📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 109 dokumen

STUDI PEMANFAATAN PANAS GAS BUANG MELALUI SISTEM ORGANIC RANKINE CYCLE DARI INSINERATOR MASARO SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK UNTUK MASYARAKAT SEKITAR

ekonomi nasional yang berkelanjutan. Akses terhadap energi listrik yang andal dan merata menjadi kunci utama dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan daya saing industri. Di Indonesia, tantangan terbesar dalam sektor kelistrikan adalah kesenjangan distribusi energi, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau menuntut pendekatan desentralisasi energi yang efisien dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pemanfaatan limbah padat domestik (sampah) sebagai sumber energi alternatif menjadi opsi yang sangat potensial. Sebagai bentuk kontribusi terhadap agenda Net Zero Emissions 2060 dan implementasi Perjanjian Paris, teknologi pengolahan sampah berbasis termal seperti insinerator dapat dikembangkan tidak hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai pembangkit listrik berbasis limbah. Salah satu pendekatan yang relevan adalah penggunaan sistem pembangkitan dengan Organic Rankine Cycle (ORC), yaitu sistem termodinamika yang memungkinkan konversi panas bersuhu rendah hingga menengah menjadi energi mekanik dan selanjutnya energi listrik. Sistem ini sangat cocok diaplikasikan pada kondisi gas buang hasil pembakaran sampah yang suhunya tidak stabil namun cukup tinggi. Penelitian ini mengkaji secara mendalam potensi pembangkitan listrik dari sistem insinerator MASARO di Desa Babakan, Kabupaten Cirebon. Insinerator ini merupakan sistem pengolahan sampah skala kecil yang mampu mengelola hingga 10 ton sampah per hari. Dari proses pembakaran tersebut, dihasilkan gas buang dengan suhu berkisar antara 800°C hingga 1200°C. Melalui pendekatan simulasi menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS versi 14, dilakukan pemodelan sistem ORC dengan fluida kerja toluena. Pemilihan toluena didasarkan pada karakteristik termofisika yang sesuai untuk temperatur sumber panas menengah, memiliki titik didih yang stabil, dan bersifat non-korosif serta ramah lingkungan. Dalam simulasi ini, dilakukan variasi tekanan operasi fluida kerja dari 5 bar hingga 40 bar serta laju massa toluena antara 50 hingga 150 kg/jam. Selain itu, asumsi penyerapan panas dari flue gas dibatasi secara konservatif hanya 10,5% dari total potensi kalor teoretis (sekitar 312,85 kW) untuk merepresentasikan skenario pemulihan panas parsial yang umum pada sistem skala kecil. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem ORC mampu menghasilkan listrik antara 30 hingga 70 kWh per hari, tergantung pada kombinasi parameter operasi. Efisiensi termal sistem juga dapat mencapai ±27%, yang termasuk tinggi untuk sistem ORC bersumber panas dari limbah padat. Studi ini tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga menganalisis dampak lingkungan dan potensi ekonomi dari penerapan sistem ini. Secara lingkungan, apabila sistem ini diterapkan secara penuh, maka akan terjadi pengurangan emisi sekitar 18,36 ton CO? per tahun dari sisi substitusi penggunaan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Lebih jauh, dari sisi pengelolaan sampah itu sendiri, potensi pengurangan emisi dapat mencapai 180–360 ton CO?e per tahun, berdasarkan perhitungan emisi metana dan karbon dioksida dari sampah yang tidak terkelola secara termal. Analisis keekonomian menunjukkan bahwa dengan skema investasi yang tepat dan dukungan regulasi, sistem ini dapat mencapai kelayakan finansial jangka menengah. Komponen investasi utama berasal dari kebutuhan heat exchanger tahan korosi, turbin ORC, serta kontrol proses. Sistem ini akan lebih visible jika diintegrasikan dengan kebijakan energi terbarukan dan penetapan tarif listrik yang mendukung produksi lokal berbasis limbah. Penelitian ini menegaskan bahwa sistem ORC berbasis insinerator skala kecil seperti MASARO tidak hanya mampu mengubah sampah menjadi energi listrik secara berkelanjutan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon nasional serta mendukung elektrifikasi wilayah terpencil di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Sonny Indra Pradana
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Desentralisasi Energi 🏷️ Manajemen Sampah

KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMI PEMANFAATAN EXCESS POWER PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GEOTHERMAL UNTUK PRODUKSI GREEN HYDROGEN

