📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenPENGEMBANGAN SERVER HITUNG SISTEM TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN DATA GEOPOTENSIAL MODEL TAHUN 1996 (EGM'96)
Tujuan utama dari ilmu geodesi fisik adalah menentukan parameter-parameter medan gayaberat bumi. Parameter-parameter tersebut diantaranya yaitu geoid dan defleksi vertikal. Geoid ditentukan berdasarkan nilai penyimpangannya terhadap ellipsoid referensi. Penyimpangan tersebut diistilahkan sebagai undulasi geoid. Defleksi vertikal merupakan penyimpangan arah gayaberat sesungguhnya yang arahnya tegak lurus pada bidang ekuipotensial dengan arah gayaberat normal yang arahnya tegak lurus pada ellipsoid. Undulasi geoid dan defleksi vertikal dapat ditentukan berdasarkan koefisien geopotensial, misalnya EGM 96. Data undulasi geoid dan defleksi vertikal memiliki berbagai kegunaan praktis maupun ilmiah. Untuk keperluan praktis, data tersebut dapat digunakan untuk penentuan referensi tinggi, penentuan referensi kedalaman, konversi sistem koordinat astronomis menjadi sistem koordinat geodetik ataupun sebaliknya dan sebagai koreksi sudut vertikal untuk penentuan tinggi geodetik secara terestris. Sementara untuk keperluan ilmiah, data undulasi geoid digunakan antara lain untuk menentukan struktur lapisan bumi dan prediksi arus geostropik. Dalam tugas akhir ini, dikembangkan suatu sistem server yang terdiri dari sistem basisdata, tampilan antarmuka, struktur server hitung dan algoritma interpolasi yang terintegrasi sedemikian rupa. Komponen-komponen server tersebut memiliki kegunaan, yaitu, sistem basis data digunakan untuk menyimpan data undulasi geoid dan defleksi vertikal dalam sistem grid, tampilan antarmuka merupakan alat bantu yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara langsung dengan server, struktur server hitung berfungsi untuk menyusun pola rangkaian kerja dan hubungan antar sistem, sementara algoritma interpolasi digunakan untuk menghitung nilai undulasi geoid dan defleksi vertikal yang tidak tepat berada dalam cakupan data. Integrasi komponen tersebut memungkinkan server mampu memberikan data undulasi geoid, tinggi orthometris dan defleksi vertikal secara akurat serta diakses dengan menggunakan perangkat komputer via jaringan internet.
PENYUSUNAN KONSEP PENGEMBANGAN TATA KELOLA TAMBANG EMAS RAKYAT BERKELANJUTAN MELALUI KELEMBAGAAN KOPERASI DI KABUPATEN GUNUNG MAS, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Tambang emas rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, merepresentasikan paradoks pembangunan yang khas: sekitar 3.300 penambang aktif menghidupi diri dari endapan aluvial sepanjang Sungai Kahayan, namun seluruh aktivitas tersebut berlangsung di luar kerangka hukum formal menyusul kekosongan Wilayah Pertambangan Rakyat sejak Kepmen ESDM Nomor 109.K/MB.01/MEM.B/2022. Informalitas ini bukan semata-mata persoalan ketidakpatuhan, melainkan akibat dari kekosongan boundary rules yang memutus seluruh rantai pembinaan teknis negara, sehingga menghasilkan eksternalitas lingkungan berupa pencemaran merkuri Sungai Kahayan dan kerusakan lahan, serta eksternalitas sosial berupa ketiadaan perlindungan kerja dan kerentanan posisi tawar penambang dalam rantai niaga. Disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 beserta peraturan turunannya yaitu PP Nomor 39 Tahun 2025, Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2025, dan Permenkop Nomor 12 Tahun 2025 membuka jendela kebijakan (policy window) bagi formalisasi tambang emas rakyat melalui kelembagaan koperasi. Namun, rangkaian regulasi tersebut masih bersifat normatif dan belum disertai konsep operasional yang menjembatani mandat top-down dengan kapasitas kelembagaan penambang di tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan tata kelola tambang emas rakyat berkelanjutan melalui kelembagaan koperasi di Kabupaten Gunung Mas sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kebijakan (policy case study) yang diposisikan pada arena kebijakan formal. Data primer diperoleh dari tiga forum koordinasi lintas-instansi yang melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas pada Juli–September 2025, serta observasi lapangan di lokasi tambang dan koperasi. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka teori yang saling melengkapi: Institutional Analysis and Development (IAD) dari Ostrom (2005) untuk membedah arena tindakan kelembagaan, analisisiv pemangku kepentingan dari Reed et al. (2009) untuk memetakan relasi antar-aktor, dan model Triple Bottom Line yang dimodifikasi oleh Que et al. (2018) sebagai kerangka perumusan konsep. Penelitian menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, stabilitas arena PETI selama lebih dari tiga tahun tanpa legitimasi formal bukan disebabkan keengganan penambang untuk berformalisasi, melainkan oleh dua kelemahan IAD yang saling mengunci: ketiadaan boundary rules akibat kekosongan WPR, dan ketiadaan aggregation rules pada dua level sekaligus — level komunitas penambang dan level koordinasi antar-instansi. Kedua, kesenjangan antara kondisi eksisting dan prinsip tata kelola berkelanjutan sangat dalam pada empat dari lima dimensi (legalitas, prosperity, people, planet), sementara dimensi community menunjukkan kesenjangan lebih moderat karena kelembagaan adat Dayak Ngaju sudah memiliki basis hukum eksplisit dan kapasitas substantif yang belum terintegrasi. Ketiga, konsep model kelembagaan koperasi yang dirumuskan mengintegrasikan struktur tiga lapis: prasyarat legalitas (WPR/IPR), unit operasional koperasi primer– sekunder dengan mekanisme distribusi manfaat berbasis partisipasi anggota, dan operasionalisasi empat pilar TBL termodifikasi. Kontribusi khas penelitian ini dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota adalah dua inovasi lokal yang tidak ditemukan padanannya pada praktik baik komparatif: mekanisme integrasi kelembagaan adat Dayak dalam struktur koperasi melalui tiga fungsi substantif (legitimator, mediator konflik, dan pengawas berbasis norma adat), serta kerangka pertimbangan keruangan dengan empat unit analisis spasial yang harus diintegrasikan sebelum operasionalisasi koperasi pada wilayah dengan 77,28% kawasan hutan dan minimnya data spasial terintegrasi.
ANALISIS SPEKTRUM AKUSTIK MAKHARIJUL HURUF SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA AKUSTIK UNTUK PENGUATAN SAINS DI PONDOK PESANTREN
Penelitian ini bertujuan menganalisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis konteks pesantren. Penelitian difokuskan pada huruf makhraj al-halq, yaitu hamzah (?), ha’ (??), ‘ain (?), ha (?), ghain (?), dan kho’ (?), melalui analisis frekuensi forman pertama (F1) dan frekuensi forman kedua (F2). Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi model ADDIE hingga tahap Development. Data suara direkam dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Praat untuk menghasilkan spektrogram dan mengekstraksi nilai frekuensi forman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap huruf makhraj al-halq memiliki karakteristik akustik yang berbeda, dengan rentang nilai F1 sebesar 601,72– 1251,68 Hz dan F2 sebesar 1457,20–2195,46 Hz. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa kelompok pembaca Al-Qur'an bersertifikat memiliki distribusi nilai forman yang lebih konsisten dibandingkan kelompok pembaca pemula. Hasil uji Mann– Whitney U menunjukkan bahwa sebagian besar perbedaan distribusi nilai F1 dan F2 belum signifikan pada taraf signifikansi ? = 0,05, meskipun beberapa huruf menunjukkan effect size kecil hingga sedang. Temuan tersebut dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan modul pembelajaran fisika akustik yang mengintegrasikan konsep gelombang bunyi, resonansi rongga vokal, dan frekuensi forman dengan fenomena pelafalan huruf hijaiyah di lingkungan pesantren. Hasil validasi memperoleh skor rata-rata 3,50 dari ahli materi dan 3,70 dari ahli pembelajaran, sehingga modul termasuk kategori sangat layak. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis spektrum akustik makharijul huruf sebagai konteks pengembangan modul pembelajaran fisika akustik berbasis pesantren.
KERANGKA UJI TUNTAS ESG UNTUK ALOKASI MODAL BERKELANJUTAN DALAM MERGER DAN AKUISISI (STUDI KASUS: PT ASTRA INTERNATIONAL TBK)
