📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 90 dokumenDESAIN PERENCANAAN SUMUR INJEKSI PADA PROGRAM CARBON CAPTURE AND STORAGE (CCS) DI OFFSHORE SUNDA-ASRI BASIN BERBASISKAN GEOSPASIAL ANALISIS PADA DATA SURFACE DAN SUB SURFACE
ABSTRAK Peningkatan emisi karbon dioksida (CO?) menjadi tantangan besar dalam mitigasi perubahan iklim global. Program Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan solusi teknologi dengan menyimpan CO? secara aman di formasi geologi bawah permukaan. Capstone project ini mengusulkan desain perencanaan sumur injeksi berbasis analisis geospasial pada data permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) di Cekungan Sunda Asri, laut Jawa di utara Jakarta. Desain trajectory (lintasan) sumur injeksi dirancang secara 3D menggunakan integrasi data bathymetry, peta struktur kedalaman, dan interpretasi seismik untuk memastikan jalur injeksi yang optimal, aman, dan efisien. Produk kedua yaitu dikembangkan sistem monitoring posisi sumur berbasis teknologi akustik Long Baseline (LBL) untuk mengawasi posisi wellhead dan mendeteksi deformasi lapisan reservoir. Implementasi desain ini bertujuan mendukung keamanan, keberlanjutan, dan efektivitas penyimpanan CO? jangka panjang serta memenuhi standar Measurement, Monitoring, and Verification (MMV). Hasil perancangan diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan CCS di Indonesia dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor CCS di Asia Tenggara.
OPTIMASI KINERJA MIKROGRID CERDAS DENGAN ALGORITMA DEEP Q-NETWORK BERBASIS KERANGKA KERJA DIGITAL TWIN
Perkembangan konsep digital twin (DT) membuka ranah penelitian baru yaitu microgrid digital twin (MGDT). DT dapat dimanfaatkan sebagai lingkungan pengujian kontrol sebelum diimplementasikan secara langsung di sistem Mikrogrid (MG) yang sedang berproduksi. Hal tersebut dimungkinkan karena DT dapat memberikan representasi digital sistem fisik secara akurat, terkini, dan dinamis. Hingga saat ini belum ada yang mengimplementasikan konsep MGDT untuk pengujian Energy Management System (EMS). Bahkan belum ada pengembangan kerangka kerja DT spesifik untuk aplikasi MG. Melihat kondisi tersebut, penelitian ini berkontribusi pada tiga hal: (1) pengembangan kerangka kerja MGDT, (2) pemodelan MG dengan metode informed machine learning (IML), dan (3) desain serta implementasi EMS menggunakan metode Deep Q-Network (DQN) dengan konsep MGDT. EMS mempunyai objektif untuk mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan yang diindikasikan dengan nilai renewable fraction (RF). Kerangka kerja MGDT yang diusulkan menyediakan arsitektur dan peralatan yang memungkinkan pengembangan MGDT. Selanjutnya, sistem MG direpresentasikan dalam tiga state (digital model) yang meliputi produksi daya PV (P_PV), kondisi muatan BESS (SOC), dan daya yang dibutuhkan beban listrik (P_Load). Model dibangun dengan metode informed machine learning (IML) yang mengintegrasikan kaidah fisika ke dalam machine learning (ML). Peningkatan level integrasi dari digital model menjadi digital shadow dilakukan dengan mengimplementasikan model MG pada platform MGDT. Hasil evaluasi model MG berdasarkan indikator kinerja MAE dan RMSE untuk P_PV, SOC, dan P_Load berturut-turut adalah (140,39W; 265,71W), (0,59%; 0,69%) dan (42,50W; 60,97W). Akurasi digital shadow MG tersebut sudah memadai karena masih dalam batas toleransi galat yang diperbolehkan. Digital twin MG dicapai melalui implementasi EMS dengan metode DQN pada platform MGDT. Hasil implementasi EMS-DQN menunjukkan peningkatan battery utilization rata-rata 52% dibandingkan dengan EMS existing yang berbasis rule-based (RB). EMS-DQN mampu meningkatkan renewable fraction rata-rata 7,10% dibandingkan dengan EMS-RB.
