📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenEVALUASI METODE PERENDAMAN AIR DAN LUMPUR TERHADAP PENURUNAN KADAR PATI DAN PERUBAHAN STRUKTUR KIMIA BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER)
Bambu betung (Dendrocalamus asper) memiliki kandungan pati tinggi pada jaringan parenkim batang, terutama pada bambu muda, sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti kumbang bubuk dan fungi. Perendaman alami dalam air dan lumpur menjadi metode pengawetan tradisional yang berpotensi menurunkan kadar pati tanpa bahan kimia berbahaya. Namun, kajian mengenai efektivitasnya terhadap perubahan struktur kimia lignoselulosa berdasarkan umur dan posisi segmen batang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penurunan kadar pati pada perlakuan perendaman air dan lumpur berdasarkan umur serta segmen batang, mengidentifikasi perubahan gugus fungsi kimia bambu melalui FTIR, dan menganalisis keterkaitan antara penurunan kadar pati dengan perubahan struktur kimia sebagai dasar efektivitas pengawetan alami. Penelitian menggunakan 18 sampel bambu betung yang terdiri dari dua umur, yaitu muda ±6 bulan dan tua 3–4 tahun, tiga segmen batang, yaitu pangkal, tengah, dan ujung, serta tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air mengalir, dan rendam lumpur sawah selama enam bulan. Kadar pati diuji menggunakan metode Luff-Schoorl dengan satu kali pengukuran per sampel. Analisis FTIR dilakukan pada sepuluh sampel terpilih menggunakan Shimadzu IRTracer-100 pada rentang 400–4000 cm?¹. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil menunjukkan bahwa perendaman air menurunkan kadar pati dari kontrol 8,55–13,32% menjadi 5,10–7,91% dengan penurunan 17,0–57,8%, sedangkan perendaman lumpur menurunkannya menjadi 3,92–7,81% dengan penurunan 18,0–68,0%. Kadar pati terendah terdapat pada perlakuan rendam lumpur segmen ujung bambu muda (LMU), yaitu 3,92%. Secara umum, perendaman lumpur lebih efektif karena melibatkan mekanisme fisik, biologis, dan interaksi mineral, sedangkan perendaman air lebih efektif pada segmen pangkal bambu muda. Analisis FTIR menunjukkan pelemahan pita C=O xilan hemiselulosa (~1726 cm?¹), sementara pita lignin (~1604 cm?¹) dan selulosa (~896 cm?¹) tetap terdeteksi, sehingga struktur utama lignoselulosa tidak terdegradasi.
MERAJUT INFRASTRUKTUR GAS ALAM: MEMPRIORITASKAN PORTOFOLIO PROYEK UNTUK MENGATASI KEKURANGAN PASOKAN GAS DI WILAYAH JAWA BARAT
Wilayah Jawa Barat merupakan pusat industri Indonesia yang menyumbang sepertiga perekonomian nasional dan mengonsumsi energi terbesar. Sektor manufaktur maupun pembangkitan listrik di wilayah ini sangat bergantung pada gas bumi, dengan total permintaan mencapai sekitar 1.120 MMSCFD, atau sekitar 34% dari total permintaan nasional. Pada tanggal 5 Agustus 2025, kebakaran dan ledakan di lapangan gas di Subang mengakibatkan sekitar 65 MMSCFD pasokan gas berkurang sehingga menghadapkan wilayah ini pada defisit pasokan gas yang kian memburuk akibat produksi hulu yang menurun sementara pusat permintaan yang terus tumbuh. Karena kondisi ini mengancam daya saing industri, keandalan kelistrikan, dan ketahanan energi nasional, maka diperlukan kajian sistematis untuk mengatasi hal tersebut. Kajian ini membahas bagaimana sektor midstream migas dapat mengusulkan alternatif proyek untuk mengatasi defisit tersebut melalui infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan Jawa Barat dengan wilayah-wilayah surplus gas, dengan menganalisis kriteria apa yang memengaruhi pemilihan proyek, bagaimana proyek-proyek alternatif diprioritaskan, dan bagaimana perubahan parameter gas memengaruhi opsi tersebut. Kajian ini menggunakan desain metode campuran (mixed method) yang berurutan. Tahap kualitatif dilakukan dengan memadukan wawancara semi-terstruktur dan perangkat lunak analisis data kualitatif berbantuan komputer (computer-aided qualitative data analysis software/CAQDAS) untuk mengodekan dan mengidentifikasi kriteria yang diprioritaskan oleh para responden. Tahap kuantitatif kemudian menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membobot kriteria tersebut, memeringkat alternatif berdasarkan agregasi penilaian individual setiap responden, dan menggunakan simulasi Monte Carlo untuk menguji ketangguhan komersial proyek terpilih terhadap volatilitas harga. Empat kriteria terbukti yang menentukan: Fleksibilitas Pasokan Gas, Skenario Tarif , Keandalan Layanan, dan Keandalan Infrastruktur. Fleksibilitas Pasokan Gas dan Skenario Tarif memiliki bobot dominan yang nyaris setara. Tiga proyek alternatif dievaluasi: Pipa Transmisi Cisem-2, Jumper Line Cilamaya, dan pipa Sumatera Utara-Riau. Jumper Line Cilamaya menempati peringkat tertinggi karena proyeknya berbiaya rendah dan penawaran tarifnya menarik, Cisem-2 di peringkat kedua karena menjadi tulang punggung jangka panjang yang paling andal, dan Sumatera Utara-Riau di peringkat terakhir. Oleh karena itu, Jumper Line Cilamaya direkomendasikan sebagai solusi jangka pendek yang terjangkau, dan Cisem-2 sebagai tulang punggung strategis jangka panjang. Uji sensitivitas memastikan total biaya gas untuk proyek yang direkomendasikan tetap layak secara komersial pada rentang harga realistis harga minyak.
