📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 57 dokumenINTEGRASI METODE GEOLISTRIK DA INDUKSI ELEKTROMAGNETIK UNTUK ANALISIS KETERSEDIAAN AIR DALAM MENDUKUNG OPTIMASI PENGELOLAAN PERTANIAN DI DESA GIRIMUKTI, KECAMATAN SMEDANG UTARA, KAB SUMEDANG
Pertanian di Indonesia menjadi komoditas utama untuk menyokong perekonomian di dalam negeri. Didukung oleh Indonesia yang terletak di dekat garis khatulistiwa menjadikan Indonesia hanya memiliki dua musim saja yaitu musim hujan dan kemarau yang mempermudah para petani untuk menentukan musim panen. Namun hal tersebut bukanlah satu-satunya alasan yang menjadikan produk pertanian Indonesia memiliki kualitas yang terbaik. Banyak petani di Indonesia yang mengeluhkan bahwa masalah yang dihadapi sekarang adalah kalah saing terhadap produk pertanian dari luar Indonesia. Solusi dari permasalahan tersebut ialah menerapkan dua konsep pertanian yaitu Precision Agriculture dan Sustainable Agriculture. Dalam penerapan kedua konsep tersebut diperlukan langkah awal berupa pemetaan kandungan air menggunakan metode geofisika pada suatu petak sawah di Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengukuran Elektromagnetik dan Geolistrik lalu dilanjutkan dengan pemodelan quasi-3D untuk pemetaan konduktivitas pada lahan penelitian dengan peta konduktivitas dari Induksi Elektromagnetik secara horizontal dan peta konduktivitas dari Geolistrik secara vertikal. Hasil yang didapatkan dalam pengukuran dengan kedua metode menunjukkan tren yang sama mengenai kandungan air yang rendah terdapat pada kedalaman tanah dangkal dan mengalami peningkatan kandungan air yang tinggi hingga kedalaman 4.56 meter ditandai dengan peningkatan nilai konduktivitas dan juga penurunan kandungan air ke arah Utara lahan penelitian ditandai dengan nilai konduktivitas yang menurun dari 23.46 ke 9.1 mS/m.
ANALISIS KARAKTERISTIK RESERVOIR KELOMPOK SIHAPAS DI LAPANGAN RURU, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Pengendapan Kelompok Sihapas bertepatan dengan kenaikan muka laut skala global yang mengakibatkan lebih banyak permukaan tergenang. Perubahan lingkungan diikuti dengan perubahan endapan yang mengisi cekungan dan menghasilkan fasies yang berbeda. Perubahan fasies berimplikasi terhadap nilai properti fisik di dalam batuan. Penelitian ini dilakukan untuk membuka wawasan mengenai pengaruh perubahan fasies terhadap nilai properti fisik dan kualitas reservoir. Dalam karakterisasi, litofasies menunjukkan sifat-sifat batuan dan proses pengendapannya. Dengan data batuan inti dan deskripsi batuan samping dari sumur RU-01, RU-09, dan RU-13 didapatkan enam litofasies, yaitu Msl, Scl, Shl, Sxl, Smg, dan Sb. Selanjutnya pola log sinar gamma digunakan untuk penentuan elektrofasies channel, bar, dan floodplain. Hasil analisis keduanya digunakan untuk mendapatkan tiga asosiasi fasies tidal fluvial channel, tidal sand bar, dan mud flat. Lebih lanjut, analisis stratigrafi sikuen dilakukan untuk mengetahui sistem pengendapan dan keselarasan korelatif yang berkembang. Didapatkan tiga pola system tract berupa Lowstand System Tract (LST), Transgressive System Tract (TST), dan Highstand System Tract (HST). Dengan mempertimbangkan hasil analisis fasies, stratigrafi sikuen, dan biostratigrafi dari sumur RU-01, disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan berada pada tide dominated estuarine yang mencerminkan lingkungan transgresif. Asosiasi fasies memberikan pengaruh terhadap nilai properti fisik suatu interval. Tidal fluvial channel memiliki rata-rata volume serpih 0,21; porositas efektif 0,20; dan saturasi air 0,69. Tidal sand bar memiliki rata-rata volume serpih 0,41; porositas efektif 0,13; dan saturasi air 0,74. Sedangkan mud flat memiliki rata-rata volume serpih 0,73; porositas efektif 0,06; dan saturasi air 0,84. Sebagai reservoir, fasies tidal fluvial channel dianggap yang terbaik.
