π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 172 dokumenANALISIS KETINGGIAN INERTIAL SUBLAYER (ISL) DI WILAYAH PERKOTAAN JAKARTA BERDASARKAN DATA OBSERVASI MULTILEVEL
Estimasi ketinggian Inertial Sublayer (ISL) di wilayah urban tropis penting untuk memahami distribusi fluks dan dinamika atmosfer permukaan, terutama dalam konteks perencanaan lingkungan dan pengamatan atmosfer. Kawasan sekitar Radio Muara Jakarta sebagai area urban padat di wilayah tropis menawarkan karakteristik trubulensi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi ketinggian ISL menggunakan pendekatan anemometric dan morfometrik berbasis observasi multilevel, serta mengevaluasi keterkaitan antara parameter permukaan dan struktur vertikal lapisan atmosfer. Data yang digunakan berasal dari observasi kecepatan angin dan fluktuasi turbulensi pada tiga tingkat ketinggian selama periode musim kering. Estimasi ketinggian ISL dilakukan melalui pendekatan anemometrik berdasarkan hubungan antara tinggi pergeseran titik nol ( ) dan profil kecepatan angin. Selain itu, pendekatan morfometrik diterapkan untuk menghitung menggunakan model geometri urban, mengikuti metode dari penelitian sebelumnya. Nilai-nilai tersebut juga dibandingkan dengan hasil dari model UMEP untuk analisis integratif. Hasil menunjukkan bahwa penelitian ini belum berhasil mengestimasi ketinggian ISL di wilayah urban sekitar Radio Muara Jakarta secara konvergen, karena seluruh metode yang digunakan menghasilkan rentang nilai yang berbeda signifikan. Melalui pendekatan anemometrik, ISL diperkirakan berada pada ketinggian sekitar 30-38 m atau 4-5 kali tinggi rata-rata kanopi bangunan ( ), dengan berkisar 17,5-56,5 m. Sementara itu, pendekatan morfometrik menghasilkan 10,24 m. Perbedaan besar ini menunjukkan sensitivitas masing-masing metode terhadap karakteristik permukaan dan turbulensi, sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk memperoleh estimasi ISL yang lebih konsisten, mengingat parameter aerodinamik terbukti penting dalam menentukan ketinggian ISL.
DECISION CRITERION FOR SELECTING MATRIX ACIDIZING OR ACID FRACTURING: A CASE STUDY OF WELL X IN A CARBONATE RESERVOIR
Low matrix permeability and formation damage near the wellbore frequently result in suboptimal well performance in carbonate reservoirs. Acid stimulation techniques, including matrix acidizing and acid fracturing, are commonly implemented to optimize productivity. However, empirical guidelines are typically employed to select between these methodologies rather than quantitative criteria. This study applies a systematic decisionmaking framework to determine the optimal acid stimulation technique for Well X in a carbonate reservoir. The methodology compares the performance of matrix acidizing and acid fracturing using productivity index ratio (RPI,v) calculations and the carbonate acid stimulation number (NCAS). Well X is a vertical gas well located at a depth of 9,637 ft with a net pay of 473 ft across two perforated intervals, moderate porosity (13%), and low permeability (2.35 mD). The analysis evaluates two treatment scenarios: matrix acidizing and acid fracturing. Results indicate that Well X is an excellent candidate for acid stimulation, as the reservoir characteristics fall significantly below the permeability cutoff of 88.3 mD. The productivity index ratio of 2.49 suggests that acid fracturing would result in a 249% increase in productivity compared to matrix acidizing. Economic analysis demonstrates that acid fracturing generates superior absolute returns, with a net present value (NPV) of $43,959 kUSD. This study establishes a quantitative framework that optimizes both technical performance and economic outcomes of carbonate reservoir stimulation by replacing empirical decision-making with systematic analysis.
