📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenGEOLOGI, GEOMORFOLOGI, DAN LATERISASI ENDAPAN BAUKSIT DI BLOK X, KECAMATAN MELIAU HILIR, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT
Kebutuhan aluminium dunia diperkirakan akan terus meningkat, namun produksi dalam negeri hanya memenuhi sekitar 1,3 juta ton meskipun produksi bijih bauksit mencapai 32 juta ton pada tahun 2024. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada impor untuk memenuhi sisa kebutuhan tersebut. Potensi cadangan bauksit Indonesia diperkirakan sebesar 2,8 miliar ton yang dapat dimanfaatkan lebih baik lagi melalui hilirisasi tambang bauksit. Akan tetapi pada proses metalurgi terdapat hambatan terutama saat pemisahan bijih bauksit karena beberapa mineral sulit diekstraksi, kecuali gibsit. Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis mineral pembawa aluminium pada laterit di Indonesia dan menentukan litologi serta morfologi yang sesuai untuk pembentukan bauksit. Penelitian dilakukan pada wilayah blok X, Kecamatan Meliau Hilir, Kabupaten Sanggau, area tersebut milik PT Aneka Tambang Tbk., UBP Bauksit Tayan. Secara geografis, area penelitian ini terletak sekitar 120 km ke arah timur dari Kota Pontianak. Jenis mineral yang ada pada endapan laterit bauksit dapat diketahui melalui metode eksplorasi. Metode tersebut di antaranya adalah pemetaan geologi, pemetaan geomorfologi, pemetaan laterisasi, analisis petrografi, deskripsi sampel, analisis mineralogi, serta analisis mineralisasi batuan. Analisis mineralogi dilakukan melalui metode Analytical Spectral Devices (ASD) dan X-Ray Diffraction (XRD). Penelitian ini menggunakan data primer yang terdiri dari 40 sampel batuan, 52 sampel bauksit dan 582 sampel latosol. Pada area penelitian terdapat empat satuan geomorfologi yaitu Dataran Rawa dan Aluvial, Perbukitan Bergelombang Intrusi, Perbukitan Bergelombang Terjal Intrusi, serta Perbukitan Terjal Malihan. Secara geologi terdapat tujuh satuan yaitu Metasedimen, Diorit, Granit, Tonalit, Diorit Hornblenda, Gabro, dan Endapan Aluvial. Morfologi perbukitan bergelombang dengan litologi diorit memiliki derajat laterisasi tinggi dengan gibsit yang dominan. Mineralisasi pada bauksit menghasilkan gibsit, hematit, gutit, haloisit dan kaolinit. Sedangkan pada latosol terdapat gutit, gibsit, muskovit, paragonit, dan kaolinit.
STUDI GEOLOGI, ALTERASI, DAN MINERALISASI DAERAH TOLO OI, KECAMATAN TARANO,KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT
Daerah Tolo Oi, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat diidentifikasi sebagai daerah yang memiliki potensi mineralisasi emas. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi potensi mineralisasi emas di daerah penelitian yang terletak di bagian timur Daerah Tolo Oi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi, geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi beserta karakteristik alterasi dan mineralisasi yang berkembang di daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari data primer yang berasal dari pemetaan lapangan dan data sekunder dari PT ANTAM Tbk yang telah melakukan penyelidikan sebelumnya di daerah penelitian. Data primer yang digunakan pada penelitian ini berupa 69 sampel batuan dan 235 data pengukuran kedudukan struktur geologi, sedangkan data sekunder yang digunakan berupa 34 sampel batuan yang tersebar di daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis petrografi, mineragrafi, Analysis Spectral Device (ASD), dan analisis kinematika struktur geologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari delapan satuan batuan, yaitu Satuan Tuf, Breksi Volkanik, Lava Andesit, Lava Andesit Olivin, Lava Andesit Piroksen, Breksi Hidrotermal, Breksi Diatrema, dan Aluvial. Struktur geologi dikelompokkan berdasarkan deformasi yang terjadi di daerah penelitian, yaitu sesar-sesar naik berarah NW–SE (pre-mineralisasi), sesar-sesar geser menganan berarah NNE–SSW (syn-mineralisasi), dan sesar-sesar geser mengiri berarah NW–SE (post-mineralisasi). Adapun alterasi yang terdapat di daerah penelitian meliputi zona smektit ± klorit, kaolinit ± smektit ± kuarsa, kaolinit ± dikit ± kuarsa, alunit ± kaolinit ± kuarsa, pirofilit ± alunit ± dikit ± kuarsa, dan silisifikasi. Sesar geser menganan berarah NNE–SSW mengontrol alterasi di daerah penelitian. Mineral sulfida terdiri dari mineral pirit, pirhotit, galena, kalkopirit, bornit, dan kovelit dengan style pembentukan berupa diseminasi, replacement, dan inklusi. Berdasarkan alterasi dan mineralisasi, tipe endapan daerah penelitian termasuk ke dalam endapan epitermal sulfidasi tinggi.
