📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

ANALISIS DAN PREDIKSI GEOMETRI PENGELASAN WAAM DENGAN MIG BERDASARKAN SINYAL ELEKTRIKAL DAN SUARA

Adopsi Wire Arc Additive Manufacturing (WAAM) untuk komponen logam kompleks masih terkendala oleh akumulasi panas dan ketidakstabilan geometri antar lapisan. Penelitian ini mengembangkan sistem monitoring berbasis fusi sinyal elektrik dan suara dengan frekuensi sampling tinggi (96 kHz) untuk memperoleh resolusi temporal yang memadai dalam menangkap dinamika proses. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan lapisan memicu kenaikan tegangan rata-rata serta penurunan arus dan intensitas suara, yang mengindikasikan degradasi energi akibat peningkatan jarak Contact Tip to Work Distance (CTWD). Stabilitas proses turut menurun, ditandai oleh meningkatnya ketidakteraturan transfer logam dan melemahnya energi suara. Secara geometris, peningkatan tegangan operasional dan jumlah lapisan menyebabkan deviasi ketinggian hingga 3,11 mm dan kenaikan waviness hingga empat kali lipat akibat penyebaran logam cair dan akumulasi panas. Meskipun demikian, energi tinggi menghasilkan respons distorsi substrat yang lebih besar (hingga 0,33 mm), namun bersifat lebih konsisten dan dapat diprediksi. Model Random Forest teroptimasi (????????=1,????????=11) menunjukkan performa unggul (????2=0,969, MAE = 0,31 mm). Analisis SHAP menunjukkan bahwa model memanfaatkan informasi zona awal sebagai kondisi awal proses dan zona tengah sebagai koreksi berbasis dinamika sinyal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem prediksi berbasis data untuk mendukung pengendalian kualitas secara real-time, sehingga meningkatkan keandalan proses WAAM dalam manufaktur aditif logam.

2026
👤 Penulis: Farhan Afif
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Wire Arc Additive Manufacturing (Waam) 🏷️ Analisis Dinamika Proses

TRANSFORMASI RUANG KAMPUNG KOTA CILENGGANG DI TENGAH EKSPANSI PENGEMBANGAN KOTA BARU TANGERANG SELATAN

Ekspansi pengembangan kota baru di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek menghasilkan fenomena kampung kota terjepit, permukiman organik yang terkepung perumahan formal. RT 010 dan RT 012 Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, termasuk kategori kampung terjepit berat dalam radius pengembangan BSD City. Penelitian ini menganalisis transformasi ruang secara temporal, karakter morfologi, serta faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keberlanjutan kampung. Penelitian menggunakan pendekatan campuran deskriptif-eksplanatif dengan klasifikasi citra Landsat berbasis SVM pada tujuh titik waktu (1995–2025), analisis Urban Index (UI), Building Coverage Ratio (BCR), Street Pattern Analysis, kajian literatur dan wawancara, serta Sustainable Livelihood Approach (SLA) melalui kuesioner kepada 30 responden. Kawasan Terbangun Terencana berkembang dari 0 ha menjadi 125,08 ha sementara RTH/Pertanian menyusut dari 143,76 ha menjadi 97,91 ha dalam empat periodisasi: Pra-Ekspansi, Awal Ekspansi (1995–2005), Akselerasi dan Pengepungan (2005–2015), dan Konsolidasi Terjepit (2015–2025). UI tidak membedakan kampung dan kawasan formal pada skala makro, namun BCR kampung (45,14%) lebih tinggi dari kawasan formal (38,01%), mencerminkan densifikasi internal. RT 010 dan RT 012 menunjukkan pola cul-desac bukan sebagai produk desain, melainkan akibat penutupan akses historis oleh perumahan formal yang mengepungnya. Tidak ada instrumen RDTR yang melindungi permukiman organik eksisting. Analisis SLA menunjukkan Modal Sosial (+0,35) dan Modal Fisik (+1,13) meningkat, sementara Modal Alam (?1,00) dan Modal Manusia (?0,44) menurun. Seluruh responden berencana tetap tinggal, mengkonfirmasi ikatan sosial dan kesadaran historis sebagai faktor dominan kebertahanan kampung. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan tiga lapis integratif yaitu time-series tutupan lahan, morfologi multiskala, dan SLA. Kebertahanan Kampung Cilenggang bersifat kondisional dan bertumpu pada modal sosial, bukan perlindungan regulatif, mengimplikasikan perlunya instrumen perlindungan permukiman organik dalam regulasi tata ruang.

2026
👤 Penulis: Rahmania Afradiella Alifah
🏷️ Geografis 🏷️ Urban Planning 🏷️ Kecerdasan Buatan

PRODUKSI SENYAWA FENOLIK DAN FLAVONOID DARI COFFEE SILVERSKIN HASIL FERMENTASI PLEUROTUS OSTREATUS MENGGUNAKAN METODE NATURAL DEEP EUTECTIC SOLVENT-ULTRASOUND-MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (UMAE)

