📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenSURVEY HIDRO-OSEANOGRAFI UNTUK ANALISIS KERUSAKAN WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT)
Wilayah pesisir Kabupaten Indramayu merupakan wilayah dengan potensi sumber daya wilayah pesisir yang tinggi, mulai sumber daya hayati hingga non-hayatinya. Wilayah pesisir juga merupakan daerah pertemuan antara daratan dan lautan yang sangat dinamik. Dinamika yang terjadi di wilayah pesisir dibedakan oleh penyebabnya yaitu faktor alami dan faktor manusia. Faktor alami yang mempengaruhi wilayah laut di sekitar pesisir dijabarkan dalam paramaterparameter oseanografi. Pasang surut laut dan arus laut merupakan sekian dari parameter oesanografi yang mempengaruhi kerusakan pantai di wilayah pesisir. Tugas akhir ini mencoba untuk mengkaji karakteristik dua parameter oseanografi tersebut di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan, perhitungan-perhitungan untuk mengkuantifikasi kedua paramater tersebut, dan konfirmasi hasil terhadap data-data sekunder yang di dapat. Hasil yang didapat dari penelitian memberikan informasi pola pasang surut laut di sepanjang garis pantai Kabupaten Indramayu tidaklah seragam. Pola arus laut di daerah Kabupaten Indramayu sangat di pengaruhi oleh faktor non-pasut (angin) selama selang waktu pengamatan. Pola dari dua parameter oseanografi ini dikaitkan pula dengan kerusakan wilayah pesisir di daerah penelitian.
STUDI INTRUSI AIR LAUT PADA PESISIR KOTA CIREBON DENGAN PENDEKATAN HIDROGEOKIMIA-ISOTOP DAN PEMODELAN HIDROGEOLOGI
Akuifer di wilayah pesisir Kota Cirebon memiliki kerentanan tinggi terhadap intrusi air laut akibat karakter material aluvial yang permeabel, tekanan pemanfaatan air tanah, serta pengaruh perubahan iklim berupa kenaikan muka air laut dan penurunan recharge. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan sumber daya air tanah pesisir sehingga perlu dikaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrogeokimia dan isotop akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon serta mengevaluasi dinamika intrusi air laut akibat pengaruh kenaikan muka air laut (sea level rise) dan perubahan recharge. Pendekatan yang digunakan meliputi analisis hidrogeokimia dan isotop stabil (?¹?O dan ?²H) berdasarkan data sampling air tanah, air sungai, dan air laut, serta pemodelan numerik intrusi air laut menggunakan MODFLOW–SEAWAT. Pemodelan dilakukan dalam kerangka aliran air tanah bergantung densitas dengan klorida (Cl?) sebagai zat terlarut konservatif, melalui simulasi kondisi eksisting, skenario kenaikan muka air laut, pengurangan recharge, dan kombinasi keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air tanah akuifer tak tertekan di pesisir Kota Cirebon didominasi oleh fasies Mg–HCO?, dengan sebagian sampel menunjukkan fasies Na–Cl atau tipe campuran. Analisis isotop stabil mengindikasikan sumber air meteoritik dengan indikasi pencampuran air laut pada beberapa sampel, yang ditunjukkan oleh fraksi air laut sebesar 1,06–47,16%. Pemodelan numerik berhasil merepresentasikan kondisi intrusi air laut dengan baik (r = 0,992; R² = 0,976), menunjukkan jarak maksimum intrusi mencapai 1,1 km di permukaan dan 1,2 km pada kedalaman 150 m dengan pola saltwater wedge. Simulasi tahun 2050 menunjukkan bahwa penurunan recharge dan kenaikan muka air laut sebesar 0,55 m mendorong perluasan intrusi air laut hingga 402–452 m di permukaan dan mencapai 650 m pada kedalaman 150 m. Luas area terdampak intrusi meningkat dari 5,66 km² menjadi 6,65–6,72 km² (17,53–18,77%), yang menunjukkan meningkatnya kerentanan akuifer pesisir Kota Cirebon terhadap penurunan recharge dan kenaikan muka air laut.
