📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6,268 dokumen

STUDI KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA RAMI (BOEHMERIA NIVEA) DI KECAMATAN LEMBANG

Ketergantungan industri tekstil nasional terhadap impor serat kapas mendorong perlunya pengembangan sumber bahan baku alternatif yang dapat diproduksi secara lokal dan berkelanjutan. Rami (Boehmeria nivea) merupakan salah satu tanaman serat yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan karena produktivitasnya baik, dapat dipanen berulang, serta memiliki karakteristik serat yang unggul. Kecamatan Lembang memiliki kondisi agroklimat, topografi, dan akses pasar yang dinilai mendukung untuk pengembangan budidaya rami. Namun demikian, pengembangan komoditas ini memerlukan evaluasi kelayakan yang komprehensif agar implementasinya tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara sosial, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis wilayah potensial budidaya rami, (2) menilai kelayakan usaha berdasarkan aspek teknis, manajemen, sosial, lingkungan, pasar, dan finansial, serta (3) merumuskan strategi pengembangan budidaya rami di Kecamatan Lembang. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan kombinasi data kuantitatif dan kualitatif. Analisis spasial dilakukan untuk menilai kesesuaian lahan berdasarkan parameter biofisik. Data sosial diperoleh melalui kuesioner kepada petani menggunakan stratified random sampling dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan. Kelayakan finansial dianalisis melalui indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Payback Period (PP). Perumusan strategi dilakukan menggunakan matriks SWOT dan dilanjutkan dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian wilayah Kecamatan Lembang memiliki tingkat kesesuaian lahan yang memadai untuk budidaya rami, didukung oleh kondisi tanah, ketinggian, serta ketersediaan air. Dari aspek teknis dan manajemen, sistem budidaya dan dukungan kelembagaan dinilai dapat diimplementasikan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Secara sosial, tingkat penerimaan masyarakat tergolong baik meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait risiko usaha dan kepastian pasar. Dari sisi lingkungan, potensi dampak dapat dikendalikan melalui praktik konservasi tanah dan pengelolaan biomassa. Analisis pasar memperlihatkan adanya peluang permintaan serat rami, terutama dengan dukungan mitra off-taker. Evaluasi finansial menunjukkan bahwa usaha budidaya rami layak dijalankan dengan nilai NPV dengan nilai Rp541,54 juta; IRR dengan nilai 56%; Net B/C dengan nilai 1,6; serta PP dalam waktu sekitar 1-2 tahun. Berdasarkan analisis SWOT dan QSPM, strategi prioritas pengembangan diarahkan pada penguatan kemitraan industri, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan teknis, serta optimalisasi pemanfaatan lahan sesuai kesesuaian biofisik wilayah. Strategi ini memiliki implikasi berbeda bagi setiap stakeholder, di mana petani difokuskan pada peningkatan kapasitas teknis, perusahaan pada penguatan jaminan pasar dan pendampingan produksi, serta pemerintah pada penyediaan dukungan kebijakan dan kelembagaan.

2026
👤 Penulis: Irina Anindya Mustikasari
🏷️ Rami (Boehmeria Nivea) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN TATA KELOLA SISTEM OTOMASI INSPEKSI KONTAINER DI PELABUHAN

Pelabuhan Indonesia menghadapi permasalahan mendasar pada proses inspeksi kontainer dengan pemeriksaan fisik bagian luar yang masih sepenuhnya manual, sementara data hasil pemindaian X-Ray vendor tersimpan secara terisolasi (silo) dan tidak terintegrasi dengan Terminal Operating System (TOS) Nusantara maupun sistem kepabeanan Bea Cukai. Kondisi ini menyebabkan ketiadaan audit trail terpusat, lemahnya standarisasi data lintas entitas, serta absennya instrumen pemantauan Service Level Agreement (SLA) dari sisi Pelindo, yang pada akhirnya memicu antrean truk di Gate Out dan meningkatkan risiko operasional pelabuhan. Penelitian ini merancang kerangka tata kelola berbasis COBIT-Like untuk sistem inspeksi kargo digital terintegrasi bernama Cargovision menggunakan Double Diamond Framework dan Iterative Development, diselaraskan dengan standar COBIT 2019, ITIL 4, dan ISO 27001. Pemilihan solusi menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) menghasilkan model Tata Kelola Terpadu berbasis COBIT–ITIL sebagai alternatif terbaik dengan skor 93%. Solusi tata kelola mencakup pengaturan penggunaan komponen kecerdasan buatan untuk deteksi kerusakan fisik kontainer dan pemanfaatan API Gateway sebagai Anti-Corruption Layer berbasis pola Adapter untuk menstandarisasi payload data vendor. Tata kelola diperkuat melalui empat parameter SLA yang diturunkan dari dokumen Business Continuity Plan (BCP) IPC TPK, yaitu waktu respons API maksimal 2 detik, uptime di atas 99,5%, Mean Time to Restore maksimal 4 jam, dan integritas log data 100%. Evaluasi dilakukan secara kuantitatif terhadap delapan belas dokumen internal resmi IPC TPK dan secara kualitatif melalui expert judgement tiga praktisi terminal peti kemas. Berdasarkan matriks risiko, pemetaan kontrol, dan expert judgement, rancangan tata kelola yang diusulkan menurunkan estimasi risiko gangguan TI dan kerusakan alat dari kategori Tinggi menjadi Sedang. Rancangan ini juga menunjukkan arah peningkatan Maturity Level TI dari Level 2 (Terkelola) menuju Level 3 (Terdefinisi) pada domain DSS02, MEA01, dan APO03 dalam kerangka COBIT 2019.

2026
👤 Penulis: Eleanor Cordelia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko Teknologi Informasi

PENGARUH PAPARAN RADIASI ULTRAVIOLET C (UV-C) TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH ACACIA MANGIUM WILLD.

