📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PERANCANGAN SISTEM AKUISISI DAN PEMROSESAN SINYAL FASE GAIT BERBASIS SMART INSOLE KAPASITIF DAN IMU

Analisis gait kuantitatif diperlukan untuk mendukung evaluasi rehabilitasi yang objektif. Penelitian ini mengembangkan sistem smart insole pair berbasis sensor kapasitif dan IMU untuk akuisisi tekanan plantar, preprocessing, dan evaluasi awal klasifikasi fase gait. Setiap insole terdiri atas delapan sensing pad kapasitif, front- end LC-tank FDC2212, multiplexer, ESP32-S3, dan BNO055. Evaluasi akuisisi dilakukan pada lima subjek dengan 90 file kiri dan 90 file kanan; preprocessing pada 753 file dari 20 folder subjek; dan klasifikasi pada tiga subjek berlabel dengan 45 file Excel. Akuisisi menggunakan UDP host-polling dengan tare calibration, sinkronisasi, visualisasi, dan ekspor data. Data raw offset-adjusted diproses melalui estimasi frekuensi sampling, resampling, perbaikan channel bermasalah, target pseudo-clean, denoising autoencoder, stabilisasi regional, dan filtering gyroscope. Sistem mencapai effective rate steady-state 40,187 Hz kiri dan 40,171 Hz kanan; R² sensor 0,9971 pada heel dan 0,9651 pada toes/forefoot. Preprocessing menurunkan kekasaran Average 56,2% dan channel S1–S8 80,7%, dengan korelasi heel–toes 0,9008. Klasifikasi MultiRocket-Hydra–DrCIF menghasilkan macro-F1 raw 38,47%/40,23% dan filtered 35,40%/43,27% untuk kiri/kanan, sehingga sistem layak sebagai platform akuisisi dan preprocessing gait, sementara klasifikasi masih perlu pengembangan.

2026
👤 Penulis: Ammar Sulthoni Adli
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS MODEL SEMANTIK IFC UNTUK MEMBANGUN SISTEM INFORMASI ASET IRIGASI, STUDI KASUS BENDUNG PATARUMAN

Perkembangan teknologi Building Information Modeling (BIM) dan standar data terbuka Industry Foundation Classes (IFC) memungkinkan representasi aset infrastruktur tidak hanya dalam bentuk geometrik, tetapi juga sebagai basis informasi teknis dan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode pengayaan semantik secara massal pada model IFC bangunan pembagi dalam sistem irigasi Bendung Pataruman dengan memanfaatkan IfcOpenShell untuk menambahkan property set berbasis domain irigasi. Data yang digunakan meliputi model geometrik dalam format IFC hasil pemodelan Scan-to-BIM dari point cloud multi-source, yaitu TLS, GeoSLAM, dan iPad LiDAR, serta data nongeometrik berupa parameter hidrolik yang telah diolah. Metode pengayaan semantik dilakukan secara bertahap melalui penerapan property set yang meliputi IRG_IdentitasAset, IRG_KlasifikasiFungsi, IRG_MetadataEnrichment, IRG_Operasional, dan IRG_Hidrolik. Property set tersebut diterapkan sesuai fungsi dan relevansi operasional masing-masing elemen. Evaluasi kuantitatif menunjukkan peningkatan kandungan informasi nongeometrik pada model IFC bangunan pembagi. Jumlah IfcRoot meningkat sebesar 198,42%, IfcRelDefinesByProperties dan IfcPropertySet meningkat sebesar 331,05%, total properti meningkat sebesar 178,07%, property ratio per objek meningkat dari 11,94 menjadi 33,19, serta coverage objek dengan property set mencapai 100%. Struktur hierarki spasial dan jumlah objek fisik tetap terjaga, sehingga pengayaan semantik berhasil meningkatkan kandungan informasi tanpa mengubah geometri model. Validasi terbatas pada model IFC bangunan sifon dan bangunan utama Bendung Pataruman menunjukkan bahwa alur pengayaan semantik dapat diterapkan kembali pada model dengan jumlah objek fisik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengayaan semantik massal berbasis IfcOpenShell mampu meningkatkan konsistensi, ketercakupan, dan kepadatan informasi nongeometrik pada model IFC. Pendekatan ini mendukung interoperabilitas OpenBIM dan berpotensi memperkuat pengelolaan aset irigasi berbasis data secara lebih terstruktur dan informatif.

