πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 91 dokumen

PENGEMBANGAN METODOLOGI DESAIN LINEAR UNTUK STRUKTUR RUMAH DINDING BATA TERKEKANG (CONFINED MASONRY) SEDERHANA 1 LANTAI DI INDONESIA

Struktur dinding bata terkekang (confined masonry) merupakan jenis struktur yang sangat banyak digunakan di Indonesia, khususnya untuk rumah sederhana, sekolah, dan lain-lainnya. Terlepas dari tingginya populasi struktur ini, struktur dinding bata terkekang masih dikateogrikan sebagai banguna nir-rekayasa. Dalam membangun struktur dinding bata terkekang, hanya tersedia panduan praktis atau guideline. Sementara itu, implementasi spesifikasi minimum konstruksi di lapangan sering kali tidak memenuhi standar, seperti detailing yang buruk, pengurangan jumlah tulangan, pengurangan diameter tulangan, dan masih banyak lagi. Hal ini lah yang memunculkan tantangan untuk mengetahui metode desain untuk struktur dinding bata terkekang (confined masonry). Pendekatan linear dalam desain juga lebih baik untuk diimplementasikan oleh khalayak umum insinyur. Dalam proses desain tersebut juga dibutuhkan untuk mengetahui demand struktur melalui distribusi gaya yang terjadi serta kapasitas dari dinding bata itu sendiri Dalam penelitian ini, dalam memodelkan struktur guna mengetahui demand struktur dari distribusi gaya yang terjadi akan digunakan pemodelan Equivalent Truss Model (ETM), Equivalent Strut Model (ESM), dan Vertical-Diagonal Strut Model (VDSM). Untuk menentukan metode analisis kapasitas yang cocok, akan digunakan metode estimasi kapasitas dinding bata dari FEMA 306, NTCM 2020, dan VDSM dengan pendekatan reinforced concrete with infill wall (RC-IW) maupun confined masonry. Analisis serta pemodelan numerik akan dibandingkan dengan hasil eksperimen 13 spesimen yang telah dilakukan di Indonesia. Dari analisis yang dilakukan, pemodelan yang memberikan hasil paling konservatif adalah Equivalent Strut Model (ESM) dari FEMA 306. Sementara, prediksi numerik paling konservatif juga diberikan oleh persamaan dari FEMA 306.

2025
πŸ‘€ Penulis: Mohammad Rais Fauzan
🏷️ Konstruksi Bata Terkekang 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Modeling Struktur

ANALISIS PENGARUH TOPOLOGI DAN URUTAN PENGELASAN TERHADAP TEGANGAN SISA DAN PERPINDAHAN PADA SAMBUNGAN BUTT ALUMINIUM MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Pengelasan merupakan salah satu proses paling penting dalam berbagai industri. Namun, proses ini menimbulkan gradien suhu besar yang dapat menyebabkan tegangan sisa serta deformasi, baik longitudinal (searah) maupun transversal (tegak lurus), yang pada akhirnya dapat mengurangi kinerja struktural di sekitar area las. Studi ini menggunakan metode elemen hingga (coupled temperature-displacement analysis) untuk mengevaluasi bagaimana pengaturan simulasi dan parameter pengelasan memengaruhi distribusi tegangan dan perpindahan pada sambungan las aluminium tipe butt joint. Pertama-tama, ditinjau pengaruh dari berbagai pengaturan simulasi seperti metode penerapan panas, penambahan prestep, penambahan bead/pass, dan jumlah bead. Semua pengaturan ini dibandingkan dengan data referensi untuk menemukan pendekatan yang paling akurat dan menilai efek dari masing masing pengaturan. Selanjutnya, studi menyelidiki pengaruh variasi parameter, dengan fokus pada bentuk kampuh las, masukan panas, dan urutan pengelasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi pengelasan yang optimal guna meminimalkan dampak negatif dan menjaga keandalan struktur. Dalam penelitian ini, simulasi pengelasan dilakukan pada model pelat dua lintasan berukuran 300mmΓ—182mmΓ—10.5 mm, dengan zona las terletak di tengah lebar pelat. Las memiliki tonjolan setinggi 0.75 mm, dan pembagian lintasan las berada 6.2 mm dari permukaan bawah. Geometri dimodelkan langsung di ABAQUS, dengan subrutin Python yang terintegrasi untuk memungkinkan konfigurasi skenario pengelasan yang fleksibel dan efisien. Seluruh simulasi dijalankan menggunakan perangkat lunak elemen hingga ABAQUS. Hasil simulasi menunjukkan bahwa perubahan lintasan (pass change) dan penggunaan prestep dengan semua metode input panas (Body Heat Flux, Analytical Field, dan Goldak’s heat) menghasilkan kecocokan yang baik dengan data eksperimen. Di antara variasi parameter, konfigurasi alur las Beveled U-groove terbukti paling optimal untuk mengendalikan deformasi, sementara urutan pengelasan simetris mampu meminimalkan tegangan tarik dan tekan. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan pengelasan memiliki pengaruh paling signifikan terhadap distribusi tegangan sisa dan pola perpindahan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Dimas Yogastama Putra
🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Pengelasan Aluminium 🏷️ Metode Elemen Hingga

