📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenEVALUASI KINERJA KATALITIK KOMPLEKS VANADIL(IV)-FENOKSIIMINA DALAM HIDROGENASI TRANSFER KEMOSELEKTIF SITRAL MENJADI GERANIOL DAN NEROL
Sitral merupakan senyawa aldehida ?,?-tak jenuh monoterpena asiklik yang secara alami diperoleh dari minyak asiri serai. Sitral memiliki senyawa-senyawa turunan dengan nilai aspek keekonomian yang sebanding dengan cakupan aplikasi yang luas, contohnya adalah geraniol dan nerol. Geraniol dan nerol diperoleh melalui reaksi hidrogenasi selektif aldehida pada sitral yang memiliki profil aroma manis bunga sehingga sering dimanfaatkan dalam produk wewangian. Reaksi hidrogenasi selektif sitral menjadi geraniol dan nerol telah banyak diteliti menggunakan katalis berbasis logam grup platinum dengan gas hidrogen bertekanan tinggi hingga mencapai 70 bar. Namun, kelimpahan logam grup platinum kian terbatas serta reaksi katalisis dengan gas hidrogen membutuhkan infrastruktur yang relatif tidak sederhana. Penelitian ini mengevaluasi kinerja katalitik kompleks vanadil(IV)-fenoksiimina pada reaksi hidrogenasi transfer kemoselektif sitral menjadi geraniol dan nerol menggunakan alkohol sebagai sumber hidrogen. Seri ligan fenoksiimina disintesis melalui reaksi kondensasi 2- hidroksibenzaldehida dengan senyawa turunan anilina yang dikarakterisasi dengan FTIR, 1H- NMR, dan P-XRD. Seri ligan tersebut kemudian dimetalasi terhadap vanadil sulfat trihidrat hingga dihasilkan kompleks vanadil(IV)-fenoksiimina yang dikarakterisasi menggunakan FTIR, P-XRD, dan MSB. Geometri kompleks vanadil(IV)-fenoksiimina dioptimasi melalui kalkulasi pada fungsi TPSSh menggunakan perangkat lunak ORCA versi 6.1.1 dengan basis set def2-TZVP dan koreksi dispersi D3BJ. Hidrogenasi transfer kemoselektif sitral dengan vanadil(IV)-fenoksiimina dapat mengonversi hingga 76% sitral dengan selektivitas terhadap geraniol dan nerol mencapai 88% yang dikuantifikasi menggunakan kromatografi gas (GC). Hasil yang diperoleh menunjukkan potensi kompleks vanadil(IV)-fenoksiimina sebagai katalis dalam reaksi hidrogenasi transfer kemoselektif sitral menjadi geraniol dan nerol.
MEKANISME DAN PENGARUH CHELATING AGENT TERHADAP DINAMIKA SUPERSATURATION, NUCLEATION, CRYSTAL GROWTH, DAN PERFORMA ELEKTROKIMIA PADA SINTESIS MATERIAL KATODE LINI1-X-YMNXALYO2 SINGLE CRYSTALLINE UNTUK BATERAI ION LITIUM
Material katode LiNi1-x-yMnxAlyO2 (NMA) merupakan alternatif katode bebas kobalt, dengan Al menekan pencampuran kation Li+/Ni2+ dan menstabilkan struktur layered. Namun, perbedaan Ksp yang besar antara Al(OH)3, Ni(OH)2, dan Mn(OH)2 memicu segregrasi fasa pada sistem NH4OH. Penelitian ini menggunakan di-ammonium hydrogen citrate (DAHC) sebagai agen pengkelat tunggal berfungsi ganda, ligan multidentat yang membentuk kompleks stabil dengan Al3+ sekaligus sumber amonia, untuk menyederhanakan sintesis NMA955 melalui metode hidrotermal (180oC, 10 jam) dan kalsinasi (800oC, 12 jam, atmosfer O2). Pemodelan termodinamika-kinetika menunjukkan peningkatan konsentrasi DAHC menurunkan supersaturasi (lnS = 10.69 ? 10.37) dan laju nukleasi (9.73 ? 8.97 x 1010 nukleus/m3?s), dengan kondisi optimum pada 1.2 M. Sebaliknya, NH4OH menghasilkan lnS = 21.92 dan laju nukleasi 3.64 x 1011 nukleus/m3?s, sehingga DAHC efektif menekan nukleasi eksplosif penyebab aglomerasi partikel primer. XRF mengonfirmasi DAHC mempertahankan komposisi lebih dekat target (Al 8.49%; Mn 4.24%) lebih tinggi dari NH4OH (Al 7.79%; Mn 1.79%) yang defisit Mn akibat lemahnya kompleks Mn-amonia. XRD menunjukkan DAHC 1.2 M memiliki parameter struktural terbaik (I(003)/I(104) = 1.63, R-Factor = 0.51, c/a = 4.942, FWHM = 0.09o) mendekati karakter single-crystalline, sedangkan NH4OH 1.2 M hanya mencapai I(003)/I(104) = 1.01 yang menandakan pencampuran kation lebih tinggi. Konsisten dengan itu, SEM memperlihatkan DAHC menghasilkan partikel primer besar sementara NH4OH membentuk partikel sekunder teraglomerasi padat. Pengujian elektrokimia menunjukkan DAHC 1.2 M memberikan initial discharge capacity 161.53 mAh/g, retensi 91.5% setelah 100 siklus pada 0.5C, kemampuan rate 67% pada 2C, Rct = 49.69 ?, DLi+ = 1.33 x 10-12 cm2/s, dan pergeseran ?V < 0.05 V setelah 100 siklus. Sebaliknya, NH4OH 1.2 M hanya mempertahankan retensi 49% dengan Rct = 82 ? dan DLi+ = 2.25 x 10-15 cm2/s.
