📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5,228 dokumen

PENGEMBANGAN PERANGKUMAN PERTEMUAN OTOMATIS DENGAN PENDEKATAN ABSTRAKTIF MENGGUNAKAN SISTEM CASCADING

Dalam era komunikasi digital, kebutuhan akan efisiensi dalam pengelolaan informasi rapat semakin mendesak. Karyawan dalam proyek global rata-rata menghabiskan lebih dari 16 jam per minggu dalam rapat, sehingga rekaman dan transkrip menjadi sumber penting bagi pengambilan keputusan. Namun, analisis manual terhadap transkrip rapat sering kali tidak efisien. Penelitian ini mengusulkan pendekatan cascading system yang mengintegrasikan Automatic Speech Recognition (ASR) Whisper dengan Large Language Model (LLM) Deepseek untuk menghasilkan ringkasan abstraktif. Proses ini diperkuat dengan Voice Activity Detection (VAD) serta fine-tuning Sentence Transformer (MiniLM). Metodologi penelitian meliputi persiapan data, pembangunan sistem, dan evaluasi. Dataset yang digunakan berasal dari MeetingBank dan AMI Corpus dengan sebagai data uji pertemuan. Evaluasi dilakukan menggunakan metrik Word Error Rate (WER) untuk transkripsi dan ROUGE Score untuk ringkasan. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penerapan VAD mampu menurunkan WER dari 11,75% menjadi 6,07%. Fine-tuning MiniLM meningkatkan F1-score dari 0,72 menjadi 0,84 dengan akurasi 0,87. Pada tahap peringkasan, kombinasi VAD + MiniLM (fine-tuned) + Deepseek few-shot prompting menghasilkan skor ROUGE-1 sebesar 0,71, ROUGE-2 sebesar 0,53, dan ROUGE-L sebesar 0,57, mendekati ringkasan manual (0,65/0,49/0,55). Dengan demikian, sistem cascading terbukti meningkatkan akurasi transkripsi sekaligus kualitas ringkasan abstraktif.

2026
👤 Penulis: Kenneth Dave Bahana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

EFEKTIVITAS MATERIAL ZEOLIT DAN KARBON AKTIF SEBAGAI ADSORBEN UNTUK PENYISIHAN NUTRIEN PADA SEDIMEN TERKONTAMINASI (STUDI KASUS DI DANAU BATUR, BALI)

Danau merupakan perairan air tawar yang terletak di Bali dan memiliki peran serta fungsi penting dalam mendukung sektor pariwisata, pertanian, budidaya perikanan, holtikultira dan konservasi lingkungan di Bali. Namun, aktivitas di sekitar danau telah menyebabkan penurunan kualitas air akibat eurtrofikasi yang disebabkan oleh beban internal dan eksternal. Beban ekternal berasal dari masuknya limbah antropogenik dari kegiatan disekitar danau dan beban internal berasal dari pelepasan kembali nutrien terutama ortofosfat (PO4) dan Amonium (NH4) dari sedimen ke kolom air yang dapat menyebabkan eutrofikasi memicu alga bloomning serta kematian masal ikan endemik di danau Batur Bali. Teknologi sediment capping merupakan metode yang dapat digunakan dengan meletakan lapisan material capping diatas berupa adsorben yang mampu menyerap dan menahan pelepasan kembali kontaminan anorganik penyebab eutrofikasi berupa (PO4) dan (NH4). Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan, kemampuan adsorpsi dan efektivitas zeolit dan karbon aktif sebagai material capping dalam teknologi sediment capping pada skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit memiliki struktur kristalin berpori dengan rasio Si/Al yang mendukung kemampuan adsorpsi nutrien. Pada varisi pH zeolit mampu menyisihkan ortofosfat sebesar 67,50% pada pH 4 dan amonium sebesar 79,71% pada pH 8. Pada variasi dosis optimum 0,3 gr zeolit mampu menyisihkan 72,66% ortofosfat dan 79,71% amonium. Proses adsorpsi pada zeolit mengikuti model isoterm Freundlich dengan nilai R²= 0,9859 untuk ortofosfat dan R² = 0,9244 untuk amonium. Kinetika adsorpsi ortofosfat dan amonium menggunakan zeolit paling sesuai mengikuti model psedou orde dua dengan R 2 =0.9993 dan R2 = 0.9626. Karbon aktif memiliki struktur amorf berpori dan menunjukkan kemampuan penyisihan ortofosfat sebesar 72,04% pada pH 4 dan amonium sebesar 38,49% pada pH 8. Pada variasi dosis karbon aktif mampu menyisihkan 68,07% ortofosfat dengan dosis optimal 0,4 gr sedangkan penyisihan amonium lebih rendah yaitu 23,67% pada dosis optimal 0,3 gr. Adsorpsi ortofosfat pada karbon aktif mengikuti model isoterm Freundlich dengan R² = 0,8596 sedangkan adsorpsi amonium mengikuti model isoterm Temkin dengan R² = 0,9775. Kinetika adsorpsi ortofosfat dan amonium menggunakan karbon aktif paling sesuai mengikuti model psedou orde dua dengan R 2 =0.9999 dan R2 = 0.9409. Pada percobaan reaktor sediment capping zeolit menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan karbon aktif. Efektivitas zeolit pada ketebalan 1 cm dan 3 cm masing-masing sebesar 52,91% dan 64,40% untuk ortofosfat serta 39,96% dan 47,52% untuk amonium. Sementara itu karbon aktif menunjukkan efektivitas sebesar 17,07% dan 27,57% untuk ortofosfat serta 36,95% dan 33,87% untuk amonium. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zeolit lebih efektif dan cocok dibandingkan karbon aktif sebagai material capping dalam upaya mengendalikan eutrofikasi di danau Batur Bali.

