📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenANALISIS KINERJA SEISMIK DAN INTEGRITAS LINING STACKED TWIN TUNNEL MRT JAKARTA DENGAN METODE PSEUDO-STATIS SNI 9366:2025
Terowongan ganda bertumpuk vertikal (stacked twin tunnel) pada Proyek MRT Jakarta Fase 2 (CP202) melintasi lapisan tanah lempung lunak berlapis yang rentan terhadap deformasi seismik, sehingga penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik dan integritas struktural lining segmental terowongan menggunakan metode pseudo-statis berdasarkan SNI 9366:2025. Analisis dilakukan melalui pemodelan elemen hingga dua dimensi menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil. Profil deformasi geser bebas ditentukan dari percepatan puncak batuan dasar yang diamplifikasi untuk kelas situs SE, dikonversi menjadi regangan geser maksimum per lapisan, dan diaplikasikan sebagai prescribed displacement pada batas lateral model untuk kondisi FEE dan SEE. Hasil menunjukkan Tunnel 2 pada lapisan lempung sangat lunak (AC1), dengan rasio fleksibilitas lebih kecil dari satu, jauh lebih sensitif terhadap beban seismik dibandingkan Tunnel 1 pada lapisan pasir padat, momen lentur Tunnel 2 meningkat hingga 400,8% pada SEE, sedangkan Tunnel 1 relatif stabil. Studi parametrik variasi tebal lining (250, 300, 350 mm) menunjukkan penambahan tebal lebih efektif mereduksi ovaling pada tanah lunak dibandingkan tanah kaku. Evaluasi integritas lining sesuai SNI 2847:2019, dengan ?=0,65 untuk statis dan FEE serta ?=1,0 untuk SEE, menunjukkan seluruh titik evaluasi berada dalam envelope kapasitas. Ratio tertinggi 0,95 (Tunnel 1, statis, springline) dan 0,82 (Tunnel 2, SEE, invert), mengkonfirmasi konfigurasi lining eksisting CP202 memadai memikul beban statis, surcharge, dan seismik pada segmen tinjauan.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
EVALUASI POTENSI PLASTIK SEBAGAI PEREKAT PEMBRIKETAN REFUSE DERIVED FUEL (RDF) DARI SAMPAH ANORGANIK
Produksi briket di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) saat ini masih bergantung pada penambahan bahan perekat kanji (tepung tapioka) karena mesin ekstrusi ulir eksisting belum mampu menghasilkan briket utuh tanpa perekat, sehingga menambah biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter tekanan, temperatur, dan perekat optimal pembriketan RDF pada dua jalur perekat, yaitu menggunakan kanji dan menggunakan plastik di dalam sampah anorganik, setelah sebelumnya mengevaluasi parameter proses pembriketan pada mesin ekstrusi ulir. Penelitian meliputi karakterisasi bahan baku, pemodelan pembriketan mesin ekstrusi ulir, pembriketan pada mesin ekstrusi ulir, dan eksperimen terkontrol menggunakan mesin press hidrolik dengan variasi kandungan kanji, tekanan (15 – 30 MPa), dan temperatur (110 – 170 °C) pada bahan baku sampah anorganik berkadar air 15%. Pengujian durabilitas dilakukan menggunakan metode uji jatuh (drop test) dari ketinggian 185 cm ke permukaan pelat baja sebanyak empat kali, untuk mengetahui kemampuan briket menerima beban benturan eksternal. Pengukuran densitas dan kadar air, serta pengamatan visual briket juga dilakukan untuk menganalisis kualitas briket yang dihasilkan. Karakterisasi fisik menunjukkan cacahan RDF memiliki kadar air 34,4% dengan dominasi plastik film LDPE sebesar 37%. Pemodelan mesin ekstrusi ulir mengestimasi tekanan operasi mesin sekitar 15 MPa, dan hasil eksperimen terkontrol menunjukkan bahwa pada temperatur pembriketan 110 °C, briket tanpa perekat hanya mencapai durabilitas 56,5 – 58%, sedangkan briket berkanji mencapai 96%. Namun demikian, pada temperatur pembriketan 150 °C dan 170 °C, briket tanpa perekat mencapai durabilitas 97 – 100%, setara dengan briket berkanji. Temuan ini membuktikan bahwa fraksi plastik dapat berfungsi sebagai perekat menggantikan kanji, sepanjang temperatur pembriketan memadai untuk mengaktifkan pelunakan plastik. Evaluasi parameter proses menyimpulkan bahwa temperatur merupakan faktor pembatas utama pembriketan tanpa perekat pada mesin eksisting.