STUDI KARAKTERISTIK NIKEL LATERIT PADA KOMPLEKS BATUAN ULTRAMAFIK DAERAH PARAKANSUBAH, KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH
Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, yang sebagian besar terkonsentrasi pada batuan ultramafik yang telah mengalami proses lateritisasi. Salah satu wilayah yang memiliki potensi nikel laterit adalah Daerah Parakansubah, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Daerah ini merupakan bagian dari Kompleks Melange Luk Ulo yang memiliki umur Kapur–Paleosen. Meskipun memiliki potensi, belum ada penelitian yang mengkaji karakteristik endapan nikel laterit di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui satuan batuan dan karakteristik nikel laterit di daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi lapangan, analisis petrografi, dan analisis XRF pada sampel batuan dan tanah yang diperoleh dari pengeboran manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas tujuh satuan batuan, yaitu satuan batuan metamorf berupa Satuan Filit serta Satuan Sekis Garnet-Mika, dan satuan kompleks ofiolit yang terdiri dari satuan peridotit, Satuan Serpentinit, satuan gabro, satuan sheeted dike basalt, dan satuan lava basalt. Profil nikel laterit di lokasi penelitian terbagi menjadi tanah penutup setebal 0,9 meter, limonit setebal 3,15 meter, saprolit 2,9 meter, dan batuan dasar. Analisis geokimia menunjukkan bahwa proses lateritisasi di daerah ini masih berada pada tingkat yang lemah, ditandai dengan kandungan nikel yang masih berada di kisaran 0,010–0,037%. Faktor yang memengaruhi rendahnya kandungan nikel adalah kemiringan lereng yang curam, jenis batuan dasar yang kurang membawa kandungan Ni, umur proses pelapukan yang relatif muda, serta adanya pengotor fragmen sekis garnet-mika. Selain itu, lateritisasi lemah juga ditandai dengan tingginya kandungan SiO2 serta rendahnya kandungan Fe2O3 dan Al2O3. Pola lateritisasi yang teridentifikasi menyerupai tipe dry laterites akibat adanya presipitasi silika sekunder. Tipe nikel laterit di lokasi penelitian adalah tipe nikel oksida yang terkonsentrasi di zona limonit.
