📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4,000 dokumenPREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN ESTIMASI CARBON LOSS DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN BERBAGAI SKENARIO BERDASARKAN ANALISIS DEFORESTASI TAHUN 1990 – 2020
Hutan di Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami penurunan luas atau disebut deforestasi hingga 55,7%. akibat kebutuhan lahan yang terus meningkat. Fenomena ini telah menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, khususnya peningkatan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Hal tersebut menjadi dasar penelitian ini yang bertujuan untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta mengestimasikan simpanan karbon pada tahun 2030 dan 2040 di Provinsi Kalimantan. Dalam penelitian ini analisis dilakukan secara historis (1990-2020) dan proyeksi (2030-2040) yang mencakup perubahan tutupan lahan, deforestasi, simpanan karbon, dan karbon yang hilang (carbon loss) di Kalimantan Selatan. Prediksi perubahan tutupan lahan dilakukan menggunakan model CA-Markov untuk tahun 2030 dan 2040 dengan sepuluh faktor pendorong sebagai variabel independen. Adapun tiga skenario yang digunakan dalam pemodelan tutupan lahan untuk tahun 2030 dan 2040, meliputi Business as Usual (BAU), Forest Conservation (FC), dan No Mining and Land Recovery (NM-LR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan tutupan hutan alam hingga 1.000.235,25 ha sepanjang periode 1990-2020, dengan peruntukkan terbesar untuk kategori pertanian, semak dan padang rumput, serta perkebunan. Hal ini mengakibatkan Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan simpanan karbon di kawasan hutan hingga 0,189 Gt (setara 0,695 Gt CO2e). Pemodelan menunjukkan nilai akurasi uji kappa sebesar 0,734, sehingga model dinilai layak digunakan untuk memprediksi tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 dengan tiga skenario berbeda. Dari antara ketiga skenario, Forest Conservation (FC) terbukti efektif dalam mencegah deforestasi dan mempertahankan simpanan karbon di Kalimantan Selatan pada tahun 2040.
RESPONS MUKA AIR TANAH TERHADAP VARIABILITAS CURAH HUJAN: STUDI KASUS DUA SUMUR PANTAU DI CEKUNGAN BANDUNG
Air tanah merupakan sumber daya vital di Cekungan Bandung yang menghadapi tekanan akibat eksploitasi intensif. Pemahaman tentang hubungan antara variabilitas curah hujan dan respons muka air tanah menjadi kunci dalam pengelolaan sumber daya air tanah yang berkelanjutan. Penelitian ini menganalisis karakteristik respons muka air tanah terhadap curah hujan menggunakan data muka air tanah (MAT) dan curah hujan beresolusi tinggi dari dua sumur pantau (Sumur Ganesha dan Sumur Jatinangor) yang memiliki karakteristik berbeda. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan deret waktu yang mencakup fungsi autokorelasi (ACF) untuk waktu memori, fungsi silang-korelasi (CCF) untuk waktu respons, gain function Tukey-Hanning untuk karakteristik transmisi aliran, serta metode Water Table Fluctuation (WTF) untuk estimasi volume dan efisiensi imbuhan. Variabilitas hujan dikuantifikasi menggunakan 17 indeks yang mencakup jumlah hujan, frekuensi, durasi, intensitas, dan distribusi statistik kejadian hujan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sumur Ganesha memiliki waktu memori lebih panjang (42,6 hari) dibandingkan Sumur Jatinangor (30 hari), mencerminkan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Waktu respons terhadap hujan berkisar antara 13–29 jam di Ganesha dan 14 jam di Jatinangor. Analisis gain function mengidentifikasi komponen aliran konduit pada periode kurang dari 43–107 jam, aliran rekahan pada periode 43–480 jam, dan aliran difus pada periode lebih panjang. Estimasi WTF menghasilkan total imbuhan sebesar 98–147 mm untuk Ganesha dengan efisiensi 40–53%, dan 678 mm untuk Jatinangor dengan efisiensi 55%. Analisis korelasi Pearson mengungkapkan bahwa efisiensi imbuhan berkorelasi negatif signifikan dengan total curah hujan di kedua lokasi (r = ?0,79 di Ganesha dan r = ?0,78 di Jatinangor), mengkonfirmasi hipotesis bahwa curah hujan lebih besar tidak selalu menghasilkan efisiensi imbuhan lebih tinggi. Indeks variabilitas hujan yang paling berpengaruh adalah frekuensi hari hujan (RD10, RD25) dan kondisi hujan anteseden (ATR), bukan semata-mata total curah hujan bulanan. Hujan intensitas sedang yang terdistribusi merata terbukti lebih efektif menghasilkan imbuhan dibandingkan hujan yang terkonsentrasi dalam kejadian ekstrem.
