📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenPERANCANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST): PENGOLAHAN SAMPAH RESIDU DI TPA CIPAYUNG, KOTA DEPOK, JAWA BARAT
TPA Cipayung Kota Depok saat ini masih menerapkan sistem open dumping yang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan operasional. Upaya pengurangan sampah melalui pengolahan eksisting belum mampu menekan timbulan residu secara signifikan, sehingga diperlukan teknologi pengolahan lanjutan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem insinerator sebagai pengolahan sampah residu di TPST Cipayung Kota Depok, dengan pendekatan konsep green building melalui optimalisasi tata letak fasilitas, efisiensi sistem, dan pengendalian dampak lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung rata-rata mencapai 704,2 ton/hari dengan dominasi fraksi organik dan karakteristik yang masih memiliki potensi pembakaran. Sampah residu direpresentasikan dalam bentuk rumus empiris semu berdasarkan hasil ultimate analysis untuk keperluan perhitungan kebutuhan udara pembakaran dan estimasi gas buang. Insinerator yang dirancang menggunakan tipe controlled air dengan kapasitas pengolahan 28 ton/hari dan dilengkapi sistem Air Pollution Control berupa flue gas quench tower, venturi scrubber, mist eliminator, dan cerobong untuk memenuhi baku mutu emisi. Penerapan konsep green building diwujudkan melalui pengelompokan fungsi bangunan, efisiensi penggunaan energi dan air, serta pengendalian emisi dan residu. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa total biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp48,47 miliar, dengan CAPEX khusus fasilitas insinerator sebesar Rp44,51 miliar. Biaya operasional (OPEX) total sebesar Rp13,75 miliar per tahun, dengan OPEX khusus insinerator sebesar Rp6,78 miliar per tahun. Analisis payback period menunjukkan bahwa investasi insinerator dapat kembali dalam waktu kurang dari satu tahun pada seluruh skenario pendapatan. Dengan demikian, penerapan iv insinerator di TPST Cipayung dinilai layak secara teknis dan ekonomi serta mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan green building.
STRATEGI SEGMENTASI PASAR, PENETAPAN TARGET, DAN PENENTUAN POSISI UNTUK PRODUK INOVATIF DAN BERKELANJUTAN: STUDI KASUS POREBLOCK OLEH RESERVOAIR
Pertumbuhan permukaan kedap air di wilayah perkotaan telah meningkatkan risiko banjir di kota-kota berkembang karena berkurangnya kemampuan infiltrasi air alami. Di Indonesia, meningkatnya kebutuhan akan solusi konstruksi berkelanjutan mendorong pengembangan paving berpori seperti Poreblock, namun tingkat adopsinya di kalangan arsitek dan kontraktor masih rendah meskipun memiliki keunggulan lingkungan. Penelitian ini menganalisis bagaimana strategi Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP) yang tepat dapat meningkatkan penetrasi pasar Poreblock di industri konstruksi profesional. Berdasarkan teori perilaku pembelian organisasi dan positioning berbasis nilai, penelitian ini berasumsi bahwa arsitek dan kontraktor berbeda dalam kesadaran terhadap isu banjir, orientasi keberlanjutan, sensitivitas harga, dan keterbukaan terhadap inovasi, yang memengaruhi niat pembelian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi segmen pasar, mengevaluasi daya tariknya, serta menentukan target pasar yang paling sesuai secara strategis bagi Poreblock. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 192 arsitek dan kontraktor dengan teknik purposive sampling. Exploratory Factor Analysis (EFA) dan analisis klaster digunakan untuk membentuk segmen homogen, yang kemudian diprofilkan melalui tabulasi silang berdasarkan firmografi, keterlibatan proyek, dan peran pengambilan keputusan. Hasil menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepedulian lingkungan dan pertimbangan ekonomi antarsegmen, dengan satu segmen prioritas memiliki orientasi keberlanjutan tinggi serta kesediaan adopsi lebih besar meskipun dengan harga premium. Penelitian ini berkontribusi pada literatur pemasaran B2B berkelanjutan dengan mengintegrasikan persepsi nilai lingkungan ke dalam analisis STP serta memberikan rekomendasi strategis dalam memposisikan Poreblock sebagai produk infrastruktur perkotaan berkelanjutan.