IDENTIFIKASI ZONA POTENSI LONGSOR MENGGUNAKAN METODE FOTOGRAMETRI FOTO UDARA PADA JEMBATAN CIPADA KABUPATEN BANDUNG BARAT
Salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah tanah longsor seperti yang pernah terjadi di area utara jalan tol Jembatan Cipada Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis zona kerentanan pergerakan tanah pada Jembatan Cipada Kabupaten Bandung Barat dengan menggunakan metode fotogrametri foto udara berdasarkan kondisi geologi, kemiringan lereng, curah hujan, jenis tanah, serta tutupan lahan. Hasil menunjukkan bahwa dengan geologi jenis batuan berupa lapukan tuf dan jenis tanah berupa latosol dengan fragmen mudah rapuh, kemiringan lereng bisa sampai terjal, curah hujan relatif menengah setiap tahun, serta tutupan lahan didominasi ladang dan semak belukar diperoleh zona pergerakan tanah sesuai standar RSNI 8291:2024 yaitu zona menengah yang berarti berkemungkinan untuk terjadi gerakan tanah terutama pada daerah lereng yang mengalami gangguan. Berdasarkan hasil tersebut, longsoran yang mungkin terjadi berjenis translational slide. Rekomendasi yang cocok untuk memitigasi adanya tanah longsor seperti monitoring dan dewatering pada area Jembatan Cipada, Kabupaten Bandung Barat untuk mengontrol pergerakan lereng agar tidak menimbulkan bahaya pada jalan tol dan bisa mengurangi kandungan air pada lereng sehingga mengurangi risiko longsor terjadi.
DESAIN ANJUNGAN LEPAS PANTAI UNTUK KONDISI IN-SERVICE SERTA ANALISIS UPENDING
Secara geografis, Indonesia terletak di persimpangan empat lempeng tektonik utama. Interaksi antara lempeng-lempeng ini telah menciptakan kondisi geologis yang sangat menguntungkan bagi pembentukan cekungan sedimen dan akumulasi hidrokarbon. Badan Geologi telah menerbitkan peta cekungan sedimen Indonesia yang meliputi 128 cekungan sedimen. Berdasarkan data terkini dari Kementerian ESDM dan SKK Migas, Indonesia memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang signifikan. Hingga tahun 2050 mendatang, pemanfaatan energi fosil minyak dan gas bumi (migas) masih berperan penting dalam mengamankan pasokan energi nasional. Anjungan lepas pantai, atau pelataran lepas pantai, adalah struktur atau bangunan yang dibangun di lepas pantai untuk mendukung proses eksplorasi minyak dan gas tersebut. Desain struktur anjungan lepas pantai memerlukan analisis yang tepat untuk memastikan kegiatan di atasnya tidak terganggu. Pada tugas akhir ini, dilakukan pemodelan struktur tipe fixed platform kaki empat dengan mengikuti standar API RP 2A WSD sebagai syarat kelayakan struktur. SACS (Structural Analysis Computer System) merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam proses pemodelan hingga analisis anjungan lepas pantai tersebut. Dalam tugas akhir ini juga akan menampilkan hasil analisis in-service dan pre-service. Analisis in-service yang dilakukan berupa in-place, seismic, dan fatigue yang mengikuti standar API RP-2A WSD 21st Edition. Setelah itu dilakukan analisis lifting dan upending dengan mengikuti standar DNVGL-ST-N001. Di dalam proses lifting dan upending tersebut dibutuhkan crane barge. Eka Nusantara 3000 (EN3000) memiliki crane dengan main hook capacity sebesar 3.000 T @30 m dan aux hook capacity sebesar 600 T @60 m. Derrick lay barge tersebut dipilih dan membantu dalam kedua proses tersebut.