MODIFIKASI BIOSILIKA DARI DIATOM LAUT TROPIS UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PENGANTAR OBAT PEKA CAHAYA
Terapi obat konvensional sering kali menghadapi tantangan berupa distribusi obat yang tidak merata dalam tubuh, efektivitas yang rendah di lokasi target, serta efek samping yang bersifat sistemik. Pengembangan sistem pengantaran obat (drug delivery) yang dikontrol oleh faktor eksternal, seperti sinar dengan panjang gelombang tertentu, dapat memicu pelepasan obat secara tepat sasaran dan mengurangi efek samping. Salah satu kandidat sistem pengantaran obat yang bersifat biokompatibel dan terbarukan adalah material biosilika berpori hierarkis dari mikroalga jenis diatom. Dalam penelitian ini, biosilika dari diatom dimodifikasi dengan senyawa linker yang bersifat peka cahaya (photolabile) dengan tujuan agar dapat melepaskan senyawa kargo di bawah kontrol cahaya. Tahap penelitian ini meliputi kultivasi diatom spesies Navicula salinicola NLA, pemanenan biomassa diatom, isolasi dan aktivasi biosilika dari biomassa, fungsionalisasi biosilika dengan (3-Aminopropil)trietoksisilana (APTES), serta konjugasi biosilika-APTES dengan linker peka cahaya dan senyawa model obat, yaitu metil merah (MM). Sistem biosilika-APTES-linker-MM diiradiasi dengan sinar UV (? = 365 nm) dengan pencuplikan alikuot larutan pada interval waktu tertentu (5–210 menit) untuk mengamati pelepasan senyawa MM secara spektrofotometrik. Kultur N. salinicola NLA mencapai kerapatan sel maksimum pada hari ke-9 sebesar 637.33 sel/mL kultur. Pemanenan biomassa menghasilkan 4,75 gram pada hari ke-9 dengan produktivitas mencapai 764,75 mg·L?¹·hari?¹. Sebanyak 0,0523 g biosilika diekstraksi dari biomassa basah dengan produktivitas sebesar 1% (%massa) dan nilai potensial zeta negatif (-16,61 mV) yang menandakan keberadaan gugus silanol. Biosilika yang telah diaktivasi dimodifikasi dengan senyawa APTES dengan kerapatan fungsionalisasi mencapai 1,01 mmol/gram dan nilai potensial zeta positif (+12,01 mV) yang menandakan keberadaan gugus amonium. Modifikasi biosilika dengan APTES juga diindikasikan oleh puncak serapan IR pada 1633 cm-1 dan 2925 cm-1. Konjugasi linker pada biosilika-APTES melalui ikatan amida dapat dilihat melalui munculnya pita amida I pada 1624 cm?¹ dan amida II pada 1566 cm?¹ pada spektrum FTIR, serta kenaikan rasio molar C/N sebesar 14,69 yang didapat dari hasil analisis unsur CHNS. Pemuatan metil merah melalui ikatan ester pada ujung gugus hidroksimetil linker diindikasikan oleh pita C=O ester pada 1723 cm?¹ dengan rasio molar C/N sebesar 4,46 dan kerapatan pemuatan sebesar 0,055 mmol/gram. Fotoiradiasi UV (? = 365 nm) menghasilkan pelepasan spesi yang menyerap pada ????????????????? = 280 nm, berbeda dengan serapan khas metil merah pada ????????????????? = 405 nm. Hal ini menandakan telah terjadi proses pelepasan molekul walaupun tidak terindikasi dalam bentuk metil merah fungsional. Analisis spektrometri massa untuk spesi hasil fotoiradiasi tersebut menunjukkan puncak pada m/z 274,29; 261,16; dan 123,09 yang bersesuaian dengan struktur metil merah yang telah mengalami degradasi yang kemungkinan besar disebabkan oleh fotoiradiasi. Hasil ini menunjukkan bahwa telah terjadi pemutusan ikatan secara fotoiradiasi walaupun belum tercapai pelepasan bahan aktif terkontrol.
