📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 90 dokumenPENGEMBANGAN ALGORITMA HIGH AVAIBILITY UNTUK OPTIMASI KOMUNIKASI SCADA PADA SUBSTATION AUTOMATION SYSTEM BERDASARKAN ANALISIS REALTIME DATA MINING
Dalam era digitalisasi energi, sistem SCADA memegang peran penting dalam mengawasi dan mengontrol infrastruktur kelistrikan modern. Namun, PLN UP2B Kaltimra menghadapi tantangan dengan High availability data yang tidak konsisten di gardu induk, yang menyebabkan keterlambatan pada pengukuran, pembaruan status, dan operasi kontrol, sehingga menghambat kinerja optimal. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan algoritma High availability berdasarkan analisis kecepatan dan kebenaran data (data velocity and veracity). Pengujian dilakukan dengan menggunakan Personal Computer (PC) atau Virtual Machine (VM) yang dilengkapi dengan Python dan library komunikasi di jaringan Front End. Data pengukuran dan status peralatan dikumpulkan melalui Real-Time Data Mining, dan metodologi CRISP-DM diterapkan untuk menganalisis data pengukuran dan status peralatan, mengidentifikasi faktor keterlambatan, serta mengembangkan solusi algoritmik. Analisis menunjukkan bahwa ketidakstabilan ketersediaan data sering disebabkan oleh pengambilan data berulang dari satu sensor, yang menyebabkan kemacetan, keterlambatan, atau pemutusan data. Penyelidikan lebih lanjut terhadap topologi jaringan direkomendasikan. Berdasarkan temuan ini, algoritma High availability dirancang dan diuji dalam sistem SCADA, Hasil pengujian menunjukkan algoritma autorestart yang dikembangkan berhasil meningkatkan tingkat availability komunikasi data sebesar 16,5%, dari kondisi awal yang mengalami kegagalan hingga 24% pada salah satu gardu induk menjadi hanya 7,5%. Rata-rata latensi komunikasi juga berhasil dikurangi dari 0,12 detik menjadi 0,05 detik. Dalam penerapan algoritma dengan Simulated Annealing, proses pengumpulan data yang sebelumnya menunjukkan kegagalan pada 25,33% data kini menjadi lebih stabil dengan error rate menurun hingga 1% pada perangkat yang diuji. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan keandalan SCADA PLN UP2B Kaltimra, menawarkan solusi yang relevan untuk menghadapi tantangan jaringan komunikasi dalam sistem kelistrikan modern.
STRATEGI UNTUK MENGEMBANGKAN PASAR KARBON YANG BERKELANJUTAN
Perubahan iklim telah menjadi perhatian global, dan sebagai reaksi terhadap perubahan iklim global, 196 pihak, termasuk Indonesia, telah mengadopsi Paris Agreement pada United Nations Framework Convention Climate Change, suatu konvensi internasional mengenai perubahan iklim. Bursa karbon diharapkan dapat membantu Indonesia memenuhi target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) guna memenuhi persyaratan dari Paris Agreement. IDXCarbon, bursa karbon berlisensi pertama di Indonesia diluncurkan pada tanggal 26 September 2023. Pada saat peluncurannya Presiden Republik Indonesia menyebutkan bahwa potensi bursa karbon di Indonesia sangat besar, dapat mencapai nilai 3,000 triliun Rupiah atau lebih. Emisi karbon di Indonesia memerlukan perhatian segera dan tindakan cepat dari pembuat regulasi, mengingat Indonesia menduduki peringkat ke-7 sebagai penghasil emisi terbesar di dunia. Selama bertahun-tahun, polusi udara di Jakarta, ibu kota Indonesia, telah digolongkan sebagai tidak sehat. IDXCarbon diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia. Hampir setahun sejak diluncurkan, perdagangan karbon di IDXCarbon