Coffee silverskin (CS) mengandung senyawa bioaktif bernilai tinggi berupa fenolik dan flavonoid, tetapi pemanfaatannya terhambat oleh struktur matriks lignoselulosa penyusun dinding sel yang kaku. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perlakuan fermentasi Pleurotus ostreatus, variasi durasi kavitasi ultrasonik pada sistem hibrida Ultrasound-Microwave Assisted Extraction (UMAE), dan rasio sampel terhadap pelarut terhadap Total Phenolic Content (TPC), Total Flavonoid Content (TFC), serta aktivitas antioksidan ekstrak CS. Pra-perlakuan dilakukan melalui fermentasi terendam menggunakan jamur Pleurotus ostreatus untuk mendegradasi komponen matriks lignoselulosa. Proses ekstraksi kemudian dilakukan secara sekuensial menggunakan instrumen UMAE (tahap ultrasonik dilanjutkan dengan gelombang mikro konstan selama 1 menit) dengan pelarut hijau Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) berbasis asam laktat, glisin, dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara biomassa terfermentasi selama 9 hari dan cairan kaldu hasil pemisahan yang mengandung metabolit jamur serta senyawa terlarut secara nyata meningkatkan TPC hingga mencapai 25,348 mg GAE/g CS serta meningkatkan aktivitas antioksidan menjadi 598,396 µmol TE/g CS. Sebaliknya, proses biologis memicu penurunan nilai TFC menjadi 2,060 mg QE/g CS akibat terjadinya polimerisasi oksidatif oleh enzim lakase. Pada evaluasi sistem UMAE, variasi waktu fase ultrasonik (30–90 menit) terbukti tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter pengujian. Hal ini membuktikan bahwa sinergi kavitasi dan pemanasan volumetrik UMAE mampu mempercepat kesetimbangan transfer massa, sehingga penetapan durasi 30 menit ultrasonik yang dipadukan dengan 1 menit gelombang mikro direkomendasikan sebagai titik operasi yang paling efisien energi. Sementara itu, peningkatan rasio pelarut hingga mencapai 1:50 g/mL terbukti mampu meningkatkan perolehan TFC (2,917 mg QE/g CS) dan aktivitas antioksidan (612,878 µmol TE/g CS) secara signifikan, tanpa memberikan perbedaan yang nyata pada nilai TPC secara keseluruhan. Analisis statistik mengonfirmasi tidak ada pengaruh interaksi dua arah maupun tiga arah yang signifikan antar perlakuan yang membuktikan bahwa setiap parameter beroperasi secara independen. Secara keseluruhan, pra-perlakuan fermentasi secara efektif melonggarkan struktur matriks dan memaksimalkan kinerja ekstraksi hibrida UMAE, sehingga rekomendasi kondisi operasi dapat diaplikasikan secara independen menyesuaikan target senyawa yang spesifik.

2026
👤 Penulis: Alfian Alfaridzi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

GANGGUAN DALAM KODE KOREKSI KESALAHAN KUANTUM

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari sebuah gangguan noise terhadap keadaan dari sebuah informasi kuantum. Secara kuantum, sebuah informasi sangat rentan terjadinya kerusakan akibat gangguan yang berasal dari sekitar ataupun berasal dari perangkat yang digunakan. Wadah pembawa dari informasi kuantum berupa partikel mikroskopis, seperti foton atau elektron, maka informasi tersebut mengikuti aturan kuantum yang salah satunya adalah superposisi. Secara klasik, sebuah informasi hanya berupa bilangan diskrit 0 dan 1, sedangkan informasi kuantum berupa kombinasi antara 0 dan 1. Maka dari itu, metode yang digunakan untuk mengatasi gangguan pada informasi kuantum adalah Quantum Error Correction (QEC). Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis sebuah sirkuit QEC dengan menyisipkan sebuah gangguan bit flip, phase flip, depolarizing, dan amplitude damping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan berupa bit flip, phase flip, dan depolarizing merupakan jenis gangguan yang dapat dikontrol dan dipahami dengan baik karena perilakunya mengikuti operator kuantum, yaitu operator Pauli. Sedangkan, gangguan berupa amplitude damping merupakan jenis gangguan yang sulit dikontrol dan karenanya gangguan ini yang mengakibatkan keadaan dari informasi kuantum semakin rusak. Metode penelitian ini dilakukan dengan melakukan perhitungan analitik dari keadaan kuantum dalam sirkuit QEC sampai ke tahap pengukuran. Setelah dilakukan pengukuran, maka diperoleh hasil berupa sindrom 00, 01, 10, dan 11 dengan probabilitas tertentu

2026
👤 Penulis: Fadlur Rahman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH APLIKASI KOMBINASI MEDIA TANAM INSECT FRASS DAN BIOCHAR TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA, DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEAE)

Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah degradasi kualitas tanah dan ketergantungan terhadap pupuk anorganik. Pemanfaatan sumber nutrisi alternatif berbasis limbah organik menjadi pendekatan yang relevan dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Insect frass dari Black Soldier Fly (Hermetia illucens) mengandung unsur hara makro, bahan organik, dan senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik, namun efektivitasnya dipengaruhi oleh stabilitas pelepasan nutrien dalam media tanam. Biochar sebagai bahan amelioran diketahui mampu meningkatkan kapasitas tukar kation, retensi air, dan stabilitas nutrisi sehingga berpotensi bersinergi dengan frass. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi Insect Frass dan biochar terhadap perkecambahan, pertumbuhan, konsumsi air, biomassa, dan kualitas nutrisi Microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan media tanam, yaitu P1 (100% tanah/kontrol), P2 (tanah + NPK 300 kg/ha), P3 (tanah + Insect Frass 1,2%), dan P4 (tanah + Insect Frass 1,2% + biochar 30%), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi kondisi mikroklimat ruang budidaya, sifat edafik media, kandungan nutrisi media sebelum dan sesudah tanam, persentase perkecambahan, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, konsumsi air, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah total, kadar air, shoot-root ratio, klorofil SPAD, klorofil total, dan vitamin C. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, ANOVA satu arah, dan uji lanjut Tukey HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan kualitas tanaman. Perlakuan P4 memberikan hasil terbaik pada sebagian besar parameter, dengan persentase perkecambahan tertinggi sebesar 97,02%, tinggi tanaman tertinggi pada 14 HSS sebesar 11,37 cm, bobot basah tajuk tertinggi sebesar 5,84 g, dan bobot basah total tertinggi sebesar 6,20 g. Pada parameter nutrisi, P4 juga menghasilkan kandungan klorofil total tertinggi sebesar 22,00 mg/L dan vitamin C tertinggi sebesar 12,45 mg/100 g. Selain itu, perlakuan berbasis Insect Frass, terutama P3 dan P4, cenderung meningkatkan konsumsi air tanaman selama fase pertumbuhan. Sementara itu, potensi berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar, bobot kering tajuk, kadar air, shoot-root ratio, dan klorofil SPAD tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan. Secara keseluruhan, kombinasi Insect Frass dan biochar (P4) menunjukkan performa paling konsisten dalam meningkatkan perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, akumulasi biomassa segar, dan kualitas nutrisi Microgreens kale. Formulasi media ini berpotensi menjadi alternatif media tanam berkelanjutan untuk produksi Microgreens bernilai gizi tinggi.