EVALUASI DAN PERANCANGAN SISTEM DRAINASE BERBASIS KONSEP ECO DRAINAGE DI KAMPUS UNIVERSITAS PADJADJARAN, KECAMATAN JATINANGOR
Universitas Padjadjaran (UNPAD) Jatinangor Campus is experiencing rapid development that increases built-up areas and reduces water catchment areas. This condition results in an increasing volume of rainwater runoff and the risk of local flooding, thus demanding a sustainable water management system. This research designed a drainage system based on the concept of eco drainage as an effort to conserve water and mitigate runoff. Hydrological analysis was carried out as the basis of the design, generating an Intensity-DurationFrequency (IDF) curve using the Van Breen Method with the Talbot formula approach. For the 5-year Rain Recovery Period (PUH), the planned rain intensity used is 66.708 mm/h. With PCSWMM modeling, runoff in the existing drainage system for 5-year PUH is estimated to reach 56.99 mΒ³/second, where the simulation results show the potential for inundation at several channel junction points. Based on consideration of the condition of low infiltrated clay soil and land availability, the selected eco drainage technologies are Swale, Detention Basin, Rainwater Harvesting, and Green Roof. After redesign and re-simulation with the application of the technology, inundation at critical points such as nodes JA13 and JA25 was successfully eliminated, indicating that the designed system was effective in reducing runoff loads. In terms of non-technical analysis, this project is also considered financially feasible. The results of the investment feasibility analysis for 20 years of projection showed a positive Net Present Value (NPV) value of Rp 730,578,614.58 and a Benefit-Cost Ratio (BCR) of 1,564, which indicates that the project is feasible because the benefits obtained exceed investment and operational costs
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN PEMODELAN STATIK RESERVOIR SILISIKLASTIK, FORMASI TALANGAKAR, LAPANGAN B, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN
Lapangan B berada pada Cekungan Sumatra Selatan dan telah diproduksikan sejak September tahun 1977 dengan puncak produksi 1096 bopd. Depleted reservoir pada Formasi Batuaraja menjadi permasalahan utama dalam pengembangan Lapangan B sehingga diperlukan pemetaan potensi baru pada play hidrokarbon yang berbeda. Terdapat satu sumur pada Lapangan B yang telah terbukti memiliki kandungan hidrokarbon pada Formasi Talangakar, oleh karena itu karakterisasi reservoir siliklastik pada Formasi Talangkar diharapkan mampu memetakan sebaran dan geometri lapisan reservoir yang telah diproduksikan. Selain itu, karakterisasi diharapkan mampu memetakan sebaran properti reservoir (porositas, volume shale, dan permeabilitas) dengan kondisi data yang terbatas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data bawah permukaan meliputi data well log, data mudlog, data sidewall core, data analisis petrofisika, data seismik 3D, dan data atribut seismik. Jumlah sumur pada Lapangan B yang telah menembus Formasi Talangakar relatif sedikit. Sehingga dengan keterbatasan data yang dimiliki pemilihan metode menjadi tantangan dalam penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis fasies menggunakan metode electrofacies gamma ray motif, korelasi data well log sumur dengan kerangka sekuen stratigrafi, pemetaan distribusi dan geometri menggunakan peta isopach dan atribut seismik, pemodelan struktural dengan metode corner point gridding, pemodelan fasies dengan metode truncated gaussian with trend, dan pemodelan properti reservoir dengan metode sequential gaussian simulation. Reservoir silisiklastik pada Lapangan B terendapkan pada lokasi pengendapan transisi, tepatnya pada delta plain. Secara arsitektural fasies, lapisan reservoir merupakan bagian dari distributary mouth bar. Berdasarkan data FMI dan didukung seismik atribut acoustic impedance, sebaran dan geometri reservoir searah dengan tren pengendapan regional Cekungan Sumatra Selatan yaitu timur laut - barat daya. Kualitas properti reservoir pada main axis lebih baik dibandingkan secondary axis. Pada bagian main axis properti berkisar dari 13%- 16%, volume shale 21%-27%, dan permeabilitas 190 mD - 310 mD.