masih tergolong kecil. Permasalahan bisnis dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan IDXCarbon menjadi bursa karbon berkelanjutan di Indonesia yang pada akhirnya meningkatkan volume dan aktivitas perdagangan karbon secara terus menerus. Studi ini berfokus pada (i) Analisa faktor internal melalui (i.a) identifikasi produk dari IDXCarbon dan (i.b) identifikasi kekuatan dan kelemahan IDXCarbon, (ii) Analisa faktor eksternal melalui (ii.a) identifikasi peraturan mengenai ekosistem bursa karbon beserta latar belakangnya, (ii.b) identifikasi perspektif pemangku kepentingan utama dari IDXCarbon dari ekosistem bursa karbon, (ii.c) identifikasi praktik bisnis yang berlaku umum pada bursa karbon dan perbandingannya dengan bursa karbon di beberapa negara, (ii.d) identifikasi politik, ekonomi, sosiokultural, teknologi, hukum dan lingkungan atau ekologi (analisa PESTLE) dari bursa karbon dan (ii.e) identifikasi peluang dan ancaman dari IDXCarbon,. Pada akhirnya studi ini membuat Matriks SWOT serta memberikan saran perbaikan dan usulan tindakan sebagai bahan pertimbangan IDXCarbon untuk mengembangkan bursa karbon berkelanjutan. Saran perbaikan dan tindakan yang diusulkan diperlakukan sebagai solusi bisnis. Dengan melaksanakan rencana implementasi tersebut penulis yakin IDXCarbon akan menjadi bursa karbon yang berkelanjutan dan dapat mendukung Indonesia untuk mencapai target NDC-nya.
PEMILIHAN TIPE PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GELOMBANG UNTUK PERAIRAN DANGKAL DI TATAR, SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2021-2030 merencanakan untuk membangun pembangkit tenaga listrik terbarukan sebesar 20,923 atau setara dengan 51.6% dari total pembangkit tenaga listrik dengan 48.4% untuk pembangkit tenaga listrik energi fosil sebagai upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2021-2030, potensi energi baru dan terbarukan yang dimiliki Indonesia saat ini berupa panas bumi, hydro, mini-micro hydro, bioenergi, surya, angin, dan gelombang laut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rizal, A.M. dan Ningsih, N.S. (2022), potensi energi gelombang tahunan adalah 27.11 kW/m di daerah Sumbawa Barat dan bernilai di atas 10 kW/m dalam sebulan. Potensi energi gelombang tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup 155.5 ribu penduduk daerah Sumbawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang (PLTGL) yang sesuai dan efisien di perairan dangkal Tatar, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan potensi energi gelombang antara data hasil hindcasting dengan data gelombang dari ECMWF. Dari hasil perbandingan, didapatkan data gelombang ECMWF yang menghasilkan potensi energi gelombang yang lebih tinggi yaitu 14.81 kW/m dalam Tahun 2023. Data ECMWF perairan laut dalam, batimetri, dan grid digunakan sebagai input pemodelan DELFT3D-WAVE untuk mendapatkan tinggi gelombang signifikan (Hs) dan periode puncak (Tp) di perairan dangkal. Hasil pemodelan, menunjukkan transformasi gelombang terhadap perubahan kedalaman. Data hasil pemodelan didapatkan potensi energi gelombang perairan dangkal sebesar 16.44 kW/m dalam Tahun 2023. Untuk melakukan pemilihan PLTGL yang sesuai, diperlukan perhitungan capacity factor dan capture width ratio. Hasil analisis yang dilakukan antara Bottom Fixed Heave- Buoy Array (B-HBA) dan Bottom Fixed Oscillating Flap (B-OF), didapatkan B-OF menghasilkan nilai capacity factor dan CWR yang lebih tinggi yaitu 71.83% dan 67%.
