📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5,228 dokumenSINTESIS KARBOKSIMETIL KITOSAN DALAM MEDIUM CAIRAN ION DAN STUDI POTENSINYA SEBAGAI ENKAPSULATOR GLIMEPIRIDE
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang terjadi karena gangguan metabolisme glukosa darah, terdapat dua tipe DM yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2, dengan DM tipe 2 merupakan kontributor terbesar dalam kasus penyakit diabetes. DM tipe 2 dapat diminimalisasi dengan pemberian obat, glimepiride merupakan salah satu obat yang dapat menstimulasi sekresi insulin di dalam tubuh. Namun, glimepiride memiliki kelarutan yang rendah dalam air sehingga kinerjanya di dalam tubuh menjadi tidak optimal. Oleh karena itu agen penghantar obat diperlukan sebagai bagian dari drug delivery system (DDS). Salah satu agen penghantar obat adalah polimer yang dapat mengenkapsulasi zat terapeutik seperti glimepiride. Senyawa turunan kitosan, yaitu karboksimetil kitosan (CMCS), digunakan dalam penelitian ini karena bersifat lebih mudah terdegradasi dalam air, sehingga lebih mudah terdegradasi secara biologis. Dalam penelitian ini, CMCS disintesis dari kitosan yang diisolasi dari limbah kulit udang Litopenaeus vannamei. Sintesis CMCS dilakukan melalui reaksi karboksimetilasi dengan metode konvensional dan Microwave- Assisted Organic Synthesis (MAOS) menggunakan variasi medium cairan ion turunan imidazol, yaitu 1-butil-3-metilimidazolium klorida ([BMIm]Cl), 1-butil-3- metilimidazolium bromida ([BMIm]Br), 1-etil-3-metilimidazolium bromida ([EMIm]Br), dan 1-etil-3-metil imidazolium asetat ([EMIm]OAc). Karakterisasi terhadap CMCS dilakukan menggunakan spektrofotometri FTIR dan NMR, Particle Size Analyzer (PSA), dan Zeta Potential Analyzer (ZPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan hasil isolasi memiliki nilai derajat deasetilasi (DD) sebesar 70,43%. Sintesis CMCS menggunakan metode MAOS dalam medium [BMIm]Cl menghasilkan produk dengan kelarutan terbaik dalam air dengan nilai derajat substitusi (DS) sebesar 0,67. Uji enkapsulasi menunjukkan bahwa penggunaan pengemulsi Tween 80 memberikan efisiensi enkapsulasi (%EE) tertinggi sebesar 94,3% dibandingkan dengan pengemulsi cairan ionik. Karakterisasi stabilitas partikel menunjukkan bahwa CMCS komersial memiliki stabilitas yang lebih baik daripada CMCS hasil sintesis. Studi pelepasan obat secara in vitro dengan metode uji disolusi dengan medium phosphate buffered saline (PBS) menunjukkan bahwa mekanisme pelepasan glimepiride mengikuti model difusi Fickian, yaitu obat dilepaskan secara perlahan melalui pori-pori matriks enkapsulator.
OPTIMASI PENGELOMPOKAN BENTUK LOG MENGGUNAKAN BERBAGAI METODE EKSTRAKSI FITUR DAN ALGORITMA CLUSTERING BERBASIS MACHINE LEARNING DI LAPANGAN NVS
Identifikasi elektrofasies sangat krusial untuk memahami heterogenitas internal reservoar, terutama pada lapangan dengan morfologi log yang kompleks di mana interpretasi manual seringkali bersifat subjektif. Penelitian ini mengembangkan alur kerja otomatis berbasis data yang mengintegrasikan metode ekstraksi fitur—Statistik, CNN Autoencoder, dan LSTM Autoencoder—dengan algoritma clustering: K-Means, BIRCH, dan Gaussian Mixture Model (GMM). Metodologi ini diaplikasikan pada data log Gamma Ray dari 66 sumur yang mencakup 16 reservoar di Lapangan NVS, Cekungan Sumatera Tengah, melalui tahapan pra-pemrosesan, ekstraksi fitur, clustering, serta evaluasi kinerja menggunakan Silhouette Score dan Davies–Bouldin Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSTM Autoencoder menghasilkan representasi fitur yang paling tangguh dengan kemampuan menangkap pola sekuensial yang bergantung pada kedalaman. Model optimal yang dihasilkan berhasil mengidentifikasi struktur kelompok elektrofasies yang merepresentasikan lingkungan pengendapan Tidal Bar Axis (TBA), Tidal Bar Off-Axis (TBO), dan Tidal Bar Margin (TBM). Secara kuantitatif, stabilitas clustering tertinggi dicapai pada Reservoar H (Silhouette Score 0,6763), sementara Reservoar I mencatat skor terendah (0,3325) akibat kompleksitas geologi yang tinggi. Validasi eksternal mengonfirmasi akurasi geologi model, di mana hasil clustering secara akurat mampu mendelineasi tren pengendapan Barat Laut–Tenggara (NW-SE) yang selaras dengan interpretasi geologi dan garis korelasi ahli. Studi ini membuktikan bahwa kombinasi deep learning berbasis urutan (sequence-aware) dengan clustering mampu menghasilkan model yang stabil dan konsisten secara geologi untuk memetakan distribusi spasial litologi bawah permukaan, bahkan pada kondisi data yang terbatas.
