π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 58 dokumenPENERAPAN METODE INVERSI SEISMIK SIMULTAN DAN SEISMIK ATRIBUT UNTUK KARAKTERISASI RESERVOIR DAN FASIES PADA FORMASI MENTAWA - MINAHAKI, AREA BAHAMA, CEKUNGAN BANGGAI
Cekungan Banggai yang terbentuk akibat tumbukan antara Lengan Timur Sulawesi dan Mikrokontinen Banggai-Sula pada zaman Miosen merupakan salah satu cekungan migas produktif di Indonesia dengan Formasi Mentawa yang telah terbukti sebagai reservoir gas. Reservoir ini terdiri dari batuan karbonat reef build-up di zona platform margin yang telah mengalami diagenesis meteoric vadose sehingga meningkatkan porositas dan potensi penyimpanan hidrokarbon. Untuk memahami karakteristik reservoir gas Mentawa, digunakan data dari empat sumur utama DNG-2, WOL-1, WOL-2, dan EWO-1 yang memiliki penanda sumur Mentawa, serta data seismik 3D Pre-stack domain waktu sebagai input inversi dan data seismik 3D post-stack domain kedalaman untuk interpretasi horizon dan patahan. Model kecepatan RMS dan interval juga digunakan untuk konversi kedalaman-waktu dan sebaliknya. Analisis sensitivitas parameter fisis batuan diperlukan sebelum dilakukan inversi seismik simultan diterapkan untuk mengidentifikasi parameter yang sensitif terhadap keberadaan hidrokarbon, seperti P-impedance, densitas, dan lambda-rho. Interpretasi target reservoir kemudian dilakukan menggunakan atribut seismik envelope dan cosine of phase untuk identifikasi horizon, struktur patahan, dan fasies. Setelah itu, metode inversi seismik simultan diterapkan menggunakan data seismik partial angle stack yang berasal dari data seismik pre-stack angle gather yang memiliki informasi sudut sehingga dapat menggunakan persamaan Aki-Richards untuk memodelkan reflektivitas sebagai fungsi sudut, sehingga inversi seismik simultan dapat memanfaatkan perbedaan respons amplitudo berdasarkan sudut untuk menghasilkan parameter yang representatif terhadap kondisi bawah permukaan dengan menghasilkan volume properti fisis seperti impedansi P, impedansi S, dan densitas. Hasil volume impedansi P kemudian digunakan untuk menghasilkan volume porositas dan volume lambda-rho. Hasil dari inversi seismik simultan dapat menghasilkan peta yang representatif terhadap persebaran hidrokarbon dan menunjukkan akumulasi gas di dalam reef build-up dengan porositas tinggi yang dipengaruhi oleh perubahan muka laut relatif, serta mengungkap hubungan antara porositas dan struktur patahan di area penelitian.
KARAKTERISASI RESERVOIR DENGAN MENGGUNAKAN SEISMIC ENHANCEMENT, DAN INVERSI SIMULTAN PADA FORMASI BINIO DI LAPANGAN βXβ, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Formasi Binio merupakan bagian dari Cekungan Sumatra Tengah yang telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Berdasarkan riset terbaru, Cekungan Sumatra Tengah memiliki cadangan hidrokarbon gas sebesar 126 miliar kaki kubik. Terdapat sembilan formasi yang terdapat dalam Cekungan Sumatra Tengah, fokus utama pada penelitian ini ada Formasi Binio. Formasi Binio terbentuk setelah adanya proses hiatus ditandai dengan adanya regresi yang kemudian terjadi pengendapan pada Miocene Akhir yang terjadi di fluvial sampai neritic dengan litologi yang terendapkan adalah perselingan antara batupasir dan shale. Penelitian di Lapangan βXβ ditujukan untuk memetakan persebaran reservoir batupasir pada Formasi Binio. Berdasarkan informasi data seismik dan data geologi, dilakukan analisis tuning thickness untuk melihat perbandingan ketebalan tuning thickness dengan ketebalan reservoir. Analisa tuning thickness dilakukan dengan membandingkan CDP gather, data yang telah diconditioning, dan data yang telah dienhancement pada zona target reservoir. Conditioning dan enhancement pada data seismik dilakukan untuk meningkatkan resolusi seismik berdasarkan nilai amplitudo seismik, dan didapatkan adanya perubahan ketebalan tuning thickness setelah dilakukan conditioning dan enhancement pada data seismik. Nilai rata-rata dari ketebalan reservoir adalah 11.98 kaki dengan nilai rata-rata ketebalan tuning thickness untuk masing-masing data adalah 62.15 kaki, 58.9 kaki, dan 46.61 kaki. Kemudian pada daerah penelitian dilakukan inversi simultan dengan menggunakan data seismik yang telah dilakukan conditioning dan enhancement untuk melihat persebaran reservoir batupasir berdasarkan parameter AI, densitas, dan lambda-rho. Berdasarkan parameter hasil inversi yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa perlapisan reservoir batupasir dengan menggunakan data seismik enhancement memberikan hasil yang lebih terlihat dibandingkan dengan menggunakan data seismik yang dilakukan conditioning dengan zona target menggunakan data seismik enhancement memiliki resolusi yang mendekati nilai resolusi data seismik.