PERANCANGAN ECO-LODGE BAGI PENDAKI GUNUNG BERBASIS PENGALAMAN ALAM DI KAWASAN KAKI GUNUNG GEDE–PANGRANGO
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa, mulai dari pegunungan, hutan tropis, pantai, hingga danau dan perairan laut yang eksotis. Potensi ini mendorong berkembangnya berbagai destinasi wisata yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun, seiring dengan meningkatnya minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam tidak hanya menjadi daya tarik utama, tetapi juga menjadi latar yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk merancang beragam fasilitas wisata, seperti resort, glamping, taman rekreasi, desa wisata, hingga agrowisata. Perkembangan ini turut memperkuat posisi sektor pariwisata sebagai salah satu pilar penting dalam ekonomi kreatif dan penggerak perekonomian masyarakat lokal. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat sejumlah destinasi wisata yang pengelolaannya belum sepenuhnya sesuai dengan kaidah keberlanjutan, sehingga menimbulkan tantangan baru bagi pariwisata Indonesia ke depan. Banyak objek wisata yang pembangunannya dilaporkan telah merugikan keberadaan ekosistem dan melanggar aturan pembangunan yang berlaku. Terdapat pembangunan tempat wisata yang dilarang karena berpotensi mengganggu daerah resapan air dan memicu bencana seperti banjir dan longsor, khususnya Lembang yang merupakan hulu Citarum & Cikapundung sehingga memiliki fungsi utama sebagai resapan air. Ada pula tempat wisata yang pembangunannya melebihi luas yang ditetapkan peraturan setempat, sehingga berakhir merusak kawasan lingkungan yang seharusnya dilindungi. Selain itu, beberapa tempat wisata seperti wisata offroad memberi pengaruh buruk terhadap lingkungan dengan terjadinya perusakan vegetasi tanah, jalur resapan air, dan habitat satwa, sehingga memperparah risiko longsor. Tipologi arsitektur yang direncanakan adalah lodge. Lodge dapat menjadi alternatif wisata yang ramah lingkungan, dengan konsep low-impact architecture yang menjaga kelestarian alam. Lodge mampu mengintegrasikan konservasi, rekreasi, dan edukasi, menjadikannya wadah untuk menikmati alam sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Tipologi resort juga dapat memberi solusi ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berkelanjutan, tanpa merusak daya dukung kawasan. Penjawaban isu akan menggunakan pendekatan ekologis atau Low-Impact Development (LID), dengan tujuan menekan intervensi tapak seminimal mungkin (contoh: bangunan panggung, modular, terjaganya permeabilitas lahan). Proses perancangan menggunakan metode berupa studi literatur mengenai arsitektur tanggap bencana, observasi terkait kondisi lingkungan pada lapangan, studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan/Environmental Impact Assessment (AMDAL/EIA), serta benchmarking terhadap berbagai bangunan dengan penerapan Low-Impact Development yang tepat. Proyek ini bertujuan mengurangi resiko bencana pada kawasan pariwisata seraya melestarikan alam, mengingat banyaknya tempat wisata dibangun tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan. Potensi lanskap alami Indonesia juga dapat dimaksimalkan sebagai objek wisata untuk meningkatkan ekonomi lokal.
PENAKSIR TAK BIAS PREDIKSI VALUE-AT-RISK DENGAN MODEL DISTRIBUSI EKOR TEBAL DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN PREMI
Prediksi risiko kerugian merupakan aspek penting dalam industri asuransi, khususnya dalam menentukan besaran premi yang tepat. Salah satu ukuran risiko yang umum digunakan adalah Value-at-Risk (VaR). Nilai prediksi VaR dapat mengalami bias, terutama pada data dengan karakteristik distribusi ekor tebal. Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengkaji penaksir dan prediksi VaR, menganalisis pengaruh kesalahan pengukuran, serta mengevaluasi penggunaan data rerata dalam meningkatkan akurasi prediksi risiko. Metode yang digunakan meliputi pendekatan empiris dan parametrik, dengan mempertimbangkan distribusi berekor tebal seperti distribusi t-Student dan ekspansi Cornish-Fisher. Selain itu, dilakukan analisis terhadap variasi penaksir dan pendekatan kesalahan pengukuran untuk mengurangi bias prediksi VaR. Hasil penelitian Tugas Akhir menunjukkan bahwa karakteristik distribusi ekor tebal berpengaruh signifikan terhadap akurasi prediksi VaR, sehingga pendekatan konvensional cenderung menghasilkan VaR yang kurang sesuai. Penggunaan data rerata juga terbukti mampu meningkatkan stabilitas dan akurasi prediksi. Selanjutnya, ukuran risiko dan fungsi distorsi diaplikasikan dalam perhitungan premi asuransi, yang menunjukkan bahwa metode yang mempertimbangkan risiko ekor tebal menghasilkan premi yang lebih akurat.
