📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGARUH SCAFFOLDING DAN NUDGING PADA UJI VISUO-SPATIAL PUZZLE “FALLING LEAVES” TERHADAP PERFORMA KOGNITIF PELAJAR RENTANG USIA 19 – 21 TAHUN
Hasil PISA 2022 menempatkan posisi Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara dengan skor 1.108 yang menunjukkan kelemahan siswa Indonesia terkait kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Hasil ini menjadi tantangan utama bagi siswa untuk bersaing di era global dan mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh (1) scaffolding, yaitu metoda pembelajaran dengan memberikan dukungan terstruktur dan sementara untuk membantu siswa memahami teks kompleks sehingga mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, dan (2) Nudging yaitu perubahan kecil pada instruksi yang mendorong siswa dalam pengambilan keputusan yang lebih baik saat menyelesaikan tugas. Penelitian ini diujikan untuk melihat performa kognitif pelajar usia 19 – 21 tahun dalam menyelesaikan tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Desain penelitian ini menggunakan tiga kelompok perlakuan, yaitu G1 (baseline/no nudging), G2 (soft nudge), dan G3 (strong nudge); masing-masing terdiri dari 64 partisipan (N = 192) untuk menyelesaikan 10 Soal (S) pada tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Soal (S) terbagi menjadi tiga kriteria yakni soal S1 – S5 untuk menjawab urutan daun yang jatuh ke-n, soal S6 – S8 mengurutkan daun jatuh pertama hingga terakhir, dan soal S9 – S10 untuk menjawab urutan daun yang jatuh lebih dari satu. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk melihat normalitas data, dan jika data tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan (1) uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan signifikansi dari tiga kelompok berbeda, (2) uji Two proportion Z-test untuk melihat perbedaan signifikansi dari dua kelompok near transfer, serta (3) uji Epsilon-Squared dan Rank-Biserial untuk melihat besarnya pengaruh antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nudging secara signifikan meningkatkan performa kognitif. Kelompok G3 mencapai rata-rata skor tertinggi (6.91 ± 3.18), diikuti G2 (6.42 ± 3.38) dan G1 (4.5 ± 3.33). Pada soal S9 dan S10, skor nudging pada G2 dan G3 berhasil meningkatkan tingkat keberhasilan secara signifikan. Selain itu, soft dan strong nudge berhasil memfasilitasi near transfer dari S9 ke S10 dengan skor Z-test G2 (4.266457) dan G3 (9.7168). Terlihat bahwa perbedaan usia dan jenis kelamin tidak berbeda nyata terkait dengan performa kognitif. Penelitian ini memperlihatkan bahwa performa pada tugas complex problem solving sangat sensitif terhadap desain tugas dan nudging, bukan karena perbedaan usia dan jenis kelamin. Dapat disimpulkan bahwa strong nudge terbukti paling efektif dalam mengurangi beban kognitif dan meningkatkan kemampuan near transfer. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan empiris dalam menyusun kebijakan pendidikan yang mendukung peningkatan kemampuan problem solving pelajar di Indonesia.
TRANSISI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI PENDEKATAN MULTI-LEVEL PERSPECTIVE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SERAPAN TENAGA KERJA LULUSAN SMK: STUDI KASUS SMKN 9 DAN SMKN 2 BANDUNG
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai satuan pendidikan vokasi jenjang menengah di Indonesia, berhadapan dengan persoalan yang terus berulang. Lulusannya kerap belum menguasai kompetensi yang diminta industri. Menjawab hal itu, pemerintah menggulirkan kebijakan Link and Match 8+i lewat Program SMK Pusat Keunggulan sejak 2021. Penelitian ini menelaah bagaimana kebijakan tersebut dijalankan di Kota Bandung, sekaligus menggali faktor-faktor yang menghambatnya, melalui pendekatan studi kasus di SMKN 6 Bandung dan SMK Igasar Pindad. Data dihimpun dari kajian literatur, observasi lapangan, serta wawancara mendalam. Hasilnya memperlihatkan pelaksanaan yang kedalamannya jauh berbeda, baik antar sekolah maupun antar mitra industri. Kemitraan yang betul-betul substantif ternyata tidak lahir dari instrumen kebijakan. Ia berakar pada keterkaitan historis yang sudah terbentuk jauh sebelum program ini ada. Link and Match 8+i justru bekerja paling optimal sebagai kerangka formal yang mengesahkan kerja sama yang telanjur hidup, alih-alih menjadi mesin pencipta kemitraan baru. Adapun hambatannya berlapis dan saling mengunci: mutu kompetensi guru, kualitas PKL, perbedaan kapasitas dan komitmen tiap industri mitra, fragmentasi antar lembaga pemerintah, sampai persoalan non teknis di luar sistem vokasi. Selama simpul-simpul ini belum dibenahi bersamaan, pembenahan yang hanya menyasar satu titik akan terus melahirkan hasil yang jomplang dengan besarnya program yang digulirkan. Penelitian ini menegaskan satu hal, keberhasilan Link and Match 8+i tidak ditentukan hanya oleh lengkapnya instrumen formal, melainkan oleh kondisi relasional dan kapasitas kelembagaan yang tumbuh dari interaksi berulang antara sekolah dan industri. Maka penguatan kemitraan SMK dengan dunia industri sepatutnya diarahkan pada pembangunan fondasi relasional jangka panjang, bukan sekadar memperluas jangkauan administratif kebijakan. Sebagai tindak lanjut, delapan dimensi temuan dirumuskan menjadi instrumen pemetaan terukur, yang bisa dipakai menilai apakah sebuah kemitraan berjalan substantif atau sebatas terpenuhi di atas kertas, sekaligus membuka jalan bagi pengujian pada populasi SMK yang lebih luas.