ANALISIS SEDIMEN TERHADAP KELIMPAHAN DAN JENIS MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI CITUMANG KABUPATEN PANGANDARAN PROVINSI JAWA BARAT
Sungai Citumang merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Pangandaran. Selain digunakan sebagai objek wisata, di sepanjang aliran sungai terdapat juga masukan buangan limbah domestik sehingga Sungai Citumang memerlukan pemantauan kualitas perairan yang dapat dilakukan dengan menggunakan parameter kimia, fisika, dan biologi. Salah satu parameter biologi yang biasa digunakana dalah makrozoobentos. Pada penelitian ini, dilakukan analisis mengenai kandungan bahan organik sedimen, distribusi partikel sedimen, serta kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobentos. Tujuan dari penelitian ini adalah untu mengetahui hubungan antara sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos. Hasil analisis tekstur sedimen pada titik SP 1 didominasi gravel, SP 2, 3, dan 5 didominasi oleh sand, dan pada titik SP 4 dan 5 distribusi partikel cukup merata. Hasil kandungan bahan organik pada sedimen tertinggi ditemukan di titik SP 4. Selain itu, kelimpahan makrozoobentos tertinggi juga ditemukan di titik SP 4. Setelah dilakukan uji korelasi Pearson-Spearman, didapatkan hasil bahwa keanekaragaman makrozoobentos berkorelasi negatif kuat dengan parameter karbon organik total dan nitrogen total. Di sisi lain, kelimpahan makrozoobentos berkorelasi positif kuat terhadap karbon organik total dan nitrogen total. Selanjutnya, keanekaragaman makrozoobentos berkorelasi positif sangat kuat terhadap fosfat. Selain itu, kelimpahan makrozoobentos juga berkorelasi positif sangat kuat terhadap persentase lanau dan lempung.
ANALISIS PENYEDIAAN AIR PDAM DAN KEBUTUHAN AIR MINUM DOMESTIK DAN NON DOMESTIK (STUDI KASUS DI KABUPATEN TAPANULI TENGAH, SUMATERA UTARA)
Pertumbuhan populasi di perkotaan menunjukkan bahwa kapasitas ketersediaan air yang mulai menurun memerlukan perhatian besar untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat. Sejalan dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat mengakibatkan terjadinya laju peningkatan kerentanan terhadap pasokan air masyarakat. Ketersediaan yang tidak sejalan dengan kebutuhan mengakibatkan adanya dampak yang mempengaruhi aktivitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air khususnya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah secara rutin melakukan upaya untuk meningkatkan pasokan air, tetapi masih terdapat kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air yang terus melebar di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Kondisi tersebut didukung dengan tingkat cakupan pelayanan air yang masih belum merata dengan jumlah rumah tangga yang terlayani hanya sebesar 18,85%. Rumah tangga yang terlayani juga memiliki masalah dengan adanya dua ratusan kepala keluarga di daerah tersebut yang mengalami krisis air bersih. Krisis air bersih ini diakibatkan karena pasokan air yang mengalir pada instalasi pipa milik PDAM Mual Nauli tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini diakibatkan karena jumlah konsumen yang semakin banyak sementara debit air yang mengalir semakin kecil. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting sistem penyediaan air minum, memproyeksikan dan menganalisis kebutuhan air domestik dan non domestik pada sektor fasilitas publik, komersil, sektor peternakan dan perikanan, menganalisis ketersediaan air menggunakan metode NRECA dan Weibull dan menganalisis daya dukung air sebagai landasan dari perumusan skenario dalam mengoptimalkan ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air dalam jangka panjang hingga 20 tahun mendatang dengan tahun proyeksi 2023-2042. Daya dukung air dapat diketahui dari perhitungan neraca air mengacu pada jumlah ketersediaan air dan kebutuhan air total. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting dari cakupan pelayanan air dibandingkan dengan jumlah penduduk total dinyatakan masih belum dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat, sehingga dilakukan skenario pengoptimalan dalam meningkatkan ketersediaan air dengan mengimplementasikan 2 (dua) skenario yaitu: skenario I: Business as Usual (BaU) dan skenario II: Implementasi pengelolaan sumberdaya air wilayah sungai dengan melakukan pengembangan SPAM. Hasil penelitian diperoleh bahwa kebutuhan air total pada tahun 2023 sebesar 7.611.269 m3 /hari mengalami peningkatan hingga tahun 2042 sebesar 25.540.197,96 m3 /hari. Sedangkan ketersediaan air dari kapasitas terpasang PDAM sebesar 16.761, 60 m3 /hari yang diperoleh pada tahun 2014 hingga prdiksi 2042, sedangkan ketersediaan air berdasarkan neraca air eksisting ketersediaan air DAS Sibundong dan Batantoru pada tahun 2023 sebesar 5.696.159.60 m3 /hari dan mengalami penurunan hingga Tahun 2042 menjadi sebesar 4.060.234,77 m3 /hari. Berdasarkan perhitungan neraca air diperoleh hasil status daya dukung air berdasarkan penyediaan air PDAM mengalami kondisi defisit setiap tahun sedangkan pada ketersediaan air eksisting dibandingkan dengan kebutuhan air total diperoleh kondisi surplus dari 2014-2019 dan mengalami kondisi defisit kondisi defisit dari 2019- 2042, diduga karena adanya eksploitasi berlebih terhadap penggunaan air domestik dan non domestik yang dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya, selain itu dipengaruhi oleh tinggi rendahnya curah hujan pada tahun-tahun tersebut. Skenario II merupakan upaya untuk mengantisipasi defisit air atau kelangkaan air khususnya pada musim kemarau dengan melakukan pengelolaan SPAM dengan upaya pembangunan waduk. Berdasarkan hasil skenario II pembangunan rencana waduk dipilih sebagai optimalisasi ketersediaan air di Kabupaten Tapanuli Tengah dengan memanfaatkan curah hujan yang terjadi, hasil perkiraan peningkatan ketersediaan air yang diperoleh dari dari waduk berdasarkan volume kekurangan maksimum dan kelebihan maksimum adalah sebesar 15.476.682,68 m3. Hasil penerapan skenario II+1 menunjukkan upaya dalam peningkatan kondisi surplus yang lebih lama sehingga mampu memenuhi kebutuhan air domestik dan non domestik masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah pada tahun 2023-2037 tetapi perlu dilakukannya pengelolaan lanjutan dalam meningkatkan ketersediaan air untuk waktu yang lama sehingga mampu memenuhi kebutuhan air dalam jangka panjang dalam hingga tahun 2042. Kondisi tersebut dapat diimplementasikan dengan memfokuskan strategi penyediaan air dengan persepsi yang sama antara pemerintah dan masyarakat berdasarkan sasaran kebijakan melalui ruang lingkup kebijakan sumberdaya air. Prinsip yang digunakan adalah keterkaitan atau koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergis (KISS) antara kegiatan untuk mencapai kecukupan air di Kabupaten Tapanuli Tengah
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI KARANG MUMUS, KOTA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Sungai Karang Mumus merupakan sungai yang membelah Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Sungai Karang Mumus merupakan anak Sungai Mahakam yang memiliki Panjang 34.7 kilometer di wilayah Kota Samarinda. Sungai Karang Mumus menjadi salah satu jalur transportasi air bagi warga yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Karang Mumus. Namun Sungai Karang Mumus seringkali mengalami limpasan yang diakibatkan kapasitas sungai yang tidak mampu menahan debit banjir. Adanya faktor gelombang pasang surut Sungai Mahakam juga menjadi salah satu faktor pendukung meluapnya air dari Sungai Karang Mumus yang berakibat pada kerugian baik pada segi sosial maupun ekonomi di Masyarakat Kota Samarinda. Penelitian ini bermaksud untuk dapat merencanakan sistem pengendalian banjir yang dapat dilakukan di Sungai Karang Mumus. Struktur yang direncanakan adanya tanggul, kolam retensi, dan juga normalisasi. Pemodelan hidraulika dimodelkan dengan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS model 1 (satu) dimensi untuk mengetahui kapasitas dan juga luapan Sungai Karang Mumus dengan debit kala ulang 25 tahun sebesar 675,29 m3/s. Serta penggunaan model 2 (dua) dimensi untuk mengetahui daerah genangan yang terjadi agar dapat memetakan rencana tanggap darurat dari adanya banjir di wilayah Kota Samarinda akibat luapan Sungai Karang Mumus.