STRATEGI PENURUNAN BACKLOG PERUMAHAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Permasalahan backlog perumahan merupakan isu struktural yang hingga saat ini masih menjadi tantangan utama pembangunan perkotaan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Kota Bandung. Backlog perumahan tidak hanya mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah rumah dan jumlah keluarga, tetapi juga menggambarkan keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berlokasi sesuai dengan kebutuhan aktivitas ekonomi. Berbagai kebijakan perumahan telah dilaksanakan oleh pemerintah, terutama melalui program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Namun, efektivitas kebijakan tersebut dalam menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan masih dipertanyakan, terutama ketika dihadapkan pada dinamika harga lahan, keterbatasan pasokan rumah, serta kondisi sosial-ekonomi rumah tangga MBR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika backlog perumahan MBR di Kota Bandung serta mengevaluasi efektivitas berbagai skenario kebijakan perumahan melalui pendekatan sistem dinamik. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi mekanisme struktural yang membentuk backlog perumahan MBR; (2) menganalisis pengaruh kebijakan sisi permintaan, sisi penawaran, sosial-ekonomi, serta kebijakan lahan dan lokasi hunian terhadap dinamika backlog; dan (3) merumuskan kombinasi kebijakan yang paling efektif dalam menurunkan backlog perumahan MBR dalam jangka panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan sistem dinamik dengan membangun Causal Loop Diagram (CLD) dan stock and flow diagram (SFD). Model dikembangkan melalui beberapa submodel utama, yaitu submodel populasi dan keluarga MBR, submodel segmentasi MBR dan preferensi hunian, submodel keterjangkauan dan kas keluarga MBR, submodel kas developer dan penyediaan rumah, serta submodel harga dan ketersediaan lahan. Model disimulasikan untuk periode jangka panjang guna menangkap perilaku dinamis sistem perumahan serta dampak tertunda dari kebijakan. Skenario kebijakan yang dianalisis meliputi skenario dasar (Business as Usual/BAU), skenario kebijakan sisi3 permintaan, skenario sosial-ekonomi, skenario sisi penawaran, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian, serta skenario kebijakan gabungan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada skenario BAU, backlog perumahan MBR di Kota Bandung cenderung menurun secara lambat namun tetap bertahan pada tingkat yang tinggi dalam jangka panjang. Skenario kebijakan sisi permintaan dan sosial-ekonomi memberikan dampak positif terhadap penurunan backlog, namun bersifat terbatas dan tidak berkelanjutan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas penyediaan rumah dan pengendalian faktor lahan. Skenario sisi penawaran menunjukkan kemampuan menurunkan backlog dalam jangka menengah, tetapi berpotensi menimbulkan efek balik dalam jangka panjang akibat tekanan harga dan keterbatasan lahan. Sementara itu, skenario kebijakan lahan dan lokasi hunian memberikan dampak paling konsisten dalam menurunkan backlog secara jangka panjang melalui peningkatan akses lahan yang layak dan terjangkau bagi MBR. Skenario kebijakan gabungan menunjukkan hasil paling optimal, dengan penurunan backlog yang signifikan dan relatif stabil hingga akhir periode simulasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik backlog perumahan MBR yang tidak hanya berfokus pada kepemilikan rumah melalui skema subsidi, tetapi juga memasukkan pilihan hunian alternatif berupa bangun mandiri dan sewa, serta mempertimbangkan aspek lokasi dan biaya transportasi sebagai bagian dari keterjangkauan hunian. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya interaksi lintas kebijakan dan mengungkap bahwa kebijakan perumahan yang berdiri sendiri cenderung menghasilkan dampak yang tidak berkelanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian perumahan perkotaan berbasis sistem dinamik dengan menegaskan bahwa backlog perumahan merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor sosial, ekonomi, kelembagaan, dan spasial. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan perumahan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang guna menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan.
ANALISIS SPESIFISITAS SUBSTRAT ENDOGLUKANASE BCELFP
Lignoselulosa merupakan biomassa dinding sel tumbuhan yang tersusun atas tiga polimer utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Proses degradasi selulosa menjadi glukosa memerlukan aktivitas enzim selulase, salah satunya adalah endoglukanase yang berperan dalam memutus ikatan ?-1,4-glikosidik. Penelitian ini mengkaji gen pengode endoglukanase termofilik (Bcelfp) yang berasal dari bakteri Fervidobacterium pennivorans. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekspresikan gen bcelfp tersebut ke dalam sistem ekspresi Escherichia coli BL21(DE3) dan menganalisis aktivitas enzim terhadap berbagai jenis substrat, meliputi CMC (carboxymethyl cellulose), wheat (gandum), rye (gandum hitam), sorgum, semolina, dan daun jagung. Tahapan metode yang dilakukan mencakup transformasi plasmid ke dalam pET28a-Bcelfp ke dalam sel E. coli BL21(DE3), produksi endoglukanase BcelFp, pemecahan sel (lisis) dengan sonikator, serta visualisasi protein menggunakan SDS- PAGE (sodium dodecyl sulfate–polyacrylamide gel electrophoresis). Uji konsentrasi protein dilakukan menggunakan metode Bradford, sementara uji aktivitas enzim ditentukan melalui metode DNS (asam 3,5-dinitrosalisilat). Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa gen pengode endoglukanase BcelFp berhasil diekspresikan dengan baik, ditandai dengan munculnya pita protein pada berat molekul sekitar 37,89 kDa. Berdasarkan hasil uji Bradford, diperoleh konsentrasi enzim sebesar 9,121 µg/µL. Pengujian aktivitas menunjukkan bahwa endoglukanase BcelFp aktif menghidrolisis seluruh substrat yang diuji. Aktivitas spesifik tertinggi tercatat pada substrat turunan selulosa (CMC) dengan nilai mencapai 0,950±0,024 U/mg. Pada pengujian menggunakan kelompok substrat alami, aktivitas enzim menunjukkan nilai yang lebih rendah dengan urutan spesifisitas dari yang tertinggi ke terendah adalah gandum hitam, semolina, gandum, sorgum, dan daun jagung.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KAWASAN WISATA PANTAI BATUKARAS, KABUPATEN PANGANDARAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi untuk maju disektor pariwisata. Pada tahun 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa nasional terbesar melampaui sektor migas, batubara, dan minyak kelapa sawit. Jumlah penerimaan devisa nasional dipengaruhi peningkatan jumlah wisatawan dan jumlah pengeluaran wisatawan. Peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi akan diiringi peningkatan jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Semenjak tahun 2017, Kementerian Pariwisata RI bekerja sama dengan International Network of Sustainable Tourism Observatories (INSTO) untuk mengembangkan program pariwisata berkelanjutan pada lima daerah di Indonesia, salah satunya Pantai Batukaras. Kawasan wisata Pantai Batukaras dilengkapi satu buah Tempat Penampungan Sementara (TPS) yaitu TPS Legokpari. Permasalahan utama yang terkait pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Batukaras adalah penumpukan sampah di area TPS pada kondisi puncak lonjakan pengunjung. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengolahan sampah untuk meminimalkan residu yang diangkut menuju TPA dan mendukung diperolehnya sertifikasi sustainable tourism yang diakui oleh dunia. Pengolahan sampah dilakukan melalui pembangunan TPS 3R Batukaras yang terdiri dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik open windrow, pengolahan material daur ulang laku jual (kaca, logam, kertas, plastik), dan pengolahan sampah plastik PP dan PE pada reaktor pirolisis. Perancangan pengolahan sampah TPS 3R Batukaras dirancang mampu menangani sampah terpilah dari sumber menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah lain-lain dengan debit sampah masuk yang mampu diolah sebesar 4,95 ton/hari dengan komposisi utama sampah organik 61,73% dan sampah plastik 12,38%. Jumlah sampah yang diangkut menuju TPA Purbahayu adalah 31,34% dari jumlah sampah yang masuk dengana adanya TPS 3R Batukaras. Kebutuhan lahan minimal untuk pengelolaan sampah di TPS 3R Batukaras adalah 490,14 m2 .
KETIDAKSELARASAN STRATEGI INDUSTRI ASURANSI JIWA DI INDONESIA DI ERA EKONOMI DIGITAL: EVIDENSI DARI PERSEPSI PUBLIK TERHADAP NIAT PEMBELIAN DAN NIAT MEMPERTAHANKAN POLIS
Industri asuransi jiwa di Indonesia menunjukkan stagnasi dalam beberapa periode terakhir, sementara peningkatan ekonomi digital meningkatkan ekspektasi publik terhadap layanan asuransi jiwa meliputi kecepatan, kesederhanaan, transparansi, dan konsistensi lintas kanal. Hal ini perlu diidentifikasi, terutama dari persepsi publik, karena asuransi jiwa merupakan layanan berbasis kepercayaan yang tidak memberikan manfaat langsung, melainkan setelah risiko menjadi kenyataan. Oleh karenanya, kepercayaan penting dalam kaitannya dengan niat membeli dan retensi Penelitian ini mengkaji stagnasi industri asuransi jiwa melalui Perceived Strategic Misalignment (PSM), yang didefinisikan sebagai persepsi publik atas ketidaksesuaian antara apa yang diberikan industri dalam hal layanan dengan ekspektasi publik. Terdapat empat dimensi persepsi yang dimodelkan sebagai faktor kepercayaan yaitu ketidaksesuaian atas kompleksitas (kesulitan memahami spesifikasi produk), transparansi (ketidakjelasan informasi tentang ketentuan ketentuan polis), keandalan klaim (keraguan tentang proses klaim), dan integrasi layanan (informasi yang tidak konsisten di berbagai saluran). Hipotesisnya PSM yang lebih tinggi menurunkan kepercayaan publik dan kepercayaan yang lebih tinggi meningkatkan niat perilaku publik. Karena membeli polis dan melanjutkan polis merupakan proses yang berbeda, penelitian ini dibagi antara niat pembelian dan niat retensi. Model A menguji niat pembelian untuk non-pemegang polis dan Model B menguji niat retensi untuk pemegang polis. Desain penelitian didasarkan pada survei kualitatif dengan kuesioner online terstruktur. Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan bootstrapping digunakan untuk mengevaluasi hipotesis. Secara keseluruhan, dari penelitian ini, PSM menyiratkan penurunan kepercayaan terlepas dari perbedaan dimensi antara bukan pemegang polis dan pemegang polis, sementara kepercayaan yang lebih tinggi menghasilkan niat pembelian dan retensi yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan di industri ini, kepercayaan perlu dipulihkan dengan meningkatkan pengalaman publik melalui transparansi yang lebih baik, keandalan klaim, integrasi layanan, diikuti dengan produk dan proses yang lebih sederhana.