2026
👤 Penulis: Rosalina almalia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM POSISI DEWAN DIREKSI TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN: BUKTI DARI BADAN USAHA MILIK NEGARA DI INDONESIA

Penelitian ini menganalisis bagaimana representasi perempuan yang menduduki posisi sebagai dewan direksi dapat memengaruhi kinerja keuangan 32 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia yang terdaftar di situs resmi Kementrian BUMN Indonesia selama periode 2020 hinga 2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua faktor utama. Pertama, penelitian mengenai keberagaman gender dan kinerja perusahaan selama ini lebih banyak dilakukan di negara maju, sehingga bukti empiris dari konteks negara berkembang, termasuk Indonesia, masih relatif terbatas. Kedua, tingginya kesenjangan gender serta temuan empiris yang belum konsisten dalam konteks BUMN di Indonesia menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana representasi perempuan dalam posisi direksi berkontribusi terhadap kinerja perusahaan. Secara teoritis, penelitian ini berdasar pada Resource Dependence Theory dan Agency Theory dalam menjelaskan hubungan antara keberadaan dan komposisi direksi perempuan dengan kinerja perusahaan. Selain itu, Stakeholder Theory juga digunakan untuk memahami peran BUMN yang beroperasi dalam lingkungan tata kelola yang kompleks, mengingat karakteristik BUMN yang memiliki fungsi ekonomi sekaligus sosial. Representasi direksi perempuan diukur melalui proporsi perempuan dalam dewan direksi serta variable dummy yang menunjukkan keberadaan direksi perempuan. Adapun kinerja keuangan perusahaan diukur menggunakan Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) yang diperoleh dari laporan tahunan tiap perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode regresi Pooled Ordinary Least Squares (OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi perempuan dalam dewan direksi memiliki hubungan negatif yang tidak signifikan. Temuan ini menghasilkan kesimpulan bahwa praktik GCG dan struktur kepemilikan serta fungsi ganda pada BUMN memengaruhi dinamika tata Kelola perusahaan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pimpinan perusahaan dalam merumuskan strategi peningkatan keberagaman gender di sektor public.

2026
👤 Penulis: Puti Lenggogeni
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI KEBIJAKAN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI SEPABLOCK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIMULASI

Sepablock merupakan salah satu produk diversifikasi non semen dari PT Semen Padang. Sistem produksi Sepablock dijalankan dengan memaksimalkan kapasitas mesin pada setiap shift, tanpa penyesuaian terhadap fluktuasi permintaan. Berdasarkan data historis, rata-rata produksi harian sebesar 2.080 unit, sedangkan rata-rata permintaan harian hanya sebesar 990 unit, sehingga terbentuk inventori harian dengan rata-rata 1.090 unit. Kondisi ini menunjukkan terjadinya overproduction akibat kebijakan operasional yang tidak selaras dengan kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kebijakan operasional terhadap terjadinya overproduction serta menyusun kebijakan operasional yang lebih selaras dengan permintaan guna menurunkan tingkat overproduction. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simulasi yang digunakan untuk memodelkan kondisi aktual sistem produksi dan menguji beberapa skenario alternatif dengan konfigurasi jumlah shift dan mesin. Evaluasi dilakukan berdasarkan indikator total produksi, tingkat persediaan, lost sales, utilisasi sumber daya, dan total biaya yang terdiri atas biaya simpan dan biaya kehilangan penjualan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konfigurasi satu shift dan satu mesin menghasilkan produksi sebesar 376.000 unit dalam setahun dengan inventori akhir tahun sebesar 2.260 unit dan total biaya terendah sebesar Rp67.849.375,08, meskipun terdapat lost sales sebesar 11.934 unit namun menurunkan akumulasi persediaan dan total biaya secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyesuaian kebijakan operasional berbasis permintaan lebih efektif dalam menekan overproduction dibandingkan pendekatan berbasis kapasitas maksimum. Konfigurasi satu shift direkomendasikan sebagai kebijakan operasional yang paling efisien dalam menyeimbangkan produksi dan permintaan serta meminimalkan total biaya sistem.

2026
👤 Penulis: Jasmine Khairina H. W.
🏷️ Simulasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS KEBUTUHAN UNTUK MENENTUKAN BENTUK PRODUK MENGGUNAKAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT: STUDI KASUS CASHEWAST

Pertumbuhan pasar snack bar di Indonesia menunjukkan tren yang positif seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan konsumsi makanan praktis. Kondisi ini memberikan peluang strategis bagi bisnis lokal seperti Cashewest untuk membuat produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Namun, membuat produk yang tepat sasaran memerlukan pemahaman yang mendalam tentang pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebutuhan pelanggan dan menerjemahkannya ke dalam spesifikasi teknis produk. Metode Quality Function Deployment (QFD) dari House of Quality membantu dalam merancang bentuk produk snack bar Cashewast yang lebih sesuai dengan harapan pelanggan. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok dengan tim internal perusahaan dan wawancara dan kuesioner dengan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur utama yang diinginkan pelanggan termasuk ukuran produk, apakah sudah memenuhi kebutuhan pelanggan atau tidak. Dengan menggunakan QFD, kebutuhan pelanggan dapat dikategorikan ke dalam komponen teknis seperti ukuran besar atau kecil, maupun dari segi packaging. Penelitian ini membantu Cashewest mengembangkan produk yang lebih kompetitif yang berfokus pada kepuasan pelanggan. Ini juga menjadi referensi dalam pengembangan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar dalam industri makanan ringan.

2026
👤 Penulis: Jean Pierre Enos Putra Maniagasi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERAN SISTEM PERDAGANGAN EMISI DALAM MENDORONG TRANSISI KENDARAAN LISTRIK: BUKTI EMPIRIS DARI YURISDIKSI MAJU DENGAN PASAR KARBON

Sektor transportasi adalah kontributor utama emisi CO2 global, dan banyak pemerintah mengandalkan sistem perdagangan emisi (ETS) untuk mendukung peralihan dari kendaraan bermesin pembakaran internal ke kendaraan listrik (EV). Tesis ini menyelidiki apakah ETS mempengaruhi tingkat adopsi EV nasional di negara-negara maju melalui dampaknya terhadap harga bensin. Sebuah dataset panel untuk sembilan yurisdiksi ETS berpendapatan tinggi selama 2015–2024 dibangun, menggabungkan data tahunan tentang harga izin ETS, harga bensin eceran, pangsa pasar EV, serta variabel sosial ekonomi, politik, dan kebijakan. Analisis ini menerapkan regresi efek tetap negara dan tahun serta kerangka mediasi dua tahap untuk menguji jalur teoretis dari harga ETS ke harga bahan bakar dan dari harga bahan bakar ke adopsi EV. Hasilnya menunjukkan bahwa harga izin ETS yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan harga bensin yang lebih tinggi, mengonfirmasi sebagian transfer dari pasar karbon ke biaya bahan bakar ritel. Namun, harga bensin hanya menunjukkan asosiasi positif tetapi secara statistik tidak tepat dengan adopsi EV, dan harga ETS tidak memiliki efek langsung yang kuat pada pangsa pasar EV. Temuan ini menunjukkan bahwa, di negara-negara kaya ETS selama satu dekade yang ditandai oleh guncangan global dan paket kebijakan EV yang kuat, harga bahan bakar bukanlah pendorong utama elektrifikasi, dan penetapan harga karbon paling efektif ketika tertanam dalam strategi dekarbonisasi transportasi yang lebih luas.