BESS (BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM) SEBAGAI ENERGY ARBITRAGE PADA SISTEM LOMBOK
Berdasarkan hasil simulasi dan perhitungan yang dilakukan, implementasi Battery Energy Storage System (BESS) di Sistem Lombok menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyediaan energi yang lebih murah. Selain itu, penerapan BESS meningkatkan load factor dari 79,88% menjadi 86%, yang berkontribusi pada efisiensi operasi pembangkit listrik. BESS sebagai energi arbitrase memiliki kemampuan melakukan pengisian daya (charge) pada saat beban sistem rendah dan biaya energi pembangkit rendah, serta melakukan pelepasan daya (discharge) saat beban sistem tinggi dan biaya energi pembangkit tinggi. Dari sisi finansial, total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan BESS di Sistem Lombok adalah sebesar 1,07 Triliun Rupiah. Perhitungan efisiensi biaya energi menunjukkan nilai sebesar Rp 50 per KWH jual, yang diestimasikan menghasilkan penghematan sebesar 132 Milyar Rupiah per tahun. Dengan demikian, investasi ini diperkirakan akan mencapai titik impas (Break Even Point) dalam waktu 8 tahun sejak BESS beroperasi. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar minyak mengalami penurunan signifikan. Hal ini disebabkan oleh tidak beroperasinya PLTG MPP yang menggunakan biodiesel HSD B0, yang perannya sebagai pembangkit peaker digantikan oleh BESS. Penurunan konsumsi bahan bakar minyak ini berdampak pada penurunan fuel mix sebesar 1%. Dengan demikian, penerapan BESS tidak hanya meningkatkan stabilitas dan efisiensi sistem kelistrikan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI SISTEM PENYIMPANAN DAN SUPLAI AMONIA UNTUK CO-FIRING PADA PLTU SURALAYA
Meskipun kondisi pembangkitan listrik masih didominasi oleh PLTU Batubara, Indonesia berambisi untuk mencapai karbon netral pada tahun 2060. Dalam RUKN 2024-2060, co-firing amonia ditargetkan menjadi penyumbang produksi listrik sebesar 3,1% dari amonia. Penelitian tentang amonia sebagai alternatif energi dengan metode co-firing telah secara luas dilaksanakan di seluruh dunia dan menujukan hasil yang positif. Penelitian menunjukan bahwa semakin besar rasio co-firing maka penurunan emisi karbon akan semakin besar. Penelitian lain menunjukan bahwa rasio co-firing hingga 20-25% tidak berpengaruh terhadap temperatur ruang bakar secara signifikan. Hasil efisiensi juga cukup bagus pada penelitian yang menguji co-firing amonia sebesar 20% dengan batubara tipe bituminous dan sub-bituminus. Selam ini, sebagian besar penelitian berfokus tentang apa yang terjadi di dalam boiler dan efeknya terhadap emisi dan performa pembangkit. Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan desain sistem pendukung co-firing amonia yang terdiri dari sistem penyimpanan dan suplai dengan rasio co-firing sebesar 20% sebagai batasan penelitian. Basis yang dipergunakan adalah basis massa mengingat kemiripan antara LHV amonia (18,6 MJ/kg) dan batubara kualitas rendah (16,3 MJ/kg). Perancangan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan co-firing amonia pada PLTU Suralaya 5,6 dan 7 dengan Hari Opersional Pembangkit (HOP) selama 10 hari dan ditemukan kebutuhan amonia sebesar 47.520 ton. Pemodelan sistem penyimpanan dan suplai dengan bantuan piranti lunak Aspen Hysys juga dilakukan untuk mengetahui spesifikasi peralatanperalatan utama. Evaluasi dampak penerapan instalasi terhadap performa pembangkit dengan menggunakan bantuan piranti lunak Aspen Plus menunjukan hasil yang positif yaitu penurunan emisi karbon sebesar 18,5% dan kenaikan Daya Mampu Netto (DMN) dari 600 MW menjadi 623 MW. Namun, penerapan co-firing amonia dengan kadar 20% akan menghadapi tantangan yang cukup signifikan mengingat harga amonia di pasar sebesar 300 USD per ton, sekitar tiga kali lipat dibanding dengan harga batubara. Dari hasil analisa, aplikasi amonia di PLTU Suralaya akan menyebabkan neraca keuangan menjadi minus 66.852.574,24 USD.