Energi panas bumi merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki keunggulan berupa kontinuitas pasokan, menjadikannya kandidat utama untuk mendukung transisi energi bersih. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan excess power dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sori Meraki untuk produksi hidrogen hijau (green hydrogen) melalui proses alkaline electrolysis. Studi ini diawali dengan tinjauan literatur dan observasi lapangan guna memperoleh parameter sistem dan data variasi excess power dari PLTP. Selanjutnya dilakukan pemodelan dan simulasi variasi kondisi operasi untuk mengevaluasi konsumsi energi spesifik (Specific Energy Consumption), laju produksi hidrogen, serta efisiensi termal sistem berdasarkan pendekatan Higher Heating Value (HHV) dan Lower Heating Value (LHV). Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan suhu tumpukan secara signifikan meningkatkan efisiensi sistem dan laju produksi hidrogen, dengan hubungan linear terhadap suhu dalam rentang 20 °C–90 °C. Pada skenario daya 3,4 MW, hubungan antara tekanan operasi terhadap SEC dan efisiensi menunjukkan kecocokan model yang baik, masing-masing dengan R2 sebesar 0,852 dan 0,7355. Evaluasi keekonomian dilakukan melalui estimasi Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) dan Levelized Cost of Electricity (LCOE). Diperoleh bahwa LCOH menurun dari 2,00 USD/kg-H? pada daya 3,4 MW menjadi 1,41 USD/kg-H? pada 15,26 MW. Penurunan serupa juga terjadi pada LCOE, dari 2,58 ¢/kWh menjadi 0,52 ¢/kWh. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan excess power dari PLTP secara teknis dan ekonomi layak untuk mendukung produksi hidrogen hijau skala industri di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Randi Jusup Purba
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Produksi Hidrogen Hijau 🏷️ Analisis Ekonomi Energi

SIMULASI CO-FIRING BIOMASSA KALIANDRA DAN BATUBARA PADA PLTU ALOR MENGGUNAKAN APLIKASI THERMOFLOW V.32

Kekhawatiran akan menipisnya bahan bakar fosil mendorong manusia mencari inovasi baru diantaranya adalah dengan menggunakan energi baru terbarukan. Salah satu energi baru terbarukan yang saat ini banyak diminati adalah penggantian bahan bakar batubara pada PLTU menjadi bahan bakar biomassa. Biomassa sendiri dapat diperoleh dari berbagi sumber seperti potongan kayu, limbah pohon, tanaman energi, dan jenis limbah tertentu. Saat ini beberapa PLTU sudah menerapkan cofiring antara batubara dan biomassa untuk menekan tingkat polusi dan juga mendukung program pemerintah yang berkomitmen untuk mencapai target energoi baru terbarukan pada tahun 2025. Tetapi untuk mengetahui koposisi optimal cofiring antara biomassa dan batubara, maka perlu dilakukan simulasi. PLTU Alor, Nusa Tengara Timur mempunyai potensi besar untuk memanfaatkan co-firing antara biomassa dengan batubara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi optimal co-firing antara biomassa dengan batubara yang digunakan pada PLTU Alor. Secara sumber daya alam, Pulau Alor dapat menghasilkan tumbuhan energi diantaranya Kayu Kaliadra. Simulasi co-firing biomassa dilakukan menggunakan aplikasi Thermoflow v.32 dengan data proximate dan ultimate dari batubara dan biomassa (sawdust kaliandra dan woodchip bolok) serta parameter operasi PLTU Alor. Dari simulasi tersebut didapatkan rasio co-firing paling optimal menggunakan sawdust kaliandra sebesar 50% tanpa melakukan modifikasi pada peralatan penunjang. Pada rasio co-firing 50% dihasilkan produksi listrik sebesar 3.079 kW dengan emisi CO2 berkurang dari 1,452 ton/MWh menjadi 0,889 ton/MWh. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang potensi teknis, ekonomi, dan lingkungan dari co-firing biomassa sawdust kaliandra dan woodchip bolok pada PLTU Alor. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan terkait implementasi co-firing biomassa di PLTU Alor, sehingga dapat berkontribusi pada upaya pembangunan energi baru terbarukan di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Ma'ruf Fajar Santoso
🏷️ Simulasi Co-Firing 🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Biomassa

