π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenANALISIS SENSITIVITAS GEOMETRI DAN LUAS POLA SUMUR TERHADAP KINERJA INJEKSI KIMIA PADA RESERVOIR KONSEPTUAL BERTIPE CHANNEL FINING-UPWARD
This study evaluates the performance of surfactant, polymer, and alkaline-surfactant-polymer (ASP) flooding in a conceptual channel fining-upward sandstone reservoir. The objectives are to identify the scenario with the highest recovery factor and the scenario with the best economic performance under consistent reservoir, operating, chemical, well-pattern, and screening-level economic assumptions. The study focuses on pattern geometry and pattern area as the main development variables, while maintaining a common chemical-slug design to support fair scenario comparison. A three-dimensional conceptual reservoir model was built with vertical permeability contrast to represent a channel fining-upward system. The waterflood base case was simulated from 2000 to 2020 and used as the reference case. CEOR scenarios applied water injection from 2000 to 2010, followed by a 0.3 porevolume- injected chemical slug and chase water until 2020. The scenario matrix included inverted five-spot and inverted nine-spot patterns at 96-acre, 24-acre, and 6-acre pattern areas. Performance was evaluated using recovery factor, incremental oil, pressure response, voidage replacement ratio, oil saturation distribution, and screening-level economic indicators. The waterflood base case reached 17.81% recovery factor and 1.48 MMbbl cumulative oil production. The highest technical recovery was obtained from Scenario 5-ASP, a 6-acre inverted five-spot ASP case, with 76.50% final recovery factor, 58.69% incremental recovery factor, and 4.88 MMbbl incremental oil. However, the highest recovery case was not the best economic case. Scenario 3-ASP, a 24-acre inverted five-spot ASP case, gave the highest NPV10 of 59.13 MMUSD and IRR of 62.80%. These results show that CEOR scenario selection should balance recovery improvement with development cost, well count, liquid-handling requirement, chemical cost, and the practical development intensity required to deliver the recovery target. Therefore, the preferred scenario should be selected from an integrated technical-economic ranking rather than recovery factor alone.
PERANCANGAN FILM ANIMASI 3D MULTI-PANEL IMERSIF DALAM MENYAMPAIKAN MISPERSEPSI KELUARGA KEPADA USIA REMAJA HINGGA DEWASA MUDA
Miskomunikasi dalam keluarga merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi hubungan emosional serta menghambat terbentuknya pemahaman antaranggota keluarga. Perbedaan pengalaman hidup, latar belakang emosional, dan gaya komunikasi, terutama antara figur pengasuh dan anggota keluarga yang lebih muda, sering kali memicu kesenjangan pemahaman yang berdampak pada dinamika keluarga secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media storytelling dengan penyajian imersif melalui projection mapping pada tiga panel sebagai sarana reflektif dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga (family values), khususnya empati, komunikasi, kasih sayang, dan pengorbanan. Metode perancangan dilakukan melalui kajian literatur, wawancara mendalam dengan narasumber, serta analisis dinamika komunikasi keluarga. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk miskomunikasi, serta nilai-nilai keluarga yang menjadi landasan dalam pengembangan narasi. Proses perancangan mengikuti pendekatan design thinking untuk mengembangkan konsep visual dan storytelling yang relevan dengan isu yang diangkat. Hasil perancangan berupa film pendek animasi 3D yang disajikan menggunakan sistem projection mapping pada tiga panel sehingga menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif melalui perpaduan narasi, visual, dan tata suara. Berdasarkan evaluasi terhadap audiens, pendekatan tersebut membantu menyampaikan konflik keluarga melalui sudut pandang setiap karakter tanpa menempatkan salah satunya sebagai pihak yang sepenuhnya benar atau salah, sekaligus mendorong pengalaman menonton yang lebih reflektif. Perancangan ini menunjukkan bahwa storytelling animasi 3D imersif dapat menjadi alternatif media komunikasi visual dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga melalui pengalaman emosional yang mendukung refleksi audiens.