DAMPAK FISIK DAN LINGKUNGAN WISATA KULINER LENGKONG STREET FOOD BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT SEKITARNYA DENGAN PENDEKATAN IMPORTANCE - PERFORMANCE ANALYSIS (IPA)
Wisata Kuliner Lengkong Street Food terletak pada Jalan Lengkong Kecil, Kelurahan Paledang, Kota Bandung, berkembang pesat sejak 2020, pedagang memanfaatkan trotoar dan bahu jalan sebagai lapak berjualan. Perkembangan masif ini berpotensi menimbulkan dampak fisik dan dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar, namun belum ada penelitian yang mengidentifikasinya secara komprehensif berdasarkan persepsi masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak fisik dan dampak lingkungan akibat Wisata Kuliner Lengkong Street Food berdasarkan persepsi masyarakat sekitarnya, sekaligus menyusun arahan pengembangan kawasan. Metode yang dipilih terdiri dari mixed methods bersifat deskriptif serta pendekatan demand-oriented. Data primer diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada 111 responden warga Kelurahan Paledang dan wawancara dengan pihak kelurahan. Analisis dilakukan menggunakan Importance - Performance Analysis (IPA), statistik deskriptif, serta kualitatif deskriptif. Keluaran dari penelitian memperlihatkan jika dampak fisik adalah mayoritas yang menempati kategori memerlukan penanganan prioritas, terutama terkait gangguan fungsi trotoar dan badan jalan akibat lapak pedagang, ketidaktersediaan area parkir, serta rendahnya kenyamanan pejalan kaki. Sebaliknya, seluruh indikator dampak lingkungan dinilai sudah ideal sehingga perlu untuk dipertahankan, mencakup tata kelola persampahan, kebersihan setelah operasional dan kenyamanan tinggal, yang terjaga karena koordinasi dengan Dinas terkait serta kepatuhan pedagang terhadap batas jam operasional. Temuan ini menjadi kebaruan penelitian karena berbeda dari dampak lingkungan yang umumnya terjadi pada wisata kuliner perkotaan. Penelitian ini ikut memengaruhi pada ilmu perencanaan wilayah dan kota dalam memahami transformasi ruang jalan akibat pertumbuhan ekonomi informal berbasis persepsi masyarakat
PERANCANGAN ULANG FONDASI TIANG BOR DAN ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA-WAKTU DENGAN JACK-IN PILE: STUDI KASUS PROYEK HUDSON SQUARE
Pemilihan sistem fondasi dalam merupakan aspek penting dalam perencanaan struktur bawah, terutama pada wilayah bertanah lunak dan berisiko seismik tinggi seperti Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Laporan tugas akhir ini membahas perancangan ulang fondasi eksisting jack-in pile menjadi bored pile pada Proyek Hudson Square. Analisis dilakukan berdasarkan SNI 8460:2017, SNI 1726:2019, dan SNI 2847:2019, dengan menggunakan data Standard Penetration Test dari tiga titik bor, yaitu DB.1, DB.2, dan DB.5. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa lokasi proyek termasuk Kelas Situs SE atau tanah lunak, sehingga diperlukan desain tulangan daktail sesuai Kategori Desain Seismik D. Konfigurasi tulangan yang digunakan terdiri atas 9D36 dan 4D32 sebagai tulangan longitudinal, serta D16-150 pada zona confinement dan D16-300 pada zona non-confinement. Hasil analisis menunjukkan bahwa bored pile berdiameter 600 mm memenuhi batas penurunan izin sebesar 28 cm serta batas defleksi lateral sebesar 10 mm pada beban 100% rencana dan 25 mm pada beban 200% rencana. Jumlah titik fondasi berkurang dari 552 titik jack-in pile menjadi 317 titik bored pile, terdiri atas 122 titik pada kedalaman 21 m dan 195 titik pada kedalaman 22,5 m. Namun, metode bored pile membutuhkan volume beton sebesar 2.063,17 m³ dan baja tulangan sebesar 397.571,403 kg, dengan total biaya Rp9.983.617.048,90 dan durasi pelaksanaan 54 hari. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan jack-in pile, yang memiliki biaya realisasi Rp1.978.946.345,45 dan durasi 27 hari. Dengan demikian, bored pile secara teknis memenuhi persyaratan perencanaan, tetapi secara indikatif jack-in pile lebih efisien dari aspek biaya dan waktu untuk tipologi bangunan komersial menengah pada lokasi penelitian.
KAJIAN TEKNIS TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA INDONESIA
Berkenaan dengan UU No. 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara yang berisi peraturan tentang perbatasan wilayah negara terutama wilayah laut, sangat penting untuk melakukan kajian teknisnya agar dapat dilakukan implementasi di lapangan. UU No. 43 Tahun 2008 sangat berhubungan dengan peraturan-peraturan lain. Baik itu peraturan nasional yang telah terbit sebelumnya, juga dengan peraturan internasional. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji aspek teknis tentang UU No. 43 Tahun 2008 dari berbagai sumber terkait hukum, standar survei, imlementasi teknis, dan teknologi survei terbaru. Seiring dengan berkembangnya teknologi, peraturan tentang wilayah negara juga turut berkembang. Hal ini diakibatkan oleh semakin canggihnya teknologi alat untuk mencapai ketelitian yang lebih baik. Sehingga peraturan tentang standar ketelitian pengukuran pun ikut berkembang. Dalam tugas akhir ini dibahas tentang teknis penetapan batas laut dengan standar ketelitian terbaru.