ANALISIS PERBANDINGAN PENGGUNAAN SECANT PILE DAN ROCK BOLT DENGAN SOLDIER PILE DAN GROUND ANCHOR TERHADAP STABILITAS LERENG

Abstrak dapat dilihat di File nya

2025
πŸ‘€ Penulis: James Nathaniel Surya
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Teknik Sipil

ANALISIS PARAMETRIK PENGARUH BENTUK TUNNEL TERHADAP KAPASITAS LINING TUNNEL

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beragam kondisi geografis yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Hal ini merupakan salah satu penghambat pembangunan infrastruktur transportasi dan infrastruktur pengelolaan sumber daya air. Permasalahan ini sedikit demi sedikit dapat teratasi dengan pembangunan tunnel. Pembangunan tunnel di Indonesia masih cukup tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain dengan kondisi geografis yang mirip dengan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan pembangunan tunnel di Indonesia melalui proyek MRT Jakarta dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Peningkatan yang terjadi bertujuan untuk mengatasi permasalahan mobilitas dan kepadatan yang terjadi di Indonesia terutama di kota besar seperti Jakarta. Desain bentuk tunnel sangat berpengaruh dalam menentukan kapasitas dan efisiensi dari tunnel. Dalam perencanaan tunnel tentunya tidak dapat terlepas dari faktor-faktor geologis yang dapat mempengaruhi stabilitas dari struktur tunnel. Pemilihan bentuk tunnel harus mempertimbangangkan faktor-faktor tersebut. Dalam praktik di dunia nyata, terdapat beberapa bentuk lining tunnel yang umum digunakan, mulai dari lingkaran, horseshoe, dan persegi. Belum banyak studi yang mempelajari pengaruh bentuk tunnel terhadap kapasitas dari lining tunnel terutama untuk bentuk horseshoe dan rectangular. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai perbandingan kapasitas dari tunnel dengan variasi bentuk horseshoe dan rectangular terhadap bentuk circular, variasi rasio ukuran B/H untuk bentuk rectangular, dan variasi rasio ukuran R/r untuk bentuk horseshoe dengan membandingkan Demand-Capacity Ratio dari masing-masing variasi melalui analisis kapasitas penampang. Dalam studi ini, akan digunakan metode analitik, yaitu Conventional Calculation Method dan pemodelan dengan Beam-Spring Method. Hasil perbandingan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Bentuk Circular memiliki nilai Demand-Capacity Ratio paling rendah yang menunjukkan bahwa bentuk ini lebih efektif disbanding bentuk lainnya. Selain itu, pada studi ini juga dapat dilihat nilai pengali/shape factor antar bentuk ataupun antar variasi dari bentuk lining tunnel.

2025
πŸ‘€ Penulis: Fernando Noverio
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

KLASIFIKASI LEVEL KINERJA STRUKTUR MDOF TERHADAP GEMPA MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN OPENSEES

Machine Learning merupakan cabang ilmu yang mengalami perkembangan masif, dengan aplikasi yang kian meluas ke berbagai bidang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan Artificial Neural Network (Jaringan Saraf Tiruan) dalam mengklasifikasikan level kinerja struktur setelah gempa menggunakan parameter yang mudah didapatkan seiring dengan evaluasi pascagempa. Mengingat machine learning membutuhkan set data yang besar untuk proses pelatihan, penelitian ini memanfaatkan penggunaan OpenSees, yang akan digunakan untuk melakukan analisis struktur dalam jumlah banyak guna menghasilkan data yang diperlukan untuk pengembangan model Artificial Neural Network.