AQUATIC HOSPITAL: AIR SEBAGAI ELEMEN PENYEMBUH PADA FASILITAS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Kelahiran merupakan transisi emosional yang mendalam bagi seorang ibu, namun lingkungan rumah sakit konvensional seringkali dirancang dengan prioritas efisiensi klinis yang mengabaikan pengalaman sensori, sehingga menciptakan ruang yang kaku dan intimidatif. Kondisi ini memperburuk fenomena tokophobia (ketakutan terhadap persalinan) yang, menurut studi, dialami oleh 20-30% ibu hamil. Hal ini menjadi sebuah tantangan kesehatan mendesak di Jawa Barat yang menyumbang 17% angka kematian ibu dan bayi nasional dengan beban tertinggi di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut. Tugas Akhir ini merancang "Aquatic Hospital" di Kota Baru Parahyangan sebagai fasilitas kesehatan Tipe C yang mengintegrasikan air sebagai mediator penyembuhan multisensori untuk menyeimbangkan standar medis ketat sesuai Permenkes No. 24 Tahun 2016 dengan keamanan emosional pasien. Strategi perancangan diwujudkan melalui empat pilar sensori terintegrasi: (1) Visual Fluidity, menggunakan bentuk massa organik dengan palet warna biru (aquatic) dan earth tones untuk mereduksi beban kognitif, serta sistem double-skin facade selektif yang dirancang untuk menjaga privasi pada area privat namun tetap terbuka di area publik guna memaksimalkan koneksi visual ke danau; (2) Auditory Rhythm, memanfaatkan fitur air sebagai soundscape untuk memitigasi kebisingan urban dari Jl. Parahyangan Raya; (3) Haptic Ripple, menghadirkan elevated garden sebagai area tunggu organik bagi pendamping yang dilengkapi sistem gelang getar (vibrating wristbands) untuk meminimalisir gangguan suara (noise) dari sistem paging, serta taman mikro-terapeutik khusus pasien rawat inap untuk memfasilitasi pemulihan; dan (4) Environmental Flow, di mana organisasi ruang secara aktif merespons perbedaan kontur tapak guna menciptakan Sense of Extent yang menyatu dengan lanskap luar, sekaligus mengintegrasikan Rainwater Harvesting Columns menuju Eco-Retention Pond sebagai sistem utilitas berkelanjutan. Desain ini berkontribusi pada pencapaian SDG 3 dalam menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan ibu-anak, serta SDG 10 dalam mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan berkualitas.
PERANCANGAN HOSPICE ANAK DAN RUANG MEMORIAL DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK
Kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan. Meskipun demikian, kehadiran kematian justru penuh ketidakpastian. Kematian juga tidak mengenal usia maupun urutan hidup. Ada kalanya kematian merenggut mereka yang masih belia, menimbulkan kedukaan mendalam bagi orang tua yang ditinggalkan. Tidak jarang, anak mengalami penyakit terminal, yaitu kondisi yang tidak lagi dapat disembuhkan dan berpotensi mengancam kehidupan. Di Indonesia, anak dengan penyakit terminal masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perawatan paliatif yang komprehensif, sehingga kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual mereka beserta keluarganya belum sepenuhnya terpenuhi. Kematian hampir selalu meninggalkan kedukaan, sebagai jejak terakhir dari yang pergi kepada mereka yang ditinggalkan. Kematian anak sebelum orang tua bukan lagi menjadi suatu fenomena yang asing. Kehilangan anak, apapun penyebabnya, selalu menjadi salah satu bentuk kedukaan paling berat bagi orang tua. Kedukaan adalah reaksi emosional terhadap suatu kehilangan yang signifikan. Pengalaman yang dialami bersifat sangat unik dan berbeda-beda bagi setiap individu. Manifestasi dari duka juga sangat beragam, dapat berupa reaksi emosional, kognitif, fisik, dan spiritual. Sedangkan penanganan rasa duka dapat bersifat konstruktif, namun juga destruktif. Sehingga pada proses ini, faktor pemulihan eksternal sangatlah dibutuhkan. Menurut ahli, proses kedukaan yang efektif dan sehat berjalan tidak secara linear, justru seringkali melibatkan osilasi, antara coping terhadap pengalaman kehilangan dengan coping yang bersifat pemulihan. Merespon isu tersebut, perancangan Children Hospice and Memorial Space ini diharapkan menjadi tempat yang dapat merayakan kehidupan bagi anak yang mengalami penyakit terminal serta mewadahi penghormatan terakhir bagi individu yang telah meninggal, tetapi juga sebagai ruang aman untuk bertumbuh bagi orang tua, keluarga, dan orang-orang yang ditinggalkan. Perancangan hospice anak, fasilitas kedukaan, dan pemulihan ini menjadi upaya untuk mewujudkan proses berduka yang sehat, yaitu Growing with Grief, dengan hidup berdampingan bersama duka alih-alih menaklukkannya. Perancangan project ini menggunakan pendekatan arsitektur terapeutik dengan fokus pada merayakan kehidupan anak serta bagaimana proses kedukaan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk bertumbuh, baik secara emosional maupun kualitas hidup. Hal ini menjadi bahasan yang sejalan dengan SDGs, khususnya Design for Inclusivity, sebab perancangan ditujukan pada kelompok termarjinalkan dalam lingkungan binaan. Dalam perancangan ini, digunakan metode studi literatur untuk mempelajari topik bahasan, observasi dan wawancara untuk lebih mengenal dan mendalami topik bahasan dalam dunia nyata, serta studi preseden dan benchmarking untuk melengkapi kebutuhan perancangan secara arsitektural. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk dapat lebih mengerti apa itu kedukaan dan peran arsitektur dalam proses penanganannya, khususnya pada relasi orangtua dan anak.