ANALISIS KONFIGURASI TERHADAP KAPASITAS VERTIPORT DUA PAD DENGAN PENDEKATAN DISCRETE EVENT SIMULATION
Vertiport merupakan infrastruktur pendukung utama dalam menyediakan sarana lepas landas dan pendaratan bagi pesawat dalam ekosistem Advanced Air Mobility (AAM). Pesatnya minat terhadap AAM khususnya di daerah perkotaan atau Urban Air Mobility (UAM) dihadapkan pada tantangan dalam membangun vertiport pada daerah dengan padat rintangan (obstacles) dan area yang terbatas. Penelitian ini merupakan pengembangan lanjutan yang bertujuan untuk menganalisis kapasitas vertiport dengan dua pad dengan melakukan variasi terhadap konfigurasi, jumlah stand, konsep operasi, serta variasi waktu turn around pesawat. Operasional vertiport dimodelkan dan disimulasikan dengan pendekatan Discrete Event Simulation (DES), pada konfigurasi vertiport Linear dan Satelit. Jumlah stand divariasikan sebanyak 4, 6, 8, dan 10 stand, dengan variasi waktu turnaround deterministik sebesar 5 sampai 30 menit dengan pertambahan 5 menit. Konsep operasi yang diuji untuk vertiport dengan konfigurasi Linear meliputi Independen dan Segregated. Selain itu, dilakukan simulasi dengan menambahkan efek stokastik pada waktu turnaround untuk melihat respons vertiport terhadap faktor operasional acak. Simulasi menunjukkan pada waktu turnaround 5 menit urutan pergerakan pesawat sangat rapat menyebabkan sejumlah stand mengalami delay bahkan kegagalan untuk melakukan taxi out. Terdapat penurunan kapasitas 6-28% pada vertiport linear segregated, 9-22% pada vertiport linear independen, dan 11- 28% pada vertiport satelit pada setiap varian jumlah stand terhadap penambahan waktu turnaround yang disimulasikan antara 15 30 menit. Penambahan jumlah stand memberikan keuntungan terhadap kapasitas vertiport untuk waktu turnaround panjang pada setiap konfigurasi yang disimulasikan, dengan peningkatan 100-120%. Vertiport linear independen dengan 4 stand memiliki kapasitas 1,9% lebih besar, dengan 6 stand memiliki kapasitas 3,6% lebih besar, dengan 8 stand memiliki kapasitas 9,5% lebih besar, dengan 10 stand memiliki kapasitas 19,3% lebih besar dari vertiport linear segregated. Secara umum kapasitas total vertiport linear mengalami penurunan dengan waktu turnaround stokastik. Vertiport linear independen memberikan kapasitas terbesar 163 dan 229 pesawat pada varian 4 dan 6 stand, dan vertiport satelit memberikan kapasitas terbesar 266 dan 299 pesawat pada varian 8 dan 10 stand.
PENENTUAN RUTE OPTIMAL PERMASALAHAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DARI DEPOT KE LEMBAGA PENYALUR MENGGUNAKAN MODA TRANSPORTASI MULTI-COMPARTMENT DISKRIT DAN PENGALOKASIAN KENDARAAN KE LOADING BAY
Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan permasalahan logistik kompleks yang melibatkan rute multi-kompartemen, pengangkutan multi-produk, penugasan kendaraan ke loading bay, serta keterbatasan fasilitas dan waktu operasi. Penelitian ini mengembangkan model Mixed-Integer Linear Programming (MILP) untuk menyelesaikan Multi-Compartment Vehicle Routing Problem (MCVRP) dengan mengintegrasikan keputusan routing, penugasan kompartemen dan produk, penjadwalan multi-trip, serta sequencing kendaraan pada loading bay dalam satu kerangka optimasi terpadu. Model mempertimbangkan biaya perjalanan, biaya tetap kendaraan, dan waktu menganggur (idle time) akibat antrean loading, sehingga mampu merepresentasikan proses distribusi BBM secara lebih realistis dalam horizon operasi 24 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model MILP menghasilkan solusi optimal untuk dataset kecil, namun mengalami keterbatasan komputasi pada skala besar. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan algoritma greedy konstruktif yang membangun solusi secara bertahap berdasarkan prioritas pelanggan, produk, kompartemen, dan loading bay. Algoritma greedy mampu menghasilkan solusi dengan kualitas mendekati optimal (optimality gap 0–7%) dengan waktu komputasi yang jauh lebih singkat, serta tetap feasible pada skala besar ketika MILP tidak dapat diselesaikan secara eksak. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi penugasan dan sequencing loading bay berperan penting dalam mengendalikan waktu tunggu kendaraan dan meningkatkan efisiensi operasional depot. Model MILP direkomendasikan sebagai alat perencanaan strategis dan benchmark optimalitas, sedangkan algoritma greedy sangat sesuai untuk implementasi operasional harian. Pendekatan yang diusulkan memberikan kontribusi pada pengembangan MCVRP berbasis biaya dan waktu serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan yang mempertimbangkan ketidakpastian dan perencanaan distribusi multi-periode.