2025
πŸ‘€ Penulis: Darren Nathaniel
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi

ANALISIS STABILITAS GALIAN TERHADAP VARIASI DIMENSI DIAPHRAGM WALL PADA PROYEK STASIUN BAWAH TANAH

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi dimensi diaphragm wall, yaitu ketebalan dan kedalaman penetrasi, terhadap keamanan dan stabilitas galian. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi desain diaphragm wall yang optimal dan efisien. Metodologi penelitian menggunakan pemodelan numerik PLAXIS 2D, dengan pendekatan hardening soil dan soft soil untuk merepresentasikan perilaku tanah secara akurat. Sembilan variasi dimodelkan yang merupakan kombinasi dari tiga ketebalan (800 mm, 1000 mm, dan 1200 mm) dan tiga panjang dinding (29 m, 30 m, dan 37 m). Analisis difokuskan pada basal heave, upheaval, floatation, dan stabilitas global sesuai dengan berbagai kriteria standar nasional dan internasional. Deformasi lateral dan gaya dalam juga digunakan untuk analisis perilaku dan merekomendasikan dimensi optimal. Hasil analisis dan desain menunjukan bahwa seluruh variasi dimensi yang diuji memenuhi kriteria keamanan yang digunakan. Peningkatan ketebalan dan kedalaman penetrasi terbukti mengurangi deformasi lateral namun meningkatkan gaya dalam pada struktur. Stabilitas terhadap upheaval menjadi faktor paling kritis dalam menentukan desain. Dengan pertimbangan keamanan dan efisiensi, direkomendasikan dimensi optimal dengan ketebalan 800 mm dan panjang dinding 29 m. Desain ini tidak hanya aman, namun juga lebih efisien dari segi penggunaan material dibanding desain eksisting.

2025
πŸ‘€ Penulis: Marcelino Anditya Triatmojo
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN DINDING PENAHAN TANAH CORRUGATED CONCRETE SHEET PILE DENGAN GROUND ANCHOR PADA PROYEK STASIUN POMPA ANCOL SENTIONG

Proyek Stasiun Pompa Sentiong – Ancol di Kecamatan Tanjung Priok dibangun sebagai upaya untuk mengurangi risiko banjir yang kerap menggenangi sejumlah kecamatan di Jakarta dengan memompa air Kali Sentiong ketika elevasinya tinggi dan mengalirkannya kembali ke Teluk Jakarta. Salah satu tantangan utama dalam proyek ini adalah kondisi tanah di lokasi yang didominasi oleh lempung lunak. Tanah jenis ini memiliki daya dukung rendah, tingkat kompresibilitas tinggi, serta kekuatan geser yang rendah. Proyek ini terbagi dalam 3 Zona yakni Zona A dan C yang berupa pemancangan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) dan pengerukan serta Zona B yang berupa konstruksi rumah pompa. CCSP diperlukan sebagai dinding penahan tanah untuk memastikan kestabilan area galian dan mencegah pergerakan tanah yang berlebihan. CCSP dipilih karena mudah dan cepat dilaksanakan pada tanah lunak serta memiliki kapasitas yang lebih baik daripada sheetpile jenis lain. Desain pada tugas akhir ini akan dilakukan pada Zona A1 dan Zona A2 di sisi utara. Desain meliputi dimensi CCSP dan ground anchor serta analisis berupa faktor keamanan dan deformasi yang diperiksa terhadap kriteria desain SNI 8460-2017. Analisis akan dilakukan dengan metode konvensional dan metode elemen hingga (FEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi dinding CCSP dengan ground anchor mampu memenuhi faktor keamanan minimum terhadap stabilitas global, tendon, dan pullout sesuai SNI 8460-2017. Analisis elemen hingga dengan FEM juga memperlihatkan deformasi lateral dinding, settlement, dan momen yang masih berada dalam batas toleransi sehingga sistem terbukti efektif dan layak diterapkan pada lokasi dengan dominasi tanah lempung lunak.

2025
πŸ‘€ Penulis: Riza Nurdin Syaputra
🏷️ Konstruksi Lingkungan 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Desain Sistem Penahan Tanah

