📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

COLLABORATIVE ANALYSIS OF TOURIST SENTIMENT AND SPATIAL FEATURES BASED ON THE 5D FRAMEWORK IN THE BRAGA AREA

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara wisatawan memperoleh informasi, mengevaluasi destinasi, serta membagikan pengalaman perjalanan melalui berbagai platform digital. Salah satu bentuk data digital yang berkembang pesat adalah ulasan pada Google Maps yang memuat pengalaman, persepsi, dan penilaian wisatawan terhadap suatu destinasi. Dalam konteks pariwisata, ulasan digital tidak hanya berfungsi sebagai media berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi sumber informasi yang memengaruhi citra destinasi dan keputusan kunjungan wisatawan lainnya. Di sisi lain, perkembangan data digital tersebut membuka peluang baru bagi penelitian untuk memanfaatkan informasi yang dihasilkan secara sukarela oleh wisatawan (user-generated content) dalam memahami karakteristik suatu kawasan. Namun demikian, kajian mengenai karakteristik spasial kawasan wisata hingga saat ini masih didominasi oleh pendekatan objektif berbasis built environment, seperti pengukuran kepadatan, penggunaan lahan, kualitas desain kawasan, dan aksesibilitas menggunakan data spasial maupun Geographic Information System (GIS). Pendekatan tersebut mampu menggambarkan kondisi fisik kawasan secara objektif, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana karakteristik tersebut dipersepsikan dan dialami oleh wisatawan sebagai pengguna ruang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga berdasarkan persepsi wisatawan yang direpresentasikan melalui ulasan digital Google Maps menggunakan pendekatan Perceived 5D. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis berbasis teks (text-based analysis). Data penelitian berupa 7.858 ulasan wisatawan yang diperoleh melalui proses web scraping pada platform Google Maps. Tahapan penelitian meliputi data cleaning dan text preprocessing, klasifikasi ulasan ke dalam lima dimensi Perceived 5D yang terdiri atas Density, Diversity, Design, Destination Accessibility, dan Distance to Transit menggunakan Large Language Model (LLM), dilanjutkan dengan analisis sentimen pada setiap dimensi serta sintesis hasil untuk menginterpretasikan karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga berdasarkan persepsi wisatawan. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi karakteristik spasial kawasan berdasarkan pengalaman aktual yang diungkapkan secara langsung oleh wisatawan melalui ulasan digital, sehingga melengkapi pendekatan konvensional yang selama ini lebih berfokus pada atribut fisik kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulasan wisatawan mampu merepresentasikan berbagai dimensi karakteristik spasial Kawasan Jalan Braga. Dimensi Design menjadi aspek yang paling dominan dalam ulasan dengan proporsi 35,92% dari seluruh ulasan wisatawan, diikuti oleh Diversity (30,60%), Density (25,77%), Destination Accessibility (6,15%), dan Distance to Transit (1,55%). Dominasi dimensi Design menunjukkan bahwa kualitas visual kawasan, karakter arsitektur heritage, kondisi ruang publik, serta elemen fisik kawasan merupakan aspek yang paling banyak diperhatikan dan dievaluasi oleh wisatawan. Sementara itu, tingginya proporsi dimensi Diversity menunjukkan bahwa keberagaman fungsi kawasan, seperti aktivitas kuliner, perdagangan, hiburan, dan ruang publik, menjadi daya tarik penting yang membentuk pengalaman wisatawan selama berada di Kawasan Jalan Braga. Kemudian Secara keseluruhan, 87,30% ulasan menunjukkan sentimen positif, 9,45% sentimen negatif, dan 3,25% sentimen netral. Dimensi Design juga memperoleh apresiasi tertinggi dengan 94,37% sentimen positif, diikuti oleh Diversity sebesar 93,95%, yang menunjukkan bahwa kualitas visual kawasan, karakter heritage, dan keberagaman aktivitas merupakan faktor utama yang membentuk persepsi wisatawan terhadap Kawasan Braga. Sebaliknya, dimensi Density menunjukkan persepsi yang lebih beragam dengan proporsi sentimen negatif tertinggi (23,29%), terutama berkaitan dengan kepadatan pengunjung, lalu lintas, dan keterbatasan parkir. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik spasial kawasan secara objektif, tetapi juga oleh bagaimana karakteristik tersebut dipersepsikan, dialami, dan dimaknai oleh wisatawan selama berkunjung. Penelitian ini menunjukkan bahwa ulasan digital tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi sentimen wisatawan, tetapi juga mampu merepresentasikan karakteristik spasial kawasan berdasarkan pengalaman pengguna ruang.Dengan demikian, ulasan digital dapat dimanfaatkan sebagai sumber data alternatif untuk memahami karakteristik spasial kawasan dari perspektif pengguna ruang. Integrasi pendekatan Perceived 5D dengan Large Language Model memberikan pendekatan baru dalam mengidentifikasi karakteristik spasial berdasarkan pengalaman wisatawan sekaligus melengkapi pendekatan objektif yang selama ini lebih banyak digunakan dalam kajian perencanaan wilayah dan kota. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola dan Pemerintah Kota Bandung dalam merumuskan strategi pengelolaan dan pengembangan Kawasan Jalan Braga yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas fisik kawasan, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman, persepsi, serta kebutuhan wisatawan sebagai pengguna utama ruang kawasan wisata perkotaan.