2026
👤 Penulis: Kezia Wira Keren
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PROYEKSI LAND USE LAND COVER (LULC), DEFORESTASI, DAN CARBON LOSS DALAM MENDUKUNG PELESTARIAN HEART OF BORNEO DI KALIMANTAN UTARA (1990-2040)

Kalimantan Utara merupakan bagian inti kawasan Heart of Borneo (HoB) yang memiliki peran ekologis strategis. Ekspansi perkebunan dan pertanian terus mendorong deforestasi, sehingga mengancam integritas kawasan HoB sekaligus menurunkan simpanan karbon yang penting bagi pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika deforestasi dan driving factors-nya selama periode 1990– 2020, mengestimasi simpanan karbon dan carbon loss, memproyeksikan perubahan tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 melalui tiga skenario, serta mengevaluasi implikasinya terhadap pelestarian kawasan HoB. Penelitian dilakukan di Provinsi Kalimantan Utara dengan pendekatan analisis perubahan Land Use Land Cover, estimasi karbon berbasis look-up table, dan pemodelan Land Change Modeler pada perangkat lunak TerrSet. Seleksi driving factors dilakukan menggunakan Uji Pearson, sedangkan validasi model menggunakan Kappa. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan tutupan hutan sebesar 701.917 ha selama 1990–2020, dengan laju tertinggi terjadi pada periode 2000–2011. Simpanan karbon menurun dari 1,369 GtC pada 1990 menjadi 1,234 GtC pada 2020, dengan carbon loss sebesar 136,89 juta ton C. Pemodelan LULC tahun 2020 memperoleh nilai Kappa sebesar 0,88 dan accuracy rate rata-rata 89,17%, sehingga dinilai layak untuk proyeksi masa depan. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa skenario Forest Conservation menghasilkan simpanan karbon tertinggi dan carbon loss terendah, sedangkan skenario Plantation Expansion menunjukkan dampak paling negatif. Skenario Forest Conservation menghasilkan penyerapan karbon tertinggi dan kehilangan terendah, menjadikannya strategi paling efektif yang sesuai dengan tujuan konservasi HoB dan target NDC Indonesia.

2026
👤 Penulis: Asma Syahidah Wigati
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

MODEL TERPADU PERENCANAAN PRODUKSI DAN PETI KEMAS SERTA OPERASI PELABUHAN DAN GUDANG UNTUK PENGENDALIAN INVENTORI DI PERUSAHAAN PULP AND PAPER DENGAN MENGGUNAKAN DINAMIKA SISTEM

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya inventori pada perusahaan pulp and paper yang dipengaruhi oleh hubungan dinamis antara perencanaan produksi, perencanaan peti kemas, serta operasi pelabuhan, gudang, dan transportasi dalam sistem logistik terintegrasi. Kompleksitas masalah meningkat akibat karakteristik sistem produksi make-to-order dalam lingkungan business-to-business. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model terpadu untuk pengendalian inventori dan merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan kinerja sistem. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model dinamika sistem dengan mengintegrasikan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas sebagai bagian endogen dalam struktur model, serta mengembangkan formulasi matematis berbasis observasi empiris yang merepresentasikan interaksi dinamis antar subsektor logistik. Pemilihan subsektor pelabuhan dan perencanaan peti kemas didasarkan pada analisis sistem terkait masalah penelitian. Metodologi yang digunakan adalah dinamika sistem dengan pengembangan stock and flow diagram yang diimplementasikan dalam Vensim DSS. Model divalidasi menggunakan Theil’s Inequality Statistics Test dan kemudian dianalisis melalui uji sensitivitas terhadap ketidakpastian parameter. Setelah model valid dan robust, luaran simulasi model dioptimisasi menggunakan algoritma Powell untuk memperoleh kebijakan optimal dalam ruang solusi. Pendekatan optimisasi dilakukan untuk menghasilkan kebijakan optimal dengan mensimulasikan seluruh ruang solusi secara simultan, berbeda dengan pendekatan tradisional dinamika sistem yang umumnya mengembangkan skenario parsial dalam mengubah variabel keputusan secara bertahap. Berdasarkan hasil proses optimisasi, dilakukan analisis sensitivitas simultan terhadap variabel keputusan untuk mengetahui dampak perubahan terhadap variabel ukuran kinerja. Hasil menunjukkan rancangan kebijakan optimal bersifat robust sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun rencana implementasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu merepresentasikan perilaku sistem secara memadai. Temuan utama menunjukkan ii bahwa akumulasi inventori tidak disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi, tetapi oleh ketidaksinkronan antar subsektor, khususnya antara operasi gudang dan ketersediaan peti kemas. Variabel-variabel tersebut diidentifikasi sebagai leverage points utama dalam sistem. Kapasitas pelabuhan bukan bottleneck utama, namun pelabuhan berperan mendukung efektivitas perencanaan peti kemas. Variabel efisiensi peralatan juga perlu dipertahankan kinerjanya karena parameter tersebut bersifat sensitif. Simulasi menunjukkan bahwa perbaikan koordinasi antar subsektor melalui penyesuaian kapasitas produksi, peningkatan efisiensi gudang, dan pengelolaan peti kemas yang lebih baik dapat mengurangi penumpukan inventori dan meningkatkan kinerja sistem. Kebijakan yang dihasilkan, dengan implementasi bertahap, mampu menurunkan rata-rata inventori gudang dengan kebijakan optimal sebesar 25,74% per tahun dibandingkan dengan kondisi dasar, serta memberikan efek positif terhadap efisiensi operasional dan finansial perusahaan.