Mengintegrasikan faktor Environmental, Social, and Governance ke dalam aktivitas merger dan akuisisi korporasi semakin menjadi faktor kunci yang membentuk nilai jangka panjang sebuah transaksi. Namun, banyak konglomerasi Indonesia yang aktif dalam program akuisisi masih bergantung pada alur kerja M&A yang memprioritaskan uji tuntas finansial, perpajakan, dan hukum, sementara penilaian ESG diperlakukan lebih sebagai sebagai pelengkap yang tidak terstruktur. PT Astra International Tbk, sebuah konglomerasi Indonesia yang terdiversifikasi dan beroperasi di tujuh pilar bisnis dan berkomitmen terhadap Astra 2030 Sustainability Aspirations, mencerminkan pola yang sama. Proses yang berjalan saat ini tidak memiliki mekanisme terstruktur untuk memunculkan risiko ESG sebelum penandatanganan Non-Disclosure Agreement, juga tidak memprioritaskan topik ESG secara sistematis selama Detailed Due Diligence, dan juga tidak membawa pengawasan ESG hingga periode integrasi pasca-akuisisi. Karena mekanisme ini tidak ada, perusahaan menjadi rentan pada risiko yang dapat menggagalkan kesepakatan yang sebenarnya dapat diidentifikasi lebih awal dan pada kewajiban pasca-akuisisi yang mengurangi sinergi yang diharapkan akan diperoleh. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan merancang sebuah Integrated ESG Due Diligence Framework yang menyematkan pertimbangan ESG ke dalam alur kerja alokasi modal Astra. Penelitian ini disusun berdasarkan tiga pertanyaan penelitian yang mencakup pemetaan diagnostik proses yang berjalan, prioritisasi materialitas, dan implementasi kerangka kerja. Siklus Business Process Management digunakan sebagai lensa analitis utama, dan didukung oleh metode Multi-Criteria Decision Making. Studi ini menggunakan pendekatan pengembangan proses kualitatif dan kuantitatif, yang disusun sebagai penyelidikan berbasis kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan beberapa pemimpin fungsional di Astra, dan ini didukung oleh analisis dokumen dan observasi lapangan. Untuk tahap materialitas, digunakan pendekatan analitis empat tahap. Enam puluh topik ESG, yang dikumpulkan dari Standar SASB di tiga belas industri yang relevan dengan Astra dan dari Standar Kinerja IFC, kemudian dikonsolidasikan menjadi tiga belas aspek strategis melalui analisis konten terarah bersama dengan validasi ahli. Aspek-aspek ini selanjutnya divalidasi menggunakan analisis prevalensi lintas sektoral dan dengan menyelaraskannya dengan Aspirasi Keberlanjutan Astra 2030. Analytic Hierarchy Process kemudian diterapkan dengan dua belas responden yang distratifikasi menjadi enam perwakilan internal dan enam pemangku kepentingan eksternal yang berasal dari pemegang saham utama, investor institusional, dan business development subsidiari. Penilaian individu diagregasi menggunakan geometric mean dan divalidasi terhadap ambang batas Consistency Ratio 0,10 sebagaimana direkomendasikan Saaty. Penelitian ini menghasilkan Integrated ESG Due Diligence Framework yang terdiri dari dua lapisan yang saling terkait. Lapisan pertama adalah peta proses M&A yang didesain ulang dan disajikan dalam bentuk diagram swimlane To-Be. Lapisan kedua adalah operational toolkit berupa empat instrumen sekuensial yang beroperasi pada tahap Initiation and Strategy, Detailed Due Diligence, Negotiation, dan Integration pasca-akuisisi. Keempat instrumen ini disusun secara berurutan, sehingga keluaran dari satu instrumen menjadi masukan bagi instrumen berikutnya. Dengan cara ini, wawasan ESG tetap terhubung saat proses berpindah dari satu fase ke fase lainnya. Kerangka kerja ini juga diperkuat oleh matriks RACI yang menetapkan kepemilikan proses diseluruh unit fungsional. Dari sisi metodologis, studi ini menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk memprioritaskan dan memeringkat aspek ESG material yang relevan dengan due diligence M&A di Astra. Dari sisi praktis, kerangka kerja yang di rancang ulang ini ditujukan agar pertimbangan ESG dapat lebih berperan dalam penciptaan nilai pada kegiatan M&A Astra di masa mendatang, sementara struktur analitis empat tahap yang dapat diperluas ke konglomerasi Indonesia lainnya yang menghadapi tantangan serupa.
PERANCANGAN SIMULASI BERBASIS AGEN UNTUK STUDI KOMPARASI ALGORITMA DISPATCHER LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT DENGAN POLA LALU LINTAS DINAMIS
Pesatnya pembangunan gedung bertingkat menuntut sistem transportasi vertikal yang optimal, seperti lift. Evaluasi kinerja lift umumnya menggunakan Discrete Event Simulation (DES), namun pendekatan ini memiliki kekurangan akibat waktu yang diskrit dan faktor spasial yang diabaikan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan instrumen simulasi berbasis Agent-Based Modeling (ABM) yang memodelkan penumpang dan lift sebagai agen otonom. Instrumen ini dirancang untuk mengintegrasikan Lift Performance Metrics (LPM) dan Quality of Service (QoS) dengan estimasi konsumsi energi listrik. Hasil pengujian komparasi pada arsitektur skala 15 lantai menunjukkan bahwa nilai-nilai metrik yang dihasilkan oleh DES terlalu ideal, sehingga dapat membuat