Acacia mangiumWilld. atau dikenal sebagai mangium termasuk salah satu spesies pohon yang dikategorikan sebagai spesies pohon multifungsi (Multipurpose Tree Species/ MPTS). Umumnya perkembangbiakan A mangium dilakukan secara generatif menggunakan benih. Namun benih Acacia mangium mengalami dormansi fisik yang disebabkan oleh adanya lapisan makrosklereid (sel yang mengalami lignifikasi) pada testa yang bersifat kedap air sehingga perlu diberikan perlakuan pendahuluan/skarifikasi untuk mematahkan dormansi fisik benih untuk memicu proses perkecambahan. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengeksplorasi aplikasi metode skarifikasi menggunakan paparan radiasi UV-C 250 nm pada benih Acacia mangium terhadap kondisi fisik dan perkecambahan benih serta menganalisis periode waktu optimal paparan radiasi UV-C terhadap perkecambahan benih. Penelitian dilakukan di Gedung Labtek VA, dimana pemberian paparan UV-C dilakukan di laboratorium silvikultur dan perkecambahan benih dilakukan pada ruang modifikasi berupa lemari yang dilapisi oleh plastik UV greenhouse dengan tebal 250 mikron. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu kontrol (AMC), paparan benih 6 jam (AM6), 4 jam (AM4), dan 2 jam (AM2). Masing-masing perlakuan akan memiliki 3 replikasi berisi 100 benih sebagai unit pengamatan. Terdapat 2 jenis parameter yang akan diamati yaitu parameter fisik dan fisiologis. Dalam parameter fisik akan diukur dimensi benih, berat 1.000 butir, kadar air, dan mikroskopi SEM sementara variabel fisiologis yang diamati berupa persentase perkecambahan (GP), laju perkecambahan (GR), rata-rata perkecambahan harian (MDG), nilai puncak (PV), dan nilai germinasi (GV). Semua variabel fisik benih sesuai dengan penelitian Krisnawati, et al (2011) kecuali kadar air dimana kadar air A. mangium didapatkan 2.19%. Kadar air benih yang terlalu rendah dapat menurunkan viabilitas benih. Sementara variabel pengamatan SEM menunjukkan retakan pada permukaan kulit benih yang diasumsikan akibat paparan UV-C. Pada variabel fisiologis, didapatkan GP tertinggi pada perlakuan AMC lalu AM4. Data menunjukkan bahwa durasi pemaparan pada perlakuan AM2 terlalu pendek untuk efektif dan AM6 cenderung berlebih. GR memiliki rata-rata 13 hari dengan paling cepat AM4. Berdasarkan nilai GV, AMC dan AM4 menunjukkan vigor atau potensi perkecambahan tertinggi. Analisis ANOVA satu arah menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada parameter fisiologis yang diukur. Saat dilakukan uji konfirmasi, didapatkan kemungkinan faktor yang menyebabkan GP lebih rendah dari penelitian lainnya adalah faktor kualitas benih yang diasumsi rendah karena kadar air yang di bawah ambang batas. Secara keseluruhan, penelitian menemukan bahwa perlakuan AM4 memiliki potensi sebagai perlakuan yang paling efektif namun diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan benih bermutu baik dan berasal dari spesies lain.

2026
👤 Penulis: Rafi Aditya Prasetyo
🏷️ Hidrologi 🏷️ Perkecambahan Benih 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGEMBANGAN IN-KERNEL FAST PATH BERBASIS EXTENDED BERKELEY PACKET FILTER / EXPRESS DATA PATH (EBPF/XDP) DENGAN ANTARMUKA MANAJEMEN TERPUSAT

Perkembangan infrastruktur jaringan modern memicu lonjakan volume lalu lintas data yang masif, sehingga menuntut sistem pemrosesan paket memiliki kinerja tinggi yang mampu menangani penerimaan paket data bervolume besar secara simultan. Pada arsitektur konvensional berbasis Linux, pemrosesan paket pada perangkat jaringan bergantung pada tumpukan protokol standar (standard kernel network stack). Jalur ini memiliki keterbatasan skalabilitas saat menerima paket dalam jumlah jutaan per detik akibat tingginya beban interupsi perangkat lunak (softirq) dan alokasi memori sk_buff yang kompleks. Kondisi tersebut memicu bottleneck yang menyebabkan degradasi throughput karena banyak paket gagal diterima akibat ketidakmampuan kernel standar mengimbangi laju trafik. Di sisi lain, solusi kernel bypass tradisional seperti DPDK atau VPP mampu mengeliminasi kendali kernel untuk mendongkrak performa, namun memiliki kelemahan fatal pada aspek keamanan dan efisiensi. Arsitektur pure bypass pada DPDK atau VPP menyebabkan hilangnya kendali fungsi keamanan native kernel sehingga tidak dapat melakukan inspeksi isi paket secara langsung, di samping adanya masalah konsumsi daya akibat alokasi CPU core sebesar 100% secara konstan untuk mekanisme busy-polling. Guna mengatasi dilema arsitektur tersebut, Tugas Akhir ini mengusulkan implementasi jalur data cepat di dalam kernel jaringan (in-kernel fast path data plane) pada node pengujian menggunakan integrasi teknologi extended Berkeley Packet Filter (eBPF) dan eXpress Data Path (XDP) yang menggabungkan performansi tinggi dengan kapabilitas stateless firewall yang tertanam langsung pada level terendah kernel. Tujuan penelitian ini adalah merancang, mengimplementasikan, dan memvalidasi sistem pada node pemroses paket yang mampu memaksimalkan volume paket data yang diterima hingga menyamai solusi kernel bypass, namun tetap mempertahankan fungsi inspeksi keamanan paket (firewalling) serta efisiensi CPU secara proporsional tanpa mekanisme busy-polling. Metodologi penelitian dibagi ke dalam tiga subsistem terintegrasi: subsistem eksperimen permrosesan eBPF/XDP menggunakan library cillium/ebpf berbasis Go, subsistem orkestrasi testbed multi-node menggunakan playbook Ansible, serta subsistem dashboard interaktif berbasis React.js. Pengujian eksperimen dieksekusi menggunakan perangkat general-purpose server pada Testbed ITB dengan network interface card 25Gbps untuk mengukur secara komparatif kemampuan throughput utilisasi CPU, dan fungsionalitas sistem XDP dibandingkan dengan linux kernel dan VPP. ii Berdasarkan hasil pengujian melalui berbagai skenario eksperimen otomatis pada lingkungan testbed, node pemroses paket berbasis eBPF/XDP menunjukkan peningkatan volume paket yang diterima secara superior. Pada skenario Single Traffic, performa rata-rata XDP mencapai laju penerimaan paket puncak sebesar 32,349 Mpps, setara dengan rasion efisiensi 103,7% dari capaian framework VPP, sekaligus melampaui target minimal keberhasilan sebesar 55%. Jika dibandingkan dengan standard kernel stack yang mengalami saturasi pada 8,429 Mpps, teknologi XDP memberikan peningkatan throughput sebesar kurang lebih 383%. Melalui log mpstat, utilisasi CPU terbukti berjalan proporsional terhadap volume trafik tanpa memaksa core bekerja penuh saat kondisi idle. Karakteristik pertumbuhan kurva menunjukkan XDP mampu menyamai VPP sejak konfigurasi 4 port pada single traffic dan 2 port pada skenario Multi Traffic dua arah. Implementasi otomatisasi terpusat juga berhasil mereduksi waktu operasional (Deployment Time Reduction Rate) hingga 78% dibandingkan konfigurasi manual. Sumbangan ilmiah penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam mendemonstrasikan bahwa optimasi arsitektur in-kernel fast path berbasis eBPF mampu melampaui performansi teknologi userspace bypass tradisional dalam menangani penerimaan paket skala besar, serta membuktikan bahwa sistem jaringan dapat beroperasi secara aman dan efisien.