KUANTIFIKASI RISIKO TERJADINYA TAILSTRIKE DENGAN PENDEKATAN MODEL LONGITUDINAL DAN SUBSET SIMULATION
Fase flare merupakan salah satu tahap kritis dalam proses pendaratan karena pesawat berada pada ketinggian rendah dan mengalami perubahan sudut pitch menjelang touchdown. Pada kondisi tertentu, peningkatan sudut pitch yang tidak terkendali dapat mengurangi tail clearance hingga menyebabkan tailstrike. Meskipun kejadian tailstrike tergolong jarang, insiden ini dapat menimbulkan kerusakan struktural, gangguan operasional, serta biaya perawatan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi metrik insiden sebagai dasar untuk membedakan kondisi aman dan kondisi gagal, serta pendekatan probabilistik untuk mengestimasi probabilitas kejadian dan menentukan strategi mitigasi risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metrik insiden tailstrike pada fase flare, mengkuantifikasi probabilitas kegagalan menggunakan metode Subset Simulation, serta menentukan strategi mitigasi berdasarkan parameter yang berkontribusi terhadap peningkatan probabilitas tailstrike. Data yang digunakan berasal dari Quick Access Recorder (QAR) pesawat Boeing 747-300 pada operasi pendaratan di Bandar Udara Internasional Minneapolis-Saint Paul (KMSP). Metrik insiden didefinisikan menggunakan nilai tail clearance sebagai fungsi batas yang membedakan kondisi aman dan kondisi gagal. Model dinamika longitudinal digunakan untuk merepresentasikan respons pesawat selama fase flare, sedangkan ketidakpastian parameter operasi dimodelkan melalui distribusi probabilitas berdasarkan data QAR. Hasil subset simulation menunjukkan bahwa probabilitas kejadian tailstrike pada kondisi dasar adalah sebesar 1,61 × 10??. Nilai tersebut merepresentasikan probabilitas yang sesuai untuk kejadian extremely rare event dan menunjukkan bahwa tailstrike pada fase flare memiliki tingkat kejadian yang sangat rendah.. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa defleksi elevator dan kecepatan pendaratan merupakan parameter paling dominan dalam memengaruhi probabilitas kegagalan, sedangkan sudut serang dan sudut pitch awal memberikan pengaruh yang lebih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, mitigasi risiko tailstrike perlu difokuskan pada pengendalian input elevator yang tidak agresif, pengelolaan kecepatan pendaratan agar tetap sesuai batas operasional, serta pemantauan data penerbangan untuk mendeteksi kondisi yang mendekati batas tail clearance kritis.
SINTESIS KOMPOSIT SEMIKONDUKTOR TIO2 ANATASE/M2SNO4 (M = MG, ZN) SEBAGAI MATERIAL FOTOKATALIS
Semikonduktor oksida logam dapat diaplikasikan sebagai material fotokatalis. Peningkatan efektivitas fotokatalitik yang dilakukan dengan cara mencegah rekombinasi pembawa muatan (elektron-hole) menggunakan sambungan (heterojunction) dua semikonduktor merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Semikonduktor TiO2, Mg2SnO4 dan Zn2SnO4 telah berhasil disintesis melalui metode sonokimia berdasarkan hasil karakterisasi X-ray Diffraction (XRD), Difuse Relectant Spectroscopy (DRS), dan Photoluminesence Spectroscopy (PL). Namun, terdapat fasa SnO2 pada Zn2SnO4 hasil sintesis dengan fraksi volum Zn2SnO4-SnO2 (3:2). Selanjutnya, sintesis material komposit TiO2/M2SnO4 (M = Mg, Zn) dilakukan melalui reaksi fasa padat pada 500 oC dengan variasi waktu pemanasan. Uji aktivitas fotokatalitik dilakukan menggunakan dua jenis zat warna, yaitu Metilen Biru (MB, C16H18N3SCl, pKa 3,8) dan Metil Merah (MR, C15H15N3O2, pKa 5,1) di bawah sinar UV (350 nm). Selanjutnya, aktivitas fotokatalitik dievaluasi menggunakan konstanta laju reaksi orde satu dan diperoleh nilai k yang berbeda untuk aktivitas senyawa yang sama terhadap degradasi MB dan MR. Nilai k paling tinggi ditunjukkan oleh TiO2 untuk degradasi MB sebesar 0,055 menit–1 dan untuk degradasi MR sebesar 0,034 menit–1 . Dari hasil tersebut, suatu fakta yang menarik bahwa pembentukan sambungan (heterojunction) dua semikonduktor besar (bulk) ternyata menjadi suatu kendala lain bagi mobilisasi elektron-hole untuk terpisah menuju permukaan fotokatalis.
