π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 57 dokumenRE-DESAIN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH REDUCE, REUSE, RECYCLE (TPS 3R) 09 JATISARI MENJADI PUSAT DAUR ULANG (PDU) DAN TAMAN EDUKASI 3R JATISARI DI KECAMATAN JATIASIH, KOTA BEKASI
Kota Bekasi adalah kota yang memiliki landfill terbesar se-Indonesia yang terletak di Kecamatan Bantargebang yang menempati lahan lebih dari 140 hektar. Hal ini menyebabkan minimnya fasilitas pengolahan sampah di luar TPA. Padahal, TPA semakin penuh dan diprediksi memiliki sisa umur yang singkat. Salah satu fasilitas pengolahan sampah yang berhasil adalah TPS 3R 09 Jatisari yang sudah mengolah sampah 4-5 ton/hari dan ikut membantu mengurangi sampah yang diangkut ke TPA. Untuk itu, TPS 3R ini perlu diapresiasi dan dikembangkan lagi dengan redesain menjadi Pusat Daur Ulang (PDU). Melalui pembobotan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), telah terpilih teknologi yang akan diterapkan pada PDU Jatisari adalah Refuse Derived Fuel (RDF) untuk sampah combustible, serta Black Soldier Fly dan Anaerobic Digester untuk sampah biodegredable. Berdasarkan proyeksi, PDU yang dirancang akan menerima sampah sebesar 33,07 ton/hari. Konfigurasi pengolahan yang dilakukan adalah penimbangan, pembongkaran, bag opener, pemilahan manual, pencacahan organik, pengeringan, pencacahan RDF, dan pemilahan berdasarkan ukuran. Selain menjadi fasilitas pengolahan sampah, PDU yang dirancang juga akan menjadi fasilitas edukasi bagi masyarakat mengenai pengelolaan sampah dengan adanya fasilitas edukasi seperti ruang baca, taman bermain, dan mini theatre. PDU meenempati lahan sebesar 2960,98 m2 dengan luas bangunan sebesar 1966,2 m2. Dari rangkaian pengolahan, akan dihasilkan RDF sebanyak 17,59 ton/hari dan larva BSF kering sebanyak 30,85 kg/hari. Biaya pembangunan PDU diestimasikan sebesar Rp3.560.535/m2 dan biaya operasional sebesar Rp215.537/ton sampah. Secara ekonomi, dengan produksi dari pengolahan sampah dan retribusi dari masyarakat proyek ini dinilai layak untuk dilaksanakan.
PERANCANGAN KENDARAAN PENUNJANG MOBILITAS ANTAR OBJEK WISATA DI DAERAH PERBUKITAN SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DAN PENGALAMAN BARU BAGI WISATAWAN (STUDI KASUS EMPAT OBJEK WISATA PERBUKITAN BANDUNG)
Penelitian ini berfokus pada masalah mobilitas di daerah perbukitan Ciwidey, khususnya antara objek wisata Situ Patenggang dan Kawah Rengganis Suspension Bridge. Di area ini, tidak tersedia kendaraan wisata, sehingga wisatawan harus berpindah secara mandiri menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan. Berdasarkan data lapangan, wawancara, dan observasi, terkonfirmasi adanya permasalahan mobilitas di area tersebut. Seluruh wisatawan yang diwawancara menyatakan keinginan untuk adanya kendaraan wisata yang memfasilitasi perpindahan mereka. Namun, agar menguntungkan kedua pihak, pengelola wisata perlu menawarkan nilai tambah atau daya tarik bagi wisatawan yang bersedia membayar lebih untuk layanan ini. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan solusi berupa kendaraan wisata off-road amfibi berbasis listrik. Pemilihan kendaraan listrik didasari oleh keunggulannya yang ramah lingkungan. Kendaraan ini tidak hanya memfasilitasi perpindahan wisatawan, tetapi juga memberikan pengalaman baru berupa kemampuannya beroperasi di darat dan di air. Diharapkan, solusi ini dapat menguntungkan kedua belah pihak, wisatawan mendapatkan fasilitas berpindah dan pengalaman baru yang menarik, sementara pengelola wisata meningkatkan pendapatan dan daya tarik wisata.
PERMASALAHAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA UMKM DI KECAMATAN SOLOKANJERUK
Dalam dunia kerja, tidak terlepas dari kemungkinan adanya risiko kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh sikap pekerja yang kurang peduli terhadap K3. Pada UMKM, tingkat risiko kecelakaan kerja lebih tinggi dikarenakan memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan keuangan sehingga penerapan K3 belum baik. Penerapan K3 menjadi satu hal yang penting untuk diterapkan, termasuk pada UMKM di Kecamatan Solokanjeruk. Namun, terdapat beberapa hambatan dalam penerapan K3, mulai dari pekerja hingga lingkungan kerjanya. Pada penelitian ini, dilakukan evaluasi kondisi lingkungan kerja di 9 UMKM dengan melakukan pengukuran parameter iklim kerja (ISBB), kebisingan, pencahayaan, PM2.5, dan PM10, serta dilakukan evaluasi penerapan K3 dan potensi pengembangan penerapan K3. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian kuantitatif untuk meneliti mengenai pelaksanaan K3 berdasarkan kondisi lingkungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada permasalahan kondisi lingkungan kerja pada UMKM, yaitu kebisingan yang melebihi NAB pada UMKM Konveksi-2 dan Konveksi-3, konsentrasi debu yang melebihi NAB pada UMKM Olahan Makanan-1, Olahan Makanan-2, Konveksi-1, Konveksi-2, Konveksi-3, Telur Asin-2, dan Budidaya, serta tingkat pencahayaan yang kurang memadai pada UMKM Olahan Makanan-2, Olahan Makanan-3, Konveksi-1, Konveksi-3, dan Budidaya. Kemudian, terdapat permasalahan dalam penerapan K3 yang disebabkan oleh kurangnya informasi K3 serta keterbatasan sarana dan prasarana. Untuk itu, diperlukan pengembangan penerapan K3 berdasarkan potensi yang ada pada lingkungan kerja, dimulai dari penggunaan APD, kontrol administratif, dan kontrol teknik. Selain itu, metode manajemen tata letak dianjurkan untuk diterapkan di semua UMKM karena mudah dan ekonomis, guna menunjang kebersihan, kenyamanan, dan mengurangi risiko bahaya di tempat kerja.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN KERJA DAN FAKTOR INDIVIDU TERHADAP KELELAHAN PEKERJA UMKM (STUDI KASUS : UMKM KECAMATAN SOLOKANJERUK KABUPATEN BANDUNG)
Kelelahan kerja menjadi permasalahan dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang merupakan salah satu faktor terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini berlaku pula pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena melibatkan aktivitas fisik dalam pelaksanaan produksinya. Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi dan analisis terhadap kelelahan kerja pada 30 pekerja berasal dari 9 UMKM yang dikelompokkan menjadi 3 sektor yakni budidaya jamur, makanan, dan konveksi di Kecamatan Solokanjeruk serta faktor lingkungan kerja dan faktor individu yang berpotensi menyebabkan kelelahan pada pekerja. Variabel independen yang diuji pada penelitian ini meliputi faktor individu (usia, riwayat penyakit, kebiasaan merokok, kualitas tidur, status pernikahan, pekerjaan sampingan, masa kerja, periode jam kerja) serta faktor lingkungan kerja (kebisingan, ISBB, dan suhu kering). Pengambilan data kelelahan dilakukan menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), pengukuran intensitas kebisingan dilakukan sebanyak empat waktu menggunakan Sound Level Meter (SLM) dan iklim kerja panas dikur menggunakan QuesTemp 340 pada siang hari karena menjadi waktu yang dirasa paling panas oleh pekerja. Analisis faktor lingkungan kerja yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja adalah kebisingan, sedangkan faktor individu yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja adalah kebiasaan merokok. Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebisingan yakni dengan pengendalian dari sumber, media, dan reseptor serta menerapkan kebiasaan hidup sehat untuk pekerja yang memiliki kebiasaan merokok.
PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH KELURAHAN CIBANGKONG, BATUNUNGGAL, KOTA BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSOLIDASI LAHAN
Manusia dan kebutuhan akan ruang hunian memiliki hubungan yang tak terhindarkan. Ketersediaan ruang yang terbatas tersebut memengaruhi munculnya permukiman kumuh sebagai fenomena global. Dalam konteks ini, Indonesia, khususnya Kota Bandung, dengan kepadatan penduduk tertinggi di Jawa Barat, menghadapi tantangan serius terkait permukiman kumuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan merancang penataan kawasan permukiman kumuh di salah satu wilayah di Kota Bandung, yaitu RW 5 dan RW 11 Kelurahan Cibangkong dengan menggunakan metode konsolidasi lahan vertikal. Metode pengumpulan data yang dilakukan menggunakan data primer terkait observasi dan wawancara serta pengumpulan data sekunder Kemudian metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif kualitatif terhadap identifikasi permukiman kumuh pada kawasan, kondisi fisik dan desain respons kawasan, analisis perhitungan konsolidasi lahan vertikal, dan analisis perancangan terkait ilustrasi rancangan rumah susun hasil konsolidasi lahan vertikal. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa lokasi peenlitian yakni RW 5 dan RW 11 Kelurahan Cibangkong memiliki lingkungan hunian yang kurang memadai sehingga perlu adanya penataan kawasan dengan menggunakan metode konsolidasi lahan vetikal. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan konsolidasi lahan vertikal, terdapat kompensasi 531 unit apartemen milik pada lahan area B dan 1.083 unit apartemen sewa pada lahan area A, serta seluas 3,57 ha lahan equity untuk investasi pada lahan area C. Selanjutnya pada skema pembiayaan untuk pembangunan apartemen milik area B diketahui biaya yang dibutuhkan untuk mengkonversi tanah menjadi satu unit milik adalah seharga Rp. 626.200.525,83.
EVALUASI TINGKAT KEPUBLIKAN (LEVEL OF PUBLICNESS) RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PUBLIK PERKOTAAN DI TEBET ECOPARK DAN TAMAN LAPANGAN BANTENG, DKI JAKARTA
Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kepublikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di kawasan perkotaan dengan studi kasus Tebet Ecopark dan Taman Lapangan Banteng. Pentingnya RTH sebagai komponen krusial dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan melalui ruang interaksi sosial dan lingkungan yang sehat. Sasaran penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi indikator yang mempengaruhi tingkat kepublikan RTH, menilai tingkat kepublikan pada kedua lokasi studi, dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan efektivitas penggunaan RTH oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik deskriptif dan inferensial untuk mengidentifikasi dan mengukur indikator kepublikan dengan metode VIKOR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti aksesibilitas, keberagaman aktivitas, keamanan, dan kenyamanan sangat mempengaruhi tingkat kepublikan RTH. Tebet Ecopark dan Taman Lapangan Banteng memiliki tingkat kepublikan yang berbeda karena perbedaan dalam manajemen, fasilitas, dan partisipasi masyarakat. Studi ini menemukan bahwa strategi pengembangan yang efektif untuk meningkatkan kepublikan RTH melalui peningkatan aksesibilitas, diversifikasi aktivitas, peningkatan keamanan, dan keterlibatan komunitas. Inovasi penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan berbagai indikator kepublikan dalam menilai RTH di kawasan perkotaan Jakarta. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur mengenai pengelolaan RTH publik di perkotaan dan dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dan praktisi dalam mengembangkan RTH yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