PERANCANGAN PV ON GRID DENGAN BATERAI DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN ELECTRIFYING LIFESTYLE DI ALUN-ALUN KOTA PAGARALAM
Penelitian ini membahas implementasi Electrifying Lifestyle di Alun-Alun Merdeka Kota Pagaralam, yang mengintegrasikan sistem PLTS terhubung jaringan dengan penyimpanan baterai untuk mendukung transisi dari memasak gas ke listrik dan mempromosikan praktik berkelanjutan. Memanfaatkan energi surya dengan iradiasi rata-rata 4,65 kWh/m²/hari, inisiatif ini mendukung Rencana Energi Nasional Indonesia untuk mencapai 23% energi terbarukan pada 2025. Dua skema dianalisis: skema pertama mempertahankan memasak konvensional dengan integrasi energi terbarukan, dan skema kedua beralih sepenuhnya ke peralatan listrik. Kedua skema dibandingkan dengan Area Gaya Hidup Elektrifikasi di Jambi. Hasil perhitungan menunjukkan peningkatan permintaan energi yang signifikan, memerlukan kapasitas PLTS 64,37 kW dan 106,99 kW, serta menentukan spesifikasi sistem optimal untuk efisiensi maksimal. Penelitian ini menunjukkan manfaat transisi dari sistem berbasis bahan bakar fosil ke listrik untuk ruang publik, dengan potensi untuk diterapkan di kota lain guna mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih bersih. Berdasarkan simulasi dan analisis, dapat disimpulkan bahwa implementasi Electrifying Lifestyle di Alun-Alun Pagaralam memberikan peningkatan efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pengembalian investasi dan biaya energi yang lebih cepat pada skema kedua.
PENENTUAN INDEKS PELETAKAN PV BERDASARKAN RUGI-RUGI DAYA DAN HOSTING CAPACITY
Penelitian ini mengkaji pengaruh kapasitas hosting (HC) dan peletakan panel fotovoltaik (PV) terhadap kerugian daya dalam jaringan distribusi PT PLN (Persero) UID Sumatera Barat Wilayah Simpang Empat. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui simulasi Quasi-Static Time Series (QSTS), penelitian ini mengevaluasi dampak fluktuasi daya dari panel PV terhadap efisiensi dan kerugian daya dalam sistem distribusi. Tahapan penelitian meliputi studi literatur, pengumpulan data teknis, pemodelan jaringan, dan simulasi QSTS untuk menilai kapasitas hosting dan kerugian daya. Teknik optimasi diterapkan untuk menentukan peletakan panel PV yang optimal dalam mengurangi kerugian daya dan meningkatkan efisiensi sistem. Simulasi menggunakan DigSilent PowerFactory memperlihatkan bahwa integrasi sistem PV umumnya mengurangi kerugian daya. Namun, hasil menunjukkan variasi signifikan tergantung pada tingkat penetrasi PV; di lokasi dengan penetrasi PV yang sangat tinggi, pengurangan kerugian daya tidak selalu signifikan. Penelitian ini mengidentifikasi lokasi-lokasi optimal untuk peletakan panel PV yang memaksimalkan efisiensi dan keberlanjutan energi terbarukan, serta meminimalkan dampak negatif terhadap sistem distribusi.
