📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenANALISIS AKSESIBILITAS KEGIATAN PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN TRADE-OFF WAKTU DAN BIAYA TRANSPORTASI RIDE-HAILING DAN TRANSIT
Kota Bandung merupakan kota inti di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang memiliki konsentrasi kegiatan perkotaan tinggi, tekanan mobilitas besar, serta persoalan kemacetan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas perkotaan. Di sisi lain, layanan ride-hailing berkembang sebagai alternatif mobilitas yang fleksibel karena mampu melayani perjalanan secara point-to-point tanpa bergantung pada rute dan halte tetap. Namun, fleksibilitas tersebut diikuti oleh konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan transit. Oleh karena itu, aksesibilitas kegiatan perkotaan tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan waktu tempuh, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai hambatan akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung berdasarkan trade-off antara waktu tempuh dan biaya perjalanan pada moda ride-hailing dan transit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan metode accessibility-based planning. Unit analisis yang digunakan adalah grid heksagonal H3 resolusi 9 yang mencakup wilayah Kota Bandung. Opportunity kegiatan perkotaan direpresentasikan melalui Point of interest yang diklasifikasikan dan diagregasikan ke dalam setiap grid. Moda transit dalam penelitian ini dibatasi pada layanan TMP, TMB, dan DAMRI, sedangkan ride-hailing dimodelkan sebagai layanan sepeda motor berbasis aplikasi dengan estimasi biaya mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 untuk Zona I. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis trade-off waktu-biaya menggunakan distribusi perjalanan dan Pareto Surface, analisis ketercapaian opportunity berdasarkan skenario waktu-biaya, serta analisis ketimpangan spasial antar moda menggunakan Modal Accessibility Gap dan tipologi ketimpangan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ride-hailing memiliki waktu tempuh yang lebih rendah dibandingkan transit. Rata-rata waktu tempuh ride-hailing adalah 31iv menit dengan median 32 menit, sedangkan transit memiliki rata-rata waktu tempuh 60 menit dengan median 64 menit. Namun, keunggulan waktu ride-hailing diikuti oleh biaya yang jauh lebih tinggi. Biaya transit dalam model bersifat tetap sebesar Rp9.000, sedangkan rata-rata biaya ride-hailing mencapai Rp38.493. Hasil Pareto Surface menunjukkan bahwa transit lebih dipengaruhi oleh batas waktu, sedangkan ride-hailing lebih responsif terhadap kombinasi batas waktu dan biaya. Pada skenario perjalanan menengah, yaitu 60 menit dan Rp40.000, aksesibilitas transit mencapai 12,30%, sedangkan ride-hailing mencapai 38,25%. Pada skenario perjalanan jauh dalam batas maksimum analisis, yaitu 90 menit dan Rp60.000, aksesibilitas transit meningkat menjadi 26,29%, sedangkan ride-hailing mencapai 68,23%. Secara spasial, ketercapaian opportunity tertinggi terkonsentrasi di kawasan pusat dan barat-tengah Kota Bandung, seperti Bandung Wetan, Sumur Bandung, Coblong, Sukajadi, Lengkong, dan Cibeunying Kaler. Sebaliknya, wilayah timur dan tenggara seperti Cibiru, Ujungberung, Panyileukan, Cinambo, Gedebage, Rancasari, dan Arcamanik menunjukkan ketercapaian opportunity yang rendah pada kedua moda. Analisis keterjangkauan berbasis UMK menunjukkan bahwa transit lebih terjangkau secara biaya karena seluruh perjalanan berada di bawah threshold 10% UMK, sedangkan ride-hailing baru menjadi lebih terjangkau pada threshold 30% hingga 40% UMK. Analisis Modal Accessibility Gap menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki nilai positif, yang berarti aksesibilitas ride-hailing lebih tinggi dibandingkan transit. Namun, tipologi ketimpangan menunjukkan bahwa dominasi ride-hailing tidak selalu berarti aksesibilitas absolut yang tinggi, karena beberapa wilayah pinggiran tetap masuk kategori aksesibilitas rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung dibentuk oleh interaksi antara distribusi opportunity, struktur jaringan transit, fleksibilitas ride-hailing, waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kemampuan membayar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan analisis aksesibilitas berbasis opportunity yang secara simultan mempertimbangkan waktu dan biaya perjalanan dalam membandingkan ride-hailing dan transit. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perencanaan transportasi yang lebih berorientasi pada aksesibilitas, keterjangkauan, dan pengurangan ketimpangan spasial.