PERANCANGAN STRUKTUR BAWAH GEDUNG 10 LANTAI PADA TANAH BERPOTENSI LIKUEFAKSI

Gedung 10 lantai yang berada di Jakarta dengan profil tanah berupa tanah pasiran yang berpotensi terlikuefaksi. Tujuan tugas akhir ini adalah mendesain struktur bawah berupa fondasi yang dapat memikul beban struktur atas dalam kondisi likuefaksi. Hasil analisis potensi likuefaksi menunjukan bahwa tanah berpotensi likuefaksi di kedalaman 0 hingga 15 meter. Tiang didesain untuk menahan efek downdrag dan serakan lateral yang terjadi pada kondisi likuefaksi. Daya dukung aksial tiang tunggal dianalisis untuk kondisi tekan dan tarik, analisis menggunakan perangkat lunak Ms. Excel. Kombinasi pembebanan yang diperhitungkan meliputi beban layan, gempa nominal, gempa kuat, dan downdrag. Pada kondisi gempa, tanah yang terlikuefaksi dianggap tidak memberi tahanan friksi. Gaya downdrag dihitung dari kedalaman terdalam tanah yang terlikuefaksi hingga permukaan. Gaya downdrag dihitung menggunakan friksi negatif tiang. Daya dukung lateral tiang tunggal dianalisis untuk kondisi likuefaksi, dengan modifikasi kurva p-y untuk memperhitungkan tahanan lateral kondisi likuefaksi. Defleksi lateral pada kondisi likuefaksi diizinkan hingga sendi tiang berdeformasi plastis. Analisis daya dukung lateral menggunakan perangkat lunak Ensoft LPILE. Daya dukung kelompok tiang dianalisis dengan perangkat lunak Ensoft Group. Pada Ensoft Group, dimasukan beban serakan lateral yang terjadi pada tiang. Pengecekan keruntuhan blok juga dianalisis menggunakan perangkat lunak Ms. Excel. Dari analisis Ensoft Group didapatkan hasil berupa beban maksimum tiang, gaya geser, momen, dan defleksi tiang. Jenis tiang fondasi yang digunakan berupa tiang bor dengan kedalaman 26 meter. Penurunan tanah dihitung untuk penurunan elastis dan penurunan likuefaksi. Penurunan tanah dicek terhadap beda penurunan dan penurunan total. Penulangan fondasi dihitung berdasarkan gaya geser dan momen dari Ensoft Group. Penulangan longitudinal dianalisis dengan perangkat lunak spColumn dan penulangan transversal menggunakan Ms. Excel.

2025
πŸ‘€ Penulis: Airlangga Aufar Sain
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi

MEKANISME TRANSFER BEBAN SISTEM FONDASI PREBORED AND PRECAST PILE PADA STUDI KASUS TANAH KOHESIF DI KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT, INDONESIA

Fondasi Prebored and Precast pile (PP pile) adalah suatu sistem fondasi yang bertujuan untuk memudahkan proses memasukkan precast concrete spun pile ke dalam tanah tanpa menimbulkan getaran dan kebisingan. Instalasi fondasi PP pile didahului dengan proses membuat lubang bor hingga kedalaman rencana, yang bertujuan untuk menggemburkan tanah dan mengaduknya dengan pasta semen hingga menjadi bubur soil-cement mixture (SCM) sehingga spun pile dapat diturunkan melalui lubang bor tersebut dengan mudah. Bubur SCM akan mengeras seiring dengan waktu proses hidrasi semen yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap daya dukung fondasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti mekanisme transfer beban fondasi Prebored and Precast pile (PP pile) yang memiliki lapisan antarmuka ganda pada tanah lempung yang banyak tersebar luas di Indonesia. Fondasi PP pile terdiri dari dua struktur, yaitu spun pile dan kolom SCM. Penelitian ini adalah yang pertama dilakukan di Indonesia, sementara ini ada beberapa proyek di Indonesia yang telah menerapkan sistem fondasi ini, dengan mengacu pada ketentuan fondasi Hyper-Straight (HS pile) yang telah disertifikasi oleh The Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism of Japan (MLIT Japan). Sertifikat MLIT Japan hanya mengatur metode instalasi fondasi HS pile dan