2026
👤 Penulis: Athala Rania Insyra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN SISTEM SMART HOME BERBASIS COMPUTER VISION UNTUK ANALISIS TEMPORAL DAN PEMANTAUAN KEJADIAN BERISIKO MENGGUNAKAN VISION LANGUAGE MODEL

Rumah merupakan tempat yang diharap mampu memberikan rasa aman bagi penghuninya, tetapi berbagai data menunjukkan bahwa lingkungan rumah memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap berbagai insiden, baik yang berasal dari faktor eksternal seperti tindak kriminalitas maupun faktor internal seperti insiden jatuh. Sebagai bentuk reaksi terhadap kondisi tersebut, penggunaan sistem Closed-Circuit Television (CCTV) pada lingkungan rumah semakin meningkat, tetapi dengan kenyataan bahwa sebagian besar sistem pemantauan konvensional masih bekerja secara pasif tanpa kemampuan interpretasi otomatis. Selain itu, sebagian besar pendekatan Computer Vision (CV) yang ada masih bersifat single-task sehingga setiap skenario kejadian membutuhkan model yang terpisah dan menyebabkan kompleksitas sistem yang tinggi. Keterbatasan integrasi antara proses analisis visual, penyimpanan data kejadian, pembuatan ringkasan, serta interaksi berbasis bahasa natural juga mengakibatkan sistem pemantauan yang tersedia saat ini belum mampu menyajikan informasi yang mudah dipahami oleh penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menghasilkan sistem smart home berbasis CV yang mampu menganalisis aliran video secara otomatis dan akurat untuk mendeteksi dan menginterpretasikan kejadian berisiko di lingkungan rumah, khususnya kejadian yang memerlukan pemahaman konteks dan kondisi temporal, serta menyajikan informasi tersebut dalam bentuk peringatan dini terhadap kondisi berisiko, ringkasan aktivitas harian, dan interaksi percakapan melalui dashboard berbasis web. Pengembangan sistem dilakukan menggunakan bahasa pemrograman Python dengan arsitektur berbasis Docker yang terbagi atas tiga subsistem utama. Subsistem persepsi menggunakan model Vision Language Model (VLM) Qwen3-VL, LLaVA:v1.6, dan LLaVA-Llama3 melalui Ollama untuk menganalisis aliran video Real Time Streaming Protocol (RTSP) dan menghasilkan keluaran JavaScript Object Notation (JSON) yang memuat jenis kejadian, visibilitas wajah, dan observasi kejadian. Subsistem ini juga menerapkan motion detection untuk mendukung validasi kejadian ABNORMAL_INACTIVITY berdasarkan tidak adanya pergerakan dalam periode waktu tertentu serta mengintegrasikan modul pengenalan wajah berbasis face recognition untuk identifikasi individu. Fokus implementasi dan pengujian penulis berada pada skenario deteksi api dan deteksi ketidakbergerakan abnormal, sedangkan skenario deteksi orang yang tidak dikenal dan deteksi orang jatuh diimplementasikan oleh anggota kelompok lain. Subsistem logika dan data mengelola penyimpanan log kejadian ke dalam database MySQL, menjalankan mekanisme hybrid routing yang terdiri atas jalur Structured Query Language (SQL), jalur konteks, dan mekanisme fallback untuk mendukung interaksi chatbot berbasis bahasa natural, serta menghasilkan ringkasan aktivitas harian secara otomatis menggunakan Large Language Model (LLM). Subsistem interaksi menyediakan antarmuka dashboard berbasis Gradio yang menampilkan live webcam, keluaran JSON, snapshot, informasi sistem, chatbot, dan ringkasan aktivitas harian, sekaligus mengirimkan notifikasi peringatan serta ringkasan kepada pengguna melalui platform Telegram. Hasil pengujian pada sistem menunjukkan bahwa Qwen3-VL sebagai model VLM utama yang terpilih menghasilkan performa terbaik dibandingkan LLaVA:v1.6 dan LLaVA-Llama3 dengan tingkat akurasi sebesar 93,3% dalam mendeteksi tiga skenario kejadian, yakni deteksi api, deteksi ketidakbergerakan abnormal, serta kondisi normal. Selain itu, model Qwen3-VL juga menghasilkan nilai False Positive Rate (FPR) sebesar 8,3% serta F1 score mencapai 0,9 pada pengujian klasifikasi kejadian menggunakan dataset yang sama. Pada subsistem logika dan data, Gemma 3 sebagai model LLM utama yang terpilih mampu mencapai akurasi chatbot sebesar 100% dengan konsistensi jawaban berbahasa Indonesia formal yang lebih baik dibandingkan model Llama 3. Hasil pengujian integrasi menunjukkan bahwa sistem berhasil dijalankan menggunakan satu perintah docker-compose up tanpa adanya kegagalan, termasuk dashboard yang tetap dapat diakses tanpa interupsi selama proses pembaruan layanan backend. Meskipun demikian, kecepatan pemrosesan lebih dari 10 Frames Per Second (FPS) belum dapat dicapai oleh ketiga model yang diuji serta target rata-rata delay kurang dari 10 detik hanya berhasil dipenuhi oleh model LLaVA:v1.6 yang disebabkan oleh besarnya beban komputasi inferensi multimodal pada perangkat lokal. Kondisi ini menunjukkan adanya trade-off antara kemampuan interpretasi visual berbasis konteks dan performa inferensi sistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi VLM sebagai komponen persepsi multimodal yang berdiri sendiri dan mampu menangani berbagai skenario kejadian secara bersamaan, dikombinasikan dengan metode analisis temporal berbasis data riwayat kejadian, interaksi chatbot berbasis bahasa natural, dan deployment sistem terintegrasi berbasis kontainer yang mampu dijalankan hanya dengan satu perintah. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa bukti bahwa pendekatan berbasis VLM berpotensi secara signifikan dalam meningkatkan kemampuan interpretasi visual pada sistem smart home dibandingkan pendekatan deteksi konvensional, sekaligus menyediakan platform pembelajaran praktis bagi peneliti dan pengembang di bidang CV dan Artificial Intelligence (AI).