KAJIAN AWAL PENYUSUSNAN KAMUS SPEKTRAL (SPEKTRAL LIBRARY) TUTUPAN LAHAN DAN TATA GUNA LAHAN
Kamus spektral merupakan kumpulan karakteristik spektral suatu objek yang sangat membantu dalam proses klasifikasi data citra inderaja. Penyusunan dan pemanfaatan kamus spektral tutupan lahan dan tata guna lahan di wilayah Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah sebagai kajian awal untuk mengetahui susunan dan pengelolaan data penyusun kamus spektral tutupan lahan dan tata guna lahan. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dengan membandingkan 3 kamus spektral dari Arizona State University Spectral Library, United States Geological Survey 2007 Spectral Library dan John Hopkins University Spectral Library, pengukuran dan pengolahan data lapangan serta klasifikasi objek pengamatan dengan menggunakan sistem klasifikasi tutupan lahan dan tata guna lahan oleh Bahari (2005). Hasil yang diperoleh adalah parameter kamus spektral berupa reflektansi, deskripsi objek, data series, standar deviasi, tipe dan lokasi serta metode untuk menyusun kamus spektral.
APLIKASI FUZZY NEURAL NETWORK (FNN) DENGAN RULE ATTENTION PADA MASALAH KLASIFIKASI DATA
Pengukuran ketidakpastian merupakan aspek penting dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kehidupan sehari-hari, seperti pengukuran curah hujan dan suhu, penentuan keamanan serta dosis obat, identifikasi genetik, hingga karakterisasi objek astronomi seperti planet dan bintang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran untuk klasifikasi data tabular secara linguistik dengan mengintegrasikan mekanisme atensi pada arsitektur Fuzzy Neural Network (FNN) melalui pendekatan rule attention, serta menganalisis hasilnya melalui visualisasi klasifikasi. Model diuji pada dua skenario ukuran data, yaitu data sederhana dan data berskala besar, untuk mengevaluasi kinerja dan stabilitas model pada kondisi yang berbeda. Proses pemodelan meliputi pengaturan hyperparameter, penerapan teknik resampling, serta pemanfaatan fitur diskrit, disertai analisis fitur untuk mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap performa model. Selain itu, dilakukan perbandingan antara FNN dan metode K-Nearest Neighbours melalui plot hasil klasifikasi dan evaluasi metrik kinerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNN dengan mekanisme rule attention mampu melakukan klasifikasi linguistik secara efektif dengan pemisahan kelas yang lebih jelas dan stabil dibandingkan KNN, serta memberikan interpretabilitas yang lebih baik melalui representasi berbasis aturan dan analisis fitur dibandingkan dengan pembelajaran mesin.
