π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 146 dokumenANALISIS RESPONS LOKAL TANAH WILAYAH GORONTALO DAN SULAWESI UTARA DENGAN METODE GENERALIZED INVERSION TECHNIQUE
Analisis respons lokal tanah merupakan salah satu aspek penting di dalam studi bahaya seismik selain faktor dari sumber seismik seperti magnitudo, geometri sesar, penurunan stress, dan proses penyesaran, serta faktor propagasi seismik yang meliputi atenuasi anelastik, penyebaran geometrik, dan penghamburan gelombang seismik sepanjang jalur penjalaran. Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara terletak pada zona seismik aktif, yaitu zona subduksi Sulawesi Utara di utara Laut Sulawesi dan zona subduksi ganda Laut Maluku, khususnya busur Sangihe, serta sesar-sesar lokal. Distribusi dari seismisitas dan historis gempabumi merusak yang pernah terjadi menunjukkan potensi bahaya seismik di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara relatif tinggi. Ada beberapa metode untuk mengidentifikasi karakteristik respons lokal tanah yang digunakan dalam perkembangan studi hubungan antara kondisi lokal tanah terhadap guncangan pada suatu wilayah dengan memanfaatkan spektrum Fourier dari rekaman sinyal seismik. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode Generalized Inversion Technique (GIT) untuk mengekstraksi faktor amplifikasi spektral, spektrum sumber seismik, dan faktor propagasi seismik dari spektrum Fourier gelombang geser maupun coda dari rekaman seismik secara terpisah melalui pendekatan matriks inversi dengan solusi unik dengan menerapkan asumsi stasiun referensi serta pembobotan kualitas data untuk mengkonstrain parameter model dari ketiga faktor tersebut dengan mengadaptasi solusi inversi kuadrat terkecil. Tujuan penelitian ini untuk mengestimasi respons lokal tanah pada stasiun seismik di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara, serta menginvestigasi pengaruh dari faktor sumber dan faktor propagasi seismik serta zona seismik terhadap estimasi respons lokal tanah yang dihasilkan menggunakan metode GIT. Penelitian ini menggunakan data rekaman seismik dalam domain percepatan dari 20 stasiun seismik permanen BMKG di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara terhadap 104 kejadian gempabumi pada rentang waktu 2021-2024 dengan magnitudo ? 4,5 dengan kedalaman sumber ? 300 km dan jarak episenter ? 400 km yang telah melalui kontrol kualitas serta eliminasi respons instrumen. Data sinyal tersebut difilter menggunakan filter Butterworth orde 4 dengan rentang 0,5-4 Hz lalu dipotong jendela bising sinyal selama 30 detik sebelum waktu tiba gelombang P hingga jendela waktu 180 detik setelah waktu tiba gelombang P, lalu diterapkan tapering sinyal kosinus pada kedua ujung sinyal. Kontrol kualitas waveform dan analisis SNR diterapkan untuk menyeleksi data yang memiliki kualitas yang baik, menghasilkan 2.118 data jendela gelombang geser sinyal seismik satu komponen yang akan digunakan dalam estimasi respons lokal tanah. Perhitungan respons lokal tanah menggunakan GIT dilakukan menggunakan program GITANES dengan mengasumsikan parameter propagasi seismik berupa kecepatan rata-rata gelombang geser, parameter penyebaran geometrik, faktor kualitas atenuasi gelombang geser, dan eksponen hubungan atenuasi terhadap frekuensi. Hasil estimasi respons lokal berupa amplifikasi spektral menggunakan metode GIT menunjukkan faktor amplifikasi pada masing-masing stasiun seismik tergolong cukup tinggi pada rentang antara 3 hingga 6 pada tiga rentang frekuensi puncak amplifikasi, yaitu antara 0,7-3 Hz, 3-5 Hz, dan 5-10 Hz. Ketiga karakteristik tersebut mendeskripsikan variasi kondisi lokal tanah yang umumnya terdiri dari sedimen lunak baik dari endapan danau atau pantai maupun pada struktur batuan berusia muda berdasarkan peta geologi. Selain itu, faktor jarak dan parameter atenuasi yang telah diasumsikan sebelum perhitungan terbukti menyebabkan estimasi amplifikasi spektral tidak mengalami perubahan yang signifikan terhadap variasi asumsi parameter. Magnitudo gempabumi yang lebih besar cenderung akan meningkatkan nilai faktor amplifikasi pada frekuensi yang lebih rendah maupun pada frekuensi puncak amplifikasinya, namun tidak memberikan dampak yang signifikan pada frekuensi yang lebih tinggi yang diduga frekuensi dominan pada magnitudo yang lebih besar pada frekuensi rendah yang teratenuasi lebih cepat pada frekuensi yang lebih tinggi. Penelitian ini juga menemukan karakteristik gempabumi intraslab memberikan perbedaan yang lebih signifikan pada variasi magnitudo dibandingkan gempabumi interface, serta adanya pengaruh kedalaman sumber memberikan karakteristik yang berbeda terhadap variasi magnitudo. Amplifikasi spektral berdasarkan zona seismik dan kontur amplifikasi rata-rata menunjukkan zona subduksi Sulawesi Utara dan busur Sangihe, khsusunya pada zona slab kedalaman menengah pada wilayah Teluk Tomini dan Laut Maluku bagian selatan memberikan kontribusi dominan terhadap estimasi respons lokal tanah.
