📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 84 dokumen

KAJIAN TEKNIS TERHADAP PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PENEGASAN BATAS DAERAH DI WILAYAH DARAT

Permendagri no 1 tahun 2006 yang merupakan pedoman penegasan batas daerah masih terdapat kekurangan, yang meliputi pendefinisian istilah, spesifikasi pengukuran dan pemetaan, serta aspek penyusunannya. Permendagri no 1 tahun 2006 dilakukan identifikasi berdasarkan istilah yang digunakan, penggunaan istilah tersebut dalam kalimat, kesesuaian spesifikasi metode pengukuran dan pemetaan terhadap ilmu Geodesi. Proses revisi adalah untuk memperbaiki setiap bagian yang kurang sesuai. Analisis dilakukan terhadap hasil revisi berdasarkan keilmuan Geodesi. Revisi pada permendagri no 1 tahun 2006 yang dilakukan meliputi pasal 3 dan pasal 5, serta terhadap 14 bagian pada lampiran. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Penyempurnaan Permendagri no 1 tahun 2006 dapat dilakukan melalui keilmuan Geodesi.

2026
👤 Penulis: BOBBY RIFKI (NIM 15107082); Pembimbing: Ir. Didik Wihardi, MT dan Heri Andreas, ST, MT
🏷️ Geodesi 🏷️ Peraturan Menteri 🏷️ Penegasan Batas Daerah

PENGARUH GENERALISASI GARIS PANTAI MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA DOUGLAS-PEUCKER DALAM KAITANNYA DENGAN PETA KEWENANGAN DAERAH (WILAYAH STUDI: PROVINSI JAWA BARAT) DI WILAYAH LAUT

Daerah memiliki kewenangan untuk mengelola wilayah lautnya yang diatur dalam UU No. 32 tentang Pemerintahan Daerah. Kewenangan daerah adalah sebesar 12 mil laut untuk laut provinsi dan sepertiganya untuk wilayah kabupaten/kota. Untuk mendapatkan wilayah laut tersebut, maka dilakukan kegiatan penetapan batas wilayah laut. Kegiatan tersebut mencakup dua hal, yaitu penetapan batas di peta dan penegasan batas di lapangan. Kumpulan titik awal pada garis pantai, yang membentuk garis-garis dasar digunakan sebagai acuan penentuan batas wilayah laut. Bentuk garis dasar akan dipengaruhi oleh skala peta yang diinginkan serta informasi peta yang akan ditampilkan. Untuk mendapatkan garis dasar yang sesuai dengan kebutuhan, maka dilakukan suatu proses kartografi yang disebut generalisasi. Proses generalisasi pada garis dasar dilakukan berdasarkan ketentuan pada Permendagri 1/2006 serta dengan Algoritma Douglas-Peucker.

2026
👤 Penulis: ASYRALAN PREDANA PUTRA (NIM 15106004); Pembimbing: Dr.Ir. Eka Djunarsjah, S.T.
🏷️ Geodesi 🏷️ Peta Administratif 🏷️ Generalisasi Kartografi

KONVERSI REFERENSI TINGGI DATA SRTM DARI MODEL GEOID GLOBAL EGM96 KE EGM2008 (STUDI KASUS: BANDUNG DAN SEKITARNYA)

Dalam skripsi ini dijabarkan mengenai data STRM, dimana data tersebut merupakan data topografi global. Walaupun data tersebut melingkupi hampir 80% daratan permukaan bumi, namun masih terdapat banyak kelemahan pada data tersebut dimana akurasi tinggi dari SRTM hanya berkisar sekitar 16 meter dan sistemnya masih mengacu ke tinggi di atas elipsoid. Setelah disebarkan ke publik melalui media internet, data SRTM telah dalam referensi tinggi yang mengacu ke geoid EGM96.Dengan dikeluarkannya Model Geoid terbaru EGM2008 sebagai acuan global dengan akurasi yang lebih tinggi dari EGM96 maka dalam Tugas Akhir ini adalah membahas tentang mengubah data tinggi SRTM tersebut dari tingginya di atas geoid EGM96 ke tinggi di atas geoid EGM2008, kemudian hasilnya dibandingkan dengan Titik Tinggi Geodesi hasil pengukuran MSL dan pengukuran Fotogrametri. Setelah dilakukan konversi tinggi dari tinggi terhadap geoid EGM96 ke geoid EGM2008 ternyata hasilnya tidak memberikan efek yang signifikan karena ketelitian pada SRTM jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ketelitian geoid EGM96 maupun EGM2008.