TRANSFORMASI MANAJEMEN PADA BISNIS KELUARGA DI PERKEBUNAN SAWIT: DARI MANAJEMEN INDEPENDEN MENUJU ORGANISASI PROFESIONAL DAN TERSTRUKTUR
Industri keluarga masih sangat kuat dalam industri agribisnis di Indonesia, terutama di industri kelapa sawit. Meskipun penting secara ekonomi, terdapat masalah struktural dan manajerial di sebagian besar perkebunan keluarga yang disebabkan oleh bentuk pengelolaan tradisional dan informal. Makalah ini mengeksplorasi bagaimana analisis pekerjaan dan manajemen modal manusia (HCM) dapat digunakan untuk mencapai perubahan manajemen dan keberlanjutan suksesi di perkebunan kelapa sawit milik keluarga di Sumatera Utara. Studi ini mendasarkan metodologinya pada studi kasus kualitatif, dan didukung dengan data kuantitatif yang terbatas mengenai produktivitas dan struktur tenaga kerja. Wawancara mendalam dengan pemilik perkebunan, anggota keluarga, dan karyawan kunci digunakan sebagai metode pengumpulan data primer, sedangkan observasi lapangan dan analisis dokumen juga digunakan sebagai metode tambahan. Berdasarkan struktur dalam kerangka kerja Braun dan Clarke (2006), analisis tematik digunakan untuk mengekstrak tema umum dalam hal peran pekerjaan, suksesi kepemimpinan, dan inisiatif profesionalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pekerjaan yang tidak terencana mengakibatkan kurangnya kejelasan tanggung jawab pekerjaan, duplikasi tugas, dan inkonsistensi dalam penyelesaian tugas di berbagai tingkatan. Kombinasi analisis pekerjaan dan model HCM seperti desain pekerjaan berbasis kompetensi, kerangka penilaian kinerja, dan manajemen talenta akan sangat meningkatkan kinerja organisasi dan membekali organisasi dengan transisi menuju kepemimpinan antar generasi. Perencanaan suksesi juga diakui oleh penelitian ini sebagai faktor penentu perubahan berkelanjutan, yang berkorelasi dengan pendekatan teoritis dalam teori bisnis keluarga, kekayaan sosioemosional, dan pengembangan modal manusia. Penelitian ini bermanfaat dalam memahami bagaimana agribisnis keluarga dapat ditransformasikan menjadi perusahaan yang dikelola secara profesional tanpa kehilangan nilai-nilai sosioemosional dan warisan perusahaan tersebut. Seperti yang ditunjukkan dalam kerangka kerja yang diusulkan, analisis pekerjaan merupakan kerangka kerja yang efektif untuk mendasarkan restrukturisasi sistem modal manusia, suksesi kepemimpinan, dan daya saing dalam jangka panjang di industri kelapa sawit milik keluarga di Indonesia.
MEKANISME OKSIDASI TEMPERATUR TINGGI PADA PELAPISAN DAN PADUAN FECR : PERAN KARBIDA DAN PENGARUH UKURAN BUTIR
Pelapisan pada material struktural seperti pipa boiler mengalami degradasi diakibatkan oksidasi. Pelapisan digunakan untuk melindungi material dengan membentuk oksida protektif seperti Cr2O3. Pada kenyataannya pembentukan Cr2O3 pada pelapisan memerlukan kandungan Cr yang tinggi, berbeda dengan paduan yang dapat membentuk Cr2O3 dengan kandungan Cr yang rendah. Pelapisan menggunakan serbuk FeCr dan campuran FeCr+Cr3C2-NiCr diaplikasikan menggunakan metoda high velocity oxygen fuel (HVOF). Paduan FeCr dibuat dengan menggunakan spark plasma sintering (SPS) kemudian heat treatment pada suhu 1100 °C selama 2 jam. Penambahan Cr3C2-NiCr pada pelapisan meningkatkan kandungan Cr pada pelapisan. Hasil oksidasi pada suhu 900 °C menunjukkan pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr memberikan ketahanan oksidasi lebih baik dan sebaliknya pada suhu 700 °C memiliki ketahanan oksidasi yang lebih rendah. Analisa XRD dan SEM menunjukkan pada suhu 700 °C terbentuk fasa Cr2O3 tipis yang memberikan ketahanan oksidasi pada pelapisan FeCr. Sedangkan pada suhu 900 °C pelapisan FeCr+Cr3C2-NiCr membentuk fasa FeCr2O4 yang tinggi dan menurunkan fasa Fe2O3 yang terbentuk. Secara termodinamika, karbida akan mengalami dekarburisasi dan membentuk Cr2O3. Paduan FeCr dikarakterisasi menggunakan EBSD untuk melihat ukuran butir. Paduan FeCr-NonHT memiliki ukuran butir lebih kecil dibandingkan dengan FeCr-HT. Kinetika oksidasi pada suhu 700 °C dan 900 °C menunjukkan penurunan penambahan massa pada paduan FeCr-HT. Ukuran butir yang besar mengurangi daerah pembentukan oksida di batas butir. Analisa XRD, SEM dan XPS menunjukkan oksida yang terbentuk pada permukaan paduan FeCr. Fasa yang terbentuk didominasi oleh Cr2O3 dan spinel. Sesuai dengan teori termodinamika Cr2O3 lebih mudah terbentuk.