PERANCANGAN SISTEM GRAFIS DAN SPASIAL INSTALASI PENERJEMAHAN AROMA PARFUM BERBASIS TEORI CROSS-MODAL CORRESPONDENCES SEBAGAI BRAND ACTIVATION EARTHORA
Generasi Z pada era digital memiliki pola konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media daring, sehingga proses interaksi terhadap produk semakin didominasi oleh pengalaman visual pasif, terutama pada produk berbasis sensori seperti parfum. Kondisi ini menimbulkan tantangan signifikan bagi industri parfum karena hilangnya pengalaman penciuman sebagai elemen utama dalam pengambilan keputusan konsumen pada platform daring. Dengan mengambil studi kasus pada brand Earthora, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem visual dan spasial dalam bentuk instalasi fisik multisensori yang mampu menjembatani kesenjangan antara persepsi maya dan pengalaman aroma secara nyata. Pendekatan yang digunakan adalah cross-modal correspondences, yaitu metode penerjemahan stimulus aroma ke dalam elemen visual, material, cahaya, serta tata ruang, yang dikombinasikan dengan prinsip pemasaran eksperiental dan sensorik. Melalui pendekatan ini, perancangan diharapkan dapat mentransformasi pengalaman konsumen dari sekadar konsumsi pasif menjadi interaksi yang lebih aktif, imersif, dan bermakna. Hasil akhir dari perancangan ini diharapkan mampu menghadirkan representasi fisik yang akurat terhadap narasi aroma Earthora, sehingga pengunjung dapat membangun koneksi emosional yang autentik serta memperoleh pemahaman produk dan identitas brand secara lebih mendalam.
EKSPERIMEN NARASI VISUAL DALAM PENGALAMAN INTERAKTIF PERFORMA MUSIK MY CHEMICAL ROMANCE MELALUI VIRTUAL REALITY
Menikmati musik merupakan pengalaman yang terus berkembang seiring perubahan format dan medium yang tersedia. Dari rekaman audio hingga pertunjukan langsung, setiap format menawarkan bentuk kedekatan yang berbeda antara audiens dan musik yang mereka apresiasi. Keduanya memiliki keterbatasan mendasar, rekaman kehilangan dimensi kehadiran, sementara konser tidak dapat diakses secara universal. Perancangan ini mengusulkan cara baru dalam menikmati musik melalui pengalaman Virtual Reality (VR) 360° berbasis performa My Chemical Romance (MCR). MCR dipilih karena memiliki identitas visual yang kuat, karakter musikal yang teatrikal, dan narasi konseptual yang distingtif per era album, sehingga berpotensi untuk diterjemahkan ke dalam ruang tiga dimensi yang imersif. Perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond dengan pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara ahli dan penggemar, serta observasi media sejenis dan objek perancangan. Kerangka analisis utama yang digunakan adalah teori Remediasi (Bolter & Grusin, 1999), yang menjelaskan bagaimana VR meremediasi video musik dan pertunjukan live MCR melalui dua logika simultan: immediacy yang menghadirkan rasa kehadiran langsung, dan hypermediacy yang mempertegas sifat ekspresif medium digital. Analisis diperkuat dengan Oniontology of Musical Performance (Mazzola, 2011), teori naratif pertunjukan (Sommer, 2005), dan kerangka IARR (Dasovich-Wilson et al., 2022). Hasil perancangan berupa prototipe VR 360° stereoscopic yang menghadirkan tiga ruang virtual dengan atmosfer emosional, keterlibatan naratif, dan representasi performatif yang tidak dapat dihadirkan oleh medium dua dimensi manapun.
ESTIMATION OF JOINT ANGLES OF THE UPPER EXTREMITY USING MACHINE LEARNING AND EMG SIGNALS
Musculoskeletal disorders are among the leading causes of disability worldwide and often affect the functionality of the upper extremity. Monitoring joint angles is important for understanding human movement, rehabilitation, and biomechanical analysis. Conventional measurement methods such as optical motion capture systems provide accurate results but require expensive equipment and controlled laboratory environments. Surface electromyography (sEMG) offers a more accessible alternative because muscle activation signals contain information related to joint movement. Therefore, this study aims to estimate the joint angles of the upper extremity using sEMG signals combined with machine learning techniques. The research methodology involves collecting sEMG and motion capture data from approximately ten participants performing several upper extremity movements, including elbow flexion–extension, shoulder flexion–extension, shoulder hyperextension, and composite movements. sEMG signals are processed through filtering, rectification, and envelope extraction, while joint angle data are obtained from optical motion capture recordings processed using OpenSim inverse kinematics. The processed data are then used to train a Long Short- Term Memory (LSTM) machine learning model to learn the relationship between muscle activation patterns and joint angles. The results show that the machine learning model can estimate upper extremity joint angles from sEMG signals, particularly when the predicted joint is actively involved in the movement. Composite movements produce better prediction performance due to stronger and more consistent muscle activation patterns. However, the model performance decreases when predicting joints not directly involved in the movement and when tested on participants outside the training dataset. These findings indicate that sEMG-based joint angle estimation using machine learning is feasible but requires further improvements in data diversity and model generalization.
