π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 124 dokumenANALISIS RISIKO BANJIR AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN (DAM BREAK) PADA BENDUNGAN BUDONG-BUDONG KAB. MAMUJU TENGAH
Bendungan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat yaitu sebagai penyimpan air, pencegah banjir, penyediaan air irigasi, objek wisata, penyediaan energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan lainnya. Bendungan Budong-Budong merupakan bendungan urugan yang memiliki tampungan sebesar 79,83 juta m3 yang dibangun di Desa Salulekbo, Kabupaten Mamuju Tengah. Disamping banyaknya manfaat dari bendungan, terdapat potensi bahaya yang dapat membahayakan jiwa manusia dan merusak infrastruktur di bagian hilirnya. Salah satu potensi bahaya yang dapat diakibatkan adalah keruntuhan bendungan. Dengan mempertimbangkan potensi bahaya yang diakibatkan oleh keruntuhan bendungan, diperlukan pengkajian risiko bencana banjir akibat keruntuhan bendungan. Analisis keruntuhan bendungan dilakukan dengan menggunakan software HEC-RAS dengan skenario kondisi muka air waduk setinggi muka air normal. Kondisi dalam analisis keruntuhan bendungan Budong-Budong ditinjau dalam kondisi akibat piping bawah pada elevasi Β± 49 meter. Kondisi ini diasumsikan merupakan kondisi awal sebagai acuan untuk melakukan tindak rencana mitigasi bencana dalam upaya meminimalkan kerugian baik materil maupun imateril. Dari hasil pemodelan dengan skenario piping bawah, didapatkan Qpeak dengan total 13.691,3 m3/s dengan luas area tergenang sebesar 102.771 Km2 dengan total volume yang ada di waduk sebesar 57 juta m3. Desa yang terdampak akibat banjir oleh keruntuhan bendungan sebesar 20 desa di 5 Kecamatan sepanjang sungai Budong-Budong. Tingkat ancaman banjir di 5 Kecamatan sepanjang sungai terbagi menjadi 3 kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Parameter banjir yang dianalisis meliputi kedalaman, kecepatan, dan kecepatan rambat gelombang banjir (celerity). Selain itu, penelitian ini juga mengkaji tingkat kerentanan sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan, serta kapasitas penanggulangan wilayah berdasarkan pedoman BNPB. Strategi mitigasi dilakukan melalui pendekatan SWOT dan peningkatan kapasitas masyarakat, yang menunjukkan efektivitas dalam menurunkan tingkat risiko secara spasial. Penelitian ini menjadi dasar penting dalam penyusunan dokumen rencana tindak darurat dan kebijakan pengurangan risiko bencana di sekitar wilayah bendungan.
RISK QUANTIFICATION OF AERODYNAMIC STALL AND IN-FLIGHT LOSS OF CONTROL (LOC-I) EVENTS DURING AIRCRAFT APPROACH
This thesis employs high-resolution QAR data to forecast aerodynamic stall and in-flight loss of control probability during the final approach phase of Boeing 747-300s. It presents a modeling framework as it calculates the aircraft's total mechanical energy based on the relationships between physical force and motion, comparing measured and simulated energy trajectories throughout a 95-s interval preceding touchdown. Subset simulation utilizing Markov Chain Monte Carlo (MCMC) sampling is implemented to evaluate the likelihood of the failure event, defined by the aircraft's energy dropping below a threshold determined by impaired conditions. The baseline overall failure probability is assessed to be around 3.57 Γ 10??; while the dynamic, per-second evolution is estimated to be an exponential decay (of base 10) towards zero. Two sensitivity analyses are conducted to evaluate the influences of parameters, specifically angle of attack, crosswind speed, and N1 fan speed, which are the primary factors contributing to the failure event. A mitigation plan is formulated by increasing approach speed by 10 knots while decreasing pitch and angle of attack, resulting in a 45.56% reduction in the probability of LOC-I.