COMPARATIVE STUDY OF PASSENGER SAFETY BETWEEN CABLE BARRIERS AND W-BEAM GURDRAILS DURING CAR CRASHES
Pemilihan pembatas jalan raya di Indonesia saat ini masih didasarkan pada bukti komparatif yang terbatas, meskipun pembatas kabel, pagar pengaman W-beam, dan pembatas beton semuanya diakui dalam peraturan lalu lintas jalan nasional. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan membuat dan membandingkan model tabrakan elemen hingga dari pembatas kabel dan pagar pengaman balok-W, yang masing-masing ditabrak oleh mobil sedan Toyota Camry model 2012 dalam kondisi uji TB32 yang ditentukan dalam EN 1317 (110 km/jam, 20Β°, 1.500 kg). Kedua simulasi dijalankan di Ansys LS-DYNA dan validitasnya diverifikasi melalui perilaku keseimbangan energi serta waktu intrusi sebelum hasilnya dapat diandalkan. Data percepatan dari setiap uji coba disaring β menggunakan filter Butterworth empat kutub tanpa fase berfrekuensi 13 Hz untuk Indeks Keparahan Percepatan (ASI), dan filter CFC60 untuk saluran kecepatan β serta digunakan untuk menghitung probabilitas cedera penumpang berdasarkan model korelasi Meng dan Untaroiu (2020). Penghalang kabel menghasilkan ASI sebesar 4,328, yang berarti probabilitas cedera AIS3+ berkisar antara 0,066 (paha) hingga 0,999 (dada). Pagar pengaman W-beam menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dalam hal ini, dengan ASI mencapai 45,684 dan secara efektif probabilitas 1 di setiap bagian tubuh yang dievaluasi. Menariknya, pagar pengaman tersebut lebih efektif dalam meredam energi kinetik kendaraan: dalam waktu 79 ms, kecepatan mobil telah berkurang menjadi 27,288 m/s dan energinya menjadi 424,6 kJ, dibandingkan dengan 29,031 m/s dan 482,8 kJ untuk penghalang kabel. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pagar pengaman tipe W-beam lebih kaku dan mampu menyerap lebih banyak energi dari benturan, kekakuan yang sama justru menimbulkan beban deselerasi yang jauh lebih berat bagi penumpang β sehingga pagar kabel menjadi pilihan yang lebih aman di antara keduanya dalam skenario tabrakan spesifik ini. Temuan-temuan ini dimaksudkan untuk mendukung pembahasan kebijakan di masa mendatang mengenai standar pagar pengaman untuk jalan tol di Indonesia.
ANALISIS NUMERIK KINERJA INJEKTOR VENTURI PADA SISTEM BIOFLOK DENGAN VARIASI DIAMETER LEHER, KECEPATAN, DAN VISKOSITAS
Penerapan sistem bioflok dengan padatan tersuspensi tinggi menuntut tingkat aerasi optimal, tetapi memicu peningkatan viskositas air yang menurunkan efisiensi aerator konvensional. Injektor venturi menjadi alternatif yang efektif, tetapi alat ini sangat sensitif terhadap anomali hidrodinamika seperti aliran restriksi (flow restriction) dan semburan balik (backflow) akibat penyempitan leher (throat) yang ekstrem. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh variasi diameter leher (2β4 mm), kecepatan aliran masuk (1β5 m/s), dan viskositas fluida (0,001003β0,0016 kg/(m.s)) terhadap kinerja injektor venturi. Analisis dilakukan melalui Computational Fluid Dynamics (CFD) menggunakan ANSYS Fluent 2D planar dengan pemodelan aliran multifasa Volume of Fluid (VOF) dan turbulensi ????????? SST pada kondisi tunak (steady-state). Hasil simulasi menunjukkan laju isapan massa udara optimal tercapai pada diameter leher 2,5 mm sebesar 0,0012 kg/s. Jika dipersempit hingga 2 mm akan memicu terjadinya backflow yang menyebabkan air keluar melalui saluran isap udara sebesar 0,2 kg/s. Peningkatan kecepatan masuk secara linear memperdalam tekanan vakum, sementara kenaikan viskositas fluida turut meningkatkan area efektif aliran. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi panduan rancangan dimensi injektor venturi untuk aplikasi bioflok guna mencegah risiko kegagalan sistem operasional.