PENGARUH KOMBINASI PERLAKUAN OZONASI DAN ENZIM LAKASE KASAR MARASMIELLUS PALMIVORUS TERHADAP DEKOLORISASI DAN DETOKSIFIKASI PEWARNA SINTETIK ANTRAKUINON REMAZOL BLUE RSP
Pencemaran limbah pewarna sintetik dari industri tekstil menjadi permasalahan yang serius akibat tingginya stabilitas pewarna serta potensi toksisitasnya. Pewarna sintetik antrakuinon seperti Remazol Blue RSP (RB RSP) banyak digunakan dalam industri tekstil dan dikenal memiliki struktur aromatik kompleks yang menyebabkan resistensi terhadap degradasi. Resistensi ini berpotensi menyebabkan penumpukan senyawa pada lingkungan dan bersifat toksik bagi makhluk hidup. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan metode pengolahan limbah pewarna. Metode fisik paling umum digunakan namun memerlukan pengolahan lanjutan yang memakan biaya. Metode kimia menghasilkan efektivitas dekolorisasi yang tinggi, namun memiliki risiko memproduksi senyawa antara yang toksik. Metode biologis dinilai ramah lingkungan, namun efektivitasnya sangat bergantung terhadap struktur substrat serta kondisi reaksi. Ozonasi sebagai bagian dari metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) efektif dalam mendekolorisasi pewarna dengan mendegradasi gugus kromofor, namun menyisakan toksisitas yang tinggi karena mineralisasi yang tidak tuntas. Di sisi lain, penggunaan enzim lakase dapat mendegradasi senyawa aromatik namun efektivitasnya terbatas akibat kondisi reaksi yang tidak optimum. Keterbatasan dari tiap metode mendorong pengembangan metode kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar dari Marasmiellus palmivorus dalam meningkatkan dekolorisasi serta menurunkan toksisitas pewarna antrakuinon RB RSP. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tiga metode pengolahan, yaitu ozonasi, enzimatik, dan kombinasi keduanya. Parameter yang dianalisis meliputi persentase dekolorisasi berdasarkan perubahan absorbansi, serta tingkat toksisitas menggunakan uji LC?? terhadap Daphnia magna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kombinasi menghasilkan dekolorisasi tertinggi sebesar 98,8% ± 2,4, meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan dengan ozonasi tunggal (96,4% ± 5,4), sedangkan metode enzimatik hanya mencapai 22,6% ± 0,5. Namun, hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa metode kombinasi memberikan peningkatan detoksifikasi yang lebih baik dibandingkan metode tunggal, ditunjukkan oleh peningkatan nilai LC?? yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ozonasi efektif dalam memutus gugus kromofor (penghilangan warna), peran enzim lakase sangat krusial dalam mendegradasi senyawa antara (intermediate) yang masih bersifat toksik. Maka dari itu kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar berpotensi menjadi strategi pengolahan limbah pewarna yang lebih efektif, tidak hanya dalam mencapai dekolorisasi yang tinggi tetapi juga dalam memastikan detoksifikasi limbah secara lebih menyeluruh.
PENILAIAN KUALITAS VEGETASI RIPARIAN MENGGUNAKAN INTEGRASI INDEKS QBR DAN ANALISIS SPASIAL SUNGAI CIKERUH KABUPATEN SUMEDANG DAN BANDUNG, JAWA BARAT
Kabupaten Bandung telah beberapa kali terjadi bencana banjir, yang disebabkan sungai sudah tidak mampu menampung air yang datang. Kondisi ini mendorong untuk melihat kondisi ekologi di area Sungai Cikeruh. Sungai Cikeruh mengalir di dua daerah yaitu Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang berperan dalam mendukung fungsi ekologi dan hidrologinya. Tujuan penelitian untuk menilai kualitas vegetasi riparian Sungai Cikeruh berdasarkan indeks QBR (Qualitat del Bosc de Ribera) dengan indikator total cover, cover structure, cover quality vegetasi dan channel alteration pada zona riparian. Penilaian dilakukan dengan mengobservasi zona riparian Sungai Cikeruh. Metode QBR-GIS digunakan dengan menggunakan parameter penginderaan jauh Normalized Difference Vegetation Index, Soil Adjusted Vegetation Index, Canopy Height Model, slope, dan Normalized Difference Built-up Index. Pemilihan lokasi dilakukan menggunakan metode stratified random sampling untuk menggambarkan variasi kondisi lingkungan sepanjang aliran sungai. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kondisi kualitas vegetasi riparian yang jelas antara bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Cikeruh, baik berdasarkan analisis lapangan maupun spasial. Pada bagian hulu nilai QBR lapangan sebesar 100, 100, dan 55 yang termasuk dalam kategori natural hingga fair. Pada bagian tengah Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian menunjukkan variasi yang lebih tinggi dengan nilai QBR lapangan sebesar 55 (fair), 75 (good), dan 23.32 (bad). Sementara itu, pada bagian hilir Sungai Cikeruh, kondisi vegetasi riparian mengalami degradasi yang signifikan dengan nilai QBR lapangan sebesar 30, 35, dan 30 yang seluruhnya berada dalam kategori poor. Secara hidrologi, kondisi ini berdampak pada meningkatnya kekeruhan air, fluktuasi debit yang lebih tinggi, serta peningkatan frekuensi banjir, terutama pada hilir Sungai Cikeruh yang berada pada Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas vegetasi riparian di Sungai Cikeruh mengalami gradasi yang sistematis dari hulu ke hilir sebagai respons terhadap intensitas tekanan antropogenik. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya tekanan aktivitas manusia. Hasil analisis QBR berbasis GIS konsisten dengan data lapangan, menunjukkan bahwa parameter spasial (NDVI, SAVI, CHM, slope, NDBI) efektif dalam merepresentasikan kondisi biotik riparian secara cepat dalam skala luas. Terdapat hubungan yang kuat antara nilai QBR dengan kondisi hidrologi, dimana QBR dengan nilai tinggi memiliki kondisi hidrologi lebih baik, sedangkan QBR dengan nilai rendah memiliki kondisi hidrologi kurang baik.