ANALISIS AMPLITUDE VERSUS OFFSET (AVO) DENGAN LOG ADJUSTMENT DAN SEISMIC ENHANCEMENT: STUDI KASUS FORMASI LOWER TALANG AKAR (LTAF), LAPANGAN βICβ, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN
Lapangan βICβ yang terletak di bagian utara Cekungan Sumatera Selatan dihadapkan pada tantangan interpretasi yang kompleks akibat ketebalan reservoir yang tipis serta keberadaan interkalasi coal yang signifikan, sehingga menyebabkan keterbatasan dalam resolusi vertikal data seismik. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan resolusi seismik dalam merepresentasikan lapisan tipis melalui pendekatan log blocky berbasis spektrum frekuensi dan seismic enhancement, serta memvalidasi karakteristik reservoir menggunakan analisis AVO. Pendekatan inovatif dilakukan melalui tahapan log blocky berbasis spektrum frekuensi, yang merepresentasikan log secara realistis dalam domain seismik. Selanjutnya, teknik reconvolution dan spectral balancing diterapkan untuk meningkatkan frekuensi dominan dan bandwidth, sehingga menghasilkan data seismik dengan resolusi lebih tinggi dan lebih sesuai untuk analisis AVO. Analisis AVO menunjukkan anomali amplitudo yang mengindikasikan AVO kelas IV yang tidak umum dijumpai pada kedalaman relatif dangkal (1600β2000 m). Validasi berbasis data log dan seismik sintetik menunjukkan bahwa respons AVO kelas IV pada interval target berkorelasi dengan keberadaan lapisan sand tipis yang jenuh hidrokarbon, yang secara stratigrafi dilapisi atau underlying oleh lapisan coal tipis. Kombinasi ini menghasilkan kontras impedansi yang tinggi dan anomali amplitudo (sweet spot) yang menyerupai Direct Hydrocarbon Indicator (DHI). Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi proses conditioning data log dan seismik dalam interpretasi reservoir tipis, serta perlunya mempertimbangkan kontribusi amplitudo dari lapisan coal yang tidak sepenuhnya dapat dihilangkan. Pendekatan ini membuka peluang interpretasi yang lebih akurat untuk prospek hidrokarbon di lingkungan dengan karakteristik litologi kompleks seperti di Lapangan βICβ.
PERANCANGAN STRATEGI PEMASARAN PENINGKATAN BRAND AWARENESS PRODUK CASCARA MILK TEA
Hayyatee merupakan usaha makanan dan minuman berbasis riset mahasiswa dan tenaga ahli Jurusan Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB), dengan produk utama Cascara Milk Tea. Sejak diluncurkan pada tahun 2022, penjualan produk belum mencapai target yang ditetapkan karena rendahnya brand awareness di kalangan mahasiswa ITB sebagai target pasar utama, serta strategi pemasaran saat ini yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran yang dapat meningkatkan brand awareness produk Cascara Milk Tea pada target konsumen tersebut. Perancangan strategi diawali dengan observasi lapangan, studi literatur, dan wawancara awal untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh Hayyatee. Data primer dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa ITB, kemudian dianalisis menggunakan metode choice-based conjoint untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap atribut produk, serta statistika deskriptif untuk mengukur tingkat brand awareness, faktor pendorong, dan penghambat. Hasil kedua analisis tersebut dikombinasikan untuk menyusun strategi pemasaran berbasis bauran pemasaran (marketing mix 4P) yang mencakup aspek produk, tempat, harga, dan promosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa ITB lebih menyukai Cascara Milk Tea dengan kadar gula rendah, tanpa topping, aroma teh ringan, serta label informasi gizi pada kemasan. Temuan preferensi konsumen tersebut, bersama dengan hasil identifikasi kondisi brand awareness, menjadi dasar perancangan strategi pemasaran yang meliputi pengembangan varian produk sesuai preferensi konsumen, perluasan distribusi ke titik strategis kampus untuk meningkatkan eksposur, serta promosi melalui media sosial Instagram dengan konten informatif dan menarik. Strategi promosi tambahan berupa program referral dengan insentif, paket bundling βBuy 1 Get 1β, serta pemberian sampel di kantin untuk membantu meningkatkan eksposur produk dan memperluas brand awareness Cascara Milk Tea di kalangan mahasiswa ITB.