2026
👤 Penulis: Hasna Faadhilah Yusnizhan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Temporal

PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN SAMPAH BERBASIS INTERNET OF THINGS SEBAGAI DASAR ANALISIS POLA PEMBUANGAN SAMPAH

Pengelolaan sampah di lingkungan kampus menghadapi tantangan berupa kurangnya data terstruktur mengenai pola pembuangan sampah, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan berbasis data dalam jadwal pengangkutan dan alokasi sumber daya. Penelitian ini mengembangkan sistem pemantauan sampah berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mengotomasi pengumpulan data pembuangan sampah di Gedung Labtek VIII Institut Teknologi Bandung, khususnya pada area depan Laboratorium IoT Lantai 4, sebagai dasar bagi analisis pola pembuangan sampah. Sistem dirancang menggunakan arsitektur IoT 4-layer yang terdiri dari Perception Layer (mikrokontroler ESP32, sensor jarak VL53L0X, sensor arus INA219, dan modul GSM SIM800L), Network Layer berbasis protokol MQTT, Middleware Layer menggunakan Node-RED untuk pemrosesan aliran data, serta Application Layer dengan basis data Supabase dan dashboard Next.js untuk visualisasi data. Selama periode observasi 37 hari, tiga unit perangkat sensor berhasil mengumpulkan 816 records data dengan tingkat keberhasilan pengiriman sebesar 91,9%, dengan 805 records dinyatakan valid setelah filtering data kotor. Analisis deskriptif yang dilakukan terhadap data tersebut mengidentifikasi empat pola pembuangan sampah, yang terdiri dari tiga pola temporal dan satu pola komposisi, yaitu pola peak hour yang konsisten pada pukul 14:00–17:00 (29,6% dari total event penambahan), pola konsentrasi aktivitas pada jam kerja (07:00–19:00) di hari kerja, pola pengaruh hari libur berupa penurunan aktivitas pembuangan, serta pola dominasi sampah anorganik yang menyumbang 13 dari 27 event penambahan (48,1% dari total event) dengan kontribusi volume sebesar 51,7% dari total delta positif. Perangkat bawaan pihak ketiga diadaptasi melalui lima penyesuaian firmware, dengan empat di antaranya terbukti efektif dalam meningkatkan reliabilitas dan konsistensi pengukuran. Seluruh 10 kebutuhan fungsional dan 7 dari 8 kebutuhan nonfungsional sistem berhasil dipenuhi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) dapat menjadi dasar yang andal untuk menghasilkan wawasan terstruktur dalam mendukung pengelolaan sampah kampus.

2026
👤 Penulis: Jazmy Izzati Alamsyah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Pola Data 🏷️ Manajemen Sampah

PENGEMBANGAN PROTOTIPE AGEN PERCAKAPAN REFLEKTIF BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL DENGAN KERANGKA 5R