IDENTIFIKASI DISTRIBUSI SANDPRONE FORMASI GUMAI CEKUNGAN SUMATERA SELATAN
Daerah penelitian terletak pada Lapangan X yang merupakan bagian dari sub Cekungan Jambi di bagian utara Cekungan Sumatera Selatan. Objek penelitian berupa Interval Formasi Gumai yang lebih dikenal sebagai batuan tudung (seal) di sub Cekungan ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola distribusi sandprone yang diharapkan dapat menjadi target potensi hidrokarbon pada daerah penelitian dengan mengintegrasikan hasil dari beberapa analisis berdasarkan data log talikawat, data biostratigrafi serta nilai amplitudo seismik dengan menggunakan seismik atribut. Agar dapat meminimalisir dampak ketidakpastian dalam kegiatan strategi dan pengembangan suatu lapangan, diperlukan pemetaan bawah permukaan yang lebih representatif terhadap kondisi geologi yang sebenarnya, sehingga penentuan kemenerusan reservoir pada interval target dapat terpetakan dengan maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka digunakan beberapa metode yaitu analisis elektrofasies analisis korelasi sikuen stratigrafi berdasarkan data log talikawat, analisis geofisika menggunakan beberapa seismik atribut yakni Root Mean Square (RMS) atribut dan Sweetness atribut. Dalam kaitannya terhadap potensi hidrokarbon, seismik atribut RMS akan menghitung rata-rata kuadrat dari nilai amplitudo. Perubahan nilai impedansi akustik yang signifikan, dapat mengidentifikasikan keberadaan reservoir. Sementara itu, sweetness adalah rasio dari amplitudo RMS terhadap nilai Instantaneous Frequency. Kedua atribut ini akan dianalisis secara bersamaan dalam rentang jendela nilai tertentu. Hasil dari analisis atribut RMS amplitude dan Sweetness atribut yang dilakukan pada jendela nilai 60/ms menunjukkan adanya potensi hidrokarbon pada Sumur X3 yang direpresentasikan dengan nilai amplitudo dan sweetness yang relatif tinggi, Instaneous Frequency yang rendah, dan reflektivitas RMS sedang hingga tinggi ditunjukkan oleh area yang berwarna cerah (bright-spot) pada peta amplitude. Pola pengendapan diindikasikan berupa endapan tempestite yang dipengaruhi oleh badai (storm deposits).
GEOLOGI, PEMODELAN RESERVOIR STATIS, DAN PENGHITUNGAN SUMBER DAYA ZONA 1 DAN ZONA 2, LAPANGAN EL PATRON, FORMASI TALANGAKAR, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Optimalisasi produksi dan penemuan sumber daya hidrokarbon baru menjadi hal yang penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi nasional sebagai tanggapan terhadap meningkatnya permintaan energi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi dan pemodelan reservoir statis pada zona 1 dan zona 2, Lapangan El Patron, Formasi Talangakar di Cekungan Sumatra Selatan. Fokus utamanya adalah mengidentifikasi asosiasi fasies dan lingkungan pengendapan, menentukan sebaran properti petrofisika secara vertikal dan lateral, menghitung volume sumber daya hidrokarbon, dan menentukan lapisan paling potensial untuk pengembangan lebih lanjut. Metodologi penelitian meliputi analisis fasies, petrofisika, dan pemodelan reservoir statis tiga dimensi berdasarkan data inti batuan, log tali kawat, dan seismik. Pemodelan struktur menggunakan metode corner point gridding, pemodelan fasies menggunakan object modelling, pemodelan rock type dengan Sequential Initial Simulation (SIS), pemodelan volume shale menggunakan Sequential Gaussian Simulation (SGS), dan pemodelan porositas dengan Sequential Gaussian Simulation (SGS). Studi ini mengidentifikasi sebelas litofasies yang berbeda, yang dikategorikan ke dalam lima asosiasi fasies, meliputi Meandering Fluvial Channel, Levee Heterolithic, Flood Plain, Tidal Bar, dan Interdistributary Bay, yang mengindikasikan lingkungan pengendapan Sistem Fluvio-Tidal secara keseluruhan. Perhitungan volumetrik memperkirakan total sumber daya Gas Awal di Tempat (Original Gas In Place - OGIP) sebesar 354 Bscf di dalam zona 1 dan zona 2. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa Zona 1 mengandung sebagian besar dari volume ini, dengan perkiraan 349 Bscf, yang menempatkannya sebagai interval paling prospektif untuk kegiatan pengembangan selanjutnya.
