π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenTEORI KODING BERBASIS GRAF
Pada teori koding klasik, informasi kerap kali direpresentasikan dalam bentuk vektor. Namun representasi vektor tidak selalu optimal pada sistem yang kompleks, seperti sistem penyimpanan terdistribusi. Oleh karena itu, dilakukan representasi informasi dengan objek graf pada sistem tersebut karena mendekati representasi alaminya. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sifat kode linear klasik dengan graf dan mengonstruksi kode atas graf yang optimal, seperti kode Maximum Distance Separable (MDS). Melalui metode tinjauan pustaka, tugas akhir ini membahas mengenai konsep dasar teori koding, representasi graf menggunakan matriks ketetanggaan, hingga kemampuan koreksi kode terhadap penghapusan simpul. Tugas akhir ini menunjukkan bahwa kode graf optimal dapat dikonstruksi melalui kode hasil-kali simetris. Untuk mendapatkan kode yang bersifat eksplisit kuat, kode graf dikonstruksi dengan Kode Hasil-Kali Simetris dengan Diagonal Nol (HKSDN) berbasis kode Reed-Solomon. Selain itu dilakukan konstruksi Kode Penyambungan Simetris yang mampu melewati batas jarak relatif ? > 1 2 dengan tetap mempertahankan laju konstan yang asimtotik bernilai positif.
EFFITON : PERANCANGAN SERTA IMPLEMENTASI PEMANTAUAN PERUBAHAN WARNA SAMPEL MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER & PERANCANGAN SERTA IMPLEMENTASI CASING
Pengukuran dan analisis yang akurat terhadap perubahan warna pada sampel merupakan persyaratan penting dalam pendeteksian degradasi warna yang digunakan untuk pengolahan air limbah. Spektrofotometri adalah metode analitis yang digunakan untuk mengukur absorbansi dan transmitansi cahaya oleh sampel berwarna. Makalah ini memaparkan desain dan implementasi salah satu subsistem dalam EFFiton: sebuah spektrofotometer portabel, ringkas, dan berbiaya rendah. Sistem ini dilengkapi dengan lampu halogen 6V, lensa cembung, kisi difraksi 600 garis/mm, dua cermin, dan sensor TSL1401CL. Pengambilan dan pemrosesan data dari sensor TSL1401CL dilakukan menggunakan mikrokontroler ESP32, dengan spektrum yang dihasilkan ditampilkan pada lapisan antarmuka EFFiton. Mengingat kebutuhan untuk mengembangkan perangkat yang mampu melakukan pengujian degradasi dengan berbagai prosedur dalam satu unit, makalah ini juga membahas implementasi casing untuk mengintegrasikan seluruh subsistem EFFiton ke dalam satu unit. Untuk itu, makalah ini juga membahas implementasi desain casing guna menghasilkan produk berkualitas tinggi.
EVALUASI SISTEMATIS PENYESUAIAN SALINITAS DENGAN BANTUAN ALKALINE PADA SURFACTANT FLOODING BERBASIS ALKIL ESTER SULFONAT UNTUK MINYAK RINGAN LAPANGAN X: PERAN ALKALINE DALAM OPTIMASI PERILAKU FASA MIKROEMULSI DAN TEGANGAN ANTARMUKA
Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) is a promising tertiary recovery method for improving oil recovery from mature reservoirs. This study evaluated the effect of alkali type and concentration on the performance of a Polymeric Alkyl Ester Sulfonate (SAEβ2) based alkaline-surfactant system for Field X, a light oil reservoir in East Kalimantan, Indonesia. A total of 22 formulations were prepared using NaOH, Na2CO3, and combined NaOHβNa2CO3 at concentrations ranging from 0.10 to 1.50 %wt, while maintaining constant SAEβ2 at 0.50 %wt. Formulation performance was assessed through aqueous stability testing, phase behavior analysis, interfacial tension (IFT) measurements, and spontaneous imbibition experiments on Berea sandstone cores at reservoir temperature. The results demonstrated that alkali type had greater influence on formulation performance than concentration alone. NaOH formulations exhibited the broadest aqueous stability and achieved the highest recovery factor of 52.76% at 1.50 %wt of Na?CO? formulations demonstrated systematic phase behavior progression and generated multiple Winsor Type III microemulsion windows. The formulation containing 1.50 %wt Na2CO3 and 0.50 %wt SAEβ2 produced the lowest IFT of 4.101 Γ 10?3 mN/m and achieved a recovery factor of 46.90%. The combined NaOHβ Na2CO3 system showed poor stability and unfavorable phase behavior. Based on comprehensive evaluation, 1.50 %wt NaOH and 0.50 %wt SAEβ2 was identified as the optimum formulation for Field X.