Refleksi diri merupakan proses penting dalam pembelajaran karena membantu individu memahami pengalaman, mengembangkan pemikiran kritis, serta membangun kesadaran diri. Namun, proses refleksi mandiri sering kali tidak terstruktur sehingga sulit mencapai refleksi yang mendalam. Penelitian ini bertujuan mengembangkan agen percakapan reflektif berbasis Large Language Model (LLM) yang mampu memfasilitasi refleksi terbimbing secara bertahap menggunakan kerangka 5R, yaitu Reporting, Responding, Relating, Reasoning, dan Reconstructing. Penelitian menggunakan pendekatan Design Science Research Methodology (DSRM) yang mencakup tahap identifikasi masalah, perancangan, implementasi, dan evaluasi artefak. Sistem dirancang menggunakan Finite State Machine (FSM) untuk mengendalikan alur refleksi, Stage Evaluator berbasis LLM-as-Judge untuk mengevaluasi kedalaman refleksi pengguna, serta Question Generator yang menghasilkan pertanyaan adaptif berdasarkan kondisi refleksi pengguna. Evaluasi teknis dilakukan terhadap 26 sesi refleksi yang menghasilkan 281 giliran percakapan dan 104 transisi state. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Stage Evaluator menghasilkan keputusan transisi yang konsisten dengan penilaian peneliti dengan tingkat kesesuaian sebesar 93,75%. Selain itu, evaluasi pengguna yang melibatkan 30 mahasiswa menunjukkan bahwa sistem dinilai relevan, membantu pendalaman refleksi, serta memberikan pengalaman refleksi yang aman dan terstruktur. Validasi ahli juga menunjukkan bahwa desain sistem telah selaras dengan prinsip refleksi terbimbing dan kerangka 5R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi FSM dan LLM berpotensi menjadi pendekatan yang efektif untuk mendukung refleksi terbimbing secara terstruktur dalam konteks pendidikan tinggi.

2026
👤 Penulis: Khansa Adilla Reva
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Desain Ilmiah 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

A MULTI-CRITERIA DECISION ANALYSIS FOR RIGLESS JOB SCOPE PRIORITIZATION: FRAMEWORK FOR STRATEGIC RIGLESS WELL CANDIDATE SELECTION

Intervensi sumur tanpa rig memainkan peran penting dalam mengembalikan produksi, menjaga integritas sumur, serta mendukung keberlanjutan aset pada operasi hulu minyak dan gas. Dalam praktiknya, perusahaan sering menghadapi situasi operasional yang dinamis, di mana beberapa kandidat Rigless muncul secara bersamaan, sementara kapasitas eksekusi dibatasi oleh anggaran, sumber daya, atau adanya perubahan kondisi keuangan Perusahaan secara mendadak. Tanpa adanya kerangka prioritisasi yang terstruktur, keputusan eksekusi Rigless dapat menjadi tidak konsisten dan sangat bergantung pada penilaian subjektif, terutama ketika perusahaan berada dalam kondisi keterbatasan finansial atau menghadapi strategi eksekusi yang terlalu agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pendukung keputusan yang sistematis dalam memprioritaskan program intervensi sumur Rigless dengan menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kerangka ini mengintegrasikan berbagai kriteria teknis, operasional, ekonomi, serta risiko untuk menentukan prioritas relatif dari tujuan program Rigless. Penilaian para ahli dikumpulkan dan disintesis untuk membentuk hierarki prioritas yang jelas di antara berbagai alternatif yaitu pengurangan Lost Production Opportunity (LPO), pemulihan integritas sumur, evaluasi sumur lapangan dan stimulasi sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan LPO menjadi prioritas tertinggi karena dampaknya yang langsung dan signifikan terhadap pemulihan produksi. Selanjutnya, pemulihan integritas sumur menjadi prioritas penting sebagai prasyarat utama untuk operasi yang aman dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut, disusun pula panduan prioritisasi Rigless sebagai solusi bisnis utama yang menerjemahkan hasil analisis ke dalam aturan praktis terkait pelaksanaan maupun penundaan pekerjaan, yang dapat diterapkan dalam kondisi banyaknya kandidat secara bersamaan serta adanya keterbatasan finansial maupun operasional. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada transformasi hasil analisis prioritas menjadi acuan pengambilan keputusan bisnis yang dapat diimplementasikan, sehingga dapat mendukung keputusan eksekusi Rigless yang konsisten, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kerangka yang diusulkan memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan strategi eksekusi Rigless secara efektif, baik dalam kondisi eksekusi yang agresif maupun dalam situasi keterbatasan keuangan tanpa menambah kompleksitas operasional.

2026
👤 Penulis: Harry Kurniawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko

ESTIMASI CADANGAN KLAIM ASURANSI UMUM MENGGUNAKAN MODEL PAID–INCURRED CHAIN DENGAN STRUKTUR DEPENDENSI PAID-INCURRED

Cadangan klaim merupakan estimasi kewajiban perusahaan asuransi atas klaim yang telah terjadi tetapi belum seluruhnya dibayarkan. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengestimasi cadangan klaim asuransi umum menggunakan model Paid-Incurred Chain dengan struktur dependensi paid-incurred. Model ini menggabungkan informasi paid claims dan incurred losses melalui transformasi log-ratio, estimasi parameter, pembentukan korelasi berdasarkan lag, serta penyusunan matriks kovariansi. Korelasi paid-incurred diestimasi menggunakan metode paired bootstrap pada residual log-ratio terstandarisasi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa total cadangan klaim model PIC dengan dependensi adalah 1.529.569,96. Nilai ini lebih rendah dibandingkan Chain Ladder paid sebesar 1.561.506,34, PIC korelasi nol sebesar 1.663.033,87, dan Chain Ladder incurred sebesar 1.697.057,62. Akar MSEP model PIC dengan dependensi sebesar 46.773,64. Berdasarkan 100.000 simulasi Monte Carlo, diperoleh VaR 95% sebesar 1.607.133,94 dan CVaR 95% sebesar 1.626.950,50. Dengan demikian, model PIC dengan dependensi mampu menghasilkan estimasi cadangan klaim yang mempertimbangkan informasi paid, incurred, dan hubungan antara keduanya.