GENESA DAN KUALITAS BATU BARA METALURGI FORMASI TANJUNG DI KABUPATEN BARITO UTARA, KALIMANTAN TENGAH
Di tengah urgensi pengembangan dan pemanfaatan batu bara metalurgi di Indonesia, Formasi Tanjung yang terletak di Kalimantan Tengah memiliki potensi batu bara metalurgi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian mengenai keterkaitan antara proses geologi dan kualitas batu bara yang terbentuk menawarkan suatu dasar ilmiah untuk merumuskan strategi eksplorasi yang lebih mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas batu bara metalurgi dan faktor-faktor geologi yang memengaruhinya. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan referensi ilmiah dalam pengembangan dan pemanfaatan batu bara metalurgi di Indonesia. Karakterisasi batu bara metalurgi dilakukan berdasarkan nilai kalori, reflektansi vitrinit, crucible swelling number, dan kadar abu batu bara. Meskipun memiliki nilai crucible swelling number lebih dari tujuh, batu bara dalam penelitian ini juga memiliki nilai kadar abu pada rentang 10 hingga 25 persen dalam basis air-dried sehingga menunjukkan karakteristik yang sangat tidak ideal untuk memproduksi kokas. Faktor geologi yang memengaruhi peringkat batu bara diketahui berdasarkan analisis pola kematangan batu bara, analisis mineral matter, analisis anomali gravitasi, dan analisis tekanan pemendaman. Berdasarkan burial history, paleotemperatur Formasi Tanjung ketika mencapai kematangan batu bara memiliki nilai pada rentang 125 hingga 145 derajat Celsius, sesuai dengan dengan temperatur pemendaman berdasarkan nilai reflektansi vitrinit sehingga tekanan pemendaman yang berlangsung sejak Kala Eosen merupakan faktor utama yang memengaruhi peringkat batu bara dalam penelitian ini. Sementara itu, faktor geologi yang memengaruhi mutu batu bara diketahui berdasarkan asal usul material anorganik, lingkungan pengendapan, dan peta fasies dan isopach. Berdasarkan interpolasi nilai kadar abu pada peta fasies dan isopach, nilai kadar abu batu bara di lingkungan dengan asosiasi fasies channel dapat melebihi 10 hingga lebih dari 20 persen dalam basis air-dried, lebih tinggi dibandingkan kadar abu batu bara di lingkungan dengan asosiasi fasies backswamp yang hanya mencapai nilai kurang dari 10 persen dalam basis air-dried sehingga lingkungan pengendapan berupa sistem fluvial bermeander secara signifikan memengaruhi kadar abu atau mutu batu bara dalam penelitian ini.
GEOLOGI DAN KARAKTERISASI BATUAN DI AREA AKSES TAMBANG BAWAH TANAH KUCING LIAR, PAPUA TENGAH, DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN TIGA DIMENSI
Endapan Kucing Liar yang terletak di selatan Distrik Grasberg, Papua Tengah, merupakan salah satu endapan porfiri dan skarn Cu-Au terbesar di dunia. Di area infrastruktur tambang bawah tanah Kucing Liar, terdapat tantangan geoteknik dalam perencanaan penambangan akibat zona hancuran yang diduga terbentuk karena intrusi batuan beku, yakni Intrusi Kay. Studi geologi dilakukan untuk memahami kondisi bawah permukaan yang memengaruhi karakterisasi batuan, mencakup identifikasi litostratigrafi, zona alterasi hidrotermal, struktur geologi, serta analisis karakteristik batuan melalui pendekatan pemodelan tiga dimensi. Penelitian dilakukan melalui observasi geologi bawah permukaan, pengamatan enam sumur inti bor, serta analisis megaskopis, mikroskopis, dan x-ray diffraction kuantitatif untuk identifikasi litologi dan mineralogi. Enam satuan batuan teridentifikasi, yaitu Satuan Hornfels, Batugamping A, Batugamping B, Batupasir, Batugamping C, dan Intrusi Diorit. Zona alterasi terdiri atas Zona Potasik (K-feldspar–kuarsa ± biotit), Zona Propilitik (klorit– epidot), Zona Filik (kuarsa–serisit–pirit), Zona Skarn Prograd (garnet–diopsid ± forsterit ± flogopit), dan Zona Skarn Retrograd (serpentin–magnetit ± epidot ± pirit). Struktur utama berupa dua sesar mendatar mengiri berarah barat laut–tenggara (NW–SE) dan tiga sesar mendatar mengiri berarah timur laut–barat daya (NE–SW). Analisis kinematika menunjukkan tegasan utama berarah timur laut–barat daya (NE–SW). Hasil karakterisasi batuan berdasarkan model numerik menunjukan bahwa nilai RQD dan point load yang buruk cenderung diakibatkan oleh sesar, zona dan intensitas alterasi, kontak antar batuan, jenis batuan, serta kegagalan teknis dalam pengukuran data. Karakterisasi batuan berdasarkan domain zona alterasi menunjukkan bahwa zona skarn retrograd memiliki kualitas batuan paling rendah, dengan nilai RQD berkisar very poor (<25%) hingga fair (50–75%), serta nilai point load weak (<1 MPa) hingga medium (1–2 MPa).