DESAIN WATER SENSITIVE COMMUNITY SUNGAI CIKAPUNDUNG DI KELURAHAN BRAGA, KECAMATAN SUMUR BANDUNG, KOTA BANDUNG, JAWA BARAT
Sungai Cikapundung merupakan salah satu anak Sungai Citarum yang melewati Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Sungai Cikapundung yang berada pada ruas Kelurahan Braga menjadi fokus penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi banjir eksisting, merencanakan solusi pengendalian banjir berupa desain Water Sensitive Community, menyusun rencana operasi dan pemeliharaan, serta menyusun rancangan anggaran biaya. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data hujan untuk mendapatkan debit banjir rencana dengan bantuan perangkat lunak HECHMS 4.10 dan menyimulasikannya dalam pemodelan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 6.4.1 untuk mendapatkan model kondisi banjir eksisting dan merencanakan alternatif pengendalian banjir berupa desain Water Sensitive Community. Pemodelan hidraulika yang dibantu dengan perangkat lunak HECRAS dalam penelitian ini merupakan pemodelan 2D (dua dimensi) untuk meninjau luas genangan dan tinggi muka air yang terjadi. Debit banjir untuk periode ulang 20 tahun menggunakan metode SCS mencapai 177,542 m³/s, yang menyebabkan terjadinya area genangan sebesar 66,18% untuk kondisi banjir eksisting. Perencanaan desain Water Sensitive Community ini meliputi normalisasi pendalaman sungai sepanjang 605,05 meter, normalisasi pelebaran sungai sepanjang 280,72 meter, dan pembuatan ambang lebar yang dilengkapi dengan pintu sorong. Rancangan anggaran biaya yang diperlukan untuk merealisasikan desain pengendalian banjir pada Sungai Cikapundung ruas Kelurahan Braga mencapai Rp14,765,046,853.13 atau Empat Belas Miliar Tujuh Puluh Enam Juta Lima Ratus Empat Puluh Enam Ribu Delapan Ratus Lima Puluh Tiga Rupiah.
STUDI INTENSITAS CURAH HUJAN MAKSIMUM TERHADAP KEMAMPUAN DRAINASE PERKOTAAN (STUDI KASUS JL. IR. H. JUANDA KOTA BANDUNG)
Masalah genangan air yang melanda perkotaan menunjukkan bahwa volume air yang masuk ke dalam saluran air melebihi kapasitas normal dari drainase dan ada faktor lain yang menyebabkan berkurangnya kapasitas dari saluran air itu sendiri. Salah satu hal yang menyebabkan kenaikan debit aliran air permukaan adalah intensitas curah hujan. Kenaikan intensitas curah hujan maksimum memberikan pengaruh besar terhadap besarnya debit limpasan air pada suatu drainase perkotaan. Perhitungan debit menggunakan metoda rasional menggunakan 3 faktor utama yaitu intensitas curah hujan maksimum, luas daerah, dan koefisien pengaliran. Intensitas maksimum dari data data curah hujan harian tahun 1950-2005 dihitung dengan menggunakan metoda Mononobe, sedangkan data luas daerah didapat dengan pengukuran langsung di lapangan. Perhitungan debit limpasan dari intensitas curah hujan maksimum periode tahun 1950-2005 di Jl.Ir.H. Juanda dengan menggunakan metode rasional didapatkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan debit air hasil perhitungan dimensi saluran air yang ada yaitu sebesar 0.52 m3/s. Dari hasil penelitian tersebut maka dimensi saluran yang ada sekarang perlu dikaji ulang lagi, terlebih untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
KUALITAS AIR TANAH DAN LAJU INFILTRASI DI DAERAH CISARUA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANDUNG BARAT, JAWA BARAT
Daerah penelitian memiliki tingkat penggunaan air tanah yang tinggi, namun kualitas air tanah belum diketahui dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah dengan menganalisis parameter fisik dan kimia air tanah berdasarkan baku mutu untuk air minum dan air irigasi. Uji infiltrasi juga dilakukan untuk memperkirakan nilai konduktivitas hidraulik berdasarkan jenis tanah pelapukan dan kondisi tata guna lahan. Analisis sifat fisik dan kimia air tanah dilakukan pada sembilan mata air, sepuluh sumur gali, dan 27 sumur bor. Uji laboratorium menggunakan Ion Chromatography dilakukan pada sepuluh sampel air tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa temperatur air tanah