PUSAT PENAMPUNGAN, REHABILITASI, DAN TERAPI ANJING DAN KUCING LIAR DENGAN INTEGRASI FUNGSI ANIMAL ASSISTED THERAPY DI KOTA BANDUNG
Anjing dan kucing adalah hewan-hewan yang umum disukai manusia dan sebagian besar hidup layak sebagai hewan peliharaan atau hewan pekerja. Sayangnya, masih banyak anjing dan kucing liar yang hidup terlantar dan harus berjuang setiap hari. Akibatnya, kondisi kesehatan dan kebersihan mereka tidak memadai, mengakibatkan mereka tidak memiliki kesejahteraan hidup atau animal welfare. Di Kota Bandung, terdapat sekitar 15 ribu ekor kucing liar pada tahun 2022 dan jumlah anjing liar yang tidak tercatat, yang umumnya hidup di jalanan. Masyarakat telah mencoba menyelamatkan mereka, tetapi fasilitas penampungan hewan yang ada saat ini tidak didesain sesuai standar dan tidak layak menampung hewan dalam jumlah yang besar. Selain itu, angka populasi hewan-hewan tersebut terus bertambah. Kondisi ini disertai keadaan hidup mereka yang tidak layak dapat mengakibatkan beberapa masalah, yaitu masalah kesehatan karena berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis kepada manusia dan sesama hewan, dan masalah biodiversity karena bersifat invasif terhadap spesies hewan kecil. Kedua masalah tersebut bertentangan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) nomor 15 yaitu Life on Land, dengan tujuan untuk melindungi, merestorasi, dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem darat, dan menghentikan kehilangan biodiversity. Masalah tersebut harus ditangani dengan memberikan animal welfare, menjaga angka populasi, dan memberikan kesempatan hidup layak sebagai hewan peliharaan maupun sebagai hewan pekerja. Hewan pekerja berupa anjing dan kucing umum digunakan sebagai hewan terapi, terutama untuk terapi berbasis hewan atau animal assisted therapy (AAT). Jenis terapi ini belum umum digunakan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan, keterbatasan ahli, dan standar yang belum resmi. Meskipun begitu, dengan jumlah anjing dan kucing liar yang banyak di Indonesia, potensi AAT dapat dikembangkan melalui penyelamatan dan pelatihan mereka sebagai hewan terapi. Maka dari itu, dihadirkan sebuah perancangan desain yang dapat membantu pencapaian animal welfare dan juga menjadi lingkungan penyembuhan bagi para pengguna AAT. Hasil perancangan diolah dengan konsep desain wellness focused dengan pendekatan arsitektur terapeutis. Hasil perancangan ditempatkan di Jalan Purwakarta, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan aksesibilitas yang baik, kontur yang relatif datar, dan potensi pengguna yang tinggi akibat populasi kawasan sekitar. Hasil perancangan berupa pusat penampungan yang layak bagi anjing dan kucing liar dan terlantar dengan fasilitas pendukung tercapainya animal welfare dan integrasi animal assisted therapy sebagai lingkungan penyembuhan bersama untuk hewan dan manusia. Fasilitas tambahan yang disediakan pada perancangan ini berupa fasilitas publik dan komersial bagi penyuka atau pemilik hewan.
ANALISIS KEMAMPUAN GENERALISASI SYMPLECTIC HAMILTONIAN NEURAL NETWORKS DI LUAR DATA PELATIHAN MELALUI EVALUASI LINTASAN RUANG FASE DAN KONSERVASI ENERGI
Model pembelajaran berbasis fisika seperti Symplectic Hamiltonian Neural Network (SHNN) dikembangkan untuk mempelajari dinamika sistem Hamiltonian dengan tetap mempertahankan struktur ruang fase dan konservasi energi. Secara teoretis, penggunaan struktur Hamiltonian dan integrator simplektik diharapkan mampu meningkatkan kestabilan prediksi jangka panjang. Namun, kemampuan SHNN ketika diuji pada kondisi out-of-distribution (OOD) masih menjadi persoalan penting, terutama ketika parameter fisis dan level energi pengujian berada di luar domain data pelatihan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan SHNN pada kondisi OOD serta menganalisis keterkaitan kegagalan model dengan galat trajektori, deviasi energi, galat medan vektor Hamiltonian, simplektisitas peta rollout, dan ketidakakuratan Hamiltonian yang dipelajari model (learned Hamiltonian). Sistem yang dikaji adalah pegas bermassa sebagai representasi sistem linier dan bandul sederhana sebagai representasi