📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 124 dokumenPEMODELAN FORENSIK DI BIDANG KADASTER UNTUK PENYELESAIAN MASALAH PERTANAHAN
..
PEMODELAN SEMIVARIOGRAM ANISOTROPIK 3D DENGAN METODE SEMIPARAMETRIC BOOTSTRAP (STUDI KASUS: DATA GEMPA MEGATHRUST NIAS)
Gempa Nias tahun 2005 merupakan peristiwa megathrust dengan magnitudo utama sebesar 8,6 yang disertai oleh banyak gempa susulan (aftershock) dan berdampak luas di wilayah sekitarnya. Peristiwa ini menjadi kajian yang relevan untuk dianalisis dari segi pola sebaran spasial magnitudonya. Tugas akhir ini bertujuan untuk memodelkan distribusi spasial magnitudo menggunakan pendekatan semivariogram anisotropik tiga dimensi (3D), serta mengevaluasi pengaruh penerapan metode Semiparametric Bootstrap (SPB) terhadap akurasi prediksi hasil interpolasi menggunakan metode Ordinary Kriging (OK). Semivariogram eksperimental dihitung berdasarkan pasangan titik dalam setiap sektor arah dip, dengan modifikasi lebar kelas jarak menjadi setengah dari aturan Scott untuk meningkatkan banyak lag, khususnya pada sektor dip 45° dan 90°. Namun, sektor dip 90° tetap menghasilkan banyak lag yang terbatas sehingga tidak dilanjutkan dalam pemodelan. Pemodelan semivariogram teoretis dilakukan dengan pendekatan Weighted Least Square (WLS) dan algoritma optimisasi Nelder–Mead. Sebagian besar sektor menunjukkan bahwa model Gauss menghasilkan nilai fungsi objektif terkecil dibandingkan model lainnya, sehingga dipilih sebagai dasar dalam konstruksi semivariogram anisotropik 3D. Model akhir berbentuk zonal campuran antara sektor dip 0° (kombinasi isotropik dan geometrik) dan sektor dip 45° (kombinasi isotropik dan zonal), dengan pembobotan berbasis range. Replikasi data dilakukan menggunakan metode SPB untuk membentuk semivariogram eksperimental bootstrap, yang kemudian di-fitting ulang. Model terbaik setelah SPB adalah model tipe spherikal. Kedua model teoretis digunakan untuk interpolasi spasial menggunakan metode OK dan dievaluasi menggunakan Mean Absolute Error (MAE). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model hasil SPB menghasilkan nilai MAE yang lebih rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode SPB meningkatkan stabilitas dan akurasi prediksi spasial magnitudo gempa.
STUDI BAHAYA TSUNAMI DI CILACAP BERDASARKAN SEJARAH TSUNAMI PANGANDARAN 2006 DAN GEMPA PADA SUBDUKSI MEGATHRUST JAWA
Seismic gap merupakan area dengan aktivitas seismik yang relatif rendah pada periode yang panjang sehingga dapat menyebabkan gempa yang sangat besar. Kabupaten Cilacap yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa berhadapan langsungdengan zona seismic gap tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan mengkaji bahaya tsunami melalui simulasi numerik menggunakan Cornell Multi-grid Coupled Tsunami (COMCOT) v.1.7. Data batimetri pada simulasi numerik menggunakan hasil asimilasi GEBCO, BATNAS, PUSHIDROSAL dan data topografi Copernicus. Pada penelitian ini dilakukan 4 skenario simulasi, yaitu gempa dengan magnitudo 7,8 yang mengacu pada sejarah tsunami Pangandaran serta magnitudo 8,1, 8,5, dan 8,8 berdasarkan gempa hipotetik pada subduksi Megathrust Jawa. Dalam skenario terburuk (Mw = 8,8), hasil simulasi menunjukkan bahwa tsunami akan mencapai pesisir paling cepat pada menit ke-40 setelah gempa dengan tinggi gelombang mencapai 17 meter. Akibatnya, sebanyak 39 dari total 344 desa di Kabupaten Cilacap terendam tsunami dengan 21 desa diantaranya terletak di pesisir. Total area yang terendam mencapai 4612,7 Ha dengan kedalaman maksimum hingga 13 meter. Desa Bunton mengalami dampak paling parah dengan 66,96% wilayah desa terendam tsunami, sementara inundasiterjauh terjadi di Desa Karangturi dengan jarak mencapai 4,32 km dari garis pantai.