MENJELAJAHI ADOPSI ENERGI SURYA DI SEKTOR RESIDENSIAL DI INDONESIA: ANALISIS UNTUK TML ENERGY
Industri pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Indonesia masih menunjukkan tingkat adopsi yang rendah di segmen residensial meskipun adanya dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya perhatian publik terhadap isu keberlanjutan. Penelitian ini membahas permasalahan strategis utama yang dihadapi oleh TMLEnergy, sebuah perusahaan EPC lokal, yaitu penurunan penjualan dan keterbatasan penetrasi pasar di sektor rumah tangga. Kesenjangan antara dukungan kebijakan dan kenyataan di lapangan menunjukkan perlunya kajian terhadap faktor-faktor perilaku yang memengaruhi keputusan pelanggan dalam mengadopsi teknologi PLTS. Permasalahan ini tidak hanya penting dalam konteks strategi bisnis, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian target energi terbarukan nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa kelayakan teknis dan ekonomis tidak serta merta menjamin keberhasilan adopsi teknologi. Faktor-faktor persepsi dan psikologis pengguna memiliki peranan penting dalam membentuk keputusan pembelian. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan kerangka teori Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989). Model ini menjelaskan bahwa Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU) memengaruhi Attitude Toward Use (ATU), yang selanjutnya memengaruhi Behavioral Intention (BI). Dalam konteks PLTS, model ini sangat relevan karena mencerminkan keraguan calon pengguna terhadap manfaat nyata dan kemudahan penggunaan teknologi energi surya. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada responden residensial di berbagai wilayah Indonesia. Tidak digunakan metode statistik inferensial, melainkan penekanan pada analisis deskriptif terhadap pola-pola perilaku pengguna. Kuesioner mencakup pernyataan berskala Likert berdasarkan konstruk TAM, ditambah pertanyaan ya/tidak, pertanyaan peringkat, serta pertanyaan terbuka yang menggali persepsi dan harapan konsumen secara lebih dalam. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana masyarakat menilai teknologi PLTS dari aspek fungsionalitas, kemudahan instalasi, efisiensi biaya, dan kesesuaian dengan nilai dan ekspektasi pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun persepsi terhadap manfaat lingkungan dari PLTS cukup tinggi, masih terdapat kekhawatiran terhadap biaya awal, kompleksitas teknis, dan ketidaktahuan terhadap teknologi tersebut. Perceived Usefulness banyak dikaitkan dengan penghematan jangka panjang dan pengurangan ketergantungan pada listrik PLN, sedangkan Perceived Ease of Use berkaitan dengan persepsi terhadap perawatan dan instalasi sistem. Variabel sikap menunjukkan bahwa meskipun responden mendukung ide energi surya, niat untuk mengadopsinya masih membutuhkan dorongan berupa edukasi, jaminan kualitas, dan skema pembiayaan yang mudah dijangkau. Dari pertanyaan terbuka, ditemukan bahwa calon pengguna mengharapkan transparansi dari penyedia layanan, peran aktif pemerintah dalam memberikan insentif, dan model layanan yang lebih sederhana. Responden juga menyebutkan pentingnya informasi yang terpercaya melalui media sosial, ulasan daring, atau testimoni dari pengguna lain. Berdasarkan temuan ini, perusahaan seperti TMLEnergy disarankan untuk mengembangkan pendekatan pemasaran yang lebih komunikatif, inklusif, dan sesuai dengan persepsi masyarakat. Strategi seperti penawaran bundling, skema cicilan, serta kolaborasi dengan tokoh lokal dan institusi terpercaya dapat meningkatkan daya tarik layanan PLTS. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman adopsi energi surya dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis perilaku dalam inovasi model bisnis. Selain menambah literatur akademik dalam bidang perilaku konsumen energi terbarukan, hasil penelitian ini juga relevan bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan yang ingin mendorong transisi energi di Indonesia secara lebih efektif. Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa strategi bisnis yang berfokus pada pengguna dan dipandu oleh pemahaman perilaku akan lebih efektif dalam mendorong adopsi teknologi PLTS di segmen residensial. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan dalam menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan pasar serta mendukung pencapaian target energi berkelanjutan nasional.
PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DI AREA PASCA TAMBANG PT BUKIT ASAM UNTUK TRANSISI BISNIS ENERGI
Transformasi sektor energi global dan komitmen pemerintah Indonesia terhadap target Net Zero Emission tahun 2060 mendorong PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mendiversifikasi bisnisnya dari pertambangan batubara menuju energi terbarukan. Salah satu inisiatif strategis adalah pemanfaatan lahan pascatambang untuk pembangunan PLTS. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan teknis, finansial, regulasi, dan strategis dari berbagai alternatif kapasitas PLTS serta menentukan konfigurasi paling optimal menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan analisis multi-kriteria. Data primer diperoleh melalui survei lokasi, wawancara ahli, dan kuesioner terhadap 42 responden. Data sekunder berasal dari laporan teknis internal PTBA, peraturan energi nasional, dan hasil simulasi PVsyst. Alternatif kapasitas PLTS yang dievaluasi meliputi konfigurasi 5,5 MWp hingga 12 MWp, dengan dan tanpa Battery Energy Storage System (BESS). Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi PLTS 8 MWp + BESS 2 MWh adalah pilihan paling optimal. Konfigurasi ini memiliki kinerja teknis yang andal, mendukung stabilitas sistem kelistrikan tambang, serta layak secara finansial dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 10,97%, Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 42.723, dan Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,30 dalam skenario moderat. Selain itu, alternatif ini kompatibel dengan strategi keberlanjutan PTBA, memenuhi aspek regulasi (IUPTLS, TKDN, UKL-UPL), dan dapat mendukung target bauran EBT nasional. Rekomendasi implementasi mencakup strategi teknis (desain modular, bifacial dan ground-mounted), pembiayaan campuran termasuk kredit karbon, pengelolaan risiko regulasi, serta rencana eksekusi bertahap hingga operasional pada tahun 2027. Penelitian ini memperkuat pendekatan strategis PTBA dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan lahan pascatambang secara berkelanjutan.