PERBANDINGAN RUGI-RUGI ENERGI PADA TRANSFORMATOR DENGAN INTI AMORPHOUS DAN CRGO
Transformator inti amorphous merupakan inovasi teknologi mutakhir yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi transformator, terutama dengan mengurangi kehilangan energi. Seiring dengan pertumbuhan pesat kebutuhan energi di Indonesia, penerapan teknologi yang lebih efisien menjadi sangat penting untuk menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan. Penelitian ini mengevaluasi kinerja transformator inti amorphous dibandingkan dengan transformator Cold Rolled Grain Oriented (CRGO) tradisional, dengan fokus pada kehilangan energi dan dampak lingkungannya.Evaluasi dilakukan melalui pengukuran langsung terhadap kehilangan energi transformator, yang didukung oleh referensi dari literatur yang ada, serta menghitung potensi pengurangan kehilangan energi tahunan dan emisi karbon di PT PLN (Persero). Analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kehilangan beban kosong antara transformator inti amorphous dan CRGO, dengan selisih yang semakin besar seiring bertambahnya kapasitas transformator. Transformator inti amorphous secara konsisten menunjukkan kehilangan beban kosong yang lebih rendah, menandakan efisiensi yang lebih tinggi, terutama pada unit berkapasitas besar. Selain itu, potensi pengurangan kehilangan beban juga dievaluasi, menunjukkan bahwa transformator amorphous dapat menghasilkan penghematan yang signifikan. Penelitian ini menemukan bahwa, berdasarkan jumlah unit yang digunakan oleh PT PLN (Persero), penerapan transformator inti amorphous dapat menghemat biaya produksi hingga Rp54.101.000.000 per tahun, serta mengurangi emisi karbon sebesar 29.996 ton CO2 per MWh. Temuan ini menegaskan potensi transformator inti amorphous sebagai teknologi kunci untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat. Dengan secara signifikan mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan, transformator amorphous menawarkan solusi yang menjanjikan untuk meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi infrastruktur energi nasional.
OPTIMASI KONSUMSI LISTRIK DI BANGUNAN KOMERSIAL: PENDEKATAN MODEL REGRESI DENGAN KETERBATASAN DATA
Konsumsi energi listrik terus mengalami peningkatan setiap waktunya, dan hal ini juga menjadi permasalahan yang penting dalam berbagai sektor, salah satunya dalam sektor bangunan. Bidang perhotelan merupakan salah satu bagian sektor bangunan komersial yang sangat bergantung dengan energi listrik dalam pelayanannya. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam meningkatkan optimasi dan efisiensi konsumsi energi listrik tersebut. Namun kebanyakan penelitian yang dilakukan, fokus pada permalasahan yang diangkat kebanyakan dari permasalahan di hotel berbintang tinggi, sedangkan permasalaha pada hotel berbintang rendah tidaklah sama dengan hotel berbintang tinggi. Ada berbagai keterbatasan seperti teknologi, infrastruktur, dan bangunan menjadi tantangan bagi hotel berbintang rendah. Hotel Sawunggaling, sebagai hotel Bintang 1 memiliki tantangan yang sama. Dengan keterbatasan data yang tersedia, dilakukan pendekatan baru untuk menoptimmasi konsumsi listrik pada hotel tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, parameter berupa tipe kamar hotel, faktor jenis hari dan bulan, mempengaruhi nilai konsumsi listrik harian hotel. Dengan menggunakan pendekatan model regresi dan memanfaatkan data yang terbatas, data diolah dan dikembangkan menjadi sebuah database kWh harian dari Hotel Bumi Sawunggaling. Hasil model regresi diperoleh evaluasi nilai dengan MAPE 2.69%, akurasi R2 sebesar 0.97. Dengan data model ini, dilakukan prediksi dengan menggunakan metode Random Forest dan XG Boost, di dapatkan akurasi R2 sebesar 0.93, RMSE sebesar 10, dan MAE sebesar 8.5. Selanjutnya, dari data yang diperoleh dengan menerapkan strategi penghematan berupa efisiensi pemakaian AC dan lampu, serta penerapan bijak pengguna, penghematan dapat dilakukan sebesar 8% dari konsumsi total.