STUDI POTENSI BAHAYA TSUNAMI DI NUSA TENGGARA TIMUR AKIBAT GEMPA BUMI PADA ZONA SUBDUKSI MEGATHRUST JAWA DAN FLORES BACK-ARC THRUST
Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di antara dua zona subduksi aktif, yaitu Megathrust Jawa dan Flores Back-Arc Thrust, sehingga wilayah ini rentan terhadap bahaya tsunami. Namun, belum ada studi sebelumnya yang secara khusus menilai bahaya tsunami bagi desa-desa pesisir di NTT. Studi ini menyimulasikan potensi tsunami yang dipicu oleh gempa bumi hipotetik di sepanjang kedua zona subduksi tersebut menggunakan COMCOT v1,7 dan Linear Shallow Water Equation. Parameter gempa diperoleh dari laporan Pusat Studi Gempa Nasional tahun 2017 dan geometri segmen patahan. Hasil model menunjukkan ketinggian tsunami maksimum mencapai 25,1 meter di sepanjang pantai selatan Pulau Sumba yang terletak di bagian barat daya NTT. Perbandingan dengan data PTHA periode ulang 500 tahun dari penelitian Horspool (2013) menunjukkan perbedaan ketinggian tsunami berkisar antara 0,04 hingga 2 meter pada 35 titik tinjauan terpilih. Setelah menyesuaikan dengan elevasi pesisir dan menerapkan klasifikasi bahaya oleh Latief (2012), terdapat 955 dari 974 desa pesisir NTT atau sekitar 98% desa pesisir berpotensi terdampak tsunami, dengan 130 desa pesisir (13%) diklasifikasikan sebagai bahaya sangat tinggi (>10 m). Selain itu, studi ini juga mengaitkan bahaya tsunami dengan kerentanan faktor kepadatan penduduk sehingga menghasilkan risiko tsunami dengan 11 dari 974 desa pesisir NTT (1,13%) memiliki risiko sangat tinggi. Hasil studi menemukan bahwa ada ancaman tsunami yang signifikan di NTT dan memberikan dasar ilmiah untuk mengembangkan strategi mitigasi skala lokal, seperti perencanaan evakuasi dan kebijakan infrastruktur pesisir.