PERANCANGAN WEBTOON MENGENAI SELF ACCEPTANCE MELALUI KISAH TRAUMA BODY SHAMING UNTUK WANITA EMERGING ADULTHOOD
Perancangan ini bertujuan mengembangkan Webtoon yang mengangkat isu self acceptance melalui representasi pengalaman trauma body shaming pada perempuan emerging adulthood. Fenomena body shaming masih menjadi masalah yang berdampak pada citra tubuh, harga diri, dan kesehatan mental perempuan usia 18–25 tahun yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan rentan terhadap tekanan standar kecantikan. Metode penelitian menggunakan metode Double Diamond (Design Council, 2005) meliputi studi pustaka, wawancara dengan psikolog dan kreator Webtoon profesional, serta penyebaran kuesioner kepada perempuan emerging adulthood. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body shaming dapat muncul dalam bentuk ejekan maupun sindiran halus yang memengaruhi kepercayaan diri dan penerimaan diri, sementara media sosial berperan dalam memperkuat tekanan terhadap penampilan fisik. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang Webtoon berjudul My Perfect Frame yang terdiri atas empat episode dengan strategi komunikasi Narrative Persuasion melalui pendekatan emosional dan dukungan sosial. Visual Webtoon menggunakan gaya ilustrasi semi-realis dengan penekanan pada ekspresi karakter dan suasana emosional untuk mendukung penyampaian pesan. Setelah dipublikasikan pada platform Webtoon, karya memperoleh tanggapan positif dari pembaca yang menunjukkan relevansi tema dan keterhubungan terhadap pengalaman yang disajikan. Perancangan ini diharapkan menjadi media edukatif yang reflektif dan empatik dalam mendorong penerimaan diri serta meningkatkan kesadaran terhadap dampak body shaming.
MR-FLOWS: SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI UNTUK MITIGASI LUAPAN BANJIR DI DAS MAJALAYA
Banjir merupakan bencana tahunan yang kerap melanda wilayah Majalaya, Jawa Barat. Saat ini, informasi curah hujan dan tinggi muka air (TMA) masih disampaikan melalui grup WhatsApp, sehingga sulit dipahami masyarakat. Purwarupa ini bertujuan mengembangkan MR-FLOWS (Majalaya River Flood Warning System), sebuah sistem informasi terintegrasi berbasis website untuk mitigasi luapan banjir di DAS Majalaya yang dapat diakses publik melalui https://mrflows.my.id. Sistem dibangun menggunakan kerangka kerja FastAPI (backend) dan React (frontend) dengan basis data PostgreSQL. Data observasi curah hujan dari enam stasiun dan TMA dari stasiun Majalaya periode Januari 2023–Mei 2026 diproses melalui kontrol kualitas dan imputasi nilai hilang. Eksperimen pemodelan membandingkan Linear Regression, Ridge, Lasso, dan XGBoost untuk prediksi TMA. Interval waktu optimal adalah 10 menit (R²=0,935). Strategi rekayasa fitur terbaik (Lag kemudian Rolling) menghasilkan fitur yang mencakup lag spesifik tiap stasiun (120–190 menit) serta fitur autoregresif (tma_lag1) dan interaksi antar stasiun. Model XGBoost mencapai kinerja terbaik (R² Uji=0,9531, RMSE=0,0825 m, MAE=0,0209 m) dengan fitur paling dominan adalah tma_lag1 serta akumulasi curah hujan dari stasiun Cikitu dan Ibun. Sistem menyajikan peta interaktif, status siaga dengan indikator warna, prediksi TMA hingga 12 jam, serta notifikasi Telegram otomatis. Pengujian fungsional menunjukkan seluruh fitur berjalan baik. Kegiatan diseminasi pada 3 Mei 2026 di Majalaya memperoleh umpan balik positif dari masyarakat. Purwarupa ini berhasil menyediakan platform informasi terstruktur yang membantu kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi banjir.