PEMANFAATAN NATA DE COCO SEBAGAI BAHAN BAKU MATERIAL KULIT ALTERNATIF
Industri tekstil menghadapi tantangan lingkungan yang serius, termasuk industri kulit yang menjadi salah satu material yang umum digunakan pada kehidupan sehari-hari ini menjadi salah satu penghasil polusi terbesar baik berupa limbah padat maupun limbah cair yang dihasilkan dari proses penyamakan, serta berkontribusi besar pada emisi gas rumah kaca. Melihat dampak lingkungan yang dihasilkan, adanya kebutuhan untuk mencari kebutuhan alternatif material yang berkelanjutan, salah satu potensi solusi adalah penggunaan microbial-cellulose dari air kelapa atau biasa disebut nata de coco. Nata de coco memiliki kemurnian yang tinggi, kristalinitas tinggi, hingga morfoogi yang bersifat nano, sehingga memungkinkan untuk menjadi salah satu bahan untuk membuat material alternatif. Melalui metode eksperimen dengan menambahkan zat-zat aditif seperti gliserin, lateks, hingga penggabungan dengan material lain, dapat meningkatkan sifat mekanis yang dimiliki oleh nata de coco. Berdasarkan uji tarik yang dilakukan, nata de coco memiliki kekuatan tarik sebesar 95.14 N/mm2 yang apabila dibandingkan dengan kulit sapi dengan kekuatan tarik sebesar 39.5 N/mm2 . Jaket kulit merupakan salah satu produk andalan yang dihasilkan dari material kulit, maka dari itu produk ini dipilih sebagai produk pengaplikasian material nata de coco. Nata de coco memiliki potensi untuk dijadikan produk fesyen berupa material kulit alternatif, dilihat dari sifat mekanis yang dihasilkan setelah perlakuan-perlakuan, dalam konteks fesyen berkelanjutan, penggunaan nata de coco sebagai produk fesyen dapat membantu mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari industri fesyen dengan melihat bahan baku yang digunakan.
PERANCANGAN HEALING RESORT UNTUK LANSIA DENGAN PENDEKATAN THERAPEUTIC DESIGN DI UBUD, BALI
Penelitian ini bertujuan untuk merancang healing resort bagi lansia dengan pendekatan therapeutic design di Ubud, Bali. Lansia sering menghadapi berbagai masalah kesehatan baik fisik maupun mental sehingga membutuhkan lingkungan yang dapat mendukung proses penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Ubud, dengan suasana alam yang tenang dan kekayaan budayanya menjadi lokasi ideal untuk perancangan ini. Melibatkan pendekatan terapeutik, perancangan ini bertumpu pada 3 konsep yakni : Care in community, Design for domesticity, Integrated with nature. Metodologi penelitian yang digunakan mencakup studi literatur dilengkapi dengan observasi lapangan guna memahami keadaan lansia dan kebutuhan khusus mereka. Data yang diperoleh diolah secara deskriptif kualitatif dan dipaparkan dalam bentuk penjelasan serta tabel. Hasil perancangan akan diimplementasikan dalam perancangan ruang, fasilitas dan program aktivitas yang optimal untuk mencapai tujuan penyembuhan kesejahteraan lansia. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi pusat pemulihan yang efektif bagi lansia, serta menjadi panduan bagi pengembangan fasilitas serupa dengan penggunaan desain yang sesuai untuk kesejahteraan lansia.