KAJIAN ANALITIK PERILAKU LENTUR KOLOM BETON BERTULANG YANG DIPERKUAT CARBON FIBER-REINFORCED POLYMER (CFRP) LONGITUDINAL DENGAN MODIFIKASI PENGANGKURAN
Penelitian ini mengkaji perilaku lentur kolom beton bertulang (RC) yang diperkuat CFRP longitudinal, dengan fokus pada pengaruh sistem pengangkuran terhadap efektivitas perkuatan. Tiga spesimen dianalisis: kolom kontrol (C10), kolom dengan CFRP longitudinal dan pengangkuran standar ACI 440.2R-17 (C11), serta kolom dengan CFRP longitudinal, CFRP transversal, dan modifikasi pengangkuran (C12). Model analitik closed-form dikembangkan berdasarkan ACI 318 dan ACI 440.2R-17, mencakup analisis momen-kurvatur (model trilinear, dengan Menegotto-Pinto sebagai pembanding strain hardening baja) dan transformasi ke kurva gaya-perpindahan menggunakan kekakuan dua tahap dan integrasi panjang sendi plastis (???????? = 450 mm, SNI 2847:2019), dibandingkan terhadap data eksperimental pembebanan lateral monotonik (Pasaribu, 2024; Apriwelni et al., 2025). Model berhasil merepresentasikan pola umum perilaku M-? dan P-? ketiga spesimen. Selisih kapasitas lateral puncak model terhadap eksperimen adalah ?9,83% (C10), ?15,18% (C11), dan ?14,11% (C12). Pada C11, transformasi ke P-? memerlukan penyesuaian panjang efektif kolom (L = 1550 mm, dikurangi 250 mm tinggi pelat angkur) untuk merepresentasikan pergeseran titik lentur kritis akibat delaminasi selimut beton, konsisten dengan relokasi sendi plastis eksperimental ±250 mm dari dasar kolom. C12 menunjukkan modus kegagalan rupture CFRP dengan sendi plastis tetap di dasar kolom, mengindikasikan keberhasilan modifikasi pengangkuran mencegah debonding prematur. Perbandingan ini menormalisasi kapasitas lentur gabungan baja, beton, dan CFRP terhadap ACI 440.2R-17. Parameter krusial pada konfigurasi angkur standar ACI (C11) adalah panjang efektif kolom akibat zona kaku pelat angkur, bukan formula kapasitas momen nominal (Mn) itu sendiri.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN PELANGGAN PADA CHARMIGOS
Charmigos merupakan UMKM fesyen aksesori dengan kanal penjualan utama marketplace. Produk utama Charmigos adalah gelang charm yang dapat dikustomisasi, modular, dan collectible. Meskipun karakteristik produk tersebut memiliki potensi untuk mendorong pembelian kembali, data transaksi menunjukkan bahwa tingkat pembelian ulang dan frekuensi pembelian pelanggan masih rendah. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan data transaksi sebagai dasar segmentasi pelanggan dan perumusan strategi yang sesuai dengan karakteristik setiap segmen. Metode yang digunakan adalah analisis RFM dan klasterisasi. Pelanggan dengan nilai monetary tinggi dipisahkan terlebih dahulu sebagai segmen B2B berdasarkan pendekatan outlier dan batasan bisnis, sedangkan pelanggan B2C dikelompokkan menggunakan klasterisasi K-Means. Hasil pengolahan mengidentifikasi segmen B2B serta dua klaster pelanggan B2C, yaitu Loyal Customer dan At Risk. Hasil segmentasi digunakan sebagai dasar penyusunan strategi, yaitu reaktivasi pelanggan At Risk, retensi pelanggan Loyal Customer, dan strategi B2B berbasis bauran pemasaran. Penelitian ini juga merancang sistem untuk pendukung keputusan pengelolaan pelanggan berbasis Streamlit untuk mendukung pengolahan data, segmentasi, rekomendasi strategi, dan evaluasi implementasi. Efektivitas strategi dievaluasi melalui perubahan tingkat pembelian ulang, profitabilitas penggunaan voucer diskon pada segmen B2C, serta marketing funnel pada strategi B2B. Implementasi strategi menunjukkan bahwa B2C mampu mendorong transaksi ulang dan menghasilkan profit positif, sedangkan B2B mampu meningkatkan jumlah pelanggan dan membentuk alur konversi. Setelah implementasi, tingkat pembelian ulang meningkat dari 18,01% menjadi 19,68%.