KAJIAN TEKNO - EKONOMI PRODUKSI HIDROGEN DALAM INTEGRASI PHOTOVOLTAIC - HYDROGEN REFUELING STATION DI INDONESIA

Pemenuhan permintaan global akan energi bersih dan target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060 memerlukan inovasi sistem energi yang rendah karbon dan berkelanjutan. Hidrogen menjadi salah satu kandidat utama menuju dekarbonisasi, mengingat performanya dalam pemanfaatan pada sektror transportasi, industri maupun penyimpanan energi skala besar. Kapasitas aplikasi hidrogen hijau mencapai 52 GW pada tahun 2060, dan sektor transportasi menjadi salah satu target penerapan hidrogen dengan proyeksi pertumbuhan kendaraan fuel cell electric vehicles (FCEV) hingga 3,6 juta unit. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur produksi hidrogen menjadi semakin relevan dan strategis. Produksi hidrogen salah satunya didapatkan dari elektrolisis yang memanfaatkan energi listrik, di mana listrik dapat dibangkitkan melalui sumber energi fosil maupun energi terbarukan. Potensi energi surya yang melimpah sepanjang tahun membuat Indonesia berpeluang signifikan dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) berupa teknologi panel surya (PV) untuk menghasilkan hidrogen hijau. Pemanfaatan hidrogen sebagai bahan bakar di masa depan memerlukan integrasi sistem PV dengan Hydrogen Refueling Station (HRS) yang menawarkan fleksibilitas dan efisiensi sistem energi. Hal ini melatarbelakangi penelitian terkait sistem PV–HRS tanpa bergantung pada jaringan eksternal (off-grid system) yang efisien dan layak secara tekno–ekonomi di Indonesia. Penelitian ini menyajikan evaluasi tekno–ekonomi komparatif dari integrasi sistem on-site PV–HRS skala kecil di kawasan industri Marunda, Jakarta dengan target produksi harian sebesar 150 kg H? pada proyeksi tahun 2050–2060. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak HOMER Pro dengan pendekatan multiconfiguration techno-economic analysis terhadap enam konfigurasi sistem on-site PV–HRS dari kombinasi tiga tipe panel surya (polikristalin, monokristalin, dan hybrid) serta dua tipe elektroliser (Proton Exchange Membrane/PEM dan Alkaline Electrolyzer/AWE). Evaluasi ekonomi dilakukan dengan parameter Net Present Cost (NPC), Levelized Cost of Electricity (LCOE), dan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH). Kombinasi panel monokristalin Trina Solar Vertex 665Wp dengan elektroliser tipe PEM Quest One ME450 menjadi konfigurasi paling optimal secara tekno–ekonomi, dengan nilai NPC mencapai Rp70,8 miliar, LCOE senilai Rp271.450/kWh, serta LCOH sebesar Rp 91.000/kg H?. Tingginya efisiensi panel serta stabilitas operasional pada sistem intermiten membuat konfigurasi ini lebih unggul dibandingkan konfigurasi lainnya. Harga hidrogen hijau pada tahun 2025 masih berada pada kisaran Rp 75.600–Rp 201.600/kg, dan diproyeksikan turun menjadi Rp 40.000–Rp 70.000/kg pada tahun 2060 seiring dengan efisiensi teknologi dan peningkatan skala produksi. Hasil LCOH sebesar Rp91.000/kg dari Konfigurasi 1B pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tersebut masih kompetitif meskipun berada di atas proyeksi pasar global dan nasional. Nilai LCOH masih berada dalam rentang yang dapat diterima, terutama jika mempertimbangkan konteks kondisi riil pengembangan awal hidrogen di Indonesia sebagai solusi transisi dalam menghadapi ketidakpastian pasar teknologi hidrogen hijau nasional. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan biaya investasi awal pada panel PV maupun elektroliser akan memengaruhi nilai LCOH secara signifikan, dengan kontribusi utama dari panel PV yang dominan terhadap CAPEX. Namun efisiensi konversi energi secara tekno– kimia tetap ditentukan oleh performa elektroliser, sehingga diperlukan perancangan sistem PV–HRS secara komprehensif untuk menghasilkan sistem yang ekonomis dan efisien. Implementasi integrasi sistem PV–HRS sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) maupun peta jalan NZE 2060, sehingga diperlukan dukungan kebijakan dan optimalisasi teknologi terutama untuk sektor transportasi di Indonesia. Penelitian ini dapat memberikan wawasan yang komprehensif bagi perancangan sistem hidrogen hijau skala kecil yang efisien dan ekonomis melalui integrasi PV–HRS untuk mendukung dekarbonisasi di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Ismi Dilianda Wulandari
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Produksi Hidrogen Hijau 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

ANALISIS DAN PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) SEBAGAI SUMBER ENERGI UNTUK PRODUKSI GREEN HYDROGEN PADA PLTU BANTEN 2 LABUAN

Perubahan iklim merupakan tantangan global yang menuntut upaya kolektif, termasuk dari Indonesia yang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri dan 43,20% dengan dukungan internasional, yang direspons oleh PLN melalui integrasi pengembangan bisnis hidrogen ke dalam strategi transisinya. Penelitian ini mensimulasikan lima skema produksi hidrogen di PLTU Banten 2 Labuan untuk mengevaluasi kinerja teknis, finansial, dan dampak lingkungannya. Hasil analisis menunjukkan variasi signifikan pada aspek keekonomian dan emisi karbon. Skema 4 memiliki OPEX dan emisi terendah, namun CAPEX sangat tinggi, menghasilkan LCOH tertinggi sebesar 7,41 USD/kg, NPV negatif sebesar -333.405,96 USD, IRR -0,25%, dan PI sebesar 0,37, sehingga tidak layak secara finansial. Skema 2 menawarkan LCOH terendah sebesar 3,79 USD/kg, namun disertai emisi karbon tertinggi sebesar 373.176 kg CO?e. Sebaliknya, Skema 5 menunjukkan keseimbangan terbaik antara biaya dan keberlanjutan, dengan CAPEX dan LCOH sedang sebesar 4,03 USD/kg, disertai kinerja finansial positif. NPV sebesar 48.096,34 USD, PI sebesar 1,63, IRR sebesar 16,6%, dan DPP yang relatif singkat yaitu 8,07 tahun. Berdasarkan indikator tersebut, Skema 5 direkomendasikan sebagai opsi paling optimal untuk implementasi produksi hidrogen di unit pembangkit yang mendukung pencapaian target dekarbonisasi nasional.