ANALISIS PERUBAHAN SOUNDSCAPE DI LINGKUNGAN PERUMAHAN AKIBAT TRANSISI DARI KENDARAAN BERMESIN BAKAR KE KENDARAAN LISTRIK DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERSEPSI MASYARAKAT
Pada lingkungan perumahan, kualitas akustik merupakan salah satu aspek penting yang dapat memengaruhi kenyamanan penghuni. Oleh karena itu, perumahan diharapkan memiliki kualitas akustik yang baik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Hal ini disebabkan oleh kebisingan lalu lintas yang didominasi oleh suara kendaraan bermesin bakar atau internal combustion engine vehicle (ICEV). Selain mengurangi polusi udara akibat emisi yang dihasilkan ICEV, perkembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga mengurangi polusi suara. Untuk mengetahui seperti apa perubahan kondisi soundscape pada lingkungan perumahan di Indonesia dan bagaimana dampaknya terhadap persepsi masyarakat, dilakukan penelitian yang menggunakan eksperimen laboratorium berupa simulator soundscape dan uji persepsi. Simulator soundscape yang dibuat tersusun dari antarmuka simulator yang dibuat dengan Pure Data, perangkat lunak Reaper, LoopMIDI, dan delapan buah speaker. Responden diminta untuk membuat tiga komposisi soundscape pada lingkungan perumahan masing-masing, yaitu satu komposisi aktual dan dua komposisi ideal dengan tipe kendaraan ICE dan EV dan menilai masing-masing komposisi tersebut. Data level suara dan hasil uji persepsi yang didapat menunjukkan kondisi soundscape aktual lingkungan perumahan yang didominasi oleh suara aktivitas manusia dan kendaraan, serta memiliki level suara yang tinggi. Pada soundscape ideal ICEV, terjadi penurunan penggunaan komponen suara klakson dan knalpot dan penurunan level suara keseluruhan. Soundscape ideal EV menunjukkan hasil mirip dengan ideal ICEV, tetapi mengalami peningkatan penggunaan dan kenaikan level suara kendaraan karena faktor keamanan EV yang memiliki suara yang lebih halus. Penurunan level suara pada aktivitas manusia dan kendaraan menghasilkan perasaan menyenangkan pada persepsi masyarakat, tetapi EV dengan level tinggi tidak menimbulkan perasaan mengganggu. Suara alam merupakan suara yang paling disukai pada semua soundscape dan suara kendaraan merupakan suara yang paling tidak disukai pada soundscape aktual dan ideal ICEV, tetapi pada soundscape ideal EV suara yang paling tidak disukai adalah suara aktivitas manusia. Kata kunci: soundscape, perumahan, kendaraan listrik, simulator, persepsi
CATALYST FOR CHANGE: DESAIN PUSAT PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DI RANCAEKEK
Masalah mengenai sampah bukan lagi masalah baru yang dihadapi oleh hampir semua kota di Indonesia. Di Indonesia, banyak lokasi TPA yang mengalami kelebihan muatan yang menyebabkan sampah-sampah di TPS tidak dapat terangkut dan membuat sampah menumpuk. Tumpukan sampah ini akan menjadi musibah dan memberikan dampak negatif yang besar bagi lingkungan serta kehidupan masyarakat bila tidak ditangani sesegera mugkin. Diperlukan solusi yang komprehensif untuk menangani masalah sampah ini. Salah satu caranya adalah dengan menyelesaikan sampah sedini mungkin pada sumbernya. Setiap individu masyarakat sebagai produsen sampah memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Perlu ada perubahan pandangan masyarakat tentang pengelolaan sampah yang awalnya βkumpul-angkut-buangβ menjadi βpilah-angkut-proses-jualβ sehingga dengan adanya perubahan pandangan ini membuat pengelolaan sampah tidak lagi bergantung pada TPA dan dapat meminimalkan pengangkutan sampah ke TPA. Maka dari itu, sebagai upaya dalam merespons masalah sampah di Indonesia, kontribusi arsitektur adalah dengan menghadirkan fasilitas pengelolaan dan pengolahan sampah yang dapat memfasilitasi masyarakat untuk mengolah sampah, khususnya sampah organik, sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat. Melalui fasilitas pengelolaan dan pengolahan sampah organik dalam skala kecamatan, masyarakat diajak untuk menjadi bagian dalam solusi pengelolaan sampah dengan sekelompok komunitas sebagai inisiator. Selain itu, fasilitas ini juga memiliki fungsi edukatif dan rekreatif yang turut menunjang dalam memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya mengelola sampah sejak dari sumbernya. Fasilitas ini diharapkan dapat memantik masyarakat dan menjadi katalisator dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan melalui pengelolaan dan pengolahan sampah organik.