ANALISIS KINERJA PERON STASIUN DI JAKARTA: STUDI KASUS STASIUN MRT BENDUNGAN HILIR MENGGUNAKAN MODEL MIKROSIMULASI
Kinerja pergerakan penumpang merupakan elemen krusial dalam sistem transportasi untuk mengakomodasi permintaan mobilitas komuter yang tinggi di kawasan metropolitan Jakarta. Moda transportasi berbasis rel menjadi andalan untuk melayani pergerakan masif tersebut dengan stasiun sebagai titik tumpuannya. Sebagai simpul transit komuter, stasiun mengalami keterangkutan penumpang yang tinggi sehingga menyebabkan kepadatan di area peron yang menghambat kelancaran pergerakan penumpang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pergerakan penumpang di area peron stasiun. Penelitian ini akan dilakukan di Stasiun MRT Bendungan Hilir. Kinerja pergerakan penumpang di area peron stasiun dianalisis melalui model mikrosimulasi pada pergerakan penumpang dengan perangkat lunak PTV Vissim dan Viswalk dengan parameter kinerjanya adalah kerapatan, arus, dan antrean. Elemen yang dimodelkan dalam mikrosimulasi adalah kereta, stasiun, dan penumpang. Kalibrasi dilakukan terhadap penumpang yang divalidasikan terhadap karakteristik berjalan penumpang yang disurvei. Model mikrosimulasi dilakukan pada kondisi eksisting dan dibandingkan dengan skenario peningkatan kinerja berbasis operasional kereta dan alur pergerakan penumpang pada saat kondisi arus maksimum. Kesimpulan yang akan diperoleh pada tugas akhir penelitian ini adalah evaluasi kinerja peron stasiun berdasarkan pemodelan skenario berbasis mikrosimulasi. Pemodelan mikrosimulasi membuktikan bahwa skenario peningkatan kinerja berbasis alur pergerakan penumpang melalui pengubahan fungsi tangga/eskalator dapat memperbaiki redistribusi penumpang sehingga meningkatkan kinerja pergerakan penumpang dengan menurunnya tingkat kerapatan, arus, dan antrean di area peron stasiun. Skenario peningkatan kinerja berbasis operasional kereta mencakup pengurangan headway, penambahan dwell time, dan pengubahan fungsi pintu serta skenario kombinasi akan efektif dilakukan apabila kondisi penumpang di area peron stasiun tidak terlalu padat.
DESAIN DAN KARAKTERISASI SISTEM VISUALISASI MASK ALIGNER
Praktikum fabrikasi semikonduktor merupakan salah satu sarana pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa memahami tahapan proses manufaktur perangkat semikonduktor. Pada salah satu tahapannya terdapat proses fotolitografi yang melibatkan proses mask dan wafer alignment yang merupakan penyelarasan pola antara photomask dan wafer sebelum dilakukan penyinaran (UV exposure). Fasilitas praktikum di lingkungan perguruan tinggi belum memiliki mask aligner yang fungsional, sementara mask aligner komersial memiliki biaya pengadaan yang tinggi sehingga kurang sesuai untuk kebutuhan pembelajaran. Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan mask aligner edukatif yang terdiri atas beberapa subsistem, meliputi mekanisme pergerakan, sistem visualisasi, sistem pencahayaan, dan sistem pendukung lainnya. Tugas akhir ini difokuskan pada perancangan, implementasi, dan karakterisasi subsistem visualisasi beserta user interface pendukungnya, sebagai bagian dari pengembangan mask aligner yang dilakukan secara berkelompok. Subsistem visualisasi dirancang untuk melakukan akuisisi citra pada area alignment mark photomask dan wafer, kemudian menampilkannya dengan perbesaran yang sesuai untuk mendukung proses mask alignment. Perancangan diawali dengan penentuan spesifikasi teknis, yaitu horizontal field of view (FOV) minimal 2 cm, object space resolution (Rpix) kurang dari 10 ?m/pixel, dan sistem pencahayaan menggunakan panjang gelombang di atas 500 nm agar tidak mengaktifkan photoresist. Konfigurasi optik ditentukan menggunakan modul kamera dengan lensa dengan focal length 80 mm dan sensor berukuran 1/2,33 inci. Melalui analisis parameter optik, working distance disesuaikan menjadi sekitar 24,9 cm untuk mencapai keseimbangan antara luas area pengamatan dan resolusi spasial citra. Sistem pencahayaan direalisasikan menggunakan LED ring light yang dipadukan dengan filter akrilik merah untuk menghasilkan pencahayaan merata pada panjang gelombang di atas ambang aktivasi photoresist. Subsistem user interface dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Python dan library OpenCV, dengan fitur region of interest (ROI) selection, digital zoom, split view, dan crosshair overlay untuk mendukung proses pengamatan dan karakterisasi. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa horizontal FOV yang dicapai adalah 17 mm, sedikit di bawah target 20 mm. Meskipun demikian, konfigurasi tersebut ii menghasilkan object space resolution sebesar 8,854 ?m/pixel, memenuhi spesifikasi teknis, sehingga perpindahan minimum mekanisme translasi sebesar 10 ?m dapat direpresentasikan sebagai perubahan posisi sekitar 1,129 piksel pada citra dan tetap dapat diamati pengguna. Pengurangan FOV dipilih sebagai kompromi karena posisi alignment mark pada desain mask yang umum digunakan cenderung berada di bagian dalam area photomask, sehingga tidak mengurangi fungsi utama sistem. Pada sisi user interface, seluruh fitur yang direncanakan yaitu split view, digital zoom, ROI selection, dan crosshair overlay berhasil diimplementasikan dan berfungsi sesuai kebutuhan, memungkinkan alignment mark pada photomask dan wafer diamati secara simultan dalam satu tampilan. Karakterisasi sistem pencahayaan turut menunjukkan bahwa spektrum LED ring light memiliki puncak intensitas pada panjang gelombang di atas 500 nm, sehingga aman terhadap aktivasi photoresist selama proses pengamatan berlangsung. Berdasarkan hasil tersebut, subsistem visualisasi yang dikembangkan berhasil diintegrasikan dengan sistem mask aligner secara keseluruhan dan mampu memenuhi kebutuhan fungsional utama proses alignment, meskipun target field of view belum sepenuhnya tercapai. Hasil tugas akhir ini diharapkan dapat mendukung pengembangan mask aligner edukatif yang lebih terjangkau untuk kebutuhan praktikum fabrikasi semikonduktor di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan lanjutan, seperti penerapan konfigurasi dual camera untuk mengurangi trade-off antara FOV dan resolusi spasial.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT TRACHYPITHECUS AURATUS, PRESBYTIS COMATA DAN MACACA FASCICULARIS DI TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI
Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) merupakan habitat penting bagi berbagai spesies primata di Jawa Barat yang saat ini menghadapi tekanan akibat perubahan tutupan lahan, perambahan, fragmentasi habitat, dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat sehingga diperlukan informasi mengenai distribusi habitat yang sesuai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian habitat tiga spesies primata, yaitu Trachypithecus auratus, Presbytis comata, dan Macaca fascicularis, di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK), mengidentifikasi preferensi habitat masing-masing spesies berdasarkan variabel lingkungan yang berpengaruh, serta menganalisis tingkat tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies. Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Barat yang menghadapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dan aktivitas antropogenik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai distribusi habitat potensial dan tumpang tindih habitat antarspesies menjadi input penting dalam perencanaan konservasi yang efektif dan berkelanjutan. Pemodelan kesesuaian habitat dilakukan menggunakan Maximum Entropy (MaxEnt), yang merupakan metode berbasis machine learning dan dirancang untuk menggunakan data kehadiran spesies saja (presence only) sebagai variabel distribusi. Penelitian ini menggunakan kombinasi berbagai variabel lingkungan yang diduga memengaruhi distribusi spesies, meliputi faktor topografi (elevasi dan kemiringan lereng), tutupan lahan, serta jarak terhadap fitur antropogenik seperti kebun dan pemukiman. Seluruh variabel lingkungan diproses dalam format raster dengan resolusi spasial yang seragam untuk memastikan konsistensi analisis. Evaluasi performa model dilakukan menggunakan nilai Area Under the Curve (AUC) dari kurva Receiver Operating Characteristic (ROC), yang umum digunakan untuk menilai akurasi prediksi model distribusi spesies. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa model MaxEnt memiliki kinerja yang baik dalam memprediksi distribusi habitat potensial ketiga spesies primata. Nilai AUC yang diperoleh masing-masing sebesar 0,842 untuk Trachypithecus auratus, 0,773 untuk Presbytis comata, dan 0,826 untuk Macaca fascicularis, yang mengindikasikan tingkat akurasi model berada dalam kategori sedang hingga baik. Perbedaan nilai AUC antarspesies mencerminkan variasi kompleksitas relung ekologis serta sensitivitas masing-masing spesies terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, kontribusi variabel lingkungan terhadap model menunjukkan adanya perbedaan preferensi habitat pada setiap spesies, yang berkaitan dengan karakteristik ekologis dan perilaku masing-masing. Distribusi spasial kesesuaian habitat menunjukkan bahwa area dengan nilai kesesuaian tinggi tersebar secara tidak merata di dalam kawasan penelitian. Trachypithecus auratus dan Presbytis comata cenderung memiliki distribusi habitat yang lebih terkonsentrasi pada area dengan kondisi hutan yang relatif baik dan minim gangguan, sedangkan Macaca fascicularis menunjukkan distribusi yang lebih luas dan mampu menempati area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Macaca fascicularis memiliki toleransi ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua spesies lainnya. Analisis tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies menunjukkan adanya variasi tingkat kesamaan preferensi habitat. Tumpang tindih yang relatif tinggi ditemukan antara Trachypithecus auratus dan Presbytis comata, yang mengindikasikan adanya kesamaan dalam preferensi habitat serta potensi interaksi dalam pemanfaatan sumber daya. Di sisi lain, tumpang tindih antara kedua spesies tersebut dengan Macaca fascicularis cenderung lebih rendah, yang mencerminkan perbedaan dalam strategi adaptasi terhadap lingkungan. Pola ini mengindikasikan adanya mekanisme pembagian relung (niche partitioning) yang memungkinkan ketiga spesies untuk hidup berdampingan dalam satu lanskap tanpa terjadi kompetisi yang berlebihan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga heterogenitas habitat dalam mendukung keberlangsungan berbagai spesies primata di kawasan konservasi. Area dengan tingkat kesesuaian habitat tinggi serta memiliki nilai tumpang tindih antarspesies yang signifikan perlu menjadi prioritas dalam pengelolaan kawasan, karena berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Selain itu, keberadaan area dengan tekanan antropogenik yang tinggi juga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi dampak terhadap habitat satwa. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pendekatan pemodelan distribusi spesies berbasis spasial, khususnya dalam konteks konservasi primata di Indonesia.
PERANCANGAN DESAIN ALAT BANTU PASIEN DE QUERVAIN'S TENOSYNOVITIS DI INDONESIA PADA INSTRUMEN ADL
De Quervainβs Tenosynovitis (DQT) adalah kondisi tendinopati pada daerah ibu jari dan pergelangan tangan yang sering muncul akibat gerakan repetitif dan postur ergonomis yang buruk, sehingga mengganggu kemampuan melakukan Instrumental Activities of Daily Living (ADL). Di Indonesia, keterbatasan akses terhadap alat bantu yang dirancang khusus untuk DQT dan solusi yang mendukung aktivitas menggenggam dalam konteks sehari-hari menjadi masalah yang perlu ditangani. Permasalahan yang dikaji dalam tugas akhir ini adalah: bagaimana merancang Splint Ergonomis dan Estetis yang secara pasif mengalihkan distribusi beban genggaman dari pangkal ibu jari tanpa membatasi fungsionalitas tangan dalam aktivitas harian pada penderita DQT? Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi prototipe alat bantu untuk pasien DQT. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif. Tahapan penelitian meliputi: 1) mengidentifikasi kebutuhan melalui observasi lapangan klinis dan wawancara mendalam dengan dokter ortopedi, praktisi ergonomi, dan pasien DQT; 2) memeriksa kegiatan, aktivitas menggenggam, dan ergonomi pengguna dengan alat bantu; 3) mengkonseptualisasi dan mengembangkan desain dengan menggunakan kerangka pemikiran desain; 4) membuat prototipe dan mock-up; dan 5) melakukan evaluasi awal melalui uji kegunaan. Ulasan singkat terhadap praktik dan perangkat yang ada menunjukkan kecenderungan imobilisasi yang menghambat aktivitas. Oleh karena itu, desain yang diusulkan menekankan dukungan postural yang memungkinkan penyembuhan terkontrol selama pelaksanaan ADL. Hasil pengujian awal prototipe menunjukkan perbaikan subjektif pada nyeri dan fungsi menggenggam serta umpan balik positif terkait kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan potensi keterjangkauan. Kesimpulannya, prototipe alat bantu yang dikembangkan memenuhi kriteria untuk DQT dan layak untuk dilanjutkan pada uji klinis yang lebih luas dan iterasi desain untuk skala lokal.