2026
👤 Penulis: Nazwa Shafira Halwa Syah Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Perceived 5D 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN KERANGKA KERJA REKOMENDASI KOLABORATOR AKADEMIK HIBRIDA BERBASIS ANALISIS KONTEN PUBLIKASI, ANALISIS TOPOLOGI JARINGAN, DAN MEKANISME TEMPORAL

Identifikasi mitra riset yang relevan merupakan kebutuhan penting bagi lembaga riset pemerintah daerah untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas. Namun, berbeda dengan akademisi pada umumnya, lembaga riset pemerintah daerah tidak selalu memiliki akses terhadap jejaring akademik, informasi kepakaran akademisi, maupun pemahaman yang memadai terkait lanskap penelitian yang berkembang. Kondisi ini membuat proses pencarian kolaborator lebih sulit, terutama ketika kepakaran akademisi dan pola kolaborasi riset terus berubah seiring waktu. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja rekomendasi kolaborator akademik hibrida yang terdiri dari tiga modul utama. Pertama, analisis konten publikasi digunakan untuk mengidentifikasi kemiripan minat riset akademisi berdasarkan judul dan abstrak publikasi melalui kombinasi tiga komponen. SciBERT digunakan untuk menangkap makna semantik teks ilmiah, temporal decay memberi bobot lebih besar pada publikasi terbaru, dan pemodelan kepakaran multi-topik merepresentasikan variasi minat riset akademisi. Kedua, analisis topologi jaringan untuk mengidentifikasi kemiripan pola kolaborasi antar akademisi pada graf co-authorship melalui kombinasi empat komponen. node2vec digunakan untuk menangkap kedekatan struktural pada graf terbobot temporal, yang kemudian diperkuat dengan sinyal kedekatan lokal dan kolaborasi berulang. Temporal decay juga digunakan untuk menekankan kebaruan hubungan kolaborasi agar representasi topologi mencerminkan jejaring riset yang relevan. Ketiga, kemiripan konten dan topologi dikombinasikan menggunakan linear combination untuk menghasilkan rekomendasi top-K calon kolaborator. Hasil evaluasi melalui menunjukkan bahwa kerangka kerja yang diusulkan menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan model baseline dan kerangka kerja terdahulu, dengan kinerja tertinggi pada F1@4 sebesar 0,3873. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi representasi semantik, representasi topologi, dan mekanisme temporal dapat meningkatkan kualitas rekomendasi kolaborator akademik.

2026
👤 Penulis: Wildan Nurhadi Wicaksono
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Topologi Jaringan 🏷️ Mekanisme Temporal

MENDEFINISIKAN KEMBALI ARSITEKTUR UNTUK KOMUNITAS FESYEN LAMBAT: REVITALISASI PASAR SUNAN GIRI JAKARTA TIMUR

Tren fesyen cepat yang semakin berkembang sebagai pola konsumsi dominan di masyarakat perkotaan telah mengancam keberlangsungan pasar-pasar fesyen tradisional di Jakarta. Salah satu contohnya adalah Pasar Sunan Giri yang saat ini mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Dalam lima tahun terakhir, pasar ini kehilangan pengunjung sekaligus vitalitas komersialnya di tengah pesatnya pertumbuhan ritel fesyen dengan sistem produksi massal. Di sisi lain, komunitas penjahit dan pengrajin pakaian lokal yang hidup di dalamnya memiliki potensi besar untuk menjadi sumber fesyen berkelanjutan di Jakarta. Ketika nilai-nilai utama dalam gerakan fesyen lambat dibandingkan dengan praktik yang mereka lakukan sehari-hari, terlihat bahwa komunitas tersebut sebenarnya telah menerapkan prinsip fesyen lambat dalam aktivitasnya. Kondisi ini mendorong arsitektur untuk mengambil peran dalam mendefinisikan kembali ruang pasar. Intervensi arsitektural pada proyek revitalisasi ini berfokus pada: (1) penerapan transprogramming pada ruang komersial perkotaan; (2) integrasi strategi desain pasif; dan (3) penciptaan ruang yang mendukung pengembangan komunitas. Melalui revitalisasi ini, pasar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ruang komersial, melainkan juga sebagai ruang produksi yang manusiawi serta ruang pertama bagi konsumen untuk memahami nilai di balik produk yang mereka konsumsi.