2026
👤 Penulis: Widodo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ELEKTROKATALIS HIBRIDA LEMBARAN NANO MXENE (NB2C(OH)2) DAN CUO NANOPORI UNTUK REAKSI EVOLUSI HIDROGEN

Pertumbuhan penduduk, kemajuan industri dan teknologi telah menjadi alasan utama kenaikan permintaan energi secara global. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih digunakan energi fosil yang pada penggunaanya dapat menyebabkan peningkatan emisi CO2. Hal ini, dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan, sehingga diperlukan pengembangan energi bersih seperti hidrogen (H2). Hidrogen dapat diproduksi melalui proses Reaksi Evolusi Hidrogen (Hydrogen Evolution Reaction/HER). Pada proses tersebut, diperlukan elektrokatalis yang bekerja secara optimal dalam menfasilitasi proses transfer muatan selama proses HER. salah satu elektrokatalis yang menjanjikan adalah lembaran nano MXene (Nb2CTx). Material ini memiliki konduktivits tinggi (2400 S/cm), struktur dan kestabilan kimia yang baik. Permukaan MXene juga dapat dimodifikasi melalui terminasi gugus -OH (Nb2C(OH)2) untuk meningkatkan hidrofilisitas dan kontak dengan elektrolit. Selain MXene, CuO nanopori (nCuO) menawarkan struktur pori unik yang memungkinkan peningkatan situs aktif dan penetrasi elektron yang lebih optimal selama proses HER. Oleh karena itu, dikembangkan elektrokatalis berbasis MXene dan nCuO untuk proses HER. Tujun penelitian ini adalah melakukan sintesis Nb2CTx, Nb2C(OH)2, nCuO, dan hibrida Nb2C(OH)2/nCuO serta melakukan uji kinerja elektrokatalis secara elektrokimia. Sintesis MXene dilakukan melalui proses etching lapisan Al dari MAX phase (Nb2AlC), dengan terminasi permukaan dilakukan menggunakan NaOH. CuO nanopori disintesis menggunakan Silika KIT-6 sebagai template. Berdasarkan karakterisasi FT-IR, Nb2CTx MXene hasil sintesis menunjukan adanya pita serapan khas Material MXene seperti Nb-OH (915 cm-1), Nb-O (689 cm-1), dan Nb-C (542 cm-1), adapun Nb2C(OH)2 menunjukan adanya pergerseran pita serapan Nb-OH ke bilangan 882 cm-1 sebagai indikasi dari terminasi permukaan dengan -OH. Karakterisasi XRD juga mempertegas keberhasilan sintesis ditandai dengan pergeseran puncak (002) ke 2? 7,2? (Nb2CTx) dan 6,75? (Nb2C(OH)2) serta hilangnya puncak 39,08? (103). Selain MXene, CuO nanoprori juga berhasil disintesis menggunakan silika KIT-6 sebagai tamplate. Keberhasilan sintesis nCuO dikonfrimasi melalui FT-IR, ditandai dengan keberadaan pita khas Cu-O (551 cm- 1) dan dari karakteriasai XRD yang menunjukan adanya difraksi 2?= 32?, 35?, dan 38? untuk bidang (110), (?111), dan (111) khas CuO. Keberhasilan dari sintesis hibrida Nb2C(OH)2/nCuO dikonfirmasi melalui adanya integrasi nCuO pada permukaan MXene yang teramati dengan jelas dari analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Trasmission Electron Microscopy (TEM). Integrasi nCuO pada permukaan MXene berkontribusi terhadap peningkatan SBET dari 6,5 m2/g menjadi 21,6 m2/g. Uji kinerja elektrokatalis yang dilakukan secara elektrokimia menunjukkan kinerja hibrida Nb2C(OH)2/nCuO yang paling optimal dengan nilai overpotensial 300 mV pada densitas arus 10 mA/cm2,dan gradien Tafel 43 mV/dec. Jauh lebih unggul dibandingkan Nb2C(OH)2 (470 mV;62 mV/dec), Nb2CTx (554 mV;91 mV/dec) dan nCuO (702 mV;127 mV/dec). Selain menunjukan kinerja yang unggul, elektrokatalis hibrida Nb2C(OH)2/nCuO juga menunjukan stabilitas elektrokimia yang baik untuk pengujian selama 12 jam.