PENENTUAN SUKU BUNGA OPTIMALUNTUK STABILITAS KEUANGAN INDONESIA BERBASIS SISTEM KONTROL FUZZY
Suku bunga optimal merupakan instrumen utama bank sentral dalam menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung stabilitas keuangan secara keseluruhan. Tugas Akhir ini mengusulkan pendekatan penentuan suku bunga optimal yang mengintegrasikan sistem inferensi fuzzy Tsukamoto, kerangka kebijakan moneter New Keynesian, serta metode kontrol optimal Linear Quadratic Regulator (LQR) dalam sistem ruang keadaan dinamis untuk periode Januari 2022 hingga Desember 2024. Tugas Akhir ini membahas tiga permasalahan utama yaitu pembangunan model fuzzy Tsukamoto untuk prediksi inflasi yang memanfaatkan hubungan antara pertumbuhan kredit dan inflasi inti, pemilihan aturan kebijakan moneter New Keynesian untuk merekomendasikan suku bunga dengan fungsi kerugian bank sentral terendah, serta perancangan sistem kontrol optimal yang mampu mengarahkan variabel makroekonomi menuju target secara efisien dan stabil. Selanjutnya, akan dievaluasi ketiga aturan kebijakan moneter, yaitu Aturan Taylor, Aturan Fisherian, dan Aturan Lean-Against-the-Wind, yang menghasilkan suku bunga rekomendasi pada berbagai skenario perekonomian Indonesia. Aturan kebijakan terpilih dijadikan target dalam perancangan sistem ruang keadaan dinamis yang dikendalikan menggunakan LQR. Performa sistem loop tertutup dengan kontrol LQR kemudian dibandingkan dengan sistem tanpa kontrol menggunakan fungsi biaya sebagai metrik utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerangka kebijakan moneter yang adaptif terhadap ketidakpastian memberikan rekomendasi suku bunga optimal bagi Bank Indonesia yang mendukung pencapaian stabilitas harga dan keuangan di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks.
PENGEMBANGAN SISTEM PREDIKSI BANJIR DAN ESTIMASI KERUGIAN EKONOMI BERBASIS COUPLED MODEL WRF/WRF-HYDRO DAN MACHINE LEARNING DI KAWASAN BALEENDAH
Kawasan Baleendah di DAS Citarum Hulu merupakan salah satu titik banjir paling kronis di Indonesia, dengan 14 kejadian banjir dan lebih dari 61.000 jiwa terdampak pada 2024. Pekerjaan ini mengembangkan kerangka sistem prediksi banjir end-to end yang mengintegrasikan model atmosfer WRF untuk menghasilkan curah hujan, model hidrologi WRF-Hydro untuk menghasilkan debit sungai, dan surrogate model berbasis machine learning (ML) untuk memetakan kedalaman rendaman, diakhiri estimasi kerugian ekonomi multisektoral (Expected Damage/ED). Dari sepuluh skenario parameterisasi, skema WSM3-KF-ACM2 terpilih sebagai konfigurasi WRF terbaik (RMSE kalibrasi 1,60 mm/jam; validasi 2,58 mm/jam). Konfigurasi ini menjadi forcing bagi WRF-Hydro yang dikalibrasi melalui 54 kombinasi parameter menggunakan NSE* (NSE terkoreksi cross-correlation lag), menghasilkan NSE* 0,711 (kalibrasi) dan 0,481 (validasi). Dekomposisi galat pewaktuan mengungkap lag intrinsik WRF-Hydro (~3–6 jam) sebagai komponen dominan dibanding keterlambatan presipitasi WRF. Surrogate model ElasticNet Polynomial yang dilatih pada 14 skenario HEC-RAS 2D menghasilkan rata-rata RMSE 0,043 m dan F1-score 0,969 berdasarkan uji Leave-One-Out Cross Validation. Pada validasi operasional, model mencapai RMSE 0,062 m (F1-score 0,990) pada kasus berdebit puncak mendekati Q1 dan 0,241 m (F1-score 0,981) pada kasus berdebit puncak mendekati Q100 dengan input FNL. Durasi pemetaan genangan tereduksi dari 3.429 detik menjadi 0,003 detik per prediksi, meskipun lead-time total sistem (~12 jam) tetap didominasi komputasi hulu. Estimasi ED mencapai Rp605,31 miliar (galat ?9,15%, FNL) dan Rp548,97 miliar (?17,61%, GFS) pada kasus mendekati Q100, serta Rp367,05 miliar (?5,39%) pada kasus mendekati Q1. Galat di bawah 20% menegaskan keandalan sistem untuk peringatan dini near real-time.
STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PEMANFAATAN GELEMBUNG MIKRO DAN NANO SEBAGAI ADITIF DEXLITE (B35) TERHADAP PRESTASI KERJA MESIN DIESEL
Proyeksi peningkatan produksi dan konsumsi biodiesel di Indonesia pada 2030–2050 mencerminkan peran strategisnya dalam mencapai target emisi nol bersih. Di sisi penawaran, kebijakan pembangunan infrastruktur dan penerapan campuran B40–B50 mendukung proyeksi peningkatan produksi biodiesel. Sementara itu, konsumsi biodiesel pada sektor transportasi terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Namun, biodiesel memiliki kelemahan utama: nilai kalornya lebih rendah daripada nilai kalor diesel. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai kalor Dexlite dan prestasi kerja mesin diesel yang mengonsumsinya melalui penambahan gelembung mikro dan nano (GMN). Pendekatan ini didasarkan pada Nakatake et al. (2013) dan Oh et al. (2013) yang melaporkan peningkatan prestasi kerja mesin diesel dan bensin melalui penambahan GMN. Selain itu, penelitian ini merupakan salah satu studi awal yang mengoptimasi parameter pembangkitan GMN dalam Dexlite dan menentukan pengaruh penambahannya terhadap nilai kalor Dexlite. Berdasarkan penelitian ini, durasi pembangkitan GMN dan kecepatan aliran Dexlite optimal untuk GMN oksigen adalah 10 menit dan 30 liter per menit, sedangkan untuk GMN hidrogen adalah 8,73 menit dan 29,95 liter per menit. Penambahan GMN oksigen dan GMN hidrogen pada parameter pembangkitan optimal meningkatkan nilai kalor Dexlite sebesar 2,74% dan 4,77%. Sementara itu, efisiensi termal mesin diesel yang mengonsumsi Dexlite dengan GMN menunjukkan peningkatan rata-rata 0,60% dan 4,77% untuk oksigen dan hidrogen secara berturut-turut. Pengujian prestasi kerja mesin diesel dilakukan tanpa replikasi karena keterbatasan jumlah sampel sehingga pengaruh pendekatan ini belum dapat dikonfirmasi secara statistik. Namun, kecenderungan yang diamati menunjukkan potensi pendekatan ini sehingga layak untuk dikembangkan, khususnya melalui pengendalian gas terlarut dalam bahan bakar.
VARIABILITAS MIXED LAYER DEPTH DAN OKSIGEN TERLARUT DI TELUK TOMINI
Pemanasan global menyebabkan kenaikan suhu permukaan laut yang berdampak pada penguatan stratifikasi termal dan perubahan Mixed Layer Depth (MLD), yang secara langsung dapat memengaruhi distribusi Dissolved Oxygen (DO) di kolom air. Teluk Tomini sebagai perairan semi-tertutup di bagian timur Indonesia dipengaruhi oleh sistem monsun dan pertukaran massa air dengan Laut Maluku, namun kajian komprehensif mengenai variabilitas MLD dan DO di wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variasi spasial dan temporal MLD serta DO, sekaligus menganalisis hubungan dinamika MLD terhadap distribusi DO di Teluk Tomini selama periode 1993–2024. Data MLD diperoleh dari perhitungan menggunakan ambang batas suhu ?T ? 0,2°C dari suhu di kedalaman referensi 10 meter. Analisis temporal MLD dan DO mencakup perhitungan tren, FFT, dan Cross-Correlation Function (CCF) terhadap indeks ENSO. Hasil menunjukkan MLD berfluktuasi antara 15–50 meter dengan tren penipisan -0,1832 m/tahun seiring kenaikan suhu permukaan laut +0,0198°C/tahun. MLD terdalam dijumpai pada musim barat (hingga 36 meter) akibat penguatan wind-driven mixing, sedangkan MLD terdangkal (<20 meter) terjadi pada musim peralihan II. Monsun mendominasi variabilitas MLD pada periode 0,25 dan 0,5 tahun, sementara ENSO memengaruhi MLD dengan lag waktu sekitar 1 bulan (r = -0,44). Variabilitas DO di kedalaman MLD relatif homogen sepanjang tahun (6,42– 6,58 mg/L). Analisis tren menunjukkan adanya peningkatan DO sebesar 0,0007 mg/L per tahun, namun besarnya peningkatan tersebut sangat kecil sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan secara ekologis. Pengaruh ENSO terhadap DO lebih lemah (r = -0,23) dibanding terhadap MLD, karena DO juga dikontrol oleh proses biologis dan kimiawi yang memiliki dinamikanya sendiri. Dinamika MLD berpengaruh signifikan terhadap distribusi vertikal DO, namun kondisi DO di lapisan campuran tetap stabil dan berkualitas baik sepanjang tiga dekade pengamatan. Tren penipisan MLD jangka panjang akibat pemanasan global perlu terus dipantau karena berpotensi dalam membatasi distribusi oksigen ke lapisan lebih dalam sehingga dapat berdampak pada produktivitas dan kesehatan ekosistem Teluk Tomini di masa mendatang.