ANALISIS SENSITIVITAS GEOMETRI DAN LUAS POLA SUMUR TERHADAP KINERJA INJEKSI KIMIA PADA RESERVOIR KONSEPTUAL BERTIPE CHANNEL FINING-UPWARD
This study evaluates the performance of surfactant, polymer, and alkaline-surfactant-polymer (ASP) flooding in a conceptual channel fining-upward sandstone reservoir. The objectives are to identify the scenario with the highest recovery factor and the scenario with the best economic performance under consistent reservoir, operating, chemical, well-pattern, and screening-level economic assumptions. The study focuses on pattern geometry and pattern area as the main development variables, while maintaining a common chemical-slug design to support fair scenario comparison. A three-dimensional conceptual reservoir model was built with vertical permeability contrast to represent a channel fining-upward system. The waterflood base case was simulated from 2000 to 2020 and used as the reference case. CEOR scenarios applied water injection from 2000 to 2010, followed by a 0.3 porevolume- injected chemical slug and chase water until 2020. The scenario matrix included inverted five-spot and inverted nine-spot patterns at 96-acre, 24-acre, and 6-acre pattern areas. Performance was evaluated using recovery factor, incremental oil, pressure response, voidage replacement ratio, oil saturation distribution, and screening-level economic indicators. The waterflood base case reached 17.81% recovery factor and 1.48 MMbbl cumulative oil production. The highest technical recovery was obtained from Scenario 5-ASP, a 6-acre inverted five-spot ASP case, with 76.50% final recovery factor, 58.69% incremental recovery factor, and 4.88 MMbbl incremental oil. However, the highest recovery case was not the best economic case. Scenario 3-ASP, a 24-acre inverted five-spot ASP case, gave the highest NPV10 of 59.13 MMUSD and IRR of 62.80%. These results show that CEOR scenario selection should balance recovery improvement with development cost, well count, liquid-handling requirement, chemical cost, and the practical development intensity required to deliver the recovery target. Therefore, the preferred scenario should be selected from an integrated technical-economic ranking rather than recovery factor alone.
IDENTIFIKASI MODEL PENGUJIAN SUMUR DAN ESTIMASI PARAMETER OTOMATIS MENGGUNAKAN SIAMESE NEURAL NETWORK DENGAN TRIPLET LOSS
In conventional Pressure Transient Analysis (PTA), engineers must visually identify the correct well test model from a log-log plot and then perform iterative regression matching to estimate the reservoir parameters. This process is time-consuming and dependent on the engineer's experience. Previous studies have applied a Convolutional Neural Network (CNN) to automate the model identification step, but the parameter estimation still has to be done manually from scratch. To address this gap, a deep metric learning approach is proposed. A large synthetic dataset consisting of log-log diagnostic plots is generated using analytical Laplace-domain solutions combined with Stehfest numerical inversion, covering four scenario classes: Homogeneous Infinite, Homogeneous One Fault, Dual Porosity Infinite, and Dual Porosity One Fault. The parameters are sampled using a Design of Experiments (DoE) methodology to ensure uniform coverage across the parameter space. A Siamese Neural Network (SNN) is trained to project these plots into a 128-dimensional embedding space where visually similar curves are placed close together. A k-Nearest Neighbors (k-NN) algorithm then retrieves the most similar curves from a reference database to simultaneously predict the scenario class and estimate the parameters through neighbor averaging. The model achieves a classification F1-Score of 0.986 on the test dataset. Parameter estimation accuracy is evaluated using Normalized Absolute Error (NAE), with the model showing generally low errors for permeability, skin factor, and wellbore storage. Higher deviations are observed for boundary distance and storativity ratio, which is consistent with the known non-uniqueness problem in well testing where certain parameter combinations produce visually identical curves. A test case validation confirms the model's applicability, with estimation errors consistently below 2% for permeability, below 4% for skin factor, and below 6% for wellbore storage across all four test cases. The proposed system serves as an initial guessing tool to provide engineers with informed starting values, which can be refined through analytical matching in commercial software.