PENENTUAN JALUR EVAKUASI TSUNAMI DI PANTAI PANGANDARAN DENGAN METODE DIJKSTRA, MODIFIED DIJKSTRA DAN ANT COLONY OPTIMIZATION
Pantai Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata populer di Indonesia yang berada pada zona subduksi Samudra Hindia sehingga berpotensi terjadi bencana alam, terutama gempa dan tsunami. Oleh karena itu, dibutuhkan mitigasi bencana yang baik untuk meminimalisir korban bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jalur evakuasi terbaik menggunakan Algoritma Dijkstra, Modified Dijkstra, dan Ant Colony Optimization (ACO). Penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung ke Pantai Pangandaran untuk mengamati parameter yang dibutuhkan untuk ketiga metode tersebut, seperti jarak, kondisi jalan, lebar jalan, kemiringan jalan, dan kepadatan jalan. Parameter tersebut kemudian diolah sesuai dengan metode yang digunakan. Algoritma djikstra hanya menggunakan parameter jarak. Modified Dijkstra menambahkan parameter kondisi jalan, lebar jalan, dan kepadatan dalam pengolahannya. Selain itu, ACO menggunkan kondisi jalan dan kemiringan jalan sebagai parameter. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh rute evakuasi yang sama antara algoritma dijksta, Modified Dijkstra, dan ACO. Hal ini tidak lepas dari kondisi infrastruktur yang baik di daerah wisata. Namun, jika dibandingkan dengan rute yang sudah ada (existing), terdapat perbedaan rute. Perbedaan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada efektivitas rute evakuasi. Ditinjau dari aspek waktu tempuh ke tempat evakuasi, masih diperlukan pembangunan tempat evakuasi baru dibeberapa tempat karena tempat evakuasi yang ada sangat jauh untuk dijangkau. Disamping itu, tempat evakuasi yang ada masih belum cukup secara kapasitas.
PEMODELAN RESERVOIR STATIS 3D DAN ESTIMASI CADANGAN HIDROKARBON LAPANGAN HIJAU, FORMASI TALANG AKAR, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Lapangan Hijau merupakan sebuah lapangan gas bumi di Blok Jabung (Provinsi Sumatra Selatan, Sub Cekungan Jambi) yang dikelola oleh Petrochina Jabung, memproduksi hidrokarbon terutama dari Formasi Talang Akar. Reservoir utamanya didominasi batupasir dengan sisipan serpih dan batubara tipis, terbentuk dalam lingkungan pengendapan fluvial sampai ke transisi, khususnya pada zona target Talang Akar bawah dan atas. Untuk meningkatkan produksi, pemetaan bawah permukaan menggunakan data log tali kawat dan seismik serta data pendukung lainnya telah dilakukan guna membangun model geologi statik 3D. Upaya ini bertujuan mengevaluasi potensi cadangan dan pengembangan baru di lapangan tersebut. Penelitian ini menyajikan karakterisasi reservoir dan pemodelan geostatik 3D pada Formasi Talang Akar di Lapangan Hijau untuk mengevaluasi potensi cadangan hidrokarbon serta ketidakpastiannya. Metodologi integratif mengombinasikan analisis geologi, inversi seismik stokastik, dan simulasi statistik guna mengatasi kompleksitas lapisan tipis yang berada di bawah resolusi seismik konvensional. Hasil interpretasi struktur geologi mengidentifikasi pola patahan berarah barat lauttenggara yang mengontrol distribusi litofasies bervariasi, mencakup serpih, batulempung, batubara, dan batupasir, dengan lingkungan pengendapan fluvial hingga transisi. Pemodelan reservoir 3D berhasil merekonstruksi lima lapisan prospektif (UTAF1, UTAF8, LTAF1-LTAF3) melalui optimasi data-data yang tersedia selama penelitian. Estimasi cadangan gas (GIIP) menggunakan analisis Monte Carlo dengan 80 iterasi menghasilkan rentang probabilistik P10 (26,24 BSCF), P50 (28,53 BSCF), dan P90 (31,62 BSCF), menegaskan pentingnya pendekatan kuantitatif dalam manajemen risiko eksplorasi. Analisis sensitivitas menunjukkan porositas sebagai parameter paling dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa akurasi pengukuran porositas in-situ menjadi kunci dalam mengurangi ketidakpastian proyeksi cadangan
PENDUGAAN POTENSI LIKUEFAKSI TANAH MENGGUNAKAN ANALISIS GELOMBANG S MELALUI EKSPERIMEN LABORATORIUM DENGAN MEDIUM PASIR OTTAWA
Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi likuefaksi yang tinggi akibat kondisi geologi dan tingginya aktivitas seimik. Likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan dan daya dukung tanah jenuh air akibat peningkatan tekanan pori saat terjadi gempa besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh parameter densitas terhadap cepat rambat gelombang S dalam mendeteksi potensi likuefaksi, menganalisis hubungan densitas terhadap frekuensi ambang guncangan pemicu likuefaksi, dan pengaruh drainase terhadap stabilitas tanah. Pengujian dilakukan dengan metode laboratorium dengan variasi densitas medium pasir jenuh air yang diguncang dengan shaker table, gelombang S ditembakan ke medium kemudian rekaman sinyalnya dianalisis untuk memperoleh cepat rambat gelombang melalui medium. Pengujian dilakukan dalam 2 kondisi yaitu frekuensi guncang rendah untuk menciptakan kondisi dengan drainase dan frekuensi guncang tinggi untuk menciptakan kondisi dengan drainase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan densitas medium berbanding lurus dengan peningkatan cepat rambat gelombang S akibat kenaikan modulus geser yang lebih dominan dibandingkan massa jenis. Selain itu, densitas yang lebih tinggi memerlukan frekuensi guncangan ambang dan percepatan yang lebih besar untuk memicu likuefaksi. Pada kondisi drainase, medium tidak mengalami likuefaksi melainkan konsolidasi yang ditandai dengan penurunan tinggi pasir secara non-linear terhadap waktu. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai Vs pada kondisi jenuh dapat digunakan sebagai parameter awal dalam memprediksi kerentanan tanah terhadap likuefaksi. Hasil ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan metode monitoring likuefaksi berbasis parameter elastik tanah.