2026
👤 Penulis: Merryta Kusumawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS FAILURE FRACTION BAHAN BAKAR REAKTOR PELUIT 10 MWT MENGGUNAKAN KODE VSOP DAN TRIAC-BATAN

Perubahan iklim yang terjadi berada dalam tahap yang cukup ekstrim hingga mencapai kenaikan temperatur global 2°C. Emisi karbon berlebih merupakan salah satu penyebab pemanasan global sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi emisi tersebut. BRIN mendesain reaktor PeLUIt (Pembangkit Listrik dan Uap Industri) sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi karbon. Selain energi, reaktor ini difungsikan sebagai fasilitas kogenerasi panas untuk keperluan industri. Reaktor ini ditargetkan dapat menggantikan pembangkit listrik diesel. Reaktor berbasis HTGR pebble bed ini dengan desain skala yang lebih kecil diharapakan dapat dibangun dalam waktu yang relatif singkat dan ekonomis, sehingga sesuai untuk diterapkan pada daerah-daerah terpencil yang memerlukan pasokan listrik, namun tetap menghindari pembangkit listrik diesel untuk mengurangi emisi karbon yang mana selaras dengan tujuan NZE. Aspek keselamatan menjadi penting dalam hal ini meskipun desain dari PeLUIt didasarkan pada reaktor yang sudah berhasil beroperasi yaitu HTR-10. Salah satu aspek keselamatan adalah fraction failure atau fraksi kegagalan bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar failure fraction dalam geometri teras yang berbeda. Rasio H/D height/diameter yang digunakan adalah 0,9 untuk meminimalisir material fisil yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi kritis pada teras. Volume teras optimal yang didapatkan adalah 3,7m3 dengan batas nilai burnup 41,58 MWd/kg-HM. Dalam kondisi kecelakaan DLOFC (Depressurized Loss Of Forced Cooling), temperatur bahan bakar berada dibawah ambang batas keselamatan 1600°C pada seluruh volume teras yang ditinjau. Failure fraction bahan bakar juga masih berada dibawah batas selamat (5,35×10-4 ), sedangkan untuk volume optimal 3,7m3 nilainya adalah 2,33405×10-4 . Berdasarkan hasil yang didapat, reaktor PeLUIt memiliki aspek keselamatan inheren yang baik dan mampu mempertahankan aspek keselamatan dalam kondisi kecelakaan parah sekalipun.

2026
👤 Penulis: Yustus Chrisanto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS FAKTOR BERGANDA UNTUK TABEL KONTINGENSI PADA MASALAH KESEHATAN MENTAL DAN FAKTOR TERKAIT KESEHATAN MASYARAKAT ABORIGIN DAN KEPULAUAN SELAT TORRES AUSTRALIA TAHUN 2018-2019

Kesehatan mental masyarakat First Nations di Australia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat mastery, tekanan psikologis, dan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi kesehatan mental dan faktor yang berkaitan serta mengidentifikasi kontribusi masing-masing variabel dalam membentuk struktur data. Metode yang digunakan adalah Analisis Korespondensi (AK) untuk melihat hubungan secara parsial pada masing-masing tabel, serta Multiple Factor Analysis for Contingency Tables (MFACT) untuk mengintegrasikan seluruh tabel kontingensi ke dalam satu kerangka analisis global. Dalam MFACT, dilakukan pembobotan menggunakan nilai eigen pertama dari analisis pseudo-terpisah untuk menghindari dominasi tabel tertentu. Selain itu, dilakukan penyesuaian skala untuk meningkatkan kejelasan visualisasi tanpa mengubah struktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara global, struktur utama kondisi kesehatan mental didominasi oleh faktor-faktor psikososial, yaitu dukungan sosial, tingkat mastery, tekanan psikologis, dan jenis kelamin, yang membentuk dimensi pertama dengan kontribusi sebesar 69,74%. Sementara itu, faktor usia memberikan kontribusi utama pada dimensi kedua sebesar 21,99% dan menunjukkan pola yang relatif independen terhadap faktor lainnya. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa penggunaan pembobotan pseudo-terpisah dalam MFACT mampu menghasilkan representasi yang lebih seimbang antar tabel, meskipun menyebabkan titik-titik cenderung terpusat di sekitar titik asal. Melalui penyesuaian skala, pola hubungan antar variabel dapat divisualisasikan dengan lebih jelas tanpa mengubah interpretasi substantif. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa MFACT efektif untuk menganalisis data kategorik multivariat dengan banyak tabel kontingensi, serta mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara kesehatan mental dan faktor-faktor yang berkaitan.