PENGARUH MONSUN TERHADAP VARIABILITAS TRANSPOR VOLUME DAN FRESHWATER DI PERAIRAN INDONESIA TENGAH
Penelitian ini mengkaji pengaruh monsun terhadap variabilitas transpor volume dan air tawar (freshwater) di Perairan Indonesia Tengah, meliputi Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Maluku, dan Teluk Tomini, menggunakan data reanalisis Global Ocean Physics dari CMEMS selama periode 30 tahun (1994–2024). Transpor dihitung dengan mengintegrasikan kecepatan arus dan salinitas pada tiga lapisan vertikal berdasarkan profil temperatur klimatologis, yaitu lapisan Mix Layer Depth (MLD), lapisan transisi, dan lapisan termoklin, dengan salinitas referensi 34,62 psu. Analisis sinyal menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dan S-Transform diterapkan untuk mengevaluasi periodisitas dan variabilitas temporal. Verifikasi model CMEMS menghasilkan nilai korelasi 0,749 untuk kecepatan arus dan di atas 0,9 untuk salinitas dan temperatur, sehingga data dinyatakan layak digunakan. Hasil menunjukkan bahwa Selat Makassar memiliki aliran ke selatan yang konsisten dengan puncak outflow ?0,975 Sv pada lapisan transisi saat Musim Timur (JJA) dan melemah pada Musim Barat (DJF). Laut Sulawesi mencatat transpor ke barat terkuat pada JJA hingga ?0,8 Sv di lapisan termoklin. Laut Maluku menunjukkan pola vertikal paling dinamis dengan pembalikan arah transpor antar lapisan seiring pergantian monsun. Teluk Tomini memperlihatkan karakteristik perairan semi tertutup dengan magnitudo transpor kecil (< 0,1 Sv) yang didominasi siklus intramusiman 2–4 bulan. Analisis S-Transform mengungkap bahwa sinyal tahunan (12 bulan) mendominasi lapisan transisi di seluruh lokasi. Secara keseluruhan, El Niño melemahkan kapasitas transpor volume dan freshwater, sementara La Niña bertindak sebagai penguat aliran di Perairan Indonesia Tengah.
PEMODELAN RISK ADJUSTMENT IFRS 17 MENGGUNAKAN RUANG KEADAAN FUZZY DAN LINEAR QUADRATIC REGULATOR
IFRS 17 memperkenalkan Risk Adjustment (RA) sebagai komponen penting dalam pengukuran fulfilment cash flows untuk mencerminkan ketidakpastian risiko non-keuangan. Pada penelitian sebelumnya, estimasi RA telah dikembangkan menggunakan pendekatan Takagi–Sugeno Fuzzy Inference System (TS-FIS). Penelitian ini melanjutkan pendekatan tersebut dengan membangun model ruang-keadaan fuzzy Takagi–Sugeno, dengan state sistem didefinisikan sebagai xt = [RAt, pt, dt]T . Komponen RAt merepresentasikan nilai internal RA, pt menunjukkan tingkat keyakinan, sedangkan dt menggambarkan deviasi atau memori sistem. Input risiko yang digunakan meliputi indeks volatilitas, indeks ketidakpastian mortalitas, dan indeks ketidakpastian lapse. Model ruang-keadaan fuzzy dibangun melalui kombinasi fungsi keanggotaan rendah, sedang, dan tinggi sehingga menghasilkan 81 aturan lokal dalam bentuk matriks Ai, Bi, dan vektor konstanta ci. Dinamika RA dirumuskan dengan mempertimbangkan parameter persistensi ?, parameter skala ?, tingkat keyakinan, serta ringkasan penggerak risiko. Parameter ? diestimasi menggunakan pendekatan least squares agar model dapat menyesuaikan dinamika RA terhadap nilai referensi aktuaria. Selain itu, Linear Quadratic Regulator (LQR) digunakan sebagai mekanisme kontrol untuk mengurangi penyimpangan nilai RA terhadap target. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan mampu memberikan kerangka yang lebih sistematis, adaptif, dan interpretatif dalam memodelkan serta mengendalikan dinamika RA dari waktu ke waktu.
PERANCANGAN MODEL SISTEM PENGAWASAN MAKANAN DALAM KEMASAN UNTUK PENENTUAN PRIORITAS PERUSAHAAN YANG DIAWASI BERDASARKAN INTEGRASI METODE FUZZY AHP DAN FUZZY TOPSIS
Penelitian ini bertujuan untuk merancang model sistem pengawasan makanan dalam kemasan berbasis risiko guna membantu penentuan prioritas perusahaan yang perlu diawasi. Permasalahan penelitian dilatarbelakangi oleh keterbatasan sumber daya pengawasan serta adanya irisan kewenangan dan perbedaan persyaratan antara Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam pengawasan makanan dalam kemasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi kriteria dengan mengintegrasikan metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) dan Fuzzy Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (FTOPSIS). FAHP digunakan untuk menentukan bobot kriteria berdasarkan penilaian 18 pakar dari Kementerian Perdagangan dan BPOM, sedangkan FTOPSIS digunakan untuk menentukan peringkat prioritas pengawasan terhadap 10 alternatif perusahaan sebagai data uji model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria produk memiliki bobot lebih besar, yaitu 0,5946, dibandingkan kriteria perusahaan sebesar 0,4054. Pada tingkat sub-kriteria, kualitas produk memiliki bobot global tertinggi sebesar 0,2454, diikuti oleh kuantitas produk sebesar 0,1572 dan pelabelan produk sebesar 0,1263. Hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa alternatif perusahaan A7, A10, dan A3 menjadi prioritas utama dalam kegiatan pengawasan. Selain itu, penelitian ini juga menambahkan kriteria viral dan komoditas prioritas sebagai mekanisme intervensi kebijakan untuk merespons kondisi tertentu yang membutuhkan pengawasan segera. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa model tetap stabil terhadap perubahan bobot kriteria hingga ±20%. Dengan demikian, model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan untuk mendukung pengawasan makanan dalam kemasan yang lebih objektif, terstruktur, dan berbasis risiko.