OPTIMASI KAPASITAS BESS UNTUK KAWASAN HUNIAN RESIDENSIAL
Keberlanjutan energi merupakan isu penting, terutama di kawasan perumahan di mana sumber energi terbarukan, seperti sistem fotovoltaik surya (PV), semakin banyak diintegrasikan. Sistem Penyimpanan Energi Baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS) memegang peran krusial dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi, menyeimbangkan pasokan dan permintaan, serta mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik. Penelitian ini berkontribusi pada bidang pengelolaan energi berkelanjutan dengan memberikan analisis terperinci tentang aliran energi, kinerja baterai, dan degradasi dalam pengaturan PV-BESS di lingkungan residensial. Memperkenalkan analisis finansial yang komprehensif, termasuk Nilai Bersih Saat Ini (Net Present Value/NPV), Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return/IRR), Pengembalian Investasi (Return on Investment/ROI), dan Periode Pengembalian Modal (Payback Period), untuk menilai kelayakan penerapan BESS. Menyoroti dampak peraturan tarif saat ini terhadap hasil finansial dari sistem penyimpanan energi di rumah tangga. Memberikan rekomendasi praktis untuk mengoptimalkan penggunaan baterai agar dapat menyeimbangkan permintaan dan pasokan energi sekaligus menjaga kesehatan baterai. Mengusulkan model yang dapat diskalakan untuk mengintegrasikan sistem PV-BESS di kawasan perumahan, yang berkontribusi pada peningkatan adopsi energi terbarukan secara luas dan stabilitas jaringan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, optimasi penentuan kapasitas BESS dengan algoritma Particle Swarm Optimization, Genetic Algorithm, dan Linear Programming, didapatkan nilai kapasitas yang kurang lebih seragam yaitu di angka 123 kWh untuk suatu kawasan hunian dengan 50 rumah terintegrasi PLTS dengan kapasitas masing-masing 3 kWp, dengan data solar generation selama satu tahun di Sidoarjo, Jawa Timur.
PREDIKSI PRODUKSI LISTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) MENGGUNAKAN MODEL MULTILAYER LSTM, LSTM SEQUENCE TO SEQUENCE, DAN REGRESI LINIER
Pada masa transisi energi, diperlukan transformasi dalam integrasi pembangkit listrik bersih yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT). Namun, proses pembangunan sumber listrik berbasis EBT menghadapi beberapa tantangan, diantaranya adalah produksi listrik yang fluktuatif akibat berbagai faktor. Sehingga prediksi produksi listrik sangat dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar listrik yang dapat dihasilkan sehingga dapat diintegrasikan ke dalam sistem utama. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model prediksi produksi listrik menggunakan berbagai metode. Dataset yang digunakan mencakup data produksi listrik selama lima tahun terakhir serta data eksternal berupa curah hujan. Pada tahap pra-proses, data produksi diolah untuk mengurangi nilai null dan noise dalam dataset menggunakan Wavelet Transform (WT). Selanjutnya, data diproses menggunakan tiga metode, yaitu Regresi Linier, Multilayer LSTM, dan LSTM Seq2Seq, untuk menentukan model terbaik. Metode evaluasi yang digunakan meliputi RMSE, R², dan MAE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dataset historis produksi listrik dengan data curah hujan, melalui proses WT dan metode Multilayer LSTM, menghasilkan skor metrik dengan nilai RMSE sebesar 0.178, R² sebesar 0,973, dan MAE sebesar 0,079. Skor ini secara signifikan lebih baik dibandingkan model tanpa data curah hujan maupun metode lainnya, seperti LSTM Seq2Seq dan Regresi Linier. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah menunjukkan bahwa kombinasi dataset historis produksi listrik dan data curah hujan dapat meningkatkan akurasi model prediksi. Selain itu, proses reduksi noise melalui WT terbukti memberikan peningkatan akurasi yang signifikan, terutama pada model Multilayer LSTM. Peningkatan skor akurasi ini terlihat pada dua dataset studi kasus, yaitu pembangkit listrik Lubuk Gadang dan Sangir Hulu. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan model prediksi produksi listrik berbasis EBT untuk mendukung integrasi energi bersih ke dalam sistem utama.