rancangan sistem lift tidak sesuai. Hal ini diperkuat dengan hasil Average Waiting Time (AWT) dan Round Trip Time (RTT) pada ABM, yang membesar akibat hambatan spasial hingga 62,12% dan 200,73% masing-masing. Lingkungan ABM lalu difungsikan untuk membandingkan kinerja sistem Konvensional (KON) dan Destination Dispatch System (DDS) pada empat skenario puncak lalu lintas untuk arsitektur 15, 25, dan 35 lantai. Hasil komparasi menunjukkan bahwa efisiensi algoritma sangat sensitif terhadap elevasi bangunan dan tata letak fasilitas. Sistem DDS mengungguli KON pada skenario pagi hari dengan menekan AWT sebesar 78,26% di gedung 15 lantai. Pada skala menengah 25 lantai pada lalu lintas dua arah, algoritma KON yang lebih adaptif dan fleksibel dapat melayani penumpang 35,24% lebih cepat. Pada skenario bangunan 35 lantai, DDS menunjukkan keunggulan signifikan hingga 72,39% dari KON pada skenario malam hari. Pengelompokan destinasi DDS di tingkat tinggi juga menghemat energi listrik hingga 180 kWh dalam sehari. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan DDS merupakan solusi teknis yang optimal untuk bangunan skala tinggi. Kata
ANALISIS EKSPERIMENTAL POTENSI PANAS PANEL SURYA SEBAGAI SUMBER TERMAL SISTEM PENDINGINAN ABSORPSI DI KOTA BANDUNG
Modul fotovoltaik hanya mengonversi sebagian kecil radiasi matahari menjadi listrik, sementara sebagian besar terdisipasi menjadi panas yang menurunkan efisiensi panel. Panas terbuang ini berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi termal, baik untuk menggerakkan sistem pendinginan berbasis penyerapan maupun untuk keperluan termal lain seperti pemanasan air domestik, preheating, dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi temperatur aktual panel surya secara eksperimental dan mengevaluasi potensi panasnya sebagai sumber termal untuk sistem pendinginan maupun pemanfaatan termal lainnya di iklim tropis Kota Bandung. Pengukuran temperatur dilakukan secara kontinu selama tujuh hari pada instalasi PLTS Laboratorium Manajemen Energi Institut Teknologi Bandung menggunakan tujuh sensor termokopel tipe-K dengan modul MAX6675 dan sistem akuisisi data berbasis ESP32, pada interval satu menit. Data intensitas radiasi matahari, temperatur ambien, dan kecepatan angin diperoleh dari dataset reanalisis ERA5-Land. Potensi panas dihitung melalui pendekatan neraca energi serta analisis perpindahan panas konveksi dan radiasi. Hasil pengukuran menunjukkan temperatur panel rata-rata siang 40,7 °???? dengan puncak lokal mencapai sekitar 73,5 °???? pada titik terpanas. Intensitas radiasi merupakan penggerak termal dominan (r = 0,68). Total potensi panas selama enam hari pengukuran mencapai sekitar 855 kWh, atau sekitar 19 kali energi listrik yang dihasilkan. Sebaran temperatur panel memenuhi kebutuhan termal berbagai aplikasi suhu rendah mencakup preheating, pendinginan adsorpsi, dan absorpsi suhu rendah, sementara kebutuhan sistem absorpsi konvensional (? 70 °????) hanya tercapai secara sporadis pada titik-titik terpanas. Penentuan teknologi pemanfaatan termal yang paling sesuai menjadi arah penelitian lanjutan.
PEMODELAN RISIKO MORTALITAS STOKASTIK DAN PREDIKSI MORTALITY-AT-RISK BERBASIS EKSPEKTIL UNTUK PERHITUNGAN ANUITAS JIWA
Mortalitas menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan asuransi jiwa. Hal ini disebabkan oleh sifat laju mortalitas yang dinamis dan tidak konstan sepanjang waktu. Ketidakpastian laju mortalitas dapat memengaruhi kecukupan dana yang dimiliki perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang. Oleh karena itu, pemodelan laju mortalitas dengan asumsi variansi konstan menjadi kurang tepat. Model Autoregressive (AR) digunakan untuk memodelkan mean bersyarat laju mortalitas, sedangkan model Autoregressive Conditional Heteroscedastic (ARCH) dan Generalized ARCH (GARCH) digunakan untuk memodelkan volatilitas bersyarat yang berubah terhadap waktu. Ukuran risiko Mortality-at-Risk (MaR) diperlukan untuk mengukur risiko penurunan laju mortalitas. MaR diprediksi menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan berbasis kuantil (qMaR) yang mengukur batas penurunan mortalitas pada tingkat kepercayaan tertentu, dan pendekatan berbasis ekspektil (eMaR) yang mempertimbangkan besaran kerugian ekstrem. Kedua pendekatan tersebut kemudian dibandingkan dan diterapkan dalam perhitungan anuitas jiwa untuk menghasilkan nilai yang lebih konservatif dalam memperhitungkan ketidakpastian laju mortalitas.