USULAN MODEL BISNIS STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN PEMASARAN DAN PENJUALAN TENAGA LISTRIK MENUJU NET ZERO EMISSION (NZE) 2060 : STUDI KASUS PADA PT PLN (PERSERO) UP3 GUNUNG PUTRI AREA PELAYANAN DISTRIBUSI JAWA BARAT
Komitmen nasional Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 telah menempatkan PT PLN (Persero) khususnya unit UP3 Gunung Putri dalam posisi strategis sekaligus penuh tantangan. Meskipun dukungan kebijakan nasional dan indikator ekonomi semakin mengarah pada adopsi energi terbarukan, pertumbuhan penjualan listrik di wilayah kerja UP3 Gunung Putri belum mencapai target yang diharapkan. Kondisi ini memicu perlunya evaluasi strategis yang lebih dalam, terutama terkait peningkatan penetrasi panel surya, tekanan standar keberlanjutan global, dan persaingan dari penyedia energi terbarukan independen yang kian ketat. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengapa PLN UP3 Gunung Putri belum berhasil mengoptimalkan peluang makro yang tersedia guna mendorong pertumbuhan penjualan listrik. Studi ini berfokus pada tiga tujuan utama: pertama, mengidentifikasi faktor-faktor pendorong maupun penghambat penjualan listrik di wilayah kerja UP3 Gunung Putri, kedua, merumuskan strategi alternatif untuk meningkatkan konsumsi listrik berbasis energi hijau, dan ketiga, menyusun rekomendasi praktis yang dapat menyelaraskan strategi lokal PLN dengan mandat keberlanjutan nasional. Kerangka analisis ini merujuk pada visi transformasi “Empat Moonshot” PLN dalam mendukung dekarbonisasi. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan menggabungkan wawancara semi terstruktur bersama staf internal PT PLN (Persero) dan pelanggan industri tegangan menengah, serta analisis data sekunder yang mencakup tren pemakaian listrik dan dokumen kebijakan energi. Berbagai alat analisis bisnis diterapkan, seperti PESTLE untuk melihat dinamika lingkungan eksternal, Porter’s Five Forces untuk mengevaluasi struktur pasar dan tekanan kompetitif, serta Analisis Pelanggan dan Pesaing. Penyebab internal ketidakcapaian target dijabarkan melalui diagram Ishikawa (Fishbone) berdasarkan kategori 5M+E. Seluruh temuan kemudian dirangkum melalui matriks SWOT dan dikembangkan menjadi strategi melalui TOWS Matrix. Hasil penelitian menunjukkan adanya tantangan yang bersifat multidimensional. Secara internal, sistem CRM yang sudah tertinggal, perpindahan pegawai yang kurang sempurna dalam serah terima informasi, serta indikator kinerja yang tidak mendukung sepenuhnya terkait promosi produk hijau seperti rooftop solar, menjadi penyebab utama lemahnya hubungan PT PLN (Persero) UP3 Gunung Putri dengan pelanggan. Secara eksternal, PT PLN (Persero) UP3 Gunung Putri menghadapi tekanan dari perusahaan EPC panel surya dan broker I-REC yang menawarkan solusi yang lebih terjangkau. Selain itu, rigiditas regulasi dalam mekanisme harga dan bundling turut membatasi kemampuan PLN dalam berkompetisi di sektor industri. Sebagai respon terhadap kondisi tersebut, disusun sebelas strategi terpadu menggunakan matriks TOWS. Beberapa strategi utama mencakup peningkatan sistem CRM dengan kemampuan prediksi, pengembangan paket leasing rooftop solar di bawah kepemilikan PT PLN (Persero), serta promosi agresif terhadap bundling REC dan EV yang didukung oleh sistem penagihan terpusat dan kepercayaan terhadap merek PLN. Setiap strategi dikaitkan dengan unit internal yang relevan dan dirancang dalam rencana implementasi yang memperhatikan aspek teknis, komersial, dan kebijakan. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam memahami bagaimana perusahaan utilitas milik negara dapat beradaptasi di tengah tekanan transisi energi. Dengan pendekatan berbasis data operasional dan visi strategis, kajian ini menyuguhkan peta jalan bagi unit PLN lainnya yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga keberlanjutan bisnis sembari mendukung target NZE 2060 Indonesia.
MENGIDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PENGGUNA TERHADAP LAYANAN ELECTRIC RIDE-HAILING DARI PERSPEKTIF KONSUMEN: STUDI KASUS GORIDE ELECTRIC DI JAKARTA
Elektrifikasi transportasi perkotaan menjadi langkah penting untuk menekan emisi global, terutama di negara berkembang dengan dominasi kendaraan roda dua sebagai sumber utama polusi udara. Di Jakarta, transportasi darat menyumbang hampir 46% emisi kota, dengan sepeda motor mewakili lebih dari 80% kendaraan pribadi. Sebagai platform ride-hailing terdepan di Indonesia, Gojek meluncurkan GoRide Electric sebagai komitmen GoTo Net Zero Emission 2030. Namun, tingkat adopsi konsumen terhadap layanan berbasis listrik ini masih terbatas, menunjukkan kesenjangan kesiapan supply-demand. Penelitian ini mengidentifikasi serta mengevaluasi faktor-faktor utama yang memengaruhi konsumen mengadopsi GoRide Electric di Jakarta. Dengan pendekatan mixed-method, tahap awal dilakukan sintesis literatur dari lima studi peer-reviewed terkait adopsi EV ride-hailing yang menghasilkan 15 sub-variabel. Variabel tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam empat konstruk teoritis: Affordability, Reliability, Environmental Benefit, dan Social Influence. Keempat konstruk tersebut dinarasikan ke dalam 15 butir pertanyaan dalam kuesioner yang kemudian divalidasi melalui survei Skala Likert 4-poin terhadap 141 pengguna aktif Gojek. Data dianalisis secara kuantitatif deskriptif menggunakan SPSS untuk mengetahui tingkat pengaruh masing-masing variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa Environmental Benefit merupakan faktor paling berpengaruh (M = 3,39), diikuti oleh Reliability (M = 3,35). Affordability menempati urutan ketiga (M = 3,15), sedangkan Social Influence menjadi faktor terendah (M = 2,78), yang mengindikasikan lemahnya dorongan sosial dalam mendorong adopsi. Berdasarkan temuan ini, strategi implementasi dikembangkan menggunakan kerangka 5W+1H dengan menyelaraskan rekomendasinya dengan tujuan bisnis jangka panjang GoTo yang diungkapkan dalam publikasi publik GoTo. Strategi dirancang dalam tiga tahapan: perbaikan internal, pembangunan kepercayaan, dan percepatan adopsi. Studi ini menyajikan roadmap untuk membantu Gojek mencapai target 2030-nya, serta memberikan wawasan untuk mendorong adopsi EV ride-hailing di negara berkembang. Kontribusi utama studi ini adalah pada konteks adopsi EV di Asia Tenggara, dengan fokus pada intervensi yang berpusat pada perilaku konsumen.
OPTIMASI PEMILIHAN SKENARIO FASILITAS PRODUKSI GAS DENGAN MENGGUNAKAN SMART-AHP: STUDI KASUS WILELA, PERTAMINA HULU ROKAN ZONA 4
Wilayah Kerja (WK) PEP Sumbagsel menghadapi tantangan krusial dalam menjaga stabilitas pasokan gas hingga tahun 2035 akibat penurunan produksi yang signifikan. Untuk mengatasi masalah ini, pengembangan proyek gas baru, khususnya Struktur Wilela, sangat penting untuk mempertahankan ketersediaan gas dan memastikan kelangsungan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menentukan skenario pengembangan Struktur Wilela yang optimal menggunakan metodologi SMART-AHP (Simple MultiAttribute Rating Technique - Analytic Hierarchy Process). Penelitian diawali dengan penerapan Value-Focused Thinking (VFT) untuk mengidentifikasi tujuan utama dan kriteria evaluasi. Selanjutnya, beberapa alternatif pengembangan dianalisis menggunakan SMART dan AHP, dengan mempertimbangkan kelayakan ekonomi, efisiensi produksi, kesiapan infrastruktur, dan dampak lingkungan. Analisis sensitivitas juga dilakukan untuk menilai ketahanan skenario yang dipilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario yang paling optimal adalah yang menyeimbangkan efisiensi biaya, target produksi gas, dan manajemen risiko operasional. Proyek Wilela diproyeksikan akan menyumbang 15% pasokan gas Sumatera Selatan pada tahun 2030, dengan optimalisasi infrastruktur memainkan peran penting dalam mempertahankan produksi gas. Studi ini memberikan wawasan strategis bagi para pengambil keputusan di industri minyak dan gas, memastikan keamanan energi jangka panjang dan kelangsungan ekonomi.