DAMPAK GEMPA BUMI TERHADAP MODEL GEOID REGIONAL DALAM STUDI KASUS DI WILAYAH PULAU JAWA
Pulau Jawa, sebagai wilayah aktif secara tektonik, kerap mengalami gempa bumi besar akibat pertemuan Lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Aktivitas seismik ini berpotensi memengaruhi kestabilan medan gravitasi dan model geoid regional yang menjadi fondasi penting dalam berbagai aplikasi geospasial, seperti pemetaan presisi, perencanaan infrastruktur, dan mitigasi bencana. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak gempa bumi terhadap perubahan geoid dengan studi kasus gempa Pangandaran (Mw 7.7) yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak gemppa terhadap pemodelan geoid regional pulau jawa yang dihitung dengan metode Kongens Tekniska Högskola (KTH). Data yang digunakan yaitu data gayaberat kombinasi airborne, terestris, data DTU17, data model medan gravitasi global (GGM), data tinggi GNSS-leveling, serta data elevasi dari DEM (SRTM15 dan SRTM3). Pemodelan geoid metode KTH dilakukan menggunakan software LSMSSOFT dan MatLab. Pemodelan perubahan gayaberat dan perubahan geoid akibat gempa menggunakan data 4 model gempa di pulau jawa yang diambil dari equake.rc.info. Uji ketelitian model geoid terhadap 186 titik GNSS-Sipat datar wilayah Jawa. Setelah itu dilakukan uji statistik untuk mengetahui signifikansi gempa terhadap model geoid. Dampak gempa dianalisis melalui perubahan gayaberat akibat redistribusi massa menggunakan pendekatan elastostatika Okubo, kemudian dikaji efeknya terhadap perubahan geoid. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada medan gravitasi dan permukaan geoid pascagempa, hal ini menunjukan bahwa geoid merupakan bidang referensi vertikal yang stabil. Pembaruan geoid dilakukan jika akurasi model geoid telah mencapai 1 cm, peningkatan akurasi model geoid dapat dilakukan salah satunya dengan menambah pengukuran gayaberat.
INVESTIGASI SLOW SLIP EVENTS (SSE) DI WILAYAH SUMATRA BAGIAN UTARA BERDASARKAN DATA GPS TAHUN 2002 - 2023
Wilayah Sumatra memiliki tatanan tektonik yang kompleks dipengaruhi oleh subduksi Lempeng India/Australia terhadap Blok Sunda serta keberadaan beberapa sesar aktif, termasuk Sesar Sumatra. Oleh karena itu, wilayah ini mengalami berbagai gempa besar, seperti gempa Aceh 2004 dengan kekuatan MW 9,2 dan gempa Nias 2005 dengan kekuatan MW 8,6. Pelepasan energi secara perlahan tanpa disertai dengan gempa dapat terjadi di zona subduksi. Fenomena ini disebut dengan Slow Slip Events (SSE). Kejadian SSE telah teridentifikasi di Sumatra pada tahun 1829 hingga 1861 dan 1966 hingga 1981 di Pulau Simeulue dan Kepulauan Banyak. SSE ini dapat memicu terjadinya gempa, seperti gempa Nias-Simeulue 1861 dengan kekuatan MW ~ 8,5. Dari permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pola deformasi dari data Global Positioning System (GPS) dan potensi SSE di zona subduksi Sumatra bagian utara. Data GPS yang digunakan adalah 42 stasiun Sumatran GPS Array (SuGAr) dengan waktu perekaman dari tahun 2002 hingga 2023 dan 45 stasiun Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan waktu perekaman 2009 hingga 2022. Proses pengolahan data GPS dilakukan untuk data SuGAr menggunakan metode Precise Point Positioning (PPP) pada perangkat lunak GipsyX versi 2.0 