📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 109 dokumen

STUDI KELAYAKAN TEKNO-EKONOMI PROYEK TURBIN ANGIN DARAT MENGGUNAKAN RETSCREEN UNTUK MENCAPAI TRANSISI ENERGI INDONESIA: STUDI TENTANG PLTA ANGIN 70 MW TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA

Indonesia memiliki potensi energi angin sebesar 155 GW, namun pemanfaatannya baru mencapai 154 MW (0,15%). Kesenjangan ini disebabkan oleh kendala pembiayaan, infrastruktur, dan belum tersedianya studi kelayakan yang komprehensif. Penelitian ini menganalisis kelayakan tekno-ekonomi proyek PLTB 70 MW di Tanah Laut menggunakan perangkat lunak RETScreen. Empat skenario disimulasikan berdasarkan variasi biaya investasi, tarif listrik, harga bayangan karbon, dan umur proyek. Skenario 1 dan 2 yang menggunakan tarif PLN dan harga karbon rendah menghasilkan NPV negatif. Sebaliknya, skenario 3 dan 4 yang menggunakan Feed-in Tariff, harga karbon dari IMF, dan umur proyek yang lebih panjang menunjukkan NPV positif (hingga USD 57,79 juta) dan IRR di atas 27%. Skenario 4 juga menunjukkan ketahanan tinggi melalui simulasi Monte Carlo. Seluruh skenario menghasilkan pengurangan emisi sebesar 10.133 ton CO? per tahun. Studi ini merupakan analisis RETScreen pertama yang komprehensif terhadap PLTB Tanah Laut dan memberikan rekomendasi berbasis data bagi PLN, investor, dan mitra JETP, serta mendorong replikasi dan integrasi aspek sosiallingkungan dalam studi serupa.

2025
👤 Penulis: Ririen Clara Octavia
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Tekno-Ekonomi 🏷️ Manajemen Risiko Energi

ANALISIS NIAT MENGADOPSI PLTS ATAP DI PERKOTAAN INDONESIA: PENDEKATAN PERCEIVED VALUE MODEL

Adopsi sistem fotovoltaik (PV) atap menjadi kunci percepatan transisi energi terbarukan di kawasan berkembang. Namun, pola adopsi konsumen di kawasan urban Indonesia masih kurang diteliti. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat adopsi PV atap menggunakan Perceived Value Model (PVM). Analisis dilakukan dengan Structural Equation Modeling (SEM) terhadap 200 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kinerja Energi Surya, Tren Energi Terbarukan, dan Kesadaran Sosial-Lingkungan berpengaruh signifikan terhadap persepsi manfaat. Sebaliknya, Perubahan Regulasi dan Biaya Investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko, dan persepsi risiko juga tidak memengaruhi persepsi nilai. Motivasi Simbolik menjadi pendorong utama dengan pengaruh langsung dan positif terhadap persepsi nilai. Temuan ini mencerminkan pergeseran paradigma di mana faktor simbolik seperti status sosial dan identitas lingkungan lebih dominan dibandingkan pertimbangan regulasi atau biaya. Implikasi praktis menunjukkan perlunya pembuat kebijakan dan perusahaan energi menonjolkan pesan-pesan simbolik dan aspiratif untuk mempercepat tingkat adopsi. Studi ini berkontribusi pada pemahaman perilaku adopsi PV atap dalam konteks urbanisasi pesat dan memberikan wawasan strategis untuk memperluas solusi energi berkelanjutan di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Rahmita Cahyani Imawan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Perilaku Adopsi Sistem Fotovoltaik 🏷️ Manajemen Persepsi Risiko

ANALISIS KINERJA FINANSIAL BERBASIS SKENARIO PADA PEMBANGKIT LISTRIK BIOMASSA SKALA BESAR MENGGUNAKAN WOOD PELLET DI PULAU JAWA