PENGEMBANGAN ADSORBEN KATIONIK SUPERPARAMAGNETIK BERBASIS NANO FE3O4 UNTUK PENYERAPAN ZAT RADIOAKTIF IODINE-131
Metode penyerapan zat radioaktif iodine-131 (¹³¹I) yang efisien terus menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan ¹³¹I di berbagai bidang seperti produksi ¹³¹I, kedokteran nuklir dan keselamatan lingkungan. Dalam penelitian ini, nanopartikel magnetit (Fe?O?) yang difungsionalisasi dengan benzalkonium klorida (Fe?O?-BKC) disintesis melalui metode ko-presipitasi in-situ satu langkah, menghasilkan adsorben superparagmagnetik, bermuatan positif pada seluruh rentang pH dan memiliki kinerja yang optimal dalam menyerap zat radioaktif ¹³¹I. Keberhasilan modifikasi dikonfirmasi oleh FTIR dengan kemunculan puncak khas BKC, EDS dengan terdeteksinya unsur C, N dan peningkatan Cl serta pengukuran zeta potensial yang menunjukkan perubahan muatan Fe?O? menjadi positif di seluruh rentang pH. Berdasarkan uji adsorpsi yang dilakukan, material Fe?O?-BKC menunjukkan kapasitas adsorpsi ¹³¹I sebesar 4174,4 ± 24,5 MBq g-1, nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Fe?O? tanpa modifikasi. Penentuan kapasitas adsorpsi diperoleh melalui pengukuran langsung radioaktivitas ¹³¹I pada fase padat adsorben, yang merepresentasikan nilai adsorbat yang terserap sebenarnya. Adsorpsi paling efektif terjadi pada pH di atas titik isoelektrik, dengan pH optimum berada pada kisaran 7–9. Proses adsorpsi mengikuti model isoterm freundlich dan kinetika pseudo-orde kedua. Selain itu, adsorben dapat diregenerasi dengan mudah melalui perendaman singkat selama 1 menit, yang mampu mengembalikan kapasitas adsorpsi secara penuh. Temuan ini menunjukkan bahwa Fe?O?-BKC merupakan adsorben yang sangat menjanjikan karena memiliki kapasitas adsorpsi terhadap ¹³¹I yang tinggi, dapat dikendalikan secara magnetik, dan dapat diregenerasi untuk penggunaan berulang, sehingga berpotensi besar untuk berbagai aplikasi adsorpsi ¹³¹I.
ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA TAMBAK UDANG PUTIH (LITOPENAEUS VANNAMEI) UNTUK PENGEMBANGAN STRATEGI BUDIDAYA UDANG DI KECAMATAN GEROKGAK, KABUPATEN BULELENG, BALI
Udang putih (Litopenaeus vannamei) sebagai komoditas unggulan akuakultur di Indonesia memiliki nilai produksi yang tinggi. Secara khusus di Bali, produksi udang putih mencapai angka 8.830 ton. Indonesia menargetkan peningkatan nilai ekspor udang putih sebesar 250% dari tahun 2018. Namun dalam mencapai target, timbul masalah penurunan kondisi lingkungan terutama kualitas air yang mempengaruhi daya dukung dan produktivitas. Dampak tersebut dirasakan secara nyata terutama oleh pembudidaya udang putih di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali yang mengganggu keberlanjutan usaha. Penelitian terhadap status keberlanjutan dan pengembangan strategi dilakukan dengan analisis terhadap kondisi pembudidaya. Pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara untuk menghasilkan data kuantitatif serta kualitatif. Penelitian terhadap kondisi lingkungan dilakukan dengan menganalisis kondisi kerapatan dan luas hutan mangrove dengan penginderaan jauh serta perbandingan terhadap data produksi budidaya udang. Selain itu dilakukan pengecekan kualitas air di ekosistem hutan mangrove, laut, dan tambak budidaya udang putih di Kecamatan Gerokgak untuk mengetahui kelayakan ekologis serta daya tampung terhadap limbah. Analisis keberlanjutan menggunakan metode RAPFISH. Hasil analisis dikembangkan menjadi strategi dengan metode SWOT. Posisi strategi ditentukan dengan IE matrix dan dianalisis lebih lanjut dengan metode QSPM. Hasil yang diperoleh menunjukan terdapat korelasi antara kerapatan dan luas hutan mangrove terhadap produksi udang putih. Kerapatan hutan mangrove yang paling tinggi menurun dari 3 titik menjadi 1 titik dari tahun 2023-2024, serta diikuti dengan penurunan luas dari 604,8 ha menjadi 527,1 ha. Kondisi yang sebanding dengan penurunan produksi udang sebesar 14,45%. Meskipun demikian, indeks pencemaran di area hutan mangrove dan laut masih rendah. Hal tersebut karena daya akomodasi limbah tambak sebesar 196,313 kg/m3 mampu menampung limbah nitrogen (192,53 kg/m3/hari) dan fosfat (77,438 kg/m3/hari) yang paling tinggi saat masa akhir budidaya. Sehingga, secara indeks pencemaran dari lingkungan mangrove dan laut masih normal. Kondisi yang menunjukan daerah Gerokgak masih layak secara ekologis untuk budidaya udang putih. Nilai status keberlanjutan adalah 63,19% menunjukan tingkat potensial, dengan tingkat keberlanjutan paling tinggi dari dimensi teknologi (90,61%) dan paling rendah dari dimensi ekonomi (35,235%). Potensi tersebut perlu didukung dengan strategi pengembangan. Hasil analisis SWOT menunjukan posisi strategi dalam IE Matrix, yaitu hold and maintain. Strategi prioritas yang perlu diimplementasikan berdasarkan hasil QSPM adalah penggunaan biofilter sebagai teknologi pengolahan air dengan nilai TAS 35,886. Dilanjutkan strategi penggunaan formulasi pakan serta bahan aditif yang dapat meningkatkan imunitas dengan nilai TAS 35,528 dan strategi memanfaatkan komunitas budidaya yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan dengan nilai TAS 33,135. Oleh karena itu, implementasi strategi lebih berfokus terhadap peningkatan teknologi untuk pengembangan ekonomi, sehingga memperkuat kondisi ekologis dan sosial terhadap budidaya di Kecamatan Gerokgak. Implementasi strategi dilaksanakan dengan skema bertahap setiap 3 tahun sebagai proses peningkatan, pembangunan, dan penguatan keberlanjutan.