DESAIN KONSEPTUAL BAHAN BAKAR PWR THO2UO2 HOMOGEN BERUMUR PANJANG DENGAN RACUN BAKAR PA231 DAN NP237 MENGGUNAKAN KODE OPENMC
Penelitian ini mengevaluasi desain konseptual neutronik bahan bakar untuk PWR modular kecil dengan siklus torium menggunakan simulasi Monte Carlo OpenMC. Model yang digunakan adalah sel pin tak hingga pada kisi persegi berbasis geometri PWR, dengan bahan bakar homogen ThO2UO2 yang merepresentasikan Th232 sebagai isotop fertil dan U233 sebagai isotop fisil utama. Racun bakar homogen Pa231 dan Np237 juga diuji masingmasing dalam bentuk PaO2 dan NpO2. Simulasi pembakaran dilakukan selama 3600 hari pada rapat daya volumetrik konstan 50 kW/L dengan temperatur dan densitas material tetap. Survei parametrik mencakup fraksi volume bahan bakar 33,2 %–60,0 %, fraksi atomik awal UO2 4,0 ao%–6,0 ao%, fraksi atomik awal PaO2 0,5 ao%–2,0 ao%, dan fraksi atomik awal NpO2 0,5 ao%–1,0 ao%. Hasil menunjukkan bahwa fraksi volume bahan bakar yang lebih besar menurunkan faktor multiplikasi awal, mendatarkan evolusi faktor multiplikasi selama pembakaran, mengeraskan spektrum neutron, dan meningkatkan kecenderungan konversi Th232 menjadi U233. Fraksi awal UO2 yang lebih tinggi meningkatkan faktor multiplikasi, tetapi tidak selalu mendukung konservasi U233 ataupun rasio konversi yang lebih tinggi. Penambahan Pa231 ataupun Np237 menurunkan reaktivitas awal dan dapat meningkatkan rasio konversi U233, dengan Pa231 menunjukkan penyerapan yang lebih kuat dan kecenderungan yang lebih besar untuk meningkatkan konversi dalam rentang yang diuji. Dalam keterbatasan model sel pin tak hingga, temperatur tetap, serta ketiadaan analisis teras penuh dan termalhidraulik, hasil ini memberikan landasan neutronik awal bagi kajian lanjutan mengenai bahan bakar homogen ThO2UO2 dengan racun bakar untuk aplikasi PWR dengan pembakaran panjang.
STUDI ALLOYING LOGAM TRANSISI MN PADA PEROVSKIT ANORGANIK HALIDA CSPBI3 BERBASIS DENSITY FUNCTIONAL THEORY DAN SIMULASI SCAPS-1D UNTUK APLIKASI SEL SURYA
Perovskit anorganik halida ?-CsPbI? merupakan material absorber yang menjanjikan untuk aplikasi sel surya karena memiliki sifat optoelektronik yang baik dan celah pita yang sesuai untuk konversi energi fotovoltaik. Namun, implementasi praktisnya masih terbatas akibat rendahnya stabilitas struktur pada kondisi lingkungan, di mana fase hitam yang aktif secara fotovoltaik cenderung berubah menjadi fase kuning yang tidak aktif. Selain itu, keberadaan Pb juga menimbulkan permasalahan toksisitas dan dampak lingkungan. Alloying logam transisi, khususnya Mn, dilaporkan mampu meningkatkan stabilitas serta memodifikasi sifat elektronik CsPbI?. Akan tetapi kajian yang menghubungkan sifat material pada tingkat atomik dengan performa perangkat fotovoltaik masih terbatas. Dalam penelitian ini, dikembangkan kerangka kerja terintegrasi berbasis Density Functional Theory (DFT) menggunakan VASP dan simulasi SCAPS-1D untuk mengevaluasi pengaruh alloying Mn pada CsPb1-xMnxI3 (x = 0; 0,125; dan 0,25). Hasil menunjukkan bahwa dari ketiga komposisi yang diteliti, komposisi x = 0,125 menghasilkan efisiensi konversi daya (PCE) tertinggi sebesar 28,30%, yang menunjukkan peningkatan PCE yang signifikan dibandingkan CsPbI3 pristine dengan PCE sebesar 23,97%. Peningkatan ini dikaitkan dengan penyempitan celah pita, peningkatan penyerapan optik, serta penyelarasan pita energi antarmuka yang lebih baik. Hasil ini menunjukkan bahwa alloying Mn berpotensi menjadi strategi efektif untuk pengembangan sel surya perovskit anorganik yang lebih efisien dan stabil.