Transisi energi di Indonesia menargetkan dekarbonisasi sektor kelistrikan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 7. Kendati upaya pemerintah untuk menekan jumlah pembangkit berbahan bakar fosil terus dilakukan, capaian pertumbuhan energi terbarukan pada tahun 2023 baru berkontribusi sebesar 12,06% terhadap bauran energi nasional. Energi biomassa menjadi salah satu strategi yang direncanakan pemerintah dalam program de-dieselisasi dalam hal mendukung upaya pertumbuhan bauran energi terbarukan. Pelet kayu Calliandra calothyrsus diusulkan sebagai bahan bakar energi biomassa karena daur hidupnya yang cepat, memiliki nilai kalor tinggi, serta kemampuannya tumbuh di lahan marginal. Penelitian ini bertujuan mengkaji kelayakan pembangunan pembangkit listrik biomassa (PLTBm) berkapasitas 50,9 MW dengan bahan bakar pelet kayu Calliandra pada tiga lokasi di Pulau Jawa, yaitu Sukabumi, Purwodadi, dan Saradan. Analisis yang dilakukan adalah tekno-ekonomi menggunakan RETScreen dengan menerapkan tiga skenario, meliputi tarif dasar pembelian listrik $0,0929/kWh, subsidi karbon $10/tCO?, dan skenario eskalasi tarif dengan tarif awal $0,111/kWh yang naik 1%/tahun. Penelitian ini merupakan studi kelayakan pertama yang mengkaji penggunaan pelet kayu Calliandra untuk PLTBm skala besar sekaligus mengintegrasikan mekanisme subsidi karbon dalam pemodelan keuangannya. Hasil analisis menunjukkan seluruh lokasi tidak layak secara finansial pada tarif dasar saat ini. Penerapan subsidi karbon meningkatkan kelayakan finansial seluruh lokasi, di Sukabumi, NPV naik dari –$8,3 juta menjadi $14,8 juta dan IRR dari –3,7% menjadi 4,6%. Di Purwodadi, NPV meningkat dari $1,6 juta menjadi $24,8 juta dan IRR dari –1,2% menjadi 7,9%. Sementara itu, di Saradan NPV meningkat dari –$5,9 juta ke $17,3 juta dan IRR dari –10,3% ke 5,4%. Penerapan eskalasi tarif memberikan dampak yang lebih besar dengan NPV mencapai $25,9 juta di Sukabumi, $35,8 juta di Purwodadi, dan $28,4 juta di Saradan, serta periode pengembalian modal kurang dari 2,5 tahun di seluruh lokasi. Dari tiga lokasi, hanya Purwodadi yang menunjukkan kinerja positif pada semua skenario, sementara Sukabumi dan Saradan baru beralih menjadi layak secara finansial pada skenario intervensi. Strategi yang direkomendasikan adalah memprioritaskan pengembangan PLTBm di Purwodadi, dengan menerapkan subsidi karbon pada tahap awal.

2025
👤 Penulis: Susi Handayani
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Tekno-Ekonomi 🏷️ Subsidi Karbon

KAJIAN KELAYAKAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK GEOTHERMAL DI JAWA TENGAH (PT GEOTHERMAL PURWA ENERGI PROJEK J-3 DAN J-4)

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar. Namun, pengembangannya masih berjalan lambat karena berbagai kendala, seperti tingginya biaya awal dan risiko keuangan yang melekat. Pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk dapat mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Untuk itu, pemerintah mendorong percepatan proyek energi terbarukan, baik oleh perusahaan swasta maupun BUMN termasuk didalamnya energi angin, surya, dan panas bumi. PT Geothermal Purwa Energi (GPE), merupakan sebuah BUMN yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi, perusahaan tersebut berencana untuk melakukan ekspansi di Jawa Tengah melalui proyek J-3 dan J-4 dengan total kapasitas tambahan sebesar 110 MW. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah proyek tersebut layak secara finansial dan lingkungan bisnis, terutama di tengah keterbatasan modal. Penelitian ini fokus pada kelayakan proyek J-3 dan J-4 dengan menggunakan indikator utama seperti Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Payback Period, dan Profitability Index (PI). Analisis lingkungan bisnis juga dilakukan dengan pendekatan menggunakan teori PESTLE, untuk memahami secara menyeluruh situasi investasi di Indonesia. Dalam analisis tersebut, dibahas juga terkait regulasi dan insentif yang berpengaruh terhadap para pengembang. Penelitian dilakukan dengan bebeberapa tahap. Tahap awal adalah mencakup studi literatur dan melakukan kajian teori terkait penganggaran modal, penilaian proyek, dan pembiayaan energi terbarukan. Selanjutnya, dilakukan analisis lingkungan bisnis menggunakan PESTLE serta pemetaan pemangku kepentingan untuk melihat pengaruh dan dinamika yang ada di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Data utama berasal dari dokumen keuangan, kontrak, dan catatan operasional. Sementara itu, wawancara dengan ahli dari GPE digunakan untuk melakukan verifikasi data terkait proyeksi biaya, risiko, dan standar industri. Semua data ini digunakan untuk menyusun model keuangan dan melakukan proyeksi arus kas selama 30 tahun. Asumsi utama mencakup tarif listrik, kemampuan operasional pembangkit, belanja modal, dan biaya operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek dinilai layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan asumsi dasar, proyek berhasil mendapatkan IRR sebesar 5,96%, yang dimana berada sedikit di atas Weighted Average Cost of Capital (WACC), sebesar 4,78%. Perhitungan yang dilakukan juga menghasilkan NPV yang positif sebesar USD 114 juta dan Profitability Index sebesar 1,149. Meskipun hasil perhitungan menunjukkan projek ini layak untuk dilakukan, Payback Period yang mencapai 13 tahun melebihi batas ideal menurut LPEM FEB UI 2023, yaitu di bawah 10 tahun. Selanjutnya, analisa sensitivitas menunjukkan bahwa proyek rentan terhadap perubahan variabel penting. Penurunan tarif listrik yang lebih dari 13% dapat menurunkan IRR ke bawah ambang batas kelayakan. Demikian pula, perubahan pada kemampuan operasional pembangkit dan biaya modal berpotensi mengancam keberlangsungan proyek. Namun demikian, dukungan kebijakan pemerintah dan insentif ekonomi bagi energi baru terbarukan dinilai dapat meningkatkan kelayakan proyek secara signifikan. Analisis pemangku kepentingan juga menunjukkan adanya dukungan kuat dari instansi pemerintah dan juga PLN. Sebagai kesimpulan, proyek panas bumi J-3 dan J-4 dinilai layak untuk dilaksanakan. Penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian biaya konstruksi, kesepakatan tarif dengan PLN, dan kemampuan operasional pembangkit. Dengan menggabungkan pemodelan keuangan yang ketat dan analisis strategis terhadap lingkungan bisnis serta pemetaan pemangku kepentingan, studi ini memberikan wawasan penting dalam pengelolaan risiko dan kelayakan proyek panas bumi. Temuan ini tidak hanya mendukung pengambilan keputusan GPE, tetapi juga menjadi referensi praktis bagi proyek energi terbarukan serupa di masa mendatang.