REKAYASA PERMUKAAN TI6AL4V DENGAN PELAPISAN SERISIN DAN OKSIDA GRAFENA UNTUK MENINGKATKAN BIOAKTIVITAS DAN SIFAT ANTIBAKTERI MATERIAL IMPLAN TULANG
Fraktur tulang merupakan salah satu permasalahan besar dalam kesehatan global dengan sekitar 178 juta kasus baru per tahun. Ti6Al4V merupakan salah satu material implan tulang yang paling banyak digunakan, namun masih memiliki dua tantangan utama, yaitu keterbatasan bioaktivitas akibat sifat bioinertnya dan kerentanan terhadap infeksi terkait implan. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi permukaan Ti6Al4V dengan pelapisan serisin dan oksida grafena (GO) menggunakan coupling agent 3-aminopropyltriethoxysilane (APTES) dan glutaraldehida (GTA) untuk meningkatkan bioaktivitas dan sifat antibakteri implan. Pelapisan dilakukan dengan dua metode, yaitu layer-by-layer dan campuran. Karakterisasi FTIR mengonfirmasi keberhasilan isolasi serisin melalui kemunculan puncak Amida I, Amida II, dan Amida III. Pengukuran sudut kontak air menunjukkan perubahan bertahap dari Ti (~95°) menjadi Ti-OH (~7°), Ti-APTES (~12°), Ti-GTA (~45°), hingga Ti- SS (~48°). Evaluasi antibakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538 menunjukkan hanya pelapisan serisin (Ti-SS) yang meningkatkan reduksi bakteri, yaitu sebesar 44,38% relatif terhadap Ti6Al4V tanpa pelapisan. Evaluasi bioaktivitas melalui perendaman dalam larutan SBF selama 14 hari menunjukkan bahwa Ti-SS menginduksi pembentukan hidroksiapatit dengan rasio Ca/P sebesar 1,67, sementara Ti-SS-GO/M dan Ti-SS-GO/L menghasilkan rasio yang lebih rendah, masing-masing 1,60 dan 1,54. Seluruh sampel menunjukkan viabilitas sel fibroblas 3T3 di atas 90% pada 24 jam dan tetap mempertahankan viabilitas yang tinggi hingga 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapisan serisin pada Ti6Al4V memberikan kombinasi bioaktivitas dan aktivitas antibakteri terbaik, sementara penambahan GO justru menurunkan kedua performa tersebut.