STUDI TEKNO-EKONOMI DAMPAK PAJAK KARBON TERHADAP LAJU PRODUKSI DAN DURASI PRODUKSI LAPANGAN MINYAK
Penerapan kebijakan pajak karbon pada sektor hulu minyak dan gas (migas) mengubah profil biaya operasional menjadi beban finansial langsung yang berdampak pada kelayakan ekonomi proyek. Dampak tersebut menjadi semakin kritis pada lapangan minyak tua yang secara alami mengalami penurunan laju produksi dan kenaikan biaya perbaikan sumur, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap beban biaya tambahan berupa pajak karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penerapan pajak karbon mempengaruhi indikator ekonomi proyek migas, terutama Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), serta merancang dan menguji strategi pengaturan laju produksi dan durasi produksi sebagai upaya mitigasi terhadap beban biaya karbon. Metode penelitian menggabungkan inventarisasi emisi berbasis aktivitas dengan analisis finansial proyek. Emisi karbon dihitung untuk setiap sumber utama: pembakaran bahan bakar operasional, flaring, venting, dan fugitive emissions. Pendekatan berbasis aktivitas memungkinkan penghitungan emisi yang terperinci berdasarkan intensitas bahan bakar, jam operasi, volume flaring/venting, dan laju kebocoran yang diamati atau diestimasi. Emisi yang dihitung dikonversi menjadi beban biaya karbon menggunakan tarif pajak karbon yang diberlakukan, kemudian dikoreksi dengan mekanisme subsidi berbasis alokasi allowance dari pemerintah atau dengan kata lain sejumlah alokasi emisi yang diberikan mengurangi beban pajak riil sehingga menghasilkan biaya karbon bersih. Biaya karbon bersih ini dimasukkan ke dalam proyeksi arus kas operasi proyek sehingga perubahan NPV dan IRR dapat dihitung secara langsung. Untuk menguji strategi mitigasi operasional, dikembangkan skenario optimasi produksi yang merupakan kombinasi pengurangan laju produksi sebesar 10%, 20%, dan 30% bersama opsi perpanjangan durasi produksi masing-masing sebesar satu, dua, dan tiga tahun. Pendekatan ini merefleksikan trade-off klasik yaitu menurunkan laju produksi menurunkan intensitas emisi tahunan dan pajak karbon tahunan, namun menambah durasi lapangan sehingga menambah akumulasi biaya operasi dan risiko harga. Model keuangan dijalankan pada kondisi baseline ekonomi saat ini, serta melalui analisis sensitivitas terhadap eskalasi harga karbon jangka panjang untuk menilai ketahanan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberlakuan pajak karbon secara signifikan menurunkan NPV baseline meskipun mekanisme allowance atau subsidi dapat mengurangi sebagian beban awal. Di antara kombinasi skenario yang diuji, konfigurasi yang diberi kode Skenario C1 yakni pengurangan laju produksi yang moderat dipadu dengan perpanjangan durasi yang singkat, sehingga muncul sebagai konfigurasi paling optimal dalam kondisi ekonomi dan tarif karbon saat ini, karena mampu menyeimbangkan pengurangan pajak karbon tahunan tanpa memperbesar akumulasi biaya operasi secara berlebihan. Namun, hasil analisis sensitivitas mengungkap batas efektivitas strategi ini yaitu pada proyeksi jangka panjang dengan eskalasi harga karbon yang tinggi, penurunan laju produksi dan perpanjangan durasi tidak lagi cukup untuk menjaga kelayakan ekonomi dikarenakan NPV turun di bawah ambang kelayakan dan IRR menurun ke tingkat yang tidak menarik bagi investor. Dari sisi kebijakan dan praktik operasional, penelitian ini membuktikan bahwa pengaturan laju produksi adalah alat mitigasi jangka menengah yang berguna untuk lapangan migas tua menghadapi pajak karbon. Namun, efektivitasnya bersifat sementara dan sensitif terhadap trajektori harga karbon. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lapangan tua pada skenario kenaikan harga karbon, dibutuhkan integrasi strategi teknologi pengurangan emisi seperti efisiensi pembakaran, elektrifikasi fasilitas dengan energi rendah karbon, pengurangan fugitive emissions melalui inspeksi serta perbaikan infrastruktur. Penelitian ini juga menyoroti perlunya kebijakan allowance yang adil dan fleksibel serta desain pajak karbon yang mempertimbangkan kelangkaan ekonomi lapangan tua agar tidak menyebabkan penutupan dini yang merugikan perekonomian lokal. Penelitian ini menyumbang kerangka kuantitatif bagi pengambil keputusan perusahaan dan pembuat kebijakan untuk memungkinkan evaluasi trade-off antara kebijakan iklim dan kelayakan investasi hilir hulu migas, serta menegaskan pentingnya kombinasi pengaturan operasional dan investasi teknologi sebagai respons yang lebih tangguh terhadap beban biaya karbon.