2026
👤 Penulis: Khafshoh Fattaya Hanifah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kategorik Multivariat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN KELAYAKAN EKONOMI IMPLEMENTASI WAVE ENERGY CONVERTER (WEC) DI PERAIRAN BALI DAN SEKITARNYA

Konsumsi listrik Indonesia meningkat hampir sembilan kali lipat dalam tiga dekade terakhir dan masih didominasi energi fosil yang merupakan penghasil emisi karbon tinggi, sehingga diperlukan identifikasi lokasi tepat serta kajian kelayakan ekonomi pengembangan energi gelombang laut untuk mendukung Bali yang menargetkan Net Zero Emission (NZE) 2045. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi lokasi rekomendasi pengembangan energi gelombang laut di perairan Bali dan sekitarnya, serta mengevaluasi kelayakan ekonomi implementasi dua jenis Wave Energy Converter (WEC), yaitu Wave Roller dan Wave Dragon, berdasarkan karakteristik gelombang laut. Metodologi penelitian meliputi simulasi gelombang laut menggunakan model Simulating WAves Nearshore (SWAN) resolusi tinggi hingga 50 m selama periode Januari–Desember 2024, diikuti perhitungan rapat daya gelombang, estimasi produksi energi berdasarkan power matrix WEC, dan analisis Levelized Cost of Energy (LCoE) dengan beberapa skenario. Hasil penelitian menunjukkan enam lokasi potensial dengan puncak energi pada Juni–Agustus. T1 di selatan Nusa Penida merupakan lokasi paling unggul untuk Wave Roller dengan rata-rata rapat daya gelombang setahun sebesar 28,97 kW/m, produksi energi 2.158,3 MWh per unit, dan capacity factor 24,62%, sementara T4 unggul untuk Wave Dragon dengan produksi 16.341,1 MWh per unit dan capacity factor 31,60%. Nilai LCoE Wave Roller berkisar 2.488,00–9.604,00 IDR/kWh dan Wave Dragon 1.944,00–6.573,00 IDR/kWh. Perairan Bali dan sekitarnya merupakan kawasan prioritas pengembangan energi gelombang laut yang berpotensi tinggi serta secara ekonomi layak, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung target NZE Bali 2045.

2026
👤 Penulis: Ari Daniel Sitorus
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI KOMPARATIF KINERJA SEL SURYA PEROVSKIT \MATHRM{FASNI_{3}} DAN SILIKON KOMERSIAL DI IKLIM TROPIS BANDUNG MELALUI SIMULASI SCAPS-1D DAN PVSYST

FASnI? merupakan kandidat material fotovoltaik ramah lingkungan dengan celah pita langsung sekitar 1,42 eV yang secara teoretis optimal untuk konversi energi surya. Namun, ion Sn²? pada FASnI? sangat rentan teroksidasi menjadi Sn?? saat terpapar oksigen atau uap air, sehingga memicu pembentukan cacat vakansi yang berperan sebagai pusat rekombinasi non-radiatif dan menurunkan kinerja sel. Studi-studi komputasional sebelumnya telah mengevaluasi sel surya FASnI? pada kondisi laboratorium ideal, sedangkan kelayakan operasionalnya pada iklim tropis dengan dominasi iradiasi difus belum pernah dikuantifikasi. Penelitian ini merupakan studi simulasi numerik yang dilakukan dalam dua tahap untuk membandingkan kinerja sistem PLTS berbasis FASnI? terhadap Silikon (Si) komersial di bawah kondisi meteorologi riil Bandung yang memiliki fraksi iradiasi difus tahunan 43,5%. Tahap pertama menggunakan SCAPS-1D untuk mengarakterisasi degradasi kelistrikan sel surya perovskit FASnI? pada delapan variasi densitas cacat (Nt) dari 10¹¹ hingga 10¹? cm?³; tahap kedua menggunakan PVsyst 8.1.1 dengan data Meteonorm 9.0 Bandung untuk mengevaluasi performance ratio (PR) dan specific yield (SY) sistem. Hasil simulasi SCAPS-1D menunjukkan bahwa kenaikan Nt mendegradasi efisiensi konversi sel surya dari 27,59% menjadi 9,81%, Voc dari 1,065 V menjadi 0,768 V, serta fill factor (FF) dari 88,43% menjadi 68,26%. Pada skala sistem, PR sistem PLTS FASnI? menurun dari 83,4% menjadi 69,13% terhadap Si sebesar 76,78%, sedangkan SY turun dari 1.615 menjadi 1.338 kWh/kWp/tahun di bawah referensi Si 1.486 kWh/kWp/tahun. Berbeda dari studi sejenis yang hanya melaporkan efisiensi sel, penelitian ini mengungkap bahwa sel surya perovskit FASnI? memiliki rugi termal lebih rendah daripada sel surya Si pada kondisi densitas cacat rendah (Nt ? 1015 cm-3), namun keunggulan hilang setelah Nt melampaui 10¹? cm?³. Batas toleransi kritis tersebut merupakan kontribusi kuantitatif berupa ambang densitas cacat oksidasi maksimum yang dapat ditoleransi sebelum performa operasional FASnI? menjadi setara atau lebih rendah dibandingkan silikon pada iklim tropis.