dengan luaran berupa posisi harian stasiun. Data GPS yang dikelola BIG telah tersedia dalam bentuk data posisi harian. Data posisi harian seluruh stasiun tersebut ditransformasikan terhadap Blok Sunda. Data GPS tersebut ditampilkan dalam grafik data deret waktu pada arah horizontal dan vertikal untuk menganalisis pola displacement. Selanjutnya, pola deformasi dapat diketahui dengan menghitung kecepatan relatif setiap stasiun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SSE tidak teridentifikasi karena data GPS yang digunakan tidak kontinu. Namun, data GPS ini menujukkan fase postseismic akibat gempa Aceh 2004, sedangkan fase postseismic gempa Nias 2005 berakhir pada tahun 2012. Hasil pemodelan distribusi slip deficit rate dapat mengestimasi akumulasi energi dengan data GPS tahun 2015 – 2023 sebesar MW 8,85.
KOREKSI DATA TIME-LAPSE MICROGRAVITY DENGAN MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN MUKA AIR TANAH BERDASARKAN MODEL GEOLISTRIK DI DESA BANGKO BAKTI, RIAU
Penelitian ini dilakukan di Desa Bangko Bakti, Riau, yang merupakan wilayah dengan aktivitas rumah tangga dan industri di sekitar sumur produksi/injeksi migas. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan pendekatan koreksi metode Time-Lapse Microgravity (TLM) berbasis model geolistrik untuk meminimalkan pengaruh perubahan densitas di lapisan dangkal akibat fluktuasi muka air tanah (MAT). Metode Vertical Electrical Sounding (VES) dengan konfigurasi Schlumberger digunakan untuk pemodelan bawah permukaan, dengan inversi data dilakukan menggunakan software IPI2Win. Hasil interpretasi menunjukkan adanya beberapa satuan litologi, termasuk limonit, kerikil, pasir dan kerikil, serta pasir. Lapisan pasir dan kerikil yang dominan di kedalaman dangkal mengindikasikan keberadaan akuifer bebas. MAT yang diinterpretasikan dari model resistivitas menunjukkan kisaran kedalaman antara 1.44 hingga 6.74 m pada November 2023 (T1) dan 1.77 hingga 7.53 m pada Januari 2024 (T2). Perubahan MAT menunjukkan dominasi penurunan elevasi dengan rata-rata penurunan sebesar 0.66 m, sedangkan rata-rata kenaikan tercatat sebesar 0.31 m. Koreksi TLM berdasarkan perubahan MAT menunjukkan anomali gravitasi negatif dominan, dengan nilai maksimum -11.120 ?Gal dan rata-rata -5.944 ?Gal, serta anomali positif maksimum +3.870 ?Gal dengan rata-rata +1.836 ?Gal. Hasil ini menunjukkan bahwa fluktuasi MAT berpengaruh signifikan terhadap medan gravitasi lokal dan pendekatan berbasis resistivitas dapat meningkatkan akurasi interpretasi data TLM
ANALISIS BIDANG GELINCIR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DI DESA CIJEDIL, JAWA BARAT
Longsor merupakan bencana alam yang sangat merugikan bagi kehidupan manusia, terutama dari aspek ekonomi, kerusakan infrastruktur, hingga menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, perlu adanya upaya mitigasi bencana dengan cara memahami struktur bawah permukaan tanah. Metode geofisika yang umum digunakan untuk identifikasi longsor adalah electrical resistivity tomography (ERT). Prinsip dari metode ini yaitu arus diinjeksikan melalui elektroda ke dalam tanah sehingga dihasilkan beda potensial. Berdasarkan data arus dan beda potensial, dapat ditentukan nilai resistivitas semu. Penelitian ini dilakukan