FEASIBILITY ANALYSIS OF GOLF COURSE IN BELITUNG ISLAND
Studi kelayakan diperlukan oleh investor, terutama sebagai inisiator, yang akan menghasilkan manfaat bagi seluruh komponen yang berkontribusi dalam investasi. PT XYZ akan menjadi fokus utama dalam makalah ini. PT XYZ adalah perusahaan yang didirikan pada 2005, bisnis ini terutama dalam operasi lapangan golf. Kondisi saat ini PT XYZ sangat menjanjikan, dengan reputasi yang baik dan penjualan adil, PT XYZ berkembang menjadi salah satu perusahaan golf dengan kesempatan besar. PT XYZ saat ini berencana untuk ekspansi bisnis dengan membangun sebuah lapangan golf. Lapangan golf proyek PT XYZ terletak di Bangka Belitung dan dengan itu, perlu pertimbangan banyak dari pandangan ekonomi dan pandangan lain karena juga akan berdampak pada pariwisata juga. Proyek ini diperlukan untuk menilai secara finansial, itu sebabnya studi kelayakan adalah sebuah kebutuhan harus dilakukan sebelum menyelesaikan proyek. Hal ini untuk menghindari risiko dalam mengambil atau mengembangkan proyek (merugi) tidak ekonomis. Modal penganggaran dengan menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Periode (PP) sebagai indikator ekonomi yang digunakan dalam menganalisis kelayakan yang ada kriteria tertentu untuk menentukan apakah hal ini layak secara ekonomis atau tidak. Dalam melakukan penelitian, ada beberapa langkah dilakukan, mulai dari mengidentifikasi masalah, menentukan dasar-dasar teoritis untuk mendukung perhitungan dan analisis, pengumpulan data diperlukan data primer dan sekunder, menganalisis data, dan dalam kesimpulan akhir menghasilkan yang digunakan untuk saran kepada perusahaan. Hasilnya, setelah perhitungan dan analisis, lapangan golf adalah layak dan disarankan kepada perusahaan untuk mengembangkan proyek. Berdasarkan jumlah luas NPV positif sebesar Rp 141 miliar, nilai IRR yang lebih besar daripada tingkat diskonto perusahaan 17.30%, dan dengan Payback Period 13 tahun proyek harus diterima dengan beberapa perbaikan. Keyword: Lapangan golf, studi kelayakan, NPV, IRR
ASSESSING CULTURAL VALUE ORIENTATION THROUGH CORE VALUES,CASE STUDY: SBM -ITB
Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai macam kelompok etnis yang berbasis pada daerah-daerah dan mitos yang berbeda-beda sebagai identitas mereka. Setiap kelompok etnis memiliki ideologi yang berbeda yang mengontrol perilaku mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kebudayaan. Para anggota dari setiap komunitas yang ada di setiap daerah bekerja dan hidup bersama dalam perkumpulan dan organisasi yang sama dan mereka membutuhkan sebuah petunjuk sebagai kebudayaan mereka. Visi, misi, dan nilai inti adalah tiga pedoman krusial yang menjadi fondasi utama dari setiap organisasi. Nilai inti merupakan ideologi dari sebuah organisasi karena sangat mendasar bagi setiap anggotanya dalam menjalankan perannya di organisasi dan hal ini menciptakan kebudayaan organisasi. Ketika semua anggota dalam suatu organisasi menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka, misi dari organisasi tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana dan visi dari organisasi juga akan terealisasi dengan baik. Meskipun demikian, dalam sebuah organisasi, tidak semua anggotanya menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka dalam bekerja. Masalah ini timbul pada salah satu organisasi edukaasi terbaik di Indonesia, yaitu Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang yang dapat mempengaruhi kebudayaan anggotanya sehingga tidak menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka. Pendekatan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan metode orientasi nilai yang sakan dihubungkan dengan nilai inti dari SBM melalui teknik projektif dan wawancara. Sebagai hasilnya, patokan abstrak dari nilai inti yang dirasakan oleh anggota SBM dan juga perbedaan latar belakang dan budaya dari setiap anggota menyebabkan perbedaan sudut pandang dalam hidup, karya, dan juga terhadap sesama manusia Sudut pandang dari setiap anggota dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang pengertian mengenai nilai inti sehingga dapat mengakibatkan ketidakselarasan pada visi dan misi SBM. Untuk meyamakan persepi setiap anggotanya, SBM sebaiknya membuat patokan yang jelas dalam pengertian setiap nilai intinya dan mensosialisasikan hal tersebut kepada setiap anggotanya sehingga seluruh anggota dapat mengimplementasikan nilai inti dalam setiap tindakannya. Kata kunci: nilai inti, orientasi nilai budaya, visi
THE DECISIVE FACTORS OF CHOOSING TUTORIAL INSTITUTION(BIMBINGAN BELAJAR): THE CASE STUDY INGANESHA OPERATIONS AND SONY SUGEMA COLLEGE