EVALUASI INVERSI SEISMIK POISSON IMPEDANCE UNTUK KARAKTERISASI RESERVOAR PADA FORMASI BINIO DI LAPANGAN
Formasi Binio merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Tengah yang telah menunjukkan potensi besar terhadap keberadaan hidrokarbon dan telah dieksplorasi serta diproduksi, khususnya pada Formasi Binio yang menjadi fokus penelitian tugas akhir di Lapangan βAZβ. Target reservoar tergolong lapisan yang sangat tipis dan berada dibawah batas resolusi vertikal seismik. Oleh karena itu, diperlukan conditioning pada data seismik dan seismik enhancement untuk meningkatkan resolusi seismik sehingga lapisan tipis dari zona target dapat teridentifikasi dengan baik. Data seismik setelah enhancement digunakan untuk pre-inversion yang memberikan hasil perlapisan reservoar batupasir yang terlihat lebih jelas dibandingkan dengan menggunakan data seismik CDP Gather. Parameter elastic yang sensitif yang menunjukkan persebaran zona target hidrokarbon yaitu acoustic impedance, density dan poisson impedance. Metode Extended Elastic Impedance digunakan untuk menghasilkan volume atribut elastis berupa acoustic impedance, density dan poisson impedance sehingga dapat memetakan distribusi lateral reservoar dengan resolusi yang lebih tinggi. Volume Poisson Impedance dibentuk dari kombinasi parameter elastis pada metode Extended Elastic Impedance yaitu hasil inversi acoustic impedance dan shear impedance, yang efektif dalam memisahkan zona batupasir tersaturasi gas dari zona jenuh air. Metode inversi Poisson Impedance akan dihitung dengan mengurangkan acoustic impedance dengan parameter rotasi impedance (c) kemudian dikalikan dengan shear impedance. Inversi Poisson Impedance (PI) merupakan jenis pre-inversi di mana teknik ini meningkatkan tampilan distribusi dan kandungan fluida khususnya gas dalam batuan reservoar interval waktu 300-700ms. Dalam interval ini, nilai Poisson Impedance yang rendah menunjukkan pasir tersaturasi gas dengan kisaran 7502- 8880 ((ft/s)*(g/cc)). Hal ini terbukti dari hasil slicing map, poisson impedance rendah didukung dengan nilai acoustic impedance rendah dan density rendah pada zona target batupasir tersaturasi gas.
STUDI KASUS EFEK JOULE-THOMSON PADA PEMASANGAN SUBSURFACE SAFETY VALVE SELAMA KONDISI TRANSIEN DI SUMUR INJEKSI CO2
Carbon Capture and Storage (CCS) is a promising approach to reducing carbon dioxide (CO?) emissions by injecting CO? into underground formations, where it can be safely stored over long periods. During the injection process, CO? undergoes significant changes in pressure and temperature, which can impact well integrity. One critical phenomenon is Joule-Thomson cooling, where a substantial temperature drop occurs as CO? expands through flow restrictions such as valves or narrow tubing sections. Understanding this cooling effect is essential to ensure safe and reliable operation, particularly around sensitive components like the Subsurface Safety Valve (SSSV), which may be exposed to rapid thermal fluctuations. This study utilizes the dynamic multiphase flow simulator to analyse the relationship between shut-in time, start-up time, and SSSV closing time during a blowout, and how these variables affect CO? temperature drop at the SSSV. The findings indicate that an optimum shut-in period of 2 hours minimizes the Joule-Thomson effect at the SSSV. In contrast, both start-up and SSSV closure during blowout should be executed rapidly to reduce the extent of CO? cooling. The specifications of the SSSV are also critical for accommodating the conditions during injection. A Tubing Retrievable Subsurface Safety Valve (TRSSSV) is considered more suitable for injection wells due to its superior long-term performance and reduced throttling effect. A pressure rating of 5,000 psi and a minimum operating temperature of β31Β°C are recommended, based on the expected pressure loads and extreme transient temperature conditions. Additionally, it is recommended that the SSSV be installed at a depth between 1,501 ft and 2,253 ft to avoid potential hydrate formation and to ensure proper valve closure during operation.