KAJIAN PROBABILISTIC TSUNAMI RISK ASSESSMENT (PTRA) DI KOTA DENPASAR PROVINSI BALI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DAMPAK SEA-LEVEL RISE
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan tsunami tertinggi di dunia karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Secara khusus, Pulau Bali memiliki risiko yang lebih besar akibat lokasinya yang berdekatan dengan zona subduksi Java Megathrust dan Flores Back-Arc Thrust, serta statusnya sebagai kawasan pariwisata padat penduduk. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) di Bali dengan mempertimbangkan efek non-stasioner dari Sea-Level Rise (SLR). Parameter gempa seperti magnitudo, lebar dan panjang patahan, serta slip, dianalisis secara statistik dan diestimasi menggunakan hukum skala empiris. Pemodelan propagasi tsunami dilakukan untuk 175 skenario yang mencakup variasi magnitudo dan SLR, menggunakan Delft3D. Untuk mempercepat perhitungan, hubungan antara magnitudo, SLR, dan kedalaman genangan dimodelkan menggunakan Gaussian Process Regression (GPR) sebagai permukaan respon. Kurva bahaya tsunami kemudian dievaluasi melalui simulasi Monte Carlo sebanyak 100.000 sampel, dengan mempertimbangkan ketidakpastian parameter sumber. Selanjutnya, estimasi risiko tsunami dilakukan dengan memperhitungkan hasil bahaya dengan data eksposur spasial serta fungsi kerusakan empiris berupa fragility curve berbasis inundation depth. Risiko tsunami dievaluasi dengan pendekatan probabilitas kegagalan tiap bangunan, kerugian unit, dan frekuensi kejadian tahunan lalu, diakumulasikan guna memperkirkan risiko kumulatif. Hasil menunjukkan bahwa SLR memberikan dampak paling signifikan pada skenario tsunami energi rendah, dengan peningkatan probabilitas kejadian melebihi ambang bahaya sebesar 5,46% dan kerugian ekonomi sebesar IDR 0.09 trilliun. Meskipun GPR memiliki keterbatasan dalam menangkap nilai ekstrem, model ini mampu merepresentasikan pola umum dengan baik. Selain itu, hasil simulasi menunjukkan bahwa wilayah teluk cenderung mengalami akumulasi energi tsunami yang lebih besar dibandingkan wilayah semenanjung, sehingga meningkatkan risiko genangan secara spasial di kawasan pesisir Denpasar.