SINTESIS DAN FABRIKASI ELEKTRODA BERBASIS NANOKOMPOSIT AGNP/CU-BTC UNTUK PENENTUAN KADAR GLUKOSA SECARA VOLTAMMETRI
Diabetes mellitus adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi fungsi organ manusia akibat penumpukan glukosa dalam sistem peredaran darah. Penelitian mengenai sensor glukosa semakin berkembang agar diabetes bisa diidentifikasi sejak dini secara noninvasif. MOFs (Metal-Organic Frameworks) adalah material dengan sifat berpori yang mampu mengadsorpsi analit. Salah satu MOF yang paling menjanjikan dalam hal ini adalah MOF Cu- BTC yang terdiri dari ion pusat Cu(II) dan penghubung benzen trikarboksilat (BTC). Sensitivitas elektroda juga dapat ditingkatkan melalui inkorporasi AgNP (nanopartikel perak) di dalam matriks elektroda. Namun, kinerja kedua material ini dalam deteksi glukosa belum dibandingkan dengan detail. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja elektroda nanokomposit AgNP/Cu-BTC sebagai sensor glukosa secara voltammetri. MOF Cu-BTC disintesis melalui metode solvotermal dari prekursor Cu(NO3)2·3H2O dan H3BTC. AgNP disintesis dari prekursor AgNO3 yang direduksi dengan natrium sitrat. Elektroda difabrikasi dengan campuran grafit/PVDF pada permukaan pelat tembaga. MOF Cu-BTC berhasil disintesis dengan orientasi pertumbuhan kristal dominan pada bidang (222). Spektrum FTIR MOF Cu-BTC menunjukkan serapan karakteristik ulur Cu-O pada 727 cm-1. AgNP memiliki puncak serapan UV-Vis pada 413 nm, dengan rata-rata ukuran partikel sebesar 41,5 nm berdasarkan karakterisasi DLS. Elektroda dengan rasio MOF Cu-BTC : AgNP = 1:3 menunjukkan kinerja yang terbaik sebagai sensor glukosa, dengan batas deteksi sebesar 0,01007 mM; sensitivitas sebesar 307,7 ?A mM-1 cm-2 , serta rentang linear pada 0,05 mM– 20 mM.
ADSORPSI KRISTAL VIOLET MENGGUNAKAN ADSORBEN GELATIN TERMODIFIKASI GLIOKSAL
Kristal violet merupakan zat warna kationik yang banyak: digunak:an dalam industri, namun bersifat toksik, karsinogenik, dan mutagenik sehingga berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Adsorpsi menjadi metode yang banyak: dikembangkan untuk mengbilangkan kristal violet dari limbah arr karena ekonomis, efektif, efisien, dan sederhana. Pada penelitian ini dibuat adsorben gelatin termodifikasi glioksal dengan komposisi optimum pada konsentrasi gelatin 15% (m/v) dan perbandingan mo!gelatin:glioksal 8:4, dengan derajat penggembungan sebesar 261,83%. Komposisi ini dipilib karena memiliki kapasitas dan persen adsorpsi terbesar. Karak:terisasi menggunak:an uji derajat penggembungan, Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM EDS). Spektrum FTIR menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang pada gugus fungsi 0-H/N-H yang menandakan keberhasilan modifikasi gelatin dengan glioksal serta pada gugus fungsi 0-H dan C=O yang menandakan adanya interak:si antara adsorben dan kristal violet. Citra SEM menunjukkan perubahan morfologi permukaan dari permukaan adsorben yang kasar danberpori sebelum adsorpsi menjadi permukaan yang halus dan tertutup setelah adsorpsi dan distribusi kristal violet yang merata pada permukaan adsorben yang menandakan keberhasilan proses adsorpsi. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada pH 8, massa adsorben 0,09 gram, dan wak:tu kontak 120 menit. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu dan isoterm Langmuir dengan qmm sebesar 82,27 mg/g pada 333 K. Studi termodinarnika menunjukkan bahwa proses adsorpsi berlangsung secara spontan dengan AG0 sebesar -35,44 kJ/mol pada 303 K, -36,84 kJ/mol pada 318 K, dan -38,25 kJ/mol pada 333 K, bersifat eksotermik dengan .6.H0 -7,01 kJ/mol, dan disertai peningkatan ketidakteraturan sistem dengan AS0 sebesar 93,82 J/mol.K. Larutan KC!0,25 M merupak:an pendesorpsi optimum dengan persen desorpsi sebesar 44,43%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adsorben gelatin termodifikasi glioksal memiliki performa adsorpsi yang baik dengan sintesis yang lebib sederhana serta penggunaan agen pengikat silang yang lebib ramah lingkungan dibandingkan adsorben yang telah dikembangkan sebelumnya.