PERANCANGAN MICRO-STADIUM TEMPORER UNTUK MENANGGAPI FENOMENA BANGUNAN TERBENGKALAI PASCA EVENT
Penyelenggaraan event berskala besar telah menjadi salah satu strategi pembangunan yang banyak diterapkan oleh berbagai kota untuk meningkatkan citra daerah, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur baru. Dalam konteks tersebut, fasilitas olahraga, ruang pertunjukan, maupun bangunan pendukung lainnya umumnya dirancang sebagai bangunan permanen yang mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan selama event berlangsung. Namun, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan perbedaan mendasar antara karakter event yang bersifat sementara dengan umur layanan bangunan yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Akibatnya, setelah event selesai, berbagai fasilitas mengalami penurunan intensitas penggunaan karena fungsi, kapasitas, maupun konfigurasi ruang yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya operasional dan pemeliharaan yang harus ditanggung meskipun tingkat pemanfaatan bangunan terus menurun. Dalam jangka panjang, bangunan-bangunan tersebut berpotensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, maupun fungsional hingga akhirnya menjadi aset terbengkalai yang membebani pengelolaan kota. Fenomena ini bukan merupakan kasus yang bersifat insidental, melainkan pola yang terus berulang pada berbagai penyelenggaraan event olahraga maupun kegiatan berskala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berorientasi pada permanensi belum mampu menjawab kebutuhan ruang yang pada dasarnya bersifat temporal. Dengan kata lain, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengelolaan bangunan setelah event berakhir, tetapi juga pada paradigma perancangan yang belum mempertimbangkan dimensi waktu sebagai bagian integral dari proses desain. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan micro-stadium temporer sebagai alternatif pendekatan arsitektur yang menempatkan hubungan antara durasi penyelenggaraan kegiatan dan siklus hidup bangunan sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Melalui penerapan konsep time-based architecture dan prinsip design for disassembly, bangunan dirancang agar dapat dibangun, digunakan, dibongkar, dipindahkan, maupun dirakit kembali sesuai kebutuhan penyelenggaraan event tanpa meninggalkan infrastruktur permanen yang berpotensi kehilangan fungsi di masa mendatang. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan ruang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mengurangi potensi limbah konstruksi, serta meminimalkan risiko terbentuknya bangunan pasca-event yang tidak lagi produktif. Dengan demikian, proyek ini menawarkan paradigma alternatif dalam perancangan fasilitas event, yaitu pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada permanensi menuju arsitektur yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan mampu merespons hubungan antara waktu, penggunaan ruang, serta keberlanjutan infrastruktur secara lebih kontekstual.