KAJIAN PENGARUH TINGGI TANGGUL BANJIR TERHADAP KERUGIAN EKONOMI, STUDI KASUS SUNGAI SEPAKU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, KALIMANTAN TIMUR
Pembangunan tanggul banjir di wilayah Sungai Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menjadi upaya kritis untuk mitigasi risiko banjir dan kerugian ekonomi. Penelitian ini menganalisis efektivitas variasi tinggi tanggul dalam mengurangi luas genangan dan kerugian ekonomi melalui integrasi simulasi hidraulika dan valuasi ekonomi menggunakan pemodelan debit banjir periode ulang 100 tahun, simulasi genangan 2D dengan HEC-RAS 6.6, serta perhitungan kerugian ekonomi menggunakan metode ECLAC. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanggul setinggi 5.5 m memberikan pengurangan luas genangan tertinggi sebesar 87.36%, menurunkan luas genangan dari 158.03 ha (kondisi eksisting) menjadi 20.07 ha, dengan pengurangan kerugian ekonomi mencapai Rp3.3 miliar (51.81%). Melalui pendekatan analisis titik balik, Metode Rasional Rasio (MRR), dan grafik hubungan luas genangan terhadap kerugian ekonomi, penelitian ini mengidentifikasi tinggi tanggul optimal berada pada rentang 3.5-4 meter yang mampu menyeimbangkan biaya konstruksi dengan pengurangan risiko banjir. Tinggi tanggul 3.5 meter debit 538 mΒ³/s secara aman dan mengurangi luas genangan hingga 77.6% dan 4 meter dapat mengelola hingga 70%, sehingga menekan kerugian ekonomi secara signifikan.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PENGEMBANGAN METODE PEMERINGKATAN RISIKO PADA PLTS HIBRIDA MENGGUNAKAN FMEA DENGAN PENDEKATAN INTUITIONISTIC FUZZY HYBRID TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (IFH-TOPSIS)
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrida merupakan salah satu solusi strategis dalam mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia. Namun, kompleksitas sistem serta tingginya tingkat ketidakpastian dalam proses penilaian risiko menuntut pendekatan manajemen risiko yang lebih adaptif dan terstruktur. Penelitian ini mengembangkan sebuag kerangka kerja Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang dipadukan dengan pendekatan Intuitionistic Fuzzy Hybrid Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (IFH-TOPSIS) sebagai metode penilaian dan pemeringkatan risiko mode kegagalan pada sistem PLTS hibrida. Metode IFH-TOPSIS mengintegrasikan konsep Intuitionistic Fuzzy Set (IFS), operator agregasi, dan metode TOPSIS untuk menangani data linguistik yang bersifat tidak pasti. Pendekatan ini diimplementasikan ke dalam bentuk worksheet otomatis berbasis Visual Basic for Applications (VBA) guna mempermudah dan mengefisienkan proses perhitungan risiko. Studi dilakukan dengan melibatkan empat praktisi lapangan dari berbagai latar belakang teknis pada PLTS hibrida. Penilaian dilakukan dalam bentuk linguistik, yang kemudian dikonversikan menjadi representasi numerik dalam bentuk IFN dan diolah hingga menghasilkan urutan prioritas risiko dari setiap mode kegagalan komponen utama. Dalam penelitian ini, dengan 66 mode kegagalan yang dinilai oleh 4 orang praktisi lapangan, terdapat total kombinasi set data penilaian yang mungkin adalah sebanyak 9^792 set data, hal ini menunjukkan tingkat kompleksitas sangat tinggi pada proses FMEA, terutama untuk sistem yang kompleks seperti sistem PLTS. Dengan adanya worksheet yang sudah diprogram dan pendekatan IFH-TOPSIS, kompleksitas ini dapat ditangani secara sistematis, akurat, dan efisien, serta berpotensi untuk diintegrasikan ke dalam sistem manajemen kegagalan pada pengembangan sistem energi terbarukan, khususnya PLTS, ke depan. Hasil akhir dari penelitian ini berupa sistem pemeringkatan risiko yang mampu menyajikan prioritas risiko secara sistematis dan mengakomodasi ketidakpastian penilaian, dengan temuan nilai derajat kepastian semua mode kegagalan, sebanyak 66 mode kegagalan, berada pada rentang 0,0039 sampai 0,1881 yang berada dibatas teoritis pencapaian konsensus. Selain itu, worksheet yang disusun berhasil mengoptimasi proses FMEA sebanyak 62,5%.