ANALISIS PREDIKSI HARGA SAHAM MENGGUNAKAN QUANTUM NEURAL NETWORK (QNN) DAN PERBANDINGAN TERHADAP LONG SHORT-TERM MEMORY (LSTM)
Pergerakan harga saham memiliki volatilitas tinggi dan pola non-linear yang kompleks, menjadikan sebuah tantangan besar dalam pemodelan deret waktu. Model deep learning klasik seperti Long Short-Term Memory (LSTM) umum digunakan, namun rentan mengalami over-parameterization saat menghadapi dinamika fluktuasi pasar yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa prediksi model Quantum Neural Network (QNN) terhadap model LSTM klasik menggunakan evaluasi berbasis hyperparameter tuning dan analisis metrik kuantitatif. Pemodelan ini dilatih menggunakan data historis harian saham BBCA, GGRM, dan EXCL dengan pembagian periode 2018-2023 sebagai data training dan periode 2024 sebagai data testing. Hasil pengujian menunjukkan QNN mengungguli LSTM pada saham BBCA (uptrend) dengan MAPE 1,0469%, RMSE 131,9511, dan R 2 0,8906, serta EXCL (sideways) dengan MAPE 1,3780%, RMSE 45,2262, dan R 2 0,7995. Pada saham GGRM (downtrend), meskipun LSTM mencatat MAPE sedikit lebih rendah (0,9984% berbanding 1,0093%), QNN terbukti lebih stabil dengan RMSE yang lebih kecil (251,5257 berbanding 251,7988). Secara arsitektural, QNN beroperasi lebih efisien karena mencapai hasil optimal hanya dengan kedalaman 1 layer sirkuit dan lookback window 1. Penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur QNN menghasilkan akurasi, efisiensi komputasi, dan kapabilitas generalisasi pola non-linear yang lebih tangguh dibandingkan model memori klasik. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan Quantum Machine Learning sebagai solusi alternatif pemodelan time-series finansial yang lebih presisi dan stabil terhadap dinamika pasar yang ekstrem.
PERANCANGAN PRODUK ERGONOMIS UNTUK MEMBANTU TOILETING ANAK CEREBRAL PALSY GMFCS III USIA 12-18 TAHUN
Anak dengan Cerebral Palsy (CP) mengalami keterbatasan mobilitas dan kontrol postural yang berdampak pada rendahnya kemandirian dalam aktivitas mandi dan toileting. Di Indonesia, permasalahan ini semakin kompleks karena mayoritas rumah tangga masih menggunakan kloset jongkok yang kurang sesuai dengan kebutuhan fungsional anak CP, khususnya pada tingkat Gross Motor Function Classification System (GMFCS) III. Kondisi tersebut meningkatkan ketergantungan terhadap caregiver dan menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan pengguna dengan fasilitas sanitasi yang tersedia. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas sanitasi yang mendukung aktivitas mandi dan toileting anak CP secara lebih aman, nyaman, dan mandiri dalam konteks kamar mandi rumah tinggal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan desain berpusat pada pengguna melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna dan caregiver, analisis aktivitas, serta analisis ergonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan utama pengguna meliputi stabilitas postural, kemudahan perpindahan posisi, aksesibilitas fasilitas sanitasi, serta efisiensi penggunaan ruang kamar mandi. Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan tiga alternatif desain dan dipilih satu rancangan terintegrasi yang terdiri atas penopang kloset, bak air, dudukan tambahan, pegangan, dan struktur pendukung. Konfigurasi horizontal antara penopang kloset dan bak air mendukung perpindahan yang lebih aman, sementara sistem pegangan membantu pengguna saat duduk, berdiri, dan berpindah posisi. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan fasilitas sanitasi yang mengintegrasikan aktivitas mandi dan toileting dengan mempertimbangkan kondisi kamar mandi rumah tangga Indonesia yang masih didominasi penggunaan kloset jongkok. Hasil penelitian ini berkontribusi sebagai acuan perancangan fasilitas sanitasi yang lebih inklusif bagi pengguna dengan keterbatasan motorik dan caregiver.
RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION PADA LARGE LANGUAGE MODEL (RAG-LLM) UNTUK INTERPRETASI HASIL DETEKSI ANOMALI SATU-KELAS TANPA RIWAYAT KEGAGALAN DALAM DIAGNOSIS TURBIN GAS
Turbin gas merupakan aset kritis pada industri migas yang kegagalannya dapat menimbulkan kerugian operasional besar, sementara data riwayat kegagalan umumnya langka karena aset dioperasikan untuk menghindari kerusakan. Di sisi lain, karakteristik dan gejala dari berbagai jenis kegagalan tersebut sebenarnya telah banyak dipetakan dalam basis pengetahuan teknik yang mapan, sehingga pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk diagnosis tanpa bergantung pada data kegagalan historis. Penelitian ini mengembangkan kerangka deteksi dan diagnosis kegagalan yang tidak bergantung pada data kegagalan historis, dengan memadukan pendekatan klasifikasi satu kelas (one-class classification) untuk deteksi anomali dan Retrieval-Augmented Generation (RAG) untuk diagnosis. Data yang digunakan berupa rekaman SCADA beresolusi per jam dari turbin gas dua poros Solar Titan 130 di PT Pertamina Hulu Mahakam pada periode 2018–2020, dengan 32 variabel yang terdiri atas 29 variabel terpantau (x) dan 3 variabel kondisi operasi (c). Metodologi penelitian mengikuti kerangka CRISP-DM. Model rekonstruksi Self-Attention Conditional Variational Autoencoder (SA-CVAE) dilatih hanya pada data kondisi sehat untuk mempelajari pola operasi normal, kemudian anomali dideteksi melalui eror rekonstruksi dengan ambang batas berbasis persentil ke-99 dan penghalusan jendela 12 jam. Variabel penyimpangan yang teridentifikasi diolah menjadi profil anomali, lalu dicocokkan dengan basis pengetahuan kegagalan yang disusun dari 19 entri karakteristik kegagalan melalui basis data vektor dan pemodelan embedding untuk menghasilkan diagnosis berbasis RAG. Hasil pengujian menunjukkan SA-CVAE memberikan kinerja rekonstruksi terbaik dibanding AE, VAE, dan CVAE, serta mampu mendeteksi perubahan karakteristik sinyal yang mengindikasikan blade fault. Deteksi dini ini memungkinkan tindakan pemeliharaan dilakukan jauh lebih awal daripada jadwal inspeksi semula. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi klasifikasi satu kelas dan RAG efektif untuk deteksi sekaligus diagnosis kegagalan turbin gas tanpa memerlukan data kegagalan historis.