berkisar antara 22,3–29,4 °C, nilai pH 5,83–8,02, total padatan terlarut (TDS) 86–317 mg/L, dan daya hantar listrik (DHL) 130–481 ?S/cm. Konsentrasi nitrat (17,28-228,96 mg/L) yang melebihi baku mutu mengindikasikan telah terjadi pencemaran air tanah akibat aktivitas antropogenik berupa pertanian dan kebocoran tangki septik. Analisis hidrokimia menunjukkan adanya tiga fasies air tanah, Ca/Mg-HCO3, Ca/Mg-Cl/SO4, dan Ca-mixed. Berdasarkan parameter NA%, SAR, dan Diagram Wilcox, semua sampel air tanah layak untuk keperluan irigasi, kecuali pada satu titik (SB-18). Hasil analisis laju infiltrasi menghasilkan nilai konduktivitas hidraulik rata-rata sebesar 3,91×10-5 cm/s pada litologi breksi volkanik, 7,7×10-4 cm/s pada litologi lava, 1,46×10-3 cm/s pada tuf dan 3,8×10-3 cm/s untuk tuf berbatuapung. Sebaran laju infiltrasi mengindikasikan wilayah pertanian memiliki laju infiltrasi lebih cepat dibandingkan dengan wilayah permukiman.
IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN GREEN STREET SEBAGAI SARANA PENGENDALI BANJIR DI JALAN K.H. SHOLEH ISKANDAR KOTA BOGOR
Kota Bogor merupakan salah satu kawasan yang berperan sebagai penyangga DKI Jakarta. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan akan infrastruktur dan area permukiman pada kawasan tersebut. Peningkatan pembangunan tersebut menyebabkan semakin berkurangnya luas area resapan di Kota Bogor dan berakibat pada terjadinya banjir. Terdapat 84 titik genangan/banjir yang tersebar di seluruh wilayah Kota Bogor dengan total luas genangan mencapai 68,5 ha atau 0,59% dari total luas Kota Bogor. Jalan K.H. Sholeh Iskandar merupakan salah satu jalan nasional di Kota Bogor yang kerap mengalami banjir ketika terjadi hujan deras. Terjadinya banjir diakibatkan oleh saluran drainase yang kurang terawat sehingga tidak mampu menampung air hujan secara optimal. Selain itu, berkembang pesatnya pembangunan di sekitar jalan dan kondisi vegetasi yang tidak terawat juga menyebabkan area resapan di Jalan K.H. Sholeh Iskandar semakin berkurang. Saat ini, strategi pengendalian banjir telah berkembang dari sistem infrastruktur fisik menjadi solusi berbasis alam atau dikenal sebagai Nature-based Solutions (NbS). NbS menawarkan solusi berbasis alam dalam mengatasi tantangan lingkungan, sosial, serta ekonomi dengan cara yang berkelanjutan. Penerapan NbS yang diintegrasikan dengan jalur transportasi perkotaan yang disebut dengan green street. Green street merupakan salah satu praktik pengolahan air hujan yang diterapkan pada jalur transportasi perkotaan dengan memanfaatkan tanaman. Green street memiliki beberapa komponen yang dapat diterapkan yaitu bioretensi, swales, vegetated filter strip, street strees, planters, permeable pavement, serta rainwater harvesting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengembangan green street di Jalan K.H. Sholeh Iskandar. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik banjir yang terjadi di Jalan K.H. Sholeh Iskandar, mengidentifikasi komponen green street yang sesuai untuk diterapkan di Jalan K.H. Sholeh Iskandar, membuat skenario penerapan green street, dan mengidentifikasi kemampuan green street dalam mengendalikan banjir di Jalan K.H. Sholeh Iskandar dengan membandingkan debit banjir sebelum dan setelah penerapan green street. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 5 titik banjir di sepanjang Jalan K.H. Sholehv Iskandar dengan ketinggian 10 - 50 cm. Banjir cukup sering terjadi terutama ketika musim penghujan. Dalam setahun, banjir dapat terjadi sebanyak 5 hingga 10 kali. Hasil analisis menunjukkan bahwa banjir terjadi pada segmen II, IV, V, VI, VII, dan VIII. Komponen green street yang paling sesuai untuk diterapkan di Jalan K.H. Sholeh Iskandar adalah bioretensi, permeable pavement, dan street trees. Bioretensi diterapkan pada jalur hijau eksisting di median jalan, sedangkan permeable pavement dan street trees diterapkan di area tepi jalan. Implementasi ketiga komponen green street di Jalan K.H. Sholeh Iskandar ini memakan biaya pembangunan