2026
👤 Penulis: Muhammad khairurrozi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN BIOSILIKA DIATOM LAUT TROPIS SEBAGAI MATRIKS PENGAYAAN PROTEIN PENANDA PENYAKIT UNTUK DIAGNOSTIK BERBASIS PROTEOMIK

Diagnosis suatu penyakit umumnya dilakukan setelah pasien mencapai fase simtomatik. Sementara itu, perubahan pada level protein penanda penyakit (biomarker) terjadi jauh lebih dini, yaitu pada fase pra-simtomatik. Oleh karena itu, diagnosis berbasis proteomik memungkinkan deteksi dini penyakit seperti infeksi, kanker, atau autoimunitas. Namun demikian, sinyal albumin serum manusia (human serum albumin) yang merupakan protein paling dominan dalam plasma darah sering kali menutupi sinyal protein penanda penyakit yang terdapat dalam jumlah yang jauh lebih rendah. Salah satu matriks berbasis material alam yang dapat digunakan untuk mengurangi (deplesi) albumin dalam suatu sampel plasma adalah biosilika dari mikroalga jenis diatom. Biosilika diatom memiliki struktur berpori hierarkis dengan permukaan yang kaya gugus silanol, sehingga dapat dimodifikasi melalui proses silanisasi dan berpotensi untuk memekatkan protein-protein penanda penyakit tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biosilika dari dua spesies diatom laut tropis Indonesia, yaitu Cyclotella striata TBI dan Navicula salinicola NLA sebagai matriks pengayaan protein dengan optimasi afinitas biosilika terhadap protein melalui modifikasi gugus bermuatan positif (APTES) dan hidrofobik (OTS). Kultivasi diatom C. striata TBI menghasilkan biomassa sebesar 916,7127 g dengan produktivitas sebesar 509,28 mg.L–1.hari–1. Isolasi biosilika C. striata TBI berhasil dilakukan dan diperoleh padatan biosilika sebanyak 5,82 gram dengan produktivitas sebesar 0,73 mg.g–1 biomassa. Karakterisasi biosilika, biosilika-APTES, dan biosilika-OTS dari kedua diatom dilakukan dengan instrumen Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk mengamati morfologi biosilika, Fourier Transform Infra-Red (FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi, X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menganalisis komposisi SiO2, dan analisis unsur CHNS untuk menentukan komposisi unsur C, H, N, dan S dalam sampel biosilika dan biosilika termodifikasi APTES atau OTS. Analisis proteomik dengan instrumen UPLC-HRMS mengidentifikasi 143 jenis protein plasma darah yang berinteraksi dengan permukaan biosilika. Selanjutnya, analisis menggunakan heatmap, principal component analysis (PCA), ANOVA, dan PLS-DA menunjukkan 8 protein signifikan (FDR ANOVA <0,05; VIP Score >1,2; kelimpahan relatif >1%), yaitu ApoA-I, ApoA-II, serotransferin, transmembran serin protease, antitrombin-III, inter-?-trypsin inhibitor heavy chain H4, ?-2-HS-glikoprotein, dan immunoglobulin heavy constant gamma. Fenomena deplesi albumin terjadi pada semua sampel biosilika dan biosilika termodifikasi APTES atau OTS. ApoA-I dan ApoA-II mengalami pengayaan pada biosilika kedua spesies diatom tanpa modifikasi maupun termodifikasi APTES, ?-2-HS-glikoprotein pada biosilika Navicula tanpa modifikasi, serta imunoglobulin heavy constant gamma pada biosilika Navicula termodifikasi OTS. Keempat protein tersebut memiliki relevansi klinis sebagai penanda penyakit kardiovaskular, agammaglobulinemia (hilangnya kemampuan tubuh untuk memproduksi imunoglobulin), dan hipogammaglobulinemia (rendahnya kemampuan produksi imunoglobulin).

2026
👤 Penulis: Intan Afni Nuraini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH WAKTU PERLAKUAN AWAL ULTRASONIKASI TERHADAP EKSTRAKSI AGAR KASAR DARI GRACILARIA SP

Agar merupakan polisakarida hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah seperti Gracilaria sp. dan banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, farmasi, dan bioteknologi. Metode ekstraksi konvensional umumnya menggunakan pemanasan dalam waktu lama sehingga kurang efisien secara energi dan berpotensi menurunkan kualitas produk. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh durasi pra-perlakuan ultrasonikasi terhadap perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi, dan gel strength agar yang dihasilkan. Biomassa Gracilaria sp. melalui pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30, 60, dan 90 menit, kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks air panas pada suhu 95–100 °C selama 1 jam, dengan kontrol tanpa pra-perlakuan selama 1 dan 6 jam. Larutan ekstrak dimurnikan menggunakan metode freeze–thaw dan dikeringkan dalam oven. Parameter yang dianalisis meliputi perolehan agar, kebutuhan energi ekstraksi (kWh/g), dan gel strength, dengan analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan durasi ultrasonikasi meningkatkan pelepasan agar pada tahap pra-perlakuan, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap perolehan agar pada tahap ekstraksi air panas (p > 0,05). Sebaliknya, durasi ultrasonikasi berpengaruh sangat signifikan terhadap kebutuhan energi ekstraksi (p < 0,001), yang meningkat dari 0,165 kWh/g pada perlakuan 30 menit menjadi 0,251 kWh/g pada 90 menit. Gel strength juga dipengaruhi secara signifikan oleh variasi perlakuan (p = 0,023), meskipun perbedaan antar variasi waktu ultrasonikasi tidak signifikan secara statistik. Secara keseluruhan, pra-perlakuan ultrasonikasi selama 30 menit menunjukkan kondisi paling optimal karena menghasilkan kebutuhan energi ekstraksi terendah serta mempertahankan kualitas gel yang lebih baik dibandingkan durasi ultrasonikasi yang lebih lama.