PERANCANGAN PENGONTROL FINITE CONTROL SET MODEL PREDICTIVE CONTROL DENGAN DISTURBANCE OBSERVER UNTUK MENGATASI INTERMITENSI PADA SISTEM PANEL SURYA MANDIRI DI BAWAH KONDISI NAUNGAN SEBAGIAN
Pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu solusi yang dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Namun terdapat berbagai tantangan teknis yang dapat menurunkan efisiensi sistem, sehingga sistem PV tidak bekerja di titik daya optimumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pengontrol Finite Control Set Model Predictive Control untuk meningkatkan performa dan kerobasan dari sistem fotovoltaik yang terintegrasi dengan boost converter. Dalam perancangan algoritma pengontrol, efek gangguan itu akan diestimasi menggunakan Disturbance Observer untuk meningkatkan kerobasan sistem terhadap gangguan. Namun tantangan selanjutnya pada sistem PV terletak pada perubahan kondisi naungan modul fotovoltaik yang diakibatkan oleh pergerakan awan dan bayangan benda-benda sekitar, sehingga sistem PV akan memiliki beberapa puncak daya keluaran. Situasi ini dikenal sebagai kondisi naungan sebagian (PSC). Oleh karena itu pada penelitian ini digunakan metode Incremental Conductance-Modified Particle Swarm Optimization yang dapat melacak puncak global yang kemudian dijadikan arus referensi bagi mekanisme pengontrol. Hasil simulasi MATLAB/Simulink menunjukkan bahwa sistem mampu bekerja baik pada kondisi standar ataupun PSC. Pada kondisi standar dengan iradiasi seragam, sistem mencapai waktu tunak 0,42 detik, efisiensi 94,572%, dan akurasi daya 99,97%. Pada kondisi standar dengan variasi iradiasi dan beban, sistem menghasilkan waktu tunak rata-rata 0,330 detik, akurasi daya 99,904%, dan efisiensi rata-rata 93,933%. Pada kondisi PSC, sistem mampu mencapai waktu tunak 0,352 detik, akurasi daya 99,699%, dan efisiensi rata-rata 94,31%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi Hybrid IC–MPSO dan FCS–MPC dengan Disturbance Observer mampu meningkatkan performa pelacakan titik maksimum daya dan menjaga efisiensi sistem PV mandiri di bawah kondisi naungan sebagian.
PEMODELAN DAN OPTIMASI TERMO-HIDRODINAMIKA SISTEM TRANSFER BLACK LIQUOR (DSI VS DIRECT HEATER) KE RECOVERY BOILER UNTUK PENCAPAIAN FIRING LIQUOR ?40 L/S DAN REDUKSI ?P MENUJU ?3 BAR DI PT. X
Black liquor (BL) merupakan bahan bakar utama recovery boiler (RB) sekaligus media kunci dalam siklus pemulihan kimia proses kraft. Pada sistem transfer BL di PT. X, konfigurasi eksisting yang masih melibatkan Direct Steam Injection (DSI) menunjukkan keterbatasan operasi yang berulang, yaitu firing liquor belum mampu mencapai target ?40 L/s secara konsisten, pressure drop total masih berada di atas target <3 bar, dan beban pompa relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kendala sistem tidak hanya berasal dari kapasitas pompa, tetapi merupakan gabungan dari faktor termo-hidrodinamika yang meliputi temperatur operasi, kadar dry solids, viskositas tampak, densitas, rugi gesek pipa, rugi minor akibat fitting dan valve, potensi fouling, serta distribusi aliran menuju liquor gun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan mengoptimasi sistem transfer black liquor dari header tank menuju header furnace dan liquor gun agar sistem dapat diarahkan menuju target firing liquor ?40 L/s pada pressure drop total 3 bar dengan beban pompa tetap berada pada batas aman. Pendekatan penelitian dilakukan melalui akuisisi dan validasi data operasi, evaluasi kinerja sebelum dan sesudah pemasangan direct heater, pemodelan reologi operasional black liquor berbasis model power-law, analisis hidrolika pipa non-Newtonian menggunakan pendekatan Darcy-Weisbach dan generalized Reynolds number Metzner-Reed, evaluasi neraca massa-energi untuk membandingkan DSI dan direct heater, analisis distribusi aliran liquor gun, serta estimasi awal dampak energi dan tekno-ekonomi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan direct heater memberikan perbaikan nyata terhadap sistem transfer black liquor. Pada kondisi operasi pasca-direct heater yang memenuhi target kapasitas, firing liquor meningkat