awal sebesar Rp3.552.008.381,11 dan biaya pemeliharaan tahunan sebesar Rp905.030.024,45. Penerapan bioretensi pada median jalan sepenuhnya menyerap air hujan hingga mencapai zero run-off. Sedangkan penerapan permeable pavement dan street trees pada tepi jalan berhasil mengurangi debit limpasan hingga mencapai 20%. Dengan begitu, debit banjir di Jalan K.H. Sholeh Iskandar dapat diatasi 100% oleh penerapan green street. Pengembangan green street sebagai sarana pengendali banjir menjadi solusi berkelanjutan yang layak dipertimbangan dalam mengatasi banjir di ruas-ruas jalan perkotaan. Diperlukan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas untuk mendorong pertukaran gagasan dan pengetahuan dalam penerapan green street. Studi mengenai manfaat sosial dan ekonomi dari penerapan green street juga dapat dilakukan untuk melihat bagaimana green street berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat serta mengukur dampak finansialnya, termasuk penghematan biaya dan peningkatan nilai properti.
SIMULTANEOUS UNDERWATER VISION BASED MAPPING AND NAVIGATION
<p align="justify">Underwater topography mapping, known as bathymetry survey, is important to provide initial information on seafloor topography. Current technology requires shipborne systems to carry out such surveys. However, another alternative system must be considered in some areas where shipborne systems can not enter, such as shallow water areas, caves, archaeological sites, etc. In accessing difficult underwater technology, robots have been introduced as a teleoperation capability that extends the ability to access the ocean environment. Vision-based mapping (VbM) is one of the fundamental origins of automation in remote and autonomous spatial data acquisitions. Complexity in obtaining accurate data arises when such a method is applied in the underwater environment. This research proposes an integrated backscatter removal and refraction calibration model within the VbM and navigation pipeline. It is argued that the proposed VbMdedicated models can significantly improve the conformity of objects’ underwater positions around the camera's motion during underwater deployment. The research uses automatic refraction adjustment with a correction map to undistort images in real-time, addressing issues including refraction distortion and non-uniform light exposure that arise in underwater environments. Furthermore, haze removal, contrast adjustment, and color correction are combined to achieve backscatter removal for image enhancement algorithms. The research is structured into three phases to evaluate the synthesized pipeline: simulation, fieldwork, and accuracy assessment. The methodology commences by employing a simulated dataset from underwater simulation tools and introducing varying turbidity levels from 0% to 90% turbidity to assess the image enhancement algorithm. As the simulation does not directly model refraction due to the presence of water and camera lens medium, the simulated underwater camera operates with predefined parameters for both in-air and underwater simulations. The subsequent fieldwork is tailored with GoPro 10 hardware, which features a 109-degree wideangle lens recording images at a high resolution of 1980 x 1020, in Pramuka Island Waters, Indonesia. This setup offers real-world context for the research's relevance to distinct underwater circumstances and aims to examine the calibration impact on the lens and refraction distortion. The accuracy assessment involves comparing discrepancies among the VbM algorithms running offline and online (real-time process). The visual-inertial dataset collected from in-air and controlled environments, named the EASI dataset, is also utilized. The EASI dataset shares similar hardware specifications to analyze the performance and robustness of the derived camera parameters. Hence, it is helpful for testing the visual-inertial VbM for both in-air and underwater environments. The research shows efficient backscatter removal improves feature detection robustness, especially in murky water conditions. Refraction correction also eliminates the bowing effect from missing ground control points in underwater environments. The research is significant because it emphasizes how vital image enhancement and refraction calibration are to obtaining centimeter-level map accuracy of underwater VbM. The results highlight the need for a comprehensive strategy to advance underwater mapping and navigation technology to deliver accurate and dependable outcomes in various underwater situations.<p align="justify">