persamaan daya dukung empiris pada jenis tanah kerikil, pasir, dan tanah argillaceous. Jenis spun pile yang umum digunakan untuk fondasi PP pile adalah straight spun pile dan nodular spun pile. Nodular spun pile adalah jenis spun pile yang memiliki sirip-sirip di sepanjang badannya. Sampel fondasi PP pile dengan menggunakan straight spun pile yang berukuran diameter luar 500 mm dan panjang 15 m, dievaluasi melalui uji pembebanan statis aksial tekan dengan menggunakan metode Quick Load test (QL test) sesuai ketentuan ASTM D1143/D1143M-07 (Reapproved 2013) yang dilakukan secara full scale dengan beban uji yang dipusatkan pada straight spun pile. Instrumen strain gauge dan tell-tale dipasang di dalam fondasi dan kolom SCM. Dimensi lubang bor adalah 750 mm dengan kedalaman pengeboran 15,75 m sehingga posisi ujung bawah straight spun pile β€œmelayang” 75 cm dari dasar lubang bor, yang difungsikan sebagai root protection. Sebagai pembanding, dibuat sampel PP pile – nodular spun pile dengan dimensi yang sama, tetapi kedalaman lubang bor hanya 15 m sehingga nodular spun pile tersebut duduk di dasar lubang. Nodular spun pile dipasang instrumen strain gauge dan tell-tale didalamnya, sedangkan di dalam kolom SCM hanya dipasang tell-tale. Uji pembebanan statis pada Sampel PP pile – straight spun pile dilakukan sebanyak 2 siklus pembebanan karena pada siklus pembebanan pertama belum mencapai beban ultimit. straight spun pile dan kolom SCM bergerak turun bersama pada fase penurunan elastis, tetapi setelah memasuki fase penurunan plastis, penurunan dominan terjadi pada straight spun pile. Perubahan perilaku penurunan tersebut terjadi akibat mekanisme transfer beban dinamis pada lapisan antarmuka ganda di sepanjang badan fondasi yang berbeda dengan fondasi pada umumnya. Performa ujung bawah spun pile yang dipasang β€œmelayang” adalah tidak baik dibandingkan dengan spun pile yang duduk di dasar lubang, yaitu sampel PP pile – nodular spun pile. Root protection pada sampel PP pile – straight spun pile terkontaminasi oleh endapan tanah lempung di dasar lubang. Pada sampel PP pile – nodular spun pile, pengaruh sirip-sirip pada nodular spun pile dan posisi ujung bawah fondasi tiang yang diletakkan pada dasar lubang sangat signifikan meningkatkan daya dukung fondasi PP pile, yaitu sebesar 2,5 kali dari PP pile - straight spun pile dengan ujung bawah fondasi tiang yang dipasang β€œmelayang”. Sirip-sirip pada nodular spun pile mampu mencengkeram dengan baik kolom SCM sehingga displacement akibat transfer beban, terjadi pada lapisan antarmuka SCM-soil. Daya dukung ultimit fondasi PP pile – straight spun pile yang menghasilkan penurunan pada kepala fondasi sebesar 25 mm adalah 2000 kN, dengan proporsi daya dukung ujung 545 kN dan daya dukung friksi 1455 kN. Daya dukung ultimit fondasi PP pile – nodular spun pile pada kondisi penurunan kepala fondasi sebesar 25 mm adalah 5050 kN, dengan proporsi daya dukung ujung 1400 kN dan daya dukung friksi 3650 kN. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah pentingnya mengetahui mekanisme transfer beban fondasi PP pile pada tanah lempung. Performa daya dukung fondasi pp pile ditentukan oleh kekuatan material SCM, penempatan posisi ujung bawah fondasi, dan jenis spun pile, yaitu straight atau nodular. Persamaan daya dukung fondasi PP pile pada tanah lempung dapat menggunakan persamaan daya dukung fondasi tiang bor dengan melakukan modifikasi pada koefisien daya dukung ujung dan daya dukung friksi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis dan teoritis untuk peningkatan desain fondasi di Indonesia, terutama pada proyek-proyek konstruksi yang menggunakan fondasi PP Pile pada tanah lempung.