PERUMUSAN MODEL HIPOTESIS LINGKUNGAN PEMICU DAN REDUKSI KESEPIAN BERDASARKAN PENGALAMAN MAHASISWA PERANTAU STUDI KASUS: KAMPUS GANESHA, INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Loneliness atau kesepian adalah fenomena universal yang kompleks dan memiliki dampak serius pada kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan individu. Di era urbanisasi yang pesat, kesepian di deklarasikan sebagai ancaman kesehatan global yang perlu diperhatikan melalui desain lingkungan yang mempromosikan koneksi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun model hipotesis lingkungan yang dapat memicu maupun mengurangi perasaan kesepian dengan mengadopsi pendekatan kualitatif fenomenologi melalui salah satu kelompok rentan yaitu mahasiswa perantau dengan Kampus Ganesha, ITB sebagai batasan spasial. Temuan ini merumuskan dua model hipotesis yaitu (1) Loneliness Triggering Environments (LTE) dengan tiga pilar utama (Ketiadaan Stimulasi, Ketidaknyamanan, dan Hambatan Sosial) dan (2) Loneliness Reduction Environments (LRE) dengan empat pilar utama (Daya Tarik & Distraksi Positif, Kenyamanan dalam Kebersamaan, Pergerakan Aktif, dan Mendorong Sosialisasi). Model hipotesis LRE utamanya ditemukan berhubungan erat dengan pendekatan desain yang berorientasi pada skala manusia dan pejalan kaki, serta memperhatikan pengalaman individu pada tempat. Wawasan tambahan yang ditemukan adalah bahwa responden cenderung lebih menghargai ruang pasif untuk tujuan kesendirian daripada ruang sosial aktif ketika merasakan kesepian. Temuan kualitatif dan mendalam pada penelitian ini membuka kesempatan untuk verifikasi hipotesis yang disusun melalui penelitian kuantitatif lanjutan serta berpotensi membantu perancang kota, arsitek, dan desainer lanskap menciptakan ruang yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan mental, khususnya dalam mengurangi perasaan kesepian.
ANALISIS KONEKTIVITAS ANTAR KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN (KKP) DI SEKITAR SELAT LOMBOK BERDASARKAN MODEL PENYEBARAN LARVA IKAN TONGKOL (AUXIS THAZARD) MENGGUNAKAN OCEANPARCELS
Merancang Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang efektif di Indonesia memerlukan pemahaman yang kuat tentang konektivitas ekologis untuk mendukung perikanan berkelanjutan dan mata pencaharian lokal. Salah satu pendekatan ilmiah yang menjanjikan dalam memahami konektivitas ini adalah melalui pemodelan biofisik yang menggabungkan dinamika oseanografi dengan perilaku biologis larva. Studi ini bertujuan mengeksplorasi jalur penyebaran larva di antara KKP di sekitar Selat Lombok. Simulasi dilakukan menggunakan data model sirkulasi laut resolusi sangat tinggi (1/150Β°) dari keluaran model MITgcm yang mampu merepresentasikan dinamika arus 3-dimensi, suhu, dan struktur vertikal laut. Partikel virtual yang mewakili larva Auxis thazard (tongkol krai) dilepaskan dari setiap titik di dalam poligon KKP sepanjang musim barat dan musim peralihan tahun 2004. Pergerakan larva dihitung menggunakan OceanParcels dengan skema integrasi waktu Runge-Kutta orde keempat dengan menggabungkan pengaruh arus laut, stres angin permukaan, serta stokes drift akibat gelombang. Hasil simulasi menunjukkan tingkat kehilangan larva yang sangat tinggi dengan lebih dari 93% partikel dari sebagian besar KKP hilang ke laut lepas akibat adveksi arus yang kuat. Akibatnya, retensi bersifat rendah dengan nilai tertinggi hanya 5,94% teramati di KKP Situbondo. Analisis jaringan konektivitas menggunakan metrik sentralitas dari pustaka NetworkX mengidentifikasi peran fungsional yang spesifik untuk setiap KKP. Hasil mengidentifikasi KKP Perancak sebagai donatur larva utama (tingkat beaching 8,68%) dan KKP Kuta Selatan sebagai sumber bersih (net-source) yang signifikan. Sebaliknya, KKP Karangasem berfungsi sebagai penampung bersih (net-sink) terkuat (indeks SSIsink 0,79), dengan 76,40% rekrutmennya berasal dari KKP lain. KKP Pulau Panjang dan Nusa Penida juga teridentifikasi sebagai simpul kunci yang masing-masing berperan sebagai koridor penghubung dan penampung larva penting dalam jaringan.
KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT FORMASI BATURAJA MENGGUNAKAN INVERSI EXTENDED ELASTIC IMPEDANCE (EEI), CURVED PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE (CPEI), DAN PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE - LITHOLOGY (PEI-L) PADA LAPANGAN βHANUMβ, SUB-CEKUNGAN JAMBI, SUMATRA SELATAN
Lapangan βHANUMβ di Sub-cekungan Jambi, Cekungan Sumatra Selatan, merupakan salah satu area prospek hidrokarbon yang berkembang pada batugamping Formasi Baturaja. Karakterisasi zona reservoir pada formasi karbonat ini menjadi tantangan tersendiri akibat heterogenitas litologi serta variasi kejenuhan fluida. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter elastis yang sensitif terhadap variasi litologi dan fluida, mengaplikasikan metode inversi Extended Elastic Impedance (EEI), Curved Pseudo Elastic Impedance (CPEI), dan Pseudo Elastic Impedance β Lithology (PEI-L), serta menginterpretasikan hasil inversi untuk memetakan potensi zona jenuh hidrokarbon pada interval target. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data seismik partial stack serta data log dari sumur ARA07. Tahapan penelitian dimulai dari analisis sensitivitas dengan crossplot parameter elastis terhadap gamma ray, porositas, dan saturasi air untuk menentukan cut-off zona reservoir. Inversi EEI digunakan untuk memperoleh volume AI dan rasio Vp/Vs. Selanjutnya, atribut CPEI dibentuk dari kombinasi AI dan Vp/Vs dengan pendekatan fungsi non-linear untuk mengestimasi distribusi kejenuhan air, sedangkan atribut PEIL digunakan untuk estimasi porositas total. Volume CPEI dan PEIL dikalibrasi dengan log sumur untuk menghasilkan transformasi linier menuju volume water saturation dan porositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter elastis yang paling sensitif terhadap zona hidrokarbon adalah P-Impedance, dengan nilai cut-off sebesar 9200β12000 (m/s)*(g/cc). Hasil inversi menunjukkan zona target berada pada interval Top Baturaja hingga SB4, yang secara geologis terletak di puncak struktur karbonat. Zona ini ditandai dengan nilai impedansi rendah, kejenuhan air < 0,2, dan porositas > 0,2, yang merepresentasikan karakteristik batuan karbonat berpori dengan potensi sebagai reservoir hidrokarbon.
PERANCANGAN KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT STASIUN KERETA CEPAT KARAWANG DENGAN PENEKANAN PADA KONSERVASI RUANG HIJAU
Kawasan Stasiun Kereta Cepat Karawang, yang terletak di tengah pesatnya laju industrialisasi dan urbanisasi, menghadapi tantangan fundamental dalam menyeimbangkan kebutuhan pengembangan kota modern dengan keharusan untuk melindungi lanskap agrikultur yang menjadi identitas Kabupaten Karawang sebagai lumbung padi nasional. Permasalahan utama yang diidentifikasi adalah potensi konflik penggunaan lahan, kurangnya integrasi antarmoda transportasi, dan risiko pembangunan yang tidak terstruktur di sekitar simpul transit baru. Oleh karena itu, perancangan ini bertujuan untuk merumuskan model pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD) yang mampu mengharmonisasikan vitalitas transit dengan konservasi ruang hijau dan kelestarian ekosistem agraris secara berkelanjutan. Metode perancangan yang digunakan adalah pendekatan sinoptik yang rasional, melalui tahapan analisis, sintesis, dan perumusan konsep desain yang mengintegrasikan prinsip-prinsip TOD, compact development, dan preservasi agrikultur. Gagasan utama perancangan adalah mewujudkan kawasan stasiun sebagai simpul terintegrasi yang menerapkan prinsip TOD, dengan fokus pada efisiensi lahan melalui compact development, konservasi ruang hijau yang mencakup pelestarian agrikultur, serta pengembangan ruang publik yang inklusif dan ramah lingkungan. Konsep ini diterjemahkan ke dalam penataan ruang yang memusatkan zona campuran berkepadatan tinggi di sekitar simpul transit, yang secara bertahap melandai menuju zona preservasi pertanian dan ruang terbuka aktif. Hasil akhir dari perancangan ini adalah sebuah masterplan komprehensif untuk Kawasan TOD Stasiun Kereta Cepat Karawang yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang efisien dan terintegrasi, tetapi juga sebagai model perancangan kota yang secara sadar melestarikan identitas agrarisnya. Desain ini berkontribusi dalam memberikan solusi kontekstual bagi pengembangan kawasan transit di wilayah peri-urban yang memiliki karakter agrikultur kuat.