2026
👤 Penulis: Atikah Az-Zahro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Lingkungan

EVALUASI DAN OPTIMASI KINERJA STEAM WASHING BERBASIS PEMODELAN PADA PLTP DARAJAT UNIT 1

Kualitas uap merupakan faktor penting yang memengaruhi keandalan jangka panjang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), terutama pada lapangan bertipe steam-dominated, dimana terbawanya kontaminan bersama aliran uap dapat menyebabkan deposisi, scaling, korosi, serta penurunan kinerja turbin. Penelitian ini mengevaluasi dan mengoptimasi kinerja sistim steam washing yang dipasang sebelum separator pada PLTP Darajat Unit 1 menggunakan pendekatan berbasis pemodelan. Analisis dilakukan dengan menggabungkan karakterisasi droplet secara hidraulik, perhitungan termodinamika pencampuran uap-air, serta mekanisme penangkapan partikel melalui difusi, intersepsi, dan impaksi inersia. Pengaruh distribusi ukuran partikel diperhitungkan menggunakan model Rosin–Rammler. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi nozzle MP343 yang digunakan saat ini memiliki efisiensi penangkapan partikel sebesar 44,54%, yang menghasilkan efisiensi penurunan kontaminan keseluruhan sebesar 40,1% setelah proses pemisahan, serta menurunkan konsentrasi klorida dari 0,2167 mg/L menjadi 0,1298 mg/L. Pada tahap optimasi pertama, nozzle MP375 teridentifikasi sebagai konfigurasi terbaik pada kondisi operasi eksisting dengan peningkatan efisiensi penangkapan menjadi 51,73% dan efisiensi penurunan keseluruhan menjadi 46,6%. Namun demikian, konsentrasi klorida yang dihasilkan masih berada di atas batas yang direkomendasikan MHI, yaitu sebesar 0,1158 mg/L. Tahap optimasi kedua dilakukan dengan mengevaluasi seluruh konfigurasi nozzle pada tekanan injeksi 20 bar. Hasilnya menunjukkan bahwa nozzle MP375 kembali memberikan kinerja terbaik dengan efisiensi penangkapan sebesar 79,89% dan efisiensi penurunan keseluruhan sebesar 71,9%. Pada kondisi tersebut, konsentrasi klorida, besi, silika, dan TDS berhasil diturunkan menjadi masing-masing 0,061; 0,003; 0,003; dan 0,149 mg/L. Validasi lapangan lebih lanjut direkomendasikan untuk mengonfirmasi hasil prediksi model sebelum implementasi pada skala operasional.

2026
👤 Penulis: Iyan Engkuma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA LAHAN GAMBUT TROPIS DI KALIMANTAN TENGAH BERDASARKAN CITRA LANDSAT 8/9

Ekosistem rawa gambut tropis memiliki peran esensial dalam regulasi siklus hidrologi, namun sangat rentan terhadap degradasi akibat intervensi tata guna lahan yang eksploitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika struktur vegetasi, tren nilai evapotranspirasi (ET), serta mengidentifikasi interaksi ekofisiologis antara tingkat kerapatan kanopi (Forest Canopy Density/FCD) dengan fluks hidrologi di Taman Nasional Sebangau (TNS) sebagai kawasan pelestarian alam dan Ex-Mega Rice Project (EMRP) sebagai kawasan terdegradasi, selama rentang periode 2013–2025. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui analisis data spasial citra satelit dan diuji menggunakan statistik inferensial parametrik (Korelasi Pearson, Paired Sample T-Test, One-Way ANOVA, dan Post-Hoc Tukey HSD) pada taraf signifikansi 5% (? = 0,05). Hasil penelitian memperlihatkan divergensi trayektori ekologis yang ekstrem. TNS menunjukkan stabilitas dan daya lenting lanskap yang tinggi, didominasi oleh Hutan Rawa Gambut (>80%) dengan FCD tinggi (77–82%) yang menghasilkan fluks ET superior dan stabil (4,149–4,494 mm/hari). Sebaliknya, EMRP terfragmentasi parah akibat kegagalan suksesi alami yang didominasi oleh Semak Belukar (32%) dan Perkebunan Sawit (31%), menghasilkan FCD moderat (63–72%) dan fluks ET yang lebih rendah (3,374–4,114 mm/hari). Hasil uji beda menyatakan bahwa perubahan tutupan lahan mendikte nilai neraca air secara signifikan (p < 0,05), di mana Lahan Terbuka mengalami defisit transpirasi paling kritis. Analisis korelasi membuktikan adanya hubungan linear positif yang sangat kuat (r = 0,880) antara kerapatan tajuk dan nilai ET. Disimpulkan bahwa arsitektur tajuk di atas permukaan tanah bertindak sebagai regulator mutlak sirkulasi tata air gambut. Temuan ini merekomendasikan bahwa rekayasa restorasi hidrologi di lanskap terdegradasi wajib diintegrasikan dengan revegetasi struktural masif guna memulihkan mesin pompa biologis ekosistem.