2026
👤 Penulis: Andini Rahadiani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI KANTUK PADA PEMBELAJARAN DARING MENGGUNAKAN MEDIAPIPE FACE MESH DENGAN TEMPORAL SMOOTHING

Transisi ke pembelajaran daring sinkronus menimbulkan tantangan bagi pengajar dalam memantau keterlibatan siswa secara real-time, terutama ketika penurunan atensi sulit diamati melalui layar video. Deteksi kantuk dapat digunakan sebagai proksi dari penurunan keterlibatan perilaku siswa, tetapi penerapan sistem deteksi berbasis computer vision pada lingkungan pembelajaran daring perlu mempertimbangkan keterbatasan perangkat klien dan bandwidth jaringan. Penelitian ini merancang sistem deteksi kantuk berbasis web menggunakan MediaPipe Face Mesh, komputasi geometris Eye Aspect Ratio (EAR) dan Mouth Aspect Ratio (MAR), serta Temporal Smoothing berbasis Exponential Moving Average (EMA). Sistem menerapkan arsitektur Server-Side Inference dengan pengambilan sampel 1 Frame Per Second (FPS) untuk mengurangi beban pemrosesan pada perangkat klien. Untuk menjaga keandalan masukan dan privasi siswa, sistem dilengkapi pra-pemrosesan citra sisi-klien (koreksi kecerahan otomatis dan penyaringan blur berbasis Variance of Laplacian), pencatatan bukti peringatan berbasis teks alih-alih citra, serta verifikasi manual opsional oleh guru (human-in-the-loop). Berdasarkan evaluasi menggunakan dataset YawDD, konfigurasi EMA 0,9 menghasilkan kinerja dengan akurasi 96,88% dan False Positive 2,19%. Dari sisi performa sistem, latensi pemrosesan internal tercatat sebesar 240 ms dan sistem mampu beroperasi stabil hingga 50 pengguna konkuren pada lingkungan evaluasi. Pengujian System Usability Scale (SUS) menghasilkan skor 76,75 yang termasuk kategori Acceptable. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem berpotensi mendukung pemantauan indikasi penurunan keterlibatan perilaku siswa dalam pembelajaran daring.

2026
👤 Penulis: Annel Rashka Perdana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

OPTIMASI SISTEM PROTEKSI PASIF DAN SARANA EVAKUASI KEBAKARAN PADA HUNIAN KAMPUNG PADAT PERKOTAAN (STUDI KASUS: KELURAHAN CIJERAH, KECAMATAN BANDUNG KULON, KOTA BANDUNG)