PENENTUAN UKURAN DAN PENEMPATAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM UNTUK APLIKASI PEAK SHAVING DAN PERBAIKAN VOLTAGE DIP DI SISTEM KELISTRIKAN BALI
Dengan meningkatnya permintaan akan energi Listrik, fokus utama dalam pengembangan sistem bukan hanya untuk memenuhi permintaan kapasitas namun juga peningkatan dalam kualitas dan stabilitas energi listrik. Battery Energy Storage System merupakan sebuah pembangkit energi dari sebuah penyimpanan yang dapat bekerja menyimpan energi saat permintaan energi rendah dan pengeluarkan energi saat permintaan energi tinggi. Battery Energy Storage System mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kapasitas dan stabilitas dari sistem energi Listrik. Dalam penelitian ini kita akan menguji peletakan BESS pada sistem kelistrikan pulau Bali untuk Voltage dip dan memperbaiki sistem saat terjadi Voltage dip. Kita akan menggunakan sebuah langkah baru untuk menentukan kapasitas dari BESS dan juga penentuan Lokasi BESS secara optimal dengan mempertimbangkan Energy Losses dan Voltage Sensitivity. Dari penelitian ini, dihasilkan bahwa pengunaan BESS dengan kapasitas 300 MWh akan memberikan kita penyimpanan biaya pembangkitan yang maksimal dengan nilai sekitar Rp571.697.146 atau $34,753 USD dalam 1 hari untuk skenario tanggal 9 agustus 2024. Dari sistem penilaian yang telah dilakukan dalam penelitian ini, didapatkan bahwa peletakan BESS pada Gardu Induk Payangan dan Negara akan memberikan nilai Energy Losses yang lebih rendah dan juga respon sistem terhadap Voltage dip yang lebih baik. Dari simulasi menggunakan 14,57 MW BESS, 100 MVA Kapasitor bank dan 5 MW PLTU akan mengurangi kedalaman voltage dip sebesar 2,6%, mengurangi lama voltage dip sebesar 3,21% dan mengurangi ketinggian voltage swell sebesar 0,51%. Namun dengan menggunakan kombinasi mitigasi di atas akan menurunkan jumlah penyimpanan biaya pembangkitan menjadi. 348.247.016 atau $21.170 USD dalam 1 hari untuk skenario tanggal 9 agustus 2024. Jadi penggunaan BESS bukan hanya dapat meningkatkan kapasitas, kualitas dan stabilitas namun juga memberikan keuntungan dalam segi ekonomi.
ANALISIS TEKNO EKONOMI PERENCANAAN PLTS TERAPUNG KONVENSIONAL DAN BERPENDINGIN TERMOSIFON ON GRID DI WADUK KARANGKATES DAN PENGARUH INTERMITENSINYA TERHADAP PLTA SUTAMI SERTA SISTEM 150 KV
Sejalan dengan Paris Agreement yang membatasi kenaikan temperatur global dibawah 2?C, Indonesia juga menetapkan target nasional untuk mengurangi emisi karbon pada tahun 2060 dengan fokus pada peningkatan bauran energi terbarukan. Energi surya sebagai energi terbarukan dengan potensi tertinggi 207.898 MWp namun pemanfaatannya masih rendah 0,04%. Salah satu cara pemanfaatan energi surya saat ini adalah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menggunakan lahan bendungan atau PLTS Terapung. Waduk Karangkates merupakan salah satu waduk yang dapat dimanfaatkan untuk PLTS Terapung. Pada PLTS radiasi metahari yang diubah menjadi panas dapat meningkatkan temperatur panel sehingga menurunkan efisiensi panel surya. Uuntuk mengatasi hal tersebut diperlukan pendingin dan salah satu pendingin pasif yang dapat digunakan adalah pendingin termosifon. Disisi lain PLTS juga memiliki sifat yang intermiten sehingga akan mempengaruhi sistem kelistrikan jika tersambung ke jaringan. Simulasi pada PVsyst dengan memanfaatkan lahan bendungan 20% pada daerah genangan untuk mendapatkan daya nominal. Selain itu penggunaan pendingin termosifon juga disimulasikan dengan memvariasikan nilai koefisien rugi termal (U) pada konfigurasi PLTS Terapung berpendingin termosifon dengan reservoir sejajar dan dengan reservoir ketinggian 750 mm. Dengan penambahan pendingin termosifon tersebut akan dilakukan analisis ekonomi berupa LCOE, NPV, IRR, dan PP. Sedangkan pengaruhnya terhadap kestabilan jaringan akan disimulasikan menggunakan aplikasi DigSilent. Dari hasil simulasi didapat daya nominal PLTS Terapung Karangkates adalah 164,7 MWp. Sedangkan daya yang dapat disalurkan ke jaringan adalah 141 MWp. Penggunaan pendingin termosifon dengan reservoir sejajar dapat menaikan produksi energi 0,87%. Sedangkan penggunaan pendingin termosifon dengan reservoir ketinggian 750 mm dapat menaikkan produksi energi 3,06%. Namun hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa PLTS Terapung konvensional masih lebih menguntungkan dengan LCOE Rp 784,405/kWh, NPV 269,09 Milyar, IRR 16,49%, dan PP 14,8 tahun. Sedangkan dari sisi kelistrikan dengan penambahan PLTS Terapung Karangkates ini memberikan dampak ke jaringan 150 KV Jawa Timur. Nilai tegangan dan frekuensi mengalami kenaikan dan penurunan akibat intermitensi dari PLTS Terapung Karangkates. Namun secara keseluruhan perubahan tersebut masih sesuai dengan standar grid code. Untuk PLTA Sutami Unit 1 dan pembangkit lain ikut merespon naik maupun turun menyesuaikan daya keluaran PLTS Terapung di nomal operasi masing-masing pembangkit.