2026
👤 Penulis: Dzaky Fariz Ridwansyah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekstraksi Biologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS KARAKTERISTIK FOTOMETRIK DAN KUALITAS DAYA LAMPU LED 30 WATT PADA VARIASI TINGKAT PEMBEBANAN MENGGUNAKAN DUA SUMBER TEGANGAN

Lampu LED telah menjadi beban penerangan dominan di sektor rumah tangga, namun driver berbasis Switching Mode Power Supply (SMPS) tanpa koreksi faktor daya menjadikannya beban non-linier yang menginjeksikan arus harmonik ke jaringan. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada lampu LED berdaya rendah (di bawah 25 W) dengan satu sumber tegangan, sementara karakteristik lampu LED berdaya menengah belum banyak dikaji secara komparatif antar sumber. Penelitian ini menganalisis harmonik dan kualitas daya lampu LED 30 W merek Philips TrueForce Essentials Cool Daylight pada pembebanan bertahap 1 hingga 8 lampu menggunakan dua sumber tegangan berbeda, yaitu AC Power Supply (ACPS) Lisun LSP-500VA dan jala-jala PLN (GRID). Karakterisasi fotometri dilakukan dengan integrating sphere LCPE-3/LMS-7000, sedangkan parameter kualitas daya direkam dengan osiloskop Micsig STo1104E dan diolah melalui Transformasi Fourier (FFT), kemudian trennya diramalkan melalui regresi linear, regresi polinomial orde-2, dan rekonstruksi spektrum harmonik. Hasil karakterisasi fotometri menunjukkan fluks luminus rata-rata 3,293 lm (?5,9% terhadap nominal 3,500 lm), CCT sekitar 6,653 K, CRI Ra sekitar 82,8, dan efikasi sekitar 112,9 lm/W. Hasil pengukuran kualitas daya memperlihatkan distorsi harmonik arus (THDi) yang sangat tinggi, yaitu 96–120% pada ACPS dan 111– 115% pada GRID, jauh melampaui batas emisi harmonik. Distorsi harmonik tegangan (THDv) pada ACPS meningkat hingga 7,6% seiring beban-melampaui batas 5% SPLN D5.004-1:2012-sedangkan THDv pada GRID stabil rendah sekitar 1,6%, membuktikan impedansi internal ACPS jauh lebih besar daripada PLN. Faktor daya total (TPF) kedua sumber tetap rendah, yaitu 0,51–0,67, akibat gabungan distorsi arus dan pergeseran fasa. Arus RMS dan daya aktif meningkat linear (R² ? 1,0) sehingga andal diramalkan hingga 24 lampu, sedangkan sebagian parameter THD dan faktor daya tidak andal diramalkan dan lebih tepat ditampilkan nilai rata-ratanya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Daffanuur
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KARAKTERISASI FOTOMETRIK DAN ANALISIS ARUS HARMONIK LAMPU LED 20W UNTUK PENGGUNAAN SEKTOR DOMESTIK DENGAN DUA SUMBER TEGANGAN (PLN DAN AC POWER SUPPLY)

Program Sustainable Development Goals (SDG) 7 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan akses energi bersih dan terjangkau secara universal pada tahun 2030. Di Indonesia, sektor rumah tangga mendominasi konsumsi listrik dengan 134.563,85 GWh atau 42,36% dari total 317.691,86 GWh menurut Statistik PLN 2025. Lampu LED telah mendominasi sektor penerangan domestik Indonesia karena efikasi tinggi dan masa pakai panjang. Namun, driver LED tanpa Power Factor Correction (PFC) menghasilkan arus harmonik yang signifikan akibat karakteristik non-linear penyearah gelombang penuh dengan kapasitor filter. Penelitian ini menganalisis arus harmonik 12 unit lampu LED Verdant 20W secara komprehensif melalui tiga tahap: (1) karakterisasi fotometrik dan kolorimetri menggunakan sistem Lisun LPCE-3 Integrating Sphere; (2) pengukuran parameter kualitas daya pada konfigurasi paralel 1–12 lampu dengan dua sumber tegangan, yaitu jaringan PLN (strong grid, ~222 V) dan AC Power Supply 500 VA (weak grid, ~219 V); serta (3) pemodelan regresi per orde harmonik H1–H25 dengan evaluasi tiga model (linear, polinomial derajat-2, dan polinomial derajat-3) menggunakan metrik R², Adjusted R², RMSE, dan NRMSE-M. Hasil karakterisasi fotometrik menunjukkan bahwa fluks cahaya rata-rata 12 unit sebesar 1913,7 lm hanya mencapai 87,1% dari nilai pengenal yang diklaim produsen (2196 lm), tidak memenuhi ambang minimum 90% yang disyaratkan SNI IEC 62612:2020. CRI Ra rata-rata 79,4 juga berada di bawah batas minimum Ra ? 80 yang ditetapkan SNI 6197-2020. Pada Tahap 2, THDi kedua sumber jauh melampaui batas IEC 61000-3-2 Kelas C (30%), dengan rata-rata PLN 108,74% dan ACPS 107,61%. Analisis framework daya IEEE 1459-2010 mengungkapkan bahwa penyebab utama True Power Factor rendah (PLN: 0,526; ACPS: 0,637) adalah daya distorsi D, bukan daya reaktif Q (rasio D/Q PLN = 1,8; ACPS = 3,3), sehingga kapasitor kompensasi tidak efektif. THDv ACPS meningkat linear dari 1,21% menjadi 7,65% seiring penambahan beban, mendekati batas IEC 8%. Novelty utama penelitian ini adalah pembuktian kuantitatif bahwa regresi linear tidak memadai untuk orde harmonik menengah pada sumber berimpedansi tinggi. Pada H9 sumber ACPS, R² model linear hanya 0,121 (NRMSE-M = 19,78%, kategori Buruk), sedangkan model Poly-2 memberikan R² = 0,875 (NRMSE-M = 7,45%). Orde H11 ACPS memerlukan model Poly-3 (R² = 0,912, NRMSE-M = 8,08%) karena baik model linear maupun Poly-2 gagal. Sementara itu, seluruh orde H1–H25 pada sumber PLN dapat dimodelkan dengan regresi linear (R² > 0,94). NRMSE-M dikembangkan sebagai metrik validasi baru yang memungkinkan perbandingan akurasi lintas orde dengan skala berbeda. Forecasting hingga n = 36 lampu mengindikasikan THDi PLN ~115,9% dan ACPS ~94,5%, dengan THDv ACPS mencapai ~22%, jauh melampaui batas IEC.