2025
👤 Penulis: Indra Setia Permana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Energi Terbarukan

DAMPAK ENSO TERHADAP PRODUKSI LISTRIK DI PLTA BAKARU SULAWESI DAN POTENSI MITIGASI KEKURANGAN LISTRIK SAAT EL NINO DENGAN PENGEMBANGAN PLTS

Sistem kelistrikan Sulawesi Selatan sangat terdampak akibat El Niño tahun 2023 yang lalu. Dimana penopang utama sistem kelistrikannya dipasok oleh PLTA. Akibatnya PLN harus melakukan pemadaman secara bergilir 1-5 jam per hari. Salah satu PLTA yang terdampak yaitu PLTA Bakaru dimana pada saat El Niño tahun 2023 daya mampu pasoknya turun sekitar 30%. Penelitian ini menganalisis terkait dengan dampak ENSO terhadap variabilitas produksi listrik yang ada di PLTA Bakaru dari tahun 1991-2023. Secara klimatologis, periode bulan kering terjadi pada bulan Juli-Oktober pada PLTA Bakaru. Dari analisis korelasi, ditemukan hubungan berbanding terbalik yang signifikan antara ENSO (ONI) dengan curah hujan di musim kemarau. Hubungan ini juga terlihat pada debit inflow, dan produksi listrik terutama pada bulan Juli-November. Dari analisis anomali komposit, dampak El Niño cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan La Niña. bulan yang paling terdampak yaitu bulan Oktober. Dimana terjadi penurunan curah hujan sebesar 89,34 mm/bln, debit inflow -21,94 m3/s, dan produksi listrik -23,81 Gwh. Penurunan sebesar -23,81 Gwh (-44%) bisa dimitigasi dengan melakukan pengembangan PLTS Bakaru. Dikarenakan potensi radiasi matahari di wilayah Bakaru pada bulan Oktober sangat tinggi yaitu sebesar 238,51 Watt/m2. Dengan adanya El Niño akan meningkatkan potensi radiasi matahari sebesar 30,22 Watt/m2pada bulan Oktober. Adapun pembiayaan yang perlu dikeluarkan PLN didalam mengembangkan PLTS Bakaru 170 MW adalah sebesar Rp363.690.812.074,- (tahun 1-10) dan Rp198.376.805.586,- (tahun ke 11-20) sesuai dengan Perpres RI No.112 tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Secara komulatif selaha 20 tahun biaya pembelian tenaga listrik untuk PLTS Bakaru 170 MW adalah sebesar Rp5.620.676.186.600,-. Pemahaman yang lebih baik tentang dampak ENSO terhadap variabilitas produksi listrik dapat meningkatkan prediktabilitas pasokan listrik di masa depan dan dapat memberikan alternatif solusi penambahan pasokan listrik yang bisa dipakai disaat kejadian El Niño.

2025
👤 Penulis: Siti Khairani Permata Sari
🏷️ Klimatologi 🏷️ Manajemen Sistem Listrik 🏷️ Energi Terbarukan

ANALISIS TEKNO EKONOMI PRODUKSI HIDROGEN PADA PLTP SONGA WAYAUA

Produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi merupakan salah satu opsi strategis dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 di Indonesia. Dengan proyeksi permintaan global mencapai 520 juta ton pada 2050, pengembangan hidrogen menjadi semakin penting dalam transisi energi bersih, khususnya di wilayah timur Indonesia yang memiliki potensi panas bumi tinggi namun permintaan energi rendah. Penelitian ini bertujuan menentukan harga jual minimum hidrogen agar proyek terintegrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)–Green Hydrogen Plant (GHP) tetap layak secara finansial. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis simulasi teknis dan ekonomi dengan data sekunder pada WKP Songa Wayaua, Maluku Utara. Dua skenario dianalisis: skenario pertama sebesar 2×5 MW sesuai RUPTL 2025-2034 untuk meninjau kembali kelayakan proyek, dan skenario kedua sebesar 1×20 MW yang direncanakan beroperasi pada 2030. Pada skenario kedua, kapasitas dibagi masing-masing 10 MW untuk jaringan listrik dan produksi hidrogen melalui elektrolisis Proton Exchange Membrane (PEM). Skenario pertama menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar -31,82 juta USD, menunjukkan proyek belum layak secara finansial. Pada skenario kedua, penjualan listrik ke jaringan menghasilkan NPV -78,4 juta USD, sementara produksi hidrogen menghasilkan 1.410 ton/tahun dengan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) sebesar 6,6 USD/kg. Proyek terintegrasi PLTP-GHP mencapai NPV = 0 dengan Internal Rate of Return (IRR) 8,57% pada harga jual minimum hidrogen 13 USD/kg, dan IRR ? 12% pada harga 18 USD/kg. Temuan ini menegaskan bahwa harga jual hidrogen merupakan faktor kunci keberlanjutan proyek.

2025
👤 Penulis: A Agung Fadhilah Putra
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Energi Terbarukan

ANALISIS INTEGRASI PLTS DENGAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM (BESS) UNTUK MENDUKUNG KEBERLANJUTAN STASIUN PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK UMUM, STUDI KASUS: SPKLU REST AREA 379A, BATANG, JAWA TENGAH

Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia menuntut penyediaan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang handal dan berkelanjutan. Namun, ketergantungan penuh terhadap jaringan PLN sebagai sumber energi utama berisiko menimbulkan beban puncak tambahan dan meningkatkan emisi karbon, terutama jika sumber listrik masih berbasis fosil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi integrasi sistem energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) sebagai sumber daya utama atau pendukung untuk SPKLU. Studi kasus difokuskan pada SPKLU di Rest Area 379A, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang memiliki potensi pemanfaatan energi surya cukup tinggi dan lahan yang memadai. Penelitian dimulai dengan desain teknis sistem PLTS menggunakan perangkat lunak PVsyst untuk menentukan potensi kapasitas maksimum terpasang berdasarkan luas lahan, intensitas iradiasi, dan parameter teknis sistem. Hasil desain awal dari PVsyst digunakan sebagai data masukan awal untuk simulasi kelayakan sistem hybrid menggunakan perangkat lunak HOMER Grid. Tiga skenario konfigurasi sistem dibandingkan: (1) SPKLU terhubung ke jaringan PLN dan PLTS (on-grid), (2) SPKLU dengan kombinasi jaringan PLN + PLTS + BESS (hybrid), dan (3) SPKLU off-grid dengan PLTS dan BESS sebagai satu-satunya sumber energi. Masing-masing skenario dianalisis dari sisi teknis (kemampuan suplai beban dan efisiensi sistem), ekonomi (Net Present Cost, LCOE, Payback Period, dan IRR), serta lingkungan (pengurangan emisi CO?). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario 2 jaringan PLN + PLTS + BESS (hybrid) memberikan performa paling optimal dengan Net Present Cost sebesar Rp195 juta, Levelized Cost of Energy sebesar Rp2.022/kWh, dan Internal Rate of Return sebesar 9,0% dengan payback period sekitar 8,2 tahun. Meskipun skenario off-grid menghasilkan emisi terendah, sistem ini memiliki nilai LCOE tertinggi (Rp6.432/kWh), sehingga kurang layak secara ekonomi. Sebaliknya, skenario on- grid (PLN + PLTS) memiliki LCOE rendah tetapi tanpa pengurangan emisi dan ketergantungan penuh pada sumber listrik konvensional. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi hasil simulasi PVsyst dan HOMER Grid yang secara komprehensif mengevaluasi sistem energi terbarukan untuk aplikasi SPKLU di iklim tropis. Pendekatan ini belum banyak dijumpai dalam penelitian sebelumnya di Indonesia, terutama yang mengkaji simultan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan secara mendalam. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan strategi pengoperasian SPKLU yang efisien, rendah emisi, dan ekonomis, sekaligus mendukung pencapaian target transisi energi dan Net Zero Emission nasional.

2025
👤 Penulis: Henggar Agung Wirawan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (Spklu) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

ANALISIS DAN PERACANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PASANG SURUT AIR LAUT BERBASIS BENDUNGAN

Ketergantungan suplai listrik di Bagansiapiapi, Riau pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 7.5 MW menyebabkan biaya operasi yang tinggi dan emisi karbon yang signifikan. Kondisi ini kontras dengan potensi energi pasang surut lokal yang sangat besar, dengan rentang pasang surut mencapai 4-5 meter yang belum termanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis kelayakan teknis serta ekonomi dari Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut (PLTPS) berbasis bendungan sebagai solusi untuk program de-dieselisasi dan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Metodologi yang digunakan adalah pemodelan 0-Dimensi (0-D) menggunakan MATLAB untuk menyimulasikan enam skenario desain, yang merupakan kombinasi dari tiga mode operasi (Ebb, Flood, Two-Way) dan dua konfigurasi turbin (T800 dan T1300). Pemilihan alternatif terbaik dilakukan melalui analisis multi-kriteria dua tahap (teknis dan ekonomi). Hasil analisis menunjukkan skenario optimal adalah PLTPS dengan kapasitas terpasang 3.9 MW yang beroperasi pada mode Ebb, menggunakan 30 unit turbin T1300. Konfigurasi ini menghasilkan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar Rp 6.513,32/kWh dan memenuhi seluruh persyaratan Grid Code PLN. Studi kasus pembanding pada lokasi lain (Pulau Boleng) menunjukkan bahwa kelayakan ekonomi sangat dipengaruhi oleh panjang bendungan. Disimpulkan bahwa proyek PLTPS Bagansiapiapi layak secara teknis dan strategis, dengan parameter desain paling krusial untuk kelayakan ekonomi adalah kombinasi antara rentang pasang surut yang tinggi pada selat yang relatif sempit untuk meminimalkan biaya konstruksi.

2025
👤 Penulis: Gibran Bahtiar
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Biaya Dan Kelayakan Teknis

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO WAY MELESOM, DESA BAMBANG, KECAMATAN LEMONG, KABUPATEN PESISIR BARAT, PROVINSI LAMPUNG

Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan besar dalam pemerataan akses listrik, dengan pertumbuhan kebutuhan energi listrik mencapai rata-rata 6,9% per tahun, sementara pemanfaatan potensi energi terbarukan seperti tenaga air baru mencapai 6,5% dari total potensinya (ESDM, 2020; RUEN, 2017). Ketimpangan ini menjadi isu utama dalam transisi energi nasional yang menuntut solusi desentralisasi pembangkit listrik di wilayah terpencil. Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, dibangunlah PLTM Melesom yang beroperasi di Desa Bambang, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung dengan memanfaatkan aliran sungai Way Melesom. PLTM Melesom memanfaatkan debit andalan 59% sebesar 0,81 m³/s untuk membangkitkan dua turbin berkapasitas 2 × 0,21 MW dengan produksi energi tahunan sebesar 2,61 GWh. Proyek ini, dengan total biaya konstruksi sekitar Rp10.397.151.195, diharapkan dapat mendukung elektrifikasi daerah terpencil, memperkuat bauran energi terbarukan, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