SIMULASI PROTOKOL PENCEGAHAN RUNWAY INCURSION DI BANDARA DUAL-USE DENGAN BLUESKY: STUDI KASUS BANDARA KALIMARAU
Bandara Kalimarau merupakan bandara dual-use yang menangani 5.384 penerbangan sipil dan 424 operasi militer per tahun, sehingga memiliki risiko runway incursion yang signifikan bila koordinasi tidak diatur secara ketat. Penelitian ini mengidentifikasi kelemahan kritis pada dokumen eksisting, karena koordinasi sipil-militer masih bergantung pada kesepakatan umum tanpa definisi jarak aman, kriteria pemisahan waktu, dan prosedur penanganan konflik yang baku. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method sequential explanatory dengan tiga fase. Fase pertama menganalisis tiga studi kasus internasional menggunakan Swiss Cheese Model untuk mengungkap pola kegagalan berlapis, fase kedua menjalankan enam skenario simulasi BlueSky, dan fase ketiga melakukan triangulasi untuk menilai konsistensi antara temuan kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif menemukan lima faktor dominan penyebab runway incursion, yaitu komunikasi implisit, hilangnya kesadaran situasional, celah prosedural dalam dokumen, beban kerja pengontrol yang tinggi, dan minimnya dukungan teknologi deteksi konflik. Simulasi kuantitatif menunjukkan bahwa skenario safe menghasilkan peningkatan Closest Point of Approach (CPA) hingga lebih dari sepuluh kali lipat, penurunan frekuensi konflik lebih dari 90 persen, pengurangan Detection time, dan eliminasi kejadian loss of separation, dengan perbedaan signifikan dibandingkan skenario baseline. Triangulasi menegaskan bahwa kombinasi intervensi prosedural dan teknologi bertahap yang diterapkan di Changi dapat diadaptasi untuk konteks Kalimarau. Berdasarkan gap analysis, penelitian ini menyusun draft protokol Letter of Operational Coordination Agreement (LOCA) baru yang mencakup prosedur hold-short 50 meter dari runway, manajemen kedatangan sekuensial dengan pemisahan 5 menit, fraseologi eksplisit dengan three-part readback dan frasa khusus penyeberangan, peta jalan implementasi bertahap teknologi, serta pembentukan runway safety team lintas lembaga. Kontribusi utama penelitian adalah kerangka integrasi studi kasus dan simulasi untuk perancangan protokol pencegahan runway incursion berbasis bukti pada bandara dual-use, yang dapat direplikasi di bandara penggunaan bersama lain di Indonesia.
THERMODYNAMIC ANALYSIS OF ADSORPTION FREEZE-DRYING SYSTEM FOR FOOD PRESERVATION
Pembusukan pangan terjadi akibat keberadaan air yang mendukung reaksi kimia dan pertumbuhan mikroorganisme. Pengurangan kadar air yang mencapai water activity kurang dari 10% terbukti mampu memperpanjang umur simpan produk. Namun, proses untuk mencapai kadar air ini memerlukan waktu lama dan konsumsi energi yang tinggi. Konsumsi energi dapat dikurangi dengan meningkatkan efisiensi dengan mempelajari proses dan karakteristik metode pengawetan ini. Proses freeze-drying bisa ditingkatkan efisiensinya melalui modifikasi sistem vakum dengan mengintegrasikan ejector yang dipasang pada sebuah generator uap, sehingga memungkinkan sistem pendingin ini untuk memanfaatkan panas buang dari sistem lain. Oleh karena itu kajian termodinamika terhadap sistem freezedrying adsorpsi untuk preservasi makanan ini dilakukan. Analisis termodinamika dilakukan untuk memperoleh neraca massa dan energi freezedrying adsorpsi. Pendekatan ini diawali dengan memperkirakan massa air yang ada di dalam ruang pengeringan berdasarkan ukuran sebuah unit pendingin kecil sebagai pembatas. Lalu, perhitungan energi mencakup proses berbeda yang terjadi, yaitu energi pembekuan dan energi sublimasi. Perhitungan dilakukan menggunakan persamaan kalor sensible dan kalor laten dengan mempertimbangkan massa air tersimpan, sifat termofisik bahan makanan dan fluida tersisa di ruang vakum. Hasil neraca massa digunakan untuk memastikan jumlah energi terpakai sesuai dengan kebutuhan energi pembekuan, energi sublimasi, dan energi mempertahankan temperature dari kebocoran panas ke dalam ruang vakum. Neraca energi mengevaluasi energi masuk kedalam sistem melalui pemanas untuk mengimbangi proses pendinginan, menjaga temperatur dan penggunaan pompa. Kinerja sistem dianalisis melalui perhitungan kinerja sistem yang menghasilkan energi efektif untuk proses sublimasi terhadap total energi yang disuplai untuk melakukan proses dan total waktu proses untuk sublimasi. Nilai COP memberikan indicator kuantitatif tingkat efisiensi termal sistem freeze-drying konvensional. Dalam ruang vakum, perpindahan panas dari bahan makanan terjadi melalui konduksi dan radiasi akibat minimnya proses pergerakan massa fluida. Radiasi berkontribusi sekitar 40–60% terhadap total perpindahan panas, sedangkan konduksi dipengaruhi oleh kadar air tersimpan oleh bahan. Variasi koefisien konduksi oleh bahan makanan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap durasi proses karena tidak terjadi kontak langsung antara bahan dan evaporator. Lamanya proses terutama disebabkan oleh rendahnya laju perpindahan panas dari bahan ke evaporator, yang sangat bergantung pada kandungan air awal. Pemberian panas hingga suhu 60oC terbukti mampu mengurangi waktu sublimasi sebesar 54–58%, tergantung pada kadar air bahan tanpa membuat bahan melalui denaturasi. Hasil ini menunjukan bahwa optimasi sistem vakum dan strategi pemanasan dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi proses freeze-drying.