2025
👤 Penulis: R Bayu Wibowo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Risiko 🏷️ Analisis Keuangan

ANALISIS STRATEGI INVESTASI ADOPSI KENDARAAN LISTRIK BERTENAGA BATERAI DI INDONESIA (STUDI KASUS PT. GREENTRUCK)

Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perubahan iklim, Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui perjanjian internasional dan kebijakan nasional. Dukungan pemerintah terhadap Perjanjian Paris dan Peraturan Presiden No. 55/2019-yang diperbarui dengan No. 79/2023menyoroti upaya untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik baterai (BEV). Kebijakan-kebijakan ini menawarkan insentif fiskal dan non-fiskal untuk beralih dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) ke alternatif listrik. PT. GREENTRUCK, sebuah perusahaan logistik dan outsourcing yang memiliki lebih dari seratus truk diesel, menghadapi dilema strategis. Meskipun adopsi BEV sejalan dengan tren keberlanjutan dan peraturan, kondisi teknologi dan infrastruktur truk BEV yang belum berkembang di Indonesia mempersulit keputusan investasi. Perusahaan harus menimbang manfaat lingkungan dan kepatuhan terhadap risiko ekonomi dan operasional. Studi ini menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP), sebuah alat bantu pengambilan keputusan multi-kriteria, untuk memprioritaskan faktor teknis, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, sosial, tata kelola, dan faktor perusahaan. AHP mengubah penilaian kualitatif menjadi bobot kuantitatif, menghasilkan kerangka kerja keputusan peringkat. Hasilnya menunjukkan faktor ekonomi, infrastruktur, dan tata kelola sebagai prioritas utama. Biaya modal yang tinggi, stasiun pengisian daya yang terbatas, dan peraturan yang terus berkembang secara signifikan mempengaruhi keputusan. Aspek teknis, lingkungan, sosial, dan perusahaan berada di peringkat yang lebih rendah. Analisis AHP menyimpulkan bahwa adopsi BEV belum dapat dilakukan tanpa adanya perbaikan infrastruktur, kinerja baterai, dan biaya.

2025
👤 Penulis: Gregorius Rio Sadewo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Logistik 🏷️ Analisis Keputusan