PRODUKSI LEMAK DARI SPENT COFFEE GROUNDS (SCG) HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN FUSARIUM SUBGLUTINANS DENGAN METODE EKSTRAKSI KARBON DIOKSIDA SUPERKRITIS (SCO2)
Industri kopi menghasilkan limbah Spent Coffee Grounds (SCG) dalam jumlah besar yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Limbah SCG merupakan hasil samping dari proses penyeduhan biji kopi menjadi minuman kopi yang jumlahnya dapat mencapai 65% (w/w) dari kapasitas biji kopi yang digunakan dan masih mengandung senyawa bernilai ekonomi seperti lemak, protein, dan polisakarida. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi lemak nabati dan mengetahui kualitas lemak nabati dari SCG yang dihasilkan melalui fermentasi menggunakan Fusarium subglutinans dengan laju pertumbuhan sebesar 0,474 Β± 0,00187/jam dan generation time sebesar 1,46 Β± 0,00575, SCG hasil fermentasi kemudian diekstraksi dengan metode karbon dioksida superkritis (SCO2). Fermentasi dilakukan selama 36 jam pada suhu 25 Β°C, pH 4,85, dan laju aerasi sebesar 0,26 vvm dalam media Potato Dextrose Broth (PDB) yang ditambahkan 6% (w/v) spent coffee grounds (SCG). Ekstraksi dengan metode SCO2 dilakukan selama 120 menit dengan kondisi ekstraktor pada suhu 60 ? dan tekanan 30 Β± 2 Mpa, serta kondisi separator pada suhu 80 ? dan tekanan 5-9 MPa. Proses fermentasi Spent Coffee Grounds (SCG) terbukti mampu meningkatkan perolehan lemak dari 9,96% (w/w) menjadi 17,9% (w/w) yang meningkat sebesar 79,5%. Ekstraksi lemak hasil karbon dioksida superkritis dibandingkan juga dengan metode standar yang umumnya dilakukan, yaitu metode Soxhlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan lemak dengan metode Soxhlet secara statistik masih lebih baik (p < 0,05) dibandingkan metode SCO2. Akan tetapi, metode SCO2 memiliki rasio perolehan lemak yang mendekati metode Soxhlet, yaitu sebesar 59,4%. Metode SCO2 menawarkan produktivitas tinggi dengan keunggulan efisiensi berupa waktu ekstraksi yang lebih singkat dan tidak memerlukan unit tambahan untuk memisahkan lemak dengan pelarut. Lemak hasil fermentasi yang dihasilkan dari metode SCO2 juga menunjukkan kualitas lebih tinggi, ditunjukkan dengan HHV sebesar 41,37 MJ/kg dan kapasitas inhibisi sebesar 79,86% dibandingkan dengan HHV dan kapasitas inhibisi berturut-turut sebesar 41 MJ/kg dan 72,01% pada lemak tanpa fermentasi. Penurunan densitas terjadi dari 917,5 kg/mΒ³ menjadi 914,5 kg/mΒ³ pada lemak hasil fermentasi. Dengan demikian, fermentasi SCG dan ekstraksi dengan metode SCO2 meningkatkan perolehan serta kualitas lemak nabati, sehingga berpotensi sebagai metode ekstraksi yang efisien dan ramah lingkungan dibandingkan metode Soxhlet.