ANALISIS FUNGSI BAHAYA SEISMIK DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT: STUDI KASUS KOTA-KOTA BESAR DAN WILAYAH SEKITARNYA
Pulau Jawa bagian barat memiliki tatanan tektonik yang cukup kompleks karena terletak di batas lempeng aktif antara subduksi miring lempeng Australia di bawah Sumatra dan subduksi ortogonal di sepanjang Jawa. Pertemuan lempeng-lempeng ini menyebabkan seismisitas di wilayah tersebut didominasi oleh gempa subduksi dan sesar-sesar yang mana membawa implikasi serius terhadap risiko bahaya seismik, terutama di daerah padat penduduk, di mana gempa bumi dapat menimbulkan dampak yang cukup merusak. Beberapa kota besar di Jawa bagian barat dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi memerlukan pemantauan khusus terhadap risiko gempa karena terletak di wilayah yang aktif secara seismik. Penelitian ini mengaplikasikan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) untuk mengestimasi kemungkinan terjadinya gempa bumi di kota-kota di Jawa bagian barat dan sekitarnya seperti Kota Bandung, Cianjur, Cirebon, Garut, Jakarta, dan Ujung Kulon dengan rentang magnitudo 5,0 hingga 7,6 dalam periode 50 tahun dan radius 50km, 100km, dan 150km dari sumber gempa. Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan guncangan gempa dipengaruhi oleh jarak dan magnitudo. Ujung Kulon memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mengalami gempa bermagnitudo besar dibandingkan Cirebon, yang memiliki probabilitas terendah. Temuan ini dapat dijadikan acuan dalam perencanaan mitigasi bencana guna meminimalisir korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian ekonomi
STUDI FASIES SEISMIK PADA FORMASI TALANGAKAR, SUBCEKUNGAN JAMBI, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Subcekungan Jambi merupakan subcekungan yang berada di Cekungan Sumatra Selatan dan menjadi salah satu penghasil hidrokarbon utama di Indonesia. Formasi Talangkar adalah salah satu formasi yang berperan sebagai batuan induk dan reservoir pada Subcekungan Jambi . Eksplorasi migas telah dilakukan lebih dari satu abad dan menghasilkan minyak dan gas lebih dari 1,5 miliar barel. Namun, pemerintah masih mengharapkan berbagai penemuan baru di daerah ini. Oleh karena itu, studi fasies seismik dan data sumur dilakukan untuk membuka wawasan baru mengenai persebaran Formasi Talangakar di bawah permukaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis litofasies, analisis elektrofasies, pengikatan data sumur pada seismik, interpretasi seismik 3D, analisis fasies seismik, dan interpretasi lingkungan pengendapan. Formasi Talangakar pada daerah penelitian didominasi oleh batulempung dengan perselingan batulanau, sisipan batupasir, dan batubara. Berdasarkan analisis fasies arsitektur, interval penelitian merupakan bagian dari sungai bermeander dan riverdominated delta. Analisis tersebut dikorelasikan dengan fasies seismik sehingga diketahui persebaran lingkungan pengendapannya. Hasil analisis fasies seismik menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki enam fasies seismik yaitu fasies seismik 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Fasies seismik tersebut dikorelasikan dengan fasies arsitektur. Pengkorelasian tersebut meliputi fasies arsitektur prodelta dan floodplain yang berkorelasi dengan fasies seismik 1, fan delta yang berkorelasi dengan fasies seismik 2, delta plain dan swamp yang berkorelasi dengan fasies seismik 3, distributary channel dan river channel yang berkorelasi dengan fasies 4, delta front yang berkorelasi dengan fasies seismik 5, dan floodplain yang berkorelasi dengan fasies seismik 6.