dari 33,08 L/s menjadi 40,55 L/s, sehingga target ?40 L/s telah tercapai. Pada saat yang sama, pressure drop total menurun dari 8,49 bar menjadi 5,47 bar, sedangkan arus pompa rata-rata turun dari 123,12 A menjadi 101,46 A. Dry solids efektif tetap terjaga dari 80,47% menjadi 81,28%, sehingga direct heater tidak menyebabkan dilusi sebagaimana terjadi pada DSI. Dengan demikian, direct heater memberikan keuntungan proses karena dapat menaikkan temperatur dan menurunkan viskositas tanpa menambahkan massa kondensat ke dalam black liquor. Analisis reologi menunjukkan bahwa black liquor pada rentang temperatur operasi yang dianalisis memiliki perilaku shear-thinning dengan indeks alir sebesar 0,817-0,864 pada temperatur 140,5-141,5 °C. Penurunan viskositas tampak akibat kenaikan temperatur berkontribusi terhadap penurunan rugi tekanan dan beban pompa. Distribusi aliran liquor gun juga membaik setelah penggunaan direct heater, ditunjukkan oleh penurunan koefisien variasi distribusi dari 15,8% menjadi 6,6%. Perbaikan distribusi ini penting karena aliran yang lebih seimbang dapat mendukung atomisasi, stabilitas firing, dan keseragaman pembakaran di furnace. Estimasi awal dampak energi menunjukkan bahwa hydraulic power turun dari 28,08 kW menjadi 22,18 kW, atau berkurang sekitar 5,90 kW meskipun debit firing liquor meningkat. Hasil ini mengindikasikan bahwa direct heater tidak hanya menyelesaikan keterbatasan kapasitas, tetapi juga memperbaiki efisiensi hidrolika sistem. Namun, target pressure drop total ?3 bar belum tercapai karena pressure drop masih berada pada sekitar 5,47 bar. Oleh karena itu, optimasi lanjutan perlu difokuskan pada audit pressure drop per segmen, cleaning dan inspeksi fouling, pengurangan rugi minor, evaluasi valve restriction, balancing liquor gun, validasi kurva sistem-pompa, evaluasi NPSH, serta penyusunan techno-economic assessment lengkap. Penelitian ini memberikan kerangka evaluasi terpadu untuk menghubungkan reologi black liquor, hidrolika jaringan pipa, metode pemanasan, distribusi liquor gun, dan batas keandalan pompa sebagai dasar pengambilan keputusan teknis pada sistem recovery boiler.
PENGARUH ASPEK NON KOGNITIF TERHADAP KINERJA BELAJAR SISWA UNTUK MATEMATIKA DI SEKOLAH SMA X
Penelitian ini menguji hubungan antara faktor nonkognitif dengan prestasi belajar matematika pada topik persamaan kuadrat dan statistika di SMA berbasis militerdi Cimahi, Indonesia. Penelitian menggunakan desain korelasional kuantitatif dengan 50 siswa (78% laki-laki, 22% perempuan). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari 44 butir pertanyaan yang mencakup empat aspek: sikap terhadap matematika, konteks kelas, sumber daya pendidikan di rumah, dan iklim sekolah. Prestasi belajar matematika diukur menggunakan nilai rapor yang dikategorikan ke dalam empat level performa (L1-L4). Analisis korespondensi (AK), diagram terner, dan dekomposisi nilai singular (DNS) mengungkapkan pola yang spesifik terhadap topik. Untuk persamaan kuadrat, sikap terhadap matematika menunjukkan hubungan terkuat (nilai ?????????????????????????=0,002), diikuti oleh konteks kelas (nilai ?????????????????????????=0,017). Siswa berprestasi tinggi (L4) menunjukkan sikap positif dan persepsi kejelasan instruksional yang lebih baik. Sebaliknya, siswa berprestasi rendah (L1) menunjukkan sikap negatif dan perilaku tidak tertib di kelas. Untuk statistika, sumber daya pendidikan di rumah (nilai ?????????????????????????=0,001) dan konteks kelas (nilai ?????????????????????????=0,001) paling dominan. Sementara itu, sikap terhadap matematika menunjukkan hubungan sedang (nilai ?????????????????????????=0,029). Iklim sekolah tidak signifikan pada kedua topik (nilai ?????????????????????????>0,05). Hal ini mengindikasikan persepsi yang homogen di lingkungan sekolah berasrama dengan disiplin tinggi. Temuan ini menentang generalisasi hasil TIMSS mengenai ikllim sekolah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengaruh nonkognitif bersifat spesifik terhadap topik dan konteks. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pembelajaran yang berbeda.