di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi ini termasuk daerah rawan longsor dan gempa bumi karena berada di sekitar sesar Cugenang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur bawah tanah berdasarkan sifat resistivitas listriknya, serta mengidentifikasi keberadaan bidang gelincir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bawah tanah di Desa Cijedil, Jawa Barat terdiri dari batuan serpih (shale) dan batuan pasir (sandstone), yang diprediksi sebagai zona lemah sehingga batuan ini merupakan material longsor. Pada lapisan bawah terdapat batuan breksi dan konglomerat yang diprediksi sebagai batuan dasar (bedrock) karena karakteristik batuannya yang keras dan kuat. Bidang gelincir diperkirakan berada pada lapisan perbatasan antara batuan dengan resistivitas tinggi (batuan dasar) dan batuan dengan resistivitas rendah (material longsor). Hasil inversi pada lintasan 1 menunjukkan bahwa bidang gelincir berada pada kedalaman 4 meter hingga 14 meter. Pada lintasan 2, bidang gelincir berada pada kedalaman 9 meter hingga 16 meter. Pada lintasan 3, bidang gelincir berada pada kedalaman 3 meter hingga 15 meter, dan pada lintasan 4 bidang gelincir berada pada kedalaman 9 meter sampai 16 meter.
VISUALISASI MODEL AREA ENERGI TINGGI PANAS BUMI BERDASARKAN MANIFESTASI GEOGRAFIS DENGAN WEB MAPPING MENGGUNAKAN METODE PENGINDERAAN JAUH (STUDI AREA: PULAU FLORES)
Tidak ada deskripsi.
PETA KORELASI PENURUNAN MUKA TANAH DAN URBAN SPRAWL: STUDI KASUS KOTA JAKARTA
Tidak ada deskripsi.
PETA KORELASI PENURUNAN MUKA TANAH DAN URBAN SPRAWL : STUDI KASUS KOTA JAKARTA
Tidak ada deskripsi.
DELINEASI ZONA ASAM PADA WILAYAH KERJA PANAS BUMI TANGKUBAN PERAHU MENGGUNAKAN INTEGRASI DATA GEOLOGI, GEOKIMIA, DAN GEOFISIKA.
Wilayah Kerja Panas Bumi Tangkuban Parahu terletak di Jawa Barat, Indonesia. Beberapa manifestasi bersifat asam, misalnya mata air panas Ciater yang memiliki pH 2,2; mata air panas Kancah dengan pH 2,4; dan mata air panas Kawah Domas dengan pH 2,1. Zona alterasi asam di Kawah Domas juga mengindikasikan pernah terjadi reaksi antara fluida asam dan batuan di WKP ini. Informasi tersebut menunjukkan bahwa terdapat fluida bersifat asam di WKP Tangkuban Parahu. Sebaran fluida asam di Tangkuban Parahu dapat diperkirakan dengan integrasi data geologi, geokimia, dan geofisika. Berdasarkan analisa geokimia, zona asam di WKP ini terbagi menjadi zona asam steam-heated dan zona asam akibat pengaruh magmatik. Model geokimia kedua zona asam tersebut kemudian dikorelasikan dengan data geofisika berupa nilai konduktansi total untuk mendapatkan sebaran zona asam. Sebaran zona asam tersebut kemudian dikalibrasi dengan data struktur geologi dan divalidasi dengan data sumur. Hasil penelitian ini menunjukkan zona asam terpengaruh magmatik berada pada area kawah dengan cakupan 650-1800 m dari volcanic vent dengan luas area + 8 km2 dan menerus ke bawah mengikuti diatrem Tangkuban Parahu. Kisaran nilai TC pada zona asam ini adalah 675-950 S. Zona asam steam-heated menyebar secara lokal dengan cakupan berada di area sekitar kawah, Kancah, Ciater dan selatan Kawah Ratu. Luas area zona asam ini diestimasi + 7 km2 dengan sebaran vertikal sampai dengan kedalaman 300 m. Kisaran nilai konduktansi total untuk zona asam steam-heated adalah 27,5-34 S.