STUDI SEISMIC HAZARD FUNCTION (SHF) SEBELUM GEMPA BESAR DI SEPANJANG PANTAI PULAU SUMATRA: ANALISA SHF BERDASARKAN PERUBAHAN B-VALUE
Analisa fungsi bahaya gempa (SHF) di sepanjang pulau Sumatra diinvestigasi berdasarkan perubahan b-value menggunakan katalog data gempa kerak dangkal. Area studi dianalisa di sekitar event gempa-gempa besar yang terjadi pada tahun 2000 sampai 2010. Perubahan b-value diestimasi menggunakan metode maximum likelihood dengan angka yang konstan. Pertama-tama, b-value di sekitar epissenter gempa dengan radius 150 km dihitung berdasarkan katalog data gempa dari tahun 193 sampai 2016 (b50). Kedua, b-value berdasarkan 5 tahun dengan satu tahun moving window (b5) diestimasi sebelum gempa besar dari tahun 2000 sampai 2010. Nilai b5 dihitung berdasarkan konstan. Kemudian, SHF dari b50 dan b5 dihitung dan dikomparasi. Hasilnya menunjukan bahwa probabilitas melebihi dari SHF b5 lebih tinggi setidaknya 5 tahun sebelum gempa besar terjadi. Maka dari itu, hasil yang diperoleh dari studi ini kemungkinan dapat sangat membantu untuk mitigasi gempa dan pemodelan dari studi kemungkinan bahaya gempa dan analisa selanjutnya.
ANALISIS PERUBAHAN KECEPATAN SEISMIK LAPANGAN PANAS BUMI PATUHA FASE SEBELUM, SAAT DAN SESUDAH OVERHOUL
Kegiatan re-injeksi dan produksi fluida pada lapangan panas bumi dapat menyebabkan adanya gangguan kestabilan stress yang berimplikasi adanya perubahan nilai perubahan kecepatan relatif. Monitoring perubahan kecepatan relatif dapat memberikan informasi mengenai perilaku reservoir. Pada penelitian kali data yang digunakan adalah data rekaman seismik yang terekam pada sebelas stasiun seismometer di Lapangan Panas Bumi Patuha dalam durasi selama 100 hari yang meliputi kegiatan sebelum overhaul, saat overhaul, dan setelah overhaul. Proses monitoring kecepatan relatif seismik dengan memanfaatkan data ambient seismic yang terekam pada beberapa pasangan stasiun untuk mendapatkan cross correlation function (CCF). Hasil CCF harian kemudian dilakukan proses stacking yang berfungsi untuk meningkatkan signal to noise rasio (SNR). Dari hasil stacking CCF dilakukan perhitungan delay time dan juga perubahan kecepatan seismik relatif. Perhitungan ini dilakukan dengan membandingkan antara CCFcurrent dan CCFreference dengan metode Moving Window Cross Spectrum (MWCS). Referensi yang digunakan adalah periode ketika sebelum terjadinya overhaul. Setelah itu didapatkan plot perubahan kecepatan pada pasangan stasiun PPL03-TCH04, PPL01-PPL08, PPL01-TCH14, PPL08-TCH14. Fase sebelum overhaul menunjukkan tren penurunan kecepatan relatif untuk setiap pasangan stasiun. Overhaul dimulai menunjukkan tren peningkatan kecepatan relatif untuk pasangan stasiun PPL01-PPL08, PPL01-TCH14, dan PPL03TCH04 terjadi penurunan kecepatan untuk pasangan stasiun PPL08-TCH14. Setelah Kegiatan overhaul selesai terjadi mekanisme multiple akumulasi stress dan multiple stress release yang berkaitan proses kesetimbangan stress
STUDI EFEK PEMODELAN KAKI D-WALL TERHADAP RESPON KEGEMPAAN STRUKTUR BAWAH TANAH PADA STASIUN MRT JAKARTA