BIODEGRADASI MIKROPLASTIK POLYETHYLENE (PE) OLEH YEAST YANG DIISOLASI DARI KAWASAN PANTAI DI SURABAYA DAN BANYUWANGI, JAWA TIMUR
Pencemaran mikroplastik (MP) pada lingkungan laut, terutama kawasan pantai, telah menjadi perhatian besar dalam beberapa tahun terakhir. Polyethylene (PE) merupakan salah satu sumber utama cemaran MP di lingkungan laut. Yeast ditemukan pada permukaan plastik dan menjadi bagian dari komunitas mikroba yang dapat hidup pada lingkungan tersebut atau dikenal sebagai plastisfer. Hingga saat ini, peran yeast sebagai penyusun plastisfer dalam mendegradasi MP PE belum banyak diungkap. Penelitian bertujuan untuk: (i) menyelidiki kemampuan isolat yeast dalam mendegradasi MP PE berdasarkan uji penapisan; (ii) menyelidiki kemampuan yeast dalam mendegradasi PE berdasarkan penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut; dan (iii) mengidentifikasi peran spesies yeast terbaik dalam biodegradasi PE pada kondisi plastisfer air laut. Penelitian ini menggunakan pendekatan berbasis karakteristik fungsional, molekuler, dan genomik untuk mengkaji kemampuan, model dan pathway biodegradasi PE oleh yeast. Hasil uji penapisan menunjukkan bahwa semua isolat yeast mampu mendegradasi MP PE pada medium cair, dengan persentase penurunan berat kering tertinggi dicapai oleh isolat M6.0.2 dengan nilai sebesar 0,4923±0,1870% pada waktu inkubasi 10 hari. Berdasarkan analisis Scanning Electron Microscope (SEM) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menunjukkan perubahan topografi permukaan serta pembentukan gugus teroksidasi pada PE yang mengindikasikan terjadinya proses degradasi PE. Berdasarkan hasil analisis BLAST dan konstruksi pohon filogenetik, isolat M6.0.2, K3.1.2, BI.4.1.1, M5.0.1, M5.0.3, dan M6.0.1 masing-masing diidentifikasi sebagai Meyerozyma carpophila, Rhodotorula mucilaginosa, Rhodotorula mucilaginosa, Candida tropicalis, Crinitomyces flavificans, dan Moesziomyces antarcticus. Lima isolat terpilih berdasarkan nilai degradasi tertinggi dan ketahanan terhadap salinitas dilanjutkan pada tahap uji plastisfer air laut. Hasil uji penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut non-steril menunjukkan bahwa kokultur lima spesies yeast mampu mendegradasi PE, dengan degradasi tertinggi sebesar 1,61 ± 0,20% dicapai pada jam ke-72 (hari ke-3), yang menunjukkan bahwa yeast dapat berperan sebagai bagian aktif di fase awal inkubasi dari komunitas plastisfer alami. Dominasi Meyerozyma carpophila M6.0.2 dan Candida tropicalis M5.0.1 pada fase planktonik dan biofilm mengindikasikan peran penting kedua spesies tersebut dalam proses kolonisasi dan tahap awal degradasi PE. Perubahan topografi PE serta pembentukan puncak baru mengonfirmasi bahwa proses degradasi telah berlangsung secara cepat pada awal inkubasi dengan pembentukan produk polar dari proses oksidasi, seperti alkohol. Hasil uji penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut steril dengan kosubstrat, degradasi MP PE tetap berlangsung meskipun pada tingkat yang lebih rendah (0,57 ± 0,28%), dengan dominasi Meyerozyma carpophila M6.0.2. Pengujian peran Meyerozyma carpophila M6.0.2 secara tunggal pada kondisi plastisfer air laut menunjukkan bahwa spesies ini mampu mendegradasi PE secara mandiri, dengan capaian persentase degradasi sebesar 0,69± 0,16% atau mampu mencapai sekitar 46% dari tingkat degradasi yang diperoleh pada kondisi plastisfer air laut non-steril. Tahap biofragmentasi berlangsung dominan pada fase awal inkubasi, yang dibuktikan dari tingginya laju degradasi pada hari ke-0 hingga hari ke-4, sedangkan pada periode selanjutnya (hari ke-4 hingga hari ke-10) proses biodegradasi dominan pada fase bioasimilasi. Analisis FTIR dan SEM mengonfirmasi terjadinya degradasi PE melalui perubahan intensitas transmitansi dan kerusakan permukaan PE. Profil metabolik Meyerozyma carpophila M6.0.2 berdasarkan uji Biolog EcoPlate™ menunjukkan bahwa di tahap awal degradasi (hari ke-2 hingga hari ke-4), sel cenderung mensintesis senyawa osmoprotektan dan sumber karbon cepat untuk mengaktifkan serangkaian jalur oksidasi lipid serta degradasi asam lemak, siklus glioksilat dan glukoneogenesis hingga dihasilkan glukosa. Seiring pematangan biofilm (sekitar hari ke-10), terjadi peningkatan kebutuhan energi untuk pembelahan sel dan pembentukan biofilm. Analisis LCHRMS mengonfirmasi terbentuknya berbagai senyawa yang diduga merupakan produk antara dan turunan yang menguatkan dugaan keterlibatan jalur oksidasi alkana dan asam lemak dalam proses degradasi PE. Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) menunjukkan bahwa genom M6.0.2 memiliki gen pengkode enzim yang berkaitan dengan degradasi PE, termasuk lakase, peroksidase, Cytochrome P450 52A13; Cytochrome P450 52A12, alkohol oksidase, alkohol dehidrogenase, aldehida dehidrogenase, lipase, dan esterase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meyerozyma carpophila M6.0.2 prospektif dikembangkan sebagai agen pendegradasi PE dan berpotensi diaplikasikan dalam bioremediasi limbah plastik di lingkungan laut.