PERAN PEMBIAYAAN PROYEK DALAM MEMASTIKAN KEBERLANJUTAN DAN MENGELOLA RISIKO: PELAJARAN DARI PROYEK RAJAMANDALA

Indonesia tengah berjuang untuk beralih dari penambangan batu bara dan beralih ke energi terbarukan. Transisi ke energi terbarukan telah menjadi tujuan PT Perusahaan Listrik Negara untuk mencapai Indonesia yang mengurangi emisi karbon dan memastikan pembangkitan listrik yang berkelanjutan. Namun, PLN menghadapi kesulitan dalam pendanaan keuangan untuk energi terbarukan, terutama pada tenaga air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan pembiayaan proyek sebagai alat untuk membantu proyek mengoptimalkan profitabilitas, mengurangi risiko, dan menarik investor. Menggunakan kasus pembangkit listrik tenaga air yang ada dari PLN yang disebut pembangkit listrik tenaga air Rajamandala sebagai contoh untuk menilai kinerja keuangan selama studi kelayakan, penyelesaian, dan tahap operasi & pemeliharaan. Penelitian ini menghasilkan bahwa proyek Rajamandala menghadapi masalah profitabilitas karena kelebihan biaya, keterlambatan konstruksi, dan produksi listrik yang rendah. Selama tahap kelayakan, proyek menghasilkan hasil yang menjanjikan dari ekuitas IRR sebesar 12,25% dan proyek IRR sebesar 7,95%, hasil yang lebih besar daripada proyek WACC sebesar 7,52%. Hasil menurun pada tahap penyelesaian akibat keterlambatan konstruksi yang mengakibatkan proyek mengalami kelebihan biaya operasional dan mengakibatkan turunnya IRR ekuitas sebesar 7,82% dan IRR proyek sebesar 3,68% serta menyebabkan kinerja NPV menjadi negatif -39,6234 MUSD. Pada tahap O&M, model keuangan memasukkan pendapatan kredit karbon untuk mendukung kinerja proyek, yang mengakibatkan peningkatan IRR ekuitas sebesar 8,20% dan IRR proyek sebesar 4,21% serta peningkatan NPV -34,8530 MUSD. Namun proyek masih berjuang untuk melampaui biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Untuk menghindari kesulitan keuangan, penelitian ini merekomendasikan untuk membangun kembali struktur keuangan yang lebih fleksibel, melakukan analisis risiko, dan strategi penetapan harga yang adaptif. Dengan memasukkan rekomendasi ini, PLN pasti dapat meningkatkan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang dan meningkatkan daya tarik bagi investor. Aspek-aspek kunci ini penting sebagai pendukung rencana aksi peningkatan proyek EBT di Indonesia, mengurangi emisi, membantu transisi menuju energi hijau, dan berfungsi sebagai panduan referensi untuk pembangkit listrik tenaga air di masa mendatang.

2025
👤 Penulis: Anggita Tri Ayuningtyas
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Keuangan Proyek 🏷️ Analisis Risiko

STRATEGI PEMBIAYAAN PROYEK UNTUK INSTALASI SOLAR PV ON-GRID DI INDUSTRI SEMEN & BAHAN KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PT CIBINONG BANGUN SARANA, JAWA BARAT, INDONESIA)

Di Indonesia, industri semen berperan penting dalam pembangunan infrastruktur, karena industri ini terus berkembang seiring dengan proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan daerah perkotaan. Namun, industri ini memiliki tantangan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam produksinya. Untuk mengatasi masalah ini, sistem fotovoltaik surya on-grid (PV) berkembang sebagai alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional. Penelitian ini menganalisis strategi pembiayaan untuk instalasi PLTS on-grid dengan studi kasus PT Cibinong Bangun Sarana (CBS). PT CBS adalah perusahaan di Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai perusahaan induk. Perusahaan ini telah beroperasi secara komersial sejak tahun 1975 dengan bisnis terintegrasi yang terdiri dari semen, beton siap pakai, agregat, dan jasa pengelolaan limbah. Untuk melaksanakan proyek ini, PT CBS akan membutuhkan investasi modal yang cukup besar, berkisar antara Rp 13 hingga 14 miliar. PT CBS perlu melakukan analisis kelayakan untuk peluang bisnis dan mengevaluasi sumber dana potensial sebelum melakukan investasi modal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus pada analisis kelayakan finansial, analisis sensitivitas, dan penganggaran modal bersama dengan teori US Index untuk menilai kelayakan ekonomi proyek. Indikator keuangan yang dianalisis meliputi NPV, IRR, Payback Period, Discounted Payback Period, dan Profitability Index. Selain itu, studi ini juga menganalisis beberapa kemungkinan alternatif pendanaan, termasuk pembiayaan internal, pinjaman bank domestik, pinjaman bank internasional, dan sewa guna usaha. Hasil dari studi menunjukkan bahwa opsi pembiayaan terbaik adalah pinjaman bank internasional dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 40%:60%. Metode pembiayaan ini memastikan keberlanjutan keuangan jangka panjang dan kelayakan ekonomi dengan menawarkan WACC terendah, NPV tertinggi, dan periode pengembalian modal yang paling singkat. Selain itu, analisis sensitivitas menemukan bahwa dua faktor terpenting yang mempengaruhi kelangsungan proyek adalah harga listrik PLN dan efisiensi pembangkit listrik. Penurunan harga listrik PLN atau efisiensi pembangkit listrik tenaga surya secara signifikan mengurangi NPV proyek, yang berpotensi membuat proyek ini tidak layak secara finansial. Sebaliknya, tarif PLN yang lebih tinggi atau peningkatan efisiensi energi akan meningkatkan daya tarik finansial proyek. Studi ini memberikan wawasan strategis bagi perusahaan semen dalam menerapkan solusi energi berkelanjutan, mengurangi biaya listrik, dan meningkatkan efisiensi operasional.