PERANCANGAN SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DI DANAU SINGKARAK
Pergerakan negara-negara di dunia dalam pembangkitan dan penggunaan energi listrik serentak mengarah pada renewable energy sekaligus memberikan kontribusi untuk realisasi net zero emission pada tahun 2060. Dengan peningkatan populasi yang terjadi juga di Indonesia, dimungkinkan adanya peningkatan beban pada tahun-tahun mendatang. PLN sebagai penyedia layanan energi listrik di Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan angka penetrasi energi baru dan terbarukan atau EBT. Banyak rancangan pembangunan pembangkit listrik berupa EBT dilakukan di berbagai daerah, salah satunya pada sistem listrik pulau Sumatera. Dalam penelitian ini, dilakukan perancangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung pada sistem kelistrikan Kota dan Kabupaten Solok, Sumatera Barat. PLTS Terapung dirancang dipasangkan pada Danau Singkarak, terhubung dengan grid dan pembangkit eksisting PLTA Singkarak dan beban listrik Kota-Kabupaten Solok. Prosedur dalam perancangan sistem adalah perhitungan beban dan load forecasting Kota-Kabupaten Solok, lalu simulasi sistem eksisting. Setelah itu dilakukan perhitungan dan optimasi kapasitas komponen sistem yang dibutuhkan. Setelah data terkumpul, dilakukan simulasi operasi sistem, analisis performa, analisis ekonomi, dan kemudian analisis lingkungan. Dari perancangan yang dilakukan, ditentukan sistem eksisting menggunakan PLTA Singkarak, kapasitas sistem PLTS terapung sebesar 38,61 MWp, dan inverter 30,25 MW. Dapat disimpulkan bahwa PLTS terapung yang dirancang di Danau Singkarak telah memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Pengembangan kedepan untuk penelitian ini dapat dilakukan dengan batasan sistem kelistrikan yang lebih luas, tidak hanya menggunakan beban listrik Kota-Kabupaten Solok saja.