2026
👤 Penulis: Kevin Hartama Tjahyadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH PAPARAN CAHAYA TAMPAK TERHADAP METABOLIT SEKUNDER, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, DAN AKTIVITAS ENZIMATIK PHENYLALANINE AMMONIA-LYASE PADA PASCAPANEN DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.)

Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung metabolit sekunder, seperti fenolik, flavonoid, dan asetogenin, yang berperan dalam aktivitas biologis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh paparan cahaya tampak terhadap profil metabolit, aktivitas enzim phenylalanine ammonia-lyase (PAL), kandungan fenolik total, flavonoid total, asetogenin, dan aktivitas antioksidan daun sirsak pascapanen. Daun segar hasil pemanenan dipaparkan cahaya biru, putih, merah atau gelap selama 24 jam. Daun segar yang langsung dikeringkan digunakan sebagai kontrol. Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasound-assisted extraction dengan pelarut etanol Pro Analisis (PA). Terhadap ekstrak dari masing-masing kelompok dilakukan pengukuran total fenol, total flavonoid, asetogenin, serta aktivitas antioksidan. Adapun pengujian aktivitas PAL dan profil metabolit dilakukan terhadap sampel daun segar dan daun kering pasca perlakuan. Hasil pengukuran FTIR dianalisis lebih lanjut melalui analisis multivariat. Aktivitas PAL pada daun yang dipaparkan cahaya biru menunjukkan respons tinggi (35,98 U/mg protein) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil pengukuran total fenolik dan total flavonoid sebesar 7,06±1,05 mg GAE/g dan 4,98±0,71 mg QE/g simplisia, secara berurutan. Paparan terhadap cahaya biru serta putih juga meningkatkan aktivitas antioksidan terhadap DPPH (7,13±0,67 mg AAE/g simplisia dan 6,48±0,65 mg AAE/g simplisia) dibandingkan kelompok kontrol tanpa perlakuan dan paparan gelap. Namun demikian, pengukuran terhadap asetogenin tidak menunjukkan pola yang serupa. Analisis kemometrika terhadap hasil FTIR menunjukkan perbedaan profil metabolit antar perlakuan. Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA) memperlihatkan kecenderungan pengelompokkan sampel berdasarkan perlakuan cahaya, dengan profil cahaya biru dan putih yang relatif berdekatan. Dengan demikian, paparan cahaya biru pada masa pascapanen dapat mempengaruhi aktivitas biosintesis jalur fenilpropanoid pada daun sirsak.

2026
👤 Penulis: Shearavinna Easter
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

OPTIMALISASI MANAJEMEN PERSEDIAAN PEMELIHARAAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL, KEANDALAN ASET DAN KINERJA KEUANGAN

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan akar penyebab akumulasi persediaan lambat dan tidak bergerak, mengembangkan strategi peningkatan TOR yang memperhatikan keandalan aset, serta merancang kerangka optimasi persediaan pemeliharaan yang terintegrasi bagi PT PPN. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan analisis kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan 40 narasumber lintas fungsi dan analisis kuantitatif menggunakan klasifikasi ABC-VED-FSN terhadap data pergerakan material tahun 2025. Hasil penelitian mengidentifikasi lima akar penyebab utama yang saling terkait: ketiadaan segmentasi persediaan berbasis kritikalitas (RC1), ketidakakuratan master data dan rekaman keterlacakan material (RC2), absennya mekanisme tinjauan periodik yang terstandarisasi (RC3), hambatan disposal akibat regulasi BUMN (RC4), serta perencanaan yang terlalu konservatif dengan penambahan kontigensi 15-20% tanpa verifikasi stok sebelumnya (RC5). Analisis ABC-VED-FSN terhadap 41.003 item senilai IDR 1,57 triliun mengungkap bahwa kategori ADS dan ADN menyumbang IDR 673,38 miliar (42,9% dari total nilai persediaan) meski hanya mencakup 5,84% dari jumlah item, menjadikannya target prioritas utama peningkatan modal kerja. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan lima solusi bisnis yang dipetakan langsung ke akar penyebab RC1 hingga RC5, mencakup Program Konsumsi Prioritas Material Lambat, Penguatan Program RCSP, implementasi Vendor-Managed Inventory, Program Peningkatan TOR Berbasis Unit Kilang, serta Penguatan Tata Kelola Keuangan melalui Transparansi Provisi. Implementasi penuh kerangka ini diproyeksikan meningkatkan TOR dari 0,67 menjadi 0,95 pada tahun 2030, mengurangi paparan provisi kumulatif sebesar IDR 247,19 miliar, dan melepas sekitar IDR 740 miliar modal kerja yang sebelumnya terikat dalam persediaan tidak produktif.