Sistem transportasi perkotaan yang efisien dan berkelanjutan adalah elemen kunci dalam perkembangan kota besar di seluruh dunia. Permintaan akan sistem transportasi publik yang handal, seperti kereta bawah tanah atau MRT, meningkat seiring dengan urbanisasi yang semakin tinggi. Meskipun struktu.r bawah tanah dianggap aman karena dukungan alami dari tanah, pentingnya analisis seismik tidak boleh diabaikan mengingat risiko kerusakan akibat gempa bumi, terutama di wilayah yang rentan seperti Indonesia. Dalam beberapa praktis desain, analisis seismik struktur bawah tanah sering kali menggunakan pendekatan kerangka kerja yang disederhanakan, yang telah mengasumsikan geometri struktu.r sedemikian rupa konservatif tanpa memodelkan panjang penetrasi kaki d-wall. Namun, hasil penelitian ini menunjukk:an tren yang tidak konsisten, dengan beberapa studi menunjukk:an peningkatan signifikan pada rasio rangkak model stasiun bawah tanah dengan D-wall, sementara studi lain menunjukkan deformasi yang lebih kecil pada struktur dengan D-wall. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi dampak D-wall terhadap perilaku seismik dengan melakukan studi parametrik terhadap 48 model yang mempertimbangkan berbagai variabel, termasuk intensitas gempa, kelas situs, geometri struktu.r, dan panjang penetrasi kaki D-wall. Penelitian ini menggunakan metode finite element dengan meninjau analisis dinamik dan juga analisis pseudostatik. Hasil menunjukk:an bahwa efek pemodelan kaki D-wall secara praktis tidak signifikan dimana perbedaan deformasi yang ditunjukkan berkisar antara 0.057-1.49 mm. Sedangkan dari segi gaya dalam, model tanpa kaki D-wall memiliki pertambahan bending momen dinamik lebih besar sekitar 14-25% dibandingkan dengan model dengan kaki DΒwall. Adapun perbedaan hasil penelitian dengan penelitian terdahulu disebabkan oleh model kaki D-wall yang digunakan berbeda. Beberapa penelitian terdahulu mengasumsikan D-wall terpisah dengan shear wall dari struktu.r itu sendiri sehingga dapat menambah kekakuan dan mereduksi besarnya deformasi yang terjadi.
EVALUASI DAN REHABILITASI SEISMIK GEDUNG LABTEK VII ITB DENGAN BASE ISOLATION
Gedung Laboratorium Teknik VII adalah salah satu fasilitas pendidikan utama di Institut Teknologi Bandung (ITB), digunakan sebagai ruang kuliah dan laboratorium bagi mahasiswa teknik. Dibangun pada tahun 1996, gedung ini dirancang berdasarkan standar gempa yang berlaku saat itu, yaitu SNI 03-1726-1989. Standar tersebut merupakan peraturan gempa yang diterapkan di Indonesia pada akhir abad ke-20, dan dianggap memadai pada masanya. Namun, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemahaman yang lebih baik tentang risiko gempa di Indonesia, standar baru seperti SNI 1726:2019 diperkenalkan. Standar ini menetapkan tuntutan keselamatan yang lebih tinggi, untuk memastikan bahwa bangunan mampu bertahan menghadapi gempa yang lebih kuat dan sering terjadi. Bangunan yang dibangun dengan peraturan lama, seperti Labtek VII ITB, perlu dievaluasi menggunakan standar terbaru untuk memastikan apakah masih memenuhi persyaratan keselamatan atau memerlukan rehabilitasi seismik. Evaluasi ini penting karena ketidaksesuaian antara standar lama dan baru dapat menyebabkan gedung tidak mampu bertahan saat terjadi gempa besar, sehingga menimbulkan risiko keselamatan bagi penghuninya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja Gedung Labtek VII ITB terhadap beban gempa sesuai dua