KARAKTERISASI STRUKTUR PATAHAN MELALUI INVERSI DATA SELF-POTENTIAL PADA DAERAH “Y”
Penelitian ini menggunakan metode geofisika self-potential untuk menganalisis struktur patahan bawah permukaan melalui pendekatan forward modeling dan inverse modeling. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan parameter geometri patahan seperti sudut kemiringan dan kedalaman sumber anomali. Model sumber diasumsikan berbentuk lempeng sebagai representasi zona patahan.Untuk menguji performa program inversi, digunakan data sintetik yang menyimulasikan respons anomali terhadap variasi parameter patahan. Selanjutnya, dilakukan uji sensitivitas dengan menambahkan noise untuk mengevaluasi ketahanan metode terhadap gangguan. Proses inversi dilakukan dengan membuat estimasi parameter geometri patahan yang meminimalkan selisih antara data hasil model dan data observasi, menggunakan algoritma least square yang dikombinasikan dengan fungsi fminsearch. Evaluasi terhadap data sintetik menunjukkan bahwa kombinasi ini mampu menghasilkan estimasi parameter dengan nilai RMS yang sangat kecil, yaitu orde 10?14 hingga 10?15,serta tetap akurat meskipun data mengandung noise. Aplikasi program pada data sekunder daerah Tambakrejo menghasilkan estimasi parameter patahan berupa kedalaman patahan (z) yaitu 22,17 m, panjang dimensi (2?) sebesar 99,34 m, posisi horizontal (xo) pada jarak 816.18 m, sudut kemiringan (dip) sebesar 88,04°, dan arah strike adalah N60°E. Hasil ini mengindikasikan keberadaan sesar hampir vertikal bertipe strike-slip, yang konsisten dengan informasi geologi regional daerah penelitian.
ANALISIS KUALITAS DATA GEOSPASIAL AWAN TITIK PADA INTEGRASI METODE TRANSFORMASI KONFORMASL 3 DIMENSI
Tidak ada deskripsi.
KARAKTERISASI MODEL SUMBER GEMPA MENTAWAI MW 7,0 2023 MENGGUNAKAN INVERSI BAYESIAN SEISMIK UNTUK MENGESTIMASI PEAK GROUND ACCELERATION (PGA) DI SEKITAR PULAU SIBERUT
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya potensi gempa megathrust di Pulau Sumatra akibat kegagalan di Segmen Mentawai-Siberut. Segmen ini telah mengalami seismic gap sejak Gempa Mentawai Mw 8,6 1797. Salah satu kejadian terkini yang merepresentasikan bentuk pelepasan energi secara parsial adalah Gempa Mentawai Mw 7,0 2023 dengan episentrum pada koordinat 0,95 ° LS dan 98,36 ° BT serta kedalaman fokus 23 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi model sumber Gempa Mentawai Mw 7,0 2023 melalui inversi Bayesian data seismik dan formulasi semi-empiris. Data seismik diperoleh dari enam stasiun regional yang tergabung dalam jaringan GE (GEOFON), MY (MALAYSIA), dan TM (THAILAND). Hasil inversi menunjukkan bahwa gempa ini memiliki kedalaman fokus 21 km dan magnitudo momen Mw 7,0 dengan bidang sesar utama yang berorientasi strike 324 ° , dip 21 ° , dan rake 106 ° (sesar naik). Sementara itu, hasil formulasi semi-empiris menunjukkan bahwa bidang sesar memiliki panjang 39 km, lebar 19,5 km, dan slip rata-rata 128 cm. Parameter sumber gempa tersebut selanjutnya digunakan untuk membuat model distribusi slip kinematik dengan pendekatan pseudo dynamic ii rupture. Hasil menunjukkan adanya variasi slip pada bidang sesar, sekitar 40 – 50 cm di tepi dan 200 – 210 cm di tengah. Secara