2026
👤 Penulis: Andhika Wiraswastika
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kuantitatif

EMPOWERING THE ELDERLY: PERANCANGAN LONG-TERM CARE FACILITY DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING & HEALING ENVIRONMENT

Tugas akhir ini mengangkat topik Active Living dan healing environment dalam arsitektur melalui perancangan Long-Term Care Facility (LTCF) bagi lansia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-Being), poin 11 (Sustainable Cities and Communities), dan poin 13 (Climate Action) yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan hidup yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat lanjut usia. Permasalahan yang melatarbelakangi perancangan ini adalah meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan angka usia produktifnya, banyak dari penduduk lansia ini yang kemudian tinggal tanpa pendamping yang mampu membantu aktivitas sehari-hari, sementara fasilitas hunian dan perawatan jangka panjang yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, psikologis, medis, dan sosial lansia masih terbatas. Tetapi tentunya banyak kendala dalam perancangan fasilitas ini seperti, lansia yang berpindah dari rumah dan lingkungan komunitas yang telah lama mereka tempati sering kali mengalami penurunan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan baru sehingga muncul perasaan ‘terasing’ dan berkurangnya kenyamanan psikologis. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena pergeseran pola hunian, di mana generasi muda cenderung meninggalkan kawasan perumahan horizontal dan berpindah ke hunian vertikal, menyebabkan berkurangnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lansia. Di sisi lain, lingkungan fasilitas perawatan yang bersifat institusional dan memiliki tata ruang kompleks sering kali menyulitkan lansia dalam memahami orientasi ruang dan bernavigasi secara mandiri. Keterbatasan akses terhadap ruang terbuka dan elemen alam juga mengurangi kesempatan lansia untuk berinteraksi dengan lingkungan natural yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, perancangan menerapkan konsep Sense of Belonging, Spatial Orientation, dan Connection to Nature sebagai landasan utama pembentukan healing environment. Konsep Sense of Belonging diwujudkan melalui lingkungan hunian yang menyerupai suasana rumah dan perumahan dengan penyediaan ruang komunal, teras, dan area interaksi yang mendukung hubungan sosial serta kenyamanan emosional lansia. Konsep Spatial Orientation diterapkan melalui pengaturan zonasi, sirkulasi, dan sistem wayfinding yang jelas sehingga memudahkan penghuni memahami lingkungan dan beraktivitas secara mandiri. Sementara itu, konsep Connection to Nature diwujudkan melalui pendekatan biofilik yang menghadirkan vegetasi, pencahayaan dan ventilasi alami, elemen air, material alami, serta hubungan visual yang kuat dengan ruang terbuka hijau. Ketiga konsep tersebut didukung oleh pendekatan Active Living bagi lansia rentan dan Therapeutic Design bagi lansia rawat untuk mendukung aktivitas, pemulihan, dan perawatan secara optimal. Perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis komparatif guna menghasilkan rancangan konseptual Long-Term Care Facility yang mampu meningkatkan kualitas hidup lansia melalui lingkungan yang mendukung kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi sosial, dan kedekatan dengan alam.

2026
👤 Penulis: Amadea Martha Wijaya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

ANALISIS JARINGAN KOMPLEKS MULTILAYER PADA SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN INDONESIA MENGGUNAKAN RANDOM MATRIX THEORY DAN MINIMUM SPANNING TREE