PERANCANGAN DAN EVALUASI USABILITY SISTEM CUSTOMER SERVICE BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL AGENT (LLM AGENT) DI PT GLOBAL UNGGUL MANDIRI (PAXEL)
Industri logistik yang terus berkembang mendorong PT Global Unggul Mandiri (Paxel) untuk mengandalkan chatbot Hera sebagai garda terdepan pelayanan pelanggan. Namun, chatbot existing berbasis rule-based hanya mencapai bot deflection rate 60% per Februari 2026, di bawah target manajemen sebesar 80%, akibat completion rate yang rendah sebesar 59,05%. Gejala masalah ini disebabkan oleh keterbatasan pencocokan kata kunci, alur percakapan statis, dan ketidakterhubungan dengan knowledge base terpusat. Penelitian ini bertujuan untuk proof of concept chatbot berbasis Large Language Model agent (LLM) agent, menganalisis perbandingan usability antara chatbot berbasis LLM agent (Sistem B) dan chatbot existing berbasis rule-based (Sistem A) berdasarkan kerangka ISO 9241-11, serta merumuskan rekomendasi sistem berdasarkan analisis tersebut. Perancangan sistem usulan dilakukan dengan menggunakan metodologi Framework for the Application of System Thinking (FAST) dengan pendekatan Object Oriented Analysis (OOA) yang disajikan dengan Unified Modelling Language (UML). Sistem usulan mengintegrasikan function/tools Retrieval Augmented Generation (RAG) dan parameterized database query dalam arsitekturnya. Sistem kemudian dievaluasi usability-nya melalui controlled experiment within-subjects terhadap 40 responden untuk mengukur efektivitas dengan metrik Task Completion Rate (TCR), efisiensi dengan Time on Task (ToT), dan kepuasan pengguna dengan Bot Usability Scale (BUS-11). Hasil menunjukkan Sistem B mencapai TCR 100%, lebih cepat hingga 52,9% pada tugas informasi layanan, serta skor BUS-11 sebesar 86,02 (Very Good) dibandingkan Sistem A sebesar 78,38% (Good). Penelitian merekomendasikan Paxel mengembangkan Hera secara in-house, didukung oleh sistem usulan yang lebih baik secara usability dan analisis kelayakan finansial yang positif.
USULAN REKAYASA PROSES BISNIS PRODUK FESYEN BERBASIS TENUN IKAT WARNA ALAM SUMBA TIMUR DI LURITANEA
Luritanea saat ini menghadapi hambatan produktivitas dalam mengekseskusi proses operasional inovasi produk berbasis tenun ikat Sumba βTenun Eco-fashionβ. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pemetaan proses operasional, tanggung jawab masing-masing proses yang belum terdefinisi, dan tidak adanya sistem pengendalian standar kualitas untuk proses operasional. Berdasarkan potensi penyelesaian masalah yang didukung dari penelitian terkait dengan dampak positif penerapan Business Process Reengineering (BPR) yang berorientasi pada standar kualitas untuk menciptakan nilai di mata pelanggan, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rancangan proses bisnis pengembangan produk Tenun Eco-fashion pada Luritanea yang didasarkan pada persyaratan dalam standar ISO 9001. Peneltian ini menggunakan tahapan implementasi BPR yang terdiri dari: persiapan reengineering, pemetaan dan analisis proses bisnis as-is, perancangan proses to-be, dan implementasi hasil reengineering melalui pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015. Pada penelitian ini BPR dilakukan dengan dua pendekatan untuk menghasilkan dua arah perbaikan, yaitu pendekatan clean sheet dan pendekatan systematic reengineering. Pemetaan proses bisnis as-is diawali dengan identifikasi proses bisnis melalui wawancara semi terstruktur yang menghasilkan 6 kategori proses, 24 proses, dan 97 aktivitas. Setelah dilakukan evaluasi terhadap ISO 9001:2015, proses as-is hanya memenuhi 17 dari 63 (26,9%) klausul yang dipersyaratkan. Setelah dilakukan perancangan proses to-be, melalui pendekatan clean sheet dihasilkan 4 proses baru dan 4 proses yang dilakukan perancangan ulang, sedangkan melalui pendekatan systematic reengineering dihasilkan 2 proses dari pembakuan prosedur. Untuk mendukung pemenuhan persyaratan ISO 9001:2015 dihasilkan juga rancangan informasi terdokumentasi yang terdiri 10 dokumen pendukung, 4 formulir, dan 10 prosedur. Dari hasil evaluasi proses bisnis to-be dan rancangan informasi terdokumentasi terhadap ISO 9001:2015, didapatkan pemenuhan 61 dari 63 klausul proses bisnis (96,8%). Penelitian ini menghasilkan rancangan proses bisnis yang didasarkan pada pemenuhan persyaratan dalam standar ISO 9001:2015 dan didokumentasikan dalam pemodelan proses bisnis IDEF9000.