KONSEP ZERO DELTA Q MELALUI ANALISIS KESESUAIAN INFRASTRUKTUR PENGENDALI RISIKO BANJIR : STUDI KASUS JAKARTA
Banjir pluvial di Jakarta mendominasi kejadian banjir akibat peningkatan koefisien limpasan (C) seiring perkembangan kawasan terbangun. Hal ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem, perubahan tata guna lahan, dan kapasitas sistem drainase yang belum memadai. Selain itu, penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan dan ketergantungan pada sumber air baku dari luar wilayah memperburuk situasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika guna memahami pola debit banjir, mengevaluasi efektivitas penerapan prinsip zero delta Q (ZDQ) berbasis Sustainable Urban Drainage Systems (SuDS), serta merumuskan rekomendasi integrasi tata guna lahan dengan kapasitas sistem tata air untuk mengurangi risiko banjir pada kawasan strategis terpilih sekaligus mendukung penerapan Nature-based Solutions (NbS). Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif berbasis data spasial, hidrologi, dan hidraulika dengan menggunakan perangkat lunak QGIS dan model HEC-RAS 2D. Pemodelan dilakukan dengan lima skenario, yaitu: (1) kondisi eksisting, (2) normalisasi saluran penghubung (PHB), (3) normalisasi saluran dan penerapan ZDQ, (4) peningkatan kapasitas saluran, penerapan ZDQ, dan penyediaan tampungan berbasis SuDS, serta (5) integrasi skenario 4 dan sistem pompa. Evaluasi berdasarkan luas genangan, kedalaman genangan, durasi genangan, serta klasifikasi tingkat ancaman banjir mengacu peraturan yang berlaku. Hasil analisis skenario 1 menunjukkan bahwa sistem drainase belum mampu menampung debit Q10, dengan luas genangan mencapai 91,87 ha, kedalaman genangan rata-rata sebesar 0,55 m, dan durasi surut rata-rata selama 4 jam. Pelaksanaan intervensi skenario 2 sampai dengan 5 mampu menurunkan dampak banjir secara signifikan, terutama pada skenario 5 memberikan kinerja terbaik melalui penurunan luas genangan menjadi 0,01 ha (99,9%), kedalaman genangan rata-rata menjadi 0,10 m, serta percepatan durasi surut menjadi rata-rata 2 jam. Selain itu, penyediaan tampungan rekayasa sebesar 588 m³ pada skenario 4 dan 5 berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku alternatif. Penelitian ini juga merekomendasikan penerapan terintegrasi infrastruktur pengendalian banjir sebagai pendekatan yang dapat direplikasi pada kawasan lain untuk meningkatkan ketahanan terhadap banjir dan mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
PENGEMBANGAN CONSENT MANAGEMENT SYSTEM DAN BREAK-GLASS UNTUK REKAM MEDIS ELEKTRONIK BERBASIS FHIR DAN DS4P STUDI KASUS: SATUSEHAT PLATFORM
Sistem rekam medis elektronik pada SATUSEHAT Platform saat ini masih menggunakan mekanisme persetujuan umum yang belum memungkinkan pasien untuk mengendalikan akses data secara granular. Selain itu, sistem belum menerapkan segmentasi data sensitif, belum menyediakan jejak audit yang tahan terhadap manipulasi, serta belum memiliki protokol akses darurat yang terstruktur. Tugas Akhir ini merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi prototipe Consent and Policy Gateway berbasis Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR) untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sistem yang dikembangkan menyediakan mekanisme persetujuan granular yang memungkinkan pasien mengatur akses berdasarkan jenis data, peran klinisi, dan tujuan penggunaan data. Selain itu, sistem menerapkan kebijakan Attribute-Based Access Control (ABAC) yang dipadukan dengan pelabelan keamanan Data Segmentation for Privacy (DS4P). Untuk mendukung kebutuhan akses darurat, sistem menyediakan protokol break-glass dengan autentikasi tambahan berupa Time-based One-Time Password (TOTP) serta token dengan masa berlaku terbatas. Sistem juga dilengkapi audit trail berbasis hash-chaining guna menjamin integritas dan ketertelusuran setiap aktivitas akses data. Berdasarkan pengujian black-box, seluruh skenario berhasil dijalankan sesuai rencana pengujian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem telah memenuhi seluruh kebutuhan fungsional dan nonfungsional yang ditetapkan. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa mekanisme pengendalian akses berbasis persetujuan granular, segmentasi DS4P, akses darurat terkontrol, serta audit yang tahan terhadap manipulasi dapat diimplementasikan pada sistem rekam medis elektronik berbasis FHIR. Prototipe yang dikembangkan juga berpotensi menjadi lapisan middleware atau gateway tambahan pada SATUSEHAT Platform untuk meningkatkan kontrol akses, perlindungan privasi data sensitif, serta auditabilitas akses rekam medis elektronik.