PERENCANAAN STRATEGIS DAN PENILAIAN EKONOMI UNTUK MEMPERPANJANG UMUR TAMBANG PIT X PT ABC
Penelitian ini mengevaluasi dua opsi strategis untuk memperpanjang umur tambang batubara Pit X PT ABC yang telah matang melampaui tanggal penutupan tahun 2027. Studi ini membandingkan rencana relokasi sungai (Skenario 1) dengan pendekatan terintegrasi yang menambahkan depresurisasi lereng (Skenario 2). Tujuannya adalah untuk menentukan strategi mana yang menawarkan nilai ekonomi superior di tengah ketidakpastian pasar dan regulasi. Kerangka metode campuran menggabungkan analisis PESTEL dan VRIO untuk menilai kondisi eksternal dan kapabilitas internal, dilanjutkan dengan model diskonto arus kas (DCF) terperinci menggunakan tingkat diskonto 13,31%. Hasil keuangan menunjukkan Skenario 2 memberikan kinerja lebih kuat, dengan NPV sebesar IDR 2.321,20 miliar, IRR 60,46%, dan periode pengembalian modal 1,96 tahun, mengungguli Skenario 1 (NPV: IDR 2.283,41 miliar, IRR: 40,68%, pengembalian: 7,29 tahun). Nilai tambah berasal dari peningkatan stabilitas lereng, yang mengurangi pengupasan overburden sebesar 16,4%, meningkatkan perolehan batubara, dan menurunkan kebutuhan lahan. Simulasi sensitivitas dan Monte Carlo mengonfirmasi ketahanan Skenario 2, mengidentifikasi biaya produksi dan harga batubara ekspor sebagai faktor risiko utama. Studi ini menyediakan kerangka strategis-keuangan terintegrasi untuk mengevaluasi proyek optimasi pertambangan dan memberikan PT ABC rekomendasi jelas untuk mengadopsi strategi depresurisasi lereng. Pendekatan ini memaksimalkan imbal hasil ekonomi sekaligus meningkatkan keselamatan operasional dan daya saing jangka panjang.
PENINGKATAN KINERJA PASOKAN BATUBARA MELALUI OPTIMASI ALIRAN BATUBARA LEAN DAN KAPASITAS STOCKPILE
Penelitian ini mengkaji sistem pasokan batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang disuplai langsung dari tambang batubara, di mana batubara ditampung di stockpile utama (livestock) sebelum diserap oleh PLTU. Seiring dengan meningkatnya produksi dan permintaan batubara, sistem menghadapi tantangan operasional terkait pengelolaan safety stock, keterbatasan kapasitas stockpile, dan inefisiensi aliran batubara. Dalam kondisi saat ini, fluktuasi penyerapan batubara oleh PLTU dan produksi tambang yang relatif stabil mengharuskan livestock mempertahankan persediaan minimum. Namun, keterbatasan kapasitas livestock menyebabkan kelebihan batubara harus disimpan di temporary stockpile, yang menimbulkan aktivitas penanganan berulang, jarak angkut lebih panjang, dan peningkatan biaya operasional. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kinerja pasokan batubara melalui integrasi analisis safety stock, perencanaan kapasitas livestock, dan penerapan aliran batubara yang lebih efisien. Penelitian ini bertujuan menentukan kebutuhan safety stock yang sesuai, mengevaluasi kapasitas optimal livestock untuk menyeimbangkan produksi dan permintaan PLTU, serta menganalisis potensi pengurangan biaya dari implementasi perbaikan. Metode kuantitatif digunakan dengan menggunakan data operasi tahun 2024 serta proyeksi produksi dan permintaan batubara periode 2025–2027. Perhitungan safety stock dilakukan berdasarkan dinamika permintaan, lead time, dan tingkat layanan 95%. Analisis kapasitas dan cost-benefit digunakan untuk membandingkan kondisi saat ini dengan skenario perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan safety stock meningkat dan melampaui batas minimum yang diterapkan saat ini, sementara kapasitas livestock terbukti tidak memadai. Perluasan kapasitas livestock dan pengurangan ketergantungan pada temporary stock mampu menurunkan intensitas penanganan, jarak angkut, dan biaya operasional. Penelitian ini memberikan kerangka analisis terintegrasi untuk mendukung pasokan batubara yang lebih handal dan efisien secara ekonomis.