PERANCANGAN FILM ANIMASI 3D MULTI-PANEL IMERSIF DALAM MENYAMPAIKAN MISPERSEPSI KELUARGA KEPADA USIA REMAJA HINGGA DEWASA MUDA
Miskomunikasi dalam keluarga merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi hubungan emosional serta menghambat terbentuknya pemahaman antaranggota keluarga. Perbedaan pengalaman hidup, latar belakang emosional, dan gaya komunikasi, terutama antara figur pengasuh dan anggota keluarga yang lebih muda, sering kali memicu kesenjangan pemahaman yang berdampak pada dinamika keluarga secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media storytelling dengan penyajian imersif melalui projection mapping pada tiga panel sebagai sarana reflektif dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga (family values), khususnya empati, komunikasi, kasih sayang, dan pengorbanan. Metode perancangan dilakukan melalui kajian literatur, wawancara mendalam dengan narasumber, serta analisis dinamika komunikasi keluarga. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk miskomunikasi, serta nilai-nilai keluarga yang menjadi landasan dalam pengembangan narasi. Proses perancangan mengikuti pendekatan design thinking untuk mengembangkan konsep visual dan storytelling yang relevan dengan isu yang diangkat. Hasil perancangan berupa film pendek animasi 3D yang disajikan menggunakan sistem projection mapping pada tiga panel sehingga menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif melalui perpaduan narasi, visual, dan tata suara. Berdasarkan evaluasi terhadap audiens, pendekatan tersebut membantu menyampaikan konflik keluarga melalui sudut pandang setiap karakter tanpa menempatkan salah satunya sebagai pihak yang sepenuhnya benar atau salah, sekaligus mendorong pengalaman menonton yang lebih reflektif. Perancangan ini menunjukkan bahwa storytelling animasi 3D imersif dapat menjadi alternatif media komunikasi visual dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga melalui pengalaman emosional yang mendukung refleksi audiens.
COMPARATIVE STUDY OF PASSENGER SAFETY BETWEEN CABLE BARRIERS AND W-BEAM GURDRAILS DURING CAR CRASHES
Pemilihan pembatas jalan raya di Indonesia saat ini masih didasarkan pada bukti komparatif yang terbatas, meskipun pembatas kabel, pagar pengaman W-beam, dan pembatas beton semuanya diakui dalam peraturan lalu lintas jalan nasional. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan membuat dan membandingkan model tabrakan elemen hingga dari pembatas kabel dan pagar pengaman balok-W, yang masing-masing ditabrak oleh mobil sedan Toyota Camry model 2012 dalam kondisi uji TB32 yang ditentukan dalam EN 1317 (110 km/jam, 20Β°, 1.500 kg). Kedua simulasi dijalankan di Ansys LS-DYNA dan validitasnya diverifikasi melalui perilaku keseimbangan energi serta waktu intrusi sebelum hasilnya dapat diandalkan. Data percepatan dari setiap uji coba disaring β menggunakan filter Butterworth empat kutub tanpa fase berfrekuensi 13 Hz untuk Indeks Keparahan Percepatan (ASI), dan filter CFC60 untuk saluran kecepatan β serta digunakan untuk menghitung probabilitas cedera penumpang berdasarkan model korelasi Meng dan Untaroiu (2020). Penghalang kabel menghasilkan ASI sebesar 4,328, yang berarti probabilitas cedera AIS3+ berkisar antara 0,066 (paha) hingga 0,999 (dada). Pagar pengaman W-beam menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dalam hal ini, dengan ASI mencapai 45,684 dan secara efektif probabilitas 1 di setiap bagian tubuh yang dievaluasi. Menariknya, pagar pengaman tersebut lebih efektif dalam meredam energi kinetik kendaraan: dalam waktu 79 ms, kecepatan mobil telah berkurang menjadi 27,288 m/s dan energinya menjadi 424,6 kJ, dibandingkan dengan 29,031 m/s dan 482,8 kJ untuk penghalang kabel. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pagar pengaman tipe W-beam lebih kaku dan mampu menyerap lebih banyak energi dari benturan, kekakuan yang sama justru menimbulkan beban deselerasi yang jauh lebih berat bagi penumpang β sehingga pagar kabel menjadi pilihan yang lebih aman di antara keduanya dalam skenario tabrakan spesifik ini. Temuan-temuan ini dimaksudkan untuk mendukung pembahasan kebijakan di masa mendatang mengenai standar pagar pengaman untuk jalan tol di Indonesia.