Risiko kebakaran pada permukiman padat perkotaan di Indonesia terus meningkat seiring laju urbanisasi yang tidak diimbangi oleh perencanaan spasial dan sistem keselamatan kebakaran yang memadai. Permukiman kampung kota umumnya berkembang secara organik dengan kepadatan bangunan tinggi, jarak antarbangunan yang sangat rapat, akses jalan lingkungan yang sempit, serta keterbatasan sarana proteksi kebakaran. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya potensi penyebaran api dan asap sekaligus menghambat proses evakuasi penghuni. Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, merupakan salah satu kawasan dengan tingkat risiko kebakaran tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan kajian Urban Premise Fire Risk Assessment (2025). Kawasan ini memiliki karakteristik khas kampung kota berupa jaringan gang yang tidak teratur, bangunan semi permanen yang saling berhimpitan, keterbatasan ruang terbuka, serta minimnya penerapan sistem proteksi pasif kebakaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik eksisting kawasan, menganalisis hubungan antara karakteristik fisik, spasial, dan perilaku penghuni terhadap risiko kebakaran dan keselamatan evakuasi, serta merumuskan strategi optimasi sistem proteksi pasif dan sarana evakuasi yang sesuai dengan kondisi kampung padat perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan mengombinasikan observasi lapangan, pemetaan spasial, wawancara penghuni, analisis Space Syntax, pemodelan Bayesian Network, simulasi kebakaran menggunakan Pyrosim, simulasi evakuasi menggunakan Pathfinder, serta analisis statistik inferensial. Analisis keselamatan dilakukan melalui pendekatan performance-based fire engineering dengan membandingkan Available Safe Egress Time (ASET) dan Required Safe Egress Time (RSET). Objek penelitian mencakup dua belas unit hunian pada RT 06 RW 07 Kelurahan Cijerah yang mewakili karakteristik kampung padat perkotaan. Strategi optimasi diuji melalui dua skenario intervensi, yaitu optimasi fisik berbasis ventilasi dan sekat parsial (P1), serta intervensi terintegrasi berupa kompartementasi penuh, perbaikan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan simulasi evakuasi (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya risiko kebakaran merupakan akibat interaksi kompleks antara faktor fisik, spasial, dan sosial. Dari aspek fisik, mayoritas bangunan menggunakan material semi permanen dengan nilai Heat Release Rate (HRR) tinggi, tidak memiliki fire barrier, serta memiliki jarak antarbangunan yang sangat rapat. Dari aspek spasial, kawasan memiliki jaringan gang sempit dengan lebar rata-rata sekitar 1,1 meter, konektivitas dan integrasi yang tidak merata, nilai mean depth tinggi pada beberapa segmen, serta visibilitas rendah yang menyebabkan keterbacaan jalur evakuasi buruk dan memunculkan bottleneck pada koridor sempit. Dari aspek sosial, kapasitas mitigasi masyarakat masih rendah, ditandai oleh minimnya pengetahuan prosedur darurat, keterbatasan peralatan pemadam awal, serta tingginya probabilitas keterlambatan respons. Simulasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa seluruh unit hunian berada pada kondisi tidak aman karena nilai ASET lebih kecil dibandingkan RSET. Nilai ASET hanya berkisar antara 18–52 detik, sedangkan nilai RSET berada pada rentang sekitar 120–360 detik. Parameter bahaya yang paling cepat mencapai kondisi kritis adalah penurunan visibilitas akibat akumulasi asap, yang terbukti lebih dominan dibandingkan peningkatan temperatur maupun konsentrasi gas beracun. Temuan ini menunjukkan bahwa kegagalan keselamatan kebakaran di kawasan tidak semata disebabkan oleh penyebaran api, melainkan terutama oleh cepatnya degradasi kondisi tenable akibat asap. Evaluasi strategi optimasi menunjukkan bahwa intervensi fisik berupa aktivasi ventilasi dan sekat parsial mampu meningkatkan nilai ASET hingga 3,39–271,35% dibandingkan kondisi eksisting, namun belum cukup untuk memenuhi kriteria keselamatan karena RSET masih lebih besar daripada ASET. Sebaliknya, skenario intervensi terintegrasi yang mengombinasikan kompartementasi penuh pada area dapur, penghilangan hambatan jalur evakuasi, reposisi bukaan, serta edukasi masyarakat berhasil meningkatkan margin keselamatan secara signifikan. Kompartementasi penuh mampu mempertahankan kondisi aman selama periode simulasi, sementara penguatan kapasitas masyarakat terbukti menurunkan waktu pre-movement dan mengurangi nilai RSET sekitar 30–45% pada sebagian besar unit hunian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan kebakaran tidak dapat dicapai melalui intervensi tunggal, melainkan memerlukan kombinasi strategi fisik dan sosial yang saling melengkapi. Penelitian ini menghasilkan model optimasi sistem proteksi kebakaran berlapis berbasis pentahelix yang mengintegrasikan aspek spasial, teknis, dan perilaku dalam satu kerangka mitigasi yang adaptif terhadap keterbatasan fisik dan sosial kampung kota. Selain itu, penelitian ini menawarkan kontribusi metodologis melalui integrasi analisis Space Syntax, Bayesian Network, dan simulasi performance-based fire engineering untuk mengevaluasi risiko kebakaran secara holistik. Model yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang kontekstual, aplikatif, dan dapat direplikasi pada kawasan permukiman padat perkotaan di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Anggun V. M Anes
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Urbanisasi