2025
👤 Penulis: Dhaifina Nazhifah Azhar
🏷️ Desentralisasi Pembangkit Listrik 🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

MENJELAJAHI ADOPSI ENERGI SURYA DI SEKTOR RESIDENSIAL DI INDONESIA: ANALISIS UNTUK TML ENERGY

Industri pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Indonesia masih menunjukkan tingkat adopsi yang rendah di segmen residensial meskipun adanya dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya perhatian publik terhadap isu keberlanjutan. Penelitian ini membahas permasalahan strategis utama yang dihadapi oleh TMLEnergy, sebuah perusahaan EPC lokal, yaitu penurunan penjualan dan keterbatasan penetrasi pasar di sektor rumah tangga. Kesenjangan antara dukungan kebijakan dan kenyataan di lapangan menunjukkan perlunya kajian terhadap faktor-faktor perilaku yang memengaruhi keputusan pelanggan dalam mengadopsi teknologi PLTS. Permasalahan ini tidak hanya penting dalam konteks strategi bisnis, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian target energi terbarukan nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa kelayakan teknis dan ekonomis tidak serta merta menjamin keberhasilan adopsi teknologi. Faktor-faktor persepsi dan psikologis pengguna memiliki peranan penting dalam membentuk keputusan pembelian. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan kerangka teori Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989). Model ini menjelaskan bahwa Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU) memengaruhi Attitude Toward Use (ATU), yang selanjutnya memengaruhi Behavioral Intention (BI). Dalam konteks PLTS, model ini sangat relevan karena mencerminkan keraguan calon pengguna terhadap manfaat nyata dan kemudahan penggunaan teknologi energi surya. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada responden residensial di berbagai wilayah Indonesia. Tidak digunakan metode statistik inferensial, melainkan penekanan pada analisis deskriptif terhadap pola-pola perilaku pengguna. Kuesioner mencakup pernyataan berskala Likert berdasarkan konstruk TAM, ditambah pertanyaan ya/tidak, pertanyaan peringkat, serta pertanyaan terbuka yang menggali persepsi dan harapan konsumen secara lebih dalam. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana masyarakat menilai teknologi PLTS dari aspek fungsionalitas, kemudahan instalasi, efisiensi biaya, dan kesesuaian dengan nilai dan ekspektasi pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun persepsi terhadap manfaat lingkungan dari PLTS cukup tinggi, masih terdapat kekhawatiran terhadap biaya awal, kompleksitas teknis, dan ketidaktahuan terhadap teknologi tersebut. Perceived Usefulness banyak dikaitkan dengan penghematan jangka panjang dan pengurangan ketergantungan pada listrik PLN, sedangkan Perceived Ease of Use berkaitan dengan persepsi terhadap perawatan dan instalasi sistem. Variabel sikap menunjukkan bahwa meskipun responden mendukung ide energi surya, niat untuk mengadopsinya masih membutuhkan dorongan berupa edukasi, jaminan kualitas, dan skema pembiayaan yang mudah dijangkau. Dari pertanyaan terbuka, ditemukan bahwa calon pengguna mengharapkan transparansi dari penyedia layanan, peran aktif pemerintah dalam memberikan insentif, dan model layanan yang lebih sederhana. Responden juga menyebutkan pentingnya informasi yang terpercaya melalui media sosial, ulasan daring, atau testimoni dari pengguna lain. Berdasarkan temuan ini, perusahaan seperti TMLEnergy disarankan untuk mengembangkan pendekatan pemasaran yang lebih komunikatif, inklusif, dan sesuai dengan persepsi masyarakat. Strategi seperti penawaran bundling, skema cicilan, serta kolaborasi dengan tokoh lokal dan institusi terpercaya dapat meningkatkan daya tarik layanan PLTS. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman adopsi energi surya dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis perilaku dalam inovasi model bisnis. Selain menambah literatur akademik dalam bidang perilaku konsumen energi terbarukan, hasil penelitian ini juga relevan bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan yang ingin mendorong transisi energi di Indonesia secara lebih efektif. Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa strategi bisnis yang berfokus pada pengguna dan dipandu oleh pemahaman perilaku akan lebih efektif dalam mendorong adopsi teknologi PLTS di segmen residensial. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan dalam menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan pasar serta mendukung pencapaian target energi berkelanjutan nasional.

2025
👤 Penulis: Kevin Antonio Deswanda
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Perilaku Konsumen

NET ZERO ENERGY BUILDING (NZEB) APPROACH: MITIGATION AND ADAPTATION EFFORTS FOR CLIMATE CHANGE PHENOMENON CASE STUDY: DESIGN OF ITB INNOVATION PARK BUILDINGS 3 AND 4 IN SUMMARECON BANDUNG