FAKTOR DETERMINAN PERUBAHAN SURFACE URBAN HEAT ISLAND INTENSITY EKSTREM SIANG-MALAM SEBAGAI DASAR EVALUASI KETENTUAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG RDTR JAKARTA
Perkembangan wilayah perkotaan secara masif pada dasarnya telah mengubah lanskap alam sehingga kota menciptakan kondisi iklimnya sendiri (urban climate). Kondisi ini memicu fenomena Surface Urban Heat Island (SUHI) yang menyebabkan peningkatan suhu di wilayah perkotaan dan dapat diperparah oleh kejadian Local Extreme Heat (LEH). Selama ini, sebagian besar upaya mitigasi suhu ekstrem dalam perencanaan tata ruang di Indonesia masih menerapkan pendekatan yang seragam, tanpa mempertimbangkan dinamika karakteristik iklim mikro yang sangat berbeda antara kondisi siang dan malam hari. Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor determinan perubahan Surface Urban Heat Island Intensity (SUHII) siang dan malam hari pada kondisi LEH di Kota Jakarta menggunakan machine learning, serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap ketentuan intensitas Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan spasial eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine dengan resolusi grid berukuran 1 km². Pemisahan kawasan perkotaan dan perdesaan sebagai dasar nilai referensi suhu menggunakan sistem klasifikasi Local Climate Zone (LCZ). Analisis faktor determinan dilakukan menggunakan algoritma machine learning Random Forest untuk melihat tingkat kontribusi variabel secara global untuk seluruh wilayah studi, yang kemudian dipadukan dengan metode SHapley Additive exPlanations (SHAP) untuk mengukur arah kontribusi variabel secara lokal di setiap luasan grid. Melalui grafik SHAP dependence plot, nilai ambang batas empiris (threshold) dari variabel morfologi perkotaan dapat ditentukan dan dibandingkan dengan aturan zonasi RDTR. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan perbedaan pola distribusi kerentanan spasial yang saling bertolak belakang. Pada kondisi siang hari, lonjakan panas ekstrem cenderung menyebar secara sporadis di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan sebagian Jakarta Barat. Sebaliknya pada malam hari, pusat lonjakan pemanasan bergerak secara intensif mengelompok di kawasan pesisir (Jakarta Utara) dan menjalar hingga ke pusat kota, sementara kawasan selatan justru menunjukkan peredaman suhu. Hal ini menunjukkan bahwa kerentanan suhu suatu wilayah dapatvi berbeda tergantung waktu kejadiannya. Faktor determinan tingkat global yang paling besar pengaruhnya pada kondisi siang hari yaitu elevasi sebesar 17,60% dan kecepatan angin sebesar 16,63%. Pada kondisi malam hari, pendorong utamanya beralih menjadi curah hujan (20,98%), radiasi matahari (11,54%), dan aktivitas ekonomi melalui proksi cahaya malam (6,79%). Dari seluruh variabel yang diuji, variabel Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan rasio lahan berpori (sebagai proksi Koefisien Dasar Hijau atau KDH) terbukti memberikan arah pengaruh yang paling linier dan konsisten. Berdasarkan hasil ekstraksi model, batas toleransi maksimal KDB agar tidak memicu panas ekstrem berada pada rentang 37,38% hingga 39,35%, sedangkan batas minimal KDH yang diperlukan untuk menstabilkan suhu berada pada rentang 12,8% hingga 23,5% untuk berbagai kelas LCZ. Hasil evaluasi terhadap dokumen RDTR menemukan ketidaksesuaian yang sangat krusial. Mayoritas aturan batas maksimal KDB pada RDTR terbukti melampaui batas toleransi aman dari daya dukung lingkungan hasil pemodelan. Di saat bersamaan, target kewajiban penyediaan KDH minimal pada RDTR berada jauh di bawah standar kebutuhan pendinginan kawasan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa apabila pembangunan dimaksimalkan menyentuh kelonggaran aturan RDTR saat ini, lingkungan perkotaan akan mengalami peningkatan suhu ketika terjadi kejadian panas ekstrem. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peninjauan kembali terhadap peraturan zonasi pada RDTR agar kedepannya bisa berbasis tipologi iklim lokal sehingga kota menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman kondisi panas ekstrem.