EKSPLORASI MENGGUNAKAN EMBELLISHMENT DAN WETLOOK PADA BUSANA ART TO WEAR UNTUK MENGGAMBARKAN CERITA LEGENDA PUTRI MANDALIKA
Cerita rakyat merupakan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai moral, identitas budaya, dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Salah satu cerita rakyat yang memiliki nilai budaya kuat adalah Legenda Putri Mandalika dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mentransformasikan Legenda Putri Mandalika ke dalam karya busana Art to Wear melalui penerapan teknik wetlook dan embellishment sebagai media visual untuk menyampaikan narasi budaya. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode eksperimen kriya tekstil. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi, dokumentasi, dan eksplorasi material. Proses perancangan diawali dengan analisis legenda Putri Mandalika, pengembangan konsep visual, penyusunan moodboard, eksplorasi teknik, serta pengembangan desain busana. Eksperimen dilakukan pada beberapa jenis kain dan material pelapis untuk memperoleh karakter wetlook yang sesuai dengan konsep laut sebagai elemen utama dalam legenda. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa resin polyester mampu menghasilkan efek kilap, kekakuan, dan bentuk yang mendukung visualisasi gelombang laut. Selain itu, teknik embellishment berupa sulam, manik-manik, dan mutiara digunakan untuk merepresentasikan ragam hias Lombok serta berbagai unsur biota laut yang berkaitan dengan kisah Putri Mandalika. Hasil penelitian berupa rancangan busana Art to Wear bersiluet mermaid dengan pengembangan bentuk asimetris yang merepresentasikan karakter ombak laut. Busana didominasi warna biru, hijau, dan emas yang melambangkan laut, kehidupan, serta kemegahan Putri Mandalika. Penerapan teknik wetlook dan embellishment berhasil memperkuat nilai estetis sekaligus menyampaikan narasi pengorbanan, keharmonisan, dan identitas budaya Lombok. Penelitian ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat menjadi sumber inspirasi yang potensial dalam perancangan busana sekaligus menjadi media pelestarian budaya melalui karya fashion kontemporer.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KASUS CELAH BIBIR DAN LANGIT-LANGIT DENGAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA DAN GENERALIZED LINEAR MODEL
Celah bibir dan langit-langit (CBL) merupakan kelainan kongenital akibat gagalnya penyatuan jaringan wajah pada Minggu ke-5 hingga ke-9 kehamilan, yang berdam-pak pada kondisi fisik dan perkembangan kesehatan anak. Faktor penyebabnya bersifat kompleks dan saling berkaitan yang meliputi aspek genetik, orangtua, serta lingkungan, sehingga berisiko menimbulkan multikolinearitas antarvariabel. Untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh secara signifikan digunakan model linear diperumum atau GLM yang menyesuaikan distribusi variabel dependen da-lam data. Sebelum digunakan GLM, multikolinearitas perlu diatasi terlebih dahulu dengan analisis komponen utama (AKU) sehingga tidak mengorbankan informasi dari setiap variabel. Informasi faktor CBL dalam data yang digunakan bersifat campuran, kategorikal dan numerik. Hal ini menyebabkan AKU klasik tidak dapat digunakan dalam penelitian ini karena hanya mampu mengatasi data numerik, se-hingga digunakan AKU kategorikal atau CATPCA yang melakukan pengskalaan maksimal dalam kuantifikasi setiap variabel secara sesuai. Data yang digunakan merupakan data sekunder hasil survei Tahun 2023 dengan 71 observasi dari Jawa Barat, 62 observasi dari Sulawesi Selatan, dan 133 observasi pada data gabungan. Jenis CBL di Jawa Barat dipengaruhi secara signifikan oleh riwayat kesehatan ibu dan permasalahan trimester pertama, serta perilaku orang tua. Adapun perilaku orang tua yang berpengaruh meliputi rokok aktif, rokok pasif, kafein, olahraga, dan radiasi pada ayah, serta rokok pasif, kafein, olahraga, dan radiasi pada ibu. Faktor yang berpengaruh secara signifikan di Sulawesi Selatan meliputi rokok pasif ayah, radiasi ibu, dan rokok pasif ibu. Pada data gabungan, jenis celah dipengaruhi secara signifikan oleh wilayah, pemeriksaan kehamilan, rokok aktif ayah, rokok pasif ayah dan ibu, olahraga ayah, dan radiasi pada ayah.