Sistem ekonomi dan keuangan merupakan sistem kompleks yang terbentuk dari interaksi berbagai faktor global, regional, domestik, dan komoditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur keterkaitan antar variabel ekonomi dan keuangan Indonesia menggunakan pendekatan Ekonofisika melalui metode Random Matrix Theory (RMT), Minimum Spanning Tree (MST), dan Multilayer Complex Network. Data yang digunakan terdiri atas indikator pasar global, regional, domestik, dan komoditas pada periode 2016–2026 yang dibagi menjadi periode prapandemi, pandemi COVID-19, dan pasca-pandemi. Metode RMT digunakan untuk menyaring korelasi antar variabel dengan memisahkan informasi ekonomi yang signifikan dari noise acak. Hasil analisis MST menunjukkan bahwa struktur jaringan mengalami perubahan antar periode. Pada periode pra-pandemi, jaringan didominasi oleh variabel regional seperti SGD/USD, sedangkan pada periode pandemi S&P 500 menjadi simpul pusat akibat meningkatnya pengaruh faktor global. Pada periode pasca-pandemi, jaringan kembali mengalami reorganisasi dengan meningkatnya peran komoditas energi dan variabel regional sebagai penghubung antar sistem. Analisis multilayer menunjukkan bahwa hubungan antar layer tidak bersifat konstan, melainkan berubah mengikuti kondisi ekonomi global. Variabel dengan nilai centrality tinggi berperan sebagai hub dan bridge dalam transmisi keterkaitan antar pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan jaringan kompleks multilayer mampu menggambarkan pola hubungan dan transmisi risiko dalam sistem ekonomi dan keuangan Indonesia secara lebih komprehensif.

2026
👤 Penulis: Eunike Nanda Maharani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EFEKTIVITAS FILTER BERBASIS BIOMASSA SEBAGAI PENGENDALI KUALITAS UDARA

Pemanfaatan berkelanjutan limbah pertanian menjadi material filtrasi udara berkinerja tinggi menawarkan pendekatan strategis untuk mengatasi pencemaran udara sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian ini menyajikan kerangka biomassa berbasis serabut kelapa sebagai bahan baku terbarukan yang mencakup proses delignifikasi dengan menggunakan katalis soda–antrakuinon (SAQ) yang digunakan untuk mengisolasi ?-selulosa. Proses delignifikasi dengan metode SAQ terbukti mampu meningkatkan efisiensi penghilangan lignin sekaligus meningkatkan kadar selulosa sehingga menghasilkan pulp berkualitas tinggi yang sesuai untuk dilakukan sintesis material lanjut. Aerogel selulosa terkarbonisasi (CCAs) kemudian disintesis melalui proses sol–gel dan karbonisasi dengan variasi kadar ?-selulosa (61–81%) setelah itu dilakukan karakterisasi kimia fisika seperti kerapatan jaringan, porositas, dan konduktivitas listrik. CCAs teroptimasi menunjukkan arsitektur konduktif terstruktur sebagian grafitik yang mendukung mekanisme penangkapan elektrostatik ganda, yaitu transport muatan tunneling– percolation dan gaya tarik Coulomb, sehingga mencapai efisiensi penghilangan partikulat mendekati ?98,6% PM2.5 dan ?99,0% PM10. Secara paralel, selulosa murni dikonversi menjadi selulosa asetat (DS ? 2,5) dan diproses menjadi membran nanoserat melalui elektrospinning yang memiliki karakteristik diameter serat ?70– 220 nm, sifat material mesoporositas, dan luas permukaan yang presisi. Membran yang disintesis menunjukkan efisiensi penangkapan tinggi >95% untuk partikel <50 nm, ukuran partikel yang dapat menembus dengan ukuran ?90–120 nm, serta faktor kualitas filtrasi yang menguntungkan. Penelitian ini berhasil mendesain membran berbasis biomassa yang skalabel dengan mengintegrasikan proses pemurnian kimia, rekayasa mikrostruktur, dan fungsionalitas elektrostatik untuk pengembangan teknologi filtrasi udara generasi lanjut yang berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Eka Fitriani Ahmad
🏷️ Pengendalian Kualitas Udara 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH METODE PERENDAMAN LUMPUR DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIK BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER)