2026
👤 Penulis: Reydivaswara Rahmarsha
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko Asuransi

KEBEBASAN SIPIL DAN SEKTOR INFORMAL: ANALISIS LINTAS NEGARA DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KEPATUHAN TERHADAP HAK-HAK KETENAGAKERJAAN

Informalitas menimbulkan tantangan yang signifikan bagi perusahaan yang beroperasi lintas batas dengan meningkatkan ketidakpastian regulasi, risiko kepatuhan, dan paparan reputasi dalam rantai nilai global. Penelitian ini mengkaji apakah kebebasan sipil berkaitan dengan perbedaan tingkat informalitas antarnegara dan apakah hubungan tersebut tetap bertahan ketika kepatuhan terhadap hak-hak ketenagakerjaan turut dipertimbangkan. Dengan menggunakan data potong lintang untuk 91 negara pada tahun 2023, analisis ini memanfaatkan estimasi informalitas dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), ukuran kebebasan sipil dari Freedom House, serta indikator kepatuhan hak ketenagakerjaan dari WageIndicator Foundation. Regresi Ordinary Least Squares (OLS) digunakan dengan mengendalikan tingkat pembangunan ekonomi, pendidikan, dan investasi asing langsung. Temuan menunjukkan bahwa kebebasan sipil yang lebih kuat berkaitan dengan tingkat informalitas yang lebih rendah dalam model dasar. Namun, hubungan ini melemah setelah kepatuhan hak ketenagakerjaan dimasukkan, sementara institusi yang terkait dengan penegakan hukum tetap memiliki keterkaitan yang kuat dengan informalitas. Hasil ini mengindikasikan bahwa kebebasan sipil saja memberikan sinyal yang tidak lengkap mengenai keandalan regulasi. Sebaliknya, kapasitas penegakan hukum memainkan peran sentral dalam membentuk hasil pasar tenaga kerja yang relevan bagi perusahaan multinasional. Penelitian ini berkontribusi pada kajian bisnis internasional dengan memperjelas bagaimana kebebasan politik dan institusi penegakan hukum secara bersama-sama membentuk risiko regulasi antarnegara. Kata kunci: Informalitas; kebebasan sipil; kepatuhan hak ketenagakerjaan; kapasitas penegakan hukum; rantai nilai global; ketenagakerjaan; pasar tenaga kerja

2026
👤 Penulis: Kiara Regina Putri
🏷️ Informalitas 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ALGORITMA EMBEDDINGPADA PELABELAN GRAF GRACEFUL ANTIMAGIC

Pelabelan graceful dan antimagic merupakan dua jenis pelabelan graf yang banyak dikaji dalam teori graf. Sebuah graf G dengan q sisi dikatakan graceful apabila terdapat fungsi injektif f : V (G) ? {0, 1, . . . , q} sedemikian sehingga himpunan label sisi { |f(u) ? f(v)| : uv ? E(G) } tepat sama dengan {1, 2, . . . , q}. Suatu pelabelan sisi dikatakan antimagic apabila bobot setiap simpul, yaitu jumlah label sisi yang berinsiden dengan simpul tersebut, bernilai berbeda untuk setiap simpul. Penelitian ini memperkenalkan konsep graceful antimagic embedding, yaitu mengonstruksi supergraf H ? G dari sebuah graf terhubung G sehingga H memenuhi syarat pelabelan graceful dan antimagic secara bersamaan. Untuk mengonstruksi H, dirancang algoritma berbasis stochastic heuristic yang bekerja melalui dua strategi, yaitu internal filling (menambahkan sisi antar simpul yang telah ada) dan external filling (menyematkan simpul baru), dengan evaluasi antimagic secara look-ahead pada setiap langkah. Eksperimen dilakukan terhadap seluruh kelas isomorfisme graf terhubung dengan banyak sisi q = 3 hingga q = 12, dengan total 40.962 tipe graf. Algoritma yang diusulkan berhasil menyelesaikan seluruh kasus uji dengan tingkat keberhasilan 100%, dengan waktu komputasi meningkat seiring bertambahnya q, dari 0,002 detik pada q = 3 hingga 131,587 detik pada q = 12. Berdasarkan hasil tersebut, diajukan konjektur bahwa setiap graf terhubung G dapat di-embed ke dalam suatu supergraf H ? G yang memenuhi pelabelan graceful dan antimagic secara bersamaan.

2026
👤 Penulis: Alma Nur Fadillah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Teori Graf 🏷️ Algoritma Optimis

HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN KERJA FISIK DENGAN TINGKAT KELELAHAN PADA PT. X

Industri kimia pada umumnya beroperasi selama 24 jam sehingga menerapkan sistem kerja shift agar dapat beroperasi secara kontinu. Sistem kerja shift berisiko menyebabkan kelelahan kerja. Kelelahan kerja akibat faktor sistem kerja shift bersama dengan paparan faktor fisik di lingkungan produksi dapat menurunkan produktivitas sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara kebisingan, iklim kerja, dan intensitas pencahayaan dengan kejadian kelelahan pada pekerja grup D dalam tiga shift di PT X. Desain penelitian adalah repeated measures dengan total 20 responden. Pengukuran kebisingan dilakukan menggunakan sound level meter, iklim kerja dengan alat Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), dan intensitas pencahayaan dengan lux meter. Kelelahan diukur secara subjektif melalui kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) serta objektif dengan data denyut jantung (%CVL), data oksimetri (SpO?) dan data reaction timer. Perbedaan nilai skor IFRC, %CVL, selisih oksimetri, dan waktu reaksi pada pekerja grup D dalam tiga shift diuji dengan uji Friedman serta uji Wilcoxon Signed-Rank. Hubungan variabel independen terhadap variabel dependen dianalisis dengan korelasi Spearman. Variabel independen yang dominan terhadap variabel dependen diketahui dengan uji Generalized Estimating Equations. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa shift siang merupakan periode dengan tingkat kelelahan tertinggi berdasarkan uji statistik Wilcoxon pada tiga indikator kelelahan. Berdasarkan analisis korelasi Spearman, faktor lingkungan dan karakteristik responden memiliki hubungan signifikan dengan %CVL. Berdasarkan uji statistik Wilcoxon, periode pemulihan paling rendah pada indikator kelelahan %CVL berada di shift siang dan malam serta pada indikator kelelahan waktu reaksi berada di shift malam. Berdasarkan uji statistik Generalized Estimating Equations, iklim kerja merupakan faktor fisik di lingkungan kerja yang paling signifikan dalam kenaikan tingkat kelelahan pada indikator %CVL dan oksimetri.