2025
👤 Penulis: Dinda Saphira Nabila Sofyan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Kelayakan Finansial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

PENGARUH PENGGUNAAN CAMPURAN BIOMASSA PADA PERFORMA DAN OPERASI PLTU BENGKAYANG 2 X 50 MW

Pemanfaatan energi yang ramah lingkungan saat ini menjadi perhatian dari pemerintah dalam upaya untuk menekan emisi karbon dimana target nol emisi atau zero emisi pada tahun 2060 sesuai dengan Paris Agreement. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain adalah dengan menggunakan bahan bakar alternatif untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Dalam mengupayakan tujuan zero emisi tentunya memiliki beberapa tantangan tersendiri antara lain, kesiapan infrastruktur, biaya investasi yang besar dan kesiapan sumber daya yang ada untuk membangun pembangkit listrik energi terbarukan. Selain itu, pembangkit berbahan bakar fosil pun sangat sulit untuk serta merta dinonaktifkan mengingat sifatnya dalam kontinyuitas menyediakan listrik yang sangat baik. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi dari PLTU Batu Bara adalah dengan melakuan co-firing dimana proses pembakaran batu bara dan biomassa dilakukan dengan komposisi yang telah ditentukan. Kebijakan ini tentunya akan menimbulkan dampak bagi peralatan – peralatan eksisting pada PLTU tersebut mengingat peralatan – peralatan pada PLTU tersebut dirancang dan dibangun dengan memperhitungkan spesifikasi dari batu bara. Pada penelitian kali ini penulis akan melakukan analisis terhadap pengaruh penggunaan biomassa di peralatan – peralatan utama PLTU Bengkayang 2 x 50 MW dengan melakukan simulasi cofiring dengan komposisi 5% , 10% dan 15% biomassa. Dari hasil simulasi didapatkan dengan melakukan cofiring biomassa menggunakan cangkang sawit sebesar 15% akan meningkatkan FGET sebesar 1,49% dan peningkatan gross power sebesar 1,5%. Jika melihat dari aspek keekonomian, dengan melakukan cofirng menggunakan cangkang sawit pada komposisi 15%, dapat menurunkan biaya penggunaan bahan bakar sebesar Rp. 7,79 /kwh.

2025
👤 Penulis: Ary Setyawan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Co-Firing 🏷️ Analisis Teknikis Pembangkit Listrik

COMPLEMENTARITY ASSESSMENT ENERGI GELOMBANG, SURYA, DAN ANGIN DI LUNYUK, NUSA TENGGARA BARAT

Indonesia telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dalam Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 untuk mencapai bauran energi dengan 23% energi terbarukan pada 2025 dan 31% pada 2050. Salah satu wilayah yang memiliki target transisi energi ambisius adalah Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bertujuan mencapai net-zero emission pada 2050. Sistem terisolasi Kecamatan Lunyuk di NTB, yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel, memiliki potensi besar untuk pemanfaatan energi terbarukan, yaitu energi surya, angin, dan gelombang laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial sumber energi terbarukan, mengevaluasi tingkat complementarity antara sumber-sumber energi tersebut, dan menganalisis risiko kekurangan daya dan overload jaringan pada sistem yang dipilih. Proyeksi kebutuhan listrik hingga tahun 2055 dilakukan berdasarkan data penduduk Lunyuk dan konsumsi listrik per kapita penduduk NTB. Penentuan lokasi potensial menggunakan parameter spesifik untuk setiap sumber energi dengan pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yang dikombinasikan dengan Geographic Information System (GIS). Potensi teoritis dihitung menggunakan data GHI untuk energi surya, distribusi Weibull untuk energi angin, dan wave scatter diagram untuk energi gelombang. Indeks complementarity dihitung menggunakan metode koefisien korelasi (Pearson, Spearman, Kendall) untuk mengevaluasi kombinasi sumber energi dan lokasi terbaik. Analisis risiko kekurangan daya dan overload jaringan pada sistem dilakukan dengan metode klastering K-means. Penelitian ini menunjukkan proyeksi kebutuhan listrik di Lunyuk pada 2055 mencapai 311.91 GWh/tahun, dengan total potensi energi terbarukan sebesar 2,709.49 GWh/tahun. Analisis pemilihan lokasi menghasilkan tiga lokasi potensial untuk energi surya, satu lokasi untuk energi angin, dan dua lokasi untuk energi gelombang. Kombinasi lokasi dengan indeks complementarity tertinggi yaitu energi surya di 8.96° LS dan 117.17° BT, energi gelombang di 9.068° LS dan 117.231° BT, serta energi angin di 9.06° LS dan 116.86° BT. Analisis klaster terhadap kombinasi ini menunjukkan kombinasi energi gelombang di 9.068° LS dan 117.231° BT dan surya di 8.96° LS dan 117.17° BT yang diintegrasikan dengan sistem penyimpanan energi sebagai kombinasi sistem yang diajukan untuk menggantikan PLTD di Lunyuk.