Pengaruh Metode Perendaman Lumpur dan Air Terhadap Sifat Mekanik Bambu Betung (Dendrocalamus asper). Dibimbing oleh Yoyo Suhaya dan Ihak Sumardi. Bambu betung (Dendrocalamus asper) merupakan material alami yang memiliki potensi tinggi sebagai bahan konstruksi karena memiliki sifat mekanik yang baik dan sebanding dengan kayu. Namun, bambu memiliki kelemahan berupa kerentanan terhadap serangan organisme perusak sehingga diperlukan proses pengawetan. Salah satu metode pengawetan tradisional yang umum digunakan adalah perendaman dalam air dan lumpur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode perendaman terhadap sifat mekanik bambu betung serta menentukan perlakuan perendaman yang menghasilkan sifat mekanik terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air, dan rendam lumpur selama 6 bulan. Sampel bambu dibedakan berdasarkan umur (muda dan tua) serta segmen batang (pangkal, tengah, dan ujung). Parameter yang diamati meliputi Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), dan kekuatan tarik sejajar serat. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap nilai MOE (p = 0,154), MOR (p = 0,065), dan kekuatan tarik sejajar serat (p = 0,387). Nilai MOE bambu muda berada pada kisaran 5–11 GPa, sedangkan bambu tua mencapai 15–21 GPa. Nilai MOR bambu muda berkisar antara 40–90 MPa dan meningkat pada bambu tua hingga mencapai 170–220 MPa. Sementara itu, nilai kekuatan tarik berada pada kisaran 280–350 MPa. Faktor umur dan segmen batang memberikan pengaruh yang lebih nyata terhadap sifat mekanik bambu dibandingkan perlakuan perendaman. Bambu tua menunjukkan performa mekanik lebih tinggi dibandingkan bambu muda, sedangkan segmen tengah dan ujung memiliki sifat mekanik lebih baik dibandingkan segmen pangkal. Perlakuan rendam lumpur cenderung menghasilkan sifat mekanik yang lebih stabil dibandingkan rendam air karena kondisi anaerob diduga mampu mempertahankan integritas struktur lignoselulosa bambu.

2026
👤 Penulis: Cielo Callista Novansa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

COUPLED DEGRADATION AND MECHANOREGULATION IN BONE HEALING WITH BIODEGRADABLE IMPLANT USING FINITE ELEMENT ANALYSIS

Biodegradable magnesium implants are promising temporary supports for fracture fixation because they can gradually degrade while transferring load back to the healing bone. Computational modelling, especially finite element analysis, provides useful approach to investigate the mechanical and biological interaction between healing tissue and degrading implants. However, bone healing and implant degradation are often modelled separately, even though both processes interact through changes in stiffness, stability, and local mechanical stimulus. This study aims to develop a Python-based finite element framework that couples mechanoregulation-based bone healing with biodegradable scaffold degradation as a proof-ofconcept simulation approach. The framework was developed using stepwise modelling strategy. Simplified model with prescribed callus geometry was first used to test the main computational modules, followed by an estimated callus model generated through low-strain element removal. The bone healing module includes cell diffusion, mechanoregulation-based tissue phenotype prediction, and tissue property update. The degradation module simulates progressive scaffold material loss, with the degradation parameter tuned using a bisection method to control the remaining scaffold percentage. The coupled simulation was implemented using a serial day-by-day procedure, where callus properties were updated first, followed by scaffold degradation and geometry update. The developed framework successfully integrated callus maturation and scaffold degradation within one finite element workflow. The model can produce cell concentration distribution, tissue phenotype evolution, callus stiffness development, scaffold degradation pattern, and remaining scaffold percentage. Although the model uses simplified geometry and static loading, it provides a modular computational basis for future studies involving realistic loading, experimental calibration, and validation.

2026
👤 Penulis: Olivia Maria Tarawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DEVELOPMENT OF AN ABAQUS-COUPLED WORKFLOW FOR INTEGRATED VOXEL-BASED LATTICE ANALYSIS

Porous lattice structures are widely studied as a way to reduce stiffness mismatch in loadbearing implants. However, preparing lattice models for finite element analysis can still require repeated manual steps, especially during geometry generation, mesh preparation, boundarycondition setup, and result extraction. This study aims to develop a voxel-native modelling workflow that can generate lattice structures from user-defined parameters and prepare them for finite element analysis. It also aims to verify whether the resulting voxel-based models can produce elastic responses that are consistent with previous studies. The developed workflow consists of a Python-based voxel lattice generator and an automated Abaqus compression-analysis script. The generator creates a three-dimensional voxel grid, evaluates the selected TPMS field, controls the target porosity, removes small disconnected artefacts, and exports the solid voxels as hexahedral finite element meshes. The Abaqus script imports the generated input file, assigns material properties, creates the compression setup, applies boundary conditions, and extracts force-displacement data to calculate the effective Young’s modulus. The verification case focused on a Strut-Based Gyroid structure at 30% relative density with lattice orientations of [100], [110], and [111]. The workflow produced effective Young’s modulus values of 109 MPa, 145 MPa, and 181 MPa for the [100], [110], and [111] orientations, respectively. The results reproduced the expected anisotropic stiffness order and remained within a reasonable range compared with numerical and experimental reference values. The observed deviations were mainly attributed to differences in geometry-generation convention, orientation alignment, and loading implementation.

2026
👤 Penulis: Juan Leonardo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur Logam Lembut 🏷️ Teknik Mesin

PENDEKATAN MULTISCALE PHYSICS-GUIDED NEURAL NETWORK UNTUK PREDIKSI KINERJA PRODUKSI PANAS BUMI.

