📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6,268 dokumenEVALUASI DATA MODEL CMIP6 DALAM MEMPREDIKSI VARIASI SPASIAL-TEMPORAL KLOROFIL-A PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN BARAT SUMATRA TAHUN 2015-2050
Perairan Barat Sumatra dipengaruhi oleh sistem monsun, gelombang Kelvin, upwelling, El Niño–Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berperan dalam distribusi klorofil-a sebagai indikator produktivitas primer. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja model CMIP6 dalam merepresentasikan variabilitas spasial-temporal klorofil-a periode 2015–2050 berdasarkan skenario SSP1-2.6 dan SSP5-8.5 serta mengidentifikasi hubungan antara parameter fisis dan biogeokimia yang memengaruhinya. Analisis dilakukan menggunakan enam model CMIP6 yang digabungkan menjadi Multi-Model Ensemble (MME) dan dibandingkan dengan data satelit ESA OC-CCI serta ERA5 melalui analisis spasial-temporal, bias, Diagram Taylor, Taylor Skill Score (TSS), korelasi silang, dan Ekman pumping. Hasil menunjukkan bahwa CMIP6 menghasilkan distribusi klorofil-a yang lebih homogen dengan konsentrasi sekitar 0,3–0,4 mg m?³ serta didominasi bias positif di sebagian besar wilayah. Variabilitas temporal menunjukkan konsentrasi klorofil-a tertinggi di wilayah utara, sedangkan variabilitas musiman didominasi siklus 12 bulanan dengan puncak konsentrasi pada September–Desember. Pola proyeksi SSP1-2.6 dan SSP5-8.5 relatif serupa hingga tahun 2050, meskipun SSP5-8.5 menghasilkan konsentrasi klorofil-a yang sedikit lebih tinggi. Evaluasi statistik menunjukkan korelasi model terhadap satelit berkisar antara -0,110 hingga 0,267 dengan standar deviasi ternormalisasi sebesar 0,082 1,286. Model MPI-ESM1-2-HR menunjukkan kinerja terbaik dengan nilai TSS sebesar 0,601 pada SSP1-2.6 dan 0,548 pada SSP5-8.5. Variabilitas klorofil-a dipengaruhi oleh penurunan suhu permukaan laut yang diikuti peningkatan klorofil a sekitar satu bulan kemudian, serta peningkatan konsentrasi fosfat, nitrat, dan oksigen terlarut. Kekuatan Ekman pumping meningkat pada kedua musim peralihan, tetapi peningkatan klorofil-a hanya terjadi pada SON. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMIP6 mampu merepresentasikan pola umum distribusi klorofil-a di Perairan Barat Sumatra, namun masih memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan proses pesisir dan variabilitas iklim antartahunan.
ANALISIS KANDUNGAN KLOROFIL-A PADA LAMUN ENHALUS ACOROIDES DI PERAIRAN SANUR, BALI
Klorofil-a pada lamun Enhalus acoroides merupakan indikator sensitif terhadap kesehatan perairan. Perairan Sanur memiliki karakteristik lingkungan beragam, yang diwakili oleh Pantai Sindhu (wisata padat, subtrat berpasir), Pantai Karang (wisata tinggi, subtrat berbatu), dan Pantai Semawang (tenang). Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan klorofil-a dan pengaruh parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, DO). Penelitian dilakukan pada 14 – 17 Oktober 2025 saat surut terendah. Sampel daun diambil dengan metode transek garis sepanjang 120 m (interval 20 m) dan kuadrat 50×50 cm. Analisis klorofil-a menggunakan ekstraksi DMSO (70°C selama 24 jam) dan uji spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata klorofil-a sebesar 0,5851 mg/g. Kandungan tertinggi ditemukan di Pantai Semawang (0,5851 mg/g), diikuti Pantai Karang (0,5648 mg/g), dan terendah di Pantai Sindhu (0,5547 mg/g). Pola spasial menunjukkan kandungan klorofil-a tertinggi pada jarak 20 – 40 m dari garis pantai (0,60 mg/g) dan menurun pada 60 – 100 m (0,55 mg/g). Parameter kualitas air secara umum berada pada batas aman (suhu 31,1 – 31,6°C, salinitas 30 – 30,4 ppt, pH 8,22 – 8,25), namun kadar DO tergolong rendah (4,58 – 4,86 mg/L) terutama pada Pantai Sindhu. Dapat disimpulkan bahwa kandungan klorofil-a di Perairan Sanur berada pada kategori sedang-rendah, dengan Pantai Semawang sebagai lokasi terbaik, sedangkan Pantai Sindhu mengalami tekanan lingkungan akibat aktivitas wisata yang padat dan rendahnya kadar DO berkontribusi pada stres lamun.
DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT DAN PELAYANAN INFRASTRUKTUR SOSIAL PADA TAHAP OPERASIONAL STASIUN KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG 2023-2026
Penelitian ini mengkaji dinamika sosial masyarakat dan peran infrastruktur sosial pada tahap operasional Stasiun Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) Tegalluar di kawasan peri-urban. Pembangunan infrastruktur transportasi berskala besar mendorong perubahan fisik, sosial, dan ekonomi kawasan yang memengaruhi kehidupan masyarakat lokal. Namun, penelitian terkait KCJB masih lebih banyak berfokus pada dampak fisik dan ekonomi, sementara kajian mengenai peran infrastruktur sosial dalam mendukung adaptasi masyarakat terhadap perubahan kawasan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dinamika sosial masyarakat di kawasan sekitar Stasiun KCJB Tegalluar pada tahap operasional, khususnya terkait persepsi, respons, dan bentuk adaptasi masyarakat terhadap rencana pengembangan kawasan serta, dengan memperhatikan peran infrastruktur sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan demand-oriented dan induktif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan studi dokumen. Analisis dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis tematik interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar Stasiun KCJB Tegalluar berada dalam kondisi sosial transisional antara karakter perdesaan dan perkotaan. Kehadiran stasiun mendorong perubahan aktivitas ekonomi menuju sektor perdagangan, jasa, dan usaha informal, serta memengaruhi pola interaksi sosial akibat meningkatnya mobilitas kawasan. Persepsi masyarakat terhadap perubahan kawasan bersifat ambivalen, sebagian masyarakat memandang KCJB sebagai peluang peningkatan aksesibilitas dan ekonomi, sementara sebagian lainnya menunjukkan ketidaksiapan dan kekhawatiran terhadap perubahan kawasan yang berlangsung cepat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan kawasan yang berlangsung cepat memunculkan tekanan adaptasi dan ketidakpastian bagi masyarakat lokal. Dalam kondisi tersebut, infrastruktur sosial berperan penting dalam membantu masyarakat mempertahankan kehidupan sosial dan beradaptasi melalui hubungan sosial, ruang interaksi komunitas, dan dukungan antarwarga.
PERANCANGAN SISTEM BUSINESS INTELLIGENCE BERBASIS RULE-BASED CHATBOT DENGAN TIME SERIES FORECASTING DAN TEKNOLOGI BAHASA ALAMI UNTUK ANALISIS DAN PREDIKSI KINERJA BISNIS
Sistem Business Intelligence di lingkungan internal perusahaan umumnya masih bergantung pada pelaporan manual dan kemampuan teknis dalam menggunakan bahasa kueri untuk memperoleh insight dari data. Ketergantungan tersebut menyulitkan pengguna nonteknis, seperti manajer dan analis bisnis, dalam mengakses informasi secara mandiri dan tepat waktu. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, dilakukan perancangan dan implementasi sistem Business Intelligence berbasis chatbot yang memungkinkan pengguna internal melakukan analisis dan prediksi kinerja bisnis melalui antarmuka percakapan berbahasa Indonesia. Sistem ini menggunakan pendekatan rule-based untuk memahami pertanyaan pengguna, kemudian menghasilkan keluaran analitik dalam bentuk narasi bahasa Indonesia melalui modul Natural Language Generation berbasis templat. Selain kemampuan analitik, sistem juga dilengkapi dengan model peramalan deret waktu untuk mendukung prediksi kinerja bisnis pada periode berikutnya. Dengan menggunakan data dari Enterprise Data Warehouse internal perusahaan serta beberapa variasi model peramalan, dilakukan implementasi sistem yang mencakup proses klasifikasi maksud, eksekusi aturan analitik, pembangkitan narasi, dan peramalan deret waktu. Setelah implementasi, dilakukan evaluasi terhadap kemampuan analitik dan prediktif sistem. Evaluasi analitik menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan narasi dengan akurasi faktual 100% berdasarkan aturan yang telah didefinisikan. Sementara itu, evaluasi prediktif dilakukan dengan membandingkan model GRU (Gated Recurrent Unit) dan LSTM (Long Short-Term Memory) terhadap model statistik ARIMA dan Prophet menggunakan metode walk-forward validation pada enam tingkat wilayah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model GRU memberikan kinerja paling stabil, dengan lima wilayah berstatus lulus berdasarkan nilai sMAPE di bawah 30% dan satu wilayah berstatus lulus dengan catatan. Sementara itu, Prophet menunjukkan kinerja paling rendah dengan nilai sMAPE di atas 100% pada seluruh wilayah akibat ketidaksesuaian asumsi model terhadap karakteristik data operasional. Secara keseluruhan, sistem yang dikembangkan mampu membantu pengguna nonteknis memperoleh informasi analitik dan prediktif secara lebih cepat, mandiri, dan terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis internal.