2025
👤 Penulis: Eva Lina Lastaruli
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Risiko Dan Optimalisasi Sistem Energi

PERANCANGAN DAN OPTIMASI SISTEM ENERGI HIBRIDA UNTUK DAERAH TERPENCIL STUDI KASUS PULAU KERASIAN, KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN

Ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan merupakan tantangan signifikan bagi daerah terpencil di Indonesia, termasuk Pulau Kerasian, yang masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengoptimalkan sistem energi hibrida yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbasis biodiesel B30 guna memastikan pasokan listrik yang efisien dan ramah lingkungan. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak HOMER Pro, PVSyst, dan ETAP untuk mengevaluasi aspek teknis, ekonomi, serta kelayakan integrasi sistem energi hibrida. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem optimal terdiri dari PLTS berkapasitas 831 kW, PLTD 100 kW, dan baterai dengan kapasitas penyimpanan 2.755,2 kWh, yang menghasilkan bauran energi terbarukan sebesar 94,6% dan produksi energi tahunan sebesar 1.210.160 kWh. Sistem ini terbukti mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat secara efisien dan memiliki stabilitas yang baik. Analisis kelistrikan menggunakan ETAP menunjukkan bahwa tegangan pada bus GH dan ujung trafo masing-masing sebesar 19,91 kV dan 19,89 kV, yang berada dalam rentang aman dan mendukung keandalan sistem secara keseluruhan. Simulasi ekonomi dengan HOMER Pro mengindikasikan bahwa sistem ini memiliki Net Present Cost (NPC) sebesar Rp50.684.219.690 dan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar Rp3.510,74 per kWh, yang lebih rendah dibandingkan konfigurasi sistem lainnya. Selain itu, implementasi sistem ini berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 93,40%, dari 1.028.418 kg/tahun menjadi 67.923 kg/tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan sistem energi hibrida dengan proporsi energi terbarukan sebesar 94,6% di Pulau Kerasian tidak hanya efektif dalam menyediakan pasokan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan di daerah terpencil lainnya. Dengan efisiensi biaya yang tinggi dan dampak lingkungan yang minimal, sistem ini dapat menjadi model bagi pengembangan energi terbarukan di wilayah serupa.

2025
👤 Penulis: Ahmad Syairozie
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Ekonomi Dan Lingkungan

PENGUJIAN PROTOTYPE SISTEM SOLAR PV MENGGUNAKAN SISTEM TRACKING SINGLE AXIS

Penelitian ini berfokus pada pengembangan dan pengujian prototype sistem panel surya (PV) yang menggunakan sistem tracking single axis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mensimulasikan biaya pembuatan serta payback period modal investasi solar PV berbasis tracking sistem di PLTS eksisting gedung admin PLTU Adipala serta memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia juga menghitung efisiensi penyerapan energi matahari oleh panel surya dengan menggunakan sistem tracking single axis yang dapat mengoptimalkan posisi panel terhadap matahari sepanjang hari, sehingga mampu meningkatkan efisiensi penyerapan energi sebesar 9.4% dibandingkan panel non tracking/statis. Energi surya merupakan sumber energi terbarukan yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, namun efisiensinya sering kali tidak optimal akibat posisi panel yang statis. Sistem tracking single axis diusulkan untuk mengatasi permasalahan ini dengan memungkinkan pergerakan panel surya mengikuti posisi matahari. Penelitian ini melibatkan beberapa tahapan, mulai dari perancangan alat, survei dan evaluasi lapangan, hingga pengujian dan analisis data. Lokasi penelitian dilakukan di area dekat gedung admin PLTU Adipala. Komponen utama yang digunakan termasuk panel surya, actuator, sensor LDR, solar charge controller, dan aki sebagai pusat pemrograman alat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem ini menghasilkan keuntungan tahunan sebesar Rp. 275.729.134,00 dengan investasi awal sebesar Rp. 983.195.820,00 menjadikannya investasi yang menguntungkan untuk instalasi panel surya. Periode pengembalian modal dihitung selama 3,5 tahun, dengan proyeksi pengembalian investasi pada tahun 2028, setelah itu diharapkan dapat memberikan margin keuntungan. Dengan hasil ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia, khususnya dalam optimasi efisiensi energi surya melalui sistem tracking single axis.