KAJIAN BAHAYA DAN RISIKO TSUNAMI DI SEPANJANG PESISIR PULAU JAWA DENGAN UNIT ANALISIS DESA
Pulau Jawa berada di zona subduksi megathrust dari Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Karakteristik ini menyebabkan intensitas gempa yang terjadi di Pulau Jawa cukup tinggi. Meskipun begitu, selama 100-200 tahun terakhir, tidak ada gempa besar ( ) yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa, sementara gempa besar ini diperkirakan memiliki periode ulang 400-500 tahun dan berpotensi membangkitkan tsunami hingga 20 meter. Kajian bahaya dan risiko tsunami dengan unit analisis desa dilakukan untuk meminimalisasi dampak tsunami. Data tsunami yang digunakan adalah tinggi tsunami berdasarkan model PTHA (Probabilistic Tsunami Hazard Assessment for Indonesia) yang memiliki periode ulang 500 tahun. Tingkat bahaya tsunami diperoleh dari hasil eliminasi tinggi tsunami PTHA dengan elevasi pesisir dari FABDEM (Forest and Buildings removed Copernicus Digital Elevation Model). Tingkat kerentanan tsunami ditentukan dengan metode overlay analysis antara data kepadatan penduduk dan data penggunaan lahan. Tingkat risiko tsunami diperoleh dari overlay analysis antara tingkat bahaya dan tingkat kerentanan tsunami. Hasilnya terdapat 402 desa pesisir di Pulau Jawa yang terpapar bahaya tsunami. Terdapat 15 desa terklasifikasi bahaya sangat tinggi, 146 desa terklasifikasi bahaya tinggi, 104 desa terklasifikasi bahaya sedang, 52 desa terklasifikasi bahaya rendah, dan sebanyak 85 desa pesisir terklasifikasi bahaya sangat rendah. Sementara dalam kajian kerentanan, pesisir utara Pulau Jawa lebih rentan daripada pesisir selatan Pulau Jawa. Dari 1394 desa pesisir, 95 desa memiliki kerentanan tsunami tinggi, 198 desa memiliki kerentanan sedang, 791 desa memiliki kerentanan rendah, dan 310 desa memiliki kerentanan sangat rendah. Kemudian didapatkan 402 desa pesisir berisiko tsunami dengan 32 desa berisiko tinggi, 227 desa berisiko sedang, 125 desa berisiko rendah, dan 18 desa berisiko 992 sangat rendah.
KOORDINASI ANTAR ORGANISASI PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN GEOPARK KALDERA TOBA
Kelembagaan dalam pengelolaan Danau Toba menjadi salah satu isu dalam penerimaan kartu kuning dari UNESCO Global Geopark. Pemenuhan kriteria dengan jangka waktu dua tahun membutuhkan koordinasi antar organisasi yang signifikan untuk melakukan perbaikan. Studi ini menganalisa koordinasi antar organisasi pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan Geopark Kaldera Toba berdasarkan isu penentuan prioritas, perencanaan, pendanaan, dan implementasi. Studi ini menggunakan metode pendekatan campuran melalui analisis Interorganization Coordination berdasarkan teori Alexander (2005) serta visualisasi jejaring dengan Social Network Analysis (SNA). Hasil studi menunjukkan bahwa pembagian tugas dalam pengelolaan geosite yang masih overlapping antar BPTCUGGp dan ketujuh Kabupaten. Kebergantungan BPTCUGGGp pada pendanaan dan dukungan dari 7 pemerintah Kabupaten menyebabkan minimnya implementasi yang signifikan dalam pengelolaan geosite ditunjukkan dengan input dan output yang masih belum sejalan. Jejaring antar organisasi ditinjau dari ukuran, struktur, kompleksitas, hak otonomi daerah, dan misi tiap organisasi menunjukkan BPODT dan BPTCUGGp berada pada posisi yang lebih tinggi daripada Dinas Pariwisata pada tujuh Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Social Network Analysis (SNA) menunjukkan bahwa BPODT memiliki pengaruh dan posisi yang paling strategis untuk penyebaran informasi. Koordinasi yang lebih terarah melalui optimalisasi potensi strategis antar organisasi perlu dilakukan sehingga pengelolaan Danau Toba dapat berkelanjutan.