Pendidikan adalah hal yang dianggap penting bagi seluruh individu. Karena itu, banyak bimbingan belajar yang diklarikan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pendidikan yang lebih baik. Menjadi hal yang lumrah apabila orang tua memasukkan anak mereka ke bimbingan belajar selain menyekolahkan mereka. Namun kemudian muncul permasalahan, apa apa yang yang diharapkan orangtua dari sebuah bimbingan belajar? Faktor apa apa saja yang menjadi penentu orangtua untuk memasukkan anaknya kedalam salah satu bimbingan belajar? Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Servqual (Parasuraman et al, 1998) yang mencakup 10 dimensi (tangible, keandalan, responsivitas, tungkat komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi, kesopanan, pengertian terhadap konsumen, danakses) untuk mengidentifikasi faktor yang menentukan keputusan orangtua dalam memilih bimbingan belajar. 120 kuesioner disebarkan kepada orangtua yang memasukkan anak-anak mereka ke dalam bimbingan belajar Ganesha Operation (CO) dan Sony Sugema College (SSC), dua bimbingan belajar yang paling dikenal di Bandung. Kuesioner tersebut dibuat berdasarkan 10 dimensi yang diturunkan menjadi 32 atribut yang mampu mempengaruhi keputusan orangtua. Hasil dari kuesioner tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat Importance Performance Analysis yang kemudian diterjemahkan kedalam bentuk grafik yang menunjukkan pendapat orangtua akan atribut yang penting, serta menunjukkan persepsi umum orang tua mengenai kinerja bimbingan belajar tersebut. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kedua bimbingan tersebut harus meningkatkan kinerja mereka. Untuk GO, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumiah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, respon untuk melayani konsumen, kejelasan prosedur pelayanan, dan ketersediaan situs internet yang baik, adalah atribut yang harus diperbaiki oleh GO untuk memenuhi harapan konsumen mereka. Sementara untuk SSC, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumlah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, citra bimbingan belajar, serta citra guru dan staff lainnya, adalah atribut yang harus mereka tingkatkan agar konsumen puas dengan layanan yang mereka berikan. Rekomendasi yang diberikan kepada bimbingan belajar adalah untuk memperbaiki dimensi tangibel dan dimensi keandalan mereka karena kedua bimbingan belajar tidak mampu memuaskan konsumen mereka. Kemudian GO sudah seharusnya meningkatkan responsivitas dan komunikasi mereka terhadap konsumen mereka, sementara SSC wajib memperbaiki dimensi kredibilitas mereka karena konsumen mereka menginginkan SSC memiliki kredibilitas yang lebih baik Keywords: Tutorial institution (bimbel), ServQual, Importance Performance analysis.
FINANCIAL PERFORMANCE ASSESSMENT OF PT PELABUHAN INDONESIAII (PERSERO) IN COMPARISON WITH OTHER PORT COMPANIES LOCALLYAND GLOBALLY
Indonesia dikenal dengan negara kepulauan. Dua pertiga wilayah Indonesia di dominasi oleh lautan. Ribuan pulau berjajar dari Sabang sampai Merauke. Sebagai negara kepulauan, transportasi laut memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Didukung dengan letak Indonesia yang sangat strategis karena terletak di persimpangan rute perdagangan dunia. Maka dari itu diperlukan sistem angkutan laut yang handal dan efisien. Hal ini dapat tercapai jika pengelolaan terhadap angkatan laut, baik perusahaan-perusahaan pelayaran maupun pengelola pelabuhan beroperasi secara baik dan profesional. Penelitian ini memfokuskan pada kinerja pengelola pelabuhan, yaitu PT Pelabuhan Indonesia II, yang mempunyai kantor pusat di Jakarta. PT Pelabuhan Indonesia II wilayah operasional perusahaan meliputi 10 provinsi dan memiliki tiga anak perusahaan, salah satu afiliasi, dua unit bisnis dan satu operasi gabungan. Kinerja yang dibahas pada penelitian ini difokuskan pada kinerja keuangannya, karena hanya perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik lah yang dapat melakukan operasinya dengan baik pula. Tugas akhir ini akan membahas tentang penilaian kinerja dari PT Pelabuhan Indonesia II dan juga akan dibandingkan dengan beberapa perusahaan dalam industri yang sama secara lokal maupun global. Penulis akan menggunakan beberapa kerangka kerja. Pada akhirnya, sampai pada kesimpulan dan rekomendasi bagi PT Pelabuhan Indonesia II untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Sebagai kesimpulan, PT Pelabuhan Indonesia II hampir menyaingi persaingan global bahkan menjadi pemimpin dalam beberapa kerangka penilaian, dengan memiliki nilai struktur modal yang optimal ketika WACC diminimalkan pada 53% dari utang dan 47% dari ekuitas sedangkan nilai perusahaan maksimal sebesar Rp.8.620.465.240.669. Kata kunci: Pelabuhan, Kinerja, Pebandingan, Laporan analisis keuangan.