PERANCANGAN SISTEM GRAFIS DAN SPASIAL INSTALASI PENERJEMAHAN AROMA PARFUM BERBASIS TEORI CROSS-MODAL CORRESPONDENCES SEBAGAI BRAND ACTIVATION EARTHORA
Generasi Z pada era digital memiliki pola konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media daring, sehingga proses interaksi terhadap produk semakin didominasi oleh pengalaman visual pasif, terutama pada produk berbasis sensori seperti parfum. Kondisi ini menimbulkan tantangan signifikan bagi industri parfum karena hilangnya pengalaman penciuman sebagai elemen utama dalam pengambilan keputusan konsumen pada platform daring. Dengan mengambil studi kasus pada brand Earthora, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem visual dan spasial dalam bentuk instalasi fisik multisensori yang mampu menjembatani kesenjangan antara persepsi maya dan pengalaman aroma secara nyata. Pendekatan yang digunakan adalah cross-modal correspondences, yaitu metode penerjemahan stimulus aroma ke dalam elemen visual, material, cahaya, serta tata ruang, yang dikombinasikan dengan prinsip pemasaran eksperiental dan sensorik. Melalui pendekatan ini, perancangan diharapkan dapat mentransformasi pengalaman konsumen dari sekadar konsumsi pasif menjadi interaksi yang lebih aktif, imersif, dan bermakna. Hasil akhir dari perancangan ini diharapkan mampu menghadirkan representasi fisik yang akurat terhadap narasi aroma Earthora, sehingga pengunjung dapat membangun koneksi emosional yang autentik serta memperoleh pemahaman produk dan identitas brand secara lebih mendalam.
PENGARUH KOMBINASI PERLAKUAN OZONASI DAN ENZIM LAKASE KASAR MARASMIELLUS PALMIVORUS TERHADAP DEKOLORISASI DAN DETOKSIFIKASI PEWARNA SINTETIK ANTRAKUINON REMAZOL BLUE RSP
Pencemaran limbah pewarna sintetik dari industri tekstil menjadi permasalahan yang serius akibat tingginya stabilitas pewarna serta potensi toksisitasnya. Pewarna sintetik antrakuinon seperti Remazol Blue RSP (RB RSP) banyak digunakan dalam industri tekstil dan dikenal memiliki struktur aromatik kompleks yang menyebabkan resistensi terhadap degradasi. Resistensi ini berpotensi menyebabkan penumpukan senyawa pada lingkungan dan bersifat toksik bagi makhluk hidup. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan metode pengolahan limbah pewarna. Metode fisik paling umum digunakan namun memerlukan pengolahan lanjutan yang memakan biaya. Metode kimia menghasilkan efektivitas dekolorisasi yang tinggi, namun memiliki risiko memproduksi senyawa antara yang toksik. Metode biologis dinilai ramah lingkungan, namun efektivitasnya sangat bergantung terhadap struktur substrat serta kondisi reaksi. Ozonasi sebagai bagian dari metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) efektif dalam mendekolorisasi pewarna dengan mendegradasi gugus kromofor, namun menyisakan toksisitas yang tinggi karena mineralisasi yang tidak tuntas. Di sisi lain, penggunaan enzim lakase dapat mendegradasi senyawa aromatik namun efektivitasnya terbatas akibat kondisi reaksi yang tidak optimum. Keterbatasan dari tiap metode mendorong pengembangan metode kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar dari Marasmiellus palmivorus dalam meningkatkan dekolorisasi serta menurunkan toksisitas pewarna antrakuinon RB RSP. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tiga metode pengolahan, yaitu ozonasi, enzimatik, dan kombinasi keduanya. Parameter yang dianalisis meliputi persentase dekolorisasi berdasarkan perubahan absorbansi, serta tingkat toksisitas menggunakan uji LC?? terhadap Daphnia magna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kombinasi menghasilkan dekolorisasi tertinggi sebesar 98,8% ± 2,4, meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan dengan ozonasi tunggal (96,4% ± 5,4), sedangkan metode enzimatik hanya mencapai 22,6% ± 0,5. Namun, hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa metode kombinasi memberikan peningkatan detoksifikasi yang lebih baik dibandingkan metode tunggal, ditunjukkan oleh peningkatan nilai LC?? yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ozonasi efektif dalam memutus gugus kromofor (penghilangan warna), peran enzim lakase sangat krusial dalam mendegradasi senyawa antara (intermediate) yang masih bersifat toksik. Maka dari itu kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar berpotensi menjadi strategi pengolahan limbah pewarna yang lebih efektif, tidak hanya dalam mencapai dekolorisasi yang tinggi tetapi juga dalam memastikan detoksifikasi limbah secara lebih menyeluruh.