PENATAAN KAWASAN TRANSIT RAMAH PEJALAN KAKI DI STASIUN BANDUNG-KEBON KAWUNG-PASIRKALIKI

Kawasan transit Stasiun Bandung berperan sebagai simpul transportasi publik yang strategis, namun saat ini menghadapi persoalan dalam menyediakan lingkungan yang ramah pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan kawasan transit yang ramah pejalan kaki di Stasiun Bandung–Kebon Kawung– Pasirkaliki. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan delapan indikator komponen Walk dan Connect dari ITDP TOD Standard 3.0 dengan analisis konfigurasional space syntax (segment integration dan segment choice) sebagai pendekatan komplementer. Hasil pengukuran menunjukkan ketidakselarasan sistematik kawasan studi. Komponen Connect mencapai skor agregat 88,89% (kategori sangat baik) yang menandakan kerangka jaringan permeabel, sementara komponen Walk berada pada skor 0% yang menandakan defisit menyeluruh kondisi mikro infrastruktur pejalan kaki. Analisis space syntax mengungkap struktur konfigurasional berupa "bingkai kotak" empat koridor utama (Pajajaran, Otto Iskandardinata, Kebon Jati–Suniaraja, dan Pasirkaliki) yang dilengkapi "poros tunggal" Pasirkaliki, serta ketidakselarasan konfigurasional Stasiun Bandung dengan kerangka utama kawasan. Sintesis lintas-pendekatan menghasilkan klasifikasi empat kategori peran segmen sebagai dasar prioritisasi penataan, yaitu Koridor Utama Konfigurasional, Zona Pengaruh Stasiun, Koridor Penghubung Sekunder, dan Jaringan Kapiler Permukiman. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis berupa integrasi pendekatan ITDP TOD Standard dengan space syntax, dan kontribusi substantif berupa diagnosis kawasan transit kolonial Indonesia: kawasan tidak menderita ketiadaan modal struktural, melainkan kegagalan mengaktualkan modal yang sudah tersedia menjadi pengalaman pejalan kaki yang nyata.

2026
👤 Penulis: Dimal Akram Pradana
🏷️ Transportasi Publik 🏷️ Kawasan Transit 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

FAKTOR EMISI PM10 DARI PEMBAKARAN TERBUKA SAMPAH DOMESTIK KOTA BANDUNG

Pembakaran sampah secara terbuka berpotensi memberikan kontribusi sebagai sumber partikulat di atmosfer. Pembakaran sampah secara terbuka terjadi pada temperatur rendah dan akan menghasilkan bermacam-macam polutan, salah satunya adalah partikulat yang berupa asap dan jelaga. Diketahui dari penelitian sebelumnya, 28,84 % dari penduduk kota Bandung melakukan pembakaran sampah secara terbuka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi dan karakteristik sampah yang dibakar, konsentrasi partikulat [PM10] dan kontribusi faktor-faktor pendukung lainnya terhadap konsentrasi [PM10] yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka, mendapatkan faktor emisidan identifikasi awal logam yang dihasilkan dari pembakaran sampah secara terbuka. Sembilan puluh sampel sampah diambil dari tipe rumah berbeda sesuai dengan golongan sosial ekonomi. Pembagian sampel sampah dilakukan dengan menggunakan teknik probabilitas (random sampling dan stratified random sampling). Berdasarkan metode tersebut diperoleh pembagian jumlah sampel yang dibagi atas 23 sampel rumah mewah,32 sampel rumah menengah dan 35 sampel rumah sederhana.Pada penelitian ini dilakukan simulasi pembakaran sampah secara terbuka dengan menggunakan insinerator modular mini. Pembakaran dilakukan dengan dua kondisi temperatur berbeda, yaitu 250°C dan 850°C. Pengukuran emisi [PM10] menggunakan sampling probe. Dari hasil pengukuran, diperoleh konsentrasi [PM10] pada tipe rumah mewah (T250°C = 47,78 mg/m3 dan T850°C =76,87 mg/m3 ), rumah menengah (T250°C = 65,78 mg/m3 dan T850°C 89,62 mg/m3 ), dan rumah sederhana (T250°C = 81,34 mg/m3 dan T850°C = 151,00 mg/m3 ). Konsentrasi [PM10]850°C dari semua tipe rumah lebih besar dari konsentrasi [PM10]250°C karena pembakaran pada temperatur 850°C cenderung menghasilkan ukuran partikel halus (PM10) dibandingkan dengan partikel kasar (TSP). Dari hasil analisis diperoleh bahwa 37,7% [PM10] pada pembakaran sampah terbuka dipengaruhi oleh tipe rumah, temperatur, volume udara dan sampah organik .Faktor emisi yang dihasilkan dari rumah mewah adalah adalah (FE[PM10] 250°C =17,1 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =26,5 mg/kg), rumah menengah (FE[PM10] 250°C =26,8 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =36,4mg/kg),dan rumah sederhana (FE[PM10] 250°C =47,3 mg/kg dan FE[PM10] 850°C =65 mg/kg). Pada studi ini juga dilakukan identifikasi awal terhadap logam dari pembakaran sampah domestik Kota Bandung. Logam tersebut adalah Mg, Zn, K, Na, Fe,Ca, Al, Cr, Ni, Sb, Co, Pb, As, Cu, Cd, Mn, Hg dan Sn