PENENTUAN PENYESUAIAN RISIKO IFRS 17 BERDASARKAN BEST ESTIMATE LIABILITY (BEL) PADA DUA LINI BISNIS MENGGUNAKAN METODE PAIDINCURRED CHAIN MODEL
Perusahaan asuransi dituntut untuk mengestimasi besar pembayaran klaim dan lonjakan tak terduga dari berbagai lini bisnis agar tidak terjadinya gagal bayar. Antisipasi ini dapat dilakukan melalui perhitungan penyesuaian risiko berbasis segitiga run-off. Dalam pembayaran klaim, perusahaan tidak membayarkan secara langsung hingga lunas sehingga dapat dibentuknya segitiga run-off dengan informasi besar klaim yang dibayar dan besar klaim yang harus dibayarkan dengan tahun kejadian dan tahun perkembangan tertentu. Dalam memprediksi besar liabilitas terbaik dapat diterapkan metode paid-incurred chain (PIC) model. Prediksi besar liabilitas untuk lini bisnis properti dan motor vehicle (MV) diterapkan metode bootstrap pada data untuk menghasilkan berbagai skenario data observasi baru dan simulasi monte-carlo pada segitiga run-off baru tersebut sehingga diperoleh banyakanya bangkitan nilai best estimate liability (BEL). Penyesuaian risiko dihitung menggunakan dua metode kuantitatif, yaitu value at risk (VaR) dan condition tail expectation (CTE). Pada tingkat kepercayaan 95% penyesuaian risiko kumulatif dari dua lini bisnis tersebut adalah sebesar Rp 2,11 triliun dan Rp 2,90 triliun dengan metode VaR dan CTE secara berturut-turut. Penyesuaian risiko yang besar sebagian besar disebabkan lini bisnis properti.
IMPLEMENTASI SISTEM OTOMASI INSPEKSI KONTAINER DI PELABUHAN
Proses pemeriksaan kondisi fisik dan identifikasi peti kemas di pelabuhan Indonesia masih dilakukan secara manual oleh petugas, tanpa dukungan sistem otomatis yang terintegrasi. Pemeriksaan visual terhadap kerusakan struktural (penyok, karat, lubang) dan pencatatan nomor identifikasi kontainer bergantung pada interpretasi subjektif, sehingga menyebabkan waktu inspeksi yang lama, potensi kesalahan yang tinggi, serta pencatatan hasil yang sulit dilacak. Pemanfaatan kecerdasan artifisial dan computer vision pada proses ini belum diterapkan, menambah kesenjangan antara kebutuhan operasional pelabuhan modern dengan kapabilitas sistem yang ada. Tugas akhir ini merancang dan mengimplementasikan purwarupa sistem otomasi inspeksi kontainer dari segi program perangkat lunak, dengan ruang lingkup pada inspeksi visual peti kemas (deteksi kerusakan fisik dan pengenalan nomor kontainer melalui OCR). Sistem terdiri dari tiga komponen yang saling terhubung: perangkat tepi (edge device) yang menjalankan inferensi model YOLO11 secara real-time pada citra dari kamera, layanan backend yang mengelola penyimpanan data dan autentikasi, serta dashboard web untuk pemantauan langsung dan manajemen hasil. Perancangan arsitektur sistem secara holistik dan strategi deployment berada di luar cakupan tugas akhir ini. Kontribusi utama sistem mencakup mekanisme agregasi deteksi per sesi pemindaian untuk efisiensi pengiriman data, sinkronisasi nomor kontainer antar kamera, dan penilaian integritas struktural otomatis berdasarkan kelas kerusakan terdeteksi. Evaluasi fungsional terhadap delapan kebutuhan menunjukkan seluruh skenario utama lulus. Model deteksi kerusakan mencapai mAP@50 sebesar 96,8% dengan precision 96,3% dan recall 93,0%, melampaui hasil penelitian sejenis? komponen OCR memanfaatkan model pretrained PP-OCRv5 untuk pengenalan nomor kontainer berformat ISO 6346. Waktu inferensi pada perangkat tepi NVIDIA Jetson Orin Nano rata-rata di bawah 110 milidetik per citra dan seluruh halaman dashboard memuat dalam kurang dari 2 detik. Hasil ini mengonfirmasi kelayakan teknis sistem sebagai alternatif terhadap proses inspeksi manual.