STUDI GEOLOGI DAN KONTROL KEMUNCULAN MATA AIR DINGIN DAN HANGAT DI DAERAH SIULAK, KABUPATEN KERINCI, PROVINSI JAMBI
Daerah Siulak, Kabupaten Kerinci memiliki mata air dingin dan hangat yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sebagai kebutuhan sehari-hari maupun pariwisata. Maka perlu dilakukan penelitian untuk memahami sistem geologi dan hidrogeologi yang mengontrol kemunculan mata air dingin dan hangat, mengingat adanya aktivitas vulkanik dan tektonik di daerah Siulak. Studi ini mengintegrasikan analisis penginderaan jauh, pemetaan geologi lapangan, dan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi kondisi geologi sebagai dasar konservasi sumber daya air. Hasil pemetaan menunjukkan wilayah penelitian tersusun atas 6 satuan geomorfologi dan 8 satuan batuan tidak resmi. Selain itu, teridentifikasi empat struktur sesar utama, termasuk Sesar Menganan Siulak dan Sesar Normal Siulak Deras, yang secara fundamental membentuk kerangka tektonik regional. Faktor pengontrol keluaran mata air di lapangan dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu depresi topografi, rekahan, dan sesar. Analisis isotop stabil berhasil mengidentifikasi zona resapan air pada elevasi antara 1200 hingga 1350 meter, yang dicirikan oleh litologi piroklastik dan kemiringan lereng landai, sementara zona luahan berada di elevasi lebih rendah pada endapan aluvial. Mata air hangat memiliki kandungan ion terlarut yang lebih tinggi (Total Dissolved Solids >1000 ppm) dibandingkan mata air dingin (Total Dissolved Solids <100 ppm), yang mengindikasikan interaksi yang lebih lama dan dalam dengan batuan panas di bawah permukaan. Mata air dingin menunjukkan aliran lokal sampai intermediet tanpa kontaminasi termal, sedangkan mata air hangat mencerminkan aliran regional yang muncul melalui bidang sesar akibat pengaruh sisa aktivitas vulkanik daerah sekitarnya.