2026
👤 Penulis: Anya Rachma Biasuri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK, LUARAN KLINIS, DAN ANALISIS BIAYA PENYAKIT (COST OF ILLNESS) PADA INFEKSI SEKUNDER COVID-19 DI DUA RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG

Penggunaan antibiotik secara luas pada pasien COVID-19 di masa pandemi sering kali tanpa konfirmasi infeksi bakteri, meningkatkan risiko resistensi terhadap antimikroba serta beban biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola penggunaan antibiotik, faktor klinis yang yang berhubungan dengan penulisan resep, dampaknya terhadap luaran klinis, serta analisis beban biaya langsung medis pada pasien COVID-19 dengan infeksi sekunder di dua rumah sakit di kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional retrospektif terhadap 376 pasien COVID-19 dengan infeksi sekunder yang dirawat di RSUP. Dr. Hasan Sadikin dan RS. Paru dr. H.A. Rotinsulu, Bandung. Pola penggunaan antibiotik dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug Utilization 90% (DU 90%), berdasarkan jenis, golongan, interval, dan dosis antibiotik. Faktor klinis yang dianalisis meliputi status patogen bakteri terkonfirmasi, jumlah leukosit, riwayat tuberkulosis, komorbiditas, dan lama rawat inap. Luaran klinis utama adalah normalisasi jumlah leukosit. Analisis lanjutan dilakukan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi konsumsi antibiotik, dengan menggunakan data demografis dan klinis pasien. Uji chi-quare dan odds ratio digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel dan faktor yang memengaruhi penulisan resep. Analisis biaya dilakukan dengan menghitung beban biaya langsung medis (direct medical cost) melalui pendekatan Cost of Illness selama pasien menjalani pengobatan COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik spektrum luas kategori WATCH (WHO-AWaRe) mendominasi segmen DU 90% di kedua rumah sakit uji, meliputi levofloksasin, azitromisin, sefiksim, amikasin, meropenem, dan seftazidim, dominasi antibiotik kategori ini menunjukkan tingginya potensi risiko resistensi antimikroba serta pentingnya penguatan pemantauan dalam praktik klinis. Analisis faktor klinis menunjukkan bahwa konfirmasi patogen bakteri dan riwayat tuberkulosis di RSUP Dr. Hasan Sadikin, serta normalisasi jumlah leukosit di RS Paru dr. H.A. Rotinsulu, berkaitan dengan kecenderungan penggunaan lebih dari satu antibiotik. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara penggunaan antibiotik dengan pencapaian normalisasi jumlah leukosit. Pasien COVID-19 di RSHS, faktor patogen bakteri terkonfirmasi (OR: 1,912) serta riwayat TBC positif (OR: 2,5) menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi untuk menerima dua atau lebih jenis antibiotik. Sedangkan, pada pasien COVID-19 di RS Paru H.A. Rotinsulu, penurunan jumlah leukosit ke nilai normal (OR: 1,212) cenderung meningkatkan pemberian dua atau lebih antibiotik. Berdasarkan hasil analisis penggunaan antibiotik, levofloksasin sebagai antibiotik dengan jumlah penggunaan tertinggi diketahui dipengaruhi secara signifikan oleh faktor demografi, yaitu usia (OR=1,910), jenis kelamin (OR=1,672), dan lama rawat inap/length of stay (LOS) (OR=0,001), serta faktor klinis berupa penggunaan antibiotik lain (OR=0,238). Sejalan dengan analisis tersebut, evaluasi terhadap luaran klinis pasien berdasarkan nilai leukosit menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan antibiotik dan penurunan leukosit, meskipun sebanyak 68,1% pasien mencapai nilai leukosit dalam batas normal. Evaluasi Cost of Illness menunjukkan bahwa komponen biaya terbesar berasal dari jasa pelayanan medis (46%) sebesar Rp.636.050.000, dan rawat inap (54%) sebesar Rp.153.416.531, menekankan pentingnya efisiensi pengelolaan sumber daya klinis. Penelitian ini berkontribusi pada evaluasi luaran klinis penggunaan antibiotik pasien COVID-19 guna menghindari resiko terjadinya resistensi pada pasien (keamanan penggunaan obat), hasil penelitian ini juga berkontribusi pada penyusunan roadmap penggunaan antibiotik yang tepat, khususnya pada infeksi sekunder COVID-19, serta mendukung pengembangan pedoman terapi berbasis bukti. Selain itu, analisis biaya menunjukkan komponen utama beban finansial, termasuk biaya antibiotik, perawatan rumah sakit, komplikasi, dan perawatan jangka panjang. Temuan ini penting bagi pembuat kebijakan dalam merancang intervensi yang mengoptimalkan penggunaan antibiotik dan efisiensi sumber daya kesehatan.