PERALIHAN MENTALITAS TAKUT DALAM MISI PENCARIAN ZONA NYAMAN MELALUI DIGITAL DRAWING
Saat merasa takut manusia secara aktif mencari keselamatan untuk mendapatkan rasa aman. Salah satu caranya adalah menggunakan sistem mekanisme koping untuk mencapai ketenangan meski efeknya hanya sesaat. Identifikasi mengenai pengaruh memori negatif dari kejadian traumatis yang memberi rasa takut masif dapat merangsang manusia untuk mencari kebebasan dari belenggu tersebut. Karya tugas akhir ini merupakan karya yang menggambarkan upaya penulis untuk beralih dari situasi menakutkan dengan memvisualisasikan berbagai rupa dari mekanisme koping maladaptif yang diperankan oleh figur-figur manusia dan kambing miotonik. Karya tugas akhir ini dibuat dengan tujuan sebagai ekspresi dari kritik diri; menjadi pengingat dalam pengambilan keputusan kepada umum untuk tidak mengambil keputusan yang kelak dapat memicu ketakutan bagi orang lain dan menciptakan memori negatif bahkan traumatis yang kemudian dapat memperbesar kemungkinan untuk mengakibatkan pengambilan langkah menggunakan sistem mekanisme koping maladaptif yang tidak membantu sebagai respon dari pilihan yang diambil. Menggunakan pemikiran Endel Tulving, penulis mengaplikasikan teori memori episodik yang sama dan dialami oleh beberapa individu. Penulis ingin memvisualisasikan respon dan pengambilan keputusan dalam menentukan mekanisme koping yang berbeda-beda dari individu yang berbeda atas satu kejadian traumatik yang dialami bersama. Bentuk seni rupa karya digital drawing dipilih untuk menampilkan lukisan digital yang kemudian dibuat bergerak menjadi format GIF, terinspirasi dari memori negatif yang hadir berulang tanpa suara layaknya format tersebut. Berbekal dengan intuisi dalam mengekspresikan rasa takut karya ini mengaplikasikan saturasi rendah pada pemilihan warna dan penghadiran kontras dalam karya sebagai penentuan fokus. Pembatasan instrumen alat digital seperti kuas digital yang diputuskan sebagai aturan yang diciptakan oleh penulis sendiri mewakilkan hukuman bagi diri sebagai ekspresi mekanisme koping yang secara tidak sengaja biasa penulis praktikan. Penciptaan karya ini diharapkan dapat menggugah kesadaran mendalam mengenai respon personal yang memengaruhi individu lain layaknya iklan layanan masyarakat yang memiliki tujuan untuk mengubah perilaku dalam mengaplikasikan mekanisme koping, terkhususnya dalam upaya mengakhiri hidup dan meninggalkan banyak orang dalam hidup seseorang.
DEVELOPMENT AND CHARACTERIZATION OF A 2D GIMBALED NOZZLE FOR ATMOSPHERIC SOLID ROCKET’S THRUST VECTORING CONTROL
Pertumbuhan pesat peluncuran satelit nano selama dekade terakhir telah meningkatkan permintaan akan small launch vehicles khusus yang berbiaya rendah. Motor roket padat menawarkan solusi propulsi yang secara mekanis sederhana dan murah untuk kendaraan semacam itu. Namun, kontrol lintasan dan sikap tetap menjadi tantangan kritis, terutama ketika permukaan kontrol aerodinamis menjadi tidak efektif. Thrust Vector Control (TVC) memberikan solusi dengan memungkinkan kontrol melalui pengalihan arah vektor gaya dorong propulsi. Meskipun penerapannya sudah luas pada kendaraan peluncur modern, penelitian eksperimental mengenai sistem TVC, khususnya untuk propulsi roket padat, masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini menyajikan pengembangan dan karakterisasi eksperimental dari nosel gimbal dua dimensi yang mampu membelokkan gaya dorong pada sumbu pitch dan yaw untuk motor roket padat atmosferik skala kecil. Mekanisme gimbal dirancang sebagai four bar linkage, dibuat purwarupa melalui pencetakan 3D, dan difabrikasi sebagai produk akhir berbahan stainless steel menggunakan proses Selective Laser Melting (SLM). Sebuah tempat uji dengan tiga load cell dikembangkan khusus untuk mengukur gaya dorong aksial dan komponen gaya lateral selama static firing test. Studi pendahuluan telah dilakukan, yang melibatkan pembuatan dan pengujian motor roket padat kelas-H menggunakan propelan kalium nitrat–sorbitol (KNSB). Karakterisasi mekanis menunjukkan defleksi nozel maksimum sebesar 12,47°, melampaui persyaratan desain minimum 5°, dan menunjukkan keselarasan yang baik dengan defleksi teoretis yang diprediksi oleh model four bar linkage. Static firing test menunjukkan bahwa nozel gimbal berhasil mengalihkan arah vektor gaya dorong, dengan gaya lateral terukur sebesar sekitar 0,35 N pada defleksi 12,47°, berselisih hanya 2,4% dari prediksi teoretis sebesar 0,362 N. Hasil ini memvalidasi baik desain mekanis maupun model analitis dari sistem thrust vectoring, sekaligus mengidentifikasi keterbatasan yang berkaitan dengan karakteristik pembakaran propelan, material liner, dan keandalan instrumentasi. Hasil studi ini menyediakan data eksperimental untuk pengembangan sistem stabilisasi aktif dan kontrol tertutup di masa depan untuk roket atmosferik kecil di Indonesia.