PERANCANGAN WEBTOON MENGENAI SELF ACCEPTANCE MELALUI KISAH TRAUMA BODY SHAMING UNTUK WANITA EMERGING ADULTHOOD
Perancangan ini bertujuan mengembangkan Webtoon yang mengangkat isu self acceptance melalui representasi pengalaman trauma body shaming pada perempuan emerging adulthood. Fenomena body shaming masih menjadi masalah yang berdampak pada citra tubuh, harga diri, dan kesehatan mental perempuan usia 18–25 tahun yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan rentan terhadap tekanan standar kecantikan. Metode penelitian menggunakan metode Double Diamond (Design Council, 2005) meliputi studi pustaka, wawancara dengan psikolog dan kreator Webtoon profesional, serta penyebaran kuesioner kepada perempuan emerging adulthood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body shaming dapat muncul dalam bentuk ejekan maupun sindiran halus yang memengaruhi kepercayaan diri dan penerimaan diri, sementara media sosial berperan dalam memperkuat tekanan terhadap penampilan fisik. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang Webtoon berjudul My Perfect Frame yang terdiri atas empat episode dengan strategi komunikasi Narrative Persuasion melalui pendekatan emosional dan dukungan sosial. Visual Webtoon menggunakan gaya ilustrasi semi-realis dengan penekanan pada ekspresi karakter dan suasana emosional untuk mendukung penyampaian pesan. Setelah dipublikasikan pada platform Webtoon, karya memperoleh tanggapan positif dari pembaca yang menunjukkan relevansi tema dan keterhubungan terhadap pengalaman yang disajikan. Perancangan ini diharapkan menjadi media edukatif yang reflektif dan empatik dalam mendorong penerimaan diri serta meningkatkan kesadaran terhadap dampak body shaming.
MR-FLOWS: SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI UNTUK MITIGASI LUAPAN BANJIR DI DAS MAJALAYA
Banjir merupakan bencana tahunan yang kerap melanda wilayah Majalaya, Jawa Barat. Saat ini, informasi curah hujan dan tinggi muka air (TMA) masih disampaikan melalui grup WhatsApp, sehingga sulit dipahami masyarakat. Purwarupa ini bertujuan mengembangkan MR-FLOWS (Majalaya River Flood Warning System), sebuah sistem informasi terintegrasi berbasis website untuk mitigasi luapan banjir di DAS Majalaya yang dapat diakses publik melalui https://mrflows.my.id. Sistem dibangun menggunakan kerangka kerja FastAPI (backend) dan React (frontend) dengan basis data PostgreSQL. Data observasi curah hujan dari enam stasiun dan TMA dari stasiun Majalaya periode Januari 2023–Mei 2026 diproses melalui kontrol kualitas dan imputasi nilai hilang. Eksperimen pemodelan membandingkan Linear Regression, Ridge, Lasso, dan XGBoost untuk prediksi TMA. Interval waktu optimal adalah 10 menit (R²=0,935). Strategi rekayasa fitur terbaik (Lag kemudian Rolling) menghasilkan fitur yang mencakup lag spesifik tiap stasiun (120–190 menit) serta fitur autoregresif (tma_lag1) dan interaksi antar stasiun. Model XGBoost mencapai kinerja terbaik (R² Uji=0,9531, RMSE=0,0825 m, MAE=0,0209 m) dengan fitur paling dominan adalah tma_lag1 serta akumulasi curah hujan dari stasiun Cikitu dan Ibun. Sistem menyajikan peta interaktif, status siaga dengan indikator warna, prediksi TMA hingga 12 jam, serta notifikasi Telegram otomatis. Pengujian fungsional menunjukkan seluruh fitur berjalan baik. Kegiatan diseminasi pada 3 Mei 2026 di Majalaya memperoleh umpan balik positif dari masyarakat. Purwarupa ini berhasil menyediakan platform informasi terstruktur yang membantu kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi banjir.