ANALISIS DAN PERUMUSAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK JATINANGOR CITY PARK GUNA MENGEMBALIKAN DAYA SAING DI INDUSTRI PROPERTI JATINANGOR
Industri properti di Indonesia mengalami pertumbuhan positif pada tahun 2024, sektor hunian menjadi contributor khususnya di Jatinangor, Bandung. Tingginya permintaan properti sewaan untuk pegawai maupun mahasiswa menjadikan bisnis ini menarik bagi pengusaha penyewaan property. Tentunya pertumbuhan positif ini juga membawa dampak yaitu memperketat persaingat industri property di Jatinangor, sayangnya untuk Jatinangor City Park (Janati Park) harus mengalami tantangan bisnis yaitu penurunan pendapatan sebesar 17% pada 2024 meskipun kesempatan sedang mendukung. Pada pendahuluan data interal dan interview awal kepada pelanggan menunjukan bahwa mereka tidak jadi membeli dan lebih memilih pesaing dari Janati Park karena harga yang kurang cocok. Di sisi lain pelanggan yang sudah memilih Janati Park mengatakan mereka memilih Janati Park karena kedekatan lokasi dengan kantor maupun universitas menjadi faktor utama dalam pembelian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor eksternal dan internal yang memengaruhi Jatinangor City Park di industri properti dan pasar properti di Jatinangor, serta merumuskan strategi pemasaran yang tepat bagi Janati Park untuk meningkatkan kinerjanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menggunakan PESTEL, Porter’s Five Forces, Analisis Kompetitor, dan Analisis Pelanggan untuk memahami faktor eksternal, serta VRIO dan PDB untuk memahami faktor internal. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur dengan manajemen dan observasi partisipan. Studi ini mengusulkan strategi yang tepat dengan TOWS Matrix untuk memenangkan persaingan dan implementasi strategi PDB. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan Janati Park peta jalan untuk meningkatkan volume penjualan dan mencapai keberlanjutan bisnis.
AKSELERASI MONETISASI ASET PADA PROYEK HULU MINYAK DAN GAS BUMI: FAST-TRACKING STRATEGIS UNTUK EFISIENSI MODAL DAN MITIGASI OPPORTUNITY LOSS DI LAPANGAN MINYAK ALJAZAIR
Perusahaan Algeria Oil Company menghadapi tantangan untuk mempertahankan produksi di tengah penurunan alami produksi minyak. Untuk mengatasi penurunan ini, perusahaan perlu memulai Proyek Phase 5 yang terdiri dari pengeboran 12 sumur baru dan pembangunan fasilitas permukaan. Rencana dan jadwal proyek menunjukkan adanya keterlambatan 12 bulan antara selesainya pengeboran dan tahap put-on-production (POP), yang menimbulkan risiko serta potensi kehilangan peluang (opportunity loss) yang diperkirakan sebesar USD 68,06 juta. Studi ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab keterlambatan tersebut dan mengusulkan solusi yang layak secara teknis dan ekonomis untuk mempercepat jadwal proyek. Penelitian mixed-methods ini mengidentifikasi akar masalah menggunakan diagram Fishbone dan Cause Reality Tree, yang kemudian distratifikasi berdasarkan risiko nya (RPN) melalui analisis FMEA. Dari analisa menunjukkan risiko tertinggi terletak pada proses pengadaan long lead items (LLI) dimana dalam jalur kritis (CPM) aktivitas ini memiliki keterkaitan menghambat konstruksi fasilitas permukaan. Solusi pemulihan jadwal dipilih melalui metode AHP, lalu divalidasi secara finansial menggunakan model DCF dan analisis sensitivitas tornado chart untuk membandingkan nilai NPV serta IRR terhadap skenario business-as-usual." Berdasarkan simulasi AHP, strategi fast-tracking dengan in-house engineering dan split purchase order memperoleh skor tertinggi sebesar 0,403. Skor tersebut melampaui skenario business-as-usual (0,327) dan strategi penggunaan kembali material sumur (0,27). Strategi terpilih ini mengubah alur kerja proyek dari sekuensial menjadi paralel, sehingga berhasil memangkas durasi dari 645 hari menjadi 320 hari. Dari aspek ekonomi, strategi ini mampu meningkatkan NPV dari USD 431,29 juta menjadi USD 499,35 juta
USULAN PERBAIKAN PROSES PENGEMASAN ARANG MELALUI PENDEKATAN LINE BALANCING DI PT CHITRA KALPIKA MAS