PEMODELAN RESERVOIR STATIS DAN PERHITUNGAN VOLUMETRIK HIDROKARBON PADA FORMASI KUJUNG, LAPANGAN JAMBARAN, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA
Lapangan Jambaran terletak di Cekungan Jawa Timur Utara, cekungan back-arc yang berkembang akibat subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Interval penelitian berada pada Formasi Kujung yang berumur Oligosen hingga Miosen Awal, dengan litologi utama berupa batugamping. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model geologi tiga dimensi dan menghitung volumetrik hidrokarbon awal di tempat berdasarkan karakterisasi fasies dan properti petrofisika. Penelitian menggunakan total delapan sumur, dengan data log tali kawat, data batuan inti, serta peta struktur kedalaman. Digunakan metode MRGC (Multi-Resolution Graph-based Clustering) untuk analisis asosiasi fasies. Interval penelitian terdiri atas tiga asosiasi fasies, yaitu lagoon, reef core, dan fore reef, yang berkembang sebagai carbonate buildup di atas struktur paleohigh. Hasil analisis menunjukkan bahwa interval reservoir memiliki rata-rata volume serpih sebesar 0,04; porositas 0,16; dan saturasi air 0,25; dengan batas pancung masing-masing sebesar 0,18; 0,07; dan 0,8. Pemodelan reservoir statis menggunakan metode SIS (Sequential Indicator Simulation) dan SGS (Sequential Gaussian Simulation) dengan memodelkan tren berupa peta probabilitas distribusi asosiasi fasies. Pemodelan menghasilkan volumetrik hidrokarbon berupa Stock Tank Oil Initially in Place (STOIIP) sebesar 267 MMSTB dan Gas Initially in Place (GIIP) sebesar 1.558 BSCF.
ANALISIS KORELASI DAN RASIO PERBANDINGAN NILAI PERHITUNGAN KERUGIAN RATA-RATA TAHUNAN AKIBAT BENCANA TERHADAP KETERSEDIAAN ANGGARAN DAERAH KABUPATEN/KOTA DI PULAU JAWA
Pulau Jawa merupakan wilayah dengan intensitas kejadian bencana tertinggi di Indonesia, baik dari aspek frekuensi maupun tingkat kerugian yang ditimbulkan. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor geologi, iklim tropis, serta tekanan pembangunan dan kepadatan penduduk yang tinggi. Berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan letusan gunung api tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga berimplikasi terhadap ketahanan fiskal daerah dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur besarnya beban risiko fiskal yang ditanggung oleh masing-masing kabupaten/kota di Pulau Jawa, serta menganalisis hubungan antara potensi kerugian akibat bencana dengan kapasitas anggaran daerah melalui pendekatan statistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pemodelan probabilistik risiko bencana berbasis data bahaya (hazard), eksposur (exposure), dan kerentanan (vulnerability) yang disesuaikan untuk dua jenis eksposur bangunan, yaitu fasilitas pendidikan dan kesehatan. Nilai kerugian rata-rata tahunan yang dihasilkan yang dihasilkan kemudian dianalisis terhadap data anggaran daerah dari 119 kabupaten/kota di Pulau Jawa tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah di Pulau Jawa tergolong dalam kelas risiko fiskal sedang. Namun, terdapat ketidaksesuaian antara hasil klasifikasi dan intensitas risiko spasial berdasarkan peta heatmap. Beberapa wilayah yang secara klasifikasi berada di kelas sedang justru menunjukkan tingkat tekanan fiskal yang tinggi secara spasial, ditunjukkan oleh nilai rasio kerugian rata-rata tahunan terhadap kapasitas fiskal yang menonjol. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas fiskal tidak selalu sebanding dengan potensi risiko yang dihadapi, sehingga diperlukan intervensi fiskal yang lebih adaptif, terutama bagi daerah dengan kapasitas fiskal terbatas namun tingkat ancaman bencana yang tinggi.
PENGEMBANGAN SEDERHANA TABEL KRITERIA SELEKSI UNTUK CARBON CAPTURE AND STORAGE MELALUI INTEGRASI NILAI PARAMETER GEOLOGI DAN RESERVOIR
As the energy sector transitions towards decarbonization, Carbon Capture and Storage (CCS) has emerged as a key technology to reduce CO? emissions from industrial and petroleum operations. This study aims to develop a comprehensive CCS screening criteria table by evaluating key geological and reservoir parameters that influence the success of CCS projects. The table integrates ten critical parameters, including formation type, porosity, permeability, reservoir thickness, Young’s modulus, Poisson’s ratio, depth, temperature, trap type, and seal capacity, based on evaluations of five international CCS projects (Sleipner, Snøhvit, In Salah, Gorgon, and Santos Basin). A scoring system is introduced to classify site suitability. To validate the framework, the screening table was applied to four prospective CCS fields in Indonesia. The results show that all fields exceeded the viability threshold, confirming their potential for CCS development. This framework serves as a decision-making method for early stage CCS planning in Indonesia.