ANALISIS TEGANGAN MEKANIK DAN OPTIMASI DESAIN RANGKA KURSI RODA ELEKTRIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
Kursi roda elektrik merupakan alat bantu mobilitas yang penting bagi penyandang disabilitas, namun penambahan komponen elektronik seperti baterai, motor, dan kontroler meningkatkan beban yang harus ditanggung oleh rangka. Desain rangka kursi roda elektrik yang menjadi objek penelitian ini belum dievaluasi keselamatan strukturalnya secara formal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tegangan mekanik pada rangka, menentukan faktor keamanannya, dan merancang desain baru yang lebih ringan namun tetap memenuhi persyaratan keselamatan sesuai standar ISO 7176-8:2014. Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan geometri tiga dimensi rangka menggunakan SOLIDWORKS, kemudian dianalisis menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH) pada perangkat lunak ANSYS Workbench dengan elemen solid tetrahedron orde kedua (SOLID187). Kondisi tumpuan jepit diterapkan pada titik kontak roda, dengan pembebanan statis sebesar 1.177,2 N pada area tempat duduk sesuai ISO 7176-8:2014 dan kapasitas beban nominal 50 kg. Studi konvergensi mesh dilakukan untuk memastikan keandalan hasil, dan optimasi desain dilakukan secara parametrik dengan mengurangi ketebalan dinding pada komponen yang mengalami tegangan jauh di bawah batas izin. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain awal rangka menghasilkan tegangan von Mises maksimum sebesar 86 MPa dengan faktor keamanan global sebesar 2,91, yang telah memenuhi persyaratan SF ? 2,0. Evaluasi faktor keamanan lokal mengungkapkan adanya komponen dengan SF mencapai 1.136,36, menunjukkan inefisiensi penggunaan material yang besar. Melalui optimasi ketebalan dinding, diperoleh desain optimal dengan massa rangka berkurang 36,94% (dari 850,59 gram menjadi 536,37 gram); meskipun faktor keamanan global menurun menjadi 0,58, faktor keamanan lokal tiap komponen masih jauh di atas batas minimum yang disyaratkan, sehingga desain optimal dinyatakan layak digunakan.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA
x ABSTRAK PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA Tegar Iman Syahputra (13422115), Ester Naomi Sinaga (13422143), Ilouvi Syafna Latif (13422146) PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memproduksi pesawat CN-235 melalui proses integrasi fuselage yang melibatkan banyak aktivitas kompleks seperti perakitan, inspeksi, serta penanganan defect dan rework. Proses ini mengalami deviasi jadwal yang signifikan, ditandai dengan keterlambatan mulainya task sebesar 183 hari dan keterlambatan penyelesaian hingga 97 hari dari target yang ditetapkan. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya granularitas pencatatan aktivitas produksi yang hanya dilakukan pada level operasi tanpa merekam kejadian pada level job ticket, serta pengambilan keputusan pengendalian produksi yang bersifat reaktif akibat rendahnya visibilitas kondisi aktual shop floor dan penanganan defect yang tidak terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem Production Activity Control (PAC) berbasis digital model untuk menjawab permasalahan operasional yang ada pada proses integrasi fuselage CN-235. Sistem dikembangkan menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD), yang mencakup identifikasi kebutuhan pengguna, perancangan proses bisnis usulan, pengembangan modul, serta verifikasi, validasi, dan user testing. PAC yang dirancang terdiri atas empat modul, yaitu Shop Floor Data Collection (SFDC), Digital Reporting System, dashboard berbasis digital model, dan simulasi berbasis Discrete Event Simulation (DES). SFDC mencatat aktivitas produksi pada level job ticket, sedangkan Digital Reporting System mengelola findings, NCR, dan tindak lanjut defect. Dashboard menyediakan visibilitas produksi melalui enam KPI utama, yaitu schedule adherence, utilization efficiency, quality ratio, reject ratio, rework ratio, dan worker efficiency, serta visualisasi spasial status pekerjaan dan NCR pada representasi digital pesawat CN-235. Modul simulasi digunakan untuk mengevaluasi skenario produksi dan mendukung keputusan perencanaan. Hasil verifikasi dan validasi menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan fungsional serta kebutuhan nonfungsional yang termasuk dalam ruang lingkup penelitian telah terpenuhi. Secara finansial, proyek ini layak diimplementasikan dengan nilai NPV sebesar Rp62.493.452, IRR sebesar 17,4%, dan payback period selama 3,27 tahun. Sistem PAC yang dirancang diharapkan dapat meningkatkan visibilitas proses produksi, mempercepat penanganan defect, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih responsif dan berbasis data pada lingkungan manufaktur kedirgantaraan dengan kompleksitas tinggi.