ANALISIS PEMERATAAN LAYANAN PENDIDIKAN NEGERI DI KOTA BANDUNG BERBASIS SPATIAL EQUITY MELALUI INTEGRASI SUPPLY, ACCESSIBILITY, DAN DEMAND
Pemerataan layanan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkeadilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemerataan layanan pendidikan negeri berdasarkan prinsip spatial equity melalui integrasi aspek supply, accessibility, dan demand. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Urban Analytics dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), analisis jaringan jalan (service area), estimasi populasi WorldPop berbasis dasymetric mapping, pendekatan location-allocation, dan unit analisis grid heksagonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi sarana pendidikan negeri di Kota Bandung masih belum merata dan cenderung semakin terkonsentrasi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Analisis keterjangkauan berbasis jaringan jalan menunjukkan bahwa jenjang SD memiliki tingkat keterjangkauan tertinggi dengan cakupan layanan sebesar 93,68% wilayah Kota Bandung, diikuti SMA sebesar 91,70%, sedangkan SMP hanya mencapai 50,02% sehingga menjadi jenjang dengan tingkat keterjangkauan paling rendah. Integrasi antara aksesibilitas dan distribusi penduduk usia sekolah menunjukkan bahwa kesenjangan spasial layanan pendidikan terbesar terjadi pada jenjang SMP, dengan tingkat keterlayanan penduduk usia sekolah sebesar 84,54%, lebih rendah dibandingkan SD (98,82%) dan SMA (94,13%). Berdasarkan identifikasi wilayah prioritas, dilakukan pemodelan Maximum Coverage Location Problem (MCLP) untuk mengidentifikasi lokasi indikatif penambahan sarana pendidikan pada zona prioritas, yang menghasilkan 3 lokasi SD, 19 lokasi SMP, dan 6 lokasi SMA. Lokasi yang dihasilkan bersifat indikatif dan belum mempertimbangkan sekolah swasta, kapasitas sekolah, ketersediaan lahan, maupun aspek kelembagaan. Simulasi menunjukkan bahwa rekomendasi tersebut mampu meningkatkan cakupan penduduk usia sekolah terlayani menjadi 99,77% pada jenjang SD, 98,78% pada jenjang SMP, dan 99,63% pada jenjang SMA. Dengan demikian, temuan ini menunjukkan bahwa pemerataan layanan pendidikan negeri tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah fasilitas semata, tetapi perlu mempertimbangkan kesesuaian antara sebaran sarana, keterjangkauan aktual melalui jaringan jalan, dan distribusi kebutuhan penduduk usia sekolah untuk menghasilkan perencanaan fasilitas yang lebih tepat sasaran dan berkeadilan.