standar yang berbeda, yaitu SNI 03-1726-1989 dan SNI 1726:2019. Selain itu, penelitian ini juga merancang strategi rehabilitasi seismik yang tepat menggunakan standar ASCE 41-17 guna meningkatkan ketahanan gedung terhadap gempa. Analisis awal terhadap beban gempa dari kedua standar dilakukan menggunakan metode Linear Static Procedure (LSP). Metode ini memungkinkan evaluasi respons struktur gedung terhadap beban gempa yang diberikan, berdasarkan parameter dari masing-masing standar. Hasil analisis menunjukkan bahwa Gedung Labtek VII ITB memenuhi kriteria SNI 03-1726-1989 saat dibangun. Namun, dengan adanya standar terbaru, yaitu SNI 1726:2019, gedung ini tidak lagi memenuhi kriteria penerimaan, terutama karena perbedaan signifikan dalam periode ulang gempa yang digunakan. SNI 03-1726-1989 menggunakan periode ulang gempa 200 tahun, sementara SNI 1726:2019 menggunakan periode ulang 500 tahun. Perbedaan ini meningkatkan beban gempa yang diharapkan dan menghasilkan gaya geser dasar yang lebih besar, meningkat sebesar 27% dibandingkan standar lama. Peningkatan gaya geser dasar ini menyebabkan perpindahan dan simpangan antar tingkat yang lebih besar, melebihi batas maksimum yang diizinkan oleh SNI 1726:2019, yaitu 1%. Untuk mengatasi kekurangan struktur yang ditemukan, dilakukan rehabilitasi seismik menggunakan metode base isolation. Metode ini dipilih karena kemampuannya mengurangi simpangan antar tingkat dengan meningkatkan fleksibilitas struktur, sehingga mengurangi gaya geser dasar yang diterima bangunan. Base isolation dipasang pada seluruh kolom dasar bangunan, bertujuan meratakan distribusi beban pada struktur. Rehabilitasi seismik kemudian dianalisis menggunakan Nonlinear Dynamic Procedure (NDP) sesuai dengan standar ASCE 41-17. Analisis ini dilakukan pada kondisi gedung sebelum dan sesudah rehabilitasi, yaitu pada kondisi terjepit (eksisting) dan terisolasi (rehabilitasi). Tujuan utama rehabilitasi adalah mencapai Basic Performance Objective for Existing Buildings (BPOE), dengan menggunakan dua tingkat beban gempa: Beban Gempa BSE-1E dengan periode ulang 250 tahun untuk analisis beban servis, dan Beban Gempa BSE-2E dengan periode ulang 1000 tahun untuk analisis beban maksimum. Hasil analisis NDP menunjukkan bahwa penerapan base isolation sangat efektif dalam mengurangi simpangan antar tingkat. Pada gempa BSE-1E, simpangan antar lantai berkurang sebesar 42%, sementara pada gempa BSE-2E penurunan simpangan mencapai 52%. Dengan metode nonlinear dynamic procedure pada struktur dengan base isolation, simpangan antar tingkat untuk BSE-1E dan BSE-2E memenuhi kriteria penerimaan 2%. Pengurangan ini terjadi karena base isolation meningkatkan periode struktur hingga 2,6 kali dibandingkan kondisi struktur terjepit, menggeser respons spektrum ke frekuensi yang lebih rendah, secara signifikan mengurangi gaya geser dasar. Gaya geser dasar menurun sebesar 43,71% pada BSE-1E dan 56,60% pada BSE-2E, mengakibatkan pengurangan gaya elemen, perpindahan lantai, dan simpangan antar tingkat yang lebih kecil. Hasil ini memastikan bahwa Gedung Labtek VII ITB yang terisolasi kini memenuhi kriteria penerimaan yang ditetapkan oleh NDP dan SNI 1726:2019, sehingga lebih aman dalam menghadapi gempa besar di masa depan.