ANALISIS PEMROGRAMAN PRESERVASI JALAN DENGAN STRATEGI PENANGANAN SEMENTARA (BACK-FALL STRATEGY) SKALA JARINGAN MENGGUNAKAN METODE IRMS V.3 DAN MEPDG 2015
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode prediksi kondisi jalan yang paling akurat sebagai dasar pemrograman preservasi jalan, dengan membandingkan hasil prediksi nilai International Roughness Index (IRI) dari metode Mechanistic Empirical Pavement Design Guide (MEPDG) 2015 dan Indonesian Road Management System (IRMS V.3) terhadap data aktual di lapangan, serta mengevaluasi dampaknya terhadap efektivitas biaya dan tingkat kemantapan melalui analisis program preservasi skala jaringan dalam kondisi constrained budget menggunakan Back-fall strategy. Penelitian dilakukan pada skala jaringan di enam ruas jalan nasional Pantura menerus sepanjang 55,87 km yang memiliki karakteristik lalu lintas beragam (rendah, sedang, dan tinggi). Prediksi IRI dengan metode MEPDG 2015 dihitung menggunakan tiga jenis kalibrasi (Global, Arizona, dan Oregon) berdasarkan pendekatan mekanistik-empiris yang mempertimbangkan kerusakan struktural perkerasan (rut depth dan fatigue) dengan bantuan software ELMOD 6 dan KENPAVE. Sementara itu, metode IRMS V.3 menggunakan pendekatan empiris berbasis data historis dan kondisi struktural jalan. Hasil prediksi dari kedua metode dibandingkan dengan data lapangan tahun 2021β2023 untuk menghitung deviasi relatif. Selanjutnya, dilakukan analisis pemrograman preservasi jalan selama 20 tahun dengan dua skenario: unconstrained budget (anggaran ideal) dan constrained budget (Back-fall Strategy berupa menunda, bertahap, dan holding). Hasil menunjukkan bahwa MEPDG 2015 kalibrasi Oregon memiliki deviasi relatif terkecil sebesar -15,48%, menjadikannya metode paling akurat. Dalam skenario tanpa batasan anggaran, metode ini memerlukan biaya Rp516,17 miliarβlebih rendah 3% dibanding IRMS V.3. Sementara dalam keterbatasan anggaran, strategi holding dengan MEPDG 2015 menghasilkan kemantapan akhir tertinggi (32,74%) meskipun membutuhkan biaya 1β2% lebih besar dibanding strategi menunda dan bertahap. Namun demikian, strategi holding terbukti lebih efektif karena mampu mempertahankan kondisi jalan mantap hingga 2β3 kali lebih tinggi dibandingkan strategi lainnya. Dengan demikian, strategi holding berbasis metode MEPDG 2015 kalibrasi Oregon direkomendasikan sebagai pendekatan optimal untuk pemrograman preservasi jalan nasional skala jaringan dalam kondisi keterbatasan anggaran.
RANCANGAN KEY RISK INDICATOR (KRI) DAN KEY CONTROL INDICATOR (KCI) DALAM MANAJEMEN RISIKO KORPORASI PADA PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA (KPEI)
Dalam konteks pasar modal yang semakin kompleks dan dinamis, penguatan sistem manajemen risiko menjadi hal yang kritis. Sebagai Central Counterparty (CCP) Pasar Modal Indonesia, KPEI bertanggung jawab untuk menjamin efisiensi dan keamanan proses kliring dan penyelesaian transaksi bursa. Namun, sistem manajemen risiko KPEI masih bersifat reaktif belum sepenuhnya mampu mendeteksi risiko secara dini atau mengevaluasi efektivitas kontrol yang ada. Tujuan studi ini adalah mengembangkan kerangka kerja manajemen risiko perusahaan yang mengintegrasikan Indikator Risiko Kunci (KRI) dan Indikator Pengendalian Kunci (KCI) beserta ambang batasnya ke dalam proses Penilaian Pengendalian Risiko Mandiri (RCSA) yang sudah ada. KRI berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap peningkatan paparan risiko, sementara KCI dirancang untuk mengukur efektivitas pengendalian yang telah diterapkan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus pada risiko tingkat ekstrem berdasarkan profil risiko KPEI tahun 2023, penelitian ini menghasilkan desain KRI (leading dan lagging) dan KCI, lengkap dengan ambang batasnya berdasarkan selera risiko dan toleransi perusahaan. Hasil penelitian ini berfungsi sebagai landasan untuk implementasi sistem manajemen risiko proaktif dan strategis guna mendukung pencapaian target kinerja perusahaan.