PENGEMBANGAN KATALIS BIFUNGSIONAL CU–FE?O?/ZSM-5 UNTUK KONVERSI CO? KE AROMATIK
Konversi langsung CO? menjadi hidrokarbon cair, seperti senyawa aromatik benzena, toluena, dan xilena (BTX), merupakan topik yang sedang menjadi perhatian karena potensinya dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus menghasilkan produk bernilai tinggi. Namun, hingga kini, proses tersebut masih menghadapi tantangan berupa rendahnya aktivitas katalis, selektivitas terhadap produk aromatik ringan serta stabilitas katalis dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja katalis bifungsional berbasis besi oksida dan zeolit dalam konversi gas CO? menjadi aromatik. Penelitian berfokus pada modulasi situs aktif pada katalis besi oksida serta rekayasa struktur pori pada katalis zeolit melalui penambahan templat nano CaCO3 dengan metode bebas pelarut. Modulasi situs aktif dilakukan dengan penambahan promotor dan pengaturan kondisi reduksi. Sedangkan rekayasa struktur pori dilakukan dengan menambahkan templat CaCO3 pada sintesis zeolit melalui metode bebas pelarut. Katalis zeolit pada penelitian ini didesain memiliki 3 sistem pori, yaitu mikropori, mesopori, dan makropori yang diharapkan dapat menyediakan situs aktif yang cukup dan mudah diakses melalui adanya mesopori dan makropori. Selain itu, juga sebagai tempat penampung bagi terbentuknya kokas selama reaksi, sehingga deaktivasi pada katalis zeolit dapat dihambat. Masing-masing katalis yang disintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, FTIR, XRF, SEM, TEM, TGA, dan XPS. Selain itu, sebelum digunakan sebagai sistem katalis bifungsional besi oksida/zeolit, masing-masing katalis diuji secara terpisah menggunakan umpan berturut-turut CO2 dan C2H4 untuk katalis besi oksida dan zeolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Cu yang terdistribusi rata mengubah sifat elektronik katalis Fe2O3 yang berpengaruh pada peningkatan selektivitas olefin. Selain itu, modulasi situs aktif melalui pengaturan gas pereduksi menggunakan CO dapat meningkatkan situs Fe2C5 yang kemudian berperan aktif dalam menghasilkan intermediet seperti olefin dan parafin. Peningkatan situs aktif karbida ini diiringi dengan peningkatan rasio produk olefin terhadap parafin mencapai 60% lebih besar dibandingkan dengan katalis yang direduksi dengan H2. Selanjutnya, keberadaan templat CaCO3 pada sistem sintesis zeolit tanpa adanya pelarut terbukti dapat menghasilkan zeolit dengan tiga tingkat pori (mikropori, mesopori, dan makropori) Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan rasio templat/SiO2 mempengaruhi pembentukan mesopori serta distribusi ukuran partikel. Sebaliknya, kristalinitas serta keasaman yang dihasilkan cenderung identik. Tingkat hierarki optimum, yang direpresentasikan oleh nilai Index Hierarchy Factor (IHF), dicapai pada rasio templat/SiO2 = 0,5. Selanjutnya, hasil evaluasi katalis zeolit pada reaksi konversi etilena menjadi aromatik menunjukkan adanya hubungan yang linier antara tingkat hierarki dengan aktivitas dan stabilitas katalis yang diwakili oleh nilai konversi, TOF, dan kandungan kokas. Adapun perbedaan keasaman pada zeolit secara signifikan memengaruhi konversi serta perolehan produk cair. Sedangkan jumlah asam total berkorelasi positif terhadap selektivitas aromatik. Evaluasi pengaruh kondisi reaksi pada produksi senyawa aromatik dari gas etilena menggunakan katalis zeolit menunjukkan bahwa selektivitas terhadap senyawa aromatik sangat dipengaruhi oleh temperatur reaksi, yang meningkat berturut-turut sebesar 0%, 16,57%, 58,29%, dan 75,28% pada temperatur 250 ?, 320 ?, 380 ?, dan 450 ?. Adapun peningkatan tekanan berpengaruh pada pembentukan senyawa berat, dan GHSV berpengaruh terhadap perolehan BTX dengan selektivitas terhadap senyawa BTX yang hampir mirip. Pengujian katalis pada sistem bifungsional menunjukkan hasil yang sejalan dengan pengujian pada bifungsional besi oksida/zeolit, menunjukkan bahwa isoparafin pada komposisi umpan CO2:H2 = 1:6 gabungan katalis Cu-Fe2O3/Zeolit menggunakan zeolit komersial yang direduksi menggunakan gas CO dapat meningkatkan perolehan fraksi C??, dengan produk dominan berupa isoparafin. Selain itu, olefin rantai panjang seperti diena dan hidrokarbon siklik yang merupakan prekursor pembentukan senyawa aromatik juga terobservasi pada kondisi ini. Fraksi aromatik kemudian diamati pada peningkatan jumlah CO2 (CO2:H2 1:3) dengan selektivitas aromatik total sebesar 8,82% dengan konversi CO2 sebesar 34,78%. Aktivitas ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan zeolit hasil sintesis optimum yang telah diuji pada tahap sebelumnya (HZS-50-25), yaitu menghasilkan konversi sebesar 46,71% dengan selektivitas aromatik yang meningkat sebesar 28,76%. Peningkatan ini disertai dengan penurunan selektivitas gas CO yang signifikan dari 42% ke 9,22% berturut-turut untuk zeolit komersial dan zeolit sintesis dan peningkatan perolehan aromatik BTX sebesar 13,21% dibandingkan dengan katalis bifungsional menggunakan zeolit komersial yang hanya menghasilkan perolehan BTX sebesar 3,07%. Hasil ini membuktikan efek signifikan adanya pori 3 tingkat pada zeolit hasil sintesis yang membantu mempercepat difusi molekul untuk mencapai dan keluar dari sisi aktif zeolit