PT Chitra Kalpika Mas merupakan perusahaan manufaktur arang yang mengalami permasalahan produktivitas pada divisi pengemasan, ditandai dengan seringnya terjadi keterlambatan pengiriman akibat tidak tercapainya target produksi. Berdasarkan data periode Mei 2024 – April 2025, rata-rata ketercapaian target produksi hanya sebesar 67,59%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan merancang usulan perbaikan untuk meningkatkan produktivitas lintasan pengemasan. Metode yang digunakan adalah pendekatan Lean Manufacturing untuk mengidentifikasi pemborosan atau inefisiensi dan Line Balancing dengan pemodelan Linear Programming untuk optimasi alokasi tugas dan stasiun kerja. Model optimasi dirumuskan menggunakan perangkat lunak Lingo. Hasil analisis kondisi eksisting menunjukkan konfigurasi 7 stasiun kerja dengan efisiensi lintasan hanya 37,04% dengan idle time 1.628,09 detik dan bottleneck pada stasiun pemotongan. Setelah optimasi, diusulkan konfigurasi baru dengan 10 stasiun kerja yang menurunkan cycle time dari 369,44 detik menjadi 123,70 detik. Usulan perbaikan ini berhasil meningkatkan efisiensi lintasan menjadi 77,44% dan mengurangi idle time secara signifikan menjadi 279,03 detik. Dengan alokasi 21 operator, kapasitas produksi meningkat dari 6.976 goni/bulan menjadi 13.330 goni/bulan, sehingga dapat memenuhi demand pasar sebesar 12.723 goni/bulan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi usulan perbaikan berbasis optimasi line balancing dapat mengatasi permasalahan produktivitas dan keterlambatan pengiriman di PT Chitra Kalpika Mas. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan dalam mengambil keputusan strategis terkait peningkatan efisiensi operasional dan sebagai dasar pengembangan penelitian lanjutan di bidang optimasi proses produksi.
DESAIN MUTASI TITIK PADA DOMAIN CARBOHYDRATE-BINDING MODULE (CBM) DAN PENGARUHNYA TERHADAP AKTIVITAS XILANASE GH43 DARI BACILLUS AMYLOLIQUEFACIENS ABBD
Xilan merupakan komponen utama hemiselulosa yang digunakan sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah di berbagai industri, seperti pemanis alami, bahan bakar hayati, bleached pulp, bioplastik, dan bahan pangan prebiotik. Pengolahan xilan secara konvensional umumnya menggunakan katalis asam kuat yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap segi operasional dan lingkungan. Xilanase dari keluarga glikosida hidrolase 43 (GH43) diketahui mampu menghidrolisis xilan menjadi xilosa dan xilooligosakarida. Biodegradasi menggunakan xilanase GH43 dapat menjadi alternatif pengolahan yang lebih ramah lingkungan. Tantangan utama dalam penerapan xilanase GH43 di industri adalah kemampuan enzim tersebut untuk mempertahankan aktivitasnya pada suhu tinggi (di atas 60 ?), sementara xilanase GH43 yang diisolasi dari Bacillus amyloliquefaciens ABBD pada penelitian ini memiliki aktivitas optimum pada suhu 50 ?. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang varian mutan xilanase GH43 dengan stabilitas dan afinitas yang lebih baik secara in silico, mengekspresikan gen pengodenya pada sistem E. coli ArcticExpress (DE3), serta menentukan aktivitasnya pada suhu 50 dan 60 ?. Desain varian mutan dilakukan berdasarkan studi literatur, analisis kestabilan residu menggunakan FoldX, dan prediksi afinitas melalui pendekatan molecular docking. Varian mutan terbaik kemudian diekspresikan dan diproduksi lalu hasilnya diverifikasi dengan SDS-PAGE. Xilanase GH43 wild-type dan mutan yang telah diekspresikan kemudian ditentukan aktivitasnya terhadap substrat xilan beechwood 1% b/v pada suhu 50 dan 60 ?. Hasil analisis in silico menunjukkan bahwa mutasi G406A merupakan kandidat mutasi tunggal terbaik dengan nilai ??G ?2,08 kkal/mol dan afinitas pengikatan substrat sebesar ?6,0 kkal/mol. Hasil ini mengindikasikan bahwa xilanase mutan memiliki stabilitas struktur yang lebih baik serta tetap dapat mempertahankan kemampuan pengikatan substratnya. Secara eksperimental, xilanase GH43 wild-type dan mutan berhasil diekspresikan dengan konsentrasi masing-masing sebesar 3,15 mg/mL dan 2,45 mg/mL. Uji aktivitas terhadap substrat xilan beechwood 1% (b/v) menunjukkan bahwa xilanase GH43 mutan memiliki aktivitas spesifik yang lebih tinggi dibandingkan wild-type, baik pada suhu 50 ? (0,034 vs 0,024 U/mg) maupun suhu 60 ? (0,042 vs 0,025 U/mg). Hasil ini membuktikan bahwa mutasi tunggal G406A pada domain Carbohydrate-Binding Module (CBM) secara efektif mampu meningkatkan aktivitas xilanase GH43 pada suhu 60 ? sehingga berpotensi untuk dapat digunakan dalam aplikasi industri.