PENGARUH KOMUNIKASI KEBERLANJUTAN TERHADAP MEREK DENGAN PERAN PERANTARA KEPERCAYAAN DALAM KASUS DAMA KARA
Meningkatnya permintaan akan produk yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial telah mendorong merek-merek busana untuk mengadopsi strategi komunikasi keberlanjutan. Seiring dengan semakin cepatnya pergeseran global menuju keberlanjutan, menjadi penting untuk mengeksplorasi bagaimana praktik dan pesan keberlanjutan dikomunikasikan dan dirasakan. Terlepas dari meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan, banyak merek fesyen masih menghadapi tantangan dalam menerjemahkan komunikasi keberlanjutan ke dalam perilaku pembelian konsumen yang sebenarnya. Kesenjangan utama terletak pada pemahaman bagaimana pesan-pesan ini memengaruhi kepercayaan merek dan apakah kepercayaan tersebut mengarah pada niat pembelian yang lebih kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi keberlanjutan terhadap niat beli konsumen, dengan kepercayaan merek sebagai variabel mediasi, dengan menggunakan Dama Kara, merek fesyen berkelanjutan lokal, sebagai studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan mengumpulkan data melalui kuesioner online dari 222 konsumen Indonesia yang berusia 18-25 tahun. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi keberlanjutan memiliki pengaruh positif terhadap kepercayaan merek dan niat beli. Kepercayaan merek juga mempengaruhi niat beli, dan pengujian mediasi menegaskan bahwa kepercayaan memediasi hubungan antara komunikasi keberlanjutan dan niat beli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesan keberlanjutan yang jelas, jujur, dan bertanggung jawab dapat membangun kepercayaan konsumen, mengurangi keraguan, dan menciptakan rasa nyaman, yang pada akhirnya mendorong konsumen untuk mendukung merek- merek fesyen yang berkelanjutan. Studi ini memberikan wawasan bagi bisnis yang ingin memperkuat kepercayaan merek dan keterlibatan konsumen melalui strategi komunikasi.
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT BHINEKA PERKASA JAYA DAN KAPASITAS KONTRIBUSINYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH
Studi ini mengevaluasi kinerja keuangan PT Bhineka Perkasa Jaya, sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah dan berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Meskipun memiliki mandat yang sama, perusahaan tersebut kesulitan memenuhi target kontribusi keuangan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi operasional dan keberlanjutan jangka panjangnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, penelitian ini menggunakan analisis rasio keuangan, analisis DuPont, dan Free Cash Flow to Equity (FCFE) untuk menilai kondisi keuangan perusahaan dari tahun 2020 hingga 2024. Analisis deret waktu menunjukkan bahwa meskipun likuiditas dan manajemen aset tetap kuat, indikator profitabilitas menunjukkan perubahan haluan yang signifikan, beralih dari imbal hasil negatif pada tahun 2020 menjadi Return on Equity sebesar 16,35% pada tahun 2024. Analisis DuPont mendukung kemajuan ini, dengan menyoroti peningkatan margin laba bersih, efisiensi aset, dan leverage keuangan. Analisis FCFE lebih lanjut menunjukkan bahwa kapasitas riil perusahaan untuk berkontribusi kepada pemerintah daerah lebih tercermin melalui arus kas daripada laba bersih. Meskipun simpanan aktual hampir mencapai target, masih terdapat perbedaan, yang menunjukkan adanya ruang untuk perbaikan dalam perencanaan keuangan dan alokasi dana. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan telah melakukan perbaikan yang signifikan, terutama dalam beberapa tahun terakhir, tindakan strategis diperlukan untuk meningkatkan kinerja operasional. Rekomendasi yang diberikan meliputi optimalisasi efisiensi biaya, peningkatan alokasi modal internal, dan penguatan tata kelola agar kapasitas keuangan lebih selaras dengan ekspektasi pemerintah.