EVALUASI SEISMIK DAN PERENCANAAN RETROFIT JEMBATAN LAYANG EKSISTING MENGGUNAKAN LEAD RUBBER BEARING SEBAGAI SISTEM ISOLASI SEISMIK
Jembatan merupakan salah satu infrastruktur yang berperan penting dalam mengakomodasi pergerakan masyarakat. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi kegempaan yang tinggi, jembatan di Indonesia harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memiliki ketahanan apabila terkena beban gempa. Terlebih lagi, seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, standar pedoman tentang beban gempa pada jembatan terus mengalami pembaharuan, maka dari itu, perlu dilakukannya evaluasi pada jembatan untuk mengetahui ketahanan jembatan tersebut terhadap beban gempa eksisting. Di Jakarta terdapat jembatan layang yang telah berumur sekitar 30 tahun, diresmikan pada tahun 1992, jembatan layang tersebut masih eksis digunakan hingga kini. Pada salah satu bagian dari jembatan layang tersebut akan dilakukan evaluasi seismik menggunakan metode spektrum kapasitas dengan acuan publikasi Federal Highway Association (FHWA), setelahnya akan dilakukan perencanaan retrofit untuk mengetahui perubahan respons jembatan tersebut. Perencanaan retrofit akan dilakukan untuk memodifikasi respon struktur dengan mengganti bantalan eksisting dengan Lead Rubber Bearing (LRB). Tugas akhir ini memiliki hipotesis bahwa terdapat kerusakan pada jembatan eksisting apabila terkena beban gempa periode ulang 1000 tahun, sehingga perencanaan retrofit diproyeksikan dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi pada kondisi tersebut.
EVALUASI SEISMIK STRUKTUR RUSUN EKSISTING YANG DIRANCANG BERDASAR SNI 1726:2002 SESUAI ASCE 41-17 (RSNI XXXX:20XX)
Infrastruktur di Indonesia terus berkembang sampai sekarang, hal ini menyebabkan banyak dijumpai bangunan ataupun struktur yang dirancang dengan SNI 1726:2002, yang berpotensi menghadapi berbagai defisiensi struktural dalam hal ketahanan terhadap gempa. Mengingat wilayah Indonesia yang rawan gempa, evaluasi dan perbaikan terhadap bangunan-bangunan ini menjadi krusial untuk memastikan keselamatan penghuninya. Penggunaan RSNI XXXX:20XX (ASCE 41-17) sebagai metode evaluasi menawarkan pendekatan komprehensif untuk menilai kinerja seismik bangunan yang ada. Dalam studi ini, ketidakberaturan geometri, ketidakpatuhan terhadap standar pelapisan pelat, rangka pracetak, dan tegangan geser pada kolom ditemukan melalui analisis Tier 1. Selanjutnya, analisis Tier 3 menggunakan Prosedur Statik Linier (PSL) mengidentifikasi bahwa banyak elemen struktural seperti balok, kolom, sambungan, dan dinding geser tidak memenuhi kriteria penerimaan untuk kapasitas lentur dan geser di bawah beban gempa BSE-1E dan BSE-2E. Prosedur Statik Nonlinier (PSN) juga menunjukkan adanya elemen yang berisiko kolaps pada kolom. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk merumuskan strategi retrofit yang dapat meningkatkan kapasitas lentur, geser, dan daktilitas struktur, sehingga memperkuat bangunan terhadap potensi kerusakan akibat gempa. Hasil analisis menegaskan perlunya tindakan retrofit yang ditargetkan untuk meningkatkan ketahanan seismik bangunan.