sistem nonlinier. Data latih dibangkitkan menggunakan integrator Gauss–Legendre dua tahap (GL2) karena memiliki sifat simplektik dan sesuai dengan karakter sistem Hamiltonian. Validasi data dilakukan dengan membandingkan hasil GL2 terhadap solusi analitik melalui lintasan terhadap waktu, ruang fase, dan profil energi. Model SHNN kemudian dievaluasi melalui beberapa skenario, yaitu baseline berbasis rollout loss, SHNN dengan loss berbasis integrator, serta perbandingan integrator rollout GL2 dan Ralston RK2 pada tahap evaluasi. Metrik evaluasi yang digunakan meliputi NRMSE trajektori, NRMSE deviasi energi, NRMSE medan vektor Hamiltonian, dan galat simplektisitas ?D?TJD? ? J?F. Verifikasi pada kondisi in- distribution (ID) menunjukkan bahwa model secara umum mampu merekonstruksi struktur dasar dinamika dalam domain pelatihan, meskipun tingkat akurasinya berbeda antar-model. Dengan demikian, penyimpangan pada kondisi OOD lebih berkaitan dengan keterbatasan generalisasi di luar distribusi pelatihan daripada ketidakmampuan model mempelajari dinamika dalam domain tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SHNN mampu menghasilkan prediksi pada kondisi OOD, tetapi kemampuan generalisasinya belum konsisten. Pada beberapa kasus OOD tinggi, model masih mampu membentuk orbit ruang fase yang secara kualitatif menyerupai referensi, tetapi belum selalu tepat dalam amplitudo, momentum, periode, dan energi. Pada kasus OOD rendah, terutama ketika energi sistem berada jauh di bawah domain pelatihan, model lebih mudah mengalami penyimpangan. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa deviasi energi yang kecil dan peta rollout yang hampir simplektik tidak selalu menjamin bahwa lintasan model benar secara fisis. Hal ini terjadi karena dinamika model ditentukan oleh learned Hamiltonian dan gradiennya. Jika medan vektor Hamiltonian yang dipelajari tidak mendekati medan vektor fisis, galat lokal dapat terakumulasi selama rollout jangka panjang. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis terpadu terhadap kemampuan OOD SHNN melalui lintasan ruang fase, konservasi energi, medan vektor Hamiltonian, dan simplektisitas peta rollout. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan SHNN pada OOD lebih tepat dipahami sebagai keterbatasan learned Hamiltonian dan medan vektor Hamiltonian dalam mengekstrapolasi struktur dinamika fisis, bukan semata-mata akibat integrator numerik.
PEMODELAN DAN PREDIKSI RISIKO GAGAL BAYAR MENGGUNAKAN (MODIFIKASI) DISTRIBUSI GAMMA
Risiko gagal bayar merupakan salah satu sumber kerugian bagi perusahaan layanan pinjaman pendanaan bersama (peer-to-peer lending). Kerugian yang timbul menunjukkan pola distribusi yang menceng ke kanan serta berpotensi menghasilkan kerugian bagi perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemodelan yang mampu merepresentasikan kemungkinan munculnya kerugian yang lebih besar. Penelitian Tugas Akhir ini memodelkan kerugian akibat gagal bayar menggunakan distribusi gamma beserta modifikasinya, yaitu Compound Laplace–Gamma (CLG), Shanker–Gamma tipe I (SGD1), dan Shanker–Gamma tipe II (SGD2). Distribusi gamma dipilih karena cukup baik dalam menangkap pola kemencengan pada data kerugian, namun modifikasi tetap diperlukan untuk memperbaiki karakteristik kerugian yang lebih besar. Parameter dari masing-masing distribusi diestimasi menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE), yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi risiko melalui Value-at-Risk (VaR). Hasil prediksi dan validasi menunjukkan bahwa distribusi CLG menghasilkan prediksi risiko yang cenderung konservatif. Sementara itu, distribusi SGD1 dan SGD2 mampu merepresentasikan kerugian akibat gagal bayar dengan cukup baik, masing-masing dengan keunggulan yang berbeda. SGD2 lebih unggul dalam merepresentasikan kerugian yang lebih besar pada bagian ekor distribusi, sedangkan SGD1 lebih akurat dalam menggambarkan pemusatan data serta menghasilkan prediksi risiko yang paling konsisten. Oleh karena itu, pemilihan antara distribusi SGD1 dan SGD2 dapat disesuaikan dengan preferensi serta profil risiko pengambil keputusan.