2026
👤 Penulis: ARGALI PAULUS HUTAGAOL (NIM 15103054); Pembimbing: Dr. Ir. Kosasih Prijatna, M.Sc., dan Teguh Purnam
🏷️ Geodesi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Topografi

AIRBORNE ALTIMETRIC LIDAR: APLIKASI DAN PERMASALAHAN

Airborne LIDAR adalah salah satu metode penentuan posisi 3 dimensi berbasiskan GPS, INS dan laser scanner, yang memanfaatkan wahana udara dalam pelaksanaan surveynya. Sistem airborne LIDAR menggunakan sinar laser sebagai sensor pengukuran jarak dari wahana udara hingga ke permukaan tanah dan objek-objek di sekitarnya. Sistem ini juga menggunakan Global Positioning System untuk penentuan posisi tiga dimensi wahana udara dari waktu ke waktu, serta Inertial Navigation System untuk menentukan oriantasi tiga dimensi wahana. Beberapa komponen dalam sistem LIDAR tersebut bekerja masing-masing tetapi terpadu sehingga menghasilkan data LIDAR.Hasil akhir dari survey airborne LIDAR adalah data titik-titik yang mempunyai nilai koordinat (X, Y, dan Z) pada sistem koordinat GPS (WGS 84), yang kemudian dapat diolah menjadi Digital Terrain Model (DTM). Berbagai bidang aplikasi dapat memanfaatkan data yang dihasilkan oleh sistem airborne LIDAR untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

2026
👤 Penulis: DIPO NAWANGSIDI (NIM 15102026); Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. A., M.Sc.
🏷️ Geodesi 🏷️ Teknologi Informasi Dalam Geografi 🏷️ Analisis Dan Pemanfaatan Data 3D

SISTEM GRID SKALA RAGAM UNTUK DATA LINGKUNGAN INDONESIA

Akuisisi, validasi, pengarsipan, dan distribusi data lingkungan global menjadi prioritas utama pada abad ke-21 ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah, peningkatan populasi dunia, pemanasan global, serta penilaian potensi dan dampak riil dari bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, longsor dan lain-lain. Dataset lingkungan diperlukan bagi penelitian, perencanaan dan pengambilan keputusan kebijakan. Untuk menghasilkan informasi yang lebih spesifik dan akurat bagi penelitian, perencanaan, dan pengambilan keputusan kebijakan, seringkali dibutuhkan proses penggabungan data. Keanekaragaman data lingkungan akan menyulitkan dalam proses penggabungan data, hal ini diantaranya disebabkan oleh perbedaan sistem referensi geodesi, resolusi, dan perbedaan koordinat pixel. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang dapat digunakan untuk menstandarisasi tempat penyimpanan data lingkungan nasional sehingga beragam jenis data lingkungan dapat disimpan dalam satu wadah dan dapat dimengerti secara universal. Pada tugas akhir ini telah berhasil dibuat sistem grid untuk menyimpan beragam jenis data lingkungan dalam skala ragam, untuk wilayah Indonesia. Sistem ini dibuat dengan menetapkan sistem referensi geodesi, resolusi grid, titik asal (origin) sistem koordinat grid, dan sistem penomoran grid yang akan digunakan. Sistem grid merupakan data raster dan sangat baik digunakan untuk menyimpan dan merepresentasikan informasi mengenai feature geografis yang kontinyu dan berubah secara gradual. Dengan adanya sistem grid skala ragam untuk data lingungan Indonesia, beragam jenis data lingkungan nasional dapat tersimpan dalam satu wadah yang telah terstandarisasi dan dapat dimengerti secara universal.

2026
👤 Penulis: ANNISA FITRIA (NIM 15105042)
🏷️ Geodesi 🏷️ Data Raster 🏷️ Manajemen Data Lingkungan

PENENTUAN TINGGI GEODETIK DENGAN METODE KOMBINASI GPS DAN TERESTRIS

Penentuan tinggi cara ekstraterestris menggunakan GPS yang dikombinasikan dengan cara terestris dengan mengukur sudut dan jarak menggunakan Total Station, merupakan salah satu alternatif penentuan tinggi geodetik untuk area yang tidak memungkinkan dilakukan pengamatan GPS dengan baik. Permasalahan yang dihadapi dalam penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris yaitu adanya perbedaan datum tinggi dan arah garis unting-unting. Penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris terdapat penyimpangan arah gaya berat sesungguhnya yang arahnya tegak lurus pada bidang geoid dengan arah gaya berat normal yang arahnya tegak lurus pada bidang ellipsoid. Penyimpangan arah gaya berat sesungguhnya dengan arah gaya berat normal disebut dengan defleksi vertikal. Nilai defleksi vertikal dapat diperoleh berdasarkan model geopotensial. Dengan adanya nilai defleksi vertikal ini, kita dapat menentukan tinggi geodetik dengan metode terestris serta mengetahui seberapa besar pengaruh efek defleksi vertikal pada penentuan tinggi geodetik dengan metode terestris.