PERANCANGAN HUNIAN LANSIA BERBASIS KEHIDUPAN BERMAKNA DENGAN PENGUATAN INTERAKSI ANTARGENERASI DI CISAUK
Indonesia sedang memasuki era aging society, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia setiap tahunnya. Perubahan demografis ini menghadirkan tantangan dalam penyediaan lingkungan hunian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik lansia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan psikologis dan sosial mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup pada usia lanjut dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi kesehatan, tetapi juga oleh rasa memiliki tujuan hidup (ikigai), hubungan sosial yang bermakna, serta keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Di sisi lain, masih berkembang stigma yang memandang lansia sebagai kelompok yang bergantung, sementara berbagai kebijakan mulai mendorong lansia untuk tetap aktif dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya lingkungan hunian yang memungkinkan lansia tetap mandiri, terhubung, dan memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Tugas akhir ini mengusulkan perancangan hunian lansia berbasis kehidupan bermakna dengan penguatan interaksi antargenerasi di Cisauk. Tipologi yang dipilih adalah community-oriented senior living village bagi lansia ekonomi menengah yang mengintegrasikan area hunian, fasilitas kesehatan dan wellness, ruang komunal, fungsi komersial, serta ruang terbuka hijau dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan perancangan menggunakan konsep meaningful aging yang diterjemahkan melalui empat bentuk keterhubungan, yaitu keterhubungan dengan orang lain, alam, diri sendiri, dan aktivitas sehari-hari. Interaksi antargenerasi menjadi strategi utama untuk memperkuat hubungan sosial melalui aktivitas keseharian yang berlangsung secara alami antara lansia dan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, analisis tapak, dan studi preseden untuk merumuskan konsep, program ruang, serta strategi perancangan. Hasil perancangan berupa kawasan hunian yang tersusun dalam cluster-cluster residensial dengan courtyard bersama, didukung jaringan ruang publik yang mudah diakses, fasilitas kesehatan dan wellness, fungsi komersial, serta sistem lanskap yang mendorong aktivitas fisik, interaksi sosial, dan hubungan dengan alam. Organisasi ruang dirancang untuk menyeimbangkan privasi penghuni dengan keterbukaan terhadap komunitas sekitar melalui lingkungan yang ramah pejalan kaki dan mudah dinavigasi. Perancangan ini bertujuan menghasilkan prototipe hunian lansia berbasis komunitas yang mendukung kemandirian, rasa memiliki, serta kehidupan yang bermakna di usia lanjut. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan hunian lansia di Indonesia sekaligus menunjukkan peran arsitektur dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat yang menua.
PERANCANGAN CIRCULAR MAKERSPACE LIBRARY BERBASIS KONSTRUKTIVISME:STUDI KASUS DI BANDUNG MELALUI KASUS ADAPTIVE REUSE
Bandung dikenal luas akan ekonomi kreatifnya, akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara keterampilan yang dikuasai anak muda dengan kebutuhan dari industri kreatif itu. Pada saat yang sama, digitalisasi telah menyebabkan penurunan kunjungan pada perpustakaan tradisional, sekaligus dengan masalah sampah kota, terutama sampah plastik dan serat yang masih sangat kurang dimanfaatkan. Projek final yang berjudul “Circular Makerspace Library” ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang saling terhubung ini melalui penggabungan fungsi antara lingkungan pembelajaran modern dengan fasilitas fabrikasi. Desain ini memperlengkapi penggunanya dengan keterampilan industri yang dibutuhkan, menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang ketiga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana material daur ulang dapat diintegrasikan kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan konsep adaptive reuse pada hangar heritage existing, serta konsep arsitektur modular dan ekspresionisme struktural, Bangunan tersebut sendiri menjadi suatu pengalaman belajar. Tata ruang yang mengutamakan visibilitas dan zonasi spasial melalui warna untuk memfasilitasi pembelajaran secara pasif. Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk dapat terlibat dalam proses kerajinan melalui observasi dan praktik langsung berdasarkan konsep konstruktivisme. Secara keseluruhan, projek ini memberikan solusi arsitektural berkelanjutan yang menjembatani kesenjangan keterampilan lokal, mengembalikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang dinamis, sekaligus mengurangi sampah perkotaan.
FA-BRICK: RUANG INKLUSIF, ADAPTIF, DAN PRODUKTIF BAGI UMKM FASHION LOKAL BANDUNG DALAM MENGHADAPI DISPARITAS PERSAINGAN INDUSTRI,DI JALAN BANDA
Kota Bandung mulai mendapatkan julukan sebagai “Paris Van Java” berkat kemunculan Factory Outlet (FO) dan Distribution Store (Distro) di akhir tahun 1990-an. Seiring berjalannya waktu, Distro menunjukkan kemampuan yang lebih baik untuk bertahan, bahkan terus bertumbuh berkat produk-produk eksklusif yang lahir dari kreativitas dan identitas. Jumlah UMKM fashion lokal di Bandung pun terus mengalami peningkatan hingga industri ini tumbuh besar. Namun, permasalahan mulai muncul ketika permintaan akan kebutuhan ruang kerja dan usaha ikut meningkat tanpa disertai dengan adanya wadah, baik berupa tempat maupun komunitas. Akibatnya, persaingan yang cenderung tidak sehat mulai tumbuh dalam industri fashion lokal Bandung hingga menimbulkan disparitas dari berbagai aspek (modal, eksposur, koneksi). Sebagai upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, dibutuhkan sebuah pusat inkubasi fashion yang bisa menyatukan para pelaku UMKM fashion lokal Bandung. Fa-Brick hadir sebagai ruang aglomerasi berbasis ekosistem koperasi dengan tujuan untuk menghadirkan persaingan yang lebih inklusif, produktif, dan sehat. Nilai adaptive, catalyze, dan clarity diambil sebagai landasan perancangan. Nilai adaptive diwujudkan dengan konsep arsitektur industrial - temporer, dimulai dari penggunaan struktur baja dan raw material yang memudahkan proses konstruksi. Hal ini memungkinkan bangunan untuk terus beradaptasi dengan perubahan tren yang cepat, terlebih dalam dunia fashion. Selanjutnya, nilai catalyze diwujudkan dengan konsep social-condenser dan sociopetal, di mana pengorganisasian ruang serta fungsinya akan berperan penting dalam menciptakan arus pengunjung yang maksimal. Area rooftop garden tribune dan multi-purpose hall menjadi hasil nyata, dengan ragam aktivitas yang bisa dilaksanakan dalam waktu maupun tempat yang sama. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas penjualan, yang selanjutnya juga akan meningkatkan aktivitas RnD dan produksi dari para UMKM fashion lokal. Terakhir, nilai clarity diwujudkan dengan artikulasi sirkulasi dalam bangunan yang jelas untuk membawa arus aktivitas secara sistematis dan inklusif bagi semua pihak. Atrium utama di tengah bangunan menjadi pemegang peran penting yang menghasilkan konektivitas yang baik hingga mampu mewujudkan inklusivitas bagi seluruh pengguna. Fa-Brick diharapkan dapat menjadi wadah yang terbuka dan ramah bagi seluruh UMKM fashion yang terlibat sehingga arah pengembangan industri ini bisa lebih jelas serta nyata.
SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN EVALUASI AKTIVITAS FOTOKATALITIK MMT/PANI/CEO2 TERDOPING LOGAM CU DAN CO TERHADAP DEGRADASI METILEN BIRU
Pencemaran air akibat limbah zat warna sintetis, khususnya metilen biru, menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Metilen biru memiliki toksisitas yang dapat mengganggu kesehatan manusia, sehingga diperlukan teknologi yang efektif untuk menghilangkan zat warna tersebut. Metode fotokatalisis dapat menjadi alternatif yang menguntungkan karena bersifat destruktif. Fotokatalis berbasis semikonduktor CeO? telah banyak dikembangkan untuk aplikasi fotodegradasi polutan organik, namun penggunaannya masih terbatas akibat energi celah pita yang lebar dan laju rekombinasi elektron–hole yang tinggi. Strategi doping logam Cu dan Co pada CeO? dapat mempersempit celah pita dan menekan laju rekombinasi, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas fotokatalitik. Selain itu, pembentukan nanokomposit dengan montmorilonit (MMT) sebagai matriks pendukung dan polianilin (PANI) sebagai konduktor diharapkan dapat mempercepat transfer muatan dan mencegah aglomerasi partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh doping Cu, Co, dan CuCo (co-doping) pada nanokomposit MMT/PANI/CeO? terhadap aktivitas fotodegradasi metilen biru. CeO? terdoping logam disintesis menggunakan metode sol-gel, kemudian dikompositkan dengan MMT/PANI untuk membentuk nanokomposit fotokatalis. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Fluorescence (XRF), Transmission Electron Microscopy (TEM), Zeta Potential Analyzer, dan UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV- Vis DRS). Aktivitas fotokatalitik dievaluasi melalui degradasi larutan metilen biru di bawah iradiasi cahaya UV (? = 366 nm). Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa puncak difraktogram CeO? terdoping logam sesuai dengan standar CeO? (COD-7217887) tanpa terbentuknya senyawa lain. Hasil FTIR menunjukkan adanya vibrasi Ce–O pada bilangan gelombang 505 cm?¹, vibrasi N–H khas PANI pada 1303 cm?¹, serta vibrasi Si– O–Al khas MMT pada 526 cm?¹. Hasil UV-Vis DRS menunjukkan nilai energi celah pita CeO?-Co sebesar 2,00 eV, yang mengalami penurunan dari CeO? murni hasil sintesis sebesar 3,17 eV. Analisis XRF menunjukkan bahwa keberadaan dopan Co dan Cu dalam nanokomposit berhasil tervalidasi berdasarkan nilai dari %at (atomic percent) dan %wt (weight percent). Analisis SEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO? terdoping logam telah terdispersi pada permukaan komposit MMT/PANI. Hasil karakterisasi TEM menunjukkan bahwa nanopartikel CeO?-Co memiliki ukuran paling kecil, yaitu sebesar 37,5 nm, partikel CeO2 berbentuk sferis, komposit MMT/PANI menunjukkan bentuk seperti lembaran yang bertumpuk. Material nanokomposit terdoping Co menunjukkan aktivitas fotokatalitik yang lebih tinggi (27,65%) dibandingkan doping Cu dan CuCo dalam mendegradasi metilen biru. Efisiensi degradasi yang diperoleh pada kondisi optimum sebesar 37,83% dengan massa fotokatalis 0,02 gram, konsentrasi metilen biru 10 ppm, pH 5, dan waktu iradiasi selama 60 menit. Berdasarkan studi kinetika, fotodegradasi menggunakan nanokomposit mengikuti model kinetika orde dua, sedangkan adsorpsi nanokomposit mengikuti model kinetika orde satu semu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nanokomposit MMT/PANI/CeO? terdoping Cu, Co, dan CuCo berpotensi dikembangkan sebagai material fotokatalis untuk aplikasi pengolahan limbah zat warna dalam lingkungan perairan.