2025
👤 Penulis: Roni Tariq Gaban
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PENERIMAAN PENGGUNAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA ATAP PADA MASYARAKAT UMUM DAN PEGAWAI PT PLN (PERSERO)

Isu perubahan iklim merupakan permasalahan global yang melibatkan seluruh pihak, secara spesifik telah dibahas pada kesepakatan Paris terkait upaya dan kesepakatan seluruh negara untuk mengurangi emisi untuk menekan kenaikan suhu bumi. PT. PLN (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak dibidang kelistrikan, yang memiliki andil untuk mengendalikan emisi karbon yang dihasilkan. Salah satu upaya PT. PLN (Persero) dalam mengurangi emisi karbon adalah dengan meingkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT), yaitu berkolaborasi dengan perusahaan lain untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. PT. PLN (Persero) melalui subholdingnya juga mulai menjual PLTS untuk penggunaan rumah atau PLTS atap, namun demikian bagi sebagian orang yang memiliki pengetahuan atau pengalaman mungkin bukan hal baru namun bagi masyarakat awam dapat menimbulkan pertanyaan terkait penetrasi teknologi PLTS atap di Indonesia. Penelitian tesis ini bertujuan untuk meneliti terkait perbandingan antara penerimaan masyarakat Indonesia dan internal PT. PLN (Persero) terhadap penggunaan PLTS atap di Indonesia. Perbandignan model pada kedua responden ini untuk melihat delta variabel apa saja yang berpengaruh terkait penerimaan penggunaan PLTS atap. Total responden yang berpartisipasi pada penelitian ini adalah 179 responden publik dan 187 responden pegawai PLN. Penelitian ini menggunakan pengembangan model dari penelitian sebelumnya dengan model dasar Theory Planned Behavior yang telah dikembangkan. Model tersebut memiliki 12 variabel konstruk dengan total 43 indikator penyusun. Pengolahan data menggunakan Partial Least Square-Structural Equation Modelling (PLS-SEM). Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi penerimaan penggunaan PLTS atap pada masyarakat umum adalah persepsi terhadap PLTS atap, persepsi kebermanfaatan ekonomi, persepsi kebijakan insentif dan norma subjektif. Sementara pada responden pegawai PLN terdapat perbedaan yaitu norma subjektif tidak menjadi faktor yang berpengaruh dan persepsi terhadap kebermanfaatan lingkungan menjadi faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan penggunaan PLTS atap.

2025
👤 Penulis: Tubagus Riady
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Perusahaan Listrik 🏷️ Kepatuhanan Dan Kebijakan Energi

STRATEGI BISNIS UNTUK PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN PERUSAHAAN ENERGI TERBARUKAN JEPANG DALAM ANGGARAN MODAL DAN STRUKTUR MODAL (STUDI KASUS: ERENA ENGINEERING CO., LTD., OSAKA, JAPANG)

Makalah ini menyajikan analisis menyeluruh tentang strategi bisnis untuk pemilihan proyek yang bertujuan membangun rantai pasokan bahan bakar biomassa yang kuat dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan, menggunakan kasus Serena Engineering Co., Ltd., sebuah perusahaan energi terbarukan Jepang yang pionir. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi masalah bisnis inti dari Serena Engineering Co., Ltd. dan mengusulkan strategi untuk memilih proyek yang sesuai yang mengatasi masalah ini. Untuk mengusulkan strategi yang efektif, penulis melakukan dua langkah analitis: pertama, analisis internal dan eksternal untuk mengidentifikasi proyek potensial yang selaras dengan strategi dasar yang diinginkan; kedua, analisis keuangan dari laporan keuangan keseluruhan Serena Engineering Co., Ltd. dan proyeksi arus kas untuk setiap proyek potensial guna merumuskan strategi bisnis untuk pemilihan proyek. Serena Engineering Co., Ltd. memiliki empat proyek potensial: - Proyek A: Pabrik Terpadu Pelet Hijau & Tenaga Listrik - Proyek B: Akuisisi Vertikal Pabrik Pengolahan Minyak Sawit - Proyek C: Ekspansi Geografis: Membangun Tumpukan PKS Tambahan - Proyek D: Ekspansi Khusus: Memperbesar Kapasitas Inventaris dari Tumpukan yang Ada Analisis menunjukkan bahwa Proyek A mungkin menawarkan kontribusi tertinggi untuk menyelesaikan masalah bisnis perusahaan. Pemeriksaan menyeluruh tentang struktur modal dan pemilihan mitra ekuitas untuk Proyek A dilakukan untuk merumuskan rencana implementasi proyek.