PERUMUSAN EKOSISTEM PARIWISATA HALAL BERDASARKAN FAKTOR PALING BERPENGARUH TERHADAP NIAT BERKUNJUNG WISATAWAN MUSLIM
Industri pariwisata halal global mengalami pertumbuhan yang sangat pesat seiring meningkatnya permintaan perjalanan dari wisatawan Muslim. Namun, perkembangan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan strategis, seperti fragmentasi kebijakan antar destinasi, ketidakkonsistenan standar layanan halal, serta belum adanya standar sertifikasi halal yang terintegrasi. Kondisi ini berpotensi menciptakan pengalaman wisata yang tidak seragam, meningkatkan ketidakpastian bagi wisatawan Muslim, serta melemahkan tingkat kepercayaan dan menurunkan minat berkunjung wisatawan terhadap destinasi yang menerapkan konsep pariwisata halal. Selain itu, banyak destinasi masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan infrastruktur halal yang memadai, promosi yang kurang efektif, serta akses informasi halal yang masih sulit, khususnya melalui platform digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pariwisata halal mengalami perkembangan, perkembangan tersebut masih memiliki berbagai kekurangan, sehingga diperlukan strategi yang komprehensif dengan pendekatan ilmiah dan sistematis untuk memahami faktor-faktor penentu minat berkunjung wisatawan Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi niat berkunjung wisatawan Muslim dalam berwisata halal, (2) menentukan faktor yang paling berpengaruh terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim, serta (3) merumuskan strategi yang paling tepat sebagai rekomendasi untuk pengembangan konsep pariwisata halal. Penelitian ini dibangun atas grand theory Theory of Planned Behavior, yang diperluas dengan konstruk-konstruk kontekstual yang relevan dengan pariwisata halal, yaitu religiusitas, kesadaran halal, citra destinasi, kepercayaan terhadap destinasi, nilai yang dirasakan, dan norma subjektif, yang diuji pengaruhnya terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner daring yang disebarkan menggunakan berbagai platform media sosial melalui Google Forms. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling, dengan kriteria responden berupa wisatawan Muslim. Jumlah responden yang terkumpul sebanyak 212 responden, dan data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan perangkat lunak SmartPLS untuk menguji model. Hasil pengujian outer model dan inner model menunjukkan bahwa model telah memenuhi kriteria pengujian yang disyaratkan. Selanjutnya, hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa religiusitas, kesadaran halal, dan norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim. Sebaliknya, variabel citra destinasi, kepercayaan terhadap destinasi, dan nilai yang dirasakan tidak berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim dalam penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor internal individu dan faktor sosial, seperti komitmen religius, kesadaran terhadap prinsip halal, serta pengaruh lingkungan sosial, memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan faktor-faktor evaluatif terhadap atribut destinasi dalam membentuk niat berkunjung wisatawan Muslim. Berdasarkan hasil temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi pengembangan pariwisata halal berbasis pendekatan ekosistem. Pendekatan ini menekankan bahwa penciptaan nilai bagi wisatawan tidak dapat dihasilkan oleh satu aktor secara terpisah, melainkan memerlukan keterpaduan peran dan koordinasi antaraktor yang saling melengkapi. Ekosistem pariwisata halal yang diusulkan dalam penelitian ini melibatkan empat aktor utama yang saling terhubung, yaitu: (1) pemerintah dan institusi publik sebagai pembuat kebijakan, penetap standar minimum layanan halal, serta penyedia infrastruktur pendukung; (2) lembaga sertifikasi halal dan otoritas keagamaan sebagai penyedia legitimasi, kepercayaan, dan edukasi halal; (3) pelaku industri pariwisata, pengelola destinasi, dan komunitas lokal sebagai penyedia layanan dan pengalaman wisata yang ramah Muslim; serta (4) platform digital, penyedia informasi, dan influencer sebagai saluran diseminasi informasi halal, pembentuk norma sosial, dan pengurang ketidakpastian. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada integrasi antara temuan empiris mengenai faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap niat berkunjung wisatawan Muslim dengan perumusan strategi berbasis ekosistem yang aplikatif, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan strategis bagi para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesiapan, daya saing, dan keberlanjutan pengembangan pariwisata halal.