historis, Gempa Mw 7,0 2023 yang terjadi di Segmen Siberut diperkirakan melengkapi Gempa Mw 8,5 2007 yang terjadi di Segmen Pagai. Kedua gempa besar tersebut dipandang sebagi awal dari supersiklus Gempa Mentawai setelah abad ke-19. Pemetaan Peak Ground Acceleration (PGA) secara deterministik menunjukkan nilai maksimum >0,95g (skala IX MMI) di sekitar sumber gempa. Pulau Siberut dan Pulau Tanabala mengalami guncangan hebat akibat gempa ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi bencana yang lebih intensif pada masa mendatang
INTERPRETASI SISTEM PANASBUMI BERDASARKAN DATA GRAVITY LAPANGAN PANASBUMI SAMPURAGA, KABUPATEN MANDAILING NATAL, PROVINSI SUMATERA UTARA
Wilayah Indonesia yang sebagian besar berada di jalur gunungapi merupakan daerah yang berpotensi bagi terbentuknya energi panas bumi, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia memiliki gunungapi aktif sebanyak 127 gunung. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki 331 titik potensi sumber daya panasbumi dengan total potensi sebesar 11.073 MW dan cadangan sebesar 17.506 MW. Namun pemanfaatan energi panasbumi baru mencapai 1.698,5 MW (9.3%) dari potensi yang ada. Wilayah panasbumi Daerah Sampuraga, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara merupakan objek potensi panasbumi dalam penelitian ini, metode geofisika yang dapat digunakan dalam eksplorasi untuk mengetahui potensi panas bumi di area panasbumi Sampuraga adalah metode gravity. Data dalam penelitian ini didapatkan dari Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panasbumi (PSDMBP) tahun 2007, data densitas menggunakan nilai rata- rata densitas batuan yang ada di sekitar area penelitian, didapatkan densitas batuan sekitar 2.68 gr/cm3. Data diolah menjadi peta anomali bouguer lengkap kemudian dilakukan filtering metode moving average window 19 dengan nilai anomali sekitar -6.5 sampai 5 mGal dan metode polynomial trend surface analysis orde 1 sebagai pembanding dengan nilai anomali sekitar -6.5 sampai 5 mGal. Selanjutnya berdasarkan hasil forward modeling 2.5D terhadap anomali residual yang didukung data geologi, geokimia, dapat dibuat model konseptual panasbumi daerah penelitian. Berdasarkan model Sumber panas daerah penelitian diduga berada pada kedalaman lebih dari 1500 m yang diperkirakan berasal dari aktivitas Gunung Adian Gongona atau Gunung Sorik Merapi. Sumber panas ini mengalirkan panas secara konduktif menuju batuan diatasnya. Reservoir diperkirakan berada pada batuan vulkanik tua di kedalaman lebih 1000- 1500 m dimana terletak pada area dibawah mata air panas Sampuraga dengan suhu reservoir 230 derajat celcius ,batuan di area sekitar manifestasi panas bumi Sampuraga, pada kedalaman 500-700m diperkirakan sebagai Caprock dimana merupakan aliran piroklastik, daerah recharge diperkirakan terdapat sesar yang memiliki topografi sedang cenderung rendah, sehingga air meteorik dapat masuk melalui sesar longat menuju zona permeabel dan bercampur dengan fluida dari reservoir. Daerah Discharge berada pada daerah permukaan mata air panas Sampuraga 3 dan 4 serta zona upflow juga berada pada area mata air panas sampuraga, sedangkan zona outflow terdapat pada area timur daerah penelitian