PERANCANGAN SISTEM PROTEKSI PETIR EKSTERNAL FASILITAS INDUSTRI MINYAK DAN GAS PADA KILANG DUMAI, RIAU
Sistem proteksi petir fasilitas migas di Indonesia umumnya mengadopsi standar internasional seperti NFPA 780 dan IEC 62305. Namun, insiden kebakaran tangki tetap terjadi karena standar subtropis tersebut belum efektif mengantisipasi karakteristik petir tropis yang memiliki arus puncak dan kecuraman jauh lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem proteksi petir eksternal yang adekuat, menyimulasikan radius perlindungan berbasis parameter lokal, serta menyusun rekomendasi desain sebagai dasar standar nasional. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif-simulatif dengan menerapkan metode bola gelinding 3D menggunakan perangkat lunak Rhinoceros 3D pada 22 tangki di Kilang Dumai, Riau. Evaluasi dilakukan pada skenario Lightning Protection Level (LPL) III (10 kA) dan LPL IV (18 kA) yang dikalibrasi dengan kurva petir tropis Indonesia. Hasil menunjukkan konfigurasi terpilih secara optimal berhasil melindungi seluruh tangki melalui kombinasi FSM dan EMT yang memenuhi kriteria probabilitas perlindungan arus puncak masing-masing sebesar 95% dan 85% untuk kedua tingkat proteksi. Analisis tekno-ekonomis menunjukkan LPL IV memerlukan investasi Rp3.388.419.000, lebih efisien Rp336.719.000 dibanding LPL III yang cenderung overdesign. Parameter ini divalidasi oleh data sambaran aktual Riau (11,8 kA–28,83 kA). Sebagai kontribusi regulatif, seluruh parameter teknis ini diformulasikan menjadi Draft Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang Sistem Proteksi Petir pada Tangki Penyimpanan Minyak dan Gas guna mewujudkan kemandirian standardisasi industri vital nasional.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA DAN ENERGI BUDIDAYA TANAMAN BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L.) DENGAN MEDIA TANAM KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS)
Tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral tinggi sehingga banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, peningkatan produksi bayam merah masih menghadapi kendala berupa penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik pertanian. Salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam alternatif adalah limbah baglog jamur tiram (Pleurotus ostreatus) karena masih mengandung bahan organik dan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan kompos limbah baglog jamur tiram terhadap pertumbuhan, hasil biomassa, serta neraca massa dan energi pada budidaya bayam merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P0 (tanah + NPK), P1 (100% kompos limbah baglog), P2 (40% kompos + 60% tanah), dan P3 (60% kompos + 40% tanah) dengan enam kali pengulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, biomassa basah dan kering, rasio akar-tajuk, serta neraca massa dan energi sistem budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P0 menghasilkan pertumbuhan dan biomassa tertinggi secara keseluruhan. Namun, pada perlakuan berbasis kompos limbah baglog jamur tiram, perlakuan P3 menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dengan tinggi tanaman sebesar 30,46 ± 1,74 cm, jumlah daun sebanyak 12,89 ± 0,76 helai, luas daun sebesar 62,96 ± 4,72 cm2, kandungan klorofil sebesar 35,21 ± 0,66 mg/L, biomassa basah sebesar 20,13 ± 2,30 g, dan biomassa kering sebesar 1,60 ± 0,28 g. Selain itu, perlakuan P3 juga menunjukkan efisiensi neraca massa dan energi yang lebih baik dibandingkan perlakuan kompos lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi kompos limbah baglog jamur tiram dan tanah mampu memberikan hasil pertumbuhan, biomassa, serta efisiensi sistem budidaya terbaik pada perlakuan berbasis kompos sehingga berpotensi digunakan sebagai media tanam alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
PERAN PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN DALAM MENDORONG KINERJA ESG: STUDI KASUS PADA KONGLOMERASI JASA ALAT BERAT DI INDONESIA
Bagi perusahaan multi-entitas terutama pada sektor dengan risiko operasional, lingkungan, dan keselamatan kerja yang tinggi, kinerja ESG menjadi salah satu tolak ukur penting dalam memastikan keberlanjutan bisnis. Dalam konteks konglomerasi, tantangan utama dalam mencapai kinerja ESG yang baik secara konsisten terletak pada kemampuan organisasi dalam menerjemahkan arahan ESG di berbagai entitas dengan karakter bisnis yang berbeda. PT United Tractors Tbk (UT), sebagai korporasi multi-entitas yang menjalankan operasi melalui anak usaha lintas sektor, juga menghadapi tantangan yang serupa. Sustainability Index, yang menjadi indikator internal Grup UT dalam menilai kinerja ESG, menunjukkan bahwa klaster non-coal mining pada tahun 2024 mencapai 110,43%, lebih rendah dari target manajemen sebesar 125%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya heterogenitas kinerja ESG antar entitas, meskipun Grup UT telah memiliki struktur tata kelola ESG, cascading KPI, dan mekanisme pelaporan berjenjang dari tingkat operasional ke tingkat holding. Oleh karena itu, penelitian ini melihat performance gap bukan hanya sebagai persoalan capaian angka, tetapi sebagai indikasi adanya perbedaan mekanisme internal dalam mengubah pembelajaran ESG menjadi praktik yang konsisten. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana mekanisme Organizational Learning (OL) dan Knowledge Management (KM) membentuk heterogenitas kinerja ESG, sekaligus mengidentifikasi mekanisme internal yang menjelaskan persistensi gap antar entitas. Dalam penelitian ini, KM diposisikan sebagai mekanisme internal yang mengkonversi pembelajaran organisasi menjadi pengetahuan yang dapat disimpan, dicari, digunakan ulang, ditransfer, dan diperbarui. Studi ini menggunakan pendekatan qualitative single embedded case study pada tiga unit analisis sebagai representative analytical contrast, yaitu UT Holding sebagai fungsi tata kelola korporat, UTCM sebagai business unit operasional single-entity dengan ESG maturity yang relatif matang, dan PT Anindita Multi Industri (PT AMI; nama disamarkan untuk menjaga kerahasiaan) sebagai sub-holding multi-entity dengan portofolio yang heterogen. Data dikumpulkan melalui semi-structured interviews terhadap tujuh key informants dan review dokumen internal, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, cross-entity comparison, dan pattern matching terhadap kerangka konseptual OL–KM–ESG. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap perbedaan pola pembelajaran, pengelolaan pengetahuan, dan praktik ESG pada level korporat maupun operasional secara lebih utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola ESG dan KPI embedding di UT Group sudah relatif kuat, tetapi pembelajaran ESG belum secara konsisten dikonversi menjadi reusable organizational knowledge. Akar masalah ini termanifestasi dalam empat bentuk yang saling memperkuat, yaitu Vision-Internalization Asymmetry, Person-Dependent Capability, Knowledge Codification Gap, dan Cross-Entity Connectivity Gap. Knowledge Codification Gap diidentifikasi sebagai primary intervention lever karena menjelaskan mengapa pembelajaran, praktik baik, dan pengalaman korektif belum dapat direplikasi secara sistematis lintas entitas. Sebagai solusi bisnis, penelitian ini mengusulkan ESG Learning-to-Practice Mechanism dengan Codification Core sebagai engine utama. Mekanisme ini dijalankan melalui lima operating modules, yaitu Learning-to-Standard Pipeline, ESG Knowledge Registry, Cross-Entity Learning Forum, Structured Handover Protocol, dan Ownership and Refresh Routine. Solusi ini dirancang sebagai enabler-level intervention untuk memperkuat rutinitas ESG yang sudah ada, bukan membentuk layer tata kelola baru. Kontribusi penelitian ini terletak pada penjelasan empiris mengenai bagaimana OL dan KM bekerja dalam konteks ESG pada konglomerasi jasa alat berat di Indonesia, serta pada penempatan knowledge codification sebagai lever spesifik dalam hubungan OL–KM–ESG. Penelitian ini menggunakan selected entities sebagai representative analytical contrast, sehingga temuan ditujukan untuk analytical generalization, bukan statistical generalization.
KINERJA SISTEM AKUISISI DATA ASTROFISIKA OZT-ALTS OBSERVATORIUM ASTRONOMI ITERA LAMPUNG
Sistem akuisisi data astrofisika teleskop OZT-ALTS (Ofyar Zainuddin Tamin - Astelco Lunar Telescope System) di Observatorium Astronomi ITERA (OAIL) Lampung telah dievaluasi kinerjanya melalui tiga pendekatan terintegrasi: karakterisasi detektor secara in situ, pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann, dan pemodelan kinerja astronomis berbasis Signal-to-Noise Ratio (SNR). Detektor yang digunakan adalah kamera CMOS ZWO ASI533MC Pro (sensor Sony IMX533) yang dikarakterisasi pada variasi konfigurasi gain mengacu pada standar Abbott (1995) dan European Machine Vision Association (2021). Hasil karakterisasi detektor pada konfigurasi gain 100 menunjukkan sistem gain ???? = 0,2568 ?????/????????????, read-out noise ???????????????????? = 1,487 ????? ????????????, dark current ???? = 0,0637 ?????/ ????