2025
πŸ‘€ Penulis: Abdi Pasya Reihan Beyruni
🏷️ Fondasi Prebored And Precast Pile 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS KEKUATAN STRUKTUR KERETA DAN PENGEMBANGAN SPEKTRUM BEBAN KEGAGALAN LELAH MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DAN PENGUJIAN

High-speed train is one of the most used ground transportation modes in several countries. The use of high-speed trains also has a positive impact on the economy. Due to the advantages they offer, Indonesia has begun developing high-speed trains, a project conducted by PT INKA. Commuter rail, one of the most widely used modes of transportation in Indonesia, are experiencing an increase in passenger numbers, which is beginning to cause overcapacity. To increase passenger capacity and replace conserved trains, Indonesia planned to retrofit aging commuter rail. Safety is a crucial factor to consider in the development process of these trains. One way to ensure passenger safety is by focusing on the structural aspects of the carbody. In this regard, calculations, simulations, and experiments are necessary, employing the same loading conditions experienced in actual operations. In this final thesis, static loading will be simulated numerically using ABAQUS software. The static loading simulation will be done by applying vertical load while the carbody experiencing full passenger load condition. Static simulation shows that the high-speed train carbody meets the requirement with maximum tensile and shear stress result, 198.1 and 95.5 MPa, at 62.49% and 30.13% of the yield strength, and bending mode that exceeds the minimum requirement with the simulation result 15.1 Hz. Static simulation also shows that the commuter rail carbody does not meet the requirement with maximum tensile and shear stress result, 566 and 184.5 MPa, at 288.78% and 104.24% of the yield strength. Static experiment shows a desirable high-speed train positive camber of 10.58 mm under full load, with a camber change of -3.18 mm from empty to full load. Simulation results for camber (-3.47 mm) deviate by 8% from experimental findings. Stress analysis reveals similarities in trends but significant differences in specific areas like the underframe, side sill, windows, and doors, likely due to unaccounted camber effects in finite element method simulations. Meanwhile for the commuter rail, undesirable negative camber of -8.19 mm under full load, with a camber change of -14.19 mm from empty to full load. Simulation results average -11.92 mm camber, showing a 16% error from experimental values. Stress analysis shows significant errors in several load cases, with errors above 10% attributed to experimental and simulation, although both results show similar trends. These errors may be caused by non-uniform load distribution, overly rigid finite element models, and the structure's aging. Experimentally, lateral stress at the middle underframe increases sharply at specific loads, while the longitudinal stress decreases unexpectedly under higher loads. Non-linear behavior observed suggests elastic deformation inconsistencies. Previous studies analyzed track irregularities on the HST carbody, weighing 38165 kg fully loaded, with the updated design reducing full-load weight to 28910 kg (24.25% lighter). Comparing the 2023 and 2024 designs at a critical point (rear roof-side wall weld), the 2024 version shows a stress range 66% lower (25 MPa vs. 75 MPa) under dynamic load. Simulations used tangent track irregularity at 250 km/h over 1 km. The 2024 design improves fatigue performance, significantly enhancing the critical point's durability. Further research is needed to confirm actual fatigue life improvements. Dynamic load experiment was conducted on Depok – Bogor – Depok route counted as 1 trip. From this experiment, strain data measured was then smoothed to remove noise, but it accidentally reduced strain range magnitudes. Only the MA10 channel retained strain ranges close to original data after smoothing. There is no definitive way to confirm the removed data is solely noise. Averaging data introduces uncertainties, making this method incompatible with such studies. FFT analysis of strain data in the frequency domain shows the largest magnitude near 0 Hz, indicating data concentration in low-frequency areas. A peak at 60 Hz is observed because noise frequencies generated by vehicles, motors, power lines, and the like frequently dominates the recordings in 60 Hz area, but low-pass filters with cutoff frequencies between 1-40 Hz show negligible changes. Rainflow counting analysis reveals that moving averages reduce stress ranges, corresponding to lower strain ranges. Larger data sets used for averaging result in decreased high exceedance stress ranges. The method proves incompatible with this study due to its impact on stress range accuracy. Low-pass filter shows no substantial differences for channels 6 and 7, supporting FFT results of no impactful deformation in the 1-40 Hz range. Applying a 1 Hz cutoff filter reduces stress ranges for both channels, suggesting noise frequencies higher than 1 Hz have low stress ranges. This confirms the presence of noise at higher frequencies.

2025
πŸ‘€ Penulis: Yehuda Kristo Subiakto
🏷️ Kereta Api 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Tekanan Dan Deformasi

DEVELOPMENT OF A STEREO DIGITAL IMAGE CORRELATION SYSTEM FROM A 2D FRAMEWORK

Digital Image Correlation (DIC) is an advanced technique utilized in the field of material mechanics to measure deformations by systematically comparing images taken pre-deformation and post-deformation. DIC can meticulously ascertain the spatial variations in displacements through its algorithm. DIC offers a non-contact approach to measure deformations across an entire surface, contrasting with contact methods like LVDTs which provide localized deformation measurements at specific contact points. This non-intrusive method facilitates a comprehensive measurement, thus ensuring detailed and accurate readings in a short time. In the past few years, the Faculty of Mechanical and Aerospace Engineering of Institut Teknologi Bandung has successfully created and developed a 2D DIC software which equipped with SURF (Speeded-up Robust Features), a feature detection and matching algorithm and an iterative algorithm, RANSAC (Random Sample Consensus), which is utilized for identifying outliers from a set of data points. However, real-world deformations are in a three-dimensional realm and measuring deformation in three-dimensions is crucial because they provide insights into hidden deformations that can significantly affect material and structural integrity. Neglecting these displacements could lead to incomplete analysis and potential oversight of critical stress points or failure mechanisms. This project aims to develop a Stereo DIC system utilizing SURF and RANSAC algorithms that has been used in the 2D DIC. Two cameras utilized to capture object deformation images from different angles. These images are reconstructed to pinpoint a 3D cloud point from both cameras which then used to map the displacement between images. The developed stereo DIC have successfully measure an out-of-plane deformation with a small error percentage.