ANALISIS NUMERIK KINERJA INJEKTOR VENTURI PADA SISTEM BIOFLOK DENGAN VARIASI DIAMETER LEHER, KECEPATAN, DAN VISKOSITAS
Penerapan sistem bioflok dengan padatan tersuspensi tinggi menuntut tingkat aerasi optimal, tetapi memicu peningkatan viskositas air yang menurunkan efisiensi aerator konvensional. Injektor venturi menjadi alternatif yang efektif, tetapi alat ini sangat sensitif terhadap anomali hidrodinamika seperti aliran restriksi (flow restriction) dan semburan balik (backflow) akibat penyempitan leher (throat) yang ekstrem. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh variasi diameter leher (2β4 mm), kecepatan aliran masuk (1β5 m/s), dan viskositas fluida (0,001003β0,0016 kg/(m.s)) terhadap kinerja injektor venturi. Analisis dilakukan melalui Computational Fluid Dynamics (CFD) menggunakan ANSYS Fluent 2D planar dengan pemodelan aliran multifasa Volume of Fluid (VOF) dan turbulensi ????????? SST pada kondisi tunak (steady-state). Hasil simulasi menunjukkan laju isapan massa udara optimal tercapai pada diameter leher 2,5 mm sebesar 0,0012 kg/s. Jika dipersempit hingga 2 mm akan memicu terjadinya backflow yang menyebabkan air keluar melalui saluran isap udara sebesar 0,2 kg/s. Peningkatan kecepatan masuk secara linear memperdalam tekanan vakum, sementara kenaikan viskositas fluida turut meningkatkan area efektif aliran. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi panduan rancangan dimensi injektor venturi untuk aplikasi bioflok guna mencegah risiko kegagalan sistem operasional.
BAGAN KENDALI EWMA ADAPTIF BEBAS PARAMETER BERBASIS SUPPOT VECTOR REGRESSION
Pemantauan dispersi proses merupakan komponen kritis dalam pengendalian kualitas statistik, seperti bagan kendali Exponentially Weighted Moving Average (EWMA). Bagan kendali EWMA konvensional untuk pemantauan dispersi memiliki keterbatasan mendasar, yaitu konstanta pemulusan ? harus ditetapkan sebelum pemantauan dimulai, padahal nilai optimalnya bergantung pada besar pergeseran yang umumnya tidak diketahui. Penelitian ini mengkonstruksi bagan kendali Adaptive EWMA (AEWMA) bebas parameter berbasis Support Vector Regression (SVR) untuk mengatasi keterbatasan tersebut, mengevaluasi kinerjanya melalui simulasi Monte Carlo, dan menerapkannya pada data imbal hasil logaritmik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harian. Konstruksi bagan mencakup estimasi parameter terkendali, penentuan pasangan parameter pemulusan dan pengali batas kendali (?, L) yang mempertahankan ARL mendekati 370, pembangkitan data latih, dan pelatihan model SVR dengan kernel RBF (? = 1, ? = 0,1, dan C = 0,1). Batas kendali yang dihasilkan bersifat dinamis dan menyesuaikan berdasarkan ? yang digunakan. Hasil simulasi menunjukkan bagan mampu mendeteksi pergeseran kecil (? = 1,05) dengan ARL sekitar 114 sampel dan menurun hingga kurang dari 4 sampel pada pergeseran besar (? = 2,00). Penerapan pada data IHSG dari Januari 2025 hingga Maret 2026 berhasil mendeteksi subgrup out-of-control tanpa perlu ? awal dan menyesuaikan terhadap dinamika proses yang berubah tanpa terikat memori statistik yang panjang. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi SVR menghasilkan bagan kendali yang adaptif, andal, dan efektif untuk pemantauan volatilitas IHSG.