2026
👤 Penulis: ANDRY BHAKTI HIDAYAH (NIM 15102045)
🏷️ Geodesi 🏷️ Kartografi 🏷️ Metodologi Penelitian Geodetis

STUDI PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH

Kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia salah satunya bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah yang dinyatakan dalam bentuk sertipikat. Dalam kegiatan pendaftaran tanah dilakukan pengukuran batas-batas bidang tanah dengan mengacu pada titik-titik dasar teknik yang dinyatakan dalam bentuk pilar orde 2, 3, dan 4 yang diselenggarakan oleh BPN-RI (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia). Jumlah titik dasar yang seharusnya dibangun di Indonesia mencapai jutaan sedangkan pada kenyataannya jumlah dan sebaran titik dasar yang ada belum merata dan menjangkau seluruh wilayah. Keterbatasan jumlah titik dasar ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor biaya pengadaan titik dasar yang tidak murah dan selanjutnya mempengaruhi waktu yang diperlukan BPN untuk melakukan sertifikasi seluruh bidang tanah di Indonesia. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah titik dasar dan mendukung percepatan sertifikasi bidang tanah, diusulkan sistem GPS CORS (Global Positioning System Continuously Operating Reference Stations) yang berwujud sebagai titik kerangka referensi yang dipasangi receiver GPS dan beroperasi secara kontinyu selama dua puluh empat jam. Dalam penelitian ini dilakukan kajian dan analisis mengenai pemanfaatan sistem GPS CORS dalam rangka pengukuran bidang tanah secara ekonomis dan efisien. Dalam pemanfaatan sistem GPS CORS ini, BPN harus mempersiapkan hal-hal terkait seperti pengembangan sumber daya manusia dan struktur organisasi di dalam BPN agar sistem GPS CORS dapat dimanfaatkan dalam pengukuran bidang tanah.

2026
👤 Penulis: WULAN YUSTIA SAHRONI (NIM 15104017)
🏷️ Geodesi 🏷️ Global Positioning System (Gps) 🏷️ Manajemen Sumber Daya Manusia

VARIASI TEMPORAL GEOID DARI DATA SATELIT GRACE DI WILAYAH INDONESIA

Salah satu tujuan utama dari ilmu geodesi adalah menentukan bentuk dan ukuran bumi termasuk di dalamnya penentuan geoid. Geoid sendiri dapat ditentukan dengan metode satelit yang disebut dengan metode satelit gravimetri salah satunya adalah satelit GRACE. Tugas akhir ini akan membahas tentang cara penentuan geoid dengan menggunakan satelit gravimetri, salah satunya adalah satelit GRACE (Gravity Recovery And Climat Experiment), dengan menggunakan koefisien model geopotensial dari CSR pada data tahun 2005 sehingga diharapkan mampu melihat variasi perubahan temporal geoid yang berfokus pada wilayah Indonesia

2026
👤 Penulis: WIN MUDE MELALA (NIM 15102048)
🏷️ Geodesi 🏷️ Gravimetri Satelit 🏷️ Analisis Variasi Geoid

PENENTUAN MODEL GEOID LOKAL (STUDI KASUS: DELTA MAHAKAM)

Penentuan tinggi ortometrik untuk keperluan kontruksi dan rekayasa biasanya dilakukan dengan metode sipat datar untuk mendapatkan ketelitian yang memadai. Untuk kasus di wilayah Delta Mahakam (wilayah kerja TOTAL E&P INDONESIE), hal ini tidak mungkin untuk dilakukan karena kondisi alam Delta Mahakam yang terdiri dari sungai-sungai besar dan rawa-rawa. Alternatif untuk menentukan tinggi ortometrik di area tersebut adalah GPS levelling. Karena pengukuran GPS menghasilkan tinggi ellipsoid, maka dibutuhkan harga undulasi geoid diseluruh area Delta Mahakam untuk mengkonversi tinggi geodetik menjadi tinggi ortometrik. Pada tugas akhir ini penulis menentukan model geoid lokal Delta Mahakam dengan menggunakan metode kombinasi menggabungkan data gangguan gayaberat lokal dengan model geopotensial global. Hasil verifikasi menunjukkan penggunaan metode kombinasi menghasilkan model geoid lokal Delta Mahakam yang lebih detail dan akurat dibandingkan hanya menggunakan model geopotensial global saja.