2024
πŸ‘€ Penulis: Rizky Dassa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi

ANALISIS STRUKTUR DAN METODE PLATFORM DECOMMISSIONING ANJUNGAN WELLHEAD TIPE JACKET DI PERAIRAN NATUNA

SKK Migas mencatat bahwa setidaknya hingga saat ini, Indonesia memiliki 635 unit anjungan lepas pantai yang tersebar di berbagai wilayah, salah satunya adalah anjungan wellhead tipe jacket empat kaki yang berada di Perairan Natuna. Anjungan wellhead ini telah beroperasi sejak tahun 1992 dan diproyeksikan akan mencapai akhir masa operasinya pada tahun 2032. Dengan mendekatnya masa akhir operasi, kebutuhan untuk merencanakan proses decommissioning semakin mendesak. Tugas Akhir ini difokuskan pada analisis metode decommissioning, dengan penekanan khusus pada teknik pelepasan struktur topside dan jacket untuk kasus total removal. Proses pelepasan struktur topside dan jacket dilakukan menggunakan teknik lifting, yang melibatkan pengangkatan komponen struktur dari lokasi instalasi untuk dipindahkan ke barge menggunakan crane barge yang memiliki kapasitas angkat sebesar 3.000 mT. Untuk mendukung proses ini, dilakukan analisis in-place dan analisis lifting static menggunakan structural analysis software, guna mengidentifikasi poin-poin krusial yang perlu diperhatikan selama proses decommissioning, seperti pemeriksaan ketahanan struktur, penentuan hook capacity minimum, serta pemilihan komponen lifting seperti sling dan shackle yang sesuai untuk mendukung operasi lifting. Hasil analisis in-place menunjukkan bahwa struktur anjungan masih memiliki ketahanan yang memadai untuk menahan beban operasional dan lingkungan, seperti yang disyaratkan oleh API RP-2A WSD. Selanjutnya, hasil analisis lifting menunjukkan bahwa seluruh parameter teknis, seperti berat total angkat, sudut angkat, dan ketinggian hook point, telah sesuai dengan standar GL Noble Denton 0027/ND. Hasil analisis lifting juga mengungkapkan bahwa seluruh elemen struktur memadai untuk menahan kondisi pembebanan selama kegiatan pengangkatan, yang dibuktikan melalui pemeriksaaan unity check seperti yang disyaratkan oleh API RP-2A WSD.

2024
πŸ‘€ Penulis: Viony Shinta Dwi Cahyani
🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Teknik Lifting Dan Decommissioning

PERANCANGAN STRUKTUR DERMAGA PETI KEMAS TIPE DECK ON PILE DI PELABUHAN KRUENG GEUKUEH, LHOKSEUMAWE, ACEH

Pelabuhan merupakan infrastruktur vital yang mendukung aktivitas ekonomi, transportasi, dan distribusi logistik di Indonesia, terutama sebagai negara kepulauan. Peningkatan kapasitas dan modernisasi pelabuhan menjadi prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta integrasi antarwilayah. Dermaga peti kemas merupakan bagian dari sistem logistik global yang memainkan peran penting dalam mempercepat proses bongkar muat dan meningkatkan efisiensi distribusi barang. Selain itu, dermaga peti kemas juga memungkinkan pelabuhan untuk menangani peningkatan volume perdagangan. Salah satu pelabuhan yang berpotensi untuk dikembangkan adalah Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe, Aceh. Pelabuhan ini memiliki peran strategis sebagai pusat distribusi logistik dan pintu gerbang ekspor-impor di wilayah Aceh dan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 5 Tahun 2022, pada Pelabuhan Krueng Geukueh direncanakan akan dibangun dermaga peti kemas untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional pelabuhan. Tugas akhir ini membahas tentang perancangan struktur dermaga peti kemas tipe deck on pile di Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe, Aceh. Lingkup pembahasan dari tugas akhir ini meliputi pengumpulan dan pengolahan data sekunder, perancangan desain awal struktur dermaga (preliminary design) agar struktur dermaga rencana dapat menahan beban yang bekerja, pemodelan dan analisis struktur dermaga dengan menggunakan software SAP2000, perhitungan desain elemen struktural dermaga yang terdiri dari elemen pelat, balok, pile cap, dan tiang pancang, serta analisis daya dukung tanah. Pemodelan dan analisis struktur akan dilakukan sesuai dengan batasan nilai Unity Check Ratio (UCR) yang berada di antara 0,7 dan 1 dan defleksi yang dapat diterima oleh struktur dermaga sesuai dengan batasan standar yang sudah ditentukan. Pemodelan struktur dermaga akan dilakukan hingga mendapatkan desain struktur dermaga yang optimum sehingga output dari pemodelan tersebut berupa gaya dalam dan reaksi perletakan struktur dermaga dapat dan akan digunakan untuk perancangan desain penulangan elemen struktural dermaga, yaitu tulangan pada elemen pelat pile cap, dan tiang pancang. Output pemodelan juga akan digunakan dalam analisis daya dukung tanah. Berdasarkan pengerjaan tugas akhir ini, desain dermaga rencana memiliki dimensi panjang 155 m dan lebar 20 m. Struktur dermaga rencana didesain memiliki elevasi +4 m dari LWS dengan kedalaman perairan dermaga rencana -9 m dari LWS. Berdasarkan pemodelan struktur dermaga yang optimum, tiang pancang yang digunakan untuk struktur dermaga berukuran diameter 700 mm dengan ketebalan dinding sebesar 22 mm serta nilai UCR yang didapatkan berada pada rentang 0,7 hingga 0,95 dengan nilai defleksi tidak melebihi ketentuan batas defleksi izin. Berdasarkan reaksi perletakan yang didapatkan, tiang pancang struktur dermaga perlu dipancang hingga kedalaman 27 m dari seabed atau di bawah dasar laut. Hasil akhir dari pengerjaan Tugas Akhir ini adalah dimensi struktur dermaga beserta dimensi elemen struktural dari struktur dermaga, fasilitas berlambuh dan bertambat kapal, desain penulangan elemen struktural dermaga, serta kedalaman pemancangan tiang pancang struktur dermaga