STRATEGI PEMBIAYAAN PROYEK UNTUK INSTALASI SOLAR PV ON-GRID DI INDUSTRI SEMEN & BAHAN KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PT CIBINONG BANGUN SARANA, JAWA BARAT, INDONESIA)
Di Indonesia, industri semen berperan penting dalam pembangunan infrastruktur, karena industri ini terus berkembang seiring dengan proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan daerah perkotaan. Namun, industri ini memiliki tantangan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam produksinya. Untuk mengatasi masalah ini, sistem fotovoltaik surya on-grid (PV) berkembang sebagai alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional. Penelitian ini menganalisis strategi pembiayaan untuk instalasi PLTS on-grid dengan studi kasus PT Cibinong Bangun Sarana (CBS). PT CBS adalah perusahaan di Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai perusahaan induk. Perusahaan ini telah beroperasi secara komersial sejak tahun 1975 dengan bisnis terintegrasi yang terdiri dari semen, beton siap pakai, agregat, dan jasa pengelolaan limbah. Untuk melaksanakan proyek ini, PT CBS akan membutuhkan investasi modal yang cukup besar, berkisar antara Rp 13 hingga 14 miliar. PT CBS perlu melakukan analisis kelayakan untuk peluang bisnis dan mengevaluasi sumber dana potensial sebelum melakukan investasi modal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus pada analisis kelayakan finansial, analisis sensitivitas, dan penganggaran modal bersama dengan teori US Index untuk menilai kelayakan ekonomi proyek. Indikator keuangan yang dianalisis meliputi NPV, IRR, Payback Period, Discounted Payback Period, dan Profitability Index. Selain itu, studi ini juga menganalisis beberapa kemungkinan alternatif pendanaan, termasuk pembiayaan internal, pinjaman bank domestik, pinjaman bank internasional, dan sewa guna usaha. Hasil dari studi menunjukkan bahwa opsi pembiayaan terbaik adalah pinjaman bank internasional dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 40%:60%. Metode pembiayaan ini memastikan keberlanjutan keuangan jangka panjang dan kelayakan ekonomi dengan menawarkan WACC terendah, NPV tertinggi, dan periode pengembalian modal yang paling singkat. Selain itu, analisis sensitivitas menemukan bahwa dua faktor terpenting yang mempengaruhi kelangsungan proyek adalah harga listrik PLN dan efisiensi pembangkit listrik. Penurunan harga listrik PLN atau efisiensi pembangkit listrik tenaga surya secara signifikan mengurangi NPV proyek, yang berpotensi membuat proyek ini tidak layak secara finansial. Sebaliknya, tarif PLN yang lebih tinggi atau peningkatan efisiensi energi akan meningkatkan daya tarik finansial proyek. Studi ini memberikan wawasan strategis bagi perusahaan semen dalam menerapkan solusi energi berkelanjutan, mengurangi biaya listrik, dan meningkatkan efisiensi operasional.
COMPLEMENTARITY ASSESSMENT ENERGI GELOMBANG, SURYA, DAN ANGIN DI LUNYUK, NUSA TENGGARA BARAT
Indonesia telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dalam Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 untuk mencapai bauran energi dengan 23% energi terbarukan pada 2025 dan 31% pada 2050. Salah satu wilayah yang memiliki target transisi energi ambisius adalah Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bertujuan mencapai net-zero emission pada 2050. Sistem terisolasi Kecamatan Lunyuk di NTB, yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel, memiliki potensi besar untuk pemanfaatan energi terbarukan, yaitu energi surya, angin, dan gelombang laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial sumber energi terbarukan, mengevaluasi tingkat complementarity antara sumber-sumber energi tersebut, dan menganalisis risiko kekurangan daya dan overload jaringan pada sistem yang dipilih. Proyeksi kebutuhan listrik hingga tahun 2055 dilakukan berdasarkan data penduduk Lunyuk dan konsumsi listrik per kapita penduduk NTB. Penentuan lokasi potensial menggunakan parameter spesifik untuk setiap sumber energi dengan pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yang dikombinasikan dengan Geographic Information System (GIS). Potensi teoritis dihitung menggunakan data GHI untuk energi surya, distribusi Weibull untuk energi angin, dan wave scatter diagram untuk energi gelombang. Indeks complementarity dihitung menggunakan metode koefisien korelasi (Pearson, Spearman, Kendall) untuk mengevaluasi kombinasi sumber energi dan lokasi terbaik. Analisis risiko kekurangan daya dan overload jaringan pada sistem dilakukan dengan metode klastering K-means. Penelitian ini menunjukkan proyeksi kebutuhan listrik di Lunyuk pada 2055 mencapai 311.91 GWh/tahun, dengan total potensi energi terbarukan sebesar 2,709.49 GWh/tahun. Analisis pemilihan lokasi menghasilkan tiga lokasi potensial untuk energi surya, satu lokasi untuk energi angin, dan dua lokasi untuk energi gelombang. Kombinasi lokasi dengan indeks complementarity tertinggi yaitu energi surya di 8.96° LS dan 117.17° BT, energi gelombang di 9.068° LS dan 117.231° BT, serta energi angin di 9.06° LS dan 116.86° BT. Analisis klaster terhadap kombinasi ini menunjukkan kombinasi energi gelombang di 9.068° LS dan 117.231° BT dan surya di 8.96° LS dan 117.17° BT yang diintegrasikan dengan sistem penyimpanan energi sebagai kombinasi sistem yang diajukan untuk menggantikan PLTD di Lunyuk.