2026
👤 Penulis: MOHAMAD HERU PRASETYO (NIM 15103011)
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Geodetik 🏷️ Model Geoid

ANALISIS PENCARIAN JALUR JALAN DALAM KAMPUS ITB DENGAN MENGGUNAKAN BASIS DATA SPASIAL 3 DIMENSI

Pencarian jalur jalan merupakan salah satu analisis yang dilakukan dalam SIG. Analisis penelusuran jalur saat ini masih menggunakan data 2D yang tidak mencukupi untuk melakukan analisis keadaan dunia nyata (3D), karena objek 3D yang direpresentasikan dalam 2D akan mengalami kekurangan informasi spasial beserta hubungan dengan objek lainnya. Penelusuran jalur pada SIG secara konseptual memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu menerapkan teori Graf kedalam jaringan jalan. Untuk melakukan analisis pencarian jalur jalan, digunakan algoritma Dijkstra, A* dan Shooting*. Kemudian dibentuk sebuah purwarupa database untuk keperluan navigasi di kampus ITB. Dari proses ini pencarian jalur 3D dapat dilakukan dalam sebuah SIG.

2026
👤 Penulis: GINANJAR (NIM 15102037)
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Sistem Informasi Geografi (Sig) 🏷️ Manajemen Jalan Dan Jembatan

ANALISIS PERBANDINGAN DELINEASI BATAS LAUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE GRAFIK DAN NUMERIK

Dalam delineasi batas laut, terdapat dua metode penentuan batas laut yang dapat digunakan, yaitu metode grafik dan numerik. Metode grafik yaitu dengan melakukan proses penggambaran batas laut dengan bantuan software penggambaran di komputer dan metode numerik dengan menggunakan rumus-rumus penentuan posisi geodetik. Pada tulisan ini dijelaskan penentuan posisi secara grafik dan numerik dan membandingkan hasil batas-batas laut kedua metode dengan memakai acuan titik-titik dasar di PP No. 38/2002 yang ada di wilayah Pulau Nias dan sekitarnya. Dengan hasil perbandingan, pemakaian metode grafik lebih diunggulkan dari metode numerik karena dengan metode tersebut negara pantai akan mendapat wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan memakai metode numerik, dimana hal tersebut merupakan salah satu tujuan setiap negara pantai untuk menentukan batas laut negaranya.

2026
👤 Penulis: BELFRY PARULIAN PANDIANGAN (NIM 15103035)
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Batas Laut

STUDI IMPLEMENTASI PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DAERAH (Studi Kasus Kabupaten Bandung)

Abstrak : Kabupaten Bandung merupakan daerah otonom dimana mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Kabupaten Bandung dibatasi oleh Rencana Kabupaten Bandung Barat,Kota Bandung ,Kabupaten Subang Kabupaten Purwakarta,Kabupaten Cianjur dengan pemasangan pilar batas utama sebanyak 70 pilar batas utama (PBU).Salah satu dari tahap penetapan dan penegasan yang terdapat pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD). Penentuan posisi pilar batas Kabupaten Bandung ini dilakukan dengan menggunakan alat GPS tipe geodetik dengan metode penentuan posisi yang digunakan adalah metode radial. Pengolahan data GPS yang dilakukan sebanyak 64 titik pilar batas utama dengan tujuan untuk membandingkan hasil koordinat dengan hasil pengolahan tim batas Kabupaten Bandung sehingga dapat melihat kesesuaian koordinat titik pilar batas Kabupaten Bandung. Hasil implementasi Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD) Kabupaten Bandung ini kurang sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah (PPBD) dan secara umum hasil pengolahan data GPS pilar batas Kabupaten Bandung memiliki selisih hasil koordinat yang relatif sama, hanya perbedaan yang sangat besar + 52 m pada titik pilar batas utama PBU003 dan PBU012 +/- 4 m dengan pengolahan yang dilakukan oleh sendiri untuk data checking kontrol kualitas.

2026
👤 Penulis: Lukas Lukman : (NIM 151 03 043)
🏷️ Geodesi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PERGERAKAN TANAH MENGGUNAKAN GPS KONTINYU (Studi Kasus Rellief Well 01 LAPINDO Porong - Sidoarjo)

Abstrak tidak tersedia.