PRINSIP PENATAAN ULANG KAWASAN PASAR KEMIRI MUKA KOTA DEPOK
Pasar rakyat memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal, namun persoalan seperti persampahan, aksesibilitas yang buruk, dan keamanan yang rendah, dapat mereduksi potensinya. Pasar rakyat yang identik dengan citra kumuh dan kotor juga dirasakan pada Kawasan Pasar Kemiri Muka Kota Depok, yang mengalami kondisi bangunan tidak layak, ketidakteraturan, dan ketidanyamanan. Padahal pasar ini merupakan pasar terbesar di Kota Depok yang letaknya strategis dekat Stasiun Depok Baru. Kondisi ini tentunya memengaruhi aktivitas perekonomian di pasar dan pendapatan pedagang, terlebih saat ini banyak pilihan tempat berbelanja yang lebih tertata dan bersih. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun prinsip penataan ulang Kawasan Pasar Kemiri Muka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratori, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, tinjauan literatur, dan studi preseden. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan normatif dan berorientasi pada permintaan serta penawaran dengan metode studi kasus dan grounded theory. Penelitian ini diawali dengan penyusunan prinsip normatif pada kawasan pasar rakyat yang kemudian akan dibandingkan dengan kasus pada Pasar Kemiri Muka berdasarkan karakteristik, potensi, persoalan, serta persepsi dan preferensi penggunanya. Selanjutnya akan diidentifikasi kebutuhan kawasan untuk penyusunan kriteria, komponen, dan prinsip penataan ulang Kawasan Pasar Kemiri Muka. Implikasi penelitian ini adalah memberikan panduan bagi pemerintah daerah, pengembang, dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan penataan ulang Kawasan Pasar Kemiri Muka Kota Depok. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi landasan bagi upaya peningkatan kualitas lingkungan pasar dan meningkatkan kesejahteraan pedagang serta masyarakat pengguna pasar.
EVALUASI MATURITY MITIGASI RISIKO ENVIRONMENTAL, SOCIAL, AND GOVERNANCE (ESG) DAN SAFETY CLIMATE DI PT. PERTAMINA EP CEPU ZONA 12 JAMBARAN TIUNG BIRU
Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi instrumen yang berkembang pesat di seluruh dunia, dipicu oleh komitmen untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan sebagaimana tercantum dalam Paris Agreement 2015. Perusahaanperusahaan, termasuk Pertamina di Indonesia, semakin menekankan pentingnya ESG dalam kegiatan bisnis mereka karena potensi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pertamina, yang telah mencapai skor ESG yang baik. Namun, proyek-proyek strategis, seperti Jambaran Tiung Biru di Pertamina EP Cepu, juga dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, pekerja, dan masyarakat sekitar. Risiko lingkungan dan sosial dapat mempengaruhi keberlanjutan perusahaan, sementara safety climate berperan dalam keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan berbagai pihak di Pertamina EP Cepu. Metodologi penelitian ini mencakup studi literatur, studi lapangan di Pertamina EP Cepu, pemetaan persebaran kuesioner NOSACQ-50 untuk menilai safety climate, dan identifikasi elemen Environmental and Social Management System (ESMS) menggunakan toolkit. Selanjutnya, penelitian akan mengukur maturity ESMS dan menyusun Improvement Plan berdasarkan hasil penilaian. Penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman lebih lanjut tentang kesiapan Pertamina EP Cepu dalam mengelola risiko lingkungan dan sosial, serta meningkatkan safety climate di lingkungan kerja. Hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan demi keberlanjutan bisnis, kesejahteraan pekerja, dan keberlanjutan lingkungan.