ANALISIS DAMPAK BANJIR TERHADAP JARINGAN JALAN DAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (STUDI KASUS: KABUPATEN ACEH UTARA)
Distribusi bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi jaringan jalan, sehingga rentan terhadap gangguan bencana yang mendegradasi kinerja jaringan jalan meskipun stok BBM berada pada level yang aman. Penelitian ini mengembangkan kerangka analisis terintegrasi berbasis jaringan yang menghubungkan estimasi cepat kedalaman genangan dengan evaluasi kinerja jaringan jalan dan sistem distribusi BBM, dengan studi kasus Kabupaten Aceh Utara pada kejadian banjir Sumatera November 2025. Kedalaman genangan diestimasi secara statis dari observasi aktual genangan hasil citra Synthetic Aperture Radar Sentinel-1 dengan data Digital Elevation Model, kemudian dikembangkan menjadi lima skenario kedalaman. Dampak genangan diterjemahkan ke dalam degradasi fungsional setiap ruas jalan menggunakan pendekatan berbasis graf, yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktur dan aksesibilitas jaringan serta pengaruhnya terhadap redistribusi permintaan BBM yang dimodelkan berdasarkan kapasitas penyaluran dan hambatan waktu tempuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi terparah, connectivity index antar kecamatan turun hingga hanya sekitar seperenambelas kondisi normalnya, disertai fragmentasi spasial yang terdefinisi jelas antara kelompok kecamatan di wilayah barat dan timur. Fragmentasi ini memicu konsolidasi permintaan yang menghasilkan shortage di SPBU-SPBU tertentu, sementara terputusnya akses dari sejumlah kecamatan menuju seluruh SPBU menyebabkan terjadinya permintaan yang tidak tersalurkan sama sekali. Perbedaan ambang batas toleransi genangan antar jenis kendaraan menghasilkan kondisi di mana masyarakat lebih kesulitan mengakses SPBU dibandingkan kemampuan armada mobil tangki dalam menyalurkan pasokan. Dari sisi operasional, peningkatan waktu tempuh yang terjadi mengurangi kemampuan penyelesaian ritase harian setiap armada sehingga dibutuhkan lebih banyak armada pada kondisi banjir, meskipun seluruh SPBU tetap dapat dijangkau di semua skenario.
MODEL DEPLOYMENT SISTEM OTOMASI INSPEKSI KONTAINER DI PELABUHAN
Sektor logistik Indonesia masih menghadapi tantangan efisiensi dengan biaya logistik mencapai 14,29% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan negara maju yang kurang dari 10%. Proses inspeksi peti kemas di pelabuhan masih bergantung pada metode manual berbasis checklist dan belum terintegrasi secara digital dengan alur kerja pelabuhan maupun sistem kepabeanan. Tugas akhir ini bertujuan merumuskan model deployment Sistem Inspeksi Kontainer Digital Terintegrasi yang andal di lingkungan PT IPC Terminal Petikemas (PT IPC TPK), Pelabuhan Tanjung Priok. Kendala utama meliputi keterbatasan konektivitas jaringan ke pusat data Pelindo, persyaratan keamanan data sesuai Kebijakan TI Holding Pelindo, serta integrasi non-disruptif dengan sistem operasional 24 jam (TOS, DAQ, OCR, LPR, WIM, RPM, dan Barrier Gate). Metode yang digunakan adalah Iterative Development yang dipandu Double Diamond Framework dan prinsip tata kelola COBIT. Kebutuhan dikumpulkan melalui wawancara dan observasi lapangan, lalu dilanjutkan analisis komparatif model deployment, perancangan arsitektur, serta evaluasi melalui pengujian CI/CD dan load testing. Hasil tugas akhir menunjukkan bahwa model hybrid on-premise tiga tingkat merupakan solusi paling layak. Tier 1 menempatkan AI service Docker di Server 1 GRAHA untuk inferensi lokal, Tier 2 menempatkan backend dan basis data di Cloud Pelindo Hub dengan dua lapis isolasi, sedangkan Tier 3 memanfaatkan Cloudflare Workers untuk frontend dashboard. Arsitektur teknis yang dirancang mencakup WireGuard VPN antar-tier, tiga pipeline CI/CD GitHub Actions independen, strategi backup MongoDB berbasis pointin- time recovery (PITR) dengan full backup berkala, serta stack pemantauan cAdvisor, Prometheus, dan Grafana. Evaluasi memverifikasi kesesuaian terhadap kontrol tata kelola utama, ketahanan pipeline terhadap delapan skenario kegagalan, latensi p95 sebesar 1,05 hingga 1,18 detik (?2 detik), dan integritas audit trail 100%. Interpolasi terkalibrasi-GPU mengestimasi kebutuhan komputasi lapangan ?815 sparse INT8 TOPS per gate dengan memori sebagai faktor pengikat. Model yang diusulkan layak secara teknis pada lingkup infrastruktur, konektivitas, CI/CD, pemulihan data, dan pemantauan, dengan validasi lanjutan diperlukan pada lingkungan produksi Pelindo.