PEMBANGUNAN GIS SURFACE DAN SUB-SURFACE DALAM RANGKA PERENCANAAN DAN PENETAPAN LOKASI SUMUR INJEKSI CARBON CAPTURE AND STORAGE (CCS) ONSHORE PT PERTAMINA HULU ENERGI LAPANGAN SUBANG 18
Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan solusi penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menangkap dan menyimpan karbon dioksida secara aman di bawah permukaan bumi. Penelitian ini mengembangkan pemodelan spasial sebagai alat bantu untuk mendukung prosedur perencanaan CCS Onshore, dengan studi kasus Lapangan X PT Pertamina Hulu Energi. Produk utama yang dihasilkan meliputi model spasial 3D subsurface yang memvisualisasikan lintasan sumur, formasi geologi, dan Zona Titik Injeksi (ZTI), dan peta 2D jalur optimal pengangkutan karbon. Metode yang digunakan adalah metode Multi Criteria Evaluation (MCE) dan Least Cost Path Analysis (LCPA), dan prosedur perencanaan CCS yang mengacu pada regulasi nasional. Pemodelan spasial mengintegrasikan data teknis dan spasial secara komprehensif untuk memaksimalkan efisiensi operasional dan mitigasi risiko dalam implementasi CCS. Prosedur perencanaan yang digunakan telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi MCE dan LCPA pada perencanaan jalur pengangkutan karbon dan penggunaan metode Minimum curvature untuk pemodelan lintasan sumur dapat meningkatkan akurasi dan efektivitas perencanaan CCS Onshore.
FASILITAS PEMBELAJARAN NONFORMAL DAN PUSAT PEMBERDAYAAN SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS KOMUNITAS
Kondisi geografis Indonesia yang dilintasi oleh sabuk seismik cincin api pasifik menyebabkan Indonesia rentan mengalami bencana geologis seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kerentanan masyarakat Indonesia tidak hanya disebabkan oleh kondisi geografis tetapi juga kondisi sosioekonomi, salah satunya adalah akses pendidikan yang tidak merata. Untuk menanggapi isu tersebut, dirancang sebuah fasilitas pembelajaran nonformal sebagai wadah pemberdayaan masyarakat untuk pengurangan risiko bencana. Fasilitas ini tidak hanya akan digunakan sebagai sarana edukasi tetapi juga sebagai sarana perlindungan pertama saat terjadi bencana. Rancangan ini berlokasi di Kelurahan Belakang Tangsi, Kota Padang, Sumatera Barat yang tidak jauh dari pesisir Pantai Padang sehingga dapat membantu juga dalam memenuhi kebutuhan tempat evakuasi sementara di kawasan setempat.
SIMULASI NUMERIK TSUNAMI AKIBAT GELOMBANG BUATAN MENGGUNAKAN DATA LONGSORAN PADAT TERFRAGMENTASI HASIL ENDAPAN ALIRAN PIROKLASTIK DARI PUSAT KALDERA LETUSAN GUNUNG TAMBORA 1815
Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 merupakan salah satu bencana terbesar dalam sejarah. Kejadian ini tidak hanya menyebabkan letusan vulkanik, namun diikuti oleh tsunami, longsor, dan dampak merugikan lainnya. Penelitian ini mensimulasikan tsunami yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora, menggunakan model longsoran padat terfragmentasi dan estimasi tinggi gelombang buatan yang terdiri dari daerah Oi Marai, Katupa, Labu Bili, Labu Naβe, Doro Bente, dan Sare Nduha. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami mekanisme dan penjalaran tsunami yang dihasilkan oleh longsoran daratan dan gelombang buatan, serta mengestimasi tinggi gelombang tsunami di beberapa daerah terdampak, seperti daerah Tambora, Sumbawa, Sanggar, Bima, Sumenep, dan Besuki dengan menggunakan model COMCOT versi 1.7 Beta serta TUNAMI N1. Simulasi ini menggunakan dua skenario pembangkitan, yaitu longsoran dari pusat kaldera Gunung Tambora dan estimasi tinggi gelombang buatan. Simulasi menunjukkan tsunami tercepat terekam di daerah utara Gunung Tambora dengan waktu tiba 4 menit untuk skenario longsoran yang menghasilkan tinggi maksimum 6 meter dan 0 menit untuk skenario gelombang buatan yang menghasilkan tinggi maksimum 16,17 meter. Hasil tinggi tsunami juga terekam di daerah jauh dari daerah pembangkitan, seperti Besuki yang terekam setelah 125 menit simulasi untuk skenario longsoran dengan tinggi maksimum 0,09 meter dan 120 menit setelah simulasi untuk skenario gelombang buatan yang menghasilkan tinggi tsunami maksimum setinggi 0,11 m. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pendekatan longsoran padat terfragmentasi dan inisiasi gelombang buatan dapat menjelaskan sebagian besar mekanisme tsunami Tambora 1815. Ketinggian tsunami hasil simulasi juga konsisten dengan catatan historis di beberapa lokasi terdampak. Meskipun begitu, estimasi tinggi tsunami dari skenario ini masih rendah di luar fase pembangkitan. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sumber lain seperti aliran piroklastik fase surge atau tekanan atmosfer yang berkontribusi pada tsunami di daerah dengan fase berbeda, seperti Sumenep dan Besuki.
PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA GRAVITASI DAERAH PANAS BUMI WAY SELABUNG, SUMATRA SELATAN
Daerah Panas Bumi Way Selabung di Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi panas bumi. Untuk lebih memahami kondisi geologi daerah tersebut, dilakukan identifikasi strukur dan pemodelan bawah permukaan menggunakan data Gravitasi yang diperoleh dari Pusat Sumberdata Mineral Batubara Panas Bumi (PSDMBP), serta didukung oleh berbagai data geologi. Berdasarkan data gravitasi tersebut telah dilakukan perhitungan Complete Bouguer Anomaly (CBA), pemisahan anomali regional dan residual, analisis struktur dan pemodelan kedepan 2,5D. Pemisahan anomali residual dan regional telah dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu Moving Average dan Gaussian dengan tujuan untuk memilih anomali residual yang lebih tepat. Hasil pemisahan anomali menunjukkan bahwa anomali residual dengan menggunakan metode Moving Average lebih baik karena menunjukkan adanya kesesuaian dengan kondisi geologi pada Lava Akarjangkang dan Piroklastik Ranau di area Way Selabung. Hasil analisis anomali residual dan derivative, menunjukkan keberadaan struktur sesar yang dominan berarah baratlaut-tenggara. Sedangkan hasil permodelan kedepan bawah permukaan 2,5D menunjukkan adanya beberapa jenis batuan berumur kuarter-tersier.
EVALUASI PENURUNAN TIMBUNAN DI ATAS LAHAN GAMBUT PADA PROYEK JALAN TOL TEBING TINGGI - SERBELAWAN
Abstrak bisa dilihat di filenya
PENDEKATAN MANAJEMEN EKSPLORASI YANG EFEKTIF DAN EFISIEN UNTUK MENDUKUNG STUDI GEOLOGI PADA PROSPEK SORI HIU DI DAERAH KECAMATAN HU'U DAN SEKITARNYA, NUSA TENGGARA BARAT
Abstrak bisa dilihat di filenya
GEOLOGI DAN KONTROL KEMUNCULAN MANIFESTASI TERMAL DAERAH SUKARESMI DAN CIPANAS, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT
Daerah Sukaremi dan Cipanas, ditemukan dua manifestasi termal yang muncul pada jenis batuan berbeda. Mata Air Panas Sukawangi muncul pada batuan sedimen di wilayah Desa Sukawangi dan Mata Air Hangat Green Apple muncul pada batuan piroklastik di Kompleks Perumahan Green Apple. Kemunculan kedua manifestasi termal ini digunakan untuk menjadi gambaran pola aliran fluida dibawah permukaan. Maksud dari penelitian ini adalah memetakan kondisi geologi dan mengidentifikasi kontrol geologi yang menyebabkan munculnya Mata Air Panas Sukawangi dan Mata Air Hangat Green Apple. Dilakukan studi literatur, pemetaan geologi, analisis geomorfologi, analisis petrografi, dan pengambilan data kimia dan karakterisitik air untuk menggambarkan pola aliran fluida dan mengidentifikasi kontrol geologi yang menyebabkan munculnya kedua mata air. Terpetakan delapan satuan batuan terdiri dari batuan sedimen Formasi Cantayan dan produk vulkanik Gunung Api Kuarter dan lima struktur geologi berupa sesar pada daerah penelitian. Dari data kimia air, nilai ion klorida pada kedua mata air menujukkan suplai fluida yang berasal dari aktivitas bawah permukaan yang cukup dalam. Mata Air Panas Sukawangi dikontrol oleh Sesar Mengiri Turun Sirnarasa yang terbentuk pada periode Pliosen. Mata Air Hangat Green Apple dikontrol oleh permebilitas batuan piroklastik dengan suplai fluida termal melalui struktur regional Formasi Cantayan dan inflistrasi air meteorik sepanjang lereng Gunung Gede.