PENCITRAAN STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG SEISMIK 3D MENGGUNAKAN METODE TOMOGRAFI DOUBLE-DIFFERENCE WILAYAH PULAU LOMBOK
Aktivitas tektonik di Pulau Lombok tergolong cukup kompleks, seismisitas pada daerah tersebut tergolong cukup aktif dan banyak mengalami gempa bumi dengan intensitas yang signifikan. Pemahaman yang lebih mendalam tentang proses tektonik di Pulau Lombok menjadi penting dalam upaya mengantisipasi potensi bahaya gempa bumi. Metode tomografi gelombang seismik diaplikasikan untuk membantu memahami karakteristik tektonik dan mencitrakan struktur bawah permukaan. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode tomografi double-difference untuk mencitrakan struktur bawah permukaan dengan menggunakan data waktu tiba gelombang dari rangkaian kejadian gempa. Penelitian ini menggunakan data katalog gempa yang diperoleh dari jaringan seismograf lokal hasil rekaman 20 stasiun penerima dari Institut Teknologi Bandung, Earth Observatory of Singapore (Nanyang Technological University), dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada tanggal 4 Agustus hingga 9 September 2018, jumlah gempa sebanyak 3.259 event dengan fase gelombang P 28.728 dan fase gelombang S 20.713. Inversi tomografi yang digunakan pada algoritma double-difference adalah metode LSQR teredam. Tomogram yang diinterpretasi adalah daerah dengan hasil uji resolusi yang baik. Metode uji resolusi pada penelitian ini adalah derivative weigh sum (DWS) dan uji checkerboard test. Hasil inversi tomografi kecepatan gelombang P dan S dengan metode double-difference dapat mencitrakan terkait kondisi fitur-fitur yang ada pada bawah permukaan Pulau Lombok. Struktur kecepatan di zona sesar dapat diindikasikan dengan anomali kecepatan gelombang P rendah, anomali kecepatan gelombang S yang rendah, dan nilai rasio Vp/Vs yang tinggi berkisar 1.8 hingga 2. Pada kedalaman sekitar 0-10 km dengan formasi memanjang dari barat ke timur di sepanjang pantai utara Pulau Lombok diindikasikan sebagai zona hancuran sesar. Pada kedalaman sekitar 15-20 km sebelah timur kompleks vulkanik Gunung Rinjani diindikasikan sebagai massa batuan yang cukup kompak dan kering.
PENENTUAN HIPOSENTER MENGGUNAKAN METODE NON-LINEAR DI SULAWESI TENGAH BERDASARKAN DATA TANGGAL 1 DESEMBER 2019-31 JANUARI 2020
Gempa 7,5 Mw terjadi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada 28 September 2018 tergolong gempa kuat dan merusak. Gempa tersebut terpicu oleh aktivitas Sesar Palu-Koro dan mengakibatkan sejumlah gempa susulan. Pemahaman tentang aktivitas gempa susulan dan pola seismisitas merupakan bagian dari upaya mitigasi bahaya gempa. Secara tatanan tektonik, wilayah Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah memiliki tatanan tektonik yang relatif rumit dan aktif. Pola tatanan tektonik di suatu wilayah dapat dipahami dari pola seismisitas yang diperoleh dari hasil penentuan hiposenter. Pada penelitian Tugas Akhir ini, penulis menggunakan data rekaman 10 titik seismograf dengan rentang rekaman mulai dari 1 Desember 2019 - 31 Januari 2020. Jaringan pengamatan seismograf tersebut merupakan kerjasama ITB, BMKG dan University of Cambridge. Proses penentuan hiposenter gempa mengaplikasikan metode non-linear dan menggunakan program Non-Linear Location (Nonlinloc). Penulis memilih fase gelombang P dan S secara manual menggunakan perangkat lunak Seisgram2K. Berdasarkan hasil penentuan lokasi gempa, diperoleh 44 kejadian gempabumi dengan 492 fase gelombang P dan S. Hasil hiposenter ditampilkan dalam bentuk peta sebaran hiposenter di wilayah Sulawesi Tengah. Secara umum zona seismogenik berada pada kedalaman kurang dari 30 km dan tersebar di bagian timur Sesar Palu-Koro. Selain itu, terdapat cluster sebaran gempa di bagian timur Sesar Palu-Koro yang kemungkinan terpicu oleh sesar aktif yang belum terpetakan.