2026
👤 Penulis: Muhammad Nur Tastaftyan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI HIGH FRUCTOSE CORN SYRUP TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN KANDUNGAN DOCOSAHEXAENOIC ACID (DHA) DARI SCHIZOCHYTRIUM SP.

Meningkatnya kesadaran masyarakat global akan kesehatan jangka panjang mendorong konsumsi nutrisi preventif sebagai langkah investasi kesehatan. Docosahexaenoic Acid (DHA) menarik perhatian global karena kemampuannya dalam meningkatkan perkembangan otak hingga mengurangi penyakit kardiovaskular. Sebagian besar DHA diperoleh dari minyak ikan yang menunjukkan penurunan kualitas karena terjadi pencemaran laut hingga over eksploitasi. Schizochytrium sp menawarkan alternatif sebagai sumber penghasil lipid serta DHA tinggi dengan siklus pertumbuhan cepat dan sebagai solusi berkelanjutan dengan dampak lingkungan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi High Fructose Corn Syrup (HFCS) sebesar 2,5; 5; 7,5; dan 10 g/L sebagai sumber karbon utama terhadap fase dan parameter kinetika pertumbuhan, laju konsumsi gula pereduksi, serta profil asam lemak Schizochytrium sp dalam medium By+ termodifikasi selama 96 jam. Analisis statistik menggunakan ANOVA one-way (p > 0,05) dan uji post hoc Tukey menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar variasi konsentrasi HFCS untuk parameter laju pertumbuhan spesifik, waktu generasi, produktivitas, dan Yx/s. Pertumbuhan tercepat diperoleh oleh konsentrasi HFCS 10 g/L dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,659 ± 0,333 /hari, waktu generasi 1,207 ± 0,611 hari, produktivitas 1,913 ± 0,124 g/L/hari, dan Yx/s 0,836 ± 0,074 g/g . Adapun laju konsumsi gula pereduksi menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p < 0,05) dengan laju tertinggi pada konsentrasi HFCS 10 g/L sebesar 2,303 ± 0,352 g/L/hari. Selain itu, profil asam lemak biomassa Schizochytrium sp yang dikultivasi pada konsentrasi HFCS 10 g/L menunjukkan total lipid sebesar 13,83% dari DCW dengan kandungan DHA 16,08% dari total lipid. Analisis neraca massa menghasilkan produksi biomassa kering sebesar 57,43 gram dari kultur 7 liter dengan inokulum awal sebesar 27,93 gram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi HFCS sebagai sumber karbon utama berpotensi untuk mendukung pertumbuhan Schizochytrium sp yang berimplikasi pada kandungan DHA.

2026
👤 Penulis: Halida Yasmin
🏷️ Schizochytrium Sp 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH KOMBINASI INSECT FRASS DENGAN MEDIA TANAM VERMICOMPOST TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, BIOMASSA DAN NUTRISI MICROGREENS KALE (BRASSICA OLERACEA)