KOMBINASI METODE FUZZY AHP- HYBRID TOPSIS UNTUK PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PROYEK SMELTER βPT MANTA GRUP INDONESIAβ
Studi bertujuan untuk menentukan perencanaan proyek smelter untuk dikembangkan oleh PT Manta Grup Indonesia dengan mengevaluasi tiga alternatif: Proyek Bauksit, Proyek Pasir Besi, dan Proyek Low-Grade Nickel (HPAL). Dengan menggunakan kerangka kerja pengambilan keputusan hybrid yang menggabungkan Fuzzy Analytic Hierarchy Process (Fuzzy AHP) dan Hybrid TOPSIS, penelitian ini mengintegrasikan penilaian ahli dan pengambil Keputusan, serta data kuantitatif untuk meminimalkan bias dan memastikan objektivitas. Pendapat ahli dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner yang melibatkan tiga pimpinan perusahaan dan sebelas pakar, mencakup berbagai perspektif teknis, operasional, dan manajerial. Fuzzy AHP digunakan untuk menghitung bobot kriteria, menangani ambiguitas dalam penilaian melalui bilangan triangular fuzzy. Bobot fuzzy ini kemudian digabungkan dengan data kinerja kuantitatif masing-masing proyek menggunakan Hybrid TOPSIS, memastikan peringkat akhir mempertimbangkan faktor kualitatif dan kuantitatif. Hasil menunjukkan Proyek Bauksit memperoleh closeness coefficient tertinggi sebesar 0.6, menjadikannya proyek yang paling layak dan strategis untuk segera dikembangkan. Proyek Pasir Besi menempati peringkat kedua, mencerminkan kapasitas produksi yang stabil dan kematangan teknis, meskipun menghadapi tantangan dampak lingkungan dan pasar domestik pig iron yang terbatas. Proyek Low Nickel HPAL berada di peringkat ketiga karena kompleksitas jejak lingkungan, intensitas modal yang tinggi, dan volatilitas pasar saat ini, meskipun relevan dengan sektor baterai kendaraan listrik. Penelitian ini juga menekankan pentingnya peninjauan kelayakan yang berkelanjutan dan perencanaan strategis, termasuk pembaruan dari tren kebijakan global dan tujuan iklim nasional untuk tetap adaptif dan tangguh. Rencana implementasi telah diusulkan, yang mencakup tindakan bertahap mulai dari penyelarasan strategis hingga eksekusi proyek dan pengembangan kemitraan, memastikan relevansi praktis dari hasil penelitian ini.
ANALISIS RISIKO PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN JALAN TIDAK SEBIDANG (UNDERPASS) DI BAWAH JALUR PERLINTASAN KERETA API
Pekerjaan pembangunan jalan tidak sebidang (underpass) di bawah jalur perlintasan kereta api merupakan proyek yang kompleks dan berisiko tinggi, sehingga memerlukan pertimbangan teknis yang mendetail serta perhatian khusus terhadap aspek stabilitas dan keselamatan struktur. Kompleksitas ini muncul karena pelaksanaan konstruksi dilakukan di bawah jalur kereta api aktif yang tetap beroperasi selama pekerjaan berlangsung, sehingga kesalahan teknis sekecil apa pun dapat berakibat fatal terhadap keselamatan pelaksanaan pekerjaan maupun kelancaran operasional kereta api. Hal ini penting agar tidak membahayakan operasional kereta api maupun struktur di sekitarnya, sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 17 Tahun 2017, mengingat adanya interaksi antara struktur tanah dan operasional kereta api. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi risiko yang terjadi selama pelaksanaan proyek, (2) mengidentifikasi risiko dominan beserta respons yang diberikan, dan (3) membandingkan analisis risiko yang direncanakan oleh kontraktor dengan hasil penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan memprioritaskan risiko berdasarkan tiga parameter utama, yaitu tingkat keparahan, kemungkinan dan deteksi yang dinyatakan dalam bentuk Risk Priority Number (RPN). Risiko yang ditinjau dalam penelitian ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3), produksi, procurement, kualitas dan mutu serta lingkungan dan sosial. Risiko tersebut dikelompokkan berdasarkan tahapan pekerjaan yang terdiri dari tahap persiapan, struktur bawah, jembatan sementara untuk rel kereta api, struktur atas dan finishing. Dalam proses tersebut, diperoleh hasil lima risiko dominan dari tiap responden yang diklasifikasikan berdasarkan risiko pekerjaan, sub-pekerjaan dan kategori risiko serta mengidentifikasi lima risiko dengan nilai RPN tertinggi yang menjadi prioritas utama dalam pengelolaan risiko proyek. Hasil kuesioner dari lima responden diolah melalui proses penilaian (scoring), sehingga diperoleh lima risiko dominan berdasarkan risiko pekerjaan yaitu: (1) jembatan sementara pada pekerjaan baja dengan risiko produksi, (2) persiapan pada risiko produksi, (3) finishing pada pekerjaan aspal dengan risiko, (4) struktur atas pada pekerjaan dinding dengan risiko produksi, dan (5) struktur bawah pada pekerjaan galian pada risiko produksi. Berdasarkan sub-pekerjaan, risiko dominan meliputi: (1) persiapan dengan risiko produksi dan lingkungan dan sosial, (2) pekerjaan baja jembatan sementara dengan risiko procurement, (3) pekerjaan aspal pada risiko produksi, (4) pekerjaan dinding dengan risiko produksi, dan (5) pekerjaan rigid dengan risiko produksi. Sementara itu, lima kategori risiko adalah: (1) risiko keselamatan dan kesehatan kerja, (2) risiko produksi, (3) risiko kualitas dan mutu, (4) risiko procurement, dan (5) risiko lingkungan dan sosial. Lima risiko dengan nilai RPN tertinggi yaitu: (1) pekerjaan baja jembatan sementara dengan aspek procurement pada risiko estimasi biaya, (2) pekerjaan galian dengan aspek produksi pada risiko metode kerja, (3) pekerjaan baja sementara dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja pada risiko protokol keselamatan dan kesehatan kerja, (4) pekerjaan dinding dengan aspek produksi pada risiko metode kerja, dan (5) pekerjaan dinding aspek produksi pada risiko estimasi waktu. Disisi lain, urutan prioritas risiko menurut kontraktor sejak awal pelaksanaan proyek adalah: (1) risiko sosial, (2) risiko lingkungan, (3) risiko produksi, (4) risiko keselamatan dan kesehatan kerja, dan (5) risiko procurement. Perbedaan ini berdampak pada perbedaan urutan prioritas risiko, karena nilai deteksi dalam FMEA berperan penting dalam menunjukkan seberapa besar kemungkinan risiko dapat dikenali dan dikendalikan sebelum terjadi. Dengan mempertimbangkan aspek deteksi, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap potensi risiko yang tersembunyi namun signifikan, yang mungkin tidak teridentifikasi jika hanya menggunakan dua parameter seperti yang dilakukan oleh kontraktor.