/???????????? pada suhu 0°C, Non-Linearitas maksimum ???????????????????? = 1,92%, full-well capacity ? ????? = 12.495 ?????, Photo Response Non-Uniformity (PRNU) piksel murni ???????? = 1,072%, dan Dynamic Range ???????? = 78,49 ???????? atau ~13,04 ???????????????? (berselisih hanya 0,56 stop dari spesifikasi pabrikan). Analisis stabilitas temporal bias menunjukkan 95% konfigurasi gain (0–295) memenuhi seluruh kriteria EMVA (2021). Pengujian kualitas optik dengan metode Hartmann menghasilkan Hartmann Test Constant ???????????? = 0,5095", wavefront error ???????????????????????? = 0,0235????, dan Strehl ratio ???? = 0,9785, mengklasifikasikan sistem optik OZT-ALTS sebagai difraksi-terbatas dengan margin lebih dari tiga kali lipat di atas kriteria Maréchal (????/14). Depth of focus terukur sebesar ±66,3 ?m (±31,6 steps focuser), dan analisis encircled energy menghasilkan ? ?????80 = 0,646? (model Airy) dan 0,751? (model King–Moffat) yang memperhitungkan pengaruh seeing. Pemodelan kinerja astronomis berbasis SNR menggunakan parameter detektor hasil karakterisasi in situ menghasilkan limiting magnitude ??????? = 18,43 ???????????? (???????????? ? 5, ???? = 300 ????, langit gelap, filter UV-IR Cut), dengan rentang 16,82–19,47 mag bergantung pada waktu eksposur dan kecerahan langit. Analisis kontribusi noise pada kondisi pengamatan riil mengidentifikasi dark current sebagai komponen dominan (65,0% varians total), konsekuensi dari akumulasi termal di lingkungan tropis Lampung. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa dark current merupakan parameter terkritis (??????????? hingga +0,67 mag apabila dikurangi), diikuti oleh potensi peningkatan dari perbaikan seeing (??????????? hingga +1,54 mag pada full widht at half maximum 0,5 arcsec). Berdasarkan seluruh hasil tersebut, konfigurasi gain 100 dikonfirmasi sebagai konfigurasi referensi optimal dengan strategi sub-eksposur ?300 s dan stacking untuk objek redup. Program pengamatan yang paling sesuai dengan kapabilitas sistem mencakup fotometri bintang variabel, kurva cahaya asteroid Near-Earth Object (NEO), transit eksoplanet, dan monitoring Active Galactic Nucleus (AGN). Optimasi sistem pendinginan Thermo Electric Cooler (TEC) untuk menurunkan suhu sensor ke ?10°C atau lebih rendah diidentifikasi sebagai intervensi tunggal dengan dampak terbesar terhadap kinerja sistem, berpotensi meningkatkan m??? sebesar +0,3 hingga +0,7 mag.
KUANTIFIKASI KANDUNGAN KARAGENAN, KADAR ABU DAN BAHAN ORGANIK PADA BUDIDAYA RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) DENGAN SISTEM RESIRKULASI BERBASIS DARAT
Rumput laut Eucheuma cottonii merupakan komoditas strategis sektor perikanan dengan nilai ekonomi tinggi, terutama karena kandungan karagenannya yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku di berbagai industri. Meskipun Indonesia termasuk salah satu produsen utama rumput laut dunia, kualitas bahan baku dan produktivitas rendemen karagenan masih menghadapi berbagai kendala, khususnya akibat fluktuasi kondisi lingkungan pada sistem budidaya konvensional di perairan terbuka. Sistem resirkulasi berbasis darat ini menjadi alternatif yang memungkinkan parameter lingkungan secara lebih stabil dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kandungan karagenan serta mengukur kadar abu dan bahan organik pada Eucheuma cottonii yang dibudidayakan dalam sistem resirkulasi berbasis darat dengan tangki yang saling terhubung disertai sistem filtrasi pada container box. Penelitian ini dilaksanakan di Screen House B3, Institut Teknologi Bandung, Kampus Jatinangor, selama 64 hari. Bibit Eucheuma cottonii yang digunakan berasal dari petani di Lampung dengan bobot awal sekitar ±50 g. Parameter yang diukur meliputi kadar karagenan, abu, bahan organik, serta laju pertumbuhan spesifik (SGR) karagenan. Selain itu, kualitas air dan mikroklimat dipantau secara berkala guna memastikan kondisi pertumbuhan yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan karagenan pada Eucheuma cottonii mengalami fluktuasi selama masa budidaya dengan peningkatan pada fase pertumbuhan aktif di HST 0-24, HST 40-44, dan HST 56-64, dengan laju pembentukan rendemen karagenan berturut-turut sebesar 0,87% day?1, 4,16% day?1, dan 1,11 % day?1. Nilai tertinggi rendemen karagenan berada di 6,68%, terendah di 4,11% dengan rata-rata 5,25%. Sementara itu, nilai kadar abu dan bahan organik selama budidaya diperoleh nilai tertinggi 66,36% dan 49,08%, terendah 50,92% dan 33,65% dengan rata-rata 56,08% dan 43,92%. Meskipun menawarkan stabilitas lingkungan, sistem resirkulasi berbasis darat dalam studi ini belum mampu menghasilkan kualitas karagenan yang setara dengan sistem konvensional. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sistem dalam mereplikasi faktor alami yang mendukung akumulasi senyawa bioaktif secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi lebih lanjut pada manajemen nutrien, pengendalian epifit, dan kepadatan tanam agar sistem ini dapat menjadi alternatif kompetitif bagi industri karagenan di masa depan.