Dalam beberapa tahun terakhir, microgreens berkembang sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi karena kandungan nutrisi melimpah dan siklus produksi singkat. Namun, produksinya masih bergantung pada media tanam konvensional yang kurang berkelanjutan. Insect frass, hasil biokonversi limbah organik oleh larva Black Soldier Fly (BSF), berpotensi menjadi pupuk organik alternatif karena kaya unsur hara serta mengandung kitin yang merangsang pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan frass secara tunggal berisiko menimbulkan variasi kualitas dan fitotoksisitas, sehingga diperlukan kombinasi dengan media organik lain seperti vermicompost untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi insect frass dan dengan kombinasi media tanam berbasis vermicompost terhadap performa perkecambahan, pertumbuhan, produktivitas, kualitas fisiologis dan nutrisi, serta karakteristik media dan respon air pada microgreens kale (Brassica oleracea). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL) dengan perbedaan media tanam sebagai perlakuan. Terdapat 4 perlakuan yaitu P1 (Tanah 100%), P2 (Tanah + NPK), P3 (Tanah + Insect frass 1,2%), P4 (50% Tanah + 50% Vermicompost + Insect frass 1,2%). Parameter yang diamati meliputi daya dan potensi berkecambah, kecepatan serta keserempakan tumbuh, tinggi tanaman, panjang akar, bobot tajuk dan akar, kadar air, rasio tajuk-akar, serta kandungan vitamin C dan klorofil. Suhu dan kelembapan ruangan dicatat selama penelitian, sedangkan analisis nutrisi media dilakukan sebelum tanam dan setelah panen. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Growth performance terbaik diperoleh dari perlakuan P4 dengan media tanam yaitu 50% tanah + 50% vermicompost + insect frass 1,2% dengan daya berkecambah, potensi berkecambah, kecepatan berkecambah, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah dan kering tajuk, kadar air, kadar klorofil, kadar vitamin c masing-masing sebesar 91,33±0.67, 93.33±1.76, 81.23±1.93, 8,26 ± 0.32 cm, 7.70±0.31 cm, 5.17±0.35 gr, 1.78±0.22 gr, 0.26±0.03 gr, 0.17±0.01 gr, 94.82±1.00 %, 24.70±1.01 SPAD, 23.10±2.01 mgl/L dan 17.63 mg/100gr. Sementara itu, keserempakan berkecambah terbaik diperoleh pada perlakuan P1 dengan perlakuan media tanam 100% sebesar 92±0.63 Sedangkan untuk nilai shoot root ratio tertinggi diperoleh pada P2 dengan media tanam tanah sebesar 1.59 ± 0.23 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap parameter perkecambahan, tinggi tanaman, panjang akar, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot total, kadar air, kandungan vitamin. Namun, media tanam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada shoot root ratio dan kandungan klorofil pada microgreens kale (Brassica oleracea). Secara umum, aplikasi kombinasi insect frass & vermicompost dapat meningkatkan performa perkecambahan, pertumbuhan vegetative, akumulasi biomassa serta kandungan nutrisi pada microgreens kale (Brassica oleracea).

2026
👤 Penulis: Salwa Salsadila
🏷️ Microgreens 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

INTEGRASI MANAJEMEN LEAN, AGILE/SCRUMDAN PMBOK DALAM MENINGKATKAN PROSES USERACCEPTANCE TESTING (UAT) (STUDI KASUS PERUSAHAAN PERBANKAN)

Percepatan transformasi digital di industri perbankan Indonesia telah mencip-takan tekanan besar pada proses pengujian perangkat lunak. Di Banking Co., sebuah bank swasta terkemuka, volume fitur yang diuji meningkat 295 persen antara 2022 dan 2024 dari 5.840 menjadi 43.595 fitur, sementara prosedur kerja UAT tidak mengalami perubahan yang sebanding. Kesenjangan ini mengakibat-kan akumulasi pemborosan sistemis, siklus pengerjaan ulang, dan risiko kele-lahan kerja yang merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan modal manusia dan pilar People dalam agenda keberlanjutan organisasi. Penelitian ini mengidentifikasi jenis pemborosan yang mendominasi proses UAT, merumuskan solusi integrasi Lean–Agile/Scrum–PMBOK, dan menganalisis po-tensi dampaknya terhadap efisiensi dan keberlanjutan kapasitas tim. Pendekatan mixed methods diterapkan melalui survei 65 item Likert kepada 371 Testing Ana-lyst (52 responden) dan wawancara mendalam dengan tiga narasumber expert judgment dari level jabatan berbeda. Pemborosan diprioritaskan menggunakan Relative Importance Index (RII), dan opsi perbaikan diurutkan berdasarkan Composite RII. Tujuh kategori pemborosan teridentifikasi pada 12 aktivitas UAT yang dipetakan ke PMBOK Knowledge Area. Defects menempati prioritas tertinggi (RII 0,756), diikuti Movement (0,735), Waiting (0,725), Overproduction (0,718), Excess In-ventory (0,705), Transport (0,688), dan Overprocessing (0,681). Rentang RII 0,075 mengonfirmasi ketujuh kategori memerlukan intervensi sistemis. Dua temuan metodologis penting muncul: pemborosan Movement berada di prioritas kedua menurut survei pelaksana namun keenam menurut manajemen, gap empat posisi yang hanya terdeteksi melalui triangulasi dan Overprocessing mencatat RII terendah namun mendapat suara tertinggi dalam pertanyaan refleksi terbuka, mengindikasikan kondisi di mana pemborosan telah diterima sebagai rutinitas normal. Delapan opsi perbaikan dirumuskan dan diprioritaskan: Tanggung Jawab Ber-sama BA–IT–Testing (0,919), Stabilisasi Sistem dan Platform UAT Terintegrasi (0,912), Penyederhanaan UI/UX (0,885), WIP Limit dan Manajemen Kapasitas (0,881), Definition of Ready beserta Wewenang Eskalasi (0,879), Instruksi Kerja UAT Lean Edition (0,829), Saluran Umpan Balik Kaizen Terstruktur, dan Oto-masi AI Selektif. Kedelapan opsi diintegrasikan ke dalam peta jalan bertahap pada 12 aktivitas UAT dengan memanfaatkan mekanisme Agile/Scrum yang su-dah berjalan. Sebanyak 76,9 persen responden meyakini eliminasi pemborosan sistemis akan secara signifikan mengurangi risiko kelelahan kerja, memosisikan penelitian ini sebagai upaya mempertahankan kapasitas manusia untuk ber-kontribusi secara bermakna dalam jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Dedi Yusuf Hernanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pengujian Perangkat Lunak
Halaman 44 dari 418
💬