EVALUASI DAN OPTIMASI PENGELOLAAN AIRTANAH PADA AREA OPERASIONAL PT XYZ
Peningkatan pengambilan airtanah dikhawatirkan memicu penurunan muka airtanah yang signifikan dan risiko degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pemompaan serta mengoptimalkan debit pengambilan airtanah agar tetap mematuhi kriteria zonasi konservasi airtanah yang ditetapkan pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan pemodelan numerik aliran airtanah pada skala lokal dengan perangkat lunak MODFLOW-NWT. Untuk mencapai solusi ekstraksi yang paling efisien, dilakukan analisis optimasi otomatis menggunakan perangkat lunak GWM-VI (Groundwater Management – Version Independent) yang mengintegrasikan simulasi aliran ke dalam kerangka kerja optimasi berbasis fungsi tujuan dan batas teknis (constraints). Model dikonstruksi dengan mengintegrasikan data geologi, log pemboran, dan survei geofisika untuk merepresentasikan sistem akuifer multilapisan. Proses kalibrasi dilakukan pada kondisi tunak dan transien untuk memastikan akurasi model sebelum digunakan dalam simulasi skenario hingga tahun 2031. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit pemompaan maksimal berpotensi menyebabkan penurunan muka airtanah (MAT) melampaui ambang batas 40% pada tahun 2026, yang mengubah status menjadi zona rawan. Melalui pendekatan optimasi matematis berbasis matriks respons pada GWM-VI, didapatkan kombinasi debit optimal yang mampu menjaga seluruh titik pengamatan tetap berada dalam zona aman hingga akhir periode proyeksi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa evaluasi kuantitatif respons sistem akuifer untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di area industri.
INKLUSIVITAS TRANSPORTASI UMUM BAGI TEMAN TULI PADA ERA DIGITALISASI DI DKI JAKARTA
Transportasi umum seharusnya dapat diakses secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk Teman Tuli yang menghadapi hambatan informasional dan komunikasional dalam sistem yang dirancang dengan asumsi seluruh penggunanya dapat mendengar. Di tengah pesatnya digitalisasi layanan transportasi di DKI Jakarta, sejauh mana transformasi digital tersebut berpihak pada kebutuhan Teman Tuli masih belum terjawab. Penelitian ini menganalisis karakteristik mobilitas, persepsi aksesibilitas, dan preferensi pemilihan moda transportasi umum oleh Teman Tuli pada era digitalisasi di DKI Jakarta, melibatkan 31 responden dari komunitas Gerkatin dan Sunyi Cafe melalui pendekatan kuantitatif yang didukung Focus Group Discussion dan observasi terarah. Temuan menunjukkan Teman Tuli adalah pengguna transportasi umum yang aktif namun menanggung biaya adaptasi tinggi karena sistem tidak dirancang untuk mereka: seluruh responden mengandalkan smartphone dan mayoritas menggunakan aplikasi navigasi sebagai pengganti informasi audio yang tidak dapat mereka akses. Persepsi aksesibilitas terbentuk dari empat dimensi utama yang seluruhnya mencerminkan ketidakpuasan konsisten terhadap informasi visual dinamis. Secara substantif, preferensi pemilihan moda Teman Tuli ditentukan bukan oleh efisiensi waktu atau tarif, melainkan oleh ketersediaan informasi keselamatan visual, kemampuan komunikasi petugas, dan aksesibilitas informasi visual selama perjalanan, menegaskan bahwa inklusivitas transportasi bagi Teman Tuli adalah soal kesetaraan akses informasi, bukan infrastruktur fisik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian aksesibilitas transportasi inklusif di Indonesia dengan menghadirkan perspektif Teman Tuli yang selama ini tidak terwakili dalam literatur transportasi perkotaan Indonesia.
ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTIKRITERIA UNTUK MENINGKATKAN KEHANDALAN COOLING TOWER: PENERAPAN VALUE FOCUS-THINKING DAN ANALYTIC- HIERARCHY PROCESS DI PT. KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL RU III PLAJU
Menara pendingin memainkan peranan penting dalam menjaga kontinuitas operasional kilang dengan menyediakan air pendingin untuk unit proses dan sistem utilitas. Struktur menara pendingin telah beroperasi selama lebih dari tiga puluh tahun menggunakan bahan struktural kayu dan telah mengalami deteriorasi progresif yang disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap kelembapan, lingkungan kimia, beban operasional, dan degradasi biologis. Frekeunsi kerusakan yang meningkat memerlukan kegiatan perbaikan pemeliharaan yang sering melalui penggantian sebagian dan sektoral. Karena menara pendingin adalah aset utilitas yang kritis, pemilihan strategi perbaikan yang paling tepat akan menjadi keputusan strategis penting bagi perusahaan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi harapan pemangku kepentingan terkait keandalan operasional mendara pendingin, mengevaluasi alternatif pemeliharaan dan perbaikan yang tersedia, serta menentukans strategi yang paling tepat menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur. Penelitian ini mengadopsi pendekatan campuran yang mengintegrasikan Value-Focused Thinking (VFT), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Cost/Benefit Analysis (CBA). Integrasi metode-metode ini memungkinkan nilai-nilai pemangku kepentingan yang bersifat kualitatif dan evaluasi keputusan yang bersifat kuantitatif untuk digabungkan secara sistematis dalam proses pengambilan keputusan yang komprehensif. Lima kriteria evaluasi utama muncul dengan kontinuitas operasional diidentifikasi sebagai kriteria terpenting dan tiga alternatif strategis dihasilkan dan dievaluasi. Integrasi analisis Biaya/Manfaat dan dinormalisasi untuk integrasi ke dalam model sintesis AHP menunjukkan bahwa revitalisasi menara pendingin yang ada menggunakan struktur kayu adalah alternatif yang paling disukai. Kemudian, uji sensitivitas lebih lanjut dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan model keputusan yang menghasilkan alternatif yang dipilih tetap menjadi opsi dengan peringkat tertinggi di semua kasus evaluasi, menujukkan model keputusan yang stabil dan dapat diandalkan.
ANALISIS KORESPONDENSI DISKRIMINAN UNTUK KLASIFIKASI TIPE SISTEM PIPA GAS BERDASARKAN KATEGORI PENYEBAB INSIDEN DI AMERIKA SERIKAT TAHUN 2005-2024
Sistem perpipaan gas memiliki karakteristik operasional dan pola penyebab insiden yang berbeda pada setiap tipe sistemnya. Penelitian ini menerapkan Discriminant Correspondence Analysis (DCA) untuk mengklasifikasikan dan memprediksi tipe sistem pipa gas menggunakan data insiden signifikan PHMSA periode 2005–2024. Penyebab insiden direpresentasikan dalam bentuk subkategori berkode biner dan dianalisis dalam kerangka tabel kontingensi. DCA memproyeksikan data ke dalam ruang diskriminan dua dimensi yang menunjukkan pemisahan jelas antara sistem Distribusi Gas, Pengumpulan Gas, dan Transmisi Gas. Kinerja model dievaluasi menggunakan kerangka klasifikasi model efek tetap dan efek acak, sedangkan kualitas pemisahan kelompok dianalisis menggunakan koefisien determinasi berbasis inersia dan uji permutasi. Hasil penelitian menunjukkan akurasi klasifikasi yang tinggi, yaitu 95,56% pada model efek tetap dan 88,89% pada model efek acak. Koefisien determinasi berbasis inersia sebesar 0,882 menunjukkan pemisahan kelompok yang kuat, dan uji permutasi menghasilkan diskriminasi yang signifikan secara statistik. Tumpang tindih parsial antara kelompok Pengumpulan Gas dan Transmisi Gas mengindikasikan adanya kemiripan pola penyebab insiden tertentu. Analisis juga mengidentifikasi karakteristik khas atau pembeda setiap kelompok, di mana Distribusi Gas terutama berkaitan dengan insiden akibat gangguan eksternal, Pengumpulan Gas dicirikan oleh kegagalan terkait korosi, sedangkan Transmisi Gas berkaitan dengan kegagalan teknis, struktural, dan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DCA efektif digunakan untuk klasifikasi, prediksi, dan identifikasi karakteristik penyebab insiden pada sistem perpipaan gas.