2024
πŸ‘€ Penulis: Ariq Ghiffari Priyono
🏷️ Konstruksi Struktur 🏷️ Pelabuhan 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS INTERAKSI TANAH STRUKTUR UNTUK STABILITAS DERMAGA, STUDI KASUS: LOKASI JAKARTA UTARA

Pada Tugas Akhir ini akan Menganalisis upgrade desain struktur dermaga, yang pada kondisi awal merupakan kondisi deck on pile dilakukan upgrade menjadi Sheet Pile Quaywall. Proyek upgrade Dermaga Studi Kasus Jakarta ini merupakan proyek yang berlokasi di Jakarta Utara. Pembangunan proyek ini dilakukan diatas kondisi tanah lunak. Hal ini menjadi tantangan dikarenakan perlunya perlakuan khusus kepada tanah lunak. Laporan tugas akhir ini meliputi interpretasi data tanah hasil penyelidikan tanah, upgrade dermaga yang awalnya menggunakan slab on pile menjadi sheetpile quaywall dan juga, penentuan panjang penetrasi, pengecekan stabilitas, pengecekan batas defleksi lateral, pengecekan profil Sheetpile. Selain itum pada pengerjaan tugas ini akan dianalisis pada kondisi drain dan undrain Pemodelan dengan bantuan perangkat lunak PLAXIS 2D dengan menggunakan beberapa kondisi, diantaranya kondisi gempa, kondisi layan, kondisi saat sebelum dan setelah soil improvemebt dan juga kondisi drain dan undrain. Berdasarkan hasil pengecekan treatment rigid inclusion yang dilakukan mampu untuk memperkuat tanah, dengan pilihan spasi rigid inclusion 4 meter dengan LTP setebal 0,4 meter.

2024
πŸ‘€ Penulis: Andri Andriansyah
🏷️ Geoteknik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Struktur

ANALISIS INTERAKSI TANAH STRUKTUR UNTUK STABILITAS DERMAGA, STUDI KASUS: LOKASI JAKARTA UTARA

Pada Tugas Akhir ini akan Menganalisis upgrade desain struktur dermaga, yang pada kondisi awal merupakan kondisi deck on pile dilakukan upgrade menjadi Sheet Pile Quaywall. Proyek upgrade Dermaga Studi Kasus Jakarta ini merupakan proyek yang berlokasi di Jakarta Utara. Pembangunan proyek ini dilakukan diatas kondisi tanah lunak. Hal ini menjadi tantangan dikarenakan perlunya perlakuan khusus kepada tanah lunak. Laporan tugas akhir ini meliputi interpretasi data tanah hasil penyelidikan tanah, upgrade dermaga yang awalnya menggunakan slab on pile menjadi sheetpile quaywall dan juga, penentuan panjang penetrasi, pengecekan stabilitas, pengecekan batas defleksi lateral, pengecekan profil Sheetpile. Selain itum pada pengerjaan tugas ini akan dianalisis pada kondisi drain dan undrain Pemodelan dengan bantuan perangkat lunak PLAXIS 2D dengan menggunakan beberapa kondisi, diantaranya kondisi gempa, kondisi layan, kondisi saat sebelum dan setelah soil improvemebt dan juga kondisi drain dan undrain. Berdasarkan hasil pengecekan treatment rigid inclusion yang dilakukan mampu untuk memperkuat tanah, dengan pilihan spasi rigid inclusion 4 meter dengan LTP setebal 0,4 meter.

2024
πŸ‘€ Penulis: Andri Andriansyah
🏷️ Geoteknik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi
Halaman 4 dari 7
πŸ’¬