PERENCANAAN BREAKWATER UNTUK MENGENDALIKAN KEMUNDURAN GARIS PANTAI DI PANTAI KUTA, BALI MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK DELFT3D
Pantai Kuta, Bali mengalami kemunduran garis pantai akibat proses hidrodinamika serta perubahan konfigurasi pesisir yang dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur pantai dan perluasan daratan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Erosi paling signifikan terjadi pada kawasan depan Discovery Mall yang termasuk dalam zona kritis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi eksisting garis pantai serta merencanakan bangunan pelindung pantai berupa detached breakwater untuk mengendalikan kemunduran garis pantai. Evaluasi kondisi eksisting dan perencanaan dilakukan menggunakan pemodelan numerik Delft3D. Pemodelan dilakukan dengan dua skenario elevasi detached breakwater yang berbeda untuk mengevaluasi pengaruh elevasi struktur terhadap perubahan garis pantai dan pola sedimentasi. Konfigurasi detached breakwater ditentukan berdasarkan segmen garis pantai yang memerlukan perlindungan serta target pembentukan salient atau tombolo sebagai respons terhadap perubahan transport sedimen. Dimensi struktur direncanakan berdasarkan gelombang rencana, kemudian dilakukan perbandingan antara penggunaan armor tipe rubble mound dan quadripod dari aspek teknis, metode konstruksi, dan biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa detached breakwater mampu meningkatkan akresi di belakang struktur sehingga berpotensi menstabilkan garis pantai. Skenario dengan elevasi struktur yang lebih dangkal menghasilkan akresi yang lebih besar dibandingkan skenario elevasi yang lebih dalam. Berdasarkan perbandingan yang dilakukan, armor tipe quadripod memberikan alternatif yang lebih efisien dalam pelaksanaan konstruksi dan lebih ekonomis dibandingkan armor rubble mound.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MATERIAL KOMPOSIT FOTOKATALIS MMT- PANI/CEO2 UNTUK DEGRADASI LIMBAH ZAT WARNA METILEN BIRU DI BAWAH RADIASI UV
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis material komposit montmorilonit-polianilin/serium oksida (MMT-PANI/CeO?) sebagai fotokatalis untuk degradasi metilen biru, menentukan komposisi optimum MMT-PANI dan CeO? dalam pembentukan komposit, mengkarakterisasi sifat fisikokimia material, menentukan kondisi optimum fotodegradasi, serta mengevaluasi aktivitas dan model kinetika adsorpsi maupun fotodegradasi metilen biru. Latar belakang penelitian didasari oleh kebutuhan material fotokatalis yang memiliki aktivitas adsorpsi dan fotodegradasi tinggi, sehingga sinergi antara sifat adsorptif MMT- PANI dan aktivitas fotokatalitik CeO? diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penghilangan polutan organik. Sintesis MMT-PANI dilakukan melalui metode polimerisasi in situ dengan variasi rasio MMT:anilin (2:1, 1:1, dan 1:2), sedangkan nanopartikel CeO? disintesis menggunakan metode sol-gel berbasis ekstrak daun teh sebagai agen pereduksi dan penstabil. Komposit difabrikasi melalui metode pencampuran disertai sonikasi dengan variasi rasio MMT-PANI:CeO? (1:0,2; 1:0,3; dan 1:0,5). Material yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), X-Ray Fluorescence (XRF), Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Particle Size Analyzer (PSA), dan UV-Vis Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV- DRS) untuk mengkaji gugus fungsi, struktur kristal, komposisi unsur, morfologi, distribusi ukuran partikel, dan sifat optik material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio MMT:anilin (2:1) menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 2,2052 g dan waktu polimerisasi tercepat selama 6,5 menit karena MMT berperan sebagai mikroreaktor yang mengonsentrasikan monomer serta membatasi pertumbuhan rantai polimer. Nanopartikel CeO? hasil sintesis memiliki celah pita sebesar 2,6299 eV yang mengindikasikan adanya kekosongan oksigen akibat reduksi sebagian Ce?? menjadi Ce³? sehingga meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Komposit MMT-PANI/CeO? (1:0,2) menunjukkan karakteristik terbaik dengan kristalinitas sebesar 59,90%, jarak antar bidang 9,9920 Å, dan celah pita 1,4912 eV. Analisis XRF mengonfirmasi peningkatan kandungan Ce seiring bertambahnya CeO?, sedangkan hasil SEM menunjukkan bahwa rasio 1:0,5 mengalami aglomerasi partikel yang menurunkan luas permukaan aktif sehingga mengurangi aktivitas fotokatalitik. Hasil uji fotodegradasi menunjukkan bahwa komposit MMT-PANI/CeO? (1:0,2) memiliki kemampuan adsorpsi sebesar 78,87% dan penyisihan total sebesar 91,64% dengan kontribusi degradasi fotokatalitik sebesar 12,77%. Pengujian fotodegradasi paling optimum terjadi pada pH 5, massa fotokatalis 25 mg, konsentrasi awal metilen biru 10 ppm, dan waktu penyinaran 60 menit. Analisis kinetika menunjukkan bahwa proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu dengan nilai R² sebesar 0,98851 dan kapasitas adsorpsi kesetimbangan (q?) sebesar 13,331 mg g?¹, sedangkan proses fotodegradasi mengikuti model kinetika orde dua dengan nilai R² sebesar 0,92512 dan konstanta laju reaksi (k) sebesar 0,07525 L mg?¹ menit?¹.