MODEL INOVASI TERBUKA DAN TRANSFER TEKNOLOGI: STUDI KASUS 5 TAHUN IMPLEMENTASI PENYELESAIAN MONOBORE DI PT. PERTAMINA HULU ENERGI
Lanskap industri minyak dan gas yang dinamis dan kompetitif membutuhkan inovasi berkelanjutan untuk memastikan efisiensi operasional, pengurangan biaya, dan keberlanjutan. Studi ini mengkaji penerapan Model Inovasi Terbuka dan Transfer Teknologi dalam keberhasilan implementasi teknologi Monobore Completion selama lima tahun di dalam tubuh PT.Pertamina Hulu Energi (PHE) di lima wilayah operasinya: Regional 1 (Sumatera), Regional 2 (Jawa), Regional 3 (Kalimantan), Regional 4 (Jawa Timur, Sulawesi, dan Papua), dan Regional 5 (PIEP - PT.Pertamina Internasional EP). Fokus signifikan diberikan pada Regional 3 (Kalimantan), khususnya PT.Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS), yang telah menggunakan teknologi Monobore Completion selama lebih dari 20 tahun sebagai warisan dari operator sebelumnya, VICO. Penelitian ini menyoroti bagaimana PHE telah memanfaatkan keahlian entitas yang telah lama ada dan mekanisme inovasi baru untuk mengoptimalkan operasi pengeboran di berbagai area operasional. Dengan menggunakan pendekatan metode mix, studi ini mengeksplorasi: 1. Proses dan strategi yang digunakan dalam transfer teknologi Monobore Completion dari penyedia global ke dalam konteks multiregional PHE. 2. Implementasi dalam mentransformasi keahlian lama dengan kemajuan teknologi baru. 3. Dampak implementasi ini pada indikator kinerja utama (KPI) operasional, seperti efisiensi pengeboran, pengurangan biaya, dan keberlanjutan produksi, di seluruh Subholding upstream. 4. Temuan ini menekankan pentingnya mengintegrasikan praktik lama dengan kerangka inovasi baru. Dengan mengadopsi Model Inovasi Terbuka, PHE memfasilitasi kolaborasi dengan penyedia teknologi internasional sekaligus memastikan adaptasi lokal dan integrasi pengetahuan regional. Selain itu, strategi transfer pengetahuan yang efektif dan pembelajaran organisasi berperan penting dalam mengatasi hambatan seperti sindrom "Not Invented Here" (NIH) dan kendala regulasi regional. Data kuantitatif menunjukkan bahwa teknologi Monobore Completion mengurangi biaya pengeboran rata-rata hingga 30% dan meningkatkan efisiensi hingga 15% di semua wilayah selama periode implementasi lima tahun. Hasil ini menunjukkan peran penting dalam menghubungkan inovasi eksternal dengan keahlian internal untuk mencapai keunggulan kompetitif pada skala regional dan organisasi. Studi ini berkontribusi pada wacana akademis tentang inovasi terbuka dan transfer teknologi di sektor energi, menawarkan kerangka kerja yang dapat direplikasi untuk implementasi serupa di industri lain. Temuan ini juga memberikan wawasan praktis bagi para pengambil keputusan dalam memanfaatkan keahlian historis untuk mengoptimalkan strategi inovasi di berbagai wilayah operasional.
DESAIN DAN OPTIMASI SISTEM PV TERAPUNG: EVALUASI TEKNIS, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN DI WADUK TEMBESI, BATAM, INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengoptimalkan performa sistem PLTS terapung untuk penyediaan energi listrik berkelanjutan di Kota Batam. Sistem fotovoltaik ini dirancang untuk memanfaatkan potensi waduk Tembesi sebagai lokasi instalasi PLTS terapung, yang menawarkan efisiensi lebih tinggi dan penggunaan lahan yang efisien dibandingkan dengan sistem fotovoltaik yang dipasang di darat. Perangkat lunak PVsyst digunakan untuk melakukan simulasi dan analisis kinerja sistem fotovoltaik dengan dua jenis modul fotovoltaik, yaitu monofacial dan bifacial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem fotovoltaik dengan modul bifacial menghasilkan energi yang lebih tinggi sebesar 7,17% dibandingkan dengan modul monofacial, dengan performance ratio 0,922 untuk bifacial dan 0,860 untuk monofacial. Selain itu, sistem fotovoltaik bifacial memiliki LCOE yang lebih rendah sebesar 0,066 USD/kWh dibandingkan dengan sistem fotovoltaik monofacial yang mencapai 0,070 USD/kWh. Penelitian ini juga menyoroti potensi pengurangan kehilangan air akibat evaporasi tahunan sebanyak 886.293 meter kubik/tahun, yang menambah manfaat keseluruhan dari teknologi FPV ini.
INTEGRASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEMS UNTUK PEMENUHAN ENERGI INDUSTRI DI PULAU TERPENCIL: STUDI KASUS PULAU BUNYU INDONESIA
Pulau Bunyu, yang terletak di Kalimantan Utara, Indonesia, mengalami peningkatan kebutuhan energi yang didorong oleh pertumbuhan sektor industri. Sistem energi yang ada saat ini, yang bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), menghadapi tantangan keberlanjutan. Penelitian ini mengevaluasi potensi integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Battery Energy Storage Systems (BESS) sebagai Solusi energi yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan perhitungan cepat digunakan untuk menganalisis kelayakan sistem hibrid ini, yang kemudian diverifikasi melalui simulasi. Sistem yang diusulkan mencakup PLTS berkapasitas 26,6 MWp, penyimpanan baterai sebesar 70,4 MWh, dan inverter 25,3 MW. Meskipun Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan sistem saat ini, manfaat jangka Panjang seperti pengurangan konsumsi bahan bakar fosil, emisi yang lebih rendah, dan keandalan energi yang lebih baik, menjadikan sistem ini solusi yang menjanjikan. Penelitian ini juga merekomendasikan penghapusan PLTD secara bertahap, menggantinya dengan kombinasi PLTMG dan PLTS+BESS untuk meningkatkan keandalan energi di Pulau ini. Pendekatan ini dapat menjadi modul bagi integrasi energi terbarukan di wilayah terpencil lainnya di Indonesia.
ANALISIS STRUKTUR DAN METODE PLATFORM DECOMMISSIONING ANJUNGAN WELLHEAD TIPE JACKET DI PERAIRAN NATUNA
SKK Migas mencatat bahwa setidaknya hingga saat ini, Indonesia memiliki 635 unit anjungan lepas pantai yang tersebar di berbagai wilayah, salah satunya adalah anjungan wellhead tipe jacket empat kaki yang berada di Perairan Natuna. Anjungan wellhead ini telah beroperasi sejak tahun 1992 dan diproyeksikan akan mencapai akhir masa operasinya pada tahun 2032. Dengan mendekatnya masa akhir operasi, kebutuhan untuk merencanakan proses decommissioning semakin mendesak. Tugas Akhir ini difokuskan pada analisis metode decommissioning, dengan penekanan khusus pada teknik pelepasan struktur topside dan jacket untuk kasus total removal. Proses pelepasan struktur topside dan jacket dilakukan menggunakan teknik lifting, yang melibatkan pengangkatan komponen struktur dari lokasi instalasi untuk dipindahkan ke barge menggunakan crane barge yang memiliki kapasitas angkat sebesar 3.000 mT. Untuk mendukung proses ini, dilakukan analisis in-place dan analisis lifting static menggunakan structural analysis software, guna mengidentifikasi poin-poin krusial yang perlu diperhatikan selama proses decommissioning, seperti pemeriksaan ketahanan struktur, penentuan hook capacity minimum, serta pemilihan komponen lifting seperti sling dan shackle yang sesuai untuk mendukung operasi lifting. Hasil analisis in-place menunjukkan bahwa struktur anjungan masih memiliki ketahanan yang memadai untuk menahan beban operasional dan lingkungan, seperti yang disyaratkan oleh API RP-2A WSD. Selanjutnya, hasil analisis lifting menunjukkan bahwa seluruh parameter teknis, seperti berat total angkat, sudut angkat, dan ketinggian hook point, telah sesuai dengan standar GL Noble Denton 0027/ND. Hasil analisis lifting juga mengungkapkan bahwa seluruh elemen struktur memadai untuk menahan kondisi pembebanan selama kegiatan pengangkatan, yang dibuktikan melalui pemeriksaaan unity check seperti yang disyaratkan oleh API RP-2A WSD.