PENGEMBANGAN KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS BERBASIS VALUE-FOCUSED THINKING DAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS UNTUK PENGELOLAAN MINYAK MENTAH BERKADAR GARAM TINGGI DI KILANG PERTAMINA RU III PLAJU
Kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan penyerapan minyak mentah domestik menempatkan Pertamina Refinery Unit III Plaju pada posisi strategis yang kompleks, terutama akibat meningkatnya kebutuhan pengolahan minyak mentah dengan kandungan garam tinggi. Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap keandalan peralatan, stabilitas proses, dan efisiensi operasional, sehingga memerlukan pengambilan keputusan yang lebih terstruktur dan robust Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan dalam pengambilan keputusan strategis, mengembangkan kerangka perbaikan, serta mengevaluasi efektivitasnya. Pendekatan mixed-methods digunakan dengan desain sequential exploratory, menggabungkan analisis kualitatif seperti SWOT, Five-Why, wawancara, dan focus group discussions, serta Value-Focused Thinking (VFT) dan analisis kuantitatif menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). VFT digunakan untuk merumuskan tujuan dan alternatif strategi, sedangkan AHP digunakan untuk menyusun kriteria, menentukan bobot, dan memprioritaskan alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bersifat sistemik, terutama inkonsistensi tata kelola dan kurangnya integrasi kriteria evaluasi. Kerangka VFT AHP yang dikembangkan menetapkan empat kriteria utama yaitu Operational Excellence, Process Stability, Economic Performance, dan Strategic Feasibility dengan empat alternatif strategi. Hasil AHP menunjukkan instalasi desalter baru sebagai prioritas utama (32,9%), dengan hasil yang tetap stabil pada analisis sensitivitas hingga ±20%. Kerangka ini meningkatkan kejelasan, konsistensi, dan transparansi pengambilan keputusan melalui pendekatan multi-kriteria yang terstruktur dengan mengubah proses yang sebelumnya terfragmentasi dan bersifat biner. Validasi manajemen menunjukkan bahwa kerangka ini praktis untuk diimplementasikan serta meningkatkan akuntabilitas dan keterpertanggungjawaban keputusan dalam menghadapi tekanan regulasi dan audit
PENERAPAN PHYSICS-INFORMED NEURAL NETWORKS (PINNS) PADA PEMODELAN DAN SIMULASI GELOMBANG BERDASARKAN PERSAMAAN AIR DANGKAL
Dinamika gelombang di wilayah pesisir memiliki karakteristik yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan pemodelan yang mampu merepresentasikan perambatan gelombang di perairan dangkal. Persamaan Air Dangkal (Shallow Water Equations, SWE) merupakan salah satu model matematis yang umum digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut. Pada tugas akhir ini, diterapkan metode Physics-Informed Neural Network (PINN) untuk menyelesaikan SWE dalam pemodelan dinamika gelombang di perairan dangkal. Pendekatan ini mengintegrasikan informasi fisika seperti persamaan diferensial, kondisi awal, dan kondisi batas ke dalam proses pelatihan jaringan saraf. Model PINN yang dikembangkan digunakan untuk mensimulasikan perambatan gelombang pada beberapa skenario, yaitu batimetri datar, batimetri bertingkat, dan konfigurasi dengan keberadaan vegetasi mangrove. Selain untuk penyelesaian masalah maju (forward problem), model ini juga dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah invers (inverse problem) dalam bentuk estimasi parameter fisik tertentu dari data terbatas. Pada tugas akhir ini, strategi fine-tuning juga diterapkan dengan memanfaatkan bobot model yang telah dilatih sebelumnya, sehingga baik simulasi forward maupun proses estimasi parameter dapat dilakukan pada parameter baru tanpa perlu melatih ulang model dari awal. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pendekatan PINN mampu merepresentasikan pola dinamika gelombang pada berbagai konfigurasi yang diuji. Penelitian ini menunjukkan bahwa PINN dapat digunakan sebagai alternatif pendekatan dalam pemodelan dinamika gelombang di perairan dangkal, khususnya untuk menangani berbagai skenario batimetri dan kondisi fisik yang berbeda.