PREDIKSI ALGAL BLOOM DI TELUK JAKARTA MENGGUNAKAN DEEP LEARNING
Teluk Jakarta merupakan perairan yang rentan terhadap algal bloom sehingga memerlukan sistem peringatan dini yang proaktif. Penelitian ini memprediksi algal bloom menggunakan arsitektur deep learning bidirectional stacked long short-term memory (BS-LSTM) serta menganalisis parameter pemicunya. Data diperoleh dari satelit Himawari-8/9 periode 2020-2025 pada 28 stasiun dengan resolusi harian yang optimal untuk mereduksi noise. Hasil menunjukkan dua puncak musiman pada Februari dan Juni yang dipengaruhi oleh debit sungai dan suplai nutrien dari tiga belas sungai, dengan Sungai Cisadane, Cikarang Bekasi Laut, dan Citarum sebagai penyumbang debit tertinggi, serta muara urban kecil seperti Muara Baru dan Muara Angke yang membawa konsentrasi hara lebih tinggi ke pesisir. Intensitas algal bloom didominasi kategori low risk (10-20 mg/m³) dengan kejadian tertinggi di stasiun B7 sebanyak 777 hari kejadian. Durasi beruntun rata-rata berkisar 1-1,5 hari, maksimum rata-rata di stasiun B7 2,5 hari dengan maksimum mencapai 11 hari di yang berpotensi meningkatkan risiko hipoksia. Korelasi spasial klorofil-a tertinggi terjadi antara inner bay dan nearshore (r = 0,68), sedangkan terendah antara inner bay dan outer bay (r = 0,22). Perbandingan hasil pengujian menunjukkan skenario 3 sebagai skenario terbaik dengan data latih lima tahun yang menghasilkan korelasi global 0,367, koefisien determinasi 0,122, bias -0,285 dan RMSE 1,546 mg/m³, mengungguli performa skenario 1 (r = 0,356, RMSE = 1,566 mg/m³, bias = -0,339) dan skenario 2 (r = 0,362, RMSE = 1,549 mg/m³, bias = -0,291). Kurva pembelajaran tidak menunjukkan overfitting, namun prediksi cenderung underestimate dan smoothing pada nilai ekstrem, dengan performa spasial terbaik di zona offshore barat. Model klasifikasi berbasis ambang dinamis terbaik di stasiun B7 dengan precision 0,72, recall 0,247, dan F1-score 0,367, meskipun masih dipengaruhi ketidakseimbangan data. Stasiun B7 menunjukkan bahwa pada Februari dinamika dipengaruhi debit sungai Citarum dengan jeda 10 hari (r = 0,43) serta fosfat harian dengan jeda 3 hari (r = 0,78), sedangkan pada Oktober dipengaruhi kecepatan angin dengan jeda 4 hari (r = 0,46) dan suhu permukaan laut yang lebih hangat dengan jeda 2 hari (r = 0,45). Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan BS-LSTM berpotensi mendukung pemantauan kualitas perairan pesisir secara lebih proaktif.
ANALISIS KEPUTUSAN MODEL BISNIS STRATEGIS UNTUK MEMASUKI PASAR PERDAGANGAN LNG INTERNASIONAL OLEH PERUSAHAAN GAS NEGARA (PGN)
PGN, sebagai Subholding Gas di bawah Pertamina, menghadapi titik balik struktural pada bisnis intinya. Walaupun pendapatan 2025 tetap stabil, laba bersih turun 21 persen menjadi USD 346 juta. Kompresi marjin ini mencerminkan ketidaksesuaian struktural antara pasokan gas pipa hulu yang menua, ketergantungan PGN yang meningkat pada LNG, dan batas atas harga yang diberlakukan melalui skema HGBT. Untuk merestrukturisasi pertumbuhan, divisi LNG Supply PGN (GSLT) mulai menjajaki perdagangan LNG internasional, namun, langkah awal melalui kontrak suplai kepada pembeli internasional berakhir dengan force majeure dan saat ini dalam proses arbitrase internasional dengan potensi kerugian lebih dari USD 150 juta. Model bisnis yang tidak terstruktur telah menghasilkan kinerja yang fluktuatif dengan eksposur hukum signifikan, diperlukan evaluasi atas alternatif model bisnis yang dapat digunakan. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan: (1) faktor yang memengaruhi kemampuan perusahaan untuk masuk dalam perdagangan LNG Internasional; (2) bagaimana model bisnis LNG berbeda dalam karakteristiknya; dan (3) model bisnis manakah yang paling sesuai dengan kemampuan dan rencana korporasi PGN. Metode penelitian bersifat kualitatif, dilandasi kerangka Kepner–Tregoe, dan diimplementasikan melalui RBV dan VRIO untuk analisis internal, PESTEL dan Porter’s Five Forces untuk analisis eksternal, serta MCDA dengan metode AHP. Data primer berasal dari wawancara terhadap 12 narasumber dan data sekunder mencakup RJPP LNG Trading PGN 2025–2035, laporan keuangan tahunan 2024 dan 2025, regulasi pemerintah, dan publikasi industri. Analisis internal dan eksternal menunjukkan PGN sebagai perusahaan kuat-aset dan pertumbuhan permintaan LNG di Asia-Pasifik sebagai peluang namun PGN lemah secara kapabilitas. Hasil MCDA menempatkan model hybrid asset-backed portfolio sebagai pilihan paling sesuai yang dibuktikan dengan tiga skenario sensitivitas.Rekomendasi pada thesis ini konsisten dengan RJPP LNG Trading PGN 2025–2035, yang memproyeksikan pendapatan dari USD 453 juta menjadi USD 785 juta, dan profitabilitas USD 0,16–0,31 per MMBTU. Tesis ini merekomendasikan implementasi bertahap, penguatan fondasi selama 0–12 bulan, integrasi volume dalam 1–3 tahun dan ekspansi regional 3–5 tahun setelahnya.