ANALISIS KINERJA PERON STASIUN DI JAKARTA: STUDI KASUS STASIUN MRT BENDUNGAN HILIR MENGGUNAKAN MODEL MIKROSIMULASI
Kinerja pergerakan penumpang merupakan elemen krusial dalam sistem transportasi untuk mengakomodasi permintaan mobilitas komuter yang tinggi di kawasan metropolitan Jakarta. Moda transportasi berbasis rel menjadi andalan untuk melayani pergerakan masif tersebut dengan stasiun sebagai titik tumpuannya. Sebagai simpul transit komuter, stasiun mengalami keterangkutan penumpang yang tinggi sehingga menyebabkan kepadatan di area peron yang menghambat kelancaran pergerakan penumpang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pergerakan penumpang di area peron stasiun. Penelitian ini akan dilakukan di Stasiun MRT Bendungan Hilir. Kinerja pergerakan penumpang di area peron stasiun dianalisis melalui model mikrosimulasi pada pergerakan penumpang dengan perangkat lunak PTV Vissim dan Viswalk dengan parameter kinerjanya adalah kerapatan, arus, dan antrean. Elemen yang dimodelkan dalam mikrosimulasi adalah kereta, stasiun, dan penumpang. Kalibrasi dilakukan terhadap penumpang yang divalidasikan terhadap karakteristik berjalan penumpang yang disurvei. Model mikrosimulasi dilakukan pada kondisi eksisting dan dibandingkan dengan skenario peningkatan kinerja berbasis operasional kereta dan alur pergerakan penumpang pada saat kondisi arus maksimum. Kesimpulan yang akan diperoleh pada tugas akhir penelitian ini adalah evaluasi kinerja peron stasiun berdasarkan pemodelan skenario berbasis mikrosimulasi. Pemodelan mikrosimulasi membuktikan bahwa skenario peningkatan kinerja berbasis alur pergerakan penumpang melalui pengubahan fungsi tangga/eskalator dapat memperbaiki redistribusi penumpang sehingga meningkatkan kinerja pergerakan penumpang dengan menurunnya tingkat kerapatan, arus, dan antrean di area peron stasiun. Skenario peningkatan kinerja berbasis operasional kereta mencakup pengurangan headway, penambahan dwell time, dan pengubahan fungsi pintu serta skenario kombinasi akan efektif dilakukan apabila kondisi penumpang di area peron stasiun tidak terlalu padat.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN UNTUK PROGRAM INOVASI DAN INKUBASI PADA DIREKTORAT KAWASAN SAINS DAN TEKNOLOGI (DKST) INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Peralihan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) Institut Teknologi Bandung membuat cakupan layanan yang dikelola menjadi lebih luas dan beragam. Sayangnya, perluasan ini belum diimbangi oleh sistem manajemen yang memadai. Proses komersialisasi hasil riset melalui skema spin-off masih belum terstandardisasi, penentuan komposisi tenant belum mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kapasitas ruang, dan aspek finansial secara bersamaan, sementara pengetahuan organisasi masih tersebar di berbagai media dan individu. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapabilitas sistem manajemen DKST ITB melalui tiga rancangan, yaitu proses bisnis komersialisasi hasil riset, komposisi tenant dan kebutuhan fasilitas yang optimal, serta Knowledge Management System (KMS). Perancangan proses bisnis dilakukan menggunakan pendekatan Business Process Management yang mencakup tahap process identification, process discovery, process analysis, dan process redesign. Penentuan komposisi tenant menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed methods, yang diawali dengan wawancara untuk memperoleh voice of customer, kemudian pembangunan model linear programming menggunakan algoritma Python untuk memaksimalkan pendapatan penyewaan lantai 7, 9, dan 10 IIP Bandung Technopolis pada tiga skenario harga. Perancangan KMS menggunakan adaptasi 10-Step Knowledge Management Roadmap melalui analisis proses bisnis dan infrastruktur aktual, identifikasi aset pengetahuan, perancangan blueprint, serta pengembangan prototipe. Hasil penelitian menghasilkan pemodelan proses bisnis jalur komersialisasi, rancangan proses komersialisasi yang dilengkapi dengan mekanisme asesmen, dan pembagian peran yang lebih jelas. Model optimasi menghasilkan komposisi empat kategori tenant pada setiap lantai dengan pendapatan sebesar Rp 235.075.000 pada skenario pesimistis, Rp 527.712.500 pada skenario realistis, dan Rp 820.350.000 pada skenario optimistis. Selain itu, prototipe KMS mengintegrasikan repositori pengetahuan, direktori pengetahuan, dan platform kolaborasi untuk mendukung layanan DKST ITB .Ketiga rancangan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam satu platform website DKST ITB melalui halaman Spin-off, Fasilitas, dan KMS. Integrasi ini diharapkan dapat membantu menstandarkan proses komersialisasi, meningkatkan pemanfaatan ruang dan potensi pendapatan, serta mendukung pengelolaan pengetahuan yang lebih terstruktur bagi DKST ITB.
PENGEMBANGAN PROSEDUR PREDIKSI HISTERESIS SWCC DRYING-WETTING BERBASIS DATA JALUR TUNGGAL
Prediksi Soil-Water Characteristic Curve (SWCC) yang mencakup kurva drying, wetting, dan Scanning sangat penting dalam mekanika tanah tak jenuh. Namun, metode analitik terdahulu memiliki keterbatasan: penentuan parameter memerlukan data kedua kurva utama secara bersamaan, serta validasi terbatas pada satu jenis tanah. Penelitian ini bertujuan menyempurnakan metode tersebut agar prediksi cukup dilakukan dengan satu kurva acuan, sekaligus memperluas ruang lingkup validasi pada 24 jenis tanah (18 nonkohesif dan 6 kohesif). Metode semi-empiris memanfaatkan rasio empiris dan nilai RSL dari literatur untuk memprediksi kurva utama, sementara Scanning curve diprediksi melalui fungsi pergeseran horizontal dan fungsi tangen hiperbolik. Hasil penelitian menunjukkan metode analitik berakurasi tinggi pada tanah dengan entrapped air kecil, namun menurun pada entrapped air besar dan mayoritas prediksi melanggar prinsip histeresis. Metode semi-empiris memberikan hasil fluktuatif pada tanah nonkohesif; akurasi tertinggi pada Molonglo Sand dan terendah pada Porous Body II. Rasio Kool terbukti lebih baik daripada Likos dkk pada tanah nonkohesif, sedangkan keduanya baik pada tanah kohesif. Evaluasi Scanning curve pada Adelaide Dune Sand juga menunjukkan kelemahan formula parameter kelengkungan yang teratasi melalui penyesuaian nilai empiris. Selain itu, ditemukan bahwa nilai residual suction hasil curve fitting tidak merepresentasikan kondisi fisik yang sesuai, sehingga pendekatan grafis diperlukan untuk memperoleh nilai yang lebih realistis. Secara keseluruhan, rasio empiris dan formula kelengkungan kurva Scanning saat ini belum mampu memprediksi secara universal. Oleh karena itu, pengembangan formulasi baru yang mengorelasikan parameter tersebut dengan karakteristik fisik material direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya.
PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT TRACHYPITHECUS AURATUS, PRESBYTIS COMATA DAN MACACA FASCICULARIS DI TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI
Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) merupakan habitat penting bagi berbagai spesies primata di Jawa Barat yang saat ini menghadapi tekanan akibat perubahan tutupan lahan, perambahan, fragmentasi habitat, dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat sehingga diperlukan informasi mengenai distribusi habitat yang sesuai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian habitat tiga spesies primata, yaitu Trachypithecus auratus, Presbytis comata, dan Macaca fascicularis, di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK), mengidentifikasi preferensi habitat masing-masing spesies berdasarkan variabel lingkungan yang berpengaruh, serta menganalisis tingkat tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies. Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Barat yang menghadapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dan aktivitas antropogenik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai distribusi habitat potensial dan tumpang tindih habitat antarspesies menjadi input penting dalam perencanaan konservasi yang efektif dan berkelanjutan. Pemodelan kesesuaian habitat dilakukan menggunakan Maximum Entropy (MaxEnt), yang merupakan metode berbasis machine learning dan dirancang untuk menggunakan data kehadiran spesies saja (presence only) sebagai variabel distribusi. Penelitian ini menggunakan kombinasi berbagai variabel lingkungan yang diduga memengaruhi distribusi spesies, meliputi faktor topografi (elevasi dan kemiringan lereng), tutupan lahan, serta jarak terhadap fitur antropogenik seperti kebun dan pemukiman. Seluruh variabel lingkungan diproses dalam format raster dengan resolusi spasial yang seragam untuk memastikan konsistensi analisis. Evaluasi performa model dilakukan menggunakan nilai Area Under the Curve (AUC) dari kurva Receiver Operating Characteristic (ROC), yang umum digunakan untuk menilai akurasi prediksi model distribusi spesies. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa model MaxEnt memiliki kinerja yang baik dalam memprediksi distribusi habitat potensial ketiga spesies primata. Nilai AUC yang diperoleh masing-masing sebesar 0,842 untuk Trachypithecus auratus, 0,773 untuk Presbytis comata, dan 0,826 untuk Macaca fascicularis, yang mengindikasikan tingkat akurasi model berada dalam kategori sedang hingga baik. Perbedaan nilai AUC antarspesies mencerminkan variasi kompleksitas relung ekologis serta sensitivitas masing-masing spesies terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, kontribusi variabel lingkungan terhadap model menunjukkan adanya perbedaan preferensi habitat pada setiap spesies, yang berkaitan dengan karakteristik ekologis dan perilaku masing-masing. Distribusi spasial kesesuaian habitat menunjukkan bahwa area dengan nilai kesesuaian tinggi tersebar secara tidak merata di dalam kawasan penelitian. Trachypithecus auratus dan Presbytis comata cenderung memiliki distribusi habitat yang lebih terkonsentrasi pada area dengan kondisi hutan yang relatif baik dan minim gangguan, sedangkan Macaca fascicularis menunjukkan distribusi yang lebih luas dan mampu menempati area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Macaca fascicularis memiliki toleransi ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua spesies lainnya. Analisis tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies menunjukkan adanya variasi tingkat kesamaan preferensi habitat. Tumpang tindih yang relatif tinggi ditemukan antara Trachypithecus auratus dan Presbytis comata, yang mengindikasikan adanya kesamaan dalam preferensi habitat serta potensi interaksi dalam pemanfaatan sumber daya. Di sisi lain, tumpang tindih antara kedua spesies tersebut dengan Macaca fascicularis cenderung lebih rendah, yang mencerminkan perbedaan dalam strategi adaptasi terhadap lingkungan. Pola ini mengindikasikan adanya mekanisme pembagian relung (niche partitioning) yang memungkinkan ketiga spesies untuk hidup berdampingan dalam satu lanskap tanpa terjadi kompetisi yang berlebihan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga heterogenitas habitat dalam mendukung keberlangsungan berbagai spesies primata di kawasan konservasi. Area dengan tingkat kesesuaian habitat tinggi serta memiliki nilai tumpang tindih antarspesies yang signifikan perlu menjadi prioritas dalam pengelolaan kawasan, karena berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Selain itu, keberadaan area dengan tekanan antropogenik yang tinggi juga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi dampak terhadap habitat satwa. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pendekatan pemodelan distribusi spesies berbasis spasial, khususnya dalam konteks konservasi primata di Indonesia.