PERANCANGAN DAN OPTIMASI SISTEM ENERGI HIBRIDA UNTUK DAERAH TERPENCIL STUDI KASUS PULAU KERASIAN, KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN
Ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan merupakan tantangan signifikan bagi daerah terpencil di Indonesia, termasuk Pulau Kerasian, yang masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengoptimalkan sistem energi hibrida yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbasis biodiesel B30 guna memastikan pasokan listrik yang efisien dan ramah lingkungan. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak HOMER Pro, PVSyst, dan ETAP untuk mengevaluasi aspek teknis, ekonomi, serta kelayakan integrasi sistem energi hibrida. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem optimal terdiri dari PLTS berkapasitas 831 kW, PLTD 100 kW, dan baterai dengan kapasitas penyimpanan 2.755,2 kWh, yang menghasilkan bauran energi terbarukan sebesar 94,6% dan produksi energi tahunan sebesar 1.210.160 kWh. Sistem ini terbukti mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat secara efisien dan memiliki stabilitas yang baik. Analisis kelistrikan menggunakan ETAP menunjukkan bahwa tegangan pada bus GH dan ujung trafo masing-masing sebesar 19,91 kV dan 19,89 kV, yang berada dalam rentang aman dan mendukung keandalan sistem secara keseluruhan. Simulasi ekonomi dengan HOMER Pro mengindikasikan bahwa sistem ini memiliki Net Present Cost (NPC) sebesar Rp50.684.219.690 dan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar Rp3.510,74 per kWh, yang lebih rendah dibandingkan konfigurasi sistem lainnya. Selain itu, implementasi sistem ini berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 93,40%, dari 1.028.418 kg/tahun menjadi 67.923 kg/tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan sistem energi hibrida dengan proporsi energi terbarukan sebesar 94,6% di Pulau Kerasian tidak hanya efektif dalam menyediakan pasokan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan di daerah terpencil lainnya. Dengan efisiensi biaya yang tinggi dan dampak lingkungan yang minimal, sistem ini dapat menjadi model bagi pengembangan energi terbarukan di wilayah serupa.
PENGEMBANGAN MODEL KESIAPAN OPERASI (POWERPLANT OPERATION READINESS) STUDI KASUS PEMBANGKIT LISTRIK MESIN GAS (PLTMG) DI PT PLN (PERSERO) UNTUK BERALIH DARI BAHAN BAKAR BIOSOLAR B35 KE BAHAN BAKAR GAS
Undang-Undang No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement menjadi landasan hukum Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim global. Sebagai bagian dari Paris Agreement, Indonesia menyusun target Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030, melalui kolaborasi berbagai sektor. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) mendukung pencapaian target ini dengan menetapkan arah strategis dalam pengembangan energi, termasuk transisi ke energi bersih. Komitmen ini diimplementasikan dalam berbagai program energi terbarukan, di mana sektor ketenagalistrikan memainkan peran penting. PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU), saat ini mengelola empat unit pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) dimana seluruh mesin tersebut masih beroperasi menggunakan bahan bakar biosolar B35. Seiring komitmen untuk menurunkan emisi karbon maka B35 ini akan digantikan dengan bahan bakar gas, yang berdasarkan kajian memiliki emisi karbon lebih rendah. Peralihan bahan bakar ini diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam pengurangan emisi. Untuk memastikan proses transisi bahan bakar ini dapat berjalan dengan baik dan lancar maka diperlukan suatu model yang dapat digunakan untuk mengetahui posisi masing-masing unit PLTMG tersebut dalam kesiapannya untuk beralih ke bahan bakar gas. Oleh karena itu pada penelitian ini dikembangkan model yang disebut powerplant operations readiness dengan tujuan mengetahui tingkat kesiapan unit pembangkit untuk beralih ke gas dengan pendekatan multidimensional yang mencakup Infrastructure & Technology, Organization, Operations, Human Capital, dan Regulator, Social & Economic. Dengan model ini diharapkan dapat mengidentifikasi area yang perlu dievaluasi dan rekomendasi langkah-langkah perbaikan ke depan, sehingga target NDC yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.
ANALISIS KLASIFIKASI DAN PRIORITISASI WILAYAH IMPLEMENTASI SMART METER AMI MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam penentuan unit prioritas implementasi smart meter Advanced Metering Infrastructure (AMI) di PT PLN (Persero) UIW Bangka Belitung. Metode berbasis demografis dan geografis yang digunakan saat ini sering kali tidak mencerminkan kebutuhan operasional, sehingga inefisien dalam alokasi sumber daya dan anggaran. Penelitian ini mengusulkan pendekatan berbasis machine learning dengan K-Means untuk klasifikasi wilayah dan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk prioritisasi klaster. Data yang dianalisis meliputi jumlah clear tamper, penggantian meter, dan pelanggaran per pelanggan dari tahun 2016 hingga 2023. Dataset dibagi ke dalam empat periode: keseluruhan data, sebelum COVID-19 (2016–Maret 2020), saat COVID-19 (Maret 2020–Maret 2022), dan setelah COVID-19 (April 2022– Desember 2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu memberikan rekomendasi prioritas berbasis data yang lebih akurat pada setiap periode. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya, mempercepat implementasi teknologi AMI, dan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap transformasi digital di sektor energi.