ANALISIS KESELAMATAN LALU LINTAS BUS RAPID TRANSIT (BRT) TRANSJAKARTA
Sistem Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta merupakan angkutan umum massal yang telah beroperasi sejak tahun 2004 dan merupakan BRT dengan jalur terpanjang di dunia yang melayani pergerakan mobilitas masyarakat di Kawasan Metropolitan Jakarta. Namun, di balik pencapaian operasional dan pertumbuhan volume angkutan penumpang yang masif, fakta di lapangan menunjukkan bahwa frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta masih terbilang tinggi dan menjadi tantangan kritis yang dapat mengancam keberlangsungan sistem transportasi ini. Dengan tingginya frekuensi kecelakaan BRT Transjakarta, analisis pada kejadian kecelakaan BRT masih bersifat umum dan belum berfokus pada lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keselamatan operasional BRT Transjakarta, mengidentifikasi lokasi rawan kecelakaan, mendiagnosis permasalahan keselamatan penyebab kecelakaan, serta merumuskan rekomendasi penangan dan mitigasi yang sesuai dengan kebutuhan lokasi rawan tersebut. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini mengintegrasikan pendekatan kuantitatif meliputi karakteristik kecelakaan lalu lintas berdasarkan data historis kecelakaan BRT yang kemudian diproyeksikan menggunakan software Google Earth dan QGIS untuk memetakan persebaran kecelakaan BRT Transjakarta. Untuk menentukan lokasi rawan kecelakaan, digunakan algoritma Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise (DBSCAN) pada QGIS dengan ketentuan jarak antar kecelakaan maksimal 300 meter dan minimal klaster enam kecelakaan. Hasil tahap ini kemudian ditelaah lebih mendalam melalui pendekatan kualitatif. Pendekatan ini difokuskan untuk mendiagnosis permasalahan keselamatan yang menyebabkan kecelakaan lokasi rawan yang telah teridentifikasi. Pendekatan dilanjutkan dengan melakukan analisis kesenjangan dengan membandingkan kondisi eksisting lokasi rawan dengan standar BRT menurut ITDP tahun 2024 yang akan menghasilkan rekomendasi penangan dan mitigasi untuk menutup celah kesenjangan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecelakaan BRT Transjakarta paling sering terjadi di pagi hari, tepatnya pada jam puncak pagi hari akibat mobilitas masyarakat yang tinggi ke arah kawasan metropolitan Jakarta. Ditemukan juga bahwa tipe kecelakaan yang paling sering terjadi adalah tabrak depan-belakang antara BRT dengan kendaraan lain dengan interaksi kecelakaan terbanyak dengan pengendara sepeda motor. Hasil klasterisasi menggunakan algoritma DBSCAN menemukan empat kawasan koridor BRT Transjakarta yang teridentifikasi sebagai lokasi rawan yang secara kualitatif menunjukkan diagnosis permasalahan keselamatan yang sama yaitu lemahnya faktor infrastruktur yang mendukung sistem operasional BRT Transjakarta. Keempat lokasi ini teridentifikasi tidak didukung dengan jalur khusus BRT yang konsisten dan kontinu yang membuat BRT memiliki potensi berada di lajur yang sama dengan lalu lintas umum. Hasil diagnosis juga menemukan beberapa kelemahan infrastruktur yang berbeda pada setiap lokasi, meliputi konflik pada area putar balik yang memotong jalur BRT, tidak adanya sarana infrastruktur yang memadai dan berkeselamatan bagi pejalan kaki dan pesepeda, hingga ketiadaan penerapan fase sinyal khusus BRT pada persimpangan. Penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi kejadian kecelakaan pada lokasi rawan. Rekomendasi prioritas berupa pemasangan barrier fisik secara kontinu pada seluruh segmen rawan yang dilintasi jalur BRT. Adapun rekomendasi pendukung lainnya seperti penerapan fase sinyal khusus BRT dan pejalan kaki serta kajian ulang pada beberapa U-Turn.