ANALISIS RISIKO PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN JALAN TIDAK SEBIDANG (UNDERPASS) DI BAWAH JALUR PERLINTASAN KERETA API
Pekerjaan pembangunan jalan tidak sebidang (underpass) di bawah jalur perlintasan kereta api merupakan proyek yang kompleks dan berisiko tinggi, sehingga memerlukan pertimbangan teknis yang mendetail serta perhatian khusus terhadap aspek stabilitas dan keselamatan struktur. Kompleksitas ini muncul karena pelaksanaan konstruksi dilakukan di bawah jalur kereta api aktif yang tetap beroperasi selama pekerjaan berlangsung, sehingga kesalahan teknis sekecil apa pun dapat berakibat fatal terhadap keselamatan pelaksanaan pekerjaan maupun kelancaran operasional kereta api. Hal ini penting agar tidak membahayakan operasional kereta api maupun struktur di sekitarnya, sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 17 Tahun 2017, mengingat adanya interaksi antara struktur tanah dan operasional kereta api. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi risiko yang terjadi selama pelaksanaan proyek, (2) mengidentifikasi risiko dominan beserta respons yang diberikan, dan (3) membandingkan analisis risiko yang direncanakan oleh kontraktor dengan hasil penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan memprioritaskan risiko berdasarkan tiga parameter utama, yaitu tingkat keparahan, kemungkinan dan deteksi yang dinyatakan dalam bentuk Risk Priority Number (RPN). Risiko yang ditinjau dalam penelitian ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3), produksi, procurement, kualitas dan mutu serta lingkungan dan sosial. Risiko tersebut dikelompokkan berdasarkan tahapan pekerjaan yang terdiri dari tahap persiapan, struktur bawah, jembatan sementara untuk rel kereta api, struktur atas dan finishing. Dalam proses tersebut, diperoleh hasil lima risiko dominan dari tiap responden yang diklasifikasikan berdasarkan risiko pekerjaan, sub-pekerjaan dan kategori risiko serta mengidentifikasi lima risiko dengan nilai RPN tertinggi yang menjadi prioritas utama dalam pengelolaan risiko proyek. Hasil kuesioner dari lima responden diolah melalui proses penilaian (scoring), sehingga diperoleh lima risiko dominan berdasarkan risiko pekerjaan yaitu: (1) jembatan sementara pada pekerjaan baja dengan risiko produksi, (2) persiapan pada risiko produksi, (3) finishing pada pekerjaan aspal dengan risiko, (4) struktur atas pada pekerjaan dinding dengan risiko produksi, dan (5) struktur bawah pada pekerjaan galian pada risiko produksi. Berdasarkan sub-pekerjaan, risiko dominan meliputi: (1) persiapan dengan risiko produksi dan lingkungan dan sosial, (2) pekerjaan baja jembatan sementara dengan risiko procurement, (3) pekerjaan aspal pada risiko produksi, (4) pekerjaan dinding dengan risiko produksi, dan (5) pekerjaan rigid dengan risiko produksi. Sementara itu, lima kategori risiko adalah: (1) risiko keselamatan dan kesehatan kerja, (2) risiko produksi, (3) risiko kualitas dan mutu, (4) risiko procurement, dan (5) risiko lingkungan dan sosial. Lima risiko dengan nilai RPN tertinggi yaitu: (1) pekerjaan baja jembatan sementara dengan aspek procurement pada risiko estimasi biaya, (2) pekerjaan galian dengan aspek produksi pada risiko metode kerja, (3) pekerjaan baja sementara dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja pada risiko protokol keselamatan dan kesehatan kerja, (4) pekerjaan dinding dengan aspek produksi pada risiko metode kerja, dan (5) pekerjaan dinding aspek produksi pada risiko estimasi waktu. Disisi lain, urutan prioritas risiko menurut kontraktor sejak awal pelaksanaan proyek adalah: (1) risiko sosial, (2) risiko lingkungan, (3) risiko produksi, (4) risiko keselamatan dan kesehatan kerja, dan (5) risiko procurement. Perbedaan ini berdampak pada perbedaan urutan prioritas risiko, karena nilai deteksi dalam FMEA berperan penting dalam menunjukkan seberapa besar kemungkinan risiko dapat dikenali dan dikendalikan sebelum terjadi. Dengan mempertimbangkan aspek deteksi, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap potensi risiko yang tersembunyi namun signifikan, yang mungkin tidak teridentifikasi jika hanya menggunakan dua parameter seperti yang dilakukan oleh kontraktor.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS AHP UNTUK PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI VAKSIN TAHUNAN DALAM MENGHADAPI FLUKTUASI PERMINTAAN