KAJIAN PROBABILISTIK BAHAYA TSUNAMI DI KEPULAUAN SUNDA KECIL
Kepulauan Sunda Kecil (Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) merupakan wilayah yang berada di antara tiga sumber seismik, yaitu zona subduksi, fold thrust back (FTB), dan sistem patahan naik back-arc di utara. Kombinasi aktivitas dari ketiga sumber ini membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap bencana tsunami. Tingginya populasi di wilayah pesisir serta keberadaan infrastruktur penting di kawasan ini menambah urgensi dalam melakukan kajian bahaya tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) menggunakan pendekatan fungsi Green berbasis data simulasi dari Shallow Water Equation (SWE). Sebanyak 10.120 skenario tsunami dikembangkan dari 9 sumber patahan dengan distribusi slip stokastik dengan metode Von Karman. Seluruh patahan dibagi menjadi 108 subfault, untuk memperkirakan respons gelombang tsunami di 255 titik lokasi tinjau. Tinggi tsunami maksimum dari seluruh skenario mencapai hingga 64 m, dengan rerata tertinggi di titik tinjau ialah 1,31 m. Lokasi dengan frekuensi kejadian per tahun tertinggi untuk gelombang ?1 m di antaranya adalah Jembrana, Buleleng (Bali), Sumbawa bagian utara dan selatan (Nusa Tenggara Barat), serta Sikka dan Manggarai Barat (Nusa Tenggara Timur). Peta bahaya tsunami (hazard maps) menunjukkan bahwa pada periode ulang 2475 tahun terdapat lebih dari 57% lokasi yang mengalami gelombang tsunami >3 m, dengan nilai maksimum mencapai >11 m. Sumber gempa dari zona subduksi Bali, Sumbawa Thrust, Flores Thrust dan Timor FTB menjadi kontributor dominan terhadap kejadian tsunami signifikan untuk 20 lokasi strategis.
PERENCANAAN MITIGASI BENCANA TSUNAMI AKIBAT GEMPA BUMI DI KEK MANDALIKA
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebagai destinasi pariwisata super prioritas, memiliki potensi bahaya gempa bumi dan tsunami yang signifikan akibat lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif dan berdekatan dengan segmen megathrust Jawa 3 serta Sumba. Analisis skenario terburuk melalui pemodelan menunjukkan potensi gempa bumi dapat mencapai magnitudo 9.08 Mw. Pemodelan tsunami dengan perangkat lunak Delft3D memprediksi tinggi gelombang maksimum dapat mencapai 24,4 meter di laut dan tinggi genangan di daratan hingga 19,8 meter, dengan waktu tiba gelombang di area Sirkuit Mandalika sekitar 25-28 menit pasca-gempa. Meskipun terdapat perbukitan yang dapat berfungsi sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES), analisis peta genangan dan aksesibilitas menunjukkan bahwa beberapa area tribun penonton sirkuit memiliki jarak dan akses yang terbatas untuk evakuasi horizontal secara efektif. Oleh karena itu, penelitian ini merancang sebuah Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) sebagai solusi mitigasi alternatif. BEV ini direncanakan sebagai bangunan multifungsi 4 lantai dengan dimensi 40x100 meter yang mampu menampung 4.000 orang dari tribun yang paling rentan. Struktur bangunan dirancang menggunakan material beton bertulang dan diperhitungkan agar tahan terhadap pembebanan gempa dan berbagai gaya akibat tsunami, seperti gaya hidrodinamis dan impak puing, sesuai standar FEMA P-646 dan SNI yang berlaku.