RANCANG BANGUN ALAT UJI ANALISIS KOEFISIEN KINERJA (COEFFICIENT OF PERFORMANCE) DARI THERMOELECTRIC COOLER DAN EFISIENSI KONVERSI TERMAL DARI THERMOELECTRIC GENERATOR
Modul termoelektrik adalah perangkat padat yang dapat berfungsi sebagai pendingin melalui efek Peltier atau pembangkit daya melalui efek Seebeck. Penelitian ini dilakukan karena adanya permasalahan terkait ketidaksesuaian performa pada modul termoelektrik yang terpasang pada alat pendingin (Larasati, 2016). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun instalasi alat uji performa guna menganalisis nilai koefisien performa (COP) pendingin termoelektrik dan efisiensi konversi pembangkit termoelektrik secara akurat antara nilai aktual dengan nilai teoretisnya. Alat uji yang dibangun dirancang untuk menguji modul berdimensi 40x40 mm dengan mengintegrasikan komponen blok air penukar panas ganda dengan fluida kerja air, blok perantara aluminium, dan sistem akuisisi data berbasis mikrokontroler dengan sensor temperatur, voltase, serta arus listrik. Pengujian pendingin dilakukan dengan memvariasikan tegangan masukan dan laju aliran massa air. Evaluasi keandalan instalasi dilakukan melalui analisis komparatif antara nilai COP aktual dari perhitungan neraca energi fluida terhadap nilai COP teoretis berdasarkan pemodelan Ferrotec. Hasil pengujian pendingin menghasilkan rentang perbedaan temperatur sebesar 2,88°C hingga 11,90°C, dengan deviasi antara COP aktual dan COP teoretis Ferrotec berkisar antara 99,75% hingga 100,00%. Tingginya deviasi ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian instrumen pengukur temperatur untuk membaca perbedaan temperatur fluida yang sangat kecil, besarnya rugi-rugi panas secara lateral pada komponen blok perantara yang kurang terisolasi, serta tingginya hambatan kontak termal. Sementara itu, pengujian efisiensi pembangkit termoelektrik tidak dapat diselesaikan akibat penggunaan resistor tetap yang tidak mampu mengakomodasi fluktuasi hambatan dalam modul. Untuk pengembangan alat uji selanjutnya, sangat disarankan adanya peningkatan kualitas dan ketelitian alat ukur temperatur, penambahan isolasi termal, serta penggunaan beban elektronik dinamis untuk pengujian pembangkit termoelektrik.
ANALISIS FATIGUE LOKAL PADA KOMPONEN KRITIS BLADE TURBOPROP PROPELLER KOMPOSIT DENGAN STRUKTUR SPAR REINFORCEMENT
Struktur komposit pada propeller blade pesawat turboprop rentan terhadap kegagalan lelah (fatigue) akibat pembebanan dinamis yang berpusat pada komponen struktural utamanya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi umur lelah pada dua komponen model blade tiruan Hamilton Standard 568F, yaitu struktur skin dan spar reinforcement. Analisis dilakukan menggunakan Metode Elemen Hingga (FEM) dengan pendekatan sub-modeling. Beban operasional yang diaplikasikan pada model merupakan kombinasi dari gaya aerodinamika, gaya sentrifugal, dan gaya gravitasi. Karena keterbatasan data empiris fluktuasi tegangan bawah pada saat operasional, evaluasi umur komponen dilakukan melalui studi parametrik menggunakan variasi stress ratio. Evaluasi degradasi material dihitung secara analitik menggunakan kriteria tegangan searah serat, koreksi tegangan rata-rata Goodman, model estimasi siklus lelah Basquin Power Law, serta akumulasi kerusakan Palmgren-Miner sesuai profil misi penerbangan. Untuk memungkinkan prediksi umur menggunakan kriteria Palmgren-Miner tersebut, material komposit pada penelitian ini diasumsikan berperilaku layaknya material isotropik seperti logam. Penelitian ini murni merupakan preliminary study, sehingga proyeksi rentang umur aman operasional, safe-life, yang dihasilkan tidak dapat dijadikan acuan untuk perancangan maupun perawatan struktur propeller di masa mendatang.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