2026
👤 Penulis: Pricella Aqwilla Br. Ginting
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MODEL MATEMATIS DAN GENETIC ALGORITHM UNTUK MASALAH PENENTUAN JARINGAN RANTAI PASOK KOMODITAS BERAS SUBSIDI DENGAN INTEGRASI PASOKAN DOMESTIK DAN IMPOR

Perancangan jaringan rantai pasok beras subsidi merupakan permasalahan strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di Provinsi Jawa Barat yang memiliki volume distribusi besar, cakupan wilayah yang luas, serta keterbatasan kapasitas fasilitas logistik. Sistem distribusi yang tidak terkoordinasi secara optimal berpotensi menimbulkan pemborosan biaya, ketidakseimbangan aliran pasokan, serta keterlambatan pemenuhan permintaan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang jaringan rantai pasok beras subsidi dengan menentukan variabel keputusan utama berupa aliran produk antar fasilitas, keputusan biner pembukaan gudang, serta frekuensi pengiriman produk guna meminimalkan biaya total sistem. Metode penelitian dilakukan melalui pengembangan model matematis berbasis Mixed Integer Linear Programming (MILP) yang diselesaikan menggunakan metode exact dengan perangkat lunak Gurobi serta pendekatan heuristik Genetic Algorithm (GA). Model optimisasi diformulasikan dalam kerangka multi-periode dengan fungsi tujuan meminimasi biaya tetap pengoperasian gudang, biaya transportasi, dan biaya pembelian produk dari pemasok. Evaluasi kinerja dilakukan melalui analisis kualitas solusi, waktu komputasi, serta analisis sensitivitas terhadap parameter sistem dan parameter algoritma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GA mampu menghasilkan solusi dengan kualitas mendekati metode exact pada kasus verifikasi serta tetap memberikan solusi layak pada permasalahan berskala besar dengan waktu komputasi yang lebih efisien. Implementasi solusi usulan pada data aktual menunjukkan penurunan total biaya sistem sebesar 36,36%, terutama berasal dari efisiensi distribusi gudang– konsumen serta penurunan biaya operasional fasilitas. Selain itu, konfigurasi jaringan usulan meningkatkan utilisasi gudang terpilih hingga mendekati kapasitas optimal dan menghilangkan pengoperasian fasilitas dengan tingkat pemanfaatan rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi pendekatan MILP dengan Gurobi dan GA efektif digunakan untuk menentukan konfigurasi jaringan dan kebijakan distribusi beras subsidi. Penelitian lanjutan disarankan untuk memasukkan unsur ketidakpastian permintaan dan dinamika operasional guna meningkatkan realisme model.

2026
👤 Penulis: FELIA DEVINA AMADEA
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KETERLAMBATAN KONTAINER DAN DETEKSI RISIKO RANTAI SUPPLY DI PT X

PT X adalah perusahaan manufaktur otomotif yang menerapkan sistem Just-In-Time, sehingga keterlambatan kedatangan komponen impor melalui jalur laut berpotensi menghentikan lini produksi dan memicu kebutuhan Critical Part Order (CPO) melalui kargo udara berbiaya tinggi. Penelitian ini mengidentifikasi dua kesenjangan eksekusi pada proses pengadaan impor: (1) belum tersedianya alat prediksi keterlambatan berbasis data historis untuk penetapan parameter shipping delay, dan (2) belum tersedianya alat pendukung keputusan berbasis sinyal dini berita untuk justifikasi CPO preventif. Untuk menjawab kedua permasalahan tersebut, dikembangkan prototipe alat pendukung keputusan dua modul menggunakan metodologi CRISP-DM. Modul 1 membangun model prediksi keterlambatan pengiriman berbasis machine learning pada 420 data historis pengiriman dari delapan rute menuju Tanjung Priok (periode Juni 2023 sampai Mei 2024). Lima model kandidat dievaluasi menggunakan time-series cross-validation dengan embargo terhadap baseline statistik Weighted Historical Average (WHA). Modul 2 mengadaptasi konsep Contributing Event-based Risk Identification and Assessment (CERIA) untuk merancang pipeline analisis berita maritim berbasis Large Language Model (LLM) dengan GPT-4o-mini yang menghasilkan informasi risiko terstruktur dan dapat ditelusuri. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model ExtraTrees menghasilkan Mean Absolute Error (MAE) 1,588 hari, yaitu perbaikan sebesar 35,5% dibandingkan baseline WHA (MAE 2,462 hari), dan perbedaan tersebut signifikan secara statistik (Wilcoxon p = 0,006; Friedman p < 0,001). Pipeline Modul 2 menghasilkan 25 risk events terstruktur dari 10 artikel unik yang memuat komponen audit utama berupa sumber, event, risk level, rute terdampak, dan reasoning. Backtesting timeliness pada skenario Red Sea Crisis menunjukkan sinyal berita tersedia 68 hari sebelum spike keterlambatan pertama teramati (first spike arrival 24 Januari 2024), dengan actionable window +29 hari terhadap decision proxy pemesanan. Integrasi kedua modul dirancang sebagai kerangka pelaporan yang menyatukan prediksi keterlambatan internal dengan evidence risiko eksternal untuk mendukung keputusan CPO dan penetapan parameter shipping delay secara lebih transparan dan dapat diaudit.