ABU TERBANG TERAKTIVASI KOH BERBANTUAN GELOMBANG MIKRO UNTUK ADSORPSI ION CU2+
Pencemaran ion Cu2+ dalam air menjadi permasalahan lingkungan serius yang berpotensi mengganggu kesehatan dan ekosistem. Adsorpsi dipilih sebagai metode remediasi air karena sederhana dan ekonomis, dengan abu terbang sebagai adsorben yang potensial karena memiliki luas permukaan besar dan struktur berpori. Penelitian ini mengembangkan adsorben berbasis abu terbang yang diaktivasi KOH dengan bantuan iradiasi gelombang mikro untuk adsorpsi ion Cu2+. Aktivasi dilakukan menggunakan KOH 2,5 M dengan rasio abu terbang-basa pengaktivasi 1:5 (b/v) disertai iradiasi gelombang mikro (100 ?, 700 W) pada variasi waktu 10, 20 dan 30 menit (MFA10, MFA20, MFA30), dengan MFA20 menunjukkan kinerja terbaik. Karakterisasi MFA20 dilakukan menggunakan XRF, XRD, FTIR, dan SEM-EDS. Karakterisasi XRF menunjukkan komposisi abu terbang didominasi oleh SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Pola XRD identik pada seluruh tahap menunjukkan aktivasi dan adsorpsi tidak mengubah fasa kristal abu terbang. Analisis FTIR mengindikasikan perubahan lingkungan gugus fungsi setelah proses aktivasi dan adsorpsi, dilihat dari pergeseran puncak serapan pada gugus aluminosilikat dan hidroksil. Citra SEM memperlihatkan permukaan yang lebih kasar dan berpori pada MFA20 akibat aktivasi KOH. Pemetaan EDS mengonfirmasi peningkatan kadar Cu pada permukaan adsorben dari 0,08% atom menjadi 2,36% atom setelah adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada pH 5, massa adsorben 0,3 g, dan waktu kontak 240 menit. Proses adsorpsi mengikuti kinetika orde dua semu yang mengindikasikan laju adsorpsi dikendalikan oleh interaksi antara adsorbat dan situs aktif pada permukaan adsorben. Studi isoterm adsorpsi menunjukkan proses adsorpsi mengikuti isoterm Freundlich yang menjelaskan permukaan adsorben bersifat heterogen. Studi termodinamika menunjukkan proses adsorpsi berlangsung spontan, endotermik, dan ketidakteraturan sistem meningkat (?H° = 44,46 kJ mol?¹; ?S° = 196,08 J mol?¹ K?¹; ?G° = -20,83 hingga -14,95 kJ mol?¹). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MFA20 berpotensi sebagai adsorben yang ekonomis untuk pengolahan limbah cair yang mengandung ion Cu2+ sekaligus pemanfaatan kembali limbah industri.
USULAN KORELASI PENENTUAN RECOVERY FAKTOR PADA AKHIR PERIODELAJU ALIR PLATEAU SUMUR GAS
Estimation of flow rate and time needed of plateau is the main requirement in the process of gas field business influenced by the results of economic evaluation. From engineering aspect, acquisition factor has become the optimization target. It is to maximize recovery factor. On the other hand, water production has always become a real problem in the field inhibiting the production of gas. The purpose of this study is to identify the new proposed correlation to estimate recovery factor at the end of plateau flow rate production of gas reservoir in the water thrust force. The correlations is obtained by constructing 2-D reservoir model for two phase flow (water-gas) and perform sensitivity analysis for rock properties such as absolute permeability (k) and comparison of vertical permeability with horizontal permeability (kv / kh) and the aquifer properties-aquifer thickness and aquifer radius. By using sensitivity data, recovery factor correlation at the end of the plateau of gas production flow rate of for the polynomial degree three and five is identified. From validation results, the maximum error of 12.72% and the minimum error of 0.31% of three degrees as well as the maximum error of 11.5% and the minimum error of 0.19% for degree five have also been revealed.