2026
👤 Penulis: Rika Herawati
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN ULANG PROSES BISNIS MANAGED SERVICE BERBASIS ISO 9001:2015 PADA PT PERSADA SOKKA TAMA DENGAN METODE BUSINESS PROCESS REENGINEERING

PT Persada Sokka Tama (PST), sebagai perusahaan penyedia layanan managed service di sektor telekomunikasi dan anak perusahaan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa proses bisnis managed service perusahaan terdokumentasi dan terstandar secara sistematis. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini dirancang untuk mendukung perusahaan dalam upaya memenuhi persyaratan ISO 9001:2015, yang merupakan standar sistem manajemen mutu yang menitikberatkan pada pendekatan berbasis proses, konsistensi kualitas layanan, dan perbaikan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis yang ada, mengidentifikasi kesenjangan terhadap persyaratan standar, dan merancang proses bisnis usulan yang selaras dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam ISO 9001:2015. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Business Process Reengineering (BPR), yang memungkinkan analisis mendalam terhadap proses bisnis saat ini ( as-is ) untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah. Proses yang telah teridentifikasi kemudian dirancang ulang ( to-be ) dengan mempertimbangkan efisiensi operasional, kejelasan tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap standar ISO 9001:2015. Tahapan penelitian mencakup persiapan reengineering , pemetaan dan analisis proses saat ini menggunakan APQC Process Classification Framework (PCF) dan Value Chain Model Porter, identifikasi kesenjangan terhadap klausul ISO 9001:2015, serta penyusunan rancangan proses bisnis usulan yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Visualisasi proses dirancang menggunakan metode cross-functional flowchart untuk memberikan pemahaman yang jelas dan terstruktur terhadap alur kerja yang diusulkan. Penelitian ini menghasilkan proses bisnis usulan ( to-be ) yang terdiri atas 4 kelompok proses, 13 proses, 41 aktivitas, dan 124 tugas. Perbaikan yang paling signifikan terlihat pada aspek kejelasan alur proses, penetapan pemilik proses, serta integrasi antar fungsi yang sebelumnya berjalan secara terpisah tanpa koordinasi lintas fungsi. Hasil penelitian dapat memberikan landasan bagi PT Persada Sokka Tama dalam mengimplementasikan sistem manajemen mutu secara berkelanjutan dan mempersiapkan diri menuju sertifikasi ISO 9001:2015.

2026
👤 Penulis: Auryn Yulisa Arsanty
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kepatuhanan Sistem Manajemen Mutu 🏷️ Reengineering Proses Bisnis

PERANGCANGAN BASIS DATA UNTUK MEMBANGUN SISTEM INFORMASI LANDAS KONTINEN INDONESIA

Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi UNCLOS 1982. Sebagai konsekuensinya Indonesia harus memenuhi kewajiban dan mendapatkan hak-hak atas laut yang diatur dalam hukum laut internasional tersebut. Dalam UNCLOS 1982, diatur tentang penentuan batas landas kontinen, baik itu berupa landas kontinen sejauh 200 mil laut, maupun landas kontinen yang lebih dari 200 mil laut. Dalam penetapan batas wilayah laut, diperlukan sarana pendukung dalam bentuk sistem data utama (spasial dan non-spasial) dan basis data terintegrasi yang berisikan informasi mengenai batas laut Indonesia sehingga data tersebut dapat dibangun, disimpan, dikelola, dimanipulasi dan ditampilkan secara akurat dan cepat. Tugas akhir ini menyajikan kajian perancangan sistem basis data spasial landas kontinen Indonesia. Sistem basis data spasial ini dapat menyajikan informasi mengenai landas kontinen Indonesia dan dapat dijadikan sebagai alternatif untuk pendepositan landas kontinen Indonesia ke Sekjen PBB.