2026
👤 Penulis: Andy Harits Adnyana Tangkas
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

ANALISIS RISIKO KEGAGALAN PIPA BAWAH LAUT PENYALUR MINYAK MENGGUNAKAN METODE FUZZY FAULT TREE ANALYSIS (FFTA)

Pipa bawah laut merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sistem transportasi minyak, khususnya pada kegiatan produksi minyak dan gas di wilayah lepas pantai, karena berfungsi sebagai sarana utama untuk menyalurkan fluida hidrokarbon dari fasilitas produksi menuju fasilitas pemrosesan atau fasilitas darat. Keandalan sistem pipa bawah laut ini menjadi aspek yang sangat penting mengingat potensi kegagalan pipa dapat menimbulkan dampak signifikan baik dari sisi keselamatan, lingkungan, maupun kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis risiko yang mampu merepresentasikan kondisi sistem secara lebih realistis, termasuk dalam menghadapi keterbatasan data kegagalan yang sering terjadi pada sistem perpipaan bawah laut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Fuzzy Fault Tree Analysis (FFTA), yang memungkinkan integrasi antara data kuantitatif dan penilaian pakar dalam bentuk linguistik untuk mengatasi ketidakpastian pada metode fault tree analysis konvensional. Dalam penelitian ini, metode FFTA diterapkan pada enam pipa minyak bawah laut yang beroperasi di wilayah Northwest Java dengan memanfaatkan data inspeksi dan operasional yang tersedia, serta mempertimbangkan interval inspeksi selama empat tahun dalam perhitungan laju kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa estimasi probabilitas kegagalan top event berupa kegagalan pipa berada pada rentang sekitar 0,01 hingga 0,06, yang mencerminkan perbedaan kondisi operasional, riwayat kebocoran, serta tingkat degradasi masing-masing pipa. Selain itu, hasil analisis juga mengindikasikan bahwa faktor riwayat kebocoran merupakan kontributor paling dominan terhadap potensi kegagalan pipa, diikuti oleh lamanya umur operasional pipa, dan kerusakan dinding pipa, sedangkan faktor tindakan pengendalian integritas preventif memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil. Secara keseluruhan, penerapan metode FFTA menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan estimasi probabilitas kegagalan yang lebih berbasis kondisi aktual (condition-based), sehingga dapat mendukung proses prioritisasi risiko dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam pengelolaan integritas pipa minyak bawah laut.

2026
👤 Penulis: Alyana Fathira Kaysandini S
🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENDEKATAN COST BENEFIT ANALYSIS DALAM SKENARIO PENGEMBANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH KOTA PEKANBARU