REDESAIN INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) BEDOG PDAM TIRTAMARTA KOTA YOGYAKARTA
Proses pengolahan dan penyaluran air bersih di Yogyakarta dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat kota Yogyakarta dan sekitarnya yang di laksanakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum Tirtamarta. PDAM Tirtamarta memiliki 9 Instalasi Pengolahan Air bersih. Diantara 9 IPA salah satunya adalah IPA Bedog. Pasokan air baku IPA Bedog sendiri berasal dari sumur dan SPAM Kartamantul. IPA Bedog memiliki 15 sumur. Proses pengolahan pasokan air baku saat ini melalui proses aerasi, sedimentasi, filtrasi, dan di simpan di reservoir lalu distribusikan ke masyarakat. Kondisi kualitas air baku di IPA Bedog sendiri mengandung fe dan mn yang cukup tinggi, tetapi air hasil pengolahan menunjukan kadar fe dan mn yang sudah memenuhi baku mutu. IPA Bedog melayani 6 kecamatan di Kota Yogyakarta dengan total jumlah terlayani sebanyak 107.808 jiwa. Untuk saat ini IPA Bedog memiliki pasokan air yang cukup untuk melayani 6 kecamatan tersebut. Tetapi untuk 20 tahun kedepan diperlukan penambahan debit dengan cara menambah pasokan air baku yang berasal dari air permukaan dikarenakan debit air baku melalui air tanah berkurang setiap tahunnya, sedangkan jumlah kebutuhan air meningkat. Maka dari itu diperlukan pembangunan unit pengolahan baru karena mengambil sumber air baku dari Sungai Bedog. berdasarkan alternatif yang telah terpilih yaitu penambahan unit bangunan intake, rumah pompa, bar screen, dan slow sand filter.
STRATEGI PENINGKATAN FUNGSI JARINGAN DRAINASE SEBAGAI SARANA PENGENDALIAN BANJIR DI JALAN RESIDEN ABDUL ROZAK KOTA PALEMBANG DENGAN SISTEM JARINGAN DRAINASE YANG TERPADU
Kota Palembang merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sumatera dengan jumlah penduduk sebesar 1,7 juta jiwa berdasarkan data sensus penduduk tahun 2022. Kota Palembang dikenal sebagai kota air yang sebagian besar daerahnya berupa rawa dan sungai. Sehingga Kota Palembang termasuk kota rawan banjir yang disebabkan alih fungsi lahan menjadi pemukiman. Tanpa sistem pengendalian drainase yang tepat maka beberapa Kawasan mengalami genangan yang disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi. Pada studi ini disusun untuk menyelesaikan permasalahan banjir di Kota Palembang khususnya di Jalan Residen Abdul Rozak yang merupakan salah satu akses utama masyarakat dan akses utama PT. Pupuk Sriwijaya (PUSRI). Penyebab terjadinya banjir di Kawasan ini yaitu dikarenakan kapasitas drainase yang tidak mampu menampung dan mengalirkan saat terjadinya hujan. Banjir dapat menyebabkan dampak dalam aspek lingkungan, ekonomi dan sosial. Pendekatan pada penelitian ini yaitu strategi pengendalian banjir dengan sistem drainase yang terpadu (ecodrain) atau lebih dikenal dengan sistem TRAP yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan dan Pelihara. Pada prinsipnya adalah pemulihan dan peningkatan aliran pada saluran drainase perkotaan dari pencemaran yang diakibatkan oleh sampah atau air limbah. Dalam mengatasi masalah banjir maka dapat menggunkan metode struktur dan non-struktur. Pada metode struktur berupa penyesuaian kapasitas dan pemeliharaan drainase, sumur resapan (vertical drain), kolam penampungan (retensi) dan infrastuktur persampahan. Metode non-struktur dengan melibatkan masyarakat untuk berpatisipasi dalam memeliharan lingkungan serta peran pemerintah dalam menetapkan arahan kebijakan.