PENGEMBANGAN KATALIS LOW TEMPERATURE SHIFT CONVERTER
Industri pupuk memegang peranan krusial dalam menopang ketahanan pangan nasional, termasuk industri amonia yang berperan sebagai bahan baku utamanya. Amonia diproduksi dari gas sintesis, campuran gas hidrogen dan nitrogen yang dihasilkan dari gas alam. Salah satu unit tahapan kunci dalam produksi gas hidrogen melalui reaksi water gas shift yaitu low temperature shift converter. Tujuan utama unit ini adalah untuk mengurangi konsentrasi karbon monoksida, yang dikenal sebagai racun bagi katalis pada proses sintesis amonia selanjutnya. Katalis komersial yang umum digunakan dalam unit low temperature shift converter yaitu katalis Cu-Zn-Al. Hubungan antara kandungan mangan, sifat struktural, dan aktivitas LTSC masih belum dipahami secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan katalis Cu-Zn-Al dengan penambahan Mn sebagai promotor (0–2%) dan variasi temperatur kalsinasi (350– 425 °C). Karakterisasi meliputi XRF (komposisi oksida), XRD (struktur kristal dan ukuran kristalit CuO), adsorpsi-desorpsi N2 (luas permukaan BET, volume pori, diameter pori), TPR, serta uji aktivitas konversi CO dalam reaktor alir pada temperatur 212 °C dan tekanan atmosferik. Hasil menunjukkan bahwa penambahan Mn 2% (CZA?Mn2) menurunkan ukuran kristalit CuO (8,80 nm) dibandingkan katalis tanpa Mn (10,07 nm), serta meningkatkan luas permukaan BET (79,54 m²/g) dan volume pori (0,22 cm³/g). Kalsinasi CZA-Mn2 pada temperatur 425 °C (CZAMn?425) menghasilkan diameter pori terbesar (119,19 Å) dan konversi CO terbaik yang dapat menyaingi katalis komersial. Katalis komersial 2 memiliki luas permukaan BET tertinggi (115,72 m²/g), kadar CuO tertinggi (45,85%), dan stabilitas konversi yang paling konsisten. Katalis sintesis CZAMn?425 menunjukkan peningkatan konversi secara bertahap selama time on stream, yang dikaitkan dengan pelepasan residu karbonat temperatur tinggi serta peran Mn dalam membentuk situs aktif Cu–ZnOx. Secara keseluruhan, katalis sintesis CZA dengan penambahan Mn 2% dengan temperatur kalsinasi 425 °C memiliki performa yang kompetitif terhadap katalis komersial, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif katalis untuk reaksi konversi CO.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI SUHU MODUL FOTOVOLTAIK DENGAN KOREKSI KOEFISIEN BERBASIS DATA UNTUK KONDISI DARAT DAN PERAIRAN PADA IKLIM TROPIS
Suhu modul merup?kan faktor utama yang mempengaruhi efisiensi dan ketahanan sistem fotovoltaik, khususnya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung yang diharapkan memberik?n keuntungan dari sisi pendinginan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi suhu modul dengan koreksi koefisien berbasis data untuk kondisi darat dan perairan pada iklim tropis. Karakterisasi iklim dilakukan menggun?kan data primer instalasi PV darat di Gedung CAS ITB, sementara pemilihan dan kalibrasi model menggun?kan data suhu modul terukur dari dataset PV perairan Florida. Tiga model prediksi suhu, yaitu Faiman, NOCT, dan Sandia, dibandingkan. Model Faiman terpilih karena memiliki bias terkecil serta struktur koefisien yang dapat dikalibrasi secara fisik. Kalibrasi dilakukan melalui mekanisme umpan balik proporsional yang mengoreksi koefisien kehilangan panas (U0) secara iteratif. Hasil kalibrasi memperoleh U0 sebesar 25,00 W/m²K untuk kondisi darat dan 29,87 W/m²K untuk kondisi perairan dengan nilai U1 ditetapkan sebesar 2,00 W·s/m³K. Pengujian data independen menunjukkan penurunan RMSE dari 5,80°C menjadi 3,45°C dan peningkatan R² dari 0,304 menjadi 0,753. Penerapan pada enam danau di Bali sebagai analisis sensitivitas orde pertama menghasilkan selisih suhu modul 1,76°C antara kondisi darat dan perairan, setara dengan uplift energi 0,94%. Besaran uplift yang marginal ini mengindikasikan bahwa keuntungan termal instalasi terapung di iklim tropis lebih kecil dibanding asumsi literatur iklim sedang, akibat kelembaban tinggi dan kecepatan angin yang rendah.
PENGEMBANGAN SISTEM LOKALISASI FIDUCIAL UNTUK NAVIGASI BEDAH TULANG BELAKANG WAKTU NYATA DENGAN INTEGRASI PERANCANGAN BEDAH BERBASIS VISUALISASI CT SCAN 3D DAN NAVIGASI OPTIK
ntegrasi teknologi navigasi dalam prosedur bedah tulang belakang saat ini esensial untuk meminimalisasi risiko komplikasi klinis. Namun, prosedur registrasi spasial yang umumnya masih bergantung pada lokalisasi fiducial marker secara manual sering kali memakan waktu yang lama. Penelitian ini mengembangkan sistem navigasi yang mengintegrasikan data citra CT bertipe O-arm dengan kamera pelacak optik menggunakan algoritma lokalisasi fiducial otomatis. Dalam mengevaluasi sistem navigasi yang telah dikembangkan, algoritma lokalisasi fiducial diuji menggunakan 4 data CT scan berbeda untuk melihat rata-rata Fiducial Localization Error (FLE) dari pengaruh dari jarak kamera pelacak optik, pengaruh orientasi instrumen bedah, serta pengaruh konfigurasi fiducial sebagai referensi dalam proses registrasi spasial. Hasil dari evaluasi menujukkan bahwa sistem navigasi bedah yang dikembangkan mampu mendeteksi lokasi fiducial dari data CT scan dengan akurasi sub-milimeter, yaitu dengan galat sekitar 0.36-0.38 mm. Pada integrasi perangkat keras, sistem mencapai Target Registrastion Error (TRE) minimum sebesar 2.11 mm pada jarak fokus optimal kamera sejauh 1.6 meter. Orientasi alat bedah memengaruhi presisi secara signifikan, dengan lonjakan galat tertinggi (TRE > 5.0 mm) terjadi pada sudut pitch -45° akibat terhalangnya marker infrared instrument dari garis pandang sensor kamera pelacak optik. Lebih lanjut, penggunaan konfigurasi 7 fiducial dengan sebaran spasial yang luas terbukti paling superior dalam meminimalisasi nilai TRE dalam sistem navigasi.