Pengolahan sampah adalah salah satu biaya utama yang dikeluarkan oleh otoritas lokal di negara berkembang. Usaha pengolahan sampah selain dapat memberikan manfaat dan biaya secara ekonomi juga dapat memberikan manfaat dan biaya bagi lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, sampah yang dihasilkan Kota Pekanbaru mencapai 592.961 kg/hari. DLHK Kota Pekanbaru membangun fasilitas pengolahan sampah berupa rumah kompos, TPS-3R dan bank sampah. Fasilitas ini dapat mereduksi sampah sekitar 2.871,16 kg/hari atau 0,48% dari total timbulan sampah di sumber. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru dengan pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA). Berdasarkan hasil analisis pada skenario A (kondisi eksisting fasilitas pengolahan sampah), diperoleh nilai net value yaitu Rp332.913.313 dengan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) yaitu 1,62, sedangkan pada skenario B (optimasi fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai net value yaitu Rp2.110.282.201 dengan nilai BCR yaitu 2,90 dan pada skenario C (pengembangan fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai BCR pada Tahun 2025 adalah 2,19 dengan nilai Net Present Value (NPV) yaitu Rp17.044.293.215. Skenario fasilitas pengolahan sampah yang memiliki nilai NPV paling tinggi adalah skenario C, sedangkan yang memiliki nilai BCR tertinggi adalah skenario B. Nilai net value dan NPV yang positif serta BCR> 1 menunjukkan bahwa setiap skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru layak untuk dioperasionalkan dan memberikan keuntungan secara ekonomi. Hal ini dikarenakan dengan memasukkan perhitungan valuasi lingkungan, maka komponen manfaat dari usaha pengolahan sampah akan bernilai lebih besar daripada komponen biaya yang dikeluarkan, dengan nilai komponen manfaat langsung yang paling tinggi adalah retribusi pasar pada rumah kompos, sedangkan nilai komponen manfaat tidak langsung yang paling tinggi adalah manfaat dari pengurangan biaya dampak kesehatan.

2026
👤 Penulis: Silda Adi Rahayu
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekonomi Lingkungan

ANALISIS KESIAPAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PADA UMKM KULINER: STUDI KASUS UMKM DKI JAKARTA

Environmental, Social, and Governance (ESG) merupakan kerangka dalam menilai kinerja keberlanjutan perusahaan. Meskipun demikian, penerapan ESG pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di negara berkembang masih menghadapi berbagai keterbatasan konseptual dan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kerangka penilaian keberlanjutan lingkungan berbasis ESG yang dikontekstualisasikan untuk UMKM kuliner di Jakarta melalui integrasi indikator lingkungan ESG dan model Knowledge–Attitude–Readiness– Practice (KARP). Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan survei terhadap UMKM kuliner di lima wilayah administratif Jakarta yang dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLSSEM), serta wawancara terbatas untuk mengidentifikasi faktor eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan berperan sebagai variabel mediasi utama dalam menerjemahkan pengetahuan dan sikap terhadap praktik keberlanjutan. Meskipun pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan kesiapan, sikap tidak secara langsung menghasilkan praktik tanpa dukungan kesiapan operasional. Selain faktor internal, kendala struktural seperti keterbatasan finansial, ambiguitas regulasi, dan lemahnya keselarasan antara kebijakan dan kondisi operasional UMKM turut membatasi implementasi ESG. Penelitian ini berkontribusi pada kesiapan dalam mendorong penerapan keberlanjutan lingkungan di sektor usaha kecil perkotaan.

2026
👤 Penulis: Sarah Mutiara Rahma
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERAN SEKTOR PERTANIAN, INDUSTRI PENGOLAHAN, DAN JASA DALAM DINAMIKA EKONOMI INDONESIA: PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT

Transformasi struktural merupakan proses penting dalam pembangunan ekonomi yang ditandai oleh pergeseran peran sektor-sektor utama dalam perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika peran sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa dalam perekonomian Indonesia, serta mengkaji pola keterkaitan antar sektor tersebut dalam kerangka transformasi struktural. Pendekatan yang digunakan adalah analisis Input–Output dengan memanfaatkan Tabel Input–Output Indonesia tahun 2010, 2016, dan 2020. Analisis difokuskan pada pengukuran keterkaitan ke belakang, keterkaitan ke depan, serta pengganda output guna mengidentifikasi sektor-sektor kunci dan perubahan struktur ekonomi dari waktu ke waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia secara kuantitatif telah mengalami pergeseran struktur dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier. Sektor industri pengolahan memiliki peran yang relatif kuat dalam menciptakan permintaan input dari sektor lain, tercermin dari nilai keterkaitan ke belakang dan pengganda output yang tinggi. Sementara itu, sektor jasa berperan penting dalam keterkaitan ke depan sebagai penyedia jasa pendukung bagi aktivitas produksi sektor pertanian dan industri. Di sisi lain, sektor pertanian tetap berfungsi sebagai pemasok bahan baku utama, namun dengan keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah lanjutan. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa transformasi struktural di Indonesia masih bersifat parsial. Meskipun terjadi pergeseran kontribusi sektoral, keterkaitan antar sektor belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal untuk mendorong peningkatan produktivitas agregat. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa menjadi kunci dalam mewujudkan transformasi struktural yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar empiris bagi perumusan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih terintegrasi dan berbasis keterkaitan sektoral.