ENVIRONMENTAL EFFECT ON SHOPPER BEHAVIOR STUDY CASE: TASTE OF INDIA
Bandung is the fourth largest city in Indonesia. The existence of many colleges makes this city known as city students. Cool weather and the exotic atmosphere of the city also makes this city was chosen as the destination city Also, one thing that takes priority is the culinary tour visitors with diversity and taste. Taste of India is one of the many who tried fortune in the culinary industry competition in Bandung Towards year business career, Taste of India has offered original and delicious taste of Indian cuisine. Another opportunity owned by Taste of India is the Indian cuisine business rivalry not yet seen. Thus, the Taste of India has a great chance to win the competition However, competition does not merely see the competitors in terms of Indian restaurants. To survive the intense competition culinary industry in Bandung, Taste of India should also be able to compete with the entire competitors that do not offer Indian cuisine. Ironically, sales condition of Taste of India is very bad. Largest number of customers who came is only 13 people According to this research, Taste of India has fairly severe problems in the field of marketing. In fact, the market is not attracted even they barely know the existence of Taste of India in the Bandung culinary industry. In connection with the above problems, the analysis was made of research on quality assessment and customer satisfaction for Taste of India. The purpose of this study was to find the problems faced by the Taste of India that resulted to a poor sales situation. To collect data, the first step taken was to obtain observation in order to get customer's point of views followed by conducting interviews with Taste of India management. After that, researcher conducted FGD to know what important variables should be owned by a good restaurant. Then, the points in the FGD result were formulated into questionnaires to determine the level of quality assessment and customer satisfaction. This study includes an analysis of aspects of restaurant ambience, restaurant design, quality service and products The results referred to the conclusions and recommendations of research From the results of research, a point of consumer dissatisfaction came up from the poor state of the internal atmosphere and ambience. Therefore, management is recommended to change the atmosphere of the restaurant becoming more comfortable and attractive so the level of customer satisfaction and market
MEASURING THE SUCCES OF A POSITIONING STRATEGY, COMPARING ZARA AND NEXT
Makanan adalah salah satu kebutuhan primer manusia yang paling venting karena tanpa makan, manusia tidak akan bisa hidup. Kebutuhan akan akan atau Pangan adalah salah satu dari tiga kebutuhan primer disamping Sandang dan Papan. Dalam kebutuhan Pangan, terdapat berbagai variasi untuk memenuhi keinginan atas selera makanan dari kebutuhan pokok manusia ter but, diantaranya adalah makanan khas Jawa. Berdasarkan hasil interview dan observasi, penulis memilih makanan Jawa karena di Bandung belum ada cafe yang menjual makanan Jawa dan memiliki tempat nyaman yang berkonsep modern Jawa. Berdasarkan interview terhadap 20 mahasiswa UNPAD Ekstensi Fikom, 18 orang menyukai menu yang telah ditawarkan Java Blend dan dari 20 orang mahasiswa ITB yang diinterview, 17 orang menyukai menu yang ditawarkan Java Blend. Estimasi terhadap jumlah mahasiswa yang tinggal di Tubagus Ismail adalah 700 orang, berarti 90%nya adalah 630 orang yang akan suka dan memberi tanggapan positif terhadap Java Blend Cafe. Manusia selain mencari makanan yang enak, mereka juga mencari tempat yang nyaman dalam menikmati hidangan yang mereka makan. Di era sekarang ini, manusia gemar untuk mengunjungi cafe-cafe yang selain bisa untuk makan enak, juga bisa digunakan untuk tempat bersantai dan saling mengobrol dengan kerabat mereka atau biasa disebut "nongkrong", dan banyak cafe-cafe yang bersaing untuk menarik kepercayaan dan mencari pembeli sebanyak-banyaknya. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Java Blend akan hadir di Jalan Raya Tubagus Ismail Raya No 2G sebagai cafe yang menyuguhkan berbagai makanan khas Jawa dan memiliki tempat yang nyaman dan dan berkonsep Jawa Modern. Mayarakat yang tinggal di Bandung, terutama daerah sekitar Tubagus Ismail dan Jalan Raya Dago akan bisa menikmati suguhan-suguhan ala Jawa dari Java Blend Cafe. Makanan spesial yang dijual oleh cafe cafe yang bernama Java Blend ini adalah Es Podeng, Es Dingin-dingin Empuk, Java Blend Sandwich, Sate Ponorogo, dan Angsle. Selain dapat menikmati suguhan hidangan, masyarakat juga akan bisa menikmati suasana dan kenyamanan tempat yang disuguhkan Java Blend. Dengan diiringi musik dari komputer dan juga sofa yang empuk dan nyaman, masyarakat dijamin akan nyaman dan merasa puas untuk selalu datang ke Java Blend Cafe. Dengan modal investasi awal Rp 143,282,400.00, Java Blend memiliki Market Size sebesar Rp 1,915,100 yang berasal dari Menu Siang sebesar Rp 783,200 dan Menu Malam sebesar Rp 1,131,900. Java Blend Cafe menawarkan IRR sebesar 37.59%, payback period delapan bukan dan NPV sebesar Rp 153,989,083 pada tahun ke 2.