Perubahan iklim yang ditandai oleh peningkatan frekuensi bencana alam, kenaikan permukaan air laut, konsentrasi gas rumah kaca dan suhu permukaan bumi, sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia, dengan aktivitas alami memainkan peran yang jauh lebih kecil. Adapun aktivitas manusia yang memiliki kontribusi terbesar dalam fenomena ini adalah pembakaran bahan fosil, dengan produk batu bara yang paling mendominasi. Dengan demikian Indonesia, sebagai salah satu produsen dan pengekspor batu bara terbesar di dunia, menjadikan negara ini sebagai salah satu penghasil emisi karbon dioksida (CO?) terbesar secara global. Ditambah dengan fakta bahwa pembangkit listrik di Indonesia yang masih didominasi oleh PLTU batu bara, menjadikan batu bara ini sebagai produk strategis nasional. Indonesia sebagai negara tropis yang kaya akan sumber daya terbarukan seperti matahari, angin, air dan panas bumi, ternyata masih sangat minim dalam pemanfaatannya. Indonesia telah menetapkan tujuan ambisius untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060, dengan menyusun roadmap selama beberapa dekade ke depan untuk secara berangsur-angsur mengurangi konsumsi bahan bakar ini dan beralih ke sumber energi terbarukan. Arsitektur dalam hal ini memiliki peran yang sangat besar untuk mendukung tujuan tersebut, mengingat perannya yang besar dalam pembangunan nasional. Urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat pesat di Indonesia membuat permintaan untuk kebutuhan berhuni dan beraktivitas dalam bangunan semakin besar. Bangunan dengan siklus hidupnya yang meliputi fase produksi, konstruksi, operasional dan pembongkaran, memiliki berkontribusi besar dalam meninggalkan jejak karbon (carbon footprint), terutama selama fase operasional. Indonesia sebagai negara beriklim tropis —panas dan lembab—memiliki pola konsumsi energi yang tinggi dalam penggunaan pengondisi udara, terutama di daerah perkotaan. AC konvensional sebagai produk pengondisi udara yang mendominasi pasaran, dihadapkan pada masalah konsumsi energi yang tinggi dan overcooling, oleh karenanya eksplorasi dalam upaya mencapai kenyamanan termal sangat diperlukan. Radiant cooling sebagai salah satu sistem pengondisi udara yang lebih efisien dalam mengonsumsi energi, menggunakan air sebagai media pendingin untuk menyerap panas dari ruangan melalui permukaan dingin, sehingga mendistribusikan suhu yang lebih merata dan nyaman. Bangunan Net Zero Energy (NZE) sebagai salah satu pendekatan perancangan bertujuan untuk menghasilkan energi sebanyak yang dikonsumsi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan dan teknologi efisien. Proyek ITB Innovation Park Teknopolis Bandung bertujuan menjadi bangunan percontohan NZE dengan mengoptimalkan dan mengefisiensikan penggunaan energi, memproduksi energi terbarukan sebanyak yang digunakan, dan memastikan kenyamanan pengguna. Prinsip yang digunakan meliputi manajemen dan audit energi, penggunaan material berkelanjutan, serta teknologi efisien. Perancangan harus memenuhi kriteria optimalisasi dan efisiensi energi melalui desain pasif, efisiensi air, isolasi termal, sistem hemat energi, manajemen energi, dan audit energi. Kriteria produksi energi terbarukan dapat dicapai melalui penilaian terhadap sumber daya lokal potensial, integrasi teknologi dengan desain, dan penyimpanan energi yang efisien. Pada kriteria untuk mencapai kenyamanan penghuni dapat dicapai dipastikan melalui model PMV, indeks PPD, dan kenyamanan adaptif.

2025
👤 Penulis: Yuni Ariefah
🏷️ Net Zero Energy Building (Nzeb) 🏷️ Desain Bangunan 🏷️ Energi Terbarukan

PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DI AREA PASCA TAMBANG PT BUKIT ASAM UNTUK TRANSISI BISNIS ENERGI

Transformasi sektor energi global dan komitmen pemerintah Indonesia terhadap target Net Zero Emission tahun 2060 mendorong PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mendiversifikasi bisnisnya dari pertambangan batubara menuju energi terbarukan. Salah satu inisiatif strategis adalah pemanfaatan lahan pascatambang untuk pembangunan PLTS. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan teknis, finansial, regulasi, dan strategis dari berbagai alternatif kapasitas PLTS serta menentukan konfigurasi paling optimal menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan analisis multi-kriteria. Data primer diperoleh melalui survei lokasi, wawancara ahli, dan kuesioner terhadap 42 responden. Data sekunder berasal dari laporan teknis internal PTBA, peraturan energi nasional, dan hasil simulasi PVsyst. Alternatif kapasitas PLTS yang dievaluasi meliputi konfigurasi 5,5 MWp hingga 12 MWp, dengan dan tanpa Battery Energy Storage System (BESS). Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi PLTS 8 MWp + BESS 2 MWh adalah pilihan paling optimal. Konfigurasi ini memiliki kinerja teknis yang andal, mendukung stabilitas sistem kelistrikan tambang, serta layak secara finansial dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 10,97%, Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 42.723, dan Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,30 dalam skenario moderat. Selain itu, alternatif ini kompatibel dengan strategi keberlanjutan PTBA, memenuhi aspek regulasi (IUPTLS, TKDN, UKL-UPL), dan dapat mendukung target bauran EBT nasional. Rekomendasi implementasi mencakup strategi teknis (desain modular, bifacial dan ground-mounted), pembiayaan campuran termasuk kredit karbon, pengelolaan risiko regulasi, serta rencana eksekusi bertahap hingga operasional pada tahun 2027. Penelitian ini memperkuat pendekatan strategis PTBA dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan lahan pascatambang secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Iko Gusman
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