PREDIKSI CAPAIAN AKADEMIK SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING BERBASIS REGRESI LINIER DAN RANDOM FOREST DI SMPN 1 PLUMBON
Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan membuka peluang pemanfaatan data pembelajaran secara lebih sistematis dalam dunia pendidikan. Namun, data nilai siswa pada praktiknya masih sering dimanfaatkan sebatas laporan hasil belajar, khususnya pada pembelajaran IPA yang memiliki karakteristik konsep abstrak. Kondisi ini menyebabkan guru mengalami keterbatasan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa secara dini dan menentukan tindak lanjut pembelajaran yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA menggunakan algoritma regresi linier dan random forest, serta menyajikannya dalam bentuk dashboard pembelajaran berbasis MATLAB. Data penelitian berupa 10 nilai rapor terakhir siswa dan 3 nilai harian pada semester berjalan di kelas IX SMP. Untuk menguji keandalan model dilakukan menggunakan metode leave-one-out cross-validation (LOOCV) agar setiap siswa memperoleh nilai prediksi secara adil dan bebas kebocoran data. Kinerja model diukur dengan evaluasi regresi menggunakan mean absolute error (MAE), root mean square absolute error (RMSE), dan koefisien determinasi (R2), serta evaluasi klasifikasi menggunakan confusion matrix, precision, recall, dan F1-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Random Forest memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan regresi linier, dengan nilai RMSE sebesar 2,57, MAE sebesar 2,22, dan R2 sebesar 0,45, sedangkan regresi linier menghasilkan RMSE sebesar 3,02, MAE sebesar 2,35, dan R2 sebesar 0,24. Begitu juga pada evaluasi klasifikasi, di mana random forest memiliki akurasi 0,86, presisi 1,00, recall 0,76, dan F1-score 0,86,sedangkan regresi linier memiliki akurasi 0,82, presisi 0,93, recall 0,76, dan F1-score 0,84. Random Forest menunjukkan nilai precision, recall, dan F1-score yang lebih tinggi, sehingga lebih unggul dalam mengklasifikasikan data secara konsisten..
ESTIMASI LEAF AREA INDEX BERBASIS DATA SPEKTRAL DAN KARAKTERISTIK TEGAKAN PADA PLOT PERMANEN DI CA/TWA GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Leaf Area Index (LAI) merupakan parameter biofisik penting yang menggambarkan kondisi dan produktivitas kanopi hutan, namun variasinya pada ekosistem hutan pegunungan tropis masih kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola distribusi LAI dan keterkaitannya dengan karakteristik tegakan, serta menyusun model terbaik untuk mengestimasi LAI berbasis data spektral dan variabel vegetasi di CA/TWA Gunung Papandayan, Garut. Penelitian dilakukan pada plot permanen seluas 1 ha, terbagi menjadi 100 subplot berukuran 10 m × 10 m. Nilai LAI diperoleh menggunakan metode Canopy Hemispherical Photography (CHP), sedangkan data spektral diperoleh dari citra Sentinel-2A. Variabel yang dianalisis meliputi indeks vegetasi (NDVI, SAVI, EVI, FCD, dan NDMI), karakteristik struktur tegakan, komposisi floristik, jumlah individu, dan densitas kayu spesifik. Analisis data mencakup autokorelasi spasial, korelasi Pearson, Principal Component Analysis (PCA), uji multikolinearitas, serta regresi linear yang dievaluasi menggunakan R², RMSE, dan Corrected Akaike Information Criterion (AICc). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LAI berkisar antara 1,32–4,06 dengan rerata 2,45 ± 0,51 dan berpola mengelompok berdasarkan Moran’s Index sebesar 0,36. NDVI menunjukkan hubungan terkuat dengan LAI (r = 0,64), diikuti oleh FCD, SAVI, EVI, dan NDMI. Model terbaik pada kelompok indeks tunggal diperoleh dari NDVI dengan nilai R² sebesar 0,46 dan RMSE 0,36. Sementara itu, model multivariat yang mengombinasikan NDVI dan rata-rata DBH menghasilkan model paling efisien (R² = 0,52; RMSE = 0,34; AICc = 53,99), sedangkan penambahan indeks keanekaragaman spesies memberikan akurasi tertinggi (R² = 0,53; RMSE = 0,33). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi informasi spektral dan karakteristik tegakan meningkatkan performa estimasi LAI pada hutan tropis pegunungan serta berpotensi mendukung pemantauan kondisi kanopi dan pengelolaan kawasan konservasi.