2026
👤 Penulis: Mohamad Zaki Satrio Adhi
🏷️ Keuangan Industri Kimia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KEPUTUSAN STRATEGIS PT KPI UNIT VI BALONGAN DALAM MEMENUHI KEBIJAKAN BAHAN BAKAR ULTRA RENDAH SULFUR DI WILAYAH JAKARTA DAN JAWA BARAT

Meningkatnya tingkat polusi udara di Jakarta dan Jawa Barat telah mempercepat kebutuhan akan bahan bakar transportasi yang lebih bersih di Indonesia. Meskipun PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit VI Balongan saat ini telah mematuhi standar kualitas produk yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kilang tersebut menghadapi tekanan regulasi mendatang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk meningkatkan standar kualitas setara Euro IV dan V. Mulai awal tahun 2027, seluruh produk bensin dan diesel wajib memiliki kandungan sulfur maksimal 50 ppm wt sesuai dengan mandat nasional untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Sebagai kilang utama yang memasok kebutuhan kedua wilayah tersebut, RU VI memiliki Nelson Complexity Index (NCI) tertinggi (11,9) di Indonesia; namun, konfigurasi saat ini belum memiliki kapasitas desulfurisasi yang cukup untuk memenuhi ambang batas yang lebih ketat tersebut pada seluruh lini produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi optimal bagi RU VI Balongan guna mencapai kepatuhan Ultra-Low Sulfur Fuel (ULSF). Pendekatan metode campuran (mixed-method) digunakan dalam studi ini, yang mencakup analisis SWOT dan PESTLE, penilaian celah kapabilitas (gap capability assessment), serta Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP dipilih secara khusus untuk memberikan kerangka kerja yang kuat bagi penilaian profesional (professional/wisdom judgment), yang memungkinkan integrasi pengalaman ahli dan intuisi teknis dari para praktisi industri senior ke dalam model matematika terstruktur. Hal ini memastikan bahwa justifikasi untuk strategi yang dipilih tidak hanya berdasarkan titik data semata, tetapi juga mencerminkan realitas operasional kilang yang ada. Penelitian ini mengevaluasi beberapa jalur strategis, termasuk optimasi crude slate, peningkatan proses, dan kemajuan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Optimasi Operasi, Revamp dan sumber eksternal dari RU lain merupakan alternatif strategi yang paling efektif, karena menawarkan biaya pemrosesan terendah dengan tetap menjaga ketangkasan operasional. Temuan ini menegaskan bahwa penyelarasan antara KLHK, ESDM, BUMN, Danantara, dan Pertamina Holding sangat penting untuk keberhasilan transisi ini. Peta jalan strategis yang terintegrasi ini memastikan RU VI Balongan tidak hanya mencapai kepatuhan regulasi, tetapi juga memperkuat perannya dalam transisi bahan bakar bersih nasional melalui peningkatan kualitas produk, keandalan operasional, dan kinerja lingkungan.

2026
👤 Penulis: Yulianto Triwibowo
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS PROYEK INVESTASI INTERKONEKSI LISTRIK EKSTERNAL PLN DENGAN SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK UTILITAS PT KILANG PERTAMINA INTERNATIONAL REFINERY UNIT III PLAJU

PT Kilang Pertamina Internasional merupakan perusahaan dengan kegiatan bisnis pengolahan minyak bumi menjadi produk bernilai tinggi. Kilang Plaju adalah salah satu fasilitas produksi di Palembang dimana pada bagian utilitas terdapat tiga (3) turbin gas-generator untuk pembangkitan tenaga listrik. Konfigurasi operasi sistem pembangkit listrik RU III Plaju di bagian utilitas adalah menjalankan dua (2) turbin gas sementara satu (1) turbin gas dalam keadaan siaga dengan distribusi beban sebesar 14 MW untuk GT UA/UB dan 10 MW untuk GT UC. Kedua turbin gas- generator tersebut beroperasi tidak pada kapasitas desainnya (beban parsial) sehingga tidak efisien. Biaya perawatan yang tinggi dan adanya peningkatan harga gas alam sebagai bahan bakar gas turbine menyebabkan biaya operasi menjadi tinggi. Tulisan ini memberikan usulan peningkatan dengan melakukan proyek interkoneksi listrik eksternal PLN dengan utilitas RU III Plaju. Proyek tersebut memberikan peluang untuk mengurangi biaya operasi dimana PLN memiliki tarif listrik yang lebih murah untuk industri. Analisis SWOT digunakan untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kelayakan. Analisis teknis bertujuan untuk menilai apakah proyek ini dapat diimplementasikan. Analisis keuangan diperlukan untuk menilai profitabilitas jangka panjang melalui proyeksi biaya investasi, biaya operasi, dan penghematan biaya yang didapat. Analisis kelayakan finansial yang digunakan yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP). Selain itu, analisis risiko aspek teknis mengacu pada prosedur assessment risiko ISO 3100:2018 dan finansial menggunakan simulasi Monte Carlo untuk mengetahui impact, probabilitas, beserta mitigasi risikonya. Hasil analisa teknis menunjukkan proyek ini dapat diimplementasikan dengan konfigurasi integrasi operasional yaitu 1 (satu) turbine gas-generator beban 12 MW + listrik eksternal PLN beban 12 MW. Proyek ini dapat meningkatkan efisiensi energi melalui penurunan Energy Intensity Index (EII) sebesar 6,41 – 10,03 poin. Selain itu, integrasi ini juga meningkatkan kehandalan dan fleksibilitas supply power dengan tetap memenuhi kebutuhan uap melalui 1 (satu) WHRU dan 2 (dua) boiler yang beroperasi. Hasil analisa finansial menunjukkan proyek ini merupakan investasi yang menguntungkan dengan parameter NPV sebesar Rp. 223,64 miliar, IRR sebesar 25,9% vs 11,4% syarat minimum tingkat pengembalian, dan PBP 4,1 tahun. Berdasarkan analisa resiko aspek teknis, salah satu risiko yang signifikan dengan residual level medium dari proyek ini adalah gangguan jaringan listrik PLN dimana perlu dilakukan mitigasi untuk meminimalkan resiko seperti sistem proteksi, pemisahan otomatis, serta prosedur darurat apabila terjadi kehilangan daya dari PLN. Dari aspek risiko finansial, hasil simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa proyek ini layak meskipun terdapat resiko dengan probabilitas NPV positif sebesar 90,85% dan probabilitas NPV negative sebesar 9,15%.