MEMBANGUN MANAJEMEN PERUBAHAN UNTUK EFEKTIVITAS ORGANISASI DI STUDIO ARSITEKTUR
Seiring dengan pertumbuhan signifikan sektor kreatif, studio arsitektur menghadapi sebuah tantangan yaitu mencoba menyeimbangkan kreativitas dan proses formalisasi untuk merubah pendekatan menjadi lebih berorientasi bisnis. Penelitian ini mengambil studi kasus Studio A, sebuah studio arsitektur yang sedang berkembang di Indonesia dan didirikan sejak tahun 2010. Studio A telah mencoba menjalani serangkaian inisiatif perubahan untuk menyesuaikan dengan tujuan strategis organisasinya. Inisatif perubahan ini juga didorong oleh perkembangan internal dan eksternal yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, yaitu dengan merestrukturisasi sistem organisasi menjadi lebih “semikorporat” dan mendirikan unit bisnis baru. Meskipun inisiatif perubahan ini telah dibentuk, Studio A belum dapat mengimplementasikannya secara efektif, sehingga inisiatif tersebut menjadi tertunda. Untuk mengatasi masalah bisnis ini, penelitian ini dilakukan untuk menjawab 3 pertanyaan penelitian berikut: (1) Bagaimana tingkat efektivitas organisasi saat ini di Studio A dibandingkan dengan tingkat efektivitas yang diinginkan melalui inisiatif perubahan?, (2) Bagaimana proses perubahan organisasi saat ini selaras dengan kerangka kerja manajemen perubahan untuk mendukung reformasi organisasi yang sukses?, dan (3) Apa tindakan strategis yang harus diimplementasikan Studio A untuk meningkatkan proses manajemen perubahan dan memastikan reformasi organisasi yang efektif?. Kondisi ideal dan kondisi saat ini efektivitas organisasi Studio A dievaluasi menggunakan kerangka kerja McKinsey 7S. Setelah kesenjangan antara dua kondisi tersebut telah diidentifikasi, proses perubahan yang dilakukan Studio A dianalisis menggunakan kerangka kerja Kotter 8-step change management untuk menentukan langkah paling tepat dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi Studio A. Beberapa temuan menunjukkan ada beberapa hal mendasar yang menghambat proses perubahan di Studio A. Selain itu, Kotter 8-step change management dapat menjadi acuan untuk proses perubahan Studio A terutama lima langkah pertama yang berfokus pada melunturkan status quo organisasi. Berdasarkan temuan ini, penelitian ini merekomendasikan serangkaian tindakan strategis yaitu mendefinisikan visi, mengatur otonomi pengambilan keputusan, menetapkan program pengembangan kepemimpinan untuk manajer dan supervisor, menetapkan perekrutan bertahap dan mengevaluasi efektivitas peran, menetapkan manajemen talenta dan jenjang karier, serta menyelaraskan kompensasi dan rekognisi untuk karyawan.
EVALUASI EFEK SINERGIS KOMBINASI NANOPARTIKEL TIO2 DENGAN SURFAKTAN ANIONIK DAN ANIONIK-NONIONIK UNTUK APLIKASI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK
Peningkatan perolehan minyak lanjut diperlukan untuk mengatasi penurunan produksi yang didominasi lapangan tua. Pada metode kimia, surfaktan berperan dalam menurunkan tegangan antarmuka dan mengubah kebasahan batuan dan nanoteknologi membantu meningkatkan kedua mekanisme tersebut. Kombinasi surfaktan dan nanopartikel telah dilaporkan efektif, namun performanya masih bergantung pada stabilitas larutan. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh nanopartikel titanium dioksida (25 – 100 ppm) terhadap kinerja surfaktan alkil etoksi karboksilat (1,25 %b/b) dan alkil eter karboksilat + POE alkil eter (0,85 %b/b) pada salinitas 8.000 ppm melalui karakterisasi larutan dengan pengujian pH dan konduktivitas larutan serta potensial zeta, diikuti dengan uji tegangan antarmuka dan sudut kontak. Muatan permukaan batuan Berea-brine juga diukur untuk merepresentasikan kondisi permukaan batuan Berea, dan uji core flooding dilakukan untuk mengevaluasi kontribusi titanium dioksida terhadap peningkatan perolehan minyak. Hasil yang diperoleh menunjukkan penambahan titanium dioksida berhasil menurunkan tegangan antarmuka serta menurunkan sudut kontak sehingga batuan menjadi lebih water-wet. Hal ini menyebabkan perolehan minyak yang dihasilkan meningkat, dari 2,35% ROIP menjadi 3,26% ROIP pada surfaktan alkil eter karboksilat + POE alkil eter, namun menurun pada alkil etoksi karboksilat (5,65% ROIP ke 4,23% ROIP). Hal ini terjadi karena keterbatasan yang disebabkan oleh masih rendahnya stabilitas larutan surfaktan-titanium dioksida pada skala core Berea, sehingga memodifikasi pH larutan surfaktan-titanium dioksida ke kondisi yang lebih basa direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas titanium dioksida dalam meningkatkan perolehan minyak.
STUDI KASUS PEMODELAN PREMI MURNI ASURANSI ALAT BERAT BERDASARKAN TIPE JAMINAN, USIA ALAT BERAT, JENIS ALAT BERAT DAN LOKASI RISIKO.
Asuransi Alat Berat memiliki karakteristik risiko yang heterogen akibat perbedaan jenis jaminan, usia alat berat, jenis alat berat, dan lokasi risiko, sehingga pendekatan tarif konvensional berpotensi menghasilkan estimasi premi yang kurang mencerminkan tingkat risiko aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi premi murni asuransi CPM melalui pendekatan aktuaria berbasis data dengan diawali analisis profil klaim menggunakan statistik deskriptif serta segmentasi risiko melalui metode pengelompokan berdasarkan frekuensi, severitas, dan premi murni. Hasil analisis menunjukkan bahwa portofolio asuransi alat berat tidak homogen dan memerlukan pembentukan tarif per sel yang lebih granular untuk mengurangi potensi dibawah harga dan jauh diatas harga pada segmen tertentu. Estimasi premi murni dilakukan menggunakan Tweedie Generalized Linear Models mampu menangkap karakteristik data klaim dengan frekuensi nol yang tinggi dan distribusi severitas berekor kanan. Hasil model dibandingkan dengan metode burning cost dan tarif pembanding internal, yang menunjukkan bahwa pendekatan berbasis model menghasilkan estimasi premi yang lebih stabil, dapat dipertanggungjawabkan secara aktuaria, serta lebih sensitif terhadap variasi tingkat risiko. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan pendekatan penetapan tarif berbasis risiko berbasis tarif per sel sebagai dasar evaluasi dan penyempurnaan tarif premi asuransi alat berat yang lebih adaptif dan berbasis pengalaman klaim.