ANALISIS STATIK DAN DINAMIK BENDUNGAN MELATI
Dalam pembangunan dan operasionalnya bendungan dapat mengalami kerusakan. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bendungan yaitu gempa bumi. Kerusakan jika tidak diantisipasi dapat mengakibatkan kegagalan yang dapat berakibat kerugian materil dan jiwa. Untuk menghindari hal tersebut maka diperlukan perencanaan yang baik sebelum dilakukan pembangunan. Respon bendungan, baik untuk kondisi statik dan dinamik, perlu diketahui untuk mengevaluasi keamanan dari desain bendungan. Rekayasa kegempaan berhubungan dengan efek gempa bumi pada manusia dan lingkungannya beserta metode-metode untuk mengurangi efek tersebut. Pada penelitian ini dilakuan analisis terhadap respon statik dan dinamik dari Bendungan Melati. Bendungan Melati direncanakan merupakan bendungan komposit dengan jenis bendungan urugan zonasi pada sisi kiri dan bendungan roller-compacted concrete (RCC) pada sisi kanan. Analisis respon statik dan dinamik dilakukan pada bagian bendungan urugan. Analisis respon statik dilakukan dengan memodelkan dari kondisi in-situ pondasi, simulasi konstruksi dari bendungan, pengisian dari reservoir bendungan, hingga operasional bendungan selama lima tahun. Sedangkan analisis respon dinamik dilakukan terhadap sembilan gempa dengan tiga sumber gempa yang berbeda. Analisis statik dan dinamik dilakukan menggunakan metode finite element. Pemodelan terhadap simulasi konstruksi dari bendungan dilakukan secara sequential menggunakan 23 timbunan dengan tinggi dua meter. Pada akhir dari konstruksi didapatkan adanya settlement berbentuk oval pada tengah core dengan nilai terbesar 34 cm dan horizontal displacement sebesar 8 cm menuju sisi downstream. Pengisian dari reservoir menghasilkan adanya uplift dengan nilai tertingginya yaitu sebesar 13.6 cm. Analisis terhadap operasional bendungan tidak menghasilkan adanya displacement yang signifikan. Analisis tingkat keamanan menghasilkan nilai faktor keamanan yang sangat baik pada sisi upstream dan downstream, dengan nilai faktor keamanan 2.673 dan 1.931. Berdasarkan analisis deaggregrasi terhadap hasil probabilistic seismic hazard, didapatkan karakteristik controlling earthquake untuk sumber gempa zona benioff, shallow crustal, dan megathrust. Pada penelitian ini digunakan gempa Patea, Honshu tahun 1998, dan Honshu tahun 2004 untuk sumber gempa zona benioff, gempa Darfield, Iwate, dan Tottori untuk sumber gempa gempa shallow crustal, dan gempa Honshu 2011 dan Tohoku untuk stasiun IWT007 dan IWT010 untuk sumber gempa megathrust. Rekaman gempa kemudian dilakukan modifikasi spectral acceleration scaling terhadap peak ground acceleration dari uniform hazard spectra. Pada penelitian ini, analisis dinamik dilakukan menggunakan metode linear equivalent. Pada akhir dari gempa terdapat adanya indikasi likuefaksi pada keseluruhan model. Analisis likuefaksi menunjukan gempa Darfield menghasilkan persebaran likuefaksi terluas dan excess pore water terbesar. Analisis kestabilan menunjukan pada sisi upstream model gempa Darfield dan Tottori memiliki nilai faktor keamanan dibawah 1. Pada sisi downstream keseluruhan model memiliki nilai faktor keamanan yang tinggi. Analisis deformasi menunjukan model gempa Darfield, Tottori, dan Tohoku stasiun IWT007 menghasilkan displacement tinggi. Perbandingan berbagai ground motion parameters menunjukan adanya korelasi secara linear dan eksponensial antara displacement dengan meningkatnya parameter. Analisis korelasi menunjukan parameter maximum velocity sustained maximum velocity, dan Housner intensity memiliki nilai koefisien determinasi yang tinggi. Perbandingan terhadap spectral response dari rekaman gempa menunjukan rekaman dengan spectral acceleration yang cenderung tinggi pada periode sedang hingga tinggi menghasilkan displacement yang lebih besar dibandingkan dengan rekaman dengan nilai spectral acceleration yang tinggi pada periode rendah. Kombinasi terhadap intensitas dari ground motion dan spectral response menjadi faktor yang berpengaruh terhadap displacement dan kestabilan bendungan.