INTEGRASI ENERGI TERBARUKAN UNTUK DEKARBONISASI INDUSTRI : KAJIAN KELAYAKAN TEKNO-EKONOMI PENERAPAN PLTS DI PABRIK AMONIUM NITRAT MENGGUNAKAN RETSCREEN

Transisi menuju sumber energi rendah karbon sangat penting bagi industri yang ingin memenuhi target iklim global dan mematuhi komitmen nasional Indonesia dalam Perjanjian Paris. Salah satu inisiatif yang menjanjikan dalam konteks ini adalah pengembangan sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tipe ground-mounted. Studi ini mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi penerapan sistem PLTS di Pabrik Amonium Nitrat, dengan fokus khusus pada pengurangan emisi Scope 2 yang terkait dengan konsumsi listrik untuk proses produksi. Dengan beralih dari listrik yang sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, perusahaan dapat secara signifikan menurunkan jejak karbonnya. Penggunaan perangkat lunak RETScreen Expert memungkinkan evaluasi yang komprehensif terhadap kinerja energi dan kelayakan finansial. Studi ini mengkaji parameter-parameter utama, termasuk potensi radiasi matahari, hasil energi yang diharapkan, investasi awal, penghematan operasional, dan pengurangan emisi. Alat pemodelan dalam RETScreen memberikan kerangka kerja yang terstruktur dan andal untuk menilai kelayakan proyek energi terbarukan berdasarkan berbagai asumsi. Penerapan PLTS dalam sektor manufaktur produk kimia menjadi poin utama yang membedakan studi ini dari penelitian sebelumnya. Berdasarkan skenario insentif emisi karbon yang diinginkan, instalasi PLTS berkapasitas 8 MW dengan biaya EPC sebesar USD 9.600.000 dan biaya O&M sebesar USD 192.000 menunjukkan hasil yang menjanjikan: Net Present Value (NPV) sebesar USD 7.474.950, Internal Rate of Return (IRR) sebelum pajak terhadap ekuitas sebesar 21%, dan Payback Period selama 6,4 tahun. Hasil ini menunjukkan kelayakan finansial yang kuat dan memperkuat potensi PLTS dalam mendukung efisiensi biaya sekaligus tujuan keberlanjutan. Analisis ini menyoroti pengaruh dari pajak karbon terhadap kinerja proyek, yang menunjukkan bagaimana instrumen kebijakan dapat meningkatkan kelayakan ekonomi sekaligus mengurangi risiko terkait emisi. Dengan mengadopsi PLTS, perusahaan tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan operasional dan keamanan energi, tetapi juga sejalan dengan standar ESG yang sedang berkembang serta mengurangi potensi kewajiban pajak karbon. Pada akhirnya, penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi para pemangku kepentingan industri dan pembuat kebijakan yang ingin mendorong transisi energi bersih di Indonesia dan mempromosikan praktik industri yang berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Chani Pradasara
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Energi Industri 🏷️ Analisis Kelayakan Teknologi-Ekonomi

BLENDED FINANCE UNTUK PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DAN MINI HYDRO DI PT SARANA MULTI INFRASTRUKTUR (PERSERO)

Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060 menempatkan fokus strategis pada percepatan pengembangan energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga air dan mini-hidro. Meskipun memiliki potensi besar, proyek-proyek mini-hidro menghadapi berbagai tantangan. PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI), sebagai lembaga keuangan yang didukung oleh pemerintah, diharapkan memainkan peran katalis dalam mengatasi hambatan tersebut. Namun demikian, portofolio PT SMI di sektor energi terbarukan, khususnya pada proyek-proyek hidro, masih memiliki ruang untuk pertumbuhan, sehingga dibutuhkan solusi inovatif untuk meningkatkan kelayakan proyek dan daya tarik pembiayaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods), yang mengombinasikan wawasan kualitatif dari wawancara dengan pemangku kepentingan dan analisis komparatif kuantitatif atas rasio keuangan (IRR, NPV, DSCR, PLCR, WACC) antara proyek-proyek yang menggunakan blended finance dan yang tidak. Studi kasus difokuskan pada delapan proyek hidro untuk mensimulasikan berbagai skenario pembiayaan dengan tingkat penerapan blended finance yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blended finance secara signifikan meningkatkan bankabilitas dan kelayakan finansial proyek, khususnya untuk proyek mini-hidro di bawah 10 MW, melalui penurunan biaya modal dan perbaikan rasio keuangan. Proyek-proyek yang memperoleh dukungan hibah investasi menunjukkan nilai DSCR dan IRR yang lebih tinggi, sehingga lebih menarik bagi pemberi pinjaman swasta. Namun, keterbatasan saat ini dalam proses pencairan hibah, struktur internal, dan kebijakan penetapan harga mengurangi efektivitas peran PT SMI. Studi ini mengusulkan strategi bundling terstruktur atas instrumen keuangan dan rencana strategis untuk memperkuat kemitraan dengan mitra strategis guna meningkatkan dampak dan mendukung transformasi PT SMI menjadi lembaga pembiayaan pembangunan (development finance institution).

2025
👤 Penulis: Mahfud Gesang Nurdiyono
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 4 dari 8
💬