2026
👤 Penulis: Andis Destrian Irianto
🏷️ Transformasi Struktural Ekonomi Indonesia 🏷️ Analisis Input-Output 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA TAHAP PRELIMINARY WORK STUDI KASUS: MEGAPROYEK STRATEGIS NASIONAL

Tahap preliminary work pada megaproyek strategis nasional merupakan fase awal yang menentukan keberhasilan proyek secara keseluruhan. Risiko pada tahap ini akan bersifat propagated risk, apabila tidak dikelola secara sistematis, berpotensi menyebabkan pembengkakan biaya, keterlambatan jadwal, serta pengambilan keputusan yang kurang optimal pada fase berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen risiko pada tahap preliminary work serta mengkuantifikasi biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek sebagai dasar pengambilan keputusan proyek. Metode penelitian dilakukan melalui proses manajemen risiko yang mengacu pada kerangka kerja SNI ISO 31000, meliputi identifikasi, analisis, evaluasi, perlakuan, serta pemantauan risiko. Selanjutnya, dilakukan analisis biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek untuk menilai besarnya potensi dampak finansial dari risiko-risiko yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa risiko utama pada tahap preliminary work memiliki eksposur biaya yang signifikan dan berpengaruh terhadap kelayakan serta strategi pelaksanaan proyek. Berdasarkan studi kasus, biaya preliminary work mewakili sekitar 0,02% dari total investasi atau sekitar 76 miliar rupiah. Meskipun kontribusinya relatif kecil, keputusan yang salah dapat mengakibatkan potensi kerugian hingga 586 triliun rupiah. Risiko dari preliminary work bersifat propagated risk yang dapat memicu dampak yang lebih besar, yang artinya manajemen risiko dan kualitas pengambilan keputusan memiliki peran penting dalam pelaksanaan megaproyek.

2026
👤 Penulis: Tegar Putra Perdana
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Hidrologi Strategis

PENGEMBANGAN KOLORIMETER BERBASIS CITRA DALAM RUANG WARNA CIELAB PADA KAMERA SMARTPHONE MENGGUNAKAN MODEL KOREKSI INTERPOLASI POLINOMIAL ORDE TINGGI

Perkembangan teknologi kamera pada smartphone membuka peluang pemanfaatannya sebagai alat ukur warna berbasis citra digital, tetapi reproduksi warna yang dihasilkan masih dipengaruhi oleh karakteristik sensor, pemrosesan citra internal, dan kondisi pencahayaan sehingga sering terjadi perbedaan dibandingkan dengan alat ukur standar seperti kolorimeter. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model koreksi warna untuk meningkatkan akurasi reproduksi warna kamera smartphone menggunakan pendekatan interpolasi polinomial dalam ruang warna CIELAB. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan kamera iPhone 13 sebagai sistem akuisisi citra dan kolorimeter sebagai alat referensi pengukuran warna. Data diperoleh dari objek berupa Macbeth chart dan kertas origami pada tiga kondisi pencahayaan, yaitu warm white, natural white, dan cool white. Nilai warna citra kamera dipetakan terhadap nilai referensi kolorimeter pada komponen L*, a*, dan b* dalam ruang warna CIELAB, kemudian dibangun model koreksi menggunakan interpolasi polinomial dengan penentuan orde optimal berdasarkan analisis mean absolute error (MAE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu meningkatkan akurasi warna secara signifikan, dengan penurunan nilai rata-rata perbedaan warna (?E*) dari 19,587 menjadi 7,413 pada warm white, dari 21,784 menjadi 4,042 pada natural white, serta dari 4,671 menjadi 1,994 pada cool white, yang setara dengan peningkatan akurasi warna sebesar 30,447%, 59,763%, dan 67,579%. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan interpolasi polinomial efektif dalam memodelkan hubungan nonlinier antara nilai warna kamera dan referensi kolorimeter sehingga berpotensi meningkatkan keandalan kamera smartphone sebagai alternatif sistem kolorimetri yang lebih praktis dan ekonomis.

2026
👤 Penulis: Audrey Shyabilla Dha'arienne S
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
Halaman 49 dari 349
💬