PEMURNIAN DAN PENENTUAN AKTIVITAS XILANASE GH43 REKOMBINAN DARI BACILLUS AMYLOLIQUEFACIENS TERHADAP SUBSTRAT RYE ARABINOXYLAN DAN BEECHWOOD XYLAN
Xilanase merupakan enzim yang berperan dalam degradasi hemiselulosa, khususnya xilan. Degradasi xilan oleh xilanase menjadi penting untu1< menghasilkan gula bernilai tinggi sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan biomassa lignoselulosa da1am berbagai aplikasi bioteknologi. Penelitian ini bertujuan untu1< memproduksi, memumikan, dan menentukan aktivitas xilanase GH43 rekombinan dari Bacillus amyloliquefaciens ABBD terhadap substrat xilan dari tepung rye dan dari beechwood. Gen pengode xilanase GH43 diekspresikan secara heterolog dalam sel Escherichia coli Articexpress DE3. Xilanase yang dihasilkan E. coli ditentukan aktivitasnya dalam bentu1< ekstrak kasar dan dalam keadaan murni. Pengukuran aktivitas enzimatik dilakukan menggunakan metode dinitrosalisilat (DNS), berdasarkan pembentukan sejumlah gula pereduksi dari kedua jenis xilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen pengode xilanase GH43 rekombinan berhasil diekspresikan dan dimurnikan menggunakan krornatografi afmitas Ni-NTA, menghasilkan pita protein dengan ukuranmassa molekul sekitar 54,8 kDa yang sesuai dengan ukuran xilanase. Ekstrak kasar dan xilanase GH43 murni dapat mendegradasi substrat rye arabinoxylan dan beechwood xilan, masing masing pada konsentrasi I% dan 5% (b/v). Namun, xilanase GH43 murni menunjukkan aktivitas spesifik sebesar 7,607 U/mg pada substrat rye arabinoxylan, yang mana hampir 8 kali lebih tinggi dibandingkan pada beechwood xylan (0,961 U/mg). Efisiensi pemurnian didukung dengan nilai purification fold sebesar 50,38 ka1i dan rendemen 77,67% pada substrat rye. Hal ini mengonfirmasi bahwa xilanase GH43 memiliki spesifisitas substrat terhadap arabinoxylan. Karakteristik spesifisitas terhadap arabinoxylan memberikan keunggulan fungsional strategis, terutama untu1< aplikasi pakan ternak, produksi bioetanol, serta sintesis prebiotik xilooligosakarida (XOS). Dengan demikian, xilanase GH43 ini memiliki potensi besar untu1< dikembangkan dalam berbagai sektor industri bioteknologi.