Pemantauan kinerja sumur produksi dua fasa geothermal terkendala oleh tidak terukurnya laju alir massa secara langsung dan keterkaitan antara entalpi, productivity index, dan penurunan tekanan di sumur yang membuat ketiganya tidak dapat diestimasi secara independen. Akibatnya, pemisahan kontribusi reservoir dan sumur terhadap perubahan produksi umumnya bergantung pada proses matching secara manual yang rumit dan pengujian berkala seperti tracer flow test (TFT). Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan surrogate model berbasis multiscale physics-guided gated recurrent neural network untuk memprediksi kinerja sumur produksi dengan mengestimasi productivity index dan wellbore coefficient sebagai parameter performa sumur. Model menggunakan cabang short-term dari wellhead pressure dan valve opening dengan cabang long-term dari produksi kumulatif, lalu memasukkan output pada persamaan deliverabilitas melalui physics layer dengan penambahan loss function berupa konservasi massa dan energi. Konfigurasi optimal diperoleh dari 200 hyperparameter tuning trial menggunakan Tree-structured Parzen Estimator, dan model dievaluasi dengan skema walk-forward crossvalidation berjumlah 4-fold. Pada fold pengujian akhir, model mencapai RMSE daya termal 15.36 MW (MAE 3,60%) untuk Unit 5 dan 22.19 MW (MAE 8.41%) untuk Unit 6, dengan rata-rata RMSE 4-fold sebesar 20.45 MW dan 23.27 MW. Estimasi productivity index dan wellbore coefficient menunjukkan kesesuaian terhadap data TFT yang bervariasi tiap sumur. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan physics-guided mampu menghasilkan prediksi yang konsisten secara termodinamika sekaligus lebih interpretatif dibanding model black-box, sehingga berpotensi sebagai alat bantu pemantauan produksi yang lebih cepat.

2026
👤 Penulis: Kelvin Pratama Indratmoko
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Produksi Geothermal 🏷️ Model Deliverabilitas

SINTESIS KATALIS BASA HETEROGEN DARI ABU SARGASSUM SP. DENGAN IMPREGNASI KOH UNTUK REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK SAWIT

Biodiesel merupakan bahan bakar terbarukan yang dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi minyak dengan alkohol. Di Indonesia, produksi biodiesel terus meningkat dan diproyeksikan mencapai 19,5 juta kiloliter pada tahun 2026. Peningkatan produksi ini mendorong kebutuhan katalis dalam proses transesterifikasi. Biodiesel umumnya diproduksi dari minyak sawit menggunakan katalis homogen yang bersifat korosif, rentan menyebabkan saponifikasi, serta sulit dipisahkan dari produk reaksi. Oleh karena itu, katalis heterogen dikembangkan sebagai alternatif yang lebih efisien dan mudah dipisahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis katalis basa heterogen berbasis abu Sargassum sp. melalui proses pengabuan, impregnasi KOH, dan kalsinasi, serta menganalisis pengaruh suhu kalsinasi (600, 700, dan 800 °C) dan persentase katalis (1, 3, dan 5 wt%) terhadap perolehan dan karakteristik biodiesel. Karakterisasi katalis meliputi pengujian kebasaan, kandungan kalium, luas permukaan, volume pori, dan morfologi permukaan menggunakan metode titrasi, atomic absorption spectroscopy (AAS), Brunauer–Emmett–Teller (BET), dan scanning electron microscopy (SEM). Katalis kemudian digunakan pada reaksi transesterifikasi minyak sawit untuk menghasilkan biodiesel. Karakteristik biodiesel dianalisis berdasarkan densitas, viskositas kinematik, dan komposisi fatty acid methyl ester (FAME) menggunakan gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis terbaik diperoleh pada suhu kalsinasi 700 °C dengan kebasaan 13,619 mmol/g, luas permukaan 2,2464 m2/g, dan volume pori 0,003635 cm3/g, serta morfologi permukaan yang kasar dan berpori. Suhu kalsinasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kebasaan katalis dengan rentang 10,809–13,619 mmol/g. Selain itu, suhu kalsinasi dan persentase katalis juga berpengaruh signifikan terhadap perolehan biodiesel, yaitu sebesar 94,24–97,45% (w/w). Suhu kalsinasi turut mempengaruhi karakteristik biodiesel secara signifikan, dengan densitas sebesar 0,852–0,899 g/mL dan viskositas sebesar 6,49–7,96 cSt. Berdasarkan analisis GC- MS, biodiesel yang dihasilkan pada kondisi terbaik (700 °C, 1 wt%) memiliki kandungan FAME sebesar 98,57%.

2026
👤 Penulis: Ikrima Fauzia Ma'any
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 40 dari 418
💬