EBSTAT: POTENSIOSTAT BERBASIS AFE LMP91000 UNTUK READER RESOLUSI TINGGI PADA SENSOR ELEKTROKIMIA
Metode biosensor elektrokimia menjadi salah satu alternatif diagnostik point-ofcare (POCT) karena sifatnya yang cepat dan hasilnya yng bersifat kuantitatif. Penelitian ini mengembangkan dan memvalidasi EBstat, sebuah instrumen potensiostat custom-built berbasis mikrokontroler nRF52840 dan IC analog frontend (AFE) LMP91000, dengan antarmuka pengguna berbasis aplikasi Android. EBstat dirancang untuk melakukan lima teknik voltametri, yaitu chronoamperometry (CA), cyclic voltammetry (CV), normal pulse voltammetry (NPV), differential pulse voltammetry (DPV), dan square ware voltammetry (SWV). Validasi dilakukan melalui pengukuran dummy cell, pengukuran larutan standar kalium ferisianida (K3[Fe(CN)6]) pada elektroda screen-printed carbon (SPCE). Performa EBstat dibandingkan dengan potensiostat komersial PalmSens4 dengan menggunakan analisis Bland-Altman, serta ditentukan resolusi pembacaannnya dalam bentuk limit of detection (LoD) dan limit of quantification (LoQ). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa EBstat mampu mengukur arus puncak pada metode CV, DPV, NPV, dan SWV dengan linearitas R2 sebesar 0.97- 0.99, sesuai dengan persamaan Randles–Šev?ík. Akan tetapi, pengukuran metode CA masih belum menyerupai performa PalmSens4 dan metode NPV tidak dapat dilakukan analisis Bland-Altman karena parameter yang digunakan membatasi profilnya pada PalmSens4. Analisis Bland-Altman menunjukkan bias pengukuran sebesar 0.66 ?A (LoA: -12.04 hingga 13.36 ?A) pada CV, bias persentase -119.11% (LoA: -102.57% hingga -135.65%) pada DPV yang mengindikasikan overestimasi arus secara konsisten, dan bias logaritmik sebesar -0.04 (setara rasio EBstat/PalmSens4 ? 0,96) pada SWV dengan rentang LoA yang cukup lebar. Nilai LoD dan LoQ EBstat pada metode DPV masing-masing sebesar 26.94 ?M dan 75.62 ?M, sedangkan pada SWV sebesar 89.81 ?M dan 252.07 ?M, menunjukkan DPV memberikan sensitivitas deteksi yang lebih baik dibandingkan dengan SWV. Secara keseluruhan, EBstat berpotensi menjadi alternatif potensiostat yang murah dan portabel untuk aplikasi POCT, dengan mekanisme pemilihan resistansi transimpedans (RTIA) yang diduga menjadi sumber utama bias pengukuran dan menjadi target perbaikan pada pengembangan selanjutnya.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
PENGEMBANGAN PROCESS-SUPERVISED MULTI-AGENT RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION UNTUK PEMENUHAN CONSTRAINT PADA SISTEM REKOMENDASI ITINERARY WISATA STUDI KASUS: WILAYAH BANDUNG
Perencanaan itinerary wisata melibatkan pemilihan destinasi, penyusunan urutan kunjungan, serta pemenuhan batasan anggaran, waktu, jam operasional, dan preferensi pengguna. Persoalan ini dikenal dalam literatur sebagai Tourist Trip Design Problem (TTDP), sebuah persoalan NP-hard. Large Language Model (LLM) memungkinkan pengguna menyampaikan kebutuhan dalam bahasa alami, tetapi pendekatan berbasis prompt tunggal masih rentan menghasilkan rekomendasi yang tidak didukung data atau tidak layak secara logistik. Tugas akhir ini mengembangkan arsitektur Process-Supervised Multi-Agent Retrieval-Augmented Generation (RAG) untuk sistem rekomendasi itinerary wisata Bandung, yang membagi proses perencanaan ke beberapa agen dan menerapkan process supervision melalui gate, validator, dan evaluator pada setiap tahap. Evaluasi terhadap 20 skenario menunjukkan sistem mengungguli Naïve RAG, Single-Agent RAG, dan Multi-Agent RAG tanpa process supervision pada sebagian besar metrik, dengan Constraint Fulfillment 0,858, Faithfulness 0,990, Answer Relevance 0,595, Context Precision 0,675, Micro Pass Rate 0,844, Macro Pass Rate 0,700, dan Delivery Rate 1,000, meskipun pemenuhan preferensi semantik khusus masih terbatas.