PENGEMBANGAN SISTEM BIKE FITTING BERBASIS SENSOR WEARABLE DAN APLIKASI ANALISIS POSE UNTUK EVALUASI STABILITAS PANGGUL DAN POSTUR TUBUH
Bike fitting merupakan proses penyesuaian posisi sepeda terhadap pengendara untuk meningkatkan efisiensi kayuhan, kenyamanan, serta mengurangi risiko cedera muskuloskeletal. Meskipun penting untuk pencegahan cedera, layanan bike fitting saat ini masih kurang portabel dan mengandalkan sistem laboratorium yang mahal, sehingga sulit dijangkau oleh pesepeda non-atlet. Penerapan bike fitting sejatinya sangat krusial bagi pesepeda rekreasional demi menghindari keluhan muskuloskeletal akibat kesalahan postur yang repetitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem bike fitting hibrida yang dirancang agar lebih mudah diakses (accessible) oleh masyarakat umum melalui solusi yang objektif, portabel, dan terjangkau. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan sensor wearable berbasis Inertial Measurement Unit (IMU) BNO055 pada area sakrum untuk mengukur pelvic rocking dan pelvic tilt, serta aplikasi Android berbasis MediaPipe BlazePose untuk menganalisis postur tubuh secara markerless. Evaluasi sistem meliputi pengujian akurasi, performa, dan pengujian dinamis pada tiga subjek menggunakan mountain bike (MTB) dan road bike dengan tiga variasi tinggi sadel. Hasil validasi menunjukkan sensor IMU memiliki Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,326Β° pada sumbu roll dan 0,626Β° pada sumbu pitch. Estimasi sudut lutut MediaPipe menghasilkan MAE sebesar 4,12Β° (BDC) dan 5,27Β° (TDC). Sistem bekerja dengan sampling rate IMU 78,39 Hz, frame rate MediaPipe 17,6 fps, Bluetooth Low Energy (BLE) latensi median 8,0 ms, packet loss 0%, serta offset sinkronisasi maksimum 34,8 ms. Pengujian dinamis membuktikan sistem mampu mendeteksi perubahan biomekanika akibat variasi tinggi sadel melalui parameter knee angle, pelvic rocking, dan pelvic tilt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hibrida IMU-MediaPipe berhasil menyediakan alat evaluasi data gerak real-time yang andal dan memadai bagi pesepeda rekreasional.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN PELANGGAN PADA CV X
CV X merupakan perusahaan jasa konstruksi yang melayani baik pelanggan business-to-government (B2G) maupun business-to-business (B2B). Sejak pandemi COVID-19, perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Meskipun menunjukkan tren pemulihan, hingga tiga tahun pascapandemi pendapatan belum kembali ke tingkat sebelum pandemi. Kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan dalam menstabilkan kinerja pendapatan perusahaan. Permasalahan ini diindikasikan berkaitan dengan ketiadaan sistem pengelolaan pelanggan yang mengakibatkan hubungan pascaproyek tidak terkelola secara berkelanjutan dan data historis transaksi belum dimanfaatkan secara optimal dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengelolaan pelanggan untuk meningkatkan retensi pelanggan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan analisis data transaksi. Analisis kebutuhan dan penentuan arah perbaikan sistem dilakukan berdasarkan kerangka strategis Customer Relationship Management dengan fokus pada manajemen informasi pelanggan. Selanjutnya, segmentasi pelanggan dilakukan menggunakan metode hierarchical clustering berdasarkan variabel recency, frequency, dan monetary (RFM) yang menghasilkan empat klaster pelanggan, yaitu inactive, new, loyal, dan champion, sebagai dasar penyusunan strategi pelanggan. Perancangan sistem informasi dilakukan menggunakan metode FAST, dengan hasil berupa dashboard berbasis Google Spreadsheet yang mendukung pencatatan data dan pemantauan kinerja pengelolaan pelanggan.