Industri farmasi menghadapi tantangan dikarenakan tingginya biaya penelitian dan pengembangan. Biaya penelitian dan pengembangan yang tinggi mendorong berbagai perusahaan yang beroperasi di industri farmasi untuk memasarkan produknya secara global. Namun, metode pemasaran produk secara global tersebut menghadapi kesulitan dikarenakan regulasi yang ketat dan perbedaan regulasi pada tiap negara. Regulasi yang ketat tersebut dikarenakan banyak produk industri tersebut, seperti vaksin, bersinggungan dengan sistem kesehatan negara tersebut. PT. XYZ, salah satu perusahaan manufaktur vaksin di Indonesia, memiliki tujuan untuk meningkatkan kapabilitasnya dengan membangun fasilitas komersial untuk memenuhi permintaan global atas vaksin Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pengambilan keputusan dengan menggunakan simulasi Monte Carlo sebagai metode proyeksi permintaan untuk menghadapi permintaan yang fluktuatif. Metode Analytic Hierarchy Process digunakan untuk menentukan kapasitas yang paling sesuai untuk PT. XYZ. Pada proyeksi permintaan ditentukan secara global dan nasional dalam rentang waktu 15 tahun. Proyeksi tersebut dihasilkan dengan tiga skenario. Alternatif kapasitas dihasilkan berdasarkan hasil proyeksi dengan rentang 55 juta hingga 80 juta dosis per tahunnya. Kriteria penilaian yang digunakan berdasarkan laporan kelayakan dan wawancara anggota yang terlibat pada proyek. Alternatif tersebut di analisis dengan tiga kriteria, yaitu permintaan terserap, aspek kapasitas, dan kelayakan finansial. Metode AHP kemudian digunakan untuk menilai bobot kepentingan relatif dari setiap kriteria dan subkriteria untuk menentukan alternatif yang tepat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyusunan kerangka pengambilan keputusan secara terstruktur dalam industri farmasi ketika menghadapi fluktuasi permintaan, serta menjadi model yang dapat digunakan untuk situasi dan lingkungan yang serupa.
PENYUSUNAN PROGRAM PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN BERBASIS RISIKO PADA JALUR KERETA API STASIUN GAMBIR - STASIUN BANDUNG
Pengelolaan risiko yang efektif dalam industri layanan kereta api diperlukan untuk menjamin ketepatan waktu dan meminimalkan kecelakaan. Kondisi aset prasarana yang baik menjadi faktor kunci dalam mencegah gangguan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh metode dan interval pemeriksaan dan perawatan berbasis risiko pada Wilayah DAOP 2 Bandung lintas Cikampek β Rendeh dengan menggunakan metodologi Risk Based Inspection (RBI). Hasil analisis risiko terhadap kondisi awal, menunjukkan bahwa dari 164 potensi risiko yang diidentifikasi, 69 di antaranya memiliki nilai risiko tinggi dan memerlukan evaluasi dan mitigasi lebih lanjut melalaui strategi perawatan dan pemeriksaan yang efektif dan efisien. Strategi pemeriksaan yang diusulkan meliputi penggantian Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) setiap 12 jam, pemeriksaan dengan Kendaraan Pemeriksa Jalur (KPJ) setiap 12 jam, serta locomotive ride (lokrit) setiap 7 hari. Pendekatan ini mengoptimalkan kebutuhan tenaga kerja sambil tetap memastikan keselamatan perjalanan kereta api. Rencana pemeriksaan dan perawatan disusun berdasarkan hasil evaluasi risiko terhadap enam potensi kerusakan pada komponen rel, geometri pada lengkung, wesel, penambat, mud pumping, serta sambungan rel. Interval pemeriksaan dan perawatan ditetapkan berbeda sesuai tingkat risiko masing-masing komponen, dengan pendekatan inspeksi dan perawatan yang dipisah untuk meningkatkan efisiensi. Interval perawatan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, dengan beberapa komponen hanya memerlukan tindakan korektif jika ditemukan kerusakan. Penerapan interval pemeriksaan dan perawatan usulan meningkatkan keandalan rata-rata pemeriksaan sebesar 59,66% dan perawatan sebesar 26,35%. Selain itu, strategi ini berpotensi meningkatkan Mean Time Between Failures (MTBF) komponen jalan rel dari 1953 menjadi 1901. Di lain pihak, rekomendasi perubahan pola inspeksi ini berpotensi menurunkan biaya total pemeriksaan dan perawatan dari Rp. 924.301.298 menjadi Rp. 842.282.430 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa strategi berbasis risiko yang diusulkan tidak hanya meningkatkan keandalan sistem perkeretaapian, tetapi juga menghasilkan efisiensi biaya dalam pemeliharaan jalan rel.