2026
👤 Penulis: Tidak diketahui
🏷️ Geodesi 🏷️ Teknik Geografi

PEMODELAN TRANSFORMASI KADASTER 3D DALAM RANGKA SERTIPIKASI RUANG BAWAH ATAS TANAH

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemodelan transformasi Kadaster 3D dalam rangka sertipikasi ruang bawah dan atas tanah di lingkup Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Indonesia. Perkembangan pembangunan telah mengakibatkan berkurangnya ketersediaan lahan dan perubahan pola pemanfaatan lahan dari horizontal menjadi vertikal. Dalam konteks ini, kebutuhan akan pemetaan dan pendaftaran tanah dalam tiga dimensi (3D) menjadi semakin penting. Konsep Kadaster 3D telah berkembang selama satu dekade terakhir dan kesadaran internasional akan pentingnya konsep ini semakin meningkat. Konsep ini menekankan pentingnya pendaftaran hak dan batasan tidak hanya pada persil tanah, tetapi juga pada unit properti tiga dimensi. Sistem Kadaster 2D yang masih digunakan di Indonesia dan beberapa negara lainnya terbatas dalam menggambarkan bangunan bertingkat, di mana unit kepemilikan dapat bertumpuk dalam satu persil yang sama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk memodelkan faktor-faktor transformasi data pertanahan persil menuju keruangan. Strategi pembenahan bidang tanah 2D menjadi bidang tanah berbasis Kadaster 3D juga disusun. Integrasi data persil 2D dengan data 3D dilakukan dalam pemodelan Kadaster 3D. Metodologi yang digunakan melibatkan analisis data spasial, pemodelan data, dan validasi menggunakan studi kasus di beberapa wilayah di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu geodesi dalam optimalisasi pendaftaran tanah 3D. Implementasi Kadaster 3D akan memberikan informasi yang lebih akurat dalam memahami dan menginterpretasi peta serta kemampuan menampilkan bentuk bangunan fisik secara realistis. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BPN dalam upaya mewujudkan mekanisme pendaftaran tanah menjadi pendaftaran ruang dengan hak dan batasan yang jelas.

2025
👤 Penulis: Fransisko Rohanda Rebong
🏷️ Geodesi 🏷️ Pendataan Tanah 3D 🏷️ Manajemen Ruang

PENGKAJIAN PROPAGASI ERROR GEOID MELALUI ESTIMASI FORMAL ERROR PADA PEMODELAN GEOID LOKAL PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST-SQUARES COLLOCATION (LSC)

Kebutuhan penentuan posisi GNSS presisi tinggi mendorong konversi tinggi elipsoid menjadi tinggi geoid akurat. Model geoid global yang ada menunjukkan variasi akurasi regional , dan metode leveling konvensional terbatas di Indonesia karena sebaran kontrol vertikal serta kondisi geografis yang beragam. Oleh karena itu, model geoid regional berakurasi tinggi sangat esensial. Galat dalam model geoid gravimetrik, yang berasal dari pengukuran dan pemodelan matematis, perlu dipahami untuk mencapai target akurasi IAG 1 cm. Tesis ini mengembangkan model geoid Pulau Jawa menggunakan metode Least- Squares Collocation (LSC), yang mereduksi galat dari GGM dan data terestris, serta menghasilkan formal error sebagai indikator ketidakpastian. Data yang digunakan mencakup anomali free-air, data airborne yang diturunkan dengan Gaussian filter orde 2, dan data altimetri DTU17 yang difilter. Integrasi dilakukan melalui Least- Squares Prediction (LSP) dengan fungsi kovarians Hirvonen. Model dihitung dengan skema Remove-Compute-Restore (RCR), memanfaatkan EGM2008 dan model medan residu (RTM). Model LSC yang dihasilkan memiliki akurasi 10.91 cm terhadap GNSS leveling, lebih baik dari INAGEOID V2, namun di bawah EGM2008 dan ITB2025. Fitting dengan model polinomial 6-parameter meningkatkan akurasi menjadi 5.54 cm, sementara mean-shift lebih stabil untuk sebaran data tidak merata. Formal error berkisar 0.0079–0.0107 m, tinggi di area minim data. Kontribusinya terhadap total galat relatif kecil (0.6–0.9%), namun penting sebagai dasar perencanaan penambahan data gayaberat untuk peningkatan INAGEOID.

2025
👤 Penulis: Muhammad Rizky Perdana
🏷️ Geodesi 🏷️ Model Geoid 🏷️ Least-Squares Collocation
Halaman 4 dari 6
💬