2025
👤 Penulis: Sho Iwaki
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Analisis Keuangan

ANALISIS KELAYAKAN TEKNOLOGI BIOMASS CO-FIRING DENGAN PELET KAYU PADA PLTU DI INDONESIA

Emisi CO2 merupakan emisi yang paling dominan dari Gas Rumah Kaca (GRK). Penerapan biomass co-firing menjadi salah satu cara yang dipilih untuk mengurangi emisi CO2. PLTU yang ditinjau dalam penelitian ini adalah sebuah PLTU di Padang, Sumatra Barat (2 x 112 MW) yang berjarak 350 km dari sumber biomassa di Kampar, Riau. PLTU ini berteknologi Circulating Fluidized Bed. Kelayakan dari segi teknologi mencakup analisis kinerja teknologi pada penerapan biomass cofiring untuk teknologi yang dioperasikan pada saat ini dan modifikasinya dengan rentang biomassa yang digunakan antara 0,5-2%-massa dari total bahan bakar. Bahan bakar biomassa yang akan dikaji adalah pelet kayu pada harga 66 USD/ton sedangkan harga batubara mengikuti harga DMO 70 USD/ton. Emisi dihitung dengan merujuk pada ketentuan dalam Pedoman Penyelenggaraan dan Pelaporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Bidang Energi Sub Bidang Ketenagalistrikan dengan IPCC Guideline 2006 sebagai dasarnya. Penerapan biomass co-firing dapat menurunkan Emisi CO2 dari 1,925 Juta Ton/tahun menjadi 1,903 Juta ton/tahun. Kemudian menurunkan emisi SOx dan NOx dari 136 dan 311 mg/Nm3 menjadi 133 dan 307 mg/Nm3, sembari meningkatkan PM10 dari 11,5 mg/Nm3 menjadi 15,4 mg/Nm3. Namun demikian, emisi SOx, NOx dan PM10 tersebut masih berada dibawah ambang batas berturutturut 550, 550, dan 100 mg/Nm3. Net Present Value (NPV) akan bernilai positif pada penerapan biomass co-firing rasio biomassa 2%-massa sebesar 7.781 USD dengan menggunakan discount rate 6,75% pada rentang 10 tahun operasi. Internal Rate of Return (IRR) pada rasio biomassa 0,5–2%-massa berturut-turut 2,15%, 4,44%, 6,37%, dan 9,13%. Nilai IRR maksimal pada fasilitas PLTU pada pedoman PLN adalah 11%. Levelized Cost of Electricity (LCoE) dari penerapan biomass cofiring sebesar 101 USD/MWh untuk PLTU 2 x 112 MW dimana saat ini tarif listrik di Indonesia adalah Rp 1.500/kWh atau 94 USD/MWh.

2025
👤 Penulis: Fakhrinanda
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Energi 🏷️ Analisis Keberlanjutan Investasi

PERANCANGAN POLA OPERASI TERMINAL CURAH CAIR KALIBARU UTARA, PELABUHAN TANJUNG PRIOK, DKI JAKARTA

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam, termasuk cadangan minyak dan gas bumi yang signifikan. Sumber daya ini memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi negara. Meskipun dunia mulai beralih ke energi terbarukan, minyak dan gas bumi tetap menjadi tulang punggung utama dalam penyediaan energi di Indonesia. Namun, pengelolaan minyak dan gas bumi dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk penurunan cadangan yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2024. Selain itu, eksploitasi sumber daya ini menimbulkan risiko terhadap lingkungan, seperti pencemaran dan kerusakan ekosistem, yang menuntut penerapan pendekatan pengelolaan yang berkelanjutan. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan kerangka hukum yang kuat melalui Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Undang-undang ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya dilakukan secara efisien, transparan, dan bertanggung jawab, sehingga dapat memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan berkelanjutan. Namun, meskipun langkah-langkah pengelolaan telah diterapkan, proyeksi menunjukkan bahwa cadangan minyak dan gas bumi Indonesia terus menurun, yang memperburuk ketergantungan terhadap energi fosil. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat, terutama di wilayah DKI Jakarta, seiring dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dan aktivitas ekonomi. Pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pelabuhan utama Indonesia, memiliki peran strategis dalam distribusi energi, khususnya BBM, ke seluruh wilayah Indonesia. Pengembangan Terminal Curah Cair Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok diharapkan mampu memenuhi permintaan energi yang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang pola operasi Terminal Curah Cair Kalibaru Utara, Pelabuhan Tanjung Priok. Fokus utama dari laporan Tugas Akhir ini adalah menentukan kapasitas dermaga dan kapasitas lapangan penumpukan yang optimal, menghitung biaya kapital (capital cost) peralatan, serta biaya penanganan yang diperlukan untuk operasi terminal tersebut. Dengan perancangan yang tepat, Terminal Curah Cair Kalibaru Utara diharapkan dapat berfungsi secara efisien, aman, dan berkelanjutan, sehingga mendukung kebutuhan energi nasional dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Muhamad Algifari
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pelabuhan Strategis
Halaman 5 dari 8
💬