KAITAN ANTARA BILANGAN ISTIMEWA DAN DIMENSI PARTISI GRAF
Suatu pelabelan titik pada graf dikatakan istimewa jika satu-satunya automorfisma yang mengawetkan pelabelan tersebut hanyalah identitas. Bilangan istimewa (distinguishing number) dari graf G adalah nilai terkecil m sedemikian hingga G memiliki pelabelan?m istimewa, dilambangkan dengan D(G). Untuk suatu partisi?k berurutan ? = {S1, S2, ..., Sk} dari V (G), representasi r(v|?) dari titik v terhadap ? adalah (d(v, S1), ..., d(v, Sk)), di mana d(v, S) = min{d(v, x)|x ? S}. Partisi ? tersebut merupakan partisi pembeda dari G bila semua vektor r(v|?) berbeda untuk semua v ? G. Nilai terkecil k di mana terdapat partisi pembeda dengan k kelas partisi dari graf G dinamakan dimensi partisi G, dilambangkan dengan pd(G). Partisi V (G) menjadi k kelas partisi dapat dipandang sebagai pelabelan setiap titik di V (G) ke {1, 2, ..., k}. Pelabelan istimewa yang ditemukan pada tahun 1996 dan partisi pembeda yang ditemukan pada tahun 2000 merupakan dua aturan pelabelan titik yang menarik minat para peneliti di bidang teori graf selama lebih dari 2 dekade. Berdasarkan definisinya, pelabelan istimewa didasarkan atas automorfisma titik, yang mana sifat automorfisma adalah mempertahankan ketetanggaan dari setiap titik yang dipetakan. Diperhatikan bahwa ketetanggaan titik berkaitan erat dengan jarak antar titik pada graf yang merupakan parameter dasar dalam menentukan partisi pembeda suatu graf. Oleh karena itu, cukup masuk akal bila kita menduga terdapat kaitan erat antara dua aturan pelabelan titik tersebut, sesuatu yang belum pernah diteliti hingga saat ini. Baik bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk beberapa kelas graf telah ditemukan. Di antaranya, graf siklus, graf lintasan, graf lengkap, graf Petersen, graf hypercube, graf bintang, graf bipartit lengkap, graf roda (batas atas dan bawah) , graf pohon ulat, pohon firecrackers, subdivisi pohon, dan beberapa struktur pohon lainnya. Namun demikian, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengkaji kaitan antara kedua parameter tersebut. Bila kaitan tersebut diketahui, maka pengetahuan mengenai dimensi partisi suatu kelas graf dapat digunakan untuk mencari nilai bilangan istimewa dari kelas graf tersebut, dan sebaliknya. Penelitian disertasi ini akan memberi fokus perhatian pada kaitan dari kedua parameter graf tersebut. Secara lebih spesifik, penelitian disertasi ini berfokus pada kaitan umum dan kaitan khusus antara bilangan istimewa dan dimensi partisi graf sederhana terhubung. Kami berhasil menunjukkan bahwa untuk setiap graf G dimensi partisi merupakan batas atas bagi bilangan istimewa, yaitu D(G) ? pd(G). Kami juga menemukan beberapa kelas graf yang memenuhi D(G) = pd(G), di antaranya Pn, K1,n, Kn, Kn,n, graf bintang ganda Sm,n, dan Cn. Dengan menggunakan pengetahuan mengenai karakterisasi graf berorde n dan dimensi partisi n ? 1 atau n ? 2, kami berhasil mendapatkan beberapa kelas graf yang memenuhi pd(G) ? D(G) = 1 dan pd(G) ? D(G) = 2. Selisih antara dimensi partisi dan bilangan istimewa ini bisa menjadi sangat jauh, yang dapat dilihat contohnya pada graf theta umum dan juga graf roda. Sifat dimensi partisi terkait banyaknya titik kembar ternyata juga dimiliki oleh bilangan istimewa. Selain relasi umum antara dua pelabelan itu, dalam disertasi ini kami juga membahas pelabelan istimewa untuk kelas graf terhubung yang tidak memuat cycle, yaitu graf pohon. Bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk sebarang pohon hingga saat ini belum diketahui. Dalam penelitian ini kami mengkaji pohon berjari-jari 1 dan 2 dengan memperkenalkan notasi tuple. Dengan menggunakan notasi tersebut, dapat ditentukan bilangan istimewa setiap pohon dengan radius tidak melebihi 2. Kami menunjukkan bahwa untuk setiap bilangan bulat positif d, dapat dilakukan karakterisasi semua graf pohon T dengan rad(T) ? 2 dan bilangan istimewa d.