2026
👤 Penulis: Aminah Kastuari
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Informasi Geografis

ASPEK PERMASALAHAN DAN ALTERNATIF SOLUSI BENCANA BANJIR DI JAKARTA

Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia. Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta nampaknya masih perlu waktu untuk bisa berbenah. Dari tahun ke tahun pemandangan Jakarta masih diwarnai dengan banjir yang bahkan cakupannya semakin meluas. Banjir sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi di Jakarta, apalagi setelah hujan turun. Terlepas dari anggapan sebagian besar masyarakat tentang penyebab banjir di Jakarta ini, sebenarnya ada beberapa faktor utama yang berkenaan dan punya andil cukup besar dalam hal pengaturan debit air sampai terjadinya banjir. Faktor-faktor utama tersebut apabila dipelajari dengan seksama maka akan terlihat suatu keterikatan antara satu dan lainnya. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami permasalahan yang berakibat pada kinerjanya, maka secara otomatis hal itu memicu gangguan pada faktor yang lainnya. Dengan pengetahuan tentang pemetaan serta pemanfaatan data dan informasi spasial, kasus banjir di jakarta ini bisa dipelajari dengan lebih fokus melalui faktor-faktor penyebab banjir dan menjadikannya sebagai parameter untuk bahan dianalisis.

2026
👤 Penulis: WAHYU PERMANA
🏷️ Geografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data Spasial

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SISTEM KEPEMILIKAN LAHAN SECARA ADAT( STUDI KASUS : ADAT MINANGKABAU PROPINSI SUMATERA BARAT )

Dalam Keputusan Menteri Negara Agraria Nomor 5 Tahun 1999, hukum pertanahan adat diakui dan dihormati keberadaannya sepanjang pada kenyataannya masih ada dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut ketentuan hukum adat setempat. Namun peraturan dan undang-undang pertanahan nasional masih belum mengatur pertanahan adat secara terperinci baik segi legal maupun teknisnya. Mengingat terdapatnya perbedaan-perbedaan tatanan hukum pertanahan adat antara satu wilayah adat dengan wilayah adat lainnya maka diperlukan suatu kajian untuk mengidentifikasi karakteristik dari setiap hukum pertanahan adat. Dengan teridentifikasinya karakteristik dari hukum adat diharapkan dapat diformulasikan hukum pertanahan nasional yang berbasiskan hukum pertanahan adat yang dapat mengakomodir dan mewakili seluruh adat di Indonesia. Penelitan ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi aturan kepemilikan lahan berdasarkan hukum pertanahan adat yang berlaku menurut adat Minangkabau di Sumatra Barat. Kemudian dilakukan perbandingan karakteristik aturan kepemilikan lahan adat dengan menggunakan parameter karakteristik sistem kepemilikan lahan yang diadopsi dari sistem hukum pertanahan nasional.

2026
👤 Penulis: Muhammad Luthfi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI BISNIS UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN PELANGGAN INDONESIA YANG AKAN DATANG DI INDUSTRI OTOMOTIF: KASUS TOYOTA-ASTRA MOTOR

Toyota Astra Motor (TAM) adalah pemegang merek Toyota dan distributor resmi di Indonesia. Pada tahun 2003 perusahaan telah berubah menjadi dua perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha yaitu Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang fokus pada kegiatan manufaktur dan TAM yang fokus pada kegiatan distribusi dan promosi. Sesuai dengan visi dan misi perusahaan, perusahaan memiliki semangat untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan serta keuntungan dengan meraih pangsa pasar empat puluh persen dan menjadi yang pertama dalam hal kepuasan pelanggan. Namun, potensi masalah timbul karena adanya potensi perpindahan pembeli dari generasi sekarang yang didominasi generasi sebelum tahun 90 ke generasi tahun 90 yang berdampak pada perubahan perilaku dalam membeli kendaraan. Oleh karena itu untuk mempertahankan daya saing, Untuk melakukan perumusan strategi, analisis situasi dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis PESTEL, Porter five forces, marketing 4Ps, dan model bisnis kanvas. Setelah dilakukan analisis situasi, SWOT Perusahaan dapat ditentukan dan diselesaikan dengan pendekatan TOWS untuk melakukan perumusan strategi. Sebagai kesimpulan, pelanggan masa depan akan membutuhkan kendaraan yang dapat mendukung gaya hidup mereka, memiliki nilai ekonomis, memiliki konsep hijau seperti teknologi tinggi dan hemat energi. Di sisi lain untuk kegiatan pendukung seperti layanan purna jual mereka membutuhkan kemudahan, kesederhanaan dan pelayanan yang cepat sedangkan untuk kegiatan promosi akan lebih banyak mempertimbangkan informasi lebih banyak dari internet. Sebagai solusi, penulis menyarankan tiga area pengembangan dalam hal jajaran produk dan perluasan cakupan pasar, spesifikasi produk dan peningkatan daya saing, dan meningkatkan citra perusahaan melalui 11 strategi utama.

2026
👤 Penulis: Ardhana Wiranata
🏷️ Industri Otomotif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pengembangan Produk
Halaman 42 dari 349
💬