologi permukaan dan musim meteorologis terhadap akurasi simulasi. Model WRF dijalankan pada tiga domain bersarang beresolusi 9 km, 3 km, dan 1 km, sementara WRF-Hydro menggunakan routing hidrologi 100 m. Evaluasi dilakukan terhadap data stasiun BBWS Citarum, GPM IMERG, GLEAM, dan debit hasil konversi tinggi muka air di Dayeuhkolot menggunakan metrik PBIAS, RMSE, CC, NSE, serta added value. Sebagai pelengkap, dilakukan eksperimen sensitivitas kelembapan tanah awal pada kasus Maret untuk menelusuri pengaruh kelembapan tanah terhadap hujan. Hasil menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro memberikan nilai tambah pada skala lokal dan evaluasi berbasis stasiun. Pada evaluasi spasial terhadap GPM, WRF masih lebih baik secara rata-rata domain. Analisis kelembapan tanah menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro menghasilkan pola spasial yang lebih detail karena adanya routing, redistribusi lateral air, dan re-infiltrasi. Namun, peningkatan kelembapan tanah tidak selalu langsung diikuti peningkatan akurasi hujan maupun debit. Eksperimen sensitivitas pada kasus Maret menunjukkan bahwa curah hujan responsif terhadap variasi kelembapan tanah awal, dengan perturbasi ±25% mengubah akumulasi hujan hingga +28,6% pada skenario basah dan -23,8% pada skenario kering di wilayah utara. Untuk debit sungai, WRF-Hydro menunjukkan performa lebih baik dibandingkan fully coupled. Secara keseluruhan, WRF/WRF Hydro memberikan nilai tambah lokal pada hujan dan lebih representatif untuk kelembapan tanah, sedangkan WRF-Hydro lebih andal untuk debit.
DESIGNING KEY SUCCESSION PLANNING PRIORITIES FOR A FAMILY-OWNED FACILITY SERVICE COMPANY WITH REFERENCE TO PT EI
PT EI merupakan perusahaan jasa fasilitas milik keluarga yang di Indonesia yang saat ini sedang mengalami proses transisi kepemimpinan dari pendiri kepada generasi penerus. Tanpa adanya perencanaan suksesi yang baik, perusahaan berisiko menghadapi tantangan terkait keberlanjutan jangka panjang, kesinambungan bisnis, serta pelestarian nilai-nilai organisasi yang telah menjadi dasar perusahaan sejak didirikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan utama yang memengaruhi kesiapan perencanaan suksesi di PT EI serta mengubah hambatan tersebut menjadi prioritas strategis dalam penyusunan roadmap perencanaan suksesi yang praktis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tujuh informan penting yang berasal dari pihak kepemilikan keluarga dan manajemen operasional. Hasil wawancara dianalisis menggunakan Metodologi Gioia melalui proses pengkodean tiga tahap, di mana dimensi agregat dihubungkan dengan empat premis dalam kerangka Parallel Planning Process (PPP) yang dikembangkan oleh Carlock dan Ward (2001). Selanjutnya, temuan penelitian diprioritaskan menggunakan Impact–Effort Matrix untuk menentukan urutan implementasi strategi. Hasil penelitian ini adalah sembilan hambatan kritis dalam keempat premis PPP, terutama yang berkaitan dengan budaya perusahaan yang belum terformalkan, transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung, ketergantungan yang kuat pada pendiri, visi dan strategi yang belum selaras, serta belum adanya sistem formal untuk tata kelola, logistik, dan sumber daya manusia. Hambatan-hambatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sembilan usulan strategi dan dikelompokkan ke dalam enam prioritas strategis, yaitu institusionalisasi budaya perusahaan, formalisasi struktur organisasi, penyelarasan visi bersama, pengembangan tata kelola keluarga, perancangan ulang prosedur operasional, serta pembentukan jalur pengembangan kepemimpinan. Berdasarkan Impact–Effort Matrix, tiga prioritas pertama dikategorikan sebagai Quick Wins, sedangkan tiga prioritas lainnya termasuk Major Projects, sehingga membentuk prioritas roadmap untuk meningkatkan kesiapan suksesi dan keberlanjutan jangka panjang PT EI.