PERANCANGAN DESAIN KARAKTER KONSEP VISUAL NOVEL "SUCCULENT CARE" SEBAGAI MEDIA EDUKASI PEMELIHARAAN TANAMAN SUKULEN BAGI PEKERJA INDOOR GEN Z
Penelitian ini berfokus pada perancangan desain karakter untuk media edukasi interaktif berupa visual novel "Succulent Care" guna mengatasi kesenjangan pengetahuan perawatan tanaman sukulen di kalangan pekerja Generasi Z di lingkungan perkantoran. Dengan memanfaatkan metode Manga Matrix dari Hiroyoshi Tsukamoto, desain karakter dikembangkan sebagai personifikasi tanaman dan mentor virtual, yang bertujuan menciptakan koneksi emosional dan menyampaikan informasi perawatan dengan cara yang menarik. Visual novel ini dirancang dengan narasi bercabang dan elemen gamifikasi untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Diharapkan, media ini tidak hanya menjadi alat edukasi yang efektif, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan desain karakter dalam konteks pendidikan digital serta meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran lingkungan di tempat kerja.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT ( EUCHEUMA COTTONII ) DENGAN SISTEM RESIRKULASI BERBASIS DARAT
Rumput laut merupakan komoditas maritim strategis di Indonesia dengan nilai ekonomi yang tinggi, terutama dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Salah satu spesies yang banyak dibudidayakan adalah Eucheuma cottonii yang menjadi sumber utama penghasil karagenan. Namun, kendala dalam sistem budidaya konvensional di perairan terbuka menyebabkan ketidakstabilan produksi dan keberlanjutan pasokan rumput laut. Pendekatan budidaya dengan sistem resirkulasi berbasis darat dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan stabilitas produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi perubahan pertumbuhan dan membuat pemodelan matematis pertumbuhan Eucheuma cottonii yang dibudidayakan dengan sistem resirkulasi berbasis darat. Penelitian ini dilakukan di Screen House B3 Institut Teknologi Bandung, Kampus Jatinangor, selama 64 hari. Budidaya dilakukan menggunakan sistem resirkulasi yang terdiri dari rangkaian tangki, yang terhubung dengan sistem penyaring di dalam container box . Bibit Eucheuma cottonii yang digunakan berasal dari hasil budidaya petani di lampung yang diseragamkan bobot awal nya sebesar ±50 g. Pengukuran pertumbuhan dilakukan melalui pengukuran bobot basah dan bobot kering. Model pertumbuhan matematis diuji dengan pendekatan curve fitting menggunakan model eksponensial, logistik, dan gompertz melalui MATLAB Online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 64 hari pemeliharaan, bobot basah rata-rata meningkat dari 50,05 g menjadi 145,42 g, sementara bobot kering meningkat dari 4,62 g menjadi 13,33 g. Nilai Growth Rate (GR) bobot basah tercatat sebesar 1,490 g/hari dengan Specific Growth Rate (SGR) 1,667%/hari, sedangkan GR bobot kering sebesar 0,136 g/hari dengan SGR 1,655%/hari. Pada penelitian ini pertumbuhan berlangsung melalui beberapa fase, yaitu fase adaptasi awal (0–12 HST), fase pertumbuhan aktif (12–20 HST), penurunan sementara (20–24 HST) yang dipicu oleh tekanan epifit, pertumbuhan aktif kembali secara landai (24–44 HST), dan fase pemulihan aktif lanjutan (48–64 HST). Melalui analisis Goodness of Fit , model Gompertz terbukti menjadi model terbaik secara statistik untuk menggambarkan pola pertumbuhan bobot basah maupun bobot kering E. cottonii , dengan nilai R² tertinggi untuk bobot basah (98,34%) dan bobot kering (98,81%) dibandingkan model logistik dan eksponensial, serta nilai SSE dan RMSE terendah untuk bobot basah (247,25 ; 4,36) dan bobot kering (1,51 ; 0,34) dibandingkan model logistik dan eksponensial. Persamaan untuk model pertumbuhan bobot basah dan bobot kering berturut-turut adalah f(x) = 38,3819 + (1018000 - 38,3819) .exp (-exp ( - 0,0660.(x - 35,1488))) dan f (x) = 3,6433 + (151450 - 3,6433) .exp (-exp (-0,0680. (x- 34,9020))). Sistem resirkulasi berbasis darat menunjukkan hasil yang positif dalam mendukung pertumbuhan Eucheuma cottonii , meskipun masih terdapat gangguan seperti adanya tekanan epifit yang mempengaruhi hasilnya. Sehingga, sistem ini masih belum mencapai hasil yang setara dengan metode konvensional. Dengan pengelolaan yang lebih baik terhadap gangguan biologis dan lingkungan, sistem ini berpotensi untuk lebih optimal di masa depan.
PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PENGENALAN TUMBUHAN ENDEMIK INDONESIA KANTONG SEMAR UNTUK SISWA KELAS 5 SD
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, namun pengetahuan masyarakat, khususnya anak-anak, terhadap tumbuhan endemik masih tergolong rendah. Kantong semar adalah tumbuhan karnivora yang memiliki morfologi dan mekanisme penangkapan serangga yang menarik untuk dipelajari, namun materi mengenai tumbuhan ini belum banyak ditemukan dalam media pembelajaran anak. Penelitian ini berfokus pada perancangan buku ilustrasi interaktif sebagai media pengenalan tumbuhan endemik Indonesia, yaitu kantong semar (Nepenthes), bagi siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Kantong semar dikenal sebagai tumbuhan karnivora yang unik, tetapi keberadaannya belum banyak dipahami secara mendalam oleh siswa sekolah dasar, baik dari segi morfologi, habitat, maupun perannya dalam ekosistem. Kurangnya media edukasi yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak menjadi salah satu penyebab rendahnya minat dan pemahaman terhadap tumbuhan tersebut. Oleh karena itu, perancangan buku ilustrasi interaktif dengan mekanisme lift the flap dipilih sebagai solusi untuk menyampaikan informasi secara edukatif sekaligus menyenangkan. Metode perancangan yang digunakan adalah design thinking yang meliputi tahap empati, perumusan masalah, pengembangan ide, pembuatan prototipe, dan pengujian. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan ahli kantong semar, serta wawancara dan survei kepada target audiens. Hasil perancangan menunjukkan bahwa buku ilustrasi interaktif mampu meningkatkan ketertarikan, pemahaman, dan keterlibatan siswa dalam mempelajari tumbuhan kantong semar. Dengan penyajian visual yang menarik, bahasa yang sederhana, serta elemen interaktif, buku ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran pendukung yang efektif, sekaligus menumbuhkan kesadaran sejak dini terhadap pentingnya pelestarian tumbuhan endemik Indonesia.
MENDEFINISIKAN PENDAPATAN HIDUP LAYAK BAGI PETANI KAKAO DALAM KORELASINYA DENGAN KONTINUITAS PRODUKSI KAKAO DI INDONESIA
Industri kakao menghadapi ketidakstabilan rantai pasok karena petani kesulitan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Studi kualitatif ini meneliti tolak ukur pendapatan hidup layak di Indonesia dengan mengidentifikasi harga minimum yang dapat diterima dan harga ideal bagi petani. Dengan menggunakan metode studi kasus ganda Robert Yin dan Kerangka Penghidupan Berkelanjutan, kami mengamati realitas ekonomi rumah tangga petani di sentra produksi Lampung dan Sulawesi Barat. Analisis lintas kasus menunjukkan bahwa ketika harga kakao turun di bawah ambang batas, petani terpaksa berada dalam mode bertahan hidup. Selanjutnya, tesis ini mengevaluasi melalui lensa bisnis strategis, dengan melihat kesulitan ekonomi petani sebagai kerentanan kritis yang secara langsung berdampak pada stabilitas rantai pasok industri kakao saat ini dan jangka panjang. Model bisnis yang diusulkan memposisikan industri kakao sebagai mentor ekosistem yang menerapkan keahlian agronomi teknis dan peningkatan kapasitas pasca panen secara langsung kepada koperasi lokal dan kelompok tani untuk menstandarisasi kualitas biji kakao. Dengan mengubah koperasi lokal menjadi pusat kualitas yang terpusat dan bernilai tambah, petani dapat secara mandiri memperoleh harga pasar yang lebih tinggi berdasarkan peningkatan kualitas biji kakao. Pendekatan praktis yang didorong oleh tim ahli ini memberikan jalur realistis untuk memenuhi persyaratan kebutuhan hidup layak, meniadakan siklus menunda perawatan kebun, dan mengamankan ketahanan pasokan jangka panjang untuk industri kakao nasional. Studi ini mengidentifikasi bahwa menurut petani kakao Indonesia, Rp 70.000 – 75.000/ Kg biji kakao kering merupakan harga ideal, sedangkan Rp 25.000 - 30.000/ Kg biji kering kakao merupakan harga minimum yang masih diterima untuk mempertahankan produksi. Data dianalisis menggunakan kerangka kerja pencocokan pola dan lingkaran kausal, dengan ambang batas harga yang diperoleh dari median untuk menetralkan outlier ekstrem dan mencerminkan realitas yang sebenarnya.