IDENTIFIKASI MOLEKULER ISOLAT MIKROALGA ASAL DANAU VULKANIK TALAGA BODAS BERDASARKAN ANALISIS GEN 18S RRNA DAN RBCL
Mikroalga merupakan organisme produsen primer dengan keanekaragaman tinggi yang mampu beradaptasi di lingkungan ekstrem. Kawah Talaga Bodas di Jawa Barat merupakan danau vulkanik dengan karakteristik pH asam dan kandungan mineral tinggi yang berpotensi menyimpan mikroalga unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis spesies mikroalga isolat Talaga Bodas dengan menganalisis urutan gen pengode 18S rRNA dan rbcL serta menentukan kode batang DNA dari tersebut. Metode penelitian meliputi ekstraksi DNA menggunakan metode Chelex 100, amplifikasi fragmen gen melalui PCR (Polymerase Chain Reaction) menggunakan primer 18S rRNA 1 (daerah 0?1200 bp), 18S rRNA 2 (daerah 500?1700 bp) dan primer rbcL, serta penentuan jenis spesies dan kode batang berdasarkan urutan nekleotida kedua gen tersebut. Isolat menunjukkan karakteristik morfologi sel berbentuk bulat dengan rata-rata ukuran panjang 3?6 µm. Produk hasil PCR gen 18S rRNA 1 berukuran 1250 pb, 18S rRNA 2 berukuran 1310 pb, dan primer rbcL berukuran ~650 pb. Hasil analisis kromatogram sekuensing gen 18S rRNA dan rbcL menunjukkan puncak tunggal dan tajam yang mengonfirmasi isolat sebagai koloni tunggal. Urutan nukleotida fragmen gen 18S rRNA hasil contig kedua primer berukuran 1591 bp dan fragmen gen rbcL berukuran 635 bp. Analisis BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) dan pohon filogenetik menggunakan fragmen gen rbcL mengidentifikasi isolat sebagai Galdieria sulphuraria dengan identitas 100%. Namun fragmen gen 18S rRNA menunjukkan isolat sebagai Cyanidium caldarium dengan persen identitas 99,40%. Perbedaan hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik yang tinggi atau posisi filogenetik yang unik pada isolat lokal tersebut. Hasil kode batang DNA gen 18S rRNA memiliki penanda genetik spesifik pada urutan basa ke- 990 berupa basa guanin yang berbeda dengan genus lainnya. Pada gen rbcL, ditemukan penanda genetik pada urutan basa ke-64 (sitosin) dan basa ke-69 (adenin) yang berbeda dengan spesies lain. Secara keseluruhan, isolat terkonfirmasi kuat sebagai anggota Famili Cyanidiaceae, namun jenis spesies belum berhasil terkonfirmasi dengan pasti. Penelitian lanjutan melalui sekuensing keseluruhan genom sangat diperlukan untuk memastikan spesies mikroalga isolat Talaga Bodas.
KODE BATANG DNA UNTUK IDENTIFIKASI SPESIES MAKROALGA COKELAT SARGASSUM SP.
Makroalga cokelat genus Sargassum dari perairan Indonesia memiliki nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi, akan tetapi identifikasi spesiesnya secara morfologi seringkali mengalami kendala akibat variasi fenotipe yang tinggi, sehingga pendekatan molekuler seperti penggunaan kode batang DNA diperlukan untuk memastikan identitas spesies. Penelitian ini bertujuan untuk membuat kode batang DNA makroalga cokelat Sargassum sp. menggunakan fragmen gen 18S rRNA dan rbcL untuk mengidentifikasi jenis spesiesnya. Sampel makroalga dikoleksi dari Perairan Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah. Sampel yang secara morfologi menyerupai genus Sargassum kemudian dikeringkan, dibersihkan dari pasir dan kerang, didesalinasi, didisinfeksi, dan selanjutnya dikeringkan di udara terbuka. Sampel yang telah kering digerus dalam nitrogen cair hingga menjadi serbuk halus yang siap untuk digunakan dalam proses isolasi DNA melalui metode spin column (QiaGen) dan setiltrimetilamonium bromida (CTAB). DNA makroalga diamplifikasi dengan polymerase chain reaction (PCR) menggunakan primer gen 18S rRNA (V4?V5) dan rbcL, kemudian amplikon yang diperoleh disekuensing dengan metode Sanger. Isolat DNA makroalga yang diperoleh dari metode kolom putar memiliki konsentrasi sebesar 4,80 ng/?L, sedangkan ekstraksi dengan metode CTAB menghasilkan konsentrasi sebesar 26,55 ng/?L dan 51,50 ng/?L. Elektroferogram hasil amplifikasi 18S rRNA (V4?V5) dan rbcL masing-masing menunjukkan pita tunggal berukuran 650 dan 800 pb. Urutan DNA hasil sekuensing dan contig memiliki panjang 504 pb untuk fragmen gen 18S rRNA dan 793 pb untuk rbcL. Penyejajaran urutan fragmen 18S rRNA dengan bantuan program BLAST (NCBI) menunjukkan persen identitas (PID) 100% dengan Sargassum sp. dan ditemukan single nucleotide polymorphism (SNPs) spesifik genus Sargassum pada posisi basa ke- 58, 60, 80, dan 205. Sementara urutan fragmen gen rbcL memiliki persen identitas tertinggi (PID 95%) dengan genus Nitzschia. Pohon filogenetik dari penyejajaran urutan fragmen gen 18S rRNA menunjukkan hubungan kekerabatan tertinggi dengan genus Sargassum, sedangkan fragmen gen rbcL menunjukkan kekerabatan tinggi dengan mikroalga Nitzschia. Dengan demikian, kode batang DNA fragmen gen 18S rRNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi sampel makroalga cokelat hingga tingkat genus Sargassum. Sementara untuk fragmen gen rbcL diperlukan evaluasi lebih lanjut.