ANALISIS RISIKO BANJIR SKALA BANGUNAN DAN ARAHAN PRIORITAS PENERAPAN SMALL-SCALE NATURE-BASED SOLUTIONS DI KECAMATAN LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Kecamatan Lembang merupakan bagian dari Kawasan Bandung Utara dan hulu sistem drainase Cekungan Bandung yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air, tetapi mengalami tekanan pembangunan akibat pertumbuhan kawasan terbangun, aktivitas pariwisata, permukiman, dan perubahan penggunaan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir berulang terjadi pada kawasan perkotaan, permukiman padat, koridor ekonomi, serta area yang dipengaruhi sistem sungai dan drainase. Namun, pemetaan risiko banjir yang tersedia umumnya masih berskala makro sehingga belum mampu menjelaskan variasi risiko pada tingkat bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir skala bangunan dan merumuskan arahan prioritas implementasi small-scale Nature-Based Solutions untuk pengurangan risiko banjir di Kecamatan Lembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan dukungan analisis kualitatif melalui studi literatur, telaah dokumen, wawancara, dan observasi lapangan. Analisis dilakukan melalui empat tahap, yaitu pemetaan kerawanan banjir berbasis machine learning dengan membandingkan Random Forest dan Gradient Boosting; identifikasi karakteristik bangunan dan penduduk melalui konflasi building footprint, klasifikasi fungsi bangunan, pemetaan populasi dasimetrik, serta estimasi sebaran MBR berbasis proksi spasial; analisis kerentanan dan risiko banjir skala bangunan berdasarkan komponen sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan; serta analisis potensi dan prioritas small-scale Nature-Based Solutions menggunakan kesesuaian spasial berbasis boolean overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Random Forest menjadi model terbaik dengan nilai AUC-ROC sebesar 0,9658, lebih tinggi dibandingkan Gradient Boosting sebesar 0,9478. Hasil konflasi menghasilkan 88.630 unit bangunan, dengan 13.348 bangunan permukiman atau 20,68% dari total bangunan permukiman teridentifikasi memiliki indikasi informalitas morfologi tinggi. Analisis risiko menunjukkan 11.998 bangunan berada pada kelas risiko tinggi dan sangat tinggi, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang. Pada analisis small-scale Nature-Based Solutions, green roof dan rain barrel berpotensi diterapkan pada 73.987 bangunan dengan luas atap potensial 5.336.613,83 m² atau 79,75% dari total luas atap yang dianalisis. Untuk tipologi skala lingkungan, potensi terbesar terdapat pada rain garden seluas 195,55 ha danviii infiltration trench seluas 168,47 ha. Hasil prioritas menunjukkan 118,48 ha area prioritas NbS skala lingkungan dari 180,06 ha area potensial, dengan konsentrasi terbesar di Desa Lembang dan Kayuambon. Kawasan Perkotaan Lembang, khususnya Pasar Panorama, Jl. Grand Hotel, sekitar Situ PPI, serta koridor Kayuambon–Maribaya–Pangragajian–Pusdikajen, menjadi lokasi awal yang relevan untuk kombinasi detention basin, rain garden, infiltration trench, dan permeable pavement. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi machine learning, data bangunan, populasi dasimetrik, informalitas morfologi, dan analisis kesesuaian NbS dapat menghasilkan informasi risiko banjir yang lebih rinci untuk mendukung perencanaan pengurangan risiko banjir berbasis skala bangunan.
INVESTIGASI EFISIENSI PENYISIHAN PROSES OKSIDASI LANJUTAN (AOP) TERHADAP ZAT WARNA DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) PADA AIR LIMBAH TEKSTIL SINTETIS
Limbah cair tekstil mengandung pewarna sintetis yang sangat persisten dan polutan organik yang sulit dihilangkan menggunakan metode pengolahan konvensional. Penelitian ini menyelidiki dua Proses Oksidasi Lanjutan Fotokimia (AOPs), i.e., yaitu proses UV/H2O2 menggunakan katalis TiO2 dan proses foto- Fenton menggunakan katalis oksida besi yang dimodifikasi Cu, untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam mendegradasi pewarna Direct Yellow 12 dan mengurangi Chemical Oxygen Demand (COD). Serangkaian percobaan batch dilakukan untuk mengoptimalkan parameter operasi utama, termasuk pH, dosis katalis, konsentrasi H2O2, dan daya lampu UV. Karakterisasi katalis menggunakan XRD, SEM, dan UV-DRS mengkonfirmasi fase Kristal, morfologi, dan sifat optik katalis, dengan oksida besi yang dimodifikasi Cu menunjukkan penyerapan cahaya tampak yang kuat dan celah pita yang lebih kecil dibandingkan dengan TiO2. Hasil optimasi menunjukkan bahwa proses UV/H2O2 menggunakan TiO2 mencapai kinerja pengolahan keseluruhan tertinggi pada kondisi optimum pH 3, 0,5 g/L TiO2, 0,005% H2O2, dan daya UV 300 W, menghasilkan penghilangan zat warna 90,7%, penghilangan COD 98,0%, dan dengan konstanta laju reaksi (k) untuk penghilangan zat warna dan penghilangan COD secara berturut-turut adalah 0,0158 min?¹ dan 0,0205 min?¹. Sebaliknya, proses photo-Fenton berkinerja terbaik pada pH 3, 0,5 g/L oksida besi yang dimodifikasi Cu, 0,01% H2O2, dan daya UV 500 W, mencapai penghilangan zat warna 86,2%, pengurangan COD 94,2%, dan konstanta laju reaksi (k) untuk penghilangan zat warna dan penghilangan COD secara berturut-turut adalah 0,0178 min?¹ dan 0,0204 min?¹. Meskipun katalis yang dimodifikasi Cu menunjukkan penyerapan cahaya tampak yang lebih luas, TiO2 menunjukkan efisiensi degradasi yang lebih unggul, kemungkinan karena stabilitas pembawa muatan yang lebih baik, pemanfaatan sinar UV yang lebih kuat, dan pengurangan kehilangan rekombinasi muatan di bawah iradiasi UV. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa proses UV/H2O2 dengan TiO2 pada 300 W menawarkan jalur oksidasi lanjutan yang paling efektif dan ekonomis untuk mengolah air limbah yang tercemar pewarna, sementara proses foto-Fenton oksida besi yang dimodifikasi Cu tetap menjadi alternatif yang kuat dalam kondisi 3 iradiasi tinggi. Hasil ini memberikan panduan praktis untuk memilih dan