2026
👤 Penulis: Ardhi Septian
🏷️ Interkoneksi Listrik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

STRATEGI IMPLEMENTASI REGULASI TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI (TKDN) DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR KABEL SERAT OPTIK, STUDI KASUS PADA PT ZTT INDONESIA

Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) telah menjadi instrumen kebijakan yang penting bagi pemerintah untuk memperkuat industri domestik, mendorong penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah nasional. Di Indonesia, pemerintah menetapkan tingkat kandungan lokal minimum sebesar 40% untuk produk yang digunakan dalam pengadaan pemerintah. Regulasi ini memberikan dampak signifikan terhadap industri yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur nasional, termasuk sektor manufaktur kabel serat optik. Seiring dengan percepatan pengembangan infrastruktur digital di Indonesia untuk mendukung konektivitas nasional serta agenda pembangunan jangka panjang dalam kerangka Visi Indonesia Emas 2045, permintaan terhadap kabel serat optik terus meningkat. Namun demikian, implementasi kebijakan TKDN di industri ini masih menghadapi berbagai tantangan struktural, khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan dan daya saing bahan baku yang diproduksi di dalam negeri. Penelitian ini mengkaji strategi implementasi dan peningkatan kandungan lokal dalam industri manufaktur kabel serat optik melalui studi kasus pada PT ZTT Indonesia. Sebagai salah satu produsen kabel utama yang mendukung proyek infrastruktur kelistrikan dan telekomunikasi nasional, PT ZTT Indonesia harus memenuhi ketentuan TKDN sekaligus menjaga efisiensi operasional dan daya saing produknya. Meskipun perusahaan telah menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan tingkat kandungan lokal pada produknya, perusahaan masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Secara khusus, komponen penting pada lapisan pelindung kabel serat optik sebagian besar masih diperoleh dari pemasok luar negeri, yang disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi serta konsistensi kualitas dari produsen domestik. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menganalisis potensi manfaat dari peningkatan nilai kandungan lokal bagi PT ZTT Indonesia. Kedua, mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam memenuhi ketentuan TKDN. Ketiga, merumuskan jalur strategi yang dapat mendukung peningkatan kinerja kandungan lokal secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan fokus pada perspektif manufaktur dan rantai pasok. Data diperoleh melalui dokumentasi internal perusahaan, analisis regulasi, laporan industri, serta masukan dari para pemangku kepentingan. Alat analisis yang digunakan meliputi Fishbone Diagram dan siklus Plan–Do–Study–Act (PDSA) untuk mengidentifikasi akar penyebab berbagai kendala yang ada serta mengembangkan strategi implementasi yang praktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kandungan lokal memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi PT ZTT Indonesia. Tingkat kandungan lokal yang lebih tinggi dapat meningkatkan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi pengadaan pemerintah, memperkuat daya saing dalam proyek infrastruktur, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pengembangan industri nasional. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa hambatan utama dalam implementasi TKDN. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan ketersediaan dan ketidakkonsistenan kualitas bahan baku domestik, biaya bahan baku lokal yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bahan impor, keterbatasan kemampuan teknologi pada pemasok lokal, serta kompleksitas regulasi yang mempengaruhi kebijakan impor dan proses sertifikasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan sejumlah inisiatif strategis untuk meningkatkan kinerja TKDN. Strategi tersebut meliputi penguatan kemitraan dengan pemasok bahan baku domestik, pelaksanaan program pengembangan pemasok dan transfer teknologi, optimalisasi proses produksi internal untuk meningkatkan nilai tambah domestik, serta peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan guna mendukung inovasi material dan proses lokalisasi. Selain itu, kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku industri dan institusi pemerintah juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem industri hulu serta memastikan ketersediaan bahan baku domestik yang kompetitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kinerja kandungan lokal dalam industri kabel serat optik memerlukan pendekatan yang seimbang dan terintegrasi, yang menggabungkan kepatuhan terhadap regulasi, pengembangan rantai pasok, serta peningkatan kapabilitas industri. Bagi PT ZTT Indonesia, implementasi strategi tersebut dapat meningkatkan daya saing perusahaan dalam proyek infrastruktur nasional sekaligus mendukung tujuan yang lebih luas untuk memperkuat kapasitas manufaktur domestik dan mendorong pembangunan industri yang berkelanjutan di Indonesia. Temuan penelitian ini juga memberikan wawasan kebijakan bagi regulator dalam merancang kerangka kebijakan TKDN yang lebih adaptif dan kolaboratif, sehingga tujuan kebijakan dapat selaras dengan realitas rantai pasok industri.

2026
👤